Você está na página 1de 6

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberi keberkahan pada kita semua,
sehingga telah memberikan waktu untuk kita tetap bersyukur terhadapNya. Alhamdulilah,
dengan ramat dan inayahNya, makalah yang berjudul Akhlak Tasawuf dalam Puasa
(Shaum) telah terselesaikan dengan baik. Makalah yang akan membahas tentang Puasa dan
hikmahnya, Puasa Ramadhan dan penetapanya, serta hal-hal yang disunahan bagi orang yang
berpuasa.
Dilihat dari judulnya tentang ibadah berpuasa, sering kali kita berbicara tentang aspek
hukum dalam ibadah puasa, juga berbincang tentang beberapa kebiasaan masyarakat daam
mengamalkan puasa, dengan perbincangan yang kritis. Misalnya, tentang sikap hati-hati yang
berlebihan dalam hal waktu akhir makan sahur, tentang jadwalnya imsak yang ternyata tidak
memiliki landasan hukum, dan lain-lain pebincangan yang sangat penting diketahui oleh
khalayak kaum muslimin. Itu semua dituangkan dalam bahasa yang cair dan mudah
dipahami.
Meskipun demikian, kami tetap mengharap kritik dan saran dari pembaca, demi perbaikan di
masa datang.

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah makna dari puasa beserta hikmahnya?
2. Apa saja ang dimaksudkan pada Puasa Ramadhan dan penetapannya?

PEMBAHASAN
A. Puasa dan Hikmahnya
Makna Puasa Menurut Syara
Puasa yang diperintahkan, yang dituangkan nashnya alam Al-Quran dan
sunah, berarti meninggalkan dan menahan diri. Dengan kata lain, menahan dan
menegah diri dari memenuhi hal-hal yang boleh, meliputi kenginan perut dan
keinginan kelamin, dengan niat mendekatkan diri kepaa Allah SWT. Inilah makna
puaa secara syarii itu: menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum,
bersetubuh dengan perempuan dan hal-hal semisalnya, selama sehari penuh. Yakni
dari kemunculan fajar higga terbenamnya matahari, dengan niat memenuhi perintah
dan taqarub kepada Allah SWT.
Dalil yang menunjukan bahwa puasa yang syari dalah menahan diri dari dua
syahwat sebagaimana disebutkan didepan, adalah firman Allah SWT.,
(Al-Baqarah: 187)


{187}

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istriistri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena
itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang
campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu
campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah,
maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya
kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Al-Baqarah: 187).

Ayat ini menjelaskan hakikat puasa yag diperitahkan ayat sebelumnya, juga
menjelaskan waktunya. Ayat ini juga memperbolehkan hubungan badan lelaki dan
perempuan, yakni suami dan istri dimalam ramadhan.
Hikmah Puasa

Islam tidak mensyariatkan sesuatu selain pasti mengandung hikmah ada yang
diketahui, ada pula yang tidak. Demikian juga, perbuatan-perbuatan Allah tidak lepas
dari berbagai hikmah yang terkandung dalam ciptaanNya, hukum-hukumNya pun tak
lepas dari lautan hikmah.
Dalam ibadah puasa terdapat sejumlah hikmah dan kemaslahatan,
sebagaimana teah diisyaratkan oleh nash-nash syariat itu sendiri. Diantaranya adalah:
1. Tazkiyah an-nafs (pembersih jiwa), dengan mematuhi perintah-perintahNya,
menjauhi segala laranganNya dan melatih diri untuk menyempurnakan ibadah
kepada Allah semata, meskiun itu dilakukan dengan menahan diri dari hal-al yang
menyenangkan an membebaskan diridai hal-hal yang telah lekat sebagai kebisaan.
2. Bahwa puasa, disamping menyehatkan badan, sebagimana dinyatakan oleh para
dokter spesialis, juga bisa mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi
dalam diri manusia. Manusia sebagaimana sering dipersepsi banya orang, memilik
tabiat ganda. Ada unsur tanah, ada pula unsur ruh illahi yang ditiupkan Allah
padanya. Satu unsur menyeret manusia ke bawah, unsur yang lain megangatnya
ke atas. Jika unsur tanah dominan, ia akan turun ke derajat binatang atau bahkan
lebh rendah daripadanya. Sebaliknya, apabila ruh ilahi yang menguasai ia akan
melambung tingi ke derajat malaikat. Dalam puasa terdapat kemenangan ruh ilahi
atas materi, akal pikiran atas nafsu syahwat.
3. Terbukti bahwa puasa merupakan tarbiah bagi iradah(kemauan) jihad bagi jiwa,
pembiasaan kesabaran,dan pemberontakan kepada hal-hal yang telah lekat
mentradisi.
4. Sudah sama-sama dipahami bahwa nafsu seksual adalah senjata setan yang paling
ampuh untuk menundukkan manusia, sehingga sejumlah aliran psikolog
menganggap bahwa ia adalah penggerak utama semua perilaku manusia. Puasa
berpengaruh mematahkan gelora syahwat ini dan mengangkat tingi-tinggi
nalurinya, khususnya jika terus-menerus melakukan puasa dengan mengharap
pahala Allah SWT. Karena itu, Rasulllah saw, memerintahkan puasa kepada
pemuda yang belum mampu menikah, hingga Allah meimpahkan karuniaNya
kepadanya.
5. Diantara sekian banyak hikmah puasa adalah menajamkan perasaan terhadap
nikmat Allah SWT. Seseorang dapat merasakan nikmatnya kenyang dan
nikmatnya pemenuhan dahaga jika ia lapar atau kehausan. Jika ia merasa kenyang
setelah lapar, atau hilang dahaga setela kehausan,akan keluar dari relung hatinya
ucapan alhamdulilah. Hal itu mendorongna mensyukuri nikmatnimat Allah
kepadanya.

6. Selain itu, puasa juga mempunyai hikmah ijtimaiyah (hikmah sosial), khususnya
puasa Ramadhan. Puasa ini dengan memaksa orang untuk lapar, sekalipun mereka
bisa kenyang memiliki sejenis persamaan umum yang dipaksakan, menanamkan
dalam diri orang-orang yang mampu agar berempati terhadap derita orang-orag
fakir miskin.
7. Gabugan dari semua itu, adalah bahwa puasa dapat mempersiapkan orang menuju
derajat takwa dan naik ke kedudukan orang-orang mutaqin. Serta puasa
memelihara kesehatan hati dan anggota badan, serta mengembalikan lagi hal-hal
yang telah dirampas oleh tangan-tangan nafsu syahwat. Sesuai dengan firman
Allah bahwa puasa ramadhan merupakan madrasah mutamaziyah (sekolah
istimewa) yang dibuka oleh islam setiap tahun untuk proses pendidikan praktis
menanamka seagung-agun nilai dan setinggi-tinggi hakikat.

B. PUASA RAMADHAN DAN PENETAPANNYA


- MACAM-MACAM PUASA
Puasa ditilik dari segi hukumnya, bermacam-macam. Ada yang fardhu ada
pula yang tathawu. Atau dengan kata lain, ada puasa wajib, puasa sunah, puasa haram,
dan puasa makruh.
Puasa fardhu atau wajib ada tiga macam:
Pertama, fardhuain, yaitu puasa yang diwajibkan Allah pada waktu tertentu, yaitu
puasa ramadhan.
Kedua, fardhu karena sebab tertentu , yang menjadi hak Allah Swt. Yaitu puasa
kafarat (tebusan), misalnya kafarat al-yamin(tebusan sumpah), kafarat azhzhihar(tebusan zhihar), kafarat al-qatl al-khatha( tebusan karena pembunuhan yang
salah), dan lain sebagainya.
Ketiga, puasa wajib yang diwajibkan untuk dirinya sendiri, yaitu puasa nazar.
-

PUASA RAMADHAN, SALAH SATU RUKUN ISLAM


Puasa ramadhan adalah kewajiban yang sakral dan ibadah islam yang bersifat
syiar yang besar, juga salah satu rukun islam praktis yang lima, yang menjadi
pilar agama ini.
Wajibnya puasa ini telah dikukuhkan dalam Al-Quran, Sunah, dan ijmak.
Dalam Al-Quran, Allah SWT. Berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana


diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:
183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada
yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblab baginya
berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada bari-hari yang lain. Dan wajib
bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)
membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang
dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 184)
Dalam hadits yan diriwayatkan Umar bin Khatab r.a., yang dikenal dengan
hadits Jibril, dari Nabi Saw., beliau bersabda, yang artinya bahwa islam adalah
engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad
adalah Rasulullah engkau menegakkan shalat,mengeluarkan zakat, berpuasa
ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke baitullah jika engkau mampu.1
Semakna dengan hadits ini adalah hadits riwayat Ibnu Umar yang sangat
dikenal dan mutafaq alaih, dihafal oleh seluruh kaum Muslimin, yang awam
maupun terpelajar:Buniya al-islam ala khams (Islam didirikan diatas lima hal)...
diantaranya yang lima itu adalah shaumu ramadhan (puasa Ramadhan).2
Hadits Thalhah bin Ubaidillah menceritakan tentang seorang sahabat laki-laki
dari Nejed yang datang kepada Nabi Saw. An bertanya tentang Islam. Nabi Saw.
Menyebutkan ihwal shalat yang lima,kemudian puasa ramadhan.
1 Diriwayakan oleh Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasai dari Abu Hurairah dan
Abu zar. Liat Al-jami Ash-Shaghir.
2 Mutafaq alaih, dari Ibnu Umar sebagaimana dalam Al-Lulu wal Marjan oleh
Muhammad Fuad Abdul Baqi, No.9

Ia bertanya, adakah yang lain? Nabi menjawb, Tidak, kecuali sukarela.3


Hadits-hadis yang semakna dengan ini banyak jumlahnya,bahkan Kutub As-Sitah dan
lainnyatelah memuatnya, hinga hadits-hadits itu menjadi mutawatir secara makna.
Kaum muslimi dari semua mazhab dan golongan sejak peiode Nabi Saw.hinga
hari ini telah sepakat atas wajibnya puasa Ramadhan.yakni fardhuain bagi tiap-tiap
muslim yang mukalaf tanpa kecuali, baik pada masa lalu maupun sekarang.4
-

TAHAPAN PENETAPAN HUKUM PUASA


Puasa Ramadhan diisyaratkan dalam dua tahapan:
Tahapan pertama, adalah tahapan pilihan seorang muslim yang mukalaf lagi
mampu berpuasa, diberi hak memlih untuk berpuasa, ini yang utama atau terbuka
tetapi membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Barang siapa
melakukan lebih dari itu, maka lebih baik dan utama. Seperti firman Allah yang
telah disebutkan tadi dalam surat Al-Baqarah ayat 183-184. Maka barangsiapa,
mau berpuasa, berpuasalah, dan barangsiapa mau berbuka dan membayar fidyah,
lakukanlah!
Tahapan kedua, adala tahapan perwajiban, yaitu tahapan diwajibkan puasa
Ramadhan dan dihapusannya toleransi yang ditetapkan pada aya sebelumnya.
Tahapa perwajiban ini juga datang dalam dua tahap. Pertama, bersifat tekanan
yang memberatkan, kedua, peringanan dan kasih sayang.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa sebagian sahabat, dianta Umar bin Kaab bi
Malik, melakukan hubungan seksual dengan istrinya setelah meeka atau istriistrinya tertidur. Hal ini menggelisahkan mereka, hingga mengadukannyakepada
Nabi Saw. Maka turunlah ayat Al-quran sebagi tahapan ketiga yang menukuhkan
peritah puasa. (Al-Baqarah ayat 187)

3 Mutafaq alaih, ibid (6)


4 Lihat Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rusyd dengan takhrij-nya V/126, cet. Alam
Al-Kutub,