Você está na página 1de 5

AGAMA PADA MASA REMAJA

A. Pendahuluan
Usia remaja adalah masa dimana segala sesuatu dengan mudah dibentuk dan
akan sangat menentukan bagaimana selanjutnya dimasa yang akan datang. Hal
itulah yang mendasari betapa pentingnya penelaahan dan penelitian dilakukan
sehingga kita tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan fatal dalam
membentuk karakter anak yang tentunya akan menjadi penerus kita menjadi
khalifah di muka bumi ini kelak. Menjadi khalifah atau pemimpin itu adalah
sebuah tanggung jawab besar yang akan dimintai pertanggungjawabanya kelak,
sehingga kita perlu membekali dengan segala persiapan sedini mungkin
terhadap anak yang notabenenya akan menjadi penerus kita kelak.
Sebenarnya masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang
dari kanak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan bahwa masa remaja
adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Anakanak jelas kedudukannya, yaitu yang belum dapat hidup sendiri, belum matang
dari segala segi, tubuh masih kecil, organ-organ belum dapat menjalankan
fungsinnya secara sempurna, kecerdassan, emosi dan hubungan social belum
selesai pertumbuhannya. Hidupnya masih bergantung pada orang dewasa,
belum dapat diberi tanggng jawab atas segala hal. Dan mereka menerima
kedudukan seperti itu.
B. Rumusan Masalah
Dari sekilas pendahuluan di atas, maka pemakalah dapat merumuskan beberapa
masal, antara lain:
1. Bagaimana perkembangan jiwa beragama pada masa remaja?
2. Bagaiamana Sikap Remaja Dalam Beragama?
3. Apa Motivasi Beragama Pada Remaja?
C. Pembahasan
1. Perkembangan Jiwa Beragama Pada Masa Remaja
Pada hakekatnya masa remaja yang utama adalah masa menemukan diri,
meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru untuk jadi pribadi
yang dewasa.
Para ahli psikologi dan pendidikan belum sepakat mengenai rantang usia remaja.
Ada yang berpendapat bahwa usia remaja adalah 13-19 tahun, sementara yang
lain berpendapat usia remaja dimulai pada usia 13-21 tahun. Namun yang pasti
adalah permulaan atau mulainya perubahan pada anak menjadi dewasa kira-kira
usia 12 atau 13 tahun. Masalah akhir masa remaja tidak sama. Si daerah
pedesaan, masa remaja mempunyai rentang yang lebih pendek dibandingkan
dengan daerah perkotaan.
Dalam bidang agama, para ahli psikologi agama menganggap bahwa
kemantapan beragama biasanya tidak terjadi sebelum usia 24 tahun, dari sini
rentang masa remaja mungkin diperpanjang hingga 24 tahun.
Dalam peta psikologi remaja terdapat tiga bagian:
a. Fase Pueral
Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak- anak, tetapi juga tidak bersedia
dikatakan dewasa. Pada fase pertama ini merasa tidak tenang.

b. Fase Negative
Fase kedua ini hanya berlangsung beberapa bulan saja, yang ditandai oleh sikap
ragu- ragu, murung, suka melamun dan sebagainya.
c. Fase Pubertas
Masa ini yang dinamakan dengan Masa Adolesen
Dalam pembahasan ini, Luella Cole sebagaimana disitir kembali oleh Hanna
Jumhanna Bastaman, membagi peta remaja menjadi empat bagian:
a. Preadolescence : 11-13 tahun (perempuan) dan 13-15 tahun (laki- laki)
b. Early Adolescence : 13-15 tahun (perempuan) dan 15-17 tahun (laki- laki)
c. Middle Adolescence : 15-18 tahun (perempuan) dan 17-19 tahun (laki- laki)
d. Late Adolescence : 18-21 tahun (perempuan) dan 19-21 tahun (laki- laki)
Pada dasarnya remaja telah membawa potensi beragama sejak dilahirkan dan itu
nerupakan fitrahnya. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah bagaimana
remaja mengembangkan potensi tersebut.
Ide-ide agama, dasar dan pokok-pokok agama pada umumnya diterima
seseorang pada masa kecilnya. Apa yang diterima sejak kecil, akan berkembang
dan tumbuh subur, apabila anak(remaja) dalam menganaut kepercayaan
tersebut tidak mendapat kritikan. Dan apa yang tumbuh dari kecil itulah yang
menjadi keyakinan yang dipeganginya melalui pengalaman-pengalaman yang
dirasakannya.
Perkembangan intelektual remaja akan mempunyai pengaruh terhadap
keyakinan dan kelakuan agama mereka. Fungsi intelektual akan memproses
secara analisis terhadap apa yang dimiliki selama ini, dan apa yang akan
diterima. Remaja sudah mulai mengadakan kritik id sana sini tentang masalah
yang diterima dalam kehidupan masyarakat, mereka mulai mengembangkan ideide keagamaan, walaupun hal tersebut kadang-kadang tidak berangkat dari
suatu perangkat keilmuan yang matang, tetapi sebagai akibat dari keadaan
psikis mereka yang sedang bergejolak. Dalam bidang-bidang tertentu yang
dianggap cocok dan releven akan diterimanya, kemudiandengan kemauan keras
dijabarkan dalam kenyataan hidupnya seolah-olah tidak ada alternatif lagi yang
harus dipikirkan.
Keadaan emosi remaja yang belum stabil juga akan mempengaruhi
keyakinannya pada Tuhan dan pada kelakuan keberagamaannya, yang mungkin
bisa kuat atau lemah, giat atau menurun, bahkan mengalami keraguan, yang
ditandai oleh adanya konflik yang terdapat dalam dirinya atau dalam lingkungan
masyarakatnya.
Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat-sifatnya merupakan bagian dari
gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh
perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. Keyakinan agama pada remaja
merupakan interaksi antara dia dengan lingkungannya. Misalnya, kepercayaan
remaja akan kekuasaan tuhan menyebabkannya pelimpahan tanggung jawab
atas segala persoalan kepada tuhan, termasuk persoalan masyarakat yang tidak
menyenangkan, seperti kekacauan, ketidak adilan, penderitaan, kezaliman,
persengkataan, penyelewengan dan sebagainya yang terdapat dalam
masyarakat akan menyebabkan mereka kecewa pada tuhan, bahkan

kekecewaan tersebut dapat menyebabkan memungkiri kekuasaan tuhan sama


sekali.
Perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap dan stabil, akan tetapi adalah
perasaan yang yang tergantung pada perubahan-perubahan emosi yang sangat
cepat, terutama pada masa remaja pertama. Kebutuhan akan Allah misalnya,
kadang-kadang tidak terasa jika jiwa mereka dalam keadaan aman, tentram dan
tenang. Sebaliknya, Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan
gelisah, karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam ketika ia
takut gagal atau merasa berdosa.
Dengan demikian, dapat diambil pengertian bahwa sebenarnya perasaan remaja
dalam beragama, khususnya terhadap Tuhan, tidaklah tetap. Kadang-kadang
sangat cintadan percaya kepada-Nya, tetapi sering pula berubah menjadi acuh
tak acuh bahkan menentang.
2. Motivasi Beragama Pada Remaja
Motivasi beragama dapat diartikan sebagai usaha yang ada dalam diri manusia
yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tindak keagamaan dengan tujuan
tertentu, atau usaha yang menyebebkan seseorang beragama.
Menurut Nico Syukur Dister Ofm, motifasi beragama dibagi menjadi empat
motivasi, yaitu:
a. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada
dalam kehidupan, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri
dengan alam, frustasi social, frustasi moral maupun frustasi karena kematian.
b. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan
dan tata tertib masyarakat.
c. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa
ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia.
d. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk
mengatasi ketakutan.
Motivasi yang ditawarkan oleh Nico Syukur Dister tersebut agaknya sesuai
dengan masa remaja,mengingat masa remaja merupakan masa yang labil,
belum stabil emosinya. Memang motivasi tersebut merupakan motivasi yang
masuk kedalam katagorirendah dalam kehidupan manusia, bahkan motivasi
yang dituntut untuk dimiliki oleh semua agama.
Masa remaja juga merupakan masa dimana remaja mulai mengurangi hubungan
dengan orang tuannya dan berusaha untuk dapat berdiri sendiri dalam
menghadapi segala kenyataan-kenyataan yang ada. Semuanya ini
menyebabkannya berusaha mencari pertolongan Allah Swt. Keyakinan remaja
pada masa awal bukanlah berupa keyakinan-keyakinan pikiran, akan tetapi lebih
berfokus pada kebutuhan jiwa. Hal ini dapat dilihat dari doa-doa remaja yang
memohon bantuan Allah supaya terlepas dari gejolak jiwanya sendiri dan
tertolong dalam menghadapi naluri-nalurinya.
Motivasi beragama pada remaja juga dipengaruhi oleh teman-temanya. Sebagai
contoh apabila remaja mengikuti kegiatan dalam kelompok aktivitas keagamaan,
maka ia akan terlibat dalam kegiatan tersebut. Namun bila ia bersahabat debgab
teman yang tidak mengindahkan agama, ia akan acuh terhadap kegiatan
keagamaan.

Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa motivasi beragama dalam diri
remaja adalah bermacam-macam dan banyak yang bersifat personal.
Adakalanya didorong oleh kebutuhan akan Tuhan sebagai pengendali emosional,
adakalanya karena takut akan perasaan bersalah, dan pengaruh dari temanteman di mana ia berkelompok.
3. Sikap Remaja Dalam Beragama
Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:
a. Percaya ikut- ikutan
Percaya ikut-ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana
yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya
hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya
berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan
perkembangan psikisnya.
b. Percaya dengan kesadaran
Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalahmasalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan
agama sebagai suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya,
karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut-ikutan saja. Biasanya semangat
agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama
tersebut mempunyai dua bentuk:
1) Dalam bentuk positif
Semangat agama yang positif, yaitu berusaha melihat agama dengan
pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal-hal yang tidak masuk akal.
Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bidah dan khurafat,
dari kekakuan dan kekolotan.
2) Dalam bentuk negatif
Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan
yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil
pengaruh dari luar kedalam masalah- masalah keagamaan, seperti bidah,
khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.
c. Percaya, tetapi agak ragu- ragu
Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:
1) Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan
dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
2) Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya
dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.
d. Tidak percaya atau cenderung ateis
Perkembangan kearah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar
atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh
kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu
tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa
pun, termasuk kekuasaan Tuhan.

D. Kesimpulan
perasaan remaja dalam beragama, khususnya terhadap Tuhan, tidaklah tetap.
Kadang-kadang sangat cintadan percaya kepada-Nya, tetapi sering pula berubah
menjadi acuh tak acuh bahkan menentang.
motivasi beragama dalam diri remaja adalah bermacam-macam dan banyak
yang bersifat personal. Adakalanya didorong oleh kebutuhan akan Tuhan sebagai
pengendali emosional, adakalanya karena takut akan perasaan bersalah, dan
pengaruh dari teman-teman di mana ia berkelompok.
Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu: Percaya ikut- ikutan,
Percaya dengan kesadaran, Percaya, tetapi agak ragu- ragu, dan Tidak percaya
atau cenderung ateis