Você está na página 1de 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kebidanan merupakan ilmu yang sama tuanya dengan sejarah
Homosapiens. Istilah bidan sudah ada di kitab kejadian. Bidan Yahudi ini
merupakan bidan pertama yang ditemukan dalam literatur. Sesuai dengan
maknanya, yang berkenaan dengan wanita kebidanan bertahan-tahan
berabad-abad lamanya, karena kelahiran, suatu pembaharuan kehidupan,
yang berlanjut sepanjang zaman.
Kebidanan adalah suatu profesi yang diakui secara international dan
memiliki

praktisi

di

seluruh

dunia.

Bidan

menurut

International

Confederation of Midwives, International of Gynecology and Obstetrics dan


WHO, bidan adalah seseorang yang telah secara teratur mengikuti suatu
program pendidikan kebidanan yang diakui di negara program tersebut
diselenggarakan, telah berhasil menyelesaikan serangkaian pendidikan
kebidanan yang ditetapkan, dan telah memperoleh kualifikasi yang
diperlukan untuk bisa didaftarkan dan atau secara hukum memperoleh izin
untuk melakukan praktek kebidanan.
Bidan harus mampu melakukan pengawasan, perawatan, serta
memberi saran yang diperlukan kepada wanita selama masa hamil, bersalin,
dan setelah melahirkan. Ia juga harus mampu memimpin persalinan sebagai
bagian tanggung jawabnya dan merawat bayi baru lahir serta bayi berusia
beberapa bulan. Perawatan ini meliputi tindakan preventif, deteksi kondisi
abnormal pada ibu dan anak, usaha memperoleh bantuan medis, dan
pelaksanaan tindakan darurat pada saat pertolongan medis tidak ada. Bidan
memiliki tugas penting memberi konseling dan pendidikan kesehatan, tidak
hanya untuk wanita, tetapi juga untuk keluarga dan komunitas. Pendidikan
ini melibatkan pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua dan

meluas mencakup area tertentu bidang ginekologi, keluarga berencana, dan


perawatan anak. Ia dapat melakukan praktik di rumah sakit, klinik, unit
kesehatan, lingkungan tempat tinggal, atau layanan kesehatan lain.
1.2

Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa dapat memberikan pelayanan kebidanan
komunitas dan mengerti serta memahami peran, fungsi dan tugas
bidan di masyarakat.

1.2.2

Tujuan Khusus
1.2.2.1 Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian bidan
1.2.2.2 Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian kebidanan
1.2.2.3 Mahasiswa dapat mengetahui sasaran dalam pelayanan
kebidanan
1.2.2.4 Mahasiswa dapat mengetahui peran, fungsi dan tugas bidan
di masyarakat.

1.3

Manfaat
Mahasiswa dapat mengenali dan memahami peran, fungsi, tugas
bidan di masyarakat serta dapat memberikan pelayanan kebidanan yang
komprehensif.

1.4

Sistematikan Penulisan
Pendahuluan, menguraikan tentang latar belakang, tujuan umum dan
khusus serta manfaat penulisan.
Tinjauan Pustaka berisi tentang pengertian bidan, kebidanan, sasaran
dalam pelayanan kebidanan, peran, fungsi dan tugas bidan di masyarakat.
Penutup berisi tentang simpulan

BAB II
KEBIDANAN KOMUNITAS

2.1 Pengertian Bidan


2.1.1

Bidan adalah sesorang yang telah menyelesaikan pendidikan


kebidanan yang diakui dan mendapatkan lisensi untuk melaksanakan
praktek kebidanan. (Heni Puji Wahyuningsih, 2005 : 115 ).

2.1.2

Bidan

adalah

seorang

wanita

yang

telah

mengikuti

dan

menyelesaikan pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan


lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku, dicatat
(regester), diberi ijin secara sah untuk menjalankan praktek.
( Sofyan, Mustika, dkk, 2006 : 78 ).
2.1.3

Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program


pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh
kualifikasi dan diberi ijin untuk menjalankan praktek kebidanan di
negeri itu. ( menurut ICM 1990, buku 50 tahun IBI : 2006 ).

2.1.4

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti pendidikan bidan,


diakui pemerintah dan telah lulus ujian sesuai dengan persyaratan
yang berlaku, diberi ijin secara sah untuk menjalankan praktek.
(menurut IBI )

2.1.5

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program


pendidikan yang berlaku di negaranya dan telah menyelesaikan
pendidikannya dengan baik dan telah memperoleh pengakuan atas
kualifikasi

dan

terdaftar,

disahkan

dan

memperoleh

ijin

melaksanakan praktek kebidanan. ( menurut : WHO tahun 1992


Buku Ajar Asuhan Kebidanan : 21).
2.1.6

Bidan adalah seseorang yang telah secara teratur mengikuti suatu


program pendidikan kebidanan yang diakui di negara program
tersebut diselenggarakan, telah berhasil menyelesaikan serangkaian
pendidikan kebidanan yang ditetapkan, dan telah memperoleh
3

kualifikasi yang diperlukan untuk bisa di daftarkan dan/atau secara


hukum memperoleh ijin untuk melakukan praktik kebidanan.
(menurut ICM, IFGO and WHO. Buku Ajar Asuhan Kebidanan : 2 )
2.2 Pengertian Kebidanan
2.2.1

Kebidanan merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai


disiplin ilmu ( multi disiplin ) yang terkai dengan pelayanan
kebidanan, meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu
perilaku, ilmu sosial budaya, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu
manajemen untuk dapat memebrikan pelayanan kepada ibu dalam
masa pra konsepsi, hamil bersalin, post partum, bayi baru lahir.
( Musbir W, 2000 )

2.2.2

Kebidanan adalah salah satu bentuk kegiatan dari pelayanan


kebidanan yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat sebagai sasarannya.

2.3 Sasaran dalam pelayanan kebidanan


2.3.1

Individu
Individu adalah bagian dari anggota keluarga. Apabila individu
tersebut mempunyai masalah kesehatan / keperawatan karena
ketidakmampuan merawat dirinya sendiri oleh sesuatu hal dan sebab,
maka akan dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik
secara fisik, mental, maupun sosial.
Sasaran prioritas :
2.3.1.1 Ibu hamil, bersalin dan nifas, buteki
2.3.1.2 Bayi, baduta, batita dan balit
2.3.1.3 Reproduksi ; remaja, PUS dan WUS
2.3.1.4 Lansia ; klimakterium dan menopause
2.3.1.5 Usia Sekolah dan pra sekolah
2.3.1.6 Akseptor

2.3.2

Keluarga

2.3.2.1 Definisi :
1. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
atas kepala keluarga dan beberapa orang berkumpul dan
tinggal di satu tempat di bawah satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan ( Depkes RI : 1998 )
2. Keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang
tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan
atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah
tangga berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya
masing-masing

menciptakan

serta

mempertahankan

kebudayaan (Salvicion G. bailan & Arageilis Maglaya :


1989 )
3. Keluarga adalah dua individu atau lebih yang bergabung
bersama karena ikatan untuk saling berbagi dan ikatan
kedekatan emosi dan yang mengidentifikasi diri mereka
sebagai bagian dari keluarga ( Friedman : 1992 )
2.3.2.2 Tipe dan bentuk keluarga ( Efendy Nasrul : 1998 )
1. Keluarga inti ( nuclear family ) adalah keluarga yang
terdiri dari ayah, ibu dan anak.
2. Keluarga besar ( extended family ) adalah keluarga inti
ditambah dengan sanak saudara, mis : nenek, kakek,
keponakan, saudara, sepupu, paman, bibi dsb. Biasanya
dianut oleh keluarga Indonesia.
3. Keluarga berantai ( serial family ) adalah keluarga yang
terdiri dari pria dan wanita yang menikah lebih dari satu
kali dan merupakan satu keluarga inti.
4. Keluarga duda/janda ( single family ) adalah keluarga
yang terjadi karena kematian atau perceraian.

5. Keluarga berkomposisi ( composite ) adalah keluarga


yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara
bersama.
6. Keluarga kabitas ( cabitation ) adalah dua orang menjadi
satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
2.3.2.3 Ciri-ciri keluarga
Diikat dalam suatu tali perkawinan, ada hubungan darah, ada
ikatan batin, ada tanggung jawab masing-masing anggota,
ada pengambil keputusan, ada kerjasama di antara anggota
keluarga, ada komunikasi dan interaksi antar anggota
keluarga dan tinggal dalam satu rumah.
Ciri ciri keluarga di Indonesia :
1. Suami sebagai pengambil keputusan.
2. Merupakan satu kesatuan utuh.
3. Berbentuk monogram.
4. Bertanggung jawab.
5. Pengambil keputusan.
6. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
7. Tingkatan kekeluargaan sangat erat.
8. Mempunyai semangat gototng-royong.
2.3.2.4 Struktur keluarga
Terdiri dari bermacam-macam diantaranya ialah :
1. Patrineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak keluarga
sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu
disusun malalui jalur garis ayah.

2. Matrineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak keluarga
sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu
disusun melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah ibu.
4. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah suami
5. Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar pembinaan
keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi
bagian dari keluarga karena adanya hubungan dengan
suami atau istri.
2.3.2.5 Ciri-ciri struktur keluarga ( Anderson Carter )
1. Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antar anggota
keluarga.
2. Ada keterbatasan
Setiap anggota keluarga memiliki kebebasan tetapi
mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan
fungsi dan tugasnya masing-masing.
3. Ada perbedaan dan kekhususan setiap anggota keluarga
mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.
2.3.2.6 Pemegang kekuasaan dalam keluarga
1. Patriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan
adalah di pihak ayah.
2. Matriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan
adalah di pihak ibu.
7

3. Equalitarian, yang memegang kekuasaan dalam keluarga


adalah ayah dan ibu.
2.3.2.7 Peranan keluarga
1. Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri, dan bapak dari anak-anak
berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan
pemberi rasa aman sebagai kepala keluarga dan anggota
masyarakat dan lingkungan.
2. Peranan ibu
Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anak. Ibu mempunyai
peranan dalam mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh
dan pendidik anak, pelindung dan sebagai salah satu
kelompok

dari

peranan

sosialnya

serta

anggota

masyarakat di lingkungannya, di samping itu ibu juga


dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam
keluarganya.
3. Peranan anak
Anak-anak melaksanakan psikososial sesuai dengan
tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan
spiritual.
2.3.2.8 Fungsi keluarga
1. Fungsi biologis
1) Meneruskan keturunan
2) Memelihara dan membesarkan anak.
3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4) Memelihara dan merawat anggota keluarga.

2. Fungsi psikologis
1) Memberikan kasih sayang dan rasa aman.
2) Memberikan perhatian di antara anggota keluarga
3) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4) Memberika identitas anggota keluarga
3. Fungsi sosialisasi
1) Membina sosialisasi pada anak
2) Membentuk

norma-norma

tingkah

laku

sesuai

dengan tingkat perkembangan anak.


3) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
4. Fungsi ekonomi
1) Mencari

sumber-sumber

penghasilan

untuk

memenuhi kebutuhan keluarga


2) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan keluarga
3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di
masa yang akan datang, misalnya pendidikan anakanak, jaminan hari tua dan lain sebagainya.
5. Fungsi pendidikan
1) Menyekolahkan

anak

untuk

memberikan

pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku


anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang
akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai
orang dewasa.
6. Fungsi religius
Memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota
keluarga yang lain dalam keyakinan beragama, tugas
kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada
kekuatan lain yang mengatur kehidupan lain setelah di
duania ini.
9

2.3.2.9 Fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya adalah :


1. Asih
Adalah memberi kasih sayang, perhatian, rasa aman
kehangatan

pada

anggota

keluarga

sehingga

memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai


dengan usia dan kebutuhannya.
2. Asuh
Adalah

memenuhi

kebutuhan

pemeliharaan

dan

perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara,


sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang
sehat fisik, mental, sosial dan spiritual.
3. Asah
Adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga
siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam
mempersiapkan masa depannya.
2.3.2.10 Keluarga sebagai sasaran asuhan kebidanan komunitas
Pemberian asuhan kebidanan yang komprehensif dan
bermutu tinggi adalah tujuan pelayanan kebidanan pada
tingkat keluarga. Upaya pelayanan ini meliputi promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif sesuai dengan tanggung
jawab dan wewenang bidan dalam masyarakat. Walaupun
yang menjadi sasaran utama adalah wanita pada khususnya,
tetapi semua aktifitas pelayanan kebidanan pada keluarga
pada dasarnya adalah semua upaya yang dilaksanakan
untuk meningkatkan dan mempertahankan taraf kesehatan
dalam lingkup keluarga itu sendiri.

10

2.3.2.11 Peran serta keluarga dalam pelayanan kebidanan komunitas


Sebagai unit terkecil dari masyarakat dan kumpulan
beberapa individu yang saling berkaitan dan saling
berinteraksi satu sama lain. Mengikutsertakan keluarga
sebagai komponen penting dalam masa kehamilan,
persalinan dan nifas serta meningkatkan kesehatan secara
optimal sesuai dengan keinginan maupun keluarga adalah
bentuk peran yang diharapkan dalam pelayanan kebidanan
tingkat keluarga.
Oleh karena itu bentuk peran yang diharapkan dari keluaga
adalah

kemampuan

untuk

mengenali

masalah

dan

kebutuhan kesehatan keluarga khususnya masalah KIA


1. Menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan
kesehatan setiap anggotanya.
2. Menggali sumber daya kesehatan dalam keluarga.
3. Mampu mengambil keputusan yang tepat dalam
permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan
khususnya masalah-masalah KIA dan KB.
4. Berperan aktif dalam gerakan ASI eksklusif.
5. Berperan dalam kegiatan kesehatan di masyarakat.
2.3.2.12 Peran dan fungsi bidan dalam pelayanan kebidanan
komunitas di keluarga.
1. Sebagai Pelaksana
Tugas mandiri :
1) Menetapkan manejemen kebidanan pada setiap
asuhan kebidanan yang diberikan di tingkat
keluarga.
2) Memberikan pelayanan dasar pada anak remaja dan
wanita pranikah dengan melibatkan keluarga.
3) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil
selama kehamilan normal bersama keluarga.
11

4) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin


dalam persalinan dengan melibatkan keluarga.
5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
dengan melibatkan keluarga.
6) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam
masa nifas dengan melibatkan keluarga.
7) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia
subur yang membutuhkan pelayanan KB
8) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita dengan
gangguan system reproduksi dan wanita dalam masa
klimakterium dengan melibatkan keluarga.
9) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi dan balita
dengan melibatkan keluarga.
Tugas kolaborasi dan kerjasama :
Melaksanakan tugas kolaborasi dalam penanganan
kasus resiko tinggi dan penanganan kegawatdaruratan
di tingkat keluarga.
Tugas ketergantungan / merujuk :
Melaksanakan system rujukan pada penanganan kasus
resiko tinggi dan kegawatdaruratan di tingkat keluarga
dengan melibatkan keluarga.
2. Sebagai Pengelola
Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan terutama
pelayanan

kebidanan

untuk

individu,

keluarga,

kelompok khusus dari masyarakat di wilayah kerja


dengan melibatkan klien, keluarga dan masyarakat.

12

3. Sebagai Pendidik
Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan
kepada keluarga tentang penanggulangan masalah
kesehatan khususnya yang berhubungan dengan pihak
terkait kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana
2.3.2.13 Permasalahan yang terjadi dalam keluarga
1. Faktor-faktor yang banyak mempengaruhi kondisi
kesehatan keluarga di Indonesia
1) Faktor ekonomi
2) Kekurangan gizi, terutama ibu hamil, bayi dan
balita
3) Lingkungan keluarga yang kurang sehat.
4) Tingkat pendidikan yang rendah
5) Perilaku terhadap kesehatan dan budaya dalam
pengambilan keputusan keluarga.
2. Ditinjau

dari

resiko

yang

berhubungan

dengan

permasalahan KIA
1) Keluarga dengan anggota keluarga yang mempunyai
WUS
2) Keluarga yang mempunyai resiko tinggi kebidanan,
dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas.
(1) Umur 16 tahun atau lebih dari 35 tahun
(2) Menderita kekurangan gizi.
(3) Penyakit yang beresiko terhadap kebidanan.
(4) Primipara dan multipara
(5) Riwayat peralihan jelek dan komplikasi
3) Keluarga yang mempunyai anak yang menjadi
resiko tinggi
(1) Prematur atau BBLR
(2) Masalah gizi.
13

(3) Cacat bawaan


(4) Asi kurang
(5) Ibu menderita penyakit menular yang dapat
membahayakan anak
(6) DO Imunisasi
4) Keluarga yang bermasalah dalam hubungan antar
anggota keluarga
(1) Anak

yang

tidak

dikehendaki

atau

coba

digugurkan.
(2) Mempunyai anggota keluarga yang sakit.
(3) Perceraian, incest, kekerasan dalam rumah
tangga dll
3. Sesuai dengan tipologi kesehatan dalam keluarga,
didapatkan 3 kelompok masalah besar.
1)A

Keluarga

dengan

masalah

ancaman kesehatan antara lain :


(1) Adanya penyakit turunan dalam keluarga
(2) Adanya penyakit menular dalam keluarga.
(3) Jumlah anggota keluarga yang besar dan tidak
sesuai dengan sumber daya
(4) Masalah gizi
(5) Sanitasi buruk
(6) Kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan
(7) Masalah KIA
2) Keluarga yang kurang atau tidak sehat
(1) Mempunyai anggota keluarga yang sakit.
(2) Adanya kegagalan dalam tumbuh kembang
anak.

14

3) Keluarga yang menghadapi situasi krisis dalam


(1) Perkawinan
(2) Kehamilan
(3) Masa nifas
(4) Menjadi orang tua
(5) Penambahan anggota keluarga ( bayi baru lahir )
(6) Abortus
(7) Anak sekolah dan remaja
(8) Kematian dan kehilangan pekerjaan.
4. Alternatif pemecahan masalah
1) Meningkatkan
mengenal

kemampuan

masalah

keluarga

kesehatan

umumnya

dalam
dan

masalah KIA khususnya


2) Meningkatkan

kemampuan

keluarga

dalam

mengambil keputusan dalam melakukan tindakan


yang tepat terutama dalam masalah resiko tinggi
KIA.
3) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat
anggota keluarga yang sakit ( merawat ibu hamil,
melahirkan, nifas dan bayi )
4) Meningkatkan kemampuan keluarga memelihara
lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi
kesehatan

dan

perkembangan

pribadi

para

anggotanya.
5) Meningkatkan kemampuan keluarga menggunakan
sumber daya yang ada di keluarga.

15

5. Langkah-langkah asuhan kebidanan dalam pemecahan


masalah di tingkat keluarga
1) Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan kesehatan
keluarga khususnya yang berhubungan dengan KIA,
KB.
2) Menentukan diagnosa dan kebutuhan kesehatan
keluarga.
3) Menyusun

rencana asuhan kebidanan dengan

melibatkan keluarga.
4) Melaksanakan asuhan kebidanan dengan melibatkan
keluarganya.
5) Mengevaluasi hasil asuhan yang diberikan bersama
keluarga.
6) Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan
bersama

keluarga,

membuat

pencatatan

dan

pelaporan.
2.3.3

Kelompok
2.3.3.1 Defenisi
Adalah sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan
bersama, yang dilandasi oleh kriteria tertentu seperti usia,
jenis kelamin, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan
kepentingan tertentu di bidang kesehatan karena adanya
kebutuhan yang sama. ( Nasrul Effendy, 1998 : 74 )
2.3.3.2 Macam-macam kelompok
1. Kelompok Khusus
1) Adalah kelompok masyarakat atau individu yang
karena fisik, mental maupun sosial ekonomi perlu
mendapatkan bantuan, bimbingan dan pelayanan
kesehatan, karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan
mereka dalam memelihara kesehatan terhadap dirinya
16

sendiri dan ada diantara mereka bernaung dalam suatu


wadah disebut panti ( Nasrul Effendy, 1995 : 253 )
2) Adalah

kumpulan

kesamaan

jenis

individu

kelamin,

yang

umur,

mempunyai
permasalahan,

kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan


terhadap masalah kesehatan.
3) Kelompok khusus dengan kebutuhan kesehatan
khusus

sebagai

akibat

perkembangan

dan

pertumbuhannya, seperti :
(1) Ibu hamil
(2) Bayi baru lahir
(3) Anak balita
(4) Anak usia sekolah
(5) Usia lanjut
4) Kelompok

yang

mempunyai

resiko

terserang

penyakit, diamtaranya :
(1) Wanita tuna susila
(2) Kelompok penyalahgunaan obat dan narkotika
(3) Kelompok-kelompok pekerja tertentu.dll
5) Lembaga

sosial,

perawatan

dan

rehabilitasi,

diantaranya adalah :
(1) Panti werdha.
(2) Panti asuhan
(3) Pusat-pusat rehabilitasi ( cacat fisik, mental,
sosial, dll )
(4) Penitipan anak balita.
2. Kelompok Masyarakat.
Adalah sekelompok manusia yang telah hidup dan
bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat
mengatur diri mereka dan menganggap diri

17

mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan


batas-batas

yang

dirumuskan

dengan

jelas

(Nasrul Effendy, 1995 : 8 )


2.3.3.3 Pelayanan kebidanan komunitas kelompok KIA
Adalah suatu usaha dalam bidang pelayanan kesehatan
masyarakat yang ditujukan kepada kelompok atau individu
yang

mempunyai

kesamaan

jenis

kelamin,

umur,

permasalahan dengan kegiatan yang terorganisasi dan sangat


rawan terhadap masalah kesehatan dan kebidanan dengan
tujuan meningkatkan status kesehatan mereka yang menekan
kepada upaya promotif dan preventif dengan tidak melupakan
upaya kuratif dan upaya rehabilitatif diberikan kepada
mereka

yang

perseorangan

tinggal
maupun

dipanti

atau

kelompok

di

diberikan
masyarakat

kepada
yang

diberikan oleh tenaga bidan melalui pendekatan manajemen


kebidanan komunitas.
2.3.3.4 Tujuan pelayanan kebidanan komunitas kelompok khusus
KIA.
Tujuan kesehatan ibu dan anak dari pedoman puskesmas ini
adalah untuk mengurangi kematian dan kesakitan ibu, bayi
dan anak-anak dengan cara :
1. Meningkatkan keadaan kesehatan yang sebaik-baiknya
untuk ibu selama mengandung, waktu melahirkan dan
sesudahnya.
2. Meningkatkan keadaan kesehatan yang sebaik-baiknya
untuk bayi dan anak-anak, terutama mengenai kadar gizi
yang baik dan perlindungan terhadap penyakit infeksi.

18

2.3.3.5 Sasaran pelayanan kebidanan komunitas kelompok KIA


1. Wanita usia subur dan pasangan usia subur
1) Pengenalan tentang masa pubertas pada kaum remaja.
2) Pengenalan

tentang

perubahan

fisik

system

reproduksi ) dan psikologis.


3) Pengenalan TT calon pengantin wanita
4) Pengenalan tentang KB
2. Ibu hamil
1) Memberikan penyuluhan ibu hamil untuk pergi
memeriksakan kehamilan ke BKIA atau puskesmas
secara teratur.
2) Penyuluhan kepada ibu tentang personal hygiene,
nutrisi bumil, istirahat, persiapan persalinan, KB.
3) Konseling tentang suntik TT pada bumil.
4) Pengenalan tanda-tanda bahaya kehamilan.
5) Pemberian tablet besi.
3. Ibu bersalin
1) Menjelaskan tanda-tanda persalinan
2) Persiapan persalinan yang meliputi segala sesuatu
yang harus dibawa dalam persalinan.
3) Adanya pendamping dalam persalinan.
4. Ibu nifas dan ibu meneteki.
1) Mobilisasi dini
2) Perawatan payudara
3) ASI eksklusif
4) Bahaya nifas
5) Perawatan luka perineum.
5. Bayi baru lahir
1) Perawatan tali pusat
2) Cara memandikan bayi dan perawatan bay
3) Imunisasi
19

6. Balita
1) Nutrisi anak
2) Pertumbuhan dan perkembangan anak.
3) Stimulasi perkembangan anak.
7. Anak pra sekolah
8. Anak sekolah
9. Wanita usia lanjut
1) Pengenalan tanda-tanda menopause
2) Cara menghadapi masa menopause (psikologis)
2.3.4

Masyarakat ( Drs Nasrul Effendy, 1998, Dasar-dasar Keperawatan


Kesehatan Masyarakat )
2.3.4.1 Definisi
1. Adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau
berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu
yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa
identitas bersama (Koentjoroningrat, 1990 )
2. Adalah bagian masyarakat yang bertempat tinggal di
suatu wilayah ( dalam arti geografis ) dengan batas-batas
tertentu, dimana yang menjadi dasarnya adalah interaksi
yang lebih besar dari anggota-anggotanya, dibandingkan
dengan penduduk diluar batas wilayahnya. ( Suryono
Soekanto, 1982 ).
3. Adalah sekelompok manusia yang mendiami territorial
tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung,
adanya pembagian kerja dan kebudayaan bersama. ( Mac
Laver, 1957 )
4. Adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama
hidup

dan

bekerja

sama,

sehingga

dapat

mengorganisasikan diri dan berpikir tentang dirinya

20

sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.


( Linton, 1936 )
2.3.4.2 Ciri-ciri masyarakat
1. Interaksi diantara sesama anggota masyarakat
2. Menempati wilayah dengan bata-batas tertentu.
3. Saling tergantung satu dengan lainnya.
4. Memiliki adat istiadat tertentu / kebudayaan.
5. Memiliki identitas bersama.
2.3.4.3 Ciri-ciri masyarakat sehat
1. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat
2. Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya
peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan terutama untuk ibu dan anak.
3. Peningkatan upaya kesehatan lingkungan.
4. Peningkatan status gizi masyarakat.
5. Penurunan angka kesakitan dan kematian.
2.3.4.4 Masalah-masalah kesehatan / kebidanan dalam masyarakat
Indonesia
1. Tingginya angka kematian ibu (307 per 100.000 kelahiran
hidup)
2. Angka kematian bayi (57 per 1000 kelahiran hidup)
3. Angka kematian balita (84 per 1000 kelahiran hidup)
2.3.4.5 Penyebab masalah
1. Faktor sosial ekonomi yang sebagian besar masih rendah
2. Bayi hidup dan perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan.
3. Kurangnya peran serta masyarakat dalam mengatasi
masalah kesehatan.

21

4. Cakupan pelayanan kesehatan yang belum menyeluruh.


5. Sarana dan prasarana belum dapat menunjang pelayanan
kesehatan.
6. Upaya kesehatan yang masih nerinteraksi pada kuratif.

2.4 Peran, Fungsi Dan Tugas Bidan


2.4.1

Fungsi dan tugas bidan komunitas


2.4.1.1 Peran di masyarakat
1. Pembinaan peran serta masyarakat
2. Pembinaan lintas sektor
3. Pelayanan kesehatan di masyarakat
2.4.1.2 Peran di institusi
1. Di Rumah Sakit
2. Di Rumah Bersalin
3. Bidan Praktek Swasta
4. Puskesmas ( Posyandu dan Polindes )

2.4.2

Peran, fungsi dan tugas bidan


2.4.2.1 Bidan sebagai pelaksana
Pelaksanaan kebidanan sesuai dengan standart operasional di
institusi masing-masing / SOP
Standart praktek pelayanan kebidanan :
1. Standart pelayanan umum ( 2 )
1) Persiapan untuk kehidupan keluarga sehat
2) Pencatatan dan pelaporan
2. Standart pelayanan antenatal ( b )
1) Identifikasi ibu hamil
2) Pemeriksaan dan pemantauan antenatal
3) Palpasi abdominal
4) Pengelolaan anemia pada kehamilan
5) Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan
6) Persiapan persalinan dan gawat darurat
22

3. Standart pertolongan persalinan ( 4 )


1) Asuhan persalinan kala I
2) Persalinan kala II yang aman
3) Penatalaksaan aktif persalinan kala III
4) Penanganan kala IV dengan gawat janin melalui epis
4. Standart Persalinan Nifas ( 3 )
1) Perawatan bayi baru lahir
2) Penanganan pada 2 jam pertama setelah persalinan
3) Pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas
5. Standart penanganan kegawatan obstetric dan neonatal
(9)
1) Penanganan perdarahan dalam kehamilan trimester III
2) Penanganan kegawatan dan eklamsia
3) Penanganan kegawatan pada partus lama / macet
4) Persalinan dengan menggunakan vacum ekstraktor
5) Penanganan retensio placenta
6) Penanganan perdarahan post partum primer
7) Penanganan perdarahan post partum sekunder
8) Penanganan sepsis puerperalis
9) Penanganan aspeksia neonatorum
2.4.2.2 Bidan sebagai pendidik
Yang harus dipersiapkan bidan sebagai pendidik adalah :
1. Menyusun SAP ( Satuan Acara Pembelajaran )
2. Mencari buku sumber yang berkaitan dengan materi
3. Membuat tujuan pembelajaran
4. Menyiapkan materi, harus tahu sasaran, bahasa yang akan
digunakan, cara penyampaian dan metode yang akan
dipakai.
Sasaran di masyarakat misalnya : tokoh masyarakat dan
kader

23

Sasaran di Puskesmas misalnya : mahasiswa yang


praktek dan teman sendiri
5. Evaluasi
Bisa dilaksanakan secara lisan maupun tertulis
2.4.2.3 Bidan sebagai pengelola
Sebagai pengelola menggunakan :
1. P1 ( Persiapan )
Misalnya : Membuka praktek kebidanan yang harus
disiapkan : persiapan fisik, yaitu bangunannya kemudian
persiapan ijin secara tertulis
2. P2 ( Pelaksana )
Dalam memberikan pelayanan kebidanan harus sesuai
dengan kompetensi dan standart yang ada
3. P3 ( Evaluasi )
Mencari cara agar klien kembali
4. Bila perlu P4 ( Merujuk )
Bila terjadi komplikasi dilakukan rujukan
5. Bidan sebagai peneliti
Sebagai peneliti yang harus dipersiapkan.
2.4.2.4 Menentukan maslah
Mengubah masalah menjadi pertanyaan sehingga menjadi
judul :
1. Membuat proposal
2. Mengajukan ijin ke instansi terkait
3. Mencari bimbingan
4. Waktu penyajian mencari sponsor
Misalnya : nara sumber, dana pelaksanaan
Peneliti sifatnya : mandiri dan kelompok

24

2.4.3

Persiapan dan pelaksanaan praktek kebidanan


2.4.3.1 Persiapan Praktek Kebidanan
1. Pengetahuan dan ketrampilan dasar
Teori-teori mengenai : KDPK ( Ketrampilan Dasar
Praktek Kebidanan ), kode etik, konsep kebidanan, sosial
budaya dasar, fisiologi kebidanan, kimia dasar, dll
2. Pengetahuan dan ketampilan tambahan
Teori-teori mengenai : Epidemiologi, perilaku kebidanan
2.4.3.2 Pelaksanaan Praktek Kebidanan
Meliputi :
1. Tugas Mandiri
1) Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap askeb
yang diberikan
2) Memberikan pelayanan dasar pada anak remaja dan
wanita pranikah dengan melibatkan klien
3) Memberikan askeb pada klien selama kehamilan
normal
4) Memberikan askeb pada klien dalam persalinan
dengan melibatkan klien / keluarga
5) Memberikan

askeb

dalam

masa

nifas

dengan

melibatkan klien / keluarga


6) Memberikan askeb kepada WUS yang membutuhkan
pelayanan KB
7) Memberikan askeb wanita dengan gangguan system
reproduksi dan dalam masa klimakterium
8) Memberikan

askeb

melibatkan keluarga

25

pada

bayi,

balita

dengan

2. Tugas Kolaborasi
1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap askeb
sesuai fungsi fisiologis
2) Memberikan askeb pada bumil resiko tinggi dan
pertolongan

pertama

pada

kegawatan

yang

memelukan tindakan kolaborasi


3) Memberikan askeb pada ibu dalam masa persalinan
dengan resiko tinggi dan keadaan kegawatan yang
memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan
kolaborasi dengan melibatkan klien / keluarga
4) Memberikan askeb pada ibu dalam masa nifas dengan
resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan
kegawat

daruratan

yang

memerlukan

tindakan

kolaborasi dengan klien dan keluarga


5) Memberikan askeb pada bayi baru lahir dengan resiko
tinggi dan yang mengalami komplikasi serta kegawat
daruratan yang memerlukan pertolongan pertama
dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien
dan keluarga
6) Memberikan askeb pada balita dengan resiko tinggi
yang mengalami komplikasi serta kegawat daruratan
yang

memerlukan

tindakan

kolaborasi

melibatkan keluarga
3. Tugas Rujukan
1) Jenis Rujukan
(1) Rujukan Kesehatan
Bantuan teknologi
Bantuan saran kesehatan
Bantuan operasional kesehatan

26

dengan

(2) Rujukan Medik


Rujukan pelayanan kesehatan terutama : kuratif,
promotif dan rehabilitatif
2) Teknis Rujukan
(1) Vertikal ( dari bawah ke atas )
Dari unit pertolongan kesehatan yang tingkat
kedudukannya lebih rendah ke institusi pelayanan
kesehatan yang kedudukannya lebih tinggi
Contoh :
-

Dari bidan desa ke Puskesmas

Dari Puskesmas ke RS kota / kabupaten

(2) Horizontal
Rujukan yang dilakukan antara unit / institusi
pelayanan kesehatan yang tingkat kedudukannya
sama
Contoh :
-

Antar bidan di desa

Dari Puskesmas satu dengan Puskesmas lain

3) Tingkat Rujukan
(1) Tingkat Pelayanan Dasar
Puskesmas, Pustu, Posyandu, Polindes, Rumah
Bersalin, Praktek Dokter Umum
(2) Tingkat Pelayanan Specialis RS Pemerintah, RS
Swasta,

Praktek

Dokter

Specialis,

Laboratorium Kesehatan
(3) Tingkat Pelayanan Subspesialis
RS pendidikan pemerintah dan swasta

27

balai

TK. Pelayanan
Kesh Tersier

DEPKES
RSU P
RS Penddyan Kes
Spesialis
Dinkes Dati I
RSUD Prop
Dinkes Dati II
RSUD Dati II
Pusat pusat rujukan lain

TK. Pelayanan
Kesh Sekunder

Puskesmas / Apotik
Praktek D.U, BPS

TK. Pelayanan
Kesh Primer

MASYARAKAT

Gambar : Sistem Tingkat Pelayanan Kesehatan (Djoko Wijono ; 1997 : 538)


4) Tugas Ketergantungan / Merujuk
(1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap
askeb sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan
keluarga
(2) Memberikan askeb melalui konsultasi dan rujukan
pada hamil resiko tinggi dan kegawat daruratan
(3) Memberikan askeb melalui konsultasi dan rujukan
pada masa persalinan dengan penyulit tertentu
dengan melibatkan klien dan keluarga
(4) Memberikan askeb melalui konsultasi dan rujukan
pada ibu dalam masa nifas dengan penyulit
tertentu

dengan

kegawat

daruratan

dengan

melibatkan klien dan keluarga


(5) Memberikan askeb pada bayi baru lahir dengan
kelainan tertentu dan kegawat daruratan yang

28

memerlukan konsultasi dan rujukan dengan


melibatkan keluarga
(6) Memberikan askeb kepada anak balita dengan
kelainan

tertentu

dan

kegawatan

yang

memerlukan konsultasi dan rujukan dengan


melibatkan klien dan keluarga
2.5 Bidan Di Masyarakat
2.5.1

Tugas bidan di masyarakat


2.5.1.1 Menguasai wilayah yang ada di wilayahnya, terdiri dari :
1. Analisa Situasi
2. Keadaan geografisnya, yaitu : luas wilayah, batas
wilayah, keadaan tanah, dll
3. Keadaan demografi, yaitu : jumlah penduduk, jumlah
KK, jumlah KK sasaran KIA, jumlah masing-masing usia
berdasar jumlah penduduk, tingkat pendidikan, tingkat
pekerjaan, tingkat penghasilan, dll
4. Masalah yang ada
5. Peran serta masyarakat
2.5.1.2 Pembinaan peran serta masyarakat
Pembinaan peran serta masyarakat tingkat desa merupakan
suatu rangkaian kegiatan yang berurutan, berkesinambungan
dan saling terkait
Langkah-langkah kegiatannya, meliputi :
1. Pertemuan Tingkat Desa ( PTD )
1) Tujuan kegiatan ini adalah :
(1) Diperolehnya dukungan pamong dan pemuka
masyarakat dalam pelaksanaannya
(2) Disadari pentingnya survey mawas diri

29

(3) Tersusunnya kelompok kerja survey mawas diri dan


jadwal survey
2) Tempat pertemuan sebaiknya di desa mendayagunakan
balai desa atau tempat pertemuan lainnya.
3) Peserta pertemuan terdiri atas :
(1) Peserta tingkat kecamatan
-

Camat atau stafnya


( Kesra dan seksi pemerintahan )

Dokter pimpinan beserta staf Puskesmas

Pimpinan Dinas Kependudukan


Catatan sipil dan KB, Depag, Deptan dan lintas
sektor lain di kecamatan

(2) Peserta tingkat desa


-

Kepala desa dan pamong desa

Bidan di desa

Kader

Pimpinan LSM

Pemuka

masyarakat

TPKK,

Pramuka,

Lembaga Persatuan Pemuda, guru dan pemuka


agama setempat
(3) Waktu

untuk

pertemuan

disesuaikan

dengan

kesediaan dan kondisi desa


(4) Pelaksanaan pertemuan diatas sebagai berikut :
-

Berdasarkan petunjuk dan hasil pertemuan


tingkat kecamatan, kepala desa mengundang
peserta pertemuan tingkat desa

Pertemuan dibuka oleh kepala desa dengan


memperkenalkan para hadirin dan menjelaskan
maksud pertemuan serta acara pertemuan.

30

Kepala

desa

mempersilakan

camat

atau

wakilnya untuk memberikan sambutan atau


arahan pertemuan
-

Kemudian bidan di desa sebagai pembicara


berikutnya

menjelaskan

tentang

masalah

kesehatan
-

Mendiskusikan bersma tentang langkah kegiatan


khususnya tentang survey mawas diri, waktu
pelaksanaan

dan

kelompok

yang

akan

melakukan survey, serta ditentukannya waktu


untuk mengadakan musyawarah masyarakat
desa.
2. Survei Mawas Diri ( SMD )
1) SMD adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan dan
pengkajian masalah kesehatan oleh tokoh masyarakat
dan kader setempat dibawah bimbingan petugas
kesehatan
2) Tujuannya :
(1) Masyarakat

mengenal,

mengumpulkan

data,

mengkaji masalah kesehatan yang ada di desa


(2) Timbulnya minat dan kesadaran masyarakat untuk
mengetahui masalah kesehatan di wilayahnya
3) SDM dilaksanakan di desa terpilih dengan memilih
lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan
desa pada umunya
4) SMD dilaksanakan oleh kader masyarakat yang telah
ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa
5) Waktu pelaksanaan sesuai dengan hasil kesepakatan
pertemuan desa

31

6) Cara pelaksanaan SMD


(1) Bidan di desa dan kader yang ditugaskan untuk
melaksanakan SMD meliputi :
-

Penentuan sasaran, baik jumlah KK ataupun


lokasinya

Penentuan jenis informasi masalah kesehatan


yang akan dikumpulkan dalam mengenal
masalah kesehatan

Penentuan

cara

memperoleh

informasi

kesehatan
-

Misanya : menggunakan cara pengamatan /


wawancara

Pembuatan

instrument

alat

untuk

memperoleh informasi kesehatan


-

Misalnya

: menyusun

daftar pertanyaan

( kuosioner)
(2) Kelompok pelaksanaan SMD dengan bimbingan
bidan di desa mengumpulkan informasi masalah
kesehatan sesuai dengan yang direncanakan
(3) Kelompok pelaksanaan SMD dengan bimbingan
bidan di desa mengolah informasi masalah
kesehatan yang telah dikumpulkan sehingga
didapat perumusan masalah kesehatan dengan dan
prioritas maslah kesehatan di wilayanya
3. Musyawarah Masyarakat Desa ( MMD )
1) MMD adalah pertemuan seluruh warga desa untuk
membahas hasil survey mawas diri dan merencanakan
penanggulangan masalah kesehatan yang diperoleh
dari hasil SMD

32

2) Tujuannya :
(1) Masyarakat mengenal masalah kesehatan di
wilayahnya
(2) Masyarakat bersepakat untuk menanggulangi
masalah kesehatan di wilayahnya
(3) Masyarakat

menyusun

rencana

kerja

untuk

menanggulangi masalah kesehatan di wilayahnya


3) MMD harus dihadiri oleh pemuka masyarakat desa,
petugas Puskesmas, dan sektor terkait di tingkat
kecamatan
4) MMD

dilaksanakan

dibalai

desa

atau

tempat

pertemuan lain yang ada di desa


5) MMD dilaksanakan segera setelah SMD dilaksanakan
6) Pelaksanaannya :
(1) Pembukaan : menguraikan maksud dan tujuan
MMD dipimpin oleh kepala desa
(2) Pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat
sendiri

melalui

curah

pendapat

dengan

menggunakan alat peraga, poster dipimpin oleh


bidan desa
(3) Penyajian hasil SMD oleh kelompok SMD
(4) Perumusan dan penentuan prioritas masalah
kesehatan atas dasar pengenalan masalah dan hasil
SMD dilanjutkan dengan rekomendasi teknis dari
petugas kesehatan di desa
(5) Penyusunan rencana penanggulangan masalah
kesehatan dipimpin oleh kepala desa
(6) Penutup

33

4. Pelayanan yang diberikan meliputi :


1) Pemeriksaan ANC, INC, PNC, BBl
2) Imunisasi, KB
3) Konseling untuk individu
4) Penyuluhan untuk kelompok dan masyarakat
2.5.1.3 Pelayanan intranatal DOMINO ( Domicilary In An Out )
1. Keuntungannya :
1) Pelayanan bersifat berkesinambungan antara institusi
pelayanan dan komunitas
2) Kontak dengan kegiatan institusi sangat sedikit karena
sifatnya hanya kontrol
3) Mudah memperoleh pertolongan persalinan yang
emergency. Dilakukan dirumah bidan desa, di rumah
pasien bisa, bila memenuhi persyaratan persalinan di
rumah
2. Kerugiannya :
1) Kalau ada resiko, tertunda di bawa ke RS, karena
jarak, pengambil keputusan dan transport
2) Memudahkan ke rumah pasien sendiri daripada dari
RS ke rumah pasien
2.5.2

Prinsip prinsip Pengembangan Bidan Komunitas


2.5.2.1 Inform Choice
Klien diharapkan memilih untuk ditolong bidan atau dokter
2.5.2.2 Inform Concent
Inform Concent merupakan persetujuan yang diberikan klien
kepada bidan untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan

34

2.5.2.3 Langkah langkah manajemen kebidanan


Mulai dari anamnese, data umum, data khusus sampai
perumusan diagnosa. Kalau perlu merumuskan prognosa
2.5.2.4 Harus tetap membina hubungan
2.5.2.5 Perawatan lebih lanjut
Supaya tidak putus hubungan, klien disuruh kontrol ulang

35

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Bidan merupakan profesi penting dalam kehidupan masyarakat.
Kebidanan hanyalah salah satu dari begitu banyak perawatan kesehatan yang
diberikan kepada masyarakat.
Perawatan kebidanan berfokus pada kebutuhan individu dan keluarga
dalam perawatan fisik, dukungan emosional dan sosial serta pelibatan aktif
yang terdekat sesuai dengan nilai-nilai budaya.
Perawatan kesehatan komprehensif ini merukan tindakan paling
efektif dan efisien yang dilakukan oleh bidan dalam kolaborasinya dengan
anggota lain dalam tim perawatan kesehatan yang inter dependen.
Kebidanan

komunitas

mencakup

berbagai

aspek,

termasuk

Kesinambungan perawatan, promosi dan penerapan perawatan maternitas


berfokus-keluarga; nasihat untuk wanita serta hak dan tanggung jawabnya;
pendidikan kesehatan kepada wanita tentang pentingnya partisipasi dan
pengambilan keputusan berkenaan dengan perawatan kesehatan mereka, dan
untuk memahami proses yang terjadi pada tubuh; promosi perawatan
kesehatan, pencegahan penyakit, dan penurunan mortalitas dan morbiditas
ibu dan bayi; peran bidan dalam masyarakat.

36

DAFTAR PUSTAKA

1. Helen Varney, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4 Jakarta : EGC, 2006.
2. Manuaba, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk Bidan, 1998.
3. Heni Puji Wahyuningsih, Etika Profesi Kebidanan, 2005.
4. 50 Tahun IBI, 2006

37

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat karuniah-Nya kami dapat menyelesaikan rangkuman tentang Kebidanan
Komunitas.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada:
1. H. Muchson, M.Sc, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Surabaya
2. Hj. Sitti Aras, SST, SPd, MPd, selaku Ketua Program Studi Kebidanan
Politeknik Kesehatan Sutomo Surabaya.
3. Sri Ratnawati, SKM, Mkes, MH, selaku dosen mata kuliah Asuhan
Kebidanan V
4. Rekan-rekan yang telah membantu dalam penyusunan Rangkuman Kebidanan
Komunitas ini.
Kami menyadari, bahwa rangkuman kebidanan komunitas ini masih
jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi
perbaikan penulisan dimasa mendatang. Semoga Rangkuman Kebidanan
Komunitas ini bermafaat bagi kami pada khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya.

Surabaya,

Juni 2008

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGATAR ..........................................................................................i


DAFTAR ISI ....................................................................................................ii
BAB I

Pendahuluan ...................................................................................1
1.1 Latar Belakang ........................................................................1
1.2 Tujuan .....................................................................................2
1.2.1

Tujuan Umum .............................................................2

1.2.2

Tujuan Khusus ............................................................2

1.3 Manfaat ...................................................................................2


1.4 Sistematika Penulisan .............................................................2
BAB II

Tinjauan Pustaka ............................................................................3


2.1

Pengertian Bidan

2.2

Pengertian Kebidanan ..........................................................4

2.3

Sasaran dalam pelayanan Kebidanan ...................................4

2.4

Peran, Fungsi dan Tugas Bidan ............................................22

2.5

Bidan di Masyarakat 29

BAB III Penutup ..........................................................................................36


3.1 Simpulan .................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................37

ii

RANGKUMAN
KEBIDANAN KOMUNITAS
Tugas dari Mata Kuliah ASKEB IBU V
Dosen : Sri Ratnawati, SKM, Mkes, MH

Di susun oleh :
Progsus IBI RSIA

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEHNIK KESEHATAN SURABAYA
PRODI D III KEBIDANAN SUTOMO PROGRAM KHUSUS
RS IBU DAN ANAK IBI SURABAYA
TAHUN AKADEMIK
2006 2009

ii