Você está na página 1de 38

STRUKTUR UMUM

Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut jenis-jenis ikatan karbon yang dikandungnya.


Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan dinamakan hidrokarbon
jenuh. Hidrokarbon dengan dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua
atau tiga dinamakan hirokarbon tak jenuh.
Hidrokarbon jenuh:
H2C
CH4

CH3CH3

CH2

H2C

CH2
CH2

Hidrokarbon tak jenuh:

H
C = C

CH2 = CH2

CH = CH

C
C

H
C

Hidrokarbon jenuh dengan atom-atomnya bersatu dalam satu rantai lurus atau rantai yang
bercabang diklasifikasikan sebagai alkana.
Alkana ranta lurus:
CH2
CH3CH2CH2CH3

CH3

CH2
CH2

CH3
CH2

Alkana rantai cabang:


Terikat pada tiga atom karbon lain

terikat pada empat atom karbon lain


CH3

CH3

CH
CH3

CH3

CH3

CH3

CH3

Hidrokarbon jenuh dengan atom-atom karbon yang membentuk sebuah cincin disebut
sikloalkana.
Sikloalkana

Semua rantai terbuka dari alkana yang nonsiklik mempunyai rumus umum CnH2n+2 dengan n
adalah jumlah atom karbonnya. Karbon (n= 1) dan empat atom hydrogen (2n + 2 = 4).
Berikutcontohnya:
CH3
CH3CHCH3atau C4H10

n = 4

2n + 2 = 10

CH3
CH3CH2CH2CH2CCH3atau

C8H18

CH3
n = 8 2n + 2 = 18
Alkana rantai lurus
Tiap deret senyawa organic, seperti alkane yang ditulis sedemikian rupa sehingga tiap
anggota dari deret tersebut berbeda dari tetangganya oleh sebuah gugus CH2 yang dinamakan
deret homolog.
Sebuah Deret Homolog
CH3CH2OH CH3CH2CH2OH

CH3CH2CH2CH2OH

Penambahan sebuah gugus metil


Nama sistematik dari empat alkane rantai lurus pertama didasarkan pada nama-nama trivial
dari senyawa-senyawa ini. Nama-nama kelima dan selanjutnya dari alkane, berdasarkan

namaYunani dan Latin, misalnya nama pentane dengan lima atom karbon berasal dari kata
Yunani penta yang berarti lima. Akhiran ana dipakai untuk semua alkane dan sikloalkana
untuk menunjukkan suatu hidrokarbon jenuh.
Alkana rantai cabang
Kita anggap rantai lurus yang terpanjang dalam struktur ini sebagai induk dari namanya.
Rantai cabang,
Atau substitusi

rantai induk atau akar

CH3
CH3CH2CHCH2CH2CH3

Namundari alkane cabang dibuat dengan menambahkan nama dari rantai cabangnya kepada
rantai induk. Rantai cabang seperti CH3atau CH3CH2 disebut gugus alkil berasal dari alkana
yang akhirannya diganti il. Nama masing-masing gugusalkilditurunkandarinama alkane
rantailurus yang bersangkutan dengan mengganti akhiran ana menjadi il. Misalnya metana
diubah menjadi metil. Huruf R dipakai sebagai symbol umum untuk gugus alkil. Cabang
dibuat dengan menambahkan nama dari rantai cabangnya kepada rantai induk. Rantai cabang
seperti CH3 atau CH3CH2 disebut gugus alkil berasal dari alkana yang akhirannya diganti il.
Nama masing-masing gugus alkil diturunkan dari nama alkane rantai lurus yang bersang
kutan dengan mengganti akhiran ana menjadi il. Misalnya metana diubah menja dimetil.
Huruf R dipakai sebagai symbol umum untuk gugus alkil.
CH4

CH3

RH

Metana

gugus metil

Alkana

Gugus alkil

dapat diganti dengan CH3

, CH3CH2

, CH3CH2CH2

, dan sebagainya.

Peraturan pemberian nama alkane rantai cabang yang sederhana Tentukan karbon rantai lur
us terpanjang dalam rumus. Ini akan menjadi rantai induk dan namanya akan menjadi nama
utama dari senyawa tersebut.
Beri nomor karbon dari rantai induk, dimulai dengan karbon paling akhir yang terdekat pada
rantai cabang atau rantai tambahan.
Beri nama rantai tambahan Satukan namanya dengan member nomor tempat (nomor karbon
dengan rantai cabang) dengan tanda kutip dan nama rantai cabang serta induk menjadi satu
kata.

Gugus Alkil Cabang

Rantai cabang yang melekat pada rantai induk dapat berupa rantai lurus atau rantai
bercabang. Misalnya gugus alkil dengan 3 atom karbon, gugus propil. Sebuah gugus propil
dapat terikat pada rantai induk pada atom karbon terakhir atau karbon atom di tengah.
Apabila gugus tiga atom tersebut terikat pada rantai lurus induk pada karbon terakhir, maka
gugus propil ini adalah suatu rantai lurus dan namanya gugus propil. Untuk menekankan
bahwa ketiga atom karbon tersebut membentuk rantai lurus, kita tambahkan awalan n(berarti normal). Gugus propil ini dapat juga dinamakan n-propil. Awalan n- ini tidak
diharuskan, boleh dipakai atau boleh juga tidak.
Gugus Alkil Tiga Karbon Rantai Lurus:I
CH3CH2CH2
Gugus propil atau n- propil
Apabila ketiga atom dari propil melekat pada rantai induk di tengahnya, maka gugus ini akan
bercabang. Gugus alkil yang bercabang ini dinamakan isopropyl (berarti gugus ini berisomer
dengan gugus n-propil). Awalan iso harus dipakai.
Gugus Alkil Tiga Rantai Cabang:

Reaksi Alkana
Dibandingkan dengan kebanyakan senyawa organic yang lain, secara relatif alkane adalah
inert. Sering kali alkane disebut paraffin dari kata Latin parfumaffinis, sedikit afinitas, untuk
menekankan sukarnya bereaksi. Paraffin (wax) itusendiri yang dipakai untuk lilin dan perekat
tutup botol selai adalah suatu campuran alkana yang mempunyai berat molekul tinggi.
Petroleum Jelly atau Vaseline adalah campuran alkane yang dipakai untuk melindungi kulit
karena sukar bereaksi dan tak larut dalam air. Alkana sukar bereaksi karena alakana adalah
senyawa yang nonpolar dan tak mempunyai gugus fungsi untuk menarik suatu regensia.
A.Halogenasi
Reaksi alkana dengan klor (Cl2) atau Brom (Br2) disebut reaksi halogenasi. Halogen lain,
flour bereaksi secara eksplosit dengan senyawa organic, sedangkan yodium tak cukup reaktif
untuk dapat bereaksi dengan alkan.
H
H

H lepas
H + Cl

cahaya
Cl

H
Metana

H
H

Cl didapat
Cl

H +

Cl

Cl

H
klor

krometana

hydrogen kloirida

Langkah pertama na dalam halogenasi adalah terbelahnya molekul halogen menjadi dua
partikel netral yang dinamakan radikal bebas atau radikal. Suatu radikal adalah sebuah atom

atau kumpulan atom yang mengandung satu atau lebih electron yang tidak mempunyai
pasangan. Radikal klor adalah atom klor yang netral, berarti atom klor yang tidak mempunyai
muatan positif atau negatif. Alkana dapat bereaksi dengan halogen dibawah pengaruh panas
membentuk alkil halide dengan hasil samping hydrogen klorida.
Pembelahan molekul Cl2 atau Br2 menjadi radikal memrlukan energy sebesar 58 kkal/mol
untuk Cl2 dan 46 kkal/mol untuk Br2. Energy yang didapat dari cahaya atau panas ini, diserap
oleh halogen dan akan merupakan reaksi permulaan yang disebut langkah permulaan.

A. Reaksi Oksidasi Alkana


Senyawa yang terbentuk dari hasil reaksi dengan oksigen dinamakan oksida sehingga
reaksi antara oksigen dan suatu unsur dinamakan reaksi oksidasi.
Suatu senyawa alkana yang bereaksi dengan oksigen menghasilkan karbon dioksida dan
air disebut dengan reaksi pembakaran. Perhatikan persamaan reaksi oksidasi pada
senyawa hidrokarbon berikut.
CH4(g) + O2(g) CO2(g) + H2O(g)
Reaksi pembakaran tersebut, pada dasarnya merupakan reaksi oksidasi. Pada senyawa
metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) mengandung satu atom karbon. Kedua
senyawa tersebut harus memiliki bilangan oksidasi nol maka bilangan oksidasi atom
karbon pada senyawa metana adalah 4, sedangkan bilangan oksidasi atom karbon pada
senyawa karbon dioksida adalah +4.
Bilangan oksidasi atom C pada senyawa karbon dioksida meningkat (mengalami
oksidasi), sedangkan bilangan oksidasi atom C pada senyawa metana menurun.
Alkana dapat mengalami oksidasi dengan gas oksigen, dan reaksi pembakaran ini selalu
menghasilkan energi. Itulah sebabnya alkana digunakan sebagai bahan bakar. Secara
rata-rata, oksidasi 1 gram alkana menghasilkan energi sebesar 50.000 joule.
Reaksi pembakaran sempurna:
CH4 + 2 O2-> CO2 + 2 H2O + energi
Reaksi pembakaran tidak sempurna:

CH4 + 3/2 O2-> CO + 2 H2O + energy

B. Reaksi reaksi Pada alkanan


1. Reaksi substitusi
Reaksi substitusi merupakan reaksi yang melibatkan penggantian atom/gugus atom pada
molekul dengan atom/gugus atom lainnya. Reaksi substitusi umumnya terjadi pada senyawa
jenuh (tunggal) tanpa terjadi perubahan ikatan karakteristik (tetap jenuh)
A + B C > A C + B
Contoh reaksi substitusi:
Reaksi pembentukan haloalkana: reaksi alkana dengan halogen
R H + X2 > R X + H X
Contoh:
CH3

Reaksi

substitusi

Cl2

atom

>

pada

alkohol

CH3

Cl

dengan

logam

reaktif

HCl
(Na,

K)

H2

atom H pada gugus OH dapat disubstitusi oleh logam reaktif seperti Na dan K
R OH + Na > R ONa + H2
Contoh:
2

C2H5

OH

Na

>

C2H5

ONa

Reaksi alkoksi alkana (eter) dengan PCl5 menghasilkan haloalkana


R O R + PCl5 > R Cl + R Cl + POCl3

Contoh:
CH3

CH3

PCl5

>

CH3Cl

CH3Cl

+POCl3

Reaksi esterifikasi: reaksi pembentukan ester dari alkohol dan asam karboksilat
R OH + R COOH > R COOR + H OH
Contoh
CH3 OH + CH3 COOH > CH3 COOCH3 + H2O
2. Reaksi adisi
Reaksi adisi adalah reaksi senyawa karbon yang melibatkan penggabungan molekul-molekul.
Reaksi adisi juga dapat diartikan sebagai reaksi pemutusan ikatan rangkap (tak jenuh)
menjadi ikatan tunggal (jenuh).

Contoh
Reaksi

reaksi
adisi

H2

pada

alkena

substitusi:
membentuk

alkana

H2C = CH2 + H2 > H3C CH3


Reaksi

adisi

H2

pada

alkanal

membentuk

alkohol

primer

Ikatan rangkap C = O pada alkanal bereaksi dengan H2 untuk menghasilkan alkohol primer.

Disebut juga dengan reaksi reduksi karena terjadi penurunan bilangan oksidasi C
Reaksi

adisi

H2

pada

keton/alkanon

menghasilkan

alkohol

sekunder

Ikatan rangkap C = O pada alkanon/keton bereaksi dengan H 2 untuk menghasilkan alkohol


sekunder.

Reduksi

H2O

pada

asam

karboksilat

menghasilkan

suatu

alkohol

sekunder

Ikatan rangkap C = O pada asam karboksilat akan terbuka akibat penambahan reduktor kuat
untuk menghasilkan alkohol primer

3. Reaksi eliminasi
Reaksi eliminasi merupakan reaksi peruraian suatu molekul menjadi molekul-molekul lain di
mana salah satu molekul dikatakan tereliminasi. Reaksi eliminiasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi pembentukan ikatan rangkap dari ikatan tunggal (kebalikan dari reaksi adisi).
Reaksi
CH3

eliminasi

CH2

H2

dari

CH3

>

CH3

alkana

menjadi

CH

CH2

alkena
+

H2

Reaksi eliminasi air (dehidrogenasi) dari alkohol


Alkohol dapat bereaksi membentuk alkena dengan bantuan katalis H2SO4 pekat berlebih pada
suhu 180oC.
CH3 CH2 OH > CH2 = CH2 + H2O
Reaksi

eliminasi

HX

dari

haloalkana

(dehidrohalogenasi)

Haloalkana R X dapat bereaksi dengan gugus OH yang larut dalam alkohol seperti NaOH
etanolis atau CH3OK, membentuk alkuna.

4. Reaksi oksidasi
Reaksi melibatkan oksidator seperti O2, O3, dan KMnO4. Reaksi oksidasi yang penting adalah
reaksi

dengan

O2

yang

dikenal

Contoh reaksi oksidasi:


Reaksi oksidasi alkohol primer, sekunder, dan tersier

sebagai

pembakaran.

Alkohol primer, sekunder, dan tersier memberikan reaksi berbeda terhadap oksidator seperti
K2Cr2O7, KMnO4, dan O2.
Reaksi oksidasi alkohol primer, sekunder, dan tersier selengkapnya dapat di lihat di sini.
Reaksi
Alkoksi

oksidasi
alkana

pada

bereaksi

Reaksi

alkoksi

dengan

O2

membentuk

oksidasi

alkana
senyawa

pada

(eter)
hidroperoksida
alkanal/aldehid

Reaksi oksidasi alkanal digunakan sebagai reaksi identifikasi antara alkanal/aldehid dengan
alkanon/keton. Simak informasi lengkapnya di sini.
Reaksi

oksidasi

alkanon/keton

Alkanon tidak dapat mereduksi oksidator lemah seperti larutan fehling dan larutan tollens.
Sifat ini, digunakan untuk membedakan alkanon dari isomer fungsinya, yaitu alkanal/aldehid.
Simak informasinya di sini.
Reaksi

oksidasi

pada

asam

alkanoat

Reaksi oksidasi asam alkanoat hanya terjadi pada asam metanoat dan asam 1,2 etanadioat

5. Reaksi polimerisasi
Reaksi polimerisasi melibatkan penggabungan molekul-molekul kecil yang disebut monomer
menjadi suatu molekul rantai panjang atau yang disebut polimer. Anda dapat menyimak sifatsifat polimer dengan mengklik di sini. Reaksi polimerisasi dapat dibedakan menjadi 2:
Polimerisasi adisi: monomer-monomer bergabung membentuk suatu polimer
Monomer + monomer + monomer + . . . > polimer
Beberapa monomer yang mengalami polimerisasi adisi dapat dilihat pada tabel berikut.

Polimerisasi kondensasi: monomer-monomer bergabung membentuk polimer dengan


melepas molekul kecil seperti H2O dan HCl
Monomer + monomer + monomer + . . . > polimer + molekul kecil

Beberapa monomer yang mengalami polimerisasi kondensasi dapat dilihat pada tabel berikut.

BAB II
PEMBAHASAN
A. ALKANA
1.

Pengertian dan Struktur Alkana


Alkana biasa disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh. Disebut hidrokarbon karena

di dalamnya hanya terkandung atom karbon dan hidrogen. Disebut jenuh karena hanya
memiliki ikatan tunggal C-H dan C-C saja. Alkana memiliki rumus umu CnH2n+2, di mana n
adalah bilangan asli yang menyatakan jumlah atom karbon. Alkana juga sering disebut
sebagai senyawa alifatik (Yunani = aleiphas yang berarti lemak). Hal ini dikarenakan lemaklemak hewani mengandung karbon rantai panjang yang mirip dengan alkana . Alkana dengan
satu formula dapat membentuk beberapa struktur molekul. Misalnya alkana dengan empat
atom karbon dapat membentuk normal butana dan isobutana, keduanya sama-sama memiliki
rumus molekul C4H10. Hal yang sama juga terjadi untuk C 5H12, dan seterusnya. Suatu
senyawa yang memiliki jumlah dan macam atom sama tetapi berbeda dalam penataannya

disebut dengan isomer. Isomer berasal dari bahasa Yunani; isos + meros yang berarti terbuat
dari bagian yang sama. Senyawa seperti butana dan isobutana hanya berbeda pada urutan
atom yang terikat satu sama lainnya,disebut isomer konstitusional.
Isomer konstitusional tidak terbatas hanya untuk alkana, tetapi juga pada sebagian
besar senyawa organik. Isomer konstitusional bisa berbeda pada susunan kerangka atom
karbon (seperti pada butana dan isobutana), perbedaan gugus fungsi (seperti pada etanol dan
dimetil eter), atau berbeda pada penempatan gugus fungsi (isopropilamina dan propilamina).
Meskipun memiliki formula yang sama, sifat-sifat fisika kimia dari isomer biasanya berbeda.
Alkana dapat digambarkan dengan menggunakan struktur terkondensasi. Semua
ikatan dalam molekul diabaikan/ dihilangkan. Jika ada tiga atom hidrogen terikat pada satu
karbon, digambar dengan CH3, jika dua hidrogen digambar dengan CH2, dan seterusnya.
Dengan demikian kita dapat menggambar butana dengan struktur CH 3CH2CH2CH3 atau
CH3(CH2)2CH3.

Alkana diberi nama berdasarkan jumlah atom karbonnya. Penamaan diambil dari
bahasa Yunani, kecuali untuk satu hingga empat atom karbon, yaitu metana, etana, propana,
dan butana. Akhiran ana ditambahkan pada akhir tiap nama untuk memberikan ciri bahwa
senyawa tersebut adalah alkana. Selanjutnya, pentana berarti terdiri dari lima atom karbon,
heksana terdiri dari enam karbon, dan seterusnya.
Alkana adalah hidrokarbon yang paling sederhana dan paling tidak reaktif. Meski
begitu, secara komersial alkana sangat dibutuhkan karena alkana merupakan senyawa yang
terkandung dalam bensin dan pelumas.
Alkana merupakan hidrocarbon jenuh oleh karena itu bersifat tidak reaktif bila direaksikan
dengan unsur unsur logam kecuali karbon dan hydrogen
Untuk menentukan rumus molekul alkana dapat dilakukan dengan reaksi
pembakaran(combustion). Dari hasil pembakaran akan diperoleh rumus umum dari alkana
CnH2n+n, dari rumus umum ini melalui perhitungan secara stokiometri dapat ditentukan
rumus molekul dari senyawa yang dianalisis.
Alkana bersifat nonpolar tidak larut dalam air, asam, dan H 2SO4. Sifat fisik ini dapat
digunakan untuk mengidentifikasi senyawa alkana, jadi bila kita melarutkan suatu senyawa

organik yang belum diketahui jenisnya ke dalam air, asam, basa, atau H 2SO4 dan senyawa
tersebut tidak larut maka dapat dicurigai senyawa tersebut adalah alkana, tetapi uji ini tidak
bersifat spesifik terhadap alkana karena ada senyawa organik lain yang bersifat nonpolar
selain alkana.
Alkana tidak mempunyai gugus fungsi yang bersifat spesifik seperti OH, C=O, C=C,
dan lain-lain oleh karena itu jika dilakukan analisis terhadap suatu senyawa campuran dengan
spektrum infrared maka alkana dapat diidentifikasi setelah senyawa lainnya yang mempunyai
gugus fungsi spesifik teridentifikasi terlebih dahulu.
Analisis Fisika terhadap alkana meliputi titik didih, titik leleh, bobot jenis,index bias,
dapat dilakukan dengan membandingkan hasil analisis dengan standar yang telah ada.
Struktur dari atom-atom yang menyusun molekul senyawa alkana dapat ditentukan
menggunakan

spektrum

inframerah

dan

spektrum

NMR,

dengan

terlebih

dahulumenentukan/menemukan rumus molekul melalui reaksi pembakaran (combustion).


Alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan
semua ikatan karbon karbonnya merupakan ikatan tunggal. Hidrokarbon dengan hanya
atom sp3 (yakni dengan hanya ikatan-ikatan tunggal) disebut alkana (atau sikloalkana jika
atom karbon itu membentuk cincin). Beberapa alkana yang lazim ialah metana, etana,
propana dan butana. Alkana-alkana ini berbentuk gas dan terdapat dalam minyak bumi. Gasgas ini digunakan sebagai bahan bakar. Bensin pada hakikatnya adalah campuran alkana.
Alkana dan sikloalkana disebut hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbon), artinya jenuh
dengan hidrokarbon. Senyawa ini tak bereaksi dengan hidrogen
2.

Tata Nama Alkana

Tata nama alkana mengikuti tata nama IUPAC.


1. Semua nama alkana mempunyai akhiran ana.
2. Jika rantai karbon tidak bercabang, maka
a. Nama alkana tergantung dari jumlah atom C dalam rantai karbon.
Rumus (CnH2n+2)

Nama

Struktur

CH 4

Metana

CH4

C2 H6

Etana

CH3- CH3

C3 H8

Propana

CH3- CH2-CH3

C 4 H 10

Butana

CH3- CH2-CH2-CH3

C 5 H 12

Pentana

CH3- CH2-CH2-CH2-CH3

C 6 H 14

Heksana

CH3- CH2-CH2-CH2-CH2-CH3

C 7 H 16

Heptana

CH3- CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3

C 8 H 18

Oktana

CH3- CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3

C 9 H 20

Nonana

CH3- CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3

C 10 H 22

Dekana

CH3- CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3

b. Jika rantai karbon terdiri dari 4 atom C atau lebih, maka nama alkana diberi awalan
n-(normal). Hal ini untuk membedakan dengan isomerisomernya.
Contoh:

n-butana

3. Jika rantai karbon bercabang, maka


a. Tentukan rantai induk, yakni rantai karbon terpanjang. Beri nomor pada rantai
b.

induk sehingga cabang mempunyai nomor sekecil mungkin.


- Rantai induk diberi nama sesuai aturan penamaan alkana
- Cabang merupakan gugus alkil dan diberi nama alkil sesuai jumlah atom C
dalam cabang tersebut.

c. Urutan penulisan nama alkana bercabang adalah tulis nomor cabang diikuti tanda
(-), lalu beri nama alkil dari cabang. Nama alkil di tulis menyambung dengan
nama rantai induk.
d. Jika terdapat 2 atau lebih jenis alkil, maka nama-nama alkil disusun menurut
abjad. Gunakan tanda (-) untuk memisahkan nomor dari nama alkil.
e. Jika terdapat lebih dari 1 alkil sejenis, maka:
a. Tulis nomor-nomor cabang dari alkil-alkil sejenis dan pisahkan dengan
tanda koma (,) jika terdapat dua gugus alkil dengan nomor yang sama,
b.

maka nomor tersebut harus diulang.


Beri awalan Yunani (di, tri, tetra, penta dan seterusnya) pada nama gugus

alkil sesuai jumlah gugus alkil.


c. Gunakan tanda (-) untuk memisahkan nomor cabang dengan nama alkil
f. Untuk penomoran rantai karbon yang mengandung banyak cabang:
Jika terdapat beberapa pilihan rantai induk, pilih rantai yang mengandung paling
banyak cabang

PENGGOLONGAN DAN TATANAMA


Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang tersusun atas unsur hidrogen dan karbon.
Senyawa hidrokarbon dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu :

Senyawa hidrokarbon alifatik,yaitu senyawa hidrokarbon yang mempunyai rantai


lurus (terbuka) dan atau bercabang. Berdasarkan ikatan yang terdapat dalam rantai
karbonnya,senyawa hidrokarbon alifatik dapat dibagi atas dua jenis ,yaitu :

1. Hidrokarbon jenuh ,yaitu pada rantai karbonnya semua berikatan tunggal Hidrokarbon
jenis ini disebut alkana.
2. Hidrokarbon tak jenuh ,yaitu pada rantai karbonnya terdapat ikatan rangkap dua atau
tiga. Hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap dua disebut alkena,sedangkan
hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap tiga disebut alkuna.

Senyawa hidrokarbon siklik,yaitu senyawa hidrokarbon yang mempunyai struktur


cincin (melingkar). Senyawa ini dibagi menjadi dua jenis,yaitu :

1. Hidrokarbon alisiklik,yaitu pada struktur cincinnya semua berikatan tunggal.


2. Hidrokarbon aromatik ,yaitu senyawa organik yang mempunyai cincin benzene.

a.Rumus Umum Alkana


Dari tabel diatas dilihat pada perbandingan jumlah atom C dan H dalam alkana
adalah: (2n+2)Jadi, rumus umum alkana adalah CnH2n+2 ; n = jumlah atom C
b. Sifat fisika Alkana
Untuk alkana yang tidak bercabang, pada suhu kamar ( 25C) alkana dengan jumlah
atom C1-C4 berwujud gas C5-C18 Ke atas berwujud padat
Makin tinggi massa molekul, makin tinggi titik didihnya dan titik leburnya
Alkana dengan massa molekul sama, makin panjang karbon rantai makin tinggi titik
didihnya
Alkana tidak larut dalam pelarut polar (air), tetapi dapat larut dalam pelarut nonpolar.

c. Deret Homolog
Suatu kelompok senyawa karbon dengan rumus umum yang sama dan sifat yang
berkemiripan disebut satu homolog (deret sepancaran). Alkana merupakan suatu homolog
karena setiap anggota alkana yang satu dengan anggota berikutnya bertambah sebanyak CH2.
d. Tata nama Alkana
Tata nama alkana menurut aturan IUPAC dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Nama alkana diambil berdasarkan jumlah atom karbon yang menyusunnya dan
diakhiri dengan ana
2. Bila stukturnya telah diketahui dan merupakan rantai karbon tak bercabang, maka di
depan nama tersebut diberi huruf n (normal).Contoh: n-propana
3. Bila rantai karbon bercabang, maka ditentukan dahulu rantai utama (rantai induk),
yaitu rantai atom karbon terpanjang dan diberi nomor urut dari ujung yang paling
dekat dengan letak cabang.
4. Menetapkan gugus cabang yang terikat pada rantai utama yang disebut dengan alkil
dan memilki rumus umum CnH2n+1
5. Gugus alkil yang mempunyai rantai bercabang atau tidak terikat pada atom karbon
primer diberi nama tertentu.

6. Urutan penyebutannya: nomor letak cabang - nama cabang - nama rantai utama.
7. Bila terdapat lebih dari satu cabang yang sama, maka disebut sekali tetapi diawali
dengan jumlahnya dengan angka latin.

Perhatikan ringkasan penamaan alkana:

a.

merupakan senyawa nonpolar, sehingga tidak larut dalam air

b.

makin banyak atom C (rantainya makin panjang), maka titik didih makin tinggi

c.

pada tekanan dan suhu biasa, CH 4 - C 4 H 10 berwujud gas, C 5 H 12 - C 17 H 36 berwujud


cair, diatas C 18 H 38 berwujud padat

d.

mudah mengalami reaksi subtitusi dengan atom-atom halogen (F 2, Cl 2, Br 2 atau I 2 )

e.

dapat mengalami oksidasi (reaksi pembakaran)


Sifat-sifat Alkana
1. Sifat fisik
a. Semua alkana merupakan senyawa polar sehingga sukar larut dalam air.
Pelarut yang baik untuk alkana adalah pelarut non polar, misalnya eter. Jika
alkana bercampur dengan air, lapisan alkana berada di atas, sebab massa
jenisnya lebih kecil daripada 1.
b. Pada suhu kamar, empat suku pertama berwujud gas, suku ke 5 hingga suku
ke 16 berwujud cair, dan suku diatasnya berwujud padat.
c. Semakin banyak atom C, titik didih semakin tinggi. Untuk alkana yang
berisomer (jumlah atom C sama banyak), semakin banyak cabang, titik didih
semakin kecil.

Alkana
Metana
Etana
Propana
Butana
Pentana
Heksana
Heptana
Oktana
Nonana
Dekana
Undekana
Dodekana
Ikosana
Triakontana
Tetrakontana
Pentakontana
Heksakontana

Rumus
CH4
C2H6
C3H8
C4H10
C5H12
C6H14
C7H16
C8H18
C9H20
C10H22
C11H24
C12H26
C20H42
C30H62
C40H82
C50H102
C60H122

Titik didih [C]


-162
-89
-42
0
36
69
98
126
151
174
196
216
343
450
525
575
625

Titik lebur [C]

Massa

-183
-172
-188
-138
-130
-95
-91
-57
-54
-30
-26
-10
37
66
82
91
100

(20C)
Gas
Gas
Gas
Gas
0.626 (cairan)
0.659 (cairan)
0.684 (cairan)
0.703 (cairan)
0.718 (cairan)
0.730 (cairan)
0.740 (cairan)
0.749 (cairan)
Padat
Padat
Padat
Padat
Padat

2. Sifat kimia
1. Pada umumnya alkana sukar bereaksi dengan senyawa lainnya.

jenis

[gcm3]

2. Dalam oksigen berlebih, alkana dapat terbakar menghasilkan kalor, karbon


dioksida dan uap air.
3. Jika alkana direaksikan dengan unsur-unsur halogen (F2, Cl2, Br2, I2), atomatom H pada alkana akan digantikan oleh atom-atom halogen
Alkana termasuk senyawa alifatik, Dengan kata lain, alkana adalah sebuah rantai karbon
panjang dengan ikatan-ikatan tunggal Tidak reaktif, sehingga sering disebut sebagai parafin,
hal ini dikarenakan oleh semua elektron karbon terikat pada atom lain sehingga tidak ada
pasangan elektron bebas dan iktan yang terbentuk, selain itu geometri molekul alkana yang
tetrahedral juga mempengaruhi kereaktifan karena semua sisi-sisinya terdapat ikatan
sehingga sulit untuk diserang.
Reaksi-reaksi senyawa alkana:
A. Halogenasi (subsitusi radikal bebas)

Inisiasi, radikal halogen berbentuk melalui homolisis.


Cl Cl

Cl

Cl

Propagasi, radikal halogen akan mengabstrak hidrogen dari alkana untuk membentuk
radikal alkil

Intermination, tahap dimana radikal-radikal bergabung.


H3C + Cl

H3C Cl

B. Reaksi pembakaran
CH4 + 2O2

CO2 + 2H2O

Jika oksigen tidak cukup maka pembakaran tidak sempurna


2CH4 + 3O2

2CO + 4H2O

Dampak pembakaran tidak sempurna diketahui oleh pengendara motor , antara lain
ialah penumpikan karbon pada piston mesin dan karbon monoksida dari knalpot.
C. Cracking
Memecah molekul besar menjadi molekul-molekul yang lebih kecil
C15H13

2C2H4 + C3H6 + C8H18


Seperti yang diektahui bahwa ikatan pada alkana berciri tunggal, kovalen dan

nonpolar. Oleh karenanya alkana relatif stabil (tidak reaktif) terhadap kebanyakan asam, basa,
pengoksidasi atau pereduksi yang dapat dengan mudah bereaksi dengan kelompok
hidrokarbon lainnya. Karena sifatnya yang tidak reaktif tersebut, maka alkana dapat
digunakan sebagai pelarut.
Walaupun alkana tergolong sebagai senyawaan yang stabil, namun pada kondisi dan
pereaksi tertentu alkana dapat bereaksi dengan asam sulfat dan asam nitrat, sekalipun dalam
temperatur kamar. Hal tersebut dimungkinkan karena senyawa kerosin dan gasoline
mengandung banyak rantai cabang dan memiliki atom karbon tersier yang menjadi activator
berlangsungnya reaksi tersebut. Berikut ini ditunjukkan beberapa reaksi alkana :
1. Oksidasi
Alkana sukar dioksidasi oleh oksidator lemah atau agak kuat seperti KMNO 4, tetapi
mudah dioksidasi oleh oksigen dari udara bila dibakar. Oksidasi yang cepat dengan oksingen
yang akan mengeluarkan panas dan cahaya disebut pembakaran atau combustion. Hasil
oksidasi sempurna dari alkana adalah gas karbon dioksida dan sejumlah air. Sebelum
terbentuknya produk akhir oksidasi berupa CO2 dan H2 O, terlebih dahulu terbentuk alkohol,
aldehid dan karboksilat.
Alkana terbakar dalam keadaan oksigen berlebihan dan reaksi ini menghasilkan sejumlah
kalor (eksoterm)
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2 + 212,8 kkal/mol
C4H10 + 2O2 CO2 + H2O + 688,0 kkal/mol

Reaksi pembakaran ini merupakan dasar penggunaan hidrokarbon sebagai penghasil kalor
(gas alam dan minyak pemanas) dan tenaga (bensin), jika oksigen tidak mencukupi untuk
berlangsungnya reaksi yang sempurna, maka pembakaran tidak sempurna terjadi. Dalam hal
ini, karbon pada hidrokarbon teroksidasi hanya sampai pada tingkat karbon monoksida atau
bahkan hanya sampai karbon saja.
2CH4 + 3O2 2CO + 4H2O
CH4 + O2 C + 2H2O
Penumpukan karbon monoksida pada knalpot dan karbon pada piston mesin kendaraan
bermotor adalah contoh dampak dari pembakaran yang tidak sempurna. Reaksi pembakaran
tak sempurna kadang-kadang dilakukan, misalnya dalam pembuatan carbon black, misalnya
jelaga untuk pewarna pada tinta.

2. Halogenasi
Reaksi dari alkana dengan unsur-unsur halogen disebut reaksi halogenasi. Reaksi ini
akan menghasilkan senyawa alkil halida, dimana atom hidrogen dari alkana akan disubstitusi
oleh halogen sehingga reaksi ini bisa disebut reaksi substitusi. Halogenasi biasanya
menggunakan klor dan brom sehingga disebut juga klorinasi dan brominasi. Halongen lain,
fluor bereaksi secara eksplosif dengan senyawa organik sedangkan iodium tak cukup reaktif
untuk dapat bereaksi dengan alkana.
Laju pergantian atom H sebagai berikut H3 > H2 > H1. Kereaktifan halogen dalam
mensubtitusi H yakni fluorin > klorin > brom > iodin.
Reaksi antara alkana dengan fluorin menimbulkan ledakan (eksplosif) bahkan pada suhu
dingin dan ruang gelap.
CH4 + 2F2 C + 4HF
Jika campuran alkana dan gas klor disimpan pada suhu rendah dalam keadaan gelap, reaksi
tidak berlangsung. Jika campuran tersebut dalam kondisi suhu tinggi atau di bawah sinar UV,
maka akan terjadi reaksi yang eksoterm. Reaksi kimia dengan bantuan cahaya disebut reaksi
fitokimia.

Dalam reaksi klorinasi, satu atau lebih bahkan semua atom hidrogen diganti oleh atom
halogen. Contoh reaksi halogen dan klorinasi secara umum digambarkan sebagai berikut:
Reaksi umum

R-H + Cl-Cl

R-Cl + H-Cl

Contoh

CH4 + Cl-Cl CH3Cl + HCl

Untuk menjelaskan keadaan ini, kita harus membicarakan mekanisme reaksinya. Gambaran
yang rinci bagaimana ikatan dipecah dan dibuat menjadi reaktan dan berubah menjadi hasil
reaksi.
Langkah pertama dalam halogenasi adalah terbelahnya molekul halogen menjadi dua partikel
netral yang dinamakan radikal bebas atau radikal. Suatu radikal adalah sebuah atom atau
kumpulan atom yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak mempunyai pasangan.
Radikal klor adalah atom yang klor yang netral, berarti atom klor yang tidak mempunyai
muatan positif atau negatif.
Pembelahan dari molekul Cl2 atau Br2 menjadi radikal memerlukan energi sebesar 58
Kcal/mol untuk Cl2 dan 46 kcal/mol untuk Br2. Energi yang didapat dari cahaya atau panas
ini, diserap oleh halongen dan akan merupakan reaksi permulaan yang disebut langkah
permulaan.
Tahap kedua langkah penggadaan dimana radikal klor bertumbukan dengan molekul metan,
radikal ini akan memindahkan atom atom hidrongen (H ) kemudian menghasilkan H-Cl dan
sebuah radikal baru, radikal metil ( CH3).
Radikal bebas metil sebaliknya dapat bertumbukan dengan molekul (Cl 2) untuk membedakan
atom khlor dalam langkah penggandaan lainnya.
Langka ketiga Reaksi Penggabungan Akhir. Reaksi rantai radikal bebas berjalan terus sampai
semua reaktan terpakai atau sampai radikalnya dimusnahkan. Reaksi dimana radikal
dimusnahkan disebut langkah akhir. Langkah akhir akan memutuskan rantai dengan jalan
mengambil sebuah radikal setelah rantai putus. Siklus penggandaan akan berhenti dan tak
berbentuk lagi reaksi.
Suatu cara untuk memusnahkan radikal adalah dengan menggabungkan dua buah radikal
untuk membentuk non radikal yang stabil dengan reaksi yang disebut reaksi penggabungan
(coupling reaction). Reaksi penggabungan dapat terjadi bila dua buah radikal bertumbukan

Radikal lainnya juga dapat bergabung untuk mengakhiri rangkaian reaksi tersebut.
Misalnya CH3 dapat bergabung dengan Cl menghasilkan CH3Cl. Suatu masalah dengan
radikal bebas adalah terbentuknya hasil campuran. Contohnya ketika reaksi khlorinasi metana
berlangsung, konsentrasi dari metana akan berkurang sedangkan klorometan bertambah.
Sehingga ada kemungkinan besar bahwa radikal klor akan bertumbukkan dengan molekul
klormetan, bukannya dengan molekul metan.
Jika halogen berlebihan, reaksi berlanjut dan memberikan hasil-hasil yang mengandung
banyak halogen berupa diklorometana, trikloroetana dan tetraklorometana
Keadaan reaksi dan perbandingan antara klor dan metana dapat diatur untuk
mendapatkan hasil yang diinginkan. Pada alkana rantai panjang, hasil reaksinya menjadi
semakin rumit karena campuran dari hasil reaksi berupa isomer-isomer semakin banyak.
Misalnya pada klorinasi propana

Bila alkana lebih tinggi dihalogenasi, campuran hasil reaksi menjadi rumit, pemurnian
atau pemisahan dari isomer-isomer sulit dilakukan. Dengan demikian halogenasi tidak
bermanfaat lagi dalam sintesis alkil halida. Akan tetapi pada sikloalkana tak bersubtitusi
dimana semua atom hidrogennya setara, hasil murni dapat diperoleh. Karena sifatnya yang
berulang terus reaksi semacam ini disebut reaksi rantai radikal bebas.
3. Sulfonasi Alkana
Sulfonasi merupakan reaksi antara suatu senyawa dengan asam sulfat. Reaksi antara
alkana dengan asam sulfat berasap (oleum) menghasilkan asam alkana sulfonat. dalam reaksi
terjadi pergantian satu atom H oleh gugus SO3H. Laju reaksi sulfonasi H3 > H2 > H1.
4. Nitrasi
Reaksi nitrasi analog dengan sulfonasi, berjalan dengan mudah jika terdapat karbon
tertier, jika alkananya rantai lurus reaksinya sangat lambat.
5. Pirolisis (Cracking)
Proses pirolisis atau cracking adalah proses pemecahan alkana dengan jalan
pemanasan pada temperatur tinggi, sekitar 1000 0 C tanpa oksigen, akan dihasilkan alkana
dengan rantai karbon lebih pendek

Proses pirolisis dari metana secara industri dipergunakan dalam pembuatan karbonblack. Proses pirolisa juga dipergunakan untuk memperbaiki struktur bahan bakar minyak,
yaitu, berfungsi untuk menaikkan bilangan oktannya dan mendapatkan senyawa alkena yang
dipergunakan sebagai pembuatan plastik. Cracking biasanya dilakukan pada tekanan tinggi
dengan penambahan suatu katalis (tanah liat aluminium silikat).

B. Sikloalkana
1.

Pengertian dan Struktur SikloAlkana


Sikloalkana adalah golongan senyawa hidrokarbon jenuh yang rantai atom-atom

karbon-karbonnya tertutup (membentuk cincin), sehingga termasuk hidrokarbon siklik.


Karena sifat-sifat sikloalkana sangat mirip dengan golongan alkana (hidrokarbon alifatik),
maka sikloalkana dikategorikan sebagai hidrokarbon alisiklik. Rumus umum sikloalkana
CnH2n.
Dalam pemberian nama sikloalkana selalu digunakan awalan siklo-. Sebagai contoh,
sikloalkana yang mengandung 3 atom C dinamakan siklopropana, yang mengandung 4 atom
C dinamakan siklobutana, dan seterusnya. Pada sikloalkana yang mengandung substituen,
pemberian namanya adalah dengan terlebih dahulu menyebut nama substituen tersebut,
diikuti dengan nama sikloalkananya. Sebagai contoh, siklopentana yang mengandung sebuah
substituen metil diberi nama metilsiklopentana. Bila substituennya lebih dari sebuah
diperlukan penomoran dan dengan memperhatikan urutan alfabetik huruf pertama masingmasing substituen. Sebagai contoh, 1,4-dimetilsikloheksana, 4-etil-1-metilsikloheksana, dan
1-tersierbutil-4-metilsikloheksana.
Sikloalkana adalah hidrokarbon jenuh dengan atom karbon terikat bersama-sama
membentuk sebuah atau lebih cincin. Sikloalkana biasanya terdiri dari 5 atau 6 karbon, tetapi
ada juga yang lebih banyak.
Beberapa Sikloalkana:

Biasanya digunakan rumus polygon untuk menggambarkan sikloalkana. Struktur


sikloalkana berikut lebih mudah digambarkan apabila memakai rumus.

Siklopropana merupakan senyawa yang mudah larut dalam asam sulfat pekat, dan ini
sama halnya dengan alkena atau alkuna. Hal itu dapat dibedakan dari hidrokarbon tidak
jenuh, namun, faktanya siklopropana tidak teroksidasi oleh dingin, encer dan permanganat
netral.
Sikloalkana lainnya memiliki jenis yang sama dari sifat rantai terbuka, dan mereka
ditandai dengan cara yang sama : dengan inertness umum.Bahwa seseorang berhadapan
dengan hidrokarbon siklik ditunjukkan oleh rumus molekulnya. Sifat sikloheksana, misalnya,
menunjukkan dengan jelas bahwa itu adalah sebuah alkana. Namun, analisis pembakaran dan
penentuan berat molekul menunjukkan rumus molekul untuk menjadi C 6H12. Hanya struktur
siklik (meskipun tidak selalu cincin beranggota enam) konsisten dengan kedua set data.
Deret Homolog Alkana adalah suatu golongan / kelompok senyawa karbon dengan
rumus umum yang sama, mempunyai sifat yang mirip dan antar suku-suku berturutannya
mempunyai beda CH2 .
Sifat-sifat deret homolog :
o Mempunyai sifat kimia yang mirip
o Mempunyai rumus umum yang sama
o Perbedaan Mr antara 2 suku berturutannya sebesar 14
o Makin panjang rantai karbon, makin tinggi titik didihnya
Selain alkana dengan rantai terbuka, di alam juga terdapat alkana dalam bentuk cincin.
Senyawa tersebut dinamakan sikloalkana atau senyawa alisiklik (alifatik siklik). Apabila
cincin sikloalkana adalah CH2- maka senyawa tersebut memiliki rumus umum (CH2)n atau
CnH2n.
Senyawa-senyawa alosiklik dengan cincin berbeda terdapatberlebihan di alam. Contohnya,
prostaglandin, hormon yangmengatur secara luas bermacam fungsi fisiologis manusia
termasuk agregasi platelet darah, dilatasi bronkus, dan penghambatan sekresigastrin,
memiliki cincin karbon lima anggota (siklopenatana).

Steroid, seperti kortison, mengandung cincin-cincin yang terikat satu sama lain, tiga cincin
dengan enam anggota (sikloheksana) dan satu cincin lima anggota (siklopentana).
2.

Penamaan sikloalkana
a. Temukan rantai utama
Hitung jumlah atom karbon penyusun cincin dan jumlah karbon dalam substituennya.

Jika jumlah karbon dalam cincin sama dengan jumlah karbon dalam substrituen, maka
senyawa tersebut diberi nama sebagai sikloalkana tersubstitusi alkil. Akan tetapi jika jumlah
karbon dalam substituen lebih banyak dari pada karbon dalam cincin maka senyawa tersebut
diberi nama sebagai alkana tersubstitusi sikloalkil.
b. Jumlah substituen dan beri nama
Sikloalkana tersubstitusi alkil atau halogen, mulailah penomoran dari atom karbon
yang mengikat substituen tersebut. Untuk substituen kedua dan seterusnya diberi nomor
sekecil mungkin.

C. Gugus Alkil
Jika satu atom hidrogen dibebaskan dari sutau alkana maka diperoleh struktur yang
disebut alkil. Perlu dicatat bahwa gugus alkil tidak stabil jika berdiri sendiri, alkil merupakan
bagian dari molekul yang besar. Gugus alkil diberi nama sesuai dengan rantai alkananya
dengan mengganti akhiran ana menjadi il. Contohnya alkil dari metana adalah metil,
sedangkan etana yang kehilangan satu hidrogen disebut etil. Kombinasi antara alkil dengan
gugus fungsi yang lain akan menghasilkan ribuan senyawa. Contohnya:
Gugus alkil dapat diperoleh dengan membebaskan hidrogen dari karbon terminal
(ujung rantai) atau dari atom karbon internal (ditengah rantai). Ada empat macam atom
karbon berdasarkan jumlahsubstituen karbon lain. Atom karbon yang mengikat satu karbon
lain disebut karbon primer. Atom karbon yang mengikat dua atom karbon lain disebut karbon
sekunder. Untuk karbon yang mengikat tiga karbon lain disebut karbon tersier, sedangkan
jika mengikat empat karbon lain disebut karbon kuarterner. Jika atom hidrogen pada karbonkarbon tersebut dihilangkan maka ada tiga kemungkinan gugus alkil yang terbentuk, yaitu

alkil primer, sekunder, dan tersier. Alkil kuarterner tidak mungkin terbentuk, karena karbon
kuarterner sudah tidak mengikat hidrogen lagi.
Sifat Sikloalkana
Sifat kimia sikloalkana merupakan pengembangan konsep atau materi pengayaan.
Penalarannya tidak sulit dan sifatnya mirip alkana. Sikloalkana, sifatnya mirip dengan
alkana, yaitu rantai atom C memiliki ikatan kovalen tunggal . Akibat dari reaksinya
mengalami subtitusi
Perbedaan alkana dan sikloalkana adalah Alkana tergolong alifatis, yaitu rantainya terbuka,
sedang sikloalkana adalah hidrokarbon siklis, rantainya tertutup. Rantai terbuka berarti
gerakan molekulnya lebih leluasa. Sedangkan sikloalkana seperti dipaksakan, kemungkinan
besar sikloalkana lebih mudah bereaksi. Apalagi siklopropana yang rantai C-nya terpendek.
Jadi siklopropana paling tidak stabil atau paling realtif."
Dikatakan siklopropana memiliki sifat ekstra, yaitu rantai tertutupnya mudah terbuka. Reaksi
membukanya ikatan ini dinamakan adisi dan reaksi ini dapat berlangsung di ruang gelap
maupun ada UV. Namun apabila ada UV maka reaksinya campuran, adisi dan substitusi.

Tata Nama Sikloalkana


Sikloalkana tergolong hidrokarbon siklis/jenuh dengan rumus umum CnH2n yang memiliki
sekurang-kurangnya 1 cincin atom karbon. Golongan senyawa ini termasuk hidrokarbon
jenuh, karena rantai atom C berikatan kovalen tunggal.

Dengan hidrokarbon alifatis jenuh, yaitu :


alkana, atom H berselisih 2. Dengan alkena, rumus umumnya sama, berarti isomer fungsi.
Contoh penamaan senyawa sikloalkana
a. Siklo propana, C3H6, (CH2)3, 3 atom C melingkar, setiap atom C mengikat 2
atom H.
b. Siklo butana, C4H8, (CH2)4, 4 atom C melingkar.
c. Siklo pentana, C5H10, (CH2)5, 5 atom C melingkar.
d. 1,1,2-tribromo siklo butana, berarti dalam siklobutana terdapat 3 gugus cabang
brom, Br; 2 cabang terletak
e. 1,1,2-trietil-3-metil siklo heksana; berarti sikloheksana memiliki 4 gugus
chabang, 3 cabang adalah gugus etil,
Klasifiksi
Sikloalkana paling sederhana adalah siklopropana yang memiliki 3 atom C dengan
konformasi berbentuk planar. Sedangkan pada sikloalkana dengan jumlah atom C
penyusun cincin lebih dari 3 memiliki bentuk yang tidak planar dan melekuk,
membentuk suatu konformasi yang paling stabil (memiliki energi paling rendah),
ingat bentuk molekul gula yang berbentuk segi enam, berupa pelana kuda dan
bentuk kursi adalah bentuk yang stabil. Tabel di bawah ini menyajikan beberapa
bentuk sikloalkana.

Klasifikasi berdasarkan jumlah struktur atom karbon


Sikloalkana juga hanya mengandung ikatan C-H dan ikatan tunggal C-C, hanya saja
atom-atom karbon tergabung dalam sebuah cincin. Sikloalkana yang paling kecil adalah
siklopropana.
Jika menghitung jumah karbon dan hidrogen pada gambar di atas, akan terlihat bahwa jumlah
atom C dan H tidak lagi memenuhi rumus umum CnH2n+2. Dengan tergabungnya atom-atom
karbon dalam sebuah cincin, ada dua atom hidrogen yang hilang. Dua atom hidrogen yang
hilang memang tidak diperlukan lagi, sebab rumus umum untuk sebuah sikloalkana adalah

CnH2n.
Sikloalkana juga mempunyai gugus cincin. Sikloheksana misalnya, memiliki sebuah struktur
cincin yang sebagai "cincin yang berkerut".terlihat seperti ini:

Struktur ini dikenal sebagai bentuk "kursi" dari sikloheksana sesuai dengan bentuknya yang
sedikit menyerupai sebuah kursi.

KEGUNAAN ALKANA DAN SIKLOALKANA


1.

Bahan Bakar
Secara umum, alkana berguna sebagai bahan bakar dan bahan baku dalam industri
petrokimia.
a. Metana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak, dan bahan baku
pembuatan zat kimia seperti H2 dan NH3.
b. Etana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak dan sebagai refrigerant
dalam sistem pendinginan dua tahap untuk suhu rendah.
c. Propana; merupakan komponen utama gas elpiji untuk memasak dan bahan
baku senyawa organik.
d. Butana; berguna sebagai bahan bakar kendaraan dan bahan baku karet
sintesis.
e. Oktana; merupakan komponen utama bahan bakar kendaraan bermotor, yaitu
bensin.
Alkana dari pentana (C5H12) sampai oktana (C8H18) akan disuling menjadi bensin,

sedangkan alkana jenis nonana (C9H20) sampai heksadekana (C16H34) akan disuling menjadi
diesel, kerosene dan bahan bakar jet. Alkana dengan jumlah atom karbon 1 sampai 4 akan
berbentuk gas dalam suhu ruangan, dan dijual sebagai elpiji (LPG). Di musim dingin, butana
(C4H10), digunakan sebagai bahan campuran pada bensin, karena tekanan uap butana yang
tinggi akan membantu mesin menyala pada musim dingin.
Bensin merupakan salah satu fraksi minyak bumi yang banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, terutama digunakan sebagai bahan bakar pada mesin pembakaran
dalam, misalnya pada mobil dan sepeda motor. Penggunaan bensin sebagai bahan bakar tidak
terlepas dari besarnya energi yang dihasilkan dari pembakaran bensin tersebut. Pada

dasarnya, bensin merupakan campuran senyawa- senyawa hidrokarbon yang terdiri dari
isomer- isomer heptana dan oktana. Jika bensin yang digunakan sebagai bahan bakar mesin
tersebut terdiri dari heptana dan oktana rantai lurus, maka di dalam mesin, bensin tersebut
tidak terbakar dengan sempurna, sehingga menimbulkan bunyi ketukan (knocking) yang
mengganggu gerakan piston dalam mesin. Hal ini menyebabkan mesin tidak berfungsi
dengan baik (kehilangan sejumlah energi), dan pada tahap selanjutnya dapat merusak mesin.
Sementara itu, bila bensin yang digunakan sebagai bahan bakar mesin terdiri dari
heptana dan oktana yang bercabang, maka pembakaran yang terjadi di dalam mesin sangat
efektif (menghasilkan energi yang besar) sehingga jumlah ketukan mesin dapat dikurangi.
Kualitas bensin dapat ditentukan berdasarkan jumlah ketukan yang ditimbulkannya, dan
dinyatakan dengan bilangan oktan. Jika bensin mempunyai bilangan oktan tinggi, maka
bensin tersebut berkualitas baik dan sebaliknya, bensin yang mempunyai bilangan oktan
rendah merupakan bensin yang tidak baik digunakan sebagai bahan bakar. Bilangan oktan
pada bensin dinyatakan dengan angka 0 sampai 100. Untuk menentukan bilangan oktan,
digunakan dua jenis senyawa sebagai pembanding yaitu, n-heptana (alkana rantai lurus,
bilangan oktan=0) dan isooktana (alkana rantai bercabang, bilangan oktan= 100) yang
keduanya merupakan senyawa yang terdapat pada bensin.
Pembakaran bahan bakar dalam mesin kendaraan atau dalam industri tidak terbakar
sempurna. Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon (bahan bakar fosil) membentuk
karbon dioksida dan uap air. Sedangkan pembakaran tak sempurna membentuk karbon
monoksida dan uap air.
a. Pembakaran sempurna isooktana:
C8H18 (l) +12 O2 (g) > 8 CO2 (g) + 9 H2O (g) H = -5460 kJ
b. Pembakaran tak sempurna isooktana:
C8H18 (l) + 8 O2 (g) -> 8 CO (g) + 9 H2O (g) H = -2924,4 kJ
Sebagaimana terlihat pada contoh di atas, pembakaran tak sempurna menghasilkan
lebih sedikit kalor. Jadi, pembakaran tak sempurna mengurangi efisiensi bahan bakar.
kerugian lain dari pembakaran tak sempurna adalah dihasilkannya gas karbon monoksida
(CO), yang bersifat racun. Oleh karena itu, pembakaran tak sempurna akan mencemari udara.
2.

Pelarut
Rantai karbon dengan C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih.

Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk
cepat-kering lainnya. Semua alkana merupakan senyawa polar sehingga sukar larut dalam air.
Pelarut yang baik untuk alkana adalah pelarut non polar, misalnya eter. Jika alkana bercampur

dengan air, lapisan alkana berada di atas, sebab massa jenisnya lebih kecil daripada 1.
Petroleum ether atau heksan adalah bahan pelarut lemak nonpolar yang paling banyak
digunakan karena harganya relatif murah, kurang berbahaya terhadap risiko kebakaran dan
ledakan, serta lebih selektif untuk lemak nonpolar.
3.

Sumber Hidrogen dan Bahan Mentah Industri


Gas alam dan gas petroleum merupakan sumber hidrogen dalam industri, misalnya

industri amonia dan pupuk. Ketika alkana dipanaskan sampai temperatur tinggi dalam
udara vakum, alkana akan pecah atau terpecah menjadi molekul yang lebih kecil.
Perengkahan metana (CH4) menghasilkan serbuk karbon murni, seperti yang digunakan
pada ban mobil; pembentukan pelapis intan buatan; dan menghasilkan hidrogen, sebagai
bahan mentah untuk industri kimia.
CH4(g) C(s) + 2H2(g)
Perengkahan etana menghasilkan etena, salah satu bahan mentah yang penting dalam
industri kimia (terutama dalam pembuatan plastik) sama halnya seperti hidrogen.
C2H6(g) CH2=CH2(g) + H2(g)
4.

Pelumas
Alkana dengan atom karbon 16 atau lebih akan disuling menjadi oli/pelumas. Pelumas

adalah alkana suhu tinggi (jumlah atom karbon tiap molekulnya cukup besar, misalnya
C18H38. Proses cracking atau alkilasi penting untuk minyak bumi dalam mencari senyawa
yang lebih dibutuhkan oleh konsumen, yaitu untuk mendapatkan bensin lebih banyak dari
minyak pelumas. Contoh cracking adalah minyak diesel (C16-C24) dan minyak pelumas (C20C30) yang dipecah menjadi bensin (C4-C10) dan senyawa lain yang lebih banyak digunakan.
5.

Bahan baku untuk senyawa organik lain


Minyak bumi dan gas alam merupakan bahan baku utama untuk sintesis berbagai

senyawa organik seperti alkohol, asam cuka dan lain-lain.


6.

Pendingin Kulkas
Seiring dengan kesadaran banyak pihak tentang penggunaan gas freon yang sudah

tidak ramah lingkungan lagi, muncul yang namanya Metil Klorida atau Monoklor metana.
Senyawa yang dihasilkan dari reaksi subtitusi alkana dengan gas klor ini banyak digunakan
sebagai pada pendingan kulkas. Zat ini lebih ramah lingkungan karena tidak merusak ozon.
CH4 + Cl2 CH3Cl + HCl

7.

Obat Bius
Kegunaan senyawa alkana berikutnya adalah kloroform. Kloroform merupakan hasil

reaksi subtitusi metana dengan gas klor berlebih. Zat ini berupa cairan yang dahulu
digunakan sebagai bahan anestesi, pemati rasa atau lebih dikenal dengan nama obat bius.
Dalam dunia medis zat ini sangat penting guna membantu mengurangi rasa sakit saat operasi
tetapi karena sifatnya yang toksik terhadap hati, maka senyawa ini tidak lagi digunakan
sebagai

bahan

anestesi. International

Agency

for

Research

on

Cancer (IARC)

menggolongkan kloroform ke dalam Grup 2B, kemungkinan karsinogenik terhadap manusia.


Selain itu, kloroform pada suhu kamar punya wujud cair sering digunakan sebagai bahan
pelarut organik.
8.

Memadamkan Api
Alkana

terhalogenasi

sempurna,

seperti

karbon

tetraklorida

(CCl4),

dani.bromoklorodifluorometana (BCF) dapat memadamkan api. Zat-zat tersebut mempunyai


massa jenis yang cukup besar sehingga dapat mengusir udara dan memadamkan api, dimana
cairan menguap dan memadamkan api dengan cara menghambat reaksi berantai kimia dari
proses pembakaran. Tetapi pada suhu tinggi CCl4 dapat bereaksi dengan air membentuk
fosgen (COCl2), suatu gas yang sangat beracun sehingga ditarik dan dilarang. BCF juga
dapat merusak ozon dilapisi statosfir sehingga penggunakan bahan tersebut dilarang.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah dan rahmat-Nya
yang diberikan kepada penulis berupa kesehatan rohani dan jasmani sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Alkana dan Sikloalkana dapat diselesaikan dengan baik.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, penulis banyak menemukan hambatan,
tetapi berkat dukungan pihak-pihak yang telah membantu, penulis dapat menyelesaikannya
dengan baik. Untuk itu tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada orang-orang
yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini dengan baik, diantaranya :
1
2
3

Ibu Afrida S.si M.si selaku dosen pendidikan kewarganegaraan


Orang tua, yang telah memberikan semangat dan doa
Teman-teman, yang telah membantu dan memberikan masukan kepada penulis hingga
dapat meyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum sempurna, oleh karena

itu untuk memperbaikan makalah ini penulis mengharapkan kritik-kritik dan saran-saran yang
membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada
umumnya. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terima kasih.
Jambi, 6 Oktober 2014

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alkana biasa disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh. Disebut hidrokarbon karena di
dalamnya hanya terkandung atom karbon dan hidrogen. Disebut jenuh karena hanya memiliki
ikatan tunggal C-H dan C-C saja. Alkana memiliki rumus umum C nH2n+2, di mana n adalah
bilangan asli yang menyatakan jumlah atom karbon. Alkana juga sering disebut sebagai
senyawa alifatik (Yunani = aleiphas yang berarti lemak). Hal ini dikarenakan lemak-lemak
hewani mengandung karbon rantai panjang yang mirip dengan alkana.
Sikloalkana adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang memiliki sekurang-kurangnya 1
cincin atom karbon, dengan rumus umum umum CnH 2n. Selain alkana dengan rantai terbuka,
di alam juga terdapat alkana dalam bentuk cincin. Senyawa tersebut dinamakan sikloalkana
atau senyawa alisiklik (alifatik siklik). Apabila cincin sikloalkana adalah CH2- maka
senyawa tersebut memiliki rumus umum (CH2)n atau CnH2n.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan alkana dan sikloalkana?
2. Bagaimana tatanama dalam alkane dan sikloalkana?
3. Bagaimana rumus struktur alkana dan sikloalkana?
4. Apa saja sifat kimia dan fisika dari alkane dan sikloalakana?
5. Apa kegunaan dari alkane dan sikloalkana?
1.3 Tujuan

1.
2.
3.
4.
5.

Dapat mengetahui Apa yang dimaksud dengan alkane


Dapat memahami tatanama dalam alkane dan sikloalkana
Dapat memahami rumus struktur alkana dan sikloalkana
Dapat memahami sifat kimia dan fisika dari alkane dan sikloalakana
Dapat memahami kegunaan dari alkane dan sikloalkana

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Pembahasan
BAB II PEMBAHASAN
A. ALKANA
Pengertian dan Struktur Alkana
Tata Nama Alkana
Sifat-sifat Alkana
B. SIKLOALKANA
Pengertian dan Struktur sikloalkana
Sifat-sifat sikloalkana
Tata Nama sikloalkana
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA
Heinemann Advanced Science: Chemistry, 2000
Permana, I. 2009. Memahami Kimia 1 :. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional,
Jakarta, p. 175
Rahayu, Yeti. Minyak Bumi. http://yettirahayu.blogspot.com/2012/10/minyak-bumi.html.
(25 Feb. 2014)
Rumus Hitung. Kegunaan Senyawa Alkana. http://rumushitung.com/2014/01/24/kegunaansenyawa-alkana/. (26 Feb. 2014)
Sugianto, Bambang. Pembakaran Sempurna dan Tidak Sempurna. http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia_fisika1/termokimia/pembakaran-sempurna-dan-tidaksempurna/. (25 Feb. 2014)
Sunardi. 2007. Kimia Bilingual. Bandung: CV. Ryama Widya
Fressenden Ralph J dan Joan S. 2010. Dasar-Dasar Kimia Organik: Binarupa Aksara,
University of Montana, Jakarta.

BAB III
PENUTUP
1.1 KESIMPULAN
2. Alkana biasa disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh. Disebut hidrokarbon karena
di dalamnya hanya terkandung atom karbon dan hidrogen. Disebut jenuh karena
hanya memiliki ikatan tunggal C-H dan C-C saja. Alkana memiliki rumus umu
CnH2n+2, di mana n adalah bilangan asli yang menyatakan jumlah atom karbon.
3. Sikloalkana adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang memiliki sekurangkurangnya 1 cincin atom karbon, dengan rumus umum umum CnH 2n.
Selain alkana dengan rantai terbuka, di alam juga terdapat alkana dalam
bentuk cincin. Senyawa tersebut dinamakan sikloalkana atau senyawa
alisiklik (alifatik siklik).

4. Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut jenis-jenis ikatan

karbon yang di

kandungnya. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan


dinamakan hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon dengan dua atau lebih atom karbon yang
5.

mempunyai ikatan rangkap dua atau tiga dinamakan hirokarbon tak jenuh.
Sifat-sifat Alkana
a.
merupakan senyawa nonpolar, sehingga tidak larut dalam air
b.
makin banyak atom C (rantainya makin panjang), maka titik didih makin
tinggi
Secara umum, alkana berguna sebagai bahan bakar dan bahan baku dalam

1.
2.
3.
4.
5.

industri petrokimia.
Bahan Bakar
Pelarut
Sumber Hidrogen dan Bahan Mentah Industri
Pelumas
Bahan baku untuk senyawa organik lain, dll.

ALKANA DAN SIKLOALKANA

NAMA

1. FERAWATI
2. ELVA FEBRIYANTI
3. ESA WITRI
4. SUGENG TRIWAHYUDI
5. SRI HARDIYANTI
6. RINDY ZULIATANDHY

KELOMPOK

:2

DOSEN PENGAMPU : AFRIDA S.Si M.Si

PENDIDIKAN KIMIA
PMIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014