Você está na página 1de 4

Nama : Muharom Aprilianto

NIM : 09161052
Prodi : Teknik Perkapalan
A. APA ITU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)???
MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015,
dalam artian adanya sistem perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN. Indonesia dan sembilan
negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
atau ASEAN Economic Community (AEC). Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak hanya membuka arus
perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara,
akuntan, dan lainnya. MEA juga memiliki peluang yang sangat besar diantaranya yaitu manfaat
integrasi ekonomi, pasar potensial dunia, negara pengekspor, negara tujuan investasi, dan
meningkatkan daya saing.
Sebagai salah satu anggota ASEAN yang dinilai cukup maju, Indonesia perlu membenahi segala aspek
kehidupan masyarakatnya demi terwujudnya ASEAN Economic Community. Salah satu aspek yang
perlu dibenahi adalah sistem pendidikan di Indonesia.
Hal ini tidak dilakukan untuk menciptakan tenaga kerja yang ahli di bidang teknis saja, tetapi membuat
tenaga kerja yang kaya wawasan dan mampu berkompetisi. Tidak cukup sampai di situ, diharapkan
kelak mereka menjadi para wirausahawan yang kreatif sehingga dapat bersaing di pasar bebas ini. Oleh
karena itu, perguruan tinggi di Indonesia memiliki tanggung jawab yang besar dalam menciptakan
tenaga kerja yang handal.
Tidak hanya membuat tantangan yang cukup besar, tetapi juga membuat banyak peluang khususnya
bagi Indonesia untuk lebih meningkatkan kualitas produk- produknya maupun tenaga kerjanya yang
profesional dalam memasuki tantangan ruang lingkup ASEAN Economic Community.
Tentunya kita sebagai mahasiswa akuntansi mempunyai banyak sekali peluang untuk bisa ikut terlibat
dalam ASEAN Economic Community. Perlu adanya persiapan bagi calon profesi akuntan untuk
menghadapi ASEAN Economic Community (AEC). Persiapan ini akan meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) akuntansi Indonesia memiliki daya saing tingkat nasional maupun internasional.
B. APA KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN MEA BAGI NEGARA-NEGARA ASIA
TENGGARA ?
Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja
mendatangkan manfaat yang besar. Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini
juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara.
Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja profesional akan naik 41% atau
sekitar 14 juta. Sementara permintaan akan tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta,
sementara tenaga kerja level rendah meningkat 24% atau 12 juta.

Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang
terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi.
C. APA TANTANGAN YANG TERJADI SEKARANG DAN NANTI ?
Persiapan menghadapi AEC ini memang tidak mudah. Perlu adanya tindakan besar yang dilakukan
demi terwujudnya sistem internasional ini. Dukungan dari berbagai pihak sangatlah dibutuhkan.
Revolusi teknologi dan beberapa perbedaan ideologi di setiap negara-negara ASEAN harus kita hadapi.
Jika tidak, kita akan hanya menjadi penonton dalam ASEAN Economic Community ini, penonton yang
hanya bisa melihat munculnya produk-produk berkualitas dan tenaga kerja handal dari berbagai negara
ASEAN lainnya tanpa ada inisiatif untuk berkompetisi
Minimnya jumlah akuntan publik di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun hingga Mei 2013, dari
52.637 orang Akuntan Beregister, hanya 1019 orang yang menjadi Akuntan Publik. Padahal kebutuhan
masyarakat akan peran Akuntan Publik masih belum terpenuhi. Apalagi akuntan-akuntan publik yang
ada saat ini lebih terpusat di Pulau Jawa, terutama di Jakarta, Surabaya dan sekitarnya. Peluang ini
rawan diambil oleh Akuntan-akuntan dari luar negeri yang akan semakin banyak berdatangan keIndonesia seiring dengan akan diberlakukannya AEC 2015.
Menurut Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia, Tarko Sunaryo, mengakui ada kekhawatiran karena
banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat. Selain itu,
kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, serta kesiapan mereka juga sangat tergantung pada mental.
Banyak yang belum siap kalau mereka bersaing dengan akuntan luar negeri. Namun sebagai mahasiswa
harus optimis menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Apabila sudah pesimis terlebih dahulu,
maka kita sudah kalah sebelum berperang.
Hambatan yang saya hadapi sekarang secara personal adalah kurangnya pengetahuan tentang ideologi,
budaya, dan standar akuntansi dari berbagai negara ASEAN. Kemudian kurangnya penguasaan bahasa
Inggris yang sebenarnya itu sudah menjadi bahasa yang umum digunakan dalam berinteraksi dengan
orang asing dan semakin luas bahasa-bahasa yang perlu dikuasai.
Sedangkan hambatan pada nantinya adalah kurangnya dukungan pemerintah untuk regulasi yang dapat
mendorong pendidikan berstandar internasional, peningkatan kualitas jasa profesi, dan perkembangan
profesi yang ada. Selanjutnya, karena konsumen (perusahaan) dapat memilih jasa dengan kualitas yang
baik dengan harga bersaing maka artinya persaingan akan semakin ketat. Dapat kita ketahui, bahwa
kemampuan masyarakat internasional jauh diatas kemampuan masyarakat Indonesia dan kebanyakan
masyarakat Indonesia menginginkan gaji yang cukup tinggi pula.

D. APA YANG PERLU DIPERSIAPKAN SEBAGAI MAHASISWA???

Saya sebagai mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan, persiapan saya dalam menghadapi ASEAN
Economic Community 2015 tentunya dengan menambah wawasan yang lebih luas lagi. Bukan hanya
lingkup nasional tapi juga mengetahui keadaan ekonomi internasional serta juga menambah semangat
belajar saya agar saya bisa menjadi seorang akuntan profesional yang siap terjun dalam dunia kerja.
Saya juga harus aktif mengikuti kegiatan dialog interaktif, beberapa open talk atau seminar yang
mengundang beberapa tokoh ekonomi dan pendidikan dengan membahas AEC sebagai tema utama.
Hal ini dapat mengasah dan menambah kemampuan setiap individu mengenai wawasan
internasionalnya.
Kemudian saya harus membekali dengan keahlian lain seperti kemampuan berbahasa asing selain
bahasa Inggris, bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia juga sangat diperlukan dalam berkomunikasi
apabila bekerja lintas-budaya khususnya di wilayah ASEAN. Setelah AEC diberlakukan, pasar bebas
akan mewajibkan para tenaga kerjanya untuk memiliki keahlian dalam komunikasi antar negara dalam
mebangun sebuah relasi yang baik.
Besar harapan saya ke depannya ingin menyelesaikan kuliah saya dengan waktu yang lebih cepat, agar
cepat mendapatkan pekerjaan nantinya. Ketika AEC 2015, Akuntan Indonesia juga dapat berpraktek
atau memberikan jasa di berbagai negara anggota ASEAN, begitu pula akuntan-akuntan mereka.
Seharusnya saya tidak perlu khawatir dengan diberlakukannya AEC 2015, karena sudah sejak lama ada
Akuntan dari luar Indonesia yang berpraktek di Indonesia. Saya hanya perlu banyak belajar dan
membaca untuk memahami segala ideologi, budaya, dan standar akuntansi negara negara tersebut
dan berusaha menyesuaikan diri agar tidak kalah bersaing dengan akuntan-akuntan internasional.
Selain itu, saya juga berusaha mendapatkan modal saya untuk mencoba berwirausaha dengan cara
bekerja sama dengan industri- industri kecil. Nantinya industri itu dapat lebih dikenal dan menarik
banyak konsumen dari dalam negeri sendiri maupun siap untuk diekspor sebagai produk unggulan di
pasar internasional. Tentunya dengan melakukan peningkatan kualitas produk tersebut agar memenuhi
standarisasi sebagai produk yang berkualitas dan pantas dikonsumsi oleh masyarakat internasional.
Saya mencoba menerapkan apa yang telah saya pelajari dalam mata kuliah Kewirausahaan.
Peluang yang saya miliki adalah saya dapat menguasai akuntansi yang sudah berbasis pada teknologi
komputerisasi, meskipun indeks prestasi hanya dapat dibilang cukup memadai. Tetapi saya memiliki
semangat kerja yang sangat tinggi dan selalu berusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Saya
banyak belajar bekerja sama dengan segala kepribadian seseorang melalui organisasi kemahasiswaan.
Banyak soft skill yang sudah saya dapat, guna nantinya bermanfaat dalam menghadapi persaingan yang
cukup ketat dan luas.
Dengan semangat belajar yang saya miliki tersebut, tentunya saya siap untuk menjadi seorang akuntan
profesional dan seorang enterpreneur yang siap menghadapi ASEAN Economic Community tahun
2015.

Menurut Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono, M.Ec., Ph.D., CPA., CA. yang juga berprofesi sebagai dosen
di Universitas Airlangga. Ada beberapa cara untuk menjaga kompetensi ini, para Akuntan perlu
mengikuti pendidikan profesional berkelanjutan dan menjadi anggota profesi.
Beberapa kriteria bagi seorang Akuntan untuk disebut Profesional. Pertama, memiliki register akuntan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, memiliki pengalaman dan/atau
menjalankan praktek keprofesian di bidang akuntansi, baik di sektor pendidikan, korporasi, sektor
publik, maupun praktisi akuntan publik. Ketiga, menaati dan melaksanakan standar profesi. Keempat,
menjaga kompetensi melalui pendidikan profesional berkelanjutan. Apabila seorang Akuntan telah
memenuhi keempat hal tersebut, maka kualitasnya sudah terjamin dan akan terus meningkat. Sehingga
daya saing dibanding akuntan lain pun juga akan meningkat. Hal-hal itulah yang perlu diperhatikan
untuk menghadapi AEC 2015, agar tidak sampai kalah bersaing dengan akuntan asing.