Você está na página 1de 11

a.

b.
c.
d.

I. LATAR BELAKANG
Larutan adalah campuran yang homogen dapat berupa gas,
cair maupun padat. Unsur terpenting yang menentukan keadaan
bahan dalam larutan adalah pelarut (solvent), sedangkan
komponen yang jumlahnya lebih sedikit dinamakan zat terlarut
(solute). Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan
larutan dalam air atau aqueous dan larutan yang mengandung zat
terlarut dalam jumlah banyak dinamakan larutan pekat. Jika jumlah
zat terlalu sedikit, larutan dinamakan larutan encer. Konsentrasi
larutan didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut yang ada dalam
sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan
dengan beberapa cara antara lain :
Molaritas (jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan)
Molalitas (mol zat terlarut per 1000 gram pelarut)
Normalitas (jumlah mol ekivalenzat terlarut dalam 1 liter
larutan).
Persen berat (gram berat zat terlarut dalam 100 gram larutan)
Konsentrasi dapat diketahui besarnya dengan menggunakan
metode standarisasi. Salah satu metode standarisasi adalah titrasi.
Metode ini banyak dilakukan di laboratorium, salah satunya adalah
titrasi asam-basa. Proses titrasi diakhiri jika telah mencapai titik
ekivalen. Titik ekivalen adalah titik dimana penambahan sedikit
titran akan menyebabkan perubahan pH yang sangat besar.
II. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan praktikum ini adalah untuk menentukan
penggunan indikator yang sesuai dengan kondisi titrasi.
III. TINJAUAN PUSTAKA
Sifat asam dan basa ditentukan oleh nilai suatu bilangan yang
disebut dengan pH (pangkat Hidrogen). Garis/rentang pH asam dan
basa digambarkan sebagai berikut :

Untuk mengetahui suatu larutan bersifat asam atau basa, kita


memerlukan suatu zat/bahan yang disebut indikator. Suatu
indikator akan mengalami perubahan warna saat bereaksi dengan
asam maupun basa.
Indikator merupakan suatu kelompok senyawa yang memiliki
sifat khas, yakni warnanya dapat berubah oleh perubahan
larutannya. umumnya senyawa tersebut termasuk dalam golongan
senyawa organik. Macam-macam indikator dari segi fungsinya :
1.

Indikator asam basa


Contoh : lakmus, fenoftalein, fenol merah, metil jingga, metil
merah,
brotimol biru, brom-kresol hijau, brom-kresol ungu, dan
sebagainya.
2. Indikator Redoks
Contoh : metilen biru, difenil-amin, difenil-bensidin, feroin,
nitroferoin, 5-metilferoin, asam difenilamin sulffonat
dan sebaginya.
3. Indikator Kulometrik (Indikator metalokromik)
(Berupa elektroda pembanding-indikator)
4. Indikator Kelometrik (Indikator metalokromik)
Contoh : Eriocrhome Black T, kalmagit, difenil karbazida, difenil
karbazon; natrium nitro-prusida, pirokatekol ungu
dansebagainya.
5. Indikator pengendapan (Indikator absorbsi)
Contoh : eosin, fluoresin, diklorofluoresin, ortokrom T, ion kromat
(CrO42-), ion ferri (Fe3+) dan sebagainya
6. Indikator pendar-fluor (Indikator fluoresen)
Contoh : eosin, eritrosin, resorofin, kuinin, asam naftol-sulfonat,
diazol kuning-brilian dan sebagainya.

Pemilihan indikatoryang ditetapkan bergantung pada perubahan pH


yang terjadi atau perubahan tertentu yang terlibat akibat dari
perubahan kharakteristik/sifat dari pereaksi.
(Daftar Referensi : HAM Mulyono. Membuat Reagen Kimia di
Laboratorium. Jakarta:Bumi Aksara; 2009
1. Jenis-Jenis Indikator
Secara umum indikator dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Indikator buatan, yaitu indikator yang dibuat oleh manusia.
Indikator buatan ini biasanya dibuat dalam laboratorium yang
berupa campuran zat-zat kimia. Indikator buatan ini memiliki fungsi
secara kualitatif dan kuantitatif. Adapun fungsi kualitatifnya dapat
menentukan sifat asam dan basa suatu zat, sedangkan fungsi
kuantitatifnya dapat digunakan untuk mengukur pH zat tersebut
yang dinyatakan dalam bentuk angka. Beberapa macam indikator
buatan akan ditunjukkan sebagai berikut.

Disamping bahan-bahan di atas, terdapat pula suatu indikator


buatan yang sering digunakan yaitu indikator kertas lakmus.
Indikator kertas lakmus ini hanya berfungsi secara kualitatif, yaitu
hanya mendeteksi sifat asam atau basa suatu zat
melalui
perubahan warnanya.
Perubahan warna kertas lakmus, diberikan dalam tabel berikut.

b. Indikator alami, yaitu indikator yang tersedia secara langsung


dari alam. Indikator alami biasanya berupa bahan-bahan yang
berwarna, baik berupa buah/umbi maupun bunga.Indikator alami
dapat memberikan warna yang berbeda jika ditambahkan suatu
asam, begitu pula sebaliknya, warna akan berbeda pula jika
ditambahi suatu basa. Indikator alami berfungsi secara kualitatif
yaitu hanya mendeteksi sifat asam atau basa suatu zat tanpa
disertai ukuran pH zat tersebut. Beberapa bahan alam yang dapat
digunakan sebagai indikator antara lain: Bunga kembang sepatu;
bunga bougenvil; kulit manggis; daun kubis ungu ; kunyit dan bunga
Pacar air.
2. Pembuatan Indikator Alam
Untuk membuat indikator alami sebagai bahan pengujian asam dan
basa, secara umum dapat dilakukan dengan cara berikut:
a. menumbuk bahan indikator sampai halus dan tambahi sedikit air;
b. memeras bahan tersebut dengan menggunakan kain kasa; dan
c. hasil perasan tersebut merupakan indikator yang bisa dipakai
untuk menguji sifat asam atau basa suatu zat.
3. Cara pengujian asam basa dengan Indikator alami
Sebelum digunakan sebagai indikator, kita memerlukan warna
standar sebagai bahan perbandingan warna. Penentuan warna
standar dapat dilakukan sebagai berikut:
3.1 Pembuatan Warna Standar
a. Mengambil indikator alami misalnya air bunga kembang sepatu,
kemudian teteskan pada 3 pin di plat tetes sebanyak 2 tetes
b. Menambahkan 2 tetes air jeruk pada pin 1. Amati perubahan
warnanya. Warna ini menjadi warna standar larutan yang bersifat
Asam
c. Pada pin 2, ditambahkan 2 tetes air sabun, amati perubahan

warnanya. Warna ini menjadi warna standar larutan yang bersifat


basa
d. Pada pin 3, ditambahkan 2 tetes air, amati perubahan warnanya.
Warna ini menjadi warna standar larutan yang bersifat netral.
3.2 Pengujian sifat asam basa dengan indikator alam
Cara pengujian sifat asam atau basa suatu zat dengan
menggunakan indikator alami dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Meneteskan indikator alami (misalnya kembang sepatu) pada 3
pin plat tetes
b. Menambahkan masing-masing 2 tetes zat yang diuji pada pin 1,
pin 2 dan pin 3.
c. Mengamati perubahan warna yang terjadi. Bandingkan dengan
warna standar.
d. Bila warna yang terbentuk sama dengan warna standar zat asam,
maka zat tersebut bersifat asam, begitu pula jika warnanya sama
dengan warna standar basa, maka zat tersebut bersifat basa.

PEMBUATAN LARUTAN INDIKATOR


Pembuatan Larutan Indikator
Indikator
Cara Membuat
Fenol Merah (Phenol Larutkan 0,05 g indikator dalam 2,85 ml
Red)
0,05 N NaOH dan 5 ml etanol 90% dengan
pemanasan.
Bila pelarutan telah selesai, encerkan
dengan etanol 20%(v/v) sampai 250 ml
Fenolftalein
(Phenolptalein)
Timol
Blue)

Biru

Larutkan 0,1 g indikator


ml etanol 95%(v/v)

dalam

100

(thymol Panaskan 0,1 g indikator dengan 4,3 ml


0,05N NaOH dan 5 ml NaOH 95% (v/v).
Bila pelarutan telah selesai, encerkan
dengan etanol 20%(v/v) sampai 250 ml

Metil
Red)

merah

(Methyl Panaskan 25 mg indikator dengan 0,95 ml


NaOH 0,05N dan 5 ml etanol 95%.
Bila pelarutan telah selesai, encerkan
dengan etanol 50%(v/v) sampai 250 ml

Bromtimol
Biru Panaskan 0,1 gr indikator dengan 5 ml
(Bromthymol Blue)
etanol 95% (v/v) dan 1,6 ml NaOH 0,1 N.
Bila pelarutan telah selesai, encerkan
dengan etanol 20%(v/v) sampai 250 ml
Eriochrome Black T

Larutkan 0,5 gr indikator dalam 100 ml


alkohol.
Larutan akan awet selama 1 1/2 bulan

Dimetil
glioksim Larutkan 10 gr indikator dalam 1 % etanol
(dimethylglyoxime)
95%.
Hasil terbaik diperoleh jika 10 ml indikator
1% nikel.
Amilum
soluble)

(starch, Buat dispersi 2 gr alumunium dengan 25 ml


air.
Tuangkan
dispersi
tersebur
dengan
perlahan-lahan kedalam 500 ml air yang
mendidih.
teruskan pendidihan selama 1 - 2 menit.
Tambahkan 1 gr asam borat sebagai
pengawet.
masukkan ke dalam botol dan tutup rapat

IV. ALAT DAN BAHAN


A.

Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi pipet tetes
sebanyak 5 buah, plat kaca dengan 8 lubang sebanyak 2 buah,
beaker gelas 100 ml sebanyak 4 buah dan botol semprot 1 buah.

B.

Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini adalah
indikator metil merah sebanyak 3 ml, phenolphtalein 3 ml, metil
jingga 3 ml, HCl 0,1 N dengan pH = 3,0 sebanyak 50 ml, NaOH 0,1
N dengan pH = 9,0 sebanyak 50 ml dan akuades secukupnya serta
kertas putih.
V. PROSEDUR KERJA

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menyiapkan plat kaca


Meteteskan indikator yang akan dianalisis sebanyak 3 tetes Pada
masing-masing lubang plat kaca untuk tiap lubangnya
Mencatat warna asal masing-masing indikator yang dianalisis
Meneteskan pada tiap lubang yang berisi indicator, masing
masing 3 tetes HCl 0,1 N
Mencatat perubahan warna masing-masing indikator yang
dianalisis
Meneteskan pada tiap lubang yang telah berisi indikator masingmasing 5 tetes NaOH 0,1 N
Mencatat perubahan warna masing-masing indikator yang di
analisis
Melakukan langkah 1-7 diatas untuk penambahan larutan NaOH
lebih dahulu kemudian larutan HCL

VI. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
1) Perubahan Warna Indikator
Indikato
r

Warna
Awal

Ditamb
ahkan
HCl 0,1

Metil
Jingga

Jingga

Merah

Ditamb
ahkan
NaOH
0,1 N

Ditambah Ditambah
kan HCl & kan
NaOH
NaOH &
HCl

Jingga

Jingga

Merah

Metil
Merah

Merah

Merah
Tua

Jingga

Jingga

Merah
Tua

Phenolp
htelaein

Bening

Bening

Merah
Muda

Merah
muda

Merah
Muda

2) Perubahan Warna Dalam Larutan


Gelas I
5 ml HCl PH = Ditambahkan
3
Timol
Tidak Berwarna

Indikator

Biru

Ungu

Gelas II
5 ml HCl PH = Ditambahkan
3
Phenolphthelein

Tidak Berwarna

Tidak Berwarna

NaOH PH = 9

Ditambahkan
Timol

Tidak Berwarna

Tidak Berwarna

NaOH PH = 9

Ditambahkan
Phenolphthelein

Indikator

Gelas III
Indikator

Biru

Gelas IV
Indikator

Tidak Berwarna

Ungu Muda

B. Pembahasan
Indikator merupakan senyawa asam atau basa lemah organik,
yang memiliki molekul tak terionisasi dan molekul terionisasi, yang
ditunjukkan dalam perbedaan warna.
Berdasarkan hasil percobaan dapat di ketahui bahwa telah
terjadi reaksi pada indikator yang telah ditambahkan 2 tetes HCl
yang bersifat asam dan 3 tetes NaOH yang bersifat basa. Indikator
phenolphtalein yang di tambahkan HCl berwarna bening tidak
berubah atau tetap seperti warna awal, sedangkan pada warna
ungu pekat merupakan hasil dari penambahan NaOH. Warna
menjadi bening kembali ketika ada penambahan dari HCl dan NaOH.
Pada indikator merah metil berubah menjadi merah pekat saat
ditambahkan HCl dan berubah lagi menjadi warna kuning dengan
menambahkan NaOH, warna kembali menjadi merah pekat akibat
adanya penambahan dari kedua larutan yaitu HCl dan NaOH.
Indikator yang ke 3 yaitu indikator metil merah yang berubah warna
menjadi jingga tua setelah ditambahkan HCl dan warna ungu akibat
penambahan dari larutan NaOH. Warna berubah menjadi kuning
ketika ada penambahan dari HCl dan NaOH. Untuk indikator yang ke
4 yaitu indikator metil orange yang berubah menjadi merah muda
ketika ada penambahan dari larutan HCl dan warna kuning
merupakan diakibatkan adanya penambahan NaOH. Warna merah
muda sebagai akibat dari campuran HCl dan NaOH yang
ditambahkan pada indikator metil orange.

VII.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:

1. Indikator adalah senyawa asam basa lemah organik yang


memiliki keadaan molekul tak terionisasi yang ditunjukkan
dengan perubahan warna.
2. Indikator harus lebih lemah dari asam atau basa analit,
jumlah indikator yang ditambahkan harus jauh lebih kecil
dibandingkan dengan jumlah analit, indikator harus jelas
warnanya.
3. Indikator yang digunakan dalam percobaan ini adalah metil
merah, phenolphtalein dan metil jingga.
4. Keuntungan dari indikator adalah mempunyai batas titik
akhir titrasi sangat jelas.
5. Larutan asam dapat menetralisir sifat basa dan sebaliknya,
sehingga indikator mengalami perubahan warna. Perubahan
warna pada indikator juga tergantung sifat asam atau basa
pada larutan.
6. Perubahan warna indikator jingga metil adalah dari warna
merah berubah menjadi warna jingga yang mana rentang
pHnya dari 3,1 sampai 4,4. Pada indiktor merah metil
perubahan warna dari warna merah menjadi warna kuning
dan rentang pHnya dari 4,2 sampai 6,2. Indikator PP
perubahan warna dari tidak berwarna menjadi wrna ungu dan
rentang pHnya dari 8,0 sampai 9,8.

DAFTAR PUSTAKA

http://praktikumkimiaanalitik.blogspot.co.id/2012/12/pembuatanlarutan-indikator.html
http://www.ilmuternak.com/2014/11/laporan-kimia-pembuatanlarutan-dan.html
http://dsikreatif.blogspot.co.id/2013/10/laporan-kimia-dasarpengenalan-indikator_8.html
http://rumus-kimia.com/indikator-jenis-jenis-dan-pengertian-asambasa/