Você está na página 1de 17

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

APBN dan APBD

Disusun Oleh :
Agung Susanto

(F3313008)

Dhema Novelasari

(F3313039)

Nur Dzatu Ummu Khollila

(F3313077)

Warih Fitri Wulandari

(F3313106)

PROGRAM STUDI D3 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2014/2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirabbilaalamin, puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan


waktu, kemudahan dan petunjuk kepada kami, sehingga tugas Akuntansi Sektor Publik dengan
judul APBN dan APBD ini dapat terselesaikan. Serta salam semoga selalu kita kirimkan
kepada jujungan kita Nabi Muhammad SAW. Sehingga mudah-mudahan kita mendapat syafaat
beliau dihari akhir kelak, Amin.
Dalam proses sampai dengan tersusunnya tugas ini, kami telah memperoleh bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya dengan segala kerendahan hati kami
mengucapkan terima kasih.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini jauh dari sempurna, baik dari segi
penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun, khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam
bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.

Bima, 25 Oktober 2016

Penyus
un

DAFTAR ISI
APBN dan APBD

KATA PENGANTAR...................................................................................0
DAFTAR ISI............................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................3
A.

Latar Belakang.................................................................................................... 3

B.

Tujuan Penulisan.................................................................................................. 3

C.

Rumusan Masalah................................................................................................ 3

9.

Contoh APBN dan RAPBN?................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................5
A.

Pengertian APBN dan APBD................................................................................... 5

B.

Landasan Hukum APBN dan APBD..........................................................................5

C.

Fungsi APBN dan APBD........................................................................................ 6

D.

Tujuan Penyusunan APBN dan APBD........................................................................6

E.

Sumber-Sumber Pendapatan Negara dan Daerah...........................................................6

F.

Proses Penyusunan APBN dan APBD........................................................................7

G.

Sistematika Penyusunan APBN Dan APBD.................................................................9

H. Peran APBN dan APBD Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah.................................11


I.

Contoh APBN Tahun 2004 dan RAPBN Tahun 2005...................................................11

BAB III KESIMPULAN.............................................................................15


DAFTAR PUSTAKA..................................................................................16

APBN dan APBD

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam usaha meningkatkan pembangunan ekonomi, yang biasanya diukur dengan
pertambahan pendapatan nasional, terdapat beberapa instrumen kebijakan yang dapat
digunakan. Salah satu instrumen kebijakan tersebut adalah kebijakan fiskal yang
berhubungan erat dengan masalah penerimaan dan pengeluaran negara yang dilakukan
pemerintah.
Pemerintah memegang peranan yang penting dalam mengatur, menstabilkan, dan
mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat. Untuk itu pemerintah memerlukan biaya
yang sangat besar dalam rangka melaksanakan tugas-tugas dan fungsinya yang banyak itu.
Pemerintah harus dapat menggali sumber dana tersebut dan menentukan penggunaan dana
yang diperoleh. Sumber dana serta penggunaan dana inilah yang dipelajari dalam keuangan
negara / daerah yang dituangkan dalam APBN/APBD.
Penerimaan dan pengeluaran negara berkaitan dengan masalah keuangan negara,
sedangkan penerimaan dan pengeluaran daerah berkaitan dengan masalah keuangan
daerah. Seperti halnya keuangan negara yang identik dengan APBN, keuangan daerah
identik dengan APBD.
B. Tujuan Penulisan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mengetahui pengertian dari APBN dan APBD.


Mengetahui landasan hukum apa yang menjadi dasar terbentuknya APBN dan APBD.
Mengetahui fungsi dari APBN dan APBD.
Mengetahui tujuan penyusunan APBN dan APBD.
Mengetahui sumber-sumber pendapatan negara dan daerah didapatkan.
Mengerti mengenai proses penyusunan APBN dan APBD.
Mengerti mengenai sistematika penyusunan APBN dan APBD.
Mengetahui peran APBN dan APBD dalam perencanaan pembangunan daerah.
Mengetahui sekilas contoh APBN tahun 2004 dan RAPBN tahun 2005.

C. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa pengertian APBN dan APBD?


Landasan hukum apa yang menjadi dasar APBN dan APBD?
Apa fungsi APBN dan APBD?
Apa tujuan penyusunan APBN dan APBD?
Darimana sajakah sumber-sumber pendapatan negara dan daerah didapatkan?
Bagaimana proses penyusunan APBN dan APBD?
Bagaimana sistematika penyusunan APBN dan APBD?
Bagaimanakah peran APBN dan APBD dalam perencanaan pembangunan daerah?
APBN dan APBD

9. Contoh APBN dan RAPBN?

BAB II PEMBAHASAN

APBN dan APBD

A. Pengertian APBN dan APBD


1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah kebijakan fiskal
dalam konteks pembangunan Indonesia. APBN pada hakikatnya merupakan rencana
kerja pemerintah yang akan dilakukan dalam satu tahun yang dituangkan dalam angkaangka rupiah. Secara singkat, APBN didefinisikan sebagai daftar sistematis yang
memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun yang
dinyatakan dalam rupiah. Anggaran mengandung sisi penerimaan dan sisi pengeluaran
dengan skala yang lebih besar dan jenis kegiatan yang rumit.
2. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Seperti halnya kebijakan fiskal dalam APBN, keuangan daerah yang ditunjukkan
dalam APBD juga menggambarkan tentang perkembangan kondisi keuangan dari suatu
pemerintahan daerah. APBD adalah suatu gambaran tentang perencanaan keuangan
daerah yang terdiri atas proyeksi penerimaan dan pengeluaran suatu pemerintahan
daerah dalam suatu periode tertentu.
B. Landasan Hukum APBN dan APBD
1. Landasan Hukum APBN
Landasan hukum APBN, yaitu Pasal 23 UUD 1945 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bunyi pasal 23:
ayat (1): Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan
keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan
secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
ayat (2): Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara
diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan
pertimbangan
Dewan
Perwakilan
Daerah.
ayat (3): Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah
menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.
2. Landasan Hukum APBD
Landasan hukum APBD adalah Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, tentang
Pemerintahan Daerah dalam pasal 78 ayat 1 yang menyatakan bahwa penyelenggaraan
tugas pemerintah daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD).
C. Fungsi APBN dan APBD
Fungsi APBN dan APBD menurut Undang-Undang No. 17 Tahun 2003, yaitu
sebagai berikut.
1. Fungsi Otorisasi
Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara dan daerah menjadi dasar
untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
APBN dan APBD

2. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran negara dan daerah menjadi
pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang
bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran negara dan daerah menjadi
pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi
Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran negara dan daerah harus diarahkan
untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan
efisiensi dan efektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi
Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran negara dan daerah
harus memerhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
D. Tujuan Penyusunan APBN dan APBD
Tujuan penyusunan APBN atau APBD adalah sebagai pedoman penerimaan dan
pengeluaran negara atau daerah, agar terjadi keseimbangan yang dinamis, demi tercapainya
peningkatan produksi, peningkatan kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi. Adapun tujuan akhirnya adalah mencapai masyarakat yang adil dan makmur
material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
E. Sumber-Sumber Pendapatan Negara dan Daerah
1. Sumber-Sumber Pendapatan Negara
Di Indonesia penerimaan negara, dapat dibedakan atas dua sumber, yaitu sebagai
berikut:
a. Penerimaan dalam negeri. Penerimaan ini terdiri atas penerimaan minyak dan gas
bumi (migas) dan penerimaan di luar migas.
b. Penerimaan pembangunan. Penerimaan ini terdiri atas, bantuan program dan
bantuan proyek.
Penerimaan dalam negeri memegang peranan yang penting dalam membiayai
kegiatan pembangunan. Dengan meningkatkan kegiatan pembangunan tersebut, maka
penerimaan dalam negeri pun terus diusahakan agar meningkat. Dalam
perkembangannya, ketergantungan penerimaan dalam negeri pada sektor migas harus
dikurangi. Dengan demikian, penerimaan dalam negeri dari sektor di luar migas, dalam
hal ini penerimaan pajak, dan bukan pajak, perlu ditingkatkan. Dana luar negeri masih
tetap dimanfaatkan terutama untuk melengkapi sumber pembiayaan dalam negeri.
Walaupun demi kian, jumlah serta persyaratannya (antara lain tidak adanya ikatan
politis) harus dipertimbangkan.

APBN dan APBD

2. Sumber-Sumber Pendapatan Pemerintah Daerah


Sebelum berlaku otonomi daerah, sumber keuangan daerah, baik provinsi,
kabupaten maupun kota, yaitu menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 tentang
Pemerintahan Daerah, yaitu sebagai berikut:
a. Penerimaan Asli Daerah (PAD)
b. Bagi hasil pajak dan bukan pajak
c. Bantuan pusat (APBN) untuk daerah tingkat I dan II
d. Pinjaman daerah
e. Sisa lebih anggaran tahun lalu
f. Lain-lain penerimaan daerah yang sah
Sejalan dengan adanya pelimpahan sebagian wewenang pemerintahan dari pusat
ke daerah melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang. No. 25 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang No. 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Daerah, terjadi perubahan dalam sumber pendapatan daerah, yakni dengan
dimasukkannya komponen dana perimbangan dalam struktur APBD.
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk
membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana
perimbangan merupakan bentuk pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal pemerintah
pusat di era otonomi daerah.
F. Proses Penyusunan APBN dan APBD
1. Proses Penyusunan APBN
Berdasarkan UUD 1945, pemerintah wajib menyusun APBN. Sebelum menjadi
APBN, pemerintah menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(RAPBN). Di Indonesia, pihak yang bertugas menyusun RAPBN adalah pemerintah,
dalam hal ini presiden dibantu para menterinya. Biasanya, presiden menyusun RAPBN
dalam bentuk nota keuangan. Nota keuangan tersebut kemudian disampaikan kepada
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disidangkan. RAPBN biasanya disampaikan
sebelum tahun anggaran yang akan dilaksanakan. RAPBN yang diajukan presiden
kepada DPR akan disidangkan dan dibahas kelayakannya oleh DPR.
Jika disetujui oleh DPR, RAPBN tersebut akan menjadi APBN. APBN ini akan
dikembalikan kepada pemerintah untuk dilaksanakan. Jika RAPBN tersebut ditolak
DPR, pemerintah harus menggunakan kembali APBN ditolak
tahun lalu tanpa perubahan.
APBN Tahun lalu
Untuk lebih jelasnya, lihat proses penyusunan APBN pada Bagan 1 berikut.
Pemerintah
Presiden

diajukan
DPR
diterima
APBN/UU

RAPBN disidangkan
Menyusun RAPBN dalam Bentuk Nota Keuangan

APBN dan APBD

Dikembalikan untuk dilaksanakan

Bagan 1 Proses Penyusunan APBN


2. Proses Penyusunan APBD
APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap
tahun dengan Peraturan Daerah.
APBD terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran
belanja, dan pembiayaan. Pendapatan daerah berasal dari pendapatan asli daerah, dana
perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah.
Sebagaimana penyusunan APBN, maka langkah-langkah penyusunan APBD
adalah sebagai berikut:
Pemerintah Daerah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD,
disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD pada
minggu pertama bulan Oktober tahun sebelumnya. Pengambilan keputusan oleh
DPRD mengenai Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dilakukan
selambat-lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan
dilaksanakan.
Sesudah RAPBD disetujui oleh DPR, RAPBD kemudian ditetapkan menjadi
APBD melalui Peraturan daerah. Apabila DPRD tidak menyetujui Rancangan
Peraturan Daerah yang diajukan Pemerintah Daerah, maka untuk membiayai
keperluan setiap bulan Pemerintah Daerah dapat melaksanakan pengeluaran
setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya.
Setelah APBD ditetapkan dengan peraturan daerah, pelaksanaannya
G. Sistematika Penyusunan APBN Dan APBD
1. Sistematika Penyusunan APBN
Struktur anggaran pendapatan belanja terdiri dari:
a. Pendapatan negara yaitu:
Penerimaan pajak.
Penerimaan bukan pajak.
b. Belanja Negara yaitu:
Belanja pemerintah pusat.
Belanja daerah.
c. Pembiyaan yaitu
Pembiyaan dalam negeri.
Pembiyaan luar negeri.
APBN dan APBD

2. Sistematika Penyusunan APBD


Struktur anggaran pendapatan dan belanja daerah:
a. Pendapatan: pendapatan asli daerah, pendapatan perimbangan, dan pendapatan
daerah lain lain yang sah.
b. Belanja: belanja aparatur daerah, belanja pelayanan publik, belanja bagi hasil
dan bantuan keuangan, belanja tak tersangka.
c. Pembiyaan: penerimaan dan pengeluaran daerah.

APBN dan APBD

PEMERINTAH PUSAT

Pokok-pokok kebijakan fiskal &


kerangka ekonomi makro.

Menteri / pimpinan lembaga


selaku pengguna anggaran /
pengguna barang menyusun
rencana kerja dan anggaran
kementerian berdasarkan
Pemerintah Pusat.

Menteri Keuangan, sebagai


bahan penyusunan RUU tentang
APBN.

Pemerintah Pusat mengajukan


RUU tentang APBN, disertai
nota keuangan dan dokumendokumen pendukungnya.

Revisi jika ada perubahan dari


tindak lanjut usulan DPR.

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

Dibahas bersama Pemerintah


Pusat dalam pembicaraan
pendahuluan RAPBN,
membahas kebijakan umum dan
prioritas anggaran untuk
dijadikan acuan bagi setiap
kementerian negara/lembaga
dalam penyusunan usulan
anggaran.

Dibahas dalam pembicaraan


pendahuluan RAPBN.

Pembahasan RUU tentang


APBN dilakukan sesuai dengan
UU yang mengatur susunan dan
kedudukan DPR & dapat
mengajukan usul yang
mengakibatkan perubahan
jumlah penerimaan dan
pengeluaran dalam RUU
tentang APBN.

Pembahasan revisi dan


pengambilan keputusan oleh
DPR mengenai RUU tentang
APBN.

APBN yang disetujui oleh DPR


terinci sampai dengan unit
organisasi, fungsi, program,
kegiatan, dan jenis belanja.

Sistematika Penyusunan APBN

Apabila DPR tidak menyetujui


RUU tersebut, Pemerintah Pusat
dapat melakukan pengeluaran
setinggi-tingginya sebesar angka
APBN tahun anggaran
sebelumnya.
APBN dan APBD

10

Sistematika Penyusunan APBD

H. Peran APBN dan APBD Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah


Dengan APBN dan APBD, dapat diketahui arah, tujuan, serta prioritas
pembangunan yang akan dan sedang dilaksanakan. Dengan demikian, peningkatan
pembangunan sarana dan prasarana ekonomi juga akan meningkatkan produktivitas
faktor-faktor produksi. Peningkatan sumber daya manusia yang dapat menerapkan
teknologi tinggi dalam proses produksi, sehingga hasil-hasil produksi semakin meningkat.
Peningkatan produksi yang tidak dikonsumsi akan meningkatkan tabungan masyarakat.
Akhirnya, peningkatan tabungan akan meningkatkan investasi sehingga semakin banyak
barang dan jasa yang tersedia bagi masyarakat.
I. Contoh APBN Tahun 2004 dan RAPBN Tahun 2005

Periode APBN di Indonesia pada masa Orde Baru berawal dari 1 April sampai
dengan 31 Maret tahun berikutnya. Pada pemerintahan saat ini, tahun anggaran meliputi
masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.
Contoh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2004 dan Rencana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2005
APBN 2004 dan RAPBN 2005
(miliar rupiah)
APBN
(1)

(2)

%
thd
POB
(3)

RAPBN
(4)

APBN dan APBD

%
thd
PDB
(5)
11

A. Pendapatan Negara dan Hibah


I. Penerimaan Dalam Negeri
1. Penerimaan Perpajakan
a. Pajak Dalam Negeri
i. Pajak penghasilan
1. Migas
2. Non Migas
(1)
ii. Pajak pertambahan nh!ai
iii. Pajak bumi dan bangunan
iv. BPHTB
v. Cukai
vi. Pajak lainnya
b. Pajak Perdagangan Internasional
i. Bea masuk
ii. Pajak/pungutan ekspor
2. Penerimaan Bukan Pajak
a. Penerimaan SDA
i. Migas
ii. Non Migas
b. Bagian Laba BUMN
c. PNBP Lainnya
II. Hibah
B. Belanja Negara
I. Belanja Pemerintah Pusat
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang
3. Belanja Modal
4. Pembayaran Bunga Utang
a. Utang Dalam Negeri
b. UtangLuarNegeri
5. Subsidi
a. Perusahaan Negara
i. Lembaga Keuangan
ii. Lembaga Non Keuangan
b. Perusahaan Swasta
6. Belanja Hibah
7. Bantuan Sosial
8. Belanja Lain-lain
II. Belanja Daerah
1. Dana Perimbangan
a. Dana Bagi Hasil
b. Dana Alokasi Umum
c. Dana Alokasi Khusus
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
a. Dana Otonomi Khusus
b. Dana Penyesuaian
C. Keseimbangan Primer
D. Surplus/Defisit Anggaran (A - B)

349,933.7 17.5
349,299.5 17.5
272,175.1 13.6
260,223.9 13.0
133,967.6
6.7
13,132.6
0.7
120,835.0
6.0
(2)
(3)
86,272.7
4.3
8,030.7
0.4
2,667.9
0.1
27,671.0
1.4
1,614.0
0.1
11,951.2
0.6
11,636.0
0.6
315.2
0.0
77,124.4
3.9
47,240.5
2.4
44,002.2
2.2
3,238.3
0.2
11,454.2
0.6
18,429.8
0.9
634.2
0.0
374,351.3 18.7
255,309.1 12.8
57,235.2
2.9
35,639.9
1.8
39,775.1
2.0
65,651.0
3.3
41,275.9
2.1
24,375.1
1.2
26,638.1
1.3
26,589.5
1.3
853.4
0.0
25,736.1
1.3
48.6
0.0
14,293.3
0.7
16,076.5
0.8
119,042.3
6.0
112,186.9
5.6
26,927.8
1.3
82,130.9
4.1
3,128.1
0.2
6,855.4
0.3
1,642.6
0.1
5,212.8
0.3
41,233.4
2.1
(24,417.6) (1.2)

377,886.3
377,136.3
297,510.0
285,147.3
141,858.5
13,568.6
128,289.9
(4)
98,828.4
10,272.2
3,214.7
28,933.6
2,039.9
12,362.7
12,017.9
344.8
79,626.3
50,941.4
47,121.1
3,820.3
9,424.0
19,260.9
750.0
394,778.5
264,877.3
62,238.1
30,971.8
42,970.0
63,986.8
38,844.5
25,142.4
33,645.2
33,603.0
1,153.0
32,450.0
42.2
16,268.6
14,796.8
129,901.2
123,448.2
31,217.8
88,130.4
4,100.0
6,453.0
1,762.6
4,690.4
47,094.7
(16,892.2)

APBN dan APBD

17.2
17.2
13.6
13.0
6.5
0.6
5.9
(5)
4.5
0.5
0.1
1.3
0.1
0.6
0.5
0.0
3.6
2.3
2.2
0.2
0.4
0.9
0.0
18.0
12.1
2.8
1.4
2.0
2.9
1.8
1.1
1.5
1.5
0.1
1.5
0.0
0.7
0.7
5.9
5.6
1.4
4.0
0.2
0.3
0.1
0.2
2.1
(0.8)
12

E.

Pembiayaan
I. Pembiayaan Dalam Negeri
1. Perbankan dalam negeri
2. Non-perbankan dalam negeri
a. Privatisasi & Penj aset prog restrukt
b. Surat Utang Negara (neto)
II. Pembiayaan Luar negeri (neto)
1. Penarikan Pinjaman LN (bruto)
a. Pinjaman Program
b. Pinjaman Proyek
2. Pembyr. Cicilan Pokok Utang LN

24,417.6
1.2
40,556.3
2.0
19,198.6
1.0
21,357.7
1.1
10,000.0
0.5
11,357.7
0.6
(16,138.7) (0.8)
28,237.0
1.4
8,500.0
0.4
19,737.0
1.0
(44,375.7) (2.2)

16,892.2
37,085.8
9,000.0
28,085.8
7,500.0
20,585.8
(20,193.6)
26,642.9
8,600.0
18,042.9
(46,836.5)

0.8
1.7
0.4
1.3
0.3
0.9
(0.9)
1.2
0.4

Dari data APBN tahun 2004 dan RAPBN 2005 di atas menunjukkan dari tahun ke tahun
mengalami kenaikan, baik kuantitatif maupun secara kualitatif. Kenaikan itu sebabkan oleh
meningkatnya kegiatan ekonomi yang menyebabkan kenaikan anggaran penerimaan dan
pengeluaran.
Format dan struktur APBN berubah dari T-Account menjadi I-Account. Format dan
struktur I-account yang berlaku saat ini terdiri atas (i) pendapatan negara dan hibah, (ii) belanja
negara, dan (iii) pembiayaan.
Konversi belanja negara menurut klasifikasi ekonomi dari format lama ke format baru
disajikan dalam tabel belanja negara berikut ini

Perubahan Format dan Struktur APBN


T - Acc ount
PENE RIMAAN
A. Penerimaan Dalam Negeri
I. Migas
II.
Non Migas
1. Pajak
2. Bukan pajak
- Privatisasi
- Asset recovery
B. Penerimaan Pembangunan
I. Pinjaman Program
II.
Pinjaman Proyek

I - A ccount
PEN GE LUARAN

A. Pengeluaran Rutin
I. Belanja Pegawai
II.
Belanja Barang
III.
Subsidi Daerah
Otonom
IV.
Pembayaran Bunga
&
cicilan Hutang
1. Bunga
2. Pokok
B. Pengeluaran Pembangunan
I. Pembiayaan Rupiah
1. Bunga Kredit Program
2. Bunga Obl.
Restrukt. Perbankan
II. Pembiayaan Proyek

Berimbang & Dinamis

A. Penerimaan Negara dan Hibah


I. Penerimaan Dalam Negeri
1. Penerimaan Perpajakan
a. Pajak Dalam Negeri
a.1. Pajak
Penghasilan
- Migas
- Non migas
2. Penerimaan Bukan Pajak
a. Minyak
b. Gas
B. Belanja Negara
I. Pemerintah Pusat
Pengeluaran Rutin
Pengeluaran pembangunan
II.Dana Perimbangan
C. Keseimbangan Primer
D. Surplus/defisit Anggaran
E. Pembiayaan (Financing)

Desfisit dibiayai dengan sumber


Pembiyaan dalam & Luar Negeri
APBN dan APBD

13

Kebijaksanaan APBN mungkin berbeda-beda menurut kebijaksanaan umum yang


dilaksanakan. Mungkin kebijaksanaan APBN Indonesia tahun 2010, tidak perlu lagi didasarkan
atas asas berimbang dan dinamis. Hal itu, sekali lagi, tergantung pada kebijaksanaan umum
yang meliputi perkembangan politik, ekonoini dan sosial budaya.

BAB III KESIMPULAN

APBN dan APBD

14

APBN merupakan wujud pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan tiap tahun
dengan undang-undang. APBN disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan
pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara. Penyusunan
Rancangan APBN, berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah dalam rangka mewujudkan
tercapainya tujuan bernegara.
APBD merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh
DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Untuk menyusun APBD, pemerintah daerah
harus terlebih dahulu menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang merupakan
penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan
menggunakan bahan dari Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) untuk
jangka waktu 1 tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

APBN dan APBD

15

Nordiawan, Deddi. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.


http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/05/pengertian-apbn-dan-abpd-fungsitujuan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Anggaran_Pendapatan_dan_Belanja_Negara
http://layarasdos.blogspot.com/2014/06/sistematika-penyusunan-apbn-danapbd.html
http://darikelas.blogspot.com/
www.wikipedia.com
www.google.com

APBN dan APBD

16