Você está na página 1de 20

SEMINAR AKUNTANSI

Akuntansi Forensik Dan Kecurangan (Fraud)

DISUSUN OLEH:

Fitri Rahmawati

A31113501

Salsabila

A31113511

Salmia Nurfadillah

A31113513

Ratih Kusuma Wardhani S

A31113514

Nursatri Ausisari

A31113522

A Tenri Dettya Uleng Pangerang

A31113523

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Akuntan Forensik di Indonesia masih relatif baru, bahkan di Amerika pun baru

menjadi perhatian setelah kasus-kasus yang menimpa keuangan publik yang


mendorong disahkannya Sarbanes Oxley Act atau SOX sejak tahun 2002. Kasus yang
serupa, yaitu penipuan dan penggelapan uang para investor banyak terjadi di
Indonesia, tetapi peran Akuntan Forensik masih belum terlalu dikenal oleh
masyarakat. Oleh karena itu, diyakini profesi ini akan mengalami pertumbuhan yang
cepat di masa mendatang dan dalam waktu dekat ini, karena kepercayaan semakin
menjadi sesuatu yang langka di dunia.
Dalam perkembangannya Akuntansi Forensik Indonesia sekarang ini hanya
sedikit di minati di bandingkan dengan bagian cabang akuntansi yang lainnya seperti
akuntansi biaya, akuntansi keuangan, akuntansi auditing dan sebagainya dan
perkembangannya pun lebih sedikit terlambat di bandingkan dengan bagian ilmu
akuntansi yang lainnya.
Di Indonesia perkembangan ilmu ini masih jauh dari harapan, dari sekian
banyak Kantor Akuntan Publik ( KAP ) Hanya sebagian Kecil saja yang menawarkan
Jasa ini, alasannya apa lagi kalau bukan ceruk pasar yang masih minim, secara ilmu
ekonomi belum ada pasarnya. Apalagi standar operasional dan ujian sertifikasi,
konon belum begitu memadai, sangat jauh bila dibandingkn dengan negara tetangga
Australia yang sedang menyusun Standar Akuntansi Forensik. Kanada dan Amerika
Serikat sudah memiliki standar yang baku, namun belum serinci Standar Akuntansi
Keuangan ( SAK ).
Akuntansi forensik sebenernya sudah di praktekan di Indonesia. Praktek ini
tumbuh dengan pesat tidak lama setelah krisis keuangan tahun 1997. Akhir-akhir ini
ada dorongan yang kuat untuk perkembangannya praktek akuntansi forensik. Di
sektor publik ( keuangan negara), khususnya di Indonesia, akuntnsi forensik menjadi
kebutuhan besar dalam upaya memerangi pemberantasan korupsi seperti yang sering

kita alami pada msa pemerintahan jaman sekarang ini, bahwa semakin banyak
terungkapnya kasus-kasus korupsi baik di tengah pemerintahan, perbankan dan
sebagainnya.
Perkembangan akuntansi forensik memang sedikit terlambat bila dibanding
ranah akuntansi lainnya - akuntansi keuangan, audit, audit internal, dan sebagainya.
Padahal di Amerika, ilmu ini sudah ada sejak kasus Al Capone terungkap pada 1931
silam oleh seorang akuntan forensik, Frank J. Wilson. Namun, organisasi profesinya
baru terbentuk beberapa dekade belakangan. Association of Certified Fraud
Examiners baru terbentuk pada 1988. Kampusnya, American College of Forensic
Examiners juga baru berdiri pada 1992.
Belum adanya standar yang memadai, persoalan tambahan yang membuat
ilmu ini kurang begitu populer adalah penguasaan ilmu yang cukup luas. Selain
akuntansi dan audit, akuntan forensik juga harus menguasai bidang yang berkaitan
dengan kejahatan keuangan (money laundering), hukum, psikologi, sosiologi,
antropologi, viktimologi, kriminologi, dan lain-lain. Akuntan forensik harus memiliki
kemampuan multitalenta.
Kedepan, beberapa kalangan meramalkan perkembangan profesi ini akan lebih
pesat. Selain makin banyak kantor bisnis dari negara asing yang masuk ke Indonesia.,
juga makin tingginya kesadaran perusahaan untuk melindungi asset mereka dari polapola tindakan kecurangan.
1.2

Rumusan Masalah

1.3

Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Akuntansi Forensik
Forensik, menurut Merriam Websters Collegiate Dictionary (edisi ke 10)
dapat diartikan berkenaan dengan pengadialan atau berkenaan dengan penerapan
pengetahuan ilmiah pada masalah hukum. Oleh karena itu akuntasi forensik dapat
diartikan penggunaaan ilmu akuntansi untuk kepentingan hukum.
Menurut D. Larry Crumbley, editor-in-chief dari Journal of Forensic
Accounting (JFA), mengatakan secara sederhana, akuntansi forensik adalah akuntansi
yang akurat (cocok) untuk tujuan hukum. Artinya, akuntansi yang dapat bertahan
dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan, atau dalam proses peninjauan
judicial atau administratif.
Bologna dan Liquist (1995) mendefinisikan akuntansi forensik sebagai
aplikasi kecakapan finansial dan sebuah mentalitas penyelidikan terhadap isu-isu yang
tak terpecahkan, yang dijalankan di dalam konteks rules of evidence. Sedangkan
Hopwood, Leiner, & Young (2008) mendefinisikan Akuntansi Forensik adalah
aplikasi keterampilan investigasi dan analitik yang bertujuan untuk memecahkan
masalah-masalah keuangan melalui cara-cara yang sesuai dengan standar yang
ditetapkan oleh pengadilan atau hukum. Dengan demikian investigasi dan analisis
yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pengadilan atau
hukum yang memiliki yurisdiksi yang kuat.
Hopwood, Leiner, & Young (2008), menyatakan bahwa Akuntan Forensik
adalah Akuntan yang menjalankan kegiatan evaluasi dan penyelidikan, dari hasil
tersebut dapat digunakan di dalam pengadilan hukum. Meskipun demikian Akuntan
forensik juga mempraktekkan keahlian khusus dalam bidang akuntansi, auditing,
keuangan, metode-metode kuantitatif, bidang-bidang tertentu dalam hukum,
penelitian, dan keterampilan investigatif dalam mengumpulkan bukti, menganalisis,
dan mengevaluasi materi bukti dan menginterpretasi serta mengkomunikasikan hasil
dari temuan tersebut.

A. Tugas Akuntansi Forensik


Akuntan forensik bertugas memberikan pendapat hukum dalam pengadilan
(litigation). Disamping tugas akuntan forensik untuk memberikan pendapat hukum

dalam pengadilan (litigation) ada juga peran akuntan forensik dalam bidang hukum
diluar pengadilan (non itigation) misalnya dalam membantu merumuskan alternatif
penyelesaian perkara dalam sengketa, perumusan perhitungan ganti rugi dan upaya
menghitung dampak pemutusan / pelanggaran kontrak.
Akuntansi forensik dibagi ke dalam dua bagian: jasa penyelidikan
(investigative services) dan jasa litigasi (litigation services). Jenis layanan pertama
mengarahkan pemeriksa penipuan atau auditor penipuan, yang mana mereka
menguasai pengetahuan tentang akuntansi mendeteksi, mencegah, dan mengendalikan
penipuan, dan misinterpretasi. Jenis layanan kedua merepresentasikan kesaksian dari
seorang pemeriksa penipuan dan jasa-jasa akuntansi forensik yang ditawarkan untuk
memecahkan isu-isu valuasi, seperti yang dialami dalam kasus perceraian. Sehingga,
tim audit harus menjalani pelatihan dan diberitahu tentang pentingnya prosedur
akuntansi forensik di dalam praktek audit dan kebutuhan akan adanya spesialis
forensik untuk membantu memecahkan masalah.
B. Keahlian Akuntansi Forensik
Harris & Brown (2000) bahwa Akuntan forensik mempelajari hal-hal yang
positif bagi perusahaan saat terjadi merger atau akuisisi dan memastikan bahwa
seorang pembeli telah memahami tentang situasi dan nilai keuangan perusahaan
target. Akuntan forensik sering memanfaatkan keahlian akuntansinya dalam litigasi.
Selanjutnya, hasil penelitian tersebut dibatasi pada pembahasan (a) penghitungan
kerugian dalam kasus-kasus seperti cidera yang diderita oleh seseorang, liabilitas
produk, sengketa kontrak, dan kekayaan intelektual dan (b) pengungkapan aset-aset
yang tersembunyi dalam kasus hukum perkawinan yang kompleks.
Jenis-jenis jasa ini dapat meningkat pada saat akuntan forensik diundang untuk
bertindak sebagai saksi ahli (Durtschi, 2003; Messmer, 2004; Peterson & Reider,
2001; Ramasway, 2005). Dengan hal demikian Perusahaan menugaskan akuntan
forensik untuk menjadi pengawas dalam evaluasi terhadap transaksi bisnis yang
potensial bagi perusahaan tersebut.
Akuntan forensik saat ini menggunakan keahlian yang unik dalam
menjalankan tugas-tugas seperti menentukan apakah sebuah perusahaan telah
melakukan mis-interpretasi terhadap catatan laporan keuangan, apakah telah terjadi
fraud atas inventaris dan modal yang dimiliki oleh perusahaan, dan apakah telah
terjadi laporan keuangan yang berlebih-lebihan pada sebuah perusahaan (Harris &

Brown, 2000; Messmer, 2004). Dengan demikian keahlian seorang akuntan forensik
digunakan dalam menyelidiki fraud yang terjadi di perusahaan maupun di
pemerintahan
Brooks, Riley, & Thomas; Kahan (2005) dalam penelitiannya menggunakan
informasi keuangan dengan volume sangat besar dan kompleks, biasanya
permasalahan ini akan menyita sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan di dalam
menyelidikinya. Oleh karena itu banyak kejahatan yang sulit untuk diidentifikasi
karena pelaku menjalankan aksinya melalui serangkaian transaksi yang kompleks.
Lebih lanjut mengatakan bahwa data menunjukkan bahwa sebagian besar
tindak kecurangan terbongkar karena tip off dan ketidaksengajaan (accident). Agar
dapat membongkar terjadinya fraud (kecurangan) maka seorang akuntan forensik
harus mempunyai pengetahuan dasar akuntansi dan audit yang kuat, pengenalan
perilaku manusia dan organisasi (human dan organization behaviour), pengetahuan
tentang aspek yang mendorong terjadinya kecurangan (incentive, pressure, attitudes,
rationalization, opportunities) pengetahuan tentang hukum dan peraturan (standar
bukti keuangan dan bukti hukum), pengetahuan tentang kriminologi dan viktimologi
(profiling) pemahaman terhadap pengendalian internal, dan kemampuan berpikir
seperti pencuri (think as a theft).
Hopwood, Leiner, & Young (2008), menyatakan bahwa Akuntan forensik
sebaiknya menguasai keterampilan dalam banyak bidang. Beberapa akuntan forensik,
sudah barang tentu, mengkhususkan diri pada bidang-bidang tertentu seperti teknologi
informasi. Akan tetapi, semua akuntan forensik yang telah terlatih sekurangkurangnya memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam bidang-bidang
berikut ini:
1. Keterampilan auditing merupakan hal terpenting bagi akuntan forensik karena
adanya sifat pengumpulan-informasi dan verifikasi yang terdapat pada akuntansi
forensik. Akuntan forensik yang terampil harus mampu mengumpulkan dan mengkaji
informasi apapun yang relevan sehingga kasus-kasus yang mereka tangani akan
didukung secara positif oleh pihak pengadilan.
2. Pengetahuan dan keterampilan investigasi, misalnya taktik-taktik surveillance dan
keterampilan wawancara dan interogasi, membantu akuntan forensik untuk
melangkah di luar keterampilan mereka di dalam mengaudit aspek-aspek forensik
baik aspek legal maupun aspek finansial.
3. Kriminologi, khususnya studi psikologi tindak kejahatan, adalah penting bagi

akuntan forensik karena keterampilan investigasi yang efektif sering bergantung pada
pengetahuan tentang motif dan insentif yang dialami oleh perpetrator.
4. Pengetahuan akuntansi membantu akuntan forensik untuk menganalisis dan
menginterpretasi informasi keuangan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah
kasus di dalam investigasi keuangan, apakah itu dalam kasus kebangkrutan, operasi
pencucian uang, atau skema-skema penyelewangan lainnya. Hal ini meliputi
pengetahuan tentang pengendalian internal yang baik seperti yang terkait dengan
kepemimpinan perusahaan (corporate governance).
5. Pengetahuan tentang hukum sangat penting untuk menentukan keberhasilan
akuntan

forensik.

Pengetahuan

tentang

prosedur

hukum

dan

pengadilan

mempermudah akuntan forensik untuk mengidentifikasi jenis bukti yang diperlukan


untuk memenuhi standar hukum yurisdiksi di mana kasus akan dinilai dan menjaga
bukti melalui cara-cara yang memenuhi kriteria pengadilan.
6. Pengetahuan dan keterampilan bidang Teknologi informasi (TI) menjadi sarana
yang penting bagi akuntan forensik di tengah dunia yang dipenuhi oleh kejahatankejahatan dunia maya. Pada taraf yang minimum, akuntan forensik harus mengetahui
poin di mana mereka harus menghubungi seorang ahli bidang piranti keras (hardware)
atau piranti lunak (software) komputer. Akuntan forensik menggunakan keterampilan
teknologi untuk mengkarantina data, ekstraksi data melalui penggalian data,
mendesain dan menjalankan pengendalian atas manipulasi data, menghimpun
informasi database untuk perbandingan, dan menganalisis data.
7. Keterampilan berkomunikasi juga dibutuhkan oleh akuntan forensik untuk
memastikan bahwa hasil penyelidikan/analisis mereka dapat dipahami secara benar
dan jelas oleh pengguna jasanya.
Ramaswamy (2005) mengungkapkan inti pengetahuan seorang akuntan
forensik untuk menjadi ahli akuntan forensik selalu memerlukan peningkatkan jumlah
keahlian dan kompetensi dalam menemukan penipuan. Berikut adalah terdapat
beberapa keahlian yang berguna untuk akuntan forensik:
1. Sebuah pengetahuan yang mendalam tentang laporan keuangan, dan kemampuan
untuk menganalisa kritis mereka. Keterampilan ini membantu akuntan forensik
menemukan pola abnormal dalam informasi akuntansi dan mengenali sumber mereka.
2. Sebuah ketelitian tentang pemahaman skema penipuan, namun tidak terbatas pada
pengelapan aset termasuk, pencucian uang, penyuapan dan korupsi.
3. Kemampuan untuk memahami sistem pengendalian internal perusahaan, dan untuk

membuat sebuah sistem kontrol yang menilai risiko, manajemen mencapai tujuan,
memberitahu karyawan mereka kontrol tanggung jawab, dan memantau kualitas
program sehingga koreksi dan perubahan dapat dibuat.
4. Keahlian di ilmu komputer dan sistem jaringan. Keterampilan ini membantu
akuntan forensik melakukan penyelidikan di era e-banking dan sistem komputerisasi
akuntansi.
5. Pengetahuan tentang psikologi, dalam rangka untuk memahami impulses dibalik
perilaku kriminal dan menyiapkan program pencegahan penipuan yang mendorong
dan memotivasi karyawan.
6. Interpersonal dan kemampuan komunikasi, yang membantu dalam penyebaran
informasi tentang kebijakan etis perusahaan dan membantu akuntan forensik
melakukan wawancara dan diperlukan memperoleh informasi yang sangat penting.
7. Pengetahuan ketelitian dari kebijakan pemerintahan dan undang-undang yang
mengatur kebijakan perusahaan tersebut.
8. Perintah hukum pidana dan perdata, serta dari sistem hukum dan prosedur
pengadilan.
James (2008) sebagai dasar penelitian dengan menggunakan 9 (sembilan) item
kompentensi keahlian akuntansi forensic yang digunakan dalam penilaian perbedaan
persepsi dari pihak Akademisi akuntansi, Praktisi akuntansi, dan pengguna jasa
Akuntan forensik yaitu :
1. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah analisis deduktif:
kemampuan untuk menganalisis kejanggalan yang terjadi dalam laporan keuangan,
yakni kejadian yang tidak sesuai dengan kondisi yang wajar.
2. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah pemikiran yang kritis:
kemampuan untuk membedakan antara opini dan fakta.
3. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah pemecahan masalah
yang tidak terstruktur: kemampuan untuk melakukan pendekatan terhadap masingmasing situasi (khususnya situasi yang tidak wajar) melalui pendekatan yang tidak
terstruktur.
4. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah fleksibilitas
penyidikan: kemampuan untuk melakukan audit di luar ketentuan/prosedur yang
berlaku.
5. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah keahlian analitik:
kemampuan untuk memeriksa apa yang seharusnya ada (yang seharusnya tersedia)

bukan apa yang telah ada (yang telah tersedia).


6. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah komunikasi lisan:
kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif secara lisan melalui kesaksian ahli
dan penjelasan umum tentang dasar-dasar opini.
7. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah komunikasi tertulis:
kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan tulisan melalui laporan,
bagan, gambar, dan jadwal tentang dasar-dasar opini.
8. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah pengetahuan tentang
hokum: kemampuan untuk memahami proses-proses hokum dasar dan isu-isu hukum
termasuk ketentuan bukti (rules of evidence).
9. Keahlian yang penting bagi seorang akuntan forensik adalah composure:
kemampuan untuk menjaga sikap untuk tetap tenang meskipun dalam situasi tertekan.
Dengan demikian (9) Sembilan kompetensi yang digunakan oleh penelitian tersebut
diatas bersumber dari penjabaran atau perluasan dari beberapa pengetahuan dan
keterampilan yang di ungkapkan Ramaswamy (2005) dan dalam buku karya
Hopwood, Leiner, & Young (2008)
C. Perlunya Akuntansi Forensik
Mencoba menguak adanya tindak pidana korupsi dengan audit biasa (general
audit atau opinion audit) sama halnya mencoba mengikat kuda dengan benang jahit.
BPK perlu alat yang lebih dalam dan handal dalam membongkar indikasi adanya
korupsi atau tindak penyelewengan lainnya di dalam Pemerintahan ataupun dalam
BUMN dan BUMD salah satu metodologi audit yang handal adalah dengan
metodologi yang dikenal sebagai Akuntansi forensik ataupun Audit Forensik.
Akuntansi forensik dahulu digunakan untuk keperluan pembagian warisan
atau mengungkap motif pembunuhan. Bermula dari penerapan akuntansi dalam
persoalan hukum, maka istilah yang dipakai adalah akuntansi (dan bukan audit)
forensik. Perkembangan sampai dengan saat ini pun kadar akuntansi masih kelihatan,
misalnya dalam perhitungan ganti rugi baik dalam pengertian sengketa maupun
kerugian akibat kasus korupsi atau secara sederhana akuntansi forensik menangani
fraud khususnya dalam pengertian corruption dan missappropriation of asset.
Profesi ini sebenarnya telah disebut dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) pasal 179 ayat (1) menyatakan:Setiap orang yang diminta
pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib

memberikan keterangan ahli demi keadilan. Orang sudah mahfum profesi dokter
yang disebut dalam peraturan diatas yang dikenal dengan sebutan dokter ahli forensik,
namun ahli lainnya yang dalam ini termasuk juga akuntan belum banyak dikenal
sebutannya sebagai akuntan forensik.
2.1 Penerapan Akuntansi Forensik di Indonesia
Bulan Oktober 1997 Indonesia telah menjajagi kemungkinan untuk meminjam
dana dari IMF dan World Bank untuk menangani krisis keuangan yang semakin
parah. Sebagai prasayarat pemberian bantuan, IMF dan World Bank mengharuskan
adanya proses Agreed Upon Due Dilligence (ADDP) yang dikerjakan oleh akuntan
asing dibantu beberapa akuntan Indonesia. Temuan ADDP ini sangat mengejutkan
karena dari sampel Bank Besar di Indonesia menunjukkan perbankan kita melakuan
overstatement asset sebesar 28%-75% dan understatement kewajiban sebesar 3%33%. Temuan ini segera membuat panik pasar dan pemerintah yang berujung pada
likuidasi 16 bank swasta. Likuidasi tersebut kemudian diingat menjadi langkah yang
buruk karena menyebabkan adanya penarikan besar-besaran dana (Rush) tabungan
dan deposito di bank-bank swasta karena hancurnya kepercayaan publik pada
pembukuan perbankan. ADPP tersebut tidak lain dari penerapan akuntansi forensik
atau audit investigatif.
Istilah akuntansi forensik di Indonesia baru mencuat setelah keberhasilan
Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebuah kantor Akuntan Besar dunia (The Big Four)
dalam membongkar kasus Bank Bali. PwC dengan software khususnya mampu
menunjukkan arus dana yang rumit berbentuk seperi diagram cahaya yang mencuat
dari matahari (sunburst). Kemudian PwC meringkasnya menjadi arus dana dari orangorang tertentu. Sayangnya keberhasilan ini tidak diikuti dengan keberhasilan sistem
pengadilan.5 Metode yang digunakan dalam audit tersebut adalah follow the money
atau mengikuti aliran uang hasil korupsi Bank Bali dan in depth interview yang
kemudian mengarahkan kepada para pejabat dan pengusaha yang terlibat dalam kasus
ini.
Kasus lainnya pada tahun 2006, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK) mampu membuktikan kepada pengadilan bahwa Adrian
Waworuntu terlibat dalam penggelapan L/C BNI senilai Rp 1.3 Triliun, dengan
menggunakan metode follow the money yang mirip dengan metode PwC dalam kasus
Bank Bali dalam kasus lain dengan metode yang sama PPTK juga berhasil

mengungkapkan beberapa transaksi ganjil 15 Pejabat Kepolisian Kita yang


memiliki saldo rekening Milyaran rupiah padahal penghasilan mereka tidak sampai
menghasilkan angka fantastis tersebut.
2.2 Peran BPK dalam Akuntansi Forensik
Perkembangan positif dalam pemberantasan korupsi di Indonesia tersebut
membuat Badan Pemeriksa Keuangan yang selama era orde baru dikerdilkan
menjadi pulih, dengan terbitnya Undang-Undang No 17 Tahun 2003 Tentang
Keuangan Negara yang menegaskan tentang kewenangan BPK sebagai Pemeriksa
Keuangan Negara yang kemudian di dukung dengan Undang-Undang No 15 Tahun
2006 yang memberikan kemandirian dalam pemeriksaan Keuangan Negara baik yang
tidak dipisahkan maupun yang dipisahkan seperti BUMN dan BUMD skaligus
penentu jumlah kerugian Negara.
Oleh karena itu BPK harus meredifinisikan dirinya untuk menjadi garda
terdepan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, dengan cara meningkatkan
metodologi auditnya dan meningkatkan kinerja pegawainya dalam melakukan
pemeriksaan keuangan negara termasuk didalamnya keahlian tehnis dalam
mendeteksi fraud yaitu mempunyai kemampuan mengumpulkan fakta-fakta dari
berbagai saksi secara fair, tidak memihak, sahih, akurat serta mampu melaporkan
fakta secara lengkap.
Salah satu pendekatan yang bisa diambil dalam upaya pemberantasan korupsi adalah
dengan menerapkan Akuntansi Forensik atau sebagian orang menyebutnya Audit
Investigatif.
Sebenarnya BPK sebagai Pemeriksa Keuangan Negara memiliki prestasi yang
layak diapresiasi dalam melakukan audit forensik, dengan melakukan audit investigasi
terhadap Penyaluran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia maupun aliran Dana Bank
Indonesia ke sejumlah pejabat, dengan bantuan software khusus audit, BPK mampu
mengungkap penyimpangan BLBI sebesar Rp84,8 Trilyun atau 59% dari total BLBI
sebesar Rp144,5 Trilyun yang berimbas terhadap beberapa mantan petinggi bank
swasta nasional diadili karena mengemplang BLBI, sedangkan kasus aliran Dana
Bank Indonesia lebih heboh lagi karena hasil audit investigasi BPK menunjukkan
aliran dana Bank Indonesia sebesar Rp127,5 Milyar ke Pejabat Bank Indonesia,
Anggota DPR termasuk diantaranya sudah menjadi Menteri Negara, kasus ini
mencuat tajam sehingga Mantan Gubernur BI dan beberapa pejabat yang terkait harus

mendekam diterali besi ditemani koleganya para anggota DPR yang menerima aliran
dana tersebut, hal yang patut ditunggu adalah kelanjutan hasil pengadilan yang
menentukan siapa saja yang terlibat didalamnya.

Perbedaan Akuntansi Forensik dengan Akuntansi konvensional


Perbedaaan utama akuntansi forensik dengan akuntansi maupun audit

konvensional lebih terletak pada mindset (kerangka pikir). Metodologi kedua jenis
akuntansi tersebut tidak jauh berbeda. Akuntasi forensik lebih menekankan pada
keanehan (exceptions, oddities, irregularities) dan pola tindakan (pattern of conduct)
daripada kesalahan (errors) dan keteledoran (ommisions) seperti pada audit umum.
Prosedur utama dalam akuntansi forensic menekankan pada analytical review dan
teknik wawancara mendalam (in depth interview) walaupun seringkali masih juga
menggunakan teknik audit umum seperti pengecekan fisik, rekonsiliasi, konfirmasi
dan lain sebagainya.
Akuntansi forensik biasanya fokus pada area-area tertentu (misalnya
penjualan, atau pengeluaran tertentu) yang ditengarai telah terjadi tindak kecurangan
baik dari laporan pihak dalam atau orang ketiga (tip off) atau, petunjuk terjadinya
kecurangan (red flags), petunjuk lainnya. Data menunjukkan bahwa sebagian besar
tindak kecurangan terbongkar karena tip off dan ketidaksengajaan (accident).
Agar dapat membongkar terjadinya fraud (kecurangan) maka seorang akuntan
forensik harus mempunyai pengetahuan dasar akuntansi dan audit yang kuat,
pengenalan perilaku manusia dan organisasi (human dan organization behaviour),
pengetahuan tentang aspek yang mendorong terjadinya kecurangan (incentive,
pressure, attitudes, rationalization, opportunities) pengetahuan tentang hukum dan
peraturan (standar bukti keuangan dan bukti hukum), pengetahuan tentang
kriminologi dan viktimologi (profiling) pemahaman terhadap pengendalian internal,
dan kemampuan berpikir seperti pencuri (think as a theft).
2.3 Investigasi Audit dalam Akuntansi Forensik
Investigasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai upaya pembuktian,
umumnya pembuktian berakhir di pengadilan dan ketentuan hukum acara yang
berlaku di Indonesia yaitu Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) dengan langkahlangkah sebagai berikut: Analisis data yang tersedia, ciptakan/kembangkan hipotesis

berdasar analisis, uji hipotesis dan terakhir perhalus atau ubah hipotesis berdasar
pengujian.
Di dalam audit investigasi, teknik audit bersifat eksploratif, mencari wilayah
garapan atau probing yang terdiri dari:
1. Memeriksa fisik (phisical examination) yaitu penghitungan uang tunai, kertas
berharga, persediaan barang, aktiva tetap dan barang berwujud lainnya,
2. Meminta Konfirmasi (confirmation) dalam investigasi konfirmasi harus
dikolaborasi dengan sumber lain (substained),
3. Memeriksa dokumen (documentation) termasuk didalamnya dokumen digital,
4. Reviu analitikal (analytical review) tekhnik ini mengharuskan dasar atas
perbandingan yang dihadapi dengan apa yang layaknya harus terjadi dan berusaha
menjawab terjadinya kesenjangan,
5. Meminta Informasi lisan atau tertulis dari yang diperiksa (inquiries of the auditee)
hal tersebut penting untuk pendukung permasalahan,
6. Menghitung Kembali (reperformance) tehknik ini dilakukan dengan mencek
kebenaran perhitungan (kali, bagi, tambah, kurang dan lain-lain) untuk menjamin
kebenaran angka,
7. Mengamati (observation) pengamatan ini lebih menggunakan intuisi auditor apakah
terdapat hal-hal lain yang disembunyikan.
2.4 Peran Penting Audit Forensik
Dalam beberapa artikel dan literatur, pembahasan Audit forensik lebih
mengarah kepada kasus pembuktian penyimpangan keuangan atau korupsi. Akan
tetapi, tidak menutup kemungkinan, audit forensik diperlukan untuk pembuktian pada
kasus-kasus penipuan.
Objek audit forensik adalah informasi keuangan yang mungkin (diduga)
mengandung unsur penyimpangan. Penyimpangan yang dimaksud bisa berupa
tindakan merugikan keuangan perusahaan, seseorang, atau bahkan negara. Temuan
audit dari hasil pemeriksaan ini bisa dijadikan salah satu alat bukti bagi penyidik,
pengacara, atau jaksa untuk memutuskan suatu kasus hukum perdata. Tidak menutup
kemungkinan hasil audit juga akan memberikan bukti baru untuk tindakan yang
menyangkut hukum pidana, seperti penipuan.
Dalam kasus semacam ini, auditor dituntut harus benar-benar independen.
Meskipun penugasan audit diberikan oleh salah satu pihak yang bersengketa,

independensi auditor harus tetap dijaga. Auditor tidak boleh memihak pada siapasiapa.
2.5 Pengertian Kecurangan
FRAUD (kecurangan) adalah tindakan ilegal yang dilakukan satu orang atau
sekelompok orang secara sengaja atau terencana yang menyebabkan orang atau
kelompok mendapat keuntungan, dan merugikan orang atau kelompok lain.
FRAUD financial reporting (kecurangan laporan keuangan) adalah salah saji
atau pengabaian jumlah dan pengungkapan yang disengaja dengan maksud menipu
para pemakai laporan. Kecurangan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu :
a.

Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement FRAUD).

Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang


dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang
merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau
kecurangan non financial.
b.

Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation).

Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam Kecurangan Kas dan


Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya, serta pengeluaran-pengeluaran biaya
secara curang (FRAUDulent disbursement).
c.

Korupsi (Corruption).

Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukannya
pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE,
korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap
(bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan pemerasan (economic extortion).
2.6 Karakteristik Kecurangan (fraud)
Dilihat dari pelaku FRAUD auditing maka secara garis besar kecurangan bisa
dikelompokkan menjadi dua jenis :
a.

Oleh pihak perusahaan, yaitu :

Manajemen untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah saji


yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from
FRAUDulent financial reporting, untuk menghidari hal tersebut ada baiknya
karyawan mengikuti auditing workshop dan FRAUD workshop).

Pegawai untuk keuntungan individu, yaitu salah saji yang

berupa penyalahgunaan.
b.

Oleh pihak di luar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha, dan pihak asing

yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.


2.7 Penyebab Terjadinya Kecurangan (fraud)
Penyebab Terjadinya Kecurangan menurut J.S.R. Venables dan KW Impley
dalam buku Internal Audit (1988, hal 424) mengemukakan kecurangan terjadi
karena :
a.

Penyebab Utama.

Penyembunyian (concealment), Kesempatan tidak terdeteksi.


Pelaku perlu menilai kemungkinan dari deteksi dan hukuman sebagai akibatnya.

Kesempatan/Peluang (Opportunity), Pelaku perlu berada pada


tempat yang tpat, waktu yang tepat agar mendapatkan keuntungan atas kelemahan
khusus dalam system dan juga menghindari deteksi.

Motivasi (Motivation), Pelaku membutuhkan motivasi untuk


melakukan aktivitas demikian, suatu kebutuhan pribadi seperti ketamakan/kerakusan
dan motivator yang lain.

Daya tarik (Attraction), Sasaran dari kecurangan yang


dipertimbangkan perlu menarik bagi pelaku.

Keberhasilan (Success), Pelaku perlu menilai peluang berhasil,


yang dapat diukur baik menghindari penuntutan atau deteksi.
b.

Penyebab Sekunder.

A Perk, Kurang pengendalian, mengambil keuntungan aktiva


organisasi dipertimbangkan sebagai suatu tunjangan karyawan.

Hubungan antar pemberi kerja/pekerja yang jelek, Yaitu saling


kepercayaan dan penghargaan telah gagal. Pelaku dapat mengemukakan alasan bahwa
kecurangan hanya menjadi kewajibannya.

Pembalasan dendam (Revenge), Ketidaksukaan yang hebat


terhadap organisasi dapat mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi
tersebut.

Tantangan

(Challenge),

Karyawan

yang

bosan

dengan

lingkungan kerja mereka dapat mencari stimulasi dengan berusaha untuk memukul
sistem, sehingga mendapatkan suatu arti pencapaian (a sense of achievement), atau
pembebasan frustasi (relief of frustation) 2.3 Tanda-Tanda Peringatan Untuk

Kecurangan Meskipun pada suatu kesempatan pemeriksa intern melakukan penugaan


langsung dalam penyelidikan kecurangan yang dicurigai atau aktual, bagian yang
lebih besar dari usahanya yang berorientasi kecurangan merupakan suatu bagian yang
integral dari penugasan audit yang lebih luas. Usaha yng berorientasi pada kecurangan
ini dapat dalam bentuk prosedur khusus, termasuk dalam program audit yang lebih
luas. Usaha yang berorientasi kecurangan tersebut dapat termasuk seluruh dari
kesiapsiagaan umum dari pemeriksa intern ketika ia melaksanakan seluruh bagian dari
penugasan audit ini. Kesiapsiagaan ini termasuk berbagai area, kondisi dan
pengembangan yang memberikan tanda-tanda peringatan. 2.4 Area Area yang
Sensitif Pemeriksaan intern khususnya harus waspada terhadap area yang sensitive
untuk penelaahan yang dalam.
2.8 Kejadian-kejadianYang Menandai Terjadinya Kecurangan (fraud)
Dibawah ini adalah suatu daftar yang disusun oleh American Institute of
Certified Public Accountants (AICPA) pada tahun 1979 mengenai kondisi-kondisi
atau kejadian-kejadian yang dapat menandai adanya kecurangan :
a.

Manajemen senior yang sangat menguasai/ mendominasi dan terdapat satu

atau lebih kondisi berikut atau yang sama :

Dewan direksi dan/ atau panitia audit yang tidak efektif.

Indikasi

dari

penolakan

manajemen

atas

pengendalian

akuntansi internal yang penting.

Kompensasi atau opsi saham yang signifikan yang berkaitan


dengan kinerja yang dilaporkan atau terhadap transaksi khusus, yaitu manajemen
senior mempunyai pengendalian nyata atau penuh.

Indikasi kesulitan keuangan pribadi dari manajemen senior.

Perebutan perwalian yang melibatkan pengendalian perusahaan


atau status dari manajemen senior.
b.

Kemerosotan atau kemunduran dari mutu pendapatan yang dibuktikan oleh :

Penurunan dalam volume atau mutu penjualan (misalnya, risiko


kredit yang meningkat atau penjualan sama dengan atau dibawah harga pokok).

Perubahan yang signifikan dalam praktik usaha.

Kepentingan yang berlebihan oleh manajemen senior dalam


laba per saham (EPS/Earnings per Share) yang dipengaruhi oleh pilihan akuntansi.
c.

Kondisi usaha yang dapat menciptakan tekanan yang tidak biasa :

Modal kerja yang tidak memadai.

Kelenturan/ fleksibilitas yang kecil dalam pembatasan hutang,


seperti rasio modal kerja dan keterbatasan dalam pinjaman tambahan.

Perluasan atau ekspansi yang cepat dari suatu produk atau lini
usaha yang menyolok sekali dengan melebihi rata-rata industri.

Investasi yang besar dari sumber daya pemisahan dalam suatu


industri yang mengalami perubahan cepat,seperti suatu industri yang bertekhnologi
tinggi.
d.

Struktur korporat yang rumit, yaitu kompleksitas yang terjadi tidak tampak

diperlukan oleh operasi atau ukuran perusahaan.


e.

Lokasi usaha yang menyebar secara luas disertai oleh manajemen yang

didesentralisasi secara ketat dengan system pelaporan tanggungjawab yang tidak


memadai.
f.

Kekurangan staf yang tampak memerlukan karyawan tertentu bekerja pada jam

yang tidak biasa, tidak memerlukan cuti dan/atau melakukan kerja lembur yang
substansial.
g.

Tingkat perputaran yang tinggi dalam posisi keuangan penting, seperti

bendaharawan atau kontroler.


h.
i.

Sering terjadi perubahan auditor atau penasihat hukum.


Kelemahan material yang diketahui dalam pengendalian intern yang dapat

secara praktis dikoreksi akan tetapi tidak diperbaiki, seperti :

Akses terhadap peralatan computer atau alat pemasukan data


elektronik tidak cukup dikendalikan.

Kewajiban

yang

tidak

sesuai/bertentangan

tetapi

tidak

digabungkan.
j.

Terdapat transaksi yang material dengan pihak yang mempunyai hubungan

istimewa atau terdapat transaksi yang mencakup benturan kepentingan.


k.

Pengumuman yang terlalu cepat atau premature atas hasil operasi atau

pengharapan masa depan yang positif.


l.

Prosedur penelaahan analitis mengungkapkan fluktuasi yang signifikan yang

tidak dapat secara wajar dijelaskan, seperti:

Saldo akun yang material.

Antar hubungan keuangan dan operasional.

Selisih perhitungan persediaan.

Tingkat perputaran persediaan.


m.

Transaksi besar yang tidak biasa, khususnya pada akhir tahun, dengan pengaruh

yang material atas pendapatan.


n.

Pembayaran besar yang tidak biasa berhubungan dengan jasa yang diberikan

dalam usaha normal kepada pengacara, agen, atau pihak lain (termasuk karyawan).
o.

Kesulitan dalam memperoleh bukti audit yang berhubungan dengan :

Ayat jurnal yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan.

Dokumentasi dan/atau otorisasi yang tidak lengkap atau hilang.

Pengubahan dalam dokumentasi atau akun.


p.

Dalam pelaksanaan pengujian laporan keuangan masalah yang tidak dapat

diramalkan ditemukan, seperti:

Tekanan klien untuk menyelesaikan audit dalam waktu singkat


yang tidak biasa atau dalam kondisi yang sulit.

Situasi pemindahan yang mendadak.

Tanggapan yang bersifat mengelakkan dari manajemen


terhadap penyelidikan audit.


BAB III
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Theodorus M. Tuanakotta. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif. Seri
Departemen Akuntansi FEUI. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Univesitas Indonesia, 2007.
Pustaka: Akuntansi Forensik & Audit investigatif, Theodorus Tuanakotta, LPFE UI
http://dwiermayanti.wordpress.com/2010/03/22/audit-kecurangan
http://diaryintan.wordpress.com/2010/11/21/etika-dalam-akuntansi-creativeaccounting-fraud-auditing-accounting-dll/
http://akuntansipendidik.blogspot.com/2012/09/skandal-atau-kecurangan-akuntansifraud.html