Você está na página 1de 200

DASAH{-MA.

$AR

ffiHrffiffihffi
Ensin Seytran

J
..

GADJAH M-^ D4 UN T'}'h]RSI?'Y PREI}S


:.

r- ,_
) ) / (t',1

ERSIN SEYHAN
Itt
i ,l
!

DASAR-DASAR
HIDROLOGI
Pencrjemah:

Ir.

Sentot Subagyo
Editor:

Prof. Dr.

Ir.

Soenardi Prawirohatmodjo

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Gadjah Mada University Press

1990

3sy
cl

Dr. Ir. Ersin

PENGANTAR
Seyhan,

Instinrut voor Aardwetenschappen


Vrije Universiteit, Amsterdam

[.

t, l,

t.

Torg,gur

I
,

i.,E Gt.<
t> /.

IPD

r"

untuk mempelajari proses-proses dasar yang terlibat dalam hidrologi. Buku

ini tidak merupakan buku ajar yang lengkap, tetapi didasarkan atas pemberian
pengetahuan pada bukan ahli hidrologi tentang topik-topik hidrologi yang
paling sering muncul. Tetapi pada beberapa hal, kenyataan-kenyataan
diterangkan dalam lebih banyak detil daripada yang diperlukan. Ini dilakukan
dengan tujuan untuk menjadikan buku ini tetap sebagai buku acuan.

reneffilJL;.
Nornor

Buku ini dimaksudkan untuk menyediakan alat bagi bukan ahli hidrologi

/ttS1

4 April 1977
s: "f;
English

:
By :

Edition

FUNDAMENTALS OF HYDHOLOGY
Bevised edition

Ereln

SeYhan

Copyright @ 1b77 by Ersin Seyhan; published by Geogra1sch lnstituut der


Rijksuniversitoit ts Utrecht.

Edisilndonesia

DASAR'DASAR HIDROLOGI

@ 1990 by GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS


P.O. Box 14 Bulaksumur, Yogyakarla.

iranslalion Copyright

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin brtulis dari penerbit,


i"Oigiin atai seturuhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak, photoprint,
microfilm dan sebag ainy a.

S''

r','

431.57.11.90
Dicetak pada:
GADJAH MADA UNIVEBSITY PRESS
9003041-C2E

tsBN

979-420-175-6

E.

Seyhan

I
rh

I)AI.'TAR ISI
halaman

,I
I.

ti

Batasan

1.2. Sejarah singkat

tt

di ,f

2. TANGGAPAN SISTEM
2.1. Konsep sistem
2.2. Tanggapan Daerah Aliran Sungai - Daur Hidrologi
2.3. Persanraan neraca air ...
-r.

PRESIPITASI . ..
3.1. Pendahuluan
3.2. Tipe-tipe presipitasi
3.2.1. Klasifikasi genetik
3.2.2. Klasifikasi bentuk

6
6

't
12

l9
l9
t9
l9

\
I
I

...

..

21

Keragaman- keragaman presipitasi

!,

il

fu

PENDAHULUAN

l.l.

3.4. Ukuran dan laju jatuhnya tetesan hujan


3.5. Penguk uran presipitasr

22
25
34
34

3.5.1. Persyaratan penakar hujan


3.5.2. Alat-alat pengukur presipitasi
3.6. Penyajian agihan-titik presipitasi . . . .
3.7. Pemrosesan dala presipitasi: karakteristik ruang-waktu
3.7.1. Penentuan agihan kawasan
.

&

l''

3.7

.2.

42
.

Penambahan cacaran presipirasi

3.7.3. Analisis jeluk-luas-lama hujan

54
55
55

6t
.

3.8. Pemrosesan data presipitasi: penerapan desain


3.8.1. Analisis jeluk-lama hujan-frekuensi .

67
68
68

vlll

lx

3.8.2. Transformasi curah hujan titik dengan curah hujan


kawasan

3.9. Intersepsi

70
72

...

4. INFILTRASI ..
4.1. Pendahuluan .
4.2. Lengas tanah .
4.2.1. Konsep umum lengas tanah.
4.2.2. Potensial air tanah .
4.2.3. Kurva tegangan
4.2.4. Histeresis .
4.2.5. Penampang jeluk lengas tanah .
4.2.6. Gerakan naik lengas tanah-gerakan kapiler . . . ..
4.2.7. Pengukuran potensial air tanah
4.2.8. Pengukuran lengas tanah .
4.3. Kepentingan praktis infiltrasi
4.4. Faktor-faktoryangmempengaruhi infiltrasi
......
4.5. Keragaman waktu kapasitas infiltrasi
4.6. Penentuan laju-laju infiltrasi
4.6.1. Penentuan infiltrasi sebagai suatu fungsi dalam
proses limpasan

74
74
77
77

80

8l
84
87

87

90
94
99
99

t02
103
103

4.6.2. Penentuan infiltrasi sebagai suatu faktor dalam


ngisian kembali air tanah

pe-

5. EVAPOTRANSPIRASI ....
5.1. Pendahuluan .
5.2. Fisika evaporasi
5.3. Terminologi evaporasi . . .
5.4. Pengukuran evaporasi ...
5.5. Penaksiran evaporasi ....
5.6. Pengurangan evaporasi

tt7
t23
t23

t26
132
133

t45
181

6.AIMPASAN PERMUKAAN DAN HIDROLOGI


.\-/
-.- 6.1. Batasan-batasan . .\. .
.

6.2. Faktor-faktor yang memper\garuhi limpasan


6.3. Keragaman stokastik dalam'limpasan
6.4. Pengukuran limpasan ... .
6.4.1, Pemilihan lokasi penakar limpasan
6.4.2. Periode pengamatan . ..
6.4.3. Alat-alat pengukur tinggi air . . .

SUNGAI ..

t82
182
187
188
188
188
195

195

6,4.4. Pengukuran irisan melintang saluran


6.4.5. Pengukuran kecepatan alirarl '
6.4.6. Penentuan dan pengukuran debit '

6.5. Hubungan tinggi air - debit


6.6. Keragaman limPasan ....
6.7. Hubungan curah hujan dengan linlpasan
6.8. Konsep hidrograf
6.8.1. Proses limpasan dal.r komponen-komponen hidrograf ..
6.8.2. Pemisahan aliran dasar '
6.8.3. Hidrograf satuan
6.9. Penaksiran limPasan... "
6.9.1. Limpasan rata-rata bulanan dan tahunatl " " " "
6.9.2. Penaksiran banjir .. "'
6.9.3. Metode bilangan kurva '
6.9.4. Peramalan aliran mininlunl

7. AIR BUMI
7.1. Tempat datr asal mula air tanah '
7.1.1. Sifat-sifat batuan dan terjadinya air tanah
7. I .2. TiPe-tiPe akiler
7.1.3. Konstanta-konstanta getlhidrologika akifer " " "
7.i,.i. penentuan pengisian kenrbali akifer '
'7
.2. Cerakan air tanah
7.2.1. Hukum-hukum yang mengatur aliran air tanah " '
'7.2.2. Arah aliran air tanah.
1.2,2.1 Caris-garis aliran air tanah-Gerakan pada
bidang zx ....
'7
.2.2.2.Caris-garis alirarl air tallah-Cerakatr pada
bidang xy ....
1 .2.2.3.Alirari air tanah melalui suatu batas
1 .2.2.4.Pengukuran arah aliran air tanal.r
7.3. Aras-aras dan fluktuasi air tanah
i.?. Uubungan atltara air perrnukaan dan air tanah
fl}. produtsi(hasil) air tanah yang aman
ff.a. peneitian kembali secara buatart
i/. tnttuti air garam (laut) .
7.8. Penelitian-penelitian pernlukaan dan bawalr perntukaall
air tanah

20t
203
209

22t
221
223

.)1<

22s
229
233
23s
235
23',l

246
^LL+

254
254
256
259
260

284
28s
285

290
29o
292
293
293
295
298
301

302
3()5

lOs

--\\
x
308
308
309

8. HIDROLOGI F{UTAN ....


8.1. Sejarah singkat
8.2. Neraca air kawasan hutan '
8.3. Kondisi-kondisi iklim dalam hutan ' ' ' '
8.3.1. Suhu dan radiasr
8.3.2. Kelembaban
8.3.3. Angin

309
309

3ll
3l

Presipitast
lntersepsi

"

'

313
315
315

'

nfiltrasi

Aliran Permukaan

316
317
317

Limpasan
8.9.1. Debit-debit maksimum '
8.9.2. Aliran-aliran yang rendalt
II

319

RUJUKAN.RUJUKAN
i : oRGANISASI
;;;ilLAMPIRAN B

LAIVIPIRAN C

LAMPIRAN D
LAMPIRAN E
LAMPIRAN F

1. PENDAHULUAN

312

EvapotransPlrasl
I

3ll

DAN MATALAH-MATALAH 3sl


SATUAN-SATUAN UKURAN, KONSTANTA.KONSTANTA FISIKA DAN MATEMA-

TIKA .
KONSTANTA-KONSTANTATANAH
RUMUS.RUMUS

STATISTIKA
HIDROLIKA .

355

""'

TERMINOLOGI
KOEFISIEN KEKASARAN MANNING

363
365
368

""

371

1.1. BATASAN

Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air bumi, terjadinya,


peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisikanya, dan reaksi
dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan makhluk-makhluk hidup (International Glossary of Hidrology, 1974). Karena perkembangannya yang begitu cepat, hidrologi telah menjadi ilmu dasar dari
pengelolaon sumberdaya-sumberdoya air (rumah tanggo oir) yang

merupakan pengembangdn, agihan dan penggunaan sumberdayasumberdaya air secara terencana. Banyak proyek di dunia (rekayasa air,
irigasi, pengendalian banjir, drainase, tenaga air dan lain-lain) dilakukan
dengan terlebih dahulu melaksanakan survei kondisi-kondisi hidrologi
yang cukup. Survei-survei tersebut meliputi prosedur-prosedur pengumpulan data di lapangan, sampai pemrosesan data dan karena itu
menghasilkan data sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Pada
Tabel l-l disajikan beberapa hal yang berkaitan dengan hidrologi
dalam hubungannya dengan proyek-proyek yang berlainan.

r.2. SEIARAH SINGKAT

Manusia, dari semula, telah menyadari pentingnya air bagi dia dh.
bagi lingkungannya. Ahli filsafat terdahulu memandang air sebagai
salah satu dari 4 unsur dasar (api, bumi, udara dan air). Sampai abad
ke-16 teka-teki besar adalah mengenai asal muasal air. Konsep daur
hidrologi belum disadari. Karena itulah, kondensasi, presipitasi,
evaporasi dan infiltrasi belum dapat dikaitkan satu sama lain. Namun,
pada abad ke-16, Leonardo da Vinci menuliskan gambaran yang palirrg
I

. .ri

l.l,

Reserroir
tanalr

t___

ll.lrk'.t*t,,"I hun

"*

l_

Ka gr3511n5

itriilt rasi

^t,aTR^sl

I La.tu infiltrasi akruial

perkolasr, jcluk
tinggi nruka air

perrgisian kenrbali

Cadarrgan

i*B 1

Perembesan influen

dan eflluen

,rtrr"ri **,-"

-gi

Produksi air lang


antall

Tahun-tahun basah

& kering

pada masukan

Kelrilarrgarr kalr'rra

Tahun-tahun basah

Rata

Perembesan melalui
bendungan

Perembesan dari
kanal atau saluran

Perenrbesan inllttctl

& kering, tinggi air

'*

'"111:

-*,rN LXStt

inliltrasi

-l,l""rt ,k*

Minimum

lama hujan, air


yang dangkal/rendah

Hidrograf tinggi air,

Frekuensi banjir
maksimal, Menimbulkan aliran tinggi
air

TINCCI AIR

DEBII'DAN

Kehilangan karetta

al

L"Jr,

_t--

Plesipitasi dan ei a lrorasi pada DAS & dati


kawasarr atau daer th lesetroir
fPlesipitasi talrunan IEraptrlari talrunarr
nrelebilri pasokarr
I dari karlasart pastrkatt

l)antan

Valiasi tahurtatt ple: I Erapolasi tlarr


sipitasi & rttusinr ta-- | rlansnirasi nrals.

Flekuensi hujan,
intensitas & lanra
hujan

Presipitasi dan eva :rorasi pada DAS dan


dari kawasan atau daerah reservoir

lerr-gas tanah

EVAPORASI

oct

iiiEFFBiiiEiiIEiiEIEig[g-**

ail

Pasokarr air

Listrik Tenaga air

Jeluk hujan, irrtensitas & lama hujan

PXESIPITASI

PARAMETER HIDROT

Penlingnla paramrter-paranreter hidrologi dalam berbagai proyek (dikutip dari Volkcr, l96E)

Pengendalian banjir

F.rosi tanah

Iabel

,4

1.3.

l. Biologi Lingkungan.
12. Kimia.

HUBUNGAN HIDROLOGI DENGAN PELBAGAI DISIPLIN


ILMU

l. Meteorologi : Dalam bidang perbatasan, hidrometeorologi, ahli


hidrologi dan meteorologi berkepentingan dalam mengkaji
proSeS-proSeSatmoster.DalamhaIini,klimatologi,juga

berkaitan erat dengan kedua ilmu tersebut.


2. Rekayasa : Salah satu ilmu dasar pengelolaan air adalah hidrologi

{0'

dan penerapan praktisnya adalah rekayasa air. Hidrometri

lr

l,

,t

(pengukuran kedalaman (jeluk) dan debit sungai) merupakan


subyek yang berkaitan bagi hidrolog dan insinyur air.
3. Rekayasa Pertanian : Dalam merancang, menyusun dan mengerjakan sistem irigasi dan drainase, perlindungan lahan pertanian
terhadap erosi, pengaturan mata rantai air yang kecil dan
reklamasi lahan, hidrologi merupakan salah satu subyek yang
utama bagi insinyur pertanian.
4. Ilmu Tanah : Problem-problem . keragaman infiltrasi dan lengas
tanah menjadi perhatian hidrolog dan ilmuwan tanah.
5. Kehutanan : Drainase tanah hutan, transpirasi, intersepsi dan lain-

lain, merupakan topik-topik yang berkaitan.


6. Geologi : Untuk penelitian-penelitian air tanah pengertian geologi
yang memadai adalah perlu. Hidrogeologi adalah pengkajian air
tanah oleh geolog. Geohidrologi adalah pengkajian air tanah
oleh hidrolog.
7. Geofisika : Dalam kaitannya dengan eksplorasi bawah tanah, geofisika merupakan topik yang penting dalam hidrologi.
8. Rekayasa Penyehatan : Topik-topik seperti drainase hujan menjadi
perhatian insinyur penyehatan dan hidrolog.
9. Statistik : Tempat statistik dalam hidrologi adalah yang terpenting
dalam kaitannya dengan analisis statistik data hidrologi.
10. Geografi Fisika : Di mana saja pada permukaan lahan di muka bumi
ini, air menjadi bagian bentang lahan dan tampak pada sungai,
danau, gletser, tanah (lengas tanah) dan dalam tanah (air tanah).
dalam bentuk yang ada mempengaruhi ekologi suatu
kawasan. Dalam periode yang lebih singkat, ia mempengaruhi
proses-proses dinamis seperti erosi, gerakan masal dan lain-lain.
Dalam periode yang panjang, ia membentuk permukaan bumi.
Karena itu, bagi seorang ahli geografi, hidrologi merupakan
bagian yang terpadu dari lingkungan, di dalamnya dikaji prosesproses dalam waktu dan ruang.

I
I

I
i

I
{
:i

,,1 I
I
{,1,
f,
f;

f,

r1;i "L'

Air ini

I
{
I

.,\

,il'

b
i

2. TANGGAPAN SISTEM

(keluoron) setelah melewati beberapa tahapan'


Tanggapon daeroh aliron sungal tidak hanya merupakan limpasan
saja, melainkan juga erosi dan pengongkutan bahan-bahan kimia. Tiga
tanggapan ini juga bersaling-tindak (Gambar 2-l) antara mereka sendiri di dalam mengendalikan perubahan-perubohon dqlam doerqh sliron
sungai. Dalam suatu snalisis sistem (yang mempelajari sifat kesalinghubungan antara subsistem-subsistem) di mana limpasan dilihat sebagai

2.1. KONSEP SISTEM

Suatu sr^slern diberi batasan sebagai kumpulan obyek dan subsistem yang disatukan dengan beberapa bentuk interaksi (saling-tindak)

yang beraturan. Sebaliknya, subsistem-subsistem ini terdiri atas


komponen-komponen dan/atau peuboh-peubah yang semuanya
bersama-sama membentuk subsistem yang khusus tersebut, yang
.dengan subsistem lainnya. Bila kita memandang suatu
berhubungan

{'f I

sistem yong mengolir yang dapat diterapkan pada suatu daerah aliran
sungai, maka akan nampak bahwa struktur sistem dari sistem ini adalah

Fil"-ul*

STRUKTUR SISTEM

dserah oliran sungoi yang merupakan lahan total dan permukaan air
yang dibatasi oleh suatu batas-air topografi dan yang dengan salah satu
cara memberikan sumbangan terhadap debit suatu sungai pada suatu
irisan melintang tertentu. Faktor-faktor berikut (Seyhan, 1976c dan
1977b):

ll,'t
.

a. Topografi

il

b. Tanah
c. Geologi
d. Geomorfologi dan

I
t

3) Tata-guna lahan
membentuk subsistem dan bertindak sebagai operator

di dalam
mengubah urutan waktu terjadinya presipitasi secara alami, P(t), men-

suatu keluaran, erosi dan pengangkutan bahan-bahan kimia dapat


dihilangkan karena proses-prosesnya sangat lambat.
Model-model digunakan sebagai penerapan teknik-teknik
penghitungan terhadap analisis sistem. Model tersebut dapat bersifat
fisik, analog, matematik maupun statistik.
2.2. TANGGAPAN
HIDROLOGI

KELUARAN

l) Faktor-faktor iklim
2) Faktor-faktor tanah

jadi urutan waktu limposan, Q(0 yang dihasilkannya. Keragaman dalam


keluuran, limpasan dalam hal ini, tergantung pada saling-tindak di antara subsistem-subsistem ini. Tentu saja, suatu sistem secoro kuantilatif
diberi batasan dengan komponen-komponen atau peubah-peubah.
Misalnya, tata-guna lahan pada suatu daerah aliran sungai dapat digambarkan dengan peubah-peubah seperti persentase lahan hutan' persentase lahan rumput, persentase lahan yang diusahakan, dan lain-lain.
Kelompok semua peubah tersebut yang bertindak saling berhubungan
satu sama lain mengendalikan kerja subsistem tersebut dan akhirnya
juga kenampakan akhir dari presipitasi (mosukan) sebagai limpasan

I
I

DAERAH ALIRAN SUNGAI_DAUR

Daur hidrologi diberi batasanl sebagai suksesi tahapan-tahapan


yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer:
evaporasi dari tanah atau laut maupun air pedalaman, kondensasi untuk
membentuk awan, presipitasi, akumulasl di dalam tanah maupun dalam
tubuh air, dan evaporasi-kembali.
Batasan yang bersifat umum ini digambarkan skematis pada
Gambar-gambar 2-2 dan2-3. Penulis ingin menekankan di sini bahwa
daur hidrologi mempunyai manfaat yang kecil bagi hidrolog yang
terlibat dengan pengkajian terinci, kuantitatif dari terjadinya air dan
gerakannya. Namun, daur tersebut berguna untuk memberikan konsep
pengantar mengenai bagaimana air bersirkulasi secara umum dan
proses-proses yang terlibat dalam sirkulasi ini.

l.

Batasan internasional disajikan dalam Glossary

\
nrik&O-

t/

of Hidrology,

vsrvg-ot,C6i EP-qiit seYHN r

1974.

ufl'A

WO

-\

Awan
Presipitasi

Erosi dan

Hubungan cur4h hujan


dan limpasan

Sedimerrtasi

IntersePsi

Kuantitas Aliran

Beban
Sedimen

Pelarutan
Bahan Kmia

Air

Uap air

1;

Aliran Bawah
Permukaan

Limpasan
Permukaan

frt
Gambar2-2, Diagram disederhanakan dari daur hidrologi (Ward, 1967).

I
I

Evaporasi

menunjukkan pengaruh jangka panjang

Gambar2-1, Saling-tindak dari tanggapan daerah aliran sungai jika presipitasi menjadi
limpasan permukaan (Dickinson, 1967).

Presipitasi dalam segala bentuk (salju, hujan batu es, hujan, dan
lain-lain), jatuh ke atas vegetasi, batuan gundul, permukaan tanah, permukaan air dan saluran-saluran sungai (presipitasi saluron). Air yang
jatuh pada vegetasi mungkin diintersepsi (yang kemudian berevaporasi
dan/atau mencapai permukaan tanah dengan meneles saja maupun
sebagai aliran batong) selama suatu waktu atau secara langsung jatuh
pada tanah (through fall : air tembus) khususnya pada kasus hujan

Transpirasi

Permukaan

Mintakat

(*i t'

,
I

&

berevoporasi selama perjalanannya dari atmosfer (lihat Gambar 2-4) dan


sebagian pada permukaan tanah. Sebagian dari presipitasi yang mem-

basahi permukaan tanah berinfiltrqsi ke dalam tanah dan bergerak


menurun sebagai perkolasi ke dalam mintakat jenuh di bawah muka air

Limpasan permukaan
I

Perkolasi vans

I au,",
Air tanah

Saluran

'
l
{
I'

Kapasitas

Kenaikan kapiler

dengan intensitas yang tinggi dan lama. Sebagian presipitasi


t

Aerasi

Peremhesan ke

saluran
Gambar 2-3. Model daerah aliran sungai rekayasa (Allen, 1975).

sungar

ll

l0

,E

,,/

Air tanah
(Mintakat jenuh)

t
I

P :,plesipitasi
Eo = evaPornsi air Pemukaan bebas
Etanalr : evaporasi tanah
E = evaporasi
T = transpirasi
I = intersepsi
Qs = limpasan permukaan
Q6, : limpasan permukaan langsung
Q., = aliran bawah permukaan
E : infiltrasi
S. = cadangan lengas tanah
Sg = cadangan air tanah
Ss = cadangan salju
S = cadangan permukaan
Qg = aliran*ar tanah
Qsrn = salju Yang melebur

Ketenngan:

P = presipitasi
P" = presipitasi saluran
Pr,

air tembus

Ps-= aliran batang


Ps

Eo

= eviPorasi air Permukaan bebas


= vaPotransPirasi aktual

presipitasi tanah

I = intersepsi
T = transpirasi
(r

Ea
Sd

Da :
F:
FR

cadangan/penyimpangan depresi
permukaan
detensi permukaan

infiltrasi

cadangan/penyimpanan permukaan

: cadangan/penyimpangan saluran
S. : cadangan/penyimpangan salju
Sm : cadangan lengas tanah
So = cadangan air tanah
Q-. = limpasan permukaan
Qd, = limpasan permukaan langsung
Qss : aliran,/bawah Permukaan
Qe : aliran air tanah
Q : debit aliran
Sc

Q5- = salju Yang melebur


Q" : kenaikan kapiler

perkolasi (pengisian kembali air


tanah)

I
{

Gambar 2-4. Sketsa tiga-dimensi proses-proses hidrologika.

Gambar 2-5. Sketsa dua-dimensi proses-proses hidrologi.

l2

l3

tanah. Air ini secara perlahan berpindah melalui akifer ke saluransaluran sungai (lihat Gambar 2-4 dan 2-5). Beberapa air yang berinfiltrasi bergerak menuju dasar sungai tanpa mencapai muka air tanah
sebagai oliran bawsh permukoon Air yang berinfiltrasi juga
memberikan kehidupan pada vegetasi sebagai lengas tanah. Beberapa
dari lengas ini diambil oleh vegetasi dan transpirasi berlangsung dari
stomata daun,
Setelah' bagian presipitasi yang pertama yang membasahi permukaan tanah dan berinfiltrasi, suatu selaput air yang tipis dibentuk
pada permukaan tanah yang disebut dengan detensi permukaan (lapis
air). Selanjutnya, detensi permukaan (Gambar 2-5) menjadi lebih tebal

merupakan persamaan yang menggambarkan prinsip bahwa selama


selang wsktu tertentu, masukan air total pada suatu ruqng tettentLr harus sama dengan keluaran total ditambah perubahan bersih dalam
cadangan.
I

l.

rl

,li

(*

Qi+Qe+P+5:Qo+Se+Eo
di mana: Q1 : masukan air (Gambar 2-7)

f
+
I

(lebih dalam) dan aliran air mulai dalam bentuk laminer.Dengan bertambahnya kecepatan aliran, aliran air menjadi turbulen (deras). Air yang
mengalir ini disebut limpasan permukoan. Selama perjalanannya menuju dasar sungai, bagian dari limpasan permukaan disimpan pada depresi
permukaan dan disebut cadangan depresi. Akhirnya, limpasan permukaan mencapai saluran sungai dan menambah debit sungoi,
Air pada sungai mungkin berevaporasi secara langsung ke atmosfer atau mengalir kembali ke dalam laut dan selanjutnya
berevaporasi. Kemudian, air ini nampak kembali pada permukaan bumi
sebagai presipitasi.

adalah daur hidrologi yang sangat rumit. Daur ini juga


mengandung dour-daur kecil seperti presipitasi yang jatuh pada permukaan air dan kemudian berevaporasi tanpa terlibat dengan prosesproses lainnya. Pada Gambar 2-6 daur hidrologi yang umum dan daur
yang kecil juga disajikan.
Sebagaimana dapat dilihat dari penjelasan singkat tentang daur
hidrologi, tanggapan daerah aliran sungai terhadap presipitasi
merupakan keluaran dari saling-tindak semua proses ini. Limpasan nampak pada sistem yang sangat kompleks setelah pelintasan presipitasi
melalui beberapa langkah penyimpanan dan transfer. Kompleksitas ini
meningkat dengan keragaman areal vegetasi, formasi-formasi geologi,
kondisi tanah dan di samping ini juga keragaman-keragaman areal dan
waktu dari faktor-faktor iklim.

Neraca sir sualu danqu otau reservoir:


Perolehan : Kehilangan

Qo

presipitasi
perubahan dalam cadangan
keluaran air

SQ

perembesan

Eo

evaporasi air Permukaan bebas

2. Neracq air suatu kolom tsnoh

Qri
di mana:

+ Qi + C + P +AS:

Qro

Qo

+ F* +

: masukan air limpasan permukaan


Qi : masukan air di bawah permukaan
C = air kapiler
p : presipitasi

Qr1

E
tanah

AS =

perubahan pada lengas tanah


keluaran air limpasan permukaan
= keluaran air di bawah permukaan tanah
: perkolasi
: evaporasi tanah

Q.o :

Qo
FR

t'r

lr,
/t

3. Neraca oir suotu akifer


Batas-batas ruang untuk penerapan persamaan neraca air bergantung pada maksud pengkajian. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar
2-7 batas-batas akan menjadi, misalnya:

untuk insinyur banjir


ACFH untuk insinyur pertanian
CDEF untuk insinyur air tanah
ADEH untuk instnYur sumber daYa air
ABGH

l'
,4

Penafsiran kuantitatif dari daur hidrologi juga dicapai dengan


suatu persamaan umum yang disebut persomoqn neraca air. Ini

debit air tanah

P
AS

Ini

2.3. PERSAMAAN NERACA AIR

a"

4. Daur ogrohidrologi

Untuk permukaan-permukaan lahan pertanian di negeri Belanda,

lfq-&q-.-.-,

rr)

o.

o
r

.t
17

u.l

adangan salju
i3

.c

F_

g{

o
o
El

il

.l

Uap air di atmosfer

td

N
I

!
qo

hb
lf3
t'

-.o

:>
-d
1)(,
qd

>a

/q
\6
e
rt
JYqI
dz-3

q
rrt

V(

EE

t.c

nfiltrasi

-o
o-

oo

-j*--fu--

garam

Intrusi

.t

!o
3
ot)

6
E
o

o
o

(B

d
!

(C

o
o
!
q
F
q!

ca

Perembesan
tanah

air

Cadangan air tanah

Kenaikan
kapiler

Cada4gan lengas tanah

Detensi permukaan dan cadangan depresi


Limpasan permukaan

Debit mata air

Aliran air tanah

adangan permukaan (danau, sungai, kanal, dan lain-lain

Lautan dan Samudra

L.

d
6
oo
6,

c(l

EA

ca

!
t7

l6
(Sokolov' 1976)
Tabel 2-1. Agihan sumberdaya-sumberdava air dunia yang diperkirakan

LUAS

LOKASI

PER-

VOLUME

PERMUKA- AIR (km3)

AIR
(m)

JELUK

AIR TOTAL (90)

9o

AN (km2)
Samudera

36 l .300.000

1.338.000.000

3.700

96,5

134.800.0o0

23.400.000

174

1,7

134.800.000
82.000.000

10.530.000
I 6.500

78

Air bawah Permukaan

(gravitasidankapiler)

Air bawah permukaan

ta-

menerus
tanah

war terus
Lengas

Cletser dan PenuIuPan

l,'74

1.546
1.298
369

l,56

2U.m
21.000.000
2.058.700
1.236.400
822.300

300.000
176.400
91.000
85.400

l4

2.682.600

tt.4'10

148.800.000
10.000.000
5 10.000.000
5 10.000.000

2.120

22b.100

Pegunungan
Es tanah dalam Per-

mafrost

Air

danau

'fawar
Asin

Air rawa
Saluran sungai

Air biologis
Air atmosfer

;
termasuk sekitar

l.120

Cadangan air keseluruhan


Cadangan air lawar

0,001

t.463

Greenland
Kepulauan Arctic

lt

o,76

24.064.t00

Antarktika

lr

0,2

21.600.000
2.340.000
83.500
40.600

16.227.500
13.980.000
1.802.400

salju permanen

II

2.900

I .385.984.610

r48.000.000

35.029.2tO

181

85,7
73,6
103,8
4,28
0,014
0,002
0,025
2.7

t8

235

P:Ea+Q+AS
:
:
a :

di mana: P

0,17

Ea

0,006
0,003

AS

o,22
0,013
0,007
0,006
0,0008
0,0002
0,0001
0,001

JI

2,53

I jura km kubik air tawar.

P :presipitasi:750
E :evaporasi:150
I : infiltrasi : 75O- 150 : 600
FR:perkolasi:300
C : kenaikan kapiler : 50
ASm : cadangan sebagai lengas tanah : I-Fn +C:350
T transpirasi : 350
Qs : debit air tanah ke laut : FR - C : 25o

presipitasi

evapotranspirasi
debit
cadangan permukaan dan bawah permukaan

6. Neroca qir dunis

100

Molen (1g74) memberikan daur agrohidrologi tahunan rata-rata sebagai


(semuanya dalam mm/satuan tahun):

(e

Dengan demikian, dari presipitasi sebesar 750 mm/tahun yang


jatuh, 500 mm,/tahun (Eu = E + T) hilang sebagai evapotranspirasi
dan 250 mm/tahun hilang melalui air tanah menuju ke laut. Limpasan permukaan (Q) adalah hampir nol. Penampang yang disajikan
pada Gambar 2-7 adalah sketsa yang tidak realistik, yang merupakan
penyederhanaan penampang lahan di negeri Belanda.
5. Daeroh sliran droinase
Dengan menganggap daerah aliran drainase yang tidak
menerima atau kehilangan air ke daerah aliran di sekitarnya' kecuali
dari pintu utamanya (outlet), maka:

(l'lr'\

Agihan air bumi yang didasarkan atas perhitungan Soviet YanB


baru (Sokolov, 1976) disajikan pad4-!4b-el 2-1. Jumlah total air di
bumi diperkirakan 1.386 juta km3.96,590 air ini terkandung di

samudera. Volume total air tawar (permukaan dan bawah permukaan) yang tertinggal bagi manusia adalah 35 juta km3 yang
merupakan 2,5t/o darijumlah total air di bumi. Sedangkan 1.740/o air
tawar ini disimpan beku sebagai es dan salju dalam bentuk kantong es
dan dengan demikian tidak secara langsung tersedia.
Pada Gambar 2-7, pola umum neraca air dunia antara lahan
dan lautan juga disajikan. Harus diingat bahwa agihan ini didasarkan
pada suatu perhitungan Budyko yang baru (1962) (Eagleson, 1970)
dan berbeda nyata dari penghitungan yang lama (Volker, 1968). Persamaan neraca air untuk permukaan lahan (seluas 136 x 106 km2
3090 luas permukaan bumi) akan menjadi:

PL=EL+Ql --)72:41
di mana:

P,
EL

a'

+31

presipitasi pada luasan lahan (cmltahun)


evapotranspirasi dari luasan lahan (cmltahun)
limpasan ke laut dan samudera (jeluk diagihkan di atas
luasan lahan seluas 136 x 106 km) dalam cmltahun.

18

Persamaan neraca untuk samudera (yang memiliki luas permukaan


106 km?r7\o/o dari luasan permukaan bumi) akan menjadi:
sebesar 374

Ps+Qs:Es-)ll2+13=125
di mana: Pt
Es

Qs

= presipitasi pada lautan dan sam,ldera (cmltahun)


= evaporasi dari lautan dan samudera (cmltahun)
: limpasan yang berasal dari luasan lahan (ieluk
diagihkan di atas luasan samudera seluas 374

lff km2) -

3. PRESIPITASI

cmltahun.

Pada semua contoh yang disajikan sejauh ini, unsur penting


adalah botos ruong. Namun, botas woktu juga penting. Misalnya andaikan bahwa kita berminat di dalam mengembangkan suatu neraca air
dari daerah aliran 'drainase tertentu baik untuk sejumlah tahun dan untuk suatu selang waktu (periode) yang panjang (misalnya 20 hingga 40
tahun), maka neraca ini akan menjadi:
Untuk periode yang pendek (singkat):

i:k
i:l

i: k

3.1. PENDAHULUAN

Presipitasi, bagaimanapun terjadinya, biasanya dinyatakan

sebagai kedalaman (jeluk) cairan yang berakumulasi di atas permukaan


bumi bila seandainya tidak terdapat kehilangan. Semua air yang
bergerak di dalam bagian lahan dari daur hidrologi secara langsung

i:k

i:l

i=t

I I

+AS

maupun tidak langsung perasal dari presipitasi. Sebaliknya,


sebagaimana dijelaskan dalam daur hidrologi, sumber dari hampir

semua presipitasi adalah laut. Udara yang diserap oleh air membawa air

A S merupakan perbedaan antara cadangan pada permulaan dan


pada akhir periode (k-tahun)

yang diuapkan dari samudera dan bergerak hingga air tersebut mendingin sampai di bawah titik embun dan mempresipitasikan uap air
sebagai hujan maupun bentuk presipitasi lain. Pengkajian mekanisme

Untuk periode yang ponjang:

gerakan

i:n

i:n

i:n

i:l

i:l

i:l

lrzn;)r, : (l/n)>(EJi + trznllar

+ (l/n)(aS)

Jika periode pengamatan (n) adalah panjang, maka kata cadangan


dapat dihilangkan karena jumlahnya yang kecil.

(l/n)
dan

(AS)

: o

P=Eu+Q
E^

:
:

debit rata-rata.

di mana: F

presipitasi rata-rata
eYapotranspirasi rata-rata

ini dan distribusi (agihan) uap air di udara merupakan


wewenang para ahli meteorologi dan klirnatologi. Para ahli hidrologi
hanya tertarik pada agihan dari jumlah (berapa banyak), waktu (kapan)
dan ruang (di mana) dari presipitasi.

1l

3.2. TIPE-TIPE PRESIPITASI


"a

Tipe presipitasi dapat ditentukan atas dasar dua sudut pandangan


yang berlainan. Suatu klasifikasi dapat dilakukan baik atas dasar genesis
(asal mulanya) maupun atas dasar bentuk presipitasi'
3.2.1. Klosifikosi genetik

Klasifikasi ini didasarkan atas timbulnya presipitasi. Agar terjadi


presipitasi, terdapat tiga faktor utama yang penting: suatu tubuh udara

21

20
Barat

yang lembab, inti kondensasi (partikel debu, kristal garam, dan lain-lain)
dan suatu sarana untuk menaikkan udara yang lembab ini, sehingga
kondensasi dapat berlangsung sebagai akibat udara yang mendinginkan.
Pengangkatan ke atas dapat berlangsung dengan cara-cara pendinginan

sinklonik, orografik maupun konvektif.


Pendinginan siklonik terjadi dalam dua bentuk. Pendinginan
siklonik non-frontal terjadi bila udara bergerak dari kawasan di sekitarnya ke kawasan suatu tekanan rendah yang ada. Dalam pekerjaan itu,
udara tersebut memindahkan udara bertekanan rendah ke atas, men-

Timur

"'"l
{

ter9'rt'Js

muka dingin

BAGIAN VERTIKAL C-D HUJAN DI ATAS


cP

dingin dan menghasilkan presipitasi berintensitas sedang (5 hingga l5 cm


dalam 24 sampai 12 jam) tetapi berlangsung cukup lama (24 hingga 72
jam). Pendinginan siklonik frontal terjadi bila massa udara yang panas
naik di atas suatu tepi frontal yang dingin. Laju presipitasi yang terjadi
adalah sedang dan sering kali berlangsung lama.
Pendinginan orografik terjadi oleh aliran udara samudera yang
lewat di atas tanah dan dibelokkan ke atas oleh gunung-gunung di pantai. Sebagian besar presipitasi jatuh pada sisi lereng arah datangnya
angin. Jumlah presipitasi yang lebih sedikit, disebut bayangan huian,
terjadi pada sisi kemiringan lereng karena hilangnya sebagian besar
lengas oleh gunung-gunung yang tinggi.

rJjrrr.....r:::.,rr..iir.rrl.:.:r.r....rrr:,,.:.:rr:.:,.r,.....'....

segar)
1

*\'1-\i
Pendinginan siklonik
(Eagleson, 1970)
7'(panas)

o.rka
gar\s

9er9"'3o9r{\

udara kutub berasal dari benua


udara tropika berasal dari laut

Gambar 3-1. Klasifikasi genetik presipitasi

3.2.2. Klasifikasi Bentuk


Suatu perbedaan yang sedelh4naletapi mendasar dapat diadakan
antara presipitasi vertikol dan horizonral. Presipitasi vertikal jatuh di
atas permukaan bumi dan diukur oleh penakar hujan. Presipitasi
horizontal dibetuk di atas permukaan bumi dan tidak diukur oleh

{j,.rrl.,r B

Penampang vertikal A-B dari hujan di bawah


cP (dingin

pendinginan orografik

dan setelah itu presipitasi. Presipitasi konvektif merupakan presipitasi


yang berlangsung sangat singkat (jarang 'melebihi I jam) namun
berintensitas sangat tinggi. Presipitasi total dapat berjumlah hingga 8
atau l0 cm.
udara panas
:r:

mT

Pendinginan konvektif terjadi apabila udara panas oleh


pemanasan permukaan, naik dan mendingin untuk membentuk awan

udara dingin
A

muka panas

(r)

penakar hujan.
Presipitasi vertikal:
l. Hujan: Air yang jatuh dalam bentuk tetesan yang dikondensasikan
dari uap air di atmosfer.
2. Hujan gerimis: Hujan dengan tetesan yang sangat kecil.
3. Salju: Kristal-kristal kecil air yang membeku yang secara langsung dibentuk dari uap air di udara bila suhunya pada saat kondensasi

kurang dari 0'C.

22

23

4. Hujan batu

Keragaman waktu presipitasi dapat dipandang baik dalam

es: Gumpalan es yang kecil, kebulat-bulatan yang dipresipitasikan selama hujan badai.
5. Sleet: Campuran hujan dan salju. Hujan ini disebut juga glaze (salju

hubungannya dengan (l) rezim-rezim presipitasi ,(tahunan, musiman


atau jangka pendek) maupun dalam hubungannya dengan (2) peluang
statistik (harga-harga yang ekstrem, frekuensi presipitasi, dan lain-lain).
Untuk banyak tujuan, para ahli hidrologi membutuhkan empat
unsur berikut ini untuk mencirikan presipitasi yang jatuh pada suatu

basah).

Presipitasi horizontal :
l. Es : Salju yang sangat dipadatkan.
2. Kabut: Uap air yang dikondensasikan menjadi partikel-partikel air
halus di dekat permukaan tanah (pedut).
3. Embun beku: Bentuk kabut yang membeku di atas permukaan tanah
dan vegetasi. Disebut juga embun beku putih atau embun beku

titik:

l.

Intensitas

2. Lama hujan
3. Frekuensi

saja.

4. Embun: Air yang dikondensasikan


tf

sebagai air di atas permukaan tubuh yang dingin (permukaan tanah dan vegetasi) terutama pada
malam hari. Embun ini menguap di pagi hari.
5. Kondensasi pada es dan dalam tanah: Kondensasi juga menghasilkan
presipitasi dari udara basah hangat yang mengalir di atas lembaran es dan pada iklim sedang di dalam beberapa sentimeter
bagian atas tanah.

4.

mengacu pada harapan bahwa suatu presipitasi


tertentu akan jatuh pada suatu saat tertentu
Luas areal dengan suatu curah hujan yang dapat
dianggap sama.

yang sama.

Ruang dan waktu merupakan dua dimensi yang lazim menjadi


perhatian para ahli hidrologi dalam mengkaji presipitasi. Dalam menentukan jumlah rata-rata presipitasi pada beberapa bagian permukaan

Tsbel3,l, Conloh-conloh yang menunjukkan agihan (dislribusi) presipilasi rala-rala


lahunsn di bumi. Lokasi-lokasi diberi peluniuk dengan nomor dalam (iambar
3.2 (Britannica Allss, 1970).

No.

Negara

Lokasi

Kawasan lklim

Presipitasi ratarala tahunan

(mm/tahun)

bumi, maka faktor-faktor berikut ini, di samping sirkulasi uap air,


adalah penting dalam mengendalikan keragaman ruang presipitasi

sumber air

Ini

Meskipun ada suatu perbedaan istilah, di sepanjang buku ini,


istilah presipitasi dan curah hujan (atau hujan) digunakan dengan arti

3.3. KERAGAMAN.KERAGAMAN PRESIPITASI

(Eagleson, 1970):
l. Garis lintang
2. Ketinggian tempat
3. Jarak dari sumber-sumber air
4. Posisi di dalam dan ukuran massa tanah benua atau daratan
5. Arah angin yang umum (menuju atau menjauhi) terhadap sumber-

Luas areal

Jumlah presipitasi yang jatuh pada saat tertentu


(mm/menit, cm/jam, dan lain-lain)
Periode presipitasi jatuh (menit, jam, dan lain-lain)

l.

Brazil

2.

Madras
India
Clomcurry
Australia
Republik Persatuan
Aswan
Arab
Tokyo
Jepang
Aljazair
Quahran
Amerika Serikat
Chicago

3.

4.

(7

'{

6.
7.

Manaus

Negeri Belanda

Amsterdam

6. Hubungannya dengan deretan gunung


7. Suhu nisbi tanah dan samudera yang berbatasan

.9.

Turki

Ankara

10.

Amerika Serikat

Dalam Gambar 3-2 ditunjukkan distribusi (agihan) presipitasi rararata tahunan bumi (terrestrial). Contoh-contoh yang khusus disajikan
dalam Tabel 3.1.

12.

Uni Sovyet
Uni Sovyet

Las Vegas
Yakutsk
Dikson

8.

ll.
.

Tropika Berhujan
Tropika Basah & Kering
Tropika Semi-Arid

Arid

Panas

I 966
1279
409

Subtropika Basah
Subtropika Kering

l 538

409

Lintang-Tengah Basah
Kelautan Sedang
Lintang-Tengah Semi-Arid
Lintang-Tengah Arid

812

sslarqle

333

Margin Artika

693
290
85

194

#^'tl

25

3.4. UKURAN DAN LAJU JATUHNYA TETESAN HUJAN


Tetesan-tetesan hujan menyebabkan pecahnya bongkahan tanah
yang besar, menghancurkannya dan menyebabkan pengangkutan

partikel-partikel tanah dengan percikan dan pencucian (Seyhan, 1976d

dan Riezebos, 1975). Tiap-tiap tetesan membawa suatu

dampak

terhadap tanah dan memindahkan sejumlah energi tertentu. Energi


dapat dihitung dengan:

KE

Vz

mv2, di mana:

KE :

energi kinetik (erg)

m : massa hujan atau hujan total (gram)


v : kecepatan akhir tetesan hu j ern
(cmldetik)

Jumlah energi kinetik yang ditimbulkan oleh tipe-tipe presipitasi


yang berbeda disajikan di bawah ini (Lull, 1959).
i

Tipe

Presipitasi

Intensitas

| (inci/jam)

tr

Ii

-c
d
cl

&

(,
d

I'

o.

(l

t'

.6

'6

._

.EB

o'
-oo
iqtD
td
@oooo!
trdq@O!
E
I ,t
a^oooq
x=Ntor

.o

n
r

ffiilmttt .

aa

e
aa
I
()

Energi Ki-

netik (pon

kaki/kaki-

0,01
0,7

0,005
0.002

0,01

0,01

0,96

13,5

0,04

I,24

15,7

0.15

1,60
2,0s
2,40

22,0
24,0

0,60
r.oO

0,t

18,7

x
x

rO-!
6.264.O00 4.O43
l0-)
2.510 4.037
0,148
t4
o,797
26
4,241
46
23,47
46
74,48
76

(dirnodifikasi dari Gray, 1973; halaman 13.8)

o
o

E
's

I
i
I

I
Hujan berlebihan I

Tetesan/
Kecepatan
Jatuh (kak. kaki-kaki/
detik
/detik)

kaki,/jam)

Kabut
Halimun
Huian gerrimis
I lujan ringan
llujan sedang
Hujan lebat

Diameter
Median
(mm)

('

Laju jatuhnya suatu tetesan hujan melalui udara yang tenang


tergantung pada ukurannya (Seyhan, 1676d). Mula-mula, kecepatannya
naik, tetapi selanjutnya mencapai suatu kecepatan yang konstan, yang
disebut kecepatan akhir atau kecepatan terminal. Leonard (1904) dan
Laws (1941) melakukan percobaan-percobaan yang lama untuk menentukan kecepatan jatuh tetesan hujan. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 3-3. Kecepatan tetesan hujan di alam mungkin terletak di sekitar
angka-angka ini. Untuk tetesan hujan yang mempunyai diameter lebih
besar dari 5,5 mm, kecepatan akhir tidaklah meningkat, melainkan
menurun dengan meningkatnya ukuran tetesan hujan. Hal ini

2',1

26

yang rata (Laws dan


dimanfaatkan dan mempunyai suatu permukaan

clisebabkan oleh perubahan bentuk dan pecahnya tetesan sebagai akibat

Parsons,1943).Pemajananterhadaphujanadalahsekitar4detik.
perlu) dan isinya diayak
Kemudian talam ini dikering-tanurkan (jika
dilakukan dan
atau dipilah dengan tangan' Analisis agihan frekuensi
pada masing-masing ayakan
banyaknya butiran yun! aiku*pulkan
akan memberikan diameter median yang diinginkan'

nreningkatnya tahanan udara (Meinzer, 1942).


Pengamatan-pengamatan agihan ukuran tetesan dalam curah hujan alami (Tabel 3.2) telah menunjukkan bahwa kisaran ukuran tetesan

meningkat dengan meningkatnya intensitas curah hujan (Seyhan,


1976d).

Diameter

Volume

Tetesan

Tetesan
(mm3)

Median (mm)

Hujan lebat I Hujan Yang


t__

Hujan ku- Akhir Hujan


lebat
rang intensif

sll

nya.

423

233

359

347

ll3

138

156

295
205

138

8l

22,4
33,5

200
0
0
0
0

0
0

28
20

12
39

41 ,7

2N

l0l

65,4

0
0

,<

2t79

0,065

100

1,0

o,524

1300

1,5

1,77

500

2,0

4,19

2,s
3,0
3,5

8,18

l4,l

514

Jumlah Total Tetesan

2300

1829

Intensitas (rtrrtr1iat!)

43,2

74,2

22,8

beberapa
Kecepatan jatuh tetesan hujan dapat ditentukan dengan
adalah:
metode. Di antaranYa
l. Menggunakan kurva dan tabel yang ada (Lenard' 1904; Laws' 1941;
Laws, 1949)' Beberapa contoh disajikan pada

'7

619
524

0,5

4,5
5,0

-3.Agihanukurantetesandapatditentukanpadaintensitas.intensitas
kertas pengisap tipe khusus
ti"t berlainan dengan menggunakan
1977)' Tetesan air
v"rl aif."fiUrasikan untuk maksud ini (Imeson'
y"ri j",ut pada kertas ini akan menghasilkan becak-becak yang tidak
yang menghasilkant..t;uUungun linear dengan diameter tetesan air

Tetesan/m' per detik

I sangat inten-

4,0

46

Cunn, Kinzer dan

halaman 29-31'
2. Menggunakan kamera berkecepatan tinggi'
untuk
3. Menggunakan rumus empiris' Rumus empiris tersebut
Magono
oleh
laboratorium
di
jatuh
yang
dikembangkan
t...fitun
ini
(1g54) oan pranitt Ttgqz) sebagaimana ditunjukkan di bawah

(lihat Chow dan Harburgh, 1965):

s02

"r: I

15.0

Ada beberapa metode yang digunahan untuk menentukan ukuran

v: v, I

tetesan. Di antaranya adalah:

l.

Jika intensitas curah hujan alami diketahui, maka grafik Laws dan
Parsons (1943), sebagai ditunjukkan pada halaman berikut dapat
digunakan dalam menentukan diameter median tetesan hujan.

Hubungan linear yang ditunjukkan dalam grafik diberi batasan


dengan rumus:

D^=

2,23(i)0'182, dimana

D. :
i:

Drn

: { median (mm)

intensitas curah hujan (inci/jam)

di mana: v,

ta

d
Pa

cd

2. Pengukuran tetesan dengan metode pengukuran-tepung ber-

dasarkan atas tangkapan seketika suatu bagian curah hujan tertentu


dalam suatu wadah kaleng yang dangkal (berdiameter sekitar 4 inci)
yang diisi dengan suatu lapisan tepung halus setebal I inci yang tidak

dr

;#rt"'

-[*r, ffrl"'

kecepatan terminal (kaki/ detik)


62,4\b/kaki3 : berat jenis air
diameter tetesan hujan berbentuk bola (kaki)
o,OO24lb detik2/kaki3 : berat jenis udara

koefisien tahanan (gaya yang mendesak tetesan hujan oleh udara). Koefisien ini adalah 0,4 untuk
setengah bola.
diameter setengah bola tertransformasi (kaki) =
1,25 (d)

o!

oa

og

2 I

,r',

'//

i/
-trt

,
(

,)

-1

r9]l

0!

o.
Intensitas curah hulail lllrai/lalll)

o.2

olt

telesan
huJan yarg membagi telesrele5 denSan diamerer
yang lebih besar dan lebih kecil ke dalam kelnmpol keloirpqr dengan volume yang sama.
2. D50 = 2,2llu'ror di mana I laju curah hujan,
inci per jam.
3. Simbol simbol data untuk conroh-conroh:
o Dinas Konservasi Tanah, wshingron, DC.
x Defanr, Eropa
A Lenard, Eropa

l. Diame er - medran = D5o - dlameter

Cototan,'

ala

tetesan 1.74 mm

lll

rete:al2,1m1

tiiesan3.o mm

ti-llil

l0 ll

12 l3
rir \clclah

1.1

SI

l5 16 17 18 l9 20

kelinSEian jatuh dari 0,5 hingga 20'0 meler (l-aws'

Kctinggian jatuh (m)

| (crc\an I,ll mm

2l

'11

L
2.0
Ketinggiin jatuh (m)

1.0

1.5

,,rrr' p.Lr,lr nr.nunjullan clt

//

/.

/.

Kecepatan.latuh tujuh ukuran tctL-srn oir setelah


ketinggian jatuh dari 0,5 hingga 3.0 mcter (Laws l9{l

0.5

,/

/,

,//

/// /t

/t/,
/1,

,'A/

.lhrm

/t
//
{,

?
o

Hubungan ukuran reresan median (D5d dengan inlensitas curah hu.jan (Laws danParsons, 1943). Caris lerputus-pulus menunjukkan
kur !a \olume kumulalif aala-rala yang membalasi agihan letesan-te!esan hu.jan'

o. 05 06 .oa o.r

Garis terputus-putus menunj ukkan ekstrapol

4 5 6 1 t

r'

Ke('epatan jatuh tujuh ukuran tclcsan

o.t

-r.0

fJ

April
1939

Hujan l3Juni 1939


Hujan 30Juni 1939

Hu.ian 22 Mei 1939

Hujan

l94l).

r^6

;'

at

HF

DrX

5rj 8

=E
-r<

15

$g
rah'

ra!rv!,

3r

*E

3E

1r
-:x
qt

E
grh!,

Ezl
qOa
C-6

*,hi

9E'

tS
e

es

!+

6:=

d.<
5 nt
0a

EA

0a3
go

o.l.

Lenard dan Schmidt, dan hasil-hasil tersebut diperoleh dengan tetesan air setelah jatuh 20 meter (Laws,

kurva-kurva yang menunjukkan hasil-hasil dari

Data tetesan hujan-kecepatan, bersama-sama dengan

Diameter (mm)

x
I
O

tt
t

a
a

c2

Diameter (mm)

.6,0 m

Kurva-kurva yang rata yang menunjukkan hubungan


antara diameter tetesan dan kecepatan setelah 12
ketinggian jatuh yang berlainan (Laws, l94l).

Kecepatan akhir (m/detik)

:l

0,0 m
8-0 m

II

(,

(,

N-N!53
;'tilj:f=

\o

Hujan

kurang

500
l)
100

1,5

2,0

57
0

0
0
0

3,0
3,5

4,0

Gambar 3.3. Ukuran dan laju jatuhnya hujan

5,0

4,5

29

,{

0
0
0
0
200
0

2N

100
l 300

0,5
1,0

100

es

dai yang
dengan

berapa hu-

jan

jan yang

Periode

lebat

hu- I

ts)

U
p

a-

-o

lo

AJ

ID

!r

,(
o
o

rata

Periode I Rata-

hujan ba- akhir

Hujan lebat seperti


hujan ba-

129

biasa

yang nampak

Banyaknya tetesan per m2 per detik

g.

I -5"5"5-.;-5(FF I
'UaANPNT
uuaFSO\!

[.JNpUt\Jf.J
UUO\O\uP\O@5O\NPaO\5{Au

cl\O\uuas.aNJ--O
qouooooqc)q

Karakteristik-karrkleristik lelesrn-lelesrn hujan yang jaluh (pengamatan Leonard, Meinzer, 1942)

\oo

4o

ID

\o
\o

t-

i.)

A]

jatuh (m,zdt)

0"

09

7a

lJ!5U3!X

Kecepatan

(,

t,

I.J

35

34

1 :
v =
g :

l. Untuk memperkecil pengaruh turbulensi angin (Larson dan Peck,

jarak dari simulator hujan (kaki)


kecepatan jatuh pada jarak x (kaki/detik)
percepatan gravitasi : 32,17 kaki/detik2

1974), tinggi penakar (Gambar 3.4 A) harus dipertahankan seminimal


mungkin. Untuk suatu luas lobang 4 dm2, angka-angka berikut
diukur:

Chow dan Harbaugh (1965) telah menunjukkan bahwa untuk


semua ketinggian antara 2,5 dan 3 meter (suatu ketinggian yang biasanya

dipasang di laboratorium), hanya ada sedikit perbedaan apakah bentuk


tetesan hujan tersebut bulat atau setengah bola.

3.5. PENGUKURAN PRESIPITASI

Tinggi Penakar (m)


0 1di atas tanah)

(perkiraan di negeri Belanda)

3.5.1 . Persyoroton Penakar Hujan

Tujuan utama setiap metode pengukuran presipitasi adalah untuk


mendapatkan contoh yang benar-benar mewakili curah hujan di seluruh
kawasan tempat pengukuran dilakukan WMO (World Meteorological
Office), 1970. Karena itu di dalam memasang suatu penakar presipitasi
haruslah dijamin bahwa:
1. Percikan tetesan hujan ke dalam dan ke luar penampung (Gambar
3.4) harus dicegah
2. Kehilangan air dari reservoir (Gambar 3.4) oleh penguapan haruslah
seminimal mungkin
3. Jika ada, salju haruslah melebur
Trbel3.2. Hubungan intensilas.curah hujan dengan ukuran

letesan (Chapman, 194E)

Di bawah pohon
pinus

ll

t
t

Sebaliknya, penakar hujan harus ditetapkan cukup tinggi, agar


tidak tertutup oleh salju. Penakar hujan setinggi tanah (Gambar 3.5)

harus dilindungi dari gangguan hewan. Untuk perbandingan

pengukuran, semua penakar hujan dalam suatu jaringan haruslah


ditempatkan pada tinggi yang sama.
2. Bilamana mungkin, mulut penakar haruslah paralel dengan permukaan tanah. Pada daerah yang berbukit, di mana penakar kerap
kali harus ditempatkan di atas bukit, ketelitian tangkapan penakar
yang baku dapat ditingkatkan dengan memiringkarnya tegak lurus
(Gambar 3.4 B) permukaan tanah (lihat Storey dan Hamilton, 1943)
atau dengan menggunakan penakar hujon stereo (Storey dan
Hamilton, 1943 dan Sevruk, 1974). Namun, lokasi pada suatu kemiringan lereng umumnya harus dihindari.

3.

Intensitas Curah Hujan


rata-rata (cmljam)
Lahan terbuka

qo tangkapan

3,52
3,37
2,83
3,41
3,58

Suatu lokasi yang terlindung dari kekuatan penuh angin harus dipilih.
Akan tetapi, obyek di sekitarnya tidak boleh lebih dekat dengan
penakar yang melebihi suatu jarak yang sama dengan "n" kali (pada
umumnya n'_ 4; di Itali n : l0 dan di negeri Belanda n : 2) tinggi
penakar hujan. Suatu cara alternatif adalah dengan membangun
perisaiangin di sekitar penakar (Gambar 3.6). Angka-angka di bawah

ini (Wieringa,

1968) menggambarkan keuntungan penakar hujan

yang bertabir (semua angka adalah nisbi).


Penakar Hujan

Tentunya, pemajanan penakar hujan adalah sangat penting untuk


pengukuran yang benar-benar mewakili. Beberapa persyaratan disajikan
di bawah ini:

Bertabir perisai angin


Tidak bertabir

Hujan gerimis

37

36

Pemilihan suatu tipe penakar hujan tertentu dan lokasinya di suatu


tempat bergantung pada beberapa faktor. Di antaranya disebutkan di

Kecepatan angin (mph)

6810

t2

bawah ini (Volker, 1968):


l. Dapat dipercaya (ketelitian pengukuran)
2. Tipe data yang diperlukan (menit, harian, dan lain-lain)
3. Tipe presipitasi yang akan diukur (adanya salju, tebalnya salju)
4. Dapat diperbandingkan dengan penakar hujan lain yang ada
5. Biaya instalasi dan perawatannya
6. Intensitas perawatan
7. Mudahnya perawatan (deteksi kebocoran)
8. Mudahnya pengamatan
9. Gangguan oleh hewan dan manusia.
Sesudah suatu tipe penakar hujan dipilih, maka langkah selanjutnya adalah memutuskan jumlah minimum penakar yang dibutuhkan un-

(,

'3
(,

J'

0,4

C,

o
A
(,
a
(t
-v

ao

s,

\\

0,8

A:

B:
B:

penakar yang menangkap hujan (.perisai memberikan sedikit atau tak ada perbedaan dalam defisiensi)
tangkapan salju dengan penakar yang berperisai
tangkapan salju dengan penakar tak berperisai
(dimodifikasikan dari Larson dan Peck, 1974)

tuk suatu kawasan. Pengajuan ini tergantung pada maksud tujuan


penelitian, posisi geografis kawasan tersebut (aspek iklim mikro seperti
pengaruh orografi), dan urbanisasi kawasan tersebut (Gray, 1973).
Tidak ada gunanya untuk membangun suatu stasiun pengamat di

suatu kawasan di mana perkembangan masa depan tidak dapat


diharapkan. Sebaliknya, di suatu kawasan tanah-tanah yang subur
disarankan untuk menempatkan suatu penakar hujan untuk perkembangan irigasi di masa datang. Pertambahan jumlah penakar hujan
dengan bertambahnya kepadatan penduduk ditunjukkan dalam Gambar
3.7. Ini diplotkan (pada skala log-log) oleh Langbein dengan meng-

penampung

gunakan data yang dia kumpulkan di berbagai bagian dunia. Kurva ini
menggambarkan kebutuhan jaringan yang minimum dan menginterpretasikan kebutuhan yang ada dan tidak untuk masa datang.

Menurut spesifikasi, Kantor Meteorologi Dunia (WMO),


A: penakar hujan baku
B:
C:

Yang

dipasang vertikal
penakar hujan stereo (ruang)
penakar hujan baku Yang dimiringkan tegas lurus Permukaan tanah
B

ong luapan

I
r
:

Grmber 3.4. Pcnaker hujan yang batu den pcmasaugannyr (Wrrd,

l9dl)

kerapatan minimum stasiun pengamat presipitasi digolongkan dalam


tiga tipe kawasan. Konsep jaringon utama ini ditunjukkan dalam Tabel
3.3 dan didasarkan atas faktor-faktor tersebut di atas (posisi geografis,
urbanisasi, penduduk, dan lain-lain). Joringan sekunder dibangun baik
secara permanen maupun sementara untuk maksud-maksud yang khusus
seperti penelitian kawasan perkotaan, pekerjaan reklamasi masa datang,
dan lain-lain. Untuk suatu DAS di mana tidak ada penakar hujan, tidak
ada metode sederhana untuk menentukan jumlah penakar hujan yang
diperlukan. Satu kemungkinan adalah dengan meletakkan suatu jaringan pilot dan menunggu hingga hasil-hasilnya tersedia untuk analisis.
Jaringan minimum yang ditunjukkan dalam Tabel 3.3 dan 3.4 dapat di-

39

38

Penakar hujan dengan


perisai Nipher
Penakar hujan dengan
perisai Alter (atau
Tretyakov)

Penampung

Gombar 3.6. Pelbagai tipe perisai angin (Wierenga, 1968)

Dimensi Dalam IVIM


Penakar hujan RECOVER (Regenmeter van
Colenbrander

da\

Verstaadn)
q,

c.l

{,E

E,X

Penakar hujan s!nras (Jnrh


5 inci 9 lobang

(wrrd. t967)

l[:ilI|,
^.Iilfll@fllllil
lllu,:'Illll
u:lll

ranph

kisi

jg

sikal

sikat

(li

kisi

N(

ru

&E
penakar

dindinS
hujan
\ o-4mr/ batu

'ai-tl
-.,-l_iur_ru

,ffi'
Kerapatan penduduk (.yumlah pencluduk per kmu;

3m

Grmbrr 3,7. Jumlah penakar hujan per populasi (Langbein,


Permukaan ranah

Gembrr 3,5. Penakar-penakar hujan searas tanah

1960)

t500-10000

20
25

l5

l9
22

5
6

ti

8l
122
162

l0
7lJ(X

ll

30

l0
l5
52(X)

3
.+

7
.+l

l5

tl

Jumlah

l6(x)

4
)il

Bulanan
6

Harian

Banl irknva pcnakar pada tipe pcnakar hujan

Luas ( km-)

l6

Brtrrvaknvr penukur hujan

Untuk j aringan-jaringan pada basin-basin beresorvoir

Hidro

250-1000 (pada kondisi-kondisi yang sulit dapat melebihi 2000)

900-3000

Kisaran norma-norma sementara yang diperbolehkan dalam kondiEi-kondisi


yang sulit (luas dalam km2/stasiun)

1970)

260
I3{)0

Lutrs (krtr-)

Untuk iirringutt rli scltrruh ncgeri

Tabel 3.4. Kerapatan nrinimum dari stasiun-stasiun presipitasi di Inggris (dalam Bieasdale)

Mintakat-mintakat arid dan kutub (tidak termasuk gurun-gurun yang luas)

fit

25

100-250

Wilayah bergunung pada mintakat-mintakat sedang, mediteran dan tropika


Kepulauan-kepulauan pegunungan yang
kecil dengan presipitasi yang sangat tidak
beraturan, jaringan hidrografi sangat ra-

600-900

Wilayah datar pada mintakat-mintakat


sedang, mediteran dan tropika

Kisaran norma-norma untuk jaringan


minimum (luas dalam km'untuk
1 stasiun)

3.3. Kerapatan minimum dari stasiun-stasiun presipitasi untuk suatu jaringan utama (WMO,

Tipe wilayah

Tabe

Hidro

5
a

42

43

gunakan sebagai jaringan pilot. Metode lainnya adalah dengan memenuhi kawasan dengan penakar hujan dan pada tahap selanjutnya memindahkan penakar-penakar yang tidak diperlukan. Hal ini sangat berguna
dalam DAS-DAS percobaan.

mempunyai luas lobang 4 dmz dan ditempatkan 40 cm di atas tanah.


Penakar hujan baku yang baru digunakan oleh KNMI mempunyai luas lobang 2 dmz dan ditempatkan 40 cm di atas tanah.
b. Penakor hujon penyimpan (atou penjumlah): Penakar ini merupakan
penakar hujan baku dengan kapasitas lebih besar dan digunakan untuk menyimpan presipitasi musiman di kawasan yang jauh. Semua

3.5.2. A lst-alat Pengukur Presipitasi

fi

Cara klasik dalam menggolongkan tipe alat-alat pengukur


presipitasi didasarkan atas apakah alat-alat itu merupakan tipe pencatat
atau bukan. Penakar hujan pencatat secara otomatis mengumpulkan
datanya pada suatu grafik, pita pelubang, pita magnetik atau secara
elektronik mengirim data ke penerima (komputer, satelit, dan lain-lain).
Penakar hujan bukan pencatat harus dibaca secara berkala (sekali sehari, sekali seminggu, 15 hari, sebulan atau bahkan setahun sekali).
Penakar ini tidak mencatat data dengan cara apa pun.
Klasifikasi penakar hujan yang modern, atau mungkin di masa
depan, didasarkan atas apakah penakar tersebut berada di tanah
(pelataran operasional memerlukan penakar hujan yang dipasang di atas
tanah), udara (balon dan pesawat) ataukah dari ruang angkasa (satelit
pengorbit bumi). Pelataran operasional udara dan ruang angkasa membawa alat pengindera presipitasi di atas permukaan bumi. Karena
didasarkan atas pengumpulan data dari suatu jarak, semua tiga penakar
hujan secara intensif sedang dikaji dengan penginderaan jauh (penerima
informasi mengenai suatu obyek dengan pelataran di atas tanah, udara
dan ruang angkasa tanpa berhubungan langsung dengan obyek). Hampir
semua alat penginderaan jauh merupakan penakar hujan tipe pencatat.
Klasifikasi menurut Seyhan didasarkan atas suatu kombinasi dua

t
&

pendekatan, yaitu:
l. Penakqr hujon bukan pencstot
Penakar-penakar hujan bukan pencatat yang disebutkan di bawah ini
semuanya diletakkan di tanah.
a. Penakqr hujan boku (standar): Suatu tipe umum disajikan dalam
Gambar 3.4. Diameter lobang (juga tingginya) beragam di berbagai
negara (3,57 inci di Kanada, 5 inci di Inggris, 8 atau 12 inci di AS).
Suatu luasan 2 hingga 5 dm2 (spesifikasi WMO) ternyata paling sesuai
untuk besarnyalo,pVne. Tinggi penakar hujan beragam sekitar 40 cm
(atau lebih, tergantung pada kedalaman salju). Botol-botol penampung harus dikosongkan dan diukur secara berkala (harian, mingguan maupun bulanan). Di negeri Belanda, penakar hujan yang baku

penakar hujan penyimpan yang dapat dipercaya diperlengkapi


dengan kaca. Untuk menghindari evaporasi (penguapan), selaput
minyak ditambahkan pada reservoir presipitasi. Pada kawasan yang
dingin, CaCl, ditambahkan untuk meleburkan salju. Pengukuran
dilakukan pada selang waktu berkala baik dengan menimbang
penakar (lebih disukai karena ketelitiannya) maupun dengan
mengukur kedalaman (jeluk) air dalam reservoir.
c. Penaksr hujon searos tansh: Tipe-tipe penakar hujan searas tanah
yang berbeda-beda disajikan dalam Gambar 3.5. Tipe-tipe penakar
ini, meskipun lebih mahal dibandingkan dengan penakar hujan yang
baku, mempunyai persentase tangkapan curah hujan yang tertinggi.
Suatu sikat diletakkan di sekelilingnya untuk menghindari percikan
tetesan hujan. Kisi-kisi dipergunakan baik untuk menghindarkan pertumbuhan rumput maupun memperkecil percikan. Cara pemasangan
ini, dari segi ketelitian jumlah curah hujan yang ditampung,
merupakan tipe yang ideal. Tipe yang digunakan di negeri Belanda
mempunyai'luas lobang 4 dmz dan setiap hari dikosongkan.
d. Penakar Hujan Acuqn lnternasional (International Reference precipitation Gauge): Karena berbagai negara mempunyai standar stasiun pengamat hujan yang berlainzrn, maka WMO telah mengembangkan suatu penakar acuan yang disebut IRPG. Penakar ini <tiusulkan sebagai suatu penakar hujan baku yang dapat digunakan sebagai pembanding bagi lain-lain penakar hujan yang digunakan diberbagai negara. Penakar ini diambil dari tipe British Snowdon dengan luas lobang 128 cm2 dan 1 meter di atas tanah dan ditempatkan
di dalam perisai angin tipe Alter. Penggunaan penakar hujan ini di
negeri Belanda, telah menunjukkan bahwa tangkapan curah hujan
adalah 6,47" lebih rendah dibandingkan dengan penakar hujan
searas tanah (Volker, 1968).
e. RADAR (Radio Detecting and Ranging): Alat ini memancarkan gelombang elektromagnetik (gelombang pendek sepanjang 3-10 cm)
dan menerima gelombang yang dipantulkan dengan suatu antena
dan memindahkan suatu citra pada suatu indikator posisi bidang
(Plan-Position Indicator/PPl). Pada PPI suatu bagian yang cerah mc-

45

44

Hujan mintakat sedang dari salju yang melebur


di atas
Hujan laboratorium dari hujan es yang mele-bur

"i"

pulsa yang dipancarkan dan berputar Sinkron dengan antena.

Z=

z=
z=
Z:

Kepingan salju hablur-tunggal


Kepingan salju hablur-agregat
Keterangan: Untuk salju

Sinar elektron bergerak dari pusat


ke luar dengan masing-masing

Z dalam mm6/m3;
i dalam mm/jam

Tipe Presipitasi

gaung presipitasi

adalah laju presipitasi dari suatu massa air yang melebur

yang ekivalen.

PLAN-POSITION INDICATOR (PPI )

Biaya operasi

Tipe alat

Harga
(dalam I)

Waktu
untuk
instalasi
(dalam jam
manometer)

TWaktu IWaktulWaktu
pengamat- | pcmetitra-

| pengolah-

anlrrrnlun r_

(dalam

jam manometer setiap


tahun

Penakar hujan beku

(dibaca setiap hari)

0,2

45

0.5

23

8,0

Penakar hujan otomatis


(dengan grafik setiap minggu)

208

Penakar hujan otomatis


(dengan pita magnetis)

100

t2

0.2

0.1

l5

2.0

10

52

0,r

12

l6

Penakar hujan penyimpan


(dibaca setiap bulan)
Penakar hujan searah tanah
(dengan grafik setiap hari)

Catatan: Waktu untuk perjalanan ke dan dari tempat penakar hujan tidak termasuk.

Tabel 3-5: Harga satuan penakar hujan dan biaya operasinya di Inggris, harga
pada tahun 1971 (Rodda, 1972).

Gambar

3.t.

Pengukuran presipitasi dengan RADAR (Eagleson, 1970)

47

46

nunjukkan hujan. Walaupun RADAR masih dalam tahap percobaan, banyak rumus telah dikembangkan (Gambar 3'8) yang meml"reri
batasan hubungan pantulan suatu satuan volume hujan (Z) dengan
intensitas curah hujan (i). Dengan rumus-rumus ini seseorang akan
mengamati bahwa hubungan Z dengan i beragam dengan faktor
kesetandingan (beragam dalam rumus da.; 2OO-2000) dan tidak
dengan pangkat (sekitar 1,6 dalam rumus). Karena itu, suatu
pengukuran hujan dengan RADAR yang baik terletak dalam
penskalaan hubungan Z-i, untuk masing-masing hujan yang berlainan dengan membandingkannya dengan penakar hujan pencatat. lni
membutuhkan adanya penakar hujan pencatat di tempat itu. Akan
tetapi , berkali-kali, tidak ada penakar hujan tersebut di atas (Anderl
dan lain-lain , 1976). Penelitian yang dilakukan oleh Harold dan lainlain (1975) telah menunjukkan bahwa pendugaan presipitasi areal
rata-rata yang berasal dari RADAR di atas DAS dengan luas antara
2()-100 km2. berbeda rata-rata sebesar 13"/" dari pendugaan yang
didasarkan atas data yang berasal dari jaringan penakar hujan'
Untuk pengukuran yang teliti pada DAS yang sangat kecil (beberapa
km2 luasnya), RADAR harus berada di dalam sekitar 35 km jauhnya
dari DAS yang diamati.
Kita harus juga ingat bahwa ada juga metode penduga nonteknik untuk mengetahui jumlah presipitasi. Tong-tong, kolam
beton, tangki air, kaleng minyak, dan lain-lain, yang ditempatkan di
suatu lapangan dapat juga bertindak sebagai penangkap cupah hujan'
Cara-cara tersebut kadangkala sangat bermanfaat. J,uea sudah
dikenal bahwa petani dapat memberikan informasi yang sangat
berguna mengenai parameter hidrologi (air tanah, curah hujan, banjir dan lain-lain). Pembahasan dengan mereka tentang agihan intensitas, waktu dan ruang curah hujan dapat berguna sekali'

I
I

2. Penakar Hujon Otomatik (pencatat)


Semua penakar hujan otomatik akan mencatat data (dalam hal ini
jumlah hujan) secara kontinu (interval I menit, 5 menit, l0 menit,
dan lain-lain) maupun secara berkala pada beberapa macam grafik,
pita pelubang, pita magnit, film, sinyal-sinyal listrik, dan lain-lain'
Karena itu, batasan ini berbeda dengan batasan kebanyakan bukubuku teks yang memberi batasan penakar hujan otomatik sebagai
penakar yang merekam secara kontinu saja.

a. Pemantousn

l.

hujan di tanah

Penakar hujan otomatik tipe penimbangan: Peralatan ini serupa


dengan penakar hujan tipe pelampung. Secara kontinu, berat
panci penampung ditambah hujan yang jatuh sejak pencatatan
mulai, dicatat. Karena pencatat mengukur apa saja yang jatuh ke
dalam panci penampung, maka adalah sangat berguna di
kawasan-kawasan dengan salju dan hujan es yang sering terjadi.
Reservoirdi'mana presipitasi dikumpulkan, dikosongkan dengan
suatu sifon (serupa dengan penakar hujan tipe pelampr'rng) setelah
kedalaman curah hujan sebesar 5 mm atau l0 mm, tergantung
pada lebar grafik (Gambar 3.9). Jumlah hujan yang terakumulasi
diplotkan pada suatu grafik yang diletakkan di sekitar drum yang
berputar. Karena itu, hasilnya adalah suatu kurva massa curah hu-

jan.

2. Penakar hujan otomatik tipe pelampung: Alat ini (Gambar 3.10)


menampung presipitasi ke dalam penerima dan membawanya
kepada suatu ruangan pelampung di mana pelampung akan naik

bila tinggi muka air juga naik. Gerakan vertikal pelampung ini
dipindahkan melalui suatu tongkat pelampung dan pena ke suatu
grafik (Gambar 3.9) yang diletakkan di sekitar drum yang berputar. Air yang terakumulasi dalam ruangan pelampung disedot
ke luar secara manual atau otomatis. Kesulitan yang sangat serius
dengan penakar ini adalah dalam bekerjanya pada kondisi-kondisi
membeku. Karena pembekuan, maka pelampung tidak akan berfungsi. Karena itu, untuk keadaan demikian, suatu alat pemanas
haruslah dipasang. Juga harus dijamin bahwa bekerjanya pipa
penyedot tidak akan mengakibatkan hilangnya air selama curah
hujan yang berintensitas tinggi.

3. Penakar hujan otomatis tipe ember-tumpah (tipping-bucket):


Dalam alat ini yang juga dikenal sebagai tilting bucket, air
presipitasi mengalir dari penerima (Gambar

3.ll)

ke dalam suatu

ember yang terdiri atas dua bagian berbentuk segitiga dan


dineracakan dalam keseimbangan yang tidak stabil pada suatu
ujung-pisau. Dengan kata lain, pada posisi normal (kosong) ember
bertumpu pada salah satu dari kedua sisi. Bila bagian sebelah
kanan (Gambar 3.ll) terisi, bagian ini turun dan mengalirkan air
ke dalam reservoir. Penurunan ini meletakkan bagian sebelah kiri
di bawah penerima. Pembalikan ember dikalibrasikan agar terjadi

49

48

waktu (jam)

{,, o
E
E

q
0.

Waktu

(jm)

Gembrr3.9. Pencatatan (pada grafik jalur) dan interpretasi (presipitasi terakumulsi)


data presipitasi yang tercatat (otomatik)

ruang pG
Iampung
tongkat
pelampung
pelampunS

reservoir

Grmbrr 3.10. Penakar hujan otomatik


tipc PelampunS

Grmb$ 3.11. Penakar presipitasi otomatik


tip ripping_buckct (cmber tumpah)

setelah jumlah air presipitasi yang terakumulasi dalam suatu


bagian adalah sebesar 0,2 mm (spesifikasi WMO minimum). Pencatatan adalah bertahap dan tidak kontinu (bukan suatu plot garis
seperti pada tipe-tipe timbangan dan pelampung). Kerugian penakar hujan ini adalah: (l) selama pembalikan, air dapat hilang jika
curah hujan berihte.nsitas tinggi, (2) kehilangan evaporasi dari
bagian ruangan dapat cukup besar di kawasan-kawasan yang panas, (3) berhubung pencatatan yang bertahap maka alat ini tidak
berguna untuk curah hujan yang sangat sedikit, (4) saat awal dan
akhir tidak dapdt diketahui secara tepat. Sebaliknya, tipe penakar
ini tahan lama, sederhana dan memungkinkan pencatatan ditampung melalui pulsa listrik pada pita magnetik.
4. Pengindera jauh: Walaupun penakar tersebut merupakan tahap
percobaan, penelitian sedang dilakukan _bagi penggunaan tipe
pengindera jauh yang berbeda di dalam pemantauan presipitasi
(Seyhan, 1972). Sebagaimana dijelaskan dalam paragraf berikut,
berbagai tipe kamera dan SLAR (Side Looking Airbone Radar)
sedang dipergunakan dalam pengkajian-pengkajian presipitasi,
juga pada pelataran (platform) di atas tanah.
b. Pemontauon presipitosi dqri udarq (pengindero jauh)
l. Kamera: Kamera-kamera metrik, pemandangan, gelombang
banyak dan ultraviolet sedang digunakan di dalam mengkaji
presipitasi. Dengan perkecualian kamera metrik (Seyhan, 1972),
yang telah cukup berhasil, pengkajian dengan semua kamera lainnya berada dalam tahapan percobaan. Kamera kebanyakan
digunakan dalam mengkaji distribu-si kawasan hujan dan salju.
Keluaran kamera yang tercatat adalah pita magnetik atau film.
2. Penyaring gambar (Scanners)'. Percobaan-percobaan sedang dila-

kukan dengan penyaring-penyaring gambar multi-spektral dan


IRLS (Infra-Red Line Scanners - Penyaring Gambar Garis Infra
Merah) untuk menentukan esensinya dalam pengkajian-pengkajian presipitasi. Keluaran yang tercatat adalah pita magnetik atau
film.
3. Radar: Penggunaan pencaran radar (radar scatterometer) dan
SLAR sedang dikaji. Keluaran yang tercatat adalah pita magnetik
atau film.
4. Radiometer gelombang mikro dan spektrometer gelombang mikro
juga sedang dikaji. Keluaran yang tercatat adalah pita magnetik-

50

5l

Pemantauan presipitosi dori ruang angkasa (pengindera iouh)

(WMO, 1970) kurang lebih I cm salju yang


jatuh pertama kali setara dengan I mm air (nisbah I banding
l0). Di lnggris, nisbah ini dianggap I banding l2 (Ward, 1967).
Anggapan tersebut tentu saja masuk akal jika kerapatan salju
yang turun pertama kali tersebut adalah seragam.
b. Dengan memasukkan suatu tabung, yang disebut tabung solju
ke dalam salju, sampel onggokan salju ini diambil dan beratnya
maupun kandungan airnya ditentukan. Prosedur ini diulang
pada beberapa lokasi dan kesetaraqn qir rato-rstq yang
mewu k i I i ditaksir. Pengamatan-pengamatan tersebut dilakukan
secara mingguan, bulanan maupun dua bulan sekali. Suatu
tabung Amerika Utara yang populer mempunyai diameter dalam 1,485" (+ 3,77 cm). Jika penutup salju adalah dangkal,
maka digunakan tabung contoh dengan diameter yang lebih
a. Mengingat aturan

Kamera, penyaring gambar multispektral, IRLS, penyaring gambar


gelombang mikro dan radiometer gelombang mikro juga sedang dikaji pada pelataran ruang angkasa. Komunikasi satelit merupakan salah

satu cara yang paling bermanfaat di dalam pemrosesan data


presipitasi yang memadai dan cepat. Pada tahun 1967 percobaan
komunikasi hidrologi telah dilakukan (Seyhan, 1972) dengan mentransmisikan data presipitasi yang ditampung oleh penakar hujan di
atas tanah ke fasilitas-fasilitas pemrosesan sentral melalui suatu
satelit komunikasi. Hasilnya sangat memuaskan tetapi mahal. Pada
tahun 1971, Davis dan Serebreny membandingkan data presipitasi
yang diukur pada stasiun pengamat di atas tanah dengan foto-foto
awan satelit. Catatan presipitasi harian dibandingkan dengan harga
presipitasi yang ditaksir dari foto-foto sekalisehari dari satelit

pengorbit kutub (Seyhan, 1972). Analisis korelasi statistik menampakkan koefisien-koefisien yang sangat tinggi, yaitu 0,90 hingga 0,98.
3. Tipe-tipe penokar

besar.
c.

presipitasi lainnya

A. Hujon salju: Hujan salju merupakan jumlah

pemanas.

salju basah yang

jatuh dalam suatu. periode terbatas. Hujan salju ini dikuantifikasi dalam dua cara: (l) kedalqman (jeluk) salju di atas
tanah atau lebih baik, kesetoraan airnya (ieluk air yang setara

d. Penakar presipitasi otomatik tipe timbangan dapat digunakan


l7

untuk periode-periode pencatatan yang lebih panjang.


Penggunaan RADAR juga sedang dalam pengkajian. Tetapi
hubungan Z-i (Gambar 3.11), menunjukkan keragaman lebih

dengan salju yang lebur) dan (2) perluasan kawasan penutup salju.

banyak daripada curah hujan.

Untuk mencirikan kualitas saljl, kerapatan solju (volume air


lebur yang dihasilkan oleh sampel salju dibagi dengan volume
awal sampel salju) dan kuolitas sal7u (persentase berat kandungan
es dalam suatu sampel salju). Rata-rata, kerapatan salju adalah
sekitar 0,1, tetapi harga ini dapat serendah 0,004 (yang
didapatkan di Kanada) untuk salju basah dan setinggi 0,6 untuk
salju yang lama dan sangat mampat (Gray, 1973). Metode
pengamatan penutup salju yang paling sederhana adalah dengan
mencelupkan suatu penggaris a1ilt tongkat salju, pada sejumlah
lokasi dan dengan mendapatkan jeluk rqto-rolo yong mewakili.
Ini dapat juga ditentukan dengan suatu wodah yang tetap dengan
penampang melintang yang seragam (WMO, 1970). Pengamatan
tersebut dilakukan setiap hari, mingguan ataupun tiap bulan.

Pengamatan yang lebih sulit tetapi lebih banyak diperlukan


adalah pengukuran kesetaraan air dari salju (Meinzer,1942).
Metode-metode yang umumnya digunakan adalah:

Untuk pembacaan yang cepat, dapat digunakan penakar hujan


yang baku diperlengkapi dengan sistem perisai angin dan

f. Metode radiometri juga sedang dikembangkan, namun belum


digunakan secara luas.
o

Metode isotop radioaktif (Chow, 1964) didasarkan atas


pelemahan sinar-sinar gamma dari suatu sumber (umumnya
ditempatkan di tanah, di bawah penutup salju) bila melewati
onggokan salju. Cobalt-60 sering kali digunakan untuk energi
gamma yang tinggi dan setengah-umur yang tinggi. Pemasang-

i3

an penakar-penakar tersebut sangat mahal dan memerlukan


tindakan-tindakan pengamanan (Gray, 1973).
h. Pada metode bantalan-saljn (disebut juga bantalon tekanon),
digunakan kasur udara diisi dengan larutan tahan beku dan
dipasang dengan manometer. Berat salju ditunjukkan pada
manometer dan dicatat. Metode ini mempunyai kelemahan
yaitu bahwa onggokan salju yang berdekatan dapat juga
menyokong salju dan karena itu mengakibatkan berat sallu
ditaksir terlalu rendah (efek jembatan).

53

52

Yang sangat berharga adalah pengetahuan mengenai luasnya


kawasan salju. Foto-foto udara digunakan secara ekstensif (Gray,
1973). Pengkajian-pengkajian akhir-akhir ini telah menunjukkan
bahwa seri-seri foto-foto satelit juga sangat bermanfaat.
Salju akan menjadi penting secara hidrologi hanya jika telah
melebur. Bila peleburan berjalan lambat, maka sebagian besar air
yang melebur akan berinfiltrasi. Namun, bila peleburan berjalan
cepat, limpasan permukaan lelehan salju akan mencapai dasar aliran
dengan cepat. Peleburan salju ini dapat dihitung baik dengan metode
nerocs panos (Volker, 1968) maupun dengan metode demiathari
(Ward, 1967). Pada metode yang pertama dibuat suatu neraca radiasi
(panas yang diserap dikurangi panas yang hilang) dari penutup salju.
Pada metode yang kedua, peleburan salju dianggap sebanding
dengan rata-rata harian suhu di atas OoC (WMO, 1970).
B. Es: Es dapat timbul pada danau dan sungai dalam berbagai bentuk:
es sungguh, srabi, sauh dan es timbul. Ketebalannya dapat diukur
secara konvensional dengan mengambil sampel. Akan tetapi, hal ini
sulit untuk lapisan-lapisan es yang tebal. Akhir-akhir ini, survei (pemairan) udara infra-merah telah menunjukkan hasil-hasil yang memberi harapan. Biasanya, peningkatan di dalam kegelapan rona warna
pada foto-foto infra-merah menunjukkan peningkatan di dalam
ketebalan es. Demikian juga, penelitian dengan menggunakan pulsapulsa dengan frekuensi yang sangat tinggi memberikan hasil-hasil
yang baik sekali (Seyhan, 1972). Ketebalan es hingga 60 cm diukur.
C, Ksbut: Perkiraan dilakukan dengan memasang penampungpenampung kabut di atas penakar hujan yang baku (Gambar 3.12).
Penampung terdiri atas silinder penakar kawat di atas mana tetestetes ait terbentuk dan mengalir ke dalam penakar hujan. Dengan
membandingkan dengan penakar hujan di dekatnya perbedaan antara kabut dan presipitasi hujan ditentukan. Meskipun sulit untuk
Trbel3.6. Suhu udera di dekat permukaan sebrgai indeks tipe presipitrsi (Eagleson'
1970)

Tipe
Presipitasi.

Salju (90)

Hujan (90)
Campuran (90)

Suhu di dekat

permukaan(! 1,22 m di

atas tanah)

('F)

29 30 31 32 33 14 35 36 37 38 39
9999979314443229883
12112315151819010097
| 4 t4 25 17 14 ll 2 1 -

40

Penampung silindris penakar


kawat (silinder penakar)

Penakar hujan baku

Gambar 3.12. Penakar hujan baku dikombinasikan dengan penampung kabut

Pandangan
atas

NZI

L\II

r!

p"na"ng"N. ,L
samping

corone prrrrgi

\ ,/

,-l
I

[-,

reservoir

Gambar 3.13. Penampung-penampung embun

55

54

3.7. PEMROSESAN DATA PRESIPITASI: KARAKTERISTIK


RUANG-WAKTU

menentukan suatu angka yang sahih, berbagai percobaan (Ward,


1967) menunjukkan bahwa pada lokasi-lokasi yang berkabut curah
hujan yang biasa diukur mungkin dilampaui dengan suatu faktor 2

3.7.1 . Penentuon agihan kswusan

atau 3.

D. Embun: Tipe presipitasi ini disebabkan oleh kondensasi uap air di


udara atau disebabkan oleh kondensasi uap air yang menguap dari

tanah dan/atau bertranspirasi dari tanaman. Pengukuran embun


khususnya di kawasan-kawasan arid, yang mungkin sama besarnya
dengan curah hujan, adalah sangat menarik. Pengukurannya sangat
sulit (WMO, 1970) karena keberadaannya tergantung pada tipe permukaan. Lagi pula, pengukuran tersebut menunjukkan keragaman
ruang karena perbedaan-perbedaan di dalam struktur tanah, vegetasi,
dan lain-lain.
Beberapa metode pengukuran embun yang ada, adalah:
a. Pensmpung embun kini sedang digunakan di Israel dan Swedia

(lihat Gambar 3.13 A). Penampung ini terbuat dari corong baja
berlapis plastik dengan Iuasan penampang melintang berbentuk
bujur sangkar.
b. Pelat kayu yang khusus, pelat Leiokse (lihat Gambar 3.13 B)

c.

l
l

Terdapat beberapa metode penentuan presipilasi rqto-rqto di atas


suatu kawasan selama suatu periode tertentu (periode hujan tunggal,
bulan, tahun, dan lain-lain).
l. Rito-ratq aritmetik
Ini merupakan metode yang paling sederhana (Gambar 3-14) dan
diperoleh dengan menghitung rata-rataaritmetik (hitung) dari semua
total penakar hujan di suatu kawasan. Metode ini adalah:
a. Sesuai untuk kawasan-kawasan yang datar (rata)
b. Sesuai untuk DAS-DAS dengan jumlah penakar hujan yang besar
yang didistribusikan secara merata pada lokasi-lokasi yang
mewakili.

2. Poligon Thiessen
Dalam metode ini (Gambar 3-14), bisektor tegak lurus digambar
melalui garis-garis lurus yang menghubungkan penakar-penakar hujan di dekatnya, dengan meninggalkan masing-masing penakar di
tengah-tengah suatu poligon. Jumlah hasil kali luas poligon dan
presipitasi (dari penakar di poligon itu) dibagi dengan luas total untuk
mendapatkan presipitasi rata-rata. Metode ini adalah:

mula-mula dikeringkan dan berat keringnya ditentukan. Selanjutnya, perbedaan antara berat basah dan berat kering ditentukan
sebagai jumlah embun yang terserap.
Btok Duv-Devoni (lihat Gambar 3-13 C) adalah sepotong kayu

a. Sesuai untuk kawasan-kawasan dengan jarak penakar-penakar


prepitasi yang tidak merata

yang tertutup dengan suatu cat yang khusus. Bentuk dan


kerapatan tetesan, yang terbentuk pada cat ini dibandingkan
dengan foto-foto yang baku dan dari harga-harga yang tertabulasi, kedalaman (jeluk) air ditentukan.

3.6. PENYAJIAN AGIHAN-TITIK PRESIPITASI


Agihan presipitasi pada suatu titik tertentu diberi batasan dengan
intensitas, jeluk, lanra hujan dan frekuensinya (paragraf 3.3). Di antara

butir-butir di atas, intensitas, jeluk dan lama hujan dapat disajikan


dalam bentuk-bentuk tabel (bentuk-bentuk yang baku dari kantorkantor meteorologi), hietograf atau kurva-kurva massa (lihat contoh).
Kesemuanya tersebut memberi batasan agihan waktu presipitasi.

b. Memerlukan stasiun-stasiun pengamat

di dan dekat

kawasan

tersebut

c. Penambahan atau

3.

pemindahan suatu stasiun pengamat akan


jaringan
mengubah seluruh
d. Metode ini tidak memperhitungkan topografi.
Poligon dengan tinggi yong dikoreksi
Metode ini (Gambar 3-14) mempertimbangkan letak ketinggian, juga
distribusi penakar hujdn. Garis-garis tegak lurus digambar, dari
garis-garis lurus yang menghubungkan penakar-penakar hujan yang
berdekatan dan titik tengah dipandang dari segi letak ketinggian
dan bukan jarak (Ward

, 1967). Kemudian

presipitasi rara-rara diten_

tukan seperti pada mctode poligon Thiessen.


4. Metode isohiet

Metode ini (Gambar 3-14) memungkinkan penghitungan presipitasi


dengan bantuan isohiet (garis yang menghubungkan jeluk presipitasi

yang sama) yang digambarkan pada kawasan tersebut. presipitasi

14:00

l3:30

13:00

l2:30

11:30
12:00

1l:00

10:30

l0:00

6:00
6:30
7:00
7:30
8:00
8:30
9:00
9:30

Jam

-.1

rn

240
270
300
330
360
390
420
450
480

210

180

150

60
90
120

30

E>
3!

_qF

oo

d-

l,
0

-1U

30

z.t)
1,0

so

5,0

1,0

1.0

2,0
0
0

(3-2)/o.s

I jam

0,r)

)(l

so

1,0

Q-2)/1=1

0
0

Selang

12,0

2,0
2,0
2,0
2,0
2,0
3,0
4,0
4,0
4,0
4,5
5,0

-l

(:D"*r-(IP)nl
0,5

:2

(:P),*r-(>P)J

tz,0

r-tJ

mm

o-rJoaq

Intensitas Curah Hujan (mm/jam)


Selang 0,5 jam

ts

ONSOOONSO

7,5
10,0
11,0
12,0

(tn*

Sclang waktu
at (menit)

Intensitas curah hujan


(mm/jam)

30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30

(grafik)

tn

(menit)

Waktu hujan
kumulatif (Ip)

!-

dA

:.

- oiT"+T?

(mm/jam)

Intensitas
curah hujan

[mmXdibaca dari

Waktu

=,

f,,rll

!J

(mm)
o i,YQf

Curah hujan
terakumulasi

l,t)

3.0

(4-2\t2:r

[P)n* r-(:P)"]

Selang 2 jam

N5'

J.C

X=a
od:

Io'

En9

a<:c
l; D i,d
ojjr

'
cYS
:Exf,.k

-J

O,

Lal

58

59

Peta Stasiun

Foligon Thiessen

t)

rata-rata ditentukan dengan menjumlahkan hasil kali luas isohiet dan


presipitasi (jeluk isohiet itu), dan dibagi dengan luas total. Untuk
mudahnya, mintakat antarhiet diambil sebagai luas (misalnya luas
antara isohiet 7.5 dan 8 inci pada Gambar 3-14) dan dikalikan dengan
rata-rata isohiet yang berbatasan ('1,75 dalam hal ini). Suatu cara
penentuan jeluk rata-rata ini yang lebih baik (karena ketidakteraturan isohiet) adalah dengan mengambil juga panjang isohiet sebagai
pertimbangan (Ward, 1967).
Hal ini dilakukan sebagai berikut:

Fi-Pn* r(2a+b)
3(a+b)

Poligon dengan tinggi


Yang dikoreksi

di mana: Pr = jeluk rata-rata presipitasi di antara isohiet A dan B


rt
jeluk isohiet yang lebih rendah (B)
-n
linterval (selang) isohiet
panjang isohiet yang lebih tinggi (A)
db- panjang isohiet yang lebih rendah (B).
Metode ini:
a. Merupakan metode yang paling teliti, karena metode ini memper-

timbangkan sejumlah besar faktor-faktor, seperti relief, aspek,


dan lain-lain. Metode ini sangat baik untuk kawasan-kawasan
bergunung.

b. Memerlukan keterampilan. Peta isohiet dapat beragam dari satu


pengeplot dengan yang lainnya.

c. Membutuhkan

stasiun-stasiun pengamat

di dan dekat kawasan

tersebut.

d. Terutama bermanfaat untuk curah hujan yang singkat,


5. Persen metode

normal

Dalam menggunakan metode ini, presipitasi dinyatakan sebagai


persentase presipitasi rata-rata tahunan atau presipitasi rata-rata
musiman, dan peta-peta isopersenlal digunakan untuk mempersiapkan peta-peta isohiet. Hal tersebut merupakan metode yang paling baik untuk kawasan-kawasan dengan pengaruh fisiografi yang

Metode RDS (inci)


Isohiet (inci)

Gembsr 3'14. Metode-metode yang berlainan dengan menEntukan agihan areal presipitasi
(Ward, 1967 dan Wei, 1973).

tegas.

6. Metode Kebaliksn Kuadrat Jarak (Terbalik)

Metode ini memasang sistem kisi pada kawasan dan menghitung


jumlah curah hujan pada tiap-tiap titik kisi dengan menjumlahkan
hasil kali bobot penakar dan curah hujan yang terukur pada penakar-

r-'
60

6l
penakar hujan di dekatnya. Bobot penakar dihitung sebagai fraksi
kebalikan kuadrat jarak antara titik dan penakar hujan (Wei , 1973).
Metode ini berkaitan dengan metode isohiet. Metode diprogramkan
dan dapat bekerja dengan komputer.
7. Metode-metode lainnya

I
2
3

60
70
80

95

banyaknya stasiun
H = ketinggian stasiun (m)
P = presipitasi pada 12 Jan. l9M
A = luas di bawah ketinggian tertentu.

{\,f

l)

Metode hipsometrik (WMO, 1970) dan metode regresi juga


dipergunakan dalam menentukan jeluk rata-rata presipitasi.
3.7 .2. Penambohon catatan

presipitasi

Penggunaan dan interpretasi merupakan perhatian langsung bagi

para ahli hidrologi. Namun, kesulitan selanjutnya mungkin timbul

karena jangka pendeknya data yang tersedia (biasanya data 35-tahun


diterima sebagai suatu minimum yang baik), data yang hilang,
penyesuaian stasiun pengamat, dan lain-lain. Beberapa teknik penambahan data presipitadi dijelaskan di bawah ini.
l. Penjabaran catatan periode pendek

Dianggap bahwa ada penakar hujan simpanan pada


lr

H.0aa'\

rm
a

titik B

dan

penakar hujan otomatik pada titik A. Setelah hujan, hanya


diperlukan jumlah total curah hujan (Pp yang diketahui pada stasiun
B dan distribusi intensitas yang diketahui pada stasiun A. Dengan
mengganggap bahwa ke dua stasiun tersebut mempunyai karakteristik
yang sama, suatu kurva massa (lihat paragraf 3-6) stasiun B (Gambar
3-15) dapat dijabarkan dengan membandingkan kurva massa stasiun
A. Sebagaimana dijelaskan pada paragraf 3-6, intensitas curah hujan
(hietograf) dapat diperoleh dari kurva massa stasiun B.

2. Kesenjangon pada pencstatan:


Suatu kesenjangan pada pencatatan stasiun (A) dapat diisi jika
stasiun-stasiun (B, C dan D) yang berdekatan mempunyai pencatatan

yang lengkap.

r'

a. Metode nisbah-normal: Presipitasi rata-rata tahunan (N) di stasiun A, B, C dan D adalah 600, 700, 720 dan 750 mm. Untuk
tahun kalender 1942, presipitasi tahunan (P) di stasiun-stasiun B,
C dan D adalah 690, 710 dan 725 mm. Tentukan presipitasi
tahunan pada tahun 1942 di stasiun A.

"1

4^
-L+

Po=
v=
P

luas di bawah kurva presipitasi (P melawan n).


Luas ini merupakan volume presipitasi total
presipitasi areal rata-rata = V/L.

1til',.

+'.. *o,I

62

I [-,,9

(6eo) +

63

600(710) 600(725) I
+_
l720
7s0 J

Metode ini digunakan bila presipitasi rata-rata tahunan pada suatu


stasiun berbeda lebih dari l09o dari presipitasi stasiun dengan
catatan yang hilang. McDonald (1957) menerapkan metode ini untuk menentukan total musiman yang hilang. Hasilnya menunjukkan kesalahan 25Vo dalam satu total musiman yang hilang.
b. Metode rato-ratq aritmetik: Jika presipitasi rata-rata tahunan
pada stasiun-stasiun yang berdekatan berada dalam l09o dari
presipitasi untuk stasiun dengan catatan yang hilang, suatu ratarata aritmetik presipitasi pada stasiun yang berdekatan dapat
diduga untuk stasiun dengan catatan yang hilang.
P

e,:

tA (PB+ PC+ PD)

tapak: Harga presipitasi rata-rata jangka panjang di


stasiun tertentu (X) di mana hanya data i tahun (misalnya
1950-1965) yang tersedia, dapat diduga dari tapak-tapak dengan
data n tahun (misalnya 1930-1965) dengan n ) i (lihat Fields dan
Adams, 1975), yaitu:

c. Pendugaan

(Pilo
di mana: (Px)n

(Pp,
(PN)n

(lx[rC"
(PN)i

taksiran presipitasi rata-rata tahunan jangka


panjang pada stasiun pencatatan yans lidak
lengkap.

:
=

presipitasi rata-rata tahunan jangka pendek


yang diamati pada stasiun pencatatan yang
tidak lengkap.
presipitasi rata-rata tahunan jangka panjang
yang diamati pada stasiun pencatatan yang
lengkap. Untuk 3 stasiun, presipitasi akan:

(PJn: Er)"+-(!l.,trl,
3

(P1)n, (P2)n, (P:)n

(Pili :

yang diamati pada stasiun-stasiun pencatatan

588 mnr

presipitasi rata-ratatahunanjangka panjang


yang diamati pada stasiun pencatatan l, 2
dan 3 yang lengkap.

presipitasi rata-rata tahunan jangka pendek

i=

yang lengkap

jumlah tahun pada jangka pendek


jumlah tahun dalam jangka panjang.

n:
d. Metode peta isohiet:

e.

Harga yang hilang dapat diinterpretasikan dari suatu peta isohiet.


Teknik korelasi:
Metode-metode statistik dapat digunakan di dalam menaksir data
yang hilang dari stasiun-stasiun yang berdekatan (Hashino, 1973).

3. Penyesuaian stosiun

Teknik kurva massa-rangkap (kurva somasi rangkap)


digunakan untuk menguji homogenitas dan konsistensi catatancatatan presipitasi dan menyesuaikannya terhadap perubahanperubahan (Schulz, 1973; Gray, 1973). Perubahan yang besar di
dalam tangkapan presipitasi dapat disebabkan karena perubahan-

ke titik lainnya yang


berdekatan, pergantian pengamat, penggunaan prosedur pengamatan
yang baru, perubahan dalam pemajanan (karena pertumbuhan
vegetasi, penanaman pohon-pohon atau pembangunan gedung), dan
perubahan seperti pemindahan stasiun

lain-lain. Ini dilakukan dengan membandingkan dengan stasiunstasiun yang berdekatan (setidak-tidaknya l0 yang dianjurkan).
Misalnya, perubahan kemiringan kurva menunjukkan perubahan di
dalam penakar. Karena itu, catatan-catatan stasiun E yang terdahulu
harus dikurangi dengan suatu faktor a/b, agar konsisten dengan
catatan-catatan yang terbaru. Jika kurva mengadakan perubahan ke
arah atas, faktor o/bharus dinaikkan.
Data limpasan, maupun data presipitasi sering kali diuji konsistensinya dengan teknik kurva massa-rangkap.

Kurva massa-rangkap juga digirnakan untuk pendekatan


kesalahan-kesalahan aritmetik dan topografik (Schulz, 1973).
Kesalahan tersebut tampak pada data dalam Gambar 3-168.

Dalam menggunakan teknik kurva massa-rangkap, dua butir


berikut harus juga dipertimbangkan, yaitu:
a. Data yang tercatat pada stasiun dasar mungkin juga mengandung
ketidak-ajegan. Disarankan untuk menggunakan uji-t pada tiap
tiap segmen (dengan berbagai kelerengan atau posisi sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 3-16) kurva massa ganda untuk menguji signifikansi ketidak-ajegan.
b. Perubahan-perubahan sepanjang kurva massa-rangkap harus

___--.-]l

65

64

sangat tegas dan hanya dapat diterima jika perubahan tersebut


berlanjut selama periode lebih dari 5 tahun (Chang dan Lee, 1974).
Harus diingat bahwa ketidak-ajegan dalam data dapat menjadi
ketidak-ajegsn sederhana dengan titik simpangan (deviasi) tunggal
dalam kurva massa-rangkap atau beberapa ketidok-aiegan ganda.
Agar seluruh catatan konsisten dengan seri-seri parsial terbaru, maka
teknik yang umum untuk menangani ketidak-ajegan ganda sedang

,r

.:d

dan Lee (1974). Metodenya,

rl

yang bergerak adalah:

P, + Pr+

..* P-

P2+ P3+

..* P,n+l

P3+ P4+ .. + P^+2


m

.r

'*

kurva massa yang


dijabarkan untuk stasiun
Waktu

Gambar 3-15. Penjabaran data presipitasi.

signifikansi patahan kelerengan.


4. Memperpanjang lamanya pencataton

Suatu trend merupakan suatu perubahan yang berangsurangsur (naik atau turun) dari suatu kejadian dengan waktu. Karena
adanya perubahan harian dan musiman pada iklim, maka seri waktu
presipitasi dapat menggambarkan komponen-komponen trend siklik
dan acak (Gambar 3-l7A). Untuk menghaluskan beberapa
keragaman acak dalam data presipitasi dan untuk menentukan trend
jangka panjang digunakan metode rota-rato yang bergerat. Untuk
suatu seri waktu presipitasi P1 (i = 1,2,3,..., N), rara-rata ra-tahun

!
o

yang dikomputerisasikan secara lengkap untuk membandingkan


kelerengan bertingkat dan analisis varians untuk menguji tingkat

Metode tahun-stasiun digunakan untuk memperpanjang


lamanya pencatatan pada suatu stasiun. Misalnya, jika 50 tahun pencatatan tersedia untuk 50 stasiun, dapatlah dianggap bahwa jumlah
tahun pencatatan pada semua stasiun (dalam hal ini 2500) adalah
setara dengan lama pencatatan pada suatu stasiun tunggal. Hal ini
dilakukan untuk mempunyai pencatatan untuk periode yang sangat
lama. Dua kriteria yang penting, yaitu: (l) pencatatan stasiun harus
bebas (hujan yang sama tidak harus meliput lebih dari satu stasiun)
dan (2) pencatatan harus diterima bahwa pada periode waktu yang
sangat lama (beribu-ribu tahun) stasiun akan mempunyai distribusi
frekuensi yang hampir sama (homogenitas iklim).
5. Trend

stasiun

yang
suatu
merupakan
metode
obyektif
mosso-rangkop
dinamakan onslisis

dikembangkan oleh Chang

kurva massa yang


tercatat untuk

te

IJ.]

=(!
d
(!

.&

pr

a,

I^

o
Presipitasi kumulatif

tahunan

(rata-rata penakar hujan sekitarnya)

Ip

pada stasiun dasar

Gambar 3-16. Analisis kurva massa-rangkap.

Pada Gambar 3-178., hal ini dilakukan dengan merata_ratakan


Iima tahun yang pertama (urutan yang umum diterima) dan memplotkan

pada titik tengah kelompok itu. Titik selanjutnya diperoleh dengan


merata-ratakan tahun-tahun yang ke-dua hingga ke_enam dan
memplotkan lagi rata-rata pada titik tengah kelompok ini. prosedur ini
diulang hingga semua tahun dimasukkan.

67

66

Urutan, m, dapat berupa sembarang harga. Tetapi jika harga diambil terlalu kecil, pengaruhnya kurang terasa dalam mengurangi keragaman acak yang ada dalam data historis asalnya. Harga-harga m yang
besar, sebaliknya, menyembunyikan komponen-komponen.

{r
A

Teknik rata-rata yang bergerak dapat juga dipergunakan pada


suhu, kecepatan angin, jam-jam penyinaran matahari, dan lain-lain.
Namun, adalah penting untuk memahami bahwa trend hanya dapat diuji
setelah pengamatan-pengamatan jangka panjang. Apa yang ditunjukkan
oleh kurva massa-rangkap juga merupakan suatu trend dan dinamakan
trend yong tampok.

garis arah (trend)

3.7 .3. Anqlisis jeluk- luas-lamo hujan


Waktu

Jika jumlah-jumlah hujan terbesar yang dapat jatuh di


EE

5H
EA

5
4

"

sg:J

.--

a5 2
.4
o

2
1

1922

pada berbagai bagian negeri dilakukan oleh Biro Cuaca Amerika

21

Serikat.

Analisis jeluk-luas-lama hujan dilakukan untuk menentukan


jumlah presipitasi terbesar untuk berbagai lama hujan pada berbagai
lokalitas (Chow, 1964). Dengan menyiapkan peta-peta isohiet untuk berbagai lama hujan (6, 12 jam dan lain-lain) pada berbagai lokalitas, jeluk
curah hujan yang berkaitan dengan berbagai lama hujan dan luas areal.
ditaksir dengan planimeter dari peta-peta isohiet ini. Hasilnya diplotkan
(Gambar 3-18) dan kurva yang meliputi untuk berbagai lama hujan juga

Gambar3-1?. Penentuan garis arah dengan rata-rata yang bergerak.

\
E

tr
.n

digambar.

SK

r50

rS

JI
o

\
lO loo

looo

atas

kawasan tertentu dalam suatu waktu diketahui, maka banyak risiko


yang terlibat dalam konstruksi rekayasa dapat dikurangi. Presipitasi
terbessr yqng mungkin terjadi (PMP) diperkirakan oleh para ahli
hidrometeorologi atas dasar kandungan air suatu atmosfer yang jenuh.
Peta-peta ]ang rrrenunjukkan presipitasi t"erbesar yang mungkin terjadi

42 jam
?A jam
12 sam

12

ia^

'6 jam.

IO,OOO lOO,OOo Area (km2)

Gambar3-lt. Kurva-kurva vang meliputi jeluk-luas-lama hujan (WMO' 1970)'

It

Data presipitasi maksimum jeluk-luas-lama hujan yang tercatat


untuk AS disajikan pada Tabel 3.7. Data lama hujan jeluk curoh hujantitik terbesar yang tercatat disajikan pada Tabel 3.8. Harga-harga yang
disajikan pada tabel ini mendekati presipitasi terbesar yang mungkin terjadi. Istilah terbesar yang mungkin menunjukkan batas fisik bagian atas
yang harganya tidak menentu. Data Tabel3.8, diplotkan pada skala loglog dengan R (jeluk dalam mm) terhadap D (lama hujan dalam jam)
ditanrtai dengan persamaan penduga:

.380 Do,5

s?

'
1

482
780

jam 10 menit
2 jam 45 menit
4 jam 30 menit
15 jam
18 jam
2l jam
24 jam

2.910
3.080
3.330
3.430
4.800
9.300
12.700
16.300
5 hari

8 hari

7 hari

6 hari

2 bulan

.+0.600

I bulan

25.900

6 bulan

tahun

20.400

23.000

5 bulan

2 tahun

22.400

4 bulan

3 bulan

8.700

2.790

hari
5 hari

,1

3 hari

2.080
2.530

1.2,+8

050
1.157

906

2hari

3l hari

Smethport, Pennsylvania. AS
Taishih. Taiwan
Taishih. Taiwan
Taishih. Taiwan
Taishih. Taiwan
Bowden Pen. Jamaica
Bowden Pen. Jamaica
Silver Hill Plantation, Jamaica

305

Cherrapunji.India

Cherrapunji, India
Cherrapunji, India
Cherrapunji, India
Cherrapunji, India
Chcrrapunji, India
Chcrrapunji, India
Cherrapunji, India
Cherrapunji, India
Chcrrapunji. India
Chcrrapunji. India
Cherrapunji, India
Cherrapunji, India

Silrcr Hill Plantation. Jamaica

Rockport, Virginia Barat, AS


D'Hanis, Texas. AS

206
42 menit

Plumb Point. Jamaica


Curtea de Arges, Rumania
Holt. Missouri, AS
198

558

Fr-issen, Bavaria

Unionville, Maryland. AS

3l

12(t

Lokasi

5l

":"f ": ;

.5

:, ; i'-

1-i

-*usp.*sl
_o,o,_"--l *

"H

--

o\

tl

.l

19.17

I 889

uli I 889

Juni

Juli

I September

1963

1963

-Juli ltil6

1931

1860-

t8t6

April - Juli l8l6


April - Agustus 1861
April - Septembcr l86l
Januari - November lti6l
Agustus 1860 - Juli l86l

Mei - Juli l8l6

Juni

Juli l86l

Juli

Juni - I Juli l93l


24 Juni - 8

2.1

24 - 30 .Iuni I 931

Jantari 1960
22 - 21 Janmri 1960
22 - 25 Jantari 1960
5-9November1909
-5 - l0 November I 909
22 - 23

September 1963
10- 11 September 1963
11

I September

l0-

.l

3l Mei 1935
l8Juli 1942

22

N{ci 1956

1920
12

1956

Juli

2i \Iei

Ta nqqal

l!
!i
!,

FI

ID

!r

A'

":;*:-i"YSXS":"j[ -i

-I. G

\O

--Nt'JN)(r(,(.)('
aau-J5o,baO-t'r-J
-@'(, -'o -to'o'

Un{rLhOO
O\\OO\--J

menit
15 menit
20 menit

Jeluk (mm)

r-,r

-l
"st-ro-o.\l

!,

-----l

l-

IN

le r

--r.J----l
":":uxt":El

":"1 x -! -:

Li iJJ \O

(r(^-JO

HtJ.E(rOoH
-I(^O-tHhJ

I menit

Lama hujan

a-l

EEEEEEEHH ool

88ts5-*:-

Tabel 3.8. Curah-curah hujan titik di dunia yang terbesar yang terarnati (WMO. 1970)

Igaas i
eEgBgEgiqg**EEIg} i
;EEaiaEgEagE*caiE

EEASB*IEEEIEI?EEE
sqEEa.-eEigaf

aEEE1?EtEai*a1;E*E E

srs':e=uE1EaIEBEE

EiEia*EiEgTEgBgEaIa

r*.-.l!fr:fr*

o=

:E

=6

te6

o.3
ts

a=
E;

t'lo
of,
Er.

to=

Ets'

='?
0e:
rB

=E
D-.
MY
ID=

?E

EJ
0Qt

==

F=
E'O

F@
to E''
A-

\o 3ts

{ >tr
6E

rl

\o

o\

oo

o\

7t

'70

harga yang khusus' Hasilnya


atu jeluk yang sama atau melebihi
jeluk-lama huian-frekuensi (Cambar
diplotkan dalam Utni'tt kurva
3-

,l

l9).

3.8.2. A n o t is is

te

ns

i tss- I o ma hui o n-f re kue

ns

'lr

Kurva-kurvaintensitas-lamahujan-frekuensidapatdiplotkan
demi titik (Camintensitas rata'raLa (i = d/0 titik

=^

dengan menentukan
hujan-frekuensi' Kedua tipe kurva
bar 3-19) dari kurva-k"t'":tf't-fuma
dapat diplotkan pada skala logaritma
rersebut (Gambar : is 0", 3-20)
dengan porsi-porsi

yang lebih halus


juga disajikan dalam benhujan-frekuensi
garis lurus. Uata letut<-tama
untuk berbagai periode ulang
tuk peta. Peta-peta yang terpisah.dibuat rumus intensitas-lama hujan(Gambar 3-12). Demik[n ;"gu' banyak
(Meinzer, 1942) dengan menggunakan
frekuensi empiris dikembangkan
hujan-frekuensi'
plot-plot logarithmik k"uu-"ftut'u intensitas-lama

untuk mendapatkan

tut*-tut'u

20

4t

60

80

Lama hujan
(menit)

100

3'8'l)

yang tidak Penting'

Lama hujan (mentt.1


Gamtrar 3-20. Kurva intensitaslama hujan dan frekuensi.

dan frekuensi.

Dn.rxp

r,

rs2

APo

bahwa untuk kawasan

E\o

nyata dari curah hujan


yang luas jetut .u'ut' nt:"rr rata-rati berbeda
jeluk,
lT.u h_ujanldan intertirik. untuk ,uutu .uruh hujan titik dengan

bahwa pengurangan
val ulang tertentu, Gambar 3-22 menunjukkanjeluk rata-rata untuk
taksiran
harus dilakukan untuk mendapatkan
suatu hujan tertentu yang
untuk
yang
diinginkan
setiap luas kawasan
yang
sama' Tipe-tipe kurva
ulang
mempunyai turnu h'iun ian i"-tervat
yang tetap' Kurva
presipitasi
jlljngu:
ini, kurva trrus-j.r,rr.lipetottn auti
oleh Biro cuaca AS
pada Gamb ar 3-22;;:;;;ffiu"Jitti'uungkan
yang
kawasan dari 260 hingga 1040 km2
dari jaringan yang
dan
sungai Mississippi di AS (lturbe
sebagian terretak ai,.u.rrr.timur
Kurva-kurva
"^"U0"
luas-ieluk'
kurvo
Mejia, l97a). Mereka iittenat sebagai
kawasan (dengan curah hujan
tersebut .n.runjut tun untuft berbagai
antara rata-rata jeluk
yang dirata-.u,utuni dan lama hujan' nisbah
rata-(atacurah hujan titik tahunan
kawasan tahunan maksimum dengan
sebagai suatu parameter
maksimum. periode utang hujan dipandang

trtr

Gambar 3-19. Kurva jeluk-lama hujan

Hujan Titik dengan Curoh Hujan Kawusan


3.8.3. Tronsformosi Curqh
Telah dikemukakan (lihat paragraf

E:
oE

r'o

E'

se-

lama 5 tahun (cm-suatu


contoh fiktif).

l)

(rur)

200 QJA r?0 8I2

I/T

tl .E

0o

ia0

Gambar 3-21. Curah hujan 30 menlt

520 3]?

-r
- l'lsu a-lsu
I

-l

5(-ilsu
I

Gambar 3.22. Kurva luas-jeluk


Amerika Serikat.

'Iabel3.9. Kehilangan ptersepsi terukur dari curah hqian (Eagleson'

19711)

Tipe vegetasi
Uraian

Pinus Ponderosa

Curah hujan total (in)


Throughfall (in)
Aliran batang (in)
Kehilangan intersepsi

3,19 (10090)
2,16 ( E6t/o)
490)
0,12

(in)

0,32

10Vo)

I
|

Chaparral 1
hijau) I

Chaparral

(selalu

(gugur daun)

3,35 (10090)
2,69 ( 89qo)
9qo)
0,28

3,14 (10090)

0,38

ll9o)

( 6090)
l,l7 ( 379o)

1,87

0,10

390)

t000

73

72

Contoh

Dari gambar 3-19, diperoleh hujan titik 30 menit selama l0 tahun


(misalnya untuk kawasan tertentu di AS) sebesar 30 mm. Untuk menentukan jeluk rata-rata dari hujan l0 tahun 30 menit ini di atas kawasan
250 km2, diperlukan kurva luas jeluk AS. Hal ini disajikan pada Gambar
3.22.Karenaitu, curah hujan l0 tahun 30 menit di atas kawasan 25Okmz
mempunyai jeluk rata-rata:
6 = (0,61) (30) = 18,3 mm
Metodologi Roche yang secara teoretis baik namun merupakan
suatu sistem yang sangat rumit, menentukan faktor reduksi (juga bebas
dari periode ulang), yang diperlukan untuk menduga jeluk curah hujan
rata-rata di atas suatu kawasan dari suatu curah hujan titik tertentu,
pada berbagai tingkat peluang.

Iturbe dan Mejia (1974) mengembangkan metodologi lain yang


bersifat umum untuk transformasi cufah hujan titik menjadi hujan
kawasan. Faktor reduksinya tergantung pada koefisien antara curah hujan titik pada dua titik yang dipilih secara acak di kawasan yang bersangkutan. Jarak korelasi kurakteristik (yang memberi batasan jarak antara dua titik acak ini) ditaksir dan faktor koreksi (atau faktor redulgsi)
dihitung dengan menggunakan fungsi-fungsi eksponensial dan Bessel.
3.9. INTERSEPSI

Penakar-penakar presipitasi biasanya ditempatkan pada tempat


terbuka dan dengan demikian tidak mengukur presipitasi yang sampai di
tanah di bawah suatu tajuk vegetasi. Bagian presipitasi yang tetap pada
permukaan vegetasi disebut intersepsi. Sebagian air yang diintersepsi ini
(Gray, 1973) menguap dan sebagian mencapai tanah secara langsung.
Bagian tersebut dikenar sebagai oir tembus (throughfoll).
Evaluasi lapangan bagian intersepsi yang dievaporasikan, dinamakan kehilongan intersepsi, dilakukan dengan menentukan pcrbe
daah antara tangkapan presipitasi penakar di bawah dan di dekat
penutup vegetasi (Seyhan, 1977b). Namun, ini mengabaikan aliran
batong yaitu bagian presipitasi yang mencapai tanah dengan mengalir ke

bawah melalui batang. Hal ini juga mencakup perbedaan-perbedaan


lingkungan (Eagleson, 1970). Suatu kesimpulan umum yang baik tidak

dapat diambil atas dasar pengukuran intersepsi yang ada. perbedaan ini
beragam dengan komposisi spesies, umur tanaman, kerapatan tegakan,
musim dalam setahun dengan keragaman dalam intensitas presipitasi.
Beberapa angka disajikan pada Tabel 3-9. Kehilangan intersepsi untuk
salju yang jatuh dapat beragam antara 5 dan 45go per kerapatan vegetasi
yang sesuai sebesar l0 hingga 10090.

75

berada pada atmosfer basah dan tidak terlalu panas. Ini adalah sama
bagi semua tanaman pada tanah tertentu (Eagleson, 1970). Semua lengas
tanah yang melebihi titik layu permanen disebut lengos runsh tersedia.

tr

4. INFILTRASI
4.1. PENDAHULUAN
pada permukaan bumi akhirnya, jika permukaannya tidak kedap air, dapat bergerak ke dalam tanah dengan gaya
gerak gravitasi dan kopiler dalam suatu aliran yang disebut infiltasi.
Konsep infiltrasi ini relatif baru, namun banyak kemajuan di dalam
pengertian dan penentuannya telah dicapai pada tahun-tahun terakhir
ini. Para ahli agronomi menyebut jeluk maksimum air yang dapat
dikembalikan ke permukaan baik oleh tanomon maupun oleh
kapiloritos, sebaga.i tanah. Ini merupakan mintakat di mana pertama
kali presipitasi masuk. Pada mintakat ini (disebtt mintskat tanuh atau
mintakat air tanoh) air bergerak secara vertikall baik dengan cara
evapotronspirasi (Bab 5) ke permukaan maupun dengan cara perkolosi
yang menurun (pergerakan menurun lengas tanah dari mintakat air
ta.nah tak jenuh ke mintakat jenuh menuju muka air tanah). Karena
poreus (memiliki rongga-rongga yang dapat diisi dengan udara atau,/dan
cairan) maka tanah mempunyai kapasitas untuk menyimpan air. Air ini
disebut lengas tanoh. Bagian lengas tanah yang tidak dapat dipindahkan

Air cair yang diterima

dari tanah oleh cara-cara alami (dengan osmosis, gravitasi atau

kapilaritas) disebut ada dalam simpanan permonen. Kapasitas simpanan


permanen suatu tanah diukur dengan kandungan air tanahnya pada titik
layu permanel, vegetasinya. Titik layu ini (kandungan air anah terendah
di mana tanaman dapat mengekstrak air dari ruang pori tanah terhadap
gaya gravitasi) ditentukan untuk suatu tanah bila bagian atas tanaman

l.

Gerakan air dalam arah horizontal dalam mintakat tak-jenuh dibicarakan secara terpisah dalam kuliah lain (Hidrologi Proses).

Air perkolasi yang sampai di bawah jangkauan akar tanaman


memasuki suatu mintakat peralihan di mana kapilaritas dan osmosis
tidak begitu penting. Pada mintakat ini air ditahan sebagai simpanan
berupa selaput pada partikel tanah individual dengan gaya permukaan
(ini disebut air pelikuler atau berperkolasi ke bawah karena gaya
gravitasi (oir grovitosr). Pada mintakat kapiler (atau mintakat rumbai
kapiler), sebagian air berperkolasi ke bawah ke muka air tanah dan
sebagian dari air itu ditahan melawan gaya gravitasi dengan cara kerja
kapiler.

Seperti ditunjukkan dengan penampang yang disajikan pada


Gambar 4-1, lengas tanah dapat berada dalam kondisi-kondisi yang
berbeda pada bagian-bagian DAS yang berbeda-beda. Karena itu, lengas
tqnahbiasa dianggap mencakup semua air pada mintqkot aerosi. Dengan
sedikit modifikasi (Ward, 1967), neraca sederhana air dalam tanah dapat
dituliskan sebagai berikut:

AS:f+c-d-E"+Aw
di mana:

:
f :
c :
A
=
Ea :
Aw :
AS

laju perubahan kandungan lengas tanah


laju infiltrasi ke dalam mintakat air dalam tanah
laju kenaikan kapiler dari mintakat jenuh
laju drainase ke dalam mintakat penjenuhan
laju evapotranspirasi aktual
laju perubahan uap air yang berpindah melalui penampang tanah terutama karena gradien suhu (Ward,
1967).

Kapositas lopangan suatu tanah adalah jumlah maksimum yang


dapat disimpan dalam tanah pada mintakat tak jenuh melawan gaya
gravitasi. Di negeri Belanda kapasitas lapangan dipandang sebagai kandungan air yang setara dengan daya hisap pF : 2.
Laju infiltrasi sktuol (fu) adalah laju air berpenetarasi ke per_
mukaan tanah pada setiap waktu dengan gaya-Eaya kombinasi gravitasi,
viskositas dan kapilaritas. Laju maksimum presipitasi dapat diserap oleh
tanah pada kondisi tertentu disebut kapasitas infiltrosi, f.. Untuk suatu
intensitas curah hujan, i,

77

76

jika i ( f. maka f". ( f.


jika i..) f" maka fr" ( f"
---:-t.^.:--t"i'Jr, ,)F

;a^..+I

^ mintakrr

..
s:l - :-;;;;;;;--- ft
.- .-l-'.
:oangravltasl
_- IminlakalinrcrmcJi\'l
-9 I *l
I
-.---::--.:-----a
E:fl
air lapiler
Tmrntalirl kapiler
E:-+
q

I:t
EE

i9[

A = rnintakat lengas tanah mintakat


B = mintakat peralihan
acrasi
C : crintakar kapiler
(nintakat
D = minralar kcjenullan.
tak jcnuh)

air tanah

jl---_j-:-=_:-_&mukaairtumi
I i"pir",

kedap air

Pada paragraf 4.4 dan4.5, keragaman waktu dan ruang kapasitas


infiltrasi dijelaskan secara lebih terperinci. lnfiltrasi hanya akan terjadi
setelah semua depresi permukaan yang kecil terpenuhi. Demikian juga,
perkolaii hanya akan terjadi bila mintakat tak-jenuh telah mencapai
kapasitas lapangannya. Sama halnya dengan terminologi infiltrasi,
istilah laju perkolasi aktual dan kopasitos perkolasi digunakan.
Kapasitas perkolasi adalah suatu parameter yang penting bila infiltrasi
buatan diperlukan (suatu teknik yang terkenal di negeri Belanda).

ffilrnisrrr kedan air


4.2. LENGAC TANAH
4.2.1. Konsep umum lengos tanah
Gambar 4-1. Klasifikasi air di bawah permukaan.

Jika gravitasi merupakan satu-satunya gaya yang menyebabkan


gerakan vertikal air dalam tanah, tanah akan mengalirkan air sama
sekali kering setelah hujan. Kenyataan bahwa tanah selalu mengandung
banyak lengas menunjukkan bahwa Eaya-gaya yang memegang lengas
dalam tanah harus dikenakan sampai pada tingkat tertentu (Ward,
1967). Fenomena retensi lengos tanoh sama sekali belum dimengerti.

Gaya-gaya utama yang menyebabkan terikatnya air dalam tanah adalah:


a. adsorpsi (molekul air ditarik dan beradhesl pada permukaan partikel

tanah secara kuat)

b. gaya osmotik (karena bahan kimiawi terlarut, seperti garam, maka


gaya yang memegang air dalam tanah ditingkatkan dengan jumlah

:.. . .' .'.Y

-.:.;.-:

Kapasitas pcrkolasi rcndah

yang sama dengan tekanan osmotik larutan tanah), dan

'

.:.

:..=:::..:

..

j l:

Kapasitas perkolasi tinggi


Kapasitas perkolasi rendah

Gambar 4-2. Kapasitas-kapasitas infiltrasi dan perkolasi.

( = tegangan muka : molekul permukaan air yang


ditarik terutama oleh molekul di dalam air (adhesi; juga kohesi terjadi) dan selaput air dalam tanah dengan demikian dipegang di
lapangan/in si/n oleh gaya tegangan muka). Gaya kapiler tergantung
pada ukuran rongga, dan gaya permukaan, pada jumlah dan sifat
permukaan partikel-partikel tanah.
Ciri fisis tanah yang penting adalah porositas-nya, Porositas
didefinisikan sebagai nisbah volume rongga (Vr) dengan volume total
tanah (lihat I ampiran C),'yaitu,

c. goys kopiler

78

,: ,*[{atauv: ,*[,-+]
di mana:

v=

vv =
V:

prt :

porositas (juga disebut nisbah rongga) dalam 9o


volume ruang rongga (cm3)
volume total contoh tanah tertentu (cm3)
berat isi contoh tanah = kerapatan contoh tanah kering
(gmlcm3)

ubahnya proporsi

: volume Padatan (cm3)


= berat padatan = berat contoh tanah kering tanur (gm)
rs : kerapatan butiran tanah = berat jenis bahan padat
Vs
W.

(gm,/cm3)

air dan udara dalam

ronggo-rongga atau dari

perubahan rongga.
Kandungan air tanah didefinisikan dalam 3 cara:
l. Kandungan air atas dasar berat basah ( = 6*;

0* = WT*

Ws

di mana:

0* :
Wr=
W, =

w, -trk
V
Vr+Vu

---

pA

79

kandungan air atas dasar berat basah (go)


berat contoh tanah lembab (90) : (WT/W,)100
berat contoh kering oven (go)
W,eo = twr/WD

l00go

tOO

2. Kandungan air

atas dasar berat kering tanur (: 0J:


Kandungan ini merupakan persentase air yang terdapat pada

contoh tanah kering tanur.

gd: w:_x roo=[rft]r_

ws
/5=

vs
-

Untuk penentuan kerapoton isi, volume contoh harus diketahui.


lni dapat diperoleh dengan metode inti di mana pengambil contoh tanah
yang terbuat dari logam dilindris dengan volume yang diketahui ditekan
ke dalam tanah dan dengan hati-hati diambil untuk menjaga agar
volume tanah sama dengan volume pengambil contoh silindris. Dengan
menggunakan metode lumpur massa tanah mulai-mula dilapisi dengan
bahan tanah air (seperti parafin). Kemudian, ditimbang baik dalam
udara maupun sambil dicelupkan dalam cairan yang diketahui
kerapatannya. Metode penggalion menentukan volume contoh dengan
secara tidak langsung menentukan volume lubang tempat pengambilan
contoh tanah. Hal ini dicapai misalnya dengan menyisipkan balon ke
dalam lubang dan dengan mengisinya dengan air hingga lubang penggalian. Selanjutnya, volume air sama dengan volume tanah. Kerapatan
isi juga ditentukan dengan metode-metode radiosi.
Perubahan kondungan sir tqnah secara nyata mengubah sifat-sifat
tanah seperti keteguhan, kompresibilitas, plastisitas dan konduktivitas
hidrolik. Volume kebanyakan tanah juga berubah dengan berubahnya
kandungan air (Yong, 1975). Perubahan air tanah disebabkan oleh ber-

Contoh tanah yang lembab ditimbang (W1), dikeringkan pada


suhu l03oC hingga tl0oC, didinginkan dan ditimbang lagi (W) un_

tuk

menentukan berat

air yang hilang (W.,

= W, - W).

Ini

merupakan metode baku, tetapi memerlukan banyak waktu (a_fO


jam pengeringan) dan hanya volume kecil tanah (50 cm3; yang diam_
bil contohnya. Ini penting hanyajika dalam suatu daerah harus diambil contoh yang banyak. Untuk terminologi yang terinci lihat lam-

piran C.

3. Kandungan air atas dasar volume (0 : kandungan air volumetrik).


Ini merupakan volume air per volume tanah lembab.
vw

e:
vs
di mana:
vw
vs

vv
pd

*V,

atau:

i19
100 (p,r)

volume air (cm3)


volume padatan (cm3)
volume rongga (cm3)

ws

Vr+Vu

Kerapatan

isi tanah : berat tanah di(V : Vs + Vv)

bagi dengan volume total


tanah (gmlcm3)

8l

80

Pw

kerapatan air (gmlcm3).

Kandungan air atas dasar volume, misalnya 3590, berarti 35 mm air


dalam 100 mm kolom tanah, atau 35 cm air per meter jeluk tanah.
Jika misalnya tanah ini hanya 40 cm dalamnya, maka kandungan
tanah hanya (350 mm/m) (0,4 m) : 140 mm.
4.2.2. Potensiol sir tanah

Energi yang mengikat air dalam tanah (dengan 3 tipe Baya yan9
disebutkan pada paragraf 4.2.1.) pada setiap kandungan air dicirikan
sebagai potensial air lanah. Potensial air tanah (atau potensial lengas;
terutama dibagi menjadi komponen potensial kapiler (atau potensial
matriks) dan potensial gravitasi. Namun, terdapat potensiol komponen
lainnya (Yong, 1975) yang berperanan pada potensial total tanah. Potensial komponen dapat dituliskan sebagai berikut:
Arp

di mana:

A,,un,

Lat =
=
A?e
AWn =
Arpp
Aq.,a =
Ar1lm

Aqrc

potensial
potensial
potensial
potensial
potensial
potensial

Ar/n

Aryp

Aqra

+ ......

air tanah total (atau potensial lengas)


matrik (atau kapiler)
gravitasi

penggunaan logaritma potensial air tanah, pF, yang dinyatakan dalam


cm air. pF = 2 dan pF = 4,2 masing-masing secara berturut-turut sesuai
dengan kandungan air tanah pada keadaan kapasitas lapangan dan titik
kelayuan,

Banyak istilah telah dipergunakan untuk memberi batasan energi


yang mengikat air dalam tanah. Istilah tegangan air-tanoh dan isopan

tonah digunakan untuk memberikan batasan secara berturut-turut


bahwa air tanah berada dalam keseimbangan dengan tekanan yang
kurang dari atmosfir (Gambar 4-14) dan tanah memberikan tekanan
terhadap air. Potensial lengas dan tegangan lengas secara kuantitatif
dihubungkan sebagai berikut:
Tegangan lengas (dalam cm

air) = -(l/ g) potensial air (dalam erg/ gm)

Keduanya juga dapat dinyatakan dalam satuan tekanan (bar) atau


energi (joule/kg\. Penyesuaian pemakaian yang dibakukan akan
menghindarkan pengertian yang membingungkan. Dalam hal ini akan
digunakan istilah potensial pada perlakuan-perlakuan teoretis air tanah,
dan isapon dalam pemakaian praktis. Harga-harga isapan tanah adalah
positiJ dan harga-harga potensial adalah negatif, namun keduanya
secara numerik adalah sama. Berbagai satuan dipergunakan untuk
mengukur potensial air tanah, Faktor-faktor konversinya adalah sebagai

herikut:

osmotik
piezometrik
angin atau tekanan.

Potensial dinyatakan sebagai perbedaan-perbedaan (A) terhadap


titik sembarang yang ditetapkan sebagai berpotensial nol. Misalnya, permukaan air bebas, mempunyai potensial nol (Gambar 4-14). Buckingham (1907) mengusahakan penggunaan konsep energi, atau konsep

Tekanon

Energi

bar = 0,99 atm

bar

106 dyne/cm2

atm=l,0l3xlO

dyne/cmz

milibar

106

erg/gm

ld

joule/kg

Tinggi kolom air


1.022 cm

t.022
1.035 cm
1,022 cm

potensial air-tanah, dalam penelitian gerakan lengas tanah dan


menyarankan penggunaan istilah potensiol kopiler untuk menunjukkan
daya tarik tanah akan air. Istilah kopiler ini menyesatkan karena seperti
ditunjukkan di atas, hanyalah pengaruh gabungan semua potensial komponen yang menyebabkan retensi qir dalam tqnoh dan bukan hanya
potensial kapiler sebagaimana dipikirkan oleh Buckingham. Oleh
karenanya, kita harus menyebut potensial air tanah total bila menyebut
energi yang mengikat air di dalam tanah. Schofield (1935) mengusulkan

4.2.3. Kurva tegongan

Kurva-kurva yang menjelaskan hubungan antara potensial airtanah, pF, dan kandungan lengas tanah (atau kandungan+air tanah;
dikenal sebagai kurvo tegangan. pada Gambar-gambar 4-3 hingga 4-5
ditunjukkan kurva tegangan untuk tanah-tanah dengan ukuran pirtikel
yang berbeda. Kurva-kurva ini menunjukkan kenyataan bahwa:
l. Potensial air-tanah merurun dengan meningkatnya kandungan air

83

82

d7
o

,i0

3.

A]

60

Eso

f) 'l

(40
6i

30
(!
v

o0

o.0l 0.1 I

l0

100

Hisapan tanah (bar) -

rP

Gambar 4-4. Pengaruh perbaikan kembali retensi air suatu tanah

tak dapat menghisap air dari tanah pada pF yang lebih besar daripada
sekitar 4,2. Ini berarti bahwa 2090 terakhir air pada tanah lempung
berliat tidak tersedia bagi tanaman. Kenyataan bahwa laju perubahan

i
;

kemiringan sangat nyata

liat (Young, 1975).

t0

20 30 40

Gambar 4-3.

Kurva retensi-air

yang

mewakili (Young, 1975).

o
o

Y-

o
,o
E\

50

({

d
d
L50

(d40

(!

-30

s
420

(6
o0

14

(d

lo

t4
0

0.00t 0.01

0,

50

100

Kandungan liat (90)

l0

rrrsapan ranan loar) -

rp

lebih halus, kisaran ukuran pori lebih besar dan terdapat pori-pori
kecil dengan proporsi yang lebih besar yang mengikat air dengan
isapan yang sangat rendah (Ward, 1967).
Tanah liat utuh mempunyai lebih banyak rongga di dalamnya, dibandingkan bila tanah dibentuk kembali yang akan menyebabkan rongga
tersebut rusak. Dengan demikian tanah menahan lebih banyak air
bila dibentuk kembali (Gambar 4-4).
5. Konsolidasi (Gambar 4-5) menyebabkan volume rongga yang besar
akan menurun dan rongga yang kecil akan naik. Karena itu, tanah
yang dimampatkan akan menahan lebih banyak air pada isapan yang
tinggi, namun berkurang pada isapan yang rendah.
6. Pada campuran liat-pasir, kandungan air pada potensial tertentu
akan naik bila kandungan liat naik di atas proporsi minimum (2090
pada Gambar 4-6).
Beberapa harga kandungan air tanah pada nilai-nilai pF yang
berbeda disajikan pada Tabel 4.1. pF diberi batasan sebagai berikut
(lihat juga Gambar 4-14):
,1,

d t00

660

Gambar4-6. Kandungan air, rp (bar)


dan hubungan campurGambar4-5. Pengaruh pemadatan terhadap kurva
an
liat-pasir (Young,
tanah
(Young,
Agregat
1975).
retensi-air
1975).
pada
liat dipadatkan pada (1) 50 p.s.i. dan
(2) 100 p.s'i. Pasir berdebu pada kerapatan Yang rendah (3) dan tinggi (4)'

di antara pF 1,8 dan pF 3,0 mungkin

mencerminkan kenyataan bahwa pada tanah yang bertekstur lebih


kasar (pasir pada Gambar 4-3) banyak air yang diikat pada pori yang
cukup besar pada isapan yang sangat rendah, sedangkan sangat
sedikit pada pori-pori yang kecil. Pada tanah berliat yang bertekstur

50

Kandungan air tanah (go volume) -

(makin banyak air tanah, makin berkurang energi yang diperlukan


untuk memegang air dalam tanah).
Isapan meningkat jika ukuran pori yang mengikat air berkurang.
Loju perubahon kemiringan maksimum, yang menunjukkan ukuran
rongga dominan yang mengikat air (pasir pada Gambar 4-3), terjadi
pada potensial yang lebih rendah bila ukuran partikel menurun. Lempung berliat mempunyai suatu kurva yang dangkal pada bagian
atasnya (di atas pF : 2,0), yang menggambarkan kenyataan bahwa
liat kehilangan air secara lebih berangsur-angsur dibandingkan pasir,
yang tentunya berarti bahwa lempung berliat mengikat lebih banyak
air daripada 2 tanah lainnya di sepanjang kisaran grafik. Tanaman

pF: log(h),dimanah:

tekanan isapan (tegangan lengas tanah)


dalam cm air.

85

84

Jika bentuk kurva retensi, seperti pada Gambar 4-3, dikaji, adalah
mungkin untuk menjabarkan suatu hubungan matematis antara hargaharga pF dan kandungan air tanah. Fonck, yang mengkaji kurva pF

yang berbeda yang diperoleh pada tanah di negeri

l\,r
I

a,B dan

I :
n

konstanta yang ditentukan dari harga-harga pF

rt-0.3@;12-0.05@
Gambar 4-7. Histeresis liat berdebu

lPr

Pengeringan

I
di mana:

memperkirakan persamaan empiris sebagai berikut:


n

lPz

Belanda,

pF=a+(B)lnt( o)r-tl

Pembahasan pengeringan

Gambar4-t, Konsep histaresis


(pengaruh botol-tinta).

tertentu
kandungan air tanah volumetrik
porositas.

Tabel4'1. conroh'contoh kandungrn air (go vorume) yang direnlukan pads tapisan.
lapisan tanah pada jeruk

0-50

dan

s0-90

da)

cm (Leerinbeekgebied, negeri Beran-

4.2.4. Histeresis
0,4

Salah satu pembatasan utama penggunaan kurva rentensi adalah


yapg berkenaan dengan fenomena histeresis. Untuk suatu isapan tertentu, kandungan air tanah beragam pada apakah itu dibasahi atau dikeringkan (Gambar-gambar 4-5 dan 4-7). Histeresis akan menjadi terbesar
pada kasus tanah yang mengering. Histeresis disebabkan oleh kenyataan
bahwa banyak pori (dalam Haines, 1930) memptnyai leher yang agak
sempit atau hubungan dengan porr-pori cli dekarnya. Bila tanah mengering, pori-pori tersebut tidak dapat kosong sampai dicapai suatu isapan
yang tinggi. Bila tanah sedang dibasahi, pori ini tidak akan terisi hingga
isapan menurun ke tingkat yang jauh lebih rendah yang dihubungkan
dengan diameternya yang terbesar, di titik mana pori akan terisi dengan
sangat cepat. Misalnya, untuk ruang pori yang ditunjukkan pada Gambar 4-8, P2 harus lebih besar dari 30 cm untuk mengering, dan P, harus
lebih kecil dari 5 cm untuk pembasahan sempurna (Young, l9?5).

Histeresis dapat

juga dikarenakan (seperti pada kebanyakan liat)

pengeruton dan pengembangan yang terjadi sebagai akibat berubahnya


kandungan air tanah (Ward, 1967), dan karena udara yang terperangkap
(Drainage Principles, 1974).

Lahan yang

--l---

Lahan rumput
Lahan kaya

43,5
40,8
38.6

|
|
|

2,0

2,3

4.2

34,3

19,4

t5,'l

14,6

10,5

25,6

2l,3

6,0

32,0

12,5

13,0
1 3,0

5,6
6,2

3,3

33,0

8,8

8,9

3,0

3,0

-so lso-qo 0-50 50-90 0-s0

1.7

50-90 )-50 5G-90

Kandungan air tanah (90 volume)

(r

'

24

!
q

36

ro

t5 o

to

15

Gambar 4-9. Keragaman dalam kandungan airtanah


dengan jeluk selama infiltrasi (Ward.

l96l).

{
87

86
q

(!

4.2.5. Penampong je.luk lengas tanah

o0

Bila infiltrasi berloniut /erus (selama hujan yang lebat),

60
il o.

kandungan

air

E
o

l', 'l

I
I

mintakat

kapiler

t
i

'

t6

i
il

Grmbar4-10. Penampang jeluk-air tanah setelah berhentinya infiltrasi.


I
I

(,
q,

lr

3
4

(t

d
E
C,

o0
0o

0+l+2+3+A
Tanah DeneKsturxasar

-l

+l

+z

+l

+4

Tanah bertekstur

Grmbrr 611. Gerakan kapiler dihubungkan dengan pF dan muka air tanah 1Wind, 196l)'

per-

mukaan yang langsung akan menjadi jenuh, dan akan terjadi penurunan
kandungan air dengan jeluk tanah. Pada kondisi dengan infiltrasi yang
terus berlanjut, perkolasi akan terjadi. Pada Gambar 4-9 ditunjukkan
perubahan penampang jeluk lengas tanah selama berlanjutnya infiltrasi.
Bertambah luasnya bagian yang gelap (diberi titik-titik)' menunjukkan
meningkatnya kandungan air tanah di atas harga-harga kandungan air
tanah awal pada jam 0. Garis terputus-putus menunjukkan kejenuhan
yang sempurna. l59o adalah kandungan air tanah pada lapisan tanah
atas pada keadaan kejenuhan sempurna.
Pada Gambar 4-8, digambarkan keragaman penampang jeluk
lengas tanah setelah berhentinya infiltrasi. Pada waktu nol (td hujan
mulai dan berlanjut hingga t1. Selama selang waktu ini infiltrasi terjadi

dan kandungan air suatu lapisan tanah atas naik di atas kapasitas
lapangan. Karena air ini tak dapat disimpan terus, maka air akan
bergerak menurun menuju muka air tanah. Dari waktu hujan berhenti
(t1), gerakan menurun air digambarkan pada waktu yang berbeda (t,
hingga t9) Rada Gambar 4-10. Gerakan ini berlangsung beberapa jam.
Pada waktu tu, kandun8an air tanah pada semua jeluk adalah sama
dengan kapasitas lapangan dan muka air tanah (dengan mintakat
kapiler) telah meningkat ke aras yang lebih tinggi. Waktu ini (td tergantung pada tipe tanah dan jeluk muka air tanah, dan dapat beragam antara beberapa jam hingga beberapa hari. Selama selang waktu t6 hingga
t9, penampang air tanah kembali lagi ke bentuk asalnya' Perhatikan
bahwa kandungan air tanah suatu mintakat jenuh (air tanah) adalah
sama dengan porositosnya (yaitu nisbah volume rongga dengan volume
kotor unsur tanah; n : 0,10-0,30 untuk pasir dan n = 0,03-0,05 untuk liat), karena semua rongga terisi dengan air.
4.2.6. Gerakon noik lengos tonah-gerakan kapiler
Penelitian-penelitian terdahulu mengenai gerakan naik tanah
sangat terbatas karena perhatian besar ditujukan pada pembasahan
tanah dari bowah melalui saluran-saluran kapiler. Lagi pula, tanah
disederhanakan sebagai suatu ikatan tobung kopiler di mana tinggi
kenaikan dihitung dengan persamaan yang terkenal (Young, 1975),
yaitu:

,l
I

88

89

Bila kesetimbangan telah tercapai, maka air berhenti pada aras h


dan, T (cos a) 2tr : p;nr2hg, yang dapat dituliskan sebagai:

2T (cos a)

h:

rpwB

,h=

2T (cos a)
rP wg

Persamaan ini didapatkan dengan menganggap

di mana:

T, :
w*:

Tr : W*

gaYa yang mengangkat


gaYa gravitasi yang menurun.

Gaya yang mengangkat merupakan komponen vertikal, T1, dari


gaya tegangan permukaan air, T, yang bekerja pada dinding bagian
dalam tabung dengan panjang 2nr. Dengan menganggap a sudut kontak
antara air dan dinding tabung, maka:

Tl :

Karena untuk sebagian besar tanah (Drainage Principles, 1974)


sudut kontak akan cenderung menuju nol (cos a : cos o : l), orang
dapat menyederhanakan rumus ini dengan menganggapp* = I danT :
72,75 dyne/cm untuk suhu 20oC, sehingga:

h:

1r

#!qgh>:'
fl , :' I

[T (cos a)] 2nr (dyne)

Gaya tegangan permukaan, T, merupakan fungsi suhu air.


Beberapa harga disajikan di bawah ini:
ll
Suhu

('C)

T (dyne/cm)
75,60

74,22
73,50
72,75
71,97
71,18

l0
l5
20
25

30

I dyne

iI

gaya yang diperlukan un-

tuk

memindahkan

gm

massa dengan percepatan

I cmldt.

F:mXa
i

Gaya gravitasi yang menurun adalah berat air,

w* = mg :
di mana: ,,,, =

m-

n*vg

p* [(rr) h] c

(dyne)

keraPatanair=l gm/cm3
berat air (gm)

o:
D

percepatan gravitasi

V_

volume kolom air (cm3)

h:

jari-jari kapiler (cm)


tinggi sampai di mana air akan naik pada suatu tabung

r:

980 cmldetik2

kapiler (cm).
rl

rt

2 (72,75)

(t)

r (l) (e80) "tuu

r,

0"J

Pembaca juga harus memahami bahwa semua penjelasan tabung


kapiler ini hanyalah suatu hipotesrs. Konsep ini (Ward, 1967 dan Young,
1975) sama sekali kurang lengkap, karena gerakan air berlangsung
melalui selaput air pada ruang yang berbentuk tidak beraturan dan ruang antar-partikel yang berukuran beragam, dan bahwa kecepatan dan
arah gerakan sangat ditentukan oleh konduktivitas kapiler (ketahanan
tanah terhadap aliran air dan merupakan fungsi 0 dan rp), potensial air
tanah dan gravitasi.
Pengaruh evapotranspirasi adalah untuk menciptakan suatu hisapr-n dan mendorong gerakan air menuju permukaan tanah atau mintakat
perakaran. Laju mengeringnya permukaan tanah, kerapatan dan jeluk
sistem perakaran, dan jeluk muka air merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi gerakan air ke atas karena pengaruh evapotranspirasi'
Hasil-hasil percobaan yang dilakukan oleh Wind (di negeri Belanda) mengenai laju gerakan kapiler dan kenaikan maksimum disajikan
pada Gambar-gambar 4-l I dan 4-12. lni dapat dideduksikan dari Gambar 4-11 bahwa untuk suatu harga pF tertentu, laju yang sangat kecil
pada aliran kapiler dapat terjadi pada suatu letak yang sangat tinggi di
atas muka air. Laju maksimum aliran kapiler tergantung pada ketinggian di atas muka air tanah. Demikian juga, laju tertinggi gerakan
kapiler terjadi bila tekstur tanah berangsur-angsur menjadi lebih kasar
dengan jeluk tanah di bawah permukaan (Gambar 4-12). Pada Gambar
4-12 garis tebal menunjukkan tinggi maksimum di atas muka air yang
dapat dicapai oleh aliran kapiler setinggi 2 mm/hari (Ward, 1967).

r90

9t

4.2.7. Pengukuran potensiol air tqnah


TIPE TANAH

Pengukuran loborotorium

Pada dasarnya, pengukuran potensial dapat dilakukan dengan


metode di mana gaya yang terukur dikenakan pada air tanah dan hasil
perubahan kandungan air tanah diukur. Pengukuran laboratorium
dilakukan dengan mengenakan tekanan yang spesifik dan dengan
mengukur kandungan air setimbang yang dihasilkan (untuk suatu
tekanan tertentu air berhenti keluar dari contoh tanah). Ini dapat
dilakukan baik dengan menggunakan tekanqn negotif maupun teksnan
positif .

Kerikil halus

KENAIKAN KAPILER

(mm)

(mm)

5,0

25

2,0

65

-2,0
-1,0
l,0
-0,5
0,5
-0,2

Pasir tanah kasar


Pasir kasar
Pasir medium
Pasir halus
Debu kasar
Debu

UKURAN BUTIRAN

0,2
0,1

135

246
428

-0,1
-0,05

1055

0,05-0,02

2000

Harga-harga khas dari kenaikan kapiler (Schulz, 1973).


a

A.

Metode Hqines: Contoh tanah diletakkan pada cawan keramik dan


tekanan negatif (maksimum -1 bar) dikenakan pada bagian bawah

contoh (Gambar 4-l3A). Air mengalir dari contoh melalui pori


keramik, ke dalam tabung pengukur dan perubahan kandungan air
pada tanah diamati secara langsung dengan mengukur perubahan
posisi meniskus pada tabung.

B. Membran

tekanan: Karena tekanan positif dikenakan pada bagian


air bergerak dari contoh, melalui membran
hingga kesetimbangan tercapai (Gambar 4-13B).
Metode tekanan uop: Tekanan uap air yang terkendali dimasukkan
pada ruangan yang mengandung contoh. Tanah mengisap air atau
kehilangan air sampai potensial air tanah sama dengan potensial
udara di sekitarnya (Young, 1975).

atas contoh tanah,

C.

2. Pengukuran-pengukuran di tempot

A.

Tensiometer: Alat ini terdiri atas cawan poreus yang dipendam


dalam tanah dan dihubungkan dengan manometer (Gambar 4-14)
atau pengukur hampa. Air bergerak dari cawan poreus ke dalam
tanah di sekitarnya hingga hisapan pada cawan dan tanah di sekitar-

u6

nya berada dalam kesetimbangan.

diharapkan menjadi alat yang terbaik bagi pengukuran potensial air


tanah. Alat ini mengukur tekanan uap di dalam tanah (Young,

B. Psikrometer thermocouple: Alat ini yang paling moderen dan


1975).

(!
d

b0
oo

ffiti"t

t.*nune

ffi
ldiddia

pas,,

-l
Gambai4-12. Kenaikan kapiler melalui penampang tanah yang berbeda (Wind, l96l).

sumber udara hampa

{
!l

il
II
II

tekanan udara

il

{i
contoh

t/ membran selulosa
3- dasar Poreus

il

skala

air tanah (9) vs' kandungan air


Grmbar4-l3. Peralatan untuk pengukuran potensial

rl

il

tanah (0) (Young' 1975)'

Gambar 4-14. Suatu tensiometer sederhana (Ward' 1967).

rl

Y
95

94

C. Pengukuran-pengukuran tidak langsung:


a. Tahanan antara 2 elektroda yang dipasang pada

suatu blok gips

yong poreus yang dibenamkan di dalam tanah diukur. Jika tanah

b.

mengering, maka pori pada gips kehilangan air tanah di sekitarnya dan tahanan antara elektroda akan naik (Young, 1975).
Beberapa bahon yong poreus (sumbat keramik, kertas saring, dan
lain-lain) di mana hubungan antara rp dan o diketahui, ditempatkan berhubungan dengan tanah dan secara berkala ditimbang
untuk menentukan perubahan di dalam kandungan air tanah.

4.2.8. Pengukuran lengos tanah

Program pengamatan lengas tanah mungkin berbeda-beda


menurut tujuannya. Misalnya, untuk maksud-maksud pertanian
pengukuran lengas tanah yang diambil pada 4 titik per hektar dapat
memberikan data yang memadai bagi pendugaan harga tertimbang ratarata air tanah di seluruh kawasan pertanian. Metode statistik biasanya

digunakan untuk menentukan banyaknya titik pengamatan yang


diperlukan (WMO, 1972). Frekuensl pengamatan juga tergantung pada
maksud pengkajian. Untuk pengkajian neraca air, pertama-tama penentuan bulanan kandungan air adalah memungkinkan untuk menduga
keragaman kandungan air tanah bulanan dan musiman. Selanjutnya
suatu program pengamatan yang rutin dapat dikembangkan.
Metode-metode pengukuran kandungan lengas tanah secara
ringka/aijelaskan di bawah ini:
l. Melode gravimetrik
Metode ini melibatkan pengumpulan contoh tanah, mehimbangnya sebelum dan setelah pengeringan dan menghitung kandungan

air semula. Metode ini satu-satunya metode pengukuran longsung


teliti. Namun, metode ini membutuhkan
waktu dan memerlukan contoh yang diambil dari lokasi (contoh
tanah terganggu). Pemindahan contoh ini harus dilakukan secepat
mungkin untuk mencegah kehilangan air. Pengukuran ini tak dapat
diulang pada titik yang sama di mana contoh semula diambil.
Peralatan yang sederhana yang digunakan untuk mengambil contoh
lengas tanah adalah bor tangan (Gambar 4-15). Salah satu tipe bor
tangan yang paling berguna terdiri atas silinder dengan diameter 76
mm dan dengan panjang 230 mm, yang mempunyai pipa tqmbohqn
lengas tanah dan yang paling

sepanjang 140 m pada bagian atasnya dan2 gigi pemotong lengkung


pada bagian bawah. Bor diputar dengan pegangannya dan ditekan ke

bawah ke dalam tanah. Tipe pengambil contoh tanah lainnya adalah


tabung pengombil contoh tonah. Biasanya digunakan tabung bros
berdinding tipis dengan diamater 50 mm dan dengan panjang
100-150 mm dipasang pada ujung pipa pegangan-T 90 cm. Contohcontoh diambil dengan menekan pegangan ke bawah dan kemudian
didorong keluar dari laras oleh pengisap pusat (WMO, 1970). Dalam
cara ini contoh-contoh volumetrik dapat diperoleh untuk menghitung
kandungan air tanah berdasarkan volume (0).
Pengambil-pengambil contoh tanah yang lain (bor, pengisap
tangan, pengambil contoh sumbat, dan lain-lain) kini tersedia di pasaran. Bor-bor tangan, dengan pipa tambahan, telah dipergunakan
di dalam mengambil contoh tanah hingga jeluk sedalam 17 meter

(wMo,

2. Metode

1970).

tensiometik

Pengukur kandungan air tanah tipe tensiometrik juga dipergunakan.


Untuk menentukan kandungan air dengan tensiometer, hubungan antara tegangan air dan kandungan air haruslah dikerahui. lni dapat
diperoleh di laboratorium (paragraf 4.2.7.) atau dengan memban-

dingkan harga-harga tegangan yang dibaca dengan hasil-hasil


pengambilan contoh gravimetrik. Tensiometer dipengaruhi oleh
suhu, menunjukkan efek histeresis dan mempunyai kelambanan
waktu (jam) di dalam menunjukkan perubahan-perubahan dalam
tegangan yang disebabkan oleh perubahan-perubahan di dalam
lengas tanah. Alat ini mudah dipasang dan cepat dibaca. Kini, tensiometer tidak sesuai lagi untuk pemasangan pada jeluk yang lebih
dalam dari 6 meter.
lis t ri k
Blok gips yong poreus yang digunakan untuk pengukuran
potensial air tanah juga dipergunakan untuk penentuan kandungan
air tanah. Perubahan di dalam tahanan (karena perubahan kan-

3. Mel ode lq hansn-

dungan air) antara 2 elektroda yang dipasang pada blok yang poreus
dibaca dengan meteran pada permukaan dan dikonversikan pada
harga-harga kandungan air dengan menggunakan bagan-bagan
kalibrasi (WMO, 1970 dan Young, 1975). Bagan kalibrssi disiapkan
dengan korelasi dengan harga-harga kandungan air yang ditentukan
dengan metode gravimetrik. Kesesuaian penggunaan blok ini terbatas

!
97

96

karena pengaruh histeresis dan kenyataan bahwa kalibrasi tergantung

pada kerapatan tanah dan suhunya. Untuk pengkajian-pengkajian


neraca air penggunaan metode tahanan-listrik tidak dianjurkan.
4. Metode pencorqn neutron

Metode neutron merupakan metode yang terbaik bagi


pengukuran kandungan air pada tanah utuh dan didasarkan atas
prinsip pengukuran perlambatan neutron memancar ke dalam tanah
dari suatu sumber neutron yang cepat. Neutron cepat yang bergerak
di dalam tanah terutama diperlambat oleh atom-atom H yang kecil
yang sebagian besar terdapat di dalam molekul-molekul air
(meskipun beberapa pada molekul-molekul organik). Proporsi
neutron yang kembali kepada penghitung berhubungan dengan kandungan air tanah. Misalnya, sebagai sumber neutron, digunakan
Radium-Berylium (Gambar 4-15). Sumber dan penghitung (pencatat
detektor) dinnasukkan ke dalam tanah melalui suatu lubang yang
diselubungi dengan tabung aluminium, dan pembacaan dapat diambil
pada berbagai jeluk tetapi jangan terlaludekat dengan permukaan.
Pengukur lengos neutrot't dikalibrasikan dengan pengambilan contoh
secara gravimetrik. Pengukuran sedalam 60 meter telah dilakukan.
Penggunaan metode ini meningkat secara besar-besaran sejak 1955.
Metode ini mempunyai ketelitian sebesar l-2V0. Penggunaan
metode ini dianjurkan bagi pengkajian neraca air (Colenbrander,

tabung plastik
permukaan ta

F-t--,

keras

cangkir poreus

Bor tangan tiPe 6212 Plsau

permukaan tanah
tabung akses aluminium
penguat

sensit ive volume

Tabung Pengarnbil

Contoh Tanah

t'

pelindung timah
sumber

penghitung

Penguji lengas Neutron


(Penguji jeluk Chicago Nuklir)

1970).
5

Metode sinsr Gqmma

Sinar-sinar gamma yang berasal dari suatu sumber (seperti

cobait-60) yang diletakkan pada satu sisi suatu kolom tanah melewati
tanah dan diukur dengan penghitung pada sisi yang lain. Pelemahan
(atau penyerapan) sinar-sinar gamma digunakan sebagai kriteria
penentuan kandungan air volumetrik (0). Metode ini memungkinkan
pengukuran hingga jeluk 50 cm. Pengukuran pada jeluk yang lebih
dalam akan membutuhkan isotop-isotop dengan radioaktivitas yang
lebih besar dan ini menimbulkan masalah keselamatan. Keragaman
metode yang mengukur penurunan berkas horizontal sinar gamma
memungkinkan penentuan lengas tanah hingga sedalam 1,5-2 meter

t
O
,<

d,o
o
e
o

.g^
d)J

,c
d)
a
o
cl.0

(wMo,
Kurva Penera Pelguii
Neutror! (Chicago P19) untuk Daerab Leerinbeek,
Nederland

o2550
Lengas ranah (90 volume)

Grmbar 4-15. Pengukuran lengas tanah'

1970).

jauh
Karena sifat-sifat termal air dan keseragamannya, air mudah
diketahui pada cilro infra-merah. Lagi pula, karena perubahan-per-

6. Melode penginderoan

99

98

ubahan kandungan air tanah mengakibatkan perubahan suhu tanah


(pendinginan maupun penghangatan), ini juga dapat dideteksi pada
citra infra-merah. Namun, penyesuaian harus dilakukan untuk
faktor-faktor seperti suhu udara dan radiasi matahari. Penelitian di
Lembaga Penginderaan Jauh Universitas Dakota Selatan, telah
menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang jelas antara kerapatan
film foto infra-merah panas dan kandungan air tanah yang gundul.
Korelasi yang tinggi diperoleh di mana 80-10090 tajuk tanaman
terlibat (Seyhan, 1972).
Werner dan kawan-kawan di Universitas Dakota Selatan telah
menyelidiki kemampuan lengas tanah dideteksi dengan penginderaan
jauh. Sesudah mengambil data air tanah yang terinci di lapangan,
mereka berupaya untuk memperoleh data yang sama dengan menggunakan teknik penginderaan jauh. Foto udara yang digunakan
diambil pada ketinggian-ketinggian 305, 610 dan 1525 meter. Misi
penerbangan diatur waktunya sesuai dengan selang waktu air tanah
kritis (segera sebelum irigasi dan secepat mungkin setelah irigasi dan
secepat mungkin setelah irigasi dan hujan). Foto dianalisis dengan a)
interpretasi visual. b) analisis dan c) analisis statistik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa untuk porsi merah yang tampak dari spektrum,
film hitam dan putih (dengan filter merah) memberikan korelasi yang
terbaik sepanjang musim. Hampir semua korelasi adalah nyata pada
taraf 0,01. Karena vegetasi digunakan sebagai indikator air tanah,
maka adalah wajar bahwa gelombang merah memberikan hasil yang

terbaik karena gelombang ini berada dalam daerah penyerapan


pigmen tanaman oleh klorofil. Film hitam putih yang berfilter hijau
memberikan hasil yang baik hanya selama waktu pertumbuhan
tanaman yang aktif. Daerah spektrum infra merah dekat hanya
memberikan sedikit infqrmasi.
Penelitian yang dihkukan oleh Achi dan kawan-kawan (197a)
menunjukkan bahwa sangat mungkin untuk membedakan mintakat

air tanah yang tinggi dan rendah pada suatu aliran

sungai'
Pengukuran lapangan lengas tanah dengan metode gravimetrik dan
pencaran neutron memberikan korelasi yang baik sekali dengan
harga-harga foto infro merah wqrnq yang terdeteksi.

Peramalan tingkat lengas dengan cara rador sedang diteliti'


Pada kasus tanah-tanah yang homogen hasil yang memuaskan telah
diperoleh (Seyhan, 1974).

7. Lisimeter
8. Metode kimio
Reaksi antara bahan dan air di dalam contoh tanah ditentukan

(Gray, 1973).

9. Metode ponos
Metode ini berdasarkan atas prinsip bahwa konduktivitas panas
suatu massa tanah naik dengan kandungan air (Gray, 1973).

4.3. KEPENTINGAN PRAKTIS INFILTRASI

l.

Berkurangnya banjir

2. Berkurangnya erosi tanah


3. Memberikan air bagi vegetasi dan tanaman
4. Mengisi kembali reservoir air tanah
5. Menyediakan aliran pada sungai pada musim kemarau.

4.4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFILTRASI

l. Karakteristik-karakteristik hujan (hubungan i dan f" )


2. Kondisikondisi permukaan tanah
a. Tetesan hujan, hewan maupun mesin mungkin memadatkan

per-

mukaan tanah dan mengurangi infiltrasi


b. Pencucian partikel yang halus dapat menyumbat pori pada permukaan tanah dan mengurangi laju infiltrasi
c. Laju infiltrasi awal (fo) dapat ditingkatkan dengan menaikkan
jeluk detensi permukaan (Du)
d. Kapasitas infiltrasi ditingkatkan dengan celah matahari
e. Kemiringan tanah secara tidak langsung mempengaruhi laju in-

f.

filtrasi

Pembekuan permukaan tanah mengurangi kapasitas infiltrasi


selama tahapan awal hujan berikutnya
g. Penggolongan tanah dapat meningkatkan (dengan terasering,
pembajakan kontur, dan lain-lain) atau menurunkan (pengolahan
permukaan vegetasi) kapasitas infiltrasi karena kenaikan atau
penurunan cadangan permukaan.

3. Kondisi-kondisi penutup permukaan


a. Penutup vegetasi (karena terhambatnya aliran permukaan

dan

100

l0l

berkurangnya pemadatan tetesan hujan) meningkatkan infiltrasi.


Kerapatan dan tipe vegetasi juga penting dalam mengendalikan infiltrasi (Gambar 4-16)
b. Dengan melindungi tanah dari dampak tetesan hujan dan dengan
melindungi pori-pori tanah dari penyumbatan, seresah mendorong
laju infiltrasi yang tinggi.
c. Salju mempengaruhi infiltrasi dengan cara yang sama seperti yang

dilakukan seresah.

d. Urbanisasi (bangunan, jalan,

d
tG

d
o.
6

I
sistem drainase bawah permukaan)

mengurangi kapasitas infiltrasi.

waktu
jagung (Ward' 1967)'
Garnbar4-16. Laju infiltrasi pada tanaman rerumputan dan

4. Transmisibilitas tanah

a. Banyaknya pori yang besar (yang dilalui air hanya dengan gaya
gravitasi), yang menentukan sebagian dari stuktur tonah,
merupakan salah satu faktor yang penting yang mengatur laju
transmisi air yang menurun melalui tanah. Kemantapan struktural
(batas agihan ukuran pori dapat berubah dengan beragamnya kondisi air), faktor-foktor biotik (hewan, pembusukan akar, dan lainlain, menyebabkan terciptanya saluran-saluran dalam tanah), dan

sifot penampong tanah merupakan faktor-faktor lain


b.

yang

mempengaruhi pori yang besar (porisitas non-kapiler), dan tentu


saja transmisibilitas tanah.
Infiltrasi beragam secara terbalik dengan lengas tonah. Hal ini terjadi dalarn 3 cara, yaitu l) kandungan air yang meningkat mengisi
ruang pori dan mengurangi kapasitas tenah untuk infiltrasi air
selanjutnya, 2) bila hujan membasahi prrmukaan suatu tanah
yang kering, Baya kapiler yang kuat diciptakan yang cenderung
untuk menarik air ke\datam tanah dengan laju yang jauh lebih
tinggi dibandingkan lajrr yang dihasilkan dari gaya gravitasi saja,

dan 3) meningkatnya air tanah menyebabkan pengembangan


koloid dan mengurangi ruang pori (Gambar 4-17).
5. Karakteristik-karakteristik air yang berinfiltrasi

a. Suhu air mempunyai beberapa pengaruh, tetapi penyebaran

dan

sifatnya belum pasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa


pada bulan-bulan musim panas kapasitas infiltrasi lebih tinggi.
Namun ini tentu disebabkan oleh sejumlah faktor dan tentunya
bukan karena suhu saja (Ward, 1967).
b. Kualitas air merupakan faktor lain yang mempengaruhi infiltrasi.
Liat halus pada partikel debu yang dibawa dengan air ketika infiltrasi ke bawah dapat menghambat ruang pori yang lebih kecit.

Kandungan air

Grnbar 4-1?. Hubungan antara infiltrasi dan kandungan air tanah (Ward'

izf
-c

1967).

i<f
d

'e

'e

(6

E
E

-]
Waktu fiam)

Waktu (jam)

Gambar 4-16. Keragaman waktu kapasitas infiltrasi.

Waktu (jam)

103

l02
dan laju
Kandungan garam dapur air mempengaruhi viskositas air

3. Holtan (1961):

pengembangan koloid.

f.-

4.5. KERAGAMAN WAKTU KAPASITAS INFILTRASI

merupakan ciri infiltrasi yang paling menyolok' Laju.kapahal yang


sitas infiltrasi yang menurun ini disebabkan oleh berbagai
besarnya
dijelaskan pada paragraf 4.4. Gambar 4-18 menunjukkan
fo :
p"ngu."ngun fapasitai infiltrasi (f. ) dari harga maksimumnya'
harga
yangmerupakan
tcapisitaimuls-mula hingga harga ikhirnya, fu,
terganasimtotik dari f. Besarnya fo dapat sebesar 1,2 atau 10 cmljam
juga
fu
m-ungkin.sebesar
tung pada tipe tanah dan koidisinya. Demikian
juga'
0,5 atau I cmljam, tergantung pada tipe tanah dan kondisinya

inPada Gambar 4-18, keragaman yang halus dari kurva kapasitas


yang
(i)
sama
hujan
yaitu:
l) intensitas
filtrasi (f. ) disajikan untuk 3 hal,
berselatau lebii'besar daripada kapasitas infiltrasi, 2) intensitas hujan
3) indan
infiltrasi
yang lebih besar daripada kapasitas
ing (i,, i, dan
rumus
Banyak
t.rritl'nujun iang kurang daripada kapasitas infiltrasi.

i)

batasan keiagaman waktu infiltrasi ini dikembangkan.


Beberapa dari rumus ini (lihat juga Seyhan, 1977b) adalah:
l. Kostiakov (1932) dan Lewis (1937)

yung

..*t.ri

F=atn

di

mana: F = iiifiltrasi

(mm) massa (kumulatif)

t = waktu (iam)
= konstanta. Harga-harga

ir,Il
2. Horton

ini dinilai dari persamaan

garis lurus yang disesuaikan dengan plot F dengan


log t.

(1939):

f.- f" = (fo-

fu)e-kt

ilf.
k:

konstanta.

yang
Rumus ini dapat dipergunakan untuk mengembangkan rumus
lain (Dam, 1971) untuk keadaan i ( f.'

1=fr6r,ra.
t1

kFcl'387
t1

Untuk i ( f" suatu rumus dapat dikembangkan dengan cara yang sama
sebagaimana yang dilakukan untuk rumus Horton (Dam, 1971).

waktu'
Sebegitu jauh jelas kapasitas infiltrasi menurun dengan

Ini

f" =

4. PhiliP (1957):

f.-f"

=I:zt)h

Untuk maksud-maksud praktis harga-harga k, F. dan a haruslah


diketahui sebelum pemakaian rumus tersebut. Karakteristik infiltrasi
bervariasi secara ruang pada suatu aliran sungai. Karena itu, harga
konstanta yang tetap ini yang meliputi semua tipe kondisi tanah pada
kawasan tersebut adalah tidak praktis.
4.6. PENENTUAN LAJU-LAJU INFILTRASI
4.6.1. Penentuan infiltrosi sebagai suatu foktor dolsm proses limpasan

A. Csra

l.

buaton

Infiltrometer

Infiltrometer merupakan suatu tabung baja silindris pendek,


berdiameter besar (atau suatu batas kedap air lainnya) yang mengitari
suatu daerah dalam tanah. Infiltrometer cincin konsentrik yang
merupakan tipe biasa, terdiri dari 2 cincin konsentrik yang ditekan ke
dalam permukaan tanah (Gambar 4-19). Kedua cincin tersebut digenangi (karena itu disebut infihrometer tipe genongon) secara terusmenerus untuk mempertahankan tinggi yang konstan (jeluk air).
Masing-masing penambahan air untuk mempertahankan tinggi yang
konstan ini hanya diukur (waktu dan jumlah) pada cincin bagian
dalam. Cincin bagian luar digunakan untuk mengurangi pengaruh
batas dari tanah sekitarnya yang lebih kering. Kalau tidak, air yang
berinfiltrasi juga dapat menyebar secara lateral di bawah permukaan
tanah. Pada infiltrometer cincin tunggol pengaruh batas adalah lebih
penting untuk cincin-cincin dengan diameter yang lebih kecil. Dengan

7
104

menggunakan infiltromeler tobung juga dapat mencegah aliran


lateral, sehingga gerakan air terhambat pada kolom tanah dalam
tabung. Namun, air dapat berinfiltrasi lebih cepat pada dinding
bagian dalam tabung dibandingkan pada tanah yang dibatasi di
dalam tabung.

Infiltrometer hanya dapat memberikan angka bandingan yang


berbeda (harga lebih tinggi) dari infiltrasi yang sebenarnya. Lagi
pula, masukan yang digunakan tidak menggambarkan agihan hujan
(waktu dan ruang) yang sebenarnya. Dengan menggunakan petak
lopangon terisolasi, kapasitas infiltrasi ditentukan oleh jumlah air
yang ditambahkan untuk mempertahankan tinggi yang tetap. Dibandingkan dengan infiltrometer tipe cincin, petak bidang terisolasi
(kenyataannya infiltrometer yang besar) mempunyai pengaruh batas
yang kurang nyata, namun masih belum menggambarkan realitas.
Angka yang diperoleh sekali lagi merupakan angka-angka pembanding.

105

dan candangan detensi

(f"

f"ditentukan bila perbedaan

(i-q) tetap
1.
olalilimnarun
,"r.r.Uuan dan intensitas hujan
fliitentukan,,L"*"i-i".,r,,
f, iil1il,:jt:";:,i;iii;
P = I (i)dt;e : I@dt;F
J
= (p_e)_o"_"sr" = J(fc)dt
^F
Sd = nilai yang-drpelkirakoan
konsran. Selarnna

D, =

ililil;;,fi

lmungkin 3 mm)

limpasan sisa massa

Q3

+ infiltrisi sisa massa

+ F, - I(9. + fJ.

Kita dapat menganggap- bahwa


selama selang waktu sisa,
nisbah an;
fi? l3,i :lfl,lx; l,li;1, lil, J3l i; ;;i; ;;,;i ij, ", u,,u," u,.p..ii ou a u
fa
fr

qa qr -

I, =

q"f-!
'[

o"J

2. Lisimeter

Untuk penentuan kapasitas infiltrasi, hanya lisimeter tipe timbongan-lihat paragraf 5.4.-dapat dipergunakan. Baik hujan

Maka, Du

digunakan.

infiltrometer irigosi semprotan. Ukuran dan bentuk petak sangat


beragam. Infiltrometer tipe F yang sering dipergunakan, mempunyai
2 baris penyemprot yang rienyemprot air di atas petak berukuran 6 x
12 kaki (sekitar 1,9 x 3,7 m). Ukuran tetesan dan ketinggian jatuh
dapat dikendalikan. Infiltrasi dideduksi dari analisis laju curah hujan
dan limpasan permukaan (lzzard, 1943). Analisis tersebut disajikan
pada Gambar 4-20.
Hujan simulasi yang dikenakan pada petak lapangan (percobaan yang sama dapat juga dimanipulasikan di laboratorium) pada
intensitas i mmljam dihentikan pada waktu t1. Hidrograf limpasan
yang dihasilkan akan mempunyai svatlu cabang noik (selama hujan)
dan suatu cabang menurun (setelah berhentinya hujan). Jumlah (i-q)
pada setiap waktu antara nol dan t, menunjukkan kehilangan dan
sama dengan jumlah infiltrasi (F), cadangan depresi permukaan (Sa )

atau Da

= (Iq.) (t + f" ,
qa

di mana:

fe. =

Simulator curah hujan


Dengan menggunakan petak lapangan terisolasi, kondisi curah
hujan disimulasi dengan hujan buatan. Hujan buatan ini juga disebut

[9r

f^

e, (---:-71
qa

buatan (irigasi) dengan suatu jeluk yang konstan maupun hujan alami
1

: f (9. + f.) = f

Jika

luas A.

dipertukan

frffy'Ht;"rt:'#t

yans lebih

tinggi, kita dapar


,.f:l.,i,r:
juga
Sevhan, t'gti,, dengan
menggunakan

p",i,tirur,-uni-i",;;;;:il,oli:iflffHq:,}:;,,!*:;H^i,ii:
aliran
dr;;';fi.; tgerti dengan bilangan
^ Turbutensi
Reynold,
ne ain,u;u."i.
R.=

VR

'}
di mana: V

A
R

= kecepatan aliran rata_rata =


e,/A (m/detik)
: debit (m3lderik)
: luas basah dalam
Lampiran E)
: jari-jari hidrolik =m2llihat
A/p (m)

r06

107

-20cm-

'\.'. \"
.INFILTROMETER
l' ' CINCIN
KONSENTRIK

E
E
E

'a
J

l.
2-5

Jcm '

-l
tNirtlrnouerER

\
\
cINCIN TUNGGAL

2ocu

lt
P

l,I

-{

0 : kemiringan petak
tr = saat berhenrinya

iam)

le -- slat
(

huian

berhentinya limpasan

iam)

r -- rnrensitas hujan (mm/jam)


q : iaju limpasan (mmliam)
q= jeluk limpasan
tera_

E
E

kumulasi (mm)

= jeluk hujan lerakumulasi


(mm)

ql

= kehilangan total
!P Da = detensi permukaan
dalam

bentuk lapisan air (mm)

INFILTROMETER. PETAK LAPANGAN


Sd
E
E

I I t

=
(t)l t

tapasitas infiltrasi (mm,/-

(mm)

cadangan depresi permuka-

jeluk infiltrasi rerakumulasi

an (mm)

'e

'.

F
waktu

rr =

periode sisa
oam)

INFILTROMETER TABUNG
Grmber 4-19. Berbagai tipe infiltrometer'

Gambar4-20. penentuan kapasitas inf,trasi dengan menggunakan


simulator curah hujan.

109

108

di

basah dalam meter (lihat Lampiran E)


P_ perimeter
'-!- : viskositas
kinematik lmzzdetik)
f-

mana: C

ro

viskositas mutlak (atau dinamik) (kglm/detik)


kerapatan air.

ll=
Pw

{l

I :

x 105
x 105
0,113 x 105
0,100 x 105
0,086 x l0'5
0,057 x l0-5
0.029 x l0-5

0,179

4,44

0,155

l 5,56

20
26,67
48,89
100

d=
=

So

p (sentipoise)

1,79

t,5'7

l0

t,31

l5

20

t,00
),89

,<

,14

(kg,zm,zdetik)

x 103
x 103
l,3l x 103
1,14 x l0-3
1,00 x l0-3
0,89 x l0-3
1,79
1,57

Selanjutnya:

q = (DJC(DaSJ%

kemiringan Permukaan.

Maka:

C=

(kglm3)

r*

18

t2 D^

logl---41
k

999,868
99/9,992
999,',12',1

yang memberikan persamaan:

999,126
998,230
pada 3,98"C
P* 1000'000

t2Do]

9 = Q, = (D)3r2 (SJ% (18) [ log

turbulen'
Jika bilangan Reynold lebih besar dari 800, aliran dianggap
yaitu
keduanya'
antara
di
dan
laminer
Di bawah 400, aliran adalah
adalah
mintakat transisi (peralihan), aliran laminer maupun turbulen
mungkin.
Persamaan Chezy disajikan sebagai berikut:

i = C(hSp'z,atauq = ih*

panjang kekasaran ekivalen permukaan tanah =


diameter butiran
ketebalan lapisan aliran laminer

Untuk debirdebit sungai dan limpasan permukaan, permukaan tanah


secara hidrolik merupakan suatl batos yang kasar.Ini berarti hahwa
dalam persamaan koefisien Chezy, C, istilah d adalah tidak nyata.

.
SUHU ('C)

r"c[_l'z]r]
7

suHU ('c)
0

koefisien kekasaran permukaan Chezy (lihat Lampiran F)

B.

Caro-cara alami

Metode-metode ini didasarkan atas pembandingan laju pasokan


hujan dan limpasan permukaan (hidrografl.

l.

Hidrograf aliran sungai kecil


Pada suatu kasus daerah aliran sungai yang kecil (hingga
ukuran sekitar 0,04 km2) penentuan kehilangan infiltrasi jauh lebih
rumit dibandingkan dengan penentuan yang dilakukan oleh simularor
hujan. Namun, pendekatannya adalah serupa dengan pendekatan
simulator hujan dan menggunakan kurva kumulatif (P, Q, P
- Q
dan F) untuk menghindarkan agihan yang tidak seragam seperti
agihan hietograf hujan. Prosedurnya ditunjukkan pada Gambar
4-21. Perkiraan kehilongon total dimungkinkan dengan anggapan
bahwa intensitas kehilangan selama hujan tidak beragam dengan

ll0

ul

waktu (konstan). Hal ini ditunjukkan pada Gambar 4-21oleh tan a


yang ditunjukkan sebagai indeks-O. Kurva F harus dideduksikan
dengan memperkirakan kehilangan-kehilangan lainnya (D", 56, in-

Hidrograf DAS

tersepsi dan evapotranspirasi).

infiltrasi pada daerah aliran sungai yang lebih besar


Pada daerah aliran sungai yang besar terdapat ciri-ciri yang
khusus (seperti agihan hujan yang tidak seragam, keragaman ruang
yang besar dalam tipe tanah dan tipe tajuk, dan lain-lain) yang mempengaruhi infiltrasi. Ciri-ciri ini menyebabkan agihan ruang dan wak-

2. Pendugaan

tu infiltrasi yang tidak seragam. Karena itu, penentuan kapasitas infiltrasi dengan bantuan hidrogrof limpasan hanya dianjurkan untuk
daerah aliran sungai yang kecil dan tidak untuk daerah aliran sungai
yang besar. Dalam praktek indeks-indeks infiltrasi digunakan sebagai
metode jalan-pintas dalam menentukan infiltrasi dari daerah aliran
sungai yang besar. Jika tersedia kurva-kurva kapasitas-fsuatu daerah
aliran sungai yang kecil atau petak pada daerah aliran sungai besar
yang sama, kurva-kurva tersebut dapat digunakan dalam
memperkirakan laju infiltrasi pada daerah aliran sungai yang besar.
Tanpa memandang metode yang dipergunakan, harga-harga indeks
(ataupun kurva kapasitas-f) untuk kawasan tertentu harus ditentukan
untuk suatu kisaran kondisi yang cukup besar (kisaran tanah, musim,
agihan hujan, dan lain-lain) misalnya dengan bantuan infiltrometer.
Selanjutnya, untuk suatu banjir tertentu, harga indeks yang jelas
harus dipergunakan (Volker, 1968).
Metode kapasitas-f
Pada metode ini, laju infiltrasi aktual (fu. ) ditentukan dengan
membandingkan intensitas hujan dengdtt harga kapasitas infiltrasi
(f. ). Infiltrasi aktual yang diperkirakan ditambah cadangan depresi
permukaan (56 ) dan infiltrasi sisanya (F,
- untuk menggantikan
cadangan detensi) dikurangkan dari hujan yang ditentukandan hujan
efektif (atau curah hujan netto/Pner yang sama dengan curah hujan
minus semua yang hilang) ditentukan. Cadangan depresi hanya
dikurangkan dari (Gambar 4-22) bagian hujan yang pertama karena
pada bagian hujan ini depresi diisi. Bila i > fc, fac = fc dan bila i ( f.,
fu" ( f.. Pemulihan 390 (harga yang diasumsikan) disebabkan karena

almi

yang

keil

E
E

Hidrograf DAS alami yang besar

'e

E
E

Grmbrr 4-21. penentuan kehilangan infiltrasi dengan


analisis hidrograf.

ntukan: aSihan (i,t)


agihan (f.,t)
harga S,
agihan
E
E

,e
J

(f,,t)

Perak: (i,r), (fc,0 dan (fr,O


Petak; fa
a. Titik perak A
b. Cambaran AB// A'B'
c. Petak BC dengan pemulihan 390
d,. Petak cD // c,D,
e. Kurangkan So dan F,

jumlah hujan yang kecil yang masuk pada periode ke-5 dan ke-6
(periode yang kering meningkatkan kapasitas infiltrasi).' Jumlah
Grmbar 4-22. Metode kapasitas-f untuk penghitungan kehilangan infiltrasi.

r
ll3

tt2

kehilangan yang ditentukan (Gambar 4-22) terutama karena infiltrasi. Namun, pada beberapa kasus suatu porsi infiltrasi yang nyata

+ cadangan detensi + cadangan depresi) melimpas secara


sesuai dengan hujan efektif (yang tak lain hanyalah limpasan permukaan langsung) dalam bentuk aliron hujon bowah permukaan.

(infiltrasi

b.

Metode indeks
Metode indeks-O: metode ini merupakan laju konstan (mm,/jam,
dan lain-lain) di atas mana volume curah hujan (Gambar 4-23) sama
dengan volume limpasan yang diamati (: hujan netto atau efektifl.

i.

E
E

'e
..1

Metode ini menggambarkan semua kehilangan permukaan


(intersepsi, cadangan depresi permukaan, cadangan detensi dan
evapotranspirasi) dan infiltrasi. Metode ini menganggap limpasan
terlalu besar pada permulaan dan terlalu kecil pada akhir hujan.
Tidak ada perhatian yang diberikan bagi kehilangan awal dan bagi
infiltrasi selama periode tidak hujan atau selama periode sisa (Gambar 4-24). Dalam kenyataannya, anggapan laju kehilangan yang
konstan adalah tidak benar.

Waktu 0am)

Gambar 4-23. Metode-metode indeks-O dan g.,.

o:

P-Q _

.t"
di mana: P -

ii.
E

Gambar 4-24. Contoh-contoh metode kapasitas-f dan metode indeks-O

hujan total (mm)

Q=

Metode indeks-O

te

limpasan permukaan total langsung


kehilangan : L (mm)
tte
lamanya hujaq (jam).
Metode-fou; Metode ini lebih teliti daripada metode dan indeks-{
karena perhatian yang juga diberikan pada simpanan permulaan
(Sd), periode-periode tanpa hujan dan infiltrasi sisa (Gambar 4-23).
Metode ini didefinisikan sebagai rata-rata laju infiltrasi selama
periode'adanya pasokan air yang berkesinambungan untuk in-

P-Q:

Kehilangan = (0
te- ltl+ dtz

rl

filtrasi. Dalam Gambar 4-23, hietograf yang disajikan mengacu


pada suatu periode hujan tertentu. Tetapi, suatu badai dapat
mengandung banyak periode hujaq semacam itu. Dalam metodef", analisis diselesaikan secara terpisah untuk masing-masing
periode hujan (disarankan I jam) dengan menganggap bahwa
curah hujan sebelum atau sesudah periode ini sama sekali hilong.
Analisis disajikan untuk salah satu periode hujan semacam itu
pada Gambar 4-23. Pada umumnya ini sama dengan metode kapa-

tt4

iii.

sitas-f, tetapi kurang teliti. Abstraksi permuloan (simpanan intersepsi + simpanan depresi) meliputi lebih kurang 20t/o dari
perbedaan potensial maksimum antara volume total P dan Q.
Metode indeks-lv. Indeks ini mengacu pada laju infiltrasi selama
periode (t. ) jika intensitas curah hujan (i) melebihi laju kapasitas

infiltrasi. Indeks ini sama dengan,

W = O- laju kehilangan

w:P-a-Da-Sd-I

dimanal:

intersepsi

te

Jika tanah jenuh dengan air, kapasitas infiltrasi akan mencapai la-

ju

minimum yang konstan dan final (fa ). Ini berarti bahwa


kenaikan dalam simpanan permukaan (D" + Sa + I) akan
mendekati nol. Maka, menurut definisi, indeks-W menjadi indeksW-in dan hampir sama dengan O. Indeks-W-1n, digunakan dalam
kajian-kajian yang memperhatikan jumlah banjir (luapan)
maksimum.

iv.

Metode persentase limposan: Pada metode ini curah hujan


efektif (atau limpasan langsung) diberi batasan sebagai suatu
persentase dari hujan total. Pada beberapa hal, persentase ini
dipertahankan konstan, dan pada beberapa hal lainnya, persentase
tersebut beragam dengan waktu. Harga persentase adalah lebih
besar untuk curah hujan yang berintensitas tinggi dibandingkan

untuk curah-curah hujan yang berintensitas rendah. Hal ini


disebabkan karena liputan kawasan yang lebih luas dari air yang

berinfiltrasi dan juga disebabkan karena kehilanga&lehilangan


yang lebih besar pada depresi-depresi (cekungan) yang lebih besar

(Diklic, 1973).

3. Penaksiran berdasarkan

keadaan kandungan-air tanah

di muka pada dasarnya didasarkan


atas rekaman-rekaman curah hujan dan limpasan untuk suatu
kawasan tertentu. Metode-metode itu menunjukkan harga-harga
rato-roto kapasitas infiltrasi yang diperoleh untuk seluruh kawctson,
Metode-metode tersebut

dan bukan dengan sampling (pencuplikan) kawasan-kawasan sangat


kecil seperti yang dilakukan dengan infiltrometer (Wilson, 1969). Ka-

a-

l5

rena kandungan air tanah awal mempengaruhi kapasitas infiltrasi


(Gambar 4-16), maka digunakan dua macam pendekatan. Ini
diterangkan di bawah ini.
Indeks hujan pendahulu (IHP)
Metode IHP (yang digunakan secara luas di AS) berfungsi
sebagai indeks terhadap kondisi air dalam tanah (Linsley, 1964,
Chow, 1964; Wilson, 1969). Pada dasarnya metode ini merupakan
penjumlahan jumlah hujan yang terjadi sebelum hujan yang diteliti
yang ditimbang menurut waktu terjadinya. IHP untuk hari ini (hari
nol) diberikan oleh Bruce (1966) sebagai berikut:
Pu.

kP1

+ kzP, +

di mana P, merupakan hujan (mm) kemarin, P, adalah hujan 2 hari


sebelumnya, P, adalah hujan "t" hari sebelumnya dan "k" adalah
konstanta resesi (dengan harga sekitar 0,92, tetapi beragam antara
0,85 dan 0,98). Harga IHP dihitung setiap hari sedemikian sehingga
harga IHP hari ini (P, ) dapat dihubungkan dengan harga IHP
kemarin (Pu,) dengan:

Puo:

(Par+Pl)

yaitu IHP untuk hari ini (atau hari tertentu) sama dengan "k" kali
IHP untuk kemarin (atau hari sebelum hari tertentu) ditambah "k"
kali hujan kemarin (atau hari sebelum hari tertentu).
Di AS terdapat bagan-bagan khusus yang dipersiapkan (Biro
Cuaca AS, Linsley dan Kohler, dan lain-lain) untuk menghubungkan
IHP terhadap limpasan permukaan langsung (atau limpasan hujan).
Bagan tersebut ditunjukkan pada Gambar 4-25.Ini disebut sebagai
hubungan koaxial. Karena hujan diketahui, kehilangan dapat ditentukan dengan mengurangi limpasan hujan dari hujan. Metode ini
sangat berguna untuk peramalan limpasan. Namun, banyak pekerjaan diperlukan untuk membuat bagan seperti pada Gambar 4-25.
b. Perkiraan defisit lengas tanah

Dalam metode ini (yang digunakan di Inggris), pengukuran


evopotronspirosi dan presipitosi digunakan dalam menentukan defisit
lengas tanah (Wilson, 1969). Perkiraan defisit lengas tanah
digunakan untuk meramalkan proporsi limpasan (dan kehilangan)
yang timbul dari suatu hujan tertentu.

tt7
4.6.2. Penentuan infiltrasi sebogoi faktor dalam pengisiqn kemboli oir
tanah

a
d

o
o

o
d
'7

Sebegitu jauh semua metode yang disebutkan menentukan infiltrasi sebagai kehilongan air dari permukaan tanah. Namun adalah
mungkin untuk menentukan infiltrasi sebagai mosukan bagi air tanah.
Air yang berperkolasi dan ditambahkan pada air tanah ini disebutpengr':
sian kembali air tanah (Gambar 4-25). Pengisian kembali ini tergantung
pada beberapa faktor (Volker, 1968) seperti:
l. Kapasitas infiltrasi
2. Karakteristik presipitasi stokastik
3. Faktor iklim: Agihan presipitasi pada suatu tahun mengatur pengisian kembali air tanah. Pada kowasan arid misalnya pengisian kembali akan terjadi dari aliran efemeral, tetapi sebagian besar diserap
sebelum mencapai muka air tanah. Pada kowason semi arid, pengisian kembali adalah tidak beraturan dan terjadi pada periode hujan
lebat. Hujan ringan dan sedang tidak memberikan kontribusi

4.

Gambar4-25. Hubungan Indeks Presipitasi Pendahulu dengan limpasan bEdaFuntuk


sungai Monacacy di Jug Bridge, A.S. (Wilson, 1969).

terhadap pengisian kembali. Pada kawqssn basqh pengisian kembali


berada pada periode musim dingin. Pada bulan-bulan musim panas
semua presipitasi menjadi air tanah atau berevaporasi. Pada kswasan
dingin peleburan air beku dapat memberikan pengisian kembali yang
tiba-tiba terhadap air tanah
Topografi: Pada lereng yang curam terdapat sedikit waktu untuk

berinfiltrasi dan bagian utama air diberikan pada limpasan permukaan. Pada kawasan yang bergelombang (bukit pasir, bukit
glasial, dan lain-lain) drainase internal (Gambar 4-27) memberikan
pengisian kembali air tanah.
5. Geologi: Lapisan bawah tanah misalnya, menyebabkan tidak semua
air yang berinfiltrasi memberikan sumbangan pada pengisian kembali
ait tanah (Gambar 4-27). Batas air tanah dapat berbeda dari batas
aliran drainase (Gambar 4-27).
Di bawah ini disajikan metode yang paling umum dalam menentukan pengisian kembali air tanah.
Cqtatqn: Terdapat 2 metode lagi yang dapat digunakan di dalam
menentukan kehilangan, yaitu: a) analisis aliran dasar dan
b) metode bilangan kurva yang dikembangkan oleh Dinas
Pengawetari Tanah AS. Kedua metode tersebut dibahas
pada Bab 6 sehubungan dengan debit-debit sungai.

I
ll9

l.
ffi*it
permukaan
tanah

puri,

Drainase internal

Metode neraca air


Seperti ditunjukkan pada Gambar 4-26, persamaan neraca air
dapat dipergunakan terhadap 2 batas yang berbeda. Jika persamaan
dikembangkan untuk kawasan di dalam batas ABEF:

P +R, = R2 * E" + F* + AS,

muka air
E tanah

P + Rr

1,,

Rz

+ E" +

F*

: untuk

periode-periode pendek

atau

: untuk periode-periode

yang

lebih panjang.

Karena jumlah evapotranspirasi aktual (E) kerapkali tidak


diketahui, adalah lebih baik mempertimbangkan persamaan neraca

LaPisan tak kedaP

E" =

P=

Rr

erapot.anspirasi aktual
presipitasi
inflow (limpasan permukaan)

R2 ='outflow

suatu kawasan dalam batas BCDE.

(r-

+ Ui = Uo * AS, : untuk periode-periode pendek


Fp + U; : Uo
: untuk periode-periode yang lebih panjang.

F = infiltrasi
= !rcngisian kembali

FR

FR

Si =
Ut =
Uo
AS2

=
=

air tanah
perubahan kadar air tanah
inflow air tanah
outflow air tanah
perubahan cadangan air tanah

Aliran air tanah Ui dan Uo dapat ditentukan dengan menggunakan


kontur jeluk air tanah dan jumlah kH (transmisibilitas). Seperti
ditunjukkan pada Gambar 4-28,

Gambsr 4-27. Faktor-faktor yang

Grmbrr 4-26. Konsep pengisian kembali

mempengaruhi pe_
ngisian kembali air
tanah.

U : I(kH)Ldan
Ui : Ii (kH) Li; Uo :

air tanah

dimana:

I, :

gradienmuka air tanah pada batas masukan akifer

gradien muka air tanah pada batas keluaran akifer

Io

t
1

yang bersangkutan

yang bersangkutan
panjang permukaan akifer pada batas masukan
Lo= panjang permukaan akifer pada batas keluaran
kFts transmisibilitas (lihat Bab 7).
Penjelasan yang terinci mengenai aliran air tanah disajikan pada Bab

Li

Io (kH) Lo

7.
{

Pengisian kentbali air


ranah

Glmbrr G2t. Isohipsen.

Gambar 4-29. Kurva deplesi dan pengisian kembali air tanah.

2. Kurva deplesi
Daerah yang diarsir pada kurva deplesi pada Gambar 4-29
menunjukkan jumlah pengisian kembali air tanah selama periode hujan. Akibatnya, taksiran F* dimungkinkan tanpa mengetahui
keragaman permukaan air tanah.

l2t

r20
3. Gerakan

air tanqh

a. Pengisian kembali dapat ditentukan dengan menggunakan perbedaan

antara permukaan

air tanah antara 2 bagian (Gambar 430) bila

transmisibilitas diketahui:

.n=

f;

fL2
2 (kH)

b. Jika air tanah keluar dalam bentuk mata air (Gambar 4-30), debit
tahunan mata air adalah sama dengan pengisian kembali tahunan air
tanah.
c.

Jika, pada kasus-kasus yang khusus, semua air tanah masuk ke dalam
suatu tempat pada permukaan (kolam, tanah rawa, danau kecil, dan
lain-lain), pengisian kembali dapat dihitung dengan membandingkan
dengan kawasan dari sumber air tanah. Pada Gambar 4-30, ini ditun-

jukkan dengan pertama-tama menghitung (dengan

Untuk tanah rawa:

S+P +I=8"+O
f = S/A; A = luas tanah
Untuk jalur tanah:

= P-s-I
S.= F=Fp

E"

F11.-[.'

',

Grmber {-30. Gerakan air tanah dan infiltrasi.

kH akifer dilalah:
1

kH

(flr)/8

persamaan

neraca) rembesan (yang merupakan pengisian kembali air tanah)


pada tanah rawa dan selanjutnya menentukan E" dan kH jalur lahan
yang merupakan sumber air bagi tanah rawa. Kita harus menyadari
bahwa ini merupakan metode perkiraan (semua air tanah bergerak ke
tanah rawa, gerakan adalah 2 dimensi dan h = fL 2/8 kH dapat
dipergunakan) dan hanya merupakan suatu kasus yang bersifat
khusus.
rawa

4"

Penggunaan pelacak

Konsentrasi isotop H dan O (misalnya molekul HjOts dan


HjOt0; dalam air hujan dibandingkan dengan konsentrasi pada air
tanah untuk menentukan jumlah air hujan yang diberikan pada air
tanah. Tipe metode pelacak ini masih di bawah penelitian.
5. Lisimeter

Lisimeter (lihat Bab 5) merupakan metode yang paling berguna

di dalam pengkajian kawasan yang kecil.


5. Keragoman muka

oir tonah-lengos tonah

Keragaman periodik kandungan lengas tanah dan muka air


tanah dapat digunakan sebagai dasar dalam menciptakan dugaan
(atau rumus) pengisian kembali air tanah.
7. Metode kandungan gorom
Jika kandungan klorida (Cl) air hujan diketahui, peningkatan
kandungan garam air tanah dapat disebabkan oleh hujan dan pengi-

T
122

siankembaliairtanahdapatditentukan.Pendekataninidapat

laut)
digunakan pada kawasan pantai (udara menerima garam dari
sumber
satu-satunya
merupakan
t.Lpi ..nianggap bahwa hujan

gu.u* jiLa sumler lainnya (seperti dalam tanah) tidak diketahui'


Metode ini hanya memberikan hasil perkiraan saja'

5. EVAPOTRANSPIRASI
5.1. PENDAHULUAN

Tidak semua presipitasi yang mgncapai permukaan

secara

langsung berinfiltrasi ke dalam tanah atau melimpas di atas permukaan


tanah. Sebagian darinya, secara langsung atau setelah penyimpanan permukaan (atau bawah permukaan), hilang dalam bentuk evoporosi, yaitu
proses di mana air menjadi uap, lronspirasi, yaitu proses di mana air
menjadi uap melalui metabolisme tanaman, inkorporosi, yaitu pemindahan air menjadi struktur fisik vegetasi pada proses pertumbuhan dan
sublimqsi, yaitu proses di mana air secara langsung berubah dari keadaan padat menjadi uap (Eagleson, 1970). Perkiraan evaporasi dan
transpirasi adalah sangat penting dalam pengkajian-pengkajian

hidrometeorologi. Pengukuran langsung evaporasi ataupun

evqpolranspirosi dari air ataupun permukaan lahan yang besar adalah


tidak mungkin pada saat ini (Wartena, 1974). Akan tetapi, beberapa
metode yang tidak langsung telah dikembangkan yang akan memberikan
hasil-hasil yang dapat diterima. Jika kerogoman wqklu evaporasi permukoon oir bebos berbanding langsung dengan radiasi bersih, kita dapat
mengharapkan nilai-nilai maksimum pada tengah hari. Namun, ini
hanya benar untuk tubuh-tubuh air yang kecil. Tubuh-tubuh air yang
besar, menyimpan sejumlah panas yang nyata melalui kedalamannya
dan ini akan tersedia untuk evaporasi kemudian. Dengan demikian,
evaporasi dapat berlangsung sepanjang malam. Evapotranspirasi potensial, Ep : evapotranspirasi yang akan berlangsung'hanya bila pasokan
air tidak terbatas bagi stomata tanaman dan permukaan tanah) lebih
dekat pada,fase dengan radiasi matahari karena hanya sedikit panas di-

!
t25

t24
simpan oleh tanaman dan stomata menutup selama malam hari.
Variabilitas waktu evapotranspirasi mengikuti pola yang sama seperti
evaporasi permukaan air bebas (Eo) pada kawasan-kawasan yang tidak
kekurangan air. Pada daerah yang lebih kering ia mungkin berbeda
cukup besar. Pada daerah-daerah yang kering, evopotronspirqsi uktual
(8" ), yaitu jumlah evapotranspirasi aktual, erat hubungannya dengan
curah hujan. Keragaruan ruang (spatial variation) lebih penting diban-

BO

!
E

60

dingkan dengan keragaman waktu dalam hal evapotranspirasi potensial.

-l
d

Untuk evapotranspirasi aktual, perbedaan antara signifikansi


keragaman waktu dan ruang hanyalah kecil sekali. Walaupun

(!

40

o.

20.

rd

r!

(Ward, 1967):
l. Faktor-faktor meteorologi
a. Radiasi matahari
b. Suhu udara dan permukaan
c. Kelembaban

d. Angin
e. Tekanan barometer.

) Faktor- faktor geografi


a. Kualitas air (warna, salinitas, dan lain-lain)
b. Jeluk tubuh air

c. Ukuran

dan bentuk permukaan air.


3. Faktor-faktor lainnya
a. Kandungan lengas tanah
b. Karakteristik kapiler tanah
c. Jeluk muka air tanah
d. Warna tanah
e. Tipe, kerapatan dan tingginya vegetasi
f. Ketersediaan air (hujan, irigasi, dan lain-lain).

Gambar 5-2.

Agihan ruang evapotranspirasi rata-rata potensial


tahunan di Eropa (Ward,
t967).

rata bulanan evapotranspirasi (dihitung dengan meto_


de neraca air).

o.

pengetahuan tentang keragaman ruang evaporasi yang berskala kecil


sangat terbatas, hal tersebut tidak banyak beragam seperti presipitasi.
Karena itu, diperlukan suatu jaringan evaporasi yang kurang padat. Untuk perkiraan evaporasi pendahuluan, Linsley (1958), menyarankan satu
stasiun per 5200 km2.
Walaupun diketahui bahwa sejumlah faktor mempengaruhi laju
evapotranspirasi, adalah sulit sekali untuk menilai kepentingan relatif
masing-masing faktor. Faktor-faktor utama yang berpengaruh adalah

Agihan waktu total rata-

/:

T
126

127

5.2. FISIKA EVAPORASI

3. Titikembun = Td:

Bila seseorang memandang permukaan air yang sama sekali bebas


dan menambahkan pada tubuh air ini suatu masukan bersih energi
ponos, energi kinetik molekul air akan naik. Pada suatu waktu tertentu,
energi kinetik ini akan begitu tinggi sehingga beberapa molekul air akan
mampu keluar melalui ontormuko cairan-gas, Jumlah panas yang
diserap oleh suatu satuan massa air ketika berubah dari keadaan cair ke

frf

uop pada suatu suhu konstan disebut panas penguapon laten (: L). lni
sedikit beragam dengan suhu (L : 597,3
- 0,566 (T); di mana T pada
"C dan L dalam kalori), tetapi untuk maksud-maksud praktis L = 600
kalori diambil untuk menguapkan I gram air. Jika molekul-melekul
keluar, energi kinetiknya menurun, dan karenanya tidak dapat masuk
kembali ke dalam cairan dan mulai mengakumulasi di udara di atas antarmuka cairan-gas. Pada suatu campuran gas, masing-masing gas
memberikan suatu tekanan, bebas dari gas-gas lainnya, yang disebut
teksnon parsiol. Tekanan parsial yang diberikan oleh uop air disebut
tekqnqn uop aktuol (: e).
Dengan demikian. penguapan yang terus-menerus akan
menyebabkan peningkatan tekanan uap yang terus-menerus pula di
udara tepat di atas permukaan air, hingga akhirnya kondensasi dimulai'
Bila laju penguapan adalah sama dengan laju kondensasi (terjadi bila
udara mengandung jumlah uap air maksimum pada temperatur tertentu), udara ada saat itu adalahTenuh.Kini molekul air melewati antarmuka pada kedua arah pada laju yang sama. Tekanan yang diberikan
oleh uap pada tingkat kejenuhan ini disebut tekanon uap jenuh (= er).
Tekanan uap aktual beragam antara O dan er. Pada Tabel 5.2 disajikan keragaman tekanan uap jenuh (diukur dalam bar atau mm Hg; I
bar : 106 dyne/cm2, I millibar : 103 dyne,/cm2, I mm Hg : 1,36
millibar) dengan suhu. Tabel ini diplotkan pada Cambar 5-5. Dengau

menggunakan gambar

ini

karakteristik-karakteristik berikut dapat

didefinisikan:

1. Kelembaban nisbi

(untuk mendapatkan suhu bola basah yang benar) dan dilindungi


terhadap radiasi (untuk menghindari penguapan). perbedaan anrara
kedua pembacaan adalah depresi boro basah dan digunakan untuk
menghitung titik embun, kelembaban nisbi dan tekanan uap. Untuk

psikrometer Assmant!:

*-e = I(T-T*)

di mana,

a'

.l

'l

suhu bola basah yang dibaca dari termometer bola


basah

suhu udara yang dibaca dari termometer kering


tekanan uap kejenuhan pada T* (Gambar 5-5)
tekanan uap aktual pada T
konstanta psikrometer, 0,485 mm Hgl"C (kemiringan
garis (3), dan tan 0, dalam Gambar 5-5.

. Higrometer Regnaulr digunakan untuk mengukur suhu titik embun. Dengan mengukut T dan T6 kerembaban nisbi dihitung sebagai
berikut:

h: ed x

loo

es

di mana: ed

es

:
:
:
:

ew

il

aktual pada suatu ruang tertentu dengan jumlah air pada ruang yang
sama bila ruang ini dijenuhkan.
2. Defisit Kejenuhan : es = s (l
h).

T* :
T

100: Nisbah persentase jumlah air

es

e,

eS

:l

*-I(T-T*)

_e

dan h:_

e x

suhu di mana es menjadi sama dengan e. Dengan


kata Iain, suhu sesuai dengan kondensasi pada e'
4. Suhu bola basah : T*i Suhu sampai di mana udara asli dapat diembunkan dengan menguapkan air ke dalamnya.
Pengukuran-pengukuran kelembaban dilakukan pada tempat yang
sama seperti suhu udara (sekitar 2 meter di atas tanah). Alat yang disebut
ps i k ro m e t er biasa dipergunakan untuk rnengukur k
elembaban atmosfer.
Alat tersebut terdiri atas 2 termometer (Gambar 5-6) dan salah satunya
disebut suhu bola bqsuh berhubung reservoirnya (bola) ditutup dengan
kain kasa (kain katun halus yang tipis) yang dijenuhkan dengan air. Termometer lainnya memiliki bola yang kering. Termometer diventilasikan

:
=

tekanan uap aktual udara dan menurut ketentuan pada


To (Gambar 5-5)
tekanan uap kejenuhan pada T.

r29
128
fabel 5.2. Tekanan uap kejenuhan (e. dalam mm-Hg) pada suhu udara ToC.

(Dam' 1971)
Tsbel 5.1. Keragaman ruang evrpolrrnspirasi

0.1

Rata-rata tahunan (mm/tahun)

-10

-9
-8
Arid (kering)

-6
-5
-4
-3

Negeri Belanda

Tropika

-l

-0
0

I
Kelembaban

--

suhu udara

suhu udara

4
5

radiasi
matahari

6
1

24

AD = Kelembaban nisbi rendah


BD

kelembaban nisbi sedang

ufrran !p = rkelembaban nisbi tinggi

o.q6
.:do,o
._ .o
(!:

danau (jeluk
rmaks. 1300

Jeluk

''

kaki)
reservoir (je-

OI

luk maks.

d,

30 kk)

llts-;
l:-=(n,i

B
El.H-U--g
-v
I-tr
4
a
=
Al b-5-2\<!
_E
i Is- -ts-B- E>g E

l0

ll

t2
l3

l4
l5

l6

11

ukuran Permukaan evaporasl

l8
l9
20

Kedalaman Muka Air

_--!)
6=
lti

TiPe Tanah

evaporasl pancl
evaporasi tanah
.v, I

oci
i16

aa

2t
)1

2t

pasir kasar
pasir halus

24

emoung. berat

26

pembacaan atmometer terakumulasi

25
2',7

28
29
30

(iambar5-3. Pengaruh beberapa faktor terhadap evaporasi (semua contoh nisbi)'

0.2

0.3

0.4

0.5

,)o

))1

2.47
2.67
2.89

2.45
2.65
2.86
3.09
3.34
3.59
3.88

2.26
2.43

2.24
2.41

o.7

0.8

111

1 1l

2.t9 2.t7
2.36 2.34
2.55 2.53
2.75 2.73

2.t5

2.32
2.51
2.71
2.93
3.16
3.41
3.61
3.97
4.26
4.58
4.58
4.92
s.29
5.68
6.10
6.54
7.01
7.51
8.04
8.61
9.20
9.84

2.30
2.49
2.69
2.91

3.14
3.39
3.64
3.94

4.2!
4.55
4.62
4.96
5.33
5.72
6.14
6.58
'7.06

7.56
8.10
8.67
9.26
9.90
10.58
11.30
12.06
12.86

3. I

3.3'7

3.62
3.91
4.20 4.t't
4.52 4.49
4.65 4.69
5.00 5.03
.37 5.40
5.76 5.80
6.18 6.23
6.54 6.68
7.11 7.t6
7.61 7.67
8.15 8.21
5

8.'13

9.33

8.78
9.39

9.97

10.03

10.66

10.72

2.6t 2.6t
2.84 2.82
3.06 3.04
3.32 3.29
3.57 3.54
3.85 3.82
4.t4 4.1t
4.46 4.43
4.71 4.75
5.07 5. I I
5 .44 5.48
5.84 5.89
6.27 6.31
6.72 6.77
7.20 7.25
7 .72 7.77
8.26 8.32
8.84 8.90
9.46 9.52

0.9

0.6

2.40 2.38
2.59 2.5^7
2.80 2.77
3.01 2.99
3.27 3.24
3.s2 3.49
3.79 3.76
4.08 4.05
4.40 4.36
4.78 4.82
5.14 5.18
5.53 5 .57
5.93 s .97
6.36 6.40
6.82 6.86
7.31 7.36
7.82 7.88
L37 8.43
8.96 9.02
9.58 9.65

2-97
3.22
3.46
3.73
4.03
4.33
4.86

2_95

3.18
3.44
3.70

4.00
4.29
4.89

s.2t s.25
5.60 5.64
6.01 6.06
6.45 6.49
6.91 6.96
7.4t 7.46
7.93 7.98
8.48 8.54
9.08 9.14
9.7 t
9.77

10.38 10.45
11.08 ll.l5
I1.38 l1.45 I 1.53 I 1.60 I1.68 n.76 11.83 l t.9l
I l 98
t2.14 12.22 12.26 t2.t8 12.46 12.54 12.62 12.10
12.78
12.95 13.03 l3. l l 13.20 13.28 13.37 13.45 t3.54
13.63 t3 .71 13.80 13.90 13.99 14.08 14.26 14.35 14.35 t4.44
14.53 14.62 14.11 14.80 14.90 14.99 15.09 t5.17 15.27 15.38
15.46 15.56 15.66 15.76 15.86 16.96 16.06 16.16 16.26 16.36
16.46 16.57 16.68 16.79 16.90 17.00 17.10 17.21 t'7.32 17.43
17.53 t't..64 11;75 17.86 t7 .97 18.08 t 8.20 l 8.31 r8.43 I 8.54
18.65 18.77 18.88 19.00 19.l I 19.23 l 9.3 5 19 .46 19.58 19.70
19.82 19.94 20.06 20.19 20.31 20.43 20.s8 20.69 20.80 20.93
21.05 21.r9 21.12 21.45 21.58 21.7t 21.84 21.97 22.10 22.23
22.27 22.50 22.63 22.76 22.9t 23.O5 23.t9 23.3r 23.45 23.60
23.75 23.90 24.03 24.20 24.35 24.49 24.64 24.79 24.94 75.08
25.31 25.45 25.60 25.74 2s.89 26.03 26.18 26.32 26.46 26.60
26.74 26.90 27:05 27 .21 z'.r.31 27.5t 2'7.69' 27.85 28.N 28.16
28.32 28.49 28.66 28.83 29.00 29.17 29.34 29.51 29.68 29.8s
30.03 30.20 30.38 30.56 t0.'74 30.92 31.10 3r.28 31.4]6 3t.64
3l .82 32.00 3?.r9 32.38 32.51 J2.'.t6 12.95 31.14 33.33 33.s2

t0.52
t1.23

10.10 10.r7 10.24


10.79 10.86 10.93

10.31

I I .00

24
25

26
2'7

28

29
30

T
l3l
Alat tersebut didasarkan atas injeksi udara (Gambar 5-6) ke dalam
di mana termometer diletakkan. Alkohol menguap dan
menyerap panas dari selaput perak dan gelas. Akibatnya, termometer

alkohol

selaput tiPis Yang dijenuhi


dengan uaP air Pada suhu

llt'A,;

"t"""

Grmbrr5-4'Konsepselaputtipisevaporasidarisuatupermukaanair(Eagleson'1970)'

6
E
d
qL

o
o
J

xo

q
d

menunjukkan suhu yang sama dengan kondensasi pada tekanan uap kejenuhan (e. ).
Osmometer merupakan higrometer yang diventilasikan. Rodar optik loser dan hidrometer penyerap radiasi infra merah dipergunakan

(Seyhan, 1972) untuk pengukuran-pengukuran kelembaban pada


tempat-tempat yang tinggi (4 km).
Bila mempertimbangkan tentang evaporasi, sangatlah berguna untuk membayangkan proses yang digambarkan pada Gambar 5-4. Tentu
saja, ada perbedaan-perbedaan suhu di antara udara dan permukaan air.
Tetapi pada penghitungan evaporasi, pendekatan-pendekatan baik
dengan menganggap perbedaan-perbedaan ini dapat diabaikan maupun
menerima perbedaan ini sebagai kesatuan kuantitatif, keduanya digunakan. Bila suhu permukaan air dan suhu udara dianggap sama (yang
dalam kenyataan jarang sekali), evaporasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan empiris berdasarkan pada hukum
Dqhon yang mengemukakan bahwa evaporasi air permukaan bebas (EJ
sebanding dengan defisit kejenuhan (e,
- e) dan keceparan angin (u).
Di sini,

Eo

T* temperalul

(0

xo

Suhu T ('C)

[c (e,

-'e)] [f (u)]

Persamaan empiris yang umumnya berlaku berdasarkan atas hukum

Dalton adalah
Eo

Grmbrr 5-5. Kurva tekanan uap kejenuhan (Wilson' 1969)'

di mana:

Psikrometer

Higrometer

ff -,,Xilll*

t ot**

= 0,35 (e, -

e)

(0,5 + 0,54 u2)

Eo = evaporasi air permukaan

r=
e:
u2=

bebas (mm/hari)

tekanan uap kejenuhan pada suhu udara (mm Hg)


tekanan uap aktual dalam udara (mm Hg)
kecepatan angin pada ketinggian 2 m di atas permukaan (m/detik)

Suatu persamaan empiris yang dikembangkan oleh Meyer (1912)

[,

h_","kasabasah

u $j**
laplsan Perak

Grmbrr 5'6. Bagan alat-alat pengukur kelembaban'

sebagai:

Eo
di mana: Eo

0,36 (e,

e) (l

0,1

ur)

penguapan permukaan terbuka (inci/hari)

I
132

133

(inci
pada suhu permukaan air
tekanan uap kejenuhan
sama dengan suhu udara
Srilu o"'-ukaan air dianggap
(inci-Hg)
ur'iuuip"au *hu udara
=
kaki di atas perunrin pada ketinggian}S
u^.
-t) kecepuruntanah
(m/jam).
mukaan

4. Penggunaan konsumtif, yaitu jumlah air yang digunakan

e( :

" :

;;;;;;;;

terjadi)'
berbeda (yang biasanYa
Bila suhu-suhu udara dan air

bentuk:
maka digunakan suatu rumus

Eo :

[c (eu

e)]

[f

dievaporasikan

5. Kerja air, yaitu jumlah air irigasi yang dipergunakan pada suatu
daerah tertentu untuk maksud mendewasakan tanamannya (Chow,

''l

1964).

6. Kebutuhan irigasi, yaitu jumlah air (presipitasi eksklusif), meliputi


evaporasi permukaan dan buangan-buangan lainnya yang tidak dapat

batas udara (selaput tipis


e6 adalah tekanan uap penjenuhan lapisan
tidak sama dengan
pada Gambar 5-4), yulg'tl*pttutu"y"' T5' adalah
sebenornya tidak
adalah
u'urr air dan

7.

temperatur-t..p.ru,u.-"ua"iu
itu tidak diltl*:,1:l::
mungkinuntuk diukur (menurut Penman.suhu
emp'r's sala
rumus-rumus
,iAui aupu, diketahui). Karena itu, hanyalah
suatu rumus
Belanda
yang dikembangkan. Unt,'t danau Ij ssel di negeri
Eo
di mana:

Eo=
L=

e=
u6=

0,345 (er-

c)

(l + 0,25 uu)

evaporasi air permukaan bebas (mm/hari)


i.["."i uup ienjenuhan pada suhu T, dari permukaan

.i

Meskipun secara teoretis pengukuran evaporasi tidak merupakan


kesulitan-kesulitan besar, dalam praktek ini tidak benar dikarenakan

Kitatidakbolehlupa,bahwaSemuarumustersebuthanyaberAifat

5.3. TERMINOLOGI EVAPORASI

1. Evaporasi.
2. TransPirasi.
3. EvapotransPirasi.

al

dihindarkan secara ekonomis, yang dibutuhkan untuk menglasilkan


tanaman (Chow, 1964).
Kebutuhan air, yaitu jumlah air, teimasuk evaporasi permukaan dan
buangan-buangan lainnya yang secara ekonomis tidak dapat dihindarkan, diperlukan oleh tanaman tertentu, pada periode tertentu, untuk pertumbuhan normalnya pada kondisi lapangan (Chow, 1964).

5.4. PENGUKURAN EVAPORASI

danau (mm-Hg)
(mm-Hg)
tekanan uap aktual pada suhu udara
di atas permeter
6
pada
ketinggian
kecepatan angin
mukaan tanah (m/detik).

pada kawasan-kawas/n itu


regional saja dan hanya dapaat dipergunakan
atau yang serupa.

dari tanah yang berdekatan, salju ataupun dari

presipitasi yang diintersepsi (Chow, 1964).

(u)]

dikembangkan sebagai berikut:

oleh

vegetasi yang ditanam atau alami dalam transpirasi ataupun dalam


membentuk jaringan tanaman, bersama-sama dengan air yang

ketelitian yang tinggi sulit untuk dipertahankan. Dalam teknik-teknik


yang lebih halus seperti metode-metod,e keseimbangan panas atau
transfer mossa, peralatan mahal yang peka, memerlukan perawatan
yang teratur harus digunakan untuk memenuhi ketelitian pengamatan
yang diperkukan (Tabel 5.3).
Evapotranspirasi potensial dapat didekati hingga cukup teliti
dengan teknik panci sederhana dengan bantuan faktor-faktor klnversi
dan dengan sejumlah rumus-rumus empiris dan semi-empiris. Namun,
evapotranspirasi aktual lebih sulit dan lebih mahal untuk diuji.
l. Atmometer
Atmometer adalah alat-alat kecil dan mengukur kapasitas
penangkapan udara untuk air (kemampuan udara untuk menge_
ringkan). Pembacaan yang diberikan oleh atmomoter disebut
evaporasi laten (yang dinyatakan dalam cm3 air per hari) dan diberi

I
135

134

batasan sebagai evaporasi maksimum yang mungkin yang dapat


diperoleh dari permukaan yang basah, datar, horizontal, hitam yang
dipajankan pada kondisi-kondisi meteorologi energi matahari dan
angkasa, angin, suhu dan tekanan uap. Pembacaan bukanlah

(Hounam' 1972)
Tabel 5.3. Kisaran biaya peralatan evaporlsi
Kisaran biaYa (dollar AS)

Peralatan evaPorasi

.,

<10

Atmometer
Panci dan Tangki
Lisimeter (tipe drainase)
Lisimeter (tipe timbangan)

>

PeraL 1n neraca Panas

merupokan angka sktuol dan digunakan sebagai pembanding.


Sebelum alat ini dapat digunakan secaca praktis, suatu konstanta
korelasi harus dikembangkan antara Eo dan evaporasi laten.
Misalnya, Eo = 0,56 Eptqhs digunakan untuk Gedaref di Sudan.

20-30
> 1000

d't

5000
5000

:i
I

Perara(an Pengalihan massa


(untuk evaporasi danau)

it:

Salah satu dari unit-unit di atas


yang digunakan dalam hubungannYa
dengan suatu fasilitas pemrosesan data

i!

20000

t
?

Keterangon:Biayayangdioantumkanmerupakanperkiraandanberlakupadasaathargaharga tahun 1971.

.l

,l
ii

qi

ll

dI
rl

:il

{i
Livingstone

Piche

4,,

Reservoir

$l

Black Bellani
bola porselin
putih

porsclin
pOreUs

SePitan

penghubung

a. Atmometer Piche: Atmometer yang dibuat oleh Piche (1872) adalah


tabung gelas (panjangnya 29 cm dan diameternya I cm) yang ditutup
rapat pada ujungnya. Tabung tersebut diisi dengan air suling dan pi.
ringan kertas saring putih dijepit menutupi ujung yang terbuka.
Selanjutnya, alat tersebut digantungkan ke bawah dan evaporasi
berlangsung dari piringan kertas basah (Ward, 1967). Garis-garis
skala pada tabung (Gambar 5-7) menunjukkan evaporasi. Karena terdapat persediaan air yang melimpah maka jumlah yang teru\ur dapat
dianggap sebagai evaporasi potensial. Ini adalah alat dengan
konstruksi, pemeliharaan dan pembacaan yang mudah, tetapi peka
terhadap kecepatan angin dan biasanya diletakkan dalam suatu tabir
(lihat Klausing dalam Eckardt, 1965; Berlade dalam Simposium
Evaporasi, 1959).
b. Atmometer Livingstone: Alat yang diuraikan oleh Livingstone
(1915), terdiri atas bola porselin putih poreus (diameter sekitar 5 cm)
yang diisi penuh air melalui suatu hubungan pada reservoir
persediaan air. Alat ini juga dipergunakan dalam pengukuran radiasi
dengan memasang suatu bulatan putih atau hitam. Seperti halnya atmometer Piche, alat ini juga peka terhadap angin, dan kondisi kimia
pori-pori bola porselin (Gambar 5-7) dapat berubah dengan waktu.
c. Atmometer cawan Block Bellani: Alat ini terdiri atas permukaan
porselin poreus rata (berdiameter 19 cm) yang diletakkan secara
horizontal diudara. Air yang dialirkan dari suatu reservoir mempertahankan cawan tersebut tetap basah.

Grmbar 5-7. Atmometer.

2. Panci (pan)
Evaporasi permukaan air bebos secara rangsung diukur dengan
mencatat pengurangan tinggi di muka air dalam panci. Metode ini
sangat sederhana dan paling sering digunakan.

Di

gclas serat dcngan lubang karvat 0.75 inci)

Biro Cuaca (sedang dikembangkan untuk


penggunaan secara Internasional

Amerika Serikat

atas tanah (panci

Diapungkan

0.25 inci)

Panci Survei
Geologi

Amerika Serikat

Ditanam (dcngan
ditutup kawrt

Panci Young

14

inci

3 kaki2

2 kaki

6 kaki

kaki

3 kaki2
6

.1

kaki

300 cmz

diameter

Luas permukaan atau

Ditanam
Ditanam
Ditanam

[i XEE E E

atas tanah)

(3 kaki di

2.5 inci

inci

kaki

kaki

kaki

18

18 inci

l0 inci

60 cm

Jeluk

---

Hampir merata

0,93-l ,07

0,91-1,04

0,83

0,694,74

Koefisien
panci (tahunan

EIEgEiliEigg[E

*E
iiE 'EE
E;=EE
s]

'

tg +gE** r d=-; ! s :

E$;iig*=r*asreE

ec;EEa**EgEE*gg

Eafgti[HBa{;1gI

FEA[[EFEEE+?EIi

Di atas tanah

tuk kerucut)

(bagian bawah berben-

Di atas tanah

Tipe

LD

Amcrika Scrikat

Panci Biro Industri


Tanaman (BPI)
Panci Standar Kantor
Mcteorologi lnggris

Class A
Panci Colorado

Amerika Scrikat
Amerika Serikat
Amerika Serikat

Panci GGI

Uni Sovvet

Inggris

g,

DO

t,
!t

A)

A)

st

p)

evaporasi yang dikenal di dunia.

Nama

5.4. Panci-panci

*.*l_

9)

Negara

Tabel

c,

o
0)

o.

c,

!,

ID

to

PP

_{

T
139

138

Selanjutnya koefisien panci adalah:

bebekotoran, kesulitan memasang dan memelihara merupakan


di
inci
2-3
rapa kerugian tipe panci ini. Muka air dipertahankan
atas
di
pada
tipe
bawah bingkai (panci MO) dan diukur seperti
yang ditanam
tanah dengan mekanisme apung lainnya' Panci
hasil yang
cukup dalam (berdiameter sekitar 7 kaki) memberikan
Iebih baik daripada vang kecil (Ward, 1967)'
C. Panci upunS: Tipe ini yang mengapung pada permukaan danau'

p=

Eo

di mana:

e" :
'

tidak terus-menerus basah, seperti tanah dan

daerah-daerah

bervegetasi. Metode paling praktis pada pengukuran ini adalah


dengan cara lisimeter. Tongki merupakan bentuk lisimeter yang
primitif. Tangki tertutup pada semua sisi (juga dasar bawah) dan diisi
dengan tanah, jika mungkin utuh. Suatu kondisi kelembaban yang
konstan dipertahankan dengan menambah setiap saat jumlah air
yang terukur, dari atas atau bawah dengan muka air yang tetap.
Dalam kombinasi dengan pengukur hujan evapotranspirasi aktual
diukur. Tangki-tangki terutama digunakan untuk penentuan
evaporasi tanoh. Tetapi data yang didapatkan dari pengukuran

lc

tangki sangat terbatas karena tidsk mewokjll kondisi-kondisi alami.


Alat tersebut juga dapat merupakan tipe timbangan untuk
menentukan perubahan-perubahan berat karena evaporasi. Di Uni
Sovyet dan di negara lainnya digunakan tangki dengan luas 20 m2

(wMo,

1970).

4. Evapotranspirometer

Pada dasarnya evapotronspirometer terdiri atas 2 atau 3 tongki

air yang sempit dan

biasanya digunakan untuk mengukur


evapotronspirasi potensial dengan mengisolasikan suatu blok tanah
yang lembab dan mengukur neroco airnya. Tangki diisi dengan tanah
yang menopang penutup vegetasi yang tak terputus (biasanya rumput), dan dihubungkan dengan pipa pada reservoir penampung air
yang ditempatkan pada tangki sentral. Tiga tangki tanah menjamin
dernjat keterpercayaan yang lebih besar (Ward, 1967). Air memasuki
tangki tanah (Gambar 5-9) hanya dari atas baik secara alami
maupun secara buatan. Air yang terperkolosi dikumpulkan pada

kedap

per-

mukaan danau"

e = tekanan uap aktual pada suhu udara'


f(u): luntti kecePatan angin'

reservoir dan biasanya diukur setiap hari. Kandungan air dalam


tangki dipertahankan di atas kapasitos lopangar sehingga
I
I

","

Adalah sulit untuk mengukur evaporasi dari permukaan yang

tekanan uap kejenuhan udara pada suhu air per-

mukaan Pahci'

pEpanci

3. Tangki

,.,,

er. : tekanan uap kejenuhan udara pada suhu air

atauEo:

Koefisien panci
- rata-rata yang beragam sepanjang tahun, untuk panci
A (lihat Tabel 5.4) adalah 0,70, untuk BPI 0,94, untuk panci
Colorado 0,85 dan untuk panci Young 0,94 (lihat pula Schulz, 1973).

[" - ,][,rl
: ,".. - .,][,,r]
[.

Epun.i

es,-

:
Epanci --

Kelas

hasil
kehilangan popularitasnya (meskipun dianggap memberikan
pengamatannya'
korelatif t.ibuik dengan danau) karena kesulitan
Terdapat
biayanya tinggi dan percikan oleh pengaruh gelombang'
evapor.asi
dan
panci
apung
beberapa perbedaan antara evaporasi
adalah berbedanau karena kapasitas penyimpanan panas danau
gerakan
udara di atas
(karena
da, karena panci tidak berombak
air panci dan
panas
antara
danau lebih turbulen) dan pertukaran
pertukaran
daripada
yang
berbeda
udara air panci dan udara
panas
antara danau dan udara'
S.Uugui*una telah dimengerti sampai sekarang, evaporasi pan(EJ. Karena itu,
ci lebih besar daripada evaporasi air permukaan bebas

perlusekalimenggunakankoefisienkorelasiataukoefisienpanciunini
iuk memperoleh angka evaporasi yang benar' Koefisien-koefisien
Akan
yang
berlainan'
panci-panci
disajikan pada Tabel 5-4 untuk
nampakbahwainimerupakanfaktor-faktorkoreksitahunandan
tidak dianjurkan untuk konversi bulanan'
Dengan menggunakan hukum Dalton dan menganggap bahwa
(T) suatu
suhu air pirmukaan (T) danau sama dengan suhu udara
berikut:
sebagai
persamaan umum dapal dikembangkan

Eo

1l

i,
*l

;
140

evapotranspirasi potensial dapat terjadi

dari permukaan tanah(WMO, 1970).


Untuk evapotranspirometer: a) permukaan tanah dalam tangki
harus mewakili kawasan sekitarnya, b) petak cukup rata, terbuka,
berumput harus dipilih sebagai suatu tapak yang cocok, c) vegetasi

air

ll
tanah

tanah
pipa

a:!;::a

vegetasi

reserv oi r
r.4
ts-

Tangki I

T angki kedaP

air

pipa kerikil
Tangki 2

pada tangki tanah harus berukuran tinggi yang sama seperti vegetasi
di sekitarnya, d) untuk menghindarkan pengaruh udara kering yang
panas di sekitarnya (setelah periode kering yang panjang), suatu
kawasan penyangga sekitar tangki tanah harus diairi atau suatu
pembetulan harus diberikan pada pengukuran Eo yang berlebihan
(Ward, 1967).

I*

Tangki pusat
Gambar 5-9. Evapotranspirometer.

5.

pantal
dinding kedap air
muka air tanah

pengapung

dinding kedaP

Kalau pada evapotranspirometer, tujuannya adalah untuk


mengetahui kehilangan air potensial, pada kasus lisimeter tujuannya
adalah untuk mengukur evopotronspirasi sktuql. Karena itu lisimeter
harus menggambarkan kawasan sekitarnya (penutup vegetasi, kon-

CASTRICUM

disi permukaan, struktur tanah, porositas, stratifikasi, infiltrasi,


permeabilitas dan karakteristik kapiler). Ukuran tangki lisimeter jelas
merupakan faktor yang penting. Makin besar tangki, makin kecil
pengaruh tepi tangki dan lebih mungkin bahwa perakaran vegetasi
akan sama dengan perakaran pada kawasan di sekitarnya. Tetapi untuk lisimeter tipe timbangan ukurannya akan sangat terbatas (WMO,

sampai 2 m

air
pasir pantai

pasir kasar

kerikil
lantai berlubang

LEIDUIN, Amsterdam

drainase Pembuangan

1970).

Gambar 5-10. Contoh-contoh lisimeter yang dipasang di negeri Belanda.

Evapotranspirasi aktual ditentukan dengan persomoon nerqcq.


Tetapi perubahon dalam cadangan (As) hanya dapat diperoleh untuk

-l5'81"

r--_----l

ia- polder
i P le

r I l"

---+i
i

besi tuang

silinder

l1

kasa

DAS

penyanSga

penampung
Gambar 5-11. Penakar drainase

Lisimeter

Gambar 5-12. Parameter-parameter neraca air.

lisimeter tipe yang clopat ditimbang dan tidak diketahui untuk


lisimeter tipe yang tidak dapat ditimbang. Karena itu, lisimeter nontimbangan hanya digunakan jika diperlukan total evapotranspirasi
aktual periode- panj ang.
Beberapa lisimeter mempunyai muka air yang dipertahankan
secara buatan pada jeluk yang konstan dan yang lain mempunyai
keluaran air (out flow) bebas. Ada lisimeter-lisimeter yang diisi
dengan tanah terganggu dan lisimeter diisi tanah yang utuh. Alat-alat
tersebut digunakan untuk meneliti pengaruh jeluk air tanah, tipe
tanah dan vegetasi terhadap evapotranspirasi aktual, untuk menentukan vegetasi yang paling cocok untuk penjagaan air tanah
maksimum (penambahan air tanah), untuk mengukur kondensasi dan
embun (hanya tipe timbangan) dan untuk menguji keragaman dalam

;
142

143

komposisi kimia air selama perkolasi. Lisimeter hanya dapat digunakan

digunakan di Inggris dengan mengukur kuantitas air yang berperkolasi


melalui lapisan tanah atas (topsoil) (yang dipajankan pada kondisi
meteorologi yang ada). Evaporasi tanah adalah sama dengan presipitasi
minus perkolasi (Gambar 5-ll). Bagian tengah tanah utuh yang ditempatkan pada suatu silinder besi tuang dan ditopang oleh jaringan kawat
pada dasar berbentuk corong. Melalui jaringan kawat dan corong air

pada kawasan yang datar dan harus mempunyai jeluk sekurangkurangnya 1,5-2,0 meter dan luas permukaan tidak boleh kurang dari I
m2 (Volker, 1966). Di negeri Belanda (Maasland, Wageningen,
Castricum, Rottegatspolder di Groningen, Amsterdam) Iisimeter dapat
digunakan selama 80 tahun lebih (Ward, 1967). Lisimeter pada kawasan
Waldai (jeluk 2 meter dengan luas permukaan 5 m2; tipe non-timbangan)
di Uni Sovyet, di Coshacton, Ohio (jeluk 2 m dengan luas permukaan 5
di AS, di Castricum (ieluk 2,5 m dengan luas perm2
- tipe timbangan)ruang
pengukuran terpisah dengan reservoir) di
mukaan 625 m2
negeri Belanda dan di Rottegatspolder (lisimeter petak-lapangan dengan
luas permuk aan 625 m2 dan diairi dengan pipa drainase) di negeri Belanda merupakan alat yang dikenal di seluruh dunia (Volker, 1968).
Persamaan neraca air suatu lisimeter disajikan sebagai berikut:

Pl lE"*Dr

-lfilJ*
r

P+I:D+Eu+AS

7. Pengukuran tronspirasi

D2-&-._._ji
di

mana:

presipitasi
tarnya.

: diukur dengan penakar hujan di


air buatan, jika

dipergunakan

seki-

diukur

masukan

dengan meteran air.


drainase : diukur dengan meteran air (jika drainase per-

Eo:
AS:

mukaan ada, maka ini diukur secara terpisah) = Dl *


D2.
evapotranspirasi aktual : tidak diketahui dalarn persa-

Fitometer: Alat ini merupakan bejana logam besar yang diisi dengan
tanah yang ditumbuhi tanaman. Permukaan tanah ditutup rapat untuk mencegah evaporasi sehingga satu-satunya kehilangan air adalah
oleh transpirasi. Kehilangan berat merupakan petunjuk transpirasi
(Meinzer, 1942; Franco dan Magalhaes dalam Eckardt, 1965).
Metode ini juga disebut metode timbangan tanomqn pot.
Kesulitan pada metode ini adalah:
+ sistem perakaran terbatas pada tabung yang nisbi kecil.

maan.

perubahan dalam cadangan karena perubahan kandungan air tanah, permukaan air tanah dan intersepsi:
diukur dengan menimbang lisimeter jika diperlukan

penghitungan periode Pendek.

Meskipun lisimeter memberikan data yang sangat teliti, alat ini


tidak praktis karena tak dapat dibawa.
6. Penakar drainase dan

evapitteter

Jika tangki digunakan untuk mengukur evaporasi dari tanah yang

dibawa pada suatu pengumpul. Di Rothamsted, Inggris, penakar


perkolasi sedalam 20 inci, 40 inci dan 60 inci digunakan untuk menduga
jumlah evaporasi tahunan dan musiman rata-rata. Alat yang serupa,
evaporimeter Popoff digunakan di Jerman dan Uni Sovyet (Ward,
1967). Alat ini terdiri atas silinder (sedalam 25 cm dengan luas penampang melintang 500.m2; diisi dengan tanah dan diletakkan pada corong
berisi tanah yang serupa dengan Gambar 5-ll. Skema kerja adalah
serupa dengan penakar drainase. Problema utama di dalam mengukur
evaporasi tanah normal adalah untuk menjamin bahwa kondisi tanah
pada penakar adalah benar-benar mewakili kondisi utuh alami.

lembab, penakar drainqse (atau penakar perkolasi) digunakan untuk


mengukut evaporasi tansh normal (Ward, 1967). Teknik ini pertama kali

pot mempengaruhi laju transpirasi setelah waktu


tertentu karena earasi yang berkurang.
suhu pada medium perakaran, bila pot dipajankan kepada radiasi
matahari secara langsung, meningkat hingga tingkat yang membahayakan di atas 30"C.
kondisi air di dalam pot harus mendapat perhatian yang seksama.
penutupan

Alat ini merupakan bejana yang diisi dengan air di mana


tanaman berakar. Setelah penutupan yang baik, kehilangan bobot
diukur sebagai petunjuk transpirasi (Meinzer, 1942).

b. Protometer:

c. Metode timbangan cepat: Dalam metode ini, daun dipotong

dan

digantungkan pada tangan neraca yang peka, yang dipasang di

T
144

145

sekitarnya sehingga daun tanaman tetap dapat berada dalam


Iingkungan yang sama seperti sebelum diambil dari tanaman.
Kehilangan bobot diukur selama beberapa menit setelah pemotongan
dan dianggap mewakili laju transpirasi sebelum pemotongan'
d. Metode gosometri: Metode ini terdiri atas pemasukan suatu daun

formasi teoretis ini sedang diuji untuk kesimpulan-kesimpulan praktis


(Culler dan kawan-kawan, 1976).

cabang maupun tanaman seluruhnya dalam ruangan dari bahan yang


transparan (seperti gelas pleksi)' melewatkan udara dengan kelembaban yang diketahui melalui ruangan tersebut pada suatu laju yang
diketahui dan mengukur kenaikan kandungari air udara setelah

melewati ruangan tersebut.

e. Studi aliran sungai: Dengan memindahkan penutup sayuran dari


daerah aliran sungai, ditentukan transpirasinya'

Jumlah transpirasi tergantung pada banyak faktor dan karena itu


jumlah yang ditaksir sangat tidak dLpot dipercoyo. Inilah sebabnya
mengapa banyak upaya diberikan di dalam menaksir evapotranspirasi
dan bukan menentukan transpirasi secara terpisah' Sebutan nisboh

transpirosi digunakan untuk menentukan nisbah bobot air yang


ditranspirasikan terhadap bobot bahan kering yang dihasilkan oleh
tanaman (termasuk akar). Nisbah ini sangat beragam dan tidak bernilai
praktis, sekurang-kurangnya bagi para ahli hidrologi (Ward, 1967 dan
Chow, 1964).

5.5. PENAKSIRAN EVAPORASI

A. Metode Neraca

l.

Metode neraco air

Jika semua parameter hidrologi neracaan (masukan dan keluaran)


diketahui pada suatu kawasan (daerah aliran sungai, polder, petak, dan
lain-lain), kehilangan evapotranspirasi aktual dapat ditaksir dengan
menggunakan metode neraca air (juga disebut neraca air atau metode
persamaan cadangan).

Metode

seperti memandang kawasan seluruhnya sebagai

P+I+Gi=Ea+0+Go+AS
di

mana: P

= presipitasi: diukur dengan penakar presipitasi,/hujan.

Il-

Gi

Eu:

o:

8. Metode penginderaon iauh


Pengukuran langsung evapotranspirasi dengan penginderaan jauh
masih belum dimungkinkan. Pendekatan penginderaan jauh terhadap
penentuan evapotranspirasi terletak pada pengukuran jumlah dan
lamanyo gerakan air dari tanah ke atmosfer. Untuk peliputan kawasan
yang luas, alat yang paling tepat bagi penelitian evaporasi adalah
radiometer infro-merah dan pencatot citra daritdara. Tujuannya adalah
untuk menentukan sejauh mana pengindera dipengaruhi oleh fenomena
kelembaban pada permukaan bumi. Pengukuran stokastik yang diulang
sangat diperlukan untuk lokasi yang berlainan (kombinasi tanah dan
vegetasi yang berbeda) dan vntyt{,aat yang berbeda (siang dan malam'
harian, musiman, dan lain-laii). Accelerometer (yang dipasang pada
pesawat) mungkin berguna di dalam menentukan pengaruh global turbulensi udara terhadap laju evapotranspirasi (Seyhan, 1972)- Semua in-

ini

lisimeter. Persamaan neraca akan menghasilkan (Gambar 5-12):

masukan air permukaan: diukur dengan kolom,


saluran air, dll.
masukan air tanah: diukur dengan metode
geohidrologik atau dengan metode radioaktif.
evapotranspirasi aktual: tidak diketahui.
keluaran air permukaan: diukur dengan sekat, salur4n

alr.

Go : keluaran air
AS

diukur dengan metode geohidrolo-

gl.

perubahan dalam cadangan: ditentukan sebagaijumlah


3 bagian, yaitu: cadangan permukaan, air tanah dan
lengas tanah.

Jika pengamatan dilakukan pada suatu waktu yang cukup panjang


l0 tahun atau lebih) maka A S dapat diabaikan.

(misalnya

2. Metode pemindahon mosso


Pemindahan massa (iuga disebut difusi atau pemindahan turbulen)
didasarkan atas pendekatan aerodinamika yang mengukur faktor yang

146

147

mempengaruhi perpindahan aktual uap air dari suatu permukaan


dengan proses difusi dan pengangkutan turbulen. Teori ini masih belum
lengkap, tetapi pendekatan empiris memberikan hasil yang baik'

Prandtl, Sverdrup, Rosby dan Montgomery dan diselidiki dalam praktek


oleh Thornthwaite, lilolzman, Deacan, Swimbank dan Eagleson. Dari
penyelidikan ini nampak bahwa: (a) zo adalah perubah stokastik, (b)
metode dapat digunakan jika kecepatan dan gradien tekanan uap menunjukkan hubungan linear dengan ketinggian (Gambar 5-13) dan (c)

Penerapan metode ini ditangguhkan karena perlunya pengukuran pada


selang waktu yang sangat pendek (kurang dari 0,3 detik).
Metode perpindahan massa didasarkan atas anggapan (Eagleson,
1970) bahwa aliran yang tetap (tidak berubah dengan waktu) seragam
(kondisi pada semua irisan melintang adalah identik ) dan aliran tur-

bulen udara melintasi suatu permukaan sebaran yang tidak terbatas'


mencapai suatu kondisi di mana keadaan cairan di udara hanya beragam
secara vertikal. Hal ini benar sekurang-kurangnya di dekat permukaan
tanah. Perpindahan vertikal uap pada aliran udara paralel horizontalini
pada permukaan datar yang seragam secara tidak terbatas (panjang
kekasaran zJ akan sebanding dengan hasil kali gradien kecepatan dan
gradien tekanan uap. Hal ini diberikan oleh Volker (1968) sebagai:

E:#t***"'] [^***'l

di mana:

E:
t:
il:
E:
z:
zo :

evaporasi (mm/jam).
suhu udara ("C).
kecepatan angin rata-rata (m/detik).

tekanan uap aktual rata-rata (mm-Hg).


ketinggian di atas zo (cm).
panjang kekasaran (cm).

Kecepatan angin dan kelembaban nisbi diukur pada ketinggian


yang berbeda (z) dengan menggunakan pengindera yang ditempatkan
pada suatu tiang (Gambar 5-13). Karena laju evaporasi (mm/jam) ditentukan atas dasar kelembabanyang sangot kecil dan perbedaan kecepatan
angin pada suatu kisaran ketinggion yong sempit di datam lapisan tur-

bulen (minimum pada 2 ketinggian), frekuensi dan ketelitian

pengamatan alat harus songst tinggi. Suatu alat yang disebut evopotron
(kombinasi pengindera pada suatu tiang dan satuan-satuan pencatat di
tanah) dengan pengindera mengukur dengan konstanta waktu 0,3 detik
nampaknya cukup. K.N.M.I. te-hFmembuat suatu evapotron di de Bilt.
Sistem lainnya yang menggunakan onemometer-termometer sonik
dan higrometer infra-meroh nampaknya dapat dipercaya (Eagleson,
1970). Teori perpindahan massa pertama kali dikembangkan oleh

metode dapat dipergunakan pada semua tipe evaporasi, pada setiap tipe
permukaan dan pada semua iklim.
Ryan dan kawan-kawan (1974) menentukan suatu persamaan empiris evaporasi air permukaan bebas yang didasarkan atas kombinasi 2
tipe mekanisme pengangkutan. Mekanisme pengangkutan konveksi paksasn adalah karena difusi turbulen yang diciptakan secara mekanik oleh

kekuatan sorong pada batas air. Mekanisme pengangkutan konveksi


bebos menganggap kondisi bila permukaan air jauh lebih hangat
daripada udara di atasnya dan bila tidak ada angin yang berhembus.
Pada kasus seperti itu, uap air diangkut dari permukaan air dengan gaya
apung. Persamaannya berdasarkan atas penjumlahan dari 2 mekanisme
pengangkutan, yaitu:

Eo

= (e,-.{tr,ro

di mana:

l0-7) (Tvs

Tuu )%

+(10,9 x lg-e)(uz)rrto,'f

Eo :

evaporasi air permukaan bebas (lb massa,/kaki2ldetik)

e:

tekanan uap kejenuhan pada suhu permukaan air


(Newton/m2)
tekanan uap aktual pada suhu udara yang diukur pada
ketinggian 2 meter (Newton/m2)
suhu air permukaan sebenarnya ('F)

, :

Tu"

T,,

Ts

:
,

0,378 (e)
Pa

Ts =

:
Tru:
Pa

suhu permukaan air (.F)


tekanan udara (Newton,zm2;
suhu udara sebenarnya pada ketinggian 2 m (.F)

Tru =

Ta
0,379 (e)
,^%

Tu:

"

u2=

suhu udara pada ketinggian 2 meter ("F)


kecepatan angin pada ketinggian 2 metei

(cmldetik)

t
l

148

xo

149

)
I

perolehan angin dalam cm. Ini merupakan jarak yang melintasi tubuh air paralel dengan arah angin.

_ _Kgzo(T,-TJdanB:

kritik ini, menggunakan pendekatan meksniko fluida dan


mendapatkan persamaan evaporasi yang memberikan saling-tindak
(interaksi) non-linear dari pengangkutan konveksi paksaan dan bebas.
memberikan

II

di

ti

zo

ti,l

Ts
es

e:

,,

di mana:

(1,54 x 16-q1u*Xa)

[;l

(e.

e)

Pu:

Eo : evaporasi air permukaan bebas (lb massa,/kaki2/detik)


u+ : kecepatan friksi angin pada permukaan air (cmldetik)
a,n

konstanta yang dipilih dari tabel di bawah ini


harga (-A)

H arga (-B)
0,1

0,05

0,01

0,001

0,003

0,1 50

0,140

0,001
0

0,003

0,025

0,034

0,001
0

A, B

0,40

tinggi efektif permukaan

980,665 cm/detik2

temperatur permukaan air ("F)


temperatur udara pada ketinggian 2 meter ("F)
tekanan uap aktual pada suhu udara yang diukur pada
ketinggian 2 meter (Newtons/m2)
tekanan uap aktual pada suhu udara yang diukur pada
ketinggian 2 meter (Newtons,/m2)
tekanan udara (Newtons/m2).

Pembandingan 2 model tersebut menunjukkan bahwa keduanya


adalah absah bagi penghitungan evaporasi. Model Ryan dan kawankawan memberikan hasil-hasil yang cukup teliti dan asumsi linearitas
adalah tidak penting.
Kecepatan friksi (geseran), u +, dan panjang kekasaran, zo, dengan
mudah dapat diperoleh dari penampang angin, karena K/u* (K adalah

: 0,4) merupakan kemiringan garis dan zo


titik potong dengan sumbu-z bila u : 0 (lihat Gambar 5-13). Pertanyaan timbul, bagaimana mendapatkan hubungan garis lurus antara
kecepatan angin dan ketinggian. Hal ini dilakukan dengan mendugia
harga-harga zo yang cocok dan memplotkan kecepatan angin, u,
terhadap log (z - z) sampai diperoleh harga spesifik zo yang

0,121
0,120

0,llz

0,112

0,135

0,112
0,120

0,152

0,166
0,167
0.210

0,167

0,036
0,046

0,042

0,042

0,082
0,093

0,045

0,081

0,045
0,089
0,093
0,1

memberikan kecocokan linear yang paling baik. Analisis tersebut membutuhkan pengukuran penampang angin hingga sekitar 200 cm. Panjang
kekasaran yang khas untuk berbagai permukaan disajikan pada hlm. 150.
Bersamaan dengan metode pemindahan massa, Thornthwaite dan
Holzman (lihat Blakwell dan Tyldesley dalam Eckardt, 1965) mengembangkan pada tahun 1942 persamaan berikut:

Eo:

l2

p"K2 (uz

ur) (qt

qz)

1,"=7,

parameter stabilitas
di mana:

adalah

harga kostanta n
0,01

e)

konstanta von Karman

harga konstanta o
0,01

panjang kekasaran (cm)


percepatan gravitasi

Tu:

u2

mana: K : konstanta von Karman :

Persamaannya adalah:

Eo

Kg zo (0,62) (e.

u2*Tu

Persamaan ini menganggap suatu asumsi dan hanya menambahkan persamaan-persamaan konveksi paksaan dan konveksi bebas.
Namun, linearitas ini tidak ada. Weisman (1975) dan Brutsaert, yang

Eo : laju evaporasi (cmldetik)

150

Pa = kerapatan udara

1,29

lQ-3 grnlgrn3

K_ konstanta von Karman : 0,40


U= kecepatan angin pada ketinggian normal (cmldetik).
rankan serendah mungkin seperti zt :

25 cm dan z2

3. Metode neroco energi


Disa-

Metode neraca- energi (disebut juga metode budget


energi)

didasarkan atas pendekatan bahwa untuk evaporasi dibutuhkan


sejumlah energi terrentu sekitar 590 karori/ gram).
Metode ini diawari oleh
Schmidt (Jerman) pada tahun r9l5 dan terah dimodifikasikan
oreh ahri
yang lain, terutama oleh Anderson di AS.
Dari sudut hidrologi, hubungon energi_pengawetan yang
ditulis
untuk suatu tubuh (air, tanah, permukaan tanan, aan tain-lain) yang
memiliki panas internal yang dapat dioboikan karena p.or.r_pror.,
kimia dan biologi, dan transformasi energi kinetik
-en;aai punur, dun
ditulis unruk suatu selang waktu A t (lihat Gambar 5_l4i:

50

cm

kelembaban spesifik pada ketinggian normal (tidak berdimensi)

e
" 0,662 Pa

e = 0,662 : hubungan berat molekul uap air dan udara


e = tekanan uap aktual (mb)
Pa = tekanan atmosfer (mb) pada ketinggian normal. Tekanan ini
merupakan berat total per satuan luas semua atmosfer yang
terletak vertikal di atas permukaan
zo

Rc+ RL + A, + trS :LEp"* RrL + R, + rR. + Ao + Rw +


H
yang memperhatikan komponen rodiqsi rnotahori gerombang
pendek
dan radiasi atmosfer gerombang panjong. Dalam persamaan
ini ist,ah-

panjang kekasaran (cm).

TIPE STRUKTUR

t5l

istilah yang berbeda dikenal sebagai:

TINGCI STRUKTUR

R.

zo (cm)

(cm)

Hutan fir
Kebun jeruk
Kota besar (Tokyo)

555
335

Jagung

220

Gandum
Rerumputan

Alfalfa
Rerumputan
Rerumputan
Rerumputan
Rerumputan
'fanaman yang panjang
Gurun rata

Dasar danau yang kering


Dasar lumpur yang ha-

60-70
15,2

5- 6
4
2-3

udara gelombang pendek yang masuk langsung, atau yang


"

r98

disebut radiasi sinar matahari

tangsung (e dalam
kal/cm2/menit) gelombanS pendek yunl rnurui.
berhcttn_
buran (atau yong bour) + (q dalam kalori/cmz/menit).

- 74,2
- 22,0
15,4
8,0
- 2,45
2,',12
0,75
84,5
23,3

0,14
0,32
0,50

lus

(disadur dari Seller, 1965, halaman 150)

R.=Q+q
Q diukur dengan pirheliometer, q dengan pironometer
dengan suatt cincin boyangan, dan R. dengan piranometer

(Fleming, 1975).

0,1 (L)
0,03

radiasi global yang masuk : jumlah radiasi gelombang


pendek yang menembus atmosfer dan menca-pai
tanah
(kal/cm2/senit). Radiasi ini merupakan jumlirr
radiasi

283
165

60

0,003

-0,001

_..,. p.kalori,/cnr2,/meniI
r -,-_,-. enersi.
/J. Flux = kerapatan

waktu
2. Kerapatan energi : kalori/cmz

3.

llangley= lly:

lkalori/cm2

152

153

RL= radiasi atmosfer gelombang panjang yang

l/_ lr

truo"ir*o"

lnl2+z

lnz

o)

masuk

(kalori/ cm2/menit)

Ai =

masukan energi teradveksi dari sekitarnya (limpasan permukaan, air tanah, dan lain-lain). Untuk danau (Gambar

Ai dan Ao dihitung dari pengukuran volume dan


suhu pada air yang mengalir masuk dan keluar
5-14)

1n ( z+zo )

(kal/ cmz/ menit).


LEPe

Gambar 5-13, Konsep transfer massa.

Pe=

l=
f=
[=

R.L

energi yang digunakan dalam evaporasi (kal/cm2/menit)


kerapatan air yang terevaporasi
panas penguapan laten dalam kal/ gr (= 957 ,3
0,566 (T))

suhu rata-rata permukaan tubuh ("C)


evaporasi (mm/menit)

radiasi atmosfer gelombang panjang yang terefleksi

(kal/cm2/menit)
radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh tubuh
bersangkutan (kal/cm2lmenit)
aR. = radiasi matahari gelombang pendek yang terefleksi
(kal/cm2lmenit)
f=
koefisien refleksi = albedo (lihat Tabel 5.6)
Ao: pengeluaran energi teradveksi (kallcm2/ menit
AA = laju bersih energi yang diadveksikan ke dalam tubuh oleh
jumlah proses-proses seperti perembesan, curah hujan,
masukan ke permukaan, pengembunan, keluaran, simpanan tanggul, dll. (kal/cm2/ menit)
H_ panas yang dapat dirasakan yang dikonduksikan dan
diadveksikan dari tubuh ke atmosfir dalam kal/cm2/ menit.
Aliran panas yang dapat dirasakan antara dua ketinggian
z, dan z, dapat ditaksir sebagai (Van Bavel dan Fritschen

RB=

gelombang pendek

C>awan
n, (gelombanB panjang)

\/"

permukaan tanah

dalam Eckardt, 1965):


Perrnukaan'r

lanah

60 ('puXC")K2 (u,

"
Pa

DANAU

ca
K

t,

,"I?l'

kerapatan udara

1,29

- Tr)

kaVcmz/menit

lQ-3 grarn,/gm3

panas spesifik udara pada tekanan yang konstan


(kauem/"C)

TUBUH TANAH
Gambar 5-14. Pengawetan energi.

u,XT,

u2, ul

konstanta von Karman = 0,40


kecepatan angin (cmldetik) pada aras-aras

dan 2

z)

154

T2, Tl :
zz, zt :
AS
=

('C) pada aras-aras


elevasi di atas permukaan (cm)
suhu udara

I
F

dan 2

simpanan panas : laju pertambahan (atau penurunan)


cadangan energi di dalam tubuh dalam kal/cm2/menit.
Bolsenga (1975) mempergunakan untuk penelitiannya
data cadangan panas yang ditentukan dari pelocok bati-

ul

AS
Pl
P2

cw

Tl
T2

Tb

vl
v2

R*

=
:
=
=
=
:
=
=

elC,rVr (Tr

3361-)-OJOTN
-19rrlN-E-a533\A

cr?9oNrrcor
!lS:Q6-th$
-9:N6r@6@$t

Td

p2C*Y

z(Tz

Tu)
o.
tr.l

tf)

kerapatan air pada permulaan periode


kerapatan air pada akhir periode
panas spesifik air (kallgram)
suhu tubuh air pada permulaan periode
suhu tubuh air pada akhir periode
suhu dasar : oC
volume tubuh air pada permulaan periode
volume tubuh air pada akhir periode
nrgi yang diadveksikan keluar tubuh dengan nlassa air
yang dievaporasikan

n=

Ts

C*pe (T,

i
a
f

rO--r6-M--^

5Er8X3*5;--

HSgFiHErs-6
J

(Eagleson, 1970); Bolsenga, 1975).

f-

PC,
0,662 (L)

d,
o.

-@!:r:dr633a)
--av-r--+
h6e6rh.:J

d,

n:SEsEg$=s

B= H :y1T'-Tu,
LE
es-
konstanta psikrometer
mb/"C

EEisBSgspo-

o\

= suhu permukaan yang dievaporasikan ("C).

93s.O.G-3--3

=^+FggASS=-

$3S+:ElB:[:oO

TJ

mana: B nisbah Bowen

{
_/

1=

A6@6Or6ri

Dalam persamaan neraca energi ini, istilah panas yang dapat


dirasakan (H) dihilangkan dengan menggunakan nisboh Bowen

di

=axh].5@--.
-hlNr-.-1r,!53=:_

o
z

termogrof elektronik.
Persamaan dasar cadangan energi untuk suatu tubuh air
adalah sebagai berikut (Gray, 1973):

-------:

Y!6nl$r6.^Orf,
,,raatc,43r4o,4
-,F.rt4!6c$--

6-AAS

tr.,l

b.

mm-Hg/"C=0,66
h

u
G

=-In3i33+3
N6rO=o@o
oC9?9-dO6r-a
-!1.1-t|:to\d@o
-Q@601a1

1
157

156
Tabel 5.6. Koefisien refleksi (albedo)

ALBEDO (r)

Air terbuka
Batuan
Pasir
Tanah yang kering
Tanah yang basah
Hutan (daun yang hijau)
Rerumputan
Rerumputan yang kering

Salju basah
Salju yang kotor
Salju yang melebur
Es

Vegetasi

0,15
0,06; 0,05
0,15
0,12
0,20
0,10

0,14
0,08
- 0,09
0,05
- 0,20
0,10
- 0,33
0,15
- 0,25
0,90
0,

l0

bumi. Radiasi Angot, R4, merupakan jumlah energi (lihat Tabel 5.5)
yang akan mencapai bumi pada suatu tempql tertentu (lintang) dan
wqktu (musim dan saat hari) jika tidak terdapat owon danatmosfer. Sisa
RA yang tidak menjadi R" akan diperlemah (Derecki, 1976) oleh refleksi
menyebar dan absorpsi oleh molekul-molekul gas, air, uap, awan dan
partikel debu tersuspensi di udara. Penentuan R" sebagai suatu fungsi
dari Ro dan nisbah keberawanan (n/D) dijelaskan pada paragraf berikut
yang berkaitan dengan rumus Penman.
Terdapat banyak rumus empiris yang tersedia untuk menentukan

komponen radiasi gelombang panjang. Radiqsi atmoskr gelombang


ponjang yang masuk, R1, seperti dikembangkan oleh Anderson dan
Baker (lihat Bolsenga, 1975 dan Derecki, 1976) adalah:

0,60
0,40
0,40
0,50
0,20

: suhu Permukaan (oC)


= suhu udara ('C)
, : tekanan uap jenuh pada T, (mb)
e = tekanan uap aktual pada T" (mb)
L - panas laten penguapan (kallgram)
P = tekanan atmosfer (mb)
c, : panas spesifik udara pada tekanan konstan.

Ts
Ta

Rl=

di

mana:

Ta
,
e

Dengan mensubstitusikan nisbah Bowen ke dalam persamaan


neraca energi dan dengan memecahkan persamaan neraca untuk

Rc

R".

evaporasi adalah:

LE-

Rc(l

-r) + Rr- RrL-RB + AA + AS


e. [L (l + B) Cw (Ts - TJ]

Suatu taksiran evaporasi dengan menggunakan persamaan ini


menyebabkan kesalahan (ralat) yang lebih residual (Gray, 1973;
Bolsenga, 1975) dibandingkan dengan pen{rmaan energi yang lengkap di
mana masing-masing istilah radiasi ditentukan secara terpisah. Beberapa
komentar mengenai penghitungan peristilahan ini disajikan di bawah ini.
R. merupakan bagian dari radiasi gelombong pendek ekstroterestrical, atau juga disebut radiasi Angot, yang mencapai permukaan

* et,t6)(e'(- eh) -"1

[*J'

radiasi atmosfer gelombang panjang yang masuk


(kal/cm2/hari)
konstanta Stefan-Boltzmann : 117,74 x l0-9
(kal/ cmz/hari/'Ka)
suhu udara permukaan ("K)
tekanan uap jenuh pada Tu (mb)
tekanan uap aktual pada Tu (mb)
jangka penyesuaian stasiun (kal/ cm2/hari)
radiasi global yang masuk (kal/cm2/harr)
radiasi global langit cerah yang masuk (kal/ cm2/hari)
pangkat nisbah untuk derajat keberawanan. Pangkat
ini ditentukan dari data lapangan yang besarnya +
2,0.

Jangka penyesuaian stasiun dalam persamaan ini merupakan suatu


fungsi hubungan jangka panjang antara suhu udara pada permukaan
dan pada suatu aras atas (50-200 mbar di atas permukaan). Untuk aras
atas dari 150 mbar di atas permukaan, Anderson dan Baker (lihat
Derecki, 1976) mendapatkan:

A=5(Tua-Tut)
di mana:

Rr_

ort-lzze

4:

jangka penyesuaian stasiun (kal/cm2/hari)

lt

1
159

158

Tu" = perbedaan antara suhu aras atas aktual dan suhu udara
permukaan (oC) ditentukan dari hubungan-hubungan
jangka panjang
perbedaan yang sama untuk suhu yang khas. Perbedaan
ini adalah -9,3oC untuk permukaan 150 mbar

Trt :
Tu=

sederhana
langsung), R...

R""

RA

(a + 0,5

= radiasi global langit cerah yang baru masuk


(kal/cmz/hari)
Re: radiasi Angot (kal/cm2/hari)
a = koefisien transmissi total (yang mencakup absorpsi air
dan penyebaran molekuler)
s : deplesi total penyebaran atmosfer dan refleksi baur.

R""

RrL

0,03

(Ri)

Radiasi gelombang panjang yang terpantulkan, Rs, mrupakan


suatu fungsi hukum Stefan-Boltzmann untuk radiasi tubuh yang hitam (o
Ta) dan emisivitas permukaan tubuh:

RB=toTo
R, : radiasi gelombang
=
a=

hari)

panj4nC'terpantulkan (kal(cm2l

-/

emisivitas. Untuk air emisivitas ini beragam antara


0,900 dan 0,985 (Gray, 1973). Pada umumnya, harga
0,97 digunakan untuk tujuan praktis
konstanta.Stefan-Boltzmann : 117,74 x l0-9

= Rs-Rr. +

&l

dapat ditentukan dengan rumus empiris. Satu rumus seperti itu diperoleh
oleh Penman (1948) sebagai:

Rb

s)

Radiasi atmosfer gelombang panjang yang terefleksi, R.r, ditentukan sebesar 3s/o (reflektivitas suatu permukaan air untuk radiasi
gelombang panjang atmosfer) dari radiasi gelombang panjang atmosfer
total yang masuk (lihat Derecki, 1976). Radiasi ini adalah:

!t"

Bila data yang memadai tidak tersedia, maka radiasi gelombong


panjong bersih adalah sebagai berikut:
Rb

(lihat Derecki, 1976) menentukan persamaan yang


berikut untuk radiasi matahari langit cerah (baur dan

di mana:

suhu permukaan ("K).

suhu atas atas ('C).

Bolsenga

di mana:

= kal/cmz/hari/"Ka

T:

di mana:

Rb=

o-

Tu=
n

= oTx(0,56 + 0,@2{s)(0,1 +

0,9:)

radiasi gelombang panjang bersih (kal/ cm2/hari)


konstanta stefan-Boltzman : 117,74 x lo-e
kal/ cmz/hari/oK4
suhu udara rata-rata (oK)
nisbah keawanan (n/D : 0, ditutup awan sempurna;
n/D : l, Iangit cerah tak berawan)

n-

jumlah jam sinar matahari aktual per hari (diukur

D-

jumlah jam sinar matahari maksimum yang mungkin


(matahari terbit atau matahari terbenam).

dengan pencatat sinat matahari Cambell-Stokes)

Satu persamaan empiris lainnya diberikan oleh Anderson (1954)


(lihat Gray, 1973) sebagai berikut:

Rb
di mana: Rb
To
T2
a

b
C
h
e2

=
:

: l,l4l tT6- Tl(a + be)l

1O-z

radiasi gelombang panjang bersih (kal/cm2/hari)


suhu permukaan air ("K)
suhu air pada ketinggian 2 meter ("K)

0,740

0,0049

0,025 (C)exp.-0'0584 (h)


0,0054 (C)exp.-0,0601tt;
tutupan awan (persepuluhan)
ketinggian awan (ribuan kaki)
tekanan uap aktual pada ketinggian 2 m pada T2 (mb).

T
160

l6l

de Vries (1966) menghitung radiasi gelombang panjang bersih untuk air danau sebagai berikut:

Rs = e oPT$ + oe"Tf (a +

b,r.)[r-cr ? ,'J*

baban operasionalisasi metode

Penerapan metode neraca energi untuk menaksir evaporasi dari


permukaan-permukaan air bebas telah dilakukan oleh banyak peneliti
seperti Bowen (1926), McEwan (1930),Richardson (1931), Cummings

dimana: Ru

(1936) dan Penman (1948). Mungkin rumus yang paling sering


digunakan dalam kategori ini adalah yang diajukan oleh Penman.
Pendekatan Penman merupakan suatu kombinasi metode-metode
transfer massa dan neraca energi. Teorinya didasarkan atas 2 kondisi
yang penting, yaitu:
l. Kondisi neroco energi: Harus terdapat penyediaan energi untuk
memberikan panas laten penguapan. Pada persamaan neraca energi
A A dianggap nol dengan mempertimbangkan selang-selang waktu
neraca yang lebih lama daripada l0 hingga 30 hari. A S juga

l0-9

diperlemah karena mempunyai harga-harga yang kecil.

2. Kondisi kekuoton tenggelom: Harus ada suatu mekanisme untuk


memindahkan uap, sekali dihasilkan. Penman menganggap bahwa

Keterlibatan utama metode neraca energi (Eagleson, 1970; Sellars'


1965) adalah perlunya pengukuran dilakukan pada selang waktu yang
pendek. Hal ini dikarenakan kesulitan penentuan A S. Untuk air yang
dangkal, misalnya, penentuan A S memerlukan selang-selang wakktu
yang lebih singkat daripada untuk air yang dalam. Metode tersebut

pengangkutan uap dan pengangkutan panas oleh difusi pusaran pada


dasarnya dikendalikan oleh mekanisme yang sama, misalnya turbulensi atmosfer, turbulensi yang ditentukan oleh defisit penjenuhan
(e,
- e), yang lainnya oleh perbedaan suhu antara udara dan udara
pada lapisan batas (Ti- T).
Rumus Penman disajikan sebagai (untuk keterangan terinci lihat
Evaporation Symposium, 1959; Rijtema, 1965; Gray, 1973):

memerlukan keahlian, namun dapat dipergunakan kepada semua tipe

evaporasi, pada beberapa tipe permukaan dan pada semua kondisi iklim.
Metode tersebut masih berada pada tahapan pengembangan' namun
telah memberikan hasil-hasil yang baik sekali untuk selang waktu (A 0 7
hari atau lebih di Lake Hefner, AS (Bruce,1966; Easterbrook' 1969).
4. Metode korelasi Eddy

Dalam metode ini, evaporasi diberi balasan sebagai suatu fungsi


fluktuasi gerakon udora veriikal dari harg{rata-ratanya dan fluktuasi
kelembabon spesifik (nisbah massa uap air dengan massa udara basah)
dari harga rata-ratanya (Bruce, 1966). Perhatikan bahwa pada metode
pengalihan massa, gerakan horizontal angin harus dipertimbangkan.
Berhubung kebutuhan pengindera angin yang sangat teliti dan kelem-

[,

terhambat. Penelitian-penelitian

B. Rumus Penman

"t+10

: radiasi gelombang panjang bersih (kal/cm2/hari)


* = emisivitas Permukaan air : 0,97
a = emisivitas udara = 0,97
Tw : suhu Permulaan air ('K)
o = konstanta Stefan-Boltzmann ll7 ,7 4 x
kal/ cm2/hari/'K4
:
Ta suhu udara rata-rata pada ketinggian 2 m ('K)
a: konstanta=0,6
b = konstanta : 0,05 mb-72
c : konstanta=0,66
d : konstanta:1,75
e : tekanan uap aktual pada Tu (mb)
m = derajat keawanan.

ini

masih sedang dilakukan (Goltz, 1970).

,.[+]
Fo

a
di mana:

+ ,rlz

a+v

Eo = evaporasi air permukaan bebas (mm/hari). Harga


negatif yang ditaksir akan menunjukkan kondensasi

L
L
Ta

panas laten penguapan (kallgram)


597,3
0,566 (TJ

suhu udara rata-rata ('C). Suhu ini dianggap sama


seperti 5uhu Permukaan air.

!
162

163

= kemiringan kurva tekanan uap penjenuhan pada T" (lihat


Gambar 5-5 dan Tabel5.7)
r = konstanta psikrometer : 0,485 mm - Hg/"C = 0,66

D
i

nisbah keawanan (n/D = 0, ditutup awan sempurna; n/D


: 1, langit cerah tak berawan)

banyaknya

Tinggal dua istilah yang harus dijelaskan, yaitu R dan Er' R


merupakan radiasi bersih dan sama dengan (untuk keterangan yang
terinCi [hat Wesseling dalam Evaporation Symposium, 1959; Molen,

di mana: Rc+

RL

rR. :

RJ-(rR. *

R.L

RB)

radiasi-radiasi gelombang pendek dan panjang


yang masuk (kal/ cm2/ hari\

(kal/cmz/hari)

a dapat didekati sebagai suatu fungsi dari lintang tempat yang


kurang dari 60o seperti: a = 0,29 (cos ol).
di mana: or = lintang suatu lokasi.
Di bawah ini disajikan beberapa hasil empiris yang ditabulasi yang
diperoleh dari acuan-acuan yang berlainan.
Radiasi gelombang panjang bersih, Rg, dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan empiris yang disajikan di bawah ini:

hari)
koefisien refleksi (albedo). r diambil sebesar 0,06,
suatu rata-rata untuk air terbuka.

Rc(l

r)

Rb

R6

RrL + RB : radiasi gelombang panjang ber(kallcm2lhari)


sih
= bagian Rc yang dipertahankan pada permukaan'

Rr : -Rl *

Radiasi gelombang pendek matahari yang masuk, R., ditentukan


sebagai berikut:

R.:Rn["*o,fr,l /
di

t,

= radiasi Angot dalam kal/cm2/hari


a,b = konstanta emPiris

mana: RA

dimana: Y

Rdl-r)

Y = I + b(x)
Rc/RAdanx: n/D

radiasi gelombang pendek yang terefleksi

Persamaan ini juga dapat dituliskan sebagai berikut:

di mana:

jam sinar matahari maksimum yang mungkin


(matahari terbit hingga matahari terbenam) (lihat Drainage
Principles, 1974).

Harga-harga a dan b dalam persamaan ini, berturut-turut kemi


ringan dan titik potong, ditentukan dengan penggunaan analisis regresi
linear pada data setempat. Persamaan regresi mempunyai bentuk:

R.L = radiasi gelombang panjang terefleksi


(kal/cm2/hari)
RB = radiasi gelombang panjang teremisi (kal/cm2/
r -

= banyaknya

.l

1975):

R = (R. +

jam sinar matahari aktual per hari (diukur

dengan pencatat sinar matahari Cambell-Stokes)

mb,/oC.

(lihat Tabel 5'5)

di mana: Rb

= orf

o :
,tt

Ta =

(x- y'fqp. *t

#,]

radiasi bersih gelombang panjang atmosferik

(kal/cm2/hari)
konstantaStefan-Boltzmann = 117,74 x l0-9 kal/cm2
kal/ cm2/hari/"Ka
suhu udara rata-rata ("K). Suhu ini dianggap sama
dengan suhu permukaan

xrYt zrw = konstanta empiris (lihat Tabel di bawah)


L_
tekanan uap aktual pada T" (mm-Hg)
D= nisbah keawanan (n/D : 0, ditutup awan yang sempurna; n/D : l, langit cerah tak berawan)
D
n: banyaknya jam sinar matahari aktual per hari. Jumlah
jam ini diukur dengan pencatat sinar matahari
Cambell-Stokes

LU)

LU)

Kimball (1914)

Rujukan

.t

Glover dan McCulloch (1958)

os?

Stanhill (1961

Rimmler dan Allen ( i950)


Drummon dan Kirsten (1951)
Drummon dan Kirsten (1951)
Drummon dan Kirsten (1951)
Glover dan McCulloch (1958)
Black dkk. ( 1954)

ICI (Australia)

Baars (1973)

Koopmans (1969)
Koopmans (1969)
Bolsenga (1975)
Bolsenga ( 975)
1

Penman (1948

McKay (1962)

KNMI

Prescott (1940)

Black dkk. ( 195.1)


Black dkk. (1954)

0?q
0.32
0,36
0,20
0,15
0.07

\'lediteran Timur
Saudi Arabia
Salt Lake City. AS (40,4'LU)
Gembloux. Belgia (50,4" LU)
Kew, Inggris

0.26
0.25

"3 "3

,e

!l
tl
5l
,l

o\

EI
zl
EI
Es

0,17
0,47
0,47
0,54

059

0.26

n s1

0,42-0,47
0,50
0,54
0,50
0,52
0,50
0,57

0?q

(t974
0,46
0,53
0,48

n5)

o75

Al-Nakshabandi dan Kijnc

0,50

0,30

"; "[ ";

010

0,24
Musim Panas 0,21 - 0,30
Musim Dingin 0.14 - 0,18

"H

-l

0.54
0,54
0,48
0,50
0,52
0.55
0,47

0b

0,20
0,28
0,28

Musim Dingin 0,30


Musim Panas 0,22

0,18
Setahun 0,20

Sept., Okt.0,34

Maret, Agust. 0.25

0,2s
0,20

o))

":

"i

.i
"r
i .i i "A'; i'E i A'$'; ";';

"5 "3

! ts U
; E'3.5 "3 ": i

Gunung Stromlu, Australia


Cape Town, Afrika Selatan (33,5" LU)
Windhoek, Afrika Barat Daya (22,0'LS)
Preroria, Afrika Selatan (25,4' LS)
Kabete, Kenya (l,l'LS)
Jakarta, Indonesia (6,2' LS)

Anak sungai yang kering, Australia

Yugoslavia (44,4"

Sault Sainte Marie, Michigan, AS (46,3'LU)


Toronto, Kanada (43,1" LU)

Iklim-iklim sedang
Iklim-iklim tropika

Rothamsted, Inggris

(51' LU)
Abu-Ghraib, Irak (32,# LU)

54,4"

Canberra, Australia (35' LS)


Negeri Belanda (-52,4" LU)
Saskatchewan bagian selatan, Kanada

Virginia, Amcrika Serikat (38'LU)

LOKASI CEOCRAFIK

"g "3 "3 "3

"s'[ "; "[ "E ";

-:

"E

":
"H

";

"[ "i "t "; "; ";

i 5"i":"Y"!::"H":

ts"8 u"8 e"s B B s

E"v":

i"a

E;-:"I

U"; E E E-s"r

":"Y"5"*

":

i 5':": i:;;

S"A"A

"3

: 33

3 ": ": ": ": ": ": "; ": ;

E"s"G"E"E"E";"E'E"3";

"3

":":":": E";":5"3";":

-a

-: ": "; ": "; ":

.-B"B;;"=

"=

!fl

I
166

matahari yang mungkin maksimum

D: jumlah jam sinar

imatahari terbit hingga matahari terbenam)'

Rujukan

Lokasi

Penman

Rothamsted, Inggris
Belanda
Kanada

KNMI
Maleer

0,56
0,4'l

0,092

0,10
0,20

0,o77
0.092

0.56

0,90
0,80
0,90

0,10

uap pada persamaan umum


Catatan: Harga-harga ini digunakan bila harga-harga tekanan
adalah dalam mm-Hg.

pada kasus

E, dalam persamaan Penman menerangkan evaporasi


berikut:
hipotesis bila suhu udara dan air sama, yaitu sebagai

Er:
di mana:

f(u) :

f (u) (e,

e)

fungsi angin
tekanan uap jenuh Pada suhu udara
tekanan uap aktual pada suhu udara'

!s
!-

angin'
Terdapat beberapa rumus empiris yang menerangkan fungsi
ini'
Beberapa.u.ut tersebut disebutkan di bawah
a. Penman (1948) untuk Rothamsted, Inggris:
f(u) = 0,35 (0,35 + 0,54 u)'
b. Rijtema (1965) untuk Wageningen, Netherland:

f(u) = (0,182)

u2

r(u)

86,4 ;a

1go3g

uz

f(u)=86,4xlgoeaeK
P

Untuk menanggulangi tenaga penghitung yang terlibat dalam


memecahkan rumus Penman, banyak tipe nomogram dikembangkan.
Nomogram Rijkoort (KNMI, negeri Belanda) adalah yang paling
berguna dalam penilaian rumus Penman secara cepat. Lagi pula, seperti
telah dilakukan oleh Chidley dan Pike (1970), penyelesaian komputer
tentunya akan mempercepat penghitungan.
Rumus Penman didasarkan atas anggapan bahwa suhu udara dan
permukaan air rata-rata adalah sama. Dalam praktek, didapatkan
bahwa rumus tersebut merupakan metode yang paling praktis dalam
menggunakan Eo pada setiap iklim.
Evapotranspirosi potensiol dapat dihitung dengan menggunakan
Eo Penman dan koefisien c, Ep - cEo. Penentuan koefisien ini sangat
sulit. Beberapa harga koefisiendisajikan di bawah ini.
RUJUKAN
Hemisfer bagian Selatan

c. Thorhthwaite - Holzm ann (1942):1

.J

llz

1,"';7'

di mana: u2

kaan (m/detik)
Pa = kerapatan udara = 1,29 x lQ-3 g1am,/sm3
hubungan berat molekul uap air dan udara (: 0,622)
K_ konstanta von Karman = 0,40
P- tekanan atmosfer (mm-Hg)
uz= kecepatam angin rata-rata pada ketinggian z cm di atas
permukaan (m/detik)
L_
ketinggian pengamatan (cm)
zo= panjang kekasaran (cm).

[,"

;T

kecepatan angin pada ketinggian 2 m di atas permu-

Rothamsted, Inggris

Menuju Ekuator
Colorado, AS

0,6 Mei.Jun., Jul., Ags.


0,7 Mar., Apr., Sep., Okt.
0,t Nov., Des., Jan., Feb.
0,8 Mei, Jun., Jul., Agt.
0,7 Mar., Apr., Sep., Okt.
0,6 Nov., Des., Jan., Feb.
0,75 rata-rata tahunan
0,75 harga rata-rata

0,6 Jan., Feb., Nov., Des.


0,7 Mar., Apr., Okt.
0,8 Mei, September
0,9 Jun., Jul., Agustus

Fleming (1975)

Penman (1958)

Penman (1958)
Schulz (1973)

0,65 rata-rata tahunan

Kramer (1957)

0,65

Makkink (19s9)

T
169

168

lcum

wind

0,65

=
Ep =
Ep :

Ep

1,4 E(, + 0,7 MelSeP'


1,27 Fo + 0,51 Okt-APril
1,52 En

dak dapat dipergunakan pada iklim-iklim yang kering (arid). Ini akan
berarti bahwa, untuk daerah-daerah semacam itu konstanta dari fungsi
E. harus ditentukan dengan analisis regresi linear, yaitu sebagai berikut:
(195s)

E, =

Rijtema (1965)

o,o2 umum

Ez
=?*
.- s

RUJUKAN

y=

si

Tropis

0,8
1,0
1,0

1,0
1.0

1,0

Molen (1971)

ahkecil,(lha)
musim panas:

1,5

0,8

1,0

1,0

t.2

t,2

t,2

l.

1,5

AngkayangmenarikdariTabeliniadalahbahwakalauPenman

tian baru-baru ini menunjukkan (Al-Nakhabandi dan Kijne'

1974)

bahwa evapotranspirasi tanaman dapat melebihi Eo.

Metode alternatif dalam menghitung evapotranspirasi potensial

adalah menggunakan albedo t4naman (harga-harganya yang berkisar an(1


r),
tara 0,15 hingga 0,27 telah dihporkan) dalam penghitungan
yang
angin
fungsi
dan bukan albedo air. Namun, ini membutuhkan suatu
baru dalam persamaan E, karena fungsi angin yang sama tidak dapat
dipergunakan untuk kedul permukaan tersebut. Al-Nakhabandi dan Ki-

tf SZ+l melaporkan bahwa untuk iklim-iklim basah, fungsi E, YanB


sama dapat dipergunakan untuk tanaman-tanaman pendek, namun ti-

0,54

u)

b(u2) atau:

y=

a+

b(x)

E'
s-e

;x:u2

Rumus berdqsorkan atos hukum Dalton


Rumus ini, sebagaimana dijelaskan pada paragraf 5-2, dikembangkan untuk menentukan evoporasi air permukoqn bebas, Eo.

2. Rumus Thornthwaite

(1956) dengan anggapannya mengartikan bahwa evapotranspirasi dari


p.nrirp reiumputan hijau yang pendek tidak dapat melebihi Eo, peneli-

j"i

C. Rumus-rumus empiris

1,0

Arid atau semi-arid


(daerah luas)
musim dingin:
musim panas:
Arid atau semi-arid

e) (0,5

di mana:

janliriga-

0,9

atau yang umumnya sebagai:

Basah se- Rumput


telah hu- pendek

Basah, sedang
musim dingin:
musim panas:

0,35 (e,

Rumus Thornthwaite (1948) memberikan evqpotrqnspirasi potensial


untuk vegetasi yang pendek dan padat dengan pasokan air yang
cukup. Rumus ini dikembangkan di AS untuk lintang-lintarrg Utara
dari 29" LU hingga 43o LU, dengan menggunakan hasil-hasil percG.
baan yang diambil dari lisimeter (luas permukaan 4 m2) dengan suatu
permukoan qir tanoh yong konston pada jeluk 0,5 m di bawah permukaan tanah. Karena itu, penerapan rumus ini ke kawasan lainnya
adalah tidak mungkin.
Rumus tersebut disajikan

Ep= 1,62[to

Ep:

l,l"

,"e[#31

a:(675 x l0-)1s-Q7t x l0-7)J2+(179 x

t0-4)J +0,492

T-

T
170

n=
J:

t7t

t2

12

Jn:

(Tnl5; t'st+

l1 =

Suatu bentuk yang lebih disederhanakan (diberikan oleh hidrolog


Perancis, Serra), untuk a dan J sebagai berikut:

n=12

n:12

n=l
n=l
3=(1,6x t0-)J+0,5
di mana:

E, =
T=

ev?potranspirasi potensial dalam suatu bulan yang


dibakukan selama 30 hari 12 jam sinar matahari
(cmlbulan)
suhu rata-rata bulan khusus yang sedang dipelajari

("c)

J = indeks-panas setahun
jn = indks-Panas bulanan
Tn = suhu bulanan rata-rata bulan ke-n
n = indeks urutan (n : l, 2, .,.,12)
a - parameter yang bergantung pada iklirn kawasan
Ep = evapotranspirasi potensial aktual pada bulan khusus
=
p:
N

t0 _40
I

jumlah rata-rata jam siang hari matahari terbit dan

Thornthwaite (Dam. l97l).

Nomogram yang berbeda-beda (suatu contoh disajikan pada Gam-

digunakan harga suhu 50oC.


Keberatan utama mengenai rumus Thornthwaite adalah kenyataan
bahwa rumus tersebut didasarkan atas suhu yang tidak selalu sesuai
dengan radiasi matahari yang masuk secara tepat. Suhu ketinggalan
(karena inersis ponos lahan dan air) di belakang intensitas radiasi
matahari. Tetapi, transpirasi secara langsung berkaitan dengan radiasi
matahari. Rumus tersebut tidak dianggap sebagai cara untuk menghi-

"

(-C)

Gambar 5-15. Nomogram untuk penghitungan evapotranspirasi potensial menurut rurnus

matahari terbenam pada bulan yang bersangkutan.

bar 5-15) tersedia untuk penghitungan evapotranspirasi potensial


Thornthwaite yang,fidar sulit. untuk suhu-suhu di atas 50oc,

50

cm[Era(ur

yang sedang dipelajari (cmlbulan)


jumlah hari pada bulan khusus yang bersangkutan (28,
29, 30 atau 3l)

fl

E-*.

;./

-ro

taFs6":g'E
lltr,-.

Slfio

rr H g

iE

a E BEEE

i}F

r r c ESse.QE*FEs_.x

5-+

ed
d=

6',*
!rP
=5
ir

oa=
r-j.,r

=
3.oa E
Jx

oq5

+uJ
C2.
tr
5qr=F

F,

5gE

cju.N:

_
HS-

;;

tr

o
h

f'

iS

a)

'

!D

;i

tzl

Allalfa

Gula hir

Sorghum

Butiran kecil

Kentang
Padi

Rerumputan

daun

Kebun buah jeruk


Kebun buah gugur

Buncis
Jagung
Kapas

periode bebas suhu beku


periode bebas suhu beku
3 bulan
3 sampai 4 bulan
3 bulan
5 bulan
5% bulan

penode bebas suhu beku


3 bulan
4 bulan
7 bulan
7 bulan

Lama musim rumbuh


atau periode

0,70
0,70

0,75

I,00

0,75
0,'10

0,65

0.60

o,'70

0,'7 5

0,65

0,85

Kb Musiman
(musim-l 'F-l)

tsulau

1.00

0,85

t,00
I , t0

t.-10

1.00

t.00

I,t0-0,8s
0,8J-

0,70
0,85
0,85

(i,95

- t.25
0,85
0,80 t,20
0,75
- l,t0
0,65
- 0,7,5
0,75

{J,95

(bulanr "Fr)

Xo lllaksinrunr

Koefisien penggunaan konsumlil

197-])

=iEE;;r;g [
E.FEE gi[}gE;**

'
$H$a'r

IEEIEgIEi1EEFE[EI

{
(,

tE.EEg1*EEiElEEEgiS

Tabel5.E. Koefisien-koefisien penggunaan konsumlif


dalarn rumu! Blaney dan Criddlr ([,agleson. 1970i
lihat juga Schultz.

$Ba*=SE$

,?

i.+HF;AU-

+H

EelsIE
F;ltreEn+

EgrEE;qs

g^!Jd-.

=1,

5tr!)n

F:

EHiZ
k'E

-ia

qi!

i=gsEEsi

rc3.713..
u*J^'
d'\O
D il . ^ *

Hg

il

G
PH E r gE.E
p-lii=xiio:'

ililil

rT,

EEE:qHiE
rtg
3[ iee
'-.crB!1
=b iaqg}$:rfEii};E$-$E

rl t

(D=!:rr
E'

FU

ig: }-i
3fs'81'strH
Iit=gqgs

=
B
H

f =E =
:EeEtEEF

i2.e5it5'n*I'

*
*gB-r' (, 6lr
i(oa -;
!u c i.

[r]IH]=

9.3.,rf I a a.t,
50-c)=---$a)
(,5 E).
& S, -,

anuari
Februari

8,31

8,09

Septembel
Okt_ober

100

s)

F)

7,49
1,12
8,40
8,64
9,38
9,30
9,49
9, l0
8,3 I
8,06
7,36
7,35
,07

l6

t.J

8,32
8,02
7,27
7,27

9,

8,39
8,68
9,46
9,38
9,58

7,40

/\

;.r,4

=.

W i *o

I
6-

15

)a==-

E0FE

g stsB :=
N)

o- Y.X:.
!D sijo

=')=!)

E eSE;
f 9=tE55
5
H

6-.r-J^

g ;[EB fiT
F ErSE
s
F
*EET'3
x $'84.5-

g=H-sEx

E=9P8ts

advvi./u

a r.r5 r.g
x 5 E o- Q E.-= 9

\-

!........:r

rl

lTt
rn ._jl+
-lu
X
o
'"
il
ll ll
ll
fn
q Bts il 2 P E 2
g g

Desember

7,16

9,05

November

9,41

Juli

7,t'7
8,40
8,60
9,30
9,20

7,5 8

Agustus /

Mei
uni

April

lVlaret

(l,aglesorr,1970)

3
\

oX-J

(r-

po

--v

ft

JH-r-s

69P

l- : )s'
ArmcO-

A^i

^y(J6

H;YF

I ='o- 5
:ro=
-^]aor

A)

IU J

oJ :J

3 5 -=

^Yn.i

-^\

T+aUi
A

O-E.
!0. ''

[!=ttz
d [E !.'

JN'
C i,
a -.

;<
- FJ Etr^
ato=

Lr6

=.0e o
=
l0^-a

JL{

Fr*-ll2

=-deatar

+
Jt1

6
5iY
*--)

*FN4

IJ

t0

!:t9
L

E:l

'ot

Fi

!l

--

od

rq)
5
A);i

FD$

P^iv

HO-A)
i1iEH5
,r!.L

AH\

troa 9.J

6,62
6,38

'1,70

9,62
8,40

10,35

il

ln
,r'
$

9,47
8,38
7,80
6,82
6,66

10,10

6,81 6,16
6,79 6,73
8,34 8,33
8,90 8,95
9,92 r0,14
9,95 l 0,21

A'

cJ

TD

!D

E'

FO

Al

ItsLAJ - .(a
=rJ(Y
J
J
!0

ililil

-j 5

7,10 6,99
6.91 6,86
8,36 8,35
8,80 8,85
9,72 9,81
9,70 9,83
9,88 9,99
9,33 9,40
8,36 8,36
7,90 7,85
7,O2 6,92
6,92 6,79

\<clc
H zt'c =
De5=

il

rn
A'

7,30 7,20
7,03 6,91
8,38 8,37
8,72 8,75
9,53 9,63
9,49 9,60
9,67 9,77
9,22 9,28
8,34 8,34
7,99 ,93
7,t9 7,|
7,14 7,05

*l

-o

-l

f.J

(,

il

3lv
ul

=l

-t

\o

tt

rnl
lD

o-5

E tl
5

tslsP

vN^!;

? tD

.r

.-

!X

--

a\

U:
=ji d\
=
r. oa c_

^l

3t.=
-t7l.
-r-\
^- r

=^

Jl

? u.,

E Pd(

XJ^S

.Pl^'<-

=!i

6 FcS

HocrDe5
{aif^\=

t+-L

0.

a:

=aDFo!,
=.
ExEz.
"'= x
Ei

,ui:*9

P = a'=
^-P

$ ,= c's'o
tr
rY.r
5
i
i'D)ra)ai+r

A)

EJ A
F\J
=(a i5 c s
F_d; $ tr t:X
r =
P
-

=9J:
6-!

10,99

9,89 10,00
8,44 8,44
,51 7,43
6,22 6,01
5,86 5,65

10,80

6,t1 5,98
6,42 6,32
8,21 8,25
9,18 9,2s
10,69
10,5 3
10,7 r
10,93

L<^rF{O

6,62 6,49 6,33


6.65 6,58 6,50
8,3 I
8,30 8,29
9,00 9,05 9,12
10,l4 10,26 10,39
10,2r r0,38 10,54
10,3 5
t0,49 10,64
9,62 9,70 9,79
8,40 8,41 8,42
7,'70 1,63 7,58
6,62 6,49 6,36
6,38 6,22 6,04

Lintang dalam derajat Urara Katulistiwa

Tabel5.9, Harga-lrarga P (persentase bulanan pada jam-jam siang lrari dalam setalrun) pada runrus Blaney dan Criddlt

(j

-I
5

r
176

100

cara. Cara yang satu ialah: K = 25 cm/G)h


M = hasil bahan kering akhir (kglha)

l0 G

=
c=

177

nunon. Rumus tersebut disajikan sebagai:

lamanya musim tumbuh (hari)


konstanta tanaman (Jagung dan bit : 0,67; kentang
: 0,83; p-adi-padian, lena, wortel : 1,00; kacang,
semanggi = l,l7i rerumputan, mostar : 1,33)
kapasitas evaporasi udara : (l/16) (T + 2) (RJ%
suhu udara rata-rata periode waktu l0 hari ('C)

(T) :
T:
Rc : radiasi matahari

Ea

0,8 + 0,14 (T)


di mana:

Eu

gelombang pendek yang masuk

_:
p

(kal/cm2/hari).

I :
T:

5. Rumus Langbein

Langbein (AS, 1949) seperti halnya Turc, menentukan presipitasi


tahanan rala-rata (P), evapotranspirasi aktual rata-rata tahunan (EJ
dan suhu tahunan rola-rotq tertimbong pada 20 daerah aliran sungai
di AS dan mengembangkan persamaan yang sama dengan Turc,

(:

namun dengan fungsi suhu yang berbeda. Rumus Langbein disajikan

cukup baik.

Untuk
494 mm

evapotranspirasi aktual rata-rata tahunan

(m/tahun)
presipitasi rata-rata tahunan (m/tahun)
koefisien suhu
suhu rata-rat4 tahunan (.C).

F s 0,75 m,/tahun, Ea : 0,4g4 m/tahun


tahun) untuk negeri Belanda (lihat Tabel 5.1) dan

T = l0"c
per

dan

8. Rumusan Khosla
Khosla mengembangkan suatu rumus dengan menggunakan data
yang dia dapatkan di India dan AS. Rumus memberikan hasil-hasil

sebagai:

E,:

r(P)2

yang sangat mendekati rumus Taro, Langbein, Courtagne dan Wundt

untuk suhu-suhu yang tinggi. Rumus Khosla disajikan sebagai:

[0,,*#J"

Eu=

P-Q-xT

di mana T adalah suhu tahunan rata-rata tertimbang.

Penggunaan
rata-rata tertimbang ternyata lebih baik daripada penggunaan rotoroto orilmatrlr sebagaimana dilakukan oleh Turc. Fungsi suhu Lang-

= evapotranspirasi aktual rata-rata tahunan (inci/tahun)


= presipitasi rata-rata tahunan (inci/tahun)
o : debit rata-rata tahunan, yang meliputi aliran air tanah
(inci/tanun)
x : konstanta = 0,43 hingga 0,57
T = suhu rata-rata tahunan (.F).

di mana: E"

bein lebih realistik, karena fungsi ini melipat suatu kisaran nilai-nilai
suhu rendah dan tinggi yang lebih luas. Untuk T l0"C dan F= 250
=
mm/tahun, Eu adalah 490 mm/tahun untuk negeri Belanda (lihat
Tabel 5.1) dan cukup baik.
6. Dsto Wundt
Wundt (Jerman, 1937) tidak mengembangkan rumus, namun menyajikan taksirannya, yang ditentukan pada 220 DAS di seluruh dunia,

9. Rumus Christionsen

christiansen (1968) mengembangkan suatu persamaan yang tidak


mempunyai dasar analitik (Schulz, 1973), namun yang paling praktis.
Lagi pula, persamaan tersebut mempunyai horga-harga roto_rota op_
sional untuk parameter-parameter persamaan tersebut yang tidak ada
data yang tersedia. Persamaannya disajikan sebagai:

pada suatu tabel yang mendefinisikan evapotranspirasi oktuql

tahunsn roto-rato sebagai fungsi dari presipitasi rata-rata tahunan (F)


dan suhu rata-rata tahunan (T).
7. Rumus Coutagne
Hidrolog Perancis, Coutagne (1950) juga mengembangkan suatu
rumus yang memberi batasan evapotronspirasi aktuol roto-rqla tq-

Ep =
I
I

0,47 3

(Rr(Cd(Cd(cd(cd(cd(cr*a)

179

178

= evapotranspirasi potensial (mm/hari)


= radiasi Angot (mm air)
= koefisien suhu
= 0,3e3 + o,ssszt+J + o,t722t+J

di mana: EP
RA
CT

Tc

CH

BULAN

Januari
Februari
Maret

Mei
Juni

Juli
Agustus

H- :
Cw

0,708

kecepatan angin harian (kmlhari) dengan harga

Cs :

l?*f

6t-:J -

0,036

[=i*

dapat digunakan di dalam mengembangkan rumus_rumus untuk


kawasan yang tidak mempunyai penakar

J'

0,4ee2[

c. Teknik-teknik statistik dapat digunakan di dalam meng.m-

bangkan suatu penaksiran evapotranspirasi aktual sebagai suatu


fungsi fluktuasi pada permukaan air tanah yang selanjutnya
dianggap sebagai parameter yang terbaik yang ada untuk kun_
dungan air tanah (Bleeman, 1966; Leerinbeekgebied report, 1970)

sional 8090

Ce : koefisien elevasi : 0,97 + 0,03 [-

l-

elevasi stasiun dalam kaki

Looo- -!

di atas permukaan laut.

Harga tata-rata opsionalnya adalah 1.000 kaki

Cu = koefisien vegetasi bulanan yang diukur secara empiris dengan menggunakan tabel berikut (untuk
negara bagian Indiana, AS, 40' LU).

baik untuk penerapan lokal

b. Metode-metode statistik (analisis korelasi, regresi dan multivariat

+ o,ttttt;f
12
]nisbah keawanan dengan harga rata-rata op-

+ 0,64[ J

S : n/D :

E:

a. Terdapat banyak rumus evoporasi lokal lainnya yang dikembangkan (Chow, 1964; Bruce, 1966). Beberapa metode ini sangat

rata-rata opsional 95,56 km/hari


koefisien sinar matahari

0,542

1,13
1,16

Desember

10. Metode-metode penaksiron loinnyo

kelembaban nisbi rata-rata yang diukur pada jam


11.00 dan jam 17.00. Harga opsional adalah 57 ,40/o
fungsi angin
0,327

l,o7

40o/o

: t,2s - o,znf!! I - o,olt


+

0,99

Oktober
November

Hn : kelembaban nisbi rata-rata yang diukur pada siang

c,

0,91

September

o,r2[5]2 -o,oI8[*y

hari dengan harga opsional pada

0,93
0,89
0,88
0,87
0,89

April

suhu udara rata-rata harian dengan harga rata-rata


opsional pada2O"C.
koefisien kelembaban

t,zs -0r48[54J +

1,08
1,00

d. Meskipun hal tersebut jarang dilakukan, pingiaj ian


laborotorium mengenai evapotranspirasi juga dilakukan. Satu
percobaan dilakukan oleh Laboratorium Aeronotika cornell di
AS (Easterbrook, 1969) dengan menggunakan suatu tongki
evaporasi panjang

12,5 meter yang dibangun secara khusus.

Tangki ini (Gambar 5-16) digunakan unruk mengkaji (l)

hubungan antara karakteristik gelombang, karakteristik aliran


udara dan laju evaporasi, dan (2) proses-proses mikrofisika yang
mengatur laju pengangkutan massa melintasi permukaan air.

l8l

180

5.6. PENGURANGAN EVAPORASI

siA
scksi

daporr$

_=-.1n1=> lckukqpr
segel

latcks kaYuh Penggerak

(Easterbrook' 1969)'
Grmbar 5-16. Diagram skematik tangki evaporasi

fiB

Pengurangan evaporasi dengan mengendalikan laju penguapan air


adalah penting dari segi ekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara:
l. Mengurangi permukaan air yang terbuka (reservoir, danau, saluran,
sungai, dan lain-lain) hingga minimum
2. Menutup dengan bahan yang mengapung yang memiliki koefisien
refleksi yang tinggi
3. Menggunakan suatu penutup plastik yang mengapung
4. Menyediakan suatu atap di atas kawasan
5. Menghilangkan vegetasi yang tak perlu (khususnya dalam air) yang
menyebabkan transpirasi yang tinggi
6. Menggunakan lapisan permukaan. Setil alkohol (atau disebut
heksadekonal) memberikan hasil yang memuaskan (Roberts, 1957);
Chow, 1964). Ini merupakan penyelesaian yang paling ekonomis dan

paling praktis (Gambar 5-17)


air pada reservoir air tanah.

7. Menyimpan

Ini juga disukai

dengan

maksud-maksud untuk pemurnian (dengan infiltrasi)


8.
o
t

penelitian (Eagleson, 1970).

!n

o
ql
rI]

Waktu (bulan)
panci (Roberts' 1957)'
Grmbrr 5-17. Evaporasi kumulatif dari

i,
I

Memperlakukan tanah dengan bahan-bahan kimia (seperti setil


alkohol) untuk mengurangi transpirasi. Teknik ini masih dalam

1
183

kaan tanah menuju saluran sungai. Kata-kata sinonim adalah limposon di qtqs lohan (beberapa ahli membedakan limpasan permukaan
dengan limpasan di atas lahan).

4. Limposan bawoh permukaan (limpasan hujan bawah permukaan,


aliran bawah permukaan): Limpasan ini merupakan sebagian dari
limpasan permukaan yang disebabkan oleh bagian presipitasi yang
berinfiltrasi ke tanah permukaan dan bergerak secara lateral melalui
horizon-horizon tanah bagian atas menuju sungai (Chow, 1964).
Kata-kata sinonim adalah: aliron hujon bawah permukaan, oliran
bawsh permukaan, sliran untara dan perembesan.
5. Limpasan permukoan langsung: Bagian limpasan permukaan
memasuki sungai secara langsung setelah curah hujan maupun
lelehan salju. Limpasan ini sama dengan: kehilangan presipitasi (:
intersepsi + infiltrasi + evapotranspirasi + cadangan permukaan).

6. LIMPASAN PERMUKAAN DAN


HIDROLOGI SUNGAI

Kata-kata sinonim adalah: limpasan longsung dan limposan hujan.


Limpasan permukaan langsung adalah sama dengan hujon efekttf
iika hanya hujan yang terlibat dalam membentuk limpasan permukaan. Kelebihan presipitosi (atau kelebihan curah hujan) adalah
sama dengan kontribusi presipitasi terhadap limpasan permukaan.

6.T. BATASAN.BATASAN

solju melebihi laiu


Jika intensitas curah hujan ma:uplurr. laiu lelehan
cadongon persebagai
berakumulasi
infiUiiii, maka kelebihan air mulai
(merupatran
*u*orn. Bila kapasitas cadangan permukaan dilampaui
muka)' limpas-a-n perilG;i depresi permukaan dan gaya tegangan
mulai sebagai suatu aliran lapisan yang tipis' Pada akhirnya'

Pada Gambar 6-1, tipe-tipe limpasan dan alirannya disajikan.


Presipitasi, dalam setiap bentuk, jatuh di atas vegetasi, batuan gundul, tanah, permukaan, permukaan air dan saluran sungai (selanjutnya disebut presipitasi saluran). Air yang jatuh di atas vegetasi
diintersepsi (yang kemudian berevaporasi dan/atau mencapai pgr-

mukaan

lapisanaliranairiniberkumpulkedalamsaluransungaiyangdiskrit.
yang

pada saluran-saluran
Dalam artian yang umum, air yang mengalir
merupakan kelebihaliran-aliran
dan
kecil ini, parit-parit, trngui-t'ngai
cadangan permukaan dan air
an curah trujan ternaaap"e'apoiat'spirasi'

mukaan tanah) selama suatu waktu maupun secara langsung jatuh di


atas tanah (khususnya pada kasus dengan hujan-hujan berintensitas
tinggi dan lama). Bagian hujan yang pertama membasahi permukaan
tanah dan vegetasi. Selanjutnya, Iapisan tipis air dibentuk di atas permukaan tanah yang disebut dengan detensi permukoon. Jika lapisan
air ini menjadi lebih besar (atau lebih dalam), maka aliran air mulai
berbentuk lsminer. Namun, jika kecepatan aliran meningkat maka
turbulensi juga meningkat. Aliran ini disebut limpason permukaan.
Air yang mengalir ini akhirnya mencapai saluran sungai dan menamb3hlan debit sungai. Selama perjalanan limpasan permukaan (e, )
air disimpan di atas permukaan tanah sebagai cadangan depresi. Air
yang berinfiltrasi yang hilang dari presipitasi (Gambar 6-l) dapat

bawah tanah.

Dalam kepustakaan kata-kata yang berlainan seperti limpasan'


sesuatu yang
aliran sungai, debit sungai digunakan untuk mengartikan
sebagian
sama (Chow , 1964 dan Ward, 1967)' Untuk mengatasi
sini'
kesulitan tersebut terminologi berikut digunakan di
l. Limpasan' Bagian presipitasi (juga kontribusi-kontribusi permukaan
danbawahpermukaan)yangterdiriatasSergkangravitasiairdan
permanen maupun
nampak pada saluran permukaan dari bentuk
terputus-Putus (Gambar 7-29)'
maupun
Kaia-kata yang sinonim adalah: aliron sungai' debit sungai
produksi
^Aliran tongkaPon.
pengaliran
murni: Limpasan yang tidak dipengaruhi oleh
2.
pada
atau di
lainnya
buatan, simpanan, maupun tindakan manusia
(chow,
1964).
sungai
atas saluran maupun pada daerah aliran
yang melintas di atas permu3. Limposan permukoan: Bagian limpasan

(
f

kontri

Qawah permukaan (Qr, ) dan/atau debit air tanah

(ey'

1
185

184

I'l

O3

6
G

a
a
o
o

I
!

ol

!,

l0

20

30 40 50 60 ,0
Curah hujan tahunan (inci)

Gambar6-2. Korelasi pengaruh ketinggian tempat dan presipitasi orografis

Hujan pada lereng


yang curam: limPasan cepat

Limpasan permukaan (Qr)

permukaan langsung

Hujan pada kawasan

mpasan bawah permuka-

a
t

Gambgr6-3. Agihan kawasan curah hujan. Dua hujan pada kawasan dan
jumlah yang sama menyebabkan hidrograf limpasan yang
berlainan (Ward' 1967).

Grmbrr Gl. Tipe-tipe limpasan.

Yang

datar: limpasan lambat

T
187

186

Sebagaimana terlihat dari penjelasan singkat daur limpasan ini,


rangkaian air yang memberikan kontribusi kepada debit sungai dapat

dirangkum sebagai berikut:

l.
2.
3.
4.
5.

Presipitasi (atau saluran) langsung


Limpasan permukaan
Limpasan bawah permukaan

Debit air tanah


Lelehan salju.

Satuan debit adalah volume per waktu (m3ldetik, liter/hari,


m3ltahun, dan lain-lain).
Gember6-4. Agihan kawasan curah hujan bila kemiringan lahan pada daerah
sungai diagihkan secara seragam'

6.2. FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LIMPASAN

l.

MM)EV
hgia*r
yang dihasilkan. Dua
D
limpasa
Grmblr 6-5. Arah gerakan hujan dan limpasan

A. Faktor-faktor iklim:

l.

lt
denSan

Gambar 6-2).

"K"&r"le

O
(r\

II. Faktor-faktor yong mempengoruhi ogihan woktu limpasan


A. Fa k t or-fo k t o r me t e o ro I o g is:.
l. Presipitasi: a) tipe, b) intensitas, c) lama presipitasi, d) agihan
kawasan (Gambar 6-3 dan Gambar 6-4), e) agihan waktu, f) drah

-.)+
j

"^M ".g
:

Gernbar

66. Bentuk hidrograf daerah aliran

sungai dan limpasan (curah hujan dianglap


diagihkan secara seragam pada kawasan drainase total).

Banyaknya presipitasi

2. Banyaknya evapotranspirasi.
B. Faktor-faktor DAS
l. Ukuran daerah aliran sungai
2. Tinggi tempat rata-rata daerah aliran sungai (pengaruh orografis,

jumlah yang sama menYebabkan


hi ograf limpasan yang
bkan hidrograf
Yanl berlainan.

LA

Faktor-faktor yang mempengaruhi volume total limpasan

I{
t

it

l!
;

2.

gerakan hujan (Gambar 6-5), g) frekuensi terjadinya, h) presipitasi


yang mendahuluinya.

Faktor-faktor meteorologis (radiasi matahari, suhu, kelembaban,


kecepatan angin, tekanan atmosfer, dan lain-lain), yang

mempengaruhi evapotranspirasi.
B. Faktor-faktor daerah oliron sungai
l. Topografi: a) bentuk daerah aliran sungai (Gambar 6-6), b) kemiringan daerah aliran sungai (Gambar 6-7), c) gatra daerah aliran
sungai.
2. Geologi (permeabilitas dan kapasitas akifer, Gambar 6-8)
3. Tipe tanah
4. Vegetabi:

189

188

a) Penutupan vegetasi di atas permukaan lahan (Gambar

6-9)

b).Pertumbuhan tanaman pada saluran (Cambar 6-10; Iihat Petryk,


t97s).
5. Jaringan drainase (urutan./tatanan sungai dan kerapatan drainase).
C. Faktor-faktor manusiawt

6
o0

d)

1. Struktur hidrolik

2. Teknik-teknik pertanian
3. Urbanisasi.
Pada Tabel 6-l disajikan pengaruh umum beberapa peubah aliran
sungai dan iklim terhadap limpasan.

6.3. KERAGAMAN STOKASTIK DALAM LIMPASAN


Keragaman-keragaman stokastik dalam limpasan diamati sebagai
keragaman waktu dan ruang karena faktor-faktor yang dijelaskan pada
paragraf 6-2. Pada kebanyakan negara, peta-peta seperti pada Gambar

,t

t:

lt

il

6-ll dipersiapkan

Gambar6-7. Relief DAS dan hidrograf limpasan (curah hujan diduga diagihkan secara
seragam di atas kawasan drainase total).

untuk menunjukkan keragoman geografi limpasan.

Peta semacam itu semata-mata tergantung pada data yang tersedia'


Keragaman waktu yang penting dalam limpasan diamati sebagai
kerogoman musimqn, Keragaman pada debit-debit sungai ini, meskipun
dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama merupakan fungsi dari iklim
kawasan tersebut (neraca presipitasi dan evaporasi). Pola aliran sungai
yang diamati setahun sekali dikenal sebagai rezim utngai' Beberapa contqh ditunjukkan pada Cambar 6-12. Misalnya, sungaisungai ekuatorial
cenderung untuk mempunyai rezim yang cukup teratur dan sungaisungai tropis menunjukkan perbedaan yang nyata antara musim

ti

kemarau dan musim penghujan. Keragaman waktu jangka pendek


dalam limpasan dijelaskan pada paragraf 6.4 dan 6.5.

6.4. PENGUKURAN LIMPASAN


6.4.1. Pemilihan Lokasi Penokqr Limposan
batas DAS

Dengan bantuan bekerjanya stssiun-stqsiun pengamot arus sungai

pengukuran tinggi air dan debit (kecepatan dan jeluk) dapat tercapai.
Tinggi air diberi batasan sebagai tinggi permukaan air sungai nisbi
terhadap suatu datum. Debit merupakan volume air yang mengalir me-

+
Gambar

Iimpasan permukaan

6-t. Pengaruh lapisan yang

sangat permeabel terhadap limpasan permukaan.

'l'ahel 6.1 Keragaman-keragaman dalam banjir,


aliran minimum dan produksi air (semua dinvatakan
dalam dehit-denit khusus) sebagai fungsi peubah.peubah daerah aliran sungai dan ilim

190

(dikutip dari Dam, I973).


Dcbit khusus (Dchit/luas) dari
Variabe

Baniir

Dcbit total pcr

Aliran minimunr

tahun (produksi
Dacrah

KURANG (jcluk

BESAR

LEBIH (lcbih

ba-

Aliran

prcsipitasi ra-

nyak presipitasi

Sungai

ta-rata kurang dan wak-

* lcbih banyak
waktu pcrjalanan

(DAS)

TAK ADA BEDA

tu lcbih

Bcntuk
DAS

KECII-

LEBIH

KURANG

ME-

KURANG (wak-

I-EBIH (hanya un-

MANJ.

tu pcrjalanan

tuk DAS hcsar

JANG

lcbih

wak-tu pcrjalanan

TAK ADA BET]A

mcmpunyai cfck
E

(A) Tidak berhutan' (B) Berhutan (ward' 1967)'


Gambar6-9. Hidrograf debit 2 kawasan:
(cm)

c:
.h

Permukaan air

BUI,Al'
.f

KURANG

I-EBIIJ (karcna

KURANG (karcna

l-EBIH (karcna ku

kurang wilktu

kurang infiltra-

rang infiltrasi.

-E

pcrjalanan clan

si clan kurang

kurang cvapo-

kurang infil-

pcngisian air

transirasi

.;

trasi

tanah

LERENC

F,R.IAI

DAS

I,EBIH

I,ANI)AI

KI]RANG

LEBIH

KURANG

VEGE.

TERTU"

KURANG (lcbih.

TUP

KURANG (lchih
hanyak inlil-

Vcgctasi di satu pi-

TASI

hak mcnycbabkan le-

hanvak o'apo-

trasi dan lcbih


banyak rvaktu

bih banyak infiltra-

transpirasi

pcrj alanan

di lainpi-

hak mcnaikkanevaporasi vang juga


tergantung pada
aras sir tanah.

Adanva pcngisian
air tanah juga pen-

I
(A) dan-tidak dipengaruhi (B) oleh gulma

si tetapr

tinq

GUNDUL

I,F]BIH

l lrtirgr.l-

DITA.
NANlI

KURANG (lcbrh
lranrak inlil-

LEBIH (lcbih ban-

nlr lirhlrrt

trirsi tlan pcr'jalanan lcbih

clari air tanah

yang dipengaruhi
Gambar 6-l0.Permukaan air
1970)'
air (Leerinbeekgebied' Colenbrander'

LEBIH

nvuk air tiitcrima


)

KURANG (lcbih
banvak infiltrasi

panj ang

KOTA

LEBIH

KURANG

LEBIH

T
193

192

lalui suatu irisan melintang dalam satuan waktu. Dalam hubungan ini,
sebutan hidrometri digunakan untuk memberi batasan ilmu pengukuran
air (Horst, l97l). Stasiun hidrometri berkaitan dengan stasiun di mana
pengukuran air dilakukan. Terdapat 4 tolok ukur didirikannya stasiun
hidrometri, yakni:
l. Mudah dicapoi (aksesibilitas)
2. Ketelition' lokasi terpilih tergantung pada tipe dan macam peralatan
3. Kemantopar.'hubungan tinggi air-debit harus sedikit berubah dengan

Tabel 6.1. Lanjutan

Debit khusus (Detritiluas) drrri


Variabel

Banjir

Aliran minimun

Debit total pcr


tahun (produksi)

ADA
kolan dan
danau

mukaan

(n

o
o
'o
6t

KURANG (lebih
banyaj simpanan per-

Persentase

LEBIH (lebih

ba-

nyak simpanan
permukaan

KURANG (lebih
banyak evaporasi

TAKADA

LEBIH

KURANG

LEBIH

TINGGI

LEBIH (lama

KURANG (debil
Air tanah le-

Tergantung aras

perjalanan kurang dan reak-

beih cepat)

Kerapatan
drainase

waktu

4. Kesinombungun: peralatan hidrometrik tidak boleh terganggu dengan


waktu.

air tanah
(evaporasi)

Pada umumnya pengukuran-pengukuran tinggi air dan debit harus


ditetapkan pada lokasi berikut:
l. Pengukuran tinggi oir
.a. Di dekat masukan air anak sungai maupun di dekat titik-titik di
mana sungai bercabang atau bergabung. Akan tetapi, stasiun harus
berjauhan dari pertemual, sungai, sedemikian rupa untuk menghindari pengoruh oir yang membalik dari anak-anak sungai
b. Di dekat masukan air sungai ke dalam laut atau danau
c. Pada sisi-sisi bagian hulu dan hilir dari struktur hidrolik (bendungan,
sumbatan, dan lain-lain)

si air tanah

cepat

qt

RENDAH

TINGGI

KURANG
LEBIH (karena

I-EBIH
KURANG (debit

Permeabi

komponen air

air tanah le-

Tergantung aras

litas

tanah)

bih cepat)

air tanah
(evaporasi)

RENDAH
Besamya
presipitasi

KURANG

LEBIH

TINGGI
RENDAH

KURANG

LEBIH
KURANG

tahunan
Besarnya

TINGGI

LEBIH (karena

LEBIH

evaporasi ku-

presipitasi

rang

tiap hu-

jan

RENDAH

KURANG

KURANG

Agihan

o
3

presipitasi

c
d

TERPUSAT

LEBIH

d.
e.
f.
g.

KURANG

LEBIH

TERSEBAR

KURANG

LEBIH

KURANG

a.

HULU
HILIR

LEBIH
KURANG

TAKADA

TAK ADA
BEDA

b.

TINGGI
RENDAH

Tak ada

KURANG

pengaruh

LEBIH

BEDA

jan
KURANG
LEBIH

c.
d.
e.
f.
C.
lri.

Pada lokasi di mana dasar saluran adalah mantap.

2. Pengukuran debit (otau kecepatan)

fahunan

Evaporasi

Pada kota-kota utama


Pada tempat-tempat yang mudah dicapai seperti jembatan
Dalam suatu jangkauan langsung di mana debit dapat diukur secara
tepat

h.

'Arah gerakan hu-

Pada batas-batas negara

Kecepatan air pada semua tempat adalah sejojor dengan yang lainnya dan tegok lurus pada bagian melintang sungai (Gambar 6-19)

Kurva-kurva agihan kecepatan dalam bagian, adalah teratur pada


bidang-bidang vertikal dan horizontal (Gambar 6-19)
Kecepatan lebih besar dari 10-15 cm,/detik
Dasar saluran adalah mantap
Jeluk aliran lebih besa4 dari 30 cm
Tidak terdapat limpasan tepi sungai pada periode banjir
Tidak terdapat tumbuhan air.
Pada Tabel 6.2, disajikan kerapatan minimum jaringan hidromeJaringan utama di negeri Belanda (van der Made, 1972) terdiri atas

195

194

136 penokar pencatot dan77 penokor tongkat. Agihan di seluruh negeri


ditunjukkan pada Tabel 6-3.
Tentunya salah satu faktor yang paling penting di balik
pemasangan dan pengoperasian stasiun hidrometri adalah biaya. Tiap
tipe alat pada tiap lokasi dipilih menurut kemungkinan-kemungkinan
keuangan. Adalah sulit sekali untuk memberikan perkiraan biaya
pengukuran arus sungai yang pasti. Secara kasar, biaya penempatan
suatu penakar pencatat dapat berkisar antara 10.000 dan 30.000 dollar
AS (van der Made, 1972). Didasarkan atas harga-hatga 1971, biaya
operasional tahunan rata-rata mendekati 2.000 dollar AS.

6.4.2. Periode pengamatan

f
S!

Er--Tl so-soo

roo-t,roo

- f].so -

'looo

Frekuensi pengamatan bergantung pada besarnya ketelitian yang


dinginkan. Ketelitian peralatan dibatasi hingga sekitar registrasi jeluk
sedalam 2 !nm. Terdapat beberapa peralatan dengan ketelitian yang

(angka perkiraan ber'

rata-rata di seluruh dunia


Gambsr6-11. Agihan limpasan tahunan
yang panjang dan interpolasi' Ward' 1967)'
periode
Jata
at"s
dasarkan

lebih tinggi, tetapi juga dengan biaya yang lebih tinggi. Untuk

memperoleh ketelitian yang diinginkan, suatu frekuensi pengamatan


tertentu harus diambil. Untuk suatu arus aliran dengan keragaman
harian dalam debit yang cukup besar, maka pengamatan sekali sehari
tentu tidak cukup. Umumnya, makin besar suatu daerah tangkapan dan
makin lebih permeabel permukaan, makin kurang penting pengamatan
secara terus-menerus.

6.4.3. Alat-alat Pengukur Tinggi

Air

l. Pengukur tinggi air tidak merekom

A.
Thames

J
Skala vertikal menunjukkan nisbah debit
Grrnbsr6.12. Contoh-contoh rezim sungai'
dengan nilai tahunan rata-ratanya'

.:

[,

Untuk pengomatan berkqla


Mistar dugo: lni hanyalah lempeng berskala, dipasang di dasar, atau
di tepi sungai atau pada suatu bangunan (penyangga jembatan, dan
lain-lain).
a. Mistar duga vertikol: untuk sungai-sungai yang kecil
b. Mistar duga bertingkal: suatu rangkaian mistar duga yang diletakkan
pada sungai-sungai yang lebih besar di mana terjadi gerakan horizontal tepi air dengan meningkatnya tinggi air (Gambar Gl4)
c. Mbtar duga miring fiuga disebut mistar condong atau landai): merupakan suatu alternatif untuk mistar duga bertingkat.

l.

2. Mistar duga menggontung


a. Mistar bobot-kawa, (juga disebut mistar kontak permukaan): kawat

i gg

ssi

6'H H

^S

g
i+Eggf$EE+lEii
ErEEFf,

r$i
t

I.Hg}TF
E *gEg B

E:a P E E E
7= 3 E = *

sEEH-s5

9ts 3 6a
=
o- E }frc p (!

^VPid

E:E X-E
f rr ? o.aiilg
f,', B H'I

r reE

jaringan aliran sangat rapat

nungan yang kecil dengan presipitasi yang sangat tidak beraturan,

Kepulauan-kepulauan berpegu-

tropika

mintakat sedang, mediteran dan

Wilayah bergunung pada mintakat-

ka

(tidak termasuk gurun yang luas)

III. Mintakat-mintakat arid dan kutub

II.

mintakat-min-

takat sedang, mediteran, dan tropi-

I. Wilayah datar pada

Tipe Wilayah

s,-

5.000

3CC

20.000

1.000

- 2.500

1.000

10.000

- 5.000

nyak sampai 10.000)

(untuk kondisi-kondisi yang


sulit dapat diperbasangat

1.000

3.000

norma-norma Kisaran norma-norma sementara yang diperbolehkan dauntuk jaringan minimum (luas dalam km2 lam kondisi yang sulit (luas
dalam km2 untuk 1 stasiun)
untuk 1 stasiun)

Kisaran

-*--,.'-.*a

E:sErT

EEEI
EEEEIE B
EEFi*9 E
z gZqI
E'Bs=

EsrEg* E.E+:1r E 3Eir

g,H::*g

EEEffiE
[;F:g

Ei**E;EEEgfF'EEiEHi

EEU'IEEl5iigglEE[1

Tabel 6.2. Kerapatan minimum jaringan-jaringan hidrometri (WMO, 1970)

fi27=gt

E E gE

E9to-u
e. iD 6- i'
iD - i'A

g s rE

;=l
$.H 5
tso-5

- G< !'

gssH

E9
- oH'I

ST

$*H*

':$$ iri$gEF ii7+}EEE 1i *g$E Ei ic


: FE H : E

tr

griilrE $ iiiEiit[EFsEEEEEiF

F !.,!.ri

sx iE [E 1EEs$
.x E [EgEFi

=E

C. c ,l-

6.
H.E6
ii1, = =.
e,
-'*
:, g,
0.(t
p
6
dF
Iarb=

i'>

g 5 g +s tE

isE
.
d

=gEQE' R
E'E
-'s. ts'
r-t o'tC A E
i'o

ot xx\t

!.,

\o

-* {flI

A'

0q

o
t

8'

ro_

-!L

D)

!o

0q

AI

=x
{Y

Oo

s8
:E

60

'!,

FA'

='o
sE'
oq

i-s
o5
qoe

!r!
-@
t! E'

o\

ID

GI
AF
d!,

!1

136

22
77

n.*P!at@*,

10
49

21,

21

J
15

47

Mistar dua batang

3t

Penakar otomatis

o
o
o

o
o

6
5

tts

tc

Total

Pantai
Kawasan delta (bagian sebelah Utara)
Kawasan delta (bagian sebelah Selatan)
Sungai-sungai
Danau-danau

Wilayah

Tabel 6.3. Distribusi (agihan) penakar-penakar sungai di Negeri Belanda (Made,1972)

\o
\o

-"afl

il
201

200

dan menyebabkan lebih banyak gangguan. Dibandingkan dengan tipe

.!
d

a4
d:

-a

x!-d

E ;
' tr

(P
o;

E
o0
oo

d
(B

o
cd

a
I
\o
!

E tr

c
A
o

od
o

o
6ii
oo

C,

6,

.(!
(!
jl

!!

*ll

0ilt ulll

E
00
60

il00il011

ia

pelampung, alat tersebut lebih rnudah dipasang, namun lebih mahal


dan membutuhkan personil yang lebih terampil. Tetapi, dalam
beberapa hal (misalnya pada pantai-pantai) keadaan setempat tidak
memungkinkan untuk mendirikan suatu rumah pelindung dan sumur
tenang begitu mendekati air sehingga kisaran keragaman tinggi muka
air seluruhnya dapat diliput dengan suatu pencatat tipe pelampung.
Maka, dipilihlah suatu penakar pneumatik.
B. Sistem pencotst penakar indera iauh (pengindera iauh)
Berkas cahaya warna biru dan hijau (dalam kawasan spektrum yang
tampak) darifilm berwarna normal dan lapisan pembentuk biru pada
film infra-merah memltktikan bahwa sistem ini sangat berharga
bagi analisis jeluk air.
Penggunaan skenner multispektrum telah menunjukkan suatu ketelitian sebesar 8090 di dalam menentukan jeluk air hingga 8-5 meter
(Seyhan, 1972). Dengan menggunakan foto uduro konvensional

dimungkinkan untuk mengukur tinggi muka air dengan analisis


gelombang (danau dan gelombang laut). Hal ini dapat diperoleh
dengan menggunakan foto tunggal (nisbah panjang gelombang ratarata gelombang air yang dalam (LJ dan gelombang air yang dangkal
(L) berkorelasi dengan nisbah jeluk muka air yang dangkal (d) dan
panjang gelombang air yang dalam, (Lo ) atau dengan menggunakan
dua foto udara yang diambil pada interval waktu yang pendek (A t)
(kecepatan gelombang yang terhitung digunakan untuk menentukan
jeluk tinggi yang dangkal). Tentunya, kita akan mengerti bahwa
metode ini tidak dapat digunakan pada sungai yang mengalir.

6.4.4. Pengukurqn lrisan-melinlong Solurqn

o0

a
q
o

a.

o.

F
h

,D
C

[,

Karena volume debit pada suatu irisan tertentu merupakan hasil


kali kecepatan rata-rata aliran dan luas irisan melintang saluran, Q = v
x A, keduanya harus ditentukan secara terpisah. Pengukuran jeluk dan
lebar (Gambar 6-18) dapat dilakukan dengan mempertimbangkan halhal berikut:
l. Jeluk air ditentukan pada beberapa vertikal (5 vertikal seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 6-18). Jarak antara 2 vertikal (b1, b2, .....,
b) tidak boleh lebih besar dari I /20 lebar total (B) , dan debit antara 2
vertikal (luasan yang diarsir pada Gambar 6-18) tidak boleh melebihi

203

202

DAS Haringvliet

,l

2.
3.
a.

b.

l09o dari debit total. Di negeri Belanda jarak 5 cm dipergunakan untuk sungai-sungai yang besar.
Jika dasar saluran sangat seragam, maka l0 vertikal sudah memadai.
Jeluk (d1, d2, ...., dJ dapat dibaca,
dengan cepat dari suatu tongkat berskala
dengan menggantungkan suatu bobot pada suatu kawat. Untuk
kecepatan aliran yang tinggi, sudut antara kawat dan vertikal tidak
boleh melebihi 30". Berdasarkan atas sudut pengamatan (0) dan jarak
dari permukaan air ke titik suspensi kawat, jeluk (d) yang benar dan
jeluk (mirinc) (d') yang diamati dihubungkan sebagai berikut:

Iarak dari pintu ak HadngYliet (km)

d = [ d' - x(sec 0- l)] (l


I

Pencatat tinggi air otomatis

Pencatat tinggi air tipe pelampung dengan sistem teletransmisi

Mistar duga

Penakar puncak

Pencatat tinggi air tipe pelampung dengan


sistem teletransmisi dan dengan titik pengukuran debit

k)

di mana k merupakanfaktor koreksi dan diberi batasan sebagaimana


disajikan pada Tabel 6-4. Suatu busur derajat digunakan untuk
mengukur sudut 0.

c. dengan menggaung gema.


4. Lebar saluran dan jarak antara tiap-tiap vertikal ditentukan dari
kuwot bermanik yang direntangkan melintang sungai atau dari tandatanda pada suatu jembatan atau suatu kawat yang digantungkan.

Negeri Belanda
Gambar 6-17. Pencatat tinggi air sepanjang cabang utama sungai Rhein di

6,4.5. Pengukuran Kecepatan Aliran

(Made, 1972).

k--B

Pendugaan debit sungai yang teliti bergantung pada penentuan


kecepaton aliran rata-rato yang tepat pada suatu irisan melintang tertentu. Kecepatan tidak sama pada setiap titik (Gambar 6-19) dari irisan
melintang karena geseran antara air dan dasar sungai serta tepi sungai.
Idealnyo, kecepatan rala-rala ditetapkan dari kisi pengamatan yang berjarak rapat. Tetapi, baik waktu maupun biaya tidak memungkinkan
pengamatan yang demikian terinci, yang barangkali tidak lebih teliti

= lebartotal

Tabel

4
6
E

Gambar6-18. Irigasi melintang


saluran sungai.

l0
l2
l4
l6

64. Frktor

0,0006
0,0016
0,0032
0,0050
0,00'72
0,0098
0,0128

koreksi - k

l8
20
22
24
26
28
30

0,0164
0,0204
0,0248

0,0296
0,0350
0,0408
0,04.72

daripada sejumlah pengukuran tertentu. Pada paragraf berikut


diberikan metode-metode pengukuran kecepatan aliran yang paling sering digunakan:
A. Pengukur arus: Alat ini merupakan pengukur yang berputar yang

dipasang dalam

air pada jeluk yang diinginkan,

dengan

menghubungkan pengukur pada suatu tongkat (untuk air yang


dangkal) atau dengan menggantungkan pada suatu kawat' jembatan
maupun kapal. Terdapat dua tipe pengukur arus (Gambar 6-20),
yaitu:

;
204

205

a. Pengukur srus .tipe mongkok: Tipe ini hanyalah suatu anemometer


air. Tipe ini berputar pada sumbu vertikal. Tipe ini banyak
dipergunakan di Amerika Serikat dan Inggris.
b. Pengukur arus tipe boling-baling: Tipe ini (disebut juga pengukur
arus sekrup) merupakan suatu bilah tipe sekrup yang berputar pada
suatu sumbu horizontal. Perputaran pengukur (juga untuk tipe
mangkok) secara manual maupun otomatis dicatat pada penghitung.
Untuk air yang turbulen, tipe baling-baling lebih disukai berhubung
tipe mangkok bereaksi dengan aliran air terlepas dari arah alirannya.
Tetapi, pada umumnya kedua tipe tersebut cukup dapat dipercaya.
Karena pengukuran dengan pengukur digantungkan pada suatu kabel
dan terjadi suatu deviasi sudut terhadap vertikal (0), suatu koreksi
diperlukan (Horst, l97l).
Banyaknya titik pada suatu vertikal (lihat paragraf 6.3.4.) di mana
kecepatan diukur, tergantung pada ketelitian yang diinginkan'
Kecepatan rsto-roto poda suotu vertikal (: vr) dapat ditentukan
dengan menggunakan salah satu dari beberapa metode yang disajikan
di bawah ini:
l. Metode satu-titik: Metode ini digunokon untuk jeluk air yong kecil

(<

80 cm) dan untuk

pengukuran yang cepat. Metode ini

memberikan hasil-hasil yang baik bagi agihan kecepatan yang normal (parabolik, Gambar 6-19).
vu

v0,6 di mana v0,6

Juga dipergunakan:

t,

;[^l T,) T.\


I "r[ "r[

vv

0,88 v6,2 (digunakan oleh USGS untuk

cabang pohon)

turbulen

= aliran lambar, dasar

rata,/halus
dasar kasar (batuan).

Gambar 6-19. Agihan kecepatan aliran dengan jeluk.

lr

sumbu

tl

O
I

kotak kontak

mangkok

kecepatan pada jeluk 0,6 dari verti-

kal
0,96 v6,5

A.,e.rers

'r.=ffi[lnl],Jil:,,,:d]:,
D = aliran cepat, dasar sungai

{l

v, :
=

),3,rl

rf;,

banjir yang tinggi)


dus-titik: Metode ini memberikan hasil-hasil yang baik bagi
agihan kecepatan yang normal. Metode ini digunakan untuk jelukjeluk yang lebih besar dari 60 cm.

Tipe baling-baling

2. Metode

vu

Yz [v6,g

kotak kontak

baling-baling

--c

vg,r]

sumbu

ekor baling-baling

3.

Metode tigo-titik: Metode ini digunakan untuk agihan kecepatan


yang tidak normal (non-parabolik). Metode ini memberikan hasilhasil yang baik untuk aliran-aliran dengan pertumbuhan tanaman air
maupun yang tertutup dengan es.

Gambar 6-20. Tipe-tipe pengukur kecepatan arus (Horst' 1971)'

sungai

I
207

206

Y,

Ytlvo)s

u0,5

+'o,ssl (baik untuk penutup


maupun PenutuP

hanya merupakan perkiraan saja (10-2590 kurang

teliti dibandingkan dengan metode pengukur arus).


C. Tabung Pitot (juga disebut pitomerer): Tabung ini dalam benruknya
yang paling sederhana (Gambar 6-22) merupakan peralatan untuk
mengubah energi kinetik arus (aliran air) menjadi energi tekanan.
Kenaikan yang dihasilkan berkaitan dengan kecepatan air seperti
ditunjukkan pada Gambar 6-22. Metode ini sering kali digunakan
pada pipa-pipa, saluran-saluran percobaan dan laboratorium, dan
kurang sesuai untuk arus alami. Metode ini dapat digunakan pada
sungai-sungai yang kecil, juga pada kasus-kasus liat berat dan sampah. Metode ini dapat digunakan untuk kecepatan-kecepatan antara
0,5 hingga 2,5 m/detik, dan persentase ralat adalah minimum, yaitu

tanaman

es)

vr= %lvo,z*v0,6+v6,gI
vu : % lvO,z * 2vO,U+ vO,e)
4. Metode lima-titik: Metode ini digunakan untuk agihan kecepatan
yang tidak normal di mana agihan kecepatan vertikal adalah sangat
tidak beraturan.

: l/l}[v, + 3 vo,2 * 2vo,u * 3 vo,t + v6J


di mana: vs : kecepatan pada permukaan air
vb : kecepatan Pada dasar air'
Yv

sebesar 3-1090.
D. Bandul pengukur (juga disebut tubuh tahanan): Suatu tubuh tahanan

digantungkan pada suatu kabel, defleksi diukur dan kecepatan aliran


dibaca dari grafik-grafik kalibrasi. Kisaran penggunaan adalah di antara 0,05 dan 3,5 m/detik. Ini merupakan alat yang sederhana dan
karena bagian yang mahal dari alat tersebut tetap di atas air (tidak
demikian pada pengukur arus), maka alat ini lebih aman. Tetapi, alat
ini membutuhkan personil yang terampil dan penggantian tubuhtubuh tahanan pada kecepatan yang berbeda-beda. Bandul pengukur
yang khusus dibuat di Laboratorium Hidrolika Delft dan disebut

5. Metode Terpodu: Pengukur arus digerakkan dengan suatu kecepatan


yang konstan (tetap) melalui vertikal dan diperoleh suatu integrasi
Iangsung dari agihan kecepatan. Pengukur arus tipe baling-baling
harus dipergunakan. Metode ini tidak dianjurkan untuk jeluk-jeluk
yang kurang dari I meter. Metode ini membutuhkan peralatan yang
mahal, membutuhkan banyak waktu untuk jeluk-jeluk yang besar
(gerakan vertikal adalah sekitar 2 cm/detik di negeri Belanda) dan
agihan kecepatan tidak diketahui (debit secara langsung ditentukan).
Sebaliknya, debit dihitung secara cepat dan pekerjaan kantor

Ploneto.

E. Metode gelembung udaro: Metode ini (dikembangkan di Jerman)


didasarkan atas pengukuran jarak horizontal (Gambar 6-22) yang
ditempuh oleh gelembung udara dari dasar ke permukaan suatu
aliran (Horst, l97l).
F. Pengukur aliran ultrasonik: Pengukur aliran menggunakan dua
transduser ultrasonik (A dan B) yang direndam di dalam kanal yang

berkurang cukup banyak.

6. Metode semi-integrosl: Sepanjang vertikal dilakukan pengukuran


pada setiap 20 cm.

B. Pelampung.' Pengukuran global kecepatan aliran dilakukan dengan


mengukur woktu pelampung melewati jarak yang terukur. Pelampung digunakan bila pengukuran dengan pengukur arus tidak dapat
dilakukan (karena sampah, ketidakmungkinan melintasi sungai, bila

pengukuran membahayakan karena banjir yang sangat tinggi


maupun pada kecepatan yang sangat rendah). Pada Gambat 6-21
beberapa tipe pelampung ditunjukkan dengan harga-harga k (koefisien pelampung).

Kecepatan rqlq-rots uliron tersebut disajikan dengan rumus:

v : k (vp"ta.pung)
Pelampung merupakan metode yang murah dan sederhana' namun

t
a

terbuka (Schuster, 1975). Pulsa-pulsa energi ultrasonik dari transmitter merambat melalui air dan mencapai si penerima pada sisi yang
lain. Bila ditransmisikan pada arah hilir (dari A ke B), keceparan aia
(vJ meningkatkan kecepatan pulsa ultrasonik, mengurangi waktu

transmisi. Bila ditransmisikan ke arah hulu (dari B ke A), pulsa


tersebut ditentang oleh gerakan air dan waktu transmisi naik. perbedaan frekuensi terukur di antara ke dua tingkat tersebut, adalah
sebanding dengan kecepatan air.

209

208

di mana:

Pelampung permukaan

_>
:-::----.. . , ...,

Pelampuig batang dan ranlai

ffo=
b-

--=-TQ-r-

k-

0,8J (kondjsi normat)


0,60 (untuk jeluk < 0,5)
k = 0.910*0,95 (unruk jetuk > 3-4)

G2l.

r : 0,85-l

panjang jalur air (kaki)


kecepatan suara dalam air (kaki/detik)
sudut lancip jalur suara dengan garis tengah kanal
perbedaan frekuensi (cmldetik)
frekuensi pada air yang tenang (cmldetik)
lebar kanal (kaki).

Beberapa kesimpulan penting dari pengkajian yang telah


dilakukan sampai sekarang mengenai teknik pengukuran kecepatan
aliran ini adalah:
l. Metode ini baik bagi penaksiran debit
2. Persentase kesalahan untuk 0,08 < Q < 0,31 m3ldetik adalah

l<-'--q
-=-

3. Pengukuran titik tunggal (pada 0,6 h) tidak mencukupi untuk penentuan kecepatan rata-rata. Untuk agihan kecepatan simetrik,
pengukuran dua-titik adalah lebih baik. Tetapi, teknik integrasi

Gamber

p:

Pelampung Buoyant

----- [ N-i'
.

L_

kecepatan aliran (kaki per detik)

.00

pelbagai tipe pelampung


(Horsr, I97l).

sebesar 3,490
'

,t

jalan BelembunS
rdara

adalah yang terbaik.

Tabung Pitot Sederhana


Bandul penaukur

Gambar 6-22, Pelbagai alat pengukur kecepatan aliran.

-#,1-...-..==
tabir
Metode

gelembung

6.4.6. Penentuan dan Pengukuran Debit

A.

a.
_

Lcz (an []) (L f)

bf,2

b.
l.

Metode kecepoton-luas.' Metode ini didasarkan atas data kecepatan


yang diperoleh pada titik-titik yang berbeda pada beberapa vertikal
pada suatu penampang melintang aliran. Debit dapat diperoleh
dalam 2 cara:
Secors aritmqtik bila kecepatan pada satu atau dua titik pada vertikal
tersebut diketahui.
Securs grafisbila kecepatan pada lebih banyak titik diketahui.
Metode sritmatik
a. Metode pensmpong roto-rqta
Qn

a:
di mana: en

*,rJ [dn-l + dn]


9r + iz+ ....+ qn * "
" [Vun*,

debit antara vertikal-vertikal n dan n

- I (m3ldetik)

r
2tt

210

=
:

bn

'rn-

dn-r :
=
a

jarak antara vertikal n dan n-l (meter)


k...putun rata-rata pada vertikal ke (n-lXm/detik)
kecepatan rata-rata pada vertikal ke-n (m/detik)
jeluk vertikal ke (n-l)(meter)
debit total pada penampang melintang (m3ldetik)'

b. Metode penompang tengah-tengaft; lebih


on

Metode penamPang tengah-tengah

Metode penamPang rala-raaa

d
:l(u"")(bn
+ bn*

1);Q

sering digunakan'

: qr + Qz + "' 1

9n

+'

2. Metode grofik
a. Metode inlegrasi ieluk-kecepotan" Kecepatan yang terukur pada tiapagihan
tiap vertikaidiplotkan (Gambar 6-23) dan luas di dalam kurva
kecepatan ditentukan sebagai:
Qn

(vr") dn

Mctode Harlacher

(Q). Dalam metode


Ada dua metode di dalam menghitung debit total
(Gambar 6-23)
diplotkan
Hsrlocher, harga qn yang dihitung di atas
planimeter'
dengan
dihitung
dan luas yung U..uau di bawah kurva
yaitu:

Metode Treviranus

Q: flnd,

jeluk
jeluk
iu, f.""p"tan ditentulrun ,."uru terpisah, baik penampang di anmaupun penampang kecepatan rata-rata diplotkan' Luas-hras
(vn : qnld) ditentara setiap dua vertikal dari kecepatan rata-rata
tukan sebagai qn. Debit total adalah:
paling berguna bila penampang
Pada metode Treviranus, yang

i-n

,I,lqn

pcnampang jeluk

Mctodc kcccFt&r-kontur

dJ

b. Metode kecepatan-konlur: Suatu penampang

luas-kecepatan massa

kecepatan yang sama'


diplotkan dengan menggunakan kontur-kontur
adalah sama dengan debit
Luas di bawah kurva luas-kecepatan massa
total (Gambar 6-23), Yaitu:

kontur kecepatan yang sama

o = Jv(dA)
Metode rrri

yang tersedia dan


terbaik, namun tergantung pada data

Grnbrr G23. Pengliitungan

debit dcngan metodc kecepatan-luas'

E
213

212

kali luas.

membutuhkan banyak tenaga.

B. Merode perohu

y:ong bergerok: Pada tahun 1969 Smoot dan Novak


mendemonstrasikan pendekatan baru yang revolusioner yang mem-

berikan ketelitian yang besar dan yang menghemat waktu berjamjam hingga bermenit-menit (Harp, 1974). Metode ini sebenarnya
merupakan su41u varian dari metode kecepatan-luas dan dikembangkan untuk digunakan pada sungai-sungai yang besar dan aliran
air di mana perahu dapat beroperasi. Kecepatan aliran hanya ditentukan pada satu-titik dari setiap vertikal. Tetapi, banyaknya vertikal
yang diambil adalah besar.
Harp (1974) menyajikan metode perahu bergerak yang diperluas

yang dapat mengukur arus-arus berukuran sedang.

Dengan
menganggap bahwa kecepatan rata-rata kurang lebih sebesar 8590

dari kecepatan permukaan, dia menganggap bahwa pengukuran


aliran akan dilakukan pada suatu penampang melintang sungai
di mana terdapat jalan kabel atau jembatan.
'.'.. Sebagaimana ditunjukkan pada bagan di
...

..:
.

6C

'

samping ini, anggap bahwa pengukur kecepatan aliran bergerak melintasi arus dari A ke

: B pada kecepatan

(uJ

dan
kecepatan air per-

.'. mengukur secora kontinu


-'.' mukaan yang nisbi terhadap pengukur terse' but (v*J, ketika alat ini melintasijarak s. SeIanjutnya, kecepatan air permukaan (v*) dapat ditentukan dalam 2
cara yang mungkin, yaitu:
Mengukur v,",, dan karena v,, diketahui, maka hitung sudut d,
m

l.

yar.rg tetap

cos

d=

sind:

u-

dun tentukan

v*

dengan menggunakan rumus

V*m

v*

v*.

v*

mengalir terhadap suatu larutan pelacak yang ditambahkan. pelacak

l.

dapat merupakan pelacak bahan kimia (NaCL, bahan pewarna


rhodamin, dan lain-lain) maupun suatu pelacak radioaktiflWUO,
1970). Metode ini dianjurkan pada tempat-tempat di mana metode
konvensional tidak dapat digunakan berhubung jeruk yang dangkar,
kecepatan sangat tinggi atau turbulensi yang berlebihan.
Terdapat dua metode pengukuran yang dipergunakan untuk aliran_
aliran alami, yaitu:
Metode injeksi dengan raju konstan: pada suatu titik tertentu pada
suatu aliran ditambahkan suatu pelacak dengan konsentrasi (c)
yang telah diketahui dengan laju (q) yang konstan
ke dalam ail,
dengan konsentrasi mula-mula (dengan pelacak yang sama)
C^. pada

suatu titik di hilir konsentrasi diukur pada waktu yang


ueriaiJan aan
harga yang tetap (tidak berubah dengan wattu; ailentutran
iC*),
sehingga diperoleh debit sebagai berikut:

Q:qt

=3
C*-

Co

Teori metode injeksi yang Lontinu ini


mensyaratkan bahwa debit
arus tetap konstan selama pengukuran.
Kesarahan ristematit yarrg
disebabkan oreh berubatrnya aiuit
lGilman, 1975) adalah terbesar
pada permuraan limpasan hujan
angin dan dapat ,'.t"-p"ri ooro

dari debit untuk hidrograf vunl


-.ning't ut ,.;;.;-;;j;.

Pengukuran adalah teliti.bila dilakukan pada


cabang yung -.iuru.,
pada hidrograf. Titik hirir harus
cukup jauh untuk menjamin suatu
pencampuran lengkap dari pelacak ying
melintasi arus. jur"f,lni
akan menjadi:

L = o,r3 16y 191-Gt-t-P1

2. Mengukur (dengan menggunakan suatu alat pengindera arah) sudut d


saja. Karena v,n diketahui, maka hitung v** dengan cos d = u-lvr".

dan tentukan

C. Metode pelacak (juga disebut metode pengenceran): Metode ini


didasarkan atas penentuan derajat pengenceran oleh air yang

dengan menggunakan sin

d : vr/v*-.

Dengan menentukan penampang melintang arus secara terpisah,


maka debit dapat ditentukan dari kecepatan yang dihasilkan hasil kali

di mana:

1f

1 = jarak antara titik injeksi dan titik pengukuran (m)


= koefisien kekasaran Chezy

214

215

B=

di bawah ini. Kedua persamaan mengandaikan


suatu penampang melintang yang seragam, kekasaran dasar sungai
yang tidak berubah dan menggunakan aliron tetap yong seragam.

lebar permukaan aliran rata-rata (meter)


percepatan gravitasi (meter/detik)
jeluk aliran rata-rata (meter).
2. Metode injeksi tiba-tiba (juga disebut metode integrasi): Pada suatu
titik tertentu pada aliran dimasukkan suatu pelacak dengan konsentrasi (C,) yang diketahui dan volume (V,) secara seketika itu juga.
Pada suatu titik hilir, konsentrasi diukur (C*) pada waktu yang
berlainan (Horst, l97l), sehingga didapatkan debit sebagai berikut:

terkenal disajikan

g:
6=

l.

Persamaan Chexy:

Q=
di mana:

c.t v-

O=
\

J(C"

A:
C=

'

cxt

CJdt

l.

6S_

takan suatu penurunan pada permukaan (tinggi muka) air pada


bagian yang menyempit (penampang tenggorokan) dan suatu lompatan hidrolik. Ada beberapa tipe yang dibuat misalnya saluran porshal, saluran berbentuk-V, saluran-H dan saluron dengan jeluk kritis
(Gambar 6-25).

E, Persamaan teoretis: Pada kanal yang terbuka aliran air juga ditentukan dengan persamaan-persamaan empiris. Dua persamaan yang

18log[2 R/(k +

setara
(diameter butiran)
ketebalan lapisan aliran laminer (m)
kemiringan garis energi (untuk aliran yang seragam
adalah sama dengan kemiringan dasar kanal).

Konstanta Chezy, C, bukanlah merupakan konstanta dan terdapat


harga-harga perkiraan tertabulasi yang dapat diperoleh pada banyak

buku-buku teks.

2. Persamaan Manning

Q=

sesuai.

2.

koefisien kekasaran Chezy

P=
k: panjang kekasaran dasar sungai yang

disebut sekat Cipoletti), sekot mojemuk, dan lain-lain. Pada Gambar


6-24 ditunjukkan beberapa sekat dengan rumus-rumusnya yang

Sekat dengan bogion otos lebar: Pada tipe sekat ini, bagian atas
dibuat lebih besar.
Saluran: Suatu saluran adalah suatu bangunan khusus yang mencip-

kecepatan aliran rata-rata (m/detik)


luas penampang melintang basah (m)

radius hidrolik : A/P (m)


jeluk air (: h) untuk sungai yang besar
Keliling basah (m)

R:

pengukuran aliran tidak mungkin dengan menggunakan pengukur


arus, debit pada aliran yong kecil ditentukan dengan bantuan
bangunan fisik, seperti sekat-sekat, saluran-saluran, venturimeter,
lubang-lubang, pintu-pintu, dan lain-lain. Untuk aliran alami,
pengukuran aliran umumnya dibatasi pada sekat-sekat dan saluransaluran yang merupakan bangunan hidrolik yang bertujuan menciptakan pengendalian buutsn atas aliran (sungai). Bangunan tersebut
harus didirikan secoro tepst menurut spesifikasi.
Sekatsekqt: Terdapat dua tipe sekat yang umum
Sekot dengan bogian atas tajom: Bentuk-bentuk bukaan yang paling

umum digunakan adalah sekat persegi panjong segi-tiga (juga


disebut sekat kepala-V atau sekat Thompson), trapezoidal (juga

b.

debit (m3ldetik)

(2/7)6)l

D. Sekat-sekat dan saluran-saluran (Weirs and flumer): Bila

a,

a:

AC(-sdarv = Cy'RS

l/n

di mana: n
t

AR2/3 S/,

danv = l/1,p.2/35/,

koefisien kekasaran Manning.

Kedua persamaan tersebut terbatas, berhubung suatu arus jarang sekali


seragam dan koefisien-koefisien kekasaran (C dan n) sangat tidak mantap. Meskipun demikian, persamaan tersebut merupakan rumus-rumus
utama rekayasa hidrolika.

6.5. HUBUNGAN TINGGI AIR.DEBIT


Debit yang ditaksir dengan berbagai metode, sebagai suatu fungsi
dari jeluk air, hanya mengenai pengukuran yang dilakukan pada saat
itu. Untuk waktu pengamatan yang lain jeluk dan besarnya debit mung-

216

217

Sekat berkePala lebar

v2=28

_-

r_

J_Y2e- _

,l In, --F-

---

ll

Sekat Cipoletti

l,

e = 3,oe G) y's (H1trz =

3,09 G)

ln'

1,,

y'g

1n,

a>3h;B)3h;c)2h
k=

Sekat-persegi panjang

koefisien debii

Saluran

THOMSON WEIR

lr
l!
I

k#

I
I

'f

<tl

{zs

1t11n1312

Q = 3,33(BXh)3/2

^;16rr1Y

dengan kecepatan
pendekatan yang diabaikan

{ze {t"o 3r){t)s/2 .rza"tir


o*9oo+e=2,5(h)5/2

=fu

<ul

Sekat majemuk

.__._. ---- L...---_---J


'*--.
lr
I
I------:
\//\,/

GambarG24. Tipe-tipe sekat berkepala tajam (untuk keterangan terinci lihat


Water Management Manual, l97l; Gray, 1973).

$
1
A
,}

3
$

Gambar 6-25. Sekat berkepala lebar dan saluran air.

* !5"'

lF&"'

kritik

(D Sesuai

nya

Kurang sesuai

sampah

sampah

DanyaK

seor Krt

sampah

DanyaK

sampah

sedikit

Kemiringan
o 0,3-0,5%

Kapasitasdebit

>

banyaK
sampah

seol Klt
sampah

< 0,3-{,5%

Kemiringan

I m3/detik

"-

Kururg Sesuai jika aliran bervariasi banyak

sampah

seolKlt

Kemiringan < 0,3-{,5%

m3/detik

Saluran rang kcdalamannr a/jcluk-

oanyaK
sampah

ulln-

<
Kemiringan > 0,3-O,5%

Kapasitasdebit

KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK ALIRAN

Saluran [)alshirll

Sal

Sckat-V dcnuan lrlrgian atas lchar

Sckat dengarr birgiun


atas tajarn

STRUKTUR HIDROLIK

Tabel 6.5. Kesesuaian struktur-struktur hidrolik untuk pengukuran debit (Colenbrader, 1970)

--.*,.@*.,4Ii

iggFEiF

'fl

-r:-

O Sesuai

o
o

Tinggi

Tinggi

Kecil

l97l)

o
o
o

Sedang

Derajat
Turbulensi

SEDANC

Kce

ggEfilFgFsr+g$]

,--''E***iggiEiEiiiiiigBiii
FqsBtil

g$iiig$EirEEi

o
a

o
a

o
o

Sedang

Tinggi

Derajar

tsESAR

furbu iensi

Kecil

TIPE ALIRAN

a Dapat Digunakan Pada Kondisi-kondisi Tertent

o
o

edang

Derajad
Turbulensi

KECIL

s.sBgE$ig.-5H:e:r;
1: r:E i r

siBffi[ig

3P

Kurang Sesuai

Bandul pengukur

Pelampung

Pengukur arus

AIat pengukur
Aliran

Tabel 6.6. Perbandingan pada alat-alal pengukur aliran (Horsl,

N)
N)

r
222

223

6.7. HUBUNGAN CURAH HUJAN DENGAN LIMPASAN


Dalam mengkaji hubungan curah hujan dengan limpasan, penting
sekali mempertimbangkan pembagian tahun yang baru. Tahun-air lebih
baik dari pada tohun kelender, karena pembagian didasarkan atas awal
dan akhir tahun pada suatu waktu ketika aliran sungai berada pada
keadaaan yang terendah (Gambar 6-28). Ini lebih baik karena pasokan
dari tahun sebelumnya adalah serendah mungkin dan cadangan di antara
awal dan akhir tahun-air adalah minimum. Di negeri Belanda tahun-air
berada di antara I Oktober dan 30 September.

oc

qt

tr

x6d

(6

tr

(,

(,

!tr

dt

d
!t

co

J(
tr

,
(l

Sekarang jelaslah bagi para pembaca bahwa hubungan antara


curah hujan dan limpasan tidaklah langsung. Di antara keduanya,
evaporasi, intersepsi, cadangan depresi, cadangan salju dan infiltrasi
bekerja sebagaimana diatur oleh karakteristik-karakteristik dari ukuran,
kemiringan, bentuk, ketinggian, tata guna lahan, geologi daerah aliran
sungai, dan lain-lain. Sehubungan dengan kenyataan ini, suatu plotting
langsung dari curah hujan dengan limpasan untuk hujan angin in-

A
E

F
6

GI

al

!aa

o
a
o
El
a
l,
a

cl

dividual biasanya tidak menghasilkan korelasi yang memuaskan.


Sekalipun demikian, adalah mungkin untuk membuat suatu hubungan
empiris untuk suatu daerah aliran sungai tertentu yang didasarkan atas
jumlah-jumlah dalam tahun-air. Pada iklim-iklim sedang dan rropis,
iklim basah, umumnya diperoleh suatu hubungan garis lurus (Gambar
6-29). Rumus empiris dari tipe tersebut, Q = c (P
- L), memberikan
hubungan itu. Sebaran titik tahunan di sekitar garis lurus disebabkan
oleh keragaman tahunan, yaitu: a) evapotranspirasi, b) tinggi muka air
tanah pada tahun sebelumnya, c) agihan presipitasi tahunan dan
musiman, dan lain-lain. Pada kawasan arid, karena agihan presipitasi

Ot

6t

aaE

(,a

.o

!o
tr
d
!
c,

(l

(q) rre

,rou l'Eu.I

d
ol)
oo

qu) rlq.p ssseu

IoA

(o

.y
.t
(q) rra

Blnu 6turl

6t

J'

,c

v
I
\c
aa

0l

d
!
t,
!,
t
o'

cl

(I9.p/ru) r'q.o

F
F

GI

lla
E

al

yang sangat tak teratur dari tahun ke tahun, maka suatu penyajian grafis
yang serupa dengan Gambar 6-29 adalah tidak mungkin.
Hubungan curah hujan dengan limpasan atas dasar bulan adalah
jauh lebih rumit dibandingkan atas dasar tahunan. Hal ini disebabkan

karena kondisi sribelumnya memainkan peranan yang lebih penting


dalam mengatur limpasan. Kerapkali hubungan tersebut tidak jelas.
Hubungan curah hujan dan limpasan dapat lebih diperbaiki bila faktorfaktor lainnya seperti selang tahun (minggu dalam setahun), lamanya

hujan angin, jeluk hujan dan indeks presipitasi

sebelumnyo
diperhitungkan. Metode analisis polifaktor ini dijelaskan pada paragraf
4.6.1 dan Gambar 4-25.

t
'r)<

224

6.E. KONSEP HIDROGRAF


6.8.1. Proses Limpason don Komponen-komponen Hidrogrof
i

.i

.*aL;

sungai terhadap masukan curah hujan.


Anggaplah proses limpasan sebagai hasil dari curah hujan yang
diagihkan secara seragam (dalam waktu dan luas) pada suatu tangkapan,
sebagaimana disajikan pada Gambar 6-30. Proses ini dapat dilakukan
dalam 5 (lima) tahapan, yaitu:

J4

o
q

'a

!o
o

t
(B

\,
I

I
I
I

II

1'
t
o

tI

o.

co

I
A
I
6
a
uqo

d(
c!

xo

illl

G
it

i/,

!a
E

(uBflur.u) u?tnq qElntr

(,a
({Irap/u) uBsBdurl

Hidrogrof adalah suatu grafik yang menunjukkan keragaman limair, kecepatan, beban sedimen, dan lainlain) dengan waktu. Hidrograf periode pendek terdiri atas cabang naik,
puncak (maksimum) dan cabang turun. Bentuk umum hidrograf ini
dikendalikan oleh faktor-faktor meteorologis (jumlah dan intensitas
curah hujan, dan lain-lain), agihan (agihan areal dan waktu curah hujan)
dan tanah. Karena itu, hidrograf merupakan salah satu tonggopan aliran
pasan (dapat juga tinggi muka

Tahapan I: Periode tok hujan


l. Air tanah memberikan air terhadap sungai sebagai slirqn dosar dan
karena itu muka air tanah menurun, yang menyebabkan mengeringnya mintakat tak jenuh.
2. Evapotranspirasi menambah meningkatnya defisiensi lengas tanah
(kapasitas lapangan minus kandungan air aktual).
3. Hidrograf hanya merupakan suatu kurvo deplesi dan limpasan sungai
adalah 10090 dari air tanah.
Tahapan II: Periode hujon awal
l. Sebagian curah hujan ditahan oleh intersepsi
2. Sebagian dari hujan ditahan sebagai cadongan depresi
3. Hampir tidak terdapat limpasan permukaan. Air hanya digunakan
untuk membatasi tanah
4. Hidrograf berubah dari kurva deplesi ke cabang naik.
Tahapan lll: Kesimpulan hujan
l. Cadangan depresi berada pada kapasitas maksimum

2. Infiltrasi mulai
3. Limpason permukaan mulai (Q) dan menyebabkan peningkatan
yang terus-menerus pada tinggi muka air sungai.

4. Defisiensi lengas tanah menurun. Diduga bahwa perkolasi

belum

berlangsung. Oleh karena itu, muka air tanah tetap pacia tinggi muka

air yang sama karena tidak terdapat pengisian kembali.

226

227

Tahapan lY: Berhentinyo hujon


1. Air yang masih tersisa di atas tanah mengalir sebagai limpasan permukaan ke sungai

2. Infiltrasi berlanjut
3. Limpasan sungai disebabkan

oleh air dalam kanal, cadongan kanal


(R), dan menurun dengan waktu
4. Pada titlk Z, cadangan kanal adalah nol dan limpasan sungai
disebabkan oleh air yang dipasok oleh air tanah. Hal ini juga
merupakan akhir dari limpasan permukaan.
Tahapan Y: Periode tak hujan yang baru

l.

*
a

t'i

Lengas tanah berada pada kapasitas lapangan

2. Akifer diisi kembali (lihat Gambar 6-31). Karena itu, air tanah mulai
menambah limpasan sungai
deplesi yang baru berlanjut.
Kita sekarang akan mengetahui bahwa debit yang diukur di suatu
sungai terdiri atas dua komponen, yaitu:
Q : limpasan permukaan + limpasan air tanah (aliran dasar)
Pada Gambar 6-31, misalnya:

3. Kurva

=
Qz =
Q: :
Qr

aliran dasar
aliran dasar + limpasan permukaan
aliran dasar (termasuk pengisian kembali
pasan permukaan.

q,

o0

't,

(,

(,

s,

q,

(t
A

(6

d,

oo
(6

(d

q,
GI

oo

6d

rC

di

mana:

Kehilangan

Curah hujan efektif

a
a

o.

o.

+ intersepsi + cadangan

limpasan permukaan

lv
I

o
4
-c,
d:
ro
6tr
.: o.
o

<E

\o
6'

+ Jerdt + Jesdt

(!

rl.l

pengisian kembali

evapotranspirasi

kehilangan

rC

o.

Pada umumnya adalah sebagai berikut:

iAto

d
'3
G,

d
d
,l

limpasan permukaan

rl

depresi

C,

.o
tr

i (A) td

defisiensi lengas tanah

q,

lama curah hujan.

kehilangan
air tanah

cn

i A to

q
o

qt

i - intensitas curah hujan


A= luas daerah aliran sungai

+_
td-

(!

15

n)

Bila kita membandingkan curah hujan dengan hidrograf, maka

Volume hujan yang dipresipitasikan

6,

&

o,

air tanah) + lim-

ol

\o
q,

!
ql

))a

228

Untuk hidrograf-hidrogrof jangka ponjang (misalnya I tahun)


prinsip-prinsip proses limpasan yang dibahas di atas tetap sama.
Tiga tipe utama hidrograf jangka panjang dibedakan sebagai berikut
(Ward, 1967):
l. Hidrogrof bergigi: Baik karena curah hujan yang berintensitas tinggi
maupun kapasitas infiltrasi yang rendah, laju curah hujan yang
berlebihan (menjadi limpasan permukaan) sering kali dijumpai
menyebabkan fluktuasi kecil, karena limpasan permukaan, pada
suatu keragaman limpasan di seluruh musim (Gambar 6-32). Kontribusi air tanah selalu dapat ditentukan dengan menghubungkan
titik-titik yang rendah pada hidrograf dengan kurva yang holus.
2. Hidrograf hqlus: Baik karena curah hujan yang berintensitas rendah
maupun kapasitas infiltrasi yang tinggi, air tanah yang mengisi sungai
menjadi dominan. Hidrograf yang dihasilkan adalah halus dan
menunjukkan maksimum setelah musim hujan, yang secara
berangsur-angsur menurun hingga akhir periode musim kemarau.
3. Tipe hidrograf yang ke tiga adalah apa yang sering ditunjukkan oleh
sungai-sungai yang bessr- Selama musim penghujan debit terutama
disebabkan oleh limpasan permukaan. Pada bulan-bulan sisanya,
hidrograf mengambil bentuk kurva deplesi air tanah yang sederhana.
Adalah jelas bahwa sebagian besar pertambahan hidrograf yang
besar disebabkan oleh limpasan permukaan. Kenaikan ini tergantung
pada hubungan antara intensitas curah hujan (i) dan kapasitas infiltrasi
(f). Horton (1933) menguraikan .4 tipe peningkatan limpasan yong
disebobkon oleh curah hujon. Tipe-tipe ini disajikan pada Gambar 6-33
di bawah ini:

I. i<

IV. i>fc
F

) d.l.t.

: Limpasanpermukaan
: Pengisian kembali air tanah.

6.8.2. Pemisqhsn Alirsn Dosar


Belum ada metode yang dikembangkan untuk memisahkan ariran
dasar secukupnya dari rimpasan permukaan. Semua teknik pada dasar-

nya merupakan alat-alat analitik untuk memperoleh suatu pembagian


yang mendekati. Tidak ada cara pada saat ini untuk
menentukan mana
di antara metode-metode yang berbeda itu paling dapat diterapkan

(lihat juga Gray,

1973).

A. Dori cototqn beberopo tahun


l. Metode kurvo depresi utama (lihat paragraf 7-4) digunakan untuk
menentukan aliran dasar selama musim kemqrsu.
2. Untuk hidrograf bergigi (paragraf 6.g.1.), aliran dasar dapat ditentukan dengan menggabungkan titik-tirik hidrograf yang rendah
(Gambar 6-32).

3. Untuk hidrograf yang kompleks yang disebabkan oleh dua atau rebih
kejadian curah hujan yang berjarak lebih dekar, di samping
pemisahan aliran dasar, pemisahan pengaruh kejadian_kejadian
curah hujan menjadi perlu (Gray, 1973). prosedur rersebur dijeiaskan
dengan menggunakan gambar berikut ini:
G

Fg
lnl

,+--}l

fc

F< d.l.t. di mana: i = intensitas curah hujan

P=
f,. :
d.l.t =

jeluk curah hujan


kapasitas infiltrasi

ta

I
I

defisiensi lengas tanah.

a. Tidak terdapat limpasan permukaan (i < fc )


b. semua arr yang diinfiltrasikan tetap pada mintakat tak jenuh (p
II.

( defisiensi lengas tanah).


i( f.
Tidak terdapat limpasan permukaan
F > d.l.t.
Pengisian kembali air tanah dengan jumlah yang
(defisiensi lengas tanah).
Limpasan permukaan
Tidak terdapat pengisian kembali air tanah.
sama dengan P

III.

i(fo
F > d.l.t.

a,

G:mbarkan garis-garis vertikal EE' dan

cak.

FF'

melalui

titik-titik

pun-

b. Dengan menggunakan hubungan tersebut, n :


[0,2 (lihat paragraf

berikutnya), tentukan n dan gambarkan garis_garis


vertikal GG dan

HH'.

Dapatkan titik Z.

230

(B

hujan efektif

aB

satuan hidrograf
(luas di bawah adalah

cm)

Gembrr 634. Pelbagai metode pemisahan aliran dasar.


Gambar 6_36, parameter satuan hidrograf.
D

'neto
ineto

It2

i_l
'neto

l'
-

o" o'

Ata

d= (ir.tJta

Qu=

A=
td

Qrzd
luas daerah aliran sungai
lama hujan efektif

d=

jeluk satuan hidrograf


satuan hidrograf
(l cm dan lama hujan td)

Gambar 6-35. Penjabaran satuan hidrograf.

c. Tentukan titik-titik A dan B dengan pengamatan visual, dan dengan


memperpanjang kurva-kurva deplesi, dapatkah titik-titik C dan D.
d. Gambarkan garis CD.
e. Jika titik D turun sebelum puncak yang ke dua, maka gambarlah DJ
dengan menggunakan kurva deplesi utama. Sesudah itu, gambarlah
garis lurus di antara titik-titik J dan Z.
f. Jika titik D turun setelah puncak yang kedua (yang biasanya demikian), maka gambarlah garis lurus di antara titik Z dan suatu titik
langsung ke bawah puncak ke 2 pada garis BD yang diperpanjang.

B. Dori cotolon-cototan hidrogro,f tunggol


l. Tarik suatu 8a,,rs lurus di antara permulaan limpasan permukaan
(titik K pada Gambar 6-34A) dan titik lengkungan yang terbesar,
yang menggambarkan akhir limpasan permukaan (titik Z padaGambar 6-30 dan 6-34), pada cabang yang menurun. Titik Z dengan
mudah dapat ditentukan dari plot semi-logaritmik dari log Q
terhadap waktu.

t
233

232

2. Kurva

deplesi sebelum curah hujan diekstrapololikan hingga waktu


debit maksimum (titik P pada Gambar 6-348). Dari titik (P) ini, suatu
garis lurus ditarik hingga titikZ (Gambar 6-348) yang menggambarkan
akhir limpasan permukaan. Pada kedua metode ini dan metode sebelumnya, bila lokasi titik Z belum bisa ditentukan, maka posisinya dapat ditentukan dengan hubungan empiris (Linsley, 1968):

titik

lR

)-t ll

ti

n : d0'2
di mana: n

A:

-{,

jumlah hari setelah maksimum di mana limpasan pada


dasarnya berakhir
luas daerah aliran sungai (mil persegi).

Untuk kasus-kasus tersebut, suatu garis vertikal ditarik melewati titik


infleksi (titik belok) pada cabang turun dari hidrograf dan titik R
ditentukan. Segmen MR digambar untuk menghubungkan segmen
KM dan ZR yang diperpanjang.
Dianjurkan untuk menentukan kontribusi air tanah yang terlalu

Beberapa harga n dengan menggunakan rumus ini dapat ditentukan dan disajikan di bawah ini:

LUAS DAERAH ALIRAN SUNGAI (km2)

banyak daripada yang terlalu kecil dan memilih panjang dasar yang lebih
pendek daripada yang lebih besar. Untuk hidrograf yang rumit prosedur
pemisahan aliran dasar yang lebih banyak dijelaskan dalam kepustakaan

n (hari)

250

(Linsley, 1958).
Bila banjir melewati suatu bagian kanal yang sangat kedap, maka

r.250

sebagian air diserap oleh tepi-tepi kanal yang permeabel (Gambar 6-34D)

5.000

dalam bentuk codangon tepi. Dengan demikian, terdapat keluaran air


dari sungai ke tepi-tepi sungai. Hal ini tampak pada hidrograf yang
dihasilkan (Gambar 6-34E) sebagai debit negatif yang berarti keluaran

12.500

25.000

dari sungai.

3.

Harga-harga ini harus dikurangi untuk kawasan bergunung dan


ditambahkan (kadang-kadang sebesar 5090) untuk kawasan yang
datar (Dam, 1966). n lebih baik ditaksir dengan melihat beberapa
hidrograf untuk daerah aliran sungai tersebut.
Kurva deplesi yang terjadi setelah hujan angin diperluas kembali di
bawah hidrograf (garis ZM pada Gambar 6-34C). Untuk mengerjakan ini, kurva deplesi utama (lihat paragraf 7.4) harus digunakan.
Bila kurva deplesi yang diamati ditumpang-tindihi dengan kurva
deplesi utama yang ditaksir, titik permulaan dari dua kurva tersebut
akan menggambarkan titik Z. Garis KM, cabang naik dari kurva air

6.8.3. Hidrograf Sotuan

tanah, ditentukan

curah hujan efektif mutlak yang terjadi di dalam satu satuan waktu (l
jam, 6 jam, dan lain-lain) dan terbesar secara seragam di atas daerah

(Gray, 1973). Kerapkali,

segmen

KM dan ZM tidak bertemu pada vertikal yang melalui

puncak

secara bebas

Setelah memperoleh hidrogrof limposan permukaan dengan


metode-metode yang dibahas pada paragraf 6.8.2., kita akan tertarik

pada korelasi hidrograf ini dengan curah hujan efektif yang


menyebabkannya. Metode untuk mengerjakan ini merupakan
pendekatan semiempiris yang disebut analisis hidrograf satuan. Prinsip
hidrograf satuan (atau unitgropft), semula dikembangkan oleh Sherman
(1932) dan diberi batasan sebagai hidrograf limpasan hujan angin (limpasan permukaan) pada titik tertentu yang akan dihasilkan dari kejadian

hidrograf seperti ditunjukkan di bawah ini.


I

il
235

234

aliran sungai yang berkontribusi dengan satu satuan jeluk (l cm, I inci
atau 5 cm). Hidrograf satuan yang diperoleh tidak hanya menyatakan
korokteristik-korakteristik dqerqh oliran sungai saja (luas, bentuk,
kemiringan, pola drainase, dan lain-lain), namun juga karakteristjk hu7an. Bentuk hidrograf sotuqn yong benar untuk DAS tertentu dapat
diperkirakan dengan suatu rata-rata dari sejumlah hidrograf satuan
(hidrograf satuan utama) yang diperoleh untuk DAS yang sama atau
dengan hidrograf satuan tunggal dari suatu hujan badai yang hebat,
yang terpusatkan dan diagihkan dengan baik (Banes, 1952; Cray, 1973).
Sesudah hidrograf satuan ditentukan untuk suatu lokasi tertenru,

adalah mungkin untuk menaksir limpasan permukaan dari suatu curah


hujan dengan pelbagai lama hujan dan intensitas. Ini diketahui dengan
a) jeluk satuan yang diambil dan b) lama curah hujan efektif yang ditentukan. Pada Gambar 6-35 diberikan suatu contoh yang disederhanakan
mengenai penjabaran hidrograf satuan. Konsep hidrograf satuan sintetik
diciptakan karena keperluan untuk mensintesasikan hidrograf dari DAS
terukur dan menggunakannya untuk DAS yang tak terukur. Snijder
(1938) membentuk kembali teori hidrograf satuan sintetik yang telah ada
(mula-mula disarankan oleh McCarthy pada tahun 1938) dan membuatnya terkenal. Dia mengembangkan (Gambar 6-36):

to = cr(L."Lpo,3
Qp

= cq,11'ro

1,8(c,(2,2
0,56<co(0,69

T:3+3(t/24)
di

mana: tp :
L." :

L6:
c'cq :

Qp:

tenggang waktu (Gambar 6-36) : wakru (dalam jam)


dari tengah-tengah massa curah hujan efektif ke puncak hidrograf limpasan.
jarak dalam mil dari titik pelepasan (outlet) ke suatu
titik pada sungai yang terdekat dengan pusat
gravitasi DAS.
panjang kanal utama dari pelepasan batas DAS
dalam mil.
koefisien yang dikembangkan secara lokal untuk
Dataran Tinggi Appalachian.
debit maksimum (Gambar 3-36) dari hidrograf satuan

A:
1:

luas daerah aliran sungai (mil kuadrat)


panjang dasar hidrograf satuan (hari).

Persamaan-persamaan ini mengacu pada hidrograf satuan yang


dihasilkan oleh curah hujan efektif selama tp/5,5. Untuk hujan angin

dengan lama hujan lainnya, katakan


disesuaikan, ti, dapat ditentukan sebagai:

ti :

td,

tenggang waktu yang

., (L.u Ldo'3 + [ ta - lP 1 o,zs

Harga ini selanjutnya harus digunakan untuk menentukan Qo dan


yang
T
disajikan di atas.
Kita tidak boleh melupakan bahwa persamaan-persamaan ini dan
persamaan hidrograf satuan sintetik yang serupa (Gray, 1973) dibuat
secara empiris dengan data yang diperoleh pada tempat-tempat lokal.
Karena itu, persamaan tersebut terbatas pada kawasan geografis yang
serupa dengan kawasan di mana persamaan tersebut diperoleh.
Pengembangan teori hidrograf satuan adalah konsep hidrograf sa-

tuan seketiko yang merupakan hidrograf satuan dari limpasan permukaan yang disebabkan oleh hujan dengan lomq nol dan jeluk satuan
(l cm, I inci, 5 cm, dan lain-lain). Keuntungan hidrograf satuan seketika
(HSS) adalah kenyataan bahwa hidrograf tersebut merupakan suatu
karakteristik sifat-sifat permukaan (luas, bentuk, kemiringan, dan lainlain) daerah aliran sungai, tetapi hidrograf itu bebas (tidak tergantung)
pada hujan.

6.9. PENAKSIRAN LIMPASAN


6.9.1 . Limpossn Rsta-ralo Bulqnqn dun Tqhunqn

Secara teoretis tidakterdapat data yang cukup untuk memberikan


rata-rata debit yang secara statistik 10090 nyata. Secara praktis, pada
banyak tempat data sangat sedikit untuk menentukan harga rata-rata
yang nyata. Rata-rata dari kebanyakan sungai dapat ditaksir cukup
baik dari catatan selama 15 tahun (Volker, 1968). Hal ini dapat
dilakukan dengan roto-rats oritmetik:

t{y

t
236

l=n

a
o

ir

Grmber6-37. Penentuan grafik debit tahunan (atau debit bulanan rata-rata).

ri

:enI

i=

atau dengan metode grafis yang ditunjukkan pada Gambar 6-37 . Tetapi,

dapat terjadi bahwa data yang ada di tangan terlalu sedikit atau tidak
lengkap untuk menentukan limpasan untuk waktu maupun tempat
tertentu. Untuk kasus-kasus tersebut, metode tok longsung digunakan
untuk menentukan limpasan. Beberapa contoh disajikan di bawah ini.
l. Hubungan curah hujan-limpasan (lihat Gambar 6-29) untuk
kawasan tertentu tersedia. Untuk tahun tertentu dengan hanya
catatan presipitasi yang tersedia, limpasan dapat ditentukan dari kurva ini secara langsung atau jika perlu dengan ekstrapolasi (memanjangkan garis tersebut lebih lanjut).
2. Hubungan curah hujan-limpasan (Gambar 6-38) tersedia pada2 stasiun sepanjang sungai. Hubungan untuk suatu titik di antara 2 stasiun
ini dapat ditentukan dengan menarik garis pertengahan. Pengecekan
garis tersebut dimungkinkan dengan membaca harga-harga limpasan
dari hidrograf pertengahan yang diplotkan di antara hidrografhidrograf dari kedua stasiun tersebut dan dengan membandingkannya dengan presipitasi.

3. Dari dua DAS yang serupa (karakteristik-karakteristik ukuran,


bawah permukaan dan permukaan) kita mempunyai catatan curah
hujan jangka panjang dan limpasan (P4, Qa) dan yang lain mer4punyai catatan curah hujan jangka pendek (misalnya 4 tahun).

4.

Catatan-catatan DAS yang kedua dapat diperluas dengan bantuan


dua kurva (Gambar 6-39).
Sebagai sumber terakhir (harus dihindarkan bila mungkin) rumu!rumus Turc, Langbein, Wund, Coutagne, Khosla (paragraf 5.5) atau

rumus lokal lainnya dapat digunakan untuk kasus-kasus bila tidok


oda dqta limpasan yang tersedia, namun data presipitasi ada.
6.9.2. Penaksiran Banjir
Gambar 6-3t. penentuan limpasan pada

titik yang tidak diamati.

Besarnya dan frekuensi banjir (hidrograf banjir) pada suatu


o r penye bab (intensitas presipitasi, lama hujan, frekuensi terjadinya hujan angin dan luas daerah aliran

kawasan dikendalikan oleh fa ktor-fokt

t
239

238

sungai) dan fqktor-foktor lingkungan (faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi dan waktu konsentrasi, lihat paragraf 4.4). Tidak ada satu metode puni yang,dapat memberikan taksiran banjir yang
tepat (debit-debit tertinggi dalam suatu tahun air) kecuali jika metode
tersebut mempertimbangkan pengaruh semua faktor yang disebut di
atas. Metode yang paling umum ditunjukkan di bawah ini.
l. Pendekstan infiltrasi: Pada metode ini debit banjir hanyalah sama
dengan perbedaan antara jumloh (bqnyaknyq) curah huian dqn infiltrosi. Berbagai metode penentuan laju infiltrasi dijelaskan pada

Tebel 6.7. Hsrgs-hrrgs koefisien limpesrn prda rumus rssionrl (Chow' 1!164; Grry, 1973)

Tipe kawasan daerah aliran sungai


Halamon
tanah
tanah
tanah
tanah
tanah
tanah

kawasan kota
kawasan pinggiran

mukaan maksimum sebagai:

di mana:

Q,

t\_
U_

(0,277)

Cfl

= limpasan permukaan maksimum (m3ldetik)

koefisien limpasan empiris (Tabel

6.7)

lim-

pasan,/curah hujan

i:

0,05-0,10
0,10*0,15

0,l5-0,20

0,l3-0,l7
0,l8-0,22
0,25-0,35
0,70-0,95
0,50-0,70

Kowosan pemukiman

rumus banjir yang mewakili yang telah menjadi populer karena


kesederhanaannya. Metode ini memberi batasan limpasan per-

rumput
berpasir, datar (290)
berpasir, ruta-ruta (2-1 o/o)
berpasir, curam (790)
berat, datar (290)
berat, r*a-ral.a (2*7 o/o)
berat, curam (790)

Bisnis

paragraf 4.6.
2. Metode rasionol: Rumus rasional Mulvaney (1850) merupakan suatu

Q,

Koefisien limpasan

intensitas curah hujan maksimum rata-rata mm/-

kawasan keluarga-tunggal
multi satuan, terpisah
multi satuan, berdempetan
pinggiran kota
kawasan tempat tinggal berupa rumah susun
Perindustrian
kawasan yang ringan
kawasan yang berat
Taman- tamon dan kuburan

0,30-0,50
0,40-0,60
0,60-0,75

Lapangon bermain
Kawasan halaman rel kereta aPi
Kowoson yang belum diPerbaiki

0,20-0,35
0,20-0,/m
0,10-0,30

o,25-0,q
0,50-0,70
0,50-0,80
0,60-0,90

0,l0-0,25

lolan-jolan

jam)

0 = laiq infiltrasi (mm/jam) : Ci = i 0


4 : luas DAS (kmz - rumus ini dapat -dipergunakan pada

beraspal

0,70-0,95

beton
batu bata

0,80-0,95
0,70*0,85
0,75-0,85
0,75-0,95

lalan roya dan trotoir


Atap

kawasan-kawasan dengan luas maksimum 0,g km2.

Rumus tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa laju maksi-

mum limpasan permukaan dari suatu DAS kecil terjadi bila DAS
seluruhnya memberikan kontribusi. Hal ini hanya dapat terjadi bila

lama presipitasi sama dengan woktu konsentrasi (periode waktu yang


diperlukan oleh partikel-partikel air untuk berpindah dari titik DAS
yang paling jauh ke titik pelepasannya). Untuk DAS kecil (yang tidak

melebihi 26 km| waktu konsentrasi dapat ditaksir dengan meng_


gunakan rumus California Division of Highways, yaitu:

f =
di mana:

r[ 0,97 L3r 0,395

0,20
0,10

TANAH
Liat kedap air yang rapat
Kombinasi-kombinasi medium dari liat dan lempung
Lempung berpasir Yang terbuka
Lahan-lahan yang diusahakan
Lahan kayu

--l

(km)

0,30

PENUTUP TANAMAN

tc = waktu konsentrasi (jam)


L = panjang kanal utama dari sumber

TOPOGRAFI
Lahan datar, kemiringan rata-rata I hingga 3 kaki per mil
Lahan berombak, kemiringan rata-rata 15 hingga 20 kaki per mil
Lahan berbukit, kemiringan rata-rata 150 hingga 250 kaki per mil

ke pelepasan DAS

Untuk suatu daerah aliran sungai tertentu (Bernard, 1935): C = ftopografi * ftunuh *
f*nuru, ,"n"-"n

-1

241

240

H : total penurunan

dari sumber ke pelepasan (m).

Rumus-rumus empiris lainnya (Gray, 1973; Schulz, 1973) adalah:

r.

di mana:

(0,0078,

t" :
TLbquo-

(Kirpich, 1940)

H;

(Mockus, t9s7)

waktu konsentrasi (meni0


panjang maksimum berpindahnya air dari suatu titik
pada batas DAS ke titik pelepasannya (kaki)

H/Lb:

sloPe

(-)

H_ perbedaan tinggi di antara titik pada batas DAS dan


titik pelepasannya (kaki)
tp: tenggang waktu (jam) = waktu dari pusat massa
curah hujan berlebihan (efektif) ke maksimum
hidrograf limpasan
tr : waktu dari maksimum (iam) = waktu dari awal limpasan hingga puncak/maksimum limpasan.
Koefisien limpasan, C, mencakup semua kehilangan dan
beragam dari hujan yang satu ke hujan yang lain. Karena itu, suatu
harga yang konstan untuk suatu DAS tidak boleh dipergunakan
(Volker, 1968). Di bawah ini disajikan batasan C yang tetap konstan
untuk berbagai frekuensi pada suatu DAS tertentu, yaitu:

C_

laju limpasan maksimum untuk suatu frekuensi tertentu


intensitas curah hujan rata-rata untuk frekuensi yang sama

Dengan frekuensi dimaksudkan misalnya, limpasan yang terjadi sekali dalam l0 tahun.
3.

Rumus-rumus empiris:

Di

samping rumus rasionol yang

dipergunakan untuk DAS yang kecil, terdapat banyak rumus empiris


lainnya yang diperoleh pada berbagai bagian dunia. Sebagian besar
rumus ini hanya mempertim,bangkan sejumlah peubah-peubah yang

relevan yang terbatas dalam mengendalikan limpasan. Biasanya,


debit maksimum dipilih sebagai peubah tak bebas (Seyhan, 1975).
Daftar rumus yang disajikan dengan baik diberikan oleh Volker
(1968) dan Gray (1973).

4.

Metode stotistik: Untuk melakukan peramalan seperti frekuensi


kemungkinan terjadinya limpasan maksimum tertentu, pola historis
kejadian-kejadian limpasan harus dikaji. Hal ini dilakukan dengan
ini adalah untuk menggam-.tod. statistik. Tujuan dasar metode yang
tersedia. Data contoh
barkan suatu kurva dari data contoh
dapat beruPa:
a. Seri tahunon: satu debit maksimum dipilih dari setiap tahun'jelas
parsial: semua debit maksimum yang terpisah dan

b. Seri
dipilih.

c.

Seri lengkoP: semua data debit diambil tanpa memandang besarnya.

Aliran-aliran maksimum ini diatur dalam urutan besaran yang


menurun dan periode utang (iuga disebut interval ulangan) untuk
masing-masinj banjir ditentukan. Periode kembali merupakan selang
waktu rata-rata (sejumlah tahun) suatu kejadian akan disamai atau
dilampaui. Di antara banyak rumus yang berlainan (lihat seyhan,
lg77b), rumus yang paling sering dipergunakan (menurut Gumbel)
adalah:

T=n* I
m

dimana:

1 :
m=
1:
p :

danP

ml
n+ I

periode ulang (tahun)


urutan kejadian
jumlah tahun catatan total
peluang bahwa kejadian tertentu akan disamai atau
dilampaui : Peluang terjadinYa.

Jika aliran-aliran maksimum diplotkan dengan T atau P, suatu

kurva Jrekuensi dapatlah dikembangkan. Pengeplotan dapat

dilakukan pada suatu kertas semu-logaritmik (Q dengan log T) atau


pada suatu kertas peluong-log (lihat Gambar 6-43). Suatu contoh
ditunjukkan pada Gambar 6-40. Plot garis lurus diperoleh bila
diplotkan pada kertas peluang ekstremal logaritmik Gumbel (lihat
Cambar 6-42).
Karena berulang kali kurva frekuensi banjir diplotkan dengan
tangan bebas, maka tidak ada prosedur baku yang diikuti dalam
menyesuaikan kurva frekuensi, dan hasilnya disangsikan. Dua kurva
frekuensi yang diplotkan dengan tangan, khususnya jika debit mak-

r
243

242

simum tertinggi adalah tidak tetap, dapat berbeda, tergantung pada


bobot yang diberikan pada debit maksimum terbesar tersebut. Hal ini
sangat penting jika kita diminta untuk menentukan banjir rata-rata
tahunan, Q2,33. Untuk memecahkan persoalan yang meragukan ini, dua
prosedur yang sederhana dapat diikuti di dalam menentukan banjir ratarata tahunan.

Prosedur yang pertama adalah memperingkatkan data, dengan


menaksir periode-periode ulang yang sesuai (T) dan selanjutnya
menghitung h. rga-harga agihan Gumbel, G (T), dengan:
G

(r) :

- [o,rt + {o,iiei)rn f rn --L f]

Sesudah itu, persamaan regresi linear dikembangkan antara debit


maksimum (sebagai peubah tak bebas) dan G (T).

G:a+btG(T)l
Dalam menggunakan analisis regresi ini, debit puncak tertinggi
dan nilai G(T)-nya yang sesuai, dihilangkan. Sebagai kesimpulan,
karena G (2,33) : 0, banjir tahunan rata-rata yang ditaksir adalah harga
tetap (titik potong) "a" dalarn persamaan ini.
Prosedur ke dua yang tidak membutuhkan penaksiran persamaan
regresi adalah dengan mendekati banjir tahunan rata-rata dengan rumus
berikut dengan puncak banjir tertinggi sekali lagi dikeluarkan.

Gembar6-39. Penjabaran hubungan curah hujan_limpasan jangka panjang dengan


mengkorelasikan dengan DAS lainnya.

Qz,:=o-['.q#]
: banjir tahunan rata-rata
Q,, = rata-rata debit puncak dengan mengeluarkan

di mana: QZ,r

yang

tertinggi
Q,,,

n=

Qi:
i-

n-

i:
:
i-

Qi
I

T trahunr

2m

'o

'.,i--fi

L@Li---f

jumlah kejadian total


seri puncak-puncak banjir diperingkatkan dalam urutan

menurun

1,2, ....,., n,

Grmbar 6-40. Kurva-kurva frekuensi aliran puncak.

r
245

24

fn :
on :

Kepentingan utama analisis frekuensi adalah untuk mencocokkan


fungsi agihan peluang yang diketahui dengan agihan-agihan kejadiankejadian yang diamati seperti dalam Gambar 6-40. Kita harus menyadari

bahwa setiap parameter hidrologi dapat dikenakan suatu analisis


peluang semacam itu. Tetapi dalam paragraf ini hanya puncak-puncak
banjir yang diperhatikan.
Terdapat banyak fungsi agihan peluang (lihat Seyhan,1977b) yang
digunakan dalam hidrologi. Di antaranya, dua agihan yang paling lazim
yang merupakan agihan log Pearson Tipe III dan agihan harga ekstrem
Gumbel Tipe I (Riggs, 1968; Coulson, 1966; Bobee, 1975).
Agihan log Pearson Tipe III dapat dihitung dari rumus (Seyhan,

I :
1 :
n

l0

1977b):

l5

e:em+Ks

20

di

mana: Q : debit maksimum logaritmik yang sesuai


Qm :
K:
s :

25

dengan

30

periode ulang T tahun


rata-rata logaritmik debit maksimum
karakteristik dari agihan Pearson Tipe III
simpangan baku dari logaritma debit maksimum.

Harga-harga

K tertabulasi dibaca (Seyhan,

35

40
45

50

1977b) sebagai suatu

fungsi T dan koefisien kecondongan (g), dan harga-harga Q dihitung


dengan rumus yang disajikan di atas. Selanjutnya, Q diplotkan pada kertas peluang log-normal (lihat Gambar 6-43) dengan T. Suatu garis lurus
hanya diperoleh jika Q- = 0 yang akan terjadi hanya bila agihan

Kalau agihan log Pearson Tipe III memerlukan tiga parameter


(rata-rata, simpangan baku dan koefisien kecondongan), agihan harga
ekstrem Gumbel Tipe I merupakan suatu agihan dua parameter yang
mempunyai suatu koefisien kecondongan yang konstan 19 : 1,139).

P:Q,-t
di

mana:

p:

Q-:
1

S=

rls
'l!";
aq0n

parameter skala

jumlah (banyaknya) contoh.


yn

on

0,4952 0,9497
0,5128 1,0210
0,5236 1,0630
0,5309 1,0910
0,5362 l,ll20
0,5403 1,1280
0,5436 l,l4l0
0,5463 1,1520
0,5485 1,1610

60
70
80
90
100
200
500
1000

yn

on

0,5521

,175

0,5548

0,5569

,194

0,5586

,201

0,5600

,2M

0,5672

,236

0,5724

,259

0,5745

,269

185

Untuk suatu data tertentu, rata-rata (Qp dan simpangan baku (s)
dihitung. Harga-harga ],, dan on dibaca dari Tabel untuk n. Dari hargaharga ini, A, dan l/a dihitung dengan menggunakan dua rumus yang
telah diberikan. Persamaan agihan harga ekstrem Gumbel Tipe [, selanjutnya adalah:

tersebut adalah normal.

Dua parameter tersebut adalah:

rata-rata ekstrem yang berkurang (dibaca dari tabel yang


disajikan di bawah ini)
simpangan baku dari ekstrem-ekstrem yang berkurang
(dibaca dari Tabel yang disajikan di bawah ini)

Q=F +2,303(loeT)f

lf

t,

mode

rata-rata contoh
simpangan baku contoh

Suatu persoalan penting pada semua analisis frekuensi seperti


tersebut di atas adalah kekurangan data. Jika catatan debit-debit

maksimum pada suatu tempat hanyalah merupakan suatu contoh


(sample) yang kecil, parameter agihan frekuensi teoretis terhitung, ratarata, simpangan baku dan koefisien kecondongan, akan mengalami

F
247

246

P:

sompling error dan besarnya tidak menggambarkan harga-harga


populasi. Tetapi ada teknik-teknik menyesuaikan parameter contoh

p:

angka pendek untuk mencerminkan karakteristik catatan- catatan debit


maksimum yang lebih lama. Metod+metode tersebut dapat dirangkum

NK

sebagai:

l.

Penyesuaian harga rata-rata

3.

b. Prosedur Corps of Engineers.


Penyesuaian simpangan baku
a. Prosedur Matalas-Jacobs
b. Prosedur Corps of Engineers.
Penyesuaian koefisien kecondongan
a. Prosedur Rantz-Crippen.
Prosedur

ini

memperhatikan harga-harga logaritmik parameter

Untuk mudahnya penghitungan, grafik yang ditunjukkan pada


Gambar 6-41 dipersiapkan di mana Q, secara langsung dapat dibaca un-

tuk suatu presipitasi tertentu (P) dan bilangan kurva (NK) tertentu.
Metode ini tidak mempertimbangkan relief kawasan dan lama hujan.

Tetapi, metode tersebut dapat dipergunakan untuk semua kawasan di


Amerika Serikat.

statistik; rata-rata, simpangan baku dan koefisien kecondongan.


Penyesuaian rata-rata dan simpangan baku diperoleh dengan
mengkorelasikan logaritma-logaritma debit maksimum untuk stasiun

6.9.4. Peramalan Aliran Minimum

jangka pendek dengan catatan-catatan stasiun jangka panjang di dekatnya. Tidak ada prosedur yang baku untuk menyesuaikan harga koefisien
kecondongan jangka pendek. Suatu teknik khusus untuk menaksir harga
jangka panjang dikembangkan oleh Rantz dan Crippen (1975). Mereka
telah mengembangkan persamaan-persamaan regional yang
menghubungkan logaritma koefisien kecondongan dengan harga-harga
logaritmik presipitasi DAS rata-rata tahunan dan debit maksimum ratarata tahunan per kilometer persegi.

dengan dua cara:

6.9.3. Metode bilangon kurva

Metode bilangon kurva dikembangkan oleh Dinas Pengawetan


Tanah Departemen Pertanian Amerika Serikat (Chow, 1964 dan Design
of Small Dams-Appendix A, 1965) dan didasarkan atas penaksiran lim-

poson permukaun dari sejumlah curah hujan dan data tanah dan
penutup tonoh tertentu. Rumus empiris dikembangkan sebagai:

n
_ (P-0,2S)2 ;s:t'o*l-,0
Vds -

P-0,8S

di mana: Q6,
i

waktu hujan angin mulai (inci)


nomor kurva yang mengacu pada suatru tonoh hidrologik
kompleks penutup tanah (suatu nomor yang diberikan
-pada
kuantitas tipe tanah sehubungan dengan kapasitas

infiltrasi, tata guna lahan dan kondisi cuaca sebelumnya).

a. Prosedur Matalas-Jacobs

2.

curah hujan angin total (inci)


perbedaan potensial maksimum di antara P dan Q6. pada

NK

limpasan permukaan langsung (atau limpasan hujan

angin-paragraf

6.

1)-inchi.

Karena debit-debit minimum dialirkan ke sungai, terutama dari air


tanah, debit tersebut berubah secara lebih lambat dan dibandingkan
dengan banjir, yang menunjukkan variasi yang besar, maka dengan
mudah debit tersebut dapat diramalkan. Peramalan dapat dicapai

Pendekatan statistik: Ini dapat dilakukan, misalnya, dengan


memplotkan kurvo lqma aliran (huian) (paragraf 6.5) atau dengan
mengembangkan persamaan empiris yang berdasarkan atas onalisis
regresi dari curah hujan dan limpasan.
2. Pendekatan hidrologik' Aliran minimum dapat ditaksir dengan
analisis kurvo-kurvo deplesi (paragraf 7.4).
3. Analisis frekuensi: Analisis frekuensi yang dilakukan untuk debitdebit maksimum dapat juga dilakukan untuk debit minimum. Ada
dua prosedur untuk analisis ini, yaitu:
a. Agihan grafik-metode tangan bebas (agihan frekuensi empiris)
b. Agihan frekuensi teoretik
i. Agihan harga-harga terkecil Gumbel yang terbatas
ii. Agihan Pearson Tipe III.

l.

Agihan grafik-metode tangan bebas mempertimbangkan pemeringkatan data dan penghitungan periode ulang (T = (n * l)/m)
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel6.8. Pada agihan frekuensi empiris

EE

F.

F'

EE

g
9
\o

a)

=.
.l

F:

a.

g
g)

a)

ga

1E

=a

o.

or-5
-P
aOa

E
P-- o-6
q)

o.-9

t\)

il

oa

il

0.500

20n
I,78

.0(r7
l-s

l8
l9

17

t6

l.l+3
l.+

1.23
13

11

0.625
0.688
0.75n
0.812
0.875
0.938

0.-562.

0.,13u

)r)

1.60
l.'15

0.37-s

4,0i)
3.20
2,67

gg:EF B*
gI?E;EF
ril

.062

. l -r-1

.21

.31

J)

.55

.70

.12
.u9

..13

.83

0,441

))5
2,00

0.17 t

rl 5)q

.46

1.059

I .125

1.20
0.E82

0.778
0.833
0.889
0.914

o 1))

,056

18

188

,l

.27

.36

.73
1,38

q0

,lt

.58

0,-500

,38

,71

,17

111

,80

0,218

1,50

I.61

1.29
0.9.1I

0,1 05
5

1.t76
0,947

1.052

1,111

1.25
Rqs

r,33

1,43

I.54

2,00
1,82
1,67

1 1)

)5n

2.86

0.8.12

0.737
0.789

0.68,1

0,632

0.526
0.579

0,316
0,368
0,421
0,474

261

50

N:19

4,00

20,0
10,0
6,1

a.

9-

0.550
0,600
0,650
0,70t)
0,750
0.800
0,850
0,900
0.950

0,s00

0,050
0,100
0,150
0,200
0,250
0,300
0,350
0,400
0,450

Limpasan hujm (inci)

0,211

0,1 58

0,0s3

t! ,0

,75

N:18
T

E.

H:o

0,556
0,61 I
0.661
0.82.+

5.88
0.647
0.706
0,765

1.80

0.389

o Jr:)

0.353

7qJ

0
.40

0,222

0,1 67

9,0
6.0
4,50
3,60
3,00
2,57

0,176

18,0

0,056
0,111

0,1 18

:19
N =17

hingga N

0,059

n )15

N:16

:15

E EE$Eg $E

.25

.7

.0

0,188
0.250
0,312

.5

0,062

16,0
8,0
5.3

T
0.1 25

N =15

12

ll

l0

-5

ig$*EF
=*$E;
= q9; E 6 o BE

E:

*gcEEiFIg*I
r iH E 3; i * s; F
;: eE i P; gE
e sH i E {"H qE e

Fgdlli3FBgii

Ei3+EHE-Fgg i
3 EE S;;fi $ f Ib i
i n* aIE*-r$ i1

Tabel 6.8. Interval ulang (T) dan peluang-peluang (P) untuk N

oa ;f

EE.
50,

=oa

E5
qT

.-. FU
EV

Btr

15

*6-

Sts
E. -l

ut
A:X
rg:

6g
.0Q

oog
37r
o-a

tt

Fr

a-

EA) a.

8:
oq?

F'i

JA
F'J

<5
E. E

5r
5
-F'A:

E:
sr6

ts3#
E8!'
Slix
o-Q
6|r3

,,

g6E

EfP

ool

[:"
.:-!J

;p

(D.)
='q)
5S)

O.

sN)
\o

T
25t

250
sebagai berikut: P

Tabel 6.9. Parsmeler-parameter skala (Chin, 1967; hshmsn 6)

Koefisien Parameter
Kecon- Skah

Faktor-faktor
Frekuensi

l/a

Aa

l/a

Ba

1,623

0,68
0,69
0,70

o,152
0,14'l

l,598

0,t42

I,549

0,136

1,526

0,131

I,503

0,126

I,480

o,t2t
0,1 l6

l,458
I,436

T : l/P

0,lll

I,415

l,394
t,374
I,354
I,334

l,0l

0,990

0,663

0, 106

1,05

0,952

0,482

I ,10

0,909
0,833

0,380

0,350
0,346

3,468
3,370

0,31
0,32
0,33

0,341

3,277

1,t87

0,336
0,33 I

3,190
3,108

I,214

1,2q

0,71
0,12
0,73

0,188
0,217

0,34

0,327

3,030

I,267

0,74

0,35

0,322

3,955

1,294

o,75

0,245

0,36

0,317

0,37
0,38

0,312

2,885
2,818

1,32t

0,274
0,302
0,33 r

0,'16
0,77

0,39
0,40

0,302

0,359
0,386

0,41

0,292

0,414
0,442
0,469
0,496

0,42

0,281

0,43

0,282

0,44

o,271

0,45

0,271

2,374

0,523

0,46

0,55 I

0,47

0,517

0,48
0,49
0,50

0,266
0,261
0,256
0,251
o,246

0,658

0,51

o,uo

0,63

1,258

0,067

|,240
I,222

t,5t2
1,567

0,83
0,84
0.85

2,328
2,284

l,595

0,86

t,623

0,87

0,063
0,058

2,Ul

1,651

0,88

0,053

I,187

2,199
2,159

l,680

0,049

i,rzo

I,?08

0,89
0,90

0,044

I,154

2,t20

1,731

0,91

0,040

l,t37

1,430

l,5rt0

0,82

0,096

0,82

t,295

0,035

0,93

0,03r

I, l2l
I,105

2,009
I,975

0,94

0,026

I,089

0,95

0,022

1,074

0,214
0,209

I,941

1,881

0,96

l,059

I,909

l,9l I

0,2u

1,817

l,846

0,99

0,009
0,004

t,029

0,199

I,940
|,970

0,9?
0,98

0,017
0,013

0,193

r,815

2,W

I,00

0,0

1,000

0,61

0,188

I,786

2,309

-0,040

0,86?

0,62
0,63

0,183
0,178

1,757

2,ffi

l,t
t,2

|,729

2,996

1,3

-0,071
-0,109

o,752
0,652

0,64

0,t72

1,702

-0, I 36

0,563

0,167

1,67 5

3,382
3.802

1,4

0,65

1,5

-0,160

0,486

0,225
0,219

0,56
0,57
0,58

0,59
0,60

Tabel 6.10. Variat yang berkurang (log y) untuk berbagai periode ulang dan peluang

Interval ulang

1,20
1,30

t,u4
1,014

ll

0,769
0,66'.7

10,0

qi

P (x)

0,'714

4,00
5,00

Peluang

I,50
I,58
3,00

,,

(x)

l,40

2,00

t,2u

0,92

0,54
0,55

yang berkuranC (y).

t,276

t,765
|,794
|,823
r,852

0,738

I,028

0,w2

2,412
2,422

2,U5

0,975
1,002

1,3 14

0,81

0,230

0,922
0,949

0,087
0,082
0,017

|,457
I,484

2,082

0,896

0,

2,578
2,524

0,235

0,790
0,817
0,843
0,870

l0t

0,78
0,79
0,80

t,375
l,402

0,52
0,53

0,79

1,348

1,573

2,754
2,692
2,634

0,684
0,71I

:
log (x
- e) ([] - ) + l/q (loey)
Plotkan pada kertas peluang log-normal (Gambar 6-43) atau pada
kertas peluong ekstrem logaritmik Gumbel (Gambar 6-42) harga x
terhitung dengan periode ulangnya (T) atau peluang (P) atau variat

t,u9

0,29
0,30

0,604

f.

0,157

0,038

0,297

Bo

0,162

I,107
I,134
I,160

0,30?

Ao

0,67

3,573

0, r58

berikut, tentukan untuk

teoretis, yaitu:

0,66

0,355

0,t29

I,081
0,28

0,099

masing harga log y dan

Frekuensi

1,054
0,007
0,069

e. Dengan menggunakan

Faktor-faktor

Parameter
Skala

= I - e-Y.
persamaan

dongan

dongan

Koefisien
Kecon-

(x)

15,0
20,o
25,0
30,0

40,0
s0,0
7 5,0
100

0,633
0,500
0,333

0,250

0,253
0,166
0,098
0,041
0,000
-0, I 59

-0,393
-0,541

0,200
0,100

-0,652

0,M7

-l,155

0,050

-1,292

0,040
0,033
0,02s
0,020
0,013
0,010

-t,3.87

-0,979

-1.,469_

-1,469

-t,699
-l

,886

-2,000

"t

Gambar 6-43. Kertas peluang log-normal'

{
2s5

l.

7. AIR TANAH

Batuan menjadi poreus karena pelarutan

2. Batuan menjadi poreus karena retakan


batu-batu porous

7.1. TEMPAT DAN ASAL MULA AIR TANAH

3. Endapan sedimen.

Lebih dari 98 persen dari semua air (diduga sedikit lebih daripada 7
di atas bumi tersembunyi di bawah permukaan dalam poripori batuan dan bahan-bahan butiran. Dua persen sisanya adalah apa
yang kita lihat di danau, sungai dan reservoir. Separuh dari 2 persen ini
disimpan di reservoir buatan. Sembitan puluh delapan persen dari air di
bawah permukaan (96 di luar 100 persen air total) disebut air tanah dan
digambarkan scbagai air yang terdapat pada bahan yang jenuh di bawah
muka air taruh. Dua persen sisanya adalah lengos tanoh pada mintakat
tidak jenuh di atas muka air tanah (Gelhar , 1972). Jumlah air tanah yang
bcsar mcmainkan peranan penting dalant sirkulasi air olcmi. Bila kita
mqgansgtp bahwa presipitasi diagihkan secara sangat tidak merata, make banyak sungai akan mengering tanpa suatu oliran dasar. Peranan air
tanah digambarkan dengan bagan-bagan aliran pada Bab 2. Waktu ratarata yang diperkirakan untuk suatu tetes hujan untuk berjalan dari hujan ke laut adalah sedikit lebih dari 400 tahun (Celhar, 1972).
Jumlah air tpnah yang besar yang disimpan di bawah permukaan
bumi dapat digambarkan oleh penaksiran Shimer (1968) yang menggambarkan bahwa jika semua air tanah di Amerika Utara dibawa ke perrmrkaan ia akan menutupi lahan sampai kedalaman 2,5 m lebih, yang
setara dengan beberapa kali presipitasi tahunan. Air ini tentunya harus
berasal dari suatu tempat. Secara praktls semua air bawah permukaan
berasal dari presipitasi. Akan tetapi, jumlah air tanah yang nisbi kecil,

Grmbrr 7.1. Contoh-contoh bukaan batuan (Wiest, 1965).

106 km3)

berasal dari sumber-sumber lain. Asol-muasol

oir

tanah juga

dipergunakan sebagai konsep dalam menggolongkan air tanah ke dalam

Trbel7.1. I(lcrnn-Lkmn porosites yrng mewrhili untuk brhrn-behrn endrpen (Todd,


1959)

Porositas (90)

Liat

Debu
Pasir campuran medium hingga
Pasir yang
Pasir campuran halus hingga

seragarn

Kerikil

pasir
(paras)
Serpihan
Batuan kapur
Batuan granit
Kerikil dan
Batu pasir

kasar

medium

|
|
|
|
I
I
|
I
I
I

45-55
40-50
35-.10

30-40
30-35
30-40
20-35
10-20

l-10
l-10

l-5

256

257

4 tipe yang jelas (Told, 1959 dan Dam, 1966), yaitu:


l. Air meteorik: Air ini berasal dari atmosfir dan mencapai mintakat kejenuhan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan:

Desar. Retakan mungkin terdapat dalam batuan kristalin maupun batuan padat dan mungkin mempunyai ukuran kapiler maupun super kapiler.
Air yang disimpan dalam retakan disebut air celah dan air retakan. Lubang-lubang yarrg besar merupakan ciri formasi batu kapur dan kadangkala batuan gunung api. Kalau aliran air melalui retakan adalah sebagian
besar laminer dan sebagian turbulen, aliran air melalui lubang-lubang
yang besar adalah turbulen.
Pori-pori merupakan ciri batuan sedimen klastik dan bahan

a.
b.

Secara langsung oleh infiltrasi pada permukaan tanah


Secara tidak langsung oleh perembesan influen (di mana kemi-

ringan muka air tanah menyusup di bawah aras air permukaankebalikan dari efluen) dari danau, sungai, saluran buatan dan
lautan

c. Secara langsung dengan cara kondensasi uap

air

butiran lainnya. Pori berukuran kapiler dan membawa air yang disebut

(dapat

air pori. Aliran melalui pori adalah laminer. Kapasitas penyim-

diabaikan).

2. Air juveni* Air ini merupakan air baru yang ditambahkan pada mintakat kejenuhan dari kerak bumi yang dalam. Selanjutnya air ini

panan/cadangan air suatu bahan ditunjukkan dengan porositas yang


merupakan nisbah volume rongga (Vu) dengan volume total batuan (V),

dibagi lagi menurut sumber spesifiknya ke dalam:

v
v

n: J x

a, air magmatik
b. air gunung api dan air kosmik (yang dibawa oleh meteor).
3. Air diremojakan (rejuvenated): air yang untuk sementara waktu telah
di

dikeluarkan dari daur hidrologi oleh pelapukan, maupun oleh sebabsebab lain, kembali ke daur lagi dengan proses-proses metamorfisme,
pemadatan atau proses-proses yang serupa (Dam, 1966).
4. Air konat: Air yang dijebak pada beberapa batuan sedimen atau
gunung pada saat asal mulanya. Air tersebut biasanya sangat termineralisasi dan mempunyai salinitas yang lebih tinggi daripada air

Air

Tanah

Air tanah ditemukan pada formasi geologi permeabel (tembus-air)


yang dikenal sebagai akifer (juga disebut reservoir air tanah, formasi
pengikat air. dasar-dasar'yang tembus air) yang merupakan formasi

memungkinkan jumlah air yang cukup besar


untuk bergerak melaluinya pada kondisi lapangan yang biasa. Air tanah
juga ditemukan pada akiklud (atau dasar semi permeabel) yang mengandung air tetapi tidak mampu memindahkan jumlah air yang nyata
(seperti liat). Akifer ditemukan pada sejumlah lokasi. Deposit glasial
pasir dan kerikil, kipas aluvial dataran bajir dan deposit delta pasir semuanya merupakan sumber-sumber air yang sangat baik. Pada suatu
akifer, air tanah menempati lubang batuan (Gambar 7-l) yang dikenal
sebagai pori (atau celah-suatu klasifikasi celah yang baik disajikan
oleh Ward, 1967 halaman 241-243) patahan maupun lubang yang

pengikat

air yang

- persen porositas (90)


= volume rongga (cm3)
= volume total batuan (gas, cair dan padat (cm1.

Porositas (lihat Tabel 7-l) tergantung pada bentuk dan susunon


partikel individu, agihan ukuran pori, derajat sementoro dan

laut.

7.1.1. Sifat-sdat Batuon dan Terjodinya

mana: n
Vv
V

10090

ii

nr

tr
fil

il
.l

pemadatan. Pada mintakat kejenuhan, air tanah mengisi semua lubang.


Karena itu, pada mintakat ini, kita dapat menganggap lengas tanah sama
dengan porositas. Jika kita tertarik pada pemindahan air tanah dari mintakat kejenuhan, kita tidok dapat memindahkan semuanya karena gayagaya molekuler dan tegangan permukaan akan memegang sebagian air di
tempatnya. Air ini ditahan melawan gaya berat. Retensi spesdik suatu
batuan atau tanah diberi batasan sebagai nisbah persentase volume air
yang akan tertahan melawan gaya berat setelah kejenuhan terhadap
volumenya yaitu:

S.: J x
v

1i
di

il
il

mana: Sr =

=
V:

Vr".

100

retensi spesifik (90)


volume air yang tahan (cm3)
volume total batuan (gas, cair dan padat, cm).

U
259

2s8

Sebaliknya, air yang dapat dipindahkan dari mintakat kejenuhan


dinyatakan sebagai hasil spesdik (atau porositas efekti0. Hasil spesifik
tersebut diberi batasan sebagai nisbah persentase volume air yang setelah
dijenuhkan, dapat dikuras secara bebas oleh goyo berqt terhadap
volumenya sendiri. Ini adalah:

50
45

40
35
30

S':-*ox

52s

loo

b20
a t5

lo

di

Retensi spesifik

mana: Sv : hasil
V*d
V

0
D

l09o maksimum
ukuran butiran

:
:

sPesifik (90)

volume air Yang dikuras (cm3)


volume total batuan (gas, cair dan padat, cm3).

Tampak bahwa porositas (n) sama dengan:

(mm)

n:Sr+S,
Gambar?.2. Keragaman-keragaman porositas, hasil spesifik dan retensi spesifik di DAS

Pantai Selatan, Kalifornia (ukuran butiran berkaitan dengan

harga

kumulatif, yang dimutai dengan bahan kasar dari l09o sampel total) (Todd'
1959).

Tabel

7.2. Hasil-hasil spesifik yang ditaksir pada deposit di Lembah Sacramenlo, California, Ameriks Serikat (Todd, 1959)
Hasil spesifik (90)

Deposit

Mintakat jeluk

Seluruh lembah

kat

kaki

100-200
kaki

20-200

kaki

l,7

10,5

8,0

9,3

8,0

7,5

6,9

7,3

6,2
5,0

6,0

6,2

4,5

6,0

6,2
5,4

'1,9

7,2

6,9

7,1

20-50
Dataran banjir sungai
dan deposit kanal
Dataran aluvial rendah & deposit kipas aluvial
Deposit aluvial terpotong
Deposit Basin (DAS)

Semua minta-

50-

00

kaki

Harga-harga spesifik tergantung pada ukuron butiron, bentuk dan


agihsn pori dan pemadatan. Meinzer (1942) memberi garis besar
beberapa metode untuk menentukan hasil spesifik (penjenuhan contoh
Iaboratorium, penjenuhan contoh lapangan, uji pompa, dan lain-lain).
Semua metode ini mempunyai keterbatasan. Pada Cambar 7-2 dan
Tabel 7.2 disajikan beberapa harga hasil spesifik, yang didasarkan atas
pengukuran laboratorium. Pada TabelT .2 pengaruh pemadatan nampak
pada menurunnya harga-harga hasil spesifik dengan kedalaman sungai
dan deposit aluvial.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi agihan lubang bqluqn
dapat diringkas sebagai berikut (Ward, 1967):
1. Tipe batuan

2. Keragaman vertikal litologi (dasar-dasar pembentukan)


3. Keretakan batuan

4. Pelapukan.
7

.1.2. Tipe-tipe Akifer

Ada 3 tipe akifer utama yang dibahas di bawah ini.


l. Akifer tidqk tertekan.'Akifer ini (disebut juga bebas, freatik atal
non-ortesis) batas-batas atasnya adalah mukq

ir

ta na

h. Kelengkungan

r
261

260

dan kedalaman muka air tanah beragam tergantung pada kondisikondisi permukaan, luas pengisian kembali, debit, pemompaan dari
sumur, permeabilitas, dan lain-lain (lihat Gambar-gambar 7-3 dan
7

-4).

sumw muka

2. Akifer terteksn: Akifer ini disebut juga akifer artesis atau akifer
teksnan di mana air tanah tertutup antara 2 strata yang relatif kedap
air. Airnya ada di bawah tekanan dan bagian atasnya dibatasi oleh

'rair

4.6

o-

{qu,

permukoon piezometrik. Jika suatu sumur dimasukkan dalam akifer


ini, aras air akan menaik sampai aras piezometrik dan akan membentuk suatu sumur yang mengalir seperti ditunjukkan pada Gambar 7-3.
Kawasan yang memasok air ke akifer tertekan disebut daerah pengision kemboli. Perhatikan bahwa permukaan piezometrik merupakan
svatv permukaan imajiner serupa dengan aras tekanan hidrostatik air

kapiler

41'9li:EL
-pJ,gtk.T
mata at

aliran influenT

rumbsi-rumbe

l\

sumur
mengalir

sumur artesis;

er Eneh
mclayang

sumur muka

/un
it

ahran eflucn

strata pembats

Gambar 7-3. Akifer air tanah (Eagleson, l9?0).

pada akifer.

3. Akifer melayang: Akifer


terbatas (Gambar 7-5) yang terjadi di mana tubuh air tanah
dipisahkan dari tubuh utama air tanah oleh stratum yang relatif
kedap air dengan luas yang kecil. Lensa-lensa liat pada deposit
sedimen mempunyai tubuh air yang dangkal yang melapisinya.
4. Akifer semi-tertekqn.' Akifer ini merupakan kasus khusus akifer berini merupakan kasus khusus dari akifer tak

,i
a

tekanan yang dibatasi oleh lapisan-lapisan semi-permeabel.


7

.1.3 -

l.

Konstantq-konstanta Ceohidrolika Akifer.

Koefisien simpanan
Koefisien simponan diberi batasan sebagai volume air yang dilepaskan (atau diambil) oleh akifer ke dalam simpanan per satuan luas permukaan akifer dan per satuan perubahan tinggi air. Untuk kolom
vertikal I x I m yang memanjang melalui suatu akifer tertekan
(Gambar 7-7) koefisien simpanan S sama dengan volume air (dalam
m) yang dilepaskan dari akifer bila permukaan piezometrik turun I
meter (tl ke t2 ). Pada sebagian besar akifer tertekan, koefisien
simpanan berkisar 0,00005 < S < 0,005. Koefisien tersebut dapat
ditentukan dari uji-uji pompo sumur dan duri embutan (fluktuasi) air
tonoh. Untuk suatu akifer tertekan suatu rumus dikembangkan

raya

-- - -

-.-.---

sebagai:

--

FSil

S=psH( n +f
Ew

Es

muka air tanah tak tcrSanggu


muka ah tmah tcrganggu
arah aliran air tanah

lapim pcmbetc

(CoGembrr 7-4. Bagan muka air tanah dan gerakan di Kawasan Gooi, negeri Belanda
laris, 1974).

t
263

262

di mana:

P:

g=
11:

kerapatan air (kglm3)


percepatan gravitasi (nrldetik2)
ketebalan akifer (m)
porositas (_)

n:
E; modulus beban kompresi air

air;;;i---{ermuka--\an
melayang

muka

2000 x

lanah

M=*E;

106

axrrer

Newton/m2

,4ufuDr
/

melavane

Es= modulus elastisitas skeleton butiran


: 300 x 106 Newton/m2 untuk bahan tak terkonsoli-

strata kdap

alr

muka air Enah

akifer bebas

ERCp+E<EtWr

dasi.

strala kedap air

Koefisien simpanan untuk akifer bebas berhubungan dengan


hosil spesdiknyo. Kemudian ini ditunjukkan dengan simbol trr. Untuk
sedimen dengan porositas antara 0,3 dan 0,4, p adalah antara 0,1 dan

Grmbsr 7'6. PrinsiP hukum DarcY'

Gsmbar 7-5. Akifer atas.

0125.

Untuk okifer tertekon, Soliman (dalam Decisions with Inadequate Hydrologic Data, 1973) mengembangkan persamaan doya simpan berikut, atau koefisien simpanan:
i

'f
j

(A x) (A h)

akifer.,

,rertekan

lapisan kedap air

di mana: 12

Pemakaian rumus ini memerlukan:


a. Pencatat muka air di dalam sumur pengamatan (untuk Ah dan At)
b. Harus tersedia penghitung air tanah piezometrik
c. Uji-uji pompa harus dilakukan dan transmisibilitas harus ditentukan secara terpisah sebelum memasang pencatat aras dalam
sumur.

Permeobilitas
Permeabilitas merupakan suatu ukuran kemudahon qlirqn melalui
suatu media poreus. Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan
dengan koefisien permeabilitas (Tabel 7-3 dan Tabel 7-4). Banyak
peneliti telah mengkaji problema permeabilitas dan mengembangkan
beberapa rumus. Rumus Fair dan Hatch (1933) dapat dipandang
sebagai sumbangan yang khas.

piezomelrik

permukaan tanah

(r2-rr)(A0T
= gradien tinggi air piezometrik pada jarak x2
I, : gradien tinggi air piezometrik pada jarak x,
Ax: x2_xr(m)
At : selang waktu (hari)
Ah : perubahan muka air tanah pada selang waktu At (m)
t = transmisibilitas (m2/hari).

-,permulaan

Gambsr 7-7. Konsep koefisien simPanan'


Tabel

7,3. Harga-harga perkiraan koefisien permeabilitas untuk bahan-bahan granuler


(Dam, 1966)
O Partikel

Tipe tanah

efektif

2-20

Debu

Pasir sangat halus


Pasir halus
Pasir kasat

Kerikil dan pasir


Kerikil

(1r)

l
l

Koefisien permca-

bilitas (m/hari)
l0-2

l0-r

20-200
I

lo-r2m'-2000

lo-2

103

104

>2W
105

265

264

dp

rT,*>
-

di

diameter Partikel Pasir.

Mengikuti hukum-hukum Poiseuille dan Darcy, Marshall

,'Jd_

(1957) mendapatkan rumus permeabilitas berdasarkan atas kurva pF'


i
i

mana: r -

permeabilitas spesifik (atau intrinsik) (lihat paragraf


7.2.t)
m= faktor pemadatan + 5
0- faktor bentuk pasir (6 untuk butiran berbentuk bola
dan 7 ,7 untuk butiran bersudut)
Il= porositas (-)
P: persentase pasir yang ditahan antara dua ayakan

dm:

d2:

Rumusnya seperti disajikan di bawah ini, hanya dapat dipergunakan


pada tanah-tanah dengan struktur butiran tunggal, seperti pasir:

l=m
y=

(270)

i:
k:
n=
m:

di mana:

yang berdekatan (90)

rata-rata geometrik ukuran dua ayakan yang

hi

i:

berdekatan (m).

(2i-

r)

h?

: permeabilitas (cmldetik)
porositas (90)
banyaknya selang dalam sumbu-sumbu 0
tinggi kenaikan kapiler pada selang ke-i (cm)
konduktivitas hidrolik

1,2, .,. m

2i= I = faktor berat.

Rumus lain batasan koefisien permeabilitas pasir adalah (dalam

Kuzeny):

Kanoungan air

kpasi,

c e (0,7 +

o,o3

flYl^
(l

rl

volumetrik (0)

1)2

di mana: kpasi, = koefisien permeabilitas pasir (m/hari)


C
konstanta lokalitas. C = 3200 sebagaimana dihitung oleh Hooghoudt, dan C = 3420 sebagaimana dihitung oleh Fahmi
e
faktor bentuk pasir (bentuk bola atau sudut)
suhu ("C)

T
n

porositas (-)
indeks ukuran butiran : permukaan spesifik. Indeks ini merupakan nisbah luas permukaan total

partikel tanah dengan luas permukaan suatu


kuantitas yang sama (menurut berat) dari

partikel-partikel berbentuk bola dari bahan yang


sama dengan diameter I cm (Drainage Principles, 1974)

U:

0,4343 . I
I
tog (dy'd1)
dr

I
d2

(Rumus Zuncker)

tegangan lengas tanah


I

,i

(cm air = h)
permeabilitas
Rumus-rumus
empiris yang lain disajikan dalam
acuan, Drainage Principles, 1974. Semua rumus empiris memerlukan
modifikasi bila dipergunakan pada kawasan tertentu.

a. Pengukuran permeobilitqs lqboratorium


Beberapa tipe permeometer telah dikembangkan bagi penentuan
permeabilitas laboratorium. Karena contoh-contoh adalah terganggu
(porositas, orientasi dan stratifikasi butiran berubah) pengukuran
Iaboratorium hanya sedikit berhubungan dengan permeabilitas

t
266

267

lapangan (Todd, 1959).

Permeameter dengan bagian atas konstan membiarkan air


memasuki medium poreus (Gambar 7_g) dari bawah dan ditampung
sebagai limpasan permukaan setelah naik melalui bahan. pada
permeameter dengan tinggi yang menurun, air dibiarkan
mengalir
dan aras air pada tabung pada saat-saat yang berlainan dicatat.
Karau
permeameter-permeameter dengan bagian atas konstan

dan yang

menurun digunakan untuk contoh-contoh terkonsolidasi dan


tak
terkonsolidasi, permeameter non-deDir digunakan untuk contoh-

contoh tak terkonsolidasi dengan bagian atas yang sangat rendah (h).
Suatu tabung-U (luas a) yang diisi dengan contoh dihubungkan pada

b.

kedua ujungnya dengan reservoir pemasok dan peneriia (dengan


luas A). Peralatan seruruhnya diletakkan pada kamar
dengan suhu
yang konstan. Permeabilitas ditentukan dengan
mencatat perubahanperubahan atas air pada waktu yang berbeda.
Pengukuran permeabilitas lapongai
Uii pompa merupakan cara pendugaan permeabilitas
akifer yang

pa_

ling dipercaya (Gambar 7-9). Uji tersebut dipergunakan


pada air
tanah yang dalam dan melibatkan pemompaan aiidari lubang pem_

boran pada laju yang konstan atau yang meningkat


secara be.a*ngsur_
angsur dan pengamatan aras-aras air secara simultan pada
berbagai
jarak dari sumur pompa (Todd, r959).
Dari bentuk dan sifat aras air

yang menurun

di sekitar sumur, dan pemulihan

dengan H.
d. Aliran air tanah adalah horizontal.
e. Aliran air tanah pada lapisan yang semi-tembus air adalah vertikal.
f. Sumur pompa menembus seluruh jelu.k akifer yang jenuh.
g. Koefisien simpanan adalah merupakan invarian waktu
h. Akifer adalah isotropik (permeabilitas tanah pada titik tertentu
mempunyai nilai yang sama untuk beberapa arah aliran).
i. Untuk aliran yang tidak tetap, radius sumur adalah nol.
j. Air tanah tidak dapat dimampatkan (kerapatan air tetap sama).
k. Permeabilitas merupakan invarian waktu (tak tergantung waktu).
l. Pelepasan air dari cadangan/simpanan terjadi secara seketika
sesudah merendahnya kurva menurun (drawdown).
m. Mintakat kapiler tidaklah penting.
Kini perhatikan okifer tak tertekon dengan aliron tetap. lni
akan berarti bahwa penampang air tanah tetap sama setiap waktu.
Selanjutnya dengan menggunakan bagan yang disajikan di bawah ini,
rumus Dupuit-Thiem dapat dituliskan sebagai berikut:

c. Ketebalan akifer adalah konstan dan sama

sr

S.r

Qo 2,3 log t1
rl
2nkH

kembali aras air

setelah pemompaan berhenti, permeabilitas


akifer dapat ditentukan
dengan menggunakan hukum Darcy. Keuntungan_keuntungan
utama
metode ini adalah bahwa sampel yang digunakan

adalah besor dan


tetap tuk tergonggu. Selain penggunaan waktu dan
biaya yang lebih
"uti.un
tinggi kerugian utama tetap seperti asumsi yang dibuai
urirt

F{
lr

air tanah.

Dengan menggunakan sumur pengamatan tunggal, kita


dapat
meneliti 2 macam hubungan:
a. Keadaan tunak (tetap)

b. Keadaan tidak tunak (tidak tetap).

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa untuk kedua


kasus
tersebut, penyelesaian persamaan_persamaan air tanah,
dengan
menggunakan data uji pompa, dibatasi oleh osumsi-osumsi
berikut
(Dam, 1969; Drainage principles, 1974):
a. Akifer adalah homogen dan horizontal.
b. Akifer sangatlah besar.

:
sl :
Qo :
kH :

di mana: Sz

drswdown keadaan tetap pada jarak 11 (m)


drswdown keadaan tetap pada jarak 12 (m)
debit sumur yang seragam (konstan) (m3lhari)
transmisibilitas akifer (m2lhari).

Rumus yang sama dapat dipergunakan pada suatu okifer


tertekon dengan suatu aliran tetap. Ini ditunjukkan pada Gambar
7-9A. Walaupun rumus yang disajikan di atas gambar ini nampaknya
berbeda, pengamatan yang seksama akan menunjukkan bahwa keduanya adalah sama.

268

269

Tabel 7.4. Porositas dan permeabilitas batuan

Tipe Batuan

Kerikil
Pasir
Konglomerat

Koefisien Permeabi.
litas (m/hari)

25-35
30-40

100-1000

l0:25

5- l5
= 0,t

Batuan pasir (paras)


Batuan pasir dengan lipatan
,i dan fraktur (patahan)
Batuan kapur dengan permea' bilitas primer
Batuan kapur dengan permea-

Sumur menembus akifer


tak tertekan

Sumur sama sekali menembus


akifer tcrtekan

5-40

25-50

Loess

' bilitas

Porositas (90)

.=[ffi],'u'',,

..=*[H,.]

5-20

5-20

>50

hingga 40

20-35

25

):s

sekunder

alr lanah asll

-i----

:>25

P.rmcamd.r dcrym

,'t

d.ry3n

trw

ye8 mmurun

A = &sm r*froi
h" = riryi pedr ro

un8gr

Gambar 7-9. Penggunaan

* tr@B&t

uji pompa untuk

kedap air

menaksir koefisien permeabilitas (Todd'

959).

".14!-l.,n

rn,

metode piezometrik
metoderabung

-F il

Gambar 7-E. Permeameter.

i
a

w@(

IL =F
E.E
II
ll
-

kedaD

alr

d===5

Permukaan tanah

,l@."'"X"^n
ltr
.__'_-1,

*,

\-

.kif"a

kedaP air

metode lubang bor atr rs$c$mRr


kedap air

r!J 1\
dB
Hd
FE
Ed
bd

E_E

kedap

air.

Gambar 7-10. Metode-metode piezometrik, tabung dan lubang bor.

setetrgah tertekan

---w*,@r/iifi?,h
(ffilw{qt@E@ffi

kedafr alr'

Gambar

7-ll.

Tahanan hidraulik

T
27t

270

Bila aliran pada akifer tok tertekon adalah tidok tetap, yang
berarti bahwa aras air tanah pada titik tertentu berubah pada

waktunya, dua pendekatan dapat digunakan:


a. Rumus Theis-Jocob-Edelman disajikan sebagai:

s:
di

:
kH =
tpt2 :
Qo

a^
-"

4nkH

mana: s :

dimana: sr =
s2 :

W(u)

drawdown dalam meter pada jarak radial r pada

waktu t,
drawdown dalam meter pada jarak radial r pada

waktu

t,

debit sumur yang seragam (konstan) (m3lmenit)

transmisibilitas akifer (m2lmenit)


waktu sesudah pemompaan dimulai (menit).

drawdown pada jarak tertentu r dalam meter (lihat


bagan di atas)

= debit sumur yang seragam (konstan) (m3lhari)


kH: transmisibilitas akifer (m2/hari)
W (u): fungsi sumur (lihat halaman berikut)
Qo

w(u)

u-

: ,uia

a,

r2P
4 kHt

1 : jarak dari sumur (m)

'

I
I

: Y*::t

t :

dimensi)

;::1?f "y lTi;J,T :?:Xr,,"Hu,io.1l

waktu sejak awal pemompaan (hari).

tl

r-+lr

di mana: S

(-)

koefisien cadangan,/simpanan untuk akifer tertekan

b'

Pendekatan kedua sebenarnya merupakan versi dari rumus


TheisJacob-Edelman dan menganggap titik tunggol pengukuran
di dekat
(misalnya sampai 5 meter) sumur pompa. Untuk
akifer bebas metode
tersebut dicrcfinisikan dengan rumus:
sr

s2

Qo 2,3 log ll
4n kH
t2

1og

Jika s diplotkan terhadap log t sebagaimana ditunjukkan pada


halaman sebelumnya, pada kertas semi-log, to yang merupakan

waktu ketika s sama dengan nol, dapat ditentukan. Selanjutnya,


koefisien cadangan atau porositas efektif dihitung dengan rumus:
(2,25) (kH) (rJ

Rumus yang sama dipergunakan untuk akifer tertekan, tetapi


selanjutnya p diberi batasan sebagai:

U=- 12s
4 kHt

I
I

!!

f2

di

mana: k : m./menit; to : menit

H:m

r:m.

Pada tempat drawdown, orang juga dapat menggunakan dato


pemulihan air tanah dalam menentukan k atau kH. Untuk aliran
tidak tetap pada akifer bebas rumus berikut tersedia:
Qo

2,3 log

4n kH

di

-t'

mana: s : drawdown sisa. Drawdown ini merupakan

perbedaan antara aras air tanah mula-mula sebelum pemom-

1
272

t:
t'

paan dan aras air tanah aktual pada waktu t' sejak
pemompaan dihentikan
waktu sejak pemompaan dimulai (hari)
waktu sejak pemompaan berakhir. Jika t. adalah waktu
setelah pompa dihentikan, maka: t' : t
te.

log

t/t')

Suatu penyelesaian grafis dicapai dengan memplotkan s berlawanan dengan log

(t/t').

Persamaan-persamaan aliran air tanah untuk keadaan tunak


dan tidak tunak pada akder semi-tertekai dapat diperoleh pada
banyak kepustakaan (Dam, 1969; Drainage Principles, 1974; Glover,
1973; Steady Flow of Ground Water, 1964). Persamaan Hontush dan
Jacob untuk akifer semi-tertekan tidak tetap, dan persamaan de Glee
dan Dupuit-Thiem, paling lazim digunakan.
Dalam hal air tanah yang dangkal, 3 metode lainnya
dipergunakan, yaitu: a) metode piezometrik, b) metode tobung dan c)
metode pemboran. Pada metode-metode ini air dikurangi (atau
ditambah) dengan pompa tangan kecil, dan pengukuran dilakukan
atas kecepatan pulihnya atau turunnya aras air pada posisi asalnya.
Pada Gambar 7-10 bagian yang diarsir menunjukkan ukuran luas
sampel yang koefisien permeabilitasnya ditentukan.
Air dapat memasuki lubang bor di seluruh panjangnya dan
menghasilkan koefisien permeabilitas horizontal (K) dan paling
berharga pada tanah-tanah yang relatif sama. Piezometer membiarkan air masuk hanya dari kisaran jeluk yang terbatas pada dasarnya. Karena itulah, metode ini sering kali dipergunakan pada bahan
berstratifikasi, di mana koefisien permeabilitas dori berbogai lapisan
mungkin sangat beragam.
Metode tobung, yang membiarkan air hanya memasuki dari bawah,
digunakan untuk menduga terutama koefisien permeabilitas vertikal

,l

a
a

P
___________->

(n)M

274

275

(Kr).Metode-metode ini adalah sederhana, ekonomis dan

Metode infiltometer menggunakan infiltrometer cincin pada


kedalaman yang berturutan pada suatu lubang tanah untuk meneliti
perbedaan-perbedaan konduktivitas hidrolik dari berbagai lapisan.
Ernst (1950) melakukan penelitian-penelitian dengan menggunakan metode pemboron dan mendapatkan rumus empirik. Unruk
okiftr lopisan tunggsl dia mendapatkan air yang dipulihkan
(penyelesaian untuk tanah berlapis dua disajikan pada acuan Drainage

memungkinkon penggunoqn contoh-contoh tqnoh utuh.


Prinsip metode piezometrik adalah bahwa lubang dibor dan pipa
dimasukkan ke dalam lubang dengan meninggalkan suatu rongga yang

tak terlindung pada dasarnya. Air dikeluarkan dari pipa dan

data

pemulihan dicatat. Konduktivitas hidrolik dapat dihitung dengan menggunakan rumus Luthin dan Kirkham:

,2
'P

k:
C(tn

dimana:

k:

rp :
C

Principles, 1974):

h,
ln "l

k-

hn
- tl)
konduktivitas hidrolik

(fr)(ao

(cmldetik)
radius-dalam pipa (cm)

: faktor

geometri sebagai
fungsi dari S, H, r dan L
pada gambar di samping
(lihat Drainage Principles,.

di

= jeluk aras air (cm)


pipa

di

f=

t1

hn:

pada

bawah aras air

setimbang pada waktu tn.

Metode tabung diperoleh

mana: k :

hl=

1974, halaman 281)

hn

tabung konsentrik

dengan menggunakan metode injiltrometer. Prinsip


metode tabung rangkap
adalah menempatkan 2 tabung konsentrik pada suatu
kedalaman (di mana penentuan permeabilitas diperlukan), menjenuhkan tanah di sekitar dan di bawah tabung, dan selanjutnya dengan mengisi tabung dengan air, mengukur laju turunnya aras air.
Pada satu sistem, turunnya aras air pada tabung bagian luar dan bagian
dalam dicatat. Pada sistem lainnya, aras air pada tabung bagian luar dijaga konstan dan laju turunnya pada tabung bagian dalam dicatat (lihat
Drainage Principles, 1974, untuk detailnya).

(4000) (r) (A h)

tI

*zo1

rH

tz-

permeabilitas (meter/ hari)


radius bor (cm)
kedalaman muka air tanah pada lubang di bawah aras
acuan pada waktu pembacaan pertama (cm)
waktu pembacaan pertama
kedalaman muka air tanah pada lubang di bawah aras
acuan pada waktu tn

At = tn-tl
A! : hn- hr
h = L-(Yr)(h)
H = kedalaman bor di bawah muka air tanah (cm)
D = kedalaman bor di bawah aras acuan (cm)
S = kedalaman dasar kedap air di bawah dasar lubang (cm).

\
277

276

pelacak lebih diarahkan untuk pengukuran arah daripada

Ernst juga telah mengembangkan suatu nomograf (lihat


Drainage Principles, 1974) untuk pendugaan yang cepat dari
rumusnya. Bila menggunakan rumus ini, butir-butir berikut harus

pengukuran kecepatan gerakan air tanah.


3. Ketahanun hidrolik
Ketahansn hidrolik didefinisikan sebagai ketahanan suatu lapisan
semi tembus-air terhadap aliran vertikal air yang melewatinya. Untuk

diperhatikan:

a. Kesalahan duga adalah sekitar 10-200/0.


b. Bor harus mempunyai diameter antara 3-7 cm.
c. Kedalaman lubang pemboran dari permukaan tanah harus berada
antara 20-200 cm.
d. S harus lebih besar dari 0,5 (H).
e. Ambil sekitar 5 bacaan pada selang 5-30 detik, taksir k dan ambil

lapisan yang homogen ketahanan hidrolik sama dengan nisbah


ketebalannya terhadap permeabilitasnya. Jadi:

rata-ratanya.
Pendekatan lain untuk menentukan permeabilitas akifer adalah
dengan menggunakan pelocak. Pada metode ini, sejenis pelacak
(Todd, 1959) seperti bahan pewarna, garam, bahan radioaktif dan
lain-lain, ditambahkan pada air tanah melalui sumur pada lokasi
bagian atas dan waktu yang diperlukan untuk nampak kembali pada
sumur bagian bawah diamati. Bersama-sama dengan gradien hidrolik
yang diketahui, permeabilitas ditentukan dengan menggunakan persamaan Darcy.

di mana:

i:
n

mana:

vt

dL
dh

ketahanan hidrolik (hari).


ketebalan lapisan semitembus (m).
koefisien permeabilitas lapisan semi-tembus (m/hari)'

P+Dt:E+Do+AS+v

(v) (dL)
di

dh

di

c:
H=
k:

=
=
=
:

porositas (karena aliran hanya meialui pori).


kecepatan rata-rata pelacak.
panjang akifer (jarak antara 2 sumur).
perbedaan bagian atas (perbedaan antara aras air ke
dua sumur).

Meskipun metode ini sederhana, pelrggunaan pelacak terbatas


pada jarak sampai beberapa meter, dan hasil yang diperoleh hanyalah
perkiraan. Karena itu, pada tahun-tahun belakangan ini, penggunaan

Namun dalam kenyataannya, ketahanan hidrolik tergantung


pada adanya tempat-tempat lemah di mana air tanah berkonsentrasi
(Gambar 7-ll) dan tidak dapat didefinisikan dengan rumus yang
sederhana. Oleh karena itu, uji-uji laboratorium tidak doput
memberikan angka-angka yang realistis. Terdapat 3 tipe metode
pengamatan lapangan. Sama halnya dengan penentuan koefisien
permeabilitas, uii-uji pemompoon pada akifer semi-tertekan
digunakan untuk menentukan ketahanan hidrolik (Huisman, 1960)'
Pada metode nerocq air, persamaan neraca akifer bagian atas (Gambar 7-12) dikembangkan sebagai:

.dL

,
A--

L-

ai

mana: P =
Do :

Di :
E=
:
v =

AS

presipitasi (mm/hari).
drainase yang keluar dari kawasan (mm/hari).
drainase yang masuk ke kawasan (mm/hari).
evoPotranspirasi (mm/hari - dari lisimeter, panci,
rumus-rumus, dan lain-lain).
perubahan cadangan/penyimpanan (mm/hari).
perelrlbesan (hilang atau tambah - mm/hari).

Dari persamaan ini perembesan dapat ditentukan. Secara terpisah beberapa piezometer ditempatkan pada kawasan tersebut dan
perbedaan rala-rata (h) antara tinggi piezometrik air tanah semi-

*
.

279

278

semi-tertekan dan air tanah akifer bagian atas (bagian atasnya sama

dengan kedalaman air tanah, karena merupakan akifer bebas)


diamati. Ketahanan hidrolik ditaksir sebagai:
h
piczomeier

Ketahanan hidrolik dapat juga ditentukan dari polo tinggitinggi piezometrik. Sebagaimana ditunjukkan pada Cambar 7-12,
beberapa piezometer yang diletakkan pada suatu baris akan menunjukkan penampang permukaan piezometrik. Ketahanan hidrolik

atifcr bagian ato

riif

dapat dihitung bila transmisivitas (kH) dari akifer semi-tertekan


diketahui. Untuk penerapan praktis rumus berikut digunakan:

F(ax)

1 U-1"U
i1-,-i

t I'l 'l
laoissn

kcdal ait

(kH{a+l
Gember 7-12. Penentuan ketahanan hidrolik di lapangan.

di mana:

c=
[ :

:
kH =
k=
H:

41

adp :

ketahanan hidrolik (m/hari).


perbedaan tinggi rata-rata antara permukaan
piezometrik dan muka air tanah di dalam
jangkauan A x (m).
jangkauan tertentu (m).
transmisivitas (m2/hari).

koefisien permeabilitas dari akifer


tertekan (m/hari).
ketebalan akifer semi-tertekan (m)
an jenuh aliran.
perbedaan antara gradiert

dx

dp:

semi-

ketebal-

q
dx

gradien perbedaan tinggi p

dx

semi

ter;;tan

-..

lapisan kcdap air

{l
:

Harga-harga c sangat beragam. Misalnya, lapisan tipis gambut


(0,3 m) dapat menunjukkan c = 20.000 hari, sedang lapisan liat
dengan suatu ketebalan beberapa meter dapat mempunyai nilai keta-

I
I

ti

il

Grmbar 7-13. Contoh-contoh penentuan transmisibilitas dari gradien hidrolik bila aliran
air-ranah diketahui (Dam, 1968).

w
281

280

hanan sebesar 100 hingga 200 hari. Pada polder-polder di negeri


Belanda diketahui nilai-nilai ketahanannya berkisar antara 25 hingga
20.000 hari.
4. Ketebalan

okifer

Ketebolon akifer,

H,

ditentukan dari data pemboran. Meskipun

ketebalan ini tidak pernah konstan, dalam menganggap bahwa suatu

akifer mempunyai ketebalan yang seragam, diambil suatu nilai


ketebalan rata-rata. Ketebalan ini dapat mencapai ukuran puluhan
meter.

[1.{rlr
kontur air tanah

d
o

ui-rr-

-L

batas air

batas atr

akifer bebas

5. Transmisibilitss

Trunsmisibiliras fi uga disebut transmisivitas atau koefisien transmisibilitas) suatu akifer didefinisikan dengan kH, yang merupakan

a.

Waktu (t)

waktu (l)

hasil kali koefisien permeabilitas (k) dan ketebalan akifer (H).


Transmisibilitas menggambarkan kemompuan akifer untuk membawa air secara kuantitatif. Metode-metode penentuantransmisibilitas
yang terpenting dibahas di bawah ini.
Penggunaan gradien hidrolik: Transmisibilitas dapat ditentukan
menurut ketersediaan debit oir tanah maupun pengision kembali air
tanah. Tiga contoh ditunjukkan pada Gambar 7-13 untuk kasus I
mengenai data debit air tunah yong diketaftr, (Q). Untuk kasus A

GambrrT-15. Contoh penentuan transmisibilitas dari kurva


deplesi (Dam, 1968).

^t)-

,_r;-

ffi

ttTr

kedaD air

Gambar 7-14. Contoh penentuan transmisibilitas dari gradien hidrolik bila Pengisian kem-

bali air tanah diketahui


(Dam' 1968).

?9
!e

suatu rumus dapat dituliskan sebagai:

kH:
di mana:

Q=

1:

IL

perembesan ke dalam polder ditentukan dengan persamaan neroco.

gradien hidrolik :

1=

pada

kemiringan garis piezometrik

titik infleksi.

hilang

GambarT-16. Contoh penentuan trans-

misibilitas dari kurva

Penurunan (drawdown)'

pengisiankembali

GambrrT-17. Penentuan pengisian kembali akifer dari permukaan


air tanah (Dam, 1968).

panjang perembesan (jarak dalam arah tegak lurus


gambar yang ditunjukkan).

Jika Q kecil (katakan l0 mm) ketelitian kH juga kecil dan jika


Q besar (katakan l0O mm), maka ketelitian juga jauh lebih tinggi.
Pada kasus B dari Gambar 7-13, transmisibilitas akifer antara

titik-titik

dan

ditentukan. Untuk menghindari pengaruh-

pengaruh debit sungai maka gradien hidrolik harus ditentukan sedikit


menjauhi sungai. Ketelitian metode ini lebih tinggi bila perbedaan an-

to

tt

t2

waktu (t)

GambarT-lE. Penentuan pengisian kembali akifer dari kurva deplesi (Dam, 1966)

lr

il
282

283

tara debit Qs dan Qp adalah lebih besar, yang berarti makin besar air
tanah yang mengalir ke sungai. Suatu rumus dapat dituliskan sebagai

Z_

A:

berikut:

1g = Qe-Qr
2tL
di mana:

I :

[6, Tu

1:

Kemiringan rata-rata muka air tanah pada kawasan


antara stasiun-stasiun E dan F.

di mana: Qo

I:
L:

FRTA

KH

QO

IJ

IL

dapat dituliskan sebagai:

n, _ (FnT - Sz) A
(rd
- rJ LT
kH :
FR :

T :

S :

transmisibilitas (m2,/tahun).
pengisian kembali air tanah (m/tahun).
waktu selama persamaan neraca dikembangkan (tahun).
koefisien cadangan/simpanan.

Dari bentuk kurva deplesi (lihat

Gambar 4-29) penentuan transmisibilitas adalah mungkin. Jika kurva


deplesi (Gambar 7-15) diplotkan pada suatu skala logaritmik, kemiringan garis (q/2,3) akan memberi batasan koefisien reservoir ( : l/ o

atau sumur).
panjang kanal dalam arah tegak lurus pada gambar
yang ditunjukkan.

transmisibilitas dari gradien hidrolik bila pengision kemboli air tonah


diketahui. Pengisian kembali air tanah dapat ditentukan. dari
pengkajian-pengkajian lisimeter. Dengan menganggap periode T di
mana muka air tanah naik dengan suatu jumlah z, maka persamaan

LT

b. Penggunoon kurva-kurvo deplesi:

jumlah air yang diekstrak dari semua sumur yang


digunakan untuk pemompaan.
gradien hidrolik (ridak terlalu dekat dengan kanal

koefisien akifer) yang merupakan suatu fungsi geometri,


transmisibilitas dan koefisien cadangan,/simpanan (S) akifer. Kurva
deplesi yang curam (nilai-nilai yang lebih tinggi) akan berarti kH yang

lebih besar. Jika ditentukan dari kurva deplesi, maka transmisibilitas


akifer yang disajikan pada Gambar 7-15 dapat ditentukan sebagai:

Gambar 7-14 menunjukkan satu contoh penentuan

di mana:

kontur-kontur air tanah).


panjang akifer.

Kesulitan pada persamaan ini adalah tidak diketahuinya nilai koefisien cadangan,/simpanan. Hal ini dapat dihindari jika digunakan periode pengamatan yang lebih lama. Ini akan berarti bahwa z : 0 dan
persamaan akan menjadi:

Pada kasus C dari Gambar 7-13, air dipompa dari suatu dasar
sungai yang lama di mana terdapat suatu kanal. Rumus dapat
dituliskan untuk Qo yang tetap, yaitu:

KH:

peningkatan muka air tanah (m).


luas akifer (: bL bila hal tersebut merupakan kawasan persegi-m).
gradien-gradien bagian hilir dan hulu muka air tanah
yang dirata-ratakan pada periode T (ditentukan dari

\v :
S

'L2
fi2

.,
b

I
I
I
tt

di mana: 5 = porositas efektif (Sv :

spesifik untuk akifer

bebas).

Penggunoan drawdown muka oir tanah: Dengan menurunkan (atau


meningkatkan) aras air (secara tiba-tiba atau berangsur-angsur dalam
waktu singkat) pada suatu aliran (Gambar 7-16), penentuan
transmisibilitas adalah mungkin dari drswdown muka oir tonah. Ada
fungsi-fungsi diferensial khusus (Todd, 1959; Huisman, 1960 dan
Dam, 1968) yang dikembangkan untuk perubahan aras-aras air tanah

ini. Pada akhirnya nilai yang dihitung adalah merupakan


kHlS akifer. Teknik yang

nisbah

sama juga dipergunakan pada data draw-

'1
284

28s

down yang diperoleh dari uii-uji pemompoqn.

7.2. GERAKAN AIR TANAH

7.1.4. Penentuan Pengision Kembali Akifer

7.2.1. Hukum-hukum Yang Mengotur Alirsn

Karena pengisian kembali akifer masuk dalam air tanah, maka


kembali air tanah (F*) akan dijelaskan. Di sini, hanya judul-judulnya
yang diulang dan beberapa contoh disajikan.
l. Metode neraca air.

Tetapi, proses umum gerakan air tanah, sangatlah sederhanS,


suatu gerakan yang didorong oleh gaya berat, ditahan oleh gesekan
cairan pada medium yang poreus. Bila kita bawa prinsip yang sederhana
itu pada perlakuan matematis dari aliran air tanah, asumsi-asumsi dan
generalisasi tertentu harus dilakukan. Beberapa dari asumsi-asumsi itu
(Dam, 1966) adalah:
l. Akifer haruslah homogen dan isotropik (permeabilitas dalam arah x,
y danz adalah sama).
2. Lapisan-lapisan semi-tembus mempunyai ketahanan hidrolik yang

2. Keragaman dalam aras air tanah: Jika keragaman maksimum (r)

pada aras air tanah (Gambar 7-17) ditentukan dan diplotkan terhadap

kedalaman presipitasi tahunan yang sesuai (P), maka kedalaman


presipitasi tahunan (PJ yans tidak menghasilkan pengisian kembali
(r=0) dapat ditentukan dengan ekstrapolasi (garis terputus-putus
pada Gambar 7-17). Kedalaman presipitasi tahunan ini (PJ menjadi

hilang (evapotranspirasi dan mungkin beberapa limpasan permukaan). Pengisian kembali akifer dalam setahun sama dengan
perbedaan antara presipitasi tahunan dan kehilangan ini, P - Po'
3. Gerakan air tanah: Pada Gambar 7-13B, jika kH diketahui, pengisian
kembali akifer (A Q) adalah: A Q : Qn
Qr : (kH) 2 IL.
pada
Gambar 7-18, pengi4. Kurva deplesi: Sebagaimana ditunjukkan

seragam.

3. Koefisien permeabilitas merupakan invarian waktu (tak tergantung


waktu).

4. Transmisibilitas suatu akifer bebas adalah konstan.


5. Koefisien cadangan/simpanan adalah konstan.
6. Pelepasan air dari cadangan adalah seketika.
7. Mintakat kapiler dapat diabaikan.
Dengan menggunakan kriteria ini' aliran air tanah untuk keadaan
tunakl) (nilai-nilai konstan dengan waktu pada titik yang berbeda pada

sian kembali akifer selama periode deplesi adalah sama dengan V :


Q/a, dengan a ditentukan sebagai kemiringan deplesi. Untuk periode

V:

atau u

(Sz

51)

: 9?Ia,
a

luas yang diarsir antara waktu tr dan

+ A, dimanaa

: QoSo

{ Penggunaan pelacak (Vogel dan Dijken, 1974).


6. Lisimeter.
1

sama. Sehingga:

Metode kadar garam.

;-

Qt
51

t,

Tanah

Sebagai hasil dari cara bahan-bahan diendapkan semula, sistemsistem akifer hampir tidak pernah seragam dalam ciri-ciri hidroliknya.
Bahkan bila struktur geologi sistem akifer diketahui, detil gerakan air di
dalamnya sulit untuk diketahui. Banyak detil gerakan air tanah masih
jauh dari jelas.

pengisian kembali akifer dan pengisian kembali air tanah mempunyai arti yang sama. Pada paragraf 4.6.2, metode-metode penentuan pengisian

deplesi total, ini sama dengan luas di bawah kurva deplesi antara
waktu to dan t1. Pengisian kembali akifer selama periode basah, yang
berakhir dari waktu t, hingga t2 pada Gambar 7-16, adalah sama
dengan meningkatnya cadangan/kesimpanan air tanah (A S) selama
periode basah ditambah debit total ke sungai pada periode yang

Air

akifer-stasioner) tak tertekan (kerapatan air tetap konstan) diperlakukan


secara matematik. Persamaan-persamaan dasar yang menjelaskan
perlakuan ini didasarkan atas 2 hukum, yaitu: (a) Hukum Darcy dan (b)

hukum Kontinuitas. Prinsip-prinsip hukum Darcy ditunjukkan pada


Gambar 7-6. Kemudahan percobaan ini dapat dilakukan pada air yang
mengalir dengan laju Q (mlldetik) melalui media poreus dalam silinder
luas A irisan melintang. Pemasukan yang terus menerus ke dalam reservoir yang kiri menjaga aras air pada reservoir konstan. Dari persamaan
Bernoulli orang dapat mengembangkan:

l)

Aliran tidak tunak (tidak stasioner) dan aliran air tanah tertekan dibebaskan dari
perlakuan lebih lanjut.

FI
286

21

+ P!-+ j?
Pg

287

P,
Pg

29

v4

pat menulis bentuk diferensial persamaan Darcy


sebagai berikut:

+AH

2S

. . Karena kecepatan air pada media poreus biasanya rendah, keting_


gian kecepatan(v2/29) kedua
reservoir dapat diabaikan tanpa kesarahan
yang berarti. Selanjutnya:
7,PlP '=22
7l*
Pg

di mana:

AH =
di mana;

z, =

Pl =

p=
g=
p8 =
P

- =
PF
AH=
=

q[=

debit spesifik (m/detik).


koefisien permeabilitas (m,zdetik).

g!=

PC

dS

{r-{z

posisi bagian atas (cm) : tinggi


tempat.
rekanan (gmlcm).
kerapatan air (gmlcmr)
percepatan gaya berat (9g0 cm/d.etik\.
berat jenis (gmlcrp3).
tekanan bagian atas (cm)

bagian atus piezometrik

=
:

V=-:1
n

di mana: V

= kecepatan air (m/detik).


e = debit spesifik (m/detik).
n : porositas

tingginya tekanan.

bagian aras yang hilang (cm)


bagian atas tunggal (cm;

bagian atas air tanah atau


ketinggian energi cairan.

merupakan pernyataan yang berdasarkan atas:

v _ xE _xp9

lg56) bahwa e berbanding langsung dengan


a|.:gu:
H dan A, dan berbanding t"iuutit J"ig"n
aS. Karena itu, dengan

memperkenalkan koefisien permeabiritos


(iuga disebut konduktivitas
hidrolik) sebagai konstanta yang sebanding
dia mengembangkan:

vtl
J

O.

di mana: k

t =

e - k(+r-:9A
AS

Dln8an memperhatiUsn
O

:
T =
n =
v

debit (m:/detik).

dan dengan
memperkenalkan suatu tanda negatrr e/A,
rlntui menunjukkan bahwa aliran
berada dalam arah bagian utur
vu'"g .*"urun, orang dengan mudah dadebit spesi.fik

(-).

Permeabilitas suatu medium poreus berkaitan dengan kemudahan


suatu cairan untuk melewatinya. Karena itu, keefisien permeabilitas
tidak hanya tergantung pada medium tetapi juga tergantung pada
cairan. Konsep permeabilitas yang lebih rasional selanjutnya akan

ketinggian hilangnya

Insiyur hidrolika berkebangsaan perancis,


Darcy, mendapatkan
percobaannya.(pada

di mana: Q

gradien hidrolik.

Kita harus menyadari bahwa debit spesifik bukanlah keceparan


aliran air karena, A merupakan ruas irisan melintang total sedang air
mengalir hanya melalui pori-pori pada luas A ini. Karena itu, kecepamn
air (V) dapat ditentukan sebagai:

energi.
+

-k dS

-l-+AH

atau

g-t

q=

koefisien permeabiliras (m,/detik).


permeabilitas spesifik (atau intrinsik) (m2). Ini disebut
juga konstanta tanah. Konstanta ini mencirikan sifat_
sifat aliran medium (ukuran pori dan lain-lain) dan tidak
tergantung dari sifat-sifat cairan.
viskositas kinematik cairan 1mz74stik).
kerapatan dalam kg/m3,
viskositas dinamik arau mutlak dalam kglm/detik (lihat
paragraf 4.6.1).

t,

288

Konsep permeabilitas ini dapat merupakan hal yang sangat p.enting


untuk aliran cairan lainnya seperti minyak. Akan tetapi, untuk tujuan
kita, koefisien permeabilitas akan digunakan sebagai konstanta yang
mendefinisikan sifat-sifat ranah (Wiest, 1965).
Pada persamaan umum Darcy, dS merupakan panjang dalam arah
aliran. Serangkaian persamaan umum yang mengatur aliran pada semua
arah dapat dituliskan:

Untuk kondisi isotropik

q* =

-[

Keb@oran dari akifer smi-tcrtekan

dx

Q=91 +(92-P,)e*/r
HLK

Qu=-1
'6y
9z:-k

d+

Aliran pada akifer yatrg b@or

:-l---ts]{v-.'merrik

= -kv -g.t
dx

l.

,,

9. = -k,

permukaan Piezo
akifer
semLtertekan

d{
dx

Hukum kedua, yaitu hukum kontinuitas, yang

6y

.l

6ez:o
6z

yang hanya mendefinisikan kenyataan bahwa air yang meninggalkan


suatu tubuh harus berasal dari suatu tempat. Untuk akifer semi-tertekan

(1/kH)qoe-"/r

= (kH)/rXpr-p)
bagim ffi pircmtrik

tertckan:

b< x< @
-6<x<-6
e=et+ koz-pl)e1-x'b)/r

I =
F

ea

+(ej-e)e'(x-b)/r

o2= py-(ey-q)l^/(2b
q3 = Qa + (Pr
LkH (p,

a"=

Grmbrr

7-19. Beberapa contoh pemecahan problema

air

t"n*3'

+ A)l

+
-,P) [l/(2b

2r))

cO

2b+A
LkH

aldfq

semi-terlekan.
bagim aB akif6 bebas (ieluk
muka air tanah).

Dua polder yang dipisahkan dengan tanggul


kedap air ysng ditempatkan pada akifer scmi-

tanggul

digunakan

dapat ditekan (kerapatan air yang konstan) sebagai:

dx

qr

bersama-sama dengan hukum Darcy dalam memecahkan permasalahan


air tanah dapat dituliskan untuk keadaan tunak (invarian waktu) dan tak

11*1!*

9o- I
qp

Keterbatasan umum hukum Darcy adalah:


Berlaku untuk aliran lominer pada media poreus. Ini berarti bahwa
ini berlaku untuk bilongon Reynolds hingga 10. Bilangan Reynolds
(Re = qd,/u; di mana q adalah debit spesifik (m/detik) yang didefinisikan oleh persamaan Darcy, d (meter) adalah diameter butiran yang
khas dan u adalah viskositas kinematik 1mzldetik) berlaku sebagai
kriteria untuk membedakan antara aliran laminer dan turbulen.
Untuk maksud-maksud rekayasa, hukum ini mempunyai ketelitian
dengan kesalahan l_20/0.

(semr-

tertekan):

dz

(q,- q,

baSian atas di mana saja (jarak x) pada


akifer semi-tertekan.
lrkHc = faktor kebocoran.
resistensi/ketahanan hidrolik.
panjang akife. (pada arah-y).
kebocoran ke dalam laut.

Untuk kondisi anisotropik

Qv

l-

permukaan tanah

dS

bawah

tanggul yang kedap air:

.de
q*:-k*f

-{L

di

danau ke dalam laut yang dipisahkan dengan

tungeot A

(fr -

p4 )

untukC=0;tidak
ada lapisan semitembus

e
Gambsr 7-19. Beberapa contoh pemecahan problema air tanah.

T'

29t

290
persamaan ini menjadi sama dengan kebocoran (v) dari akifer. Sehingga,

dq, dq,
dr dy

dq,

+-

- +,
czH

6z

b.ndurga,

di marra:

Cr :
Cz :

H:

ketahanan hidrolik lapisan semi-tembus yang membatasi di bagian atas : dllkl.


ketahanan hidrolik lapisan semi-tembus yang membatasi di bagian bawah = d2/k2.
ketebalan akifer.

t'+

Gambar 7-20. Gerakan air tanah pada bidang_zx.

Dengan menggunakan 2 persamaan ini, dalam batas-batas asumsi


vang diketahui yang disajikan pada awal paragraf ini banyak permarelaharr aliran air tanah dapat dipecohkan secqro mqtemotik. Keterangan
Lcrinci bagaimana hal ini dilakukan adalah di luar lingkup materi. Tetapi
pada Gambar 7-19, disajikan 3 problema contoh, di mana persamaan

dipcroleh berdasarkan atas persamaan-persamaan Darcy dan kontinuitas (Verruijt, 1968).

Gambsr 7-21. Pendugaan aliran tanah dari kontur air tanah.


'

20"

i.2.2. Arqh Alirsn Air Tanoh


7.2.2.L Garis-garis Aliran Air Tanah

zto

zeo
laul mediteran

il"

Gerakan pada bidang zx


28o

Jalur aliran tanah digunakan untuk memberikan gambaran kuantitatif aliran air tanah (tetap dan tidak tertekan) pada b(4ng-zx. Dr14
perangkat garis membentuk jaringan ortogonal dari ,bujursangkar
kerill) (Gambar 7.20). Perangkat garis pertama, goris potensial
keLeputan ( = O : juga disebut potensial air tanah) menentukan hasil kali
kocfisien permeabilitas (k) dan bagian atas
dan isotropik (nilai k konstan). Ini adalah:

({) dalam

tO

-l
1oo;
ro9

r5l

medium seragam

O: k+
Perangkat garis ke dua,fungsi oliranQp : juga disebut garis aliran),
rnempunyai dimensi yang sama (misalnya m2/hari) sebagai garis poten-

_ )_.yaluraliran
kontur air tanah (meter)

di atas permukaan laut.

l)

Suatu elemen kurvalinear adalah bujursangkar jika sisinya berpotongan secara ortogonal dan jika pusat-pusat segmen garis yang bergabung dari sisi-sisi yang
berlawanan panjangnya sama.

Grmbsr 1-22. laringan aliran akifer Sahara (Hammad, 1969).

-I

T
293

292

sial dan menentukan debit total antara 2 titik. Jika bujur sangkar diambil pada interval-interval yang sama (ds dan dn pada Gambar 7-20), kita
dapat menuliskan hubungan (Wiest, 1965):

As:

n=
H:
Qxy

An

AO

kI:

Arl,

SN

di mana: q

(m3ls).
jarak antara 2 garis aliran yang berdekatan (m).
ketebalan akifer (m).
debit spesifik (dari Darcy) pada bidang xy antara 2 garis
aliran yang berdekatan (m/s).
koefisien permeabilitas (m/s).
gradien hidrolik rata-rata (pada arah Q*r) sePanjang panjangnya n.

Pada Gambar 7-21 , kita dapat mengamati bahwa,

kecepatan gerakan air.

q : nrHlot:

Debit total antara dua aliran pada jarak A n dan untuk ketebalan
L (dalam arah tegak lurus pada arah gambar-y) ditentukan

n2H29z

tanah

7.2.2.3. Aliran

sebagai:

AQ: q(An)L:

Bila aliran air tanah lewat dari suatu kawasan permeabilitas k, ke


k2, akan dihasilkan perubahan arah aliran. Perubahan arah yang menaiaat ini (Gambar 7-23) dinyatakan secara matematik sebagai:

L(Ary)

Dengan menggunakan geometri jaringan aliran, aliran total pada


bagian yang telah ditentukan dapat dihitung secara langsung.

7.2.2.2. Garis Aliran Air Tanah

Q: n(H)e*v
gxy : kI(hukumDarcy)
dan

di

mana: Q = debit melalui akifer

Misalnya, jika lapisan atas adalah liat dan lapisan bawah adalah
pasir, maka nisbah k/k2 mungkin sekitar 0,001. Hal ini akan
mengakibatkan 0 I yang sangat kecil dan 0 2YanE besar, yang berarti bahwa

aliran adalah hampir horizontal pada lapisan bawah pasir dan hampir

vertikal pada lapisan atas liat. Anggapan

ini

digunakan dalam

memecahkan problema air tanah seperti pada Gambar 7-19.

7.2.2.4. Pengukuran Arah Aliran

I
,{

'

Air Tanah

Metode-metode yang paling sering digunakan disajikan di bawah

ini.

l.

Q : nHkI
ketebalan

j' - tano
k2 an e2

Gerakan pada bidang xy

Pada kasus akder bebas gerakan air tanah secara umum akan
berada pada arah gradien muka air. Dengan kata lain, air tanah akan
bergerak dari daerah muka air yang tinggi ke yang lebih rendah (di atas
permukaan laut rata-rata). Gerakan ini disajikan pada Gambar 7-22
dengan garis-garis aliran yang digambarkan tegak lurus pada kontur air
tanah. Suatu peta yang sama dapat disajikan untuk tinggi air
piezometrik (sebagai pengganti kontur air tanah) akifer tertekon. Jumlah
aliran air tanah antara dua garis aliran yang berdekatan (Gambar 7-21)
dapat diperkirakan sebagai:

Air Tanah Melalui Suatu Batas

bebas (atau tertekan) dengan

H antara 2 garis aliran yang berdekatan

Metode kartografi: Metode ini melibatkan konstruksi kontur-kontur

air

tanah (atau permukaan piezometrik) dari pengamatan

permukaan-permukaan air pada jaringan sumur-sumur alami atau


lubang-lubang pengeboran.
2. Pelacak: Ada 3 cara mempergunakan pelacak, yaitu:
a. Memasukkan pelacak buatan (pewarna garam, hidrogen, kobalt)

H
295

294
garis aliran

b.

c.

Gambar 7-23. Refraksi garis-garis aliran.

3. Pengukur aliran: Pada keadaan tertentu dengan melibatkan


kecepatan air tanah yang relatif tinggi (seperti pada batu kapur
bercelah) pengukuran langsung arah aliran air tanah dimungkirrkan
dengan menggunakan pengukur qrus atau pengukur arus terri,al"

,t

.n

LJ
'6:

2.5

(,6
Td

=r^-

C,O

co
t! 5 '.,
E!d
E,
o6
I !3.r

ke dalam lubang bor dan tempat konsenlrosi puncoknya pacia arr


tanah pada jaringan sumur-sumur pengamatan di hilir.
Pemasangan bahan-bahan pelacak yang terjadi secara aiarrri.
Misalnya, konsentrasi tritium yang terdapat pada air hujatr, dibandingkan dengan yang terdapat pada air tanah.
Pemasukan dan pengamatan pada lubang bor tunggal. Isorop
radioaktif dimasukkan ke dalam sumur dan dibawa oleh air tanah
dari sumur ke dalam tanah. Penghitung geiger dimasukkan ke
dalam sumur yang sama dan diputar 360' untuk menentukan aiah
yang memberikan skala pembacaan yang maksimum. Arah ini
merupakan arah aliran air tanah yang utama.

aras

air pada sumur penga-

matan yang dangkal

=
3.1

4.

Pengukur arus diputar secara perlahan hingga pembacaan maksirrrur,


diperoleh pada arah yang sama dengan sumbu utama aliran air tanah.
Pengukur orus termslmengukur jumlah air yang dipanaskan arrtiira 2
tempat pengamatan. Ini berbanding terbalik dengan kecepatan aliran
air tanah (Ward, 1967).
Model-model oir tanah (Sevenhuysen, 1970).

Gambsr 7-24. Fluktuasi harian muka air tanah karena evapotranspirasi (Ward, 1967).

7.3. ARAS-ARAS DAN FLUKTUASI AIR TANAH

*55

la

BiLa pengision kembuli air tanah (dengan infiltrasi, peretribesan


dari cadangan permukaan, perembesan dari akifer atau akiklud yang
berdekatan dan pengisian kembali secara buatan) tidak sama dengan
debit dari akifer (melalui perembesan efluen ke tubuh air permukaan,
kebocoran ke akifer lainnya, sumber air dan abstraksi buatan),
cadangan air tanah akan berubah dan menyebabkan fluktuasi per,.

'3

mukaan tanah.

4.0

.l

3,5
a

o45

r.o

(E

{40
.{
(!

;30

(d

2,5 Gtr
35

z.o E

r's

Pengisian kembali

Debit

'E,

a2\

Akan tetapi terdapat foktor-fqktor luor yang menyebabkan


keragaman pada permukaan air tanah. Karena itu, sangat penting untuk
membedakan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap permukaan air
tanah dari pengaruh terhadap perubahan-perubahan simpanan. Lagi

GambsrT-25. Fluktuasi musiman atas air tanah karena agihan hujan (ward, 1967).

U
297

296

pula pembedaan harus dilakukan antara faktor-faktor

yang

mempengaruhi akifer bebas tetapi yang tidak berpengaruh terhadap


akifer tertekan. Klasifikasi umum faktor-faktor luar yang menyebabkan
perubahan-perubahan permukaan air tanah dan piezometrik disajikan di
bawah ini.

A.
12l8 H 6 1216r

6 12l8i

5 l?

waktu

GembarT-26. Fluktuasi muka air tanah karena pengaruh pasang (Ward, 1967).

Fluktuasi permukaan air tanah (akifer bebas)


l. Fluktuasi hqrion karena evapotronspriasi untuk akifer bebas
den$an muka air tanah dekot permukaan tanah (Gambar 7-24).
2. Fluktuasi musiman:
a. agihan curah hujan (Gambar 7-25).
b. fluktuasi reguler jangka pendek karena misalnya pengaruh
pasang.

c. fluktuasi

{EE

aliran sungai (lihat paragraf 7-4).

^=v

3. Pengisian kembali buatan atau abstraksi, pengendalian (saluran

6;9

air, parit dan lain-lain) dan pekerjaan bangunan (jalan dan lainlain) menyebabkan perubahan-perubahan pada permukaan air
tanah (lihat Gambar 7-4).
4. Fluktuasi sekuler (ketidakteraturan jangka panjang) sebagai
akibat keragaman presipitasi sekuler (Gambar 7-27).

i*3
tahun

Gembar 7-27. Fluktuasi sekuler muka air tanah karena hujan (presipitasi) sekuler (Todd,
1959).

B.

Fluktuasi permukaan piezometrik (akifer tertekan)

l.

Kerogamon musimsn pada permukaan piezometrik (pada kondisi


alami) tidak dapat diketahui. Tetapi pada kawasan abstraksi
buatan, ini nampak sekali. Sebaliknya, pada kawasan tertentu,
setelah abstraksi air tanah, akifer diteksn d,an volume cadongan

berkurang. Dengan demikian, air tanah dipindahkan, akifer


ditekan sehingga tidak terdapat perubahan permukaan

58

piezometrik yang dicatat.

ciri-ciri akifer tertekan yang elastis, pengaruh tekanan


borometrik (Gambar 7-28) adalah langsung terhadap permukaan

2. Karena

piezometrik.
3.
,u,
"
2sogg

nya air dihubungkan dengan masuknya air pasong dapat menimbulkan beban terhadap akifer tertekan di bawahnya dan dengan

24A xG
24a r-:

l7

zo

#hari

25 APRIL 3O I

demikian menyebabkan kenaikan permukaan piezometrik.


tarik bulan dan matahari
yang mengenai permukaan bumi menyebabkan permukaan
piezometrik berubah.

4. Pasang bumi yang dihasilkan oleh daya

bulan

MARET

to

GambarT-2t. Fluktuasi atas piezometrik dengan tekanan barometer (Ward,

Di mana akifer tertekan meluas di bawah laut, bertambah berat-

1967).

F
298

5.

299

Gaya-goya luor loinnya (gerakan kereta api, gempa bumi, ledakan


nuklir dan lain-lain) dapat mengakibatkan fluktuasi yang realistis
pada permukaan piezometrik, tetapi tidak nyata secara hidrologik.

Efemeral

7.4. HUBUNGAN ANTARA AIR PERMUKAAN DAN AIR TANAH

Jika suatu solursn olirqn berhubungan langsung dengan air tanah

pada suatu akifer bebqs, aliran tersebut dapat menerima atau

,o

memberikan air kepada air tanah, tergantung pada permukaan air nisbi.

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 7-29, terdapat


yang diklasifikasikan menurut permukoon air nisbi.

3 tipe

sungai

l. Aliran efemeral yang hanya mengalir setelah terjadinya hujan badai


yang menghasilkan limpasan permukaan yang memadai. permukaan
air tanah selslu berqda di bqwah dasar sungai.
2. Aliran intermitten (terputus) yang mengalir selama musim penghujan
saja. Selanjutnya debit ini terdiri atas pemberian limpasan permukaan dan air tanah pada dasar sungai. Permukaan air tanah berada
di atas dasar sungai hanya selama musim-musim hujan. pada musimmusim kemarau, permukaan tersebut berada di bawah dasar sungai.
3. Alirun perenial (sungai permanen) mengalir sepanjang tahun dengan
debit-debit yang lebih tinggi selama musim-musim penghujan. Debit
sungai terdiri atas pemberian limpasan permukaan dan air tanah pada
dasar sungai. Permukaan air tanah selalu berada di atas dasar sungai.
Klasifikasi yang berlainan dimungkinkan menurut pemberian air
tanah kepada dasar sungai. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 7-30.
Sungoi efluen menerima air dari air tanah dan sungai .inftuen
mengeluarkan air kepada air tanah.
Bagian aliran sungai yang berasal dari air tanah disebut oliran
dasar, Karena itu, untuk hidrograf tertentu komponen limpason permukaan langsung dan komponen pemosukan oir tonah harus dipisahkan
(Gambar 7-31). Pada bab 6, diterangkan mengenai metode-metode yang
berlainan yang sekarang digunakan. Kita harus memahami bahwa
teknik-teknik ini digunakan untuk memisahkan aliran dasar dari limpasan permukaan langsung untuk hidrograf banjir pada musim-musim
penghujon. Pada periode sedikit hujan atau tiada hujan, digunakan kzrva deplesi. Selama periode hujan kurang, debit sungai-sungai yang tidak
diisi oleh cairan salju, menurun karena menurunnya masukan dari air
tanah. Hidrograf selama periode-periode

ini

waktu

Intermitten (Terputus)
l

t
I

.o

a
I

ll

Perenial (Terus-menerus)

.o

waktu
Gambar 7-29. Tipe-tipe aliran.

disebut kurva deplesi

t,

300

301

(Gambar 7-32). Kurva deplesi menunjukkan keragaman aliran dasar


dengan waktu selama periode kering. Jika akifer besar dan sangat
permeabel, maka air tanah dapat mengisi sungai untuk waktu lama,
mungkin sepanjang musim kering. Tetapi jika akifer kecil dan
permeabilitasnya rendah, maka air tanah yang mengisi sungai akan

\r

\\

kurva,
dugean

kun

*,,1";. /

Grmbrr 7-31. Aliren rluar.

berkurang relatif cepat atau berhenti sama sekali, yang mengakibatkan


kurva deplesi yang tajam. Debit (Q) sungai total selama musim kering
(kurva deplesi) didefinisikan dengan persamaan empiris:

Q=

Qoe-at

Harga o, kemiringan kurva deplesi, ciapat ditentukan dari kemiringan garis lurus yang disesuaikan pada seri-seri kurva deplesi berturutturut yang dipindahkan pada aroh horizontal. Garis lurus ini disebut
kurvo deplesi utama (kurva deplesi majemuk).
q=

ao

kurva dcplcsi utama

-e

Gsmbar 7-30. Aliran-aliran efluen dan influen

(Qr/Q)

tz- tt

Jumlah air tanah (V) yang disimpan di atas permukaan dasar

(2,3) log

Grmbrr 7-32. Kurva deplesi dan

sungai (daeroh yang diarsir pada Gambar 7-32), pada waktu


kan dengan:

dinyata-

v:-9

deplesi utama.

7.5. PRODUKSI (HASIL) AIR TANAH YANG AMAN

Produksi totol air tanah pada suatu DAS merupakan jumlah air
yang dapat dipompa dari akifer dalam DAS, dalam suatu periode tertentu, tanpa memberikan hasil yang tidak dinginkan. Untuk mempertahankan sumber daya air tanah secara tak terbatas, pemompaan harus
dibatasi pada produksi air yang aman.
Adalah tidak benar untuk menganggap hasil yang aman sebagai
jumlah pengisian kembali air tanoh dan bahwa jumlah ini dapat dipompa secara aman. Hasil yang aman sama dengan sebagian dari pengisian
kembali akifer. Sisanya hilang dengan cara-cara lain. Terdapat 4 faktor
yang perlu dipertimbangkan untuk menganalisis hasil yang aman (Todd,

14t''
302
1959). Jika salah satu dari faktor-faktor ini memberikan hasil-hasil yang
tidak diinginkan, maka terdapat kelebihan hasil yang aman. Faktorfaktor ini adalah:
l. Hasil yang aman harus selalu kurang daripada pasokan air pada

!N

kawasan dalam periode yang ditentukan.

X^'I
ei

2. Biaya memompa air tanah harus sesuai dengan cara-craranya.


3. Kualitas air harus dapat diterima (terlalu banyak memompa dapat

-*

menyebabkan intrusi air laut).


4. Tidak boleh ada masalah-mdsalah hukum yang timbul karena
pemompaan (hak-hak air).
5. Perlindungan lingkuBgan.
Terdapat beberapa metode untuk menentukan hasil yang aman
(V). Metode-metode yang sering digunakan disajikan di bawah ini:

l.

p
p

l=

-k
D=
65
o=

?o
oo

Metode Hill: Perubahan tahunan permukaan air tanah (atau permukaan piezometrik) diplotkan terhadap keluaran tahunan (Todd,
1966). Jika pasokan air bagi daerah tersebut konstan, titik-titik dapat
diatur pada garis lurus. Pada Gambar 7-33, rata-rata waktu diplotkan

o
p

c0

{
!

toL

kembali air tanah cukup konstan.

2. Metode Harding: Harga-harga tahunan dari perbedaan antara


masukan total dan keluaran total diplotkan terhadap perubahan
tahunan muka air tanah. Karena harus ada hubungan langsung an_
tara air permukaan dan air bawah permukaan (untuk menghitung
neraca air), metode ini terbatas pada akifer bebas. Metode Harding

sN:

l.-3
l-!gl tEl
ilrH

{o

r'E

=o
Er

99

o
d
6.

6
a
6

ca

=l
Fl
EI

menganggap keluaran tersebut cukup konstan.


Jika kedalaman air tanah pada awal dan akhir periode T (sekurangkurangnya beberapa tahun) adalah sama, rencona tohunan rora-rota

6e

pada periode tersebut merupakan hasil yang aman (Gambar 7-33).


4. Metode Simpson: Metode ini dapat dipergunakan pada akifer pantai
yang meluas ke dalam laut. Hasil yang aman dihitung dari gradien

ad
O!
Po

muka air tanah (atau permukaan piezometrik) berdasarkan atas


hukum Darcy (Todd, 1959).

7.6. PENGISIAN KEMBALI SECARA BUATAN

Untuk meningkatkan pasokan air tanah secara alami, akifer

kadang-kadang diisi kembali secara buatan dengan menyebarkan air

(
\

untuk meratakan keragaman tahunan dalam pasokan (untuk


memperoleh plot garis lurus). Metode Hill menganggap pengisian

3.

Eg

--3

3ii

o
r

i.

i
1

;
I
I

-,
<F
<F

-P6
DN=

tEp

*E;
s&:

304

305

di atas permukaan tanah atau dengan mengisi kembali melalui lubang,


corong atau sumur, dan lain-lain. Banyak teknik-teknik yang lain dijelaskan dalam pustaka (Todd, 1959). Beberapa contoh ditunjukkan

pada Gambar 7-34.

EE

5i
:e

EeE!e

d
3"

7.7. INTRUSI AIR GARAM (LAUT)

-.
=

[!

Keluaran air tahunan rata-rata r (ml)

Dengan meningkatnya kebutuhan akan persedi4an tanah, pada


kawasan-kawasan berpantai timbul persoalan air laut yang memasuki
dan perpenetrasi pada kawasan pedalaman. Fenomena ini disebut intrusi
air lsut. Agihan salinitas yang mengenai lenso air towar yang terisolosi
yang diisi kembali oleh infiltrasi, dan yang mengapung pada air garam
dijelaskan dengan prinsip dari Bodon-Ghyben-Herzberg (Gambar 7 -35).

Pemasukan air total tahunan minus


penSeluaran air total 1m3)

AE

Ini adalah:
Waktu (tahun)

H:t

Gambar 7-33. Penentuan hasil air tanah yang aman.

lnfiltrasi saluran

Infiltrasi terowongan

di

oasokan air

sm

-+l

hatauH:

(A)h

Ps-Pr
mana: H :
pf
PS

h-

Pf

l+-zr-N

sumur penglsi kembali

ffi
Gambar ?-34, Beberapa metode pengisian kembali air tanah secara buatan'

h:

ketebalan kantong air tawa\


kerapatan air tawar : 1,000 grrr/cml.
kerapatan air asin, sekitar 1,025 gm/cm1.
perbedaan tinggi antara permukaan laut dan permukaan air tanah (atau piezometrik) (m).

A- p1/$r-

er).

Untuk mencegah intrusi air laut ke daratan, beberapa metode


seperti pengisian kembali secara buatan, konstruksi penghalang bawah
permukaan dan lain-lain, digunakan dalam praktek (Todd, 1959).
7.8. PENELITIAN-PENELITIAN PERMUKAAN DAN BAWAH
PERMUKAAN AIR TANAH
Dengan menggunakan teknik-teknik permukaan dan bawah permukaan sudah berkali-kali dimungkinkan untuk memperkirakan:
l. di mana air tanah terjadi.
2. kedalaman antarmuka pembentukan (kerikil, pasir dan lain-lain).
3. ciri-ciri fisik air tanah (suhu, kerapatan, dan lain-lain).

r""
307

306

Teknik-teknik tersebut tidak menentukan permeabilitas, ketinggian


piezometrik atau pengisian kembali air tanah. Suatu rangkuman metodemetode yang paling umum disajikan di bawah ini (Todd, 1959).

I.

Pola aliran Pada


kantong air tawar

Kantong air tawar Pada


akifer bebas
P

Penyelidikan permukaan air tanah


A. Penyelidikan geologi: Penggunaan data geologi dan penyelidikan
lapangan akan melengkapi ciri-ciri umum air tanah.
B. Penyelidikan geofisika: Metode-metode geofisika menentukan
ciri-ciri fisika (kerapatan, magnetisme, konduktivitas listrik, dan
lain-lain) dari kerak bumi.
l. Metode tahanan listrik: Metode ini merupakan metode yang
paling penting yang digunakan oleh hidrolog dan didasarkan
atas jumlah arus yang melewati suatu formasi.
2. Metode refraksi seismik:Melibatkan penciptaan getaran kecil
pada permukaan bumi dan mengukur waktu yang diperlukan

untuk gelombang getaran untuk menempuh jarak

H2

FR

ll'

(L2-x2)

a(l + a)k

yang

diketahui.

3. Metode grovitasi: Mengukur perbedaan-perbedaan kerapatan

4. Metode mognetik: Kontras-kontras magnetik berkaitan


dengan air tanah.
C. Metode penginderoan jouh: Dengan menggunakan foto udara
konvensional (berdasarkan atas pola vegetasi dan lokasi)
penyebaran air tanah ditentukan. Foto berwarna dan antena

Penetrasi air garam ke


dalam akifer tertekan

Kantong air tawar Pada


dasar kedaP Yang dangkal

radar infra-merah (Seyhan, 1972) berguna dalam menempatkan


titik-tit* debit air tanah. INPUT (Induced Pulse Transient Airborne Electromagnetic System/Sistem Magnit Listrik Udara
yang Diinduksi Pulsa sementara) telah berguna dalam eksplorasi

1. I
asin

air tanah.

II.

Penyelidikan bawah permukaan air tanah

A. Sistem pengeboran
B. Pengukur tahanan: Di dalam sumur yang tidak berdinding,
elektroda dimasukkan dan rahanan listrik media di sekitarnya
diukur.

L-zz
(Ho

t*-t--t,

(l + A) kH2"
2 LFR

+ hJ2-(Ho-t,1':

!"
k

C. Pengukur potensial: Potensial-potensial listrik (millivolt)


pembentukan diukur.

D. Pengukur suhu: Suhu air tanah digunakan untuk meneliti


geologi kawasan dan asal mula air tanah.

alr tawar

(air laut)'
Gambar ?'35. Konsep intrusi air asin

sr=1'*,r=5uo
kA

29o

w
309

hutan meningkatkan kisaran antara aliran sungai yang


tinggi dan yang rendah dan akibatnya meningkatkan aliran yang

5. Penghilangan

maksimum.

E.2. NERACA AIR KAWASAN HUTAN


Komponen-komponen dasar dari persamaan keseimbangan air di
kawasan hutan adalah sama dengan persamaan keseimbangan air pada
umumnya. Hal ini digambarkan sebagai berikut:

8. HIDROLOGI HUTAN

P-(Q + I + T + E + QJ:

E.I. SEJARAH SINGKAT


di mana:

- Dalam sejarah, minat para ilmuwan terhadap pentingnya wilayah


hutan dalam daur

hidrologi sudah sangat lama. padaauaa


[ert.ngat an,
raja-raja Perancis menyadari
p.r"n"n wilayah hutan terhadap aliran
sungai' Diawali pada abad ke-17, di Itali telah
disadari t.nt"rrg-plg".ut
hutan terhadap menurunnya limpasan permukaan
aan aengai iemrtian
bahaya-bahaya banjir dan erosi. retapi pada
tahun rs6 p"n.ritiunpenelitian ilmiah yang nyata telah dimulai
dengan p.n.titiunlp"*ti,iun
DAS seperti DAS Emmenthal (Swiss), DAS WagonWf,".iCu'p
in*f,v
Mountains, Corolado) pada tahun l9ll, DAS Tennessee
Vaitei paaa
tahun 1933, DAS Coweeta (Karolina Utara) pada
tahun 1934, DAS
Jonkershogk (Stedlenbosch, Afrika Selatan) pada
tahun 1935 dan DAS
Sambret

T:
E:
Q,:
As

di Kenya.
ini, dalam banyak negara bermacam-macam penelitian
terah
dilakukan ataupun sedang dilakqkan untuk
menghubungkan perlakuanperlakuan hutan terhadap perilaiu
hidrologi. riut-t ut ,-r. ,.p."i ai
bawah ini sudah diterima.
Penggunaan vegetasi penutup hutan akan
meningkatkan produksi air

(water yield).

) Tumbuhnya vegetasi penutup hutan


akan menurunkan produksi air.
3. Di- beberapa tempat akar-akar
tanaman mengambil air tanah,
sedangkan penghilangan vegetasi penutup
,i"nu.un[un
transpirasi dan akibatnya akan meningkitkan
"nu,debit uri."n ."**
,u.gJ.
4. Evaporasi dari tanah yang gundul
dan serasah akan meningkat
setelah penghilangan vegetasi penutup
hutan.

presipitasi (mm).

aliran sungai/debit yang keluar (mm)


intersepsi (mm)

transpirasi (mm)
evaporasi (mm)

infiltrasi,zperembesan yang dalam (mm)


perubahan penyimpanan lengas tanah (mm).

Untuk menggambarkan besarnya masing-masing komponen


tersebut, dapat dilihat angka-angka berikut (semua dalam inci).
Dari angka-angka keseimbangan air itu, jelas bahwa akibat penggundulan hutan adalah:
l. Menaikkan aliran air.

Saat

I'

P:

a:
I:

As

2. Menurunkan intersepsi.
3. Menurunkan transpirasi dan
4. Menaikkan penguapan (evaporasi).

t;

E.3. KONDISI-KONDISI

IKLIM DALAM HUTAN

8.3.1. Suhu dan


Karena adanya tajuk pohon-pohon, persentase terbesar radiasi
matahari dipantulkan kembali. Pada kondisi yang ekstrem, hanya lVo
radiasi matahari yang mampu masuk ke dalam hutan. Akibatnya, suhu
di dalam hutan tetap lebih rendah. Pengamatan yang dilakukan di AS te-

-.

hutan hujan tropis


savanna pohon
savanna rerumputan
savanna kering

4,6

26,8
I 3,3
11,4

?,

42,9
35,9

46,1

40,9

ET

19,6

7,1

0.5

5,0

4,0

3,0

5,3

0,5

11,8

9,1

7,7

23,3

15,5

7,0
9,0

Q,

$san

e$
ss

=[i
iBE i[

=tE
sF$E=
f3 g::
;;B'_ ti

BIH

E:

if [? =[*
$gf

f -ass

grggiirgigigggiiitEgglgiEl

iEigE$5E*FB5EliBili[EEBE}giE

iFiE$'ErEIFiIii$i

-*-;g[g*iigs'EsIqiiil:*[+l[[gl[

.*..-:r-ffi'***Cx*--

DAS Hutan Coweeta


l7 (Carolina Utara)
sebelum penebangan hutan
setelah penebangan hutan

berhutan
penggundulan hutan

Wagon Wheel Gap

(Colorado, AS)

(S.wiss)

tertutup hutan sempurna


67qo tertutup rerumputan

DAS Emmenthal

u)

-{

E
312

313

babkan

kondensasi pada daun-daun dan batang. Hal


ini telah dilihat di
pantai timur Jepang di mana terdapat air
halimun (fos iiteo tebin
banyak dalam hutan dibandingkan dengan lapangan
t.iuit". Di pantai
tenggara Australia presipitasi tercatat r2go lebih
tinggi daripaaa ai tem_
pat terbuka. Ini disebabkan karena
kondensasi hariiin. Efik penetesan
halimun ini juga nyata di pantai barat tengah
Amerika Utara.
Tetapi semua kasus intersepsi harimun ini umumnya
terbatas pada
jalur-jalur pantai.
Hutan tentu mentranspirasikan sejumlah besar
uap ke udara.
Namun, kita juga harus ingat bahwa udara yang
dimasuki uap air
biasanya dibawa oreh angin yang mungkin
ueueripa ,"irr--tiio,n.,",
jauhnya

dalam beberapa

4.

Jumlah salju yang diintersepsi pada hutan-hutan konifer beragam an-

tara 13 hingga2Tv/o.
Angka-angka khas intersepsi oleh tanaman-tanaman pertanian dan
vegetasi-vegetasi hutan diambil dari acuan-acuan yang berlainan dan

disajikan pada Tabel8.l dan Tabel8.2.


Tabel E.1. Intersepsi berbagai tipe vegetasi

Tipe vegetasi

jim.

Alfalfa
Jagung
Kedele
Oats

E.5. INTERSEPSI

Dalam publikasi lainnya, penulis (Seyhan, lg77b) menyajikan


analisis matematis intersepsi secara terinci.
Di sini, hanya akan iiu"t u,
kepentingannya dalam daur hidrologi dan
hubungannya dengan

vegetasi.

Kepentingan intersepsi beragam dengan sifat


dan kerapatan
vegetasi, karakteristik presipitasi (bentuk,
intensitas a"n hrnanya; s".ta
energi yang tersedia untuk evaporasi air yang
diintersepsi selama
dan

setelah hujan.

Tentu sulit untuk meramalkan besarnya komponen


kehilangan intersepsi secara teriti dalam persamaan neraca
air tanpa pengukuran yang
banyak' Namun, beberapa pengertian umum
aapat oiueiikan

sebagai
berikut:-r-!..vvrrAgll'l
Persentase intersepsi adalah lebih besar
untuk hujan-hujan dengan
jumlah presipitasi yang kecil, yang
berkisar aari roirqo t ingg" ,.titu.
2590 sebagai rata-rata kebanyakan pohon (lihat
2' Aliran batang merupakan p"ir.ntur. presipitasi Tabel
v"rg r.i"iirtec, dari
total. Ini beragam sebagai rata_rata antaral t irgg"iqr-J",

l'

gi;.'-'

3'

O
untuk hujan-hujan kecil. Namun, persentase ini
"O"f"n
mungkin naikhingga
di atas 3590 (lihat Tabel3.9).

Kehilangan intersepsi mungkin besar pada


kawasan-kawasan dengan
evaporasi yang tinggi dan biasanya rendah pada
kawasan_f,u*"ru,

mana kehilangan tersebut dikompensasikan


oreh halimun.

ai

Curah hujan
(mm atau 9o)

(mm atau qo)

274,6 mm
180,8 mm
158,8 mm
172,0 mm

35,8 mm
15,6 mm
14,6 mm
6,9 mm

Aliran batang

Intersepsi

(o/o)

Pinus putih

10090

260/o

4o/o

Pinus merah

10090

29olo

3olo

Trbel t.2. Xehilengen intemepsi per kedrhmrn (eluk) currh huJen.

ai

Presipitasi
(mm)

0-l

ntersepsl

83

l-3

3-6 6- l0

j6l

5l

35

t0-20

lo-40 t0-70
l8

26

(mm)
Presipitasi
(mm)

0-- I

lntersepsi
(mm)

82

t-2
63

2-3

3-5

55

47

5- l0 l0-15 l5-2( <20


33

30

26

l2

>70

-Sa
ll

E8

E^
=E
6o\

E.6. EVAPOTRANSPIRASI

Faktor-faktor lingkungan yang mengendalikan evapotranspirasi


adalah:
l. Radiasi

2. Pasokan air
3. Karakteristik tanah (lengas tanah)

4. Defisit penjenuhan di udara


5. Gerakan udarahorizontal dan vertikal.
Penutup vegetasi mengurangi jumlah penetrasi radiasi matdhari
dan dengan demikian memperendah suhu-suhu udara dan tanah.

-1
314

315

Seresah memberikan lapisan penyekat dari humus. lni menyebabkan


evaporasi dari tanah di hutan sekitar l0 hingga 8090 daripada evaporasi
yang diukur pada daerah-daerah yang terbuka.
Akan tetapi, dari daerah-daerah yang bervegetasi, mekanisnte
kehilangan air yang paling penting bukanlah melalui evaporasi tanah,
tetapi melalui transpirasi. Sebagian besar faktor-faktor hngkungan yang

disebutkan di atas memainkan peranan penting dalam transpirasi.


Walaupun transpirasi pada permukaan daun berlangsung sehubungan
dengan energi radiasi yang masuk, foktor-faktor tanaman seperti
disebutkan di bawah ini memainkan peranan yang penting, terutama bila
pasokan air terbatas.

l.

2.

Albedo permukaan tqnqman


Vegetasi yang lebih gelap menyerap lebih banyak radiasi matahari
bergelombang pendek, R., dan karena itu mencapai suhu yang lebih
tinggi.
Perkembongan okar
Meskipun evaporasi dari permukaan tanah jarang sekali menarik
kembali air pada kedalaman yang lebih besar daripada 30 cm, akarakar tanaman ternyata bertindak demikian dari kedalaman l0 m atau

lebih. Tanaman dengan akar yang menguras permukaan air


freat$itik) dapat mentranspirasikan air pada laju

Transpirasihutandibandingkarldcrtgantranspirasitanamanperta-

nian dan rerumputan (menurut Lllgler) dapat ditunjukkan


l009o / 43Vo /220/o

,,

E.7. IN}'ILTRASI

DalamBablV,karakteristik.karakteristikpermukaandarrbawah
permukaanDASyangmengendalikarrinfiltrasitelahdibahaSsecara
terinci. Di sini hanya peranan hutan yang dibahas'
Hutanmerupakarrrilltanganterhadapgerakarrmenurunair.Pada
yarrg
umumnya, tanah-tarlah hutan cenderung memiliki laju infiltrasi
jatuh
dari daun' rantinggi karena timbunan seresah (dari tetesan yang
perforasi)
ting dan cabang) pada lantai hutan, penetrasi akar (pengaruh
tinggi
yang
lebih
ke dalam sistem tanah, aktivitas organisme tanah
(frost)'
(seperti cacing tanah) dan lebih jarang terjadinya suhu beku

al

(tqnsman-tqnaman

evapotranspirasi potensial, meskipun permukaan tanah mungkin kering.

3. Slruktur tegqkan
Karakteristik tegakan hutan seperti tinggi tegakan, diameter rqrorata, kerapatqn tegokqn secara langsung berkorelasi dengan laju
transpirasi.

8.8. AI,IRAN PERMUKAAN

Ticlak semua limpasan dari kawasan-kawasan yang dihutankan


memiliki karakteristik-karakteristik aliran permukaan' Pada tanahpermukaan,
tanah tertentu, aliran bawah permukaan dan bukan aliran
dapatmemberibatasbentukhidrograflimpasan(lihatSeyhan,l9TTb
untuk keterangan yang lebih terinci). Penelitian-penelitian Molshanov
(1963) di Karolina Utara telah menunjukkan gambaran berikut:
Tipc vegetasi

4. Struktur fisiologi

tonoman
Pada sebagian besar tanaman, stomqtq(mulut daun) membuka selama
siang hari dan menutup pada waktu malam. Akan tetapi, beberapa
spesies Eucalyptus mempunyai stomata yang menurup pada tengah

sebagai

Ianah gundul
Rumput

Linlpasan bawah permukaan


(o,b)

60-80

90-95
l 5-95

80

20

5- l0

Hutan

fr

permukaan
(tr/o)

Limpasan

hari.

Kita harus menyadari bahwa sejumlah besar air diambil

oleh

vegetasi dari tanah melalui transpirasi. Pada umumnya hutan membutuhkan sekitar 700 liter air untuk menghasilkan setengah kilo bahan
kering. Hubungan ini ditunjukkan sebagai nisbqh transpirosi.

Padaumumnya,kitadapatmenyimpulkanbahwalimpasanbawah

permukaan adalah lebih tinggi di bawah hutan dibandingkan pada tipeiipe penutup tanah lainnya pada tanah-tanah yang sebanding' dan limpasan bawah permukaan merupakan bagian terbesar limpasan secara
Iangsung.

*1

\
317

316

8.9.1. Debit-debit Maksimum

E.9. LIMPASAN
Pengamatan-pengamatan hidrolog hutan selama bertahun-tahun

telah menunjukkan bahwa limpasan permukaan pada DAS yang


berhutan adalah jarang sekali. Pada umumnya, dapar dikemukakan
bahwa berhubung dengan meningkatnya penahanon permukaan (surface

detention) (seperti intersepsi pada vegetasi) dan meningkatnya laju infiltrosi (disebabkan karena kapasitas penyerap seresah yang tinggi),
aliran maksimum yang diharapkan dari kawasan yang berhutan lebih
rendah. Hidrograf pencatat akan menunjukkan dasar yang diperluas,
keduanya dalam cabang yang naik dan cabang yang turun.
Berhubung gerakan antaraliran melalui lumut dan tanah-tanah
organik di hutan adalah lambat, maka ketinggalon woktu (time lag) jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah yang terbuka.
Penelitian juga telah menunjukkan bahwa bila penampang tanah
telah jenuh, tipe penutup tanah hanya sedikit berpengaruh terhadap

lr

pada bab
Berdasarkan atas pembahasan-pembahasan sebelumnya
pengurangan
menyebabkan
ini, kini jelas bahwa penghutanan kembali
Iimpasan permukaan dan aliran sungai yang lebih seragam sepanjang
selalu
tahun. Debit maksimum kawasan-kawasan yang berhutan hampir
menNamun'
yang
berhutan'
tidak
kurang daripada kawasan-kawasan
aliran-aliran
terhadap
pengaruh
hutan
jaai teuitr sulit untuk mendeteksi
presipitasi
sungai pada DAS yang luas. lni disebabkan karena distribusi
faktorgeologi
dan
kompleksitas
vani tiiat merata di atas DAS dan
faktor penutuP tanah.
8.9.2. Atiran-sliron Yctng Rendoh
Penelitian-penelitian di Jepang, Afrika Selatan dan AS' terutama

kenaikan dan penurunan yang sangat curam, meskipun kondisi-kondisi


air tanah yang mendahului sangat rendah, dilaporkan dalam kepustaka-

padaDASyangkecil,telahmenunjukkanbahwapadakondisi-kondisi
penutup
iklim sedang (di mana air jarang sekali terbatas), penghilangan
yang
rendah
aliran-aliran
dalam
kenaikan
hutan telah mengakibatkan
pada
bahwa
kenyataan
oleh
panas.
disebabkan
Ini
pada akhir musim
sungai
aliran
pengisian
kembali
kering)
(musim
panas
akhir musim
berasaldariairtanah.Karenalebihbanyakvegetasiakanberartivolume
air
akar yang lebih besar pada volume tanah tertentu, maka lebih banyak
aliran
dalam
masuk
yang
semestinya
vegetasi,
oleh
yang di&strak

an.

sungai.

jumlah limpasan permukaan.


Juga mungkin bahwa pada DAS tertentu yang berhqlan karakteristik aliran permukaan akan mendominasi karakteristik aliran bawah
permukaan.

tr

Hidrograf-hidrograf aliran hujan yang tidak biasa dengan

Di AS, Tennessee Valley Authority (TVA) dengan penelitian-pene_


litiannya pada tahun 1962 telah menunjukkanbahwa penghutonon kembqli akan membawa perubahan-perubahan umum DAS berikut:
l. Volume limpasan permukaan berkurang.
2. Limpasan permukaan, dari hujan dengan kedalaman presipitasi
25-50 mm, berkurang 30-70V0 selama 5 tahun pertama setelah
penghutanan kembali, dan dengan 52-89V0 pada akhir periode

3.
4.

penelitian selama l9 tahun.


Debit maksimum rata-rata pada musim panas berkurang glgo. Debit
maksimum rata-rata pada musim dingin berkurang 72g0.
waktu konsentrasi meningkat 50go selama periode 5 tahun pertama
dan 40090 selama periode l9 tahun.

(l

-1
I

RUJUKAN.RUJUKAN
Abrahams, A.D.1972. Drainage Densities and Sediment Yields
tern Australia. Australian Geographical Studies, Volume I

t9-41.
Achi, M.I. dan D.D. HUFF 1974. Application of Remote Sensing to the
Location of Hydrologically Active (source) Area' Proceeding of
IX. Symposium of Remote Sensing of Environment, Institute of
Science and Technology, University of Michigan. Ann Arbor:
Michigan.

Al-Nakshabandi, G.A. dan J.W . Kijne 1974. Potential Evapotranspiration in Central Iraq Using the Penman Method with Modified
Wind Function. Journal of Hydrology,23, hal.319-328.
Amerman, C.R. 1976. Waterflow in Soils: A Generalized Steady-state,

Two-dimensional Porous Media Flow Model. Agricultural


Research Service, USDA, ARS-NC-30.
Amorocho, J. dan G.T. Orlub 1961. Nonlinear Analysis of Hydrologic
System. Water Resources Center. Contribution 40. Berkeley:
University of California.
Amorocho, J. 1963. Measures of the Linearity of Hydrologic systems.
Journal of Geophysical Research 68, hal. 2237-2249.
Anderl, B., W. Attamannspacher dan G.A. Schultz 1976. Accuracy of

Reservoir
t

_l

o'.

Inflow Forecasts Based on Radar Rainfall

Measurements. Water Resources Research, Volume 12, No.

2,hal,

2t7-223.
Anderson, E.A. dan N.H. Crawford 1964. The Synthesis of Continous
Snowmelt Runoff I{ydrographs oq a Digital Computer. Stanford
University, Department of Civil Engineering, Technical Report 36.
Anderson, M.G. 1973. Measure of Three-Dimensional Drainage Basin

320

321

Form. Water Resources Research, Volume 9, No. 2,hal.37g_3g3.


T.w. 1966. Introduction to Multivariate Statistical
Analysis. New York: John Wiley & Sons.
Appleby, F.v. 1954. Runoff Dynamics - a t{eat conduction Analogue
of
Storage Flow in channel Networks. International Association
of
scientific Hydrology, publication No. 3g, proceedins of Gen. Ass.
Rome, Volume III, 338-34g.
Asch, Th.W.J. dan H. van Steijn 1973. Computerized Morphometric
Analysis of Drainage Basins from Maps. publication Serie
3,
Utrecht: State University of Utrecht.
Aukema, K. 1969. Hydrograph parameters and Surface Runoff
Related
to Basin Characteristics. Delft: University of Technology.
Barnes, B.S. 1952. Unitgraph procedures. Denver: US Depaitment
of

tion in hydrology. Water Resour. Res., Vol. ll (5): 661-689'


Bolsenga, s.J. 1975. Estimating Energy B dget components to Determine, Lake Huron evaporation. Water Resour' Res' ll (5): 661-

Anderson'

Interior, Bureau of Reclemation.


Bartlett, M.s. 1947. The Use of Transformations. Biometrics,
vorume
3, No. l, hal. 39-52.
Bartlett, M.s. lg4g. Internal and External Factor Analysis. British
Journal of psychology, Statistical Section l. hal. 73.
Bartlett, M.s. 1950. Tests of Significance in factor
Analysis. British
J. Psychology, Statistical Section 3. hal. 7j_g5.
Bauer' S'w. dan D.c' Midgley. rg74- A Simple procedure
of Synthesizing Direct Run-off Hydrographs. Report No.
l-74, university of
the Witwaterstrand, Dept. of Civil Eng.
Benson, M.A. 1960. Aerial Flood_frequency Analysis in
a Humid
f,egion. Bull. Intl. Assoc. Scientific Hydrol. l9; 5_15.
. l962.Iactors Influencing the Occurence of
Floods in a
Humid Region of Diverse Terrain. US Ceot. Su.r.
Water Suppty

Paper 1580-8.
Bidwell, v.J. 1971.

_Regression analysis of Nonlinear catchment


Systems. Water Resour. Res. 7(5): lllg_1126.
Bigwood, B'L' dan M.p. Thom"r. i9i;:;i'lood
Formula for connecticut. Washington: US Geol. Surv. Cir. 365.
Bloemen, G'W' 1966. The calcuration
of Evapotranspiration from
groundwater Depth Observation. Tech,
nuU. +0, Wug"iirg"", f._
--------ternational Inst. for Land and Water
Manag. Rar.
Bloomsburg, G.L. 1960. A_Hyarogrupt
Washington: Agric.
Res. Serv., SWCRD ner. n.po.i :Zsl
"quation.
BMDP
- Biomedical Computer p.og.ammes. 1975. Berkeley: Univer_
sity of California press.
Bobee, B. 1975. The log pearson Type III
distriburion
and its Applica_

666.

Boon, D.A. 1968. Hydrology and Vegetational Influences.

ITC

Publication.
Bouwer, H. 1966. Rapid Field Measurement of Air Entry Value and Hy-

draulic Conductivity of Soil as Influenced Sifnificant Parameters


in Flow S stem Analysis. Water Resour. Res. 2 (4):729-738.
. 1967. Field Measurement of Saturated Hydraulic Conductivity in Initially Unsaturated Soil. Proc. IAHS-UNESCO
Symposium on Artificial Recharge and Management of Aquifers.

ll

yl
EI

ilti
il

il
dl '

ll
il

il

Haifa. hal.243-251.
. 1969. Salt balance, Irrigation Effiency, and Drainage
Design. Journ of Irrigation and Drainage Division, ASCE, 95 IRI:
243-251.
1969b. Infiltration of Water into Non-Uniform Soil. J.
Irrig. and Drain. Div., ASCE, 95 IR4: 153-170.
Brouwer, G.K. dan H. Ryckborst, 1975. The Evaporation and Sedimentation in Man-made Arade Lake. Southern Portugal. Hydrol. Sci.
Bull. XX (4): 555-574.
Brown, D.A. 1971. Stream Channels and Flow relation. Water Resour.
Res. 7 (2): 304-310.
Bruce, J.P. dan R.H. Clark. 1966. Introduction to Hydrometeorology.
Oxford: Pergamon Press.
Buckley, S.E. dan M.C. Leverett. 1942. Mechanism of Fluid Displacement in Sands. Trans. of the AIME 146: 107-116.
Buil, J.A. 1968. Unit hydrograph for Non-uniform Rainfall Distribution. Proc. Amer. Soc. of Civil Eng.: 5762-94.
Bultot, F., G.L. Dupriez dan A. Bodeux. 1972. lnterception de la Pluie
par la Vegetation Forestiere: Estimation de I'interception Journaliere a l'aide d'un Model Mathematique. J. Hydrol. 17:
193-223.
Burt, C. 1947. Factor Analysis and Analysis of Variance. British J. of
Phychol., Statistical Sec. I : 3.
Carlston, C.W. 1963. Drainage Density and Stream Flow. US Geol. Sur.
vey Profs. Pap. 422-C :8.
. 1966. The effect of Climate on Drainage Density and
Drainage Density Stream Flow. Intl. Assoc. of Scient. Hydrol.

{
322

Bull.

323

l: 62-69.

dan P. Haggett. 1965. Trend Surface Mapping in Geo-

dan W.F. Langbein. 1960. Rapid Approximation of


Drainage Density: Line-Intersection Method. US Geol. Surv.
Water Resour. Div. Bull. I l.
Carson, M.A. 1971. Mechanics of Erosion. London: pion Lim.
dan M.J. Kirkby. 1972. Hillslope Form and process.
London: Cambridge University press.
Chang, M. dan R. Lee. 1974. Objective Double-Mass Analysis. Water
Resour. Res. l0 (6): tt23-1126.
Chapman, G. 1948. Size of Raindrops and Their Striking Force at the
Soil Surface in a Red Pine Plantations. Trans. of the Amer.
Geophys. Union 29 (5): 664-670.
Chapman, T.G. dan F.X. Dunin. 1975. Prediction in Catchment[5rdrology. Symposium on Hydrology, 25-27 November 1975, Aust.
Acad. of Science.
Chery, D.L. 1965. Construction, Instrumentation and Preliminary Verification of a Physical Hydrologic Model. Washington, USDA,
ARS Soil and Water Conservation Research Division.
Chidley, T.R.E. dan J.G. Pike, 1970. A Generalized Computer pro-

i
i

Childs, E.C. 1967. Soil Moisture Theory. Advances in Hydroscience 4:

rl

. 1969a. An Introduction to the Physical Basic of Soil


Water Phenomena, New York, John Wiley and Sons.
1969b. The Vertical Movement of Water in a Stratified
Poreus Material: l. Infiltration. Water Resources Research 5 (2):

,l

for the Solution of the

penman Equation for


Evapotranspiration. J. of Hydrol. l0: 75-89.

gram

73-116.

446-459.
Chin, W.Q. 1967. Formulas and Tables for Computing and plotting
Drought Frequency Curves. Technical Report 9, Inland Waters
Branch, Department of Energy, Mines and Resources, Ottawa.
Chorley, R.J., D.E.G. Malm dan H.A. pogorzelski. 1957. ANew Standard for Estimating Drainage Basin Shape. Amer. J. of Sci. 255:
I 38- l4l .
dan L.S.D. Morley. 1959. A Simplified Approximation
for the Hypsometric Integral. J. of Geol. 67: 566-5j1.
dan M.A. Morgan. 1962. Comparison of Morphometric Features, Unaka Mountains, Tennessee and North Carolina
and Dartmoor, England. Geol. Soc. of Amer., Bull. 73: 11.*14.

graphical Research. Trans.

of the Inst. British

Geographers 37:

47-67.
1967. Models in Geography, London, Methuen.

Ir

.don,

ed.. 1969. Water, Earth and Man. London: Metheun.


dan B.A. Kennedy. 1971. Physical Geography. Lonprentice-Hall.
, ed. 1969. Introduction to Geographycal Hydrology.

Lindon, Methuen.
Chojnicki, Z. dan T. Czyz. 1976. Some Problems in the Application
of Factor Analysis in Geography. Geographycal Analysis:
417-427.
Chow, V.T. 1952. Design Charts for Finding the Rainfall Intensity Frequency. Water and Sewage Works 99: 86-88.
1953. Frequency Analysis of Hidrologic Data with
Special Application to Rainfall Intensities. Illinois: University of
Illinois, Engineering Experiment Station Bulletin 414.
1954. The Log-probability Law and Its Engineering
Applications. Proceedings of the ASCE, Volume 80, No. 536.
1959. Open Channel Hydraulics, New York, McGrawHill.
1962. Hydrologic Determination of Waterway Areas
for the Design of Drainage Structures in Small Drainage Basins. Illinois: University of Illinois, Engineering Experiment Station
Bulletin 462.
. ed, 1964. Handbook of Applied Hydrology. New
York, McGraw-Hill.
dan T.E. Harbaugh, 1965. Rair{drop Production for
Laboratory Watershed Experimentation. J. bf Geophys. Res. 70

(24):6lll-6119.

dan S.J. Kareliotis, 1970. Analysis of Stochastic Hydrologic Systems. Water Resour. Res. 6 (6): 1569-1582.
Christinsen, J.E. 196E. Pan Evaporation and Evapotranspiration from
Climatic Data. J. of lrrig. and Drain., ASCE, Ix-2: ?A3-265.
Chborn, B.J. dan W.L. Moore, 1970. Numerical Simulation of Water-

shed Hydrology. Tech. Report

HYD 14-7001, University of

Texas, Department of Civil Engineering, Austin.

Clark, C.O. 1945. Storage and the Unit Hydrograph. Trans. of the
AscE llCI 1416-1446.

!r

324

clark, D. 1975. understanding conanical correration

Anarysis.

CATMOG 3, Norwich: Geo Abstracts Limited.


coffman, D.M. dan A.K. Turner.1971. compoter Determination of the
Geometry and Topology of Stream Networks. water Resour. Res.
7

(2):4t9-423.

. 1972. New Topological Relationship as an Indicator of


Drainage Network Evolution. Water Resour. Res. g (6):
1497-150s.
Colenbrander, H.J. 1970. Waarneming en Bewerking van Grondwaterstanden Bodemvochtgegevens. Hidrologisch Onderzoek in het
Leerinkbeekgebied, Tweede Interimrapport, Provinciale
Waterstaat van Gelderland, Anhem: 148-176.
dan T. Blok. 1970. Afvoermetingen in Kleine
Stroomgebieden. Hydrologishe Onderzoek in het Leerinkbeegebied. Twee de Interimrapport, Provinciale Waterstaat van Gelderland, Arnhem hal. 109-120.
Collier, E.P. dan G.A. Nix. 1967. Flood Frequency Analysis for the New
Brunswick-Gaspe Region. Tech. Report 9. Inland Waters Branch,
Department of Energy, Mines and Resources, Ottawa.
Collins, L.1975. An Introduction to Markov Chain Analysis. CATMOC
l, Norwich: Geo Abstracts Limited.
Compilation of the Records of Surface Waters of the United States. US
Geological Survey, Water Supply Papers Nr. l72l-1738.
Cotton, C.A. 1964. The Control of Drainage Density. NZJ. Geol. Geophys. 7: 348-352.
Coulson, A. dan P.N. Gross. 1957. Measurement of the Physical Characteristics of Drainage Basins, Ottawa: Inland Waters Branch,
Tech. Bull. 5.
Crawford, N.H. dan R.K. Kinsley.1962. The Synthesis of Continuous
Streamflow Hydrographs on a Digital Computer. Tech. Report 12.
Stanford: Stanford University, Department of Civil Engineering.
1966. Digital Simulation in Hydrology. Stanford: Stanford University, Department of Civil
Engineering Tech. Report 39.
Craxton, F.E. dan D.J. Crawden. 1958. Applied General Statistics. London: Prentice-Hall.
Crouse, R.P., E.S. Corbert dan D.W. Seegrist. 1966. Methods of Measuring and Analysing Rainfall Interception by Grass. Bull. IASH 2:
I

l0-120.

i
i

qi;
I

I
i

325

Culler, R.C., R.L, Hanson dan J.E. Jones. Relation of the Consump
tive Use Coefficient to the Description of Vegetation. Water
Resour. Res. l2 (l): a0-46.
Dabiri, H.E., D.W. Green dan J.D. Winslow. 1970. Digital Computer
Simulation of an Aquifer: a Case Study. Summer Computerr
Sigrulation Conference. Amer. Comput. Mach., Denver, Colorado, June 10-12.
Dam, J.C. van. 1960. Geohydrology Lecture Notes. Delft, Technological University.
dan P. Santema. 1966. Groundwater: the Use and Interpretation of Hydrologic Data. Water Resources Series 34: United
Nations. pp. ll9-128.
Dam, J.C. van. 1971. Waterhuishouding, Hydrologische Grondslagen.
Deel 1A, Delft Technological University.
1973. Waterhuishouding, Hydrologische Grondslagen.

lB, Delft Technological University.


Dalrymple, T. 1860. Flood Frequency Analysis. Washington.
Deel

US Geolo-

gical Survey Paper 1543-A.

Dangler, 8.W., S.A. El-Swaify, L.R. Ahuja dan A.P. Barnett. 1976.
Erodibility of Selected Hawaii Soils by Rainfall Simulation. USDA
Agricultural Research Service, ARS W-35.
Daultrey, S. 1976. Principal Components Analysis. CATMOG 8, Norwich: Geo Abstracts Limited.
Davis, J.C. 1973. Statistics and Data Analysis in Ceology. London,
John-Wiley and Sons.
Dawdy, D.R. dan J.M. Bergmann. 1969. Effect of Rainfall Variability
on Streamflow Simulation. Water Resour. Res. 5: 958-966.
Decay, M.F. 1971. Probability Distribution of Number of Network in
Topologically Random Network Patterns. Water Resour. Res. 7
(6): 1652-1657.
dan W.C. Krumbein. 1976. Three Growth Models for
Stream Channel Networks. J. Geol. 8a (2): 153-163.
Decisions with Inadequate Hydrologic Data. 1973. Proceedings of the
2nd International Symposium in Hydrology, September 1972. Fort
Collins, Fort Collins: Water Resources Publication.
De Coursey, D.C. 1966. A Runoff Hydrograph Equation. Washington:
USDA, Agricultural Research Service Report 4l-116.
Delleur, J.W., P.C. Tao dan M.L. Kavvas. 1976. An Evaluation of the
Practicality and Complexity of Some Rainfall and Runoff Time

T
326

327

Series Models. Water Resour. Res. 12 (5): 953-970.


Derecki, J.A. 1976. Lake Erie Terrestrial Radiation. Water Resour.
Res. l2 (5): 979-984.
Design of Small Dams. 1965. Denver: US Department of Interior, Bureau of Reclamation.
Development of the Total Watershed. 1966. Conference Papers held in
Billings, Montana, October 1865. American Society of Civil

Edson, C.C. 1951. Parameters for Relation Unit Hydrograph to Watershed Characteristics. Trans. Amer. Geophys. Union 32:591-596.
Eiselstein, L.M. 1967. A Principal Components Analysis of Surfaces
Runoff Data from a New Zealand Alpine Watershed. Proceedings
of the International Hydrology Symposium. hal. 479-489.
Emmett, W.W. 1970. The Hydraulics of Overland Flow on Hillslopes.
was hington: US Geological Survey, Professional Paper 662-A.
Evans, I.S. 1972. General Geomorphometry, Derivatives of Altitude and
Descriptive Statistics. Dalsm R.J. Chorley, ed. Spatial Analysis in
Geomorphology, London: Methuen. hal. 17-90.
Evaporation Symposium and Report on the Lysimeters in the Netherlands. 1959. Proceedings and Information No. 4, The Hague:

Engineers.

Diaz, G., J.I. Sevell dan C.H. Shelton. 1968. An Application of Principal Component Analysis and Factors Analysis in the Study of
Water Yield. Water Resour. Res. 4: 299-306.
Dickinson, w.T., M.E. Holland dan G.L. Smith. 1967. An Experimental Rainfall-Runoff Facility. Colorado state University, Hydrology
Papers 25.

Diklic, S. 1974. Hydrology. Lecture Notes, Delft: International Hydraulics Courses.


Discharge Measurements at Gaging Stations. 1969. Washington: US Ge-

ological Survey, Techniques of Water-Resources Investigations,


Chapter A8.
Diskin, M.H. 1970. Definition and the Use of the Linear Regression
Model. Water Resour. Res. 6 (6): 1668-1713.
Doge, J.C.I. 1959. A General Theory of Unit Hydrograph. J. of Geophys. Res. 64;

I :241.

Dornkamp, J.C. dan C.A.M. King. 1971. Numerical Analysis in Geo.


morphology. London: Edward Arnold.
Drainage Principles and Application. 1974. Publication 16, Vol. [II,
Wageningen: International Institute for Land Reciamation and
Improvement.
Dronkers, J.J. 1969. Tidal Computations for Rivers, Coastal Areas, and
Seas. J. of Hydraulics Division: Proceedings of the ASCE, HY l:
29-77.
. 1964. Tidal Computations for Rivers and Coastal

Areas. Amsterdam: North-Holland.


Easterbrook, C.C. 1969. A Study of the Effects of Waves on Evaporation from Free Water Surfaces, Wave Tank Experiments and Correlation with Lake Hefner Evaporation Studies. Research Report
No. 18, US Department of Interior, Bureau of Reclamation.
Eagleson, P.S. 1970. Dynamic Hydrology. New York, McGraw-Hill.
Eckardt, F.E. 1965. Methodology of Plant Eco-'Physiology.

TNO.
Ezekiel, M. dan K.A. Fox. 1959. Methods of Correlation and Regression
Analysis. New York, John-Willey and Sons.
Fields, F.K. dan D.B. Adams. 1975. Estimates of Temperatures and
Precipitation for Northeastern Utah. J. of Res. 3 (2): l3l-136.
Fisher, R.A. 1936. The Use of Multiple Measurements in Taxonomic
Problems. Annals of Eugenics 7: 179-188.
Fleming, G. 1972. Sediment Erosion-Transport-Deposition Simulation,
State of Art. Proceedings of the USDA, Sediment Yield

Workshop, Oxford.

. 1975. Computer Simulation Techniques in Hydrology.


New York, Elsevier Publisher.
Fleming, J.H. 1967. The Assessment of Surface Runoff from Rainfall
Data for an Arid Region of West Pakistan. Bull. of the IASH. hal.
369-382.
Fok, Yu-Si. 1971. Law of Stream Relief in Horton's Stream Morphological System. Water Resour. Res. 7 (l):201-203.
Ford, P.M. 1959. Multiple Correlation in Forecasting Seasonal Runoff.

of Interior, Bureau of Reclamation


Monograph 2.
Foster, H.A. 1924. Theoretical Frequency Curves and Their Application
to Engineering Problems. Trans. ASCE 87.
Fournier, F. 1960. Climat et Erosion. Paris: Prosses Universitaires
Dehvor, US Department

de France.

Franco, C.M. dan A.C. Magalhaes. 1965. Techniques for the Measurement of Transpiration of Individual Plants. Dalom F.E. Eckardt,
ed. Methodology of'Plant Eco-Physiology. hal. 2ll-224.

329

328

R.A. 197 l. Three Dimensional Transient, Saturated-Unsaturated


Flow in a Groundwater Basin. Water Resour. Res. 7 (2): 347-366.
. 1972a. Role of Subsurface Flow in Generating Surface
Runoff-I, Base Flow Contributions to Channel Flow. Water
Resour. Res. 8 (3):609-623.
1972b. Role of Subsurface Flow in Generating Surface
Upstream
Runoff-2,
Source Areas. Water Resour. Res. 8 (5):
1272-1283.
Gardner, W.R. 1962. Approximate Solutions of a Non-steady-state
Drainage Problem. Soil Sci. Soc. of Amer. Proc.22: 129-132.
Gelhar, L.W. 1972. The Aqueous Underground. Technology Review,
MIT, Volume 74 (5): 45-53.
Genderen, J.L. van. 1970. Morpho-dynamics of the Crati River Basin,
Calabria, Italy. Delft: ITC Publication.
Gilcrest, B.R. 1950. Flood Routing. Dolam. H. Rouse, ed. Engineering
Hydraulics, New York, John-Wiley and Sons.
Gilman, K. 1975. Application of a Residence Time Model to Dilution
Gauging, with Particular Reference to the Problem of Changing
Discharge. Hydrological Science, Bull. XX (4): 523-537.
Gladwell, J.S. 1970. Runoff Generation in Western Washington as a
Function of Precipitation and Watershed Characteristics. Idaho:
University of Idaho.
Glover, R.E. 1973. Ground-Water Movement. Engineering Nomograph
No. 3l US Department of Interior, Bureau of Reclamation.
Goddard, J. dan A. Kirkby. 1976. An Introduction to Factor Analysis.
CATMOG 7, Norwich: Geo Abstracts Limited.
Golding, B.L. dan D.E. Low. 1960. Physical Characteristics of Drainage
Basins. Proc. of the ASCE 86.
Golfz, S.M. dan kawan-kawan. 1970. Evaporation Measurements by an
Eddy Correlation Method. Water Resour. Res. 6 (2): 440-446.
Grace, R.A. dan P.S. Eagleson. 1966. The Modelling of Overland FIow.
Water Resour. Res. 2: 86-92.
Gray, D.M. 1961. Interrelationship of Watershed Characteristics. J. of
Geophys. Res. 66: 1215-1223.
Green, W.H. dan C.A. Ampt. l9ll. Flow of Air and Water Through
Soils. J. of Agric. Sci. 4: l-24.
Gregory, K.J. dan E.H. Brown. 1966. Data Processing anf the Study of
Landforms. Annals of Geomorph- l0:237-263.

. dan D.E.

Freeze,

Walling. 1973. Drainage Basin, Form and

Process. London, Arnold.

eds. 1974. Fluvial Processes in

Instrumented Watersheds. London, Arnold.


. dan V. Gardiner. 1975. Drainage Density and Climate.

Annals of Geomorph., N.F. 19 (3): 287-298.

Guenther, W.C. 1964. Analysis of Variance. New Jersey: Prentice-Hall.


Guide to Hydrometeorological Practices. 1970. WMO No. 168. Geneva.
Gumbel, E.J. 1954. Statistical Theory of Draughts: Proceedings of
ASCE Volume 80, Separate 439.
. 1958. Statistics of Extremes. New York: Columbia

University Press,
Gunaratnam, D.J. dan F.E. Perkins. 1970. Numerical Solution of Un'
steady Flows in Open Channels. Hydrodynamics Laboratory
Report No. 127,

MIT, Department of Civil Engineering.

Gunn, R. dan G.D. Kinzer . 1949. The Terminal Velocity of Fall for Water Droplets. J. of Meteor. 6:243-248.
Hack, J.T. dan J.C. Coodlett. 1960. Geomorphology and Forest Ecology of a Mountain Region in the Central-Appalachians. US
Geological Survey Professional Paper 347.

Haan, C.T. dan H.P. Johnson. 1966. Rapid Determination of Hypsometric Curves. Bull. Geological Soc. of Amer. 77: 123-126.
Hall, W.A., W.S. Butcher dan A. Esogbue. 1968. Optimization of the
Operation of a Multiple-Purpose Reservoir by Dynamic Programming Water Resour. Res. 4 (3): 471-477.
Hammad, H.Y. 1969. Future of Ground Water in African Sahara Desert
J. of Irrig. and Drain. Div., ASCE, Volume 4: 563-580, IR.
Harley, B.M., F.E. Perkins dan P.S. Eagleson. 1970. A Modular Distributed Model of Catchment Dynamics. Hydrodynamics Laboratory
Report No. 133, MIT, Department of Civil Engineering.
Harbough, J.W. dan D.P. Merriam. 1968. Computer Application in
Stratigraphic Analysis. New York: John Wiley & Sons.
Harman, H.H. 1968. Modern Factors Analysis. Chicago: The University
of Chicago Press.
Harp, J.F. 1974. An Innovative Automatic Stream Gauging Method. J.
of Hydrol. 2l:27-31.
Harrold, T.W., C.A. Nicholas dan C.G. Collier. 1975. The Measurement of Heavy Rainfall over Small Catchments Using Radar.
Hydrol. Sci. Bull. XX (l): 68-76.

f--

----"""-"' t

330

331

Harr. M.E. 1962. Groundwater and Seepage. New York: McGraw-Hill


Hazen, A. 1914. Storage to be Provided in Impounding Reservoirs for
Municipal Water Supply. Trans. ASCE, Volume 77, paper 130g.
hal. 1539.
Henderson, F.M. 1966. Open Channel Flow. New york: MacMillan

Properties

lics and Sanitary Engineering.

(6):

of Stream Junction. Water Re(4):863-873.


sour. Res. 7
Hoyt, W.C. dan H.C. Troxell. 1934. Forests and Stream Flow. Trans.
of the ASCE 99: l-l l.
Huisman. L. 1960. Ground-Water Recovery: Technical Aspects. Lecture
Notes. Delft: International Courses in Hydraulic and Sanitary
1971. Optimal Angles

Publ.

Horner, W.W. dan F.L. Flynt. 1936. Relation Between Rainfall and
Runoff from Small Urban Areas. Trans. ASCE. hal. 140.
Horton, R.E. 1919. Rainfall Interception. Monthly Weather Review 47:
603-623.
1932. Drainage Basin Characteristics. Trans. Amer.
Geophys Un. 13: 350-361.
1945. Erosional Development of Streams and their
Drainage Basins. of the Bull. Geol. Soc. of Amer. 56: 275-37O.
Hotelling, H. 1933. Analysis of a Complex of Statistical Variables into
Principal Components. J. Ed. Psychol. 24.
Houk, l.E. 1921. Rainfall and Runoff in the Miami Valley. Miami: Conservency District Tech. Report 8.
Hounam, C.E. 1972. Charateristics of Evaporation in Network Design.
Casebook on Hydrological Network Design practices, WMO
Publication No. 324, Geneva. hal. I.2.1-l hingga l.Z.l-5.
Howard, A.D. dan kawan-kawan. 1970. Topological and Geometrical

Braided Streams. Water Resour. Res.

t674-1668.

Hershfield, D.M. 1961. Rainfall Frequency Atlas of the US. Washington


US Department of Commerce, Tech. Report 40.
Hertzler, R.A. 1967. Engineering Aspects of the Influence of Forests
on Mountain Streams. Civil Engineering 9: 487-489.
Hillel, D. dan W.R. Gardner. 1970. Transient Infiltration into Crusttopped Profile. Soil Sci. 109 (2): 69-76.
. 1971. Soil and Water. New York: Acdemic Press.
Hjelmfelt, A.T. dan J.J. Cassidy. 1975. Hydrology for Engineers and
Planners. Iowa: Iowa State University Press.
Hoel, P.G. 1965. Introduction to Mathematical Statistics. New York:
John Wiley & Sons.
Holtan, H.N. dan G.J. Stiltner. 1975. USDAHL-74: Revised Model of
Watershed Hydrology. Washington: US Department of Agriculture, Tech. Bull. No. 1518.
Horst, L. 1971. Hydrometry. Delft: International Courses in Hydrau-

of

Enginering.
Householder, A.S., G.E. Forsythe dan H'H. Germond. 1951. Monte
Carlo Method. US Natl. Bureau of Standards, Applied Mathematics Service, Volume 12.
Hursh, C.R. 1936. Discussion on Report of the Committee on Absorption and Transpiration' Trans. of the Amer. Geophys. Un" lTth
Annual Meeting. hal. 296.

Huson, J.J. 1970. Land Utilization in Crati Valley. Delft: ITC Publ'
Hyami, s. 1951. on the Propagation of Flood waves: Disaster Prevention Research Institute, Bulletin l, Kyata, Japan.
Hydraulics of overland Flow on Hill Slopes. 1970. washington: US Geol. Survey, Professional Paper 662-4'
Hydrocomp. 1969. Operations Mannual. Palo Alto: Hydrocomp.
Hydr.ologisch Onderzoek in het Leeringkbeekc.ebM. 1970. Arnhem:
Pro,vinciale Waterstaat van Gelderland, Twede Interimrapport.
Hydrology Seminar Notes (of the author). 1969. Delft: International
Hydraulic Courses.
Imbrie, J. 1963. Factor and Vector Analysis Programs for Analyzing

Geological Data. Washington: Office

of Naval Research,

Geography Branch. Techn. Report 6.

International Glossary of Hydrology. 1974. UNESCO-WMO.


Instituto Geografico Militare. 1958. Topographical Maps of South Italy
I : 100.000 and I :200.000 and I :20.000 scales.
Ipsen, D.C. 1960. Units, Dimensions and Dimensionless Numbers. New
York: McGraw-Hill.
Ishihara, Y. 1964. Hydraulic Mechanism of Runoff. Dulam R. Silverster, ed. Hydraulic and Fluid Mechanics. Oxford: Pergamon
Press.

Iturbe, I.C. dan J.M. Mejia. 1974. On the Tran formation of Point
Rainfall to Area Rainfall. Water Resour. Res. l0 (4):729-735.

'332

333

King, C.A.M. 1966. A Morphometric Examples of Factor Analysis.


Dqlqm H.O. Slaymaker, ed. Morphometric Analysis of Maps.

lzzard, C.F. dan M.T. Augustine. 1943. Pleliminary Report on Analysis


of Runoff from Simulated Rainfall on a Palved Plot. Trans. of
Amer Geophys. Un. 24: 500-511.
James, L.D. 1965. Using a Digital Computer to Estimate the Effects of

British Geomorphological Research Group, Occasional Paper No.


4.

King, R.B. 1975. Geomorphic and Soil Correlation Analysis of Land


Systems in Northern and Luapula Provinces of Zambia. Instiiute
of British Geographers Trans. 64:. 67-76.
Kendal, M.G. 1957. A Course in Multivariate Analysis. Net York:
Hafner Publishing.
Kinnison, H.B. dan B.R. Colby 1945. Flood Formulas Based on Drainage Basin Characteristics. Transactions of the Characteristics. Transactions of the American Society of Civil Engineers I10, hal.
849-984.
Kirwald, E. 1969. Wasserhaushalt und Einzugsgebiet. Essen: Dr. W.

Urban Development on Flood Peaks. Water Resour. Res. l:


223-233.
James, L.D. 1972. Hydrologic Modelling, Parameter Estimation and
Watershed Characteristics. J. Hydrol. l7: 283-307 .
Jamieson, D.G. dan C.R. Amerman. 1969. Quick-return Subsurface
Flow. J. Hydrol. 8:122.
Jarvis, R.S. dan A. Werritty. 1975. Some Comments on Testing Random
Topological Stream Network Models. Water Resour. Res.

ll

(2):

309-318.
1973. New Measure of the Topological Structure of
Dendritic Drainage Networks. Water Resour. Res. 8 (5):

Classen.

Kleinsmiede, W.F.J. 1960. Geology

1265-1271.

A.H. 1952. Maximum 24-hour Precipitation in the US. Washington: US Department of Commerce. Tech. Paper 16.
Jensen, M.E. dan R.J. Hanks. 1967. Nonsteady-state Drainage from Porous Media. J. of lrrig. Drain. Div., ASCE 93 IR 3: 202-231.
Jetler, K. 1944. Evaluation of Runoff-Distribution Values from Basin
Data and Study of Related Drainage-Area Charateristics. Trans.
Amer. Geophys. Un. 25: 990-1004.
Johnson, M.L. 1970. Runoff from Eight Watersheds in North-eastern
Vermont. Baltimore: The John Hopkins University.
Kagan R.L. 1972. Precipitation-Statistical Principles. Casebook on
Hydrological Network Design Practice No. 324. Ceneva: WMO.
hal. I- I .1.2-l hingga l-32-9.
Kalinin, G.P. 1971. Global Hydrology. Terjemahan dari bahasa Rusia.
US Department of Commerce, National Technical lnformation
Jennings,

Service Springfield.
Kaiser, H.F. 1958. The Varimax Criterion for Analytic Rotation in Factor Matrix. Psychometrika 23: 187-200.
Keefer, T.N. 1976. Comparison of Linear Systems and Finite-difference
Flow-routing Techniques. Water Resour. Res. l2 (5): 997-1006.
Kherounromne, I., W.E. Sharp dan L.R. Gardner. 1976. Variation of
Link Magnitude with Maps Scale. Water Resour. Res. 12 (5):

919-923.
Kimball, H.H. 1914. Monthly Weather Review 42: 474.

I
a
1

of the Valle de Aran,

Central

Pyreenes. Leidse Geologische Mededelingen 25. hal. 129-247.


Knapp, R.M., D.W. Green, E.C. Pooge dan C. Stanford 1975, Deve
lopment and Field Testing of a Basin Hydrology Simulator. Water
Resources Research. Volume
(6): 879-888.

Knisel, W.G. 1970.

ll

Factor Analysis of Reservoir Losses. Water


Resources Research 6, hal. 491-498.
Knox, C.E. dan T.J. Nordenson 1955. Average Annual Runoff and Pre
cipitation in the New England-New York Area. Washington: US
Geological Survey, Hydrological Inventory Atlas HA-7.
Kouzel, A.G. 1972. The Design of Network for the Determination of
Soil Moisture. Casebook on Hydrological Network Design Practice, No. 324, Geneva: WMO, hal. I-4.1-l hingga I-4.1-7.
Krumbein, W.C. dan F.A. Graybill 1965. An Introduction to Statistical
Models in Geology. New York: McGraw-Hill.
Laden, N.R., T.L. Reilly dan J.S. Minnotte 1965, Synthetic Unit
Hydrographs, Distribution Graphs and Flood Routing in the Upper Ohio River Basin. Transactions of the American Geophysical
Union lI, hal. 649-659.
Land Use Map of Italy (Carto della Utilizzazione del Soulo D,Italia)
1965, l:200,000 scale. Maps nr. 16, 17 ,19 and 20. Miiano: Touring
Club Italiano.
Langbein, W.B. 1940. Channel Storage and Unit Hydrograph Studies.
Transactions of the American Geophysical Union II. hal.

.Fr
f

335

334

of the Eng. Mech. Div. ASCE 93,


EM2:39-71.
Ligon, J.T., H.P. Johnson dan D. Kirkham. 1962. Unsteady-state
Drainage of Fluid from a Vertical Column of Porous Material. J.
of Geophys. Res. 67: 5199-5204.
., A.G. Law dan D.H. Higgins. 1969. Evaluation and
Shallow Water Equation. J.

620-627.
Langbein, W.B. 1947, Topographic Characteristics of Drainage Basins.
US Geological Survey, Water Supply paper 968-C.
Langbein, W.B. dan S.A. Schumm 1958. yield of Sediment in Relation

to Mean Annual Precipitation.

Transactions

of

American

Geophysical Union, 39, hal. 1076-1084.


Lanyon, M. dan J. Jackson 1974. Flow Simulation System. Journal
the Hydraulics Division, HY8, hal. 1089-1105.

Application of a Digital Hydrologic Simulation Model. Report 12,


Water Resour. Res. Inst., Clemson University, Clemson.
Linsley, R.K. 1943. Application of Synthetic Unitgraph in the Westtern States. Trans. of the Amer. Geophys. Un. 2: 580.
. dan J.B. Franzini. 1964. Water Resouces Engineering.
New York: McGraw-Hill.
Linsley, R.K., M.A. Kohler dan J.L.H. Paulhus. 1958. Hydrology for
Engineers. New York: McGraw-Hill.
Liou, E.Y. 1970. OpserProgram for Computerized Selection of Watershed Parameter Values for the Stanford Watershed Model. Report
34. Water Resour. Res. Inst., University of Kentucky, Lexington.
Lloyd, E.H. 1967. Stochastic Reservoir Theory. Advances in Hydro
Science 4: 281-339.
Lull, H.W. 1959. Soil Compaction on Forest and Range lands. USDA
Forest Service Miscalleneous Publications No. 768.
Made, J.W. van der.1972. Streamflow and Water Levels. Casebook on
Hydrological Network Design Practice No. 324. Ceneva: WMO:

of

Larson, L.W. dan E.L. Peck. 1974. Accuracy of precipitation


Measurement for Hydrologic Modelling. Water Resources
' Research, l0 (4): 857-863.
Laurenson, E.M. 1962. Hydrograph Synthesis by Runoff Routing. Water Res. Lab. Report No. 66. The University of New South Wales.
. 1964. A Catchment Storage Model for Runoff Routing. J. of Hydrol. 2: l4t-163.
. 1974. Modelling of Stochastic-Deterministic Hydrologic Systems. Water Resour. Res. l0 (5): 955-961.
Lawley, D.N. 1949. Problems in Factors Analysis. proc. of the
Roy. Soc. of Edinburg LXII : l.
Laws, J.O. 1941. Measurement of Fall Velocity of Water Drops and
Rain Drops. Trans. Amer. Geophys. tJn.2:709-721 .
Lee' R. 1963. Evaluation of Solar Beam Radiation as a climatic parameter of Mountain Watersheds. Colorado: Colorado State University. Higrology Paper 2.
Lee, M.T. dan J.W. Delleur. 1976. A Variable Source Area Model of

I-5.1-l hingga I-5.1-8.


Magette, W.L., V.O. Shanholtz dan J.C. Carr. 1976. Estimating Selected Parameters for the Kentucky Watershed from Watershed Chararteristics. Water Resour. Res. 12 (3): 472-476.
Mamisoa, J.P. 1952. Development of an Agricultural Watershed by Similitude. M.Sc. thesis. Ames: Iowa State University.
Manson, V. dan J. Imbrie. 1964. Fortran Program for Factor and Vector
Analysis of Geological Data Using an IBM 7090 or 7094/1401
Computer System. Kansas: Geological Survey 13.
Mark, D.M. 1974. Line Intersection Method for Estimating Drainage
Density. Ceological 2: 235-237.
Matalas, N.C. 1963. Probability Distribution of Low Flows. Geol. Surv
Profes. Papers 43+A. Washington: US Government Printing Of-

Rainfall-Runoff Process Based on the Watershed Stream Network.


Water Resour. Res. 12 (5): 1029-1036.
Leerinkbeek Study. 1970. The Hague: Rijkswaterstaat.
Leepold, L.B., M.G. Wolman dan J.P. Miller. 1964. Fuvial processes in
Geomorphology. San Francisco: W.H. Freeman and Co.
dan kawan-kawan. 1964. Fluvial Processes in
Geomorphology.
Liakopoulos, A.C. 1962. Theoretical Aspects of the Flow Water
Through Anisotropic Unsaturated Soils. J. Hydraulics Div. ASCE:

62-70.
Liggett, J.A. dan D.A. Woolhiser. 1967. Difference Solutions of the

fice.

dan B. Jacobs. 1954.

t"

I,

[^

Correlation Procedure for

336

337

Augmenting Hydrologic Data. US Geol. Surv. Profes. Pap.434-E.


Washington: US Government Printing Office.
. dan B.J. Reiher. 1967. Some Comments on the Use of
Factor Analysis. Water Resour. Res. 3: 213-223.
Mather, R.M, 1972. Areal Classification in Geomorphology. Dolam
R.J. Chorley. ed. Spatial Analysis in Geomorphology. London:

Meyerink, A.M.J. 1966. Quantitative Geomorphology in Hydrologic


Studies. Enschede: ITC Publication.
. 1970. Photo-Interpretation in Hydrology: A Geomorpphologic Approach. Enschede: ITC Publication.
Miller, v.c. 1953. A Quantitative Geomorphic Study of Drainage Basin
Characteristics in the Clinch Mountain Area, Virginia and Tennessee. New York: Colombia University, Department of Geology

Methuen. pp.305-322.
Mather, P.M. 1976. Computational Methods of Multivariate Analysis
in Physical Geography. London: John Woley & Sons.
Mathur, V.K. 1976. A Factor Analysis of Socio-Economic Determinants
of Property of Crimes in Cities. The Annals of Regional Science X

(2): tt6-127.

Marsden, J.R., D.E. Pingry dan A. Whinston. 1975. The Large-large


Regional Plant Hypothesis: Discriminant Analysis. Water Resour.
Res. ll (8): l0l3-1017.
Maximum Station Precipitation for 7,2,3,4,6, 12 dan 24 Hours. l95l
hingga 1959. Washington. US Department of Commerce Tech.
Report l5 (23 volume).
Maxwell, J.C. 1960. Quantitative Geomorphology of the San Dimas Experimental Forest, California. Washington: Office of Naval Res.
Geography Tech. Report 19.
McCoy, R.M. 1971. Rapid Measurement of Drainage Density. Bull. Ge-

ol. Soc. Amer. 82:757-162.


McDonald, J.E. 1957 . A Note on the Precision of Estimation of Missing
Precipitation Data. Trans. Amer. Geophys. Un. 38 (5): 657-661.
Mckay, C.A dan W. Stichling. 1961. Evaporation Computations for
Praire Reservoirs. Proc. Hydrol. Symposium 2, Ottawa.
Mein, G.R. dan C.L. Larson. 1973. Modelling Inliltration During a Steady Rain. Water Resour. Res. 9 (2): 384-394.

Nonlincar Model for Flood Estimation. J. Hydr., ASCE 100:


1507-1518.
Meinzer, O.E. 1942. Hydrology. New York: Dower.
Melton, M.A. 1957. An Analysis of the Relations Among Elements of
-'R,G.,E.M,LaurensondanT'A.McMohan'1974.Simple
Climate, Surface Properties and Geomorphology. New York: Colombia University, Department of Geology. Tech. Report ll.
Meyer, H.A. 1956. Symposium on Monte Carlo Methods. New York:
John Wiley & Sons.

Tech. Report 3.

Molen, W.H. van der. 1971. Lecture Notes Agrohydrology (in Dutch).
Wageningen: lniversity of Agriculture'
Monteith, J.L. 1965. Evaporation and Environment. Symp. Soc. Exp.

Biol. l9: 205-234.

Morel-Seytoux, H.J. dan J. Khanji. 1974. Prediction of Imbibition in


a Horizontal Column. Proc. Soil Sci' Soc. Amer: 613-617.
Morgan, R.P.C. 1973. The Influence of Scale in Climatic Geomorphology a Case Study of Drainage Density in West Malaysia. Geografiska Annuler 55A (2): 107-l15.
Morissawa, M.E. 1957. Accuracy of Determination of Stream Lengths
from Topographic Maps. Amer. Geophys. Un.: 86-88.
. 1958. Measurement of Drainage-Basin Outline Form.
Water Resour. Res. 66: 587-591.
1968. Streams: Their Dynamics and Morphology. New
York: McGraw-Hill Book Co.
Mulholland, H. dan C.R. Jones. 1968. Fundamentals of Statistics. London: Butterworths.
Mulvaney, J.J. 1850-1851. On the Use of Self Registering Rain and
Flood Gauges in Making Observations of the Relation of the Rainfall and Flood Discharges in a Given Catchment. Proc. Inst. Civil
Eng., Ireland4:18.
Muskat, M. 1946. The Flow of Homogeneous Fluids Through Porous
Media. Ann Arbor: J.E. Edwards'
Mustenon, S.E. 1967. Effects of Climatologic and Basin Characteristics
on Annual Runoff. Water Resour. Res. 3: 123-130.
Muther, P.M. dan J.C. Doornkamp. 1970. Multivariate Analysis in Geography. Trans- Inst. British Geogr. 51.
Nash J.E. 1957. The Form of the Instantaneous Unit Hydrograph.

Intl. Assoc. of Sci. Hydrol. III: l14:121.


. 1960. A Unit Hydrograph Study with Particular Ref-

_\
'
erence

338

339

to British Catchments. Proc. of the Insts. of the Civil Eng.

l7:249-282.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAH).

1959.

Rainfall Intensity-Frequency Regime. Tech. Report 29.


Nes, T.J. van de dan M.H. Hendriks. 1971. Analysis of Linear Distributed Model of Surface Runoff. Wageningen: Laboratorium voor
Hydraulica en Afvoerhydrologie.
M.D. 1975. Flooding and Flood Hazard in the United Kingdom. London: Oxford University Press.

Newson,

Nortier, I.W. dan H. van der Velde. 1961. Hydraulica. Culemborg:


Stam.

A.M. 1971. Turbulence in an Atmosphere with a Non-Uniform Temperature. Boundary-Layer Meteorology 2: 8-29.
Osborn, H.B. dan L. Lane. 1969. Precipitation-Runoff Relations for
Very Small Semi-Arid Rangeland Watersheds. Water Resour. Res. ' 5: 419-425.
Pannekoek, A.J., ed. 1973. Algemene Geologie. Groningen: H.D.

Obukhov,

Tjeenk.
i

I
i
i
,

Parikh, S.C. 1966. Linear Dynamic Decomposition Programming of


Optimal Long-Range Operation of a Multipurpose Reservoir System. Proc. of the 4th Intl. Conf. on Operat. Res.: 763-777.
Patton, P.C. dan V.R. Baker. 1976. Morphometry and Floods in Small
Drainage Basins Subjected to Diverse Hydrogeomorphic Controls.
Water Resour. Res. 12 (5):941-952.
Pearce, A.J. 1976. Magnitude and Frequency of Erosion by Hortonian
Overland Flow. J. of Geol. 8a (l): 65-74.
Penman, H.L. 1948. Natural Evaporation from Open Water, Bare Soii
and Grass. Proc. of Roy. Soc. London 193: 120-145.
Pethick, J.S. 1974. A Note on the Drainage Density-Basin Area Relationship. Area: 217
-222.
Petryk, S. dan kawan-kawan. 1975. Analysis 6f Flow Through Vegetation. J. Hydr. of Hydr. Div. HY7:871-884
Philip, J.R. 1954. An Infiltration with Physical Significance.
Soil Sci. 77: 153-157.
. 1957 . Numerical Solution of Equations of the Diffusion
Type with Diffusivity Concentration Dependent. Aust. J. of Phys.
l0:29:42.
. 1957b. The Theory of Infiltrationi 1,2,4. Soil Sci.
83 dan 84: 345-357 : 435-448 dan 257

-264.

Pillsbury, A.F., R.E. Pelishek, J.F. Osborn dan T.E. Szuskiewics. 1962.
Effects of Vegetation Manipulation on the Disposition of Precipitation on Chaparral-Covered Watershed. J. of Geophys' Res. 67:

695-702.
Pinder, G.F. dan J.F. Jones. 1969. Water Resour. Res.5: 438-445.
Ploey, J. de, J. Savat dan J. Moeyersons. 1976. The Differential Impact
of Some Soils Loss Factors on Flow, Runoff Creep and Rainwash. Earth Surface Processes I (2): 151-161.
Prescott, J.A. 1940. Trans. of the Roy. Soc. S. Aust. 64 : I14.
Priestley, C.H.B. dan R.J. Taylor. 1972. An Assessment of Surface
Heat Flux and Evaporation Using Large Scale Parameters.

Monthly Weather Review 100:

8l-92'

Proceedings of Symposium on Statistical Hydrology' 1974. Washington:


US Department of Agriculture, Agric. Research Service.
Potter, W.D. 1953. Rainfall and Topographic Factors that Affect Runoff, Trans. of the Amer. Geophys. Un. 34: 67-73.

Rantz, S.E. dan J.R. Crippen. 1975. Adjustment of Logarithmic Flood


Frequency Statistics for Gauged California Streams to Minimize
the Time Sampling Error. J. of Res., US Geol. Surv. 3 (l):
I

l3-l2L

Recent Trends in Hydrograph Synthesis. 1966. The Hague: TNO. Proc.

and Inform. 13.

Riggs, H.C. 1968a. Frequency Curves. Washington: US Geol' Surv.


Book 4, Chapter A2.
. 1968b. Some Statistical Tools in Hydrology. Washington: US Geol. Surv., Book 4, Chapter Al.
R.ijckborst, H. 1967. Hydrology of the Upper Garonne Basin (Valle de

Aran, Spain). Leidse Geologische Mededelingen 40.


Rijtema, P.E. 1965. An Analysis of Actual Evapotranspiration. Ph.D
Thesis. Wageningen: University of Agriculture.
. 1959. Evapotranspiration in Relation to Suction and
Capillary Conductivity. Miscellaneous Reprints 3. Wageningen.
Institude of Land and Water Management Research.
Riley, J.P. 1966. Application of an Electronic Analogue Computer to
the Solution of Hydrologic and River Basin Planning Problems.
Report PRWG 32, l. Logan, Utah Watert Resources Laboratory.
D.G. Chadwick dan K.O. Enggleston. 1969. Snowmelt
Simulation. Tech. f,.eport. Logan: State University of Utah' College of Engineering.

340

341

Rottegatspolder Evaporation Research. 1966. The Hague: Rijkswaters-

Chicago.

staat.

W.J. 1957. Evaporation Suppression from Water Surfaces.


Trans. of Amer. Geophvs. Un. 38 (5):740-7M.
Rodda, J.C. 1972. Precipitation. Casebook on Hydrological Network
Design Practice No. 324. Genewa: WMO. hal. l_1.2_2 hingga

Sellin, R.H.J. 1969. Flow in Channels. London. MacMillan Publ. Co.


Sen, Z. 1976. Wet and Dry Periods of Annual Flow Series. J. of
Hydr. Div., ASCE HY l0: 1503-1514.

Roberts,

I-1.z-ts.

Ronca, L.B. dan R.R. Green. 1970. Statistical Geomorphology of the


Lunar Surface. Bull. of the Smer. Geol. Soc. 8l: 337-352.
Rouse, H. 1950. Engineering Hydraulics. New york. John Wiley &
Sons.

Rubin, J. 1967. Numerical Method for Analyzing Hysteresis-affected,


Post Infiltration Redistribution of Soil Moisrure. Soil. Sci. Soc.
Amer. Proc. 3l: 13-20.
Russell, J.R. 1975. The Significance of Stream Link Length Frequencies
in the Magaliesberg, Transvaal. South Afr. Grograph. J. 5g (l):

25-35.

Rutter, A.J. 1967. AN Analysis of Evaporation from a Stand of Scot

Pine. Dalam W.E. Sopper, ed. Forest Hydrology. Oxford.


Pergamon Press. hal. 403_417.
Ryan, P.J., D.R.F. Harleman dan K.D. Stolzenbach. 19j4. Surface
Heat Loss from Cooling Ponds. Water Resour. Res. l0 (5):
Scheideggar, A.E. 1967a. Random patterns of Drainage Basin. Bull. Int.
of the Assoc. of Sci. Hydrol. il: 415_425.
. 1967b. On the Topology of the River Nets. Water Resour. Res. 3: 103-106.
. 1968. Horton's Law of Stream Numbers. Water Reso_
ur. Res. 4: 655-658.
schulz, E.F. 1973. Problems in Applied Hydrology. Forst colins: water
Resour. Publ.
Schumm, s.A. 1956. Evolution of Drainage Systems and Slopes in Bladlands in Perth Amboy, New Jersey. Bull. of the Geophys. Soc. of
Amer. 67: 597-646.

1963.

Tentative Classification

of Alluvial

Channels, Washington: US Geol. Surv., Circ. 477.

River

Schuster, J.C. 1975. Measuring Water Velocity by Ultrasonic Flowmeter. J. of Hydr. Div., Hyl2: 1503_1517.

Sellers,

i,-

\,,

w.D.

1965. physical climatology. chicago. University of

E. 1968. Climate and Irrigation of Calabria, South Italy.


Delft. ITC Integrated Surveys Development Report.
Seyhan, E. 1969. Quantitative Application of the Hydrologic Characteristics of a First-order Drainage Basin to its Morphology for
Relief Classification. Delft. Technological University: Partial
Report for M.Sc. Thesis.
1970. Operation of Runoff from Basin Physiography.
Delfr. ITC M.Sc. Thesis.
1972. Potensial Use of Remote Sensing Techniques in
Hydrology. Delft. NIWARS Publication 3.
1974. Measurement of Spectral Signatures for Water
Delft. NIWARS Publication 24.
Monitoring.
Quality
. 1975a. Fundamentals of Hydrology. Utrecht. Geografische Instituut, Rijksuniversiteit Utrecht.
. 1975b. A Statistical Analysis of Morphometrical V4riables and Their Correlation with the Mean Annual Flood. Utrecht,
Geografisch Instituut, Rijjksuniversiteit Utrecht.
. 1976. Application of Stream Ordering to the Ardeche
River Basin, Southgrn France. Utrecht. Geografisch Instituut.
Rijksuniversiteit Utrecht.
. 1976b. Quantitative Relief Classification in the Ardeche River Basin, Southern France. Utrecht: Institute of Geography,
State University of Utrecht. Serie B No. 62.
1976c. Calculation of Runoff from Basin Physiography (CRBP). Geographical Studies 2. Utrecht. Institute of
Geography, State University of Utrecht.
. 1976d. Prediction of Sediment Yield and Sources.
Utrecht. Institute of Geography, State University of Utrecht.
.1977a. Watershed as anHydrologic Unit. Publication
Serie B No. 63 Utrecht. State University of Utrecht, Institute of

Seyhan,

f,

Geography.
1977b. Mathematical Simulation of Watershed Hydrologic Processes. Utrecht. State University of Utrecht, Institute of

Geography.

""1

343

342

Sevenhuysen, R.J. 1970. Blotting Papei Simulating Groundwater FIow. J. Hydrol. l0:276-281.
Sevruk, B, 1974. The Use of Stereo, Horizontal, and Ground Level Orifice Gages to Determine a Rainfall-Elevation Relationship. Water
Resour. Res. l0 (6): 1138-ll4l.
Shanholtz, V.O. dan J.C. Carr. 1975. Evaluation of a Model for Simulating Continous Streamflow' from Small Watersheds. S. Coop.

1972. Quantitative Characterization of Channel Network Structure. Water Resour. Res. 8 (6): 1497-1496.
Smith, K.G. 1950. Standards of Grading Texture of Erosional Topogra-

phy. Amer. J. of Sci. 248:665-668.

,!

Ser. Bull. 200.

Sharp. A.L. 1960. Application of the Multiple Regression Approach in


Evaluating Parameters Affecting Water Yields of River Basins. J.
of Geophys. Res. 65: 1273-1286

Sharp. W.E. 1970. Stream Orders as a Measure of Sample Source


Uncertainty. Water Resour. Res. 6 (3):919-926.
. 1971. An Analysis of the Laws of Stream Order for Fibonacci Drainage Patterns. Water Resour. Res. 7 (6): 1548-1557.
Sherman, L.K. 1932. Streamflow from Rainfall by the Unit-Graph Method. Engineering News-Record, April issue.

. 1932. Engineering News-Record.


B. dan V.J. Singh. 1976. A. Distributed Converging Overland Flow Model, Paris I , 2 and 3. Water Resour. Res. 12 (5):

Sherman.

889-908.
Shih, G.8., R.H. Hakins dan M.D. Chambers. 1972. Computer Modelling of a Ciniferous Forest Watershed. Age of Changing Priorities
for Land and Water. Amer. Soc. of Civil Eng.
Shimer, J.A. 1968. This Changing Earth: An Introduction to Geology.
New York. Harper and Row.
Shreve, R.L. 1966. Statistical Law of Stream Numbers. J. of Geol. 74
(2):0178-3786.
1967. Infinite Topologically Random Channel Networks. J. of Geol. 75 (2): 178-186.
. 1969. Stream Lengths and Basin Areas in Topologically Random Channel Networks. J. of Geol. 77 (4):397-414.
Shulits, S. 1968. Quantitative Formulation of Stream and Watershed
Morphology. Bull. of the Intl. Assoc. of Sci. Hydrol. III: 201207.

Sitter, L.U. dan H.J. Zwart. 1961. Excursion to the Central Pyrenees.
Leidse Geologische Modedelingen 26: l-49.
Smart, J.S. 1970. Use of Topologic Information in processing Data for
Channel Networks. Water Resour. Res. 8 (6):932-936.

Smittr, R.L. aun A.M. Lumb. 1966. Derivation of Basin Hydrographs. Contribution 19, Manhattan. Kansas Water Resources
Research Institute. Kansas University.
Snyder, W.M. 1962. Some Possibilities for Multivariate Analysis in Hydrologic Studies. J. of Geophys. Res. 67:721-729.
. 1965. Hidrograph Analysis by the Methods of Least
Squares. Proc. of theAmer. Soc. of CivilEng' 793J-793'25'
. 1938. Synthetic Unit Graphs' Trans' of Amer' Geophys. Un. 19, Bagian 2:447-454.
Sokolov, A.A. 1976. The World Water Balance. Soviet Geography:
505-515.
Solomon, S. 1966. Statistical Association Between Hydrologic Variables
' Proc. of Hydrol. SymP.5:55-125.
Speight, J.G. 1968. Parametric Description of Landform. Dslqm G.A.
Stewart, ed. Land Evaluation. Papers of CSIRO Symposium in
Cooperation with UNESCO. hal. 239-250.
Spiegel, M.R. 1961. Theory and Problems of Statistics. Schaum's OutIine Series. New York. McGraw-Hill Book Co.
Soil Survey Staff. 1951. Soil Survey Mannual. US Department of Agriculture Handbook 18.
sribnyi, M.F. 1961. Geomorphological characteristics of chatchment
Basins (Drainage Areas) in Problems of River Runoff control.
USSR Academy of Science (Terjemahan). "
Stall, J.B. dan Yu Si Fok. 1967. Discharge Related to Stream System
Morphology. Bull. of the Int. Assoc. of Sci. Hydrol. ll[:224-235.
Statistical Methods in Hydrology. 1965-. Montreal: Canadian Department of Energy, Mines and Resources. Proc. of Hydrol. Symp. 5'
Steady Flow of Ground water Toward wells. 1964. Proc. and Inform.
No. 10. The Hague: TNO.
Stephenson, G.R. dan R.A. Freeze. 1974. Mathematical Simulation of
Subsurface Flow Contributions to Snowmelt Runoff, Reynolds
Creek Watersheds. Idaho. Water Resour. Res. l0 (2):284-294'
Steyn, D.C. 1976. Computation of Azimuths, Slope Angles and Surface
Normals over a Given Topography. S. Afr. Geograph. J. 58 (2):
130-133.

344

345

Storey, H.C. dan E.L. Hamilton. 1943. A Comparative Study of Raingages, Trans. of the Amer. Geophys. Un., Meteorology. hal.

ces Series No. 34, United Nations.


Thornbury, W.D. 1954. Principles of Geomorphology. New York. John
Wiley & Sons.
Thornwaite, C.W. 1931. Climates of North America According to a New
Classification. Geographical Review 2l: 633-655.
Todd, D.K. 1969. Cround Water Hydrology. New York. John Wiley &

133-142.

. Water Waves. New york. Intescience.


1952. Hypsometric (Area-Altitude) Analysis of Erosional Topography. Bull. geol. Soc. Amer. 63: lll j-1142.
. 1956. Quantitative Slope Analysis. Bull. Geol. Soc.

Stoker, J.J.

Strahler,

1957

A.N.

571-596.

1957. Quantitative Analysis of Watershed Geomorpho-

logy. Trans. Amer. Geophys. Un. 38: 913-920.


Strelkoff, T. 1970. Numerical Solutions of Saint-venant Equations.
J. Hydra. Div., ASCE 95 HYI: 223-251.
Strahler, A.N. 1958. Dimensional Analysis Apptied to Fluvially Eroded
Landforms. Bull. Amer. geol. Soc. 69:2j9-299.
Sutcliffe, J.V. dan T.G. Carpenter. 1967. The Assessment of Runoff
from a Mountaineous and Semi-Arid Area in Western lran. Bull
Intl. Assoc. Sci. Hydrol. III: 383.
Swartzendruber, D. dan D. Hillel. 1975. Infiltration and Runoff for
Small Field Plots Under Constant Intensity Rainfall. Water
Resour. Res. I I (3): 445-451.
swift, L.w. dan kawan-kawan. 1975. Simulation of Evapotranspiration
and Drainage from Mature and Clear-Cut Deciduous Forest and
Young Pine Plantation. Warer Resour. Res. I I (5): 667_673.
Tamaki, S. 1966. Some Problems in the Use of Linier programming in
Operation Planning. Proc. 4th Intl. Conf. on Operational Res. pp.

36-43.

Taylor, A.B., dan H.E. Schwarz. 1952. Unit Hydrograph Lag and peak
Flow Related to Basin Characteristics. Trans. Amer. Geophys. Un.

33:235-246.
Authority (TvA). 1964. Branshaw creek Elk River: A
Plot Study in Area-Stream Factor correlation. Knowville: office
of Tributary Area Development. Research paper 4.
. 1966. Design of a Hydrologic Condition Survey Using Factor Analysis. Bull. Intl. Assoc. Sci.
Hydrol. XI: l3l-176.
The Use and Interpretation of Hydrologic Data. 1966. water ResourTennenssee vattey

,r

Sons.

Toebes,

G.H.

1975. Systems Engineering. Lecture Notes. Delft

Technological

niversity.

Turner, A.K. dan R.D. Miles. 1969. Terrain Analysis by Computer.


Purdue. Purdue University. Engineering Reprints CE.259.
United Nations. 1966. The Use and Interpretation of Hydrologic
Data. New York. United Nations Office of Technical Cooperation.
Water Resources Series 34.
US Army of Engineers. 1956. Snow Hydrology. Oregon. North Pacific
Division.
1960. Runoff from Snow Melt. Engineering and
Design Manuals EM I I 10-2-1406.
. 1962. Adjustment of Frequency Statistics. Sacramento. US Army Corps of Engineers.
US Geological Survey. 1953. Topographical Maps of New England
Area. l:24.000scale.
1960. Water Supply Papers. Nrs. 798 dan 1543-A.
Washington.
1962. Water Supply Paper.

Nr. 1580-A. Washing-

ton.

1939-1965. Water Supply Papers.

Nr.

1-A,

North Atlantic Basin Slopes. Washington.


Vernon, P.E. 1950. An Application of Factorial Analysis to the Study
of Test Items. British J. Psychol., Statistic. Sect. III: l-15.
Visser, W.C. 1963. Soil Mousture Content and Evapotranspiration.
Tech. Bull. 31. Wageningen. Institute for Land and Water Management Research.

Volker, A. 1968. Hydrology Lecture Notes' Delft. International Courses for Hydraulics and Sanitary Engineering.
Vogel, J.C., L. Thilo dan M. van Dijken. 1974. Determination of Groundwater Recharge with Tritium. J. Hydrol. 23: l3l-140.
Vries, D.A. de. 1966. Dalam W.R. van Wyk, ed. Physics of the Plant

346

347

Environment. pp. l-382. Amsterdam: North Holland.


vries, J.J. de. 1974. Groundwater Flow Systems and Stream Nets in the
Netherlands. Amsterdam. Rodopi.
wallis, J.R. 1968. Factor Analysis in Hydrology: An Agnostic view.
Water Resour. Res. 4: 521-527.
walsh, F. 1972. Application of stream Numbers to the Merrimack River
Basin. Water Resour. Res. 8 (l): l4l-144.
walton, w.c. 1965. Ground-water Recharge and Runoff in Illinois.
Urbana. Illinois State water Survey, Department of Registration
and Education. Report of Investigation 48.
Ward, R.C. t967. Principles of Hydrology. London. McGraw-Hill.
wartena, L. 1974. Basic Difficulties in predicting Evaporation. J.
Hydrol. 23: 159-177.
US Department of Interior. 1971. Water Measurement Manual.
watson, K.K. 1959. A Note on the Field Use of a Theoritically Derived
Infiltration Equarion. J. Geophys. Res. 64: l6ll_1615.
. 1966. An Instaneous Profile Method for Determining
the Hydraulics conductivity of Unsaturated porous Materials.
Water Resour. Res. 2

,t

Dimensional Transient Ground Water Flow by the Method of


Characteristics. Water Resour. Res. l2 (5):971-977.
Wijk, W.R. van. 1963. Physics of Plant Environment. Amsterdam.
North Holland.

William, J.R. dan R.W. Hann, 1972. HYMO: a Problem-Oriented


Computer Language for Hydrologic Building Models. Water
Resour. Res. 8 (l): 79-86.
1973. HYMO: Problem-Oriented Computer
Language for Hydrologic Modelling. Agric. Res. Service. USDA

(4):709-715.

1967. Numerical and Experimental Study

ARS-S-9.

of Column

Wilson, E.M. 1969. Engineering Hydrology. London. MacMillan.


Wind, G.P. 1961. Capillary Rise and Some Applications of the Theory
of Moisture Movement in Unsaturated Soils. Tech. Bull. 22.
Wageningen. Institute for Land and Water Management Research.
Wisler, C.O. dan E.F. Brater. 1949. Hydrology. New York. John Wi-

Drainage J. Hydrau. Div., ASCE 93 Hy2 l-15.


watt, w.E. dan R.J. Kennedy. 1969. A peak Discharge Relation for Intermediate Drainage Basins. water Resour. Res. 5: 1406-140g.
Weg, R.F. van der. 1967. Climatology. Lecture Notes. Enshede. ITC.
chede ITC.

Calculating Vertical Drainage and Infiltration for Soils. J. Hydrol.


10: l-19.
Wierenga, J. 1968. Meteorological Instruments of Hydrological Use.
Lecture Notes. Delft. International Courses for Hydraulics and
Sanitary Engineering.
. 1968b. Vertical Transport of Water Vapour. Lecture
Notes. Delft. International Courses for Hydraulics and Sanitary
Engineering.
Wiggert, D.C. dan E.B. Wylie. 1976. Numerical Predictions of Two-

1968. Drainage Patterns. Lecture Notes. .Ens-

wei, T'c. dan J.L. McGuiness. r973. Reciprocar Distance Squared Method. ARS-NC-8. Agricultural Research Service. US Department
weisman, R. 1975. comparison of warm water Evaporation Equations. J. Hydrau. Div., Hyl0: 1303-1313.
weyman' D.R. 1975. Runoff process and Streamflow Modelling. London. Oxford University press.
whisler, F.D. dan K.K. watson. 1968. one-Dimensional Gravity Drainage of Uniform Column of porous Materials. J. Hydrol. 6:
277-296.
1972. Analysis of Infiltration into
Draining Porous Media. J. Irrig. Drain. Div., ASCE.
dan H. Bouwer. 1970. Comparison of Methods for

ley

&

Sons.

Wong, S.T. 1963. A Multivariate Statistical Model for Predicting Mean


Annual Flood in New England. Annals Assoc. Amer. Geograph.
53: 298-311.

Wood, W.F. dan J.B. Snell. 1959. Predictive Methods in Topograpic


Analysis I: Relief, Slope and Dissection on Inch-to-the mile Maps
in the United States. Tech. Report EP-112. Quartermaster Res.
and Eng. Command. US Army.

Wooding, R.A. 1965. A Hydraulic Model for the Catchment-Stream


Problem J. Hydrol. 3: 254-267: 268-282 dan 2l-37.
Yair, A. dan H. Lavee. 1976. Runoff Generation on Arid Talus Slopes.
Dalom Geography in Israel. Jerusalem. The Israel National Committee. pp. 353-363.

348

Yang, C.T. 1971. Potential Energy and Stream Morphology. Water Resour. Res. 7 (2):3ll-322.
Yevjevich, V. 1968. Misconseptions in Hydrology and their Consequences. Water Resour. Res. 4: 225-232.
. 1974. Determinism and Stochasticity in Hydrology. J.

Hydrol. 22:225-238.
Youngs, E.G. 1960. The Drainage of Liquids from Porous Materials. J.
Ceophys. Res. 65: 4025-4030.
Yuan, P.T. 1933. Logarithmic Frequency Distribution. Annals of Mathematical Statistics.
Zaslavsky, D. 1970. Some Aspects of Watershed HydroloCy. US Department of Agriculture, Agricultural Research Service Publication 4l-157 .

LAMPIRAN-LAMPIRAN

351

LAMPIRAN A: ORGANISASI DAN MAJALAH.MAJALAH

A.

Organisosi yang berkaitun dengon Penelitian don Proktek Hidrologi

ARS

rl
ASAE

ASCE
ECE

FAO

IAH
IAEA
IASH

IAHR
ICID
ICLD
ICW

IGGU

IHD

,t

IWB

IWSA
SCS

Agricultural Research Service


US Department of Agriculture
Southern Region, P.O. Box 53326
New Orleans, Louisiana 70153, USA.
American Society of Agricultural Engineers
P.O. Box 229
Saint Joseph, Michigan, USA.
American Society of Civil Engineers.
Economic Commission for Europe
Geneva, Switzerland.
Food and Agricultural Organization of United Nations
Via delle Terme di Carracala
Rome, Italy.
International Association of Hidrogeologists.
International Atomic Energy Agency
Vienna, Austria.
International Association of Scientific Hydrology.
International Association of Hydraulic Research.
International Commission on Irrigation and Drainage.
International Commission for Large Dams.
Instituut voor Cultuurtechniek en Waterhuishouding
(Institute for Land and Water Management Research)
P.O. Box 35
Wageningen, the Netherlands.
International Geodetical and Geophysical Union.
International Hydrological Decade, UNESCO
Paris, France.
Inland Waters Branch
Department of Energy, Mines and Resources
588 Booth St.,

Ottawa, Ontario, Canada.


International Water Supply Association.
Soil Conservation Service
United States Department of Agriculture.

--!
353

352

Stichting van Toegepast Natuurwetenschappelijk Onderzoek, Commissie voor Hydrologisch Onderzoek

Colorado State University Hydrology Papers


Reports of the Committee for Hydrological Research, TNO
Technical Bulletins of the ICW

(Committee for Hydrological Research)

UCPWR

The Hague, the Netherlands.


Tennessee Valley Authority
Knoxville, Tennessee, USA.
The Universities Council on Water Resources
National Academy of Sciences
2l0l Constitution Avenue, N.W.
Washington, D.C. 20418, USA.

UMIST

University

TVA

of

Michigan Institute

of

rl

Science and

Technology

Ann Arbor, Michigan, USA.


United Nations Office of Technical Cooperation
Economic Commission for Asia and the Far East
(ECAFE) Sales Section
UNESCO

USDI

Geneva, Switzerland.
United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization
Paris, France.
United States Department of Interior
Bureau of Reclamation
Engineering and Research Center

Remote Sensing of Environment


Journal of Hydraulios Division
Transactions of the Institute of British Geographers
.

,l

MIT Technology Review


Journal of G:ophysical Research
Journal of Meteorology
Agronomy Journal

Attention: Code 922


P.O. Box 25007, Denver Federal Center
Denver, Colorado 80225, USA.

wMo

Technical RePorts of the SCS


Research Series of the UNESCO
Water Resources of the ECAFE
Report, Manuals and Bulletins of the USDI
Papers, Books, Chapters, etc. of the USGS
Technical Notes, Papers, etc. of the WMO
Transactions of the American Geophysical Union
Proceedings of the American Society of Civil Engineers
Journal of Hydrology
Bulletins and Proceedings of the IASH
La Houille Blance (dalam bahasa Perancis)
Deutsche Gewasserkundliche Mitteilungen (dalam bahasa Jerman)
Die Wasserwirtschaft (dalam bahasa Jerman)

Unites States Geological Survey


US Government Printinq Office
Superintendent of Documents

of Soil Science Society of America


Research
Agricultural
Journal of
Transactions of the American Society of Agricultural Engineers
Bulletin of the Geological Society of America
Journal of Geology
Earth Surface Processes

Washington, D.C. 20402, USA.

Catena

World Meteorological Organization


P.O. Box No. 5

cH

- l2ll

Geneva 20, Switzerland.

B. Mojalah-majolah Yong Berisi Topik-topik Hidrologi


Water Resources Research
Technical Bulletins. of the IWB

Proceedings

ril

Soil Science
Annals of the Association of American Geographers
Geographical Analysis
Annals of Geomorphology
The South African Geographical Journal
The Science Reports of Tohoku University (Geography)
Area

Geographie Physique

et de Geologie

Perancis)

Australian Geographical Studies

Dynamique (dalam bahasa

r
355

354

LAMPIRAN B: SATUAN.SATUAN UKURAN' KONSTANTA.


KONSTANTA FISIKA DAN MATEMATIKA

Bulletin of the Geological Survey of Canada


Bulletin of Quantitative Data for Geographers
Bulletin of the International Institute of Land Reclamation and
Improvement
Bulletin of the International Society of Soil Science
Technical Bulletin of the British Geographical Group.

A. Abjod Yununi dan Pongkat Bilongan

fr

).

AlphaAaNuNv
BetaBlxi=E
f
Gamma
DeltaAdPi
EpsilonEeRhoPg
Z
Zeta
EtaHnThuTr
ThetaO0UPsilonYv
IctalrPhi
KappaKxchiXa
LambdaAlPsiWtP
MuMgOmegaQar

Sigma

2
O{

Awalan

Simbol

l0

deca

da

l0'r

deci

102

hecto

l0-2

centi

103

kilo
l0 kilo
100 kilo

l0-3

milli

l0-4

100 micro

107

108

100 mega

I!

l0e

giga
l0 giga

l0l0
101I

100 giga

lot2
l0l3

tera
l0 tera
100 tera

1014

;
G

l0-5

l0 micro

l0-6
l0-7
l0-8

micro

l0-9
l0-r0
l0-l r
I 0-12

100 nano

l0 nano
nano
100 pico
l0 pico
pico

Pangkat

mega
l0 mega

e,

Simbol .",,

106

I
IA

O
fln

Awalan

105

fr

Omioron

Pangkat

104

I't
t'

'l

5
357

356

B. Konstqntq-konstonto Fisiku don Malemalikq


Panjang

l. n :
2. e :

mikron fu)
(s)
mikron
a

3.
mil : 6366,39 km
4.
5. Jarak rata-rata bumi ke matahari : 93,1 x 106 mil :
149,83

106 km

A
millimikron (mt)

IA

2,998 x l0l0 cmldetik


2,998 x 105 km/derik
7. Konstanta gravitasi (E) : 32,11 kaki/detik2
: 980,665 cmldetik2
8. Tekanan atmosfer normal pada O' (32"F) dan pada gravitasi
baku : 760 mm air raksa : 29,92 inchi air raksa (Hg)
9. Berat jenis air pada20'C : 0,9982 g/milliliter : 10,0
pound/galon

6. Kecepatancahaya(c)

Hasil

dengan

3,14159265
2.71828183
log,rn = 0,43429448 (ln3n)
Radius rata-rata bumi : 3956

rnillirnetcr (rnnr)
angslra)n) (A)

104

l0l

n] n1

l0

3,917
0,

l0s

inci (irt)
.nl

inci
senlimctcr (nr)

cm

39,37
2,540005
30,48
0,3937

3,28083 3

inci
kaki

5280

kak i

meter (m)

inci

kaki (ft)

mil(ml)

: 62,32 pound,/kaki3
10. Berat jenis air raksa pada l5'C : 13,56 g/cm3
ll. Panas penguapan laten pada 0' : 597,3 kalori,/gram
12. Panas sublimasi laten pada 0oC : 677,0 kalori /gram.

l0r

cm

kilomctcr (knt)

mil

1,609344

km
km

328 I

kaki

o,6214

mil

6080,2 I
0,91 44

kaki

mil laut
yard
yard

mil
mil

l0r
25,4

,II
I -t,:

inci

l0 r

mrn

fathom
rod (tongkat)
rantai (chain)

1,828804

l.n

s,0292

20, I 168

C.Fungsi Trigonometri

link

20,1 168

cm

Sin

parsec

Oo

Sin 30"
Sin 45"
Sin 60'
Sin 90o
Sin 180'

-0
: %\[2
: Y, \[3
l,/^

_t
-l

:0

Sina: y/r

tahun cahaya

Cos O":l
Cos 30" : t/z tf3
Cos 45" : Yz tf2
Cos 60o : ,/, \[2
Cos 90' : 0
Cos 180' : -l
Cos a : x,/r

Tan 0o:0
Tan 30': %tf3
Tan 45o : I
Tan 60" : 3
Tan 90o : n
Tan 180" : 0
1un o : y/x

inci
kedalaman I inci pada
I mil kuadrat

ll

ll

'4

'I

Dikalikan
Inci2
kaki2
yard2

9,4637
3,0826
51

x
x

1012
1022

11

53,33

km
km

kaki acre/mi12
kaki acre

Luas
dengan

6,4516

cm2

929,03
0,836127
43,560
0,40469

cm2
m2

kaki2

acre
acre
acre

4046,9

m2

hektar

10000

m2

mi12

rnit2

640
2,58999

hektar (ha)

acre
km2

-a

EI

359

158

Lanjutan

Ylllrrnr,'i:i
l)ii,rlrlrrir
!irill
rit,i
ilrr'r

16,.1,!; i 6:
j

cttt

litcr ( lr)

:,,()1618(,il
{) Iir,l1\()

gallon AS (gl)

kakil

itifl

n,r){(}-i7til

r lrl

r.il] x i0!

Lrrl,il
l,il
'
lli ' /i
iri, i

0"{r281 I{'8

ml

'l

gallort

';i:{{)

i:I-{;li
I

().7645 5 5

ml

csm
csm

kakVdetik

.l)iil

kaki3 per detik (cfs)


cfs
cfs
cfs

ar) pada mi12

::1,

tl,.l)58.:
t21i.I

f,.[,;:1,g
Ltl,,,,;i:
i ,ri r ,i r,

i)"

'"

nri12)

kakil

:-16.1()

r,.r,

l0{'

gallon AS

l,r.

L;ii

dsf

lll

kakir/derik dalam I

';'1t+l

:ll

i).iil 8?5

i.

1,ll x i0')

r:rtil

Ir,) :'liti(lt ,i

),) st-17

Pilrl r.;1irI;! n:)

{J,4'73t66

lr A,!

(),946,131

qurri

gali,.r,:

Alr

17)a511

m-l

5i)4:

janr (cfs-jam)
ir

l')il "li! '!lr

ilrrir,'r |:1iI
[;i),., rtr ,]. rrlr

dengan

r,..r,'t,'1it ilk
rr

il

,;,,,

cfs

kaki acre per hari


kaki3,/menit (cfm)
gallon AS per menit

Hasil

(ff.'iliil

0,0283 17

ml per clctik

l,983

kaki acrer }rari


kaki ae rei tatr'.rn

124,0
448,8

gallol A5r'ntenir

103
646,3
0,5042

o,47t9
0,06309

gallon AS
inchi per kedalaman pacla I mil2
kaki3

cml
liter
liter
Iiter

Dikalikan

Massa dan Gaya


dengan

Gram

l0-3

slug (lb detik2kakir)

103
14,6
32,r7
0,453392!7
4,4482

gallon itS.,'ir;tr

slug

pound (lb)
pound
pound
kg

x lt5

4,482
2,205

dyne
ons (oz)

2,?AB
28,1495

butir (grains)

u,19E9t

I,2808

cm per detik
meter per detik
kaki,zdetik

1.609344

km/jam

ons

nen'ton

0,0625
0,10197

lU6

kaki3,'cletik r..fr)
liter/dr:t ilr
literi detik

Hasil
kg

Hasil

30,48
0,3{,48

rnii/ian

ij

a
Krr:cpatan
ilengan

inci/hari
inciltahun

0,03719
13,57
0,6818

Debit (Aliran)

kakir
kaki acre
inci kedalam(inci

lr.'sn.:t

kakir/rl*tir;ei

l,008

incil
gallon AS

it (t1f ! r)

i.'

iik

kakirrdr:tiir rei

cm]

.1)

tl6.t{)o

r..

crn,'de

u5,l

Dikalikan

lil.. I

miir'i;ii'r

0,620948
51,48

3g1g i:_"fiv -l;rg1

kak ir

i,2

mc1.er r-e1:li

0,441M

mii3

inci/jam

inhil

i{)r},{).i7

-r-

mil/jam
km/jam
mil lauYjam (knot)
inci/jam

Hasil

ri.,'lt1:.it ir

granr
massa pouncl
kg

newton
dyne

pound
pound
gram
m8
pound
kg

.T"T

361
360

Air membeku pada: OoC : 32"F = 2'73,16'K = 491'69'R


Air mendidih pada: 100'C : 212'F = 373,16"K = 671'69'R

Berat Jenis

Dikalikan
gram/cm3
pound/inci3

0"K meruPakan suhu nol mutlak

Hasil

dengan

g/liter

1000

gramlcm3
gram/ cm3
gramlcm3

27,680

pound/gallon AS

0,1 1983

pound/kaki3

0,016018

Kerja dan Energi

Satuan panas Inggris

(Btu)

Btu
Tekanan

Dikalikan

dengan

Hasil

mm air raksa (mm-Hg)


mm-Hg
mm-Hg

1333,22

dyne/cm2
atmosfer
millibar (mb)
pound/inci2 (psi)

inci-air raksa (in-Hg)


inci-Hg
millibar
millibar
atmosfer
atmosfer
atmosfer
pound/inci2 (psi)
kaki air

o,001315
1,33

0,492
33,9

1,0548

dyne/cm2

760

mm-Hg

t4,7

pound/inci2 (psi)

Btu/pound

1,45

pound/inci2 (psi)
millibar

l0-2

1013,25

Sudut

derajat (")
derajat
radian
radian

60
0,017453
57,2958
3437,75

Hasil

menit(')

grade
grade

54

radian (rad)
derajat
menit
derajat
menit

menit

60

detik (")

0,9

102r

pound-kaki

0,737 56

x l0
x l0-rl

9,80665

2,6845

Btu
Btu

3,969
9,4805

joule mutlak
joule rr,utlak
joule mutlak
joule
joule/gram

106

101,328

I,35582
2,326

'F :
"6 :
"6 :
.p :

deraiat Fahrenheit
derajat 6s1g1u5
derajat 6s1yin
derajat Rankine

Hasil

dengan

Btu/menit
Btu/menit
Btu/jam
Btu/menit
pound kaki/detik

17,58

watt

0,023575
0,293071
12,966

tenaga kuda

watt
pound kaki/detik
watt
tenaga kuda

r,35582

watt
watt
watt

0,001341

ergldetik

5,689
4,426
1,433

1,01971

gram-cm/detik
ergldetik
Btu/menit
pound kaki/menil
kalori/menit

104

107

erg/ detik

ergldetik
tenaga kuda
tenaga kuda
tenaga kuda

Suhu

.F=(9/5)"C+32
"c : (s/9) (.F - 32)
oK='K+273,16
'R='F+459,69

kilowatt jam
gram kalori
elektron volt (ev)

Daya dan Fluk Energi

inci-Hg

0,8843

dengan

erg

l0ro

lO'7

dyne/cmz

68947

Dikalikan

l0i

Dikalikan
Sudut

6,5843

kilogram-meter (kg-m)
tenaga kuda-jam
atmosfer-liter
pound kaki

1000

joule mutlak

?.,93
251,98

joule mutlak (newtonmeter)


joule mutlak (dyne-cm)
gram kalori
erg

pound-kaki

778'26
1054'8

Btu
Btu
Btu
Btu

millibar

Hasil

dengan

Dikalikan

x l0-e
x 10-6
x 10-6

watt
pound kaki/detik
kg kalori/menit

45,7

550
10,688

Kerapatan Energi
1 langley

(ly)

kalori per cm kuadrat (kalori/cm2)

3,69 Btu'zkaki2

.,/

a
363

362

LAMPIRAN C: KONSTANTA-KONSI'AN'I'A'rAN'tli
Viskositas Dinamik
i'l

dengan

r;:l .l

rir:ti !.

2,09

:.:ri';e

t0-2

l0'3

A.

Hasil
pound detik,/kaki2
poise

Botusan

W* :
Ws :
W:
V* :
vw :
vs :
Vv :
V :

berat air tanah


berat padatan (berat contoh kering
berat total contoh tanah tertentrr
volume gas
volume air
volume Padatan
volume ruang kosong
volume total contoh tanah iOrli:llLu

W:Ww+

Wr;

V:Vr+V,
atauV:Vg+Vw+V"
la

tl'

<-rvenJ

B. Hubungan Berat dengon Volume

365

Kependekan

Senarai

Satuan

gram/cm

Berat satuan tanah

gram/cm

Satuan

Persamaan

LAMPPIRAN D: RUMUS.RUMUS STRATISTIXA

(ce. s.)

Y=

l.

R=

W**W,

G(l +

yd

pd

yJenuh

Berat jenis tanah kering


Berat satuan tanah kering
Berat satuan massa tanah
Berat isi tanah
Berat jenis

gram/cm

Berat satuan tanah jenuh

gram/cm

Berat jenis konstituen padat

Ws/V

gram/cm

Berat jenis konstituen padat

Xo,

S,= 7:lrrly*
I* = berat satuan air
: I Eram/cm3
: 6!,J psund/kaki3

Berat jenis bahan tanah


Berat jenis tanah

Persentase volume rongga


n

v=

olo

Rongga kosong
Porositas
Persentase rongga

loo[l

t r,

; wi

i:N

I*'
i:1

'o=

0d

Kandungan lengas
Kandungan lengas
Kandungan lengas
Kandungan lengas
dasar kering tanur

S.

Derajat kejenuhan

= V,/V,
e: n/(100-n)
<o = 100 (W*/WJ

5. Ragom

(s):

olo

lo

6. Simpongon baku

100(v*/V")

s2

(s): Simpangan yang merupakan harga positif dari


akar kuadrat ragam

7. Koefisien rogom

8. Kovarion
s,

)r*r
i= I
N-

c" =
olo

f)l*,-1,
j=
i= N

alami
tanah
tanah
tanah atas

dari harga ke-i

,= l00t\

Nisbah rongga

= faktor timbangan

peubah x,

i:N

Vr*V*
v = 100 t--------l
vg+ vw+

, = roo tf*j

(i*):

tertentu dari rata-rata contohnya

-'olyd

2, 3, ..., N

4. Simpangan rala-rota (so): Rata-rata dari simpangan ukuran contoh

vs-

i : l,

I*,*,
t:l

ww+ww
= l,ll.
C+c
,sal - I + e
r. : w./v,

fa
ss

- (xJ.iri.um

i=N

Isat

keadaan jenuh
Berat satuan konstituen padat

l+e

Id=C,/(l+e)

Berat satuan dalam

. i-N
rf
N/-r-l

100)

3. Ratu-rota hitung tertimbong

(semua rongga terisi oleh,air)

7s

yd

co,u

(xJmatsimum

2. Rata-rata hitung (*) :

r:vR+V*+%
t-

Kisaran (R):

(c"): Adalah koefisien yang mengukur

kepentingan

l:*Tl,lil:":1?:i:il,:",::"J,ffligaimana

(s,r):
,-,

, i:
: frI
i:

,*,- x) (yi- !)

--------f
Harga tersebut merupakan angka tunggal yang menunjukkan hubungan antara dua peubah

9. Koefisien korelosi (r):


n (>XiYi)

r=

::

l=n

yang

t2. Agihan frekuensi teoretik: Adalah suatu agihan frekuensi


dilunakan untuk mencocokkan dengan suatu agihan frekuensi yang
diimati (agihan frekuensi empirik). Beberapa agihan frekuensi

(>Yi)

- 1>x)21 tn (>?) -

(tn( :?)

dimana:

(:Xi)

367

(zY

teoretik (Riggs, 1968) adalah:


a. Agihan normal

S\1n

b. Agihan lognormal
c. Agihan (Gumbel) harga ekstrem tipe I
d. Agihan (Weibull) harga ekstrem tipe III
e. Agihan Pearson tiPe III.

= 1,2, ...,n

>dani
l:l

"k" yang dihubungkan dengan perbo + blxl + b2xz + ........ + bkxk

Di antara sekelompok peubah


samaan regresi: Y :

Koefisien korelasi yang menetapkan asosiasi Y dengan peubah-peubah Xu adalah:

o:Yi + bl:Y(Xl)i + b2:Y(Xri + ... + b*:Y(Xp)i-

:__
l:n
di mana: I

10.

>Y?- l/n(IY)2

irq'

i:1

ar

banyaknya pengamatan
banyaknya peubah-peubah bebas

Koefisien determinasi (12):

Adalah koefisien yang merupakan


kuadrat koefisien korelasi

ll .Kurvofrekuensi: Adalah kurva

yang merupakan agihan/distribusi


kumulatif frekuensi suatu peubah terhadap besarannya
kerapatan

0t

besaran

0.9

0.5

peluang melampaui

Agihan normal dan bentuk kumulatifnya

0.

14,

368

369

LAMPIRAN E: TERMINOLOGI HIDROLIKA

6.Aliranyongberogamsecoroberangsur-angsur..Suatualirandimana
pe.rUa-tta, leluk berlangsung secara berangsur-angsur dalam arah

l.

Pengaruh orus balik: Meningkatnya permukaan air (pool) untuk


suatu jarak yang jauh ke arah hulu dari pool karena adanya bangunan hidrolika seperti bendungan.
2. Kurvo urus bulik: Penampang permukaan air (dalam aliran yang
tidak seragam) karena pengaruh arus balik (backwater).
3. Kedolamon (jeluk) kritis: Jeluk air dalam suatu saluran apabila energi
spesifik adalah minimum.

h"=
di mana:

(qz/g)%

h. :
9:
g:
vc :

aliran. Garis energi, permukaan air dan dasar saluran kesemuanya

mukaan

g.

jeluk kritis
debit per satuan lebar (m3ldetik/m)
percepatan gravitasi
kecepatan kritis.

kesatuan.

untuk F

) l, aliran adalah superkritis.

Radius hidrolik: Adalah jeluk hidrolik rata-rata dari air yang


dihitung sebagai nisbah luas yang basah dengan perimeter basah dari

berdekatan.

f,

menggambarkan pengaruh gravitasi terhadap keadaan aliran. pada


saluran-saluran yang terbuka:

F = v/(eD)h
di mana: v : kecepatan rata-rata aliran (m/detik)
g = jari-jari hidrolik : A,/B (m)
A = luas basah (m)
B : lebar permukaan air (m).
Untuk F = l, aliran adalah kritis; F < l, aliran adalah subkritis, dan

yang

berubah menjadi aliran subkritis.

Aliron tok meroto: Aliran tanpa kondisi-kondisi keseragaman'


ll . Aliron saliran terbuka:
1. Aliran tetap
A. Aliran seragam
B. Aliran tak seragam (aliran beragam)
a. Aliran tetap yang beragam secara berangsur-angsur
b. Aliran tetap yang beragam secara cepat'
2. Aliran tak tetap
A. Aliran merata tidak tetaP
B. Aliran tidak tetap
a. Aliran tidak tetap beragam secara berangsur-angsur'
b. Aliran tidak tetap yang beragam secara cepat'
12. Aliran yang berogqm secora cepat: Aliran dengan jeluk yang
10.

4. Kecepatan kritis: Kecepatan di bawah mana semua turbulensi dijadikan kabut oleh viskositas air. Aliran kritis berlangsung apabila
bilangan Froude adalah sama dengan

air dalam arah aliran karena aliran superkritis

suatu irisan melintang suatu saluran.


9- Aliran laminer: Aliran di mana viskositas memainkan peranan yang
nyata dalam perilaku aliran. Partikel-partikel air bergerak dalam
jalur-jalur yang jelas rata atau mulus, dan lapisan-lapisan cairan
yang sangat tipis nampaknya meluncur di atas lapisan-lapisan yang

= v!/E

5. Bilangan Froude: Adalah suatu nisbah yang tak berdimensi yang

dapat mempunyai kemiringan yang berlainan'


Limpaton hidrolik: Peningkatan secara tiba-tiba elevasi tinggi per-

berubah dengan tiba-tiba pada suatu jarak yang pendek. Contohnya

adalah lompatan hidrolik.

tr

13. Aliron tetop: Aliran di mana

"

l
I

&

fi

jeluk dan debit

pada,

dengan waktu.
14.

kecepatan,

misalnya, suatu irisan melintang tertentu tidak berubah harganya

15.

16.

Aliran subkritis: Aliran yang mengalir (kecepatan aliran rendah).


Atiron superkritis: Aliran yang cepat (kecepatan aliran tinggi).
Energi total aliran: Jumlah elevasi dengan acuan pada suatu garis
datum (z), tinggi piezometrik (h) dan tinggi kecepatan(v2/29).

l',T-

-=-f
371

370

LAMPIRAN F: KOEFISIEN KEKASARAN MANNING


v2/29

BAGIAN I

garis
17.
18.

Menurut prosedur yang dikembangkan oleh Cowan (dalam Chow,


1959; halaman 106
- 109), koefisien kekasaran Manning n diperkirakan
sebagai berikut:

1 datum

n=(no+nl+n2+n3+ny'm,

Aliran turbulen: Aliran di mana gaya-gaya inersia adalah penting.


Partikel-partikel air bergerak pada jalur-jalur yang tidak beraturan.
Alirqn yang seragon: Aliran di mana kecepatan-kecepatan pada
titik-titik yang bersesuaian pada irisan-irisan melintang yang identik

Harga-harga yang tepat untuk tiap-tiap koefisien ini dapat dipilih


dari Tabel berikut ini dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang
telah ditunjukkan di bawah ini. Metode ini tidak mempertimbangkan
beban sedimen yang diangkut oleh air yang mengalir dan harus
diterapkan pada kanal-kanal (saluran) yang kecil dan sedang (jari-jari
hidrolik kurang dari 4,5 meter) tanpa lapisan.

sepanjang suatu saluran adalah sama. Garis energi, permukaan air


dan dasar saluran kesemuanya paralel satu sama lain. Rumus-rumus

Chezy dan Manning dikembangkan untuk kondisi-kondisi aliran


yang seragam.

rl o

lr.

Dalam memilih harga nl, derajat ketidakteraturan dianggap }a/us untuk permukaanpermukaan yang sebanding dengan yang terbaik yang dapat dicapai dengan bahan-bahan
yang bersangkutani minor untuk saluran-saluran yang dikeruk dengan baik. lereng-lereng
sisi saluran atau saluran drainase yang tergerus atau tererosi sedikit; sedang untuk saluransaluran yang dikeruk, lereng-lereng sisi saluran atau saluran drainase yang tergerus atau
tererosi secara sedang; dan dianggap paroh lunt:uk tanggul-tanggul sungai alami yang
tergerus, sisi-sisi saluran atau saluran drainase yang tererosi dan tergerus dengan parah,
dan permukaan-permukaan saluran yang tak berbentuk, bergerigi dan tak teratur yang
tefgali pada batuan.
Dalam mcmilih harga n2, sifat keragaman dalam ukuran dan bentuk penampang
melintang dianggap berongsur-angsar apabila perubahan ukuran dan bentuk terjadi
berangsur-angsv; kadang-kadont bergsntidn apabila bagian-bagian yang besar dan kecil
kadang-kadang bergantian atau apsbila perubahan-perubahan bentuk menyebabkan
pcrgeseran aliran utama yang kadang-kadang dari sisi ke sisi; dan keropkali bergantian
apabila bagian-bagian yang besar dan kecil kerap kali bergantian atau apabila perubahanpcrubahan bcntuk menycbabkan pcrgeseran aliran utama yang sering kali dari sisi ke sisi.
Pemilihan harge
didasarkan pada adanya dan sifarsifat penghalang seperti endapan sampah, tunggak, akar-akar yang telanjang, batu-batu besar, dan kayu-kayu yang
jatuh dan tersangkut. Kita harus ingat bahwa keadaan-keadaan yang dibahas dalam
langkah-langkah yang lain tidak boleh dievaluasi ulang atau dihitung dua kali dalam
pcmilihan ini. Dalam menilai pcngaruh nisbi dari penghalang-penghalang, perhatikan halhal berikut: besarnya dalam menduduki atau mengurangi luas air rata-rata, sifat-sifat
penghalang (bcnda-bcnda runcing atau tumpul menyebabkan lebih banyak pcrgolakan air
daripada benda-benda yang melengkung dan halus) dan kedudukan dan jarak antara
penghalang dalam arah transversal atau longtudinal dalam jangkauan yang dipertim-

Qangkan.

t13

372
Dalam memilih harga nn, diperhatikan derajat pengaruh vegetasi.
(l) Rendoh untuk kondisi-kondisi yang sebanding dengan hal-hal berikut: (a) pertumbuhan yang rapat dari rumput-rumput turf yang lentur atau gulma, dengan contoh-contoh
rumput Bermuda dan rumput biru, di mana jeluk rata-rata aliran 2 sampai 3 kali tinggi
l0 tahun pada musim dorman
dari: (b) pohon-po[on willow dan cottonwood umur 8
(winter), tumbuh bersama dengan beberapa gulma dan semak-semak, tidak ada vegetasi
berdaun, di mana radius hidrolik lebih besar dari 2 kaki willow semak musim semi umur
lebih kurang I tahun tumbuh bersama beberapa gulma berdaun penuh sepanjang lereng,
tidak ada vegetasi yang nyata sepanjang dasar saluran, di mana radius hidrolik lebih besar

0,020
Bahitn 1'ang telliblrt

dari 2 kaki.
(2') Medium (sedang) untuk kondisi-kondisi yang sebanding dengan hal-hal berikut:
(a) rumput-rumput turf di mana jeluk rata-rata aliran adlah 1 sampai 2 kali tinggi vegetasi,
(b) rumput berbatang, gulma, atau semai pohon dengan penutupan sedang di manajeluk
rata-rata aliran adalah 2 sampai 3 kali tinggi vegetasi, dan (c) tumbuhan semak, kerapatan
sedang, sama dengan Willow umur I
- 2 tahun, musim dorman (dingin), sepanjang lereng
samping suatu saluran dengan tanpa vegetasi yang nyata sepanjang dasar saluran, di mana
radius hidrolik lebih besar dari 2 kaki.
(3) IingSi untuk kondisi-kondisi yang sebanding dengan hal-hal berikut: (a) rumputrumput turf di mana rata-rata jeluk aliran kurang lebih sama dengan tinggi vegetasi, (b)
ranting-ranting anakan pohon lentur, seperti willow, cottonwood, atau salt cedar di mana
rata-rata jeluk rata-rata aliran adalah 3 sampai 4 kali tinggi vegetasi.
(4) Sangot lrnggi untuk kondisi-kondisi yang sebanding dengan hal-hal berikut: (a)
mmput-rumput turf di mana jeluk rata-rata aliran kurang dari setengah tinggi vegetasi, (b)
willow semak musim tumbuh umur lebih kurang I tahun, tumbuh bersama dengan gulma
berdaun penuh sepanjang lereng samping atau tumbuhan rapat dari cattails sepanjang
dasar saluran dengan sembarang harga radius hidrolik sampai l0 atau 15 kaki, dan (c)
pohon-pohon musim tumbuh, tumbuh bersama dengan gulma dan semak-semak semua
berdaun penuh, dengan sembarang harga radius hidrolik sampai l0 atau 15 kaki.
Dalam memilih nilai mr, derajat pemeanderan tergantung pada nisbah antara panjang meander dan panjang lurus saluran. Pemeanderan dianggap minor (kecil) untuk nisbah 1.0 sampai 1.2, cukup untuk nisbah 1.2 sampai 1.5, dan besar untuk nisbah 1.5 dan
lebih besar.

Cqtatan:

llr,

lt

l. v: (l/n)R2/$n

RumusManning

2. C : (l/n)Rt/6
3. di mana: v : kecepatan rata-rata (m/detik)
n : koefisien kekasaran Manning
C : koefisien kekasaran Chezy
P : jari-jari hidrolik (meter)
S = kemiringan garis energi.

Harga-harga

Kontiisi- Kondisi kanal (saluran)


Bumi
Pirtahiln

0.025
Da

n0

-Kcrikil
Delujat kctidak
teral tlratl

0,024
0.028

kasar

0,000

Halus

0.005
0,0 t0

nl

Tclang

0.020

P-arah

0,000

Kcltgitntlttr trts-

ln nreltntltng kanal (saluran)


['cngitr-uh nisbi

Berangsur-angsut
bergantian

-Tfdfigkala

iz

0.005

0.01M,015

-TEii-nlTErgantian

0.000

Diabaikan

0.01(H.0(5

penghalang

nj

0.02H),03t)
0J10-0.060

Besat

0.005{.010

Rcndah
Vcgc t ast

Medium (scdang)

-T-*sc,----

n{

0.05(H),lw

Sangal tlnggr

]
I

i)ulirlirl Prnlerrrrtler:rtt

Minrrr

(kee

CutiuP bcsar
Besltr

I.000

il)
m5

1,200

-I

,lf

375

374

BAGIAN 2

Lanjutan:

Tabel-tabel berikut (Chow, 1959, hal. ll0-ll3) memberikan daftar koefisien kekasaran Manning n untuk pelbagai saluran buatan dan
sungai alami. Untuk tiap tipe saluran diberikan n minimum, normal dan
maksimum. Harga-harga normal yang diberikan untuk saluran-saluran
buatan hanya disarankan untuk saluran-saluran dengan pemeliharaan
yang baik. Angka-angka yang tebal umumnya dianjurkan untuk harga

7. Tak difinish, bentuk kaYu kasar


e. Kayu
1. Batang
2. BerlaPis, diawetkan

f. Liat

l. Ubin drainase biasa


2. Saluran pembuang divitrifikasi
3. Saluran Pembuang divitrifi-

desain,

Tipe saluran dan pemeriannya

A. Aliran

A.l

tertutup sebagian mengalir penuh

0,009

Logam

a. Kuningan, halus
b. Baja
l. Batangan dan dilas

2. Dikeling (dipaku) dan spiral

0,010
0,013

0,012
0,016

0,014
0,017

c. Besi tuang

l.

Dilapis

2. Tak dilapis

0,010

0,01I

0,013
0,014

0,014
0,016

0,014

0,016
0,017

d. Besi tempa

l. Hitam
2. Digalvani
e. Logam gelombang
l. Subdrain

2. Stormdrain
A.2. Bukan logam
a. Lusit
b. Gelas
c. Semen

0,012
0,013
0,017
0,021

0,01I

d. Beton

l.

0,019

0,0u

0,021
0,030

0,009

0,010

0,010

0,013

0,01I

lobang pemeriksaan, lobang


masuk, lurus, dst.

5. Tak difinish, bentuk baja


5. Tak difinish, bentuk kayu halus

j.

Tembok, disemen

0,013

B.l.

0,01I

0,013

0,012

0,014
0,014

0,0t2

0,013
0,012

o,ot2

0,015
0.013
0,014

0,017

0,014
0,016

0,017

0,020

0,010
0,015

0,012
0,017

0,014
0,020

0,01 I

0,013
0,014

0,017

0,01I

0,013

0,015

0,017

0,014

0,016

0,018

0,01I
0,012

0,013
0,015

0,015
0,017

o,012

0,013
0,019
0,025

0,016
0,020
0,030

0,012
0,021

0,012
0,013
0,025

0,014
0,017
0,030

0,010

0,01I

0,013

0,01I

0,013

0,01 5

0,010
0,011

0,012
0,01 2

0,014
0,015

0,01 I

0,01 3

0,01

0,012
0,010

0,01 5

0,01 8

0,014

0,01 7

0,01I

0,01

0,01

0,013

0,01 5

0,016

0,015

0,017

0,020

0,016
0,018

0,017

Logam

a. Permukaan baja halus


l. Tak dicat
2. Dicat

0,01l

B.2. Bukan logam


a. Semen

l.

Permukaan halus

2. Diplester

b. Kayu
a)

0,010

0,015

B. Saluran DilaPis atau Dirakit

0,013
0,015

Gorong-gorong,

lurus, bebas sampah


2. Gorong-gorong, dengan lengkungan, sambungan dan kotoran
3. Difinish
4, Saluran pembuang, dengan

)t

kasi, dengan lobang Pemeriksa, lobang masuk dst.


4. Subdrain divitrifikasi dengan
sambungan terbuka
g. Pekerjaan bata
l. Diglasir
2. Dilapis plester semen
h. Saluran Pembuang dilaPis
dengan hancuran tulang, dengan
lengkungan dan sambungan
i. Saluran Pembuang, dasar halus

b. Bergelombang
0,008
0,009
0,010

2. Plesteran

0,0t6

Normal

Tipe saluran dan PemeriannYa

l. Diketam, tak diawetkan


2. Diketam, dikreosot
3. Tak diketam
4. Papan dengan jalur-jalur
5. Dilapis dengan kertas atap

c. Beton

l.

Dihaluskan dengan "cetok"


2. Finish yang mengambang
3. Finish dengan kerikil

di bawah

T
3',77

376
[-anl utan

Lanjutan:

Tipe saluran dan pemeriannya


4. Tidak difinish
5. Cunit, seksi bagus
6. Gunit, seksi bergelombang
7. Pada batuan yang digali baik
8. Pada batuan yang digali tak
baik
d. Dasar beton difinish mengambang
dengan sis!sisi:
l. Batu halus dalam plester
2. Batu acak dalam plester
3. Tembok semen, plester

4. Tembok semen
5. Tembok kering

Minimum I
0,014
0,016
0,018
0,017

0,022

0,017

0,020

5. Dasar berbatu dan tanggul ber-

0,0t9

0,023
o.025

6. Dasar batu bundar dan sisi bersih

0,022

gulma

1. Tanpa tumbuhan

2. Sedikit semak Pada tanggul

o,027

0,020

0,016
0,020
0,020

Beton cetak
2. Batu acak dalam plester
3. Tembok kering

0,017
0,020

0,020
0,023

0,025

0,023

0,033

i.

0,036

0,01I
o,012

0,013
0,015

0,015
0,018

0,017
0,023
0,013

0,025

0,030
0,035
0,017

0,013
0,016
0,030

0,013
0,016

e. Saluran tak dipelihara,


gulma dan semak tak diPotong
l. Gulma lebat, setinggi jeluk aliran
2. Dasar bersih, semak di sisi
3. San.ra dengan tinggi maksimum
aliran

o,o24
0,024
0,030
0,035

0,026

Bata

l.

Diglasir

2. Dalam plester semen


g. Tembok

l.

Tembok semen
2. Tembok kering
h. Ubin lapis
i. Aspal
L Halus
2. Kasar
j. Lapisan tumbuhan

0,032
0,015

C. Penggalian atau Pengerukan


a. Tanah, murni dan seragam
l. Bersih, baru saja selesai
2. Bersih, sesudah pelapukan

0,0r6

0,018

0,018

0,022

0,020
0,025

0,022

0,02s

0,030

0,022

0,02'7

0,033

0,025

0,030

0,033

0,030
0,028

0,035
0,030

0,M0

3. Kerikil, bagian Yang seragam'


bersih

4. Dengan rumput pendek, sedikit


gulma

b. Tanah, berkeluk-keluk dan lembam


2. Rumput, sedikit gulma
3. Gulma lebat, atau tumbuhan
air dalam saluran dalam
4. Dasar tanah dan sisi tembok

0,035

Halus dan seragam

2. Bergerigi dan tak teratur

e. Dasar kerikil dengan sisi-sisi dari

l.

0,035
0,040

0,040
0,050

0,025
0,035

0,028
0,050

0,033
0,060

0,o25
0,035

0,035
0,040

0,040
0,050

0,050
0,040

0,080
0,050

0,120
0,080

0.045

0,070

0,025

0,030

0,033

0,030

0,035

0,040

0,033

0,040

0,045

0,015

0,045

0,050

0,040

0,048

0,055

0,045

0,050

0,060

0,050

0,070

0,080

d. Potongan batu

0,017
0,020
0,020
0,025
0,030

0,015

0,025
0,030

c. Digali atau dikeruk

0,020

l.
0,0t7

Maksimum

Tipe saluran dan PemeriannYa

Normal

D. Sungai-sungai Alami
D. l. Sungai-sungai kecil (lebar bagian
atas pada banjir ( 100 kaki)
a. Sungai di dataran
l. Bersih, lurus, tingkat Penuh,
tak ada celah atau kolam

2. Samadengan atas, tetaPi banYak


batu dan gulma
3. Bersih, berkeluk, beberaPa kolam dan beting
4. Sama dengan atas, tetapi dengan
beberapa gulma dan batu-batu
5. Sarna dengan atas, tingkat lebih
rendah, Iebih banyak lereng tidak
efektif dan bagian-bagian
6. Sama dengan 4, tetapi lebih
banyak batu
7. Sungai lembam, kolam-kolam
dalam
8. Sungai sangat bergulma, kolam
lam, atau jalur banjir dengan hutan lebat dan tumbuhan bawah
b. Sungai-sungai pegunungan, tanpa
buhan dalam saluran, tanggul biasanya terjal, pohon-pohon dan semaksemak sepanjang tanggul tenggelam
pada air tinggi

0,075

0,1 50

379

378
Lanjutan:

Lanjutan:

l.

Dasar kerikil, batu bundar, dan


batu-batu besar

Tipe saluran dan PemeriannYa

Maksimum

Tipe saluran dan pemeriannya

0,030

0,040

0,050

0,040

0.050

0,070

0,025
0,030

0,030
0,035

0,03s
0,050

0,020
0,025
0,030

0,030
0,035
0,040

0,040

0,035

0,050

0,070

0,035

0,050

0,060

0,040

0,060

0,080

0,045

0,070

0,1 10

0,070

0,100

0,160

a. Bagian Yang biasa dengan tanPa


batu-batu besar atau semak
b. Bagian yang tak teratur dan kasar

2. Dasar batu-batu bundar dengan


batu-batu besar

D.2. Dataran banjir


a. Padang rumput, tanpa semak

l.

Rumput pendek

2. Rumput ringgi
b. Tanah pertanian
l. Tak ditanami
2. Tanaman dewasa berbaris
3. Tanaman ladang dewasa
c. Semak
l. Semak tersebar, gulma lebat
2. Semak dan pohon jarang pada
musim dingin
3. Semak dan pohon jarang pada
musim panas
4. Semak sedang sampai tebat, di
musim dingin
5. Semak sedang sampai lebat, di
musim panas
d. Pohon-pohon
l. Willow lebat, musim panas, lurus
2. Lahan yang dibuka dengan tunggaktunggak pohon, tak ada trubusan
3. Sama dengan atas, tetapi dengan
pertumbuhan trubusan yang lebat
4. Hutan lebat, sedikit pohon kecil,
sedikit tumbuhan bawah, tingkat
banjir di bawah cabang
5. Sama dengan atas, tetapi dengan
tingkat banjir mencapai cabang-

!
i

lr

cabang

D.3. Sungai-sungai utama (lebar atas pada tingkat bajir ) 100 kaki).
Harga n kurang dari sungai-sungai
kecil dan sifat-sifat yang sama, ka-

renr tanggul-tanggul memberikan


ketahanan y.ng kurang efektif

i
I

0,1

l0

0,045
0,050

f ,tl

0,200

0,030

0,040

0,050

0,0s0

0,060

0,080

0,080

0,100

0,100

0,120

0,r60

.,1'

a
BAGIAN

Foto-foto berikut (Chow 1959, hal. 116-123) menunjukkan


kanal-kanal (saluran-saluran) dengan harga-harga koefisien kekasaran
Manning n.

{tt

l. n = 0,012. Kanal

yang dilapisi dengan lempengan beton yang mempunyai sambungan

semen murni yang halus dan permukaan yang sangat halus, diulas dengan ctok dan
dengan semen yang dicuci di atas dasar beton.

2. n = 0,014. Kanal beton yang Cituang di balikpelalaran yang kasar dan halus.
3. n = 0,016. Saluran kecil dilapisi beton, lurus, dan seragam, dasar sedikit cekung, sis!

sisi dan dasar tertutup dengan suatu deposit yang kasar, yang meningkatkan harga n'

t,

{, l''
n = 0,018. Pelapisan beton-lempar tanpa perlakuan yang halus. Permukaan tertutup
dengan algae (ganggang) halus dan dasar dengan bukit pasir yang hanyut.
n = 0,018. Kanal bumi yang digali pada suatu lempung berliat, dengan deposit pasir
yang bersih di bagian tengah dan lumpur berdebu yang berlapis di dekat sisi-sisinya.
6. n = 0,020. Pelapisan beton dilakukan pada suaru patahan lava-batuan yang kasar,
digosok bersih, sangat kasar, dan dilubangi dalam.
4.

l
I

0,020. Kanal irigasi, lurus, pada pasir halus yang dipadatkan.


0,022. Pelapisan plester semen yang diberikan secara langsung pada permukaan
kanal tanah. Dengan gulma pada tempat-tempat yang patah dan pasir lepas pada

?. n =
8. n =

dasarnya.

9. n =

0,024. Kanal yang digali pada lempung liat berdebu. bagian dasarnya licin dan

keras.

(13)

'i
i

rI

l)
10.

n -- 0,024, Saluran dilapisi

pada sisi-sisr dan dasar dengan reruntuhan tak bercelah


yang diletakkan kering. Bagian dasar sangat tidak terarur, dengan batu lepas yang
terpencar.
n = 0,026. Kanal yang digali pada lereng, dengan tepi sungai bagian aras kebanyakan

akar-akar willow dan tepi-tepi bagian bawah dengan dinding beton yang terbuat
dengan baik. Bagian bawah rertutup dengan kerikil kasar.
t2 n = 0,028. Kanal dengan bagian bawah berbaruan bundar, di mana rerdapat debu
yang tidak memadai dalam air atau terlalu tinggi kecepatan airnya yang mencegah
pembentukan bagian dasar yang halus dan miring.

pasir pada
13. n = 0,029. Kanal tanah yang digali pada tanah debu aluvial, dengan deposit
rerumputan.
tumbuhnya
bagian bawah dan
14. n = 0,030. Kanal dengan bagian bawah batu bundar yang besar'
15. n = 0,035. Kanal alami, agak tidak teratur lereng sisinya; dasarnya cukup rata, bersih
yang
dan teratur; pada liat berdebu kelabu yang ringan hingga lempung debu coklat
ringan; keraganran dalam irisan melintang sangatlah kecil'

f,

(2r)

ri
16. n : 0,040. Kanal baruan yang digali dengan bahan peledak.
17. n = 0,o40. Saluran pada liat dan lempung berdebu; rereng sisi dasar, dan potongan
melintang tidak teratur; rerumputan pada Ierengnya.
18. n = 0,045. Kanal keruk, lereng-rereng sisi dan dasar tidak teratur; pada liar hiram,

berlilin pada bagian atas hingga kuning pada bagian bawah, sisi-sisi tertutup dengan
semai dan semak, keragaman-keragaman daram potongan merintang sedikit dan
berangsur-angsur.

19.

n = 0,050. Kanal keruk dengan lereng-lereng sisi dan bagian bawah tidak teratur, pada

Iiat lilin yang berwarna gelap, dengan pertumbuhan gulma dan rerumputan. Sedikit

keragaman dalam bentuk potongan melintang untuk keragaman dalam ukuran.


20. n = 0,060. Saluran pada liat berdebu yang berat; lereng-lereng sisi dan bagian bawah
tidaklah teratur; potongan keseluruhan secara praktis terisi dengan pertumbuhan
pepohonan yang berukuran besar, terutama willow, dan cottonwood. Potongan melintang sangat seragam.

= 0,080. Kanal keruk pada liat licin hitam dan lempung liat berdebu kelabu, lerengIereng yang luas dan bagian bawah tidak leratur, tertutup dengan pertumbuhan willow
semak yang rapat, beberapa di bagian bawah; sisanya pada lereng-lereng yang tertutup

21. n

dengan gulma dan suatu pertumbuhan terpencar willow dan poplar, tidak ada daundaunan; beberapa lumpur pada bagian bawah.

ff;'

Ir
tll

rli

ri
22.

n=

0,1 10. sama seperti (21), tetapi dengan banyak daun-daun dan

tertutup sekitar 40

kaki dengan tumbuhan mirip gulma.


23. n : 0,125. Saluran luapan kanal alami pada pasir sedang harus hingga liat halus, tidak
ada lereng sisi; cukup rata dan bagian bawah teratur dengan bagian bawah kadangkadang datar mengelupas; keragaman dalam kedalaman; secara praktis hutan masih

primer, tumbuhan bawah sangat sedikit kecuali kadang-kadang ada tempat-tempat


dengan semak dan pohon-pohon kecil yang kadang-kadang rapat, beberapa kayu
gelondongan dan pohon-pohon yang jatuh mati.
n = 0,150. Sungai alami pada ranah liar berpasir. Aliran sangat berliku-liku, lerenglereng tidak teratur dan bagian bawah tidak rata, Ba,yak akar, pepoh.nan dan semak,
kayu gelondongan yang besar dan hanyutan lainnya pada bagian bawah; pohon_pohon
terus-menerus memasuki kanal karena runtuhnya tanggul-tanggul.

.:tSl.