Você está na página 1de 20

AZAZ PERLINDUNGAN DALAM PENGANGKATAN ANAK

(Studi Komparatif Antara Hukum Adat, Hukum Perdata dan Hukum Islam)

A. Latar Belakang Masalah


Pasangan seorang pria dan seorang wanita yang telah membentuk suatu
hubungan rumah tangga dalam suatu ikatan perkawinan memiliki naluri ataupun
fitra sebagai makhluk sosial guna melangsungkan hidupnya. Selain membentuk
keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.1 Atau sebagaimana dinyatakan dalam
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, bahwa tujuan
perkainan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan memiliki makna tujuan lain yang tidak
tertulis yaitu meneruskan keturunan.
Membentuk keluarga yang bahagia sangat serat hubungannya dengan
keturunan. Akan tetapi tidak seluruh perkawinan melahirkan keturunan yang kelak
akan menerima akibat-akibat hukumnya sebagai anak kandung. Sementara itu jika
dipaksakan ingin memiliki anak, maka jalan yang dilakukan adalah dengan
melakukan upaya pengangkatan anak, yaitu menjadikan anak orang lain sebagai
anaknya. Pengangkatan anak inilah yang kemudian menjadi pendorong bagi
pasangan suami istri untuk memiliki anak, sehingga terjadilan perpindahan anak
dari satu kelompok keluarga ke dalam kelompok keluarga yang lain. 2 Selanjutnya
istilah ini dikenal dengan istilah pengangkatan anak (adopsi).
1 Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT, yang kemudian dijadikan sebagai tujuan
perkawinan, Q.S. Ar-Rum:21

Pengangkatan anak merupakan salah satu peristiwa hukum yang terjadi


sebagai akibat, meski bukan satu-satunya, karena perkawinan itu sendiri tidak
memiliki keturunan atau anak. Tingginya frekuensi pengangkatan anak di dalam
masyarakat diduga sebagai akibat perkawinan yang tidak menghasilkan
keturunan. Sehingga muncullah stigma, apabila suatu perkawinan tidak
memperoleh keturunan, tujuan perkawinan dipandang tidak tercapai. Sebaliknya
apabila di dalam suatu perkawinan telah melahirkan keturunan, tujuan perkawinan
dianggap telah tercapai dan proses pelanjutan generasi dapat berjalan.3
Sebagai akibat hukum dari peristiwa pengangkatan anak, maka peristiwa
ini merupakan bagian hukum kekeluargaan, dengan demikian ia melibatkan
persoalan dari setiap yang berkaitan dengan hubungan antara manusia. 4
Pengangkatan anak sendiri menurut hukum Islam tidak bisa dijadikan dasar dan
sebab mewaris, karena prinsip pokok dalam kewarisa Islam adalah hubungan
nasab atau arham.5 Dengan kata lain bahwa peristiwa pengangkatan anak menurut
hukum kewarisan Islam, tidak membawa pengaruh hukum terhadap status
kewarisan anak angkat. Dalam hukum Islam, apabila bukan merupakan anak
sendiri, tidak mewarisi dari orang yang telah mengangkat anak tersebut.
2 Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum. Sinar Grafika, Jakarta,
cet v, 2006, hal. 7-8
3 Soerjono Soekanto, Hukum Adat di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2001, hal. 25
4 Muderis Zaini, Op.Cit, hal. 30
5 Hilman Hadikusuma, Hukum Adat Waris, Citra Aditya Bakti, Bandung, Cet. VII, 2003
hal 78

Pengangkatan anak juga tidak terlepas dari pengaruh hukum adat. Dalam
masyarakat hukum adat, pengangkatan anak

dilakukan untuk mengayomi,

membantu dan memberikan perlindungan hukum terhadap anak angkat. Dalam


tradisi masyarakat adat, pengangkatan anak melalui sebuah proses adat. Proses
pengangkatan anak yang dipimpin oleh petua adat, dimaksudkan agar seseorang
yang dijadikan sebagai anak angkat akan mengetahui hak dan kewajibannya
sebagai anak angkat dan sebaliknya orang tua angkatpun mengetahui hak dan
kewajibannya sebbagai orang tua angkat.6
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) yang kita warisi dari
Pemerintah Hindi Belanda sendiri tidak mengenal peraturan mengenai lembaga
pengangkatan anak.7 Hanya bagi golongan Tionghoa saja yang diadakan
pengaturannya secara tertulis dalam Staatsblad tahun 1917 No. 129 bahwa Kitab
Undang-Undang Perdata Indonesia (BW) tidak memuat peraturan mengenai
adopsi.
Selanjutnya bagaimana menyangkut aspek perlindungan anak itu sendiri,
karena sejatinya anak merupakan amanah sekaligus sebagai karunia Tuhan Yang
Maha Esa, bahkan anak dianggap sebagai harta kekayaan yang paling berharga
dibandingkan dengan kekayaan harta benda lainnya. Oleh karena itu, sebagai
ammanah Tuhan harus senantiasa dijaga dan dilindungi karena dalam diri anak
melekat harkat martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung
6 M. Hasballah Thaib, Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam, Medan, Fakultas Hukum
Universitas Dharmawangsa, 1993, hal. 12.
7 Ali Afandi, Hukum Keluarga Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW),
Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, 2002, hal. 57

tinggi. Ini merupakan amanat yang ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945
dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Anak.8
Sebagai kenyataan sosial yang tidak terbantahkan bahwa keinginan
mempunyai anak adalah hal yang manusiawi dan alamiah, namun demikian
melihat ketentuan hukum positif yang berlaku di Indonesia, akhirnya masyarakat
terbentur oleh eksistensi adopsi di Indonesia sendiri, oleh karena banyak
ketidakksinkronan apabila kita menelaah tentang eksistensi lembaga adopsi itu
sendiri dalam sumber-sumber hukum positif yang berlaku di Indonesia, baik
hukum barat yang bersumber dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam
Burgerlijk Wetboek (BW), hukum adat yang merupakan the living law yang
berlaku di Indonesia maupun hukum Islam yang merupakan konsekuensi logis
dari masyarakat Indonesia yang mayoritas mutlak beragama Islam.9 Dalam BW
tidak diatur tentang masalah adopsi atau lembaga pengangkatan anak. Dalam
beberapa pasal BW hanya menjelaskan masalah pewarisan dengan istilah anak
luar kawin atau anak yang diakui (erkend kind). 8
Pengangkatan anak untuk kesejahteraan anak yang dilakukan diluar adat
dan kebiasaan dilaksanakan berdasarkan Peraturan Per Undang-Undangan yang
tercantum dalam Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4
Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Sedangkan menurut hukum adat
terdapat keanekaragaman hukum yang berbeda, antara daerah yang satu dengan
8 Bagian ini menjadi konssiderasi dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak
9 Moderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, cet. V. Sinar Grafika,
Jakarta, 1980, hal. 2

daerah lainnya, sesuai dengan perbedaan lingkaran hukum adat, seperti yang
dikemukakan oleh Prof. Van Vollenhoven. Hukum adat merupakan salah satu
sumber yang penting untuk memperoleh bahan-bahan unifikasi hukum
sehubungan dengan hal itu perlu ditinjau terlebih dahulu hukum adat itu, apa lagi
dalam perkembangannya sekarang. Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1978
mencantumkan peningkatan dan penyempurnaan hukum nasional dengan antara
lain pembaharuan kodifikasi dan unifikasi hukum di bidang-bidang tertentu
dengan jalan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat.10
Dengan demikian tentunya akan terdapat beberapa perbedaan pada
masing- masing daerah hukum di Indonesia, tentang masalah status anak angkat
itu. Dalam pembagian hukum perdata materil adopsi terletak dalam lapangan
hukum keluarga. Hukum keluarga adalah semua kaidah-kaidah yang mengatur
dan menentukan syarat-syarat, dan cara mengadakan hubungan abadi serta seluruh
akibat hukumnya.10 Dalam hukum Islam lebih tegas dijelaskan, bahwa
pengangkatan seorang anak dengan pengertian menjadikannya sebagai anak
kandung didalam segala hal, tidak dibenarkan. Hal ini sesuai dengan pembahasan
Al Ustadz Umar Hubies dalam bukunya Fatawa. Hanya yang perlu digaris
bawahi disini adalah bahwa larangan yang dimaksudkan adalah pada status
pengangkatan anak menjadi anak kandung sendiri, dengan menempati status yang
persis sama dalam segala hal. Dalam BW tidak dikenal kedudukan anak angkat itu
sendiri, tetapi khusus bagi orang-orang yang termasuk golongan Tionghoa,
lembaga adopsi ini diatur dalam Staatsblad 1917 nomor 129. Dalam hukum adat
10 Soedirman Kartohadiprojo, Pengantar Tata Hukum Indonesia, cetakan kelima,
Pembangunan, Jakarta, 1967, h. 61-62.

masih terdapat ketentuan-ketentuan yang beraneka ragam, namun demikian masih


pula terdapat titik tautnya, sesuai dengan keekaan dari keanekaragaman budaya
bangsa Indonesia yang tercermin dalam bentuk lambang negara Indonesia. Dalam
hukum Islam ada indikasi tidak menerima lembaga adopsi ini dalam artian
persamaan status anak angkat dengan anak kandung.
Adopsi adalah suatu lembaga hukum yang terletak di Bidang Hukum
Perdata, khususnya Hukum Perorangan dan Kekeluargaan. Lembaga Adopsi ini
berbeda-beda pada negara yang satu dibandingkan negara yang lain dan
keanekaragaman ini menimbulkan persoalan Vorfrage (Persoalan Pendahuluan)
dan Anpassung (Penyesuaian) dalam negara-negara yang bersangkutan. Sebagai
contoh dapat dikemukakan seorang anak adopsi Belgia yang ayah adopsi
Belgianya ketabrak mobil dan meninggal dunia. Apakah anak adopsi ini dapat
dianggap merupakan anak seperti yang dimaksudkan oleh pasal 1370
KUHPerdata dan karenanya akan diperbolehkan atau tidak mengajukan gugatan
ganti kerugian karena perbuatan melanggar hukum.
Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa praktek pengangkatan anak telah dikenal
luas oleh kalangan masyarakat Indonesia. Namun masih banyak orang-orang yang
melakukan proses pengangkatan anak secara langsung tanpa melalui proses yang
benar yaitu, melalui penetapan pengadilan akan tetapi dengan berhubungan
langsung kepada orang tua anak atau melalui perantara. Kondisi pengangkatan
anak yang ada dalam masyarakat kita tidak sesuai dengan yang seharusnya, masih
banyaknya orang-orang yang tidak mengikuti peraturan yang ada demi mencari
keuntungan sendiri dan kelancaran proses yang mereka lakukan bahkan dengan

memalsukan akte lahir anak. Namun proses pengangkatan anak yang semacam itu
sampai saat ini masih banyak dilakukan karena rendahnya kesadaran masyarakat
akan hukum dan kurangnya sosialisasi yang menyeluruh mengenai program
pengangkatan anak yang sah. Sehingga dari thesa ini, penulis tertaris untuk
mengkaji lebih dalam mengenai pengangkatan anak dengan membatasi pada
perbandingan antara pengangkatan anak menurut perspektif hukum Islam dengan
judul tesis: Azaz Perlindungan Dalam Pengangkatan Anak (Studi Komparatif
Antara Hukum Adat, Hukum Perdata dan Hukum Islam)

B. Rumusan Masalah
Untuk tidak meluasnya permasalahan yang hendak diteliti, maka penulisan
tesis

ini

membatasi

permasalahannya

pada

beberapa

hal

yang

perlu

diidentifikasikan, yaitu:
1. Bagaimana proses pengangkatan anak angkat menurut hukum adat, hukum
perdata dan hukum Islam?
2. Bagaimana aspek perlindungan terhadap anak angkat dalam sistem hukum
adat, hukum perdata dan hukum Islam?
C. Tujuan Penelitian
Dari penelitian yang hendak dilakukan, penulis mempunyai tujuan sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui proses pengangkatan anak angkat menurut hukum adat,
hukum perdata dan hukum Islam.

2. Untuk mengetahui aspek perlindungan terhadap anak angkat dalam sistem


hukum adat, hukum perdata dan hukum Islam.

D. Kegunaan Penelitian
Sebuah karya tulis di buat dapat memberikan suatu manfaat, demikian
pula yang diharapkan dari penulisan skripsi ini. Adapun manfaat dari penulisan
tesis ini adalah:
1. Secara teoritis, penulisan tesis ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian
terhadap

perkembangan

hukum

khususnya

yang

berkaitan

dengan

pengangkatan anak. Di samping itu, skripsi ini juga akan dapat memberikan
sumbangan pikiran yuridis terhadap perkembangan hukum agar nantinya
lebih dapat mengikuti atau bahkan mengimbangi perkembangan teknologi
informasi yang semakin cepat. Selain itu juga diharapkan agar dapat
memberikan pemahaman dan wawasan ilmiah baik secara khusus maupun
secara umum berkenaan dengan tata cara pengangkatan anak.
2. Secara praktis, dapat memberikan wawasan mengenai tata cara pengangkatan
anak yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,serta
sebagai masukan bagi pihak-pihak yang terkait dengan masalah tesis ini dan
bahkan dapat digunakan sebagai pedoman bagi peneliti-peneliti berikutnya.
Dan untuk aparat peradilan dan praktisi hukum serta berbagai pihak lainnya
dapat lebih bersungguh-sungguh memperdalam dan mengkaji tentang aspek
perlindungan dalam lembaga pengangkatan anak.

E. Kerangka Pemikiran
Adopsi berasal dari kata adoptie Bahasa Belanda, atau adopt
(adoption) bahasa Inggris, yang berarti pengangkatan anak, mengangkat anak.
Dalam bahasa Arab disebut tabanni yang menurut Prof. Mahmud Yunus
diartikan dengan mengambil anak angkat. Pengertian dalam bahasa Belanda
menurut Kamus Hukum, berarti pengangkatan seorang anak untuk sebagai anak
kandungnya sendiri. Jadi disini penekanannya pada persamaan status anak angkat
dari hasil pengangkatan anak sebagai anak kandung. Ini adalah pengertian secara
literlijk, yaitu (adopsi) di masukkan kedalam bahasa Indonesia berarti anak angkat
atau mengangkat anak.
Dalam praktik pengangkatan anak di Indonesia mempunyai beberapa
tujuan antara lain untuk meneruskan keturunan jika dalam suatu perkawinan tidak
memperoleh keturunan. Motivasi ini sangat kuat terhadap orang tua yang hendak
melakukan pengangkatan anak bberdasarkan adat istiadat setempat maupun
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan ini sangat
memberikan jaminan perlindungan bagi anak angkat terhadap orang tua
angkatnya.
Sebagai sebuah perbuatan hukum yang bertujuan untuk memberi
status/kedudukan kepada seorang anak orang lain yang sama seperti kandung.
Maka adanya anak angkat ialah karena seorang mengambil anak atau di jadikan
anak oleh orang lain sebagai anaknya. Anak angkat itu mungkin seorang anak

laki-laki atau seorang anak perempuan.11 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
menyebutkan anak angkat adalah anak orang lain yang diambil dan disamakan
dengan anak sendiri.
Menurut Hilman Hadikusuma, anak angkat adalah anak orang lain yang
dianggap anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi menurut hukum adat
setempat,

dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan

dan atau

pemeliharaan atas kekayaan rumah tangganya. 12 Pada dasarnya pengangkatan


anak merupakan suatu upaya dalam rangka mensejahterakan anak, khususnya
anak angkat, hal ini tampak dari ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak. dalam Undang-undang ini mengatur secara tegas
motif dan anak yang dikehendaki dalam pengaturan hukum tentang pengangkatan
anak, yaitu untuk kepentingan kesejahteraan anak angkat tersebut seperti yang
tertuang dalam Pasal 12 Undang-undang tersebut. Kemudian pada Tahun 1983
dikeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 6 Tahun
1983, yang merupakan penyempurnaan dari Surat Edaran Mahkamah Agung
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1979 mengenai Pengangkatan Anak. Surat
Edaran tersebut merupakan petunjuk dan pedoman bagi para hakim dalam
mengambil putusan atau penetapan bila ada permohonan pengangkatan anak.
Pada Tahun 1984 dikeluarkan Keputusan Menteri Sosial Republik
Indonesia Nomor 41/HUK/KEP/VII/1984 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perizinan
11 Bastian Tafal, Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Serta akibat-akibat
hukumnya di kemudian hari, Rajawali Pers, Jakarta, h.45. 18 Hilman Hadikusuma,
Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung, 1991, h. 20.
12 Ibid, hal 266

Pengangkatan Anak. Maksud dari dikeluarkannya Keputusan Menteri Sosial ini


adalah sebagai suatu pedoman dalam rangka pemberian izin, pembuatan laporan
sosial serta pembinaan dan pengawasan pengangkatan anak, agar terdapat
kesamaan dalam bertindak dan tercapainya tertib administrasi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mengingat banyaknya penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat atas
pelaksanaan pengangkatan anak, yaitu pengangkatan anak dilakukan tanpa
melalui prosedur yang benar, pemalsuan data, perdagangan anak, bahkan telah
terjadi jual beli organ tubuh anak. Untuk itu perlu pengaturan tentang pelaksanaan
pengangkatan anak, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh
masyarakat, yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak yang
merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.
Pengertian perlindungan anak berdasarkan pasal 1 Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah bahwa perlindungan
anak merupakan suatu kegiatan untuk menjamin anak dan hak-haknya agar dapat
hidup, tumbuh, berkembang danberpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat
dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
Harus disadari bahwa pengangkatan anak yang sesuai dengan budaya dan
akidah masyarakat Indonesia tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang
diangkat dengan orang tua kandungnya. Hal ini disebutkan dalam pasal 4

Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2007, bahwa pengangkatan anak tidak


memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua
kandungnya.29 Hal sensitif yang juga harus disadari oleh calon orang tua angkat
dan orang tua kandung adalah bahwa calon orang tua angkat harus seagama
dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat, hal ini penting diperhatikan
oleh karena pengaruh agama orang tua angkat terhadap anak angkat hanya
memiliki satu arus arah dari orang tua angkat terhadap anak angkatnya, jika hal ini
terjadi maka akan sangat melukai hati dan nurani serta akidah orang tua kandung
anak angkat tersebut.13
Hubungan nasab anak angkat dengan orang tua kandungnya tidak terputus
oleh lembaga pengangkatan anak, dan orang tua kandung tetap memiliki hak
untuk menjalankan hak dan kewajibannya sebagai orang tua kandung, oleh karena
itu orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal
usul dan orang tua kandungnya. Pemberitahuan asal usul dan orang tua
kandungnya dengan memperhatikan kesiapan anak yang bersangkutan.14
Pengangkatan anak yang didasarkan pada adat istiadat setempat dalam
komunitas juga masih melakukan pengangkatan anak secara jelas dan tunai. Yang
dimaksud dengan hukum adat ialah hukum yang berlaku bagi penduduk pribumi
sebagai terjemahan dari bahasa Belanda adat rechyang digunakan pertama kali
oleh Prof C. Snouck Hourgronje15.

13 Budiarto M., Pengangkatan Anak ditinjau Dari Segi Hukum, Jakarta: Akademika Pressindo, 1991
14 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Pengangkatan Anak, Pasal 40

Pada mulanya pengangkatan anak (adopsi) dilakukan semata-mata untuk


melanjutkan dan mempertahankan garis keturunan dalam suatu keluarga yang
tidak dapat memiliki keturunan. Disamping itu juga untuk mempertahankan ikatan
perkawinan sehingga tidak timbul perceraian, tetapi sejalan dengan perkembangan
masyarakat, tujuan adopsi telah berubah menjadi untuk kesejahteraan anak. Hal
ini tercantum dalam pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang berbunyi : Pengangkatan anak
menurut adat dan kebiasaan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan
kesejahteraan anak.16
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, secara
tegas menyatakan bahwa tujuan pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk
kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan
setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 17 Ketentuan
ini sangat memberikan jaminan perlindungan bagi anak yang sifatnya memang
sangat tergantung dari orang tuanya.
Gagasan bahwa dalam pengangkatan anak harus mempertimbangkan
kepentingan anak yang diangkat, hal ini dapat ditemui dalam Penetapan
Pengadilan Negeri Bandung No.30/1970 Comp. Tanggal 26 Februari 1970, tetapi
sikap ini dengan tegas dinyatakan dalam Undang-undang No. 4 Tahun 1979
15 Seorang ssarjana Belanda budaya oriental dan bahasa serta
penasehat urusan pribumi untuk pemerintah colonial Belanda.
16 Pasal 12 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1979 tentang

Pelaksanaan Pengangkatan Anak.


17 Andi Syamsu dan M.Fauzan, Op.Cit., hlm 216

tentang Kesejahteraan Anak, ketentuan dalam pasal 12 ayat (1) dan ayat (3) UU
Kesejahteraan Anak. Sikap ini kemudian diikuti oleh Mahkamah Agung RI
dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Penyempurnaan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 1979. Kemudian Pasal 39 ayat (1)
UU Perlindungan Anak serta pelaksanaannya, yaitu Peraturan Pemerintah No.54
Tahun 2007 tentang Pengangkatan Anak (Pasal 2).
Pengangkatan anak semakin kuat dipandang dari sisi kepentingan yang
terbaik bagi si anak sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan anak, untuk
memperbaiki kehidupan dan masa depan si anak yang akan diangkat. 18 Hal ini
tidak berarti melarang calon orang tua angkat mempunyai pertimbangan lain yang
sah dalam mengangkat anak, seperti ingin mempunyai anak karena tidak
mempunyai anak kandung, tetapi didalam pengangkatan anak, sisi kepentingan
anak angkatlah yang harus menjadi pertimbangan utama.
Mengenai adanya kepentingan terbaik bagi calon anak angkat dengan
pengangkatan yang tercermin dalam permohonan untuk mendapatkan suatu
penetapan atau putusan pengadilan. Pada masa lalu, berdasarkan Surat Edaran
Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1983, adanya kepentingan anak harus
dinyatakan atau diindikasikan dalam surat permohonan untuk penetapan atau
putusan

yang

ditujukan

ke

Pengadilan.

Sekarang

indikasi

tersebut

dimanifestasikan dalam bentuk surat pernyataan tertulis dari calon orang tua
angkat yang dilampirkan dalampermohonan untuk penetapan atau putusan
pengadilan.
18 Rusli Pandika, Hukum Pengangkatan anak, Jakarta : Sinar Grafika, 2012 hlm

106

Walau demikian, tentu masih ada juga penyimpangan-penyimpangan,


seperti,ingin menambah/mendapatkan tenaga kerja yang murah. Adakalanya
keluarga yang telah mendapatkan anak kandung, merasa perlu untuk mengangkat
anak, yang bertujuan menambah tenaga kerja dikalangan keluarga atau merasa
kasihan terhadapanak terlantar itu.
Dari uraian di atas diatas terlihat bahwa pada dasarnya latar belakang
seseorang melakukan pengangkatan anak adalah karena tidak memiliki keturunan,
untuk mempertahankan sebuah ikatan perkawinan atau kebahagiaan, adanya
harapan atau kepercayaan akan mendapatkan anak atau pancingan. Apapun
alasan-alasan yang melatarbelakangi seseorang untuk melakukan pengangkatan
anak, orang tua angkat harus dapat memperhatikan kesejahteraan anak yang
diangkatnya.
Harus disadari bahwa pengangkatan anak yang sesuai dengan budaya dan
akidah masyarakat Indonesia tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang
diangkat dengan orang tua kandungnya. Hal ini disebutkan dalam pasal 4
Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2007, bahwa pengangkatan anak tidak
memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua
kandungnya.19 Hal sensitif yang juga harus disadari oleh calon orang tua angkat
dan orang tua kandung adalah bahwa calon orang tua angkat harus seagama
dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat, hal ini penting diperhatikan
oleh karena pengaruh agama orang tua angkat terhadap anak angkat hanya
memiliki satu arus arah dari orang tua angkat terhadap anak angkatnya, jika hal ini
19

terjadi maka akan sangat melukai hati dan nurani serta akidah orang tua kandung
anak angkat tersebut.
Hubungan nasab anak angkat dengan orang tua kandungnya tidak terputus
oleh lembaga pengangkatan anak, dan orang tua kandung tetap memiliki hak
untuk menjalankan hak dan kewajibannya sebagai orang tua kandung, oleh karena
itu orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal
usul dan orang tua kandungnya. Pemberitahuan asal usul dan orang tua
kandungnya dengan memperhatikan kesiapan anak yang bersangkutan.

F. Metode Penulisan
Setiap penelitian ilmiah haruslah menggunakan metode penelitian yang
sesuai agar dapat diperoleh hasil penelitian yang validitas yang tinggi. Metode
penelitian adalah menggunakan secara teknis tentang metode yang digunakan
dalam penelitian, dalam menarik suatu kesimpulan, jika telah disertai bukti yang
menyakinkan dan bukti-bukti harus jelas dan data dievaluasi penyelenggaraanya. 20
Jadi suatu metode harus dipilih berdasarkan pada kesesuaian terhadap masalah
yang akan diteliti, yang nantinya berhasil atau tidaknya suatu penelitian sangat
tergantung pada metode yang dipakai, maka dalam skripsi ini menggunakan
metode penelitian sebagai berikut:
1. Metode pendekatan.
Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan
yuridis normatif. Pendekatan yuridis normatif adalah sebagai usaha
20 Khudaifah Dimyati dan Kelik Wirdiono. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Bina
Aksara, 2003, h. 1-2

mendekati masalah yang diteliti dengan sifat hukum yang nyata atau sesuai
dengan kenyataan yang hidup dalam masyarakat.
2. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah bersifat deskriptif
analitis. Penelitian jenis ini adalah penelitian yang dimaksudkan untuk
memberikan gambaran yang diteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau
gejala-gejala lainnya. Tujuannya sendiri adalah untuk membuat deskripsi,
gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktafakta, sifat-sifat serta hubungan fenomena yang diselidiki.21
3. Jenis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis data, yaitu data sekunder
adalah data yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan, yaitu dari bahan
dokumentasi atau bahan yang ditulis berupa peraturan perundang-undangan,
buku-buku, laporan-laporan, dan sebagainya yang berhubungan dengan
permasalahan yang diteliti, yang terdiri dari:
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat, seperti
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan
surat edaran mahkamah agung republik Indonesia nomor 3 tahun 2005
tentang pengangkatan anak.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu hukum yang memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang,
naskah akademik, makalah dan lain sebagainya.
21 Hilman Hadikusuma, Op.Cit., h..78.

c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun


penjelasan tentang bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus,
ensiklopedia, indeks kumulatif dan lain sebagainya.
4. Sumber data
Sumber-sumber yang digunakan adalah sumber data sekunder terutama halhal yang berkaitan dengan peraturan perundang-undanngan yang menyangkut
pengangkatan anak. Untuk data sekunder ini disebut legal research
dikategorikan ke dalam 3 langkah, yaitu:
a. Penelitian yang bersifat hukum positif
b. Penelitian yang berupa usaha-usaha penemuan asas-asas dan dasar
falsafahh hukum positif
c. Penelitian yang berupa usaha penemuan hukum inconcreto yang sesuai
untuk diterapkan dalam menyelesaikan suatu masalah tertentu.
5. Metode analisis data
Data yang dikumpulkan selengkap dan seteliti mungkin untuk mempertegas
gejala-gejala yang ada dan selanjutnya dilakukan pengelolaan dan analisis
data. Hal ini dimaksudkan untuk merangkai dan menginterpretasikan serta
pengambilan kesimpulan atas data yang diperoleh itu. Analisis data adalah
proses mengorganisasikan dan mengumpulkan data ke dalam pola, kategori
dan satuan uraian, dasar sehingga dapat diketemukan dan dapat dirumuskan
hipotesis kerja yang disarankan oleh data.22

22 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Press,


Jakarta, 1986, hal. 43

Metode analisis data yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah analisis
kualitatif yaitu suatu metode dan taktik pengumpulan datanya memakai
metode observasi yang berperan serta dengan wawancara terbatas terhadap
beberapa responden. Analisis kualitatif ini ditujukan terhadap data-data yang
sifatnya berdasarkan kualitas, mutu, dan sifat yang nyata berlaku dalam
masyarakat.23

G. Sistematika Penulisan
Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasan harus
diuraikan secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, maka
diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab-bab
yang saling berangkai satu sama lain. Adapun sistematika penulisan skripsi ini
adalah:
BAB I : Berisikan pendahuluan yang merupakan pengantar, yang di
dalamnya terurai mengenai latar belakang penulisan skripsi, perumusan masalah,
kemudian dilanjutkan denngan tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan
kepustakaan, metode penulisan, yang kemudian diakhiri oleh sistematika
penulisan.
BAB II : Merupakan gambaran umum tentang pengangkatan anak dimana
di

uraikan

mengenai

pengertian

pengangkatan

anak,

sejarah

lahirnya

pengangkatan anak, akibat hukum pengangkatan anak,dan dasar hukum


pengangkatan anak.
23 Ibid

BAB III: Merupakan pembahasan mengenai bentuk pelaksanaan


pengangkatan anak (adopsi) di Indonesia berdasarkan sudut pandang Hukum adat,
hukum perdata dan hukum Islam di mana didalamnya akan diuraikan tentang,
pengangkatan anak, Prosedur Pelaksanaan Pengangkatan Anak (adopsi) menurut
peraturan per undang-undangan yang berlaku saat ini yang di mulai dari 1.
prosedur penyerahan bayi / anak. 2. prosedur pelaksanaan pengangkatan anak
antar warga negara Indonesia, 3. Prosedur pelaksanaan pengangkatan anak antara
calon anak angkat warga negara Indonesia dan Calon orang tua angkat warga
negara asing (Inter country adoption).
BAB IV : Merupakan Bab yang membahas secara detail mengenai proses
pengangkatan anak angkat menurut hukum adat, hukum perdata dan hukum Islam,
Aspek perlindungan terhadap anak angkat dalam sistem hukum adat, hukum
perdata dan hukum Islam.
BAB V : Bab ini berisikan kesimpulan dari bab-bab yang telah di bahas
sebelumnya dan saran-saran yang mungkin berguna bagi masyarakat yang kelak
yang ingin melakukan pengangkatan anak, pihak akademis dan orang-orang yang
membaca tesis1 ini kelak.