Você está na página 1de 30

ALAT PENGOLAHAN TANAH SEKUNDER (GARU PIRING)

ALAT PENGOLAHAN TANAH SEKUNDER (GARU PIRING)


( Laporan Praktikum Alat Mesin Pertanian )

Oleh:

Fanya Alfacia Arafat


1314071022

LABORATORIUM DAYA ALAT DAN MESIN PERTANIAN


JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengolahan tanah dapat dipandang sebagai suatu usaha manusia untuk merubah
sifat-sifat yang dimiliki oleh tanah sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh
manusia. Di dalam usaha pertanian, pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan
untuk menciptakan kondisi fisik; khemis dan biologis tanah yang lebih baik sampai
kedalaman tertentu agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Di samping itu
pengolahan tanah bertujuan pula untuk : membunuh gulma dan tanaman yang
tidak diinginkan; menempatkan seresah atau sisa-sisa tanaman pada tempat yang
sesuai agar dekomposisi dapat berjalan dengan baik; menurunkan laju erosi;
meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan; mempersatukan
pupuk dengantanah; serta mempersiapkan tanah untuk mempermudah dalam
pengaturan air.
Pada budidaya tanaman pertanian, diperlukan beberapa tahap hingga pada
akhirnya mencapai proses panen dan proses pasca panen. Dalam proses-proses
tersebut yang merupakan proses awal adalah pengolahan lahan (soil tillage). Pada
proses ini berfungsi untuk menggemburkan tanah, menghilangkan kotoran-kotoran
dan sampah pada tanah. Proses pengolahan lahan meliputi tahap pembajakan dan
penggaruan.

Sebagian besar operasi penyiapan lahan diawali oleh pembajakan menggunakan


bajak singkal atau bajak piring. Hasil pembajakan dengan kedua bajak ini masih
berbongkah-bongkah dan belum siap untuk ditanami. Oleh karena itu, pengolahan
tanah perlu dilanjutkan hingga lahan benar-benar siap untuk ditanami. Operasi
pengolahan tanah setelah pembajakan dinamakan pengolahan tanah sekunder.
Untuk mencapai kondisi lahan siap tanam masih ada beberapa tahap pengolahan
tanah sekunder. Biasanya dimulai dengan penggaruan dan berakhir dengan
pembuatan bedengan (guludan).

Alat pengolahan tanah sekunder yang paling banyak diketahui yaitu bajak piring.
Setelah itu garu-garu lain seperti garu bergigi paku, garu bergigi pegas, dan garu

putar. Sebagai alat pengolah tanah sekunder, garu-garu tersebut digunakan untuk
menghancurkan lebih lanjut bongkah-bongkah tanah hasil pengolahan tanah
primer, menggemburkan dan meratakannya, serta memusnahkan tanaman
pengganggu (Depdiknas, 2002).

1.2

Tujuan

Adapun Tujuan dari praktikum Alat dan Mesin Pertanian ini adalah:
1.

Untuk mengetahui komponen-komponen pada garu piring.

2.

Untuk mengetahui jenis piringan pada garu piring.

3.

Untuk mengukur dimensi pada garu piring.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Garu Piring

Garu piringan (disk-harror), pada prinsipnya peralatan pengolah tanah ini hampir
menyerupai bajak piringan, khususnya bajak piringan vertikal. Perbedaannya hanya
terletak pada ukuran, kecekungan dan jumlah piringannya. Garu piringan
mempunyai ukuran dan kecekungan piringan yang lebih kecil dibandingkan dengan
bajak, hal ini disebabkan pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan tidak
diperlukan pernbalikan tanah yang efektif seperti pengolahan tanah pertama.
Selanjutnya karena draft penggaruan lebih kecil dari draft partibajakan, maka
dengan besar daya penarikan yang sama lebar kerja garu akan lebih besar
dibandingkan dengan lebar kerja bajak, dengan demikian jumlah piringan garu
piringan dengan sendirinya akan lebih banyak dibandingkan dengan bajak piringan
(Soedijanto, 1971).

Seperti bajak piringan, bagian bagian-bagian utarna dan garu piringan terdiri atas :
piringan ; poros piringan ; penggarak piringan ; kerangka. Kadang kala dilengkapi
pula dengan roda dukung, apabila sistim penggandengan dengan daya penariknya
menggunakan sistem hela trailing.Garu piringan biasanya tidak dilengkapi dengan
roda alur penstabil. Beberapa piringan dan garu piringan dirangkai menjadi satu
rangkaian dengan menggunakan satu poros, rangkaian-rangkaian ini biasa disebut
sebagai rangkaian piringan (disk gang). Konstruksi garu piringan umumnya terdiri
atas dua rangkaian piringan atau empat rangkaian piringan. Ditinjau dan proses
penghancuran tanah, langkah penggaruan dapat dibedakan atas : penggaruan satu
aksi (single action) dan penggaruan dua aksi (double action). Didasarkan atas
uraian di atas, garu piringan dibedakan atas garu piringan dua rangkaian satu aksi
(single action two gang-dlisk barrow) garu piringan dua rangkaian dua aksi (double
ion two anq disk harrow) garu piringan empat rangkaian dua aksi atau biasanya
disebut tandem (tandem disk-harrow). Bagian-bagian dari garu piring adalah :
piringan (disk), as (gang/arbor bolt), rangka (frame), bantalan (bearing), bumper,
kotak pemberat, dan pembersih tanah (scaper). (Soedijanto, 1971).

Piringan dapat bersisi rata atau bergerigl Piringan yang bergerigi biasanya
digunakan pada lahan yang mempunyai banyak sisa-sisa tanaman. Ukuran umum
berkisar antara 45 sampai 60 cm, sedangkan untuk tugas berat (heavy duty) antara
65 sampai 70 cm. Piringan dipasang pada suatu as yang berbentuk persegi dengan
jarak antara 15 sampai 22 cm, atau 25 sampai 30 untuk tugas berat dan masingmaing dipisahkan oleh gelondong (spool).

Masing-masing as (gang) diikat ke rangka melalui standar yang berdiri pada


bantalan. Untuk garu yang ringan satu as mempunyai dua bantalan, sedangkan
yang berat lebih dari dua bantalan.
Pada ujung as di bagian cembung piringan ditempatkan bumber berupa besi tuang
yang eukup berat untuk menambah tekanan ke samp ing.
Apabila garu piring tidak cukup berat untuk memecah tanah, maka dapat ditambah
beban yang ditempatkan pada kotak pemberat. Untuk membersihkan tanah yang
melekat pada piringan, biasanya setiap piringan dilengkapi dengan pengeruk tanah
(scraper) yang diikat pada rangka

Setiap piringan dari garu piringan biasanya dilengkapi dengan pengeruk (scraper)
yang berguna selain untuk membersihkan tanah yang lengket pada piringan, juga
membantu dalam pembalikan potongan tanah. Untuk menahan tekanan samping
yang terjadi saat bajak memotong tanah, bajak piring dilengkapi dengan roda alur
belakang (rear furrow wheel).

Beberapa keuntungan menggunakan garu ini adalah :


1.

Dapat bekerja ditanah keras dan kering.

2.

Dapat untuk tanah-tanah yang lengket.

3.

Dapat untuk tanah-tanah yang berbatu.

4.
5.

Dapat untuk tanah-tanah berakar.


Dapat untuk tanah-tanah yang memerlukan pengerjaan yang dalam.

Kegunaan Garu Piring

Kegunaan Sebagai pengolah tanah untuk perbaikan struktur butir-butir tanah,


memperbesar persediaan air, memperbaiki peresapan air dan aerasi tata udara
tanah, mengurangi evaporasi tanah, mempercepat pelapukan akar sisa tanaman
dan mempermudah perkembangan akar, memperbaiki kehidupan mikroba aerob
tanah dan memberantas gulma. Keunggulan Baik dan efisien untuk kebun seluas
2,5 - 5 Ha; Sangat cocok untuk usaha tani lahan kering seperti tanaman hortikultura
dan palawija. Dapat digandengkan dengan traktor mini bertenaga min 15 HP. Lebar
pengolahan.

Garu piringan digunakan pada pengolahan tanah sekunder, kelebihan dari garu ini
dapat bekerja ditanah keras dan kering (tanah yang lengket, berbatu, berakar, dan
tanah yang memerlukan pengerjaan yang dalam). Kelemahan dari alat ini yaitu
tidak dapat menutup sisa tanaman/rumput yang telah terpotong, bekas
pembajakan tidak betul-betul rata, dan hasil pengolahan tanahnya masih berupa
bongkahan-bongkahan (Soedijanto, 1971).

B. Pengolahan Tanah

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa pengolahan tanah adalah suatu usaha untuk
mempersiapkan lahan bagi pertumbuhan tanaman dengan cara menciptakan
kondisi tanah yang siap tanam. Walaupun pengolahan tanah sudah dilakukan oleh
manusia sejak dahulu kala dan sudah mengalami perkembangan yang demikian
pesat baik dalam metode maupun peralatan yang digunakan, tetapi sampai saat ini
pengolahan tanah masih belum dapat dikatakan sebagai ilmu yang pasti (eksakta)
yang dapat dinyatakan secara kuantitatif. Belum ada metode yang memuaskan
yang tersedia untuk menilai hasil olah yang dihasilkan oleh suatu alat pengolah
tanah tertentu, serta belum dapat ditentukan suatu kebutuhan hasil olah yang
khusus untuk berbagai tanaman untuk lahan kering.

Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa masalah pengolahan tanah


merupakan masalah yang penting untuk mendapatkan produksi pertanian yang
optimal. Kondisi tanah yang baik adalah salah satu faktor berhasilnya produksi
tanaman, dan untuk mencapai kondisi tanah yang baik diperlukan alat-alat
pertanian. Akhir-akhir ini masalah yang utama didalam pembukaan dan
pengolahan tanah adalah bagaimana agar didapatkan efisiensi yang optimal. Hal ini
dimaksudkan dari pengertian minimal tillage yaitu pengolahan yang seminimal
mungkin, tetapi menghasilkan tanah yang baik dan pertumbuhan tanaman yang

optimal dengan biaya yang rendah. Pekerjaan pengolahan tanah dapat dibagi
menjadi pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua. Peralatan
pengolahan tanah pertama disebut juga pembajakan dan pengolahan tanah kedua
disebut juga penggaruan.

Alat pengolahan tanah pertama adalah alat-alat yang pertama sekali digunakan
yaitu untuk memotong, memecah dan membalik tanah. Sedangkan pada
Pengolahan tanah kedua dilakukan setelah pembajakan. Perbedaan antara
pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua biasanya didasarkan pada
kedalaman pengolahan serta hasil olahannya. Pengolahan tanah pertama biasanya
mempunyai kedalaman olah yang lebih dalam ( >15 cm ) dengan bongkah tanah
hasil pengolahan lebih besar, sedangkan pada pengolahan tanah kedua mengolah
tanah lebih dangkal ( < 15 cm) serta hasil olahannya sudah halus dengan
permukaan tanah yang relatif rata (siap untuk ditanami). (Depdiknas, 2002).

C.

Traktor

Traktor roda empat adalah salah satu alat pengolah tanah jika dilengkapi dengan
peralatan pengolah tanah seperti bajak singkal, bajak piring, garu piring, dan lainlain. Traktor ini dirancang untuk bekerja di lahan kering bukan untuk lahan sawah.
Traktor roda empat yang biasa digunakan mempunyai daya antara 30-60 Kw (40-80
HP). Komponen utama pada traktor roda empat yaitu :
1.
Sistem kemudi digunakan untuk mengendalikan jalannya atau operasi
traktor di lapangan.
2.
Roda depan berfungsi untuk pengendalian dan memiliki ukuran diameter
lebih kecil dari roda bagian belakang.
3.
Chasis traktor yaitu bagian rangka traktor roda empat yang merangkap
sebagai rumah dari sistem transmisi.
4.
Pemberat yaitu besi cor yang dirancang khusus untuk pemberat traktor agar
traktor tidak terangkat pada saat mengolah tanah.
5.
Poros PTO berfungsi untuk menggerakkan peralatan yang dalam
pengoperasiannya memerlukan putaran (bajak rotari) atau untuk menggerakkan
peralatan stasioner.

Sistem penyambungan peralatan yaitu bentuk peralatan pengolahan tanah yang


relatif besar maka pada traktor roda empat memerlukan mekanisme
penyambungan khusus yakni sistem penyambungan tiga titik (Mulyoto H dkk, 1996)

III.

3.1

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum mata kuliah Alat Mesin Pertanian dengan judul Pengenalan Alat
Pengolahan Tanah Sekunder (Garu Piring) ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
18 Maret 2015 pukul 08.00 09.40 WIB, di Laboratorium Daya Alat dan Mesin
Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

3.2

Alat dan Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum Pengenalan Alat Pengolahan Tanah
Sekunder (Garu Piring) yaitu meteran dan alat tulis.
Adapun alat yang digunakan pada praktikum Pengenalan Alat Pengolahan Tanah
Sekunder (Garu Piring) yaitu contoh Garu Piring dan Traktor roda empat.

3.2

Diagram Alir

Diperkenalkan tentang Garu Piring


Dijelaskan bagian-bagian dari Garu Piring

Dijelaskan cara mengukur Panjang dan Lebar Dimensi Garu Piring


Diberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya kepada asisten dosen
apabila masih ada yang kurang paham.
Dijelaskan fungsi dan cara menggunakan Garu Piring

IV.

4.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data hasil pengukuran


sebagai berikut :
Tabel 1. Dimensi Piringan Tipe Scallop
No.
Besaran
Nilai
1.
Panjang
183 cm
2.

Lebar
190 cm
3.
Tinggi
103 cm
4.
Sudut
15-20o

Tabel 2. Dimensi Piringan Tipe Sirkuler


No.
Besaran
Nilai
1.
Panjang
190 cm
2.
Lebar
172 cm
3.
Tinggi
100 cm
4.
Sudut
15-20o

4.2

A.

Pembahasan

Garu piring

Garu piring merupakan alat pengolah tanah sekunder, setelah dilakukan


pengolahan primer yaitu berupa pembajakan pada tanah, garu ini memiliki dua
perbedaan antara lain:
1.
Garu Piring Sirkuler, garu ini berbentuk piringan dan lingkaran,garu ini tidak
memiliki gerigi karena dipakai untuk tanah yang lebih remah. Garu ini biasa
digunakan pada tanah yang lebih remah ( lembut).
2.
Garu Piringan Scallop, garu ini berbentuk piringan dan memiliki gerigi pada
setiap pinggirnya, gerigi itu sudah diatur sesuai dengan besarnya diameter
piringan. Semakin besar piringan, maka gerigi pada garu piring semakin banyak.
Garu ini biasa digunakan pada tanah yang kering dan agak keras, guna dari gerigi
pada garu ini agar tidak terjadinya slip pada garu ketika mengenai bongkahan
tanah yang keras.

B.

Tipe Mata Bajak

Dari hasil praktikum pengolahan tanah sekunder (garu piring) ini, praktikan di
jelaskan tentang tipe-tipe dari bajak yaitu: (1) Bajak satu arah (one way), bajak ini
memiliki mata bajak yang searah, tipe ini dapat digunakan dapat digunakan pada
tanah dengan bidang miring. (2) bajak dua arah ( Two way), bajak ini dalam satu
rangka memiliki dua arah yang saling berlawanan, tipe ini juga dapat digunakan
pada tanah dengan bidang miring. (3) bajak Tandom, bajak ini memiliki 2 arah yang
saling bolak-balik, ada yang ke arah luar dan ke dalam, begitu juga sebaliknya. (4)
Bajak Offside, bajak ini memiliki sudut, jika sudutnya lebar maka area pembajakan
kecil dan jika sudutnya kecil maka area pembajakan lebar. Kelebihan dari bajak ini
pengolahan tanah menjadi lebih bagus dan kelemahan dari bajak ini adalah kurang
efektif apabila digunakan pada tanah dengan bidang miring, serta membutuhkan
biaya yang mahal untuk membeli bajak ini.

C.

Cara pengukuran

Untuk mengukur luas bagian dari garu piring ini menggunakan meteran biasa atau
meteran gulung. Cara pengukurannya yaitu dengan menghitung panjang dari ujung
depan ke ujung belakang bajak singkal. Pengukuran tidak dilakukan mengikuti alur
pisau tetapi lurus sesuai dengan arah garu piring dan didapatkan hasil pengukuran

pada garu piring tipe Scallop (panjang 183cm, lebar 190cm, tinggi 103cm, dan
sudut 15-20o) dan pada garu piring tipe sirkuler (panjang 190cm, lebar172cm, dan
tinggi 100cm).

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat kita ambil kesimpulan
sebagai berikut :
1.
Garu piringan (disk harrow) mempunyai ukuran dan kecekungan piringan lebih
kecil dibandingkan dengan bajak serta jumlah piringannya lebih banyak jika
dibandingkan dengan bajak piringan.
2.
Garu Piring Sirkuler berbentuk piringan dan lingkaran, garu ini tidak memiliki
gerigi karena dipakai untuk tanah yang lebih remah.
3.
Garu Piringan Scallop berbentuk piringan dan memiliki gerigi pada setiap
pinggirnya, gerigi itu sudah diatur sesuai dengan besarnya diameter piringan.
4.
Ada empat tipe bajak yaitu: satu arah (One way), dua arah (Two way),
Tandom, dan Offside.
5.
Hasil pengukuran pada garu piring tipe Scallop (panjang 183cm, lebar 190cm,
tinggi 103cm, dan sudut 15-20o) dan pada garu piring tipe sirkuler (panjang 190cm,
lebar172cm, dan tinggi 100cm).

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2002. Pengetahuan Alat dan Bahan dalam kegiatan pertanian.


Malang: Rineka Cipta dan Bina Adiaksara.

Mulyoto H dkk, 1996, Mesin-Mesin Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.

Soedijanto, 1971. Laporan tentang kegiatan Dinas Alat-alat dan Mesin-mesin


Pertanian. Jakarta: Direktorat Teknik Pertanian.

( Laporan Praktikum Alat Mesin Pertanian )

Oleh:

Fanya Alfacia Arafat


1314071022

LABORATORIUM DAYA ALAT DAN MESIN PERTANIAN


JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengolahan tanah dapat dipandang sebagai suatu usaha manusia untuk merubah
sifat-sifat yang dimiliki oleh tanah sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh
manusia. Di dalam usaha pertanian, pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan
untuk menciptakan kondisi fisik; khemis dan biologis tanah yang lebih baik sampai
kedalaman tertentu agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Di samping itu
pengolahan tanah bertujuan pula untuk : membunuh gulma dan tanaman yang
tidak diinginkan; menempatkan seresah atau sisa-sisa tanaman pada tempat yang

sesuai agar dekomposisi dapat berjalan dengan baik; menurunkan laju erosi;
meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan; mempersatukan
pupuk dengantanah; serta mempersiapkan tanah untuk mempermudah dalam
pengaturan air.
Pada budidaya tanaman pertanian, diperlukan beberapa tahap hingga pada
akhirnya mencapai proses panen dan proses pasca panen. Dalam proses-proses
tersebut yang merupakan proses awal adalah pengolahan lahan (soil tillage). Pada
proses ini berfungsi untuk menggemburkan tanah, menghilangkan kotoran-kotoran
dan sampah pada tanah. Proses pengolahan lahan meliputi tahap pembajakan dan
penggaruan.

Sebagian besar operasi penyiapan lahan diawali oleh pembajakan menggunakan


bajak singkal atau bajak piring. Hasil pembajakan dengan kedua bajak ini masih
berbongkah-bongkah dan belum siap untuk ditanami. Oleh karena itu, pengolahan
tanah perlu dilanjutkan hingga lahan benar-benar siap untuk ditanami. Operasi
pengolahan tanah setelah pembajakan dinamakan pengolahan tanah sekunder.
Untuk mencapai kondisi lahan siap tanam masih ada beberapa tahap pengolahan
tanah sekunder. Biasanya dimulai dengan penggaruan dan berakhir dengan
pembuatan bedengan (guludan).

Alat pengolahan tanah sekunder yang paling banyak diketahui yaitu bajak piring.
Setelah itu garu-garu lain seperti garu bergigi paku, garu bergigi pegas, dan garu
putar. Sebagai alat pengolah tanah sekunder, garu-garu tersebut digunakan untuk
menghancurkan lebih lanjut bongkah-bongkah tanah hasil pengolahan tanah
primer, menggemburkan dan meratakannya, serta memusnahkan tanaman
pengganggu (Depdiknas, 2002).

1.2

Tujuan

Adapun Tujuan dari praktikum Alat dan Mesin Pertanian ini adalah:
1.

Untuk mengetahui komponen-komponen pada garu piring.

2.

Untuk mengetahui jenis piringan pada garu piring.

3.

Untuk mengukur dimensi pada garu piring.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Garu Piring

Garu piringan (disk-harror), pada prinsipnya peralatan pengolah tanah ini hampir
menyerupai bajak piringan, khususnya bajak piringan vertikal. Perbedaannya hanya
terletak pada ukuran, kecekungan dan jumlah piringannya. Garu piringan
mempunyai ukuran dan kecekungan piringan yang lebih kecil dibandingkan dengan
bajak, hal ini disebabkan pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan tidak

diperlukan pernbalikan tanah yang efektif seperti pengolahan tanah pertama.


Selanjutnya karena draft penggaruan lebih kecil dari draft partibajakan, maka
dengan besar daya penarikan yang sama lebar kerja garu akan lebih besar
dibandingkan dengan lebar kerja bajak, dengan demikian jumlah piringan garu
piringan dengan sendirinya akan lebih banyak dibandingkan dengan bajak piringan
(Soedijanto, 1971).

Seperti bajak piringan, bagian bagian-bagian utarna dan garu piringan terdiri atas :
piringan ; poros piringan ; penggarak piringan ; kerangka. Kadang kala dilengkapi
pula dengan roda dukung, apabila sistim penggandengan dengan daya penariknya
menggunakan sistem hela trailing.Garu piringan biasanya tidak dilengkapi dengan
roda alur penstabil. Beberapa piringan dan garu piringan dirangkai menjadi satu
rangkaian dengan menggunakan satu poros, rangkaian-rangkaian ini biasa disebut
sebagai rangkaian piringan (disk gang). Konstruksi garu piringan umumnya terdiri
atas dua rangkaian piringan atau empat rangkaian piringan. Ditinjau dan proses
penghancuran tanah, langkah penggaruan dapat dibedakan atas : penggaruan satu
aksi (single action) dan penggaruan dua aksi (double action). Didasarkan atas
uraian di atas, garu piringan dibedakan atas garu piringan dua rangkaian satu aksi
(single action two gang-dlisk barrow) garu piringan dua rangkaian dua aksi (double
ion two anq disk harrow) garu piringan empat rangkaian dua aksi atau biasanya
disebut tandem (tandem disk-harrow). Bagian-bagian dari garu piring adalah :
piringan (disk), as (gang/arbor bolt), rangka (frame), bantalan (bearing), bumper,
kotak pemberat, dan pembersih tanah (scaper). (Soedijanto, 1971).

Piringan dapat bersisi rata atau bergerigl Piringan yang bergerigi biasanya
digunakan pada lahan yang mempunyai banyak sisa-sisa tanaman. Ukuran umum
berkisar antara 45 sampai 60 cm, sedangkan untuk tugas berat (heavy duty) antara
65 sampai 70 cm. Piringan dipasang pada suatu as yang berbentuk persegi dengan
jarak antara 15 sampai 22 cm, atau 25 sampai 30 untuk tugas berat dan masingmaing dipisahkan oleh gelondong (spool).

Masing-masing as (gang) diikat ke rangka melalui standar yang berdiri pada


bantalan. Untuk garu yang ringan satu as mempunyai dua bantalan, sedangkan
yang berat lebih dari dua bantalan.
Pada ujung as di bagian cembung piringan ditempatkan bumber berupa besi tuang
yang eukup berat untuk menambah tekanan ke samp ing.
Apabila garu piring tidak cukup berat untuk memecah tanah, maka dapat ditambah
beban yang ditempatkan pada kotak pemberat. Untuk membersihkan tanah yang

melekat pada piringan, biasanya setiap piringan dilengkapi dengan pengeruk tanah
(scraper) yang diikat pada rangka

Setiap piringan dari garu piringan biasanya dilengkapi dengan pengeruk (scraper)
yang berguna selain untuk membersihkan tanah yang lengket pada piringan, juga
membantu dalam pembalikan potongan tanah. Untuk menahan tekanan samping
yang terjadi saat bajak memotong tanah, bajak piring dilengkapi dengan roda alur
belakang (rear furrow wheel).

Beberapa keuntungan menggunakan garu ini adalah :


1.

Dapat bekerja ditanah keras dan kering.

2.

Dapat untuk tanah-tanah yang lengket.

3.

Dapat untuk tanah-tanah yang berbatu.

4.
5.

Dapat untuk tanah-tanah berakar.


Dapat untuk tanah-tanah yang memerlukan pengerjaan yang dalam.

Kegunaan Garu Piring


Kegunaan Sebagai pengolah tanah untuk perbaikan struktur butir-butir tanah,
memperbesar persediaan air, memperbaiki peresapan air dan aerasi tata udara
tanah, mengurangi evaporasi tanah, mempercepat pelapukan akar sisa tanaman
dan mempermudah perkembangan akar, memperbaiki kehidupan mikroba aerob
tanah dan memberantas gulma. Keunggulan Baik dan efisien untuk kebun seluas
2,5 - 5 Ha; Sangat cocok untuk usaha tani lahan kering seperti tanaman hortikultura
dan palawija. Dapat digandengkan dengan traktor mini bertenaga min 15 HP. Lebar
pengolahan.

Garu piringan digunakan pada pengolahan tanah sekunder, kelebihan dari garu ini
dapat bekerja ditanah keras dan kering (tanah yang lengket, berbatu, berakar, dan
tanah yang memerlukan pengerjaan yang dalam). Kelemahan dari alat ini yaitu
tidak dapat menutup sisa tanaman/rumput yang telah terpotong, bekas
pembajakan tidak betul-betul rata, dan hasil pengolahan tanahnya masih berupa
bongkahan-bongkahan (Soedijanto, 1971).

B. Pengolahan Tanah

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa pengolahan tanah adalah suatu usaha untuk
mempersiapkan lahan bagi pertumbuhan tanaman dengan cara menciptakan
kondisi tanah yang siap tanam. Walaupun pengolahan tanah sudah dilakukan oleh
manusia sejak dahulu kala dan sudah mengalami perkembangan yang demikian
pesat baik dalam metode maupun peralatan yang digunakan, tetapi sampai saat ini
pengolahan tanah masih belum dapat dikatakan sebagai ilmu yang pasti (eksakta)
yang dapat dinyatakan secara kuantitatif. Belum ada metode yang memuaskan
yang tersedia untuk menilai hasil olah yang dihasilkan oleh suatu alat pengolah
tanah tertentu, serta belum dapat ditentukan suatu kebutuhan hasil olah yang
khusus untuk berbagai tanaman untuk lahan kering.

Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa masalah pengolahan tanah


merupakan masalah yang penting untuk mendapatkan produksi pertanian yang
optimal. Kondisi tanah yang baik adalah salah satu faktor berhasilnya produksi
tanaman, dan untuk mencapai kondisi tanah yang baik diperlukan alat-alat
pertanian. Akhir-akhir ini masalah yang utama didalam pembukaan dan
pengolahan tanah adalah bagaimana agar didapatkan efisiensi yang optimal. Hal ini
dimaksudkan dari pengertian minimal tillage yaitu pengolahan yang seminimal
mungkin, tetapi menghasilkan tanah yang baik dan pertumbuhan tanaman yang
optimal dengan biaya yang rendah. Pekerjaan pengolahan tanah dapat dibagi
menjadi pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua. Peralatan
pengolahan tanah pertama disebut juga pembajakan dan pengolahan tanah kedua
disebut juga penggaruan.

Alat pengolahan tanah pertama adalah alat-alat yang pertama sekali digunakan
yaitu untuk memotong, memecah dan membalik tanah. Sedangkan pada
Pengolahan tanah kedua dilakukan setelah pembajakan. Perbedaan antara
pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua biasanya didasarkan pada
kedalaman pengolahan serta hasil olahannya. Pengolahan tanah pertama biasanya
mempunyai kedalaman olah yang lebih dalam ( >15 cm ) dengan bongkah tanah
hasil pengolahan lebih besar, sedangkan pada pengolahan tanah kedua mengolah
tanah lebih dangkal ( < 15 cm) serta hasil olahannya sudah halus dengan
permukaan tanah yang relatif rata (siap untuk ditanami). (Depdiknas, 2002).

C.

Traktor

Traktor roda empat adalah salah satu alat pengolah tanah jika dilengkapi dengan
peralatan pengolah tanah seperti bajak singkal, bajak piring, garu piring, dan lainlain. Traktor ini dirancang untuk bekerja di lahan kering bukan untuk lahan sawah.
Traktor roda empat yang biasa digunakan mempunyai daya antara 30-60 Kw (40-80
HP). Komponen utama pada traktor roda empat yaitu :
1.
Sistem kemudi digunakan untuk mengendalikan jalannya atau operasi
traktor di lapangan.
2.
Roda depan berfungsi untuk pengendalian dan memiliki ukuran diameter
lebih kecil dari roda bagian belakang.
3.
Chasis traktor yaitu bagian rangka traktor roda empat yang merangkap
sebagai rumah dari sistem transmisi.
4.
Pemberat yaitu besi cor yang dirancang khusus untuk pemberat traktor agar
traktor tidak terangkat pada saat mengolah tanah.
5.
Poros PTO berfungsi untuk menggerakkan peralatan yang dalam
pengoperasiannya memerlukan putaran (bajak rotari) atau untuk menggerakkan
peralatan stasioner.
Sistem penyambungan peralatan yaitu bentuk peralatan pengolahan tanah yang
relatif besar maka pada traktor roda empat memerlukan mekanisme
penyambungan khusus yakni sistem penyambungan tiga titik (Mulyoto H dkk, 1996)

III.

3.1

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum mata kuliah Alat Mesin Pertanian dengan judul Pengenalan Alat
Pengolahan Tanah Sekunder (Garu Piring) ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
18 Maret 2015 pukul 08.00 09.40 WIB, di Laboratorium Daya Alat dan Mesin
Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

3.2

Alat dan Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum Pengenalan Alat Pengolahan Tanah
Sekunder (Garu Piring) yaitu meteran dan alat tulis.
Adapun alat yang digunakan pada praktikum Pengenalan Alat Pengolahan Tanah
Sekunder (Garu Piring) yaitu contoh Garu Piring dan Traktor roda empat.

3.2

Diagram Alir

Diperkenalkan tentang Garu Piring


Dijelaskan bagian-bagian dari Garu Piring
Dijelaskan cara mengukur Panjang dan Lebar Dimensi Garu Piring
Diberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya kepada asisten dosen
apabila masih ada yang kurang paham.
Dijelaskan fungsi dan cara menggunakan Garu Piring

IV.

4.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh data hasil pengukuran


sebagai berikut :
Tabel 1. Dimensi Piringan Tipe Scallop
No.
Besaran
Nilai
1.
Panjang
183 cm
2.
Lebar
190 cm
3.
Tinggi
103 cm
4.
Sudut
15-20o

Tabel 2. Dimensi Piringan Tipe Sirkuler


No.
Besaran

Nilai
1.
Panjang
190 cm
2.
Lebar
172 cm
3.
Tinggi
100 cm
4.
Sudut
15-20o

4.2

A.

Pembahasan

Garu piring

Garu piring merupakan alat pengolah tanah sekunder, setelah dilakukan


pengolahan primer yaitu berupa pembajakan pada tanah, garu ini memiliki dua
perbedaan antara lain:
1.
Garu Piring Sirkuler, garu ini berbentuk piringan dan lingkaran,garu ini tidak
memiliki gerigi karena dipakai untuk tanah yang lebih remah. Garu ini biasa
digunakan pada tanah yang lebih remah ( lembut).
2.
Garu Piringan Scallop, garu ini berbentuk piringan dan memiliki gerigi pada
setiap pinggirnya, gerigi itu sudah diatur sesuai dengan besarnya diameter
piringan. Semakin besar piringan, maka gerigi pada garu piring semakin banyak.
Garu ini biasa digunakan pada tanah yang kering dan agak keras, guna dari gerigi
pada garu ini agar tidak terjadinya slip pada garu ketika mengenai bongkahan
tanah yang keras.

B.

Tipe Mata Bajak

Dari hasil praktikum pengolahan tanah sekunder (garu piring) ini, praktikan di
jelaskan tentang tipe-tipe dari bajak yaitu: (1) Bajak satu arah (one way), bajak ini
memiliki mata bajak yang searah, tipe ini dapat digunakan dapat digunakan pada
tanah dengan bidang miring. (2) bajak dua arah ( Two way), bajak ini dalam satu
rangka memiliki dua arah yang saling berlawanan, tipe ini juga dapat digunakan
pada tanah dengan bidang miring. (3) bajak Tandom, bajak ini memiliki 2 arah yang
saling bolak-balik, ada yang ke arah luar dan ke dalam, begitu juga sebaliknya. (4)
Bajak Offside, bajak ini memiliki sudut, jika sudutnya lebar maka area pembajakan
kecil dan jika sudutnya kecil maka area pembajakan lebar. Kelebihan dari bajak ini
pengolahan tanah menjadi lebih bagus dan kelemahan dari bajak ini adalah kurang
efektif apabila digunakan pada tanah dengan bidang miring, serta membutuhkan
biaya yang mahal untuk membeli bajak ini.

C.

Cara pengukuran

Untuk mengukur luas bagian dari garu piring ini menggunakan meteran biasa atau
meteran gulung. Cara pengukurannya yaitu dengan menghitung panjang dari ujung
depan ke ujung belakang bajak singkal. Pengukuran tidak dilakukan mengikuti alur
pisau tetapi lurus sesuai dengan arah garu piring dan didapatkan hasil pengukuran
pada garu piring tipe Scallop (panjang 183cm, lebar 190cm, tinggi 103cm, dan
sudut 15-20o) dan pada garu piring tipe sirkuler (panjang 190cm, lebar172cm, dan
tinggi 100cm).

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat kita ambil kesimpulan
sebagai berikut :

1.
Garu piringan (disk harrow) mempunyai ukuran dan kecekungan piringan lebih
kecil dibandingkan dengan bajak serta jumlah piringannya lebih banyak jika
dibandingkan dengan bajak piringan.
2.
Garu Piring Sirkuler berbentuk piringan dan lingkaran, garu ini tidak memiliki
gerigi karena dipakai untuk tanah yang lebih remah.
3.
Garu Piringan Scallop berbentuk piringan dan memiliki gerigi pada setiap
pinggirnya, gerigi itu sudah diatur sesuai dengan besarnya diameter piringan.
4.
Ada empat tipe bajak yaitu: satu arah (One way), dua arah (Two way),
Tandom, dan Offside.
5.
Hasil pengukuran pada garu piring tipe Scallop (panjang 183cm, lebar 190cm,
tinggi 103cm, dan sudut 15-20o) dan pada garu piring tipe sirkuler (panjang 190cm,
lebar172cm, dan tinggi 100cm).

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2002. Pengetahuan Alat dan Bahan dalam kegiatan pertanian.


Malang: Rineka Cipta dan Bina Adiaksara.

Mulyoto H dkk, 1996, Mesin-Mesin Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.

Soedijanto, 1971. Laporan tentang kegiatan Dinas Alat-alat dan Mesin-mesin


Pertanian. Jakarta: Direktorat Teknik Pertanian.