Você está na página 1de 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Proses Transfer Massa
Perpindahan massa didefinisikan sebagai perpindahan massa pada suatu media yang
diakibatkan oleh adanya perbedaan konsentrasi molar suatu spesies pada media tersebut.
Peristiwa perpindahan massa atau transfer massa atau difusi banyak dijumpai di dalam
kehidupan sehari-hari, di dalam ilmu pengetahuan dan di industri. Di Industri, pemisahan
komponen-komponen dari campurannya menggunakan alat transfer massa seperti absorpsi,
distilasi terjadi karena adanya transfer massa. Kondisi optimum suatu proses dapat ditentukan
jika mekanisme dalam peristiwa transfer massa diketahui. Transfer massa adalah gerakan
molekul-molekul atau fluida yang disebabkan adanya gaya pendorong. Pada transfer massa,
gaya pendorongnya adalah perbedaan konsentrasi. Pada transfer panas, gaya pendorongnya
adalah perbedaan suhu (Alia, 2015).
Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai proses perpindahan
massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi proses pemisahan secara
mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis proses pemisahan yang digunakan bergantung pada
kondisi yang dihadapi. Pemisahan secara mekanis dilakukan kapanpun memungkinkan karena
biaya operasinya lebih murah dari pemisahan secara kimiawi. Untuk campuran yang tidak
dapat dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti pemisahan minyak bumi), proses
pemisahan kimiawi harus dilakukan (Alicezah, 2009).
Proses pemisahan suatu campuran dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode
pemisahan yang dipilih bergantung pada fasa komponen penyusun campuran. Suatu campuran
dapat berupa campuran homogen (satu fasa) atau campuran heterogen (lebih dari satu fasa).
Suatu campuran heterogen dapat mengandung dua atau lebih fasa: padat-padat, padat-cair,
padat-gas, cair-cair, cairgas, gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan sebagainya. Pada berbagai
kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus dikombinasikan untuk mendapatkan hasil
pemisahan yang diinginkan (Alicezah, 2009).
II.1.2 Absorpsi Gas
Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan cara
pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan pelarutan.
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisik (pada absorpsi
fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia (pada absorpsi kimia). Komponen gas
yang dapat mengadakan ikatan kimia akan dilarutkan lebih dahulu dan juga dengan kecepatan
yang lebih tinggi. Karena itu absorpsi kimia mengungguli absorpsi fisik (Redjeki, 2009).
Proses perpindahan massa suatu solute pada peristiwa kontak antara fasa gas ke fasa
cair dimana gas tersebut dapat larut dalam fasa cairnya disebut dengan absorpsi. Contoh
peristiwa ini adalah absorpsi NH3 dalam udara dengan air. Sedangkan perpindahan massa
suatu solute pada liquid nonvolatil ke suatu steam disebut stripping (Geankoplis, 1987).
Absorber dan stripper adalah alat yang digunakan untuk memisahkan satu komponen
atau lebih dari campurannya menggunakan prinsip perbedaan kelarutan. Solut adalah
komponen yang dipisahkan dari campurannya sedangkan pelarut (solvent ; sebagai separating
agent) adalah cairan atau gas yang melarutkan solut. Karena perbedaan kelarutan inilah,
transfer massa solut dari fase satu ke fase yang lain dapat terjadi (Distantina, 2009).
II-1

II-2
Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar II.1 Diagram Alir Proses Absorpsi-Stripping


Absorpsi adalah operasi pemisahan solut dari fase gas ke fase cair, yaitu dengan
mengontakkan gas yang berisi solut dengan pelarut cair (solve/absorbent) yang tidak
menguap. Stripping adalah operasi pemisahan solut dari fase cair ke fase gas, yaitu dengan
mengontakkan cairan yang berisi solut dengan pelarut gas (stripping agent) yang tidak larut
ke dalam cairan. Ada 2 jenis absorpsi, yaitu kimia dan fisis. Absorpsi kimia melibatkan reaksi
kimia antara pelarut cair dengan arus gas dan solut tetap di fase cair. Dalam absorpsi fisis,
solut dalam gas mempunyai kelarutan lebih besar dalam pelarut cairan, sehingga solut
berpindah ke fase cair. Absorpsi dengan reaksi kimia lebih menguntungkan untuk pemisahan.
Meskipun demikian, absorpsi fisis menjadi penting jika pemisahan dengan reaksi kimia tidak
dapat dilakukan. Absorber dan stripper seringkali digunakan secara bersamaan. Absorber
digunakan untuk memisahkan suatu solut dari arus gas. Stripper digunakan untuk
memisahkan solut dari cairan sehingga diperoleh gas dengan kandungan solut lebih pekat.
Hubungan absorber dan stripper ditunjukkan dalam gambar II.1 (Distantina, 2009).
Tujuan proses absorpsi dalam dunia Industri adalah meningkatkan nilai guna dari
suatu zat dengan cara merubah fasenya. Contohnya yaitu formalin yang berfase cair berasal
dari formaldehid yang berfase gas (Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan
kadar antara 10%-40%) dapat dihasilkan melalui proses absorpsi. Formaldehid sebagai gas
input dimasukkan ke dalam reaktor, dimana di dalam air formaldehid akan mengalami proses
polimerisasi.. Output dari reaktor yang berupa gas yang mempunyai suhu 182
C
didinginkan pada kondensor hingga suhu 55

C, dimasukkan ke dalam absorber. Keluaran

dari absorber pada tingkat I mengandung larutan formalin dengan kadar formaldehid sekitar
37 40%. Bagian terbesar laiinnya terdiri dari metanol, air, dan formaldehid dikondensasi di
bawah air pendingin bagian dari menara, dan hampir semua removal dari sisa metanol dan
formaldehid dari gas terjadi dibagian atas absorber dengan counter current contact dengan air
proses (Redjeki, 2009).

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-3
Bab II Tinjauan Pustaka
II.1.3

Teori Dasar Peristiwa Absorpsi


Menurut Geankoplis (1987), asborpsi fisik ini ada beberapa teori untuk menyatakan
model mekanismenya, yaitu:
1. Teori Lapisan Dua Film
Dari gambar II.2 dapat dilihat bahwa pada kondisi awal, konsentrasi A dalam badan
utama gas adalah yA fraksi mol. Ketika mulai terjadi kontak dengan cairan, konsentrasi A
di daerah interface menurun hingga yAi dan pada cairan (liquid) terjadi penurunan
konsentrasi A, dari xAi pada interface menjadi xA dalam badan utama cairan. Dan sebagai
syarat terjadinya perpindahan massa, konsentrasi awal yA dan xA tidak berada dalam
keadaan setimbang (Kwatiningsih, 2009).

Gambar II.2 Teori Lapisan Dua Film


Perpindahan massa solut A dari gas ke cairan akan terjadi bila terdapat cukup kekuatan
gerak (driving force) dari satu fasa ke fasa yang lain yang dikenal dengan nama koefisien
perpindahan massa (mass transfer coefficient). Laju perpindahan massa ini juga bergantung
pada luas permukaan kontak antar fasa. Pada saat terjadi perpindahan massa antar fase,
tahanan terhadap perpindahan tersebut hanya ada pada badan utama masingmasing fase.
Sedangkan pada daerah antarmuka yang membatasi kedua fase tidak terdapat tahanan sama
sekali sehingga konsentrasi yAi dan xAi merupakan harga kesetimbangan yang diperoleh
dari data kurva kesetimbangan dari sistem dua fasa tersebut. Pada interface yAi dengan
xAi dihubungkan dengan sebuah koefisien distribusi yang disebut konstanta Henry untuk
sistem gas-cair,
yAi = HAi
Pada gas yang mudah larut dalam cairan, maka tahanan di lapisan gas yang
mengendalikan sehingga nilai koefisien perpindahan massa pada fase gas (kg) kecil dan
nilai koefisien perpindahan massa pada fase cair (kl) besar. Pada gas yang sukar larut
dalam cairan, maka tahanan di lapisan cairan yang mengendalikan sehingga nilai kl kecil
dan nilai kg besar sehingga diabaikan (Kwatiningsih, 2009).
Menurut Treybal (1980), untuk sistem dimana konsentrasi solute dalam gas dan liquid
adalah kecil, maka laju transfer massa dapat dinyatakan oleh persamaan yang
memperkirakan laju transfer massa yang sebanding dengan perbedaan diantara konsentrasi
bulk dan konsentrasi dalam interface gal-liquid.
NA = kG(p-pi) = kL(ci-c)
.................................(1)

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-4
Bab II Tinjauan Pustaka
Dimana :
NA =
Laju transfer massa

kG =
Koefisien laju transfer massa fase gas
p =
Tekanan parsial solute dalam bulk gas
pi =
Tekanan parsial solute dalam interface

kL =
Koefisien transfer massa pada fase liquid
ci =
Konsentrasi solute pada interface
c =
Konsentrasi solute pada bulk liquid.
Secara definisi, koefisien transfer massa k G dan kL adalah perbandingan antara flux
massa molal NA terhadap driving forse konsentrasi (p-pi) dan (ci-c). suatu alternatif untuk
menyatakan laju transfer dalam sistim yang encer adalah sebagai berikut :
NA = kG(y-yi) = kL(xi-x) .............................................(2)
Dimana:
NA
=
kG
=
y
=
yi
=
kL
=
xi
=
x
=
Perbandingan
didapatkan:

Laju transfer massa,


Koefisien laju transfer massa fase gas,
Fraksi mol solute dalam bulk gas,
Fraksi mol solute dalam interfase,
Koefien transfer massa pada fase liquid,
Fraksi mol solute pada interfase,
Fraksi mol solute pada bulk liquid.
harga koefisien transfer massa pada fase liquid dengan fase gas akan
KL (y- y i )
=
KG ( x i -x)

..........................................

......(3)
Dan apabila diplot secara grafis dengan melibatkan komposisi kesetimbangan antara
uap dan cair dan operating line akan didapatkan hubungan kesetimbangan
y* = F(x)

...........................................................(4)

Dimana: y* adalah fraksi mol solute yang berkesetimbangan dengan fraksi mol solute
x. Jika hubungan kesetimbangan merupakan grafik sederhana (yang pada umumnya
mendekati garis lurus karena konsentrasi solute yang rendah) maka laju transfer massa
akan sebanding dengan perbedaan konsentrasi bulk di fase pertama dengan konsentrasi
bulk di fase kedua yang berada di fase pertama. Sehingga penyelesaian laju transfer massa
akan menjadi:
NA = KG(y-y*) = kL(xi-x) = kG(y-yi) = KL(x*-x)
Dimana :
KG =
KL =

................(5)

Koefisien transfer massa overall dalam fase gas


Koefisien transfer massa overall dalam fase liquid

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-5
Bab II Tinjauan Pustaka

2. Teori Penetrasi
Teori penetrasi ini dikemukakan oleh Higbie. Teori ini menyatakan mekanisme
perpindahan massa melalui kontak antara dua fasa, yaitu fasa gas dan fasa liquid. Dalam
pernyataannya, Higbie menekankan agar waktu kontak lebih lama. Higbie, untuk pertama
kalinya menerapkan teori ini untuk absorpsi gas dalam liquida yang menunjukkan bahwa
molekul-molekul yang berdifusi tidak akan mecapai sisi lapisan tipis yang lain jika waktu
kontaknya pendek (Mardanila, 2014).
Teori Higbie ini menyebutkan bahwa turbulensi akan menaikkan difusivitas pusaran,
hal ini akan menentukan waktu kontak perpindahan massa yang terjadi untuk setiap
keadaan massa. Difuivitas pusaran ini terjadi dalam keadaan setimbang antara fase gas dan
liquid (Mardanila, 2014).
3. Teori Danckwerts
Teori penetrasi juga dikembangkan oleh Danckwerts yang menyatakan bahwa unsurunsur fluida pada permukaan secara acak akan diganti oleh fluida lain yang lebih segar dari
aliran tindak. Teori ini digunakan dalam keadaan khusus di mana dianggap massa
difusivitas pusaran berlangsung dalam waktu yang bervariasi dan dianggap laju
perpindahan massa tidak tergantung dari waktu perpindahan unsur dalam fase cairan tindak
pada keadaan stagnant. Sehingga perpindahan massa yang terjadi di interface merupakan
harga dari jumlah zat yang terabsorpsi. Jadi dianggap bahwa perpindahan unsur secara
tindak fase cairan menuju interface tidak akan mempengaruhi kecepatan perpindahan
massanya (Mardanila, 2014).
II.1.4 Jenis Menara Absorpsi
Menurut Sulaiman (2008), operasi transfer massa umumnya dilakukan dengan
menggunakan manara yang dirancang sedemikian sehingga diperoleh kontak yang baik antara
kedua fase. Alat transfer massa yang berupa menara secara umum dapat dibagi ke dalam 4
golongan, yaitu: menara sembur (spray tower), menara gelembung (bubble tower), menara
pelat dan packed tower.
1. Spray Tower

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-6
Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar II.3 Spray Tower


Spray tower terdiri dari sebuah menara, dimana dari puncak menara cairan
disemburkan dengan menggunakan nosel semburan. Tetes-tetes cairan akan bergerak ke
bawah karena gravitasi, dan akan berkontak dengan arus gas yang naik ke atas. Nosel
semburan dirancang untuk membagi cairan kecil-kecil. Makin kecil ukuran tetes cairan,
makin besar kecepatan transfer massa. Tetapi apabila ukuran tetes cairan terlalu kecil, tetes
cairan dapat terikut arus gas keluar. Menara sembur biasanya digunakan umtuk transfer
massa gas yang sangat mudah larut (Sulaiman, 2008).
Liquid masuk dispraykan dan jatuh karena gravitasi, aliran gas naik berlawanan arah.
Nozzle (lubang) spray berfungsi untuk memperkecil ukuran liquid. Jarak jatuhnya liquid
ditentukan berdasarkan waktu kontak dan pengaruh jumlah massa yang dipindahkan.
Spray Tower digunakan untuk perpindahan massa gas-gas yang sangat mudah larut dimana
tahanan fasa gas yang menjadi kendali dalam fenomena ini (Redjeki, 2012).
2. Bubble Tower

Gambar II.4 Bubble Tower

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-7
Bab II Tinjauan Pustaka
Bubble tower terdiri dari sebuah menara, dimana di dalam menara tersebut gas
didispersikan dalam fase cair dalam bentuk gelembung. Transfer massa terjadi pada waktu
gelembung terbentuk dan pada waktu gelembung naik ke atas melalui cairan. Menara
gelembung digunakan untuk transfer massa gas yang relatif sukar larut. Gelembung dapat
dibuat misalnya dengan pertolongan distributor pipa, yang ditempatkan mendatar pada
dasar menara (Sulaiman, 2008).
3. Packed Tower
Menurut Sulaiman (2008), packed Tower adalah menara yang diisi dengan bahan
pengisi. Adapun fungsi bahan pengisi ialah untuk memperluas bidang kontak antara kedua
fase. Bahan pengisi yang banyak digunakan antara lain cincin rasching, cincin lessing,
cincin partisi, sadel bell, sadel intalox dan cicin pall. Di dalam menara ini, cairan akan
mengalir ke bawah melalui permukaan bawah pengisi, sedangkan cairan akan mengalir ke
atas secara arus berlawanan, melalui ruang kosong yang ada diantara bahan pengisi.
Persyaratan yang diperlukan untuk isian menara ialah :
1. Tidak bereaksi (kimia) dengan fluida di dalam menara.
2. Mengandung cukup banyak laluan untuk kedua arus tanpa terlalu banyak zat cair yang
terperangkap (hold up) atau menyebabkan penurunan tekanan terlalu tinggi.
3. Memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara zat cair dan gas.
4. Harus kuat, tetapi tidak terlalu berat, serta tidak terlalu mahal.

Gambar II.5 Packed Tower

Kalau diperhatikan cara kontak antara fase-fase yang berkontak di dalam keempat
menara tersebut, maka ada dua macam cara kontak yaitu: cara kontak kontinyu yang terjadi
di menara sembur, menara gelembung dan menara paking, dan cara kontak bertingkat yang
terjadi di menara pelat (Sulaiman, 2008).
Menurut Perry (2008), dalam rangka memperluas permukaan kontak antara fase gascair, digunakan bahan berisi packing (packed column). Pemilihan packing dilakukan
dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Memiliki luas permukaan terbasahi tiap unit volum yang besar
2. Memiliki ruang kosong yang cukup besar sehingga kehilangan tekanan kecil
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa
Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-8
Bab II Tinjauan Pustaka
3. Karakteristik pembasahan baik
4. Densitas kecil agar berat kolom keseluruhan kecil
5. Tahan korosi dan ekonomis
V1; y1 L1, x1
V2; y2 L2, x2
Gambar II.6 Proses Absorpsi di Dalam Packed Column
Menurut Perry (2008), kecepatan absorpsi yang terjadi pada packed tower yang
dipengaruhi oleh ukuran packing-nya, dengan koefisien perpindahan massa keseluruhan
ditentukan berdasarkan luasan bagian dalam atau bagian luar dari film. Dengan demikian
laju perpindahan massa pada proses absorpsi yang dipengaruhi oleh packed tower adalah:
D(GMY) = NA . a . dh

................................................(6)

Dimana:
dNA =
Kecepatan absorpsi (kgmol/s)
a
=
Luas kontak interface per volume packing
dh =
Tinggi
Pada proses absorpsi, perpindahan massa hanya terjadi dari fase gas ke fase cairan
(difusi stagnan). Perpindahan massa dari fase gas adalah Gmdy, yang dapat dinyatakan
sebagai:
dh =

GM dy
..................................................................(7)
NA a (1-y)

maka volume packing setinggi menara, dz adalah S.dz, sehingga dA = a.S.dz, dan
persamaan (2) menjadi:
dh =
.........................................................(8)
GM dy
NA a (1-y) (y- y1)
II.1.5 Prinsip Kerja
Kolom absorpsi adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorpsi
(penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut. Proses ini
dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut
dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat fase cair dari komponen tersebut (Redjeki, 2009).
Kolom absorpsi adalah sebuah kolom, dimana ada zat yang berbeda fase mengalir
berlawanan arah yang dapat menyebabkan komponen kimia ditransfer dari satu fase cairan ke
fase lainnya, terjadi hampir pada setiap reaktor kimia. Proses ini dapat berupa absorpsi gas,
destilasi, pelarutan yang terjadi pada semua reaksi kimia (Ginting, 2015).

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-9
Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar II.7 Bagian Kolom Absorpsi


Keterangan:
Bagian a: spray untuk megubah gas input menjadi fase cair.
Bagian b: output gas keluar
Bagian c: input pelarut masuk
Bagian d: output pelarut dan gas terserap keluar
Bagian e: tempat pencampuran pelarut dan umpan
Bagian f : packed tower untuk memperluas permukaan sentuh sehingga mudah untuk
diabsorpsi
Peralatan absorpsi gas terdiri dari sebuah kolom berbentuk silinder atau menara yang
dilengkapi dengan pemasukan gas dan ruang distribusi pada bagian bawah; pemasukan zat
cair dan distributornya pada bagian atas, pengeluaran gas dan zat cair masing-masing diatas
dan dibawah (Sulaiman, 2008).
Serta diisi dengan massa zat tak aktif (inert) diatas penyangganya yang disebut isian
menara (tower packing). Zat cair yang masuk berupa pelarut murni atau larutan encer zat
terlarut dalam pelarut disebut cairan lemah (weak liquor), didistribusikan diatas isian dengan
distributor secara seragam (Sulaiman, 2008).
Gas yang mengandung zat terlarut, disebut gas kaya (rich gas), masuk ke ruang
pendistribusian melalui celah isian, berlawanan arah dengan zat cair. Isian itu memberikan
permukaan yang luas untuk kontak antara zat cair dan gas sehingga membantu terjadinya
kontak yang maksimal antara kedua fase, dan terjadi penyerapan zat terlarut yang ada di
dalam rich gas oleh zat cair yang masuk ke dalam menara dan gas encer (lean gas) keluar dari
atas. Sambil mengalir kebawah, zat cair makin kaya zat terlarut, dan keluar dari bawah
menara sebagai cairan pekat (strong liquor) (Sulaiman, 2008).
II.1.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Absorpsi
Pada proses absorpsi terdapat minimal tiga komponen yang terlibat di dalamnya, yaitu:
komponen gas terlarut yang disebut solute atau absorbat, komponen gas pembawa atau
carrier, dan komponen cairan pelarut yang disebut solvent atau absorbent (Geankoplis, 1987).
Menurut Geankoplis (1987), syarat mutlak dalam suatu proses absorpsi adalah
kelarutan solute dalam solvent harus lebih besar daripada kelarutannya dalam carrier.
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa
Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-10
Bab II Tinjauan Pustaka
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut agar proses absorpsi
berlangsung antara lain yaitu:
1. Kelarutan Gas
Kelarutan gas harus tinggi sehingga meningkatkan laju absorpsi dan menurunkan
kuantitas solvent yang diperlukan. Umumnya solvent yang memiliki sifat yang sama
dengan bahan terlarut akan lebih mudah dilarutkan. Jika gas larut dengan baik di dalam
fraksi mol yang sama pada beberapa jenis solvent, maka dipilih solvent yang memiliki
berat molekul paling kecil agar didapatkan fraksi mol gas terlarut yang lebih besar. Jika
terjadi reaksi kimia dalam operasi absorpsi maka umumnya kelarutan akan sangat besar.
Namun bila solvent akan di-recovery maka reaksi tersebut harus reversible. Sebagai
contoh, etanol amina dapat digunakan untuk mengabsorpsi hydrogen sulfide dari
campuran gas karena sulfide tersebut sangat mudah diserap pada suhu rendah dan dapat
dengan mudah dilucut pada suhu tinggi. Sebaliknya, soda kaostik tidak digunakan dalam
kasus ini karena walaupun sangat mudah menyerap sulfide tapi tidak dapat dilucuti
dengan operasi stripping.
2. Volatilitas
Pelarut harus memiliki tekanan uap yang rendah, karena jika gas yang meninggalkan
kolom absorpsi jenuh terhadap pelarut maka akan banyak solvent yang terbuang. Jika
diperlukan dapat digunakan cairan pelarut kedua yang volatilitasnya lebih rendah untuk
menangkap porsi gas yang teruapkan. Aplikasi ini umumnya digunakan pada kilang
minyak dimana terdapat menara absorpsi hidrokarbon yang menggunakan pelarut
hidrokarbon yang cukup volatile dan di bagian atas digunakan minyak nonvolatile untuk
me-recovery pelarut utama. Demikian juga halnya dengan hydrogen sulfide yang
diabsorpsi dengan natrium fenolat lalu pelarutnya di-recovery dengan air.
3. Korosivitas
Pelarut hendaknya memiliki korosivitas kecil, sehingga material konstruksi alat tidak
terlalu mahal. Solvent yang korosif dapat merusak kolom.
4. Harga Pelarut
Penggunaan solvent yang mahal dan tidak mudah di-recovery akan meningkatkan
biaya operasi kolom.
5. Ketersediaan
Ketersediaan pelarut di dalam negeri akan sangat mempengaruhi stabilitas harga
pelarut dan biaya operasi secara keseluruhan.
6. Viskositas
Pelarut harus mempunyai harga viskositas yang rendah sehingga proses absorpsi
berjalan cepat, pressure drop kecil pada saat pemompaan, memberikan sifat perpindahan
panas yang baik dan meningkatkan karakteristik floading dalam menara absorpsi.
7. Hal-hal lain yang meliputi: solvent harus nontoxic, nonflammable, memiliki komposisi
kimia yang stabil dan titik bekunya rendah.
Menurut Putra (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi proses absorpsi antara lain:
1. Luas permukaan kontak
Semakin besar permukaan gas dan pelarut yang kontak, maka laju absorpsi yang terjadi
juga akan semakin besar. Hal ini dikarenakan, permukaan kontak yang semakin luas
akan meningkatkan peluang gas untuk berdifusi ke pelarut
2. Laju alir fluida
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa
Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-11
Bab II Tinjauan Pustaka
Jika laju alir fluida semakin kecil, maka waktu kontak antara gas dengan pelarut akan
semkain lama. Dengan demikian, akan meningkatkan jumlah gas yang berdifusi.
3. Konsentrasi gas
Perbedaan konsentrasi merupakan salah satu driving force dari proses difusi yang terjadi
antar dua fluida
4. Tekanan operasi
Peningkatan tekanan akan meningkatkan efisiensi pemisahan
5. Temperature komponen terlarut dan pelarut
Temperature pelarut hanya sedikit berpengaruh terhadap laju absorpsi
6. Kelembaban gas
Kelembaban yang tinggi akan membatasi kapasitas gas untuk mengambil kalor laten, hal
ini tidak disenangi dalam proses absorpsi. Dengan demikian proses dehumidification gas
sebelum masuk ked lam kolom absorber sangan dianjurkan.

II.2

Aplikasi Industri
Laporan Kerja Praktek
Departemen Operasi Kaltim-2
PT. Pupuk Kaltim, Tbk.

PT. Pupuk Kalimantan Timur mempunyai kapasitas produksi yang dihasilkan yaitu
1.850.000 ton amoniak dan 2.980.000 ton urea per tahun. UFC (Urea Formaldehyde
Concentrate) merupakan komponen tambahan untuk memperbaiki sifat butiran urea agar
tidak terjadi caking (penggumpalan) dan tidak mudah rusak. UFC ditambahkan pada lelehan
urea sebelum lelehan tersebut diumpankan ke Prilling Tower. Bahan-bahan ini dihasilkan di
sebuah unit terpisah di lingkungan Kaltim-2.
Methanol dari Methanol Receiving Tank dialirkan ke Methanol Buffer Tank dengan
pompa kemudian dipanaskan menggunakan Condensate Steam sebagai pemanas. Dari
Evaporator. Uap methanol tersebut dicampurkan dengan udara yang disirkulasikan oleh
Blower sehingga diperoleh udara proses sekitar 50C. Campuran tersebut dipanasi oleh uap
oil (dowterm A) di Gas Heater sampai suhu 200-205C. Campuran ini kemudian diumpankan
dalam Reaktor. Reaktor dengan tipe Multitube Fixed Bed Reactor dengan 4753 tube berisi
katalis FK-2 (Fe2(MoO4)2.MoO3). Sebagian kecil dari HCHO akan teroksidasi menjadi
Formic Acid, yang selanjutnya akan terurai menjadi CO dan H2O , disamping itu juga akan
terbentuk sedikit Dimethyl Eter. Reaksi pembentukan formaldehid sangat eksotermis, untuk
menjaga kondisi temperatur yang optimum dan mengatur komposisi/formasi produk, panas
reaksi diambil dari luar tube catalys oleh downterm oil. Oil akan masuk sebagai pendingin
dengan fase liquid jenuh, kemudian akan keluar dari reaktor dalam fase uap jenuh. Uap yang
keluar akan masuk oil separator yang akan digunakan sebagai pemanas pada proses gas heater
dan Tile Gas Heater. Kelebihan panas akan didinginkan dalam air cooler for oil. Selanjutnya
oil yang keluar Proses Gas Heater, tail gas heater serta air cooler for oil berupa liquid jenuh
masuk ke oil separator untuk dipergunakan sebagai pendingin lagi.
Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa
Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya

II-12
Bab II Tinjauan Pustaka
Penggunaan absorber UF di Departemen Operasi Kaltim-2 PT. Pupuk Kaltim, Tbk.
yaitu untuk menghasilkan urea formaldehyde (UF-85). Absorber ini dilengkapi dengan satu
bed packing ring dari stainless stell di lower section dan sepuluh bubble cap tray di upper
section. Absorber yang digunakan yaitu jenis counter current dengan gas formaldehyde
sebagai gas yang diabsorb masuk dari bagian atas absorber, sedangkan larutan urea 70%
sebagai absorben masuk dari bagian bawah absorber. Sebelum memasuki absorber, gas
formaldehyde dari reakstor dengan suhu keluar 280-300C, kemudian diturunkan suhunya
menjadi 130C dengan steam 0,06 kg/cm2g dan suhu 120C. Gas proses keluar kemudian
dimasukkan ke Urea Formaldehyde Absorber disini gas di absorpsi dengan menggunakan
urea 70% yang masuk dari bagian atas absorber, laju nya sesuai dengan kebutuhan produksi
yang diinginkan. Di dalam absorber, gas formaldehyde akan bereaksi dengan urea
menghasilkan urea formaldehyde dan sebagian kecil terabsorpsi oleh air. Panas reaksi yang
timbul baik laten maupun sensibel harus diambil dengan menggunakan sebagian larutan hasil
bawah yang sebelumnya didinginkan di cooler, kemudian dikembalikan ke lower section
formaldehyde, dan yang lolos dari lower section akan diserap kembali dengan cara counter
current washing dengan larutan urea di upper section gas dan tail gas akan disirkulasikan
sebagai feed dan sebagian direaksikan di reaktor sebelum dibuang keluar.

Laboratorium Proses Pemisahan dengan Perpindahan Panas dan Massa


Secara Simultan
D3 Teknik Kimia FTI-ITS
Surabaya