Você está na página 1de 20

TUGAS BEDAH PLASTIK

LITERATURE TRANSLATE
Perbaikan Bibir dan Hidung Sumbing

Oleh :
Seulanga Rachmani S.Ked

Perceptor :
dr. Bobby Swadharma Putra, Sp.BP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD DR H ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum wr. wb.


Alhamdulillah, puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat
menyusun tugas terjemahan jurnal ini yang berjudul Perbaikan Bibir dan

Hidung Sumbing.
Selanjutnya,tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dalam kepaniteraan
klinik di RSUD Abdul Moeloek Stase Bedah bidang Bedah Plastik dengan
pembimbing yaitu dr. Bobby Swadharma Putra, Sp.BP-RE. Saya menyadari
kekurangan dalam penulisan tugas ini, baik dari bahasa, analisis, dan sebagainya.
Oleh karena itu, Saya mohon maaf atas segala kekurangan. Kritik dan saran dari
pembaca sangat saya harapkan, guna untuk kesempurnaan laporan ini dan
perbaikan untuk kita semua.
Semoga karya ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan wawasan berupa ilmu
pengetahuan untuk kita semua.

Wassalamualaikum wr. wb.

Bandar Lampung, September 2015

Penulis

45
Perbaikan Bibir dan Hidung Sumbing
Roberto Flores and Court Cutting
Sejarah
Perkembangan yang luas tentang Rhinoplasty bibir sumbing tercermin dalam
daftar lengkap dari prosedur yang dibuat untuk mengobati kelainan tersebut.
Seperti pada banyak kasus dimana berbagai macam teknik diciptakan untuk
memecahkan masalah tersebut, banyakanya jumlah pemecahan masalah yang
diberikan hanya sebagai bukti bahwa banyak kesulitan yang dihadapi untuk
mengobati kelainan tersebut dan kurangnya efektivitas dari pemecahan masalah
tersebut. Oleh karena itu kontribusi yang diberikan yang telah memberikan hasil
yang bertahan lama akan dituliskan secara terperinci termasuk anatomi dan teknik
prosedur. Poin penting yang harus disebutkan: tingkat deformitas nasal setelah
rekonstruksi hidung sumbing tidak dapat dielakkan. Tetapi, tingkat keparahan
deformitas tersebut serta tingkat kesulitan prosedur yang dilakukan tergantung
dari keterampilan ahli bedah. Selain menguasai teknik yang disebutkan, ahli
bedah plastik juga harus berusaha untuk memperbaiki deformitas hidung untuk
mencegah timbulnya deformitas yang lebih parah dikemudian hari.
Pemeriksaan Fisik

Tentukan waktu yang tepat untuk operasi


Perhatikan retrusi tulang maksila dan kemungkinan terjadinya Le Fort I
Perhatikan kelainan pernapasan
Identifikasi deviasi tulang dorsal
Perhatikan deviasi bagian tengah
Identifikasi malposisi kartilago ujung hidung
Observasi kulit yang asimetris, termasuk basis ala

Anatomi
Salah satu kekuatan yang mempengaruhi bibir dan hidung sumbing adalah
kelaian maksila, yang membentuk dasar hidung. Latham menyebutkan bahwa
bagian luar premaksila, defisiensi tulang anterior nasal, dan retroposisi dari

bagian dasar crus medial yang merupakan faktor penyebab yang menyebabkan
terjadinya deformitas ujung nasal, bagian bawah dan atas dari kartilago lateral
dan basis tulang. Penelitian kadaver pada deformitas kartilago lateral setelah
deformitas maksila telah disebutkan oleh Broadbent dan Woolf. Patogenesis
malposisi maksila pada bagian septal dan deviasi tulang dorsal telah disebutkan
dalam deformitas tilted tripod Hogan dan Converse. Mereka menyebutkan bahwa
retraksi alveolus pada sisi yang sumbing dan proyeksi premaksila membuat
buckling septum nasal dan bagian tulang dorsal yang menyebabkan terjadinya
deviasi. Salah satu deskripsi yang paling lengkap dari deformitas bibir dan
hidung sumbing telah disebutkan oleh Huffman dan Lierle. Deformitas tersebut
termasuk: (1) deviasi nasal tip pada sisi yang tidak sumbing; (2) kubah ala yang
berpindah ke dorsal; (3) hilangnya bagian tengah crura pada bagian yang terkena;
(4) ala yang menekuk ke dalam; (5) Tumpul alur alar-wajah; (6) kekurangan basis
rangka bawah ala dari sisi yang terkena; (7) lateralisasi dari dasar alar pada sisi
yang terkena; (8) lingkar lubang hidung besar di sisi yang terkena; (9)
perpindahan punggung hidung; (10) disingkat Columella di sisi yang terkena;
(11) dorsal perpindahan dari footplate dari crus medial pada sisi yang terkena;
(12) miring miring dari columella. Pada daftar tersebut, Berkeley menambahkan
jaring vestibular pada bagian dalam ala pada sisi sumbing yang dapat
menyebabkan obstruksi jalan napas. Dua detail lain yang ditambahkan Cutting
termasuk; perpindahan dari tepi inferior tulang rawan alar di sisi sumbing,
melenyapkan segitiga lembut, dan kekurangan dari tulang hidung anterior,
terutama pada pasien sumbing bilateral.
Langkah Teknis
Pertimbangan pertama dalam menilai pasien dengan kelainan celah bibir hidung
adalah menentukan waktu yang optimal untuk melakukan operasi hidung
sekunder. Keputusan yang tepat memaksimalkan hasil estetika prosedur dengan
dampak psikososial dari deformitas. Idealnya, rekonstruksi bibir dan hidung
sumbing dilakukan setelah waktu maturnya wajah, menghilangkan variabel
pertumbuhan berikutnya pada hasil operasi. Namun, dampak psikologis dari
suatu kelainan hidung yang parah mungkin meminta ahli bedah untuk melakukan

intervensi dini. Anak-anak yang memiliki perbaikan bibir sumbing tanpa koreksi
hidung dapat memiliki cacat yang secara signifikan dapat berdampak terhadap
kehidupan sosial mereka. Memang kami telah melakukan operasi hidung
sekunder pada anak sedini 6 atau 7 tahun. Jika Rhinoplasty awal dilakukan,
pendekatan anatomi konservatif digunakan untuk melestarikan pertumbuhan
wajah. Waktu operasi yang terbaik harus disesuaikan untuk masing-masing
individu. Anak-anak yang tampak baik pasti bisa menjalani operasi setelah
pertumbuhan wajah yang matur telah terjadi. Pasien yang kehidupan sosialnya
kurang baik, sering absen dari acara sekolah atau sosial, dan pasien dengan cacat
hidung yang signifikan harus dipertimbangkan untuk intervensi awal. Jika
rekonstruksi hidung awal dilakukan, orang tua harus diberitahu bahwa operasi
hidung kedua akan diperlukan jika pertumbuhan berikutnya menghasilkan cacat
lebih lanjut untuk dorsum dan tip. Setelah waktu operasi telah ditentukan, oklusi
dan proyeksi midface dinilai. Retrusi midface umumnya berkembang pada pasien
bibir sumbing selama pematangan wajah, yang mengarah ke cekung midfasial
dan maloklusi (Gambar. 45,2).

Gambar 45.1 Ilustrasi Hogan dan Converse deformitas "tripod miring". Deviasi
dari alveolus. Hasil penekukan septum dan putaran dorsum. Hogan VM,
Converse JM. Dalam: Grabb WC, Rosenstein SW, Bzock KR eds. Celah bibir
dan langit-langit: Boston: Little, Brown, 197

Gambar 45.2Seorang pasien dengan cekung midface signifikan. Rhinoplasty


tidak dipertimbangkan sampai bedah ortognatik dilakukan.
Perbaikan tulang basis, biasanya pada Le Fort I dengan osteotomy, harus
dilakukan sebelum operasi hidung. Kemajuan anterior rahang atas, yang
berfungsi sebagai dasar untuk hidung, akan meningkatkan proyeksi ujung,
meningkatkan sudut nasolabial, dan dapat mengembalikan keseimbangan estetika
pada wajah. Perubahan ini dapat mempengaruhi perencanaan bedah Rhinoplasty
sekunder atau meniadakan kebutuhan untuk operasi hidung seluruhnya (Gambar.
45,3). Kami tidak melakukan rekonstruksi hidung sumbing pada saat bedah
ortognatik. Karena kelainan ujung parah khas pada pasien bibir sumbing, open
Rhinoplasty dilakukan untuk semua kasus, menyelamatkan pasien dengan cacat
ringan. Meskipun perhatian pada deformitas nasal sumbing unilateral telah
difokuskan pada koreksi ujung, penataan kembali anatomi kubah tanpa mengatasi
penyimpangan ke arah dorsal akan menghasilkan hidung bengkok dan cacat
(Gambar 45.4 dan 45.5). Deformitas bibir dan hidung sumbing unilateral
biasanya akan menyebabkan deviasi dorsal dan septum nasal yang ekstrim
dibandingkan dengan yang biasanya terlihat pada pasien Rhinoplasty biasa dan
melibatkan kartilago septum. Teknik yang dipakai penulis untuk rhinoplasty bibir
sumbing dimulai dari reseksi submukosa. Septum dimulai dari intranasal, dari sisi
yang sumbing. Mucoperikondrium pada bagian anterior septum kartilago dan

vomer diinsisi dengan pisau nomor 15 dan flap mucoperikondrial dilebarkan


untuk melingkupi septum serta bagian dasar hidung. Karena septum kartilago dan
dasar hidung berasal dari embriologi yang berbeda, mucoperikondrium dibagi
pada batas kedua struktur tersebut sehingga membutuhkan diseksi tajam. Setelah
flaps mucoperichondrial ditinggikan bilateral, septum diambil, dengan hati-hati
untuk mengambil setidaknya 8 mm dari bagian atas dan bawah kartilago.
Osteotomi 7 mm kemudian digunakan untuk memisahkan vomer yang
menyimpang dari dasar hidung. Dengan bantuan dari rongeur Takahashi, vomer
yang menyimpang dihapus, bersama dengan pelat perpendikular, posterior ke
sphenoid dan superior ke atap hidung. Setelah reseksi submukosa radikal, dorsum
tulang diluruskan menggunakan osteotomy monobloc hidung seperti dijelaskan
oleh Blair dan Brown (Gambar. 45,6). Operasi septum menghilangkan bagian di
septum yang akan mendorong tulang hidung kembali posisi yang menyimpang
sebelumnya. Bagian dorsal yang berupa tulang diosteotomized bersama ketiga
sisi tulang yang memindahkan dorsum menjadi satu bagian. Oleh karena itu serak
tulang dan infracturing merupakan kontraindikasi saat melakukan osteotomy
monobloc, karenakominusi dari dorsum tulang dapat terjadi. Osteotomies lateral
pertama dilakukan dengan hati-hati untuk tetap dibawah tulang hidung. Sebuah
sayatan vertikal kecil kemudian dibuat di ujung hidung dengan pisau nomor 15
ke tulang. Osteotomi ukuran 3 mm diarahkan ke bawah plat kribiform digunakan
untuk transeksi plat perpendcular dari ethmoid dan tulang hidung di sisi sumbing.
Osteotomy ini maju sedikit ke dalam tulang hidung di sisi yang berlawanan.
Tekanan digital yang lembut digunakan untuk memutar bagian dengan posisi
yang benar. Dasar septum tulang rawan kemudian dialihkan ke sisi tulang
belakang hidung anterior berlawanan sisi sumbing dan dijahit ke posisi
menggunakan Vicryl atau jahitan yang diserap lainnya. Pasien diinstruksikan
untuk mengangkat jahitan satu minggu setelah prosedur dan, dengan bantuan
cermin, melakukan manual "microadjustments" ke punggung tulang untuk
memastikan keselarasan yang optimal. Bahkan setelah reseksi submukosa radikal
dan monobloc osteotomy, deviasi septum tulang rawan masih bisa tetap. Dalam
kasus ini "spreader-strut" graft digunakan untuk menyamarkan penyimpangan
yang tersisa. Graft serbaguna berbentuk L ini pada dasarnya adalah sebuah graft

penyebar dengan ekstensi ke posterior atau kaudal daerah tulang rawan lateral
yang lebih rendah, ehingga menghasilkan tip support (Gambar. 45,7). Graft
dimasukkan unilateral diantara kartilago lateral bagian bawah dan bagian septum
yang berlawanan dengan deviasi septum dan dijahit menggunakan nylon 5-0
dengan jahitan matras horizontal. Septum, itu sendiri adalah tempat donor yang
disukai, dan tulang rawan conchal dapat digunakan sebagai pilihan kedua. Graft
penyebar-strut

dapat

dibentuk

untuk

meluruskan

punggung

tersebut,

memperpanjang hidung, dan memperluas katup hidung internal serta memberikan


dorsal augmentation (Gambar 45.8 dan 45.9).

Gambar 45.3 Pasien yang sama pada Gambar. 45,2 setelah Le Fort I dimajukan.
Rhinoplasty tidak dilakukan.

Gambar 45.4Seorang pasien dengan deformitas hidung sumbing. Meskipun


sebagian besar keluar perhatian pergi ke ujung, perhatikan penyimpangan yang
signifikan dari dorsum
Gambar45.5Pasien yang sama pada Gambar 45.4 setelah operasi hidung
sekunder. Ujung hidung telah mengalami koreksi yang cukup namun dorsum
tetap menyimpang, mengorbankan hasil akhir.

Gambar 45.6Monobloc osteotomy hidung setelah Blair dan Brown

Gambar 45.7 strut graft spreader dimasukkan antara tulang rawan lateral yang
atas dan septum di sisi berlawanan deviasi septum.

Gambar 45.8Pandangan lateral pasien sebelum operasi hidung sumbing.


Gambar 45.9Pasien yang sama pada Gambar. 45,8 setelah operasi hidung
sekunder yang penyebar strut graft digunakan. Perhatikan pemanjangan ke
hidung dan ujung support yang diberikan.
Pada bagian ujung, strut penyebar menyediakan support untuk rekonstruksi ujung
hidung. Ini dapat digunakan sebagai kerangka untuk menjahit kubah tulang rawan
bagian bawah yang memutar agar menjadi lebih baik sesuai dengan posisi
anatomi. Bagian sisi graft dapat didesain untuk melampaui kubah, memberikan
proyeksi tip serta definisi. Graft strut penyebar dapat dikombinasikan dengan
banyak graft ujung lainnya dan teknik reposisi tulang rawan lateral yang rendah.
Dalam kasus di mana kartilago lateralis yang rendah telah rusak parah atau
hancur, graft umbrella, seperti yang dijelaskan oleh Tabbal, ditempatkan di atas
spreaderstrut sebagai pengganti kartilago lateralis rendah (Gambar. 45,10).
Tulang rawan lateral rendah yang asimetris adalah komponen yang paling jelas
dar bibir sumbing dan hidung dan telah menerima perhatian yang besar dalam
literatur dengan banyak teknik yang dijelaskan. Metode ini dapat dikategorikan
menjadi 4 teknik dasar: metode jahitan,transeksi dan reorientasi tulang rawan,
onlay grafting, dan reposisi tulang rawan. Dalam kasus asimetri tip ringan, fiksasi
dengan jahitan yang tidak diserap dapat memberikan koreksi yang memadai. Para
penulis lebih memilih bahan jahitan nilon 5-0. Perawatan harus dilakukan untuk
memastikan bahwa jahitan seluruhnya terdapat di lokasi subkutan dan submukosa
untuk menghindari infeksi. Ada banyak teknik transeksi dan reorientasi tulang
10

rawan yang dijelaskan, namun tak satu pun menghasilkan hasil anatomi. Teknik
graft tulang rawan telah dianjurkan oleh banyak untuk memperbaiki asimetrisitas
tip. Kami berikan peringatan kepada pembaca tentang onlay grafting terhadap
tulang rawan lateral bawah yang turun. Tulang rawan biasanya lemah, sehingga
tidak ada kekuatan untuk mendukung onlay graft. Hasil yang didapatkan biasanya
kolaps, bibir tebal di sisi yang di graft dengan adanya tekanan pada apex nostril
dan nasal interna. Grafting tulang rawan ke kartilago lateralis rendah umumnya
lebih efektif bila digunakan bersama dengan strut columellar atau graft strut
spreader. Metode yang kami suka adalah koreksi tulang rawan lateral rendah
dengan reposisi anatomi. Teknik ini melibatkan mobilisasi lengkap kubah yang
tertekan dan membawa serta tulang rawan baik medial atau lateral untuk
mengembalikan kesimetrisitasan kubah. Rekrutmen lateral, seperti yang
dijelaskan oleh Potter melibatkan elevasi lengkap dari krura lateral, diikuti oleh
rotasi medial krura, dan jahitan fiksasi krura medial. Mukosa yang mendasari
krura lateral dimobilisasi oleh tulang rawan sebagai kemajuan VY, mengoreksi
web vestibular (Gambar 45,11-45,16). Metode ini cocok untuk pasien yang telah
memiliki perbaikan bibir sumbing teknik klasik Millard, di mana basis alar
dibawa ke posisi anatomis, tapi kubah yang tertekan tidak dibangkitkan. Hal ini
menghasilkan lubang hidung kecil di sisi sumbing. Teknik Potter akan membawa
kartilago lateral rendah dalam isolasi, yang bertentangan dengan teknik Dibbell
yang membawa ala ke medial. Reposisi simultan dari tulang rawan alar yang
tertekan dan dasar alar lateral dapat dicapai dengan membawa kartilago lateralis
rendah ke medial, seperti yang dijelaskan oleh Brown dan McDowell, Berkeley,
dan Dibbell. The Dibbell Chondrocutaneous Unit advancement adalah metode
yang disukai dari penulis. Eksisi kulit di sepanjang tepi lubang hidung dan
dilanjutkan sebagai sayatan vertikal mengalir di tepi Columella di sisi yang
tertekan, kemudian di bawah dasar alar. Eksisi kulit segitiga ditandai sepanjang
persimpangan bibir sumbing dan luka sayatan dasar alar (Gambar. 45,17).
Dengan sepenuhnya memisahkan krura medial satu sama lain, medial crus
tertekan maju, sesuai kebutuhan, sebagai komposit chondrocutaneous. Melalui
reseksi segitiga dalam bibir sumbing sayatan, dasar alar maju medial. Sebuah
jahitan ditempatkan melalui periosteum dari tulang belakang hidung anterior

11

untuk membubuhkan dasar alar dalam posisi anatomis. Teknik ini dibatasi oleh
pemanjangan yang tidak memadai dari Columella di sisi sumbing dan oleh
paparan suboptimal kartilago kubah, sehingga untuk membentuk kembali
menjadi sulit. Menyadari keterbatasan ini, penulis senior telah mengembangkan
teknik Dibbell dimodifikasi yang dimasukkan ke dalam sayatan operasi hidung
terbuka (Gambar. 45,18). Dengan menggabungkan sayatan operasi hidung
terbuka, unit chondrocutaneous bisa diputar dengan cara yang biasa, dengan
eksposur yang memadai untuk kartilago lateralis lebih rendah (Gambar 45,19
dan 45,20).
Perbaikan masalah kulit dapat menjadi salah satu komponen yang paling
menantang dari rekonstruksi bibir sumbing hidung. Dokter bedah dapat
merekonstruksi kerangka hidung secara detail hanya untuk menemukan kulit di
atasnya yang tidak cukup dibentuk untuk estetis redrape hidung. Karakteristik
keasimetrisan kulit sebelumnya telah dijelaskan oleh Cutting (Gambar. 45,21).
Di sisi sumbing ada columella kecil, overhang dari puncak lubang hidung, dan
lateralisasi sebuah serta kekurangan dari dasar alar. Selain itu, kulit memiliki
"memori," terutama pada pasien bibir sumbing bilateral, portending untuk
retraksi dari amplop kulit kembali ke deformitas aslinya, meskipun membentuk
kembali dari kerangka yang mendasari. Sebuah variasi struktural yang
mempengaruhi perbaikan masalah kulit adalah perpindahan inferior kartilago
lateralis rendah ke daerah segitiga lunak (Gambar. 45,22). Dengan demikian,
tepi inferior dari tulang rawan lateral yang lebih rendah terletak dalam puncak
hidung. Intervensi seperti Millard Z-plasty untuk memperbaiki overhang lubang
hidung memiliki nilai terbatas karena teknik memerlukan transection dari tulang
rawan lateral yang lebih rendah. Untuk memperbaiki overhang lubang hidung,
kita lebih suka sayatan reverse-U seperti yang dijelaskan oleh Tajima (Gambar
45,23 dan 45,24). Sebuah U terbalik ditandai, mulai inferio / medial, di
persimpangan Columella dan septum membran. Jalur ini terus superior dan
lateral, kemudian inferior sebagai U terbalik pada dorsum menjorok. Garis adalah
identik dalam bentuk dan agak lebih kecil dari aspek superior dari lubang hidung
dari sisi non-sumbing. Melalui sayatan ini, kartilago lateral yang atas dan bawah

12

secara luas dirusak dari amplop kulit dan tulang rawan pengungsi lateral yang
lebih rendah dijahit ke posisi anatomis yang benar. Sayatan tersebut kemudian
ditutup, memulihkan bentuk normal puncak hidung. Teknik Tajima juga dapat
dimasukkan ke dalam operasi hidung terbuka dan / atau prosedur Dibbell.

Gambar 45.10 Graft umbrella seperti yang telah dijelaskan oleh Tabbal.

Gambar 45.11Skema ilustrasi dari teknik Potter. Rees dan LaTrenta. Bedah
Plastik Estetika. Saunders, 1994.

13

Gambar 45.12Calon khas untuk teknik Potter. Perhatikan perpindahan tulang


rawan lateralrendah dari sisi yang terkena dengan dekat posisi normal dari dasar
alar.

Gambar 45.13Pendekatan open Rhinoplasty mengekspos kartilago lateral rendah


yang terdisposisi.
Gambar 45.14 Tulang rawan lateral rendah yang terdisposisi dimobilisasi ke
medial berdasarkan lipatan komposit dari tulang rawan dan mukosa. Perhatikan
penggunaan strut spreader.

14

Gambar 45.15tulang rawan lateral bawah ditempatkan dalam posisi anatomis


dan ditempel ke strut spreader.
Gambar 45.16Sebuah stent hidung dapat digunakan untuk mempertahankan
bentuk saluran napas.

Gambar 45.17Deskripsi asli dari teknik Dibbell. Rees dan LaTrenta. Aesthetic
Plastic Surgery Saunders, 1994.
Gambar 45.18Modifikasi pemotongan tentang teknik Dibbell. Operasi hidung
sayatn terbuka dikombinasikan dengan sayatan Dibbell. Sayatan Tajimajuga
dapat ditambahkan. Catatan kurangnya bibir sayatan atas. Rees dan LaTrenta.
Aesthetic Plastic Surgery Saunders, 1994.

15

Gambar 45.19Calon khas untuk teknik Dibbell. Perhatikan lateralisasi dari dasar
alar.
Gambar 45.20Gambar pasca operasi dari pasien yang sama pada Gambar.
45.19.

Gambar 45.21Asimetrisitas kulit seperti yang dijelaskan oleh Cutting. Rees


dan LaTrenta. Aesthetic Plastic Surgery Saunders, 1994.
Perawatan pascaoperasi
Perawatan pascaoperasi untuk pasien bibir sumbing rhinoplasty mirip dengan
pasien operasi hidung tradisional. Karena prosedur ini umumnya lebih agresif
dari Rhinoplasty estetika, pasien harus siap untuk pembengkakan dalam beberapa
minggu terakhir dan pembentukan akhir dari hidung terjadi setelah 1 tahun.
Pasien yang menjalani perbaikan hidung sebelum pertumbuhan wajah secara
penuh mungkin memerlukan operasi hidung sekunder setelah wajah matur. Jika
osteotomy monobloc telah dilakukan, pasien diinstruksikan untuk menekan
tulang hidung yang menyimpang setidaknya tiga kali sehari selama dua minggu
16

setelahbalutan diangkat. Perlu ditekankan bahwa deformitas bibir dan hidung


sumbing adalah salah satu prosedur Rhinoplasty yang paling menantang dan
simetrisitas yang sempurna mungkin tidak selalu menjadi kemungkinan.

Gambar 45.22Bayi dengan bibir sumbing unilateral. Kulit hidung telah dihapus.
Catatan rotasi inferior dan lateral tulang rawan lateral yang lebih rendah,
melenyapkan segitiga lunak (Foto milik Harold McComb).

Gambar 45.23Calon khas untuk teknik Tajima. Catatan puncak lubang hidung
overhang.
Gambar 45.24Gambarpasca operasi dari pasien yang sama pada Gambar.
45.23.

Komplikasi
Komplikasi yang terkait dengan bibir sumbing Rhinoplasty mirip dengan sebuah
operasi hidung tradisional. Pasien harus diperingatkan tentang risiko pendarahan
serta infeksi, terutama ketika cangkok tulang rawan digunakan. Karena eksposur

17

operasi hidung terbuka biasanya digunakan, mungkin terjadi pembengkakan ynag


berkepanjangan, terutama di ujung hidung. Karena kulit mungkin tidak sesuai
dengan kerangka hidung yang dibentuk kembali, mungkin akan terdapat
kekambuhan. Meskipun kami belum mengamati komplikasi tersebut, terdapat
risiko teoritis runtuhnya dorsum nasal ketika melakukan osteotomy monobloc.
Pengobatan terbaik adalah dengan menghindari komplikasi dengan memastikan
setidaknya ada 8 mm dari septum yang mendukung dorsum setelah reseksi
submukosa radikal.
Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan

Kekurangan

Kesimetrisitasan yang sempurna


tidak boleh dijanjikan.
Lakukan bedah ortognatik sebelum

direncanakan,

operasi hidung.
Gunakan
pendekatan

mencegah kominusi.
Jangan menumpuk graft tulang

Rhinoplasty

Jika

osteotomy

monobloc

hindari

untuk

mengikutsertakan dorsum untuk

dalam

deformitas ujung paling ringan.


Pastikan
untuk
mengatasi

rawan

pada

kubah

yang

tertekan.
Meskipun terdapat detail untuk

penyimpangan ketiga menengah

rekonstruksi kerangka, memori

dan atas hidung.


SMR radikal adalah cara yang

kulit dapat membatasi hasil

efektif

kecuali

open

untuk

menghilangkan

spring dari deviasi dorsum.


Memiliki pasien membuat mikropenyesuaian pada tulang hidung

estetika

operasi

dan

tetap

menjadi salah satu masalah


yang

paling

menantangpada

rekonstruksi hidung sumbing.

untuk meluruskan punggung yang

pasca operasi.
Koreksi rendah lateralis tulang
rawan

malposisi

paling

baik

dilakukan oleh reposisi anatomis.

Ringkasan langkah-langkah

18

1. Tentukan waktu yang optimal untuk operasi sebagai keseimbangan


meminimalkan variabel pertumbuhan wajah berikutnya dengan dampak
psikososial dari deformitas.
2. Menilai rahang atas dari retrusi dan maloklusi. Jika pasien membutuhkan terapi
Le Fort I, maka harus dilakukan sebelum operasi hidung tersebut.
3. Tandai insisi open Rhinoplasty, kecuali dalam kasus-kasus dengan deformitas
tip ringan. Insisi Tajima dan / atau Dibbell dapat digunakan denganinsisi open
Rhinoplasty jika diperlukan.
4. Lakukan SMR radikal, dekati hidung dari sisi penyimpangan. Pastikan untuk
menyingkirkan semua vomer dan plst perpendicular yang posterior ke sphenoid
dan bagian atas dari atap hidung. Pastikan bahwa setidaknya 8 mm dari septum
digunakan pada bagian dorsal dan anterior.
5. Tutup ruang mucoperichonial.
6. Lakukan osteotomy monobloc hidung.
7. Jika ada deviasipersisten dari bagian tengah, gunakan graft spreader atau graft
spreader strut dari tulang rawan septum yang diambil sebelumnya. Jika tulang
rawan septum tidak memadai atau tidak tersedia, tulang rawan korupsi conchal
dapat digunakan.
8. Lakukan reposisi Dibbell atau Potter kartilago lateral yang diperlukan.
9. Sisipkan strut columellar yang diperlukan.
10. Jahit bagian kubah.
11.Tutup open Rhinoplasty.
12. Lakukan reseksi basis yang diperlukan.
13. Terapkan jahitan web vestibular sesuai kebutuhan.
Daftar Pustaka
Hogan VM, Converse JM. Secondary deformities of unilateral cleft lip and nose.
In: Grabb WC, Rosenstein SW, Bzoch KR, eds. Cleft lip and palate. Boston:
Little, Brown, 1971.
Huffman WC, Lierle DM. Studies on the pathologic anatomy of the unilateral
harelip nose. Plast Reconstr Surg 1949;4:225.

19

Potter J. Some nasal tip deformities due to alar cartilage abnormalities. Plast
Reconstr Surg 1954;13:358.
Spira M, Hardy SB, Gerow FJ. Correction of nasal deformities accompanying
unilateral cleft lip. Cleft Palate J 1970;7:112.
Tajima S, Maruyama M. Reverse-U incision for secondary repair of cleft lip nose.
Plast Reconstr Surg 1977;60:256.
Bardach J, Salyer K. Surgical techniques in cleft lip and palate. Chicago: Year
Book Medical Publishers, 1987.
Blair VP, Brown JB. Mirault operation for single harelip.Surg Gynecol Obstet
1930;51:81.
Cutting CB. Virtual Surgery Videos. New York: The Smile Train, 2007.
Cutting C, Bardach J, Pang R. A comparative study of the skin envelope of the
unilateral cleft-lip nose subsequent to rotation advancement and triangular flap
lip repairs. Plast Reconstr Surg 1989;84:409.
Dibbell DG. Cleft lip nasal reconstruction: Correcting the classicunilateral defect.
Plast Reconstr Surg 1982;69:264.

20