Você está na página 1de 5

ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. Sistem Pernapasan
Kuncup paru-paru (Lung buds) janin mula-mula terbentuk pada
minggu ke 4 kehamilan. Perkembangan kuncup (budding) dan
pembentukan cabang (Branching) membentuk batang uatam lobulus
bronkopulmonal. Pembentukan cabang terus berlangsung sampai awal
masa kanak-kanak, meskipun percabangan tersebut kurang proliferatif.
Dari bulan ke-6, lobulus berkembang menjadi duktus alveolus. Dan duktus
berkembang menjadi sakus alveolus, yang menjadi alveoli sebenarnya
pada bulan ke 2 kehidupan postnatal. (Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy,
2012)
Karena sakus alveolus berkembang, epitel yang membatasi sakus
tersebut menipis. Kapiler-kapiler paru menekan dinding sakus karena
paru-paru dipersiapkan untuk pertukaran oksigen dan karbondioksida,
menjelang akhir bulan ke 6 kehamilan. Selama minggu terakhir
kehamilan, paru-paru mengeluarkan surfaktan yang mencegah sakus
alveolus kolaps selama ekspirasi, menyebabkan atelektasis diantara
gangguan-gangguan lain. Saat lahir, paru-paru berisi cairan. Cairan ini
dengan cepat dihalau dan di absorbsi karena paru-paru terisi udara.
(Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Struktur tulang toraks (Thoracic cage) bayi yang baru lahir agak
bundar. Secara bertahap diameter transversal bertambah sampai menjadi
bentuk elips seperti dada orang dewasa, kira-kira umur 6 tahun. Struktur
tulang toraks bayi juga agak lunak, yang memungkinkan kerangka dada
tertarik selama pernapasan yang memerlukan usaha besar (Labored
breathing). Bayi mempunyai sedikit jaringan dan kartilago pada trakea dan
bronkus yang memungkinkan struktur ini lebih mudah kolaps. (Hamilton,
1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Jalan napas berkembang lebih cepat daripada kolumna vertebra. Pada
bayi bifurkasi trakea adalah setinggi vertebra torakal ke 4.

Bayi hanya bernapas melalui hidung, dan rongga hidung yang dilewati
lebih sempit. Pernapasan kurang ritmik dibandingkan anak. Pada bayi dan
anak usia dibawah 6 atau 7 tahun, jenis pernapasan adalah pernapasan
diagfragma atau pernapasan abdomen.volume oksigen yang di ekspirasi
oleh bayi dan anak anak lebih besar daripada yang di ekspirasikan oleh
orang dewasa.pada usia 12 tahun anak mempunyai 9x jumlah alveoli
dibandingkan ketika lahir. (Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
B. Sistem Kardiovaskuler
Pada tahap awal perkembangannya, jantung merupakan tuba lurus.
Antara minggu ke 2 dan ke 10 kehamilan jantung mengalami serangkaian
perubahan menjadi organ yang mempunyai 4 ruangan. Jantung mulai
berdenyut pada minggu ke 3 kehamilan. Selama kehidupan janin, jantung
mendistribusikan oksigen dan nutrient yang disuplai melalui plasenta. Paru
paru janin di pintas oleh pirau yang ada selama kehidupan janin. Pada
saat lahir pirau ini mulai menutup karena tahanan pembuluh darah
pulmonal turun. Tahanan pembuluh darah kira kira sama dengan orang
dewasa pada umur 6 minggu. Tahanan pembuluh darah pulmonal relatif
lebih tinggi pada bulan pertama kehidupan bayi, dan kelainan jantung
seperti defek sputum ventrikel ( VSD ) mungkin tidak dapat di deteksi.
(Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Jantung adalah besar dalam hubungan nya dengan ukuran tubuh pada
bayi. Jantung terletak agak horizontal dan menempati sebagian besar
cavum thoraks. Perkembangan paru paru menyebabkan jantung terdesak
ke posisi yang lebih rendah dan pada umur 7 tahun jantung dianggap
seperti posisi jantung orang dewasa yang lebih oblik dan lebih rendah.
Ukuran jantung meningkat pada remaja karena pertumbuhan yang cepat.
(Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Pada saat lahir dinding ventrikel mempunyai ketebalan yang sama,
tetapi dengan kebutuhan sirkulasi ventrikel kiri akan lebih tebal. Dinding
ventrikel yang tipis menghasilkan tekanan sistolik yang rendah pada bayi
baru lahir. Tekanan sistolik meningkat setelah lahir hingga sampai

mendekati tekanan sistolik orang dewasa pada saat pubertas. Pembuluh


darah memanjang dan menebal dalam berespons terhadap tekanan yang
meningkat. (Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
C. Sistem Integumen
Kulit, yang mualai berkembang selama minggu ke 11 kehamilan,
terdiri dari 3 lapisan ( Epidermis, Dermis dan jaringan subkutan ). Kulit
mempunyai 4 fungsi utama : perlindungan terhadap cedera, termoregulasi,
impermeabilitas, dan sensor terhadap sentuhan, nyeri, panas, dan dingin.
(Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Ph kulit yang normal adalah asam, berguna untuk melindungi kulit dari
invasi bakteri. Pada bayi Ph kulit bayi lebih tinggi, kulit lebih tipis, dan
sekresi keringat dan sebum sedikit. Akibatnya, bayi lebih rentan terhadap
infeksi kulit daripada anak yang lebih besar dan orang dewasa.
Selanjutnya, karena pelekatan yang longgar antara dermis dan epidermis,
kulit bayi dan anak anak cenderung mudah melepuh. (Hamilton, 1995
dalam Pattipilohy, 2012)
D. Sistem Pendengaran
Tiga bagian telinga berkembang pada masa embrio dalam waktu yang
bersamaan dengan perkembangan organ organ vital lainnya, oleh karena
itu deformitas pada telinga dapat memberikan petunjuk terhadap
penyimpangan organ lain dalam tubuh. Perkembangan telinga luar dimulai
kira kira pada minggu ke lima kehamilan dan perkembangan telinga
tengah sekitar minggu ke 6. telinga terutama sekali rentan terhadap
penyimpangan pada minggu ke 9 kehamilan. (Hamilton, 1995 dalam
Pattipilohy, 2012)
Neonatus mampu membedakan suara saat lahir dan lebih mudah
berespon terhadap suara dengan nada yang tinggi. Adanya mucus pada
tuba eustachius dapat membatasi pendengaran ketika bayi pertama kali
dilahirkan tetapi segera jelas setelah lahir. Verniks kaseosa pada saluran

telinga luar dapat menyulitakan visualisasi membrane timpani. (Hamilton,


1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Bayi yang lebih muda berespon terhadap kebisingan yang keras
dengan refleks terkejut, berkedip, atau menghentikan gerakan. Bayi, yang
berumur 6 bulan atau lebih mencoba mencari sumber suara. (Hamilton,
1995 dalam Pattipilohy, 2012)
E. Sistem Penglihatan
Mata mulai terbentuk pada 22 hari kehamilan, dan pada 8 minggu
kehamilan dianggap dalam bentuk yang lazim. Struktur dan bentuk mata
terus berkembang sampai anak mencapai usia sekolah. Pada saat lahir
Mielinisasi serat-serat saraf sudah lengkap dan respon pupil dapat
diperoleh. Bayi baru lahir, bagaimanapun juga mempunyai penglihatan
yang terbatas. Neonatus mampu mengenali bentuk ibunya dan mengenali
cahaya dan gerakan, ditandai dengan refleks berkedip. Nistagmus yang
tajam umum terjadi. Kemampuan untuk mengikuti objek tidak
berkembang sampai umur 4 minggu, ketika bayi mampu mengikuti
cahaya dan objek kegaris tengah. Pada umur 8 minggu bayi mampu
mengikuti cahaya melewati garis tengah, walaupun strabismus menjadi
jelas. (Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)
Strabismus konvergen intermiten umum terjadi sampai umur 6 bulan,
kemudian menghilang. Otot otot dianggap berfungsi dengan sempurna
pada umur 1 tahun. Macula dan fovea sentralis secara structural
mengalami diferensiasi pada umur 4 bulan. Maturasi makula dicapai saat
umur 6 tahun. Perbedaan warna ada antara umur 3 dan 5 bulan. Bayi
normalnya berpenglihatan jauh. Seperti anak kecil, bayi melihat dengan
baik pada rentang yang sempit. Ketajaman penglihatan jauh. Seperti anak
kecil, bayi melihat dengan baik pada rentang yang sempit. Ketajaman
penglihatan pada bayi mempunyai rentang dari 20/300 sampai 20/50. iris
biasanya dianggap berwarna permanent saat umur 6 bulan, tetapi pada
beberapa anak tidak sampai 1 tahun. Lakrimasi mulai ada saat berumur 6
12 minggu. (Hamilton, 1995 dalam Pattipilohy, 2012)

DAFTAR PUSTAKA
Hamilton, persis M, (1995). Keperawatan Komunitas alih bahasa Ni luh
Gede Ed. 6. Jakarta : EGC
Mattipelohy, M. P, (2012). Pengaruh Penerapan Metode Kanguru terhadap
Suhu Tubuh pada BBLR Di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.
Skripsi FK Kedokteran Universitas Hasanudin.