Você está na página 1de 76

Tabel 1.

Terapi Nonparenteral Akut


Obat

Jalur

Onset

Efek
Maks.

Lama
Kerja

Dosis

Klonidin

Oral

30 menit

1-2 jam

8-12 jam

0,1-0,2 mg awal lalu


0,05-0,1 mg
4 x sehari maks 0,8 mg

Kaptopril

Oral

15 menit

1-2 jam

4-6 jam

6,25-12,5 awal

Prazosin

Oral

15-30 menit

1-2 jam

8 jam

1-2 mg

Minoksidil

Oral

2 jam

4jam

12 jam

5-10 mg tidak berguna


sebagai obat tunggal

Labetalol

Oral

2 jam

3 jam

12 jam

hindari terapi oral pada


krisis hipertensi

nitrogliserin

Sub lingual

1 menit

15 menit

1 jam

1/150 grain

Tabel 2. Terapi Parenteral Akut


Obat

Jalur

Onset

Efek
Maks.

Lama
Kerja

Dosis

Sodium
nitroprusid

IV

Detik

1-2 menit

3-5 menit

16 ug/menit
1-6 ug/kg/menit

Trimetafan

IV

1-5 menit

2-5 menit

10 menit

0,5-5 mg/menit

Diazoksid

IV

1-5 menit

2-3 menit
infus bolus
metode infus

4-24 jam
50 mg IV 4 x setiap 5-10 menit
7,5-30 mg/menit + propanolol

Hidralazin

IV

10-20 menit

20-40 menit

3-8 jam

10-20 mg

Metildopa

IV

2-3 jam

3-5 jam

6-12 jam

250-500 mg 4 x setiap 6 jam

Fentolamin

IV

(untuk
katekolamin
berlebihan)

Labetalol

IV

5 menit

5-10 menit

3-6 jam

2 mg/menit IV infus atau 20 mg


4 x setiap 10 menit sampai
maks. 80 mg 4 x setiap 10 menit
dosis kumulatif maks 300 mg,
tak efektif pada pasien hipertensi
berat yang telah menerima obat
antihipertensi lain (propanolol,
prazosin)

Nikardipin

IV

10 menit

30 menit

3-6 jam

5 mg/jam ditingkatkan 1-2,5


mg/jam setiap 15 menit sampai
15 mg/jam

Nitrogliserin

IV

1-2 menit

2-3 menit

5-100 ug/menit

Dilevalol

IV

1-5 menit

3-6 jam

10 mg diikuti 25-100 mg setiap


15 menit

Enalapril AT

IV

10 menit

1-4 jam

2-6 jam

1,25 mg kemudian 2,5-10 mg


setiap 30-60 menit

Fenoldopa
mesilat

IV

< 5 menit

5-10 menit

30 menit

0,1-0,3 ug/kg/menit

Esmolol
hidroklarida

IV

1-2 menit

5 menit

10-20 menit

250-500 ug/kg/menit selama 1


menit kemudian 50-100
ug/kg/menit selama 4 menit,
dapat diulang

awal 5-10 mg IV 4 x setiap 5


menit, infus 0,2-0,5 mg/menit

Tabel 3. Obat Parenteral Untuk Pengobatan Kedaruratan Hipertensi


Dosis

Onset
Kerja

Lama
Kerja

Efek
Samping

Indikasi
Khusus

Sodium
nitroprusid

0,25-10
ug/kg/menit scr
dip IV (dosis
maks hanya utk 10
menit)

Segera

1-2 menit

Nausea, muntah,
getaran otot,
berkeringat,intoksi
kasi tiosanat dan
sianida

Krisis
hipertensi, hatihati dengan
tek.intrakranial
tinggi atau
azotemia

Nikardipin
hidroklorida

5-15 mg/jam IV

5-10 menit

1-4 jam

Takikardia, sakit
kepala, flushing,
flebitis lokal

Krisis hipertensi
kecuali gagal
jantung akut,
hati-hati dg
iskemia koroner

Fenoldopam
mesilat

0,1-0,3
ug/kg/menit IV

< 5 menit

30 menit

Takikardia, sakit
kepala, nausea,
flushing

Krisi hipertensi,
hati-hati dg
glaukoma

Nitrogliserin

5-100 ug/menit IV

2-5 menit

3-5 menit

Sakit kepala,
muntah,
methemoglobinemi
a, toleransi pada
penggunaan lama

Iskemia koroner

Enalaprilat

1,25-5 mg setiap 6
jam IV

15-30 menit

6 jam

Turunnya tekanan
darah pada kadar
renin
tinggi,respons
bervariasi

Gagal ventrikel
kiri akut,
hindari IMA

Hidralazin
hidroklorida

10-20 mg IV
10-50 mg IV

10-20 menit
20-30 menit

3-8 jam

Diazoksid

50-100 mg IV
bolus

2-4 menit

6-12 jam

Labetalol
hidroklorida

20-80 mg IV
bolus setiap 10
menit
0,5-2,0 mg/menit
IV

5-10 menit

Esmolol
hidroklorida

250-500
ug/kg/menit utk 4
menit, dpt diulang

1-2 menit

fentolamin

5-15 mg IV

1-2 menit

Obat
Vasodilator

Eklampsia
Takikardia,
flushing, sakit
kepala, muntah,
angina yang
memberat
Nausea,flushing,ta
kikardia,nyeri dada

Inhibitor
adrenergik
3-6 jam

Muntah, scalp
tingling, rasa
terbakar di
tenggorok,
dizziness, nausea,
blok jantung,
hipotensi ortostatik
10-20 menit
Hipotensi nausea
3-10 menit
Takikardia,flushing
.sakit kepala

Jika tidak
dimonitor

Krisis hipertensi
kecuali gagal
ljantung akut

Diseksi aorta,
perioperatif
Dampak
katekolamin

Dosis ini dapat bervariasi sesuai referensi dokter


IV berarti intravena, IM intramuskular
Hipontensi dapat terjadi pada semua obat
Mmembutuhkan sistem khusus

Hipertensi Krisis
Algoritme Terapi Hipertensi Krisis dan Hipertensi Berat
Tekanan darah diastolik > 120 mmHg

Hipertensi emergensi

Hipertensi urgensi

MABP turunkan 25 % dalam menit


2 jam
MABP
turunkan

Tanpa tanda emergensi

berat biasa
25 % dalam 24 48Hipertensi
jam

Terapi titrasi seperti lazimnya (tidak diturunkan dalam waktu cepat, menit/beberapa jam

Dengan obat anti hipertensi ( oral / parenteral )

Turunkan tekanan darah sampai 180/100 mmHg


dalam
2 sampai
6 jam 180/100 mmHg dalam 2-6 jam
TD tidak
turun
Obat antihipertensi oral

Terapi pemeliharaan

MABP = Mean Arterial Blood Pressure

HIPOKALEMIA
Kriteria Diagnosis :
Kadar kalium (K) dalam serum < 3,5 mEq/Liter
Diagnosis Banding :
- Kehilangan tidak melalui ginjal (K dalam urin < 15 mEq/24 jam)
Kehilangan melalui saluran cerna (diare)
Kehilangan melalui keringat berlebihan
Diet rendah kalium
Muntah
Perpindahan kalium kedalam sel (alkalosis, insulin agonis beta, paralysis
periodic, leukaemia, keracunan barium)
- Kehilangan melalui ginjal
Kalilum dalam urin > 15 mEq/24 jam
# Tidak disertai hipertensi (Bartter, hipomagnesemia, RTA, antibiotik
karbenisilin, tikarsilin, ureterosigmoidistomi)
# Disertai hypertensi
# Kadar rennin plasma tinggi (stenosis a. renalis, tumor yang membentuk
rennin)
# Kadar rennin olasma rendah (pengaruh hormon mineralokortikoid atai
obat-obat mengandung mineralokortikoid): hioeraldosteronisme primer,
hiperplasi korteks adrenal, sindrom cushing, sindrom adrenogenital,
sindrom liddle, penggunaan steroid dosis tinggi.
Ekskresi kalium disertai poliuria (obat-obat diuretic, diuretic osmotic)
Pemeriksaan Penunjang :
- Kadar K dalam serum
- Kadar K, Na, Cl dalam urin 24 jam
- Kadar Mg dalam serum
- Analisis gas darah
- EKG
Terapi :
- Bila ada intoksikasi digitalis, aritmia atau kadar kalium serum < 3 mEq/liter, koreksi
kalium secara intravena 20 mEq/jam dalam 50-100 cc larutan dekstrosa 5%
- Bila kadar kalium dalam serum > 3 mEq/liter, koreksi kalium cukup per oral
- Monitor kadar kalium setiap 2-4 jam untuk menghindari hiperkalemia terutama pada
pemberian secara intravena
Penyulit :
Kelemahan otot, lelah, kejang/kaku otot, konstipasi, ileus, paralysis flaksid, hiporefleksi,
rabdomiolisis, tetani.
Sarana Baku :
- Laboratorium yang dapat melakukan pemeriksaan kalium dalam serum dan urin
- EKG

HIPONATREMIA
Kriteria Diagnosis :
Kadar natrium (Na) dalam serum kurang dari 130 mEq/liter
Diagnosis Banding :
- Hiponatremia hipotonik (osmolalitas plasma rendah)
Hipovolemia
# Renal (Na urin sewaktu > 20 mEq/liter) diuretic, renal tubular acidosis,
Bartter (kadar kalium dalam urin tinggi), penuakit Addison (kadar kalium
dalam urin rendah)
# Nonrenal (Na urin sewaktu , 10 mEq/liter), muntah, diare, peritonitis, luka
bakar
Nonhipovolemia
# Volume arteri efektif tidak rendah: hipoalbuminemia, gagal jantung,
hipotiroid, defisiensi glukokortikoid, hipopituarisme, gagal ginjal kronik.
# Volume arteri efektif tidak rendah : SIADH, polidipsi primer
- Hiponatremia hipertonik (osmomalitas plasma tinggi), DM, mieloma multiple,
makroglobulinemia Waldenstrom.
Pemeriksaan Penunjang :
Kadar Na dalam serum, osmomalitas darah, Kadar Na, K, Cl dalam urin sewaktu,
osmomalitas urin.
Terapi :
Hiponatremia hipotonik dengan hipovolemia
- Koreksi hipovolemia dengan NaCl 0,9 %
- Bila ada gejala (kesadaran menurun, kejang) atau kadar Na < 110 mEq/liter
Hiponatremia hipotonik non hipovolemia
- Restriksi cairan masuk (0,5-1 liter per 24 jam)
- Restriksi asupan natrium
- Hiponatremia bergejala atau kadar Na < 110 mEq/liter
Kadar Na ditingkatkan 0,5 mEq/liter/jam
Koreksi sampai kadar Na dalam serum 120 mEq/liter (tidak lebih dari 130
mEq/liter dalam 48 jam pertama)
- Bila dianggap perlu mengeluarkan cairan dapat diberi diuretic (dengan syarat asupan
cairan tidak boleh memakai cairan tanpa elektrolit atau free-water)
- Koreksi albumin bila albumin serum rendah
Penyulit :
Penurunan kesadaran, kejang
Sarana Baku :
Laboratorium yang dapat melakukan pemeriksaan Na dalam serum dan urin serta
pemeriksaan osmolalitas darah maupun urin.

INFEKSI SALURAN KEMIH


Kriteria Diagnosis :
Gejala Disuria, polakisuria, hematuria, nyeri pinggang, nyeri suprapubik, demam, menggigil.
Tanda : febris, nyeri suprapubik, nyeri ketok kostovertebra
Diagnosis Banding :
Jenis ISK sederhana, ISK terkomplikasi
Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium
- Darah tepi lengkap
- Urin lengkap
- Biakan urin dengan tes resistensi kuman
- Fungsi ginjal (ureum, kreatinin)
- Darah (puasa, 2 jam postpandrial)
- Antibody coated bacteria (ACB)
Radiologi : BNO/IVP, USG ginjal
Terapi :
Nonfarmakologis
- Banyak minum bila fungsi ginjal masih baik
- Higiene genitalia eksterna
Farmakologis
- Antibiotik didasarkan tes resistensi kuman
- Apabila tes resistensi kuman belum ada dipilih antibiotik sesuai dengan pola kuman
yang ada
Penyulit :
Batu saluran kemih, obstruksi saluran kemih, septikimia, infeksi kuman yang multiresisten,
gangguan fungsi ginjal.

NEFROPATI DIABETIK
Definisi :
Nefropati Diabetik adalah suatu kelainan pada ginjal yang merupakan komplikasi diabetes
mellitus baik DMTI maupun DMTII, ditandai dengan adanya albuminuria
(mikroalbuminuria/makroalbuminuria).
Kriteria Diagnosis :
- Menderita DM baik DMTI maupun DMTII berdasarkan anamnesis adanya gejalagejala DM/riwayat pengobatan DM dan pemeriksaan laboratorium gula darah puasa
>= 126 mg% dan gula darah 2 jam sesudah makan >= 200 mg%
- Albuminuria : mikroalbuminuria maupun makroalbuminuria
Mikroalbuminuria apabila ekskresi albumin urin antara 30-300 mg/24 jam
Makroalbuminuria apabila ekskresi albumin urin > 30-300 mg/24 jam
- Adanya retinopati diabetik pada pemeriksaan funduskopi mata
- Biopsi ginjal menunjukkan adanya gambaran hipertrofi glomerulus glomerulosklerosis
dan hialinosis arteriolar.
Diagnosis Banding :
DM dengan infeksi saluran kemih, DM dengan glomerulonefritis, DM dengan hipertensi.
Pemeriksaan Penunjang :
- Laboratorium
Darah : gula darah, HbA1c, ureum, kreatinin
Urin : rutin, aseton, dipstick untuk albumin, mikroalbumin, penentuan protein
dalam urin secara kuantitatif
- Mikrobiologis untuk kultur urin terhadap mikroorganisme danuji kepekaan kuman
terhadap antibiotik
- Optalmoskop => Pemeriksaan fundus mata
- USG
Terapi :
Umum
- Pengendalian keadaaan metabolic/gula darah dengan mengatur diet yang disesuaikan
dengankebutuhan pasier. Jumlah kalorai yang diperhiutngkan untuk keperluan basal
35 Kcal/kgBB/hari. Insulin untuk pasien DMTI dan obat penurun gula darah oral
untuk pasien DMTTI apabila gula darah tidak terkontrol dengan diet.
- DM dengan albuminuria : protein dalam diet dibatasi => 0,8/kgBB/hari
- DM dengan hipertensi : diet DM + obat anti hipertensi ACEI/kombinasi ACEI +
antagonis kalsium bila tekanan darah tidak terkendali dengan ACEI target tekanan
darah 130/80 mmHg
- DM dengan insufisiensi ginjal : diet DM denganpembatasan protein 0,60,8/KgBB/hari. Pasien dengan insufisiensi ginjal yang mendapat ACEI perlu
dimonitor fungsi ginjal secara berkala.
Khusus
- DM dengan albuminuria : protein dalam diet dibatasi => 0,8 gr/kgBB/hari
- DM dengan hipertensi : diet DM + obat anti hipertensi penghambat ACE (ACEI)
/kombinasi ACEI + antagonis kalsium bila tekanan darah tidak terkendali dengan
ACEI saja.
7

Target tekanana darah 130/80 mmHg


DM dengan insufisiensi ginjal : diet DM dengan pembatasan protein 0,6
0,8/kgBB/hari. Pasien dengan insufiesiensi ginjal yang mendapat ACEI perlu
dimonitor secara berkala.

Penyulit :
Hipertensi, fungsi ginjal menurun (gagal ginjal kronik), infeksi saluran kemih /pielonefritis
kronik, ketoasidosis diabetik.
Prosedur / Tindakan yang perlu dilakukan :
Biopsi ginjal bila terdapat kemungkinan adanya glomerulo nefritis/pielonefritis pada pasien
DM.
Sarana Baku :
- Glukometer
- Mikraltes
- Tensimeter
- Optalmoskop
- Mikroskop

SINDROM NEFROTIK
Kriteria :
- Gejala bengkak seluruh tubuh (muka, perut, ekstremitas), buang air kecil keruh
- Tanda : edemamuka, asites, edema tungkai
- Laboratorium : proteinuria massif (>3,5 g/24 jam), hipoalbuminemia (<3,5 g%),
hiperkolesterolemia (>250 mg%).
Diagnosis Banding :
Edema dan asiters akibat penyakit hati, edema dan asiters akibat malnutrisi, diagnosis etiologi
sindrom nefrotik
Pemeriksaan Penunjang :
- Laboratorium
Urin lengkap
Protein kuantitatif dalam urin 24 jam
Fungsi ginjal ( ureum kreatinin, tes kliren kreatinin )
Fungsi hati ( albumin, globulin, SGOT/SGPT )
Darah tepi lengkap
Elektrolit ( Na, K, Cl )
Hemostasis lengkap ( bila perlu )
GD puasa dan 2 jam postpandrial
Pemeriksaan imunologi
- Foto dada
- Foto polos perut
- Biopsi ginjal
Terapi :
Non farmakologis
- Istirahat
- Diet protein 0,8 gr/kgBB + ekskresi protein dalam urin / 24 jam
Farmakologis
- Diuretika
- Substitusi kalium bila dianggap perlu
- Albumin
- Kortikosteroid
- Pengabatan imunosupresi lain : azatioprin, siklofosfamid, siklosporin A
Penyulit :
Hipoalbuminemia berat, hiperkoagulasi, akibat penyakit dasar

HEMATURIA DAN PYURIA


DEFINISI :
HEMATURIA:
Hematuria adalah terdapatnya sel darah merah didalam urine,baik gross maupun mikroskopis
adalah bila pada pemeriksaan urine secara mikroskopis pada pembesaran besar (400X)
terdapat lebih dari 1-3/lp .
PYURIA :
Adalah terdapatnya lekosituria dan bakteria uria.Inflamasi atau keradangan disaluran kemih
mulai dari pyelum sampai uretra ditandai oleh adanya lekosituria >5/lp besar setelah
dipusingkan, atau >10 sel/cc urine tanpa dipusingkan.
Inflamasi non bakterial dapat terjadi pada keadaan khusus :
a. Leukosituria dengan kultur steril karena telah mendapat antibiotika dini
b. Leukosituria karena TBC
c. Leukosituria karena reaksi immunologik
Bakteri uria bermakna bila>10 / cc urine, dapat terjadi pada :
1. True infection : benar-benar ISK sejati
2. Kolonisasi
3. Kontaminasi : kuman cemaran dari sekitar eretra
Beberapa penyakit / kelainan ginjal dapat ditelusuri dari ditemukannya hematuria dan pyuria
(tabel) :
Pemeriksaan urine
Etiologi
Hematuria dengan cast darah merah
Ditemukannya satu atau kombinasi
Proteinuria berat (>3,5 k/hr atau 50 dari keadaan ini adalah diagnostik
mg/kg/hr)
untuk penyakit glomerular atau
Lipiduria
vaskulitas.
Tidak
didapatkannya
perubahan ini tidak menyingkirkan
diagnosis.
Sel epitel tubulus renalis dengan Pada gagal ginjal akut, kemungkinan
granular dan sel epitel cast.
besar nekrosis tubuler akut, walaupun
hiperbili rubinemia yang nyata juga
dapat memberikan gambaran yang
sama.
Pyuria dengan sel darah putih atau
waxycast dan dengan atau tanpa
protein uria sedang.
Hematuria dan pyuria dengan atau
tanpa macam-macam cast (kecuali
cast sel darah merah).

Mengesankan adanya penyakit tubulan


atau interstitial atau obstruksi.

Hematuria saja.

Kemungkinan

Tampak pada penyakit glomelural,


vaskulitis, obstruksi, infark ginjal,
atau nefritis akut interstitial. Keadaan
terakhir disertai adanya losinofil
dalam urine.
vaskulitis

atau
10

obstruksi pada GGA. Dapat dijumpai


dengan penyakit glomerular sedang,
penyakit ginjal polikistik, atau
penyakit diluar ginjal, misal : penyakit
prostat, calculi atau tumor.
Normal / sedikit sel dengan atau tanpa Akut : pada penyakit prenal, obstruksi,
cast atau proteinuria.
hipercalcemia, myeloma, beberapa
kasus Nekrosis Tubular Akut (NTA),
atau penyakit vaskuler dengan iskemia
glomeruler
(seleroderma,
athero
emboli, jarang poli arteritis nodosa)
Kronik : pada penyakit pre-nal,
obstruksi, kelainan tubular atau
interstitial, dan nefrosklerosit).
Pyuria saja.

Umunmnya menunjukkan adanya


infeksi saluran kemih (termasuk
tuberculosa) ; dapat terjadi pada
penyakit tubulo interstitiel.

PELAKSANAANNYA :
Penatalaksanaan Pyuria :
Untuk pengambilan sampel urine yang baik di perlukan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Dianjurkan pengambilan sampel non voided specimen pagi hari bangun tidur,diambil dari
porsi tengah. Pada wanita harus dilakukan vulva toilet yang sempurna.
1. Tehnik supra public punchure (SPP) terutama dilakukan pada anak-anak.
2. Kateter urine, dianggap positif ISK bila jumlah kuman >104/cc urine.Cara ini tidak
disukai karena sangat traumatik dan resiko infeksi nosohomial.
3. Sampel urine segera dikirim ke laboratorium sehingga kurang dari 1 jam urine dapat di
proses dilaboratorium.
4. Cara menyimpan sampel urine :
a. dalam suhu kamar hanya tahan 1 jam
b. dalam lemari es, suhu 40 c hanya dalam 24 jam saja.
c. Urine ditambah pengawet asam barat 0,5 1,0% diletakan dalam suhu kamar
dapat bertahan 24 jam.

11

Penatalaksanaan Pengelolaan Infeksi Saluran Kemih


BUN

Kreatinin
(normal)

Asam Urat

IVP
Anatomi abnormal

Anatomi normal

batu

Steril

Infeksi ulang :
Relaps
Re infeksi
Infeksi baru
Super infeksi

Kelainan kongenital
double ereter
horse shoe kedney
dsb

Penampang
letak

Obstruksi / hidronefrosis

(bahaya urosepsis)

Partial

konservatif
Tx supresif
(Tidak mungkin steril)

Total

Bedah

12

Pelaksanaan Hematuria :
Pemeriksaan Kimia Urine

Tx eradikasi

Hematuria glome rulus

Protein uria
Kualitatif / Kuantitatif

Faal ginjal, BUN, kreatini,


asam urat, Kliren

IVP

Biospi ginjal

Hematuria non glomerular

Ax intensif, batu, tumor, prostat

USG, IVP, Sistoskopi

Antegrade / retrograde

Angio grafi
CT Scanning

13

Hematuria

14

diginjal APLASTIK
ANEMIA

Klasifikasi :
Kongenital
- Anemia Fanconi

USG

Didapat
- Primer (diopatik
solid terhadap:Masa
kistikbahan kimiawi,
Soid dan
kistik virus, pankreatitis, autoimun,
- Masa
Sekunder
obat,
radiasi,
normal
kehamilan,
paroksismal nocturnal hemoglobinuria, dll
Secara klinis dan prognosis anemia aplastik dibagi atas :
-Arteiografi
Anemia
aplastik punksi
berat kista
renal
Arteriografi renal
- Anemia aplastik sitokin
ringan
- Anemia aplastik kontras
sedang

CT Scan

evaluasi

Berdasarkan terpenuhinya criteria :


jinak
- Neutrofil/sel polimorfonuklear < 500/ul ganas
- Trombosit < 20.000/ul
- Retikulosit < 1% / 20x109/l ditambah kepadatan sumsum tulang < 20% -30%
jinak
Curiga
Anemia aplastik berat
harus memenuhi
minimum 2 dari 3 kriteria diatas.
ganas

Kriteria Diagnosis :
- Anamnesis
Adanya keluhan yang berhubungan dengan pansitopenia, antara lain rasa
lemas, cepat lelah, pucat
Arteiografi renal
Demam yang berhubungan dengan infeksi berlang, biasanya infeksi saluran
nafas bagian atas
Adanya gejala perdarahan yang berhubungan dengan trombositopenia,
menstruasi yang memanjang, epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan bawah
kulit, hematuria
- Pemeriksaan Jasmani
Pucat
Purpura: ptekie atau ekimosis
Perdarahan non kulit: retina, mukosa mulut
Takikardia
Infeksi daerah mulut
Organomegali
Pemeriksaan Penunjang :
- Darah perifer lengkap: morfologi biasanya normal, bsitopenia atau pansitoopenia,
retikulosit terkoreksi rendah
- Diagnosis pasti: Sitologi dan hispatologi sumsusm tulang: hiposelular atau aselular
Diagnosis Banding :
Mielofibrosis, anemia hemolitik, anemia karena penyakit kronik, anemia akibat metastasis
sumsum tulang, leukaemia akut aleukemik, limfoma sumsusm tulang, hipersplenisme,
sindrom dismielopoetik
Terapi :
15

Terapi penunjang
Transfusi komponen darah
Menghindarkan dan mengatasi infeksi: jangan tunda penggunaan antibiotika
bila timbul panas, bila panas menetap pertimbangkan anti jamur
Antivirus bila dijumpai lesi herpetic
Penyakit jantung anemik, dapat timbul gagal jantung
Transplantasi sumsum tulang: untuk anemia aplastik berat, usia < 40 tahun
Imunosupresif antara lain:
Siklosporin A
Anti lymphocyte globuline
Anti lymphocyte globuline, bila pasien tak memungkinkan transplantasi
Kombinasi: steroid anabolic, androgen dan atau steroid dapat diberikan pada kasuskasus anemia aplastik yang tidak berat
Splenektomi
Tempat pelayanan: rawat jalan dan semua kelas perawatan
Penyulit
Timbul reaksi/antibody terhadap komponen transfusi darah, terutama terhadap
trombosit
Infeksi
Perdarahan
Gangguan fungsi jantung

16

IMMUNE TROMBOCYTOPENIC PURPURA


Klasifikasi :
Primer
Immune Trombocytopenic Purpura (ITP) primer disebut juga sebagai Idiopatic
Trombocytopenic Purpura (ITP), disebut idiopatik karena penyebabnya belum diketahui.
Nama lainnya ialah Autoimmune Trombocytopenic Purpura. Terjadinya Trombositopenia
pada ITP primer ini diakibatkan oleh penghancuran yang berlebihan dapat terjadi intra
maupun ekstra korpuskular.
Menurut permulaan tampilnya dapat dibagi menjadi :
- Perinatal
- Anak-anak
- Dewasa
- Kehamilan
Menurut perjalanan klinisnya dapat dibagi menjadi :
- ITP akut, mengalami remisi komplit spontan/dengan pengobatan kortikosteroid dalam
6 minggu
- ITP kronik, tidak mencapai remisi komplit spontan/dengan pengobatan kortikosteroid
lebih dari 6 minggu
Sekunder
Terjadi akibat adanya kelainan / penyakit lain seperti :
- Induksi obat atau bahan kimia
- Kelainan limfoproliferatif
- Kanker
- Infeksi
- Penyakit autoimun lain
Kriteria Diagnosis :
- Hitung trombosit kurang dari 150.000/uL. Dengan tidak dijumpai sitopenia lainnya,
dan pada pemeriksaan mikroskopik morfologi darah tepi dapat dijumpai trombosit
muda yang berukuran lebih besar sehingga trombosit ini disebut juga sebagai
megatrombosit
- Perexclusionam menyingkirkan kemungkinan ITP sekunder
Anamnesis obat-obatan, alcohol, bahan kimia
Pemeriksaan fisis adanya hepato-splenomegali kecuali bila telah sering
mendapatkan transfusi darah
Pemeriksaan ureum/kreatinin pada status uremikum
Pemeriksaan serologi virus misalnya Dengue, CMF, EBV, HIV, Rubella
Pemeriksaan masa perdarahan a.PTT, D-dimer. Kecuali masa perdarahan dan
jumlah trombosit pada ITP primer hasil pemeriksaan hemostasis lainnya harus
dalam batas normal
Pemeriksaan ACA untuk mengetahui adanya sindrom Anti Fosfolipid
Pemeriksaan Coombs, C3 dan C4, ANA, anti dsDNA
Pemeriksaan imunoelektroforosis protein
Pemeriksaan autoantibodi trombosit
Pemeriksaan sidikan hati, limpa, kelenjar getah bening mediastinum dan para
aorta
17

BMP aspirasi dan biopsy untuk menilai adanya infiltrasi / proliferasi system
lain, pada ITP jumlah megakariosit normal atau meningkat. Pemeriksaan ini
bukan untuk diagnisis pasti ITP primer

Diagnosis Banding :
- ITP Sekunder, sebagai akibat adanya hambatan produksi / diferensiasi sel induk darah
menjadi megakariosit, atau adanya hambatan pematangan megakariosit menjadi
trombosit, atau adanya penghancuran trombosit berlebihan
- EDTA terlalu banya pada spesimen darah tepi untuk pemeriksaan jumlah trombosit
Pemeriksaan Penunjang :
Tidak ada pemeriksaan spesifik yang khusus untuk menegakkan diagnosis ITP primer, yang
ada hanya untuk menyingkirkan adanya ITP sekunder tersebut diatas.
Pengawasan / Kontrol :
- Masa perdarahan Ivy < 10 menit (normal < 5 menit)
- Pengendalian hipertensi dan gula darah
- Perawatan obstipasi
- Pemantauan funduskopi untuk mendeteksi adanya perdarahan retina
- Pemantauan defisit neurologis untuk mendeteksi adanya perdarahan serebral
- Pengendalian / Penundaan siklus haid
- Pemantauan perkembangan janin
- Perencanaan waktu dan proses persalinan
- Pemantauan perinatal bayi dengan ibu ITP pada kehamilan maupaun ITP dengan
kehamilan
Imunoglobilin Intravena :
Indikasi
- ITP karena EBV
- Perdarahan yang tidak dapat diatasi dengan kombinasi transfusi trombosit dan
desametason
- Tindakan bedah segera pada masa perdarahan Ivy > 5 menit dengan hitung trombosit
< 50.000/uL.
- Kandidat splenektomi, jika responsive terhadap IVIg meruapakan pertanda
keberhasilan splenektomi
Dosis
- 0,4 g/kgBB/hari selama 5 hari atau
- 1 g/kgBB/hari selama 2 hari
Respons trombosit diharapkan mulai meningkat dihari ke 2
Splenektomi :
Indikasi
- Tidak toleran terhadap kortikosteroid
- Tidak pernah remisi dengan penggunaan kortikosteroid setara prednison 30 mg/hari
selama 6 bulan
- Dua kali residif pada penggunaan prednison 30 mg/hari untuk mempertahankan
trombosit 20-50.000 uL
- Responsif terhadap imunoglobin intravena
Kontraindikasi
- Tempat tinggal pasien endemic malaria
18

Disertai Immunocompromise

Preparasi prasplenektomi: vaksinasi dengan pneumovac, Hemofilus influenza


ITP Residif Splenektomi atau ada Kontraindikasi untuk Splenektomi
Pengobatan first line
- Vitamin C 2 g/hari/os selama 6 minggu
- Kortikosterodi intravena setara deksametason mulai 1 mg/kgBB/hari selama 4 hari
kemudian tapering down dan digantikan dengan prednison dosis rendah 10-15 mg/hari
- Vinkristin 2 mg/minggu/IV minimal 3 kali jika responsive dapat dilanjutkan
- Danazol mulai 400 mg/hari bertahap dinaikkan hingga 600-800 mg/hari selama 2
bulan, jika responsive dapat dilanjutkan dengan dosis ketika mencapai respons.
Alternatif
- Azatiopirin mulai 100 mg/hari per oral dapat dinaikkan secara bertahap hingga 150
mg/hari per oral dalam waktu minimal selama 4 bulan, jika responsive dapat
dilanjutkan dengan dosis ketika mencapai respons
- Siklofospamid 50-100 mg/hari per oral atau 1200 mg/IV tiap 4 minggu, minimal
selama 3 bulan, jika responsive dapat dilanjutkan dengan dosis diturunkan bertahap
- Siklosporin mulai 5 mg/kgBB/hari dosis dapat dinaikkan secara bertahap hingga 10
mg/kgBB/hari dalam waktu minimal selama 6 minggu jika responsive dapat
dilanjutkan dengan dosis diturunkan bertahap maksimal 3mg/kgBB/hari
- Kombinasi alfa interferon dengan prednison selama 4 minggu.
Alfa Interferon 3x10 juta IU/ SK 2 kali seminggu dan
Prednison 10-30 mg/hari per oral
ITP Primer pada kehamilan
- Target untuk mempertahankan kehamilan Ivy < 10 menit dari trombosit > 20.000/uL
- Jika tidak responsive dengan prednison dicoba imunoglobin intravena 0,4/g/kgBB/hari
selama 5 hari
- Jika responsive dengan imunoglobin intravena dianjurkan untuk splenektomi hanya
pada trimester ke 2, karena jika splenektomi dikerjakan pada trimester 1 atau ke 3
kemungkinan abortus atau partus prematurus lebih besar
- Jika tidak responsive dengan imunoglobin IV dicoba dengna Vinkristin 2mg/minggu
minimal 3 kali, jika responsive berikatn tiap 3 minggu
- Usahakan persalinan dengan seksiosesaria untuk mempersiapkan transfusi trombosit,
karena umur trombosit hanya 1-2 hari
- Dua minggu sebelum seksiosesaria prednison dinaikkan menjadi 30 mg/hari
- Transfusi trombosit jika diperlukan diberikan 6 jam sebelum seksiosesaria
- Pasca persalinan monitor perdarahan, Hb, Trombosit, masa perdarahan, regresi tinggi
fundus uteri dan lokia
ITP primer dengan kehamilan
Sama seperti ITP pada kehamilan akan tetapi karena telah diketahui pasien adalah pasien ITP
maka pemberian kortikosteroid dapat lebih awal diberikan, multipara lebih berisiko daripada
primpara
Imunoglobin IV diberikan antepartum untuk mencegah trombopenia neonatal
ITP primer dan Tindakan Bedah
Bedah akut/segera/emergensi: target Ivy < 4 menit trombosit > 75.000/uL.
Preparasi prabedah secara berurutan:
19

Deksametason 1 mg/kgBB/hari selama 4 hari kemudian lappering down


Imunoglobin IV 1g/kgBB/hari pada hari operasi dan 1 hari berikutnya
Transfusi trombosit, 1 kantong/unit konsentrat trombosit dari PMI dapat meningkatkan
jumlah trombosit antara 5000-10.000/uL. Jika bersihan trombosit tidak berlebihan.

Persiapan prabedah :
- Dua minggu sebelum operasi diberikan prednison 30 mg/hari
- Pada hari operasi berikan deksametason 1 mg/kgBB/hari IV selama 4 hari, kemudian
lappering down
- Jika ada riwayat refrakter terhadap kortikosteroid diberikan imunoglobin IV 0,4
mg/kgBB/hari selama 5 hari
- Transfusi trombosit jika diperlukan diberikan 6 jam sebelum operasi. Banyaknya
transfusi trombosit disesuaikan dengan bersihan secara empiris dari pasien tersebut
Pengobatan Suportif :
- Transfusi PRC disesuaikan dengan kebutuhan, jika berlebihan dapat meningkatkan
reaktifitas komplemen yang akan meningkatkan bersihan trombosit, hal ini biasanya
disebabkan oleh adanya leukosit yang masih tersisa dalam PRC
- Plasmaferesis tukar untuk menurunkan antibody trombosit
- Transfusi trombosit hanya digunakan pada keadaaan gawat darurat karena hanya
sebagai terapi substitusi yang umurnya pendek dan akan dapat meningkatkan
reaktivitas komplemen sehingga akan meningkatkan bersihan trombosit
- Penundaan haid/pengendalian kehamilan
- Pengendalian hipertensi
- Pencegahan obstipasi, iritasi lambung, trauma
Penyulit :
Infeksi transmisi transfusi, DM, hipertensi, immunocompromise

20

KOAGULASI INTRAVASKULAR DISEMINATA


(Disseminated Intravascular Coagulation)
Kriteria Diagnosis :
Klinis
- Tanda-tanda perdarahan seperti purpura, ptekie, ekimosis, perdarahan gusi dan lain
sebagainya dan pada saat yang bersamaan terjadi pula perdarahan pada luka operasi
atau luka traumatic dan/atau trombosis.
- Merupakan akibat dari kausa primer lain misalnya masalah kebidanan, hemolisis
intravaskular, sepsis, viremia, keganasan, dll
- Keadaan pasien sangat bervariasi, mulai dari yang ringan sampai dsifungsi organorgan, syok atau hipoperfusi
- Dapat ditemukan gejala-gejala umum seperti demam, hipotensi, asidosis, hipoksia,
proteinuria, dll
Laboratorium
- Darah tepi
Trombositopenia atau normal
Burr cell (+)
- Hemostasis
PT, APTT dan STT memanjang atau normal
FDP meningkat
D-dimer (+)
Kadar AT III menurun (normal 85%-125%)
Kadar fibrinogen menurun (normal 200-400 mg/dl)
Berdasarkan hasil laboratorium ini KID dibedakan menjadi :
Dekompensasi
Kompensasi
Kompensasai berlebih
Diagnosis Banding :
- Fibrinogenolisis atau fibrinolisis primer
- Penyakit hati berat
- Pseudo KID
Pemeriksaan Penunjang :
- KID akut yang berat memerlukan perawatan diruang gawat darurat atau ruang rawat
intensif sampai keadaan stabil tercapai
- KID ringan sampai sedang dapat dirawat di ruang rawat biasa
Terapi :
- Pengobatan Supportif
Memperbaiiki dan menstabilkan hemodinamik
Memperbaiki dan menstabilkan tekanan darah
Membebaskan jalan napas
Memperbaiki dan menstabilkan keseimbangan asam basa
Memperbaiki dan menstabilkan keseimbangan elektrolit
- Pengobatan terhadap penyakit dasar/primer
21

Antikoagulan, obat ini dipakai dengan tujuan untuk menghambat pembentukkan


mikrotrombus dan menginaktivasi factor-faktor koagulan aktif, sehingga trombosit
dan factor-faktor koagulan tersebut dapat dipakai sebagaimana mestinya ditempattempat yang membutuhkannya

Antikoagulan yang dipakai biasanya heparin. Heparin diberikan secara bolus IV tiap 6 jam
dan diawali dengan dosis 5000 unit. Evaluasi dilakukan dengan parameter a.PPT, sasarannya
a.PPT menjadi 2-2,5 x kontrol normal. Evaluasi dilakukan pada jam kedua dan keempat pasca
bolus heparin IV.
- Bila pada jam kedua a.PPT < 2x a.PPT kontrol normal, maka pada pemberian
berikutnya dosis heparin dinaikkan menjadi 7500 unit
- Bila pada jam kedua a.PPT 2-2,5x a.PPT kontrol normal, maka pada pemberian
berikutnya dosis heparin sama
- Bila pada jam kedua a.PPT > 2,5x a.PPT kontrol normal, maka dilakukan evaluasi
a.PPT pada jam keempat
Jika pada jam kempat a.PPT < 2x a.PPT kontrol normal, maka pada pemberian
berikutnya dosis heparin dinaikkan menjadi 7500 unit
Bila pada jam kedua a.PPT > 2,5x a.PPT kontrol normal, maka pada
pemberian berikutnya dosis heparin dikurangi menjadi 2500 unit
-

Transfusi untuk memulihkan komponen darah yang kurang


Packed real cell
Thrombocyte Concentrate
Fresh Frozen Plasma

Penyulit :
Disfungsi organ, syok atau hipoperfusi, deep vein trombosis atau tromboflebitis, KID
fulminal.

22

LEUKEMIA AKUT
Definisi :
Penyakit proliferasi neoplastik yang sangat cepat dan progresif sehingga susunan sumsum
tulang normal digantikan oleh sel primitif dan sel induk darah.
Klinis :
Mulai timbulnya mendadak dan cepat biasanya pasien datang berhubungan dengan:
- Infeksi mendadak karena imunitas menurun
- Perdarahan karena trombositopenia
- Cepat lelah dan pucat karena anemia
- Infiltrasi ketulang dan sendi menjadi nyeri rheumatoid
- Infiltrasi ke jaringan lunak (gusi) membengkak
- Infiltrasi ke hati, limpa, kelenjar getah bening
Laboratorium darah perifer dijumpai:
- Anemia normostik normokrom
- Trombositopenia < 100.000/uL dan
- Leukositosis > 30.000/uL
- Hitung jenis leukosit dapat dijumpai sel blas, jika dijumpai Aeurrods pada sitoplasma
mielblas atau monoblas pertanda patognomonik leukaemia akut.
Kriteria Diagnosis :
Hitung jenis sel blas dan/atau progranulosit > 30% pada sitologi aspirat sumsum tulang.
Klasifikasi :
Untuk menentukan jenis/klasifikasinya diperlukan pemeriksaan :
- Pemeriksaan sitomorfologi dan sitokimia darah tepi
- Pemeriksaan sitomorfologi dan sitokimia aspirat sumsum tulang
- Pemeriksaan immunofenotip / petanda jenis sel
- Pemeriksaan sitogenetika / kariotip kromosom
Diagnosis Banding :
Jika sitologi aspirat sumsum tulang belum memenuhi syarat ialah: sindrom mielo displasia,
reaksi leukemoid, leukaemia kronis
Pengobatan :
Kuratif
- Sitoreduksi dengan sitostatika mulai dari yang ringan hingga yang agresif dengan
membutuhkan rescue sel induk darah pasien dari darah perifer untuk penyelamatan
pada ablasi sumsum tulang
- Transplantasi sel induk darah allogenic atau autogenic dari darah perifer, sumsum
tulang atau tali pusar
- Terapi genetic
Paliatif
Preparasit
Asam foat 25 mg/m2/os4 dosis selama 3 hari/minggu, dan vitamin B12 1000ug/os/bulan
- LMA: Hidroksiurea 500-3000 mg/hari/os6
Merkaptopurin 50-300 mg/hari/os
- LLA: 6 Merkaptopurin 60 mg/m2/hari/os
23

Metotreksat 15 mg/m2/os 1x seminggu


Prosedur Penatalaksanaan Pengobatan :
- Perawatan diruang rawat isolasi imunitas menurun
Preparasi pengobatan sitoreduksi
Central venous line
Anti emetik
Profilaksis asam urat
Tunda haid
Antibiotika dekontaminasi parsial
Proflaksis streptokokus
Vitamin K 2 kali seminggu 5 mg/os
Asam folat 3x1 tablet & B12 1000 ug/minggu
Leukoferesis untuk mencegah leukostasis juka leukosit > 100.000/uL dgn
umur > 55 tahun didampingin metilprednisolon 5 mg/kgBB/hari
- Pemeriksaan rutin
Turn over rate sel tumor
Elektrolit
Hemostasis lengkap
Fungsi ginjal
Keasaman urin
Fungsi hati
Gula darah
Serologi virus
Survelance bakteriologi
Foto dada
Fungsi lumbal diagnostik jangkitan otal\k
HLA typing pasien dan keluarga
Kriteria Respons Pengobatan :
- Remisi lengkap, hitung jenis sel blas dan atau progranulosit < 5% pada sitologi
aspirat sumsum tulang
- Remisi sebagian, hitung jenis sel blas dan atau progranulosit 5-10% pada sitologi
aspirat sumsum tulang
- Tidak respons, hitung jenis sel blas dan atau progranulosit > 10% pada sitologi aspirat
sumsum tulang
Kriteria Relaps :
Hitung jenis sel blas dan atau progranulosit > 5% pada sitologi aspirat sumsum tulang.
Pada transplantasi allogenic kariotip kromosom kembali ke semula
Penyulit :
Sindrom lisis tumor, infeksi netropenia dan perdarahan trombopenia/KID

24

LIMFOMA NON - HODGIN


Kriteria Diagnosis :
- Riwayat pembesaran kelenjar getah bening/massa tumor ditempat lain
- Riwayat demam tanpa sebab yang jelas
- Penurunan berat badan 10% dalam waktu 6 bulan
- Keringat malam banyak, tanpa sebab yang sesuai
- Pemeriksaan histoptologis tumor: sesuai dengan limfoma non Hodgin
Diagnosis Banding :
Limfoma Hodgin, limfadenitis tuberkulosa, toksoplasmosis, filariasis, tumor padat lainnya.
Langkah Staging :
- Pemeriksaan laboratorium lengkap, meliputi :
Darah tepi lengkap
Gula darah
Fungsi hati
Fungsi ginjal
Imunoglobin
- Pemeriksaan sitologi dan biopsy kelenjar / massa tumor untuk mengetahui subtipe
LNH tersebut serta keterlibatan kelenjar lain yang membesar
- Aspirasi dan biopsy sumsum tulang
- CT scan atau USG abdomen, untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar getah
bening paraaorta abdominal atau KGB lainnya, massa tumor abdomen dan metastasis
ke bagian-bagian intraabdominal
- Pencitraan toraks untuk mengetahui pembesaran kelenjar mediastinum
- Pemeriksaan THT, untuk melihat keterlibatan cincin Waldeyer. Bila cincin Waldeyer
terlibat dilanjutkan dengan tindakan gastrokopi
- Pemeriksaan bone scan atau bone survey untuk melihat keterlibatan tulang
Terapi :
Pilihan Pengobatan
- Derajat keganasan Rendah (DKR)
Pada prinsipnya simtomatik
Kemoterapi: obat tunggal atau ganda (per-oral) jika dianggap perlu COP
Radioterapi paliatif
- Derajat Keganasan Menengah (DKM)
Stadium I: radioterapi atau kemoterapi parenteral kombinasi
Stadium II-IV: kemoterapi parenteral kombinasi, radioterapi berperan untuk
tujuan paliasi
- Derajat Keganasan Tinggi (DKT)
Yang bukan Limfoblastik stadium I-IV
# Selalu kemoterapi parenteral kombinasi
# Radioterapi hanya berperan untuk tindakan paliasi
DKT Limfoblastik, selalu diberikan pengobatan seperti Leukemia Limfoblastik
Akut
Re-evaluasi hasil pengobatan dilakukan pada 1. setelah siklus kemoterapi
keempat
Setelah siklus pengobatan lengkap
25

Penyulit :
- Akibat langsung penyakitnya
Penekanan terhadap organ, khususnya jalan nafas, usus dan saraf
Mudah terjadi infeksi, bisa fatal
- Akibat efek samping pengobatan
Aplasi sumsum tulang
Gagal jantung akibat obat golongan antrasiklin
Gagal ginjal akibat sisplatinum
Neuritis akibat obat vinkristin
Dll

26

TROMBOSIS VENA DALAM


(DEEP VEIN TROMBOSIS)
Kriteria Diagnosis :
Gejala klinis bervariasi
- Pasien dengan resiko tinggi yaitu bila :
Riwayat trombosis
Pasca tindah bedah terutama bedah ortopedi
Imobilisasi lama terutam pasca trauma atau penyakit berat
Luka bakar
Gagal jantung akut atau kronik
Penyakit keganasan baik tumor solid maupun keganasan hemotologi
Infeksi baik jamur, bakteri maupun virus terutama yang disertai syok
Penggunaan obat-obatan yang mengandung hormon esterogen
Kelainan darah bawaan atau didapt yang menjadi presdisposisi untuk
trombosis
- Keluhan utama :
Nyeri lokal yang tiba-tiba
Edema, tergantung pada anggota tubuh terkena
- Pemriksaan fisis
Edema pada anggota tubuh terkena
Eritema
Peningkatan suhu lokal tempat yang terkena
Teraba vena
Ditemukan Homans sign
Berdasarkan data tersebut diatas, kemungkinan kesalahan diagnosis DVT dapat mencapai
50%
- Prosedur diagnosis baku adalah pemeriksaan flebografi atau venografi
- Impedance phlethysmography (pemeriksaan yang menganalisis variasi arus aliran
darah), terutama dipergunakan untuk pasien bergejala
- USG Doppler, positif palsu dan negatif palsu ditemukan pada masing-masaing 6%
kasus, mempunyai nilai diagnostik terutama pada DVT proksimal. Namun demikian
nilai diagnostiknya rendah pada DVT tanpa gejala dan DVT di betis
- Pemeriksaan Laboratorium
Kadar antitrombin III (AT III) menurun (normal 84% - 125%)
Kadar Fibrinogen Degradation Product (FDP) meningkat
Titer D-dimer meningkat
Diagnosis Banding :
Sindrom pasca flebitis, varises, gagal jantung, trauma, refluks vena, selulitis, limfangitis,
abses inguinal, keganasan yang disertai sumbatan kelenjar lomfe vena, gout, dermatitis
kontak, eritema nodosum, kehamilan, flebitis superficial, paralysis.
Pemeriksaan Penunjang :
- Radiologi:
Contrast Ascending Venography
Impedance Phlethysmography
27

USG vena B mode atau colour Doppler

Laboratorium
Kadar AT III
Kadar protein C dan protein S
Antibody antikardiopilin
Profil lipid
Agregasi Trombosit

Terapi :
Non Farmakologis
- Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena untuk melancarkan aliran darah vena
- Kompres hangat untuk meningkatkan sirkulasi mikrovaskular
- Latihan lingkup gerak sendi range og motion, seperti misalnya gerakan fleksieksistensi, menggenggam dll, tindakan ini akan meningkatkan aliran darah di venavena yang masih terbuka (patent)
- Pemakaian kaos kaki elastik, alat ini dapat meningkatkan aliran darah vena
Farmakologis
- Trombolisis
Terapi ini dapat dipertimbangkan sampai 2 minggu setelah pembentukan
thrombus
Tidak dianjurkan untuk thrombus yang berusia lebiah dari 4 minggu
Obat trombolisisn gyang sering dipergunakan ialah streptokinaase dan
urokinase
Untuk thrombus yang sudah lama, terapi trombolisis diberikan lebih dari 3
hari, sampai terjadi patensi vena. Pada beberapa kasus diperlukan waktu
trombolisis antara 10 14 hari.
- Antikoagulasi, pemberian antikoagulasi saja untuk trombosis vana proksimal dan betis
sudah adekuat
Heparin
Sebagai terapi awal untuk mencegah terbentuknya thrombus baru
Diberikan dalam bentuk infus kontinue dengan dosis dititrasi antara 24-36 ribu
unit atau dimulai dengan bolus 5000 unit dan dilanjutkan dengan infus
kontinue sehingga didapatkan a.PPT 2-2,5 kali kontrol normal (50-80 detik)
Dosis harian hasil titrasi diatas dipertahankan selama 7-12 hari
Coumarin dan warfarin
Coumarin memerlukan waktu 36 jam untuk mencapai efek terapeutiknya, oleh
karena dosis awal obat ini terikat pada protein plasma dan terakumulasi secara
bertahap dihati
Pemberian coumarin atau warfarin dapat dimulai bersamaan dengan
heparinisasi, dan pemberian heparin dapat dihentikan pada saat obat ini telah
mencapai efek terapeutiknya
Efek terapeutik coumarin atau warfarin dinilai dari paremeteri International
Normalized Ratio (INR) atau Prothombin Time (PT)
Untuk DVT, sasaran INR yang ingin dicapai adalah 2,0-3,0
Obat-obatan anti agregasi trombosit: aspirin, dipridamol, sulfinpirazon, dll
Bukan merupakan terapi utama
Pemakaiannya dapat dipertimbangkan 3-6 minggu setelah terapi baku yaitu
heparin dan/atau coumarin atau warfarin
28

Lama Pengobatan :
- Pada DVT yang tidak berkomplikasi dan diketahui penyebabnya atau pasca bedah,
terapi antikoagulan diberikan selama tidak lebih 1 bulan
- Pada DVT akitbat keganasan, penyakit kronik atau dengan factor resiko yang menetap
misalnya factor V yang resisten terahadap protein C teraktivasi, pengobatan dengan
antikoagulan dapat diberikan dalam jangka panjang, bahkan mungkin seumur hidup.
Perawatan :
Pengobatan trombosisis atau dengan antikoagulan membutuhkan lama perawatan antara 7-14
hari, yaitu dicapai efek perbaikan klinis atau sampai terbukti repatensi vena telah tercapai.
Lama Pemulihan :
Pada DVT akibat suatu kausa yang belum jelas seperti pasca bedah atau karena imobilisasi
lama, lama pemulihan 1 bulan
Pada kasus-kasus akibat keganasan, penyakit kronis dan defek primer yang lain, lama
pemulihan tergantung penyakit dasarnya.

29

DIABETES MELITUS ( DM )
Kriteria Diagnosis
Gula darah sewaktu > 200 mg/dl + gejala khas DM
Gula darah sewaktu > 200 mg/dl pada 2 kali pemeriksaan saat yang berbeda
Gula darah 2 jam pp > 200 mg/dl setelah pembebanan glukosa 75 gram (TTGO)
Gula darah puasa > 126 mg/dl pada 2 kali pemeriksaan pada saat yang berbeda
Tabel 1. Perbandingan antara DM tipe 1 dan DM tipe 2
DM tipe 1
DM tipe 2
Nama lain
Umur (thn)

IDDM
Biasa < 40 (tak selalu)

Keadaan klinik saat ditemukan


Kadar insulin

Berat
Tak ada insulin

Berat badan

Biasanya kurus

Pengobatan

Insulin, diet, olahraga

NIDDM
Biasa > 40
(tak selalu)
Ringan
Insulin cukup
sampai tinggi
Biasanya normal /
gemuk
Diet, olahraga,
tablet,insulin

Pemeriksaan Penunjang
Foto dada PA
EKG
Funduskopi
DPL, urinalisis, Gliko-Hb, profil lipid
Fungsi ginjal, fungsi hati
Terapi
1. Diet
2. Latihan jasmani
3. Obat hipoglikemik Oral :
1. Golongan sulfonilurea
2. Golongan biguanid
3. Golongan penghambat alfa-glukosidase
1. Insulin
2. Edukasi
Penyulit
Akut ( hipoglikemia, KAD, koma HONK ), makrovaskular
mikrovaskular ( retinopati, nefropati), neuropati, rentan infeksi.

(PJK, PVD, CVD),

30

HIPERTIROIDISME ( TIROTOKSIKOSIS )
Kriteria diagnosis
Berdebar, gelisah, lemas, keringat banyak, makan banyak tapi BB turun, intoleransi panas
Takikardia, kulit hangat, halus dan lembab, tremor, oftalmopati
Struma, bruit, refleks fisiologis meningkat
Kadar T4 atau FT4 meningkat dan TSH rendah sekali
Diagnosis Banding
Ansietas, tiroiditis subakut, hormon tiroid eksogen, tumor hipofisis, penyakit trofoblastik.
Pemeriksaan Penunjang
T4 atau FT4, TSHs
Tes fungsi hati dan darah perifer
Foto dada ( goiter retrosternal )
EKG
Terapi
Medikamentosa dengan obat anti tiroid : Propiltiourasil, Metimazol, dengan prinsip mulai
dosis tinggi kemudian diturunkan bertahap sesuai respon klinis dan laboratoris
Operasi jenis tiroidektomi subtotal tergantung indikasi
Radiasi internal dengan I 131 tergantung indikasi
Penyulit
Kardiovaskular ( gagal jantung, fibrilasi atrium )
Mata ( terutama eksoptalmus )
Penekanan jalan nafas

31

HIPOGLIKEMIA PADA DIABETES MELITUS


Kriteria Diagnosis
Klinik : riwayat DM sebelumnya timbul gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan
glukosa darah. Gejala ini dapat ringan berupa gelisah, sampai berat berupa koma dengan
kejang.
Laboratorium : Kadar gula darah < 50 mg/dl
Gejala
Parasimpatik
Simpatik
Gangguan otak ringan
Gangguan otak berat

:
:
:
:

lapar, mual
Keringat dingin, berdebar debar
Lemah, sulit menghitung
Koma, dengan/tanpa kejang

Penyebab
Makan kurang dari diet yang ditentukan
Sesudah olahraga
Sembuh sakit
Sesudah melahirkan
Makan obat yang mempunyai sifat serupa
Diagnosis Banding
Koma hiperglikemia
Pencegahan
Bagi pasien baru, sebaiknya dosis OHO mulai dari dosis kecil
Bagi pasien gangguan fungsi ginjal, dosis obat harus hati hati karena terjadi kumulasi
Bagi pasien tua, pemberian obat harus hati hati
Hati hati pemakaian obat untuk penyakit penyertanya seperti : derivat salisilat, sulfa,
phenibutazon. Obat obat ini bekerjasama dalam menurunkan gula darah.
Terapi
Pemberian gula murni 30 g ( 2 sendok makan ), sirop atau makanan yang mengandung
karbohidrat
Pada keadaan koma, berikan larutan Glukosa 40 % i.v sebanyak 20 50 cc, setiap 10
20 menit sampai pasien sadar, disertai infus dextrose 10 % 6 jam/kolf
Bila belum teratasi, dapat diberikan antagonis insulin (adrenalin, kortison, atau glukagon)

32

KARSINOMA TIROID
Kriteria Diagnosis
Anamnesis : riwayat penyinaran leher masa anak anak, nodul tiroid cepat membesar, suara
menjadi serak, pernafasan terganggu, riwayat neoplasma endokrin dalam keluarga
Klinis : nodul tiroid teraba keras, berbenjol, fiksasi daerah sekitar, pembesaran KGB regional
Diagnosis Banding
Struma adenomatosa
Kista tiroid
Pemeriksaan Penunjang
Biopsi aspirasi jarum halus nodul tiroid untuk pemeriksaan sitologi
Petanda keganasan tiroid : tiroglobulin atau kalsitonin darah
Sidik tiroid
USG tiroid
T4 atau FT4 dan TSH
Terapi
Operasi tiroidektomi total
Radioablasi I 131
Suplementasi sekaligus supresi TSH dengan Eltroksin dosis titrasi, umumnya 3 x 50 ug
atau 2 x 100 ug
Penyulit
Pendorongan jalan nafas oleh massa tumor, fiksasi massa tumor di daerah sekitar,
hipokalsemia post operasi, paralisis pita suara post operasi, metastasis jauh, hipotiroid pasca
operasi.

33

KETOASIDOSIS DIABETIK (KAD):


KOMA HIPEROSMOLAR NON KETOTIK (HONK)
Kriteria diagnosis
Klinis : riwayat DM sebelumnya, kesadaran menurun, nafas cepat dan dalam (Kussmaul),
tanda tanda dehidrasi
Faktor pencetus yang biasa menyertai : infeksi akut, infark miokard akut, stroke
Laboratorium :
Hiperglikemia ( GD > 250 mg/dl )
Asidosis ( pH < 7,3 bikarbonat < 15 meq/L )
Ketosis ( ketonemia dan ketonuria )
Pada HONK didapatkan hiperglikemia yang tinggi tanpa asidosis dan ketosis (biasanya
berusia > 50 tahun )
Diagnosa Banding
Koma hipoglikemik, gagal ginjal kronik, gagal hati
Ketoasidosis Diabetik
( KAD )
Umur
< 40
GD
< 1000
Na serum
< 140
K serum
/N
Bikarbonat
sangat
Ureum
tapi < 60
Osmolaritas
tapi < 360
Sensitivitas insulin bisa resisten ( jarang )
Prognosis
mortalitas 10 %

Hiperosmolar
Non-Ketotik (HNOK)
> 40
> 1000
> 140
sering
N / sedikit
> 60
> 360
sangat sensitif
mortalitas 50 %

Pemeriksaan penunjang
Foto dada : tanda infeksi paru
EKG
: tanda infark miokard akut
Laboratorium
: DPL, GD sewaktu, aseton darah / urine,
Analisis gas darah, elektrolit
Tes fungsi hati dan ginjal
Terapi
Tirah baring. Bila kesadaran menurun, dipuasakan
Oksigen nasal, kateter urine, selang lambung
Pasang infus 3 jalur ( rehidrasi, drip insulin, koreksi K )
Pada keadaan tertentu diperlukan pemasangan CVP
Rehidrasi dengan NaCl 0,9 %

34

Skema Penatalaksanaan Ketoasidosis Diabetik


Jam ke infus I

Infus II ( Insulin )

Koreksi K +

0
]- 2 kolf.
jam
1 1 kolf,
jam

]- 2 kolf
2
]- 1 kolf
3
]- 1 kolf
4
]- kolf
5
]- kolf
6
dsb
bergantung
pada
kebutuhan

Jumlah cairan
yang
diberikan
dalam 15 jam
sekitar 5 liter
Bila Na + >
155 mEq/l
ganti NaCl
n

Bila GD <
200 mg%
ganti dextrose
5%
Kontrol CVP

Koreksi HCO3

Bila pH
<7
77,1
>7,1
Pada jam ke 2 :
Bolus 180 mU/kgBB
dilanjutkan dg drip
insulin 90 mU/kgBB
dlm NaCl 0,9 %
Bila gula darah < 200
mg% kecepatan
dikurangi 45
mU/kgBB
Bila gula darah stabil
sekitar 200 300 mg
%
Selama 12 jam
dilakukan drip
insulin 1 2 unit
perjam disamping
dilakukan sliding
scale setiap 6 jam
Bila kadar glukosa
darah :

50 mEq / 6 jam ( dlm


infus )

Bila kadar K +
<3 3-4,5 4,5-6
>6

100mEq 50 mEq
0
HCO3
HCO3
26 mEq K+ 13
mEqK+ (*)

75 50 25
0
mEq/ mEq/
mEq/
6 jam 6 jam 6
jam

Insulin sk
< 200 mg%
200 250
5
U
250 300
10 U
300 350
15 U
> 350
20 U
Bila stabil
dilanjutkan dgn
sliding scale tiap 6
jam
Setelah sliding scale
Bila sudah sadar
setiap 6 jam dapat
beri K + oral
diperhitungkan
selama seminggu
kebutuhan insulin
sehari
3 x sehari
sebelum makan, (bila
os sudah makan )

* bila pH
K + akan , oleh
karena itu
pemberian
bikarbonat
disertai dg
pemberian K +
35

Pemantauan
Kadar glukosa darah tiap jam ( glukometer )
Elektrolit setiap 6 jam selama 24 jam selanjutnya tergantung keadaan
Analisa gas darah: bila pH < 7 periksa setiap 6 jam sampai pH > 7,1 selanjutnya tiap hari
sampai stabil
Pengukuran tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas dan temperatur setiap jam
Keadaan hidrasi, balans cairan
Waspada terhadap kemungkinan KID ( DIC )

36

KRISIS TIROID
Kriteria Diagnosis
Tidak ada kriteria diagnostik khusus.
Anamnesis : ada riwayat hipertiroidisme baik dari penyakit Graves maupun Multinodular
toksik dengan gejala toksik yang jelas, keringat banyak,gelisah kadang sampai psikosis,
demam tinggi. Diare merupakan gejala yang sering timbul dan sangat membantu ke arah
diagnosis.
Klinis : tanda toksik jelas, takikardia, kadang kadang atrial fibrilasi respons cepat, hipertensi
sistolik, suhu tinggi > 40 C, sering disertai tanda gagal jantung kongestif
Diagnosis Banding
Hipertiroidisme berat
Pemeriksaan Penunjang
T4 atau FT4 dan TSHs
Darah perifer
EKG
Terapi
Suportif (memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit, menurunkan suhu)
Obat Anti Tiroid ( Propiltiourasil 250 mg / 6 jam oral )
Penghambat Beta ( Propanolol, 1 2 mg iv perlahan atau 40 80 mg oral / 6 jam )
Glukokortikoid ( Hidrokortison 50 mg / 6 jam )
Mengatasi faktor penyebab ( antibiotik )
Penyulit
Renjatan, gagal jantung

37

STRUMA NODOSA NON TOKSIK ( SNNT )


Kriteria diagnosis
Anamnesis : pembesaran tunggal kelenjar tiroid, umumnya trjadi pada usia dewasa muda,
tidak ada gangguan menelan atau bernafas, tidak ada keluhan keluhan ke arah
hipertiroidisme, bisa disrtai panas ( tiroiditis ) atau tanpa panas ( struma adenomatosa / kista )
Klinis : nodul tiroid teraba kenyal, tidak nyeri, ( bila ada nyeri pikirkan tiroiditis ) KGB tak
teraba, tidak ada fiksasi dengan daerah sekitar
Diagnosis Banding
Struma Adenomatosa
Kista Tiroid
Keganasan Tiroid
Tiroiditis
Pemeriksaan Penunjang
T4 atau FT4 dan TSH
Biopsi aspirasi jarum halus nodul tiroid
USG tiroid
Petanda keganasan tiroid ( bila ada indikasi )
Terapi
Medikamentosa dengan obat L tiroksin dosis titrasi, dosis mulai 2 x 50 ug ( 3 hari),
dilanjutkan 3 x 50 ug ( 3 4 hari ), bila tidak ada efek samping atau tanda tokdik dosis
dinaikkan menjadi 2 x 100 ug sampai 4 6 minggu, kemudian evaluasi TSH
Operasi dengan indikasi kosmetik atau gagal obat atau kecurigaan ganas
Penyulit
Umumnya tidak ada, kecuali ada infeksi,seperti pada tiroiditis akut / subakut.

38

ANKSIETAS BERORIENTASI ORGAN


Kriteria Diagnosis

Perasaan cemas yang berlebihan, subyektif dan tidak realistis


Terdapat keluhan dan gejala gejala :

Ketegangan motorik : kedutan otot, kaku, pegal, sakit dada, sakit persendian, dll.
Hiperaktif autonom : sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah, mulut
kering, rasa mual, mules, diare, dll.
Bila ditemukan adanya kelainan organik pada umumnya keluhan tidak sebanding
dengan kelainan
Organ yang ditemukan
Kewaspadaan berlebihan dan daya tangkap berkurang : mudah terkejut, cepat
tersinggung, sulit konsentrasi, sukar tidur, dll
Aktivitas sehari hari tergangu : kemampuan kerja menurun, hubungan sosial terganggu,
kurang merawat diri, dll.
Diagnosis banding
Gangguan campuran anksietas dan defresi
Depresi
Gangguan somatisasi
Kelainan organi yang ditemukan ( koinsidensi )
Pemeriksaan penunjang
Ureum, kreatinin, gula darah, tes fungsi hati, urine lengkap
Analisis gas darah, K, Na, Ca, T3, T4, TSH,dll, sesuai indikasi
Foto dada bila perlu
Elektrokardiogram, elektromiogram, elektroensefalogram, bila perlu.
Endoskopi, kolonoskopi, USG, bila perlu.
Terapi
Nonfarmakologis : edukasi, reassurance, psikoterapi
Farmakologis : benzodiazepin; diazepam; alprazolam; clobazam. Nonbenzodiazepin :
buspiron. Penyekat Beta bila gejala hiperaktivitas antonom menonjol, simtomatik sesuai
indikasi
Penyulit
Kurang atau tidak mampu melakukan aktivitas sehari hari ( bekerja )

39

CHRONIC FATIQUE SYNDROME


Diagnosis
Gejala utama : rasa lelah kronis yang dirasakan terus menerus atau berulang. Rasa lelah
bertambah bila melakukan aktivitas atau saat mengalami stres emosi dan tidak pulih
sepenuhnya dengan istirahat.
Gejala tambahan yang dapat menyertai ialah mialgia, sefalgia, nyeri sendi,nyeri
tenggorokan ( faringitis ), demam, limfadenopati terutama daerah leher atau aksila. Juga
didapatkan adanya gejala gejala neutropsikologis seperti depresi, kecemasan, insomnia.
Kriteria diagnosis
Gejala utama dalam 6 bulan atau lebih disertai minimal 4 gejala tambahan dan tidak
didapatkan penyakit kronis lain yang spesifik.
Diagnosis Banding
Chronic fatique
Fibromialgia
Keganasan
Infeksi kronis
Penyakit autoimun
Penyalahgunaan obat ( drug abuse )
Pemeriksaan penunjang
Tidak ada pemeriksaan penunjang yang spesifik
Pemeriksaan penunjang sesuai dengan gejala yang dominan dan bila diperlukan untuk
menyingkirkan diagnosis
Terapi
Terapi simtomatik sesuai gejala yang dominan
Antidepresan
Latihan ( rehabilitasi ) psikis dan fisik
Terapi penunjang lain, diet rendah lemak, vitamin, tidak merokok, tidak minum alkohol
Penyulit

Isolasi sosial
Tidak mampu bekerja

40

DEPRESI BERORIENTASI ORGAN


Kriteria Diagnosis
A. perasaan sedih ( depresif ), tidak bisa menikmati hidup
- kurang atau tidak ada perhatian terhadap lingkungan
- mudah lelah
B. gejala lain :
Konsentrasi dan perhatian kurang
Harga diri dan kepercayaan diri kurang
Perasaan bersalah / tidak berguna
Pandangan masa depan suram / pesimis
Tidur terganggu
Nafsu makan kurang / bertambah
Diagnosis ditegakkan apabila ada gejala gejala tersebut dengan ataupun tanpa gejala
somatik. Derajat depresi :
1. Ringan
: 2 gejala A dan 2 gejala B
2. Sedang
: 2 gejala A dan 3 gejala B
3. Berat
: 3 gejala A dan 4 gejala B
Diagnosis banding
Gangguan campuran anksietas dan depresi, anksietas, gangguan somatisasi, kelainan organ
yang ditemukan ( koinsidensi )
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : Hb, Ht, leukosit, ureum, kreatinin, gula darah, tes fungsi hati, urin
lengkap. Analisa gas darah, K, Na,Ca,T3,T4,TSH dll. Sesuai indikasi
Foto dada bila perlu
Elektrokardiogram, elektromiogram, elektroensefalogram, bila perlu
Endoskopi, kolonoskopi, USG, bila perlu
Terapi
Nonfarmakologis : edukasi, reassurance, psikoterapi
Farmakologis :
Antidepresan : maprotilin, amineptin; moklobemid dan obat golongan SRRI seperti
sertralin, paroksetin, dll
Simtomatik sesuai indikasi
Penyulit
Kurang/tidak mampu melakukan aktivitas sehari hari ( bekerja ), bunuh diri

41

DISPEPSIA FUNGSIONAL
Kriteria diagnosis
Rasa sakit dan tidak enak di ulu hati
Perih, mual, kembung, cepat kenyang, muntah, sering bersendawa, regurgitasi
Keluhan dirasakan terutama berhubungan / dicetuskan dengan adanya stres
Berlangsung lama dan sering kambuh
Sering disertai gejala gejala ansietas dan depresi
Pemeriksaan radiologis dan endoskopi normal
Diagnosis banding
Dispepsia oleh sebab organik misalnya ulkus peptikum, gastritis erosif, dan sebagainya
Gangguan pada sistem hepato bilier
Dispepsia yang disebabkan penyakit kronik lain, misalnya gagal ginjal, diabetes melitus
dan sebagainya
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium rutin : Hb, leukosit, hitung jenis, urium, kreatinin, gula darah, tes fungsi hati
Radiologis : foto lambung dan duodenum dengan kontras
Endoskopi
Pemeriksaan laboratorium lain sesuai indikasi untuk menyingkirkan diagnosis banding
Terapi
Simtomatik diberikan antasida, obat obatan penghambat H2, seperti simetidin, ranitidin,
famotidin; penghambat pompa proton seperti omeprazol; dan obat obatan prokinetik
Bila jelas terdapat anksietas atau depresi diberikan anksiolitik atau antidepresan yang
sesuai
Psikoterapi suportif dan psikoterapi perilaku
Penyulit
Dehidrasi sampai malnutrisi bila muntah berlebihan atau asupan makanan kurang dalam
waktu lama
Bila berlangsung lama mungkin timbul dispepsia organik atau ulkus
Kurang atau tidak mampu melakukan kerja atau kegiatan sehari hari

42

NYERI PSIKOGENIK
Kriteria Diagnosis
Adanya nyeri tanpa kelainan organik yang jelas, misalnya nyeri kepala, migren, mialgia,
atralgia, kolik abdomen dll
Stresor psikososial ( + )
Sering disertai adanya gejala gejala depresi atau anksietas
Diagnosis banding
Nyeri organik sesuai dengan lokasi nyeri
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : Hb, Ht, leukosit, hitung jenis, urin lengkap
Foto dada, EKG, dll sesuai diagnosis banding nyeri organik
Terapi
Nonfarmakologis
Istirahat
Psikoterapi suportif dan psikoterapi perilaku
Farmakologis
Analgetik, NSAID
Antispasmodik
Anksiolitik dan anti depresan
Simtomatik lain bila perlu
Analgetik narkotik, blok saraf lokal
Penyulit
Nyeri psikogenik yang kronik
Nyeri yang menetap ( intractable pain )

43

PENYAKIT JANTUNG FUNGSIONAL


( FUNCTIONAL HEART DISEASE )
Kriteria diagnosis
Rasa sakit dada tidak khas, sesak nafas, dapat menyerupai anginapektoris
Berdebar, rasa jantung seakan berhenti
Rasa mau mati, mudah terkejut, adanya perasaan cemas yang berlebihan
Biasanya gejala ini sudah sering timbul sebelum pasien datang ke rumah sakit. Seringkali
disertai gejala 2 psikosomatik lain ( vegetative inbalance )
Stresor pencetus pada umumnya jelas
Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan yang spesifik, dapat dijumpai adanya
takikardia, aritmia pada umumnya jinak, kadang kadang didapatkan gejala prolaps katup
mitral. Pada EKG bisa didapatkan elevansi / depresi segmen ST
Diagnosis banding
Esofatigis, dispepsia fungsional, gangguan otot dada / tulang iga, penyakit jantung koroner /
infark miokard, insufisiensi mitral
Pemeriksaan penunjang
EKG
Foto dada
Enzim kreatinin kinase ( CK )
Tes treadmil
Ekokardiografi
Terapi
Simtomatik dengan analgetik dan atau antasida

Psikotropik disesuaikan dengan gejala psikis yang mendasari. Pada umumnya cukup
dengan golongan benzodiapin, penyekat beta dan atau obat antiarimia lain, psikoterapi

Penyulit
Adanya penyakit organik terutama PJK

44

SINDROM HIPERVENTILASI
Kriteria diagnosis
Sesak napas tidak khas
Merasa kekurangan udara sehingga harus menarik napas panjang
Sering disertai adanya takipnu dan rasa sempit di dada
Kadang kadang disertai adanya keluhan pada jantung
Parestesi
Badan terasa enteng, melayang, penglihatan kabur
Gejala gejala fisik lain yang tidak khas
Kejang pada tangan dan kaki seperti keadaan histeri
Adanya gangguan emosional terutama rasa takut
Stresor psikososial
Diagnosis banding
Angina pektoris, terutama bial terjadi pada orang tua
Proses lokal di otak
Gangguan elektrolit dan asam basa
Hipoparatiroidisme
Tetanus
Ansietas panik
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : Hb, Ht, leukosit, ureum, kreatin, gula darah, tes fungsi hati, urine lengkap
Analisis gas darah, kalium, natrium, kalsium, hormon paratiroid
Foto dada, EKG,dll, sesuai diagnosis banding
Terapi
Nonfarmakologis
Istirahat
Psikoterapi suportif
Farmakologis :
Sungkup dan oksigen nasal
Ansiolitik golongan benzodiazepin
Koreksi bila ada gangguan elektrolit dan asam basa
Simtomatik sesuai keperluan

45

SINDROM KOLON IRITABEL


Kriteria diagnosis
Rasa nyeri/tidak enak diperut disertai diare dan atau konstipasi
Perut kembung yang tampak dengan jelas
Rasa nyeri diperut hilang setelah buang air besar
Buang air besar lebih sering pada saat timbulnya rasa sakit
Keluhan keluhan psikis menonjol seperti gejala gejala anksietas atau depresi
Feses lembek pada saat timbulnya rasa sakit
Feses campur lendir dan tidak berdarah
Penurunan berat badan tidak lebih dari 5 % dalam satu tahun terakhir
Pemeriksaan feses tidak ditemukan parasit
Pemeriksaan barium enema maupun kolonoskopi normal
Diagnosis banding
Penyakit kolon inflamasi ( kolitis ), intoleransi laktosa, karsinoma kolon
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium rutin : Hb, leukosit, hitung jenis, ureum, kreatinin, gula darah, tes fungsi
hati
Feses lengkap ( cacing, amuba )
Barium enema
Kolonoskopi
Terapi
Diet tinggi serat untuk memperbaiki konstipasi, sedangkan laksatif diberikan bila perlu
dan hanya dalam jangka pendek
Untuk nyeri yang mengganggu dapat diberikan antispasmodik seperti mebeverin
hidroklorida atau obat obatan antikolinergik
Keluhan diare diobati dengan loperamid
Bila gejala psikis menonjol diberikan ansiolitik atau antidepresan yang sesuai
Psikoterapi suportif dan psikoterapi perilaku
Penyulit
Rasa sakit yang sulit dikendalikan sehubungan faktor psikis yang menonjol
Sosial : kurang atau tidak mampu melakukan pekerjaan sehari hari.

46

ARTRITIS PIRAI
Definisi
Artritis pirai merupakan penyakit yang disebabkan oleh deposisi kristal monosodium urat
(MSU) yang terjadi akibat supersaturasi cairan ekstraselular dan mengakibatkan satu atau
beberapa manifestasi klinik.
Kriteria diagnosis
Kriteria ACR ( 1977 ) :
1. Didapatkan kristal monosodium urat didalam cairan sendi, atau
2. Didapatkan kristal monosodium urat di dalam tofus, atau
3. Didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut :
a. Inflamasi maksimal pada hari pertama
b. Serangan artritis akut lebih dari 1 kali
c. Artritis monoartikular
d. Sendi yang terkena berwarna kemerahan
e. Pembengkakan dan sakit pada sendi MTP I
f. Serangan pada sendi MTP unilateral
g. Serangan pada sendi tarsal unilateral
h. Tofus
i. Hiperurisemia
j. Pembengkakan sendi asimetris pada gambaran radiologik
k. Kista subkortikal tanpa erosi pada gambaran radiologik
l. Kultur bakteri cairan sendi negatif
Diagnosis Banding
Psedogout, artritis septik, artritis reumatoid
Pemeriksaan Penunjang
LED, CRP. Hasil positif menunjukan proses inflamasi aktif
Analisis cairan sendi. Adanya kristal MSU memastikan diagnosis
Asam urat darah dan urin 24 jam. Kadar dalam darah pada umumnya meningkat. Kadar
dalam urin dapat dipakai untuk status ekskresi asam urat
Ureum, kreatinin, CCT. Dipakai untuk menunjukan derajat gangguan fungsi ginjal
Radiologi sendi. Gambaran radiologi dapat berupa pembengkakan jaringan lunak,
kalsifikasi pada tofus, erosi bulat atau oval yang dikelilingi oleh tepi yang sklerotik
Terapi
1. Penyuluhan
2. Pengobatan fase akut :
a. Kolkisin. Dosis 0.5 mg diberikan tiap jam sampai terjadi perbaikan inflamasi atau
terdapat tanda tanda toksik atau dosis tidak melebihi 8 mg / 24 jam
b. Obat anti inflamasi non steroid
c. Glukokortikoid dosis rendah bila ada kontra indikasi kolkisin dan obat anti inflamasi
non steroid
3. Pengobatan hiperurisemia
a. Diet rendah purin
b. Obat penghambat xantin oksidase ( untuk tipe produksi berlebih ), misalnya
alopurinol
c. Obat urikosurik ( untuk tipe sekresi rendah )
Obat antihiperurisemik tidak boleh diberikan pada stadium akut.
47

Penyulit
Tofus
Deformitas sendi
Nefropati gout, gagal ginjal
Perawatan
Pada umumnya tidak diperlukan kecuali pada kasus berat dimana diperlukan pemberian
kolkisin intravena.

48

ARTRITIS REUMATOID
Definisi
Artritis Reumatoid ( AR ) merupakan penyait inflamasi sistematik kronik yang terutama
mengenai sendi diartrodial. Termasuk penyakit otoimun dengan etiologi yang tidak diketahui.
Kriteria diagnosis ( ACR, 1987 )
1. Kaku pagi, sekurangnya 1 jam
2. Artritis pada sekurangnya 3 sendi
3. Artritis pada sendi pergelangan tangan, metacarpophalanx ( MCP ) dan Proximal
Interphalanx ( PIP )
4. Artritis yang simetris
5. Nodul reumatoid
6. Faktor reumatoid serum positif
7. Gambaran radiologik yang spesifik
Untuk diagnosis AR, diperlukan 4 dari 7 kriteria tersebut diatas. Kriteria 1 4 harus minimal
diderita selama 6 minggu
Diagnosis Banding
Spondiloartropati seronegatif, sindrom Sjogren
Pemeriksaan Penunjang
LED, CRP. Sebagai manifestasi inflamasi pada jaringan maka LED dan protein fase akut
lainnya seperti CRP akan meningkat. Pada usia perlu diperhatikan bahwa LED secara
normal akan meningkat sesuai pertambahan usia.
Faktor reumatoid serum. Hasil positif dijumpai pada sebagian besar kasus (85 %),
sedangkan hasil negatif tidak menyingkirkan adanya AR. Keadaan terakhir ini dikenal
sebagai AR seronegatif
Analisis cairan sendi. Dapat terlihat peningkatan jumlah leukosit diatas 2000/mm.
Analisis ini sekaligus digunakan untuk menyingkirkan adanya artropati kristal
Rasiologi tangan dan kaki. Gambaran dini berupa pembengkakan jaringan lunak, diikuti
oleh osteoporosis juxta articular dan erosi pada bare area tulang. Keadaan lanjut terlihat
penyempitan celah sendi, osteoporosis difusi, erosi meluas sampai daerah subkhondral.
Biopsi sinovium / nodul reumatoid. Terlihat gambaran inflamasi kronik berupa jaringan
granulasi dan fibrosis
Terapi
Penyuluhan

Proyeksi sendi, terutama pada stadium akut

Obat anti inflamasi nonsteroid

Obat remitif ( DMARD ) misalnya klorokuin dengan dosis 1 x 250 mg/hari, metotreksat
dosis 7.5 20 mg sekali seminggu, salazopirin dosis 3 4 x 500 mg/hari, garam emas per
oral dosis 3 9 mg/hari atau subcutan dosis awal 10 mg, dilanjutkan seminggu kemudian
49

dengan dosis 25 mg/minggu dan dinaikkan menjadi 50 mg/minggu selama 20 minggu,


selanjutnya diturunkan setiap 4 minggu sampai dosis kumulatif 2000 mg.
Glukokortikoid, dosis seminimal mungkin dan sesingkat mungkin, untuk mengatasi
keadaan akut atau kekambuhan. Dapat diberikan dengan dosis 20 mg Prednison dosis
terbagi dan segera di tappering off.
Bila terdapat peradangan yang terbatas hanya pada 1 2 sendi, dapat diberikan injeksi
steroid intraartikular seperti triamcinolon acetonide 10 mg atau metilprednisolon 20 40
mg
Fisioterapi, terapi okupasi bila perlu dapat diberikan ortosis

Operasi untuk memperbaiki deformitas

Perawatan
Diperlukan apabila didapatkan penyulit pada jantung, paru atau organ vital lainnya yang
memerlukan perawatan rumah sakit. Pada tindakan transplantasi sumsum tulang sebagai
pilihan terapi akhir.
Penyulit
Deformitas sendi ( boutonnierre, swan neck, deviasi ulnar )

Sindrom terowongan karpal

Prosedur/tindakan yang mungkin diperlukan


Fungsi cairan sendi

Bipsi sinovium per artroskopi

Artritis Reumatoid
Algoritme
Diagnosis RA
Artritis 3 sendi
Perubahan radiologi Faktor reumatoid (pembengkakan pergelangan tangan)
(pembengkakan MCP )

RA
Faktor reumatoid (pembengkakan pergelangan tangan)
Pembengkakan simetris

RA
Pembengkakan MCP dan pergelangan tangan

Bukan RA

Pembengkakan MCP dan pergelangan tangan


RA

RA

Bukan RA

Bukan RA
RA

50

51

ARTRITIS SEPTIK
Definisi
Artritis yang disebabkan oleh adanya infeksi berbagai mikroorganisme ( bakteri, non
gonokokal)
Kriteria diagnosis
Nyeri sendi akut, umumnya monoartikular (terbanyak mengenai sendi lutut )
Umumnya terdapat penyakit lain yang mendasari
Ditemukan bakteri dari kultur cairan sendi
Diagnosis Banding
Artritis gonokokal, bursitis septik
Pemeriksaan Penunjang
Analisis cairan sendi. Diperoleh hasil berupa kekeruhan atau pus, buruknya bekuan musin,
rendahnya kadar glukosa, sel leukosit umumnya meningkat diatas 100.000/mm
Pewarnaan gram dan kultur cairan sendi. Diharapkan positif untuk menegakkan diagnosis
definitif
Radiografi sendi yang terserang. Gambaran umum berupa pembengkakan jaringan lunak,
pelebaran celah sendi dan gambaran osteomielitis apabila infeksi berlanjut lebih dari 7
14 hari
LED, CRP, leukosit darah. Hasil meningkat pada proses inflamasi akut
Kultur darah, bila ada tanda tanda sepsis. Hasil positif terutama didapatkan pada minggu
pertama
Terapi
1. Aspirasi cairan sendi
2. Antibiotika berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan diubah setelah hasil kultur
diperoleh
3. Drainase sendi yang terinfeksi
4. Indikasi tindakan bedah :
a. Infeksi koksa pada anak anak
b. Infeksi mengenai sendi yang sulit dilakukan drainase secara adekuat
c. Terdapat bukti osteomielitis
d. Infeksi berkembang ke jaringan lunak sekitarnya
Penyulit
Osteomielitis, sepsis
Perawatan
Perawatan inap mutlak diperlukan. Artritis septik merupakan salah satu kegawatan
reumatologik yang memerlukan tindakan agresif.
52

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK


Kriteria Diagnosis
Kriteria ACR ( 1982 )
1. Ruam malar
2. Ruam diskoid
3. Fotosensitifitas
4. Ulserasi di mulut atau nasofaring
5. Artritis
6. Serositis, yaitu pleuritis atau perikarditis
7. Kelainan ginjal, yaitu proteinuria persisten > 0,5 gr/hari atau adalah silinder sel
8. Kelainan neurologik, yaitu kejang kejang atau psikosis
9. Kelainan hematologik, yaitu anemia hemolitik atau lekopenia atau limfopenia atau
trombositopenia
10. Kelainan imunologik, yaitu sel LE positif atau anti DNA positif, atau anti Sm positif atau
tes serologik untuk sifilis yang positif palsu
11. Antibodi antinuklear ( Antinuclear antibody, ANA ) positif
Diagnosis ditegakkan bila didapatkan 4 dari 11 kriteria diatas.
Diagnosis Banding
Mixed conective tissue disease, sindrom vaskulitis
PemeriksaanPenunjang
LED, CRP. Hasil meningkat menunjukan adanya proses inflamasi aktif
C3 dan C4. Penurunan titer komplemen ini dipakai sebagai salah satu paremeter aktivitas
penyakit
ANA, ENA (anti dsDNA dsb ). Pada umumnya dijumpai antibodi terhadap nukleus sel,
walaupun ANA negatif tidak menyingkirkan kemungkinan LES. Antibodi terhadap ENA
tidak ada yang spesifik, namun korelasi terbaik bila dijumpai anti SM
Coomb test bila ada AIHA
Biopsi kulit, bila didapatkan manifestasi kulit atau vaskulitis. Diharapkan terdapat
endapan kompleks imun baik berupa IgG, IgM atai IgA. Juga dapat dijumpai fibrinogen
atau endapan komplemen
Terapi
Penyuluhan
Proteksi terhadap sinar matahari, sinar ultraviolet, kadang kadang juga sinar flouresein.
Bila perlu, gunakan sunscreen atau sunblock
Pada manifestasi non organ vital ( kulit, sendi, fatique ) dapat diberikan klorokuin 4
mg/kgBB/hari. Untuk artritis dapat ditambahkan obat anti inflamasi non steoid dan
metotreksat dosis rendah ( 7,5 mg/minggu). Bila efeknya tidak adekuat, berikan prednison
dosis rendah ( 15 mg/hari)
Bila mengenai organ vital, berikan prednison 1 1.5 mg/kgBB/hari selama 6 minggu
kemudian dilakukan tappering off
Bila terdapat peradangan yang terbatas hanya pada 1 2 sendi, dapat diberikan injeksi
steroid intraartikular
Pada kasus berat atau mengancam nyawa dapat juga diberikan pulse metilprednisolon 1
gram/hari IV selama 3 hari berturut turut, dilanjutkan dengan prednison 40 60 mg/hari
peroral
Bila pada pemberian glukokortikoid selama 4 minggu tidak diperoleh hasil yang
memuaskan, maka harus dimulai penambahan imunosupresif lain, misalnya siklofosfamid
500 1000 mg/m sebulan sekali selama 6 bulan, kemudian tiap 3 bulan sampai 2 tahun
53

Imunosupresan lain yang dapat diberikan adalah azatioprin, siklosporin A

Penyulit
Anemia hemolitik, trombosis, lupus serebral, nefritis lupus, infeksi sekunder, osteonekrosis
Perawatan
Diperlukan pada kasus kasu berat dengan manifestasi keterlibatan organ vital seperti
terdapatnya gagal jantung, sindroma nefrotik, dengan over load cairan, pneumonitis atau
infeksi paru lainnya dan sebagainya.

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK


Algoritme
Pemeriksaan Laboratorium pada SLE

Diagnosis SLE
Kemungkinan SLE

Kemungkinan SLE
Tes penapisan
Tes positif

Profil spesifitas
ANA

(-)

(+)

Tes negatif

Diagnosis DNA
tdk mendukung
Periksa seberapa jauh kerusakan organ

Periksa serologi yg berkaitan dgn aktivitas penyakit

Pemeriksaan laboratorium pencitraan (imaging), biopsi


Kadar autoantibodi,kadar komplemen C dan fragmen sIL-2R dsb

Kerusakan organ Kerusakan organ tidak terdeteksi


PENATALAKSANAAN

Periksa profil
Pengobatan
spesifitas ANA kuantitatif dan pemeriksaan lain yg berkaitan dgn aktivitas penyakit, selang waktu 8-12 minggu

Ket :
Menunjukan jalur yang paling memungkinkan untuk diagnosis /
kompirmasi SLE
Menunjukan jalur untuk eksklusi SLE atau kemungkinan konfirmasi SLE
kecil
54

* Tes penapisan ANA apabila positif harus dibedakan lagi menjadi ANA dengan gambaran
periferal (rim), difusi (homogen), sentromer atau nukleoli
Tes penapisan ANA dan pemeriksaan lain untuk diagnosis penyakit autoimun
ANA
negatif

Tidak ada kesalahan


Pengobatan remisi
antigen XS
Sind nefrotik

Periperal (rim)

Anti - dsDNA

SLE

Difusi
(homogen)
Antinukleoprotein

sentromer

nukleoli

Histon

SLE,
RA,

Raynauds fenomen,
Skleroderma

SLE, RA,
Drug LE

CREST
skleroderma

RNP

SLE
MCTD
RA
Skleroderma
UCTD

Sm

SLE

Ro(SS-A)

SLE
Sindrom
Sjorgen

La

SLE
Sindrom
Sjorgen

PcNA

SLE

Scl-70

speckle

PM/J
o/

Tdk terdapat
spesivitas

UCTD,SLE,RA
Penyakit hati,Mono
Penyakit inflamasi kronik

Skleroterapi

PM/DM

55

NEFRITIS LUPUS
Definisi
Lupus eritomatosus sistemik yang disertai keterlibatan ginjal dengan manifestasi berupa
proteinuria > 500 mg/24 jam atau 3+. Termasuk pula adanya cetakan ( eriterosit, hemoglobin,
granular, tubular atau gabungan), hematuria, pyuria steril dan peningkatan kadar kreatinin.
Kriteria diagnosis
1. Memenuhi kriteria SLE menurut ACR (1982)
2. Hasil biopsi ginjal
Diagnosis banding
Glomerulonefritis karena sebab lain
Pemeriksaan Penunjang
LED, CRP. Hasil meningkat menunjukan adanya inflamasi akut
ANA, ENA (anti dsDNA dsb). ANA diharapkan positif, sedangkan anti ENA sangat
variatif
Protein urin kwantitatif. Nilai diatas 500 mg/24 jam menunjukan adanya keterlibatan
ginjal (lupus nefritis), sedangkan hasil diatas 1000 mg/24 jam merupakan indikasi untuk
melakukan biopsi
Ureum, kreatinin, CCT. Diperlukan untuk menilai beratnya gangguan fungsi ginjal
Biopsi ginjal. Hasil histopatologi diperlukan untuk tindakan pengobatan. Juga untuk
menilai komplemen C1q yang berguna dalam menentukan prognosis.
Terapi
1. Penatalaksanaan umum :
a.) Pada semua pasien yang diduga menderita nefritis lupus sebaiknya dilakukan biopsi
ginjal bila tidak ada konta indikasi, karena hal ini akan menentukan strategi
penatalaksanaan lebih lanjut.
b.) Kurangi asupan garam bila ada hipertensi, asupan lemak bila ada dislipidemia dan
asupan protein bila fungsi ginjal mulai terganggu. Perhatikan asupan kalsium untuk
mencegah osteoporosis akibat steroid.
c.) Berikan loop diuretics untuk mengatasi udem
d.) Hindari penggunaan salisilat dan obat antiinflamasi non steroid
e.) Terapi agresif terhadap hipertensi
f.) Hindari kehamilan, karena pasien nefritis lupus yang hamil akan berisiko tinggi
untuk mengalami gagal ginjal
g.) Pada pasien nefritis lupus dengan manifestasi SLE di kulit, dapat dipertimbangkan
pemberian antimalaria
h.) Pemantauan berkala aktifitas penyakit dan fungsi ginjal yang meliputi tekanan
darah, sedimen urin, kreatinin serum, albumin serum,protein urin 24 jam,
komplemen C3 dan anti DNA
2. Berdasarkan hasil biopsi ginjal, maka diberikan terapi spesifik untuk nefritis lupus
sebagai berikut :
a.) Klas I. Tidak diperlukan terapi spesifik
b.) Klas II. Beberapa pasien dengan lesi mesangial, tidak memerlukan terapi spesifik.
Pasien kelas IIb dengan protenuria > 1 gram/hari, titer anti dsDNA yang tinggi dan
C3 yang rendah, harus diberikan prednison 20 mg/hari selama 6 minggu sampai 3
bulan, kemudian dosisnya diturunkan secara bertahap, tergantung aktifitas penyakit.
56

c.) Klas III dan IV. Pada keadaan ini, risikountuk terjadinya gagal ginjal dalam 10 tahun
lebih dari 50%, sehingga harus diberi terapi yang agresif. Berikan prednosin 1
mg/kgBB/hari minimal selama 6 minggu tergantung respons kliniknya, kemudian
dosisnya diturunka secara bertahap dan dipertahankan pada dosis 10 15 mg/hari
selama 2 tahun. Respon terhadapglukokortikoid dapat diperkirakan berdasarkan
jumlah reseptor glukokorticoid. Bila respon terhadap glukokortikoid tidak dapat
dicapai, berikan siklofostamid 500 1000 mg/m setiap bulan selama 6 bulan
kemudian 3 bulan sekali selama 2 tahun. Bila setelah dicapai perbaikan kemudian
timbul perburukan lagi, dosis siklofosfamid bulanan dapat diulang kembali atau
diberikan tambahan bolus metilprednisolon tiap bulan. Bila terjadi perburukan
fungsi ginjal, dapat dipertimbangkan pemberian bolus metilprednisolon atau
afaresis. Sebagai pengganti siklofosfamid, dapat juga diberikan azatioprin, tetapi
efektifitasnya lebih rendah daripada siklofosfamid. Pemberian siklofosfamid
diperlukan untuk mencegah perburukan fungsi ginjal dalam jangka panjang (>5
tahun) yang tidak dapat dicapai dengan pemberian steroid.
d.) Klas V. Diberikan prenison 1 mg/kgBB/hari selama 6-12 minggu, kemudian dosis
diturunkan secara bertahap sampai mencapai 10 mg/hari dan dipertahankan sampai
1-2 tahun. Obat sitotoksik jarang diperlukan, kecuali bila ada komponen proliferatif.
Lesi membranosa murni sangat jarang ditemukan, dan bila ditemukan dapat
dipertimbangkan pemberian siklosporin A.
Pasien dengan kadar kreatinin serum lebih dari 3 mg/dl untuk jangka panjang, tidak
dianjurkan pemberian obat sitotoksik. Pasien ini memerlukan dialisis atau transplantasi
gunjal. Untuk mengontrol manifestasi ekstrarenal, dapat diberikan prednison dosis
pemeliharaan 5 10 mg/hari. Restriksi protein dan garam juga harus diperhatikan, demikian
juga tekanan darahnya.
Penyulit
Proteinuria masif, gagal ginjal.
Perawatan
Diperlukan pada kasus dengan gagal ginjal terminal yang memerlukan tindakan hemodialisis
awal atau dengan sindroma over load.

57

OSTEOARTRITIS
Definisi
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang mengenai rawan sendi. Penyakit ini
ditandai oleh kehilangan rawan sendi progresif dan terbentuknya tulang baru pada trabekula
subkhondral dan tepi tulang (osteofit).
Kriteria Diagnosis
Osteoartritis sendi lutut :
1. Nyeri lutut, dan
2. Salah satu dari 3 kriteria berikut:
a.) Usia > 50 tahun
b.) Kaku sendi < 30 menit
c.) Krepitus + osteofit
Osteoartritis sendi tangan
1. Nyeri tangan atau kaku, dan
2. Tiga dari 4 kriteria berikut :
a.) Pembesaran jaringan keras dari 2 atau lebih dari 10 sendi tangan tertentu (DIP II dan
III ki & ka, PIP II & III ki & ka, CMC I ki & ka).
b.) Pembesaran jaringan keras dari 2 atau lebih sendi DIP
c.) Pembengkakan pada < 3 sendi MCP
d.) Deformitas pada minimal 1 dari 10 sendi tangan tertentu
Osteortritis sendi pinggul :
1. Nyeri pinggul, dan
2. Minimal 2 dari kriteria berikut :
a.) LED < 20 mm/jam
b.) Radiologi, terdapat osteofit pada ferum atau asetabulum
c.) Radiologi terdapat penyempitan celah sendi (superior, aksial dan/atau medial)
Diagnosis Banding
Artritis reumatoid, artritis gout, artritis septik, spondilitis ankilosa
Pemeriksaan Penunjang
LED. Pada OA inflamatif, LED akan meningkat
Analisis cairan sendi. Umumnya tidak terdapat ciri khusus, kecuali peningkatan sel
leukosit yang tidak melebihi 1.000/mm
Radiologi sendi yang terserang. Terbanyak digunakan kriteria dari Kellgren dan
Lawrence. Gambaran radiologik dapat berupa osteofit, penyempitan celah sendi, sklerosis
tulang subkhondral (eburnasi) atau kista subkhondral
Artroskopi. Terlihat gambaran kerusakan atau menghilangkan rawan sendi
Terapi
1. Penyuluhan
2. Proteksi sendi, terutama pada stadium akut
3. Obat anti inflamasi non steroid. Dapat digunakan seperti sodium diklofenak 50 mg t.i.d,
piroksikam 20 mg o.d, meloksikam 7.5 mg o.d dan sebagainya
4. Fisioterapi, terapi okupasi, bila perlu dapat diberikan ortosis
5. Operasi untuk memperbaiki deformitas
Penyulit
Deformitas sendi
Perawatan
Pada umumnya tidak diperlukan perawatan inap kecuali untuk tindakan koreksi bedah
58

OSTEOPOROSIS
Definisi
Osteoporosis (OP) merupakan salah satu penyakit metabolik tulang yang ditandai oleh
penurunan densitas masa tulang (osteopenis) dan rawan untuk terjadinya fraktur sekalipun
akibat trauma ringan.
Kriteria Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan densitas massa tulang (BMD).
Kriteria WHO:
1. Normal, bila T-scope pada BMD > - 1
2. Osteopenia, bila T-scope pada BMD 1 s/d 2,5
3. Osteoporosis, bila T-scope pada BMD < - 2,5
4. Osteoporosis berat, bila T-scope pada BMD < - 2,5 dan didapatkan fraktur
Diagnosis Banding
Tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
Biokimia tulang ( Ca serum, Ca ion serum, Ca urin, Fosfat serum, fosfat urin, fosfatase
alkali, osteokalsin serum, deoksipiridinolin urin)
PTH dan 25 OH vit D (atas indikasi)
Densitas massa tulang (lumbal, pinggul dan lengan bawah distal)
Radiologi vertebra torakalis dan lumbal, pinggul dan lengan bawah bila dicurigai ada
fraktur
Mamografi, sediakan apus serviks, biopi endometrium ( untuk persiapan pemberian terapi
pengganti hormonal )
Terapi
Penyuluhan
Proteksi sendi, terutama pada stadium akut
Asupan kalsium yang adekuat, bila perlu berikan suplementasi kalsium
Vitamin D, bila ada tanda tanda defisiensi vitamin D
Hindari faktor risiko, misalnya glukokortikoid, antikonvulsan, siklosporin A dsb
Analgenik atau obat anti inflamasi non steroid untuk mengatsi nyeri
Terapi pengganti hormonal. Biasanya diberikan estrogen terkonyugasi 0,625 1,25
mg/hari dikombinasi dengan progesteron 2,5 10 mg/hari. Pada wanita pasca menopause
diberikan secara kontinyu, sedangkan pada wanita pra menopause diberikan secara
siklik
Bifosfonat, bila didapatkan kontra indikasi estrogen atau untuk pasien laki laki
Kalsitonin, terutama bila terdapat nyeri yang hebat
Fisioterapi, terapi okupasi, bila perlu dapat diberikan ortosis
Operasi
Penyulit
Fraktur
Perawatan
59

Diperlukan apabila didapatkan fraktur

OSTEOPOROSIS AKIBAT STEROID


Definisi
Osteoporosis yang disebabkan oleh pemakaian steroid
Kriteria Diagnosis
1. BMD lumbal/pinggul denga T-scope < - 2,5 dengan atau tanpa fraktur spinal/perifer
2. Riwayar minum glukokortikoid dengan dosis setara dengan prednison > 7,5 mg/hari
atau inhalasi steroid > 2000 ug/hari dalam waktu > 2 minggu
Pemeriksaan Penunjang
Biokimia tulang ( Ca serum, Ca ion serum, Ca urin, fosfat srum, fosfat urin, fosfatase
alkali, osteokalsin serum, deoksipiridinolin urin)
PTH dan 25 OH vit D (atas indikasi)
Densitas massa tulang (lumbal, pinggul dan lengan bawah distal)
Radiologi vertebra torakalis dan lumbal, pinggul dan lengan bawah bila dicurigai ada
fraktur
Mamografi, sediaan apus serviks, biopsi endometrium ( untuk persiapan pemberian terapi
pengganti hormonal)
Terapi
Pencegahan:
1. Berikan glukokortikoid pada dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin
2. Pada pasien artritis reumatoid, sangat penting mengatasi aktifitas penyakitnya, karena
hal ini akan mengurangi nyeri dan penurunan massa tulang akibat artritis reumatoid
yang aktif
3. Bila mungkin, anjurkan pesan untuk melakukan aktifitas fisik, misalnya berjalan 30
60 menit/hari secara teratur. Hal ini akan meningkatkan densitas massa tulang dan
menguatkan otot serta koordinasi neuromuskular, sehingga dapat mencegah terjatuh
4. Hindari sedatif dan obat anti hipertensi yang menyebabkan hipotensi ortostatik
5. Hindari berbagai hal yang dapat menyebabkan pasien terjatuh, misalnya lantai yang
licin
6. Jaga asupan kalsium 1000 1500 mg/hari, baik melalui makanan sehari hari maupun
suplementasi
7. Hindari defisiensi vitamin D, terutama pada pasien dengan fotosensitifitas, misalnya
SLE. Bila diduga ada defisiensi vitamin D, maka kadar 25(OH)D serum harus
diperiksa. Bila 25(OH)D serummenurun, maka suplementasi vitamin D 400 IU/hati atau
800 IU/hari pada orang tua harus diberikan. Pada pasien dengan gagal ginjal,
suplementasi 1,25(OH)2D harus dipertimbangkan
8. Hindari peningkatan ekskresi kalsium lewat ginjal dengan membatasi asupan Natrium
sampai 3 gram/hari untuk meningkatkan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal. Bila
ekskresi kalsium urin > 300 mg/hari, berikan diuretik tiazid dosis rendah (HCT 25
mg/hari)
Pengobatan
1. Analgetik atau obat anti inflamasi non steorid untuk mengatasi nyeri

60

2.

3.
4.
5.
6.

Terapi pengganti hormonal. Biasanya diberikan estrogen terkonyugasi 0,625 1,25


mg/hari dikombinasi dengan progesteron 2,5 10 mg/hari. Pada wanita pasca
menopause diberikan secara kontinyus, sedangkan pada wanita pra-menopause
diberikan secara siklik
Bifosfonat, bila didapatkan konta indikasi estrogen atau untuk pasien laki laki
Kalsitonin, terutama bila terdapat nyeri yang hebat
Fisioterapi, terapi okupasi bila perlu dapat diberikan ortosis
Dapat dipertimbangkan pemberian deflazacort untuk mengganti steroid karena efek
samping terhadap tulang lebih kecil

Pengobatan osteoporosis akibat glukokortikoid diberikan pada pasien :


1. Fraktur vertebral non traumatik, dan/atau
2. Fraktur perifer non traumatik, dan/atau
3. Pada pemeriksaan densitas massa tulang didapatkan T-scope < - 2
Penyulit
Fraktur
Perawatan
Rawat inap diperlukan apabila talah terjadi fraktur dan membutuhkan tindakan koreksi bedah.

61

SPONDILITIS ANKILOSA
Definisi
Spondilitis Ankilosa (SA) merupakan penyakit inflamasi sistematik kronik yang terutama
mengenai tulang aksial. Dikenal 2 bentuk yaitu Spondilitis ankilosa primer (idiopatik) dan
sekunder yang berkaitan dengan artritis reaktif, psoriasis atau penyakit kolon inflamasi
Kriteria Diagnosis
Kriteria New York :
1. Nyeri pada vertebra lumbal atau dorsolumbal
2. Keterbatasan gerak fleksi anterior, fleksi lateral dan ekstensi lumbal
3. Keterbatasn ekspansi dada sebesar 2,5 cm pada sela iga IV
Diagnosis definitif ditegakkan berdasarkan :
1. Gambaran radiografi sakroilitis bilateral derajat 3 4 ditambah 1 atau lebih kriteria
diatas, atau
2. Gambaran radiografi sakroilitis unilateral derajat 3 4 atau sakroilitis bilateral derajat
2, ditambah kriteria 2 + 3
Diagnosis kemungkinan SA (probable) ditegakkan berdasarkan :
Gambaran radiografi sakroilitis derajat 3 4, tanpa disertai kriteria tersebut diatas.
Diagnosis Banding
Penyakit Reiter, spondiloartropati juvenil, artritis psoriatik, artropati enteropatik
Pemeriksaan Penunjang
LED, CRP. Seperti halnya AR, LED dan CRP diharapkan meningkat dimana hal ini
menunjukkan adanya serum proses inflamasi
Faktor reumatoid serum, biasanya negatif
Analisis cairan sendi. Tidak ada parameter spesifik untuk menyingkirkan kelainan lain
Radiografi sendi sakroiliakal, vertebra lumbal dan vertebra torakal. Pada vertebra torakalis
akan tampak osteofit yang khas membentuk gambaran batang bambu (Bamboo spine),
berkurangnya lordosis lumbal dan cervical (straight back) dan lebih kiposis. Adanya
sacroileitis
HLA B27. Hasil positif sangat mendukung kejadian SA. Faktor risiko berkaitan dengan
subtipe dari HLA B27
Terapi
Penyuluhan
Proteksi sendi, terutama pada stadium akut
Obat anti inflamasi non steroid
Obat remitif (DMARD), biasanya salazopirin dengan dosis 2 x 1 gram/hari
Fisioterapi yang intensif, terapi okupasi, bila perlu dapat diberikan ortosis
Operasi untuk memperbaiki deformitas
Penyulit
Bamboo spine, fraktur dislokasi

62

Perawatan
Tidak diperlukan, kecuali untuk memperbaiki penyulit

63

SINDROM ANTIBODI ANTIFOSFOLIPID


Definisi
Sindroma antibodi antifosfolipid (APS) merupakan sindroma yang ditandai oleh kejadian
trombosis berulang, abortus dan trombositopenia yang berkaitan dengan tes antikardiolipin
positif sedang atau kuat dan antikoagulan lupus positif menetap.
Kriteria diagnosis
Kriteria klinis:
1. Trombosis vena
2. Trombosis arteri
3. Kematian janin berulang
4. Trombositopenia
Kriteria serologia
1. IgA, IgG, IgM ACA (kadar tinggi/sedang)
2. Antikoagulan lupus positif
Diagnosis ditegakkan bila didapatkan 1 kriteria klinis dan kriteria laboratorium yang positif
pada 2 pemeriksaan dengan jarak waktu terpisah 8 minggu.
Diagnosis Banding
Trombosit karena sebab lain. Vaskulitis karena sebab lain, abortus karena sebab lain
Pemeriksaan Penunjang
LED, CRP. Peningkatan hasil atau titer menunjukan proses inflamasi aktif
Trombosit, masa pembekuan, PTT. Penurunan jumlah trombosit dan pemanjangan PTT
atau masa pembekuan.
Antibodi antikardiolipin (IgG, IgM, IgA), Antikoagulan lupus. Hasil positif diperlukan
dalam menentukan diagnosis
ANA, C3, C4. ANA dipakai sebagai pemeriksaan penapis terhadap adanya penyakit lain
yang mendasarinya seperti LES
TORSCH (pada abortus berulang). Sebagai pemeriksaan penapis abortus sebab lain
Terapi
Penyuluhan
Mencegah trombosis dengan pemberian antikoagulan sehingga tercapai target INR 3,0
Bila didapatkan trombosis, heparinisasi dilanjutkan dengan warfarin oral, sehingga PTT
1,5 2 kali nilai normal
Bila pasien hamil, berikan heparin 5000 10000 U subkutan 2 x/hari dan aspirin 60 80
mg/hari
Bila terjadi abortus, berikan pulse gamma globulin 0,4 gr/kgBB/hari IV, 4 5 hari
berturut turut, tiap bulan dengan aspirin dosis rendah tiap hari.
Penyulit
Trombosis, abortus berulang
Perawatan
Pada umumnya diperlukan apabila terdapat kejadian abortus, trombosis terutama pada tungkai
atau komplikasi yang ditimbulkannya.
64

65

SKLEROSIS SISTEMIK
Definisi
Sklerosis sistemik merupakan penyakit kronik yang mengenai berbagai sistem organ dan
terutama ditandai dengan penebalan kulit. Penyakit ini dapat difus, terbatas atau berupa
sindroma tumpang tindih, penyakit jaringan ikat yang sulit ditetapkan atau terlokalisir.
Kriteria diagnosis
Kriteria ACR (1980)
A. Kriteria mayor
Skleroderma proksimal
B. Kriteria minor
1. Sklerodaktili
2. Pencekungan jari atau hilangnya substansi jari
3. Fibrosis basal di kedua paru
Diagnosis ditegakkan bila didapatkan 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor atau lebih.
Diagnosis Banding
Mixed Connective Tissue Disease
Pemeriksaan Penunjang
LED, CRP. Peningkatan hasil menunjukkan proses inflamasi aktif
ANA, Anti Topo 1 (Scl 70 ), Antibodi anti sentromer, Anti SS-A, Anti SS-B, Anti
RNP. Diharapkan hasil tersebut positif, terutama antitopoisomerase 1, RNA polymerase I,
III dan U3 RNP
Radiologi tangan, toraks. Radiologi pada tangan menunjukkan gambaran kelainan
artikular atau periartikular seperti terlihatnya gambaran osteopenia, erosi atau osteolisis.
Radiologi pada toraks terlihat gambaran linear atau nodular fibrosis interstisial basal.
Kelainan ini sulit dilihat pada stadium awal penyakit kecuali menggunakan CT scan
paru atau MRI
Uji fungsi paru. Pada umumnya berupa restriksi paru
Ureum dan kreatinin
Biopsi kulit. Dijumpai gambaran penipisan epidermis dengan menghilangkan rete pegs
dan peningkatan nyata dari ketebalan dermis akibat peningkatan matriks ekstraselular
Terapi
Penyuluhan dan dukungan psikososial
Proteksi terhadap suhu dingin untuk mengatasi fenomena Raynaud. Bila diperlukan dapat
diberikan vasodilator seperti prazosin atau nifedipin. Dapat juga diberikan analog
prostasiklin
Bila terdapat ulkus atau gangren, harus dirawat dengan baik dan diberikan antibiotika
yang adekuat
Dapat dicoba D-penisilamin 3 x 250 mg. Bila gagal dapat dicoba dengan pemberian
DMARDs lain seperti metotrexate
Bila didapatkan gangguan gastrointestinal dapat diberikan H2-antagonist, omeprazol dan
obat obat prokinetik
Pada keadaan krisis renal, dapat diberikan kaptopril. Bila fungsi ginjal makin memburuk,
dapat dilakukan analisis
Pada pneumonitis dapat diberikan glukokortikoid atau siklofosfamid
Penyulit
Hipertensi yang tidak terkontrol, krisis renal, pneumonitis, refluks esofagitis divertikulosis
Perawatan
Pada umumnya tidak diperlukan kecuali dijumpai penyulit seperti infeksi paru
66

67

SINDROM REITER
Definisi
Artritis reaktif atau reiter merupakan penyakit inflamasi sendi steril yang didahuluioleh
infeksi yang terjadi jauh hari sebelumnya. Penyakit ini bersifat sistemik dan tidak terbataa
hanya pada persendian. Infeksi pencetus biasanya dari saluran nafas atas, organ urogenital
dan traktus gastrointestinal.
Kriteria diagnosis
Oligoartritis asimetrik, seronegatif dan stelir
Uretritia atau servisitis non gonokokal
Uveitis
Diagnosis banding
Spondilitis ankilosa, artritis enteropatik, artritis psoriatik, artritis reumatoid seronegatif.
Pemeriksaan penunjang
LED, CRP
Faktor reumatoid serum
Analisis cairan sendi. Kultur terhadap bakteri dan menyingkirkan artropati kristal
Radiologi sendi yang diserang dan sendi sakroiliakal. Dapat terlihat adanya
pembengkakan jaringan lunak, erosi dan osteoporosis yang non difus, reaksi dan
proliferasi periosteal ( spur ). Pada keadaan lanjut terjadi sakroilitis dan spondilitis
HLA B27. hasil positif lebih mendukung diagnosis
Bila ada indikasi, periksa kemungkinan infeksi Klamidia dan HIV atau kultur bakteri dari
feses, urin, dan tenggorokan.
Terapi
Penyuluhan
Proteksi sendi, terutama pada stadium akut
Obat anti inflamasi non steroid
Obat remitif (DMARD), biasanya salazopirin
Antibiotika, bila didapatkan tanda tanda infeksi klamidial
Bila terjadi peradangan yang terbatas hanya pada 1 2 sendi, dapat diberikan injeksi
steroid intraartikular
Fisioterapi
Penyulit
Spondilitis ankilosa
Perawatan
Pada umumnya tidak diperlukan, kecuali terdapat keluhan konstitusional berat seperti demam
tinggi, kelelahan yang sangat atau malaise.

68

TUBERKULOSIS OSTEARTIKULAR
Definisi
Termasuk kelompok penyakit infeksi tuberkulosis ekstra artikular dengan manifestasi pada
sendi. Manifestasi klinik berupa sindroma yang dapat mengenai tulang belakang
( spondilitis ), artritis perifer, osteomielitis, daktilitis, tenosinovitis, bursitis atau penyakit
Poncet.
Kriteria Diagnosis
1. Umumnya monoartritis, terutama sendi aksial
2. Ditemukan Basil Tahan Asam ( BTA ) pada cairan sendi atau biopsi sinovium atau
kulturnya
Diagnosis Banding
Artritis gonokokal, bursitis septik
Pemeriksaan Penunjang
Analisis cairan sendi
Pewarnaan Gram, BTA dan kultur cairan sendi
Radiografi sendi yang terserang
LED, CRP, Leukosit darah
Foto toraks, Mantoux test
Kultur darah, bila ada tanda tanda sepsis
Terapi
1. Aspirasi cairan sendi
2. Obat anti tuberkulosis, sesuai protokol pengobatan tuberkulosis ekstra pulmonal
3. Antibiotika aspesifik bila ada tanda tanda infeksi sekunder
4. Drainase sendi yang terinfeksi
5. Indikasi tindakan bedah :
a. Infeksi koksa pada anak anak
b. Infeksi mengenai sendi yang sulit dilakukan drainase secara adekuat
c. Terdapat bukti osteomielitis
d. Infeksi berkembang ke jaringan lunak sekitarnya
Penyulit
Osteomielitis, sepsis
Perawatan
Pada umumnya tidak diperlukan perawatan inap, kecuali untuk tindakan biopsi sendi atau
tindakan bedah ortopedik

69

DEMAM BERDARAH DENGUE


Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut disertai manifestasi
perdarahan, trombositopenia dan hemokonsentrasi disebabkan oleh virus Dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan aedes albopictus.
Kriteria Diagnosis (WHO 1998)
Semua hal dibawah ini harus dipenuhi :
Demam atau riwayat demam akut antara 2 7 hari, biasanya bifasik

Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut ini :

Uji torniquet positif


Petechie, echymonosis atau purpura
Perdarahan mukosa, saluran cerna, bekas suntikan atau tempat lain
Hematemesis atau melena
Trombositopenia ( 100.000/mm)

Terdapat minimal satu tanda tanda plasma leakage berikut ini

Hematokrit meningkat 20 % dibanding hematokrit rata rata pada usia, jenis


kelamin dan populasi yang sama
Hematokrit turun hingga 20 % dari hematokrit awal
Terdapat efusi pleura, asites dan hiponatremia
Gradasi
Berdasarkan beratnya penyakit, DBD dibagi menjadi 4 derajat :
Derajat
I.
: Demam disertai gejala konstitutional yang tidak khas; manifestasi
perdarahan hanya beruji torniquet positif dan atau mudah dicerna
II.
: Derajat i disertai perdarahan spontan, dapat berupa perdarahan bawah kulit
atau jenis perdarahan lainnya
III.
: Terdapat kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan nadi cepat dan lemah atau
hipotensi, disertai kulit dingin dan lembab dan gelisah
IV.
: Syok yang ditandai dengan tekanan darah dan nadi yang tidak teratur.
DBD derajat III dan IV digolongkan dalam Dengue Shock Syndrom (DSS)
Diagnosis Banding
Demam karena infeksi virus lain seperti Hantavirus, Chikungunya
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap : dapat ditemukan trombositopeni, hemokonsentrasi, lekopeni
Serologi : dapat berupa uji sebagai berikut :

70

Tahap I : Uji MAC - ELISA


IgM
Interval
Rasio IgM
Intepretasi
spesimen I-II
terhadap
IgG
Fraksi molar 2 14 hari
Tinggi
Infeksi flavivirus akut, primer
meningkat
Rendah
Infeksi
flavivirus
akut,
sekunder
Fraksi molar 2 14 hari
Tinggi
meningkat,
Rendah
Infeksi flavivirus baru, primer
tetap
atau
Infeksi
flavivirus
baru,
menurun
spesimen
Tinggi
sekunder
Meningkat
tunggal
rendah
Infeksi flavivirus baru, primer
Infeksi
flavivirus
baru,
kemungkinan sekunder

Respons
antibodi
4x
4x
4x
tidak
berubah
tidak
berubah
tidak
berubah
tidak
berubah

IgM
+
+
-

Tahap II : Uji Inhibisi Hemaglutinasi :


Interval
Titer
Interpretasi
Spesimen I-II
Konvalesen
7 hari
1 : 1280
Infeksi flavivirus akut, primer
spesimen
1 : 2560
Infeksi
flavivirus
akut,
sewaktu
1 : 1280
sekunder
< 7 hari
> 1 : 2560
Infeksi flavivirus, primer /
spesimen
1 : 1280
sekunder
sewaktu
1 : 1280
Infeksi
flavivirus
akut,
7 hari
1 : 1280
sekunder
< 7 hari
Bukan dengue
spesimen tunggal
Tidak terinterpretasi
Tidak terinterpretasi
Tahap III : Uji Imunokromatografi Cepat ( PanBio)
IgG
Interpretasi
Infeksi primer
+
Infeksi sekunder
+
Kemungkinan DHF atau infeksi
sekunder

Terapi
Non Farmakologis : tirah baring, makanan lunak
Farmakologis :
Simtomatis
Cairan intra vena : Ringer Laktat 4 6 jam/kolf
Koloid / plasma ekspander (DSS)
Transfusi trombosit bila perdarahan masif ( 4 5 cc/kgBB/jam) dengan jumlah
trombosit 100.000/mm
Heparinisasi : KID dengan perdarahan masif ( 4 5 cc/kgBB/jam)
Penyulit
Renjatan, perdarahan, KID (Koagulasi Intravaskular Diseminata)
71

DEMAM TIFOID ( TYPHOID FEVER )


Definisi
Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonella typhi.
Kriteria Diagnosis
Demam naik secara bertangga lalu menetap selama beberapa hari, demam terutama pada
sore / malam hari
Sulit buang air besar atau diare, sakit kepala
Kesadaran berkabut, bradikardi relatif, lidah kotor, nyeri abdomen, hepatomegali atau
splenomegali
Diagnosis Banding
Infeksi virus, malaria
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap : dapat ditemukan lekopenia, limfositosis, aneosinofilia
Pemeriksaan Widal. Widal dinyatakan positif bila :
Titer O Widal I 1/320 atau
Titer O Widal II naik 4 kali lipat atau lebih dibanding Titer O Widal I atau
Titer O Widal I ( - ) tetapi Titer O Widal II ( +) berapapun angkanya.
Biakan empedu : tumbuh koloni Salmonella typhi.
Terapi
Non Farmakologis : tirah baring, makan lunak rendah serat
Farmakologis
Drug of choice adalah Kloramfenikol 4 x 500 mg selama 11 14 hari dengan
alternatif antibiotik
Tiamfenikol 4 x 500 mg
Trimetoprim Sulfametoksazol 2 x 2 tablet
Ampisilin 50 100 mg/kg/bb/haari
Seftriakson 50 100 mf/kg/bb/hari
Siprofloksasin 2 x 500 mg
Fleroksasin 1 x 400 mg
Pefloksasin 1 x 400 mg
Ofloksasin 1 x 600 mg
Sefotaksim 2 3 x 1 gr
Sefoperazon 100 mg/kg/bb/hari
Penyulit
Toksik tifoid, perdarahan, pneumonia, hepatitis tifosa, perforasi, renjatan septik, pankreatitis,
glomerulonefritis.

72

DIARE AKUT KARENA INFEKSI DENGAN DEHIDRASI


Definisi
Diare adalah suatu keadaan dimana buang air besar ( defekasi ) dengan tinja berbentuk cairan
atau setengah cair ( setengah padat ) dimana kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya.
Pada umumnya diambil batasan air tinja yang lebih dari 200 gram atau 200 cc dalam 24 jam.
Definisi lain menggunakan kriteria yaitu buang air besar encer lebih dari tiga kali perhari.
Diare akut yaitu apabila diare berlangsung kurang dari 2 minggu.
Kriteria Diagnosis
Defekasi berbentuk cairan atau setengah cairan atau defekasi lebih dari tiga kali sehari
Bersifat mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam atau dapat sampai kurang
dari 2 minggu
Didapat gejala dehidrasi
Diagnosisi Banding
Etiologi infeksi dari diare akut
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap : dapat ditemukan peningkatan Hb, Ht dan leukosit
Analisa dan kultur tinja : dapat ditemukan penurunan Na K
Ureum, kreatinin : dapat meningkat
Berat jenis plasma : dapat meningkat
Analisa gas darah : paling sering asidosis metabolik
Terapi
Non farmakologis : istirahat atau tirah baring, makanan lunak, minum cairan oralit ad
libitum
Farmakologis : pada dehidrasi ringan tindakan rehidrasi dapat diberikan per oral
sedangkan untuk dehidrasi sedang berat, rehidrasi dilakukan secara parenteral dengan
memakai cairan Ringer Laktat. Pada prinsipnya jumlah cairan yang diberikan sesuai
dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Kehilangan cairan dapat dengan cara
metode Daldiyono atau berat jenis plasma atau metode pierce.
Terapi definitif :
Kolera eltor
: Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari selama 3 hari
Salmonellosis
: Ampisillin 4 x 1 gr/hari selama 10 14 hari
Shigellosis
: Ampisilin 4 x 1 gr/haari selama 5 hari
Amebiasis
: Metronidazol 4 x 500 mg/hari selama 3 hari
Penyulit
Gangguan elektrolit Na, K, Cl, syok hipovolemik, gagal ginjal, asidosis metabolik

73

LEPTOSPIROSIS
Definisi
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh salah satu jenis spiroketa
patogen dari famili.
Kriteria Diagnosis
Demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot
Gejala abdominal : mual, muntah, mencret
Injeksi konjungtiva, fotofobia, ikterik
Hepatomegali / splenomegali
Penurunan kesadaran
Lekositosis
Terdapat peningkatan ureum, kreatinin
Diagnosis Banding
Hepatitis tifosa, hepatitis fulminan, ikterus obstruktif
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap : dapat ditemukan lekositosis dengan hitung jenis terdapat
pergeseran ke kiri
Serologi leptospira : pemeriksaan serologi yang sering dilakukan adalah mikroscopic
agglutination test (MAT) dan disebut positif bila titer 1 > 100
Fungsi ginjal : ureum, kreatinin
Fungsi hati : SGOT, SGPT
Terapi
Non farmakologis : tirah baring, makanan / cairan tergantung pada komplikasi organ yang
terlibat. Bila terjadi ganguan fungsi hati maka diberikan diet hati. Bila terjadi gangguan
fungsi ginjal, maka harus diperhatikan keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa, asupan
protein seperti penanganan gagal ginjal secara umum. Bila terjadi pankreatitis maka
pasien dipuasakan dan diberikan nutrisi parenteral total
Farmakologis : drug of choice adalah penisilin G 1,5 juta unit tiap 6 jam selama 5 7 hari
dengan alternatif tetrasiklin, eritromisin, doksisiklin, sefalosforin generasi ke-3,
fluorokuinolon
Penyulit
Gagal ginjal, pankreatitis, miokarditis, perdarahan masif, meningitis asseptik

74

RENJATAN SEPTIK
Definisi
Sepsis adalah sindrom respons inflamasi sistemik yang disebabkan oleh karena infeksi.
Sedangkan renjatan septik adalah sepsis dengan hipotensi ditandai penurunan tekanan darah
sistolik < 90 mmHg atau penurunan > 40 mmHg dari tekanan darah awal, tanpa adanya obat
obatan yang dapat menurunkan tekanan darah.
Kriteria Diagnosis
Sindroma respons inflamasi sistemik ditandai dengan dua gejala atau lebih
Suhu badan > 38 C atau < 36 C
Frekuensi denyut jantung > 90 kali permenit
Ferkuensi pernafasan > 20 kali permenit atau PaCO2 < 32 tor
Hitung leukosit > 12.000/mm, < 4000/mm atau adanya > 10 % sel darah putih muda
( batang )
Disebut sepsis bila sondrom respons inflamasi sistemik disebabkan oleh infeksi

Adanya renjatan ditandai dengan turunnya tekanan darah sistolik < 90 mmHg atau
turunnya tekanan darah > 40 mmHg dari tekanan darah awal
Diagnosis Banding
Renjatan kardiogenik, renjatan hipovolemik
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap : leukosit > 12.000/mm atau leukosit < 4000/mm atau adanya > 10
% sel darah putih muda
Pemeriksaan fungsi hati : SGOT, SGPT, Bilirubin D/I
Pemeriksaan fungsi ginjal : Ureum / kreatinin
Analisis gas darah : pada awalnya sepsis dapat ditemukan alkalosis respiratorik dan dalam
perjalanannya dapat terjadi asidosis metabolik
Kultur darah dan infeksi fokal : dapat ditemukan kuman penyebab
Foto dada : dapat ditemukan sumber infeksi
Terapi
Non farmakologis : istirahat atau tirah baring, makanan cair melalui NGT bila pasien tidak
sadar
Farmakologis : oksigen nasal. Rehidrasi dengan cairan kristaloid pada pasien renjatan dan
dapat dilanjutkan dengan cairan koloid dengan mempertimbangkan kebutuhan kalori
perhari. Sebaiknya pemberian cairan dievaluasi dengan CVP. Bila pidrasi cukup pasien
tetap hipotensi diberikan Dopamin dengan dosis 5 15 ug/kgBB/menit. Antibiotik dipilih
yang mempunyai spektrum luas antara lain : Sefalosporin generasi ke-1 atau ke-2 dengan
golongan aminoglikosida (apabila tidak ada gangguan fungsi ginjal) atau Sefalosporin
generasi ke-3 atau ke-4. bila ada kecurigaan kuman anaerob diberikan metronidazol. Bila
hasil kultur mikroorganisme telah diketahui, antibiotika diberikan berdasarkan uji
kepekaannya. Kortikosteroid hanya diberikan bila ada insufisiensi adrenal.
Penyulit
Gagal nafas, gagal ginjal, gagal hati, koagulasi intravaskular diseminata, renjatan septik
ireversibel.
75

76