Você está na página 1de 6

1.

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam
upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan suatu
faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia sehingga upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa, karena melalui pendidikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat
diwujudkan.
Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi suatu Negara (daerah).
Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga
akan berpengaruh fertilitas masyarakat. Pendidikan dapat menjadikan sumber daya
manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan dan pembangunan
suatu Negara. Hampir semua negara berkembang menghadapi masalah kualitas dan
kuantitas sumber daya manusia yang diakibatkan oleh rendahnya mutu pendidikan. Hal ini
ditunjukkan dengan banyaknya Anak putus sekolah hingga anak-anak yang tak pernah
mengenyang pendidikan sekolah.
Berdasarkan diskusi yang telah kami laksanakan dapat kami ambil kesimpulan secara
umum anak pustus sekolah dinegara berkembang di pengaruhi oleh : Biaya Pendidikan
yang cukup mahal, Pengaruh lingkungan, permasalahan Keluarga (Broken Home, pola
pikir orang tua), rendahnya sistem pendidikan yang telalu ruwet, Akses/jarak terlalu jauh.
A. Mahalnya Biaya Pendidikan.
Pada dasarnya di Indonesia sebagai negara berkembang mempunyai banyak sekali
program-program berkaiatan dengan mengatasai biaya pendidikan yang terlalu mahal,
misalnya subsidi biaya siswa, hingga biaya oprasional sekolah. Akantetapi program
itu tidak mengurangi penarikan biaya oleh sekolah berkaiatan pengadaan buku-buku
hingga seragam sekolah. Sehingga sekolah tetap mengeluarkan beban biaya kepada
siswa, diluar biaya SPP/bulan.
Tidak hanya itu pengalokasian subsidi dari pemerintah pendidikan juga kurang
mkasimal karena dianggap banyak yang salah sasaran hingga minimya tingkat
kejujuran dari pada birokrasi pendidikan indonesia, hal ini dikbukitikan dengan masih
adanya sistem penyunatan dalam biaya pendidikan yang sudah dianggarkan.
B. Pengaruh lingkungan luar
Pengaruh lingkungan juga sangat berpangaruh terhadap minat belajar anak-anak usia
dini, misalnya : Pergaulan, pengaruh pola Pikir masyarakat sekitar, dunia kerja.
C. Permasalahan keluarga

Permasalahan yang terjadi didalam keluarga juga mempengaruhi minat belajar siswa
hingga akhirnya putus sekolah hingga yang paling umum terjadi oleh masyarakat
primitif adalah kurang percaya orang tua terhadap pentingya pendidikan bagi anak.
Efek permasalah dalam keluarga antara ibu dan ayah juga dapat berpengaruh secara
psikologis terhadap minat sekolah terhadap anak seperti Broken Home. Sehingga
secara Psikologis anak akan tergannggu, yang betakibat minimnya pengawas oleh
keluarga, melakukan tindakan diluar kontrol, hingga berkelelanjutan pada tindakantindakan free Seks, obat-obatan terlarang, dan salah pergaulan.
D. Rendahnya sistem pendidikan
Rendanya sistem pendidikan yang terlalu ruwet juga menjadi alasan utama turunya
minat belajar disekolah. Banyaknya materi bidang study, kualitas sistem pengajaran
hingga kebijakan birokrasi pendidikan seakan telah menekan psikologi anak-anak
tanpa melihat latar belakang mereka. Yang seharusnya dikatagorikan sesuai latar
belakang lingkungan masyarakat yang hetrerogen.
E. Jarak tempuh kesekolah
Di indonesia sendiri masih banyak sekali wilayah-wilayah yang sukar dikunjungi
moderennisasi, hingga akses pendidikan hal ini dikarenakan medan yang harus
ditempuh cukup jauh dan berbahaya. Kemudian masyarakat yang masih memegang
teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Sehingga mempersulit mereka dalam
mencarai sistem pendidikan secara layak. Tak bisa di pungkiri mereka harus
menempuh jarak puluhan kilo untuk sampai disekolah. Ini menjadi alasan juga
banyaknya anak-anak putus sekolah di negera berkembang seperti indonesia ini.
2. Pendidikan Formal : Merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah
pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari
pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Termasuk juga ke
dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program
spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus.
Pendidikan Nonformal : Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah Minggu, berbagai kursus,
bimbingan belajar dan sebagainya. Program-program pemberantasan buta aksara,
Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan
sebagainya.
Pendidikan Informal : Adalah jalur pendidikan di lingkungan keluarga yang berupa
ajaran tata-krama, sikap dan tingkah laku yang diajarkan pada keluarga semenjak peserta
didik lahir. Pendidikan informal dapat juga disebut pendidikan yang ada di masyarakat,
atau pendidikan yang dialami oleh seseorang oleh lingkungannya.

Berdasarkan diskusi yang telah kami lakukan, menghasilkan bahwa. Pada dasarnay
segala jenis pendidikan di indonesia baik formal, non formal, hingga informal berorientasi
pada tingkat yang strategik. Hal ini dibuktikan bagaimana sistem pendidikan diatur atas
dasar pertumbuhan sumberdaya yang berkualaitas.
Namun seperti apa yahng telah dipaparkan diatas menjadikan lebih penting jika
seluruh jenis pendidikan yang ada dikolaborasikan menjadi satu sehingga membetuk
kualitas pengetahuan modern tanpa harus mengurangi nilai-nilai relegius. Dalam hal ini
pendidikan relegius pondok pesatren lebih efektif serta dapat mengurangi resiko kegagalan
dalam pendidikan hingga mengurangi resiko Biaya Pendidikan, Pengaruh lingkungan,
permasalahan Keluarga, sistem pendidikan serta Akses/jarak.
Sistem pendidikan Pondok pesantren tidak lagi bertumpu pada nilai religi saja seperti
zaman dahulu, akan tetapi pada saat ini pengetahuan umum sudah banyak yang masuk
pada wilayah pendidikan pesantren, seperti Ilmu sosial, alam, sastra hingga pendidikan
berbasis lifeskill. Tanpa harus mengurangi seni relegius. hal-hal yang menjadi keuntungan
tersendiri diantaranya :
Tinggal diasrama menjadi keterbatasan akses lingkungan luar menjadi solusi yang
sangat efektif melihat resiko lingkungan yang semakin berpengaruh negatif
terhadap perkembangan prilaku anak. Akan tetapi tidak mengurangi bentuk
pembelajaran sosial sehingga peserta didik tidak kaget jika sudah turun didalam

dunia kemasyarakatan sebenarnya.


Pendidikan pondok pesantren cennderung lebih mengutamakan pendidikan dari
pada biaya oprasional yang harus ditanggung oleh peserta didik. Dalam artian
tidak bisa dipungkiri lagi bagamana materi menjadi hal yang kedua bagi peserta

didik yang kurang begitu mampu.


Jauh dari keluarga menjadikan peserta didik tidak terlalau mengikuti permasalah
yang terjadi pada orang tuanya sehingga peserta didik lebih berkonsentrasi pada

pendidikan dan kemandirianya.


Sistem pendidikan yang dijalan berorientasi terhadap keilmuan sosial dan ajaran
tata-krama, sikap dan tingkah laku, sehingga peserta didik tidak hanya matang

secara jasmani tapi juga rohaninya.


Jarak tempuh juga tidak jauh karen berada dilingkungan pesantren sehingga
mengurangi resiko dari luar. Seperti kecelakaan, perampokan, pergaulan bebas,

hingga tindakan kriminal.


3. Pengertian Biaya Pendidikan Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan
pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau
bentuk moneter lainnya. Pengertian biaya dalam ekonomi adalah pengorbanan-

pengorbanan yang dinyatakan dalam bentuk uang, diberikan secara rasional,


melekat pada proses produksi, dan tidak dapat dihindarkan. Bila tidak demikian,
maka pengeluaran tersebut dikategorikan sebagai pemborosan.
Biaya pendidikan menurut Prof. Dr. Dedi Supriadi, merupakan salah satu komponen
instrumental (instrumental- input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan
pendidikan (di sekolah). Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni
semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik
dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga. Secara umum pembiayaan pendidikan
adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada
setiap komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan)
hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan,
sistem

dan

mekanisme

pengalokasiannya,

efektivitas

dan

efisiensi

dalam

penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang


terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang
masih terkait dengan pembiayaan pendidikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk
lebih spesifik mengenal pembiayaan pendidikan ini.
Nanang Fattah menambahkan biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung (direct
cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya
yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa
seperti pembelian alat-alat pembelajaran, penyediaan sarana pembelajaran, biaya
transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan pemerintah, orang tua maupun siswa
sendiri. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk
biaya kesempatan yang hilang yang dikorbankan oleh siswa selama belajar, contohnya,
uang jajan siswa, pembelian peralatan sekolah (pulpen, tas, buku tulis,dll).
Pendidikan bermutu itu mahal, itu sebuah kalimat yang sering muncul dalam menjelaskan
mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengeyam bangku pendidikan.
Mahalnya biaya pendidikan di indonesia terutama perguruan tinggi membuat rakyat
miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak melanjutkan kepada pergururan tinggi.
Mahalnya biaya pendidikan didindonesia tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang
menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang pada realitanya lebih memaknai
sebagai upaya untuk melakukan mobilitas dana.

Menurut data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional berkaiatan dengan analisis


Biaya satuan Pendidikan (BPS) untuk pendidikan dasar dan menengah, biaya yang
dikeluarkan meliputi : Biaya buku, Pakaian seragam dan perlengkapan sekolah,
Akomodasi, tarsportasi, konsumsi, kesehatan, karyawisata, uang saku, kursus, iuran
sekolah, dan Foregone earning. Ini yang menjadi alasan mahalnya biaya pendidikan di
Indonesia. Disisi lain perkembangan suatu negara tidak hanya pada sisi pembangunan
pendidikan tapi juga pembangunan ekonomi, serta infrastruktur sehingga pemerintah
terkadang luput terhadap perkembangan dunia pendidikan secara merata dilihat dari sisi
alokasi biaya pendidikan.
Majunyah suatu negara dapat dilihat dari majunya pendidikan dinegara tersebut, semakin
tinggi mutu pendidikan di suatu negara otomatis masyaraakatnya juga semakin cerdas dan
kemakmuran dalam masyarakat akan tercapai. Dapat kita lihat dinegara-negara maju
bahwea pendidikan dijadikan perioritas utama dalam membangun negara.
Malaysia adlah salah satu contoh egara yang memperhatikan pendidikan dan menjadiknya
peioritas utama pemerintah. Tidak boleh ada satu pun anak malaysia yang tidak
bersekolah. Oleh karena itu, pendidikan dikbebaskan biaya nya oleh pemerintah setempat.
Negara maju lainnya yang menggratiskan pendidikan sampai pada perguruna tinggi
adalah Jerman. Bahkan dijerman orang asing pun boleh menikmati sekolah Gratis tersebut
sampai perguruan tinggi . itu sebabnya banyak orang indonesia pergi kejerman untuk
memperoleh pendidikan tinggi gratis dan beerkualitas tinggi.

REVIEW
Analisa Pengaruh Pendidikan dan Kesehatan terhadap sumber pertumbuhan Ekonomi
Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan

Dosen Pengapuh :
Dr. H. Muchtar, SE., M. Si

ACH. MUZAJJAD ( 12137963 )

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU EKONOMI
UNIVERSITAS DARUL ULUM JOMBANG