Você está na página 1de 9

AUDIT PLAN, AUDIT PROGRAM, AUDIT PROCEDURES, AUDIT

TEKNIK, RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS


UNTUK MEMENUHI TUGAS TERSTRUKTUR
AUDITING I
Yang dibimbing oleh Bapak Nasikin, MM., CPA., Ak.

Disusun oleh :
Praditya Putra Perdana

145020307111010

Muhammad Hilmy Al Ibrahim 145020301111034


Rizqi Halim

145020300111044

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
SEPTEMBER 2016
8.1 AUDIT PLAN (PERENCANAAN PEMERIKSAAN)

Standar Pekerjaan Lapangan Pertama :


Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya
Audit plan (perancanaan pemeriksaan) meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan
dan lingkup audit yang diharapkan.
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan, antara lain :
a. Masalah yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha tersebut dan industri dimana satuan
usaha tersebut beroperasi di dalamnya.
b. Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut.
c. Metode yang digunakan oleh satuan usaha tersebut.
d. Penetapan tingkat resiko pengendalian yang direncanakan.
e. Petimbangan awal mengenai tingkat materialitas untuk tujuan audit.
f. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment).
g. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit.
h. Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada pemberi tugas sebagai contoh
laporan audit tentang laporan keuangan konsolidasi.
Prosedur yang dapat dipertimbangkan oleh auditor dalam perencanaan dan supervise biasanya
mencakup review terhadap catatan auditor yang berkaitan dengan satuan usaha dan diskusi
dengan staf lain dalam kantor akuntan pegawai satuan usaha tersebut.
Contoh prosedur tersebut meliputi :
a. Mereview arsip korespondensi, kertas kerja, arsip permanen, laporan keuangan dan
laporan audit tahun lalu
b. Membahas masalah-masalah yang berdampak terhadap audit dengan staf kantor akuntan
yang bertanggung jawab atas jasa non audit bagi satuan usaha
c. Mengajukan pertanyaan tentang perkembangan bisnis saat ini yang berdampak terhadap
satuan usaha
d. Membaca laporan keuangan interim tahun berjalan
e. Membicarakan tipe, luas dan waktu audit dengan manajemen, dewan komisaris atau
komite audit
f. Mempertimbangkan dampak diterapkannya pernyataan standar akuntansi dan auditing
yang diterapkan Ikatan Akuntan Indonesia, terutama yang baru.
g. Mengkoordinasikan bantuan dari pegawai perusahaan klien dalam penyiapan data
h. Menentukan luasnya keterlibatan, jika ada, konsultan, spesialis dan auditor intern
i. Membuat jadwal pekerjaan audit (time schedule)
j. Menentukan dan mengkoordinasikan kebutuhan staf audit
k. Melaksanakan diskusi dengan pihak pemberi tugas untuk memperoleh tambahan
informasi tentang tujuan audit yang akan dilaksanakan sehingga auditor dapat
mengantisipasi dan memberikan perhatian terhadap hal yang berkaitan
Pengetahuan tentang bisnis klien, membantu auditor dalam :

a. Mengidentifikasikan bidang yang memerlukan pertimbangan khusus,


b. Menilai
kondisi yang didalamnya data akuntansi yang dihasilkan, diolah, di review
dan dikumpulkan dalam organisasi,
c. Menilai kewajaran estimasi, seperti penilaian atas persediaan, depresiasi, penyisihan
piutang ragu-ragu, persentase penyelesaian kontrak jangka panjang,
d. Menilai kewajaran representasi manajemen,
e. Mempertimbangkan kesesuaian prinsip akuntansi yang diterapkan dan kecukupan
pengungkapannya
Supervisi pengarahan usaha asisten yang terkait dalam pencapaian tujuan audit dan menentukan
apakah tujuan tersebut tercapai
Unsur supervisi :
Memberikan instruksi kepada asisten
Tetap menjaga penyampaian informasi masalah penting yang ditemukan dalam audit
Mereview pekerjaan yang dilaksanakan
Menyelesaikan perbedaan pendapat antara staf audit kantor akuntan
Faktor yang mempengaruhhi luasnya supervisi:
Kompleksitas masalah
Kualifikasi orang yang melaksanakan audit :
Memahami tanggung jawabnya dan tujuan prosedur audit
Mengetahui hal yang kemungkinan berpengaruh terhadap sifat, luas dan saat
prosedur tsb. dilaksanakan (sifat bisnis klien, masalah akuntansi dan audit)
Isi Audit Plan mencakup
1. Hal-hal mengenai klien
2. Hal-hal yang mempengaruhi klien
3. Rencana kerja auditor

ad.1. Hal-Hal Mengenai Klien


a. Bidang usaha klien, alamat, no. telepon, faksimile dan lain-lain
b. Status hukum perusahaan (berdasarkan akte pendirian)
1. Nama Pemilik
2. Permodalan
c. Accounting policy (Kebijakan Akuntansi)
1. Buku-buku yang digunakan :
a. Buku Penjualan
b. Buku Pembelian
c. Buku Kas/Bank
d. Buku Memorial
2. Metode pembukuan
a. Manual
tulis tembus
biasa

b. Komputer
c. Mesin Pembukuan
3. Komentar mengenai mutu pembukuan secara umum (membantu dalam menyusun
budget dan pemilihan tenaga-tenaga yang akan ditugaskan di klien tersebut)
d. Neraca komparatif dan perbandingan penjualan, Laba Rugi tahun lalu dan sekarang
e. Client contact
1. Presiden direktur
2. Controller
3. Chief Accountant
4. Penasihat hukum
f. Accounting, Auditing & Tax Problem
1. Accounting problem
Perubahan metode pencatatan dan manual ke computer
Revaluasi fixed asset
Perubahan metode atau tarif penyusutan
2. Auditing problem
Hasil konfirmasi tahun lalu tidak memuaskan
Perubahan accounting policy
3. Tax problem
Masalah rastitusi, Kekurangan penyetoran
Adanya dua pembukan dalam perusahaan
a.d.2. Hal-Hal yang Memengaruhi Klien
Bisa didapatkan dari majalah-majalah ekonomi/surat kabar, antara lain: Business News,
Ekonomi Keuangan Indonesia.
Contoh: adanyan peraturan-peraturan baru yang dapat memengaruhi klien
a.d.3 Rencana Kerja Auditor
Hal-hal yang penting antara lain :
a. Staffing
1. Nama Partner
2. Nama Manager
3. Nama Supervisor
4. Nama Senior
5. Nama Asisten
b. Waktu Pemeriksaan
1. Waktu dimulai suatu pemeriksaan
2. Berapa lama waktu pemeriksaan
3. Dead Line dalam arti laporan pemeriksaan
selesai kapan?
dikirim kemana, sampainya kapan?
kepada siapa report itu dikirim?
4. Budget, baik dalam jumlah jam kerja maupun biaya pemeriksaan.
Tarif yang dibebankan

c. Jenis Jasa yang Diberikan


1. General Audit
2. Special Audit
3. Bantuan Administrasi
4. Menyusun Laporan Posisi
Komprehensif)
5. Perpajakan

Keuangan,

(Neraca)/Laba

Rugi

(L/R

Hal-hal Tambahan:
d. Bantuan yang dapat diberikan klien
1. Mengisi formulir konfirmasi piutang, utang
2. Membuat schedule-schedule
Aging Schedule
Rincian Harga Tetap
Rincian Utang dan Piutang
Rincian Biaya yang Masih Harus Dibayar
e. Time Schedule
Misal:
Bulan November:
1. Review Internal Control
2. Tentative Audit Program (audit program sementara)

8.2 AUDIT PROGRAM


Audit Program merupakan kumpulan dari prosedur audit yang akan dijalankan dan dibuat secara
tertulis.
Tujuan Audit Program:
Membantu Auditor dalam memberikan perintah kepada asisten mengenai pekerjaan yang harus
dilaksanakan.
Audit Program yang baik harus mencantumkan:
1. Tujuan pemeriksaan.
2. Audit prosedur yg akan dijalankan
3. Kesimpulan pemeriksaan.

Manfaat Audit Program:

Sebagai petunjuk kerja yang harus dilakukan dan instruksi bagaimana harus menyelesaikan

suatu pemeriksaan.
Sebagai dasar untuk koordinasi, pengawasan, dan pengendalian pemeriksaan.
Sebagai dasar penilaian kerja yang dilakukan klien.

Sebagian KAP menggunakan audit program yang sudah distandarisasi dan digunakan di setiap
kliennya, sebagian lagi menggunakan audit program yang disusun sesuai kondisi dan situasi di
perusahaan (tailor made). Akan lebih baik jika audit program dibuat terpisah untuk Compliance
test dan substantive test
Prosedur Audit Program:

Prosedur Audit Program untuk Compliance Test


Prosedur Audit Program untuk Substantive Test
Prosedur Audit Program untuk keduanya

*Tes Ketaatan (Compliance Test) atau Test of Recorded Transactions adalah tes terhadap bukti
pembukuan yang mendukung transaksi yang dicatat perusahaan untuk mengetahui apakah setiap
transaksi yang terjadi sudah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur yang telah
ditetapkan manajemen
*Substantive Test adalah tes terhadap kewajaran saldo-saldo perkiraan laporan keuangan
(Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi Komprehensif)

8.3 AUDIT PROCEDURES DAN AUDIT TEKNIK


Audit Procedures adalah langkah-langkah yang harus dijalankan oleh auditor dalam
melaksanakan pemeriksaannya dan sangat di perlukan oleh asisten agar tidak melakukan
penyimpangan dan dapat bekerja secar efisien dan efektif.
Audit procedures dilakukan dalam rangka mendapatkan bahan-bahan bukti (audit
evidence) yang cukup untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan.

Untuk itu di perlukan audit teknik, yaitu cara-cara untuk memperoleh audit evidence
seperti konfirmasi, observasi, inspeksi, Tanya jawab(inquiry) dan lain-lain
8.4 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS
Dalam PSA no .25 diberikan pedoman bagi auditor dalam mempertimbangkan resiko audit dan
materialitas pada saat perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan berdasarkan
standar auditing yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
1. Risiko audit dan materialitas memengaruhi penerapan standar auditing, khususnya
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan
2. Risiko audit adalah risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak
memodifikasikan pendapat sebagaimana mestinya atas suatu laporan keuangan yang
mengandung salah saji material.
3. konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal bai ksecara individu atau keseluruhan
adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan standar
akuntansi yang berlaku di Indonesia
4. laporan keuangan mengandung salah saji metrial yang memiliki dampak secara
individual atau keseluruhan dengan signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan
keuangan tidak disajikan dengan wajar.
5. Dalam perencanaan audit, seorang auditor berkepentingan dalam hal-hal yang material
terhadap laporan keuangan. Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan atau
melaksanakan untuk memperoleh kepercayaan bahwa salah saji yang disebabkan oleh
kekeliruan atau kecurangan.
6. istilah kekeliruan berarti salah saji yang tidak sengaja jumlah atau pengungkapan dalam
laporan keuangan. kekliruan itu sendiri mencakup:
a. kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data yang menjadi sumber
penyusunan laporan keuangan.
b. estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul dari kecerobohan atau
salah tafsir kata
c. kekeliruan dalam penerapan standar akuntansi yang berkaitan dengan jumlah
klasifikasi, cara penyajian, dan pengungkapan.
7. Meskipun kecurangan merupakan pengertian luas dari segi hukum, kepentingan auditor
secara khusus berkaitan dengan tindakan curang yang menyebabkan salah saji material
dalam laporan keuangan.

8. pada waktu mempertimbangkan tanggung jawab auditor memperoleh keyakinan


memadai bahawa laporan keuangan bebas salah saji material, tidak ada perbedaan antara
kekiruan dan kecurangan.
9. pada waktu menyimpulkan apakah dampak salah saji, secara individual atau secara
gabungan, material, auditor biasanya harus mempertimbangkan sifat dan jumlah dalam
kaitannya dengan sifat dan jumlah pos dalam laporan keuangan yang diaudit.
10. pertimbangan auditor mengenai materialitas merupakan pertimbangan profesional dan
dipengaruhi oelh persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memilki pengetahuan
memadai dan yang akan meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan.
11. Auditor harus mempertimbangkan risiko audit dan materialitas baik dalam :
a. Merencanakan audit dan merancang prosedur audit
b. Mengevaluasi apakah laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara
wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan standar akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.
12. Auditor harus merencanakan auditnya sedimikian rupa, sehingga audit dapat dibatasi
pada tingkat yang rendah sehingga cukup untuk dijadikan dasar untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan.
13. Dalam merencanakan audit, auditor harus menggunakan perimbangannya dalam
menentukan tingkat risiko audit yang cukup rendah dalam petimbangan awal mengenai
tingkat materialitas dengan suatu cara yang diharapkan yang mampu meyakinkan bahwa
laporan keuangan bebas dari salah saji material.
14. Auditor merencanakan audit untuk mencapai keyakinan memadai guna meyakinkan
bahwa salah saji junlahnya cukup besar, secara individual maupun keseluruhan yang
secara kualitatif berdampak material terhadap laporan keuangan.
15. Dalam situsasi tertentu, untuk perencanaan audit, auditor mempertimbangkan materialitas
sebelum laporan keuangan yang akan diauditnya selesai disusun.
16. Pada tingkat saldo akun, risiko audit dibagi menjadi 3 :
a. Risiko Bawaan. Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan
transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat
kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait.
b. Risiko Pengendalian. Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material
dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh
pengendalian intern entitas.
c. Risiko Deteksi. Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat
mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

17. Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. kedua risiko
yang disebut lebih dulu ada daripada risiko deteksi, terlepas dilakukan atau tidaknya audit
atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan
dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri.

AR= IR x CR x
DR
18. Risiko deteksi yang dapat diterima oelh auditor dalam merancang prosedur audit
tergantung pada tingkat yang diinginkan untuk membatasi risiko audit suatu saldo akun
atau golongan transaksi dan tergantung atas penetapan auditor terhadap risiko bawaan.