Você está na página 1de 28

BAB IV

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

4.1. Administrasi Kota Cirebon


Kota Cirebon merupakan pusat aktivitas jasa, ekonomi, perdagangan, transportasi,
pendidikan, pariwisata dan lain-lain untuk daerahdaerah di wilayah lainnya seperti Kabupaten
Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka. Posisi
Cirebon dengan aktivitas yang tinggi berdampak kepada perkembangan kota yang pesat,
sehingga banyak membutuhkan dukungan penyediaan Infrastruktur.
Kota Cirebon terbentang pada 1080 33 Bujur Timur dan 60 41 Lintang Selatan dengan
Garis lintang Selatan berada pada bagian pesisir Utara Pulau Jawa yang terbentang sepanjang 8
km dari barat ke timur dan 11 km dari utara ke selatan dengan ketinggian 5 m . Dengan luas
kota adalah 37.35 km, (lihat Gambar 3.2). Kota Cirebon terdiri dari 5 Kecamatan, 22
Kelurahan, 230 Rukun Warga (RW) dan 1182 Rukun Tetangga (RT). Kelima Kecamatan
tersebut adalah :
1. Kecamatan Kejaksan, terdiri dari 4 kelurahan
2. Kecamatan Kesambi, terdiri dari 5 kelurahan
3. Kecamatan Pekalipan, terdiri dari 4 kelurahan
4. Kecamatan Lemahwungkuk, terdiri dari 4 kelurahan
5. Kecamatan Harjamukti, terdiri dari 5 kelurahan
Kota Cirebon bersuhu rata-rata antara 24 33 dengan variasi udara berkisar antara 48 93
%. Kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Januari sampai Maret dan kelem
baban terendah terjadi pada bulan Juni sampai Agustus. Rata-rata hujan adalah
sebesar 1.000 mm/tahun sekitar 113 hari hujan. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober-April
dan musim kemarau terjadi pada bulan Juni-September.

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

40

Kota Cirebon merupakan sebuah kota yang menjadi pusat aktifitas kegiatan di wilayah Jawa
Barat bagian timur. Ketersediaan infrastruktur kota, pusat :

Sumber : BPS Kota Cirebon


Gambar 3. 1 Peta Batas Wilayah Kota Cirebon

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

41

Kondisi topografi yang ada di wilayah Kota Cirebon sangat bervariatif dimana untuk
wilayah Kecamatan Kejaksan, Kecamatan Pekalipan, Kecamatan Lemahwungkuk dan
Kecamatan Kesambi rata-rata elevasi kemiringan tanah 0 % - 3 % wilayah ini termasuk dalam
kondisi landai dan Kecamatan Harjamukti antara 3 25 % termasuk dalam kondisi sebagian
kecil berbukit.
Jenis tanah terbentuk dari lapak kering dan pasir pyroklastik, tanah liat/tanah lempung,
tufa, lumpur breksi, dan batu kerikil yang berasal dari letusan Gunung Ciremai. Terdapat empat
sungai yang melalui Kota Cirebon yaitu Sungai Kedung Pane, Sungai Sukalila, Sungai Kesunean
dan Sungai Kalijaga. Air tanah dibeberapa tempat sudah tercampur oleh air laut pada kedalaman
rendah yaitu sekitar 1 meter, berkadar garam tinggi, dan tidak dapat digunakan sebagai air
minum.

4.2. Demografi Kota Cirebon


Penduduk yang jumlah besar merupakan asset bagi pembangunan jika penduduknya
berkualitas. Dengan besarnya jumlah penduduk akan menyebabkan besarnya jumlah angkatan
kerja. Besarnya angkatan kerja ini akan membutuhkan lapangan pekerjaan yang lebih banyak
lagi, dan membuka lapangan kerja tidak semudah membalik telapak tangan. Melalui data
kependudukan akan diperoleh gambaran mengenai dinamika dan perkembangan penduduk.
Data kependudukan dapat diperoleh dari berbagai sumber di antaranya dari hasil sensus
penduduk tahun 2010 (SP 2010), survei penduduk antar sensus (SUPAS) ,dan survei-survei yang
lain seperti survei sosial ekonomi nasional (susenas) dan survei sosial ekonomi daerah suseda),
serta dari catatan administrasi pemerintahan yang disebut Registrasi Penduduk.
Menurut hasil Proyeksi BPS jumlah penduduk Kota Cirebon telah mencapai jumlah
305.899 jiwa. Dengan komposisi penduduk laki-laki 153.362 jiwa dan perempuan 152.537 jiwa,
dan ratio jenis kelamin sekitar 100,54 jiwa.

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

42

Sumber : BPS Kota Cirebon


Gambar 3. 2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan Di Kota Cirebon
Tahun 2014

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

43

harjamukti

Lemahwungkuk

Pekalipan

Kesambi

Kejaksan

Sumber : BPS Kota Cirebon


Gambar 3. 3 Kepadatan Penduduk Per Kecamatan di Kota Cirebon Tahun 2014
Tabel 3. 1 Penduduk Menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin Kota Cirebon Tahun 2015

Kelompok
Umur
(1)

Laki-Laki
(2)

Jenis Kelamin
Perempuan
(3)

0 4
5 9
10 14
15 19
20 24
25 29
30 34
35 39
40 44
45 49
50 54
55 59
60 64
65 69
70 74
75 +

14.267
13.335
13.532
14.354
13.364
13.024
13.165
11.740
11.149
9.419
8.268
7.160
4.613
2.781
1.734
1.457

13.154
12.421
12.938
14.326
12.682
12.385
12.630
11.500
11.410
10.123
9.003
7.220
4.584
3.198
2.362
2.601

27.42
25.75
26.47
28.68
26.04
25.40
25.79
23.24
22.55
19.54
17.27
14.38
9.19
5.97
4.09
4.05
8

Jumlah

153.362

152.537

305.899

Jumlah
(4)

Sumber : BPS Kota Cirebon


Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

44

Tabel 3. 2 Banyaknya Pencari Kerja Yang Terdaftar, Pencari Kerja Yang Terpenuhi dan
Penghapusan Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan
Tingkat
Pendidikan

Terdaftar

Terpenuhi

Laki-Laki Perempuan

(1)

(2)

Penghapusan

Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

1. SD

10

81

70

2. SLTP

56

74

37

78

44

63

1.185

968

562

487

696

418

76

185

95

55

32

65

259

424

119

74

261

373

3. SMU/Sederajat
4. Diploma I dan II
5. Diploma III
6. Sarjana

Sumber : BPS Kota Cirebon

4.3. Letak dan Batasan Wilayah Kajian


Gedung Setda terletak di Jl. Siliwangi yang merupakan pusat pemerintahan kota Cirebon
tepatnya berada didepan gedung DPRD Kota Cirebon, dengan luas dan batas batas wilayahnya
sebagai berikut :
1. Sebelah Utara

: Jalan Kejaksaan

2. Sebelah Timur

: Jalan Sukalila

3. Sebelah Barat

: Jalan kartini

4. Sebelah Selatan

: Jalan Veteran

Jarak Gedung Setda Kota Cirebon dengan pusat kegiatan lainnya :


Permukiman Penduduk

: 100 Meter

Pasar Tradisional

: 500 Meter

Sekolahan

: 50 Meter

Terminal

: 5000 Meter

Pusat Perbelanjaan Modern/Mall


Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

45

Grage Mall

: 2100 Meter

CSB

: 2500 Meter

Asia Jogja ,

: 700 Meter

Dll
Perhotelan, dll

: 100 Meter

Stasiun kereta api

: 300 Meter

Pelabuhan

: 1100 Meter

Keraton Cirebon

: 3500 Meter

Kota Cirebon terletak antara Kabupaten Cirebon dan laut Jawa merupakan bagian dari
Propinsi Jawa Barat yang saling berinteraksi dan berintegrasi. Transportasi Kota Cirebon
merupakan bagian dari sistem transportasi regional, dalam penyelenggaraan Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan Kota Cirebon tidak bisa lepas dari daerah / Kota kota lain di sekitarnya.
Perkembangan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kota Cirebon dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan terutama dari volume lalu lintas yang menggunakan ruas ruas jalan yang ada di
Kota Cirebon. Melihat dari pola jaringan jalan dapat disimpulkan bahwa pola jaringan jalan di
Kota Cirebon cenderung berpola Grid yang didukung pola Radial. Pola ini mempunyai kelebihan
dan kelemahan tersendiri dari segi pengaturan dan aksesibilitas lalu lintas.
Jalan Siliwangi memiliki sejarah panjang mengawali berdirinya Cirebon di masa silam,
semenjak jaman Kesultanan Cirebon, Jaman Pemerintahan Kolonial Belanda dan Jaman
Pemerintahan Republik Indonesia. Jalan Siliwangi merupakan pusat Pemerintahan Kota Cirebon,
di jalan ini terdapat Balai Kota Cirebon yang merupakan pusat pemerintahan Kota Cirebon. Di
jalan siliwangi juga terdapat beberapa gedung pemerintahan dan gedung swasta yang lainnya
seperti : Gedung DPRD Kota Cirebon, Gedung Insfektorat, Gedung Pendidikan, Gedung Bank,
Hotel-hotel, Perkantoran Swasta, Pasar dan lain sebagainya.
4.4. Ruang Lingkup Gedung Setda/Balai Kota Cirebon

a.

Sejarah Gedung Setda/Balai Kota Cirebon


Balai kota Cirebon merupakan Bangunan peninggalan masa Kolonial Belanda, Gedung ini

terletak di Jl. Siliwangi No. 84, Kampung Tanda Barat, Kelurahan Kejaksan, Kecamatan
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

46

Kejaksan tepatnya pada koordinat 06 42' 394" Lintang Selatan dan 108 33' 492" Bujur Timur.
Di sekitar gedung merupakan perkantoran dan pemukiman. Di sebelah utara terdapat Rumah
Dinas Kepala PT. KAI DAOPS III Cirebon, sebelah timur merupakan ruas Jl. Siliwangi, sebelah
selatan pemukiman penduduk, dan sebelah barat adalah ruas Jl. Setasiun Kereta Api.
Pembangunan gedung ini diprakarsai oleh Jeskoot, Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Stadsgemeente Cheribon, sedangkan perancangnya dikerjakan oleh dua orang arsitek bernama
H.P Hamdl dan C.F.H. Koll. Bangunannya berbentuk anjungan kapal yang puncaknya dihiasi
dengan empat ekor udang, binatang air yang lazim digunakan untuk julukan kota ini. Langgam
arsitektur bangunan ini bergaya art deco yang sedang popular pada sekitar tahun 1920-an.
Gedung yang berdiri pada lahan seluas 15.770 m2 ini bertembok warna putih dan
bertekstur halus, dibangun menghadap ke timur, dari bahan utama bata merah, batu, kapur, kayu
jati, tegel dan marmer. Pada waktu itu balaikota terdiri atas gedung inti dan gedung penunjang
pada sebelah utara dan selatan. Gedung inti dibangun dua lantai, apabila berdiri pada bagian
lantai 2 dapat dilihat keindahan pemandangan laut lepas dan Pelabuhan Muara Jati. Sementara
pada bagian bawah tanah terdapat terowongan yang menurut tradisi, dulu merupakan tempat
perlindungan dan jalan pintas menuju laut atau tempat melarikan diri apabila terjadi
penyerangan.
Pembangunan Balaikota Cirebon merupakan pertahanan dan peningkatan kepentingan
Pemerintah Hindia Belanda terhadap kota pelabuhan ini, yang pada awal abad ke-20 telah
menempati peringkat ke-4 terbesar di Jawa. Pada 1 April 1906 Cirebon diresmikan menjadi
Gemeente (Kotapraja), dan pada tahun 1926 statusnya ditingkatkan lagi menjadi stadsgemeente.
Untuk menunjang kegiatan lembaga pemerintah ini, maka dibangunlah Staadhuis (Balaikota),
Raadhuis (Dewan Perwakilan Kota) serta infrastruktur kota lainnya.
Gedung ini semula berfungsi sebagai Raadhuis (Dewan Perwakilan Kota) yang merupakan
pusat administrasi Kotapraja Cirebon. Ketika itu, gedung ini juga kerapkali digunakan sebagai
tempat petemuan dan pesta pernikahan kalangan bangsa Eropa. Pada masa Pemerintahan Militer
Jepang hingga masa kemerdekaan gedung ini menjadi pusat Pemerintahan Kota Cirebon.
b.

Fungsi Bangunan

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

47

Balai kota merupakan bangunan administratif utama bagi pemerintahan kota dan biasanya
memuat dewan kota, departemen terkait dan para pegawainya. Di sinilah, wali kota menjalankan
fungsinya.
Dahulu, hingga pertengahan abad ke-19, sebuah bilik (atau balai) terbuka yang lebar
menjadi satu kesatuan dengan bangunan pemerintahan dewan. Balai tersebut biasa digunakan
untuk pertemuan dewan dan peristiwa penting lain. Bilik besar (balai kota) ini menjadi sama
dengan keseluruhan bangunan, dan dengan badan administratif yang menggunakannya.
Pemerintahan lokal berusaha keras menggunakan bangunan balai kota untuk memperbaiki
dan meningkatkan kualitas hidup penduduk. Dalam sejumlah kasus, "balai kota" tak hanya
bertindak sebagai bangunan pemerintahan, namun juga memiliki fasilitas untuk sejumlah
kegiatan sipil dan budaya. Balai kota atau "pusat sipil" itu sering dirancang dengan banyak
selingan dan fleksibilitas tujuan.
c.

Peruntukan Bangunan
Perentukan Bangunan merujuk pada otoritas administratif di suatu daerah yang lebih kecil

dari sebuah negara. Sebutan ini digunakan untuk melengkapi lembaga-lembaga tingkat negarabangsa, yang disebut sebagai pemerintah pusat, pemerintah nasional, atau (bila perlu) pemerintah
federal. "Pemerintah daerah" hanya beroperasi menggunakan kekuasaan yang diberikan undangundang atau arahan tingkat pemerintah yang lebih tinggi dan masing-masing negara memiliki
sejenis pemerintah daerah yang berbeda dari satu negara ke negara lain.
Dalam masyarakat primitif, tingkat pemerintah daerah terendah adalah kepala desa atau
kepala suku. Negara federal seperti Amerika Serikat memiliki dua tingkat pemerintah di atas
tingkat daerah: pemerintah lima puluh negara bagian dan pemerintah nasional federal yang
hubungannya dijembatani oleh konstitusi Amerika Serikat. Pemerintah daerah di Amerika
Serikat sudah ada sejak masa kolonial dan terus berubah-ubah sejak itu: tingkat tertinggi
pemerintah daerah adalah tingkat county.
Dalam bangsa moden, pemerintah daerah biasanya memiliki sejenis kekuasaan yang sama
seperti pemerintah nasional. Mereka memiliki kekuasaan untuk meningkatkan pajak, meskipun
dibatasi oleh undang-undang pusat. Pertanyaan Otonomi Kota-kekuasaan yang mana yang
pemerintah daerah miliki atau harus dimiliki, dan mengapa-adalah pertanyaan kunci administrasi
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

48

publik dan pemerintahan. Instansi pemerintah daerah sangat berbeda di masing-masing negara,
dan bahkan bila ada suatu perjanjian sejenis, terminologinya tetap berbeda-beda. Nama umum
untuk entitas pemerintah daerah meliputi negara bagian, provinsi, region, departemen, county,
prefektur, distrik, kota, township, town, borough, parish, munisipalitas, shire dan desa. Tetapi,
nama-nama ini sering digunakan secara informal di berbagai negara & pemerintah daerah adalah
bagian mutlak dari pemerintah pusat.
a.

Walikota
Wali Kota adalah Kepala Daerah untuk daerah Kota. Seorang Wali Kota sejajar dengan

Bupati, yakni Kepala Daerah untuk daerah Kabupaten. Pada dasarnya, Wali Kota memiliki tugas
dan wewenang memimpin penyelenggaraan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan
bersama DPRD Kota. Wali kota dipilih dalam satu paket pasangan dengan Wakil Wali Kota
melalui Pilkada. Wali kota merupakan jabatan politis, dan bukan Pegawai Negeri Sipil.
Wakil kepala daerah ialah wakil dari pucuk pimpinan (kepala daerah) di suatu wilayah
pemerintahan. Sesungguhnya wakil kepala daerah punya kedudukan yang setara dengan kepala daerah
dalam menjalankan roda pemerintahan, terkecuali dalam penentuan kebijakan.
Tugas dari Wakil Kepala Daerah (Wakada) sbb :
1. membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah;
2. membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah,
3. menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan
pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian
sosial budaya dan lingkungan hidup;
4. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil
kepala daerah provinsi;
5. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan
dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota;
6. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam penyelenggaraan kegiatan
pemerintah daerah;
7. melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah; dan
melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan.
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

49

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, wakil kepala daerah bertanggung jawab
kepada kepala daerah. Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya
apabila kepala daerah meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan
kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus menerus dalam masa jabatannya.

b.

Sekretariat Daerah
Sekretariat daerah (disingkat setda) adalah unsur pembantu pimpinan pemerintah daerah,

yang dipimpin oleh sekretaris daerah (disingkat sekda). Sekretaris daerah bertugas membantu
kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga
teknis daerah. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya, sekretaris daerah bertanggung jawab
kepada Kepala Daerah. Sekretaris Daerah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
memenuhi persyaratan. Sekretaris Daerah karena kedudukannya sebagai pembina PNS di
daerahnya. Sekretaris Daerah dapat disebut jabatan paling puncak dalam pola karier PNS di
Daerah.
Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota merupakan unsur pembantu pimpinan Pemerintah
Kabupaten/Kota yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah, berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada

Bupati/Walikota.

Sekretariat

Daerah

Kabupaten/Kota

bertugas

membantu

Bupati/Walikota dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi,


organisasi dan tata laksana serta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat
Daerah Kabupaten/Kota. Sekretaris Daerah untuk kabupaten/kota diangkat dan diberhentikan
oleh Gubernur atas usul Bupati/Walikota. Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota terdiri atas
sebanyak-banyaknya 3 Asisten; di mana Asisten masing-masing terdiri dari sebanyak-banyaknya
4 bagian.
c.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, disingkat Bappeda, adalah lembaga teknis

daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah yang dipimpin oleh seorang
kepala badan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur/Bupati/Walikota
melalui

Sekretaris

Daerah.

Badan

ini

mempunyai

tugas

pokok

membantu

Gubernur/Bupati/Walikota dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dibidang penelitian dan


perencanaan pembangunan daerah.

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

50

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah di bentuk berdasarkan pertimbangan :


a. Bahwa dalam rangka usaha peningkatan keserasian pembangunan di daerah diperlukan
adanya peningkatan keselarasan antara pembangunan sektoral dan pembangunan daerah.
b. Bahwa dalam rangka usaha menjamin laju perkembangan, keseimbangan dan
kesinambungan pembangunan didaerah, diperlukan perencanaan yang lebih menyeluruh,
terarah dan terpadu
1) Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1964 tentang Pembentukan Badan Koordinasi
Pembangunan Daerah disingkat BAKOPDA.
2) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 tahun 1969
3) Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1969
4) Keputusan Presiden Nomor 15 tahun 1974, tentang Pembentukan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BAPPEDA).
5) Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 1980. Tentang Pembentukan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah
6) Keputusan Mendagri Nomor 362 tahun 1997, tentang Pola Organisasi Pemerintah Daerah
dan Wilayah.
7) Keputusan Mendagri Nomor 185 tahun 1980, tentang Pedoman Organisasi dan Tata
Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I dan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Tingkat II
d.

Badan Kepagawaian Daerah


Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 BKD mempunyai tugas

melaksanakan penyusunan & pelaksanaan kebijakan daerah di bidang kepegawaian daerah serta
dapat ditugaskan untuk melaksanakan penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh
Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi.
Pemerintah Provinsi melalui Peraturan Gubernur Nomor 50 Tahun 2010 Tentang Uraian
Tugas dan Fungsi di Lingkungan Badan Kepegawaian Daerah menjelaskan mengenai Tugas dan
Fungsi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi beserta susunan organisasinya.
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

51

e.

Satuan Polisi Pamong Praja


Satuan Polisi Pamong Praja, disingkat Satpol PP, adalah perangkat Pemerintah Daerah

dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah.
Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Satpol PP dapat berkedudukan di Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
a. Di Daerah Provinsi, Satuan Polisi Pamong Praja dipimpin oleh Kepala yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah
b. Di Daerah Kabupaten/Kota, Satuan Polisi Pamong Praja dipimpin oleh Kepala yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris
Daerah.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut Kantor Polisi Pamong Praja mempunyai fungsi :
a) Perumusan kebijakan teknis di bidang polisi pamong praja;
b) Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dibidang polisi pamong
praja;
c) Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang polisi pamong praja;
d) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati di bidang polisi pamong praja;
e) Pengelolaan administratif.
d.

Tampilan Foto Sejarah Pembangunan Gedung Setda

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

52

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

53

Balai Kota Cirebon Tahun 1926

4.4 Jalan Siliwangi Kota Cirebon

Jalan Siliwangi Kota Cirebon merupakan salah satu jalan yang ada pada system jaringan
jalan di Kota Cirebon. Menurut Keputusan Walikota Cirebon No. 19 tahun 1999 tanggal 16 Nopember
1999 tentang Jaringan Lintas Angkutan Penumpang Umum (Bis) Angkutan Barang Dan Jaringan Lintas
Kendaraan Mobil, Bahwa Jalan Siliwangi Merupakan Jalan kelas II fungsi Arteri Sekunder.

Jalan Siliwangi Kota Cirebon terbentang sepanjang 1.30 KM, dari mulai bundaran
perempatan jalan RA Kartini, di bagian timur sampai ke bundaran lampu merah Krucuk di
bagian timur. Table berikut ini merupakan gambaran profil jalan siliwangi dari hasil analisis
yang dilakukan pada tahun 2013 sebagai berikut

Tabel 3. 11 Profil Jalan Siliwangi


URAIAN

KLASIFIKASI

Kelas Jalan

Kelas II

Fungsi Jalan

Arteri Sekunder

Panjang Jalan
Lebar Jalur Lalu Lintas

4 x 4,00 m

Kapasitas Dasar

6.600

Kapasitas Jalan (SMP/Jam)

5.253

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

54

Volume Lalu Lintas (SMP/jam)

1.781

Kecepatan (km/jam)

28-45

Tingkat pelayanan jalan

Sumber : Analisis Konsultan Tahun 2013


Letak Jalan Siliwangi berada di pusat Kota Cirebon, memiliki karakteristik yang berbeda
di bandingkan dengan ruas jalan lainnya yang ada di Kota Cirebon. Pada jam-jam kerja akan
terlihat ramai dan cenderung mengalami kemacetan, terutama pada titik-titik persimpangan
tertentu. Terutama pada ruas jalan siliwangi mempunyai beberapa persimpangan lampu merah
yang dapat memicu kenaikan volume lalu lintas yang drastis, seperti halnya keberadaan Stasiun
Kereta Api, yang pada jam tertentu pada saat keluarnya para penumpang kereta api dari berbagai
jurusan perjalanan tiba di Kota Cirebon. Kemudian keberadaan Pasar Keramat yang letaknya
persis di pinggir jalan serta keberadaan Bank Jabar Banten yang letaknya persis berhadapan
dengan pasar tersebut, pada jam pasar dari mulai jam 07.00 s/d jam 13.00 akan mengalami
situasi terjadi hambatan samping untuk pergerakan lalu lintas, diakibatkan adanya aktifitas
pedagang tumpah serta kesibukan nasabah bank tersebut.
Pada hari-hari terntu di ruas jalan siliwangi akan terjadi hambatan bagi pergerakan lalu
lintas, seperti ketika terjadi acara acara publik dan pemerintahan di balai kota Cirebon, adanya
festival atau aktifis sosial yang biasanya di lakukan di depan balai kota dan gedung DPRD Kota
Cirebon, seringkali menimbulkan hambatan pergerakan lalu lintas. Bahkan di hari minggu pada
jam tertentu (jam 06.00 s/d 10.00), jalan siliwangi tidak melayani lalu lintas kendaraan bermotor.
Terjadi pengalihan rute kendaraan pada jam tersebut, dikarenakan adanya acara hari bebas
kendaraan (car free day) yang berlaku pada ruas jalan ini.
Banyaknya persimpangan yang ada di ruas Jalan Siliwangi juga akan berdampak
terhadap karakteristik lalu lintas yang ada di ruas jalan ini. Penambahan rute lalu lintas dari
beberapa titik persimpangan yang ada di sepanjang jalan siliwangi akan berdampak
meningkatnya volume kendaraan yang masuk di jalan ini. Hal ini merupakan konsekwensi wajar
dikaitkan dengan keberadaan jalan siliwangi yang merupakan pusat kota dan pemerintahan di
wilayah Kota Cirebon.
Karakteristik lalulintas di jalan siliwangi yang merupakan terusan dari Jalan Tuparev dan
Jalan Kartini di bagian timur dan terusan dari Jalan Wahidin di bagian barat, memiliki volume
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

55

lalu lintas yang cukup lumayan padat dibandingkan dengan kapasitas jalan yang ada. Pada ruas
jalan siliwangi biasanya peningkatan volume kendaraan berada pada jalan sibuk yang dimulai
periode waktu jam 06.00 08.00, yang merupakan jam masuk kerja, kemudian jam 11.00
13.00 yang merupakan jam istirahat kerja dan jam 15.00 16.00 yang merupakan jam keluar
kerja. Setelah periode tersebut, mondisi lalulintas di jalan siliwangi mengalami penurunan dan
mengalami peningkatan kembali biasanya pada jam 18.00 19.00 meskipun kenaikanya pada
periode waktu ini tidak signifikan (tidak berimbas terhadap aktifitas).

End.

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

56

Selain titik survey lalu lintas dilakukan pada jalan siliwangi dialkukan juga pengambilan
data volume lalu lintas pada titik persimpangan pertemuan antar kendaran pada jalan siliwangi
yang arah menuju gedung setda Cirebon yang akan direncanakan, karena pertimbangan bahwa
volume lalu lintas pada setiap persimpangan pada arah jalan siliwangi berpengaruh dalam analisa
dampak lalu lintas pada jalan siliwangi yang kondisi eksisting 1.30 km. Berikut ini merupakan
data volume lalu lintas yang telah dilaksanakan pada hari kerja dan libur yang merupakan hasil
survey volume lalu lintas sendiri. Untuk lebih mudah dalam melihat pengumpulan data ini dapat
dilihat pada rekapitulasi data volume lalu lintas di ruas jalan siliwangi berikut ini :
Tabel 4.1. volume lalu lintas jalan siliwangi

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

57

SURVEY PERHITUNGAN LALU LINTAS HARIAN RAYA


KOTA
NAMA JALAN

: CIREBON
: JL. SILIWANGI

TANGGAL
CUACA

: SENIN, 21 MARET 2016


: CERAH

KENDARAN BERMOTOR
NO

LOKASI
SURVEY

JL. KARTINI JL. SILIWANGI

MASUK BALAI
KOTA
2

KELUAR
BALAI KOTA

JL. M. TOHA JL. SILIWANGI

KENDARAN PENUMPANG

WAKTU

SEDAN

JEEP

PICK UP

TRUK 3 m3

SEPEDA

BECAK

46

32

78

17

10

1200

24

07.00 S/D
08.00

41

45

63

745

29

08.00 S/D
09.00

42

22

55

725

41

09.00 S/D
10.00

33

27

33

521

10

12.00 S/D
13.00

22

32

43

557

30

15.00 S/D
16.00

45

20

53

621

16

06.00 S/D
07.00

15

23

43

07.00 S/D
08.00

23

37

08.00 S/D
09.00

16

15

09.00 S/D
10.00

22

33

12.00 S/D
13.00

21

11

15.00 S/D
16.00

20

42

45

06.00 S/D
07.00

35

90

17

07.00 S/D
08.00

40

30

89

23

JL. KERUCUK JL. SILIWANGI

TRUK 12 m3

75

15

45

08.00 S/D
09.00

12

20

09.00 S/D
10.00

16

31

12.00 S/D
13.00

11

43

15.00 S/D
16.00

22

46

11

17

10

13

08.00 S/D
09.00
09.00 S/D
10.00

TRUK 6 m3

KENDARAN TIDAK
BERMOTOR

ANGKOT

07.00 S/D
08.00

STASIUN - JL.
SILIWANGI

BUS

SEPEDA
MOTOR

06.00 S/D
07.00

06.00 S/D
07.00

MINI BUS

KENDARAN ANGKUTAN BARANG

41

57

15

61

70

45

54

18

24

51

21

16

60

17

12.00 S/D
13.00

14

35

63

14

15.00 S/D
16.00

22

45

11

75

23

06.00 S/D
07.00

171

65

85

2325

12

57

07.00 S/D
08.00

74

52

73

12

873

17

42

08.00 S/D
09.00

76

41

65

651

12

45

09.00 S/D
10.00

67

41

55

11

621

17

41

12.00 S/D
13.00

77

50

62

655

12

17

15.00 S/D
16.00
TOTAL KENDARAN/HARI

110

26

43

826

717

1249

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

143

47

701

27

11173

136

560

58

SURVEY PERHITUNGAN LALU LINTAS HARIAN RAYA


KOTA
NAMA JALAN

NO

LOKASI
SURVEY

JL. KARTINI JL. SILIWANGI

MASUK BALAI
KOTA
2

KELUAR
BALAI KOTA

JL. M. TOHA JL. SILIWANGI

: CIREBON
: JL. SILIWANGI

TANGGAL
CUACA

WAKTU
ANGKOT

KENDARAN PENUMPANG
JEEP
MINI BUS
SEDAN

33

1145

16

865

22

14

513

24

450

45

07.00 S/D
08.00

62

10

173

12

08.00 S/D
09.00

42

45

113

11

09.00 S/D
10.00

41

149

12.00 S/D
13.00

39

10

88

15.00 S/D
16.00

67

32

143

760

06.00 S/D
07.00

11

21

07.00 S/D
08.00

16

22

39

08.00 S/D
09.00

27

32

09.00 S/D
10.00

17

21

12.00 S/D
13.00

11

25

15.00 S/D
16.00

13

36

52

06.00 S/D
07.00

16

07.00 S/D
08.00

10

33

08.00 S/D
09.00

18

40

46

13

15

46

93

19

20

42

62

23

61

81

16

18

65

12

69

14

36

50

38

71

2224

10

51

06.00 S/D
07.00
07.00 S/D
08.00

JL. KERUCUK JL. SILIWANGI

680

16

15.00 S/D
16.00

KENDARAN TIDAK
BERMOTOR
BECAK
SEPEDA

41

12.00 S/D
13.00

STASIUN - JL.
SILIWANGI

SEPEDA
MOTOR

06.00 S/D
07.00

09.00 S/D
10.00

KENDARAN BERMOTOR
KENDARAN ANGKUTAN BARANG
PICK UP
TRUK 3 m3 TRUK 6 m3 TRUK 12 m3
BUS

: SELASA, 22 MARET 2016


: CERAH - MENDUNG

51

18

26

62

15

08.00 S/D
09.00

09.00 S/D
10.00

12.00 S/D
13.00

15.00 S/D
16.00

18

06.00 S/D
07.00

90

55

81

07.00 S/D
08.00

111

56

155

15

1600

90

153

08.00 S/D
09.00

121

15

25

1338

27

09.00 S/D
10.00

67

22

761

10

30

12.00 S/D
13.00

67

20

72

720

31

15.00 S/D
16.00
TOTAL KENDARAN/HARI

72

26

107

833

456

1609

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

23

12

133

42

830

39

12800

173

573

59

Sumber : Survey Jalan siliwangi


Data diatas merupakan hasil survey volume lalu lintas yang telah dilaksankan pada hari kerja dan
hari libur pada jalan Siliwangi kota Cirebon dari arah jalan tuparaev dan jalan kartini. Maka dapat dilihat
volume kendaran pada jalan Siliwangi untuk pengendara bermotor lebih banyak dari pada pengendara
mobil.

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

60

Selain produksi barang dan jasa, distribusi barang dan jasa juga mempunyai peranan
yang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lancarnya

distribusi

barang dan jasa akan menyebabkan penyediaan barang dan jasa tidak berkurang dan harganya
relatif lebih murah.
Salah satu untuk melancarkan distribusi barang dan jasa adalah tersedianya infrastruktur
perhubungan darat. Kota Cirebon merupakan wilayah daratan sehingga infrastruktur
perhubungan darat memiliki peranan cukup besar dan sangat dibutuhkan dalam melayani
kebutuhan masyarakat
Menurut catatan Dinas Kimpraswil Kota Cirebon, panjang jalan di Kota Cirebon
pada tahun 2014, tercatat panjangnya mencapai 163,863 km. Dari panjang jalan tersebut,
sebagian besar (99%) merupakan jalan yang sudah diaspal yaitu sepanjang 161,697 km;
dan sepanjang 1,448 km (1%) merupakan jalan berkerikil. Dilihat dari kondisi jalan,
sepanjang 141,410 km kondisinya baik, dan sekitar 15,876 km kondisi sedang, serta
sebanyak 6,577 km kondisinya rusak, baik rusak berat maupun ringan.
Sarana transportasi berupa jumlah kendaraan bermotor yang ada di kota cirebon dapat
dilihat dari Tabel 10.2. Tabel ini menggambarkan perkembangan jumlah kendaraan
bermotor menurut jenisnya tahun 2011-2014. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah
sepeda motor, mobil penumpang dan mobil barang cenderung mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun. Tahun 2013 jumlah sepeda motor tercatat sebanyak 131.294 buah dan
di tahun 2014 jumlahnya meningkat menjadi 136.147 buah.
Sarana lain yang tidak kalah penting untuk penunjang transportasi adalah pelabuhan
laut tempat bongkar muat barang, pelabuhan angkutan penumpang dari dan ke Cirebon dan
pelabuhan
perikanan laut
serta
Berikut
data-data

bandara.
ini merupakan
mengenai
pengangkutan

dan

transoprtasi di

kota

cirebon :

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

61

Sumber : BPS Kota CIrebon


Gambar 3. 4 Perkembangan Panjang Jalan Di Kota Cirebon Menurut Jenis Permukaa Tahun 2013-2014

Uraian

2013

2014

(1)

(2)

(3)

Sumber : BPS Kota CIrebon


Gambar 3. 5 Jumlah Kendaraan Bermotor menurut Jenisnya di kota Cirebon tahun 2011-2014

Tabel 3. 3 Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan, Kondisi Jalan Dan Kelas Jalan Tahun
2013/2014 (Km)

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

62

I. Status Jalan
1.1. Jalan Nasional
1.2. Jalan Propinsi
1.3. Jalan Kota
Jumlah
II. Jenis Permukaan
2.1. Diaspal
2.2. Kerikil
2.3. Tanah
2.4. Tidak Dirinci
Jumlah
III. Kondisi Jalan
3.1. Baik
3.2. Sedang
3.3. Rusak Ringan
3.3. Rusak Berat
Jumlah
IV. Kelas Jalan
4.1. Kelas I
4.2. Kelas II
4.3. Kelas III A
4.4. Kelas III B
4.5. Kelas III C
Jumlah

15,780
8,760
139,323
163,863

15,780
8,760
139,323
163,863

161,697
1,448
0,718
163,863

161,697
1,448
0,718
163,863

136,675
17,106
3,822
6,620
163,863

141,410
15,876
3,987
2,590
163,863

NA
NA
NA
NA
NA
NA

NA
NA
NA
NA
NA
NA

Sumber : BPS Kota Cirebon

Tabel 3. 4 Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenisnya Kota Cirebon Tahun 2011/2014
No
(1)

Jenis Kendaraan
(2)

Sepeda Motor

2
3

2011
(3)

Banyaknya Kendara an
2012
2013
2014
(4)
(5)
(6)

144.375

128.781

131.294

136.147

Mobil Penumpang

23.411

22.509

24.209

25.830

Mobil Barang

14.791

13.663

13.771

13.958

182.557 164.953 169.274


Sumber : BPS Kota Cirebon

175.935

Jumlah

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

63

Tabel 3. 5 Jumlah Kendaraan Angkutan Penumpang Umum Kota Cirebon Tahun 2011/2014

(1)

Banyaknya Kendaraan

Jenis

No

Kendaraan
(2)

2011

2012

2013

2014

(3)

(4)

(5)

(6)
215

Bus Besar

427

427

215

Bus Kecil

54

54

44

Angkutan Kota

979

885

979

979

Taxi Argo

20

25

25

25

1.480

1.391

1.263

Jumlah

Sumber : BPS Kota Cirebon


Tabel 3. 6 Jumlah Armada Angkutan Kota dan Panjang Trayek di Kota Cirebon Tahun 2014
No

Trayek

Jumlah Armada

Panjang Trayek

Alokasi
(4)

Realisasi
(5)

(1)

(2)

(km)
(3)

D1

22.8

113

D2

20

142

D3

15.6

71

D4

15.7

128

D5

15

146

D6

21

204

D7

20

40

D8

16

95

D9

10

D10

27

60

N
A

JUMLAH

190.26

1.039

Sumber : BPS Kota Cirebon

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

64

Tabel 3. 8 Banyaknya Kapal Menurut Jenis Pelayaran Tahun 2011/2014


Tahun
Jenis Pelayaran
2011
(2)

2012
(3)

51
119.188

56
162.396

93
1.092.618

82
712.492

1.538
1.853.945

1.637
2.147.973

1.992
11.297.320

2.063
11.124.892

30
3.965

18
3.455

9
1.812

11
1.100

12
1.991

2
1.800

3
1.256

1.619
1.977.098

1.711
2.313.824

2.096
12.393.550

2.159
11.839.740

(1)
Pelayaran Luar Negeri
-Unit
-GRT
Pelayaran Dalam Negeri
-Unit
-GRT
PELRA
-Unit
-GRT
Kapal Lainnya
-Unit
-GRT
JUMLAH
-Unit
-GRT

2013
(4)

2014
(5)

Sumber : BPS Kota Cirebon


4.1.1.

Demografi

Penerimaan pemerintah daerah merupakan salah satu faktor utama untuk membiayai
pembangunan. Penerimaan pemerintah daerah bersumber dari pendapatan asli daerah yang
meliputi pajak, retribusi, laba BUMD dan penerimaan lainya, pajak daerah dan bantuan
pemerintah pusat. Realisasi penerimaan Pemerintah Kota Cirebon dari tahun ke tahun terus
meningkat. Pada tahun anggaran 2011 penerimaan mencapai 838,6 miliar rupiah, sementara itu
pada tahun anggaran 2014 meningkat menjadi 1.234 Triliun rupiah.
Pos penerimaan terbesar masih diperoleh dari bagian Dana Perimbangan yaitu sebesar
689,2 miliar rupiah. Besarnya Dana Perimbangan ini, terutama merupakan kontribusi dari dana
alokasi umum (DAU) kepada pemerintah daerah Kota Cirebon yang pada tahun 2014 jumlahnya
mencapai 583,9 miliar rupiah. Pada tahun anggaran 2014 ini untuk realisasi belanja tidak
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

65

langsung dan belanja langsung, tercatat belanja tidak langsung sebesar 591,3 miliar rupiah dan
belanja langsung sebesar 603,1 miliar rupiah. Berikut ini adalah data keuangan kota cirebon :
Tabel 3. 9 Realisasi Penerimaan Daerah Tahun Anggaran 2014
Jenis Penerimaan

Jumlah

(1)

(2)

1. Pendapatan Asli Daerah

298.539.011.144

2.1. Pajak Daerah

103.861.450.433

2.2. Retribusi Daerah

16.425.413.981

2.3. Bagian Laba BUMD & Hasil

4.230.358.159

Pengelolaan Kekayaan Daerah


2.4. Penerimaan Lain-Lain

2. Dana Perimbangan

174.021.788.571

689.248.441.689

3.1. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak

73.175.370.689

3.2. Dana Alokasi Umum

583.927.691.000

3.3. Dana Alokasi Khusus

32.145.380.000

3. Lain-Lain Pendapatan Yang Sah

Jumlah Penerimaan

246.278.482.530
1.234.065.935.363

Sumber : BPS Kota Cirebon


Tabel 3. 10 Realisasi Belanja Aparatur Tahun Anggaran

Jenis Belanja Daerah

Jumlah

(1)

(2)

1. Belanja Tidak Langsung


1. Belanja Pegawai
2. Belanja Hibah
3. Belanja Bantuan Sosial
Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

591.328.067.156
539.865.445.101
41.812.871.618
9.259.782.429
66

4. Belanja Bantuan Keuangan


5. Belanja Tidak Terduga
2. Belanja Langsung

360.914.508
29.053.500
603.120.555.301

1. Belanja Pegawai

59.373.163.943

2. Belanja Barang dan Jasa

308.513.793.722

3. Belanja Modal

235.233.597.636

JUMLAH

1.194.448.622.457

Sumber : BPS Kota Cirebon

Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

67