Você está na página 1de 16

AKHLAK TASAWUF

Konsep Marifat dalam Tasawuf

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

ANDITIYA NURIMAN

(NIM.1147010006)

DAUD FIRDAUS

(NIM. 1147010017)

EKA MAULANA

(NIM. 1147010022)

FAESHAL SAHLI

(NIM. 1147010023)

Konsep Marifat dalam Tasawuf

KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirohim.......
Segala puji hanya milik Allah SWT Dia-lah yang telah menganugerahkan Al-Quran
sebagai hudan lin nas (petunjuk bagi seluruh manusia) dan rahmat lil alamin (rahmat bagi
segenap alam). Dia-lah yang maha mengetahui makna dan maksud kandungan Al-Quran.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan dan
manusia pilihan-Nya. Dialah sebagai penyampai, pengamal, dan penafsir pertama AlQuran.
Dengan pertolongan dan hidayah-Nya-lah, makalah Konsep Marifat dalam
Tasawuf ini dapat diselesaikan. Makalah ini sengaja disusun berdasarkan tugas yang
diberikan pada semester kelima mata kuliah Akhlak Tasawuf, dengan harapan dapat
dimanfaatkan semua jurusan/prodi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebagai bahan
referensi kuliah dan diskusi pada tatap muka perkuliahan.
Penulis berharap agar para pembaca dapat memberikan kritik dan masukan yang
positif serta saran-sarannya untuk kesempurnaan makalah ini.
Merupakan suatu harapan pula, semoga makalah ini tercatat sebagai amal shaleh
dan menjadi motivator bagi penulis untuk menyusun makalah lain yang lebih baik dan
bermanfaat.
Bandung, 18 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah.............................................................................................5
1.3. Tujuan................................................................................................................5
1.4. Manfaat.............................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Marifat....................................................6
2.2. Alat untuk Marifat............................................................................................7
2.3. Tokoh yang Mengembangkan Marifat.............................................................9
2.4. Marifat dalam Al-Quran dan Hadits.............................................................11
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan.....................................................................................................12
3.2. Saran................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Marifat merupakan salah satu aspek dari kajian disiplin ilmu tasawuf
yang disandarkan kepada sumber ajaran Islam, yaitu al-Quran dan Hadits atau
sunnah yang tercermin dalam praktek kehidupan Rasulullah SAW. Kata marifat
yang secara khusus menjadi konsep spiritual Islam di dalam al-Quran memang tidak
ditemukan secara harfiah. Akan tetapi dapat digali makna marifat yang menjadi inti
kesufian dari subtansi berbagai pesan dalam al-Quran. Kata yang berakar dari
arafa
dalam keseluruhan al-Quran disebutkan sebanyak 71 kali. Dari 71 kali penyebutan
itulah dapat diketahui bahwa marifat dalam al-Quran memiliki banyak arti:
mengetahui, mengenal, sangat akrab, hubungan yang patut, hubungan yang baik, dan
pengenalan berdasarkan pengetahuan mendalam. Maka jika semua pengertian itu
dihimpun dalam satu pengertian, marifat menurut subtansi al-Quran memiliki
maksud sebagai pengenalan yang baik serta mendalam berdasarkan pengetahuan
yang menyeluruh dan rinci. Sebagai buah dari hubungan yang sangat dekat dan
baik.
Marifat merupakan pengetahuan yang sangat berbeda dengan pengetahuan
lainnya yang biasa didapatkan melalui metode rasional diskursif. Ia menangkap
objeknya secara langsung, tidak melalui representasi, image atau simbol-simbol dari
objek-objek penelitian. Seperti indra menangkap objeknya secara langsung, demikian
juga hati atau intuisi menangkap objeknya juga secara langsung. Perbedaannya
terletak pada jenis objeknya. Kalau objek indra adalah benda-benda yang bersifat
indrawi (mahsusat) sedangkan objek-objek intuisi adalah entitas-entitas spiritual
(maqulat). Dalam kedua modus pengetahuan ini manusia mengalami objekobjeknya secara langsung, dan kerena itu marifat disebut dengan ilmu eksperensial,
yang biasanya dikontraskan dengan pengetahuan melalui nalar.
Marifat tidak dapat diraih melalui jalan indrawi, hal itu seperti halnya mencari
cari mutiara yang berada di dasar laut hanya dengan datang dan memandang laut dari
darat. Marifat juga tidak bisa diperoleh dari lewat penggalian nalar, karena itu akan
sama seperti orang yang menimba air laut untuk mendapatkan mutiara itu. Untuk
mendapatkan mutiara marifat, seseorang membutuhkan penyelam ulung dan
5

beruntung, dengan kata lain butuh seorang mursyid yang berpengalaman. Bahkan
Rumi mengingatkan bukan hanya sekedar penyelam ulung, tetapi juga beruntung,
yakni bergantung kepada kemurahan Tuhan, karena tidak semua kerang yang ada di
laut mengandung mutiara yang didamba. Salah satu perbedaan antara marifat dan
jenis pengetahuan yang lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa
diperoleh melalui usaha keras, seperti belajar, merenung dan berfikir keras melalui
cara-cara berfikir yang logis. Jadi, manusia betul-betul berusaha dengan segenap
kemampuannya untuk memperoleh objek pengetahuannya. Tetapi marifat tidak bisa
sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya tergantung pada
kemurahan Tuhan. Manusia hanya bisa melakukan persiapan (istidad) dengan cara
membersihkan diri dari segala dosa dan penyakit-penyakit jiwa lainnya atau akhlak
yang tercela.

1.2. Rumusan Masalah


Sehubungan dengan latar belakang di atas ada beberapa masalah pokok yang
perlu mendapatkan perhatian:
1. Bagaimana konsep marifat dalam Tasawuf ?
2. Bagaimana cara mencapai marifat?
3. Bagaimana marifat dalam pandangan al-Quran dan Hadits?

1.3. Tujuan
Melihat dari Latar belakang dan Rumusan masalah dapat disimpulkan bahwa
tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui konsep Marifat dalam Tasawuf
2. Mengetahui cara mencapai marifat
3. Mengetahui marifat dalam pandangan al-Quran dan Hadits.

1.4. Manfaat
1. Makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan menambah wacana

baru dalam khazanah keilmuan tasawuf


2. Makalah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam
penulisan karya tulis selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Marifat
Marifat berasal dari kata `arafa, yurifu, irfan, berarti: mengetahui, mengenal,
atau pengetahuan Ilahi. Orang yang mempunyai marifat disebut arif. Menurut
terminologi, marifat berarti mengenal dan mengetahui berbagai ilmu secara rinci,
atau diartikan juga sebagai pengetahuan atau pengalaman secara langsung atas
Realitas Mutlak Tuhan. Dimana sering digunakan untuk menunjukan salah satu
maqam (tingkatan) atau hal (kondisi psikologis) dalam tasawuf. Oleh karena itu,
dalam wacana sufistik, marifat diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan
melalui hati sanubari. Dalam tasawuf, upaya penghayatan marifat kepada Allah
SWT (marifatullah) menjadi tujuan utama dan sekaligus menjadi inti ajaran tasawuf.
Marifat merupakan pengetahuan yang objeknya bukan hal-hal yang bersifat
eksoteris (dzahir), tetapi lebih mendalam terhadap penekanan aspek esoteris
(batiniyyah) dengan memahami rahasia-Nya. Maka pemahaman ini berwujud
penghayatan atau pengalaman kejiwaan. Sehingga tidak sembarang orang bisa
mendapatkannya, pengetahuan ini lebih tinggi nilai hakikatnya dari yang biasa
didapati orang-orang pada umumnya dan didalamnya tidak terdapat keraguan
sedikitpun.
Marifat bagi orang awam yakni dengan memandang dan bertafakkur melalui
pendzahiran (manifestasi) sifat keindahan dan kesempurnaan Allah SWT secara
langsung, yaitu melalui segala yang diciptakan Allah SWT di alam raya ini. Jelasnya,
Allah SWT dapat dikenali di alam nyata ini, melalui sifat-sifat-Nya yang tampak
oleh pandangan makhluk-Nya.
Menurut Al-Husayn bin Mansur al-Hallaj (w. 921 M) marifat adalah apabila
seorang hamba mencapai tahapan marifat, Allah SWT menjadikan pikiranpikirannya yang menyimpang sebagai sarana ilham, dan Dia menjaga batinnya agar
tidak muncul pikiran-pikiran selain-Nya. Adapun tanda seorang arif yaitu bahwa dia
kosong dari dunia maupun akhirat.
Para sufi ketika berbicara tentang marifat, maka masing-masing dari mereka
mengemukakan pengalamannya sendiri dan menunjukkan apa yang datang
kepadanya saat tertentu. Dan salah satu tanda marifat adalah tercapainya rasa
ketentraman dalam hati, semakin orang bertambah marifat maka semakin bertambah
7

ketentramannya. Sehingga apa yang diketahui dari pengalaman itu, membuahkan


manfaat berupa ketenangan batin. Dalam hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT :
Artinya: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(QS. Yunus: 62).
Dalam pandangan Harun Nasution (w. 1998 M) marifat berarti mengetahui
Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat memandang Tuhan, hal itu memiliki
ciri sebagai berikut :
1. Orang arif adalah bangga dalam kepapaannya, apabila disebut nama Allah
SWT dia bangga. Apabila disebut nama dirinya dia merasa miskin.
2. Jika mata yang terdapat dalam hati terbuka, mata kepalanya akan tertutup,
dan saat itu yang dilahatnya hanya Allah SWT.
3. Marifat merupakan cermin, jika seorang arif melihat ke cermin maka yang
dilihatnya hanyalah Allah SWT.
4. Semua yang dilihat orang arif baik waktu tidur maupun saat terjaga
hanyalah Allah SWT.
5. Seandainya marifat berupa bentuk materi, semua orang yang melihat
padanya akan mati karena tak tahan melihat betapa sangat luar biasa cantik
serta indahnya, dan semua cahaya akan dikalahkan dengan cahaya
keindahan yang sangat gemilang tersebut.
Dari beberapa definisi bisa diketahui bahwa marifat adalah mengetahui
rahasia-rahasia Tuhan dengan menggunakan hati sanubari, sehingga akan
memberikan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan yang seyakin-yakinnya dari
keyakinan tersebut akan muncul ketenangan dan bertambahnya ketaqwaan kepada
Allah SWT.

2.2. Alat untuk Marifat

Alat yang digunakan untuk marifat telah ada dalam diri

manusia, yaitu Qalb (hati), namun artinya tidak sama dalam heart
dalam bahasa inggris, karena qalb selain dari alat untuk merasa
juga sebagai alat untuk berfikir. Bedanya qalb dengan akal ialah
bahwa akal tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya
tentang Tuhan, sedang qalb bisa mengetahui hakikat dari segala
yang ada, dan jika dilimpahi cahaya Tuhan, bisa mengetahui
rahasia-rahasia Tuhan, qalb yang telah di bersihkan dari segala
dosa dan maksiat melalui serangkai dzikir dan wirid secara teratur
8

akan dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan, yaitu setelah hati


tersebut disinari cahaya Tuhan.
Proses sampainya qalb pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya
dengan

konsep

takhalli,

Tahalli

dan

Tajalli.

Takahlli

yaitu

mengosongkan diri dari akhlaq yang tercela dan perbuatan masiat


melalui taubat. Hal ini dilanjutkan dengan tahalli yaitu menghiasi
diri dengan akhlaq yang mulia dan amal ibadah. Sedangkan Tajalli
adalah terbukanya hijab, sehingga tampak jelas cahaya Tuhan, Hal
ini sejalan dengan firman Allah :
Artinya: Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu,
kejadian itu menjadikan gunung itu menjadikan gunung
itu hancur luluh dan musa jatuh pingsan. (QS. Al-Araf,
7:143).
Mengenai pengertian Tajalli ini lebih lanjut di jelaskan dalam
kitab Isan al-kamil sebagai berikut :
Tajalli Allah SWT dalam perbuatanya, ialah ibarat
daripada penglihatan dimana seseorang hamba Allah
melihat pada-Nya berlaku kudrat Allah pada sesuatu.
Ketika itu, ia melihat Tuhan, maka tiadalah perbuatan
seorang hamba, gerak dan diam serba isbat adalah bagi
Allah semata-mata.
Tajalli dapat diartikan,
Siapa-siapa baginya tajalli Allah SWT dari segi namanya
yang

disebut,

maka

terbukalah

baginya

daripada

nampak nur illahi dalam keadaan biasa, maksudnya agar


ia

mendapatkan

jalan

kepada

marifat.

Bahwa

sesungguhnya Allah ialah pada ketika itu tajalli Allah


SWT

baginya,

karena

sesungguhnya

Allah

adalah

tampak. Ketika itu bertempatlah hamba pada tempat


yang batin karena fananya sifat-sifat kebaharuanya
ketika nampaknya wujud Al-Haq Al-Yakin.
Kutipan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa tajalli
adalah jalan untuk mendapatkan marifat, dan terjadi setelah
terjadinya al-fana yakni hilangnya sifat-sifat dan rasa kemanusiaan,
dan melebur pada sifat-sifat Tuhan. Alat yang digunakan untuk
9

mencapai tajalli ini adalah hati, yaitu hati yang telah mendapatkan
cahaya dari Tuhan.
Kemungkinan manusia mencapai tajalli atau mendapatkan
limpahan cahaya Tuhan itu dapat pula dilihat dari isyarat ayat
berikut ini :
Cahaya diatas cahaya, Allah mengkaruniakan cahayaNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An-Nur:
35).
Dengan

limpahan

cahaya

Tuhan

itulah

manusia

dapat

mengetahui rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Dengan cara


demikian ia dapat mengethui hal-hal yang tidak diketahui oleh
manusia

biasa.

Orang

yang

sudah

mencapai

marifat

ia

memperoleh hubungan langsung dengan sumber ilmu yaitu Allah.


Dengan hati yang telah dilimpahi cahaya, ia dapat diibaratkan
seperti orang yang memiliki antene parabola yang mendapatkan
langsung pengetahuan dari Tuhan. Allah berfirman:
Dan di atas yang berilmu pengetahuan ada lagi yang
Maha Mengetahui (Allah). (QS. Yusuf, 12:76).
Marifat yang dicapai seseorang itu terkadang diberi nama
yang bermacam-macam. Imam Al-Syarbasi menyebutnya ilmu al
mauhubah

(pemberian).

Sedangkan

Imam

Asy-Syuhrawardi

menyebutnya Al-Isyraqiyah (pancaran), Ibnu Sina menyebut AlFaid(limpahan). Sementara dikalangan dunia pesantren dikenal
dengan istilah Futuh (pembuka), dan dikalangan masyarakat Jawa
dikenal dengan nama Ilmu Laduni, dan dikalangan kebatinan
disebut Wangsit.

2.3. Tokoh yang Mengembangkan Marifat


Dalam literatur tasawuf dijumpai dua orang tokoh yang mengenalkan paham
marifah ini, yaitu Al-Ghazali dan Zun al-Nun al-Misri. al-Ghazali nama lengkapnya
Abu Hamid Muhammad al-Ghazali lahir pada tahun 1059M di Ghazaleh suatu kota
kecil terletak di dekat Tus di Khurasan. Ia pernah belajar pada Imam al-Haramain alJuwaini, Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyafur. Setelah mempelajari ilmu
agama, ia mempelajari teologi, ilmu pengetahuan alam, filsafat, dan lain-lain,
akhirnya ia memilih tasawuf sebagai jalan hidupnya. Setelah bertahun-yahun
10

mengembara sebagai sufi ia kembali ke Tus di tahun 1105M dan meninggal di sana
pada tahun 1111M.
Adapun Zun al-Misri berasal dari Naubah, suatu negeri yang terletak Sudan
dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, yang diketahui hanya tahun
wafatnya, yaitu 860M. Menurut Hamka, beliaulah puncaknya kaum Sufi dalam abad
ketiga hijrah. Beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan untuk menuju
Tuhan. Yaitu mencintai Tuhan, membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang
diturunkan, dan takut terpaling dari jalan yang benar.
Mengenai bukti bahwa kedua tokoh tersebut membawa paham marifat dapat
diikuti dari pendapat-pendapatnya di bawah ini. Al-Ghazali misalnya mengatakan,
marifat adalah:
Tampak jelas rahasia-rahasia ketuhanan dan pengetahuan mengenai
susunan urusan ketuhanan yang mencangkup segala yang ada.
Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan, marifat adalah:
Memandang kepada wajah (rahasia) Allah.
Seterusnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai marifat
tentang Tuhan, yaitu arif, tidak akan mengatakan ya Allah atau ya Rabb karena
memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada di
belakang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan
memanggil temannya itu sendiri.
Tetapi bagi Al-Ghazali marifat urutannya terlebih dahulu daripada mahabbah,
karena mahabbah timbul dari marifat. Namun mahabbah yang dimaksud Al-Ghazali
berlainan dengan mahabbah yang diucapkan oleh Rabiah al-Adawiyah, yaitu
mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta
yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia
hidup, rezeki, kesenangan dan lain-lain. Al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa
marifat dan mahabbah itulah setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai seorang sufi.
Dan pengetahuan yang diperoleh dari marifat lebih tinggi mutunya dari pengetahuan
yang diperoleh dengan akal.
Adapun marifat yang dimajukan oleh Zun al-Nur al-Misri adalah pengetahuan
hakiki tentang Tuhan. Menurutnya marifat hanya terdapat pada kaum sufi yang
sanggup melihat Tuhan dengan hati sanubari mereka. Pengetahuan serupa ini hanya
diberikan Tuhan kepada kaum sufi, sehingga hatinya penuh dengan cahaya. Ketika
11

Zun al-Nun al-Misri ditanya bagaimana ia memperoleh marifat tentang Tuhan, ia


menjawab:
Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena
Tuhan aku tidak akan tahu Tuhan.
Ungkapan tersebut menunjukan bahwa marifat tidak diperoleh begitu saja,
tetapi melalui pemberian Tuhan. Marifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi
tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan. Marifat adalah pemberian Tuhan
kepada sufi yang sanggup menerimanya. Pemberian tersebut dicapai setelah seorang
sufi lebih dahulu menunjukkan kerajinan, kepatuhan dan ketaatan mengabdikan diri
sebagai hamba Allah dalam beramal secara lahiriah sebagai pengabdian yang
dikerjakan oleh tubuh untuk beribadah.

2.4. Marifat dalam Al-Quran dan Hadits


Uraian di atas telah menginformasikan bahwa marifat adalah pengetahuan
tentang rahasia-rahasia dari Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya melalui
pancaran cahaya-Nya yang dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi. Dengan
demikian marifat berhubungan dengan nur (cahaya Tuhan).
Di dalam Al-Quran, di jumpai tidak kurang dari 43 kali kata nur diulang dan
sebagian besar dihubungakan dengan Tuhan. Misalnya ayat yang berbunyi:
Artinya: (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh
Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. Al-Nur, 24:40)
Artinya: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya
untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari
Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (QS. AlZumar, 39:22)
Dua ayat tersebut sama-sama berbicara tentang cahaya Tuhan. Cahaya tersebut
ternyata dapat diberikan Tuhan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Mereka
yang mendapatkan cahaya akan dengan mudah dapat mendapatkan petunjuk hidup,
sedangkan mereka yang tidak mendapatkan cahaya akan mendapatkan kesesatan
hidup. Dalam marifat kepada Allah yang didapat seorang sufi adalah cahaya.
Dengan demikian ajaran marifat sangat dimungkinkan terjadi dalam Islam, dan tidak
bertentangan dengan al-Quran.
Selanjutnya di dalam hadis kita jumpai sabda Rasulullah yang berbunyi:
Aku (Allah) adalah pembendaharaan yang tersembunyi (ghaib), Aku
ingin memperkenalkan siapa Aku, maka Aku ciptakanlah makhluk. Oleh

12

karena itu Aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka. Maka mereka


itu mengenal Aku. (Hadits Qudsi).
Hadis tersebut memberikan petunjuk bahwa Allah dapat dikenal oleh manusia.
Caranya dengan mengenal atau meneliti ciptaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa
marifah dapat terjadi, dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

13

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

Marifat berasal dari kata `arafa, yurifu, irfan, berarti: mengetahui, mengenal,
atau pengetahuan Ilahi. Menurut terminologi, marifat berarti mengenal dan
mengetahui berbagai ilmu secara rinci, atau diartikan juga sebagai pengetahuan
atau pengalaman secara langsung atas Realitas Mutlak Tuhan. Marifat adalah
mengetahui rahasia-rahasia Tuhan dengan menggunakan hati sanubari, sehingga
akan memberikan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan yang seyakinyakinnya dari keyakinan tersebut akan muncul ketenangan dan bertambahnya

ketaqwaan kepada Allah SWT.


Proses sampainya Marifat

ini erat kaitannya dengan konsep

takhalli, Tahalli dan Tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri dari


akhlaq yang tercela dan perbuatan masiat melalui taubat. Hal
ini dilanjutkan dengan tahalli yaitu menghiasi diri dengan akhlaq
yang

mulia

dan

amal

ibadah.

Sedangkan

Tajalli

adalah

terbukanya hijab, sehingga tampak jelas cahaya Tuhan.


Di dalam Al-Quran, dijumpai tidak kurang dari 43 kali kata An-Nur (cahaya)
diulang dan sebagian besar dihubungakan dengan Tuhan. Dalam marifat kepada
Allah yang didapat seorang sufi adalah cahaya. Dengan demikian ajaran marifah
sangat dimungkinkan terjadi dalam Islam, dan tidak bertentangan dengan alQuran. Selanjutnya di dalam hadis dijumpai sabda Rasulullah yang berbunyi:
Aku (Allah) adalah pembendaharaan yang tersembunyi (ghaib), Aku ingin
memperkenalkan siapa Aku, maka Aku ciptakanlah makhluk. Oleh karena itu Aku
memperkenalkan diri-Ku kepada mereka. Maka mereka itu mengenal Aku.
(Hadis Qudsi). Hadis tersebut memberikan petunjuk bahwa Allah dapat dikenal
oleh manusia. Caranya dengan mengenal atau meneliti ciptaan-Nya. Ini
menunjukkan bahwa marifah dapat terjadi, dan tidak bertentangan dengan ajaran
Islam.

3.2. Saran

14

Makalah ini mungkin masih terbilang singkat. Oleh karena itu, kami
menyarankan kepada pemakalah lain untuk mengkaji lebih dalam mengenai konsep
marifat dalam tasawuf mengingat pentingnya ajaran yang terkandung di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. 2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers.
Nasution, Ahmad Bangun, dan Siregar, Royani Hanun. 2013. Aklak Tasawuf: Pengenalan,
Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Disertai Biografi Tokoh-tokoh sufi). Jakarta:
Rajawali Pers.
Hidayat, Nur. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
http://www.rangkumanmakalah.com/konsep-marifat-dalam-tasawuf/ diakses pada tanggal
16 November 2016 Pukul 13.09.
http://amamdesign.blogspot.co.id/2013/04/akhlak-tasawuf-marifat.html

diakses

pada

tanggal 16 November 2016 Pukul 13.12.


http://blackjack1994.blogspot.co.id/2015/01/marifat-dalam-tasawuf_2.html diakses pada
tanggal 16 November 2016 Pukul 13.13.
https://wulandaasrifa.wordpress.com/2015/08/13/makalah-akhlak-tasawuf/ diakses pada
tanggal 16 November 2016 Pukul 13.16.
http://rizkyfazliana.blogspot.com/2013/05/marifah-akhlak-tasawuf.html
tanggal 16 November 2016 Pukul 13.20.

15

diakses

pada