Você está na página 1de 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Cedera
2.1.1 Definisi Cedera
Pengertian cedera secara umum adalah luka atau jejas baik fisik
maupun psikis. Cedera dengan kata lain disebutinjury atau wound, dapat
diartikan sebagai kerusakan atau luka yang biasanya disebabkan oleh
tindakan-tindakan fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur.
Cedera juga diartikan sebagai suatu kejadian tidak terduga atau suatu
penyebab sakit, karena kontak yang keras dengan suatu benda (wahyuni,
2012).Cedera adalah merupakan kerusakan fisik pada tubuh manusia yang
diakibatkan oleh kekuatan yang tidak dapat ditoleransi dan tidak dapat diduga
sebelumnya (Rikesdas, 2013)
Berdasarkan pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan trauma
merupakan suatu kerusakan fisik baik yang akut maupun kronis yang dapat
menyebabkan kerusakan pada seluruh anggota tubuh
2.1.2 Penyebab Cedera
Secara umum, kondisi trauma yang dialami individu (anak) disebabkan
oleh berbagai situasi dan kondisianatara lain (Sudiharto Yuniarti, 2013):
1. Peristiwa atau kejadian alamiah (bencana alam), seperti gempa bumi,
tsunami, banjir, tanah longsor, angin topan.
2. Pengalaman dikehidupan sosial (psiko-sosial), seperti pola asuh yang
salah, ketidak adilan, penyiksaan (secara fisik atau psikis), teror,
kekerasan, perang.
3. Pengalaman langsung atau tidak langsung, seperti melihat sendiri,
mengalami sendiri (langsung) dan pengalaman orang lain (tidak langsung).
4. Faktor pejalan kaki. Pejalan kaki sangat mudah mengalami cidera serius
atau kematian jika ditabrak oleh kendaraan bermotor
5. Faktor lingkungan. Berbagai faktor lingkungan jalan yang kurang baik
berpengaruh dalam kegiatan lalu lintas diantaranya adalah keadaan cuaca
seperti kabut, hujan, jalan, jalan licin, serta kondisi geografis seperti
daerah pegunungan sehingga menyebabkan cedera. Hal ini mempengaruhi
pengemudi
dalam
mengatur
kecepatan
(mempercepat,konstan,
memperlambat atau berhenti).
6. Faktor pengemudi. Tingkah laku pribadi pengemudi di dalam arus lalu
lintas yang kurang baik adalah faktor yang menentukan karakteristik lalu
lintas yang terjadi yang bisa menyebabkan seseorang terkena cedera.
2.1.3

Mekanisme Dan Faktor Resiko Cedera


Tanpa mengetahui mekanisme kejadian cedera kita tidak dapat
meramalkan cedera apa yang terjadi dan hal ini akan menimbulkan bahaya bagi
penderita. Biomekanik cedera adalah proses atau mekanisme kejadian
kecelakaan pada saat sebelum kejadian, saat kejadian dan sesudah kejadian.
Keuntungan mempelajari biomekanik cedera adalah dapat mengetahui
bagaimana proses kejadian dan memprediksi kemungkinan bagian tubuh atau
organ yang terkena cedera.
Faktor resiko cedera akibat kehilangan kesadaran sebelum tabrakan dan
sebagainya yang di akibatkan minum alkohol, pemakaian obat, kejang, sakit
dada (Sudiharto, 2013). Yang menyebabkan cedera meliputi :

1. Tipe kejadian cedera, misalnya : tabrakan kendaraan bermotor, jatuh atau luka
tembus.
2. Perkiraan intensitas energi yang terjadi, misalnya : kecepatan kendaraan,
ketinggian dari tempat jatuh, kaliber atau ukuran senjata.
3. Jenis tabrakan atau benturan yang terjadi pada korban, misalnya : tabrakan
dengan mobil atau pohon, tertusuk pisau dan sebagainya (Sudiharto, 2013).
Mekanisme cedera dapat diklasifikasikan sebagai berikut: tumpul,
tembus, termal dan ledakan (Blast Injury). Pada semua kasus diatas terjadi
pemindahan energi (Transfer energy) kejaringan, atau dalam kasus cedera
thermal terjadi perpindahan energi (panas/dingin) kejaringan (Sudiarto, 2011).
2.1.4

Jenis-jenis Cedera
1. Cedera Kepala
Trauma kepala adalah trauma mekanik terhadap kepala, baik secara
langsung ataupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi
neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer
maupun permanen (Sartono, 2013).
Penyebab dari trauma kepala yaitu obstruksi jalan nafas karena
tersumbat oleh lidah, penumpukan sekret atau darah dan edema fasial
(Mclain, 2012).
2. Cedera Dada
Trauma dada adalah semua hal yang berkontak fisik pada thorax dan
dinding thorax yang disebabkan oleh benda tajam atau tumpul. di dalam
thorax terdapat 2 organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia yaitu
paru-paru dan jantung. apabila terjadi benturan pada dada, kedua organ
tersebut dapat mengalami gangguan. trauma dada dapat menyebabkan
tamponade jantung, perdarahan, pneumothorax, hematothorax dan
hematopneumothorax (Scheetz, 2012).
3. Cedera Abdomen
Trauma yang terjadi pada abdomen dapat berupa trauma tumpul atau
tembus serta trauma yang disengaja maupun tidak (Hasbi, 2014).
4. Cedera ekstremitas
Trauma yang mengakibatkan cedera pada ekstremitas, disfungsi
struktur disekitarnya seperti kerusakan pada otot, pembuluh darah dan saraf
(Yusuf, 2014).

2.1.5 Klasifikasi Cedera


1. Cedera tumpul
Cedera yang tidak menimbulkan kelainan yang jelas pada permukaan
tubuh tetapi dapat mengakibatkan cedera berupa kerusakan organ, patah
tulang iga, deselerasi, cedera kompresi, peningkatan mendadak tekanan darah
dan sebagainya (Hasbi, 2014).
2. Cedera tajam
Cedera yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh dengan
penetrasi ke dalam tubuh yang disebabkan oleh benda tajam (Hasbi, 2014).
3. Cedera termal
Cedera yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir
yang mengenai mukosa sampai jaringan yang paling dalam (Anindita, 2014)
.

4. Cedera tembak
Cedera yang disebabkan oleh trauma mekanik seperti pukulan, tusukan
atau tendangan. hal ini terjadi akibat transfer energi dari luar menuju
jaringan. kerusakan yang terjadi pada jaringan tergantung pada absorbsi
kinetiknya (Kuniadi, 2012).
2.2 Konsep Kualitas Hidup Dan Penilaian Kualitas Hidup Dengan teori EQ-5D
2.2.1 Definisi
Kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan
seorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka. Kualitas hidup
individu tersebut biasanya dapat dinilai dari kondisi fisiknya, psikologis,
hubungan sosial dan lingkungannya.kualitas hidup sebagai persepsi individu
terhadap keadaannya dalam kehidupan dengan tujuan, harapan, standar dan
kepedulian mereka (Larasati, 2012).
Kualitas hidup terkait kesehatan yang dahulu ,memiliki konsep untuk
mengetahui situasi individu secara aktual yang dihubungkan dengan harapan
individu tersebut mengenai kesehatannya. Persamaan konsep terdahulu,
memiliki veriasi hasil jawaban yang tinggi, dan bersifat reaktif terhadap
pengaruh eksternal terhadap lama menderita penyakit dan dukungan sekitar
( Nursalam, 2013)
Dengan knsep yang saat ini di gunakan secara umum, merupakan
analisis dari hasil quersioner yang dilakukan pada pasien, yang bersifat multi
dimensi dan mencakup keadaan secara fisik, sosial, emosional, kognitif,
hubungan dengan peran atau pekerjaan yang peran dijalani, dan aspek spritual
yang berkaitan dengan variasi gejala penyakit,terapi yang didapatkan beserta
dengan dampak serta kondisi medis, dan dampak secara finansial (jhon et
al,2004 dalam Nursalam, 2013)
2.2.2

2.2.3

Domain Kualitas Hidup


Menurut WHO definisi kualitas hidup yang di buat oleh WHOQOL terdapat
domain domain yang merupakan bagian penting untuk mengetahu kualitas
hidup individu. Domain tersebut adalah kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan
lingkungan. Berikut ini adalah hal yang mencakup dari 4 domain tersebut:
a) Domain kesehatan fisik, meliputi : aktivitas sehari hari,
pertiolongan medis, tenaga, mobilitas, rasa sakit, istirahat, dan
kapasitas kerja
b) Domain psikologis seperti body image, persaaan negatif dan
positif, kepercayaan, memori dan konsentrasi
c) Domain sosial meliputi hubungan personal, diterima dalam
lingkungannya serta dukungan sosial seperti keberadaan,dan
menghargai.
d) Domain lingkungan berhubungan dengan kebebasan, keamaan,
dan keselamatan fisik. Seperti lingkungan rumah, lingkungan
fisik (polusi, lalulintas, cuaca) serta transportasi ( Nursalam,
2013)
Disabilitas
WHO
mendefinisikan
disabilitas
merupakan
pembatasan
atau
ketidakmampuan untuk melakuakan suatu kegiatan dengan cara yang atau
dalam rentang di anggap normal bagi manusia,sebgaian besar akibat penuruna
kemampuan

Selain pengertian secara umum, WHO mengutamakan definisi disabilitas yang


berbasis pada model sosial sebagai berikut.
a) Imiperment ( kerusakan atau kelemahan ) yaitu ketidaklengkapan atau
tidak normalan yang disertai akibat terhadap fungsi tertentu misalnya
kelumpuhan di bagian bawah tubuh di sertai ketidakmampun untuk
berjalan dengan dua kaki.
b) Disability / handicap(catatan/ketidakmampuan) adalah kerugian /
kerbatasan dalam akitivitas tertentu sebagai akibat faktor faktor sosial
yang hanya sedikit atau tidak sama sekali di perhitungkan orang orang
yang menyandangkerusakan/ kelemahan tertentu dan karnanya
mengeluarkan orang orang dari aktivitas sosial
Desability di kaji dengan menggunakan sakal AVPU :
A- Alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi perintah
yang di berikan
V- vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak di
mengerti
P- responds to pain only (harus di nilai semua ke empat tungkai jika
ekstremitas awal di gunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)
U- unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri
maupun stimulus verbal
2.2.4

Ambulasi dan Mobilisasi


Definisi
Ambulasi dini adalah tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien
pasca operasi dimulai dari bangun dan duduk sampai pasien turun dari tempat
tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien
(Asmadi, 2010).
Hal ini harusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua
pasien. Ambulasi mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibelitas.
Keuntungan dari latihan berangsur-angsur dapat di tingkatkan seiring dengan
Kozier 2009 ambulasi adalah aktivitas berjalan.
Tujuan Ambulasi
pengkajian data pasien menunjukkan tanda peningkatan toleransi aktivitas.
Menurut Sedangkan Menurut Asmadi (2010) manfaat Ambulasi adalah:
Mencegah dampak Immobilisasi pasca operasi meliputi: sistem
integumen,sistem kardiovaskuler, penernaan, perkemihan, muskulo skeletal,
neurosensori.
Faktor yang mempengaruhi ambulasi
1. Kesehatan umum : kurangnya latihan fisik dan lelah kronik menimbulkan
efek yang tidak nyaman pada fungsi musculoskeletal
2. Tingkat kesadaran : pasien dengan kondisi disorientasi dan mengalami
perubahan kesadran tidak bisa melakukan ambulasi
3. Nutrisi : gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit,karena kurangnya
asupaan protein dan vitamin c

4. Emosi : perasaan nyaman, dan saling percaya akan mempengaruhi pasien


untuk melakuakan tindakan ambulasi
5. Tingkat pendidikan : menyebabkan perubahan intelektual
6. Pengetahuan : hasil penelitian bahwa perilaku yang di dasri oleh
pengetahuan akan bertahan lam dari pada yang tidak didasri oleh
pengetahun (Kozier, 2010)

DEFINISI MOBILISASI
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan
keegiatan dengan bebas (Kosier, 2010)
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas,
mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat.
Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat
proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk
aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas
dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong
untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya
dalam waktu 12 jam (Asmadi, 2010)
Tujuan Mobilisasi
Tujuan mobilisasi yaitu :
a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
b. Mencegah terjadinya trauma
c. Mempertahankan derajat kesehatan
d. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari - hari
e. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh
Jenis Mobilisasi
Ada beberapa jenis mobilisasi menurut Potter, 2010 yaitu:
1. Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara
penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan
menjalankan peran sehari-hari.
2. Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
dengan batasan jelas dan tidak mam.pu bergerak secara bebas karena
dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sesnsorik pada area
tubuhnya
2.2.5 Penilaian EQ-5D (European Quality of Lite 5 Dimension)
EQ-5D adalah instrumen standart untuk di gunakan sebagai ukuran
hasil kesehatan. EQ -5D terutama di rancang untuk diri selesai oleh responden
dan sangat ideal untuk survai tempat, diklinik dan tatap muka dalam
wawancara.Hal ini merupakan kognitif sederhana, mengambil hanya beberapa
menit untuk meyelesaikan.instruksi untuk responden termasuk dalam kuesioner.
( euroqol, 2015)
Formulir EQ-5D adalah suatu alat pengkur kualitas hidup terkait
kesehatan berupa quesioner yang terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama terdiri
dari 5 dimensi, yaitu mobilisasi, perawatan diri sendiri, aktifitas sehari-hari, ras
nyeri atau rasa tidak nyaman dan rasa cemas atau depresi. Bagian kedua EQ-5D

berisi visula analog scale (VAS) untuk menggambarkan persepsi subyektif


tentang kualitas hidup.
Skor untuk EQ-5D dihasilkan dari kemampuan individu untuk berfungsi
dalam lima dimensi.
1. Mobilitas
1. Tidak ada masalah berjalan sekitar.
2. Beberapa masalah berjalan sekitar.
3. Terbatas pada tempat tidur.
2. Nyeri / ketidaknyamanan
1. Tidak ada rasa sakit atau ketidaknyamanan.
2. Sedang rasa sakit atau ketidaknyamanan.
3. Ekstrim rasa sakit atau ketidaknyamanan.
3. Perawatan diri
1. Tidak ada masalah dengan perawatan diri.
2. Beberapa masalah mencuci atau ganti.
3. Tidak untuk mencuci atau gaun diri.
4. Kecemasan / depresi
1. Tidak cemas atau depresi.
2. Cukup cemas atau depresi.
3. Sangat cemas atau tertekan.
5. Biasa kegiatan(Bekerja, belajar, pekerjaan rumah tangga, kegiatan rekreasi)
1. Tidak ada masalah dalam melakukan kegiatan biasa.
2. Beberapa masalah dalam melakukan kegiatan biasa.
3. Tidak dapat melakukan aktivitas biasa.
Masing-masing dari lima dimensi yang digunakan memiliki tiga tingkatan
tidak ada masalah,beberapa masalah dan masalah utama - membuat total 243
negara kesehatan yang mungkin, yang sadar dan mati yang ditambahkan untuk
membuat 245 secara total.
2.3 Penatalaksanaan Cedera Secara Umum
2.3.1 Penatalaksanaan jalan nafas (Airway)
Prioritas pertama adalah membebaskan jalan nafas dan mempertahankannya
agar tetapbebas.
2.3.1.1 Bicara kepada pasien
Pasien yang dapat menjawab dengan jelas adalah tanda bahwa jalan
nafasnya bebas.Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan jalan nafas
buatan dan bantuan pernafasan.Penyebab obstruksi pada pasien tidak
sadar umumnya adalah jatuhnya pangkal lidah kebelakang. Jika ada
cedera kepala, leher atau dada maka pada waktu intubasi trakheatulang
leher (cervical spine) harus dilindungi dengan imobilisasi in-line.Untuk
mempertahankan jalan nafas agar tetap terjaga maka dilakukan tahaptahap dasar antara lain :
a. Tahap dasar membuka jalan nafas tanpa alat
1) Tengadakan kepala korban disertai dengan mengangkat rahang bawah
kedepan
2) Bila ada dugaan cedera pada leher lakukan pengangkatan rahang bawah
kedepan disertai dengan membuka rahang bawah (jaw thrust), jangan
lakukan ekstensi kepala

3) Apabilah korban masih bernafas spontan, untuk menjaga jalan nafas tetap
terbuka posisikan kepala pada kedudukanyang tepat
4) Pada keadaan yang meragukan untuk mempertahankan jalan nafas
pasanglah oral atau nasal airway
b. Tahap dasar membuka jalan nafas dengan alat
Apabila manipulasi posisi kepala tidak dapat membebaskan jalan
nafas akibat sumbatan oleh pangkal lidah atau epiglotis maka lakukan
pemasangan alat bantu jalan nafas oral atau nasal.
c. Tahap dasar alat bantu jalan nafas tanpa orofaring (oropharyngeal
airway)
Alat bantu jalan nafas orofaring digunakan untuk menahan
pangkal lidah dari dinding belakang faring. Cara pemasangan :
1. Bersihkan mulut dan faring dari segala kotoran
2. Masukan alat dengan ujung mengarah ke chefala/megarah
kedepanfaring
3. Saat didorong masuk mendekati dinding belakang faring, alat
diputar 180
4. Ukuran alat dan penempatan yang tepat menghasilkan bunyi nafas
yang nyaring pada auskultasi paru saat ventilasi
5. Pertahankan posisi kepala yang tepat setelah terpasang. Jika
pemasangan tidak sesuai maka dapat menimbulkan
6. Lidah jatuh kebelakang menyumbat jalan nafas
7. Terjepitnya lidah dan bibir antara gigi dan alat
d. Alat bantu nafas nasofaring (nasopharyngeal airway)
Alat ini berbentuk pipa polos terbuat dari karet atau plastik.
Biasanya digunakan pada korban yang menolak menggunakan alat
bantu jalan nafas orofaring . Cara pemasangan :
1. Pilih alat dengan ukuran yang tepat, lumasi dan masukkan
menyusuri bagian tengan dan dasar rongga hidung hingga mencapai
daerah belakang lidah
2. Apabilah ada tahanan dengan dorongan ringan alat diputar sedikit.
Jika pemasangan tidak sesuai maka dapat menimbulkan bahaya :
a) Alat yang terlalu panjang dapat masuk oesophagus
b) Dapat merangsang muntah dan spasme laring
c) Dapat menyebabkan perdarahan akibat kerusakan mukosa
akibat pemasangan.
e. Pernafasan buatan (pernafasan mulut ke mulut dan mulut
kehidung)
Cara ini merupakan teknik dasar bantuan nafas. Upayakan
memakai pelindung (barrier) antara mulut penolong dengan korban
berupa lembar plastik (silikonberlubang)di tengah atau memakai
sungkup, sungkup khusus ini di kenal dengan nama pocket facemask.
f. Pernafasan mulut ke sungkup muka (pocket facemask)
Alat ni merupakan alat alat bantu efektif untuk nafas buatan.
Sungkup muka ini memiliki beberapa ukuran, bening untuk
memudahkan melihat adanya regurgitas dan memiliki lubang masuk
oksigen tambahan.
g. Cara pemberian nafas dari mulut ke mask

Bila memungkinkan lakukan dengan 2 penolong, posisi dan


urutan tindakan sama seperti tanpa menggunakan sungkup, kecuali
pada teknik ni d gunakan sungkup sebagai pelindung sehingga di
perlukan ketrampilan memegang sungkup. Bila tersedia, berikan
oksigen dengan aliran 10 liter/ menit (50%) dan 15 liter/ menit (80%).
Bila tidak ada penolakan, pasang alat bantu jalan nafas orofaring.
h. Bantuan nafas dengan menggunakan bagging dan sungkup
Bagging telah lama digunakan sebagai alat bantu nafas utama
dikombinasikan dengan alat bantu jalan nafas lain, misalnya
a) Sungkup muka,
b) ETT (Endotrakeal Tube)
Pemasangan pipa endotrakel tube menjamin terpeliharanya
jalan nafas dan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin oleh
penolong yang terlatih.
1.5 Keutungan dari pemasangan pipa endotrakeal tube :
a. Terpeliharanya jalan nafas
b. Dapat memberikan oksigen dengan konsentrasi tinggi
c. Menjamin tercapainya volume tidal yang diinginkan
d. Mencegah terjadinya aspiras
e. Mempermudah pengisapan lendir di trakea
f. Merupakaan jalur masuk beberapa obat-obat resusitasi.
2.5 Komplikasi dari pemsangan endotrakea tube :
a. ETT masuk kedalam oesophagus, yang dapat menyebabkan
hipoksia
b. Luka pada bibir dan lidah akibat terjepit antara laringoskop
dengan gigi
c. Gigi patah
d. Laserasi pada faring dan trakea
e. Kerusakan pita suara
f. Perforasi pada faring dan oesophagus
g. Muntah dan aspirasi
c) LMA (Laryngeal mask airway)
LMA (laryngeal mask airway) merupakan sebuah pipah dengan
ujung distal yang menyerupai sungkup dengan tepi yang mempunyai
balon disekelilingnya. Beberapa kelebihan dari LMA sebagai alat
bantu jalan nafas dan dapat dipasang tanpa laringoskopi.
d) Combitube
Alat ini merupakan gabungan dari ETT (endotrakeal tube)
untuk alat bantu nafas.
e) Krikotiroidektomi
Tindakan ini dilakukan untuk membuka jalan nafas sementara
dengan cepat, apabila cara lain sulit dilakukan. Teknik pemasangan
pada alat ini antara lain membran krikotiroid disayat kecil secara
vertikal, kemudian dimasukkan endotrakel tube (ETT)
f) Trakheostomi
Teknik ini bukan pilihan pada keadaan darurat (life saving).
Tindakan ini biasanya dilakukan di kamar bedah oleh seorang yang
ahli.

2.3.1.2 Berikan oksigen dengan sungkup muka (masker) atau


kantung nafas (self-invlating)
2.3.1.2.1 Metode pemberian oksigen dengan aliran rendah
1. Kanula Nasal
Pemberian oksigen : aliran 1-6 liter/ menit
menghasilkan oksigen dengan konsentrasi 24-44%
tergantung pola ventilasi. Bahayanya : Iritasi hidung,
pengeringan mukosa hidung, nyeri sinus dan epitaksis.
2. Sungkup muka sederhana
Pemberian oksigen : Aliran 5-8 liter/ menit
menghasilkan 0 2 dengan konsentrasi 40 - 60 %.
Bahayanya : Aspirasi bila muntah, penumpukan C02 pada
aliran 02 rendah, Empisema subcutan kedalam jaringan mata
pada aliran 02 tinggi dan nekrose, apabila sungkup muka
dipasang terlalu ketat
3. Sungkup muka "Rebreathing"
Dengan kantong 02 Oksigen : Aliran 8-12 liter/ menit
menghasilkan oksigen dnegan konsentrasi 60 - 80%.
Bahayanya : Terjadi aspirasi bila muntah, empisema
subkutan kedalam jaringan mata pada aliran 02 tinggi dan
nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat.
4. Sungkup muka "Non Rebreathing"
Dengan kantong 02 Oksigen : Aliran 8-12 l/menit
menghasilkan konsentrasi 02 90 %. Bahayanya : Sama
dengan sungkup muka Rebreathing.
2.3.1.2.2 Metode pemberian dengan aliran tinggi
1. Sungkup muka venturi (venturi mask) Oksigen : Aliran 4 -14 liter/
menit menghasilkan konsentrasi 02 30 - 55 %. Bahayanya : Terjadi
aspirasi bila muntah dan nekrosis karena pemasangan sungkup
yang terialu ketat.
2. Sungkup muka Aerosol (Ambu Bag) Oksigen : Aliran lebih dan 10
V menit menghasilkan konsentrasi 02 100 %. Bahaya :
Penumpukan air pada aspirasi bila muntah serta nekrosis karena
pemasangan sungkup muka yang terialu ketat.
2.3.1.3 Menilai jalan nafas
Untuk mengetahui tanda-tanda obstruksi antara lain :
1. Suara berkumur
2. Suara nafas abnormal (stridor)
3. Pasien gelisah karena hipoksia
4. Bernafas menggunakan otot nafas tambahan
5. Sianosis
2.3.1.4 Menjaga stabilitas tulang leher
a.Manual, in-line imobilisasi
b.Cervical collar
2.3.2 Penatalaksanaan pernafasan (breathing)
Setelah jalan nafas di amankan, maka selanjutnya perhatian baralih pada
pernafasan/ ventilasi. Ada 3 kategori dalam mengobservasi pernafasan antara lain :

1. Inspeksi/ melihat frekwensi nafas (Look) untuk mengetahui apakah terdapat


a. Sianosis
b. Luka tembus dada
c. Flail chest
d. Sucking wounds
e. Gerakan otot nafas tambahan
2. Palpasi/ raba (Feel)
a. Pergeseran letak trakhea
b. Patah tulang iga
c. Emfisema kulit
3. Auskultasi/ mendengarkan (Listen)
a. Suara nafas, detak jantung, bising usus
b. Suara nafas menurun
c. Suara nafas tambahan/ abnormal.
d. Tindakan resusitasi jika ada distress nafas maka rongga pleura harus
dikosongkan dari udara dan darah dengan memasang drainage thoraks
segera tanpa menunggu pemeriksaan sinar X. Jika diperlukan intubasi
trakhea maka lakukan krikotiroidotomi. Krikotiroidotomi merupakan
suatu alat yang digunakan untuk membuka jalan nafas sementara dengan
cepat apabila cara lain sulit diakukan. Jika dimungkinkan berikan
oksigen hingga pasien menjadi stabil.
2.3.3

Penatalaksanaan sirkulasi (circulation) dan kontrol


perdarahan
2.3.3.1 Volume darah dan curah jantung (cardiac output)
Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pasca bedah yang
mungkin dapat diatasi dengan tampon yang cepat dan tepat di rumah sakit.
Bila terjadi kondisi hipotensi harus dicurigai disebabkan oleh hipovolemia
sampai terbukti sebaliknya. Dengan demikian maka diperlukan penilaian
yang cepat dan akurat tentang status hemodinamik korban gawat darurat.
Ada beberapa hal yang harus diobservasi dalam hitungan detik,
observasi ini dapat memberikan informasi mengenai keadaan
hemodinamik. Observasi itu mencangkup tingkat kesadaran, warna kulit,
nadi dan lain-lain.
1. Tingkat Kesadaran
Apabila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang
yang akan mengakibatkan penurunan kesadaran walaupun demikian,
kehilangan darah dalam jumlah banyak belum tentu mengakibatkan
gangguan kesadaran.
2. Warna Kulit
Warna kulit dapat membantu menegakkan diagnosa hipovolemia.
Korban gawat darurat trauma yang kulitnya putih maka akan tampak
pucat terutama pada wajah dan ekstremitas. Sebaliknya pada korban
yang kulitnya hitam akan tampak pucat keabu-abuan pada wajah dan
kulit ekstremitas sebagai tanda hipovolemia. Apabila memang ada
hipovolemia maka hal ini menandakan kehilangan darah minimal 30%
dari volume darah.
3. Kontrol Perdarahan

Syok jarang disebabkan oleh perdarahan intra kranial karena


perdarahan hebat dikelola pada survei primer. Perdarahan eksternal
dikendalikan dengan penekanan langsung pada luka,
perdarahan dapat terjadi :
1. Eksternal, terlihat jelas ada darah.
2. Internal, tidak terlihat ada noda darah.
3. Perdarahan dirongga tubuh seperti : rongga dada, rongga
abdomen, rongga pelvis pada fraktur pelvis, rongga femur pada
fraktur femur atau fraktur tulang panjang.
Keadaan syok dapat dikenali dari nadi yang teraba lemah dan cepat,
akral dingin, kesadaran mulai menurun, tekanan darah turun dan
pernafasan cepat (Sartono, 2013)
2.3.3.2 Monitoring TTV
1. Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan kekuatan lateral pada dinding arteri
oleh darah yang didorong dengan tekanan dari jantung. Tekanan sistemik
atau arteri darah dalam sistem arteri tubuh adalah indikator yang
baik tentang kesehatan kardiovaskuler. Aliran darah mengalir pada
sistem sirkulasi karena perubahan tekanan.
2. RR (Respirasi Rate)
Monitoring respirasi untuk mengidentifikasi penyakit dan menilai
beratnya penyakit. Monitoring ini juga bersamaan dengan riwayat
penyakit, pemeriksaaan radiografi, analisa gas darah dan spirometer.
Penafasan normalnya 16-24x/menit, jika lebih dari 24x/menit disebut
dengan takipnea sedangkan kurang dari 16x/menit disebut dengan
bradipnea.
3. Suhu
Pemantauan suhu pada pasien kritis merupakan hal yang vital
walaupun sering diabaikan dalam penatalaksanaan pasien kritis.
Selain menekan fungsi organ hipotermia menyebabkan koagulopati,
meningkatkan kehilangan darah, dan meningkatkan respon adrenergik
yang dapat menyebabkan ketidakstabilan kadiovaskuler. Suhu tubuh
yang tinggi dapan menentukan bahwa terjadi infeksi di daerah tubuh
tertentu.
4. Nadi
Nadi yang besar seperti arteri femoralis atau arteri carotis harus
diperiksa bilateral, untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Pada
keadaan syok nadi akan teraba kecil merupakan tanda hipovolemia.
Sedangkan yang teraba cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia,
namun harus dipertimbangkan penyebab lain yang dapat menimbulkan
hal yang sama. Nadi yang teraba tidak teratur biasanya merupakan tanda
gangguan jantung. Tidak ditemukan pulsasi nadi sentral (arteri besar)
merupakan pertanda diperlukan resusitasi. Bila ada gangguan sirkulasi
maka segera harus dipasang 2 jalur intravena (IV line / intra vena line)
berukuran besar pada lengan. Biasanya korban gawat darurat akibat
trauma disebabkan karena syok hipovolemia. (Zakiyyah, 2014 Sartono
2013). Korban gawat darurat saat pertama kali datang atau di temukan
harus diberikan :
a) Pemberian Cairan Elektrolit (Isotonik)

Pada awal resusitasi, untuk menambah volume intravaskuler agar


lebih stabil dengan pilihan :
1. Cairan Ringer Lactate diberikan 1-2 liter (dewasa) dan
20cc/kg BB (anak).
2. Cairan NaCl 0,9% diberikan 1-2 liter (dewasa) dan 20cc/kg
BB (anak).
b) Evaluasi Resusitasi Cairan Dan Perfusi Organ
1. Adanya tanda dan gejala syok.
2. Tekanan darah, tekanan nadi dan denyut nadi kembali normal
atau tidak.
3. Kesadaran dan keadaan kulit menunjukkan perbaikan atau
tidak dengan melihat hasil pemeriksaan urine/jam (3050cc/jam).
4. Hindari pemberian transfusi darah yang berlebihan apabila
perdarahan pada korban gawat darurat masih berlangsung
secara terus-menerus (Sudiharto, 2013).
2.4 Penatalaksanaan Trauma Yang Spesifik
1. Tulang belakang
Jika ada trauma tulang belakang, imobilisasi harus selalu dilakukan untuk
mencegah kelamahan seumur hidup bahkan kematian. mempersiapkan korban
trauma dalam papan spinal harus adekuat dan harus diingat beberapa mekanisme
dari luka seperti terjatuh dari ketinggian dan mendarat dengan kedua kaki dapat
menyebabkan fraktur lumbal karena semua beban badan terlokalisir di daerah
tersebut.
2. Pelvis
Trauma pelvis dimasukkan dalam trauma ekstremitas karena keduanya
memiliki hubungan. trauma pelvis biasanya terjadi karena kecelakaan lalu lintas
atau trauma seperti terjatuh dari ketinggian. pada pemeriksaan korban didapatkan
hasil tekanan yang keras pada tulang iliaka, tulang panggul, tulang pubis yang
selalu ada potensi perdarahan serius pada fraktur pelvis, maka resiko syok harus
selalu diperkirakan dan korban harus segera dikirim dengan menggunakan papan
spinal.
3. Femur
Femur biasanya patah pada sepertiga tengah, walaupun pada orang dewasa
harus selalu diperkirakan patah pangkal tulang paha (collum femoris). fraktur ini
dapat menjadi fraktur terbuka, kalau hal ini terjadi harus segera ditangani karena
banyak otot di sekeliling femur dan perdarahan masih dapat terjadi pada paha.
fraktur femur bilateral dapat menyebabkan kehilangan darah sampai 50% dari
volume darah normal.
4. Lutut
Fraktur atau dislokasi di daerah ini sangat serius, karena arteri berada di
bawah dan di atas dari persendian lutut dan bisa terjadi laserasi apabila persendian
tersebut tidak dalam keaadaan normal. tidak ada cara untuk mengetahui apakah
ada fraktur atau tidak dalam keadaan posisi yang abnormal tersebut namun pada
keadaan ini pemeriksaan diagnostik yang dilakukan
harus berdasarkan
pemeriksaan neurovaskular disturbance (NVD).
5. Tibia dan fibula
Patah tungkai bawah sering membuat perlukaan dan sering mengakibatkan
perdarahan baik eksternal maupun internal. perdarahan internal di daerah ini dapat
mengakibatkan terjadinya compartement syndrome. fraktur tibia dan fibula bagian

bawah dapat dilakukan fiksasi dengan menggunakan rigid splint, air splint atau
bantal.
6. Klavikula
Fraktur klavikula sering terjadi pada fraktur tulang tetapi tidak banyak
menyebabkan problem. imobilisasi terbaik dapat dilakukakan dengan
menggunakan sling, juga jarang terjadi kerusakan pada vena subklavia atau arteri
dan saraf dari tangan.
7. Bahu
Kejadian dari kerusakan bahu kebanyakan tidak mengancam jiwa tetapi
dapat disertai kerusakan yang parah dari dada dan leher, selain itu juga dapat
disertai dengan dislokasi dari persendian bahu. dislokasi bahu sering
menyebabkan rasa nyeri karena itu di antara lengan dan badan dipakaikan bantal
untuk mempertahankan tangan atas dalam posisi yang nyaman untuk korban.
selain itu juga dapat terjadi patah tulang humerus bagian atas yang dapat
menyebabkan kerusakan dari nadi radialis. gejala yang timbul yaitu
ketidakmampuan korban untuk mengangkat tangannya (wirst drop).
8. Siku
Sulit untuk mengenali adanya fraktur atau dislokasi pada siku padahal
keduanya sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan pembuluh
darah dan syaraf yang berjalan sepanjang permukaan fleksor dari siku. kerusakan
pada siku harus difiksasi dalam posisi yang nyaman bagi korban gawat darurat
dan bagian distalnya harus dievaluasi dengan benar, dilarang untuk meluruskan
atau melakukan traksi pada kerusakan siku.
9. Tangan dan pergelangan tangan
Fraktur yang terjadi biasanya akibat terjatuh atau penarikan yang terlalu
kuat. biasanya untuk imobilisasi dilakukan dengan menggunakan atau melakukan
regid splint atau air splint.
10.Kaki dan tangan
Kecelakaan kerja dapat mengakibatkan fraktur multipel yang terbuka.
trauma ini tampak berat tapi jarang mengakibatkan perdarahan yang mengancam
jiwa. untuk mempertahankan kaki dan tangan dalam posisi yang normal sering
digunakan bantal. metode alternatif untuk membalut tangan yaitu membalut
tangan dengan bola digenggam korban dengan balutan yang tebal (sudiharto,
2013).
2.5 Pengkajian/ Anamnesa
2.5.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dimana mengkaji secara menyeluruh
kondisi seseorang meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat masalah
kesehatan sekarang, riwayat medis, riwayat keluarga dan sosial.Dalam
melakukan pengkajian, data yang diperoleh berasal dari hasil wawancara,
observasi langsung dan bekerjasama dengan keluarga klien. pengkajian mulai
dari pengkajian primer, pemeriksaan fisik (head to toe), serta data yang
menunjang lainnya. Informasi yang digali adalah mekanisme trauma, apakah
pasien mengalami trauma sebelumnya. Selain anamnesis, pemeriksaan fisik juga
tidak kalah pentingnya. Pemeriksaan fisik yang dibutuhkan dapat dikelompokan
menjadi tiga yaitu : look, feel, move.
1. Look (inspeksi)

Dimana kita memperhatikan kondisi dari cidera apakah ada cedera


terbuka (tulang terlihat kontak dengan udara luar). Apakah terlihat deformitas
dari ekstremitas tubuh, hematoma, dan pembengkakan.
2. Feel (palpasi)
Kita harus mempalpasi seluruh ektremitas untuk menilai area rasa sakit,
efusi, krepitasi. Seringkali akan ditemukan cedera lain yang terjadi bersamaan
dengan trauma utama.
3. Point ketiga yang harus dinilai adalah move
Penilaian dilakukan untuk mengetahui ROM (Range Of Motion).
2.5.2 Anamnesa
Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa didapat dari
penolong, pasien dan keluarga.
1) Anamnesis yang harus diingat :
A: Alergi(adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester, makanan)
M : Mekanisme dan sebab trauma
M : Medikasi ( obat yang sedang diminum saat ini)
P : Past illness
L :Last meal (makan minum terakhir)
E :Event/Environtment yang berhubungan dengan kejadian perlukaan, sebab
cedera
2) Riwayat medis
3) Identifikasi dan mencatat obat yang diberikan kepada
penderitasewaktu datang dan selama pemeriksaan dan
penatalaksanaan.
2.5.3 Riwayat kejadian trauma
Pengkajian riwayat kejadian trauma digunakan untuk mengetahui riwayat
trauma ekstremitas, karena penampilan luka terkadang tidak sesuai dengan
parahnya cedera. jika keadaan korban gawat darurat parah, jangan melanjutkan
pengkajian dari riwayat trauma sampai perawat dapat membebaskan jalan nafas,
pernafasan dan sirkulasi (Sudiharto, 2013).
Pada korban yang gelisah, perawat harus bisa mendapatkan pengkajian dari
riwayat trauma pada saat perawat melakukan survey sekunder. Karena pengkajian
trauma ini sangat penting pada trauma ekstremitas, karena beberapa mekanisme
yang menyebabkan luka ekstremitas tidak terlihat pada saat pemeriksaan awal,
seperti :
1. Trauma pada tungkai, akibat jatuh dari ketinggian sering disertai dengan
trauma pada lumbal.
2. Trauma pada lutut saat korban jatuh dengan posisi duduk dapat disertai
dengan trauma panggul.
3. Jatuh pada lengan sering menyebabkan trauma pada siku sehingga lengan
dan siku harus dievaluasi bersamaan.
4. Trauma apapun yang mengenai bahu harus diperhatikan secara seksama
karena dapat mengenai leher, dada atau bahu (Sartono, 2013).
5. Jatuh dari ketinggian > 3 meter
6. Kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan > 30 km/jm
7. Terlempar dari atau terperangkap dalam kendaraan bermotor
8. Tabrakan antara mobil dengan pejalan kaki/sepeda/mobil lain atau
penumpang mobil tanpa mengenakan (seat belt)
9. Terbakar dalam ruagan tertutup : cedera inhalasi, keracunan CO
(Sudiharto, 2013).

2.6 Survei Primer (Primary Survey)


Survei primer atau biasa disebut primary survey merupakan suatu proses melakukan
penilaian keadaan korban gawat darurat dengan menggunakan prioritas CAB-DE untuk
menentukan kondisi patofisiologi korban dan pertolongan yang diberikan dalam waktu
emasnya (Golden Time). Dalam survei primer perawat harus berfikir sekuensial dan
bertindak secara simultan yang sampai korban stabil.
Penilaian keadaan korban gawat darurat dan prioritas terapi dilakukan berdasarkan
jenis trauma dan stabilitas tanda-tanda vital. Pada korban gawat darurat luka parah,
prioritas terapi diberikan berurutan, berdasarkan penilaian :
C : Circulation (+ kontrol perdarahan)
A : Airway (+C spine control)
B : Breathing (+ventilation)
D : Disability (GCS, dan tanda lateralisasi)
E : Exposure (membuka pakaian dan bila perlu x-ray)
Pertolongan korban gawat darurat pada fase pra-rumah sakit, prioritas utama yang
terpenting adalah CAB. Lakukan resusitasi setiap saat diperlukan kemudian lakukan
fiksasi korban dan bila telah stabil lakukan evakuasi dan atau transfer kefasilitas
pelayanan yang lebih memadai. Walaupun jumlah darah, cairan, obat, ukuran anak,
kehilangan panas dan pola yang diperlukan berbeda, namun penilaian dan prioritas pada
anak dan dewasa pada dasarnya adalah sama (Sartono, 2013).
2.7 Survey sekunder (secondary survey)
Survei sekunder dilakukan setelah survei priemer dan resusitasi telah selesai
dilakukan sehingga korban gawat darurat telah stabil. Pertimbangannya pada korban
gawat darurat yang tidak sadar atau gawat, kemungkinan memerlukan tindakan yang
lebih kompleks apabila ditemukan kelainan pada survei sekunder. Survei sekunder
adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination) termasuk
pemeriksaan tanda-tanda vital (Sartono, 2013).
2.8

Pemeriksaan GOSE
Glasgow Outcome Scale (GOS) merupakan instrumen standar yang dapat digunakan
untuk mengukur tingkat kesadaran yang pada awal penggunaanya ditujukan pada
pasien trauma kepala. Glasgow coma scalemerupakan salahsatu komponen yang
digunakan sebagai acuan pengobatan,dan dasar pembuatan keputusan klinis umum
untuk pasien.Selain mudah dilakukan, GCS juga memiliki peranan pentingdalam
memprediksi risiko kematian di awal trauma.Skala ini diciptakan oleh Jennet dkk pada
tahun 1975 dan dipakai untuk mengalokasikan orang-orang yang menderita cedera
otak akut pada cedera otak traumatik maupun non-traumatik ke dalam kategori
outcome. Skala ini menggambarkan disabilitas dan kecacatan dibandingkan gangguan,
yang difokuskan pada bagaimana trauma mempengaruhi fungsi kehidupan (Irawan,
Setiawan, dkk, 2010)
Tabel 2.1Kategori GOSEpada Pasien cedera (Sartono, 2013)
Skor
e
1.

Kategori
Death (meninggal)

Keterangan
Merupakan akibat langsung dari cedera kepala. Penderita menjadi
sadar kembali dan meninggal setelah itu karena komplikasi skunder

dan penyebab lain.

2.9

2.

Vegetative state

Penderita tidak memberikan respon dan tidak bisa berbicara untuk


beberapa waktu kedepan. Penderita mungkin dapat membuka mata
dan menunjukkan siklus tidur dan bangun tetapi fungsi dari korteks
serebral tidak ada.

3.

Severe disability

Membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktifitas seharihari disebabkan karena kecacatan mental atau fisik, biasanya
kombinasi antara keduanya. Kecacatan mental yang berat kadangkadang juga dapat dimasukkan dalam klasifikasi ini pada penderita
dengan kecacatan fisik sedikit atau tidak ada.

4.

Moderate disability

Dapat berjalan-jalan menggunakan transportasi umum dan bekerja di


tempat-tempat tertentu (dengan perlindungan) dan dapat beraktifitas
bebas sejauh kegiatan tersebut tidak mengkhawatirkan.
Ketidakmampuan (kecacatan) penderita mencakup perubahan derajat
dari dispasia, hemiparise, atau ataksia maupun berkurangnya
intelektual dan daya ingat dan perubahan personalitas. Lebih mampu
untuk melakukan hal-hal protektif diri.

5.

Good recovery

Dapat melanjutkan kehidupan normal sekalipun terjadi keadaan


defisit neurologis

Pemeriksaan dan Pengobatan Medis pada Pasien Cedera


2.9.1 Pemeriksaan diagnostik
1) Foto Rontgen
Pada fase rumah sakit, foto rontgen harus selektif dan jangan sampai
mengganggu proses resusitasi. Pada korban gawat darurat dengan trauma
tumpul harus dilakukan 3 posisi foto yaitu servikal, thorax dan pelvis
(Sartono, 2013).
2) CT-Scan
CT-Scan umumnya digunakan untuk mendiagnosa kelainan yang
terdapat dalam tubuh manusia, juga sebagai evaluasi terhadap tindakan atau
operasi maupun terapi yang akan dilakukan terhadap pasien. Meskipun
biasanya mahal dan membutuhkan banyak waktu, namun CT-Scan banyak
mendukung gambaran detil patologi trauma dan dapat menentukan sumber
perdarahan.
Tujuan utama dari CT-Scan pada pasien trauma kepala untuk mengetahui
cedera intrakranial yang berpotensi mengancam jiwa pasien apabila tidak segera
dilakukan tindakan.
2.9.2 Pengobatan medis pada pasien Cedera
Farmakologi
1) Antibiotik
Pemberian antibiotik digunakan untuk mencegah terjadinya
infeksi, namun dapat juga diberikan untuk mencegah terjadinya
kejang seperti Diazepam 10mg, Phenitoin 8-10mg/kgBB/hr,
Phenobarbital 3-5mg/kgBB/hr.
Pemberian antibiotik IV dilakukan pada pasien trauma tembus
atau pada trauma tumpul apabila ada perlukaan intestinal (Iskandar,
2012).

2) Analgesik
Asetaminofen, aspirin: merupakan analgesik utama, meskipun
kurang efektif untuk sakit kepala post-trauma, tetapi lebih dapat
ditoleransi oleh tubuh. Tetapi penggunaannya harus dibatasi, untuk
mencegah efek samping.