Você está na página 1de 17

Asal Usul Terbentuknya Migas Berdasarkan Teori Organik

Pendapat para ilmuan mengenai tahap terbentuknya migas terbagi dalam dua
aliran besar yaitu penganut teori organik dan teori anorganik. Teori anorganik
disebut juga sebagai teori abiotik atau abiogenic, teori ini mengemukakan bahwa
migas terbentuk dari proses alam biasa dan dipercayai sudah ada sejak dari awal.
Sementara teori organik meyakini bahwa migas terbentuk dari bangkai makhluk
hidup purbakala yang mengalami tekanan tinggi dibawah lapisan tanah dan telah
melalui proses pengolahan secara alami dalam jangka waktu yang sangat panjang
hingga membentuk minyak dan gas bumi. Dari kedua teori tersebut,

Menurut Jeffery S. Dukes seorang ilmuan dari Universitas Utah memperkirakan bahwa 1 gallon
minyak mentah membutuhkan 90 ton tumbuhan purbakala sebagai bahan material. Artinya,
untuk mendapatkan 1 liter minyak mentah diperlukan 23,5 ton tumbuhan purbakala.Untuk
mendapatkan jumlah tersebut maka dibutuhkan setidaknya 16.000 meter persegi jumlah tanaman
padi termasuk daun, tangai dan seluruh akarnya.
Makhluk hidup purbakala tersebut mati, tetapi karena penguburannya tidak berlangsung dengan
cepat sehingga akan lapuk dan kemudian terurai. Namun tidak seluruh makhluk hidup yang mati
tersebut akan menghasilkan energi fosil karena sebagian yang terurai akan embali menyatu
dengan tanah dan batuan. Sedangkan kurang dari 1/10.000 akan berubah menjadi bahan bakar
fosil (migas).
Beberapa ilmuan perminyakan penganut teori organik meyakini bahwa migas yang ada saat ini
terbentuk secara alami atau dengan kata lain melalui proses alam dengan dasar utama tanaman
sejenis ganggang dan biota-biota lain yang berupa daun-daunan. Bahkan juga dipercayai bahwa
tumbuhan-tumbuhan tingkat tinggi akan lebih banyak menghasilkan minyak bumi yang
disebabkan rangkaian karbonnya yang lebih kompleks.
Namun, banyak pula ilmuan perminyakan yang mempercayai bahwa migas terbentuk dari
binatang yang hidup dan mati pada jutaan tahun lalu, bahkan lebih dari 500 juta tahun. Para
ilmuan umumnya menyebutnya sebagai Paleozoic Era. Pada zaman itu belum terdapat ikanikan di laut seperti sekarang, namun yang ada hanyalah jutaan tinycreatures yang disebut
plankton dan merupakan makanan untuk binatang purbakala seperti trilobites, crinoids dan
brachiopods.
Bagaimana hewan-hewan tersebut bisa menjadi minyak dan gas? Mirip seperti yang terjadi pada
tumbuhan ganggang, Ketika binatang tersebut mati, kerangkanya akan terkubur bersama lumpur
dan pasir, yang mampu melindungi dan membantu bangkai binatang tersebut menjadi fosil. Pada
sekitar 320 juta tahun yang lalu, tepatnya pada era Mesozoikum, dasar laut tertutup oleh fosil
plankton. Namun pada era itu pula terjadi penurunan tingkat debit air secara drastis, situasi ini

membuat sebagian plankton tidak lagi berada di bawah dasar laut. Kemudian berbagai material
menimbuni fosil tersebut dan memberikan daya berat dan tekanan yang tinggi, sehingga
mendorong bangkai plankton itu ke dalam dan tertekan semakin dalam. Bersamaan dengan itu
bangkai (fosil) itu pun memperoleh panas yang cukup besar pula. Setelah kurang lebih selama
230 juta tahun mendapatkan tekanan dan panas, fosil akan berubah menjadi hidrokarbon.
Jadi, dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa tahap terbentuknya migas menurut teori
organik diawali dengan matinya organisme tumbuhan dan hewan yang hidup pada zaman purba.
Kemudian fosil hewan dan tumbuhan tadi akan tertimbun pasir dan lumpur selama jutaan tahun
sehingga membentuk lapisan zat organik. Akibat adanya tekanan serta temperatur yang cukup
tinggi akhirnya lapisan tersebut akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock) yang
mengandung migas.
Sumber http://surabaya.proxsisgroup.com/asal-usul-terbentuknya-migasberdasarkan-teori-organik/
Sumber: http://www.prosesindustri.com/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/45874/4/Chapter%20II.pdf

Proses Pembentukan Minyak Bumi Dan Gas Alam Dan Komposisinya


Proses Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam dan Komposisinya - Minyak
bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin: petrus karang dan oleum
minyak) dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah suatu cairan kental yang
berwarna coklat sampai hitam atau kehijauan, yang mudah terbakar dan berbau
kurang sedap, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi.
Komposisi Minyak bumi merupakan campuran kompleks dari senyawa-senyawa
hidrokarbon, baik senyawa alifatik, alisiklik, dan aromatik yang sebagian terdiri atas
alkana tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya, dengan
sedikit senyawa nitrogen (0,01-0,9%), belerang (0,1-7%), oksigen (0,06-0,4%) dan
senyawa logam dalam jumlah yang sangat kecil. Para ahli berpendapat bahwa
minyak bumi terbentuk dari pelapukan sisa kehidupan purba (hewan, tumbuhan,
dan jasad-jasad renik) yang terpendam bersama air laut dan masuk ke dalam
batuan pasir, lempung, atau gamping yang terdapat di dalam lapisan kerak bumi
selama berjuta-juta tahun melalui proses fisika dan kimia. Proses terbentuknya
minyak bumi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pada zaman purba, di darat dan di
dalam lautan hidup beraneka ragam binatang dan tumbuh-tumbuhan. Binatang
serta tumbuh-tumbuhan yang mati ataupun punah itu akhirnya tertimbun di bawah
endapan lumpur. Endapan lumpur ini kemudian dihanyutkan oleh arus sungai
menuju lautan bersama bahan organik lainnya dari daratan. 2. Selama berjuta-juta
tahun, sungai-sungai menghanyutkan pasir dan lumpur ke dasar laut dan membuat
lapisan batuan yang bercampur dengan fosil-fosil binatang dan tumbuh-tumbuhan.
3. Akibat peristiwa alam, lapisan dan permukaan bumi mengalami perubahan besar
berupa pergeseran-pergeseran sehingga fosil hewan dan tumbuhan yang terkubur
di perut bumi masuk ke celah-celah lapisan bumi yang bersuhu dan bertekanan
tinggi. Akibat pengaruh waktu, temperatur tinggi, dan tekanan beban lapisan
batuan di atasnya, menyebabkan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang mati tadi
mengalami proses penguraian berupa perubahan kimia, berubah menjadi bintikbintik dan gelembung minyak yang berbentuk cairan kental dan gas. Akibat
pengaruh yang sama, maka endapan lumpur berubah menjadi batuan sedimen.
Batuan lunak yang berasal dari lumpur yang mengandung bintik-bintik minyak
dikenal sebagai batuan induk atau source rock. 4. Karena ringan, minyak
bumi akan terdorong dan terapung, lalu bergerak mencari tempat yang lebih baik
(berimigrasi menuju tempat yang bertekanan lebih rendah) untuk berhenti dan
terperangkap dalam batuan sedimen yang kedap atau kadangkadang merembes ke
luar permukaan bumi. Batuan sedimen tersusun atas fragmenfragmen atau butiran
mineral dari yang halus sampai yang kasar satu sama lain saling terikat oleh materi
yang sangat halus dan berfungsi sebagai semen, sehingga di antaranya
terdapat pori-pori. Pada kondisi tertentu, pori-pori ini dapat mengandung fluida
minyak, gas, atau air. Peristiwa terperangkapnya minyak bumi dan gas alam dalam
batuan sedimen disebut proses akumulasi. Gambar 1. Sumber minyak bumi
merupakan sisa-sisa fosil hewan selama jutaan tahun. [1] Berapa lama proses
terbentuknya minyak bumi? Mengenai hal ini masih terdapat pendapat yang
berbeda-beda. Ada yang mengatakan ribuan tahun, ada yang mengatakan jutaan

tahun, bahkan ada yang berpendapat lebih dari itu. Namun diduga, minyak bumi
terbentuk paling sedikit 2 juta tahun yang lalu, dan ada juga yang berpendapat
bahwa minyak bumi terbentuk 500-2500 juta tahun yang lalu. Proses pembentukan
minyak bumi dan gas alam Teori Organis dan teori Anorganik Teori proses
pembentukan minyak yang dikenal hingga saat ini ada dua teori besar yaitu teori
an-organik dan teori organik. Teori an-organik ini saat ini jarang dipakai dalam
eksplorasi migas. Salah satu pengembang teori an organik ini adalah para
penganut creationist atau penganut azas penciptaan, itu tuh yang anti teori
evolusi . Teori an-organic ini sering juga dikenal abiotik, atau abiogenic. Dongeng
kali ini hanya untuk teori organik saja. Proses pembentukan minyak bumi
berdasar teori organik Mungkin ngga ada yang menyangka sebelumnya bahwa
secara alami minyak bumi yang ada secara alami ini dibuat oleh alam ini bahan
dasarnya dariganggang. Ya, selain ganggang, biota-biota lain yang berupa daundaunan juga dapat menjadi sumber minyak bumi. Tetapi ganggang merupakan
biota terpenting dalam menghasilkan minyak. Namun dalam studi perminyakan
(yang lanjut dan bikin mumet itu) diketahui bahwa tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi
akan lebih banyak menghasilkan gas ketimbang menghasilkan minyak bumi.
Hal ini disebabkan karena rangkaian karbonnya juga semakin kompleks. Setelah
ganggang-ganggang ini mati, maka akan teredapkan di dasar cekungan sedimen.
Keberadaan ganggang ini bisa juga dilaut maupun di sebuah danau. Jadi ganggang
ini bisa saja ganggang air tawar, maupun ganggang air laut. Tentusaja batuan yang
mengandung karbon ini bisa batuan hasil pengendapan di danau, di delta, maupun
di dasar laut. Batuan yang mengandung banyak karbonnya ini yang
disebut Source Rock (batuan Induk) yang kaya mengandung unsur Carbon (high
TOC-Total Organic Carbon). Proses pembentukan carbon dari ganggang menjadi
batuan induk ini sangat spesifik. Itulah sebabnya tidak semua cekungan sedimen
akan mengandung minyak atau gasbumi. Kalau saja carbon ini teroksidasi maka
akan terurai dan bahkan menjadi rantai carbon yang tidak mungkin dimasak. Proses
pengendapan batuan ini berlangsung terus menerus. Kalau saja daerah ini terus
tenggelam dan terus ditumpuki oleh batuan-batuan lain diatasnya, maka batuan
yang mengandung karbon ini akan terpanaskan. Tentusaja kita tahu bahwa semakin
kedalam atau masuk amblas ke bumi, akan bertambah suhunya. Ingat ada gradien
geothermal ? (lihat penjelasan tentang pematangan dibawah). Reservoir (batuan
Sarang) Ketika proses penimbunan ini berlangsung tentusaja banyak jenis batuan
yang menimbunnya. Salah satu batuan yang nantinya akan menjadi
batuan reservoir ataubatuan sarang. Pada prinsipnya segala jenis batuan dapat
menjadi batuan sarang, yang penting ada ruang pori-pori didalamnya. Batuan
sarang ini dapat berupa batupasir, batugamping bahkan batuan volkanik. Proses
migrasi dan pemerangkapan Minyak yang dihasilkan oleh batuan induk yang
termatangkan ini tentusaja berupa minyak mentah. Walaupun berupa cairan,
minyakbumi yang mentah ciri fisiknya berbeda dengan air. Dalam hal ini sifat fisik
yang terpenting yaitu berat-jenis dan kekentalan. Ya, walaupun kekentalannya lebih
tinggi dari air, namun berat jenis minyakbumi ini lebih kecil. Sehingga harus
mengikuti hukum Archimides. Inget kan si jenius yang menurut hikayat lari

telanjang ? Sambil berteriak, Eureka .. eureka!!. Demikianlah juga dengan


minyak yang memiliki BJ lebih rendah dari air ini akhirnya akan cenderung
bermigrasi keatas. Ketika minyak tertahan oleh sebuah bentuk batuan yang
menyerupai mangkok terbalik, maka minyak ini akan tertangkap atau lebih sering
disebut terperangkap dalam sebuah jebakan (trap). Proses pematangan batuan
induk (Source rock) Untuk sedikit lebih canggih dalam memahami proses
pembentukan migas, dongeng berikut ini menjelaskan hanya masalah
pematangannya. Seperti disebutkan diatas bahwa pematangan source rock (batuan
induk) ini karena adanya proses pemanasan. Juga diketahui semakin dalam batuan
induk akan semakin panas dan akhirnya menghasilkan minyak. Tentunya ada donk
hubungan antara kedalaman dengan pematangan ? Ya tentusaja. Proses pemasakan
ini tergantung suhunya dan karena suhu ini tergantung dari besarnya gradien
geothermalnya maka setiap daerah tidak sama tingkat kematangannya. Daerah
yang dingin adalah daerah yang gradien geothermalnya rendah, sedangkan daerah
yang panas memiliki gradien geothermal tinggi. Dalam gambar diatas ini terlihat
bahwa minyak terbentuk pada suhu antara 50-180 derajat Celsius. Tetapi puncak
atau kematangan terbagus akan tercapai bila suhunya mencapai 100 derajat
Celsius. Ketika suhu terus bertambah karena cekungan itu semakin turun dalam
yang juga diikuti penambahan batuan penimbun, maka suhu tinggi ini akan
memasak karbon yang ada menjadi gas! Dibawah ini peta yang menunjukkan
cekungan-cekungan penghasil minyak bumi di Indonesia. Warna hijau menunjukkan
cekungan yang telah menghasilkan minyak dan gas lebih besar dari 5 Boe (Billion
Oil Ekivalen) atau diatas 5 Milyar barrel migas. Kemudian antara 1-5 Milyar, warna
kuning menghasilkan 1-1000 juta barrel, dan kurang dari 10 juta barrel migas.
Cekungan-cekungan sedimen di Indonesia itu tergambar dalam gambar disebelah
atas ini tidak sama satu dengan yang lain, hal ini menunjukkan masih banyak yang
belum diketemukan. Masih memerlukan teknologi, tenaga dan pikiran serta
keahlian untuk mencari dan menemukannya.... Proses Pembentukan Minyak Bumi &
Gas Alam A. Proses Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam Para ahli
berpendapat bahwa minyak bumi terbentuk dari pelapukan sisa kehidupan purba
(hewan, tumbuhan, dan jasad-jasad renik) yang terpendam bersama air laut dan
masuk ke dalam batuan pasir, lempung, atau gamping yang terdapat di dalam
lapisan kerak bumi selama berjuta-juta tahun melalui proses fisika dan kimia. Proses
terbentuknya minyak bumi dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Pada
zaman purba, di darat dan di dalam lautan hidup beraneka ragam binatang dan
tumbuh-tumbuhan. Binatang serta tumbuh-tumbuhan yang mati ataupun punah itu
akhirnya tertimbun di bawah endapan lumpur. Endapan lumpur ini kemudian
dihanyutkan oleh arus sungai menuju lautan bersama bahan organik lainnya dari
daratan. b. Selama berjuta-juta tahun, sungai-sungai menghanyutkan
pasir dan lumpur ke dasar laut dan membuat lapisan batuan yang bercampur
dengan fosil-fosil binatang dan tumbuh-tumbuhan. c. Akibat peristiwa
alam, lapisan dan permukaan bumi mengalami perubahan besar berupa
pergeseran-pergeseran sehingga fosil hewan dan tumbuhan yang terkubur di perut
bumi masuk ke celah-celah lapisan bumi yang bersuhu dan bertekanan tinggi.

Akibat pengaruh waktu, temperatur tinggi, dan tekanan beban lapisan batuan di
atasnya, menyebabkan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang mati tadi mengalami
proses penguraian berupa perubahan kimia, berubah menjadi bintik-bintik dan
gelembung minyak yang berbentuk cairan kental dan gas. Akibat pengaruh yang
sama, maka endapan lumpur berubah menjadi batuan sedimen. Batuan lunak yang
berasal dari lumpur yang mengandung bintik-bintik minyak dikenal sebagai batuan
induk atau source rock. d. Karena ringan, minyak bumi akan
terdorong dan terapung, lalu bergerak mencari tempat yang lebih baik (berimigrasi
menuju tempat yang bertekanan lebih rendah) untuk berhenti dan terperangkap
dalam batuan sedimen yang kedap atau kadang-kadang merembes ke luar
permukaan bumi. Batuan sedimen tersusun atas fragmen-fragmen atau butiran
mineral dari yang halus sampai yang kasar satu sama lain saling terikat oleh materi
yang sangat halus dan berfungsi sebagai semen, sehingga di antaranya
terdapat pori-pori. Pada kondisi tertentu, pori-pori ini dapat mengandung fluida
minyak, gas, atau air. Peristiwa terperangkapnya minyak bumi dan gas alam dalam
batuan sedimen disebut proses akumulasi. Berapa lama proses terbentuknya
minyak bumi? Mengenai hal ini masih terdapat pendapat yang berbeda-beda. Ada
yang mengatakan ribuan tahun, ada yang mengatakan jutaan tahun, bahkan ada
yang berpendapat lebih dari itu. Namun diduga, minyak bumi terbentuk paling
sedikit 2 juta tahun yang lalu, dan ada juga yang berpendapat bahwa minyak bumi
terbentuk 500-2500 juta tahun yang lalu. Membahas identifikasi minyak
bumi tidak dapat lepas dari bahasan teori pembentukan minyak bumi dan kondisi
pembentukannya yang membuat suatu minyak bumi menjadi spesifik dan tidak
sama antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lainnya. Ada banyak hipotesa
tentang terbentuknya minyak bumi yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa
diantaranya adalah: 1. Teori Biogenesis (organik) Macqiur (Perancis, 1758)
merupakan orang yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa minyak bumi
berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian M.W. Lamanosow (Rusia, 1763) juga
mengemukakan hal yang sama. Pendapat di atas juga didukung oleh sarjana
lainnya seperti, New Beery (1859), Engler (1909), Bruk (1936), Bearl (1938) dan
Hofer. Mereka menyatakan bahwa: Minyak dan gas bumi berasal dari organisme
laut yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu dan membentuk sebuah lapisan
dalam perut bumi. 2. Teori Abiogenesis (Anorganik) Barthelot (1866)
mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam
keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan
CO2 membentuk -asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa
minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida
logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang
mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh
sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi.
Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam
beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain. Dari sekian banyak
hipotesa tersebut yang sering dikemukakan adalah Teori Biogenesis, karena lebih
bisa. Teori pembentukan minyak bumi terus berkembang seiring dengan

berkembangnya teknologi dan teknik analisis minyak bumi, sampai kemudian pada
tahun 1984 G. D. Hobson dalam tulisannya yang berjudul The Occurrence and
Origin of Oil and Gas menyatakan bahwa : The type of oil is dependent on the
position in the deposition a basin, and that the oils become lighter in going basin
ward in any horizon. It certainly seems likely that the depositional environment
would determine the type of oil formed and could exert an influence on the
character of the oil for a long time, even thought there is evolution. Berdasarkan
teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang
permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan
permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang
berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada
arah pertama, karbondioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari
atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua
CO2dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan,
hewan dan mikroorganisme). Dalam proses ini, terjadi kebocoran kecil yang
memungkinkan satu bagian kecil karbon yang tidak dibebaskan kembali ke atmosfir
dalam bentuk CO2, tetapi mengalami transformasi yang akhir-nya menjadi fosil
yang dapat terbakar. Bahan bakar fosil ini jumlahnya hanya kecil sekali. Bahan
organik yang mengalami oksidasi selama pemendaman. Akibatnya, bagian utama
dari karbon organik dalam bentuk karbonat menjadi sangat kecil jumlahnya dalam
batuan sedimen. Pada mulanya senyawa tersebut (seperti karbohidrat, protein dan
lemak) diproduksi oleh makhluk hidup sesuai dengan kebutuhannya, seperti untuk
mempertahankan diri, untuk berkembang biak atau sebagai komponen fisik dan
makhluk hidup itu. Komponen yang dimaksud dapat berupa konstituen sel,
membran, pigmen, lemak, gula atau protein dari tumbuh-tumbuhan, cendawan,
jamur, protozoa, bakteri, invertebrata ataupun binatang berdarah dingin dan panas,
sehingga dapat ditemukan di udara, pada permukaan, dalam air atau dalam tanah.
Apabila makhluk hidup tersebut mati, maka 99,9 % senyawa karbon dan makhluk
hidup akan kembali mengalami siklus sebagal rantai makanan, sedangkan sisanya
0,1 % senyawa karbon terjebak dalam tanah dan dalam sedimen. Inilah yang
merupakan cikal bakal senyawa-senyawa fosil atau dikenal juga sebagai embrio
minyak bumi. Embrio ini mengalami perpindahan dan akan menumpuk di salah satu
tempat yang kemungkinan menjadi reservoar dan ada yang hanyut bersama aliran
air sehingga menumpuk di bawah dasar laut, dan ada juga karena perbedaan
tekanan di bawah laut muncul ke permukaan lalu menumpuk di permukaan dan ada
pula yang terendapkan di permukaan laut dalam yang arusnya kecil. Embrio kecil ini
menumpuk dalam kondisi lingkungan lembab, gelap dan berbau tidak sedap di
antara mineral-mineral dan sedimen, lalu membentuk molekul besar yang dikenal
dengan geopolimer. Senyawa-senyawa organik yang terpendam ini akan tetap
dengan karakter masing-masing yang spesifik sesuai dengan bahan dan lingkungan
pembentukannya. Selanjutnya senyawa organik ini akan mengalami proses geologi
dalam perut bumi. Pertama akan mengalami proses diagenesis, dimana senyawa
organik dan makhluk hidup sudah merupakan senyawa mati dan terkubur sampai
600 meter saja di bawah permukaan dan lingkungan bersuhu di bawah 50C. Pada

kondisi ini senyawa-senyawa organik yang berasal dan makhluk hidup mulai
kehilangan gugus beroksigen akibat reaksi dekarboksilasi dan dehidratasi. Semakin
dalam pemendaman terjadi, semakin panas lingkungannya, penam-bahan
kedalaman 30 - 40 m akan menaik-kan temperatur 1C. Di kedalaman lebih dan
600 m sampai 3000 m, suhu pemendaman akan berkisar antara 50 - 150 C,
proses geologi kedua yang disebut katagenesis akan berlangsung, maka geopolimer
yang terpendam mulal terurai akibat panas bumi. Komponen-komponen minyak
bumi pada proses ini mulai terbentuk dan senyawa-senyawa karakteristik yang
berasal dan makhluk hidup tertentu kembali dibebaskan dari molekul. Bila
kedalaman terus berlanjut ke arah pusat bumi, temperatur semakin naik, dan jika
kedalaman melebihi 3000 m dan suhu di atas 150C, maka bahan-bahan organik
dapat terurai menjadi gas bermolekul kecil, dan proses ini disebut metagenesis.
Setelah proses geologi ini dilewati, minyak bumi sudah terbentuk bersama-sama
dengan bio-marka. Fosil molekul yang sudah terbentuk ini akan mengalami
perpindahan (migrasi) karena kondisi lingkungan atau kerak bumi yang selalu
bergerak rata-rata se-jauh 5cm per tahun, sehingga akan ter-perangkap pada suatu
batuan berpori, atau selanjutnya akan bermigrasi membentuk suatu sumur minyak.
Apabila dicuplik batuan yang memenjara minyak ini (batuan induk) atau minyak
yang terperangkap dalam rongga bu-mi, akan ditemukan fosil senyawa-senyawa
organik. Fosil-fosil senyawa inilah yang ditentukan strukturnya menggunaan
beberapa metoda analisis, sehingga dapat menerangkan asal-usul fosil, bahan
pembentuk, migrasi minyak bumi serta hubungan antara suatu minyak bumi
dengan minyak bumi lain dan hubungan minyak bumi dengan batuan induk.
B. Bagan Penyulingan Bertingkat dan teknik pemisahan Fraksi-fraksi
Minyak Bumi Minyak bumi merupakan campuran senyawa-senyawa hidrokarbon.
Untuk dapat dimanfaatkan perlu dipisahkan melalui distilasi bertingkat, yaitu cara
pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan perbedaan titik didihnya pada
kolom bertingkat. Komponen utama minyak bumi dan gas alam adalah alkana. Gas
alam mengandung 80% metana, 7% etana, 6% propana, 4% butana dan isobutana,
sisanya pentana. Untuk dapat dimanfaatkan gas propana dan butana dicairkan yang
dikenal sebagai LNG (Liquid Natural Gas). Karena pembakaran gas alam murni lebih
efisien dan sedikit polutan, maka gas alam banyak digunakan untuk bahan bakar
industri dan rumah tangga. Dalam tabung kecil sering digunakan untuk kemah,
barbekyu, dan pemantik api. LNG juga banyak digunakan untuk bahan dasar
industri kimia seperti pembuatan metanol dan pupuk. Senyawa penyusun minyak
bumi: alkana, sikloalkana, dan senyawa aromatik. Di samping itu terdapat pengotor
berupa senyawa organik yang mengandung S, N, O, dan organo logam. Dari hasil
distilasi bertingkat diperoleh fraksi-fraksi LNG, LPG, petroleum eter, bensin, kerosin,
solar, oli, lilin, dan aspal. C. Kualitas atau Mutu Bensin berdasarkan
Bilangan Oktan Bensin akhir-akhir ini menjadi perhatian utama karena
pemakaiannya untuk bahan bakar kendaraan bermotor sering menimbulkan
masalah. Kualitas bensin ditentukan oleh bilangan oktan, yaitu bilangan yang
menunjukkan jumlah isooktan dalam bensin. Bilangan oktan merupakan ukuran
kemampuan bahan bakar mengatasi ketukan ketika terbakar dalam mesin. Bensin

merupakan fraksi minyak bumi yang mengandung senyawa n heptana dan


isooktan. Misalnya, bensin premium yang beredar di pasaran dengan bilangan
oktan 80 berarti bensin tersebut mengandung 80% isooktan dan 20% n heptana.
Bensin super mempunyai bilangan oktan 98 berarti mengandung 98% isooktan dan
2% nheptana. Pertamina meluncurkan produk bensin ke pasaran dengan 3
nama, yaitu: 1. Premium (bilangan oktan 8088),
2. Pertamax (bilangan oktan 9192), dan 3. Pertamax
Plus (bilangan oktan 95). Penambahan zat anti-ketukan pada bensin bertujuan
untuk memperlambat pembakaran bahan bakar. Untuk menaikkan bilangan oktan
antara lain ditambahkan MTBE (Metyl Tertier Butil Eter), tersier butil alkohol,
benzena, atau etanol. Tabel Kualitas Bensin Berdasarkan Bilangan Oktan Senyawa
Bilangan Oktan (RON) Kandungan n-heptane (%volum) Isooktane (%volum) Bensin
premium Bensin super Bensin premix (premix mixture) 82 98 94 18 2 13 82 98 87 +
20% MTBE heptana 0 100 0 2-metilheptana heksana 2-metilheksana 1-heptana
pentana 1-pentena butana sikloheksana 23 25 44 60 62 84 91 97 77 75 56 40 38 16
9 3 23 25 44 60 62 84 91 97 Isooktana 100 0 100 benzene toluene MTBE 101 112
116 - - - 101 112 116 D. Dampak Pembakaran Bahan Bakar terhadap
Lingkungan 1. Karbon Monoksida (CO) Gas karbon monoksida adalah gas
yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak merangsang. Hal ini
menyebabkan keberadaannya sulit dideteksi. Padahal gas ini sangat berbahaya
bagi kesehatan karena pada kadar rendah dapat menimbulkan sesak napas dan
pucat. Pada kadar yang lebih tinggi dapat menyebabkan pingsan dan pada kadar
lebih dari 1.000 ppm dapat menimbulkan kematian. Gas CO ini berbahaya karena
dapat membentuk senyawa dengan hemoglobin membentuk HbCO, dan ini
merupakan racun bagi darah. Oleh karena yang diedarkan ke seluruh tubuh
termasuk ke otak bukannya HbO, tetapi justru HbCO. Keberadaan HbCO ini
disebabkan karena persenyawaan HbCO memang lebih kuat ikatannya
dibandingkan dengan HbO. Hal ini disebabkan karena afinitas HbCO lebih kuat 250
kali dibandingkan dengan HbO. Akibatnya Hb sulit melepas CO, sehingga tubuh
bahkan otak akan mengalami kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen dalam
darah inilah yang akan menyebabkan terjadinya sesak napas, pingsan, atau bahkan
kematian. Sumber keberadaan gas CO ini adalah pembakaran yang tidak sempurna
dari bahan bakar minyak bumi. Salah satunya adalah pembakaran bensin, di mana
pada pembakaran yang terjadi di mesin motor, dapat menghasilkan pembakaran
tidak sempurna dengan reaksi sebagai berikut. Sumber lain yang menyebabkan
terjadinya gas CO, selain pembakaran tidak sempurna bensin adalah pembakaran
tidak sempurna yang terjadi pada proses industri, pembakaran sampah,
pembakaran hutan, kapal terbang, dan lain-lain. Namun demikian, penyebab utama
banyaknya gas CO di udara adalah pembakaran tidak sempurna dari bensin, yang
mencapai 59%. Sekarang ini para ahli mencoba mengembangkan alat yang
berfungsi untuk mengurangi banyaknya gas CO, dengan merancang alat yang
disebut catalytic converter, yang berfungsi mengubah gas pencemar udara seperti
CO dan NO menjadi gas-gas yang tidak berbahaya, dengan reaksi:
2. Karbon Dioksida (CO2) Sebagaimana gas CO, maka gas karbon

dioksida juga mempunyai sifat tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak merangsang.
Gas CO2 merupakan hasil pembakaran sempurna bahan bakar minyak bumi
maupun batu bara. Dengan semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor dan
semakin banyaknya jumlah pabrik, berarti meningkat pula jumlah atau kadar
CO2 di udara kita. Keberadaan CO2 yang berlebihan di udara memang tidak
berakibat langsung pada manusia, sebagaimana gas CO. Akan tetapi berlebihnya
kandungan CO2 menyebabkan sinar inframerah dari matahari diserap oleh bumi
dan benda-benda di sekitarnya. Kelebihan sinar inframerah ini tidak dapat kembali
ke atmosfer karena terhalang oleh lapisan CO2 yang ada di atmosfer. Akibatnya
suhu di bumi menjadi semakin panas. Hal ini menyebabkan suhu di bumi, baik siang
maupun malam hari tidak menunjukkan perbedaan yang berarti atau bahkan dapat
dikatakan sama. Akibat yang ditimbulkan oleh berlebihnya kadar CO2 di udara
ini dikenal sebagai efek rumah kaca atau green house effect. Untuk mengurangi
jumlah CO2 di udara maka perlu dilakukan upaya-upaya, yaitu dengan
penghijauan, menanam pohon, memperbanyak taman kota, serta pengelolaan
hutan dengan baik. 3. Oksida Belerang (SO2 dan SO3) Gas belerang
dioksida (SO2 ) mempunyai sifat tidak berwarna, tetapi berbau sangat menyengat
dan dapat menyesakkan napas meskipun dalam kadar rendah. Gas ini dihasilkan
dari oksidasi atau pembakaran belerang yang terlarut dalam bahan bakar miyak
bumi serta dari pembakaran belerang yang terkandung dalam bijih logam yang
diproses pada industri pertambangan. Penyebab terbesar berlebihnya kadar oksida
belerang di udara adalah pada pembakaran batu bara. Akibat yang ditimbulkan oleh
berlebihnya oksida belerang memang tidak secara langsung dirasakan oleh
manusia, akan tetapi menyebabkan terjadinya hujan asam. Proses terjadinya
hujan asam dapat dijelaskan dengan reaksi berikut. a. Pembentukan
asam sulfit di udara lembab = b. Gas SO2 dapat bereaksi dengan
oksigen di udara c. Gas SO3 mudah larut dalam air, di udara lembap
membentuk asam sulfat yang lebih berbahaya daripada SO2 dan H2SO3 Hujan
yang banyak mengandung asam sulfat ini memiliki pH < 5, sehingga
menyebabkan sangat korosif terhadap logam dan berbahaya bagi kesehatan. Di
samping menyebabkan hujan asam, oksida belerang baik SO2 maupun
SO3 yang terserap ke dalam alat pernapasan masuk ke paru-paru juga akan
membentuk asam sulfit dan asam sulfat yang sangat berbahaya bagi kesehatan
pernapasan, khususnya paru-paru. 4. Oksida Nitrogen (NO dan NO2)
Gas nitrogen monoksida memiliki sifat tidak berwarna, yang pada konsentrasi
tinggi juga dapat menimbulkan keracunan. Di samping itu, gas oksida nitrogen juga
dapat menjadi penyebab hujan asam. Keberadaan gas nitrogen monoksida di udara
disebabkan karena gas nitrogen ikut terbakar bersama dengan oksigen, yang terjadi
pada suhu tinggi. Reaksinya adalah: Pada saat kontak dengan udara, maka gas NO
akan membentuk gas NO2 dengan reaksi sebagai berikut. Gas
NO2 merupakan gas beracun, berwarna merah cokelat, dan berbau seperti asam
nitrat yang sangat menyengat dan merangsang. Keberadaan gas NO2 lebih dari
1 ppm dapat menyebabkan terbentuknya zat yang bersifat karsinogen atau
penyebab terjadinya kanker. Jika menghirup gas NO2 dalam kadar 20 ppm akan

dapat menyebabkan kematian. Sebagai pencegahan maka di pabrik atau motor,


bagian pembuangan asap ditambahkan katalis logam nikel yang berfungsi sebagai
konverter. Prinsip kerjanya adalah mengubah gas buang yang mencemari menjadi
gas yang tidak berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.
Pembentukan dan Pengelolaan Minyak Bumi POSTED BY PANDU PRADANA POSTED
ON 15.54 WITH 4 COMMENTS Sumber energi yang banyak digunakan untuk
memasak, kendaraan bermotor dan industri berasal dari minyak bumi, gas alam,
dan batubara. Ketiga jenis bahan bakar tersebut berasal dari pelapukan sisa-sisa
organisme sehingga disebut bahan bakar fosil. Minyak bumi dan gas alam berasal
dari jasad renik, tumbuhan dan hewan yang mati. Sisa-sisa organisme itu
mengendap di dasar bumi kemudian ditutupi lumpur. Lumpur tersebut lambat laun
berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan lapisan di atasnya. Sementara
itu dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa
jasad renik itu menjadi minyak dan gas. Selain bahan bakar, minyak dan gas bumi
merupakan bahan industri yang penting. Bahan-bahan atau produk yang dibuat dari
minyak dan gas bumi ini disebut petrokimia. Baru-baru ini puluhan ribu jenis bahan
petrokimia tersebut dapat digolongkan ke dalam plastik, serat sintetik, karet
sintetik, pestisida, detergen, pelarut, pupuk, dan berbagai jenis obat. Minyak bumi
dan gas alam merupakan senyawa hidrokarbon. Rantai karbon yang menyusun
minyak bumi dan gas alam memiliki jenis yang beragam dan tentunya dengan sifat
dan karakteristik masing-masing. Sifat dan karakteristik dasar minyak bumi inilah
yang menentukan perlakuan selanjutnya bagi minyak bumi itu sendiri pada
pengolahannya. Hal ini juga akan mempengaruhi produk yang dihasilkan dari
pengolahan minyak tersebut Pembentukan Minyak Bumi Minyak bumi dan
gas alam diduga berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan dan hewan yang mati
sekitar 150 juta tahun yang lalu. Dugaan tersebut didasarkan pada kesamaan
unsur-unsur yang terdapat dalam bahan tersebut dengan unsur-unsur yang terdapat
pada makhluk hidup. Sisa-sisa organisme itu mengendap di dasar laut, kemudian
ditutupi oleh lumpur yang lambat laun mengeras karena tekanan lapisan diatasnya
sehingga berubah menjadi batuan. Sementara itu bakteri anaerob menguraikan
sisa-sisa organisme itu sehingga menjadi minyak bumi dan gas yang terperangkap
di antara lapisan-lapisan kulit bumi. Proses pembentukan minyak bumi dan gas ini
membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan sepanjang umur kita pun belum
cukup untuk membuat minyak bumi dan gas. Jadi kita harus melakukan
penghematan dan berusaha mencari sumber energi alternatif. Pengolahan Minyak
Bumi Minyak bumi biasanya beradai 3-4 Km di bawah permukaan. Untuk mengambil
minyak bumi tersebut kita harus membuat sumur bor yang telah di sesuaikan
kedalamannya. Minyak mentah yang diperoleh ditampung dalam kapal tangker atau
dialirkan ke kilang minyak dengan menggunakan pipa. Minyak mentah yang tadi
diperoleh belum bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun keperluan
lainnya. Minyak mentah tersebut haruslah diolah terlebih dahulu. Minyak mentah
mengandung sekitar 500 jenis hidrokarbon dengan jumlah atom C-1 hingga C-50.
Pengolahan minyak bumi dilakukan melalui distilasi bertingkat, dimana minyak
mentah dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok dengan titik didih yang mirip. Hal

tersebut dilakukan karena titik didih hidrokarbon meningkat seiring dengan


bertambahnya atom karbon (C) dalam molekulnya.Mula mula minyak metah
dipanaskan pada suhu sekitar 400C. Setelah dipanaskan kemudian di alirkan ke
menara fraksionasi/destilasi Menara destilasi Menara Destilasi Dimenara inilah
terjadi proses destilasi. Yaitu proses pemisahan larutan dengan menggunakan
panas sebagai pemisah. Syarat utama agar terjadinya proses destilasi adalah
adanya perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap. Dengan demikian
apabila komposisi fase cair dan face uap sama maka proses destilasi tidak mungkin
dilakukan. Proses destilasi pada kilang minyak bumi merupakan pengolahan secara
fisika yang primer sebagai awal dari semua proses memproduksi BBM (Bahan Bakar
Minyak). Skema penyulingan minyak Minyak mentah hasil dari pengeboran di
alirkan ke kapal tangker untuk kemudian di distribusikan ke kilang minyak. Disinilah
terjadi proses destilasi yang sudah di jalaskan di atas. Pertama, miyak mentah
dipanaskan dengan suhu sekitar 400 derajat C. Komponen yang titik didihnya lebih
tinggi akan tetap berupa cairan dan akan mengalir turun ke bawah, sedangkan
yang titik didihnya lebih randah akan menguap naik ke atas melalui sungkupsungkup yang disebut sungkup gelembung. Semakin keatas suhu di dalam menara
fraksionasi itu semakin rendah. Dengan demikian, setiap kali komponen dengan titik
didih lebih tinggi naik, akan mengembun dan terpisah, sedangkan komponen
dengan titik didih lebih rendah akan terus naik ke bagian yang lebih atas lagi.
Begitulah seterusnya, sehingga komponen yang paling atas itu berupa gas.
Komponen yang berupa gas itu disebut gas petrolium. Kemudia gas petrolium
tersebut dicairkan dan dikelan sebagai LPG (Liquefied Petroleum Gas). Hasil
Pengolahan Minyak Bumi Dari skema di halaman sebelumnya kita dapat melihat
hasil-hasil dari proses destilasi minyak mentah. Diatnaranya yaitu : LPG
Liquefied Petroleum Gas (LPG) PERTAMINA dengan brand ELPIJI, merupakan gas
hasil produksi dari kilang minyak (Kilang BBM) dan Kilang gas, yang komponen
utamanya adalah gas propana (C3H8) dan butana (C4H10) lebih kurang 99 % dan
selebihnya adalah gas pentana (C5H12) yang dicairkan Bahan bakar
penerbangan Bahan bakar penerbangan salah satunya avtur yang digunakan
sebagai bahan bakar persawat terbang. Bensin Bensin merupakan bahan
bakar transportasi yang masih memegang peranan penting sampai saat ini. Bensin
mengandung lebih dari 500 jenis hidrokarbon yang memiliki rantai C5-C10.
Kadarnya bervariasi tergantung komposisi minyak mentah dan kualitas yang
diinginkan. Minyak tanah ( kerosin ) Bahan bakar hidrokarbon yang
diperoleh sebagai hasil penyulingan minyak bumi dengan titik didih yang lebih
tinggi daripada bensin; minyak tanah; minyak patra. Solar Diesel, di
Indonesia lebih dikenal dengan nama solar, adalah suatu produk akhir yang
digunakan sebagai bahan bakar dalam mesin diesel yang diciptakan oleh Rudolf
Diesel, dan disempurnakan oleh Charles F. Kettering. Pelumas Pelumas
adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan diantara dua benda
bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas berfungsi sebagai lapisan
pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan Lilin Lilin
adalah sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti oleh bahan

bakar padat. Bahan bakar yang digunakan adalah paraffin Minyak bakar
Minyak bakar adalah hasil distilasi dari penyulingan minyak tetapi belum
membentuk residu akhir dari proses penyulingan itu sendiri. Biasanya warna dari
minyak bakar ini adalah hitam chrom. Selain itu minyak bakar lebih pekat
dibandingkan dengan minyak diesel Aspal Aspal ialah bahan hidro
karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam kecoklatan, tahan
terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen merupakan bahan
pengikat pada campuran beraspal yang PROSES PEMBENTUKAN MINYAK BUMI
Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin: petrus ), dijuluki
juga sebagai emas hitam adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang
mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi.
Minyak bumi dan gas alam berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan dan hewan
yang mati sekitar 150 juta tahun yang lalu. Sisa-sisa organisme tersebut
mengendap di dasar lautan, kemudian ditutupi oleh lumpur. Lapisan lumpur
tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan lapisan di
atasnya. Sementara itu, dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob
menguraikan sisa-sisa jasad renik tersebut dan mengubahnya menjadi minyak dan
gas. Proses pembentukan minyak bumi dan gas ini memakan waktu jutaan tahun.
Minyak dan gas yang terbentuk meresap dalam batuan yang berpori seperti air
dalam batu karang. Minyak dan gas dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke
daerah lain, kemudian terkosentrasi jika terhalang oleh lapisan yang kedap.
Walupun minyak bumi dan gas alam terbentuk di dasar lautan, banyak sumber
minyak bumi yang terdapat di daratan. Hal ini terjadi karena pergerakan kulit bumi,
sehingga sebagian lautan menjadi daratan. Dewasa ini terdapat dua teori
utama yang berkembang mengenai asal usul terjadinya minyak bumi, antara lain: 1.
Teori Anorganik (Abiogenesis) Barthelot (1866)
mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam
keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2
membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak
bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam
dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang
mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh
sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi.
Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam
beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain. Secara umum
dinyatakan seperti dibawah ini: Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak
bumi didasarkan pada proses kimia, yaitu : a. Teori alkalisasi panas dengan CO2
(Berthelot) Reaksi yang terjadi: alkali metal + CO2 karbida karbida +
H2O ocetylena C2H2 C6H6 komponen-komponen lain Dengan kata lain
bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam keadaan bebas dan
bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan dengan alkali panas tadi maka
akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan berubah menjadi benzena karena suhu
tinggi. Kelemahan logam ini adalah logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.
b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef) Asumsi yang dipakai adalah ada

karbida besi di dalam kerak bumi yang kemudian bersentuhan dengan air
membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak cukup banyak karbida di alam. 2.Teori
Organik (Biogenesis) Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena
adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini
terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua
panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk
karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi,
artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada
arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk
hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme). P.G. Mackuire yang pertama kali
mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan.
Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi
berasal dari zat organik yaitu: - Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang
polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat
dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat
memutar bidang polarisasi. - Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks
yang terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb. - Susunan
hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang
terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen
cukup besar. - Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan
bagian integral sedimentasi. - Secara praktis lapisan minyak bumi terdapat dalam
kambium sampai pleistosan. - Minyak bumi mengandung klorofil seperti tumbuhan.
Proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat, yaitu: 1. Pembentukan
sendiri, terdiri dari: - pengumpulan zat organik dalam sedimen - pengawetan zat
organik dalam sedimen - transformasi zat organik menjadi minyak bumi. 2. Migrasi
minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisansedimen terperangkap.
3. Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga berkumpil
menjadi akumulasi komersial. Proses kimia organik pada umumnya dapat
dipecahkan dengan percobaan di laboratorium, namun berbagai faktor geologi
mengenai cara terdapatnya minyak bumi serta penyebarannya didalam sedimen
harus pula ditinjau. Fakta ini disimpulkan oleh Cox yang kemudian di kenal sebagai
pagar Cox diantaranya adalah: Minyak bumi selalu terdapat di dalam batuan
sedimen dan umumnya pada sedimen marine, fesies sedimen yang utama untuk
minyak bumi yang terdapat di sekitar pantai. Minyak bumi memeng merupakan
campuran kompleks hidrokarbon. Temperatur reservior rata-rata 107C dan
minyak bumi masih dapat bertahan sampai 200C. Diatas temperatur ini forfirin
sudah tidak bertahan. Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi
ditandai adanya forfirin dan belerang. Minyak bumi dapat tahan pada perubahan
tekanan dari 8-10000 psi. Proses transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi peristiwa diatas, diantaranya: 1. Degradasi
thermal Akibat sedimen terkena penimbunan dan pembanaman maka akan timbul
perubahan tekanan dan suhu. Perubahan suhu adalah faktor yang sangat penting.
2. Reaksi katalis Adanya katalis dapat mempercepat proses kimia. 3. Radioaktivasi
Pengaruh pembombanderan asam lemak oleh partikel alpha dapay membentuk

hidrokarbon parafin. Ini menunjukan pengaruh radioaktif terhadap zat organik. 4.


Aktifitas bakteri. Bakteri mempunyai potensi besar dalam proses pembentukan
hidrokarbon minyak bumi dan memegang peranan dari sejak matinya senyawa
organik sampai pada waktu diagnosa, serta menyiapkan kondisi yang
memungkinkan terbentuknya minyak bumi. Zat organik sebagai bahan sumber Jenis
zat oragink yang dijadikan sumber minyak bumi menurut para ahli dap[at
disimpulkan bahwa jenis zat organik yang merupakan zat pembentuk utama minyak
bumi adalah lipidzat organik dapat terbentuk dalamkehidupan laut ataupun darat
dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: yang berasal dari nabati dan hewani.
RECOMMENDED

http://documentslide.com/documents/proses-pembentukan-minyak-bumi-dan-gasalam-dan-komposisinya.html

http://dokumen.tips/documents/proses-pembentukan-minyak-bumibermacam.html
http://esdm.go.id/berita/56-artikel/2473-minyak-dan-gas-bumi-terbentukjutaan-tahun.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197901012005011NANDI/geologi
%20lingkungan/MINYAK_BUMI_DAN_GAS.pdf__suplemen_Geologi_Lingkungan.
pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Annisa%20Fillaeli,%20S.Si.,
%20M.Si./Kimia%20Industri_Minyak%20Bumi.pdf
https://books.google.co.id/books?
id=4fcySrLC2EgC&pg=PA246&lpg=PA246&dq=asal+usul+teori+organik+pe
mbentukan+minyak+bumi&source=bl&ots=nGphTHnGuZ&sig=0fPjNn6TlVh
53bkdXBR4z92lNsI&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=asal%20usul
%20teori%20organik%20pembentukan%20minyak%20bumi&f=false
http://infotambang.com/proses-pembentukan-minyak-bumi-berdasar-teorianorganik-abiogenesis-p427-164.htm