Você está na página 1de 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan nasional dalam dimensi kehidupan secara kehidupan
secara faktual berorientasi terhadap pembangunan secara menyeluruh sejalan
dengan itu langkah pembangunan dilaksanakan oleh masyarakat dan
pemerintah. Masyarakat sebagai aktor pembangunan dan pemerintah
berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing serta menciptakan suasana
saling menunjang, saling melengkapi dalam suatu kesatuan langkah menuju
tercapainya tujuan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan suatu masyarakat
adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana
perikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan damai (Kamaluddin,
1999:167).
Pembangunan yang ingin dilaksanakan adalah pembangunan yang
berkelanjutan dimana manusia berinteraksi sedemikian rupa dengan sistem
ekologi secara dinamis sehingga pilihan-pilihan bagi generasi yang akan datang
masih tetap terbuka dan bertambah luas untuk meningkatkan kesejahteraan
mereka. Pembangunan yang berkelanjutan ini menuntut bahwa keputusan
manusia dalam jangka pendek harus dengan resiko sekecil mungkin kerusakkan
lingkungan dimasa depan (Hasibuan, 1996:81).

Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang dalam


melaksanakan proses pembangunan dalam hal ini, Indonesia di hadapakan pada
permasalahan yang sangat erat dengan kependudukan. Secara umum
pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi dari pada pertumbuhan penduduk.
Penduduk merupakan objek dan subjek dalam pembangunan maka di perlukan
kuantitas yang memadai dalam menunjang laju pertumbuhan ekonomi. Upaya
yang dilakukan dalam peningkatan kuantitas ini dalam hal perluasan lapangan
pekerjaan, menyediakan fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan penundaan
perkawinan dini.
Masalah kependudukan merupakan salah satu di antara masalahmasalah yang serius untuk di tangani. Hal ini karena pertumbuhan penduduk
yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat. Jumlah
penduduk yang sangat besar menimbulkan beberapa pandangan dari beberapa
pihak, terutama pada pakar kependudukan.
Jumlah penduduk, komposisi umur, dan laju pertambahan atau
penurunan penduduk dipengaruhi oleh fertilitas (kelahiran), mortalitas (kematian),
dan migrasi (perpindahan tempat) karena ketiga variabel tersebut merupakan
komponen-komponen yang berpengaruh terhadap perubahan penduduk
(Lucas,1982:1).
Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan kendala yang cukup
berat di Indonesia sehingga keberhasilan pemerintah dalam pengendalian
pertumbuhan dapat di artikan sebagai keberhasilan dalam melaksanakan
pembangunan, maka sangat diperlukan penduduk dengan kuantitas yang tinggi
atau memadai supaya dapat menunjang laju pertumbuhan dalam perekonomi,

maka dengan jumlah penduduk yang besar telah memiliki model sumber daya.
Tinggal lagi diusahakan agar jumlah penduduk yang besar telah memiliki model
sumber daya. Tinggal lagi diusahakan agar jumlah penduduk yang sedemikian
besar itu, dapat digerakkan agar menjadi sumber daya yang produktif,
sebagaimana dikehendaki oleh pembangunan Indonesia adalah manusia yang
menghargai kerja.
Untuk menunjang keberhasilan pembnagunan, juga untuk menangani
permasalahan penduduk antara lain meliputi jumlah, komposisi dan distribusi
penduduk maka diperlukan danya upaya pengendalian jumlah penduduk.
Pengendalian fertititas merupakan salah satu cara untuk mengendalikan jumlah
penduduk. Dan pengendalian jumlah penduduk lainnya adalah mortalitas
(kematian) dan mingrasi (perpindahan tempat).

Pertumbuhan penduduk dapat dicegah dengan dua cara:


1. Preventive check, yaitu yang bersifat sukarela timbul karena kemampuan
penalaran manusia sehingga dapat memperkiraan akibat-akibat yang
akan terjadi dikemudian hari. Hal ini antara lain mencangkup
pengekangan moral (terutama menyangkut penundaan perkawinan) dan
juga kejahatan (yang berbentuk pencegahan kelahiran, hubungan seks di
luar nikah, pelacuran).
2. Positive check, yaitu pencegahan yang mencangkup yang sampai suatu
tingkat tertentu dapat memperpendek umur manusia yang normal. Hai ini
antara lain mencangkup epidemi, perang, wabah penyakit dan kelaparan
(Munir,1986:30)

Fetilitas merupakan hasil reproduksi nyata dari seorang atau sekelompok


wanita, sedangkan dalam pengertian demografi menyatakan banyaknya bayi
yang lahir hidup. Besar kecilnya jumlah kelahiran dalam suatu penduduk,
tergantung pada bebrapa faktor misalnya, struktur umur, tingkat pendidikan umur
pada waktu kawin pertama, banyaknya perkawinan, status pekerjaan wanita,
penggunaan alat kontrasepsi dan pendapatan/kekayaan.
Dalam melakukan pengukuran terhadap tingkat fertilitas, terdapat
bebrapa persoalan yang di hadapi, sehingga pengukuran terhadap fertilitas ini
dilakukan melalui dua macam pendekatan yaitu yearly preformance, dan
Reproductifve History yang kemudian di bagi lagi menjadi beberapa teknik
penghitungan yang masing-masing memiliki kebaikan dan kelemahan. Salah
satu teknik yang termasuk dalam pendekatan Yearly Performance adalah Total
Fertility Rate (TFR) atau Angka Kelahiran Total.
Total Fertility Rate (TFR) Merupakan jumlah rata-rata anak yang
dilahirkan setiap wanita. Kebaikan dari teknik ini adalah merupakan ukuran untuk
seluruh wanita usia 15-49 tahun yang dihitung berdasarkan angka kelahiran
menurut kelompok umur, berbeda dengan teknik yang lain yang perhitunngannya
tidak memisahkan antara penduduk laki-laki dan perempuan serta tingkat usia
produktif bagi wanita.
banyak faktor yang mempengaruhi Angka Kelahiran Total (TFR) yaitu
tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan penggunaan alat
kontrasepsi, dan tingkat urbanisasi. Tingkat pendapatan dapat diwakili oleh
pendapatan perkapita. Keterkaitan pada pendapatan terhadap fertilitas adalah

ketika pendapatan seseorang naik akan semakin besar pengaruhnya terhadap


penurunan fertilitas yang terjadi.
Apabila ada kenaaikan pendapatan, aspirasi orang tua akan berubah.
Orang tua minginginkan anak dengan kualitas yang baik. Ini berarti biaya (cost)
nya naik. Sedangkan kegunannya turun sebab walaupun naik masih memberikan
kepuasan akan tetapi balas jasa ekonominya turun. Disamoing itu orang tua juga
tidank tergantung dari sumbangan anak. Jadi biaya membesarkan anak lebih
besar dari pada kegunaannya. Hal ini mengakibatkan demand terhadap anak
menurun atau dengan kata lain fertilitas turun.
Penelitian mengenai kaitan pendidikan wanita dengan kesuburan di
beberapa negara, sudah maupun kurang berkembang, mengungkapkan adanya
kaitan yang erat antara tingkat pendidikan dengan tingkat kesuburan. Semakin
tinggi pendidikan semakin rendah kesuburan. Di bebrapa negara, meluasnya
kepandaiaan baca tulis disertai oleh turunnya kesuburan dengan tajam.
Faktor lannya yang dapat mempengaruhi fertilitas adalah tingkat
kesehatan yang dapat diwakili dengan angka harapan hidup dan penggunaan
alat kontrasepsi bagi wanita usia 15-49 yang berstatus kawin. Keduanntya
berpengaruh negatif terhadap tingkat fertilitas.
Samarinda merupakan salah satu penduduk terbanyak. Adapun jumlah
penduduk dan Total Fertility Rate (TFR) di samarinda dapat di lihat pada tabel
berikut:
TABEL1.1

Jumlah penduduk dan Angka Kelahiran Total (TFR) di samarinda (2...-2...)


belum selesai
Menurut Singaribun (1987:55) tingkat fertilitas mencerminkan tingkat
ekonomi, terlihat dari kebanyakan wanita Indonesia mempunyai fertilitas yang
semakin tinggi bersamaan dengan bertambahnya tingkat ekonomi mereka.
Todaro (1996:421) berpendapat bahwa pengaruh antara fertilitas dengan tingkat
pendidikan menunjukkan hubungan negatif. Dimana semakin tinggi tingkat
pendidikan menunjukkan hubungan negatif. Dimana semakin tinggi tingkat
pendidikan wanita cenderung memiliki anak dalam jumlah sedikit.
Pembangunan sumber daya manusia itu di upayakan melalui investasi
humas capital (modal manusia) yakni pengetahuan dan keterampilan yang di
peroleh baik melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman (Mankiw,2003:542).
Dimana manusia di didik untuk dapat mengenal lingkungannya sehingga
berkembang menjadi manusia yang berkepribadian. Menurut holsinger dan
kasarda (1976) dalam david lucas (1995:69) kenaikkan tingkat pendidikan
menghasilkan tingkat kelahiran yang lebih rendah.
Hatmadji dalam Profil kependudukan jambi, (1986:78), bahwa tingkat
pendidikan merupakan salah tolak ukur yang sering digunakan untuk mengukur
tingkat kemajuan suatu daerah atau masyarakat. Pendidikan tidak hanya
mencerdaskan kehidupan masyarakat yang bersangkutn, melainkan juga
meningkatkan mutu masyarakat tersebut. Dengan mutu yang tinggi dan baik,
jumlah penduduk tidak lagi merupakan beban atau tanggungan masyarakat
melainkan sebagai modal atau aset pembangunan. Menurut Andy febrian (2009)
bahwa penduduk yang memepunyai pendidikan yang tinggi cendrungmemilih

atau merencanakan angka kelahiran atau jumlah anak yang di inginkan rendah
dan fertilitas rendah menuju norma keluarga kecil yang sejahtera.
Kepadatan penduduk di pengaruhi fertilitas atau kelahiran hidup,
sedangkan faktor- faktor yang mempengaruhi dan rendahnya fertilitas usia kawin
pertama, penggunaan alat kontrasepsi, pendapatan keluarga dan perbaikn status
perempuan (Mantra, 2003:167). Para peneliti banyak berpendapat bahwa
perkawinan muda atau perkawinan remaja banyak memiliki sisi negatif, seperti
semakin muda umur perkawinan pertama, makin memungkinkan terjadinya
perceraian dan kawin ulang memiliki dampak negatif bagi kehidupan anak. Makin
muda umur perkawinan maka makin panjang pula masa reproduksinya sekalipun
terjadi perceraian (Supratilah dan Suradji, 1979). Lama penggunaan alat
kontrasepsi juga akan menentukan jumlah anak yang dilahirkan. Wanita yang
menggunakan alat kontrasepsi dalam waktu yang lama akan membatasi jumlah
anak yang di lahirkan. Dan sebaliknya wanita yang tidak menggunakan alat
kontrasepsi akan memiliki banyak anak. Usia kawin pertama juga mempengaruhi
tingkat fertilitas. Usia kawin pertama dalam pernikahan berarti memulai
hubungan kelamin antara individu wanita dengan pria yang terikat dalam suatu
perkawinan. Apabila usia perkawinan pertama cendreung muda maka ingkat
fertilitasnya akan semakin tinggi dengan kata lain, semakin cepat usia kawin
pertama, semakin besar kemungkinan mempunyai anak (Singarimbun, 1987:69)
Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Samarinda dan perkembanganya
Tahun 2010-2014
Tahun

Jumlah

Pertambahan

Pertumbuhan

Penduduk

Penduduk

(%)

(Jiwa)

(Jiwa)

2010
2011
2012
2013
2014

727.500
755.630
781.184
805.688
830.676

28.130
25.554
24.504
24.988

3,72 %
3,27 %
3,04 %
3,08 %

Jumlah Penduduk Kota Samarinda dari tahun 2010-2014 terus


mengalami peningkatan yakni pada tahun 2010 sebesar 727.500 jiwa dan tahun
2014 mencapai 830.676 jiwa. Walaupun jumlah penduduk kota Samarinda dari
tahun ke tahun meningkat tetapi pertumbuhannya mengalami fluktuasi. Pada
tahun 2011 pertumbuhannya 3,72%, tahun 2012 turun menjadi 3,27%, tahun
2013 kembali lagi turun menjadi 3,04% dan tahun 2014 mencapai 3,08%.
Peningkatan jumlah penduduk di Kota Samarinda antara lain disebabkan oleh
tingginya angka kelahiran maupun migrasi masuk.

Berdasarkan uraisan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan


penulisan skripsi dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Fertilitas di Samarinda
1.2 Perumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh PDRB perkapita terhadap tingkat fertilitas di
Samarinda?
2. Bagaiman pengaruh angka harapan hidup saat lahir terhadap tingkat
fertilitas di Samarinda?
3. Bagaiman pengaruh indeks tingkat pendidikan terhadap tingkat fertilitas di
Samarinda?
4. Bagaimana pengaruh persentase wanita berumur 15-49 tahun yang
menggunakan alat kontrasepsi terhadap tingkat fertilitas di Samarinda?
5. Bagaimana pengaruh urbanisasi terhadap tingkat fertilitas di Samarinda?
1.3 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap perumusan masalah,
dimana tingkat kebenarannya masih perlu dibuktikan atau di uji secara empiris.
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penulis membuat hipotesis
sebagai berikut:
1. PDRB perkapita memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat fertilitas di
Samarinda, ceteris paribus.
2. Angka harapan hidup saat lahir memiliki pengaruh negatif terhadap
tingkat fertilitas di Samarinda, ceteris paribus.
3. Indeks tingkat pendidikan memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat
fertilitas di Samarinda, ceteris paribus.

4. Persentase wanita berumur 15-49 tahun yang menggunakan alat


kontrasepsi memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat fertilitas di
Samarinda, ceteris paribus.
5. Tingkat urbanisasi memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat fertilitas di
Samarinda, ceteris paribus.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pendapatan perkapita terhadap
tingkat fertilitas di Samarinda.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh angka harapan hidup saat lahir
terhadap tingkat fertilitas di Samarinda.
3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh indeks tingkat pendidikan
terhadap tingkat fertilitas di Samarinda.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh persentase wanita berumur 1549 tahun yang menggunakan alat kontrasepsi terhadap tingkat fertilitas di
Samarinda.
5. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh tingkat urbanisasi terhadap
tingkat fertilitas di Samarinda.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Memberikan wawasan dan pendangan, khususnya bagi peneliti sendiri
untuk memahami secara mendalam akan faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat fertilitas di Samarinda.
2. Memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat fertilitas di Samarinda.
3. Sebagai bahan studi atau tambahan literatur bagi mahasiswa/i fakultas
ekonomi serta sebagai bahan referensi dan informasi bagi masyarakat
dan mahasiswa yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.
4. Sebagai masukan bagi kalangan akademis, dimana hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembanan ilmu
pengetahuan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fertilitas
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang
nyata dari seorang wanita atau kelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini
menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fertilitas mencangkup peranan
kelahiran pada perubahan penduduk.
Istilah fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live brith), yaitu
terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda

kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya


(Mantra,2003 : 145).
Seorang perempuan yang secara biologis subur (fecund) tidak selalu
melahirkan anak-anak yang banyak, misalnya dia mengatur fertilitas dengan
abstinensi atau menggunakan alat-alat kontrasepsi. Kemampuan biologis
seorang perempuan untuk melahirkan sangat sulit untuk diukur. Ahli demografi
hanya menggunakan pengukuran terhadap kelahiran hidup (live birth).
Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran
mortalitas, karena seorang perempuan hanya meninggal satu kali, tetapi ia dapat
melahirkan lebih dari seorang bayi. Disamping itu seorang yang meninggal pada
hari dan waku tertentu, bererti mulai saat itu orang tesebut tidak mempunyai
resiko kematian lagi. Sebaliknya seorang perempuan yang telah melahirkan
seorang anak tidak berarti resiko melahirkan dari perempuan tersebut menurun.
Memperhatikan kompleksnya pengukuran terhadap fertilitas tersebut,
maka memungkinkan pengukuran terhadap fertilitas ini dilakuka dengan dua
macam pendekatan : pertama, Pengukuran Fertilitas Tahunan (Yearly
Performance) dan kedua, Pengukuran Fertilitas Kumulatif (Reproductive History).
1. Yearly Performance (current fertility)
Mencerminkan fertilitas dari suatu kelpmpok penduduk/berbagi kelompok
penduduk untuk jangka waktu satu tahun. Yearly Performance terdiri dari :
a. Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Ratio (CBR)

Angka Kelahiran Kasar dapat diartikan sebagai banyaknya kelahiran


hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun.
Atau dengan rumus dapat ditulis sebagai barikut :
CBR = B x k

(belum selesai)

Pm
Dimana :
CBR

: Crude Birth Rate atau Angka kelahiran Kasar

Pm

: Penduduk pertengahan tahun

: Bilangan konstan yang biasanya 1.000

: Jumlah kelahiran pada tahun tertentu


Kebaikan dari perhitungan CBR ini adalah perhitungan ini sederhana,

karena hanya memerlukan keterangan tentang jumlah anak yang dilahirkan dan
jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Sedangkan kelemahan dari
perhitungan CBR ini adalah tidak memisahkan penduduk laki-laki dan penduduk
perempuan yang masih kanak-kanak dan berumur 50 tahun keatas, jadi angka
yg dihasilkan sangat kasar.
b. Angka Kelahiran Umum atau Ganeral Fertility Rate (GFR)
Angka kelahiran umum adalah kebanyakan kelahiran tiap seribu wanita
yang berumur 15-49 tahun atau 15-44 tahun. Dapat ditulis dengan rumus
sebagai barikut :
GFR = Bx k

(belum selesai)

Pf (15-49)
Dimana :
GFR

: Tingkat Fertilitas Umum

: Jumlah kelahiran

Pf(15-49)

:Jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada


pertengahan tahun

Kebaikan dari perhitungan GFR ini adalah perhitungan ini lebih cermat dari pada
CBR karena hanya memasukkan wanita yang berumur 15-49 tahun atau sebagai
penduduk yang exposed to risk. Kelemahan dari perhitungan GFR ini adalah
tidak membedakan risiko melahirkan dari berbagai kelompok umur, sehingga
wanita yang berumur 40 tahun dianggap mempunyai resiko melahirkan yang
sama besarnya dengan wanita yang berumur 25 tahun.
c. Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur atau Age Specific Fertilitiy Rate
(ASFR)
Terdapat variasi mengenai besar kecilnya kelahiran antar kelompok penduduk
tertentu, karena tingkat fertilitas penduduk ini dapat pula dibedakan menurut:
Jenis kelamin, umur, status prkawinan, atau kelompok-kelompok penduduk yang
lain.
Diantara kelompok perempuan usia reproduksi (15-49) terdapat variasi
kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas perempuan
pada tiap-tiap kelompok umur Age Specific Fertility Rate (ASFR). Sehingga,

ASFR dapat diartikan sebagai banyaknya kelahiran tiap seribu wanita pada
kelompok umur tertentu, dengan rumus sebagai berikut:
ASFRi=Bi x k

(belum selesai)

Pfi
Dimana :
ASFR : Age Specific Fertility Rate
Bi

: Jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i

Pfi

: Jumlah perempuan kelompok umur i pada pertengahan tahun

: Angka konstan 1.000


kebaikan dari perhitungan ASFR ini adalah perhitungan ini lebih cermat

dari GFR karena sudah membagi penduduk yang exposed to risk ke dalam
berbagai kelompok umur. Dengan ASFR dimungkinkan pembuatan analisis
perbedaan fertilitas (current fertility) menurut berbagai karakteristik wanita.
Dengan ASFR dimungkinkan dilakukannya studi fertilitas menurut kohor. ASFR
ini merupakan dasar untuk perhitungan ukuran fertilitas dan reproduksi
selanjutnya (TFR,GRR, dan NRR).
Kelemahan dari perhitungan ASFR ini adalah membutuhkan data yang
terinci yaitu banyaknya kelahiran untuk kelompok umur. Sedangka data tersebut
belum tentu ada di tiap negara/daerah, terutama di negara yang sedang
berkembang. Jadi pada kenyataannya sukar sekali mendapat ukuran ASFR.
Kemudian pada perhitungan ini tidak menunjukan ukuran fertilitas untuk
keseluruhan wanita umur 15-49 tahun.

d. Angka Kelahiran Total atau Totsl Fertility Rate (TFR)


Tingkat Fertilitas Total didefinisikan sebagai jumlah kelahiran hidup lakilaki dan perempuan tiap 1.000 penduduk yang hidup hingga akhir masa
reproduksinya dengan catatan:
1. Tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri
masa reproduksinya
2. Tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada periode waktu tertentu.
Tingkat Fertilitas Total menggambarkan riwayat fertilitas dari sejumlah
perempuan hipotesisselam masa reproduksinya. Dalam praktek Tingkat Fertilitas
Total dikerjakan dengan menjumlahkan tingkat fertilitas perempuan menurut
umur, apabila umur tersebut berjenjang lima tahun, dengan asumsi bahwa
tingkat fertilitas menurut umur tunggal sama dengan rata-rata tingkat fertilitas
kelompok umur lima tahun. Maka rumus dari Tingkat Fertilitas Total atau TFR
adalah sebagai berikut:
TFR=

(belum selesai)

Dimana :
ASFR = Angka kelahiran menurut kelompok umur.
I

= Kelompok umur 5 tahunan, dimulai dari 15-19.

Kebaikan dari perhitungan TFR ini adalah TFR merupakan ukuran untuk seluruh
wanita usia 15-49 tahhun, yang dihitung berdasarkan angka kelahiran menurut
kelompok umur (Hatmadji, 2004 : 63).
2. Reproductive History (cummulative fertility)

a. Children Ever Born (CEB) atau jumlah anak yang pernah dilahirkan
CEB mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok atau beberapa
wanita selama reproduksinya, dan disebut juga paritas. Kebaikan dari
perhitungan CEB ini adalah mudah didapatkan informasinya (di sensus dan
survey) dan tidak ada referensi waktu.
Kemudian kelemahan dari perhitungan ini adalah angka paritas menurut
kelompok umur akan mengalami kesalahan karena kesalahan pelaporan umur
penduduk, terutama di negara sedang berkembang. Kemudian ada
kecenderungan semakin tua semakin besar kemungkinannya melupakan jumlah
anak yang dilahirkan. Dan kelemahan fertilitas wanita yang telah meninggal
dianggap sama dengan yang masih hidup.
b. Child Woman Ratio (CWR)
CWR adalah hubungan dalam bentuk ratio antara jumlah anak di bawah 5
tahun dan jumlah penduduk wanita usia reproduksi. Kebaikan dari perhitungan
CWR ini adalah untuk mendapatkan data yang diperlukan tidak usah membuat
pertanyaan khusus dan brguna untuk indikasi fertilitas di daerah kecil sebab di
Negara yang registrasinya cukup baik pun, statistic kelahiran tidak ditabulasikan
untuk daerah yang kecil-kecil.
Kelemahan dari CWR ada tiga, pertama langsung di pengaruhi oleh
kekurangan pelaporan tentang anak, yang sering terjadi di Negara sedang
berkembang. Walaupun kekurangan pelaporan pada anak-anak jauh lebih besar.
Kedua, dipengaruhi oleh tingkat mortalitas, dimana tingkat mortalitas anak,
khususnya di bawah satu tahun juga lebih besar dari orang tua, sehingga CWR

selalu lebih kecil dari pada tingkat fertilitas yang seharusnya. Ketiga, tidak
memperhitungkan distribusi umur dari penduduk wanita.
Dimana hal inilah yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini,
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel lainnya seperti
PDRB perkapita, Angka Harapan Hidup, Indeks Tingkat Pendidikan, Wanita
berumur 15-49 tahun yang menggunakan Alat Kontrasepsi dan Tingkat
Urbanisasi dapat mempengaruhi tingkat fertilitas di Samarinda.
2.2 Teori-teori Kependudukan
Penduduk dunia berkembang secara lambat sampai pertengahan abad
ke 17. Pada sekitar tahun 1665 penduduk dunia diperkirakan sebesar 500 juta
atau Milyar. Penduduk dunia kemudian menjadi dua kali lipat dalam jangka
waktu 200 tahun yaitu pada tahun 1850. Dalam jangka waktu 80 tahun kemudian
penduduk dunia menjadi dua kali lipat lagi, yaitu pada tahun 1930. Sedangkan
untuk mencapai 4 Milyar kemudian, hanya diperlukan waktu 45 tahun.
Pertumbuhan penduduk yang makin cepat ini dapat dimengerti apabila
kita melihat adanya penemuan Penicillin pada tahun 1960-an. Dengan
perkembangan teknologi obat-obatan maka angka kematian menurun sedangkan
angka kelahiran masih tetap tinggi sehingga mmbuat selisih antara kedua angka
tersebut makin besar. Dengan kata lain, pertumbuhan penduduk makin cepat.
Pengaruh pertemuan Penicillin dan program kesehatan masyarakat
sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Sebagai contoh tahun 18501930, untuk mencapai jumlah penduduk sebesar 1 Milyar, diperlikan waktu 80
tahun. Sedangkan periode 1960-1975 hanya memerlukan waktu 15 tahun saja.

Pertumbuhan penduduk yang makin cepat tersebut, mengundang banyak


masalah sehingga teori-teori kependudukan kemudian berkembang dengan
pesatnya, pengemuka-pengemuka teori pada dasarnya bertitik tolak pada
maslah kependudukan dalam kaitannya dengan masalah ekonomi, etik, agama,
pertahanan/politik dan sebagainya ( Mantra, 2003 : 51).
2...

Teori Malthus
Aliran ini dipelopori oleh Thomas Robert Malthus, seorang pendeta

inggris, hidup pada tahun 1766 hingga tahun 1834. Pada permulaam tahun 1798
lewat karangannya yang berjudul : Essai on Principle of Populations as it Affect
the Future Improvement of Society, with Remarks on the Speculation of Mr.
Godwin, M. Condorcet, and Other Writers, menyatakan bahwa penduduk
(seperti juga tumbuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatas, akan
berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian
dari permukaan bumi ini (Mantra, 2003 : 50).
Tinggi pertumbuhan penduduk ini disebabkan karena hubungan kelamin
antara laki-laki dan perempuan tidak bisa di hentikan. Disamping itu Malthus
berpendapat bahwa manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan,
sedangkan laju pertumbuhan bahan makanan jauh lebih lambat dibandingkan
dengan laju pertumbuhan penduduk. Maka manusia akan mengalami
kekurangan bahan makanan. Inilah sumber dari kemelaratan dan kemiskinan
manusia. Hal ini jelas diuraikan oleh Malthus sebagai berikut:
... Human species would increase as the number 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64,
128, 256, and the substance as 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, In two centuries the
population would be to the means of subsistance as 236 to 9; in three centuries

as 4096 to 13 and in two thousand years the difference would be almost


incalculable... (Mantra, 2003:51).
Seperti telah disebutka diatas, untuk dapat keluar dari permasalahan
kekurangan pangan tersebut, pertumbuhan penduduk harus di batasi. Menurut
Malthus pembatasan tersebut, dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu
preventive checks, dan positive checks. Preventive checks ialah pengurangan
penduduk melalui penekanan kelahiran. Preventive checks dapat dibagi menjadi
dua, yaitu: moral restraint dan vice. Moral restraint (pengekangan diri) yaitu
segala usaha untuk mengekang nufsu seksual, dan vice pengurangan kelahiran
seperti: pengguguran kandungan, penggunaan alat-alat kontrasepsi,
homoseksual, promiscuity, adultery. Bagi Malthus moral restraint merupakan
pembatasan kelahiran yang paling penting, sedangkan penggunaan alat-alat
kontrasepsi belum dapat diterimanya (Mantra, 2003:51).
Tabel 2.2
Pembatasan Pertumbuhan Penduduk
Preventive Checks

Positive Checks

(lewat penekanan kelahiran)


Moral Restraint
Vice (usaha

(lewat proses kematian)


Vice (segala jenis
Misery

(pengekangan

pengurangan

pencabutan

(keadaan

diri)

kelahiran)

nyawa)

yang
menyebabkan
kematian)

Segala

usaha

Penggug

uran

yang

an

n
Homosek

mic
Benca
na

an orang-

sual
Promiscui
ty
Adultery
Penguna

Epide

anak
Pembunuh
-

alam
Pepera

cacat
Pembunuh

ngan
Kelapa

an orang-

ran
Kekura

g nafsu
seksual
Perunding

an anak-

kandunga

mengekan

Pembunuh

orang
-

perkawian
an alat

orang tua

ngan

an
kontrasep

panga

si

Belum selesai
Sumber : Mantra, Ida Bagoes : 52
Positive Checks adalah pengukuran penduduk melalui proses kematian.
Apabila satu wilayah jumlah penduduk melebihi jumlah persediaan bahan
pangan, maka tingkat kematian akan meningkat mengakibatkan terjadinya
kelaparen, wabah penyakit dan lain sebagainya. Proses ini akan terus
berlangsung sampai jumlah penduduk seimbang dengan persediaan bahan
pangan.
Positive checks dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu: vice dan misery. Vice
(kejahatan) ialah segala jenis pencabutan nyawa sesama manusia seperti
pembunuhan anak-anak (infancitide), pembunuhan orang-orang cacat, dan
orang-orang tua. Misery (kemelaratan) ialah segala keadaan yang menyebabkan
kematian seperti berbagai jenis penyakit dan epidemic, bencana alam,
kelaparan, kekurangan pangan dan peperangan.

Pendapat Malthus banyak mendapat tenggapan para ahli dan


menimbulkan diskusi yang terus menerus. Pada umumnya gagasan yang
dicetuskan Malthus dalam abad ke-18 pada masa itu di anggap sangat aneh.
Asumsi yang mengatakan bahwa dunia akan kehabisan sember daya alam
karena jumlah penduduk yang selalu meningkat, tidak dapat diterima oleh akal
sehat. Dunia baru (Amerika, Afrika, Australia, dan Asia) dengan sumber daya
alam yang berlimpah, baru saja terbuka untuk para migran dari dunia lama
(misalnya Eropa Barat). Mereka memperkirakan bahwa sember daya alam di
dunia baru tidak akan dapat dihabiskan. Beberapa kritik terhadap teori Malthus
adalah sebagai berikut:
1. Malthus tidak memperhitungkan kemajuan-kemajuan transportasi yang
menghubungkan daerah satu dengan yang lain sehingga pengiriman bahan
makanan ke daerah-daerah yang kekurangan pangan mudah dilaksanakan.
2. Dia tidak memperhitungkan kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi,
terutama dalam bidang pertanian. Jadi produksi pertanian dapat pula
ditingkatkan secara cepat dengan mempergunakan teknologi baru.
3. Malthus tidak memperhitungkan usaha pembatasan kelahiran bagi
pasangan-pasangan yang sudah menikah. Usaha pembatasan kelahiran ini
telah dianjurkan oleh Francis Place pada tahun 1822.
4. Fertilitas akan menurun apabila terjadi perbaikan ekonomi dan setandar
hidup penduduk dinaikkan. Hal ini tidak dapat diperhitungkan oleh Malthus
(Mantra, 2003:53).
2... Mazhab Fisiologi
Orang-orang yang termasuk golongan ini sebenarnya pendapatnya
berbeda-beda tetapi dalam satu hal mereka mempunyai pendapat yang sama
yaitu menyangkal dalil Malthus yang dikemukakannya sebagai suatu aksioma

tanpa menyelidiki bahwa kemampuan menurunkan keturunan suatu daya alam


yang tetap. Menurut seorang tabib Inggris Thomas Jarold, daya baik
(kemampuan menurunkan) pada manusia akan berkurang, semakin banyak ia
mempergunakan tenaga rohani dan jasmaninya. Karena itu, menurut
pendapatnya, orang tidak usah khwatir akan ketidak seimbangan antara jumlah
penduduk dan bahan makanan, mengingat bertambahnya kemajuan yang kini
dapat dicapai oleh manusia yang meminta lebih banyak pengorbanan tenaga
rohani dan jasmani.
Yang hampir sama pendapatnya dengan Thomas Jarold adalah Michael
Thomas Sadler. Menurut pendapatnya, kemampuan menurunkan keturunan
orang itu akan berkurang, ceteris paribus. Jika jumlah penduduk itu bertambah
dan kemampuan menurunkan keturunan itu akan bertambah jika jumlah
penduduk itu berkurang. Disingkatkan gambaran pendapat M. T. Sadler itu
adalah sebagai berikut:
Bertambahnya jumlah penduduk = berkurangnya jumlah kemampuan
melahirkan.
Berkurangnya jumlah penduduk = bertambahnya kemampuan melahirkan.
Pada penduduk yang sedang naik jumlahnya, bertambah banyaknya
bahan makanan berlangsung hiudup cepat dari pada bertambahnya orang.
Keadaan ini mengakibatkan naiknya tingkat kemakmuran tingkat penduduk itu.
Meningkatnya kemakmuran menyebabkan berkurangnya kemampuan
menurunkan keturunan. Banyaknya bahan makanan dan mudahnya keadaan
penghidupan mempengaruhi berkurangnya kemampuan menurunkan keturunan.
Bukti-bukti itu ditemukan oleh Sadler di Negara-negara dan kota-kota besar yang

rapat penduduknya dengan angka-angka kelahiran yang rendah dan banyaknya


bangsawan-bangsawan inggris yang tidak mempunyai keturunan lagi. Begitu
juga dalam keadaan yang sebaliknya. Sukarnya penghidupan dan kurangnya
bahan makanan sangat besar pengaruhnya terhadap bahan makanan
menurunkan keturunan.
Dalil yang menyatakan bahwa kemampuan menurunkan keturunan akan
berkurang dalam meningkatnya kemakmuran, dengan tegas dipertahankan oleh
Thomas Doubleday pada tahun 1841. Menurut pendapatnya, sangat sukar
didapatkan badan penghidupan, merupakan suata perangsang dari daya baik
sedangkan bila bahan-bahan penghidupan itu mudah didapatkan maka hal ini
akan mengurangi kemampuan melahirkan. Berlakunya hukum ini dapat kita
jumpai pada seluruh alam hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Di negeri-negeri yang kaya dan makmur keadaan rakyatnya, maka
kemampuan menurunkan keturunan sangat kecil, sedangkan negeri-negeri yang
rakyatnya miskin dimana keperluan hidupnya serba sukar didapatkan,
kemampua melahirkan itu sangatlah besar. Keadaan tersebut oleh Doubleday
dinyatakan sebagai Hukum yang agung dan nyata dari penduduk atau (The
real and the great law of human population). Ia mengerti, bahwa secara empiris
ia dapat membuktikan berlakunya hukum itu.
Herbert Spencer yang menyangkal dengan keras teori dari Malthus
menarik garis pemisah antara hewan dan manusia dalam memperkembangkan
keturunannya. Ia berpendapat bahwa manusia mengenal Individu dan
Kemajuan Perseoragan. Semakin banyak orang mempergunakan energi untuk
kemajuan dirinya, semakin berkurangnya energi yang dapat dipergunakan untuk

memperkembangkan keturunan. Karena itu, jenis hewan yang tingkat


kemajuannya rendah, daya biaknya tinggi, sebaliknya tingkat kemajuan individu
yang tinggi bersamaan dengan daya baik yang rendah. Manusia adalah jenis
hewan yang paling maju dan kemampuan menurunkan keturunan adalah paling
rendah. Semakin tinggi tingkat kemajuan seatu golongan penduduk, akan
semakin berkuranglah daya baiknya, sehingga akhirnya akan sampai kepada
suatu tingkatan, dimana kemampuan menurunkan keturunan itu hanya sekedar
cukup untuk mengkompensir jumlah kematian. Selanjutnya penduduk itu akan
menjadi stasioner.
Menurut Abdurachim dalam Radifan (2009) faedah dari adanya teoti-teori
golongan fisiologis ini adalah bahwa orang-orang tidak lagi berpegang teguh,
bahwa kemampuan menurunkan keturunan merupakan suatu daya yang tetap.
Tetapi bukti-bukti dari pada teori-teori itu sukar didapat, jadi hanya merupakan
suatu hipotesa belaka (Abdurachim, 1973:15-18).
2... Mazhab Psycho-sosial
Menurut Nassau William Senior, bahwa cita-cita manusia untuk
memperbaiki kedudukannya dalam penghidupan sama kuatnya dengan
keinginan untuk menurunkan keturunan. Beberapa tahun kemudian teori Senior
itu diperbaharui oleh Arsene Dumont. Intin dari teori Dumont ini adalah bahwa
setiap orang mempunyai keinginan untuk memperbaiki kedudukan ekonomi dan
kedudukan sosialnya sepanjang hal itu masih dapat dilakukan. Dan hal ini
disebutnya Kapilaritas Sosial. Menurut Abdurachim dalam Radifan (2009).
Keinginan untuk maju dalam perjuangan hidup diwariskan oleh orang secara
turun-temurun kepada keturunannya. Setiap orang tua menghendaki agar anak

keturunannya mempunyai kedudukan-kedudukan yang lebih baik dari pada yang


telah dimilikinya. Yang mengharapkan keadaan yang sebaliknya tidak pernah
ada (Abdurachim, 1973:18-20).
2... Teori Evolusi Sosial
Disamping teori-teori golongan fisiologis dan golongan psycho-sosial
dalam permulaan abad ke-20 masih dapat teori-teori lain mengenai
masalahpenduduk. Prof. Gini yang teorinya disebut orang teori evolusi-sosial
menyebut proses dari petumbuhan penduduk bangsa sebagai peredaran
(siklus) bangun dan runtuhnya penduduk. Siklus dari pertumbuhan penduduk ini
menurut pendapatnya adalah sama dengan siklus hidup individu. Ada suatu
masa permulaan, dimana orang tumbuh dengan cepat menjadi besar yang
kemudian disusul dengan masa pertumbuhan yang lambat dan menjadi tua,
untuk selanjutnya mengalami keruntuhan.
Tiap bangsa dalam usia mudanya mempunyai struktur masyarakat yang
sederhana dengan angka-angka kesuburan (kelahiran) yang tinggi. Sebagai
suatu konsekuensi dari pada ini penduduk bangsa itu akan tumbuh dalam jumlah
yang besar dan sejalan dengan ini, organisasi-organisasi dalam masyarakat pun
akan tumbuh menjadi kompleks seperti terlihat dalam perkembangan kelas-kelas
sosialnya, pertumbuhan industri-industri dan aktivitas ekonominya. Dengan
bertambahnya jumlah penduduk, tekanan hidup akan terasa dan ekspansi akan
terjadi dengan melalui peperangan atau pendudukan daerah-daerah orang lain.
Pada akhir, kemudian akan terjadi pengurangan dalam pertumbuhan
penduduk yang disebabkan oleh kehilangan tenaga-tenaga produksif dalam
peperangan atau perpindahan. Sebab utama dari berkurangnya penduduk itu

bersifat biologi. Gini percaya bahwa faktor yang fundamental dalam


berkurangnya penduduk adalah faktor biologi, yang tidak dapat ditandingi oleh
faktor-faktor sosial dan ekonomi. Permulaan pengurangan kelahiran itu akan
berlaku pada kelas-kelas sosial yang tinggi untuk selanjutnya meluas kepada
kelas-kelas sosial yang rendah. Dengan demikian penduduk akan menjadi kecil
jumlahnya (Abdurachim, 1973:21).
2... Teori Neo-Malthusianisme
Pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, teori Malthus mulai
diperdebatkan lagi. Kelompok yang menyokong aliran Malthus tetapi lebih radikal
disebut dengan kelompok Neo-Malthusianisme. Kelompok ini tidak sependapat
dengan Malthus bahwa mengurangi jumlah penduduk cukup dengan moral
restraint saja. Untuk keluar dari perangkap Malthus, mereka menganjurkan
menggunakan semua cara-cara preventive checks misalnya dengan
penggunaan alat-alat kontrasepsi untuk mengurangi jumlah kelahiran,
pengguguran kandungan (absortions). Paul Ehrlich mengatakan:
...the only way to avoid that scenario is to bring the birth rate under
control-perhaps even by force (Weeks,1992).
Menurut kelompok ini (yang dipelopori oleh Garrett Hardin dan Paul
Ehrlich). Pada abad ke-20 (pada tahun 1950-an), dunia baru yang pada jamanya
Malthus masih kosong kini sedah mulai penuh dengan manusia. Dunia baru
sudah tidak mampu untuk menampung jumlah penduduk yang selalu bertambah.
Tiap minggu lebih dari seratus juta bayi lahir di dunia, ini berarti satu juta lagi
mulit yang harus diberi makan. Mungkin pada permulaan abad-19 orang masih
dapat mengatakan bahwa apa yang diramalkan Malthus tidak mungkin terjadi

tetapi sekarang beberapa orang percaya bahwa hal itu terjadi dengan
mengatakan it has come true:it is happening.
Di tahun 1960-an dan 1970-an photo-photo yang diambil dari ruang
angkasa menunjukkan bahwa bumi kita terlihat seperti sebuah kapal yang
berlayar di ruang angkasa dengan persediaan bahan bakar dan bahan makanan
yang terbatas. Pada suatu saat, kapal ini akan kehabisan bahan bakar dan
bahan makanan. Sehingga akhirnya malapetaka menimpa kapal tersebut.
Paul Ehrlich dalam bukunya The Population Bomb pada tahun 1971,
menggambarkan penduduk dan lingkungan yang ada di dunia dewasa ini
sebagai berikut. Pertama, dunia ini sudah terlalu banyak manusia; kedua,
keadaan bahan makanan sangat terbatas; ketiga, karena terlalu banyak manusia
di dunia ini lingkungan sudah banyak yang rusak dan tercemar. Pada tahun 1990
Ehrlich bersama istrinya merevisi buku tersebut dengan judul yang baru The
Population Explotion yang isinya bahwa bom penduduk yang dikhwatirkan tahun
1968, kini sewaktu-waktu akan dapat meletus. Kerusakan dan pencemaran
lingkungan yang parah karena sedah terlalu banyaknya penduduk sangat
merisaukan mereka. Selanjutnya Ehrlich menulis;
...the poor are dying of hunger, while rich and poor alike are dying from
the by-products of affluence-pollution and ecological disaster (Weeks, 1992).
Pandangn mereka (Ehrlich dan Hardin)tentang masa depan dunia ini
sangat suram, namun demikian isu kependudukan ini sangat penting bagi
seluruh generasi terutama bagi penduduk di Negara maju (devel-oped world).
(Mantra,2003:53-54).

Pada tahun 1972 Meadow menerbitkan sebuah buku dengan judul The
Limit to Growth. Bagi penganut Malthus, buku ini meripakan karya yang terbaik
yang pernah diterbitkan, tetapi bagi penentang teori Malthus buku ini dapat
mempengaruhi manusia dalam melihat pesimisme. Tulisan Meadow memuat
hubungan antara variable lingkungan yaitu: penduduk, produksi pertanian,
produksi industri, sumber daya alam dan polusi.
2... Kaitan Pendapatan Per Kapita terhadap Fertilitas
Dalam analisis ekonomi fertilitas di bahas mengapa permintaan akan
anak berkurang bila pendapatan meningkat. New household economics
berpendpat dahwa (a) orang tua lebih menyukai anak-anak yang berkualitas
lebih tinggi dalm jumlah yang hanya sedikit sehingga harga beli meningkat; (b)
bila pendapatan dan pendidikan meningkat maka semakin banyak waktu
(khususnya waktu ibu) yang digunakan untuk merewat anak. Jadi anak menjadi
lebih mahal.
H. Leibenstein berpendapat bahwa anak dilihat dari 2 segi kegunaannya
(utility) dan biaya (cost). Kegunaannya ialah memberikan kepuasan, dapat
memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam kegiatan berproduksi
serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua di masa depan.
Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai
anak tersebut.
Apabila ada kenaikan pendapatan, aspirasi orang tua akan berubah,
orang tua menginginkan anak dengan kualitas yang baik. Ini berarti biayanya
naik. Sedangkan kegunaannya turun sebab walaupun anak masih memberikan
kepuasan akan tetapi balas jasa ekonominya turun. Di samping itu orang tua

juga tak bergantung dari sumbangan anak. Jadi biaya membesarkan anak lebih
besar dari pada kegunaannya. Hal ini mengakibatkan demand terhadap anak
menurun atau dengan kata lain fertilitas turun (Mundiharno, 1997 : 5).
Robinson dan Harbinson menggambarkan kerangka analisis ekonomi
terhadap fertilitas. Pertimbangan ekonomi dalam menentukan fertilitas terkait
dengan income, biaya (langsung maupu tidak langsung), selera, modernisasi dan
sebagainya. Menurut Bulatao, modernisasi berpengaruh terhadap demand for
children dalam kaitan membuat latent demand menjadi efektif. Menurut Bulatao,
demand for children dipengaruhi (determined) oleh berbagai faktor seperti biaya
anak, pendapatan keluarga dan selera, seperti yang dapat dilihat pada Gambar
2.2 berikut ini :
Model Analisis Ekonomi tentang Fertilitas; Robinson
Belum selesai
Gambar 2.2
Model Robinson
Selain itu, Easterlin berpendapat bahwa begi negara-negara
berpendapatan rendah permintaan mungkin bisa sangat tinggi suplainya rendah,
karena terdapat pengekangan biologis terhadap kesuburan. Hal ini menimbulkan
suatu permintaan berlebihan (excess demand) dan juga menimbulkan sejumlah
besar orang yang benar-benar tidak menjalankan praktek-praktek pembatasan
keluarga. Di pihak lain, pada tingkat pendapatan yang tinggi, permintaan adalah
rendah sedangkan kemampuan suplainya tinggi, maka akan menimbulkan suplai

berlebihan (over supply) dan meluasnya praktek keluarga berencana


(Mundiharno, 1997 : 7-8).
2... Angka Harapan Hidup Saat Lahir
Secara umum, tingkat kesehatan penduduk di suatu wilayah yang dapat
di nilai dengan menilai angka harapan hidup. Angka harapan hidup suatu umur
didefinisikan sebagai rata-rata jumlah tahun kehidupan yang masih dijalani oleh
sesorang yang telah berhasil mencapai umur tepat X dalam situasi mortalitas
yang berlaku di lingkungan masyarakat. Angka harapan hidup waktu lahir
misalnya, merupakan rata-rata tahun kehidupan yang dijalani oleh bayi yang
baru lahir. Angka harapan hidup pada suatu usia merupakan indikator yang baik
untuk menunjukkan tingkat sosial-ekonomi secara umum.
Angka ini sekaligus memperlihatkan keadaan dan sistem pelayanan
kesehatan yang ada dalam suatu wilayah dan masyarakat, karena dapat
dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari hasil upaya peningkatan tarif
kesehatan secara keseluruhan. Kebijakan kesadaran masyarakat dalam
membiasakan diri untuk sehat, diperkirakan akan membantu memperpanjang
angka harapan hidup.
2.. Kaitan Angka Harapan Hidup terhadap Fertilitas
Ada dua petunjuk yang dapat digunakan untuk menilai keadaan
kesehatan suatu masyarakat yakni dengan angka kematian bayi dan angka
harapan hidup. Apabila angka harapan hidup atau umur perkiraan naik, maka
angka kelahiran turun. Orang tua biasanya menginginkan setidak-tidaknya satu
anak lelakinya berumur panjang, untuk menjaganya di hari tua dan meneruskan

nama keluarga. Sering kali seorang wanita harus beranak enam atau lebih
supaya pasti bahwa satu anak laki-laki dapat hidup sampai dewasa. Sebuah
penelitian yang diadakan Harvard University di bawah pimpinan David Heer
menekankan betapa pentingnya kepastian anak-anak dapat hidup terus sampai
dewasa pada dorongan untuk membina keluarga kecil. Dinama angka kematian
sangat tinggi, disitu orang tua berusaha mempunyai anak sebanyak mungkin.
Dimana pada angka kematian rendah dan angka harapan hidup atau umur
perkiraan 50 tahun atau lebih, disitu setiap menurunnya angka kematian disertai
menurunnya angka kelahiran. Lebih besar lagi, dan dengan demikian
memperlambat perkembangan penduduk secara keseluruhan (Brown,1986: 165166).
2... Indeks Tingkat Pendidikan
Adalah terdiri dari dua bagian, dimana bobot dua pertiganya untuk
kemampuan baca tulis dan bobot sepertiganya adalah untuk masa bersekolah
(Todaro,2004 : 69). Hal ini dapat dirumuskan, adalah:
Indeks Pendidikan = 2/3 (indeks kemampuan baca tulis orang dewasa) + 1/3
(indeks masa bersekolah bruto)
2..6.1 Indeks Angka Melek Huruf
Salah satu indikator yang dapat dijadika ukuran kesejahteraan sosial
yang merata adalah dengan melihat tinggi rendahnya persentase penduduk yang
melek huruf. Tingkat melek huruf atau sebaliknyan tingkat buta huruf dapat
dijadikan ukuran kemajuan suatu bangsa. Adapun kemampuan membaca dan

menulis yang dimiliki akan dapat mendorong penduduk untuk berperan lebih aktif
dalam proses pembangunan (BPS, Indikator Kesejahteraan Rakyat: 2007).
Masa bersekolah bruto dapat melebihi 100 persen hal ini dikarenakan
siswa yang tua dapat kembali bersekolah. Indeks Angka Melek Huruf ini dibatasi
hingga seratus persen (Todaro, 2004: 69). Rumusnya adalah:
Indeks kemampuan baca tulis orang dewasa = (kemampuan baca tulis (persen)-0_
(100-0)
Belum selesai
2.6.2 Rata-rata lama sekolah
Rata-rata perkiraan lamanya penduduk untuk menyelesaikan pendidikan
dari yang berusia sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah tingi lanjutan
terdaftar untuk belajar di sekolah yang satuannya dalam persen (Todaro,
2004:69) adapun rumusnya adalah :
Indeks masa bersekolah bruto = (rata-rata lama sekolah-0)
(100-0)
Belum selesai
2.6.3 Kaitan Indeks Tingkat Pendidikan terhadap Fertilitas
New household economics berpendapat bahwa bila pendapatan dan
pendidikan meningkat maka semakin banyak waktu (khususnya waktu ibu) yang
digunakan untuk merawat anak. Jadi anak menjadi lebih mahal. Sehigga hal ini
dapat menguragi angka kelahiran (Mundiharno, 1997 :7).

Serupa dengan teori tradisional perilaku konsumen, penerapan teori


fertilitas di Negara-negara berkembang memberikan pemahaman bahwa
seandainya harga relatif atau biaya anak-anak meningkat akibat dari, misalnya,
meningkatnya kesempatan bagi kaum wanita untuk memproleh pendidikan dan
pekerjaan, atau adanya undang-undang mengenai batas usia minimum bagi
anak-anak yang hendak bekerja, maka keluarga-keluarga akan menginginkan
sedikit anak-anak tambahan.
Para orang tua akan tergerak untuk mementingkan kualitas dari pada
kuantitas anak, atau memberi kesempatan kepada istri dan ibu untuk bekerja
demi menunjang pemeliharaan anak. Denga demikinan, salh satu cara untuk
mendorong para keluarga agar menginginkan sedikit anak adalah dengan
memperbesar kesempatan di bidang pendidikan dan membuka lapanganlapangan pekerjaan berpenghasilan tinggi kepada kaum wanita.
Penelitian mengenai kaitan pendidikan dengan wanita dengan kesuburan
di beberapa Negara, sudah maupun kurang berkembang, mengungkapkan
bahwa adanya kaitan yang erat antara tingkat pendidikan dengan fertilitas dalam
hal ini pada tingkat kesuburan. Semain tinggi pendidkan semakin rendah
kesuburan yang mengakibatkan penurunan pada fertilitas. Di beberapa Negara,
meluasnya kepandaian baca tulis mengurangi anaknya kira-kira 1,5 atau kira-kira
sepertiga.
Ada beberapa penjelasan yang diketengahan mengenai peran pendidikan
dalam menurunkan besar keluarga. Pendidikan dapat mempengaruhi pandangan
hidup dan tata nilai orang sedemikian rupa sehingga ia tidak begitu saja lagi
menerima tata cara bertingkah laku tradisional orang tuanya atau tokoh orang

tua yang lain. Orang berpendidikan atau pandai baca-tulis lebih terbuka pada
pkran-pikiran baru dan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk bertemu
muka dengan penyalur perubahan seperti para perencana bidang kesehatan
atau penasehat program keluarga berencana. Pendidikan yang makan waktu
lama kemungkinan besar akan menyebabkan perkawinan rertunda dan
membuka pilihan antara bekerja dan membesarkan anak. Penddikan yang lebih
tinggi mungkin pula berarti kehidupan ekonomi yang lebih terjamin, dan ini
biasanya berarti keluarga yang lebi kecil. Semua penjelasan ini menolong kita
memahami mengapan ada kaitan yang sangat erat antara kaitan pendidikan
wanita dan besar keluarga (Brown, 1986:162).
2.7 Wanita Usia 15-49 Tahun yang Menggunakan Alat Kontrasepsi
Usia antara 15-49 tahun merupakan usia subur bagi seseorang wanita
karena pada rentang usia tersebut kemungkinan wanita melahirkan anak cukup
besar. Salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah
melalui program Keluarga Berencana (KB).
2.7.1

Kontrasepsi
Obat/alat untuk mencegah terjadinya konsepsin (kehamilan). Jenis

kontrasepsi ada dua macam:


1. Kontrasepsi yang mengandung hormonal (pil, suntik dan implant)
a. Pil merupakan tablet yang diminum untuk mencegah kehamilan.
Mengandung hormon estrogen dan progesteron sintetik, disebut juga
sebagai pil kombinasi, sedangkan jika hanya mengandung progesteron
sintetik saja disebut Mini Pil atau Pil Progestin.
b. Suntik

c. Implant merupakan kapsul berisi levenorgestrol dimasukan di bawah


kulit lengan atas wanita untuk mencegah terjadinya kehamilan.
2. Kontrasepsi non hormonal (IUD, Kondom)
a. IUD/ Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat Kontrasepsi yang dimasukan dalam rahim, terbuat dari plastik halus
dan fleksibel (polietilin) yang beredar di Indonesia.
b. Kondom (karet KB)
Salah satu alat kontrasepsi yang terbuat dari karet (lateks) berbentuk
tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat
dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma yang dikeluarkan pria
pada saat sanggama sehingga tidak tercurah ke dalam vagina.
2.7.2 Kaitan antara Wanita umur 15-49 tahun yang menggunakan alat
kontrasepsi dengan fertilitas
Teori Bongaarts mengatakan bahwa penentu fertilitas adalah proporsi wanita
kawin 15-19 tahun, pemakaian kontrasepsi, aborsi, kemandulan, frekuensi
hubungan seksual, selibat permanen dan mortalitas janin. Kemudian menurut
Kingsley Davis dan Judith Blake yakni penurunan fertilitas diakibatkan oleh
adanya faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konsepsi salah satunya
adalah dengan pemakaian alat kontrasepsi. Palmore dan Bulatao, dengan teori
Contraceptive Choice berpendapat bahwa dengan menggunakan alat
kontrasepsi dapat menjarangkan atau membatasi kelahiran.
Pada teori Malthus dan Neo-Malthus juga dijelaskan penggunaan alat
kontrasepsi untuk mengurangi jumlah kelahiran. Menurut Malthus, pembatasan

pertumbuhan penduduk dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, salah


satunya dengan melakukan vice restraint (pengurangan kelahiran) yakni melalui
penggunaan alat-alat kontrasepsi, pengguguran kandungan dan lain-lain
sebagainya.
Menurut Ronald Freedman yakni Intermediate variable sangat erat
hubungannya sengan norma-norma sosial atau masyarakat. Jadi pada akhirnya
perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh norma yang ada. Pada gambar berikut
ini akan memperlihatkan kaitan antara program keluarga berencana terhadap
tingkat fertilitas (Hatmadji, 2004:75-76).
Kerangka Analisa Sosiologis tentang fertilitas: Freedman

Sumber: Hatmadji Harjati, 2004


Gambar 2.3
Kerangka Analisis Sosiologis
2.8 Tingkat Urbanisasi
Menurut Kingsley Davis (1965). Urbanisasi adalah jumlah penduduk yang
memusat di daerah perkotaan atau meningkatnya proporsi tersebut.
Menurut Prof.Drs Bintarto (1986:15) urbanisasi dapat dipandang sebagai
suatu proses dalam artian:

1. Meningkatnya jumlah dan kepadatan penduduk kota, kota menjadi lebih


padat sebagai akibat dari pertambahan penduduk, baik dari hasil
kenaikan fertilitas penghuni kota maupun karena adanya tambahan
penduduk dari desa yang bermukim dan berkembang di kota.
2. Bertambahnya jumlah kota dalam suatu negara atau wilayah sebagai
akibat dari perkembangan ekonomi.budaya, dan teknologi.
3. Berubahnya kehidupan desa atau suasana desa manjadi suasana
kahidupan kota.
Urbanisasi biasanya dapat diukur dengan melihat proporsi jumlah penduduk
yang tinggal menetap di daerah perkotaan. Untuk mengukur tingkat urbanisasi di
suatu derah biasanya dengan menghitung perbandingan jumlah penduduk yang
tinggal di daerah perkotaan dengan jumlah penduduk seluruhnya dalam suatu
wilayah. Adapun perhitungannya dapat dicari dengan rumus sebagai barikut:
Pu =

(Belum selesai)

Dimana:
U = besarnya jumlah penduduk urban (perkotaan)
P = populasi atau jumlah penduduk keseluruhan
Pu = persentase penduduk yang tinggal di perkotaan
2.8.1 Dampak positif urbanisasi
Sebagai akibat dari cepatnya pertambahan penduduk yang ditunjang
dengan perkembangan ekonomi, transportasi dan pendidikan, frekuensi mobilitas
yang semakin meningkat, urbanisasi memiliki implikasi terhadap berbagai sektor
kehidupan (Bintarto, 1986:36) yaitu sebagai berikut:

a. Sektor ekonomi, struktur ekonomi menjadi lebih bervariasi.


Bermacam-macam usaha atau kegiatan di bidang transportasi,
perdagangan dan jasa timbul dari mereka yang bermodal kecil sampai
yang bermodal besar.
b. Berkembang di bidang wirasuasta juga tampak meluas misalnya saja
perternakan, kerajinan tangan dan lain-lain.
c. Berkembangnya bidang pendidikan mulai tinggkat sekolah dasar
hingga perguruan tinggi.
d. Meluasnya kota ke arah pinggiran kota sehingga transportasi manjadi
lebih lancar.
e. Meningkatnya harga tanah, baikn di kota maupun pinggir kota.
f. Berkembangnya industrialisasi sebab tenaga kerja murah dan
melimpah, pasaran meluas sehingga industri cenderung lebih
berkembang.
2.8.3 Kaitan antara Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Urbanisasi dan
pengaruhnya pada Fertilitas
Keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang akhirnya
akan menekan penduduk terutama dapat ditelusuri pada pemikiran Arthur Lewis
dan para pengikutnya. Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa
perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi oleh sektor pertanian dan
perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama.
Disektor pedesaan terjadi kelebihan supply tenaga kerja karena jumlah
penduduk yang beser tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang tersedia.
Over supply tenaga kerja ini di tandai dengan produk marginalnya yang nilainya
nol dan tingkat upah riil yang rendah. Nilai produk marginal nol artinya fungsi
produksi di sektor pertanian (sektor pedesaan) telah sampai pada tingkat
berlakunya hukum diminishing retutn, yakni semakin banyak orang yang bekerja

disektor pertanian, semakin rendah tingkat produktivitas tenaga kerja (Output per
tenaga kerja).
(belum selesai) rumus

Dalam kondisi seperti ini, pengurangan jumlah pekerja tidak akan


mengurangi jumlah output di sektor tersebut, karena proporsi tenaga kerja terlalu
banyak dibandingkan proporsi input lain seperti tanah dan kapital. Akibat over
supply tenaga kerja ini, upah atau tingkat pendapatan di pertanian atau
perdesaan menjadi sangat rendah.
(belum selesai)
Gambar 2.5
Diminishing Return di dalam Fungsi Produksi Sektor Pertanian
Sebaliknya diperkotaan sektor industri mengalami kekurangan tenaga
kerja. Sesuai prilaku rasional pengusaha, yakni mencari keuntungan maksimal,
kondisi pasar buruh seperti ini membuat produktivitas tenaga kerja sangat tinggi
dan nilai produk marginal dari tenaga kerja positif, yang menunjukkan bahwa
fungsi produksi belum mencapai titik yang optimal yang dapat dicapai. Tingginya
produktivitas membuat tingkat upah riil per pekerja di sektor perkotaan tersebut
juga tinggi.
Perbedaan upah di sektor pertanian desa dengan sektor industri di
perkotaan menarik banyak tenaga kerja pindah dari sektor pertama ke sektor
kedua. Maka terjadilah suatu proses migrasi dan urbanisasi. Tenaga kerja yang

pindah ke industri mendapat penghasilan yang lebih tinggi dari pada sewaktu
masih kerja di pertanian. Perpindahan ini secara tidak langsung akan
mengakibatkan penurunan penduduk pada pedesaan yang diakibatkan oleh
proses urbanisasi tersebut. Para kaum urban yang telah pindah dari desa ke kota
banyak mengalami perubahan dalam hal menginginkan anak yang akhirnya akan
mengakibatkan penurunan pada fertilitas.
2.9 Penelitian Terdahulu
Dalam bagian ini penelitian memuat barbagai penelitian yang telah
dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya mengenai permasalahan yang
sama yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas yang pernah
diangkat oleh bebrapa peneliti terdahulu melalui penelitian dalam bentuk jurnal
ataupun artikel. Dimana penelitian-penelitian tersebut menjadi inspirasi bagi
penulis untuk dalam penyusunan skripsi ini, sehingga penulis menjadikan
penelitian terdahulu tersebut menjadi kajian yang digunakan penulis di daftar
pustaka. Adapun para peneliti tersebut terdiri dari:
Penelitian yang dilakukan oleh Rujiman (2007) yang berjudul Analisis
Faktor-faktor Penentu Fertilitas di Negara-negara Asia. Dalam penelitian ini
dikatakan bahwa Pendapatan Perkapita, Tingkat Pendidikan , Pengunaan alat
kontasepsi bagi wanita kawin usia 15-49 tahun, dan tingkat urbanisasi
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap fertilitas (TFR) di Asia. Sedangkan
tingkat kesehatan yang diwakili oleh angka harapan hidup saat lahir tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap fertilitas di Asia.
2.10 Kerangka Konseptual Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, metode penelitian dan tujuan


penelitian maka dapat dibuat kerangka konseptual penelitian sebagai berikut:
Belum selesai hal 68

Gambar 2.6
Kerangka Konseptual
Berdasarkan kerangka konseptual di atas dapat di rumuskan hipotesis
penelitian bahwa independen yang terdiri dari Prndapatan (X1), Pendidikan (X2),
Penggunaan alat kontrasepsi wanita kawin umur 15-49 tahun (X3), dan Tingkat
urbanisasi (X4), mempengaruhi variabel dependen yaitu TFR (Y).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang dilakukan dalam
mengumpulkan informasi empiris guna memecahkan masalah dan menguji
hipotesis dari penelitian.
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Untuk ruang lingkup penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi fertilitas di Samarinda, yakni PDRB Perkapita, Angka Harapan
Hidup Saat Lahir, Indeks Tingkat Pendidikan, Wanita Kawin umur 15-49 Tahun
yang menggunakan Alat Kontrasepsi, dan Tingkat Urbanisasi di Samarinda pada
tahun (.......) di isi ya

3.2 Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
dalam bentuk cross section yaitu diperoleh dari sumber informasi yang berkaitan
dengan penelitian ini, yakni melalui Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan
Timur. Selain itu data juga diperoleh melalui media internet serta surat kabar
yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penulisan skripsi ini, penulis melakukan penelitian kepustakaan
(Library Research) yaitu penulisan yang dilakukan melalui bahan-bahan
kepustakaan berupa tulisan-tulisan ilmiah, jurnal, dan laporan-laporan penelitian
ilmiah yang ada hubungan dengan topik yang diteliti.
Sedangkan untuk teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah
melakukan pencatatan secara langsung data Angka Kelahiran Total/Total Fertility
rate (TFR). PDRB Perkapita, Angka Harapan Hidup Saat Lahir, Tingkat
Pendidikan, dan Tingkat Urbanisasi pada tahun (.....) di isi ya dari Badan Pusat
Statistik (BPS) Kalimantan Timur