Você está na página 1de 13

Audit Investigasi

Audit investigasi adalah kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu,


periodenya tidak dibatasi, lebih spesifik pada area-area pertanggungjawaban yang
diduga mengandung inefisiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang, dengan
hasil audit berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bergantung pada derajat
penyimpangan wewenang yang ditemukan. Tujuan audit investigasi adalah
mengadakan temuan lebih lanjut atas temuan audit sebelumnya, serta melaksanakan
audit untuk membuktikan kebenaran berdasarkan pengaduan atau informasi dari
masyarakat.
Tanggung jawab pelaksanaan audit investigasi adalah pada lembaga audit atau
satuan pengawas. Prosedur dan teknik audit investigasi mengacu pada standar
auditing serta disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi. Dalam merencanakan dan
melaksanakan audit investigasi, auditor mengunakan skeptic profesionalisme serta
menerapkan azas praduga tidak bersalah. Tim yang melaksanakan audit investigasi
sebaiknya oleh tim atau minimal salah satu auditor yang telah mengembangkan
temuan audit sebelumnya. Tim audit baru dapat dibentuk apabila sumber informasi
berasal dari informasi dan pengaduan masyarakat. Laporan hasil audit investigasi
menetapkan siapa yang terlibat atau bertanggungjawab, dan ditandatangani oleh
kepala lembaga satuan audit. Adapun sumber informasi audit investigasi adalah:
1.

Pengembangan temuan audit sebelumnya,

2.

Adanya pengaduan dari masyarakat,

3. Adanya permintaan dari dewan komisaris atau DPR untuk melakukan audit,
misalnya karena adanya dugaan manajemen/ pejabat melakukan penyelewengan.
Program audit untuk audit investigasi umumnya sulit ditetapkan terlebih dahulu
atau dibakukan. Kalau audit investigasi yang dilaksanakan merupakan pengembangan
temuan audit sebelumnya, seperti financial audit dan operational audit, auditor dapat
menyusun langkah audit yang hendak dilaksanakan. Meskipun terkadang setelah
dilaksanakan masih banyak mengalami penyesuaian atau perubahan. Kertas kerja
audit biasa disusun sebagai berikut:
1. kertas kerja audit yang umum, yaitu menyangkut data umum objek atau kegiatan
yang diperiksa termasuk ketentuan yang harus dipatuhi,
2. kertas kerja audit untuk setiap orang yang diduga terlibat, yaitu berisi antara lain;
identitas seseorang, tindakan yang melanggar hukum serta akibatnya yang
dilengkapi dengan bukti yang mendukung. Selain itu, dapat pula disusun per
tahapan transaksi seperti pada kasus kredit macet, antara lain; tahap permohonan
kredit, tahap perhitungan 5 C, tahap pencairan dan penggunaan kredit, serta tahap
setelah kredit cair sampai dinyatakan macet. Kertas kerja harus dibuat
sedemikian rupa, sehingga mudah dibuat laporan khusus.
Adapun hasil audit investigasi pada umumnya dapat disimpulkan berikut ini.
1. Apa yang dilaporkan masyarakat tidak terbukti.

2. Apa yang diadukan terbukti, misalnya terjadi penyimpangan dari suatu aturan
atau ketentuan yang berlaku, namun tidak merugikan negara atau perusahaan.
3. Terjadi kerugian bagi perusahaan akibat perbuatan melanggar hukum yang
dilakukan oleh karyawan.
4. Terjadi ketekoran/kekurangan kas atau persediaan barang milik Negara, dan
bendaharawan tidak dapat membuktikan bahwa kekurangan tersebut diakibatkan
bukan karena kesalahan atau kelalaian bendaharawan.
5. Terjadi kerugian negara akibat terjadi wanprestasi atau kerugian dari perikatan
yang lahir dari undang-undang.
6. Terjadi kerugian negara akibat perbuatan melawan hukum dan tindak pidana
lainnya.
Laporan audit investigasi bersifat rahasia, terutama apabila laporan tersebut
akan diserahkan kepada kejaksaan. Dalam menyusun laporan, auditor tetap
menggunakan azas praduga tak bersalah. Pada umumnya audit investigasi berisi:
dasar audit, temuan audit, tindak lanjut dan saran. Sedangkan laporan audit yang akan
diserahkan kepada kejaksaan, temuan audit memuat: modus operandi, sebab
terjadinya penyimpangan, bukti yang diperoleh dan kerugian yang ditimbulkan.
Sebagaimana halnya penyelidikan dan penyidikan, audit investigatif bisa
dilaksanakan secara REAKTIF atau PROAKTIF

1. REAKTIF
Audit investigatif dikatakan bersifat reaktif apabila auditor melaksanakan audit
setelah menerima atau mendapatkan informasi dari pihak lain mengenai
kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang
bersifat reaktif umumnya dilaksanakan setelah auditor menerima atau
mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi misalnya dari auditor lain
yang melaksanakan audit reguler, dari pengaduan masyarakat, atau karena
adanya permintaan dari aparat penegak hukum. Karena sifatnya yang reaktif
maka auditor tidak akan melaksanakan audit jika tidak tersedia informasi tentang
adanya dugaan atau indikasi kecurangan dan kejahatan.
2. PROAKTIF
Audit investigatif dikatakan bersifat proaktif apabila auditor secara aktif
mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi tersebut untuk menemukan
kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan sebelum melaksanakan
audit investigatif. Auditor secara aktif mencari, mengumpulkan informasi dan
menganalisis

informasi-informasi

yang

diperoleh

untuk

menemukan

kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang bersifat


proaktif perlu dilakukan pada area atau bidang-bidang yang memiliki potensi
kecurangan atau kejahatan yang tinggi. Audit yang bersifat proaktif dapat
menemukan kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan secara lebih dini
sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi kecurangan atau kejahatan yang
lebih besar. Selain itu Audit investigatif yang bersifat proaktif juga dapat
menemukan kejahatan yang sedang atau masih berlangsung sehingga

pengumpulan bukti untuk penyelidikan, penyidikan dan penuntutan kejahatan


tersebut lebih mudah dilaksanakan.
Hasil dari suatu audit investigatif, baik yang bersifat reaktif maupun proaktif
dapat digunakan sebagai dasar penyelidikan dan penyidikan kejahatan oleh aparat
penegak hukum. Berdasarkan hasil audit tersebut, aparat penegak hukum akan
mengumpulkan bukti-bukti yang relevan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku
untuk kepentingan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan.
Mekanisme Audit
Mekanisme dalam melakukan Audit Investigasi, yaitu:
1. Mengumpulkan data dan informasi serta menganalisis adanya indikasi korupsi:
Audit investigatif yang bersifat proaktif dimulai dengan pengumpulan data dan
informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diaudit. Terdapat
sejumlah besar data dan informasi yang dapat dikumpulkan dari berbagai sumber
untuk mengidentifikasi adanya indikasi kecurangan dan kejahatan. (misalnya
data aliran dana keluar perusahaan, data kekayaan orang-orang yang menjadi key
person di perusahaan, informasi dari media massa, dsb). Selanjutnya berbagai
data dan informasi tersebut dianalisis sesuai dengan tujuan dari audit investigatif
yang akan dilaksanakan

2.

Mengembangkan hipotesis kejahatan dan merencanakan audit; diantaranya:


Lakukan analisis terhadap perkembangan produk perusahaan di pasaran,
bandingkan dengan perusahaan sejenis, analisis rugi karena apa? Dapatkan
informasi mengenai siapa yang berwenang/ melakukan otorisasi uang keluar
dengan nominal yang signifikan, dll

3. Melaksanakan audit untuk mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung hipotesis

Dalam melaksanakan audit investigatif maka auditor harus menerapkan


pendekatan yang relatif berbeda dengan pendekatan yang dilaksanakan dalam
audit non investigative, diantaranya adalah:

Auditor melaksanakan wawancara terhadap saksi yang mendukung audit dan


menganalisa dokumen yang tersedia;

Auditor menggunakan bukti tidak langsung yang tersedia untuk meyakinkan


saksi-saksi agar bisa mendapatkan bukti-bukti yang secara langsung
menunjukkan terjadinya kecurangan atau kejahatan;

Jika sudah mendapatkan bukti-bukti yang cukup, auditor dapat mewawancarai


orang-orang yang diduga melakukan kecurangan atau kejahatan terutama
untuk membuktikan adanya unsur niat atau kesengajaan.

Auditor juga harus mampu mengidentifikasi dan mengungkap adanya


indikasi/ keberadaan fraud dengan pengungkapkan mengenai:

What/ Apa yang menjadi masalah indikasi fraud dalam perusahaan?

Who/ Siapa yang diduga/ terindikasi melakukan fraud?

Where/ Dimana indikasi suatu fraud terjadi?

When/ Kapan pelaku melakukan fraud tersebut?

Why/ Mengapa fraud bisa terjadi di perusahaan?

How(how much)/ Bagaimana fraud bisa terjadi? dan berapa besar kerugian
akibat fraud tersebut?

Dokumentasi Audit; auditor harus mendokumentasikan hasil auditnya dalam


kertas kerja audit, kertas kerja akan direview team leader dan manajer audit
(Partner in Charge) dan dikumpulkan serta disusun secara sistematis di dalam
suatu tempat penyimpanan dokumen

Penyelesaian Pelaksanan Audit; Jika auditor telah melaksanakan program


kerja pemeriksaan yang diperlukan dan mengumpulkan bukti-bukti yang dapat
menjawab pertanyaan 5W+H yang ada maka auditor dapat menghentikan
audit dan menyusun Laporan Hasil Audit Investigatif

4.

Penyusunan Laporan Hasil Audit


Setelah selesai melaksanakan audit maka Ketua Tim Audit menyusun laporan
audit investigatif, yang disusun dengan memperhatikan ketentuan penyusunan
laporan audit investigatif sebagai berikut:
a. Akurat dalam arti bahwa seluruh materi laporan misalnya menyangkut
kecurangan atau kejahatan yang terjadi serta informasi penting lainnya,
termasuk penyebutan nama, tempat atau tanggal adalah benar sesuai dengan
bukti-bukti yang sudah dikumpulkan;
b.

Jelas dalam arti bahwa laporan harus disampaikan secara sistematik dan
setiap informasi yang disampaikan mempunyai hubungan yang logis.
Sementara itu, istilah-istilah yang bersifat teknis harus dihindari dan kalau
tidak bisa dihindari harus dijelaskan secara memadai;

c. Berimbang dalam arti bahwa laporan tidak mengandung bias atau prasangka
dari auditor yang menyusun laporan atau pihak-pihak lain yang dapat
mempengaruhi auditor. Laporan hanya memuat fakta-fakta dan tidak memuat
opini atau pendapat pribadi auditor
d. Relevan dalam arti bahwa laporan hanya mengungkap informasi yang
berkaitan langsung dengan kecurangan atau kejahatan yang terjadi.

e. Tepat waktu dalam arti bahwa laporan harus disusun segera setelah pekerjaan
lapangan selesai dilaksanakan dan segera disampaikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.

Studi kasus
Contoh Kasus Audit Investigasi
Pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah Tahun 2007 Pada Pemkab Jeneponto di
Bontosunggu, Makassar
1. Tujuan Investigasi
Tujuan audit investigasi ini adalah untuk mengetahui dan menentukan apakah
temuan audit keuangan atas Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten
Jeneponto di Bontosunggu Tahun Anggaran 2003 khususnya temuan tentang
Belanja

Modal

Bangunan

Gedung

Perwakilan

di

Jakarta

sebesar

Rp1.500.000.000,00 dan pelaksanaan pembebasan tanah untuk pembangunan


Waduk Kelara-Kareloe sebesar Rp5.000.000.000,00, memiliki cukup bukti dan
memenuhi syarat untuk diidentifikasi sebagai Tindak Pidana Korupsi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

2. Kesimpulan
Hasil pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah Tahun 2003 Pada Pemkab
Jeneponto di Bontosunggu, Makassar diketahui ada indikasi pemyimpanganpenyimpangan atas :

belanja modal bangunan gedung perwakilan (Mess Pemda) di Jakarta sebesar


Rp. 1.500.000.000 yang telah direalisasikan. Dari pembelian tersebut terjadi
kemahalan harga yang merugikan Pemkab sebesar Rp. 1.211.811.400 (Rp.
1.500.000.000- Rp. 288.186.000) belum termasuk harga perabot. Terjadinya
penyimpangan tersebut karena pelaksanaan pembeliannya tidak melalui
prosedur sesuai peraturan yang berlaku.

pembebasan tanah untuk pembangunan Waduk Kelara-Kareloe sebesar Rp.


5.000.000.000 yang direalisasikan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar
Rp. 2.080.000.000 dan tahap kedua Rp. 2.920.000.000. Apabila Pemda yang
langsung melaksanakan pembelian tanah kepada pemilik tanah yang sah
hanya Rp. 2.634.055.000 berati dapat menghemat sebesar Rp. 2.365.945.000
(Rp. 5.000.000.000 Rp. 2.634.055.000).

3. Langkah-langkah Audit Investigasi

Menelaah informasi awal dari Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah


APBD Tahun 2003 Pemerintah Kabupaten Jeneponto

Melakukan analisa APBD, Perubahan APBD Tahun Anggaran 2002 dan


2003, Perhitungan APBD Tahun Anggaran 2002 dan 2003, DIPDA/Revisi
DIPDA Tahun Anggaran 2002 serta DASK Tahun Anggaran 2003 Pemerintah
Daerah Kabupaten Jeneponto

Melakukan analisa dokumen-dokumen pengadaan Mess Pemerintah


Kabupaten Jeneponto di Jakarta dan pembebasan tanah untuk lokasi
pembangunan Waduk Kelara-Kareloe

Melakukan konfirmasi kepada instansi/pihak-pihak terkait dengan pengadaan


Mess Pemda Kabupaten Jeneponto di Jakarta dan pembangunan Waduk
Kelara-Kareloe

Melakukan pemeriksaan fisik Mess Pemerintah Kabupaten Jeneponto di


Jakarta dari tanggal 26 September 2005 samapai dengan 30 September 2005
dan lokasi pembebasan tanah Waduk Kelara-Kareloe pada tanggal 3 Oktober
2005

Melakukan perhitungan ulang atas kerugian daerah yang diindikasikan

Melakukan

wawancara

kepada

pihak

terkait

atas

penyimpangan-

penyimpangan tersebut
4. Rekomendasi
Berdasarkan penyimpangan, modus operandi, pihak yang diindikasikan terlibat,
serta indikasi unsur tindak pidana yang telah diidentifikasikan dan setelah
didapatkan alat bukti, kemudian dapat disimpulkan adanya indikasi tindak pidana
korupsi. Tim audit investigasi merekomendasikan agar hasil audit investigasi ini
ditindaklanjuti dengan penyerahan laporan ini kepada Kejaksaan agar dapat
segera diteruskan dengan proses penyidikan oleh Jaksa Penyidik.
5. Dasar Hukum
1. UU No. 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksaan Keuangan
2. UU

No.

15

Tahun

2004

tentang

Pemeriksaan

Atas

Pengelolaan

Pertanggungjawaban Keuangan Negara


3. Rencana Kegiatan Pemeriksaan (RKP) Badan pemeriksaan Keuangan Tahun 2005
4. Surat tugas Pemeriksaan No. 114/ST/XIV.7/08/2005 tanggal 22 Agustus 2005
6. Rekomendasi Untuk Bupati

dan

Untuk menghilangkan penyebab terjadinya penyimpangan ini, Bupati Jeneponto


seharusnya menjalankan sistem yang sudah diatur berdasarkan Keppres 18 Tahun
2000 jo. Keppres No. 80 tahun 2003 yaitu menciptakan 70 sistem pengadaan
barang/jasa dengan mengikuti prinsip dasar dan etika pengadaan barang/jasa
serta melaksanakan mekanisme pengadaan barang/jasa sesuai dengan ketentuan.
Bupati Jeneponto juga seharusnya menciptakan sistem pengendalian manajemen
yang baik terutama dalam hal mekanisme pengeluaran Kas Daerah sebagaimana
diatur dalam Kemendagri No. 29 Tahun 2002.
7. Hasil pertemuan konsultasi dengan penyidik
Belum dilakukan pertemuan konsultasi dengan pihak Kejaksaan, karena
menunggu keputusan dari Sidang Badan dan Pendapat Tim Konsuler Hukum.
Tim Audit Investigasi berpendapat bahwa hasil audit investigasi ini telah
menunjukkan adanya cukup bukti yang mendukung adanya indikasi tindak
pidana korupsi. Tim Audit Investigasi berpendapat bahwa perlu segera
diserahkan kepada pihak Kejaksaan untuk diteruskan dalam tingkat penyidikan.