Você está na página 1de 124

Arti jujur

Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu nformasi
yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hokum tingkat
kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan
seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang
baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan
atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau
dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Kenapa harus jujur?
Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur.
Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali
dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang
orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang/dikasihi oleh
Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya
masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus jujur?"Umumnya jawaban yang saya
dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat
jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang
sudah saya anggap "benar", tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan:
"Kenapa orang harus jujur? Apakah baik dan positifnya ? Lalu bagaimana juga
jika dikaitkan dengan proses Siu Tao ( ) kita?
Bagaimana bersikap jujur
Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan:
"Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap
kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang Tao Yu ( ) yang jujur?"
y
Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?
y
Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
y
Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu ataudemi
kepentingan tertentu? Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya
bersama

Keenam
, dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika engkau ingin dicintai oleh
Allah dan Rasul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika engkau bicara,
dan berbuat baiklah terhadap orang sekelilingmu.'' (HR Ath-Thabrani).
Demikianlah, jujur penting sekali, terutama di masa ketika segala aspek kehidupan dipenuhi
kepalsuan dan dusta. Di manapun berada, kejujuran harus di atas segalanya. Jujur adalah simbol
profesionalisme kerja dan inti dari kebaikan hati nurani seseorang.
Kejujuran Adalah Aset
Menurut Robert T.Kiyosaki,aset adalah
apa yang dapat memasukkan uang ke kantong anda dan bisa dijual
Sedang menurut saya,aset adalah
sesuatu yang berharga,atau bahkan sangat berharga yang bisa menghasilkan sesuatu
.Agak mirip ya?Tidak juga! Kalau pendapat Kiyosaki,segalanya menyangkut uang,sedangkan
pendapat saya lebih dari itu,lebih luas daripada sekedar mendapatkan uang.Yang didapatkan bisa
hubungan baik dengan orang lain,persahabatan,kebahagiaan,dan lain-lain yang menurut
saya lebih berharga dari uang. Saya tidak mengesampingkan fungsi uang dalam kehidupan.Uang
memang sangat penting.Tapi,mengaitkan segala sesuatu dengan uang adalah sifat orang yang
materialistis.Orang semacam ini,akan sulit sekali mempunyai sifat tulus dan mungkin akan
kehilangan hal-hal berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.Salah satu aset berharga yang
kita sungguh beruntung apabila memilikinya adalah kepercayaan orang lain kepada kita.
Kepercayaan bisa menghasilkan sesuatu yang berharga kepada kita,termasuk uang.Untuk
mendapatkan kepercayaan,banyak hal yang harus kita miliki,misal tanggung jawab,dedikasi,dan
kejujuran.Yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah tentang kejujuran,bagaimana perannya
sebagai aset yang harus kita jaga,agar asset lainnya,yaitu kepercayaan bisa terjaga.Kejujuran
merupakan sifat yang sangat baik.Bahkan saya berani mengatakan orang yang baik pasti
jujur.Orang yang jujur akan mendapat tempat yang baik pada hati manusia.Sifat jujur harus
dimiliki oleh setiap pedagang,pengusaha,pegawai,apalagi seorang pemimpin.Tapi kenyataan
sekarang,sering kita lihat orang-orang semacam mereka yang mengorbankan kejujuran hanya
untuk meraup keuntungan yang sedikit.Mereka tidak segan-segan merugikan orang lain untuk
itu. Saya berpikir,bagaimana kalau kepercayaan orang lain hilang sementara dia sangat
membutuhkan,pastinya dia akan sangat kesulitan.Apabila anda ditipu oleh seseorang,apakah
anda mau lagi mempercayakan sesuatu kepadadia? Jawabannya pasti anda tidak mau,kecuali
anda mempunyai alasan tertentu.Sebaliknya,ketika anda mempercayakan sesuatu kepada orang
yang ternyata jujur,membeli kepada pedagang yang anda lihat jujur,rasa cinta anda kepada
kejujurannya bisa menjadikan keinginan untuk kembali kepada dia.Ini salah satu dampak
kejujuran.Dan selain itu banyak sekali dampak positifnya.

Cara Menumbuhkan Kejujuran


Segala sesuatu bila dibiasakan,niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan.Entah itu yang
baik ataupun yang buruk.Membiasakan diri untuk selalu jujur,walaupun dalam hal yang
dalam pandangan kita kecil,akan membuat kejujuran menjadi kebiasaan kita.Jangan meremehkan
yang kecil,sebab,sesuatu yang besar bermula dari yang kecil. Terkadang,tanpa sadar kita
mengajarkan bohong kepada anak kita.Misalnya,karena malas untuk menemui tamu,kita
meminta tolong kepada anak kita untuk mengatakan kepada tamu bahwa kita tidak ada.Sebagai
orang tua kita harus menjadi contoh yang baik.Berlakulah jujur agar anak anda jujur.Bergaulah
dengan orang jujur agar anda tertular sifat mereka.Pergaulan sangat berpengaruh terhadap
kepribadian kita.Orang yang terbiasa bergaul dengan orang yang tidak jujur,dikhawatirkan
lambat laun meniru sifatnya.Awal korupsi yang besar berasal dari hal-halseperti ini.
Menjaga Kepercayaan
Apabila kita sudah diberi kepercayaan karena orang lain menganggap kita jujur,maka jangan siasiakan kepercayaan mereka.Rawatlah kepercayaan mereka dengan selalu bersikap jujur.Kita
taburkan benih-benih kejujuran kepada orang lain,dengan harapan dia mengikuti kita. Kekuatan
doa juga sangat berpengaruh terhadap hal ini.Semoga saja,anda semakin dicintai orang lain dan
mendapatkan hal-hal yang lebih daripada yang anda inginkan.
Jujur
Jujur merupakan sebagian sifat orang Indonesia meskipun belum semuanya,tetapi kita Indonesia
memiliki Soekarno yang senangtiasa berperilaku jujur dan tidak korupsi,egois dan lain
lain.Orang yang jujur akan memberikan dampak bagi Indonesia,bukan dampak negative
melainkan dampak positive. Walaupun demikian kekayaan jugalah yang memperngaruhi jiwa
kejujuran,Kekayaan sering membuat onar para pelakunya,seorang pemerintah atau seorang
pengusaha akan berusaha untuk mendapatkan uang melalui jalan pintas. Jika semua orang berbuat ini saya
yakin kedepannya Indonesia malah tambah bodoh,jika semuanya!!.Tapi Alhamdulillah
belakangan ini Hukum masih dipergunakan dan tidak menyiksa yang lain.

Ini membuktikan bahwa Indonesia juga bukan Indonesia-Indonesiaan.Indonesia Dilahirkan atas


asas Hukum dan bukan asas semata melainkan didasarkan juga oleh Pancasila dan
Pembukaan UUD 1945

Pentingnya Perilaku Jujur Untuk Diri Sendiri

Pengertian Jujur
Jujur adalah sikap seseorang yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya secara
benar dan apa adanya, tidak menamba h-nambah ataupun tidak mengkurang-kurangi.
Jadi sifat jujur merupakan sifat yang disampaikan sebenar-benarnya sesuai kenyataan,
dan jika sebaliknya atau tidak disampaikan sesuai kenyataan maka itu dinamakan
berbohong atau dusta.
Sifat jujur ini harus dimiliki oleh setiap manusia. Sebab, sifat jujur sangat penting bagi
diri seseorang. Wajib hukumnya bagi kita untuk selalu berusaha jujur dalam hal
perkataan atau perbuatan dan dalam keadaan atau situasi apapun. Sifat ini adalah
sebuah dasar dan menjadi patokan sebuah kepercayaan diberikan. Jika kita sekali dapat
dipercaya, orang lain akan mempercayai kita terus dan akan memberi penilaian baik.
Namun jika sekali mengingkari, maka kepercayaan seseorang kepada kita akan menjadi
menurun dan bahkan bisa hilang.

Kepercayaan yang diberi oleh seseorang tidaklah mudah untuk bisa didapat kedua
kalinya. Oleh

karena

itu

jangan

sekali-kali mengecewakan

orang

yang

sudah

mempercayai kita. Berusaha selalu jujur adalah hal yang tepat. Namun kadang kondisi
membuat seseorang menjadi berubah dan sifat jujur sering kali dilupakan, untuk
menghindari hal itu maka kunci utama agar selalu jujur adalah niat dan buktikan bahwa
Anda orang baik yang mampu menjadi kebanggaan semua orang disekitar karena
kejujuran Anda.
Memang penulis juga bukan orang yang bisa selalu jujur, hanya saja penulis juga
berusaha untuk jujur dan informasi ini dibagi agar kita sesama dapat mengingat dan
tidak melupakan bahwa jujur itu penting demi kebaikan pribadi seseorang.

Perilaku jujur tidak akan pernah merugikan kita. Namun kejujuran akan membawa
manfaat yang begitu banyak bagi kita dan orang lain. Orang jujur saat ini sudah
mencapai titik sangat sulit dicari karena perkembangan zaman yang semakin maju dan
waktu demi waktu orang-orang banyak yang hanya merebutkan kekuasaan, pangkat,
serta membesarkan nafsu mereka yang terlepas dari kejujuran.

Manfaat Dari Perilaku Jujur


Beberapa manfaat yang akan diperoleh saat melakukan kejujuran antara lain yaitu :
1. Menjadi Orang Yang Dipercaya
Manfaat pertama tentu tak asing lagi bagi kita semua. Orang yang mau berusaha
menjadi jujur, kelak dirinya akan menjadi orang yang dipercaya oleh banyak orang
disekitarnya. Bahkan suatu saat karena kejujuran tersebut, seseorang itu akan
memperoleh suatu penghormatan yang tanpa disadari kedatangannya. Seperti halnya
diberi suatu kedudukan di suatu daerah tersebut atau lainnya.

2. Disayang Allah dan Orang Sekitar


Jika Anda sudah merasa memiliki sifat jujur, jangan kawatir tidak mempunyai teman.
Teman atau kawan orang yang jujur akan banyak, karena orang yang jujur pasti akan
baik dan tidak pernah merugikan jika diajak dalam berbisnis atau sebagainya. Beda
halnya dengan orang yang suka berbohong.
Kejujuran itu juga termasuk dalam hal yang mulia dan disukai oleh Allah beserta orangorang sekitar. Faktanya dapat kita lihat sendiri pada kehidupan sehari-hari.
3. Mudah Dalam Mendapatkan Pertolongan dan Pekerjaan
Sudah saya paparkan diatas dengan lengkap bahwa orang jujur itu disayang orang
sekitar dan Allah, oleh karena itu disaat orang yang jujur membutuhkan pekerjaan atau
pertolongan (entah apapun itu) tentu akan banyak kawan yang menolongnya. Allah juga
akan memudahkan segala sesuatu yang diperlukan oleh orang yang jujur untuk
terwujud.
Jadi, pertolongan atau apapun kesulitan itu bentuknya akan mudah didapat atau
terselesaikan ketika orang tersebut memiliki sifat baik terutama jujur.

Contoh Penerapan Jujur


Sifat jujur merupakan suatu hal yang harus ditegakkan dalam kehidupan dan hal ini
dapat kita ambil contoh dari kehidupan sehari-hari kita sendiri. Yang antara lain sebagai
berikut :
1. Menyimpan Rahasia Orang
Dalam hidup ini banyak sekali hal yang harus dibicarakan, tetapi ada pula yang tidak
boleh dibicarakan kepada orang lain atau lebih jelasnya harus dirahasiakan. Seperti
halnya jika Anda sedang diberitahu oleh seseorang mengenai sesuatu yang tidak

seharusnya diketahui oleh orang lain, maka wajib bagi Anda untuk menjaga sesuatu itu
dan tidak membicarakannya kepada orang lain.
Bila saja Anda mengetahui keburukan seseorang maka hendaknya lebih baik
dirahasiakan saja hal tersebut dan jangan dibeberkan atau dibicarakan kepada orang
lain. Allah menyukai seorang hamba yang bisa menjaga rahasia dan pandai mengatur
omongan supaya keluar ucapan yang baik-baik saja.
Sebagai pepatahnya sering terucap " Mulutmu adalah harimau-mu, ucapan-mu
menandakan akhlakmu "
2. Melaksanakan Amanah Seseorang
Kadang-kadang orang lain menitipkan sesuatu kepada kita, baik itu berupa pesan,
uang, barang, atau yang lain untuk disampaikan kepada orang lain yang mana hal ini
tidak berhak untuk kita ambil atau mungkin barang itu hanya sekedar dititipkan sampai
pada saatnya diambil kembali.

Bila terjadi hal seperti itu, maka solusi tepat agar kita tidak menjadi orang yang buruk
adalah harus selalu menjaga dan melaksanakan apa yang disampaikan pemberi
amanah. Ketika amanah yang diberikan oleh seseorang dapat terlaksana dengan baik,
artinya anda dapat memegang amanah dan menjalankan kepribadian yang jujur sesuai
tata perilaku yang baik.
3. Menjadi Siswa Yang Jujur dalam Ulangan
Sebagai siswa yang sama seperti yang lain, tentu tidak jarang menjumpai anak yang
mencontek bila sedang mengerjakan ulangan. Hal ini wajar, tapi tidak baik dan harus
segera diusahakan agar tidak dilakukan lagi supaya besok kelak menjadi pribadi yang
baik dan jujur.
Sebenarnya mengerjakan ulangan secara mandiri dan terima hasil apa adanya itu jauh
lebih baik dari pada hasil memuaskan namun dari teman-teman. Jika hasil kurang

memuaskan tapi hasil mengerjakan sendiri, coba evaluasi diri dan lakukan belajar
dengan lebih serius pada saat sebelum ulangan lagi agar pada saat kemudian pada
waktu ada ulangan bisa mengerjakan soal dengan lebih percaya diri sehingga hasilnya
tentu akan lebih memuaskan dan itupun dari usaha sendiri yang mana tentu jauh
membanggakan. Beda dengan mencontek terus, jika mencontek terus nanti dampaknya
akan menjadikan diri semakin sulit mengevaluasi apa kekurangan dan hasilnya akan
jauh mengecewakan.

Tanamkan keyakinan bahwa dengan jujur akan ada keajaiban yang baik,
sehingga semangat belajar untuk mengerjakan sendiri pada saat ujian
dapat meningkat.
4. Selalu Jujur Dalam Hal Apapun
Pada contoh terakhir ini memang bisa dikatakan sulit. Tapi kalau ada kemauan, niat dan
mau melakukan secara bertahap sedikit demi sedikit maka nanti lama-kelamaan
kepercayaan bahwa jujur itu sulit akan menjadi luntur sedikit demi sedikit dan akhirnya
akhlak akan menjadi baik dan jujur dalam hal apapun dapat dilakukan dengan mudah.
Pokoknya usaha dulu, masalah hasil lihat belakangan saja. Ingat !!! Lebih baik sudah
berusaha dari pada belum berusaha sama sekali.

Hakikat Sabar (1)

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran


itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten
menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai
macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Kedudukan
sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala
sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh. ( Al
Fawaid, hal. 95)
Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,


Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan
kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah,
serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam
menghadapi takdir Allah. (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,


Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang
dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan
gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun
yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As


Sadi rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai
berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab
terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal
shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari
kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah
sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak
berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman
Allah taala,Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. (QS. Al
Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan
shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar
menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga.

Allah taala berfirman kepada penduduk surga, Keselamatan atas


kalian berkat kesabaran kalian. (QS. Ar Rad [13] : 24).
Allah juga berfirman, Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan
kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran
mereka. (QS. Al Furqaan [25] : 75).

Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab
untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal
agama. Dalilnya adalah firman Allah taala, Dan Kami menjadikan di
antara mereka (Bani Israil) para pemimpin yang memberikan petunjuk
dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat
Kami. (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)
Sabar Dalam Ketaatan
Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Syaikh Numan mengatakan, Betapa banyak gangguan yang harus


dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia
harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh
dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam
upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian,
mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang
pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah
mengatakan, Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak
mengistirahatkan badan, sebagaimana tercantum dalam shahih
Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari
orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang
hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut
ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang
mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah. (Taisirul wushul, hal.
12-13)

Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

Syaikh Numan mengatakan, Dan orang yang ingin beramal dengan


ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang
ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah
menuruti syariat yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul
bida wal ahwaa yang menghalangi di hadapannya, demikian pula
orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan
nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan
terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan
kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana
orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang
sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai
penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong (Taisirul wushul, hal.
13)
Sabar Dalam Berdakwah

Syaikh Numan mengatakan, Begitu pula orang yang berdakwah


mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi
gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu
dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin
Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam,
Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran
sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para dai
pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut
dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara
itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah
maka akan ditemuinya para pembela bidah dan hawa nafsu. Begitu
pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran
niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa
besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok
mereka.

Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya


karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bidah dan
kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni. (Taisirul wushul, hal. 1314)
Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata,


Allah taala berfirman kepada Nabi-Nya, Dan sungguh telah didustakan
para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan
terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan
Kami. (QS. Al Anaam [6]: 34).

Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula


datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu
terbatas hanya pada saat seseorang (dai) masih hidup saja
sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan
tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat
sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati
umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang
teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang
didapatkan oleh dai ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para dai untuk bersabar dalam melancarkan
dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya
dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang
didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam
menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi
dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu alaihim.
Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah taala berfirman yang artinya, Demikianlah, tidaklah ada seorang
Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya)
mengatakan, Dia adalah tukang sihir atau orang gila. (QS. Adz Dzariyaat

[51]: 52). Begitu juga Allah azza wa jalla berfirman, Dan demikianlah
Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan
orang-orang pendosa. (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya

para dai tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua


(Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sabar di atas Islam

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu anhu yang


tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan
siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir
yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah
bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh
Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan
cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama
yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122123)
Lihatlah keteguhan Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu yang
dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai
ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau
mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Saad bin
Abi Waqqash mengatakan, Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu
memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun
ananda tidak akan meninggalkan agama ini (Lihat Tegar di Jalan
Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang
sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh
berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita
pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa
dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau
kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada
cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela
dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan,
bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan
harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara,

namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar


keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah taala yang artinya, Dan janganlah sekali-kali
kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim. (QS. Ali
Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, Barang siapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan
rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. (QS. Ath Thalaq

[65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu
bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan
keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.(HR. Abdu bin

Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148)


dan Al Haakim dalam Mustadrak ala Shahihain, III/624). (Syarh Arbain
Ibnu Utsaimin, hal. 200)
Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan,


Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga
dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam
kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan
tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan
kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh
Allah azza wa jalla di dalam muhkam al-Quran.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam
lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang
dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di
antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi,
dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya
(dikutuk).

Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, Syaikh memberikan


isyarat terhadap sebuah ayat, Maka masing-masing (mereka itu) kami
siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan
kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara
keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke
dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah
sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri.(QS. Al Ankabuut [29] : 40).

Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu
maksiat kepada Allahtabaaraka wa taala. Karena hak Allah adalah
untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada
Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan
menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan
turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam
kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan
maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya
hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang
sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan
Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan
berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah azza wa
jalla, Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekankejelekan. (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan
oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Dan ikutilah kejelekan dengan
kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. (HR. Ahmad, dll,
dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043) (Thariqul
wushul, hal. 15-17)
Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan,


Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar
dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya
yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu

gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian
atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka
bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang
menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain
sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut
ketentuan Allah di alam semesta (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar dan Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul


Wahhab rahimahullahu taalamembuat sebuah bab di dalam Kitab
Tauhid beliau yang berjudul, Bab Minal iman billah, ash-shabru
ala aqdarillah (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah
termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy
Syaikh hafizhahullahu taala mengatakan dalam penjelasannya
tentang bab yang sangat berfaedah ini, Sabar tergolong perkara
yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk
salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relungrelung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan.
Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi
tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syariat (untuk
mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syariat (untuk tidak
mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk
musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia
mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah
syariat serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi
musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh
Allah jalla wa ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan
demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui
sarana keputusan takdir.

Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah


sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ala kepada NabiNya shallallahu alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat
Muslim dari Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam pernah bersabda Allah taala berfirman: Sesungguhnya
Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia)
dengan dirimu.

Maka hakikat pengutusan Nabi alaihish shalaatu was salaam adalah


menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap
sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya
beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan
bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan
dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi
keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan
bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan,
Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar
dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir
Allah yang terasa menyakitkan.
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar
tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab
tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan
dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian
dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang
harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar
menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak
muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian
berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau
membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang
wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan.
Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa

bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan


kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan,
Qutila fulan shabran (artinya si polan dibunuh dalam keadaan
shabr) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat
lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan
demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian
syari.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan
lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa
marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan
kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek
kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syariat sabar artinya:
Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan
menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan
cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, Di dalam al-Quran kata sabar
disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman,
sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak
punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya
kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala
tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak
sekali bagian keimanan
Perkataan beliau Bab Minal imaan, ash shabru ala aqdaarillah
artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah
bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu
mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga
bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan Minal imaan ash shabru beliau ingin
memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang
keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan

bahwa niyaahah(meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu


cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus
dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah
cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang
keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa
menyakitkan (At Tamhiid, hal.389-391)

ANTARA TAWAKKAL DAN USAHA MENCARI RIZKI YANG HALAL


Buletin At-Tauhid edisi 22 Tahun XI

Syariat Islam yang agung sangat menganjurkan kaum muslimin untuk


melakukan usaha halal yang bermanfaat untuk kehidupan mereka, dengan
tetap menekankan kewajiban utama untuk selalu bertawakal
(bersandar/berserah diri) dan meminta pertolongan kepada Allah Taala
dalam semua usaha yang mereka lakukan.

Allah Taala berfirman (artinya) :Apabila telah ditunaikan shalat, maka


bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang
halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung (QS al-Jumuah:10).
Dalam ayat lain Allah Taala berfirman (artinya) :Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya) (QS Ali
Imraan:159).
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabdaOrang mukmin yang
kuat (dalam iman dan tekadnya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah
daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing (dari keduanya)
memiliki kebaikan, bersemangatlah (melakukan) hal-hal yang bermanfaat
bagimu dan mintalah (selalu) pertolongan kepada Allah, serta janganlah
(bersikap) lemah (HR. Muslim).
Makna Tawakkal yang Hakiki
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata, Tawakkal yang hakiki adalah
penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah Taala dalam meraih
berbagai kemaslahatan (kebaikan) dan menghindari semua bahaya, dalam
semua urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepadaNya dan meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang dapat
memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya serta memberikan manfaat
kecuali Allah (semata) (Kitab Jaamiul uluumi wal hikam). Tawakkal
termasuk amal yang agung dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi
dalam agama Islam, bahkan kesempurnaan iman dan tauhid dalam semua
jenisnya tidak akan dicapai kecuali dengan menyempurnakan tawakal
kepada Allah Taala. Allah Taala berfirman (artinya) (Dia-lah) Rabb masyrik
(wilayah timur) dan maghrib (wilayah barat), tiada Ilah (yang berhak
disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung (QS alMuzzammil : 9) (Lihat kitab al-Irsyaad ila shahiihil Itiqaad). Merealisasikan
tawakkal yang hakiki adalah sebab utama turunnya pertolongan dari Allah
Taala bagi seorang hamba dengan Dia mencukupi semua keperluan dan
urusannya. Allah Taala berfirman (artinya)Barangsiapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua
urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangkasangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (segala keperluan)nya (QS ath-Thalaaq : 2-3).

Maknanya: Barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam menyerahkan


(semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala)
keperluannya (Kitab Fathul Qadiir).
Salah seorang ulama salaf berkata: Cukuplah bagimu untuk melakukan
tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah
adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya
dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya
kepada-Nya, maka Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut.
Kemudian ulama ini membaca ayat tersebut di atas (Dinukil oleh imam Ibnu
Rajab dalam kitab Jaamiul uluumi wal hikam).
Usaha yang Halal Tidak Bertentangan dengan Tawakkal
Di sisi lain, agama Islam sangat menganjurkan dan menekankan keutamaan
berusaha mencari rezki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam secara khusus menyebutkan
keutamaan ini dalam sabda beliau :Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan
oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal) (HR anNasa-i, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan al-Hakim, shahih). Hadits yang agung ini
menunjukkan besarnya keutamaan bersungguh-sungguh mencari usaha
yang halal dan bahwa usaha mencari rezki yang paling utama adalah usaha
yang dilakukan seseorang dengan tangannya sendiri (Lihat kitab Umdatul
qaari dan Faidhul Qadiir). Berdasarkan ini semua, maka merealisasikan
tawakal yang hakiki sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari
rezki yang halal, bahkan ketidakmauan melakukan usaha yang halal
merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah Taala , yang ini justru
menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allah.
Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan
kesempurnaan tawakal yang tidak mungkin lepas dari usaha melakukan
sebab yang halal, dalam sabda beliau, Seandainya kalian bertawakal pada
Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan
melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezki
kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar
dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang (HR Ahmad, at-Tirmidzi,
Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, shahih). Imam al-Munawi ketika
menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata: Artinya: burung itu pergi di
pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali waktu petang dalam keadaan
perutnya telah penuh (kenyang). Namun, bukanlah usaha (sebab) yang telah

dilakukan tersebut yang mendatangkan rezki (dengan sendirinya), karena


yang melimpahkan rezki adalah Allah Taala (semata).
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan
bahwa tawakal (yang sebenarnya) bukanlah berarti bermalas-malasan dan
enggan melakukan usaha (untuk mendapatkan rezki), bahkan (tawakal yang
benar) harus dengan melakukan (berbagai) macam sebab (yang dihalalkan
untuk mendapatkan rezki).
Oleh karena itu, Imam Ahmad (ketika mengomentari hadits ini) berkata:
Hadits ini tidak menunjukkan larangan melakukan usaha (sebab), bahkan
(sebaliknya) menunjukkan (kewajiban) mencari rezki (yang halal), karena
makna hadits ini adalah: kalau manusia bertawakal kepada Allah ketika
mereka pergi (untuk mencari rezki), ketika kembali, dan ketika mereka
mengerjakan semua aktifitas mereka, dengan mereka meyakini bahwa
semua kebaikan ada di tangan-Nya, maka pasti mereka akan kembali dalam
keadaan selamat dan mendapatkan limpahan rezki (dari-Nya), sebagaimana
keadaan burung ( Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul
ahwadzi).
Imam Ibnu Rajab memaparkan hal ini secara lebih jelas dalam ucapannya:
Ketahuilah bahwa sesungguhnya merealisasikan tawakal tidaklah
bertentangan dengan usaha untuk (melakukan) sebab yang dengannya Allah
Taala menakdirkan ketentuan-ketentuan (di alam semesta), dan (ini
merupakan) ketetapan-Nya yang berlaku pada semua makhluk-Nya. Karena
Allah Taala memerintahkan (kepada manusia) untuk melakukan sebab
(usaha) sebagaimana Dia memerintahkan untuk bertawakal (kepada-Nya),
maka usaha untuk melakukan sebab (yang halal) dengan anggota badan
adalah (bentuk) ketaatan kepada-Nya, sebagaimana bertawakal kepada-Nya
dengan hati adalah (perwujudan) iman kepada-Nya. Sebagaimana firman
Allah Taala (artinya)Hai orang-orang yang beriman, bersiapsiagalah kamu
(QS an-Nisaa : 71). Dan firman-Nya :Dan siapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang (QS al-Anfaal : 60). Juga firman-NyaApabila telah
ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari
rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS al-Jumuah : 10)( Kitab
Jaamiul uluumi wal hikam). Makna inilah yang diisyaratkan dalam ucapan
Sahl bin Abdullah at-Tustari: Barangsiapa yang mencela tawakal maka
berarti dia telah mencela (konsekuensi) iman, dan barangsiapa yang

mencela usaha untuk mencari rezki maka berarti dia telah mencela sunnah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (Dinukil oleh Abu Nuaim alAshbahani dalam kitab Hilyatul auliyaa).
Tawakkal yang Termasuk Syirik dan yang Diperbolehkan
Dalam hal ini juga perlu diingatkan bahwa tawakkal adalah salah satu ibadah
agung yang hanya boleh diperuntukkan bagi Allah Taala semata, dan
mamalingkannya kepada selain Allah Taala adalah termasuk perbuatan
syirik. Oleh karena itu, dalam melakukan usaha hendaknya seorang muslim
tidak tergantung dan bersandar hatinya kepada usaha/sebab tersebut,
karena yang dapat memberikan manfaat, termasuk mendatangkan rezki dan
menolak bahaya adalah Allah Taala semata, bukan usaha/sebab yang
dilakukan manusia, bagaimanapun tekun dan sunguh-sungguhnya dia
melakukan usaha tersebut. Maka usaha yang dilakukan manusia tidak akan
mendatangkan hasil kecuali dengan izin Allah Taala (Lihat kitab al-Irsyaad
ila shahiihil Itiqaad). Dalam hal ini para ulama menjelaskan bahwa
termasuk perbuatan syirik besar (syirik yang dapat menyebabkan
pelakuknya keluar dari Islam) adalah jika seorang bertawakkal (bersandar
dan bergantung hatinya) kepada selain Allah Taala dalam suatu perkara
yang tidak mampu dilakukan kecuali olah Allah Taala semata.
Adapun jika seorang adalah jika seorang bertawakal (bersandar dan
bergantung hatinya) kepada makhluk dalam suatu perkara yang mampu
dilakukan oleh makhluk tersebut, seperti memberi atau mencegah
gangguan, pengobatan dan sebagainya, maka ini termasuk syirik kecil (tidak
menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, tapi merupakan dosa yang
sangat besar), karena kuatnya ketergantungan hati pelakunya kepada selain
Allah Taala, dan juga karena perbuatan ini merupakan pengantar kepada
syirik besar, nauudzu bilahi min dzalik. Sedangkan jika seorang melakukan
usaha/sebab tanpa hatinya tergantung kepada sebab tersebut serta dia
meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata, dan Allah-lah yang menakdirkan
dan menentukan hasilnya, maka inilah yang diperbolehkan bahkan
dianjurkan dalam Islam (Lihat al-Irsyaad ila shahiihil Itiqaad dan atTamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid).
Penutup
Tawakkal yang sebenarnya kepada Allah Taala akan menumbuhkan dalam
hati seorang mukmin perasaan ridha kepada segala ketentuan dan takdir
Allah, yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan

dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi


wa sallam, Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha
dengan Allah Taala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta
(nabi) Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai rasulnya (HR
Muslim).

TAWAKAL: Kunci Kekuatan dan


Kelapangan Hati Seorang Mukmin
Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Taala menyandingkan
antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini
menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat
agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh

Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Taala menyandingkan


antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini
menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat
agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian
dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Diantara firman-Nya tentang tawakal ketika disandingkan dengan
orang-orang beriman, dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya
kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal (QS. Al
Maidah: 11).
Dan firman-Nya, Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah
mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan
apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah
imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal (QS. Al
Anfal : 2).
Tentunya masih banyak ayat lain dalam Al Quran yang berisi
tentang tawakal, demikian pula sabda Rasulullah shallallahu alaihi

wa sallam. Namun apakah itu sebenarnya tawakal? Pada


pembahasan selanjutnya akan dibahas lebih terperinci mengenai
tawakal.
Definisi tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Hakikat tawakal adalah
hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka
memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot
(hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, Tawakal adalah
menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan
yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai
percaya penuh kepada Allah Taala dan menempuh sebab (sebab
adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan)
yang diizinkan syariat.
Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha
Dari definisi sebelumnya para ulama menjelaskan bahwa tawakal
harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati
kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang
berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada
Allah, maka berarti ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar
kepada Allah namun tidak berusaha menempuh sebab yang
dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya.
Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai
ikhtiyar/usaha. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah
memberikan contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas
bahwa tawakal tidak lepas dari ikhtiyar dan penyandaran diri
kepada Allah.
Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu berkata, bahwa
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Seandainya kalian
betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan
kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung
tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore

harinya dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al


Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash
Shohihah no. 310)
Tidak kita temukan seekor burung diam saja dan mengharap
makanan datang sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam memberikan permisalan ini, jelas sekali bahwa seekor burung
pergi untuk mencari makan, namun seekor burung keluar mencari
makan disertai keyakinan akan rizki Allah, maka Allah Taala pun
memberikan rizkiNya atas usahanya tersebut.
Syarat-Syarat Tawakal
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan
syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan
semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat
syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:
1. Bertawakal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman: Dan
kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka
sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali
Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud: 123).
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan
semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua
yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan
kehendak Allah. Allah berfirman,Mengapa kami tidak bertawakal
kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami,
dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguangangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada
Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri. (QS.
Ibrahim: 12).
3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan
seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap
kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman, Dan barangsiapa
yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang

dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan


ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 3).
4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang
dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap
menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, Jika
mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, Cukuplah
Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku
bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arsy yang
agung.(QS. At-taubah: 129).
Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benarbenar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan
akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat
mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Dengan besarnya
tawakal kepada Allah akan memberikan keyakinan yang besar sekali
bahkan membuahkan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi
tantangan dan ujian yang berat. Sebagaimana Allah taala berfirman
(yang artinya), Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu
bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan
apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang
bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada
siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus: 107)
Dengan mendasarkan diri pada keyakinan bahwa hanya Allah saja
yang dapat memberikan kemudharatan maka seorang mukmin tidak
akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda,
seberapapun besarnya, karena dia yakin bahwa Allah akan
menolong hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya
hanya kepada Allah. Dengan keyakinan yang kuat seperti inilah
muncul mujahid-mujahid besar dan ulama-ulama pembela agama
Islam yang senantiasa teguh di atas agama Islam walaupun
menghadapi ujian yang besar, bahkan mereka rela mengorbankan
jiwa dan raganya untuk agama Islam.
Tawakal yang sebenarnya kepada Allah Taala akan menjadikan hati
seorang mukmin ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah,
yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan
kemanisan dan kesempurnaan iman. Sebagaimana sabda

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Akan merasakan


kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Taala
sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi)
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai rasulnya
Setiap hari, dalam setiap sholat, bahkan dalam setiap rakaat sholat
kita selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka nabudu wa iyyaka
nastain; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya
kepada-Mu kami meminta pertolongan Oleh sebab itu bagi
seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak
harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah
lah kita serahkan seluruh urusan kita.
Allah taala berfirman (yang artinya), Dan kepada Allah saja
hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman. (QS.
al-Maidah: 23). Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban
menyandarkan hati semata-mata kepada Allah, karena tawakal
adalah termasuk ibadah.
Tawakal yang Salah
Kesalahan dalam memahami dan mengamalkan tawakal akan
menyebabkan rusaknya iman dan bisa menyebabkan terjadi
kesalahan fatal dalam agama, bahkan bisa terjerumus dalam
kesyirikan, baik syirik akbar (syirik besar) maupun
syirik asghar (syirik kecil). Adapun kesalahan dalam tawakal yang
menyebabkan terjerumus dalam syirik akbar adalah seseorang
bertawakal kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya mampu
diwujudkan oleh Allah. Misalnya: bertawakal kepada makhluk dalam
perkara kesehatan, bersandar kepada makhluk agar dosa-dosanya
diampuni atau bertawakal kepada makhluk dalam kebaikan di
akhirat atau bertawakal dalam meminta anak sebagaimana yang
dilakukan para penyembah kubur wali.
Adapus jenis tawakal yang termasuk dalam syirik asghar adalah
bertawakal kepada selain Allah yang Allah memberikan kemampuan
kepada makhluk untuk memenuhinya. Misalnya: bertawakalnya
seorang istri kepada suami dalam nafkahnya, bertawakalnya
seorang karyawan kepada atasannya. Termasuk dalam syirik akbar

maupun asghar keduanya merupakan dosa besar yang tidak akan


terampuni selama pelakunya tidak bertaubat darinya

RELA
Sikap rela berkorban adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan
keikhlasan memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain, walaupun akan
menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri. Dalam pengertian yang lebih sederhana,
rela berkorban adalah sikap dan perilaku yang tindakannya dilakukan dengan ikhlas
serta mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan diri sendiri.
Rela berkorban artinya bersedia dengan ikhlas, dan tidak mengharapkan imbalan untuk
kepentingan orang lain.
RIDHA
Ridha menurut bahasa artinya rela. Sedangkan menurut istilah Ridha adalah menerima dengan
senag hati atas segala yang di berikan oleh Allah SWT baik berupa hukuman atau ketentuan yang
telah di tetapkan- Nya.
Sikap Ridha harus di tunjukan baik ketika menerima nikmat maupun pada saay menrima cobaan.
Kebanyakan manusia berat menerima keadaan yang menimpa dirinya seperti kemiskinan, kerugian,
kehilangan barang, perangkat, kedudukan, kematian keluarganya dan lain-lain.

Ridha terhadap takdir bukan berarti menyerah atau pasrah tanpa usaha lebih dulu untuk mencari
jalan keluarnya. Menyerah dan putus asa tidak di benarkan oleh tatanan hidup dan tidak di benarkan
pula oleh ajaran islam. Allah memberikan cobaan atau ujian dalam rangka menguji keimanan dan
ketakwaan hamba-Nya.
Wujud Nyata dari sifat Ridha antara lain :
1. Sabar dalam melaksanakan kewajiban hingga selesai dengan kesunguhan dan penuh dengan
tanggung jawab.
2. Senantiasa mengingat Allah dan tetap melaksanakan salat dengan Khusuk.
3. Tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan orang lain serta tidak riya'.
4. Bersyukur atas nikmat yang telah di berikan oleh Allah SWT.
Demikian, ilmu yang dapat sampaikan. Dan, semoga bermanfaat bagi kalian smua.

Qona'ah artinya rela menerima dan merasa cukup dgn apa yg dimiliki, dan menjauhkan diri dari sifat
tdk puas dan merasa kurang yg berlebihan.
Qona'ah bukan berarti hidup bermalas2an/ tdk mau berusaha sebaik2nya utk meningkatkan
kesejahteraan hidup. Justru orang yg Qona'ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila
hasilnya tdk sesuai dgn apa yg diharapkan, ia akan rela hati menerima hasil tersebut dgn rasa
syukur pada Allah SWT. Rosulallah SAW bersabda:
''Sesungguhnya beruntung bagi orang yg masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dgn
apa- apa yg telah Allah berikan kepadanya.'' (HR. Muslim) Orang yg mempunyai sifat Qona'ah
memiliki pendirian bahwa apa yg diperoleh atau apa yg ada pada dirinya adalah kententuan Allah.
Firman Allah SWT: ''Tiada sesuatu yg melata di bumi melainkan di tangan Allah rizkinya.'' (Hud:8)
Qona'ah harusnya menjadi sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali
agar tidak seorang muslim yg mempunyai sifat Qona'ah akan selalu berlapang dada, berhati
tentram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakikatnya
Kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yg dimilikinya. Bila kita perhatikan
banyak orang yg lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya dipenuhi dengan
keserakahan dan kesengsaraan, sebaliknya banyak orang yg sepintas lalu sprti kekurangan namun
hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya
utk kepentingan sosial.

Dari Abu Hurairah r.a. Rosulallah SAW bersabda: ''Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda,
tapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati.'' (HR. Bukhari dan Muslim) Karna hatinya selalu
merasa berkecukupan, maka orang yg mempunyai sifat Qona'ah terhindar dari sifat loba/tamak, yg
cirinya

antara lain suka meminta kepada kepada sesama manusia karena merasa masih kurang puas
Dengan apa yg diberikan Allah kepadanya.
Disamping itu Qona'ah juga berfungsi sebagai dinamisator, yaitu kekuatan batin yg selalu
mendorong seseorang utk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dgn tetap bergantung
pada karunia Allah. Qona'ah itu bersangkut paut dgn sikap hati atau sikap mental. Oleh karena itu
utk menumbuhkan sifat Qona'ah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat permulaan mungkin
memberatkan hati, namun jika sifat Qona'ah sdh menjadi bagian dr kehidupan maka kebahagian
didunia akan dpt dinikmatinya dan kebahagian akhirat kelak akan dicapainya. Demikianlah betapa
pentingnya sifat Qona'ah dlm hidup, karna akan membangun pribadi muslim yg menerima rela apa
adanya,memohon tambahan yg pantas kepada Allah serta usaha & ikhtiar, menerima ketentuan
Allah dgn sabar, bertawakal kepadaAllah, dan tdk tertarik oleh tipu daya dunia.

Makna Menerima Apa AdanyaMakna Menerima Apa Adanya


Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar kalimat yang mengatakan
Menerima apa adanya. Atau mungkin pernah mengalaminya di saat ada seseorang
yang mengatakan, aku akan menerima kamu apa adanya. Pada awalnya, kalimat itu
menurutku menegaskan sebuah ketulusan. Tapi ternyata, makna dari kalimat tadi
tidaklah selalu baik. Kita harus melihat terlebih dahulu dari sudut pandang mana kalimat
itu di tempatkan.

Berdasarkan uraian yang pernah saya dapatkan dari para penulis, motivator maupun
ustadz, pola pikir menerima apa adanya bisa mengandung makna yang positif dan juga
negatif. Saya akan mencoba untuk menguraikan pola pikir ini dari dua sudut pandang
yang berbeda tadi berdasarkan analogi pribadi saya. Pola pikirmenerima apa
adanya bisa menjadi makna yang kurang baik jika di posisikan kepada sesuatu hal
yang tidak menjadikan seseorang mau belajar atau mengambil pembelajaran dari
setiap hal yang di terimanya. Misalkan ketika kita mencintai seseorang dan berusaha
menerima dia apa adanya, tanpa kita sadari kita membiarkan orang yang di cintai tidak
ada spirit fighterr (semangat pejuang) dan soul of learners (jiwa pembelajar), tidak ada
keinginan untuk merubah dan memperbaiki dirinya. Pesimis terhadap dirinya sendiri
yang apa adanya. Sedangkan kita semua tahu, hidup ini akan terus berjalan, roda
kehidupan senantiasa berputar, dan untuk bisa menjalaninya dengan benar harus ada

keinginan dari diri sendiri untuk mengubah nasib menjadi lebih baik dengan terus
memperbaiki diri.

Untuk masalah cinta ataupun sesuatu yang ada kaitannya dengan sebuah hubungan, di
mana ada dua pihak yang terlibat di dalamnya, cinta akan senantiasa menuntutadanya
perubahan ke arah yang lebih baik. Jika kita hidup bersama seseorang yang tidak
pernah ingin mengubah diri dan kehidupannya menjadi lebih baik, bagaimana dia akan
bisa membimbing kita menjadi lebih baik pula? Begitu juga sebaliknya, ketika kita
pesimis terhadap diri dan kehidupan kita, kita tidak akan bisa membantu dan
memberikan pengaruh yang positif untuk pasangan maupun orang-orang di sekitar kita.
Jauhilah prinsip menerima apa adanya untuk kondisi yang satu ini, bangunlah
semangat pembelajar. Tanamkanlah sikap ingin terus mencari ilmu, memperbaiki diri
dan tidak pernah puas terhadap kemampuan dan kapasitas diri, demi perubahan dan
kehidupan yang lebih baik. Saya yakin, seseorang yang mau terus belajar dan
memperbaiki diri, semakin hari karakter dan kehidupannya akan semakin baik, semakin
berkembang dan pola pikirnya akan senantiasa luas dan bijak.

Untuk sudut pandang yang kedua, yaitu prinsip menerima apa adanya yang
mengandung makna positif yaitu erat hubungannya dengan sikap ikhlas. Hal yang
harus di tegaskan di sini adalah pasrah tidak selalu memiliki konteks yang negatif.
Pasrah bisa mengandung makna berserah diri. Dan berserah diri dekat sekali
hubungannya dengan sikap ikhlas. Prinsip menerima apa adanya mengandung makna
ikhlas ketika seseorang yakin akan kekuasaan Allah dan senantiasa berprasangka baik
terhadap kehendak-Nya. Arti menerima apa adanya di sini lebih erat hubungannya
dengan makna mensyukuri. Menerima apa yang telah Allah gariskan dan takdirkan
untuk kita. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, tidak semuanya sama.
Apa Sebenernya Yang Dimaksud "Menerima Apa Adanya" ???

Mungkin istilah "Menerima Apa Adanya" itu sudah sangat umum dikala kita menjalin
sebuah hubungan, atau bahkan saat kita masih mencari orang yang tepat untuk kita
jadikan teman hidup / pacar.
Kita pasti pernah mendengar kata-kata " Maukah kau menerima apa adanya aku? "
atau " Kalau kamu mau jadi pacarku, apa kamu mau menerima apa adanya aku? " .
Ya mungkin ga da yang salah dari kalimat / pertanyaan di atas. Tapi apa kalian
memahami apa sebenarnya arti dari menerima apa adanya. Yang aku lihat sih
sebenarnya masih banyak orang yang terlampau mengandalkan kata-kata ini untuk
memberikan gambaran tentang siapa sebenarnya dia dan berharap pasangan yang
mendengar kata-kata atau pertanyaan itu mau mengerti tentang keadaan dia, dan
menerima dengan sepenuh hati apapun yang ada pada dirinya walaupun itu adalah
sebuah hal yang buruk / jelek.
Sebenarnya konteks yang boleh / tepat digunakan untuk kata-kata tersebut itu adalah
hanya hal yang menggambarkan keadaan yang tidak dapat dirubah. Misal fisik seperti
cacat itu kan ga bisa dirubah, otomatis itu memang harus bisa diterima dan harus
dibutuhkan pengertiannya. Satu lagi keadaan ekonomi yang mungkin walaupun masih
bisa dirubah tapi itu juga ga bisa dipaksakan secepatnya dapat berubah mesti butuh
proses dan yang namanya rejeki kan hanya Tuhan yang tahu.
Lah sekarang aku mau ngasih tahu konteks yang sebenarnya ga pas atau ga tepat
untuk kata-kata "menerima apa adanya" yaitu seperti contohnya sikap / sifat .

Contohnya " Aku itu pemarah & suka berkata kasar, itu apa adanya aku, kalau kamu
mau jadi pacarku kamu harus menerima apa adanya aku" . Itu adalah contoh yang
salah soalnya sifat / sikap walaupun sulit untuk dirubah tapi itu kan masih bisa dirubah
yang penting keyakinan kita kalau sifat / sikap itu sebenarnya hal negatif yang bisa
merugikan atau menyakiti orang lain. Dan otomatis dalam menjalin hubungan itu harus
lah sesuatu yang memang memberikan kebahagiaan bukan sebaliknya. Kalau sifat
pemarah & berkata kasar itu sudah mengganggu dan dirasa membuat kurang nyaman
hubungan ya otomatis hal itu harus dirubah agar hubungan itu bisa berjalan dengan
baik, kalau tidak mau atau tidak bisa dengan dalih kalau itu sifat yang tidak bisa
dirubah, ya buat apa dipertahankan hubungan itu kalau hanya isinya berusaha
menerima dia dengan hati yang dongkol atau tidak legowo. Dan yang dimaksud
menerima apa adanya itukan haruslah menerima dengan ikhlas tanpa ada perasaan
yang mengganjal.

Dan satu lagi hal yang salah kaprah untuk konteks menerima apa adanya yaitu
kebiasaan. Ya .. kebiasaan itu tidak termasuk hal yang tidak dapat dirubah, soalnya
kebiasaan memang ada kebiasaan buruk dan kebiasaan baik. Dan disini pastinya yang
harus dirubah itu adalah kebiasaan buruk, seperti contohnya suka minum2an keras,
suka merokok atau mungkin kebiasaan suka ketawa keras2 dll. Itu hal yang sebenarnya
tidak membutuhkan pengertian, karena kebiasaan2 itu memang masih bisa dirubah.
Dalam hal kalimat "menerima apa adanya" memang tersirat komitmen untuk
memberikan sepenuhnya pengertian atau rasa mengerti tentang hal yang dimiliki
pasangan. Yang dimana disitu dapat diartikan bahwa kata2 itu adalah hal
yang HARUS dimengerti dan tidak bisa dilawan, kalau kita membantah nya nantinya
kita akan dicap sebagai orang yang suka mengatur ataupun egois karna tidak mau
mengerti
tentang
hal2
pada
diri
pasangan.
Padahal kalau kita pahami, bahwa orang yang egois itu sebenarnya adalah orang yang
memaksakan diri untuk dimengerti dengan kata2 menerima apa adanya itu, itu lah
orang yang egois, orang yang tidak mau merubah sifat / sikap atau kebiasaan buruk
nya dan tetep kekeuh minta dimengerti dan harus diterima apa adanya dia, padahal apa
adanya dia itu masih bisa dirubah.
Kalau ada yang bilang "Aku ini memang cuek, suka ngambekan, cemburuan tapi ini apa
adanya aku, jadi kalau kamu memang sayang aku, kamu harus mengerti dan mau
menerima apa adanya aku " .

Itu bukan lah kalimat orang yang sayang sama kamu tapi itu adalah bentuk dari orang
yang ingin memaksakan dirinya agar dimengerti dan diterima, walaupun itu adalah sifat
buruk. So, berikanlah pengertian tentang apa sebenarnya yang dimaksud menerima
apa adanya, menerima apa adanya itu adalah hal yang penuh keikhlasan tanpa
paksaan dan pastinya tanpa ada sesuatu yang disimpan.
Kalau hal2 yang dikemukakan itu membuat kita terpaksa mengertikannya atau
memahaminya, sebaiknya katakan apa yang dirasa agar dia mau merubah sifat / sikap
atau kebiasaan buruknya. Agar nantinya hubungan itu bisa dijalani tanpa ada paksaan
dan dijalani dengan rasa yang ikhlas.
Seperti kata Om Mario Teguh
JANGANLAH MENERIMA APA ADANYA, JIKA YANG LEBIH BAIK MASIH MUNGKIN.
MENGUPAYAKAN YANG LEBIH BAIK, adalah sikap yang mensyukuri apa pun yang
telah ada pada diri ini, UNTUK MENCAPAI YANG TERBAIK bagi diri, keluarga, dan
sesama.
Mungkin, tidak ada orang yang lebih disia-siakan hidupnya, daripada dia yang
diharuskan menerima apa adanya, saat yang lebih baik masih mungkin baginya.
Mario Teguh Loving you all as always
Mario Teguh
"Menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan."
" Jangan berharap menemukan wanita / pria yang mau menerima Anda apa adanya,
jika Anda tidak ada apa-apanya."

Sumeleh, Semeleh, Artinya Menyerah?


Terj: Berserah itu ringan tapi berat; berat tapi meringankan.

SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun
di belakangnya. Ada makna kepasrahan diri di sana.

Sumeleh, yang dalam tutur keseharian orang Jawa sering dilafalkan dengan semeleh,
berasal dari kataseleh (=deleh) dan mendapat sisipan -um. Seleh dandeleh berarti
meletakkan; sumeleh kira-kira berarti meletakkan (kata sifat) atau sikap meletakkan
(kata keadaan, kata benda?). Tak ubahnya sleep + ing = sleeping; kira-kira begitulah.
Secara tata bahasa dan pembentukan kata saya kurang mengerti. Tapi secara
maknawi,
jika
diterjemahkan
dalam
bahasa
Indonesia, sumeleh berarti
berserah. Bukan menyerah.
Untuk sampai pada tahapan sumeleh (Jw: berserah), biasanya seseorang telah
melampaui (baca: melakoni) yang berat-berat. Atau, telah dan tengah menghadapi ujian
hidup yang berat. Sehingga ketika di-seleh-kan atau diletakkan, apa yang tadinya berat
terasa ringan. Jadi dengan sumeleh, seseorang akan diringankan dari beban-beban
berat (abstrak) yang selama ini dipanggulnya.
Dan memang, untuk sampai pada tahap sumeleh, seseorang harus mau dan berani
meletakkan atau membebaskan diri dari sesuatu yang sangat berat; yaitu keakuan.
Aku yang bisa melakukan ini itu, aku yang telah melakukan ini itu, aku yang telah
memberikan semua yang dimiliki, mengorbankan semua yang bisa dikorbankan, aku
yang telah memberikan semua upaya terbaik, bahkan aku yang telah mengikuti semua
perintah-Nya . Aku .
Sumeleh, meletakkan sesuatu, melepaskan keterikatan pada sesuatu, dan
menyerahkannya kepada Yang Maha Agung. Menerima semua kehendak-Nya, atas diri
kita dan atas sesuatu yang selama ini kita panggul, kita ikat, kita lekati, kita miliki.
Semua itu berarti apapun, termasuk menerima yang tidak kita kehendaki atau tidak kita
harapkan terjadi.

Sumeleh, berserah, bagi saya adalah sebuah pengakuan tulus atas kebesaran-Nya,
dan pengakuan atas kecilnya kita, kerdilnya kita. Kita tidak sedang membincang
tentang merendahkan diri yang secara umum diartikan negatif. Karena kita sedang
merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta yang memang layak memandang kita
rendah dengan segala kebesaran-Nya. Bukankah tak ada yang setara dengan-Nya?
Kini saya mulai memahami, meringankan/mengecilkan diri membuat kita mampu
melihat kemahabesaran-Nya .
Dan konsekuensi dari sumeleh itu ringan sekaligus berat. Ringan karena beban psikis
kita terangkat. Kita bernafas dan melangkah dengan lega. Melanjutkan kehidupan
alias move on. Berat, karena setelah itu biasanya Dia memberi kita pertolongan yang
bobotnya istimewa, tak dinyana-nyana, lebih dari yang kita harapkan sebelumnya
. Subhanallah
Tapi sumeleh iku abot, berserah itu berat. Tahapan ini tidak datang suatu merta. Bukan
pula suatu keahlian yang menetap. Suatu ketika bisa saja kita sampai pada
tahap sumeleh. Akan tetapi itu tidak menjadikan kita mampu langsung sumeleh saat
menghadapi peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman hidup berikutnya .
Ah, ini hanyalah grambyangan (celotehan) saya, selapis pemikiran di pagi hari, hasil
tanya jawab antara papan tuts dan layar monitor. Tulisan ini sekedar dokumentasi
pemikiran pribadi, tidak mewakili pemahaman orang Jawa terhadap sumeleh yang
sering salah kaprah diartikan sebagai menyerah. Kalau Anda tiba di laman ini karena
ingin mengetahui tentang sumeleh, semeleh, atau konsep berserah ala orang Jawa,
yuk mari cari referensi lain yang lebih kredibel.
SABAR SAREH SUMEH DAN SEMELEH
Istilah ini sudah sering saya dengar dari almarhum simbah saya,dari sejak kecil sebagai
cucu yang serumah saya termasuk cucu yang
paling tutug di momong simbah. Saat itu sebagai anak kecil saya belum paham benar
kalimat itu apa artinya, kenapa setiap kali simbah memberikan wejangan atau nasihat
kalimat itu selalu terdengar. Bahkan saya sangat hafal kalimat itu,
Pernah suatu sore ibu saya pulang kerja ibu bercerita kepada simbah tentang
pekerjaannya,dan kalimat sakti simbah itupun keluar lagi, saking penasarannya saya
bertanya sama ibu itu artinya apa,kok sabar,
sareh, sumeh dan semeleh itu selalu diucapkan simbah.dan ibu pun menjelaskan
bahwa kurang
lebih artinya Sabar, sareh itu tenang dan sumeh itu artinya tersenyum dan semeleh itu
artinya Pasrah dan apabila kata itu dirangkai maka kurang lebih artinya dalam

menghadapi segala sesuatu kita harus tetap sabar, tenang tetap tersenyum dan pasrah
serta Percaya kepada penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita.
Peristiwa itu kembali terlintas di dalam pikiran saya, dan sekarang saya tau bahwa apa
yang diucapkan simbah saat itu sangat pas bila diterapkan dalam hidup saya.kadang
saya kurang sabar dalam menghadapi masalah,menjadi cepat emosi dan pada
akhirnya semuanya justru berantakan.

Cintailah Sesama Muslim karena Allah SWT

Rasa cinta yang tulus terhadap orang lain bisa menyebabkan seseorang masuk surga

Terkait
Mata yang Menangis Karena Allah
Allah Menutup Diri dari Penguasa yang Abaikan Urusan Kaum Muslim
Cintailah, Jangan Saling Mendengki
Dibully Karena Larang Acara Syiah, Bima Arya: Saya Bertindak Karena Allah

Ketika Rasulullah Shalallahu alahai wa salam bersama para sahabat, seorang


lelaki asing melintas di hadapan mereka. Setelah ia berlalu, Rasullullah berkata
kepada para sahabatnya, Dialah ahli surga. Hal yang demikian beliau ulangi
sebanyak tiga kali ketika orang tersebut melintas di hadapan Rasulullah.
Melihat kenyataan tersebut, sahabat Abdullah bin Umar yang dikenal kritis
bertanya kepada Rasulullah Ya, Rasulullah, mengapa engkau katakan itu
kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalinya sebagai
sahabatmu? Sedangkan terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu
engkau tidak pernah mengatakan hal itu?

Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh bijak,Jika engkau


ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan tanyakan sendiri kepadanya.
Abdullah yang mendengar jawaban Rasulullah itu semakin penasaran untuk
mengetahui apa keistimewaan lelaki tersebut sehingga dia dikatakan sebagai
ahli surga.
Akhirnya Abdullah berkunjung ke rumah lelaki itu sambil memperhatikan amalan
yang dilakukan olehnya. Selama di sana, Abdullah tidak melihat ada yang
istimewa dalam ibadah orang tersebut. Akhirnya Abdullah bertanya
kepadanya,Sewaktu engkau melintas di hadapan kami, Rasulullah mengatakan
bahwa engkau seorang ahli surga. Apa yang menjadi rahasiamu sehingga
Rasulullah begitu memuliakanmu? Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab,
Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki
kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa aku sedekahkan, apa
yang aku miliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah
dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu
berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan
perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir
sekalipun.
Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa rasa cinta yang tulus
terhadap orang lain bisa menyebabkan seseorang masuk surga. Sebaliknya,
memelihara perasaan benci dan marah, bisa menyebabkan seseorang
terjerumus dalam jurang neraka sebagaimana yang ditunjukkan Setan saat
penciptaan Nabi Adam.
Dalam kisah tersebut kita tahu bahwa perasaan benci yang ditunjukkan Setan,
tidak hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga menimbulkan
penyakit batin yang sangat buruk sehingga menjauhkannya dari surga.
Orang yang menyimpan perasaan benci kepada orang lain biasanya memiliki
sikap mudah menyalahkan orang yang dibencinya.
Rasulullah adalah orang yang selalu menjaga rasa cinta kepada setiap orang,
terutama kepada para sahabat. Di zaman Nabi, pernah ada sekelompok orang
yang digerakkan oleh kaum munafik untuk mencela sahabat Rasul. Melihat hal
itu Rasulullah lalu bersabda, Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.
Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebanyak bukit uhud,

tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari
mereka, juga tidak akan sampai setengahnya. (HR.Bukhari)
Pokok Masalah
Sebenarnya pokok pangkal sebuah amal tergantung kepada lidah dan hati.
Diriwayatkan bahawa Lukman al-Hakim, pernah disuruh majikannya membeli
daging yang baik untuk menjamu para tamunya. Lukman membeli hati dan lidah.
Majikannya merasa marah dengan tindakan Lukman dan bertanya kepadanya
kenapa dia membeli hati dan lidah.
Tidakkah ini daging yang baik seperti tuan pesan. Hati merupakan sumber amal
perbuatan yang baik, sedang lidah dapat menjalin persaudaraan. Dari keduanya
orang dapat membangun kebaikan, jawab Lukman.
Pada satu hari majikannya kembali menyuruh Lukman membeli daging yang
busuk. Tujuan majikannya ialah untuk mengetahui jenis daging apa yang akan
dibeli oleh Lukman.
Ternyata, Lukman sekali lagi membeli hati dan lidah. Tindakan ini mengejutkan
majikannya dan bertanya kenapa dia berbuat demikian sedangkan yang disuruh
dibeli ialah daging yang busuk.
Benar tuan, ini daging terbusuk. Hati adalah daging yang paling baik dan
sekaligus juga paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa bongkak. Lidah
merupakan alat untuk melaknat, mencerca dan mencaci orang lain.
Lidah merupakan cermin hati seseorang. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak
akan berkata
kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati busuk, maka lidah akan mudah
mengucapkan kata-kata yang buruk.
Oleh karena itu dalam rangka memelihara persaudaraan Islam maka kita perlu
menjaga lidah untuk tidak mencaci dan memaki sesama Islam. Perbedaan
apapun yang terjadi, jangan sampai menodai persaudaraan Islam.
Allah menggambarkan orang yang menjaga dalamnya persaudaraan Islam
(ukhuwah Islamiah), menggunakan kata ikhwah, yang berarti saudara

kandung. Ini berbeda dengan ikhwan, yang artinya berteman, sebagaimana


digunakan Allah dalam surat Ali Imran ayat 103, untuk menggambarkan
bagaimana suku-suku Arab pada zaman jahiliah yang bermusuh-musuhan,
kemudian bersatu setelah memeluk Islam.
Jadi, setelah berada dalam satu agama, setiap Muslim adalah teman bagi yang
lain. Dan setelah keislaman meningkat, setiap Muslim diharuskan memandang
Muslim yang lain sebagai saudara kandungnya.
Ukhuwah Islamiah yang benar sebagaimana yang digambarkan Rasulullah
dalam sabdanya bahwa seorang Muslim harus dapat mencintai Muslim lain
sebagaimana ia mencintai diri sendiri; bahawa seorang Muslim harus dapat
merasakan kesusahan yang dialami Muslim lain. (HR. Bukhari)
Di dalam al-Quran, Allah tegas memrintahkan agar seorang Muslim tidak
memusuhi, mencaci, dan berburuk sangka kepada Muslim lain. Umat Islam
harus memegang teguh persaudaraan Islam sebagimana firman-Nya dalam
surah Ali Imran ayat 103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat
Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka
Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orangorang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Dari ayat ini bisa kita ambil hikmahnya bahwa sikap yang paling bijak ialah
berusaha memperbaiki diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah
yang selalu dilakukan Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Sedangkan hidup
Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin.
Kata Orang Bijak
hargai dan cintailah sesama manusia, serta
berlaku bijaklah dengan lingkungan sekitar, maka
itu kan menjadikan mu hidup...

Dalam beberapa ayat, Allah senantiasa menyebutkan MATA, TELINGA, dan AKAL.. Karena ketiga
elemen ini adalah alat kita untuk mengetahui dan mengenal kebenaran.. Kemudian HATI kitalah
yang membenarkan atau yang mendustakannya..
Ketahuilah mata kita, Allah ciptakan untuk dapat melihat kebenaran.. Telinga kita, Allah ciptakan
untuk dapat mendengarkan kebenaran.. Dan akal (hati) kita, Allah ciptakan untuk MEMIKIRKAN
dan MEMAHAMI penjelasan dari apa yang kita lihat maupun kita dengar
Apabila seseorang melihat kebenaran dengan matanya, mendengar kebenaran dengan telinganya,
kemudian ia TAHU dan PAHAM (dengan menggunakan akalnya) bahwa hal tersebut adalah
KEBENARAN.. Akan tetapi hatinya malah mendustakan..
Maka pantas kita sebut orang ini BUTA, TULI dan BODOH Sekalipun matanya, telinganya dan
akalnya berfungsi tapi karena hatinya tidak membenarkan apa yang dipersaksikan mata, dan
telinganya.. maka SIA-SIAlah fungsi ketiganya tersebut..
Oleh karenanya, orang yang demikian LEBIH JELEK daripada BINATANG TERNAK.. Benar,
binatang ternak punya mata, telinga, serta akal (yang sangat terbatas).. Maka tidak salah jika
perbuatan mereka tidak dikontrol..
Tapi manusia? mereka memiliki AKAL yang SEMPURNA untuk MEMIKIRKAN.. Mengapa tidak
mempergunakannya?!
Benarlah firmanNya:




atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka* itu mendengar atau memahami. Mereka itu
tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang
ternak itu).
(Al-Furqaan: 44)
*Yaitu orang kafir secara khusus dan orang sesat secara umum
Mengapa? Allah berfirman:


mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (kebenaran)



dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (kebenaran, dan tandatanda kekuasaan Allah lainnya),


dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (kebenaran).




Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai.
(Al-Araaf: 179)
Dalam ayat lain Allah berfirman:





dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi
pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu
mereka memperolok-olokkannya.
(Al-Ahqaf: 26)
Allah berfirman:





Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan
Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

(An-Nahl: 78)
Allah berfirman:





Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
(as Sajdah: 9)
Allah berfirman:





Katakanlah: Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan
dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.
(Al-Mulk: 23)
Maka gunakanlah matamu, telingamu, dan hatimu.. untuk melihat, mendengar dan
memikirkan/memahami kebenaran.. dan berdoalah kepada Allah, agar engkau dianugerahkan dan
diteguhkan hati yang saliim (yang selamat) yang tunduk dan patuh kepadaNya, Sang Pemilik
Kebenaran, Yang Maha Benar. Sehingga apa yang nampak jelas dari penglihatan dan
pendengaranmu, engkau dapat pikirkan dan pahami dengan baik, dan mengikutinya setelah engkau
memahaminya (bukannya malah berpaling).
Maka janganlah gunakan matamu dalam hal-hal yang baathil (seperti membaca buku yang penuh
dengan kesesatan, kekufuran dan kebidahan; atau mengumbar pandangan kepada non mahram,
apalagi sampai melihat aurat-aurat mereka!), sehingga menghalangimu untuk melihat kebenaran
yang sedemikian terangnya..
Jangan gunakan juga telingamu dalam hal-hal yang baathil (seperti mendengarkan ghibah,
mendengarkan musik[1. Simaklah:http://abuzuhriy.com/haramnya-musik-dan-nyanyian/],
mendengarkan ceramah-ceramah kesesatan, kekufuran, kesyirikan maupun kebidahan) sehingga
menghalangimu untuk mendengarkan kebenaran yang sedemikian jelasnya

Jangan gunakan akalmu dalam perkara yang baathil, yang mana justru akan menjadikannya tidak
berfungsi lagi.. Akan tetapi gunakanlah akalmu.. untuk memikirkan dan memahami kebenaran
janganlah engkau melebihkan akal dari kapasitasnya.. yaitu mendahulukannya daripada syariat,
sehingga engkau menjadikan akal sebagai hakim, sehingga engkau lebih merasa puas dengan
ketetapan akalmu, daripada ketetapan Allah dan RasulNya.. Sehingga engkau mengagungkan
akalmu, dan meninggalkan Allaah dan RasulNya.
Beruntunglah mereka yang mempergunakan telinga, mata dan hati mereka dengan baik..
Beruntunglah mereka..

Hakikat fungsi mata, telinga, akal dan hati bagi muslim


Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dalam beberapa ayat, Allah senantiasa menyebutkan MATA, TELINGA, dan AKAL.. Karena
ketiga elemen ini adalah alat kita untuk mengetahui dan mengenal kebenaran.. Kemudian HATI
kitalah yang membenarkan atau yang mendustakannya..
Ketahuilah mata kita, Allah ciptakan untuk dapat melihat kebenaran.. Telinga kita, Allah ciptakan
untuk dapat mendengarkan kebenaran.. Dan akal kita, Allah ciptakan untuk MEMIKIRKAN dan
MEMAHAMI penjelasan dari apa yang kita lihat maupun kita denga
Apabila seseorang melihat kebenaran dengan matanya, mendengar kebenaran dengan telinganya,
kemudian ia TAHU dan PAHAM (dengan menggunakan akalnya) bahwa hal tersebut adalah
KEBENARAN.. Akan tetapi hatinya malah mendustakan..
Maka pantas kita sebut orang ini BUTA, TULI dan BODOH Sekalipun matanya, telinganya
dan akalnya berfungsi tapi karena hatinya tidak membenarkan apa yang dipersaksikan mata,
telinga dan akalnya.. maka SIA-SIAlah fungsi dari ketiga hal tersebut..
Oleh karenanya, orang yang demikian LEBIH JELEK daripada BINATANG TERNAK.. Benar,
binatang ternak punya mata, telinga, akal (yang sangat terbatas).. Maka tidak salah jika
perbuatan mereka tidak dikontrol..
Tapi manusia? mereka memiliki AKAL yang SEMPURNA untuk MEMIKIRKAN.. HATI untuk
MEMUTUSKAN.. mengapa tidak mempergunakannya?!

Dalam ayat lain Allah berfirman:


"....dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi
pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu
selalu mereka memperolok-olokkannya."(Al-Ahqaf: 26)
MATA, TELINGA, dan AKAL telah MEMBENARAKAN maka ...
ILMUkalau sudah menyatu dengan jiwanya,dia sangat hati-hati terhadap bahaya lisan(termasuk
dalam menulis didunia maya). kalau Ilmu masuk kehatinya, apa dilihat dan didengar serta dibaca

(dirasakan) akan selalu dipikirkan dengan otak dan ditanyakan ke hati kecil sebagai kontrol..baik
atau buruk suatu perbuatan.
Makanya Belajarlah Jadi Orang Bijaksana,..Banyak Melihat Dengan Seksama Dan Banyak
Mendengar dari Pada Banyak Bicara Yang Menimbulkan Bahaya Lisan.Pergunakan Otak Tanya
ke Hati Kecil Kita Sebagai kontrol Dalam Setiap Tindakan(Perbutan) Serta Berkata dan Menulis.
Jadilah ORANG Bijaksana yang BERAKAL, yang seharusnya lebih banyak mempergunakan
kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah,
sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada
berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya,
sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan
yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur
diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataanperkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan
mampu mengontrol perkataan-perkataannya.
"LISAN seorang BIJAKSANA yang BERAKAL berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia
hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan
tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka
dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan
berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga
lidahnya berarti tidak paham terhadap ILMU yang dia PELAJARI"
"Orang BIJAKSANA yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena
betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam.
Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya
senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan".

Atsar dan Hikmah

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Ali ra. dia berkata, Jadilah kalian lebih perhatian dengan
terkabulnya amal daripada amal itu sendiri. Sebab satu amal tidak dianggap sedikit jika dia dibarengi
dengan takwa, lalu bagaimana dengan amal yang terkabulkan ?

Abu Nuaim meriwayatkan bahwa Ali ra. berkata, Kerabat dekat adalah yang didekatkan oleh rasa cinta
walaupun nasabnya jauh, sedangkan orang jauh adalah yang dijauhkan oleh permusuhan meskipun
dekat nasabnya. Tidak ada satupun yang lebih dekat daripada tangan kepada jasad. Sesungguhnya jika
tangan rusak, maka dia akan dipotong dan jika dia dipotong maka akan terputus .
Said bin Mansur meriwayatkan dalam sunannya, bahwa Ali ra. berkata, Ambilah lima nasehat dariku :

1.
2.
3.
4.

Janganlah sekali kali seseorang takut kecuali atas dosa dosanya.


Janganlah menggantungkan harapan kecuali kepada Tuhanya.
Janganlah orang yang tidak berilmu merasa malu untuk belajar.
Janganlah seseorang yang tidak mengerti sesuatu merasa malu untuk
mengatakan Allahu Alam saat dia tidak bisa menjawab satu masalah.
5. Sesungguhnya kedudukan sabar bagi iman laksana kedudukan kepala pada
jasad. Jika kesabaran hilang, maka akan lenyap pula keimanan, dan jika
kepala hilang maka tidak ada artinya jasad.

Rukun Islam Dan Penjelasannya


Rukun Islam adalah kewajiban pokok paling mendasar yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim
dan tidak boleh ditinggalkan. Rukun Islam ini meliputi 5 perkara yaitu :

Mengucap dua kalimat syahadat dan menerima bahwa Allah SWT itu esa dan
Nabi Muhammad SAW itu rasul Allah.
Menunaikan salat lima kali sehari.

Mengeluarkan zakat.

Berpuasa pada bulan Ramadan.

Menunaikan Haji bagi mereka yang mampu.

Berikut ini Penjelasan mengenai rukun Islam :

Syahadat
Rukun pertama : Bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah.

Syahadat merupakan pintu masuk menuju Islam; syarat sahnya iman adalah bersaksi dengan dua
kalimat syahadah.Syahadat (persaksian) ini memiliki makna mengucapkan dengan lisan, membenarkan
dengan hati lalu mengamalkannya melalui perbuatan. Adapun orang yang mengucapkannya secara lisan
namun tidak mengetahui maknanya dan tidak mengamalkannya maka tidak ada manfaat sama sekali
dengan
syahadatnya

Shalat
Shalat lima waktu sehari semalam merupakan perintah Allah Swt yang disyariatkan untuk menjadi sarana
interaksi antara Allah dengan seorang muslim dimana ia bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Juga untuk
menjadi sarana pencegah bagi seorang muslim dari perbuatan keji dan mungkar sehingga ia
memperoleh kedamaian jiwa dan badan yang dapat membahagiakannya di dunia dan akhirat.

Allah mensyariatkan dalam Shalat, suci badan, pakaian, dan tempat yang digunakan untuk Shalat. Maka
seorang muslim membersihkan diri dengan air suci dari semua barang najis seperti air kecil dan besar
dalam rangka menyucikan badannya dari najis lahir dan hatinya dari najis batin.
Penjelasan selengkapnya baca pada artikel pembahasan tentang shalat

Puasa Ramadhan

Rukun yang selanjutnya yaitu puasa pada bulan Ramadan yaitu bulan kesembilan dari bulan
hijriyah.Seorang muslim berniat puasa sebelum waktu shubuh (fajar) terang. Kemudian menahan dari
makan, minum dan jima (mendatangi istri) dan segala hawa nafsu hingga terbenamnya matahari selama
sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Penjelasan selengkapnya baca pada artikel pembahasan tentang Puasa

Zakat
Rukun islam yang selanjutnya adalah mengeluarkan zakat.Allah telah memerintahkan setiap muslim yang
memilki harta mencapai nisab untuk mengeluarkan zakat hartanya setiap tahun. Ia berikan kepada yang
berhak menerimanya yaitu 8 asnaf atau golongan sebagaimana yang diterangkan dalam Al Quran
Penjelasan selengkapnya baca pada artikel pembahasan tentang Zakat

Haji
Rukun Islam kelima adalah menunaikan ibadah haji ke baitullah Mekkah sekali seumur hidup bagi yang
mampu. Adapun lebihnya maka merupakan sunnah.Kewajiban sekali seumur hidup dan bagi yang
mampu ini merupakan kasih sayang Allah kepada umatnya yang tidak memiliki kemampun untuk
berhaji.Namun sekurang kurangnya bagi yang tidak mampu pun harus memiliki niat dan keinginan untuk
melaksanakannya.
Penjelasan selengkapnya baca pada artikel pembahasan tentang Haji

SAHADAT
Bacaan Syahadat, Arti, dan Maknanya
Syahadat (Bahasa Arab: ) asy-syahdah merupakan asas dan dasar dari
lima rukun Islam dan merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Syahadat
berasal dari kata bahasa Arab yaitu syahida ( ), yang artinya ia telah menyaksikan.
Kalimat itu dalam syariat Islam adalah sebuah pernyataan kepercayaan dalam keesaan
Tuhan (Allah) dan Muhammad sebagai RasulNya.

Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari 2 kalimat (Dalam
bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu
adalah
Kalimat pertama :

Ayhadu al l ilha illa l-Lh


artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah
Kalimat kedua :

wa ahadu anna muhammadar raslu l-Lh


artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.
Makna Syahadat
Pengakuan ketauhidan.
Seorang muslim hanya mempercayai Allah sebagai satu-satunya Allah dan tiada tuhan
yang lain selain Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi
atau menjadi tujuan seseorang. Dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang
muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan
jalan hidup.
Pengakuan kerasulan.
Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini
ajaran Allah seperti yang disampaikan melalui Muhammad, sebagai contoh meyakini
hadist-hadist
Muhammad.
Makna Laa Ilaaha Illallah
Kalimat Laa Ilaaha Illallah sebenarnya mengandung dua makna, yaitu makna

penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan bahwa
satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah
Berdasarkan ayat ini, maka mengilmui makna syahadat tauhid adalah wajib dan mesti
didahulukan daripada rukun-rukun Islam yang lain. Di samping itu Rasulullah pun
menyatakan: "Barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas maka
akan masuk ke dalam surga.
Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah memahami, mengamalkan dan
mendakwahkan kalimat tersebut sebelum yang lainnya, karena di dalamnya terkandung
tauhid yang karenanya Allah menciptakan alam.
Rasulullah (Muhammad) tinggal selama 13 tahun di Makkah mengajak orang-orang
dengan perkataan beliau "Katakan Laa Ilaaha Illallah" maka orang kafir pun menjawab
"Beribadah kepada sesembahan yang satu, kami tidak pernah mendengar hal yang
demikian dari orang tua kami". Orang Suku Quraisy di zaman nabi sangat paham
makna kalimat tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan
menyeru/berdoa kepada selain Allah.
Kandungan syahadat
Ikrar

Ikrar adalah pernyataan seorang muslim mengenai keyakinannya. Ketika seseorang


mengucapkan kalimat syahadah, maka ia memiliki kewajiban untuk menegakkan dan
memperjuangkan apa yang ia ikrarkan.

Sumpah
Syahadat juga bermakna sumpah. Seseorang yang bersumpah, berarti dia bersedia
menerima akibat dan risiko apapun dalam mengamalkan sumpahnya tersebut. Seorang
muslim harus siap dan bertanggung jawab dalam tegaknya Islam dan penegakan
ajaran Islam.
Janji
Syahadat juga bermakna janji. Artinya, setiap muslim adalah orang-orang yang

berjanji setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap s emua perintah
Allah, yang terkandung dalam Al Qur'an maupun hadist Rasul.

Syarat syarat Diterimanya Syahadat


Kalimah Syahadat merupakan sebuah pernyataan kepercayaan dalam keesaan Tuhan
(Allah) dan Muhammad sebagai RasulNya. Juga merupakan asas dan dasar dari lima
rukun Islam dan merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam.Mengucapkan
dua kalimat Syahadat juga merupakan pintu masuk atau syarat utama bagi non muslim
untuk masuk islam.

"I bear witness that there is no God except Allah and Muhammad is the messenger of
Allah "
Karena Syahadat merupakan syarat masuk islam,maka dalam pengucapannya tidak
bisa sembarangan atau asal asalan.ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar
Syahadat kita diterima. Apabila seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa
memenuhi syarat-syaratnya, bisa dikatakan syahadatnya tidak sah.Adapun Syarat
syaratnya adalah seperti dibawah ini!

Syarat Syahadat
Pengetahuan
Seseorang yang bersyahadat harus memiliki pengetahuan tentang syahadatnya. Orang
yang bersangkutan wajib memahami isi dari dua kalimat yang dinyatakan serta
bersedia menerima konsekuensi ucapannya.
Keyakinan
Seseorang yang bersyahadat mesti mengetahui dengan sempurna makna dari

syahadat tanpa sedikitpun ragu terhadap makna tersebut.


Keikhlasan
Ikhlas berarti bersihnya hati dari segala sesuatu yang bertentangan dengan makna
syahadat. Ucapan syahadat yang bercampur dengan riya atau kecenderungan tertentu
tidak akan diterima oleh Allah.
Kejujuran
Kejujuran adalah kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Pernyataan syahadat
harus dinyatakan dengan lisan, diyakini dalam hati, lalu diaktualisasikan dalam amal
perbuatan.
Kecintaan
Kecintaan berarti mencintai Allah dan Muhammad serta orang-orang yang beriman.
Cinta juga harus disertai dengan amarah yaitu kemarahan terhadap segala sesuatu
yang bertentangan dengan syahadat, atau dengan kata lain, semua ilmu dan amal yang
menyalahi sunnah Rasulullah.
Penerimaan
Penerimaan berarti penerimaan hati terhadap segala sesuatu yang datang dari Allah
dan Rasul-Nya. Dan hal ini harus membuahkan ketaatan dan ibadah kepada Allah,
dengan jalan meyakini bahwa tak ada yang dapat menunjuki dan menyelamatkannya
kecuali ajaran yang datang dari syariat Islam. Bagi seorang muslim tidak ada pilihan
lain kecuali Al Qur'an dan Sunnah Rasul.
Ketundukan
Ketundukan yaitu tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah dan Muhammad secara
lahiriyah. Seorang muslim yang bersyahadat harus mengamalkan semua perintah Allah
dan meninggalkan semua larangan Allah. Perbedaan antara penerimaan dengan
ketundukan adalah bahwa penerimaan dilakukan dengan hati, sedangkan ketundukan
dilakukan dengan fisik. Oleh karena itu, setiap orang yang bersyahadat tidak harus
disaksikan amirnya dan selalu siap melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupannya.
Makna syahadat bagi Muslimin
Bagi penganut agama Islam, kedua kalimat syahadat memiliki makna sebagai berikut

Pintu masuk menuju Islam; syarat sahnya iman adalah bersaksi dengan dua
kalimat syahadah

Intisari ajaran Islam; pokok dari ajaran Islam adalah kedua kalimat syahadat,
sebagaimana ajaran yang dibawa para Nabi dan rasul sebelumnya
Dasar iman; bangunan iman dan Islam berdiri di atas dua kalimat syahadah
Pembeda antara muslim dengan kafir; hal ini berkenaan dengan hak-hak
dan kewajiban-kewajiban syariat yang akan diterima atau ditanggung oleh seseorang
setelah dia mengucapkan dua kalimat syahadah
Jaminan masuk surga; Allah SWT memberi jaminan surga kepada orang
yang bersyahadatain,amiiin.

Pengertian Iman Dalam Agama Islam

Pengertian Iman Dalam Agama Islam - Iman (bahasa Arab: )secara etimologis
berarti 'percaya'. Perkataan iman ( )diambil dari kata kerja 'aamana' ( )-- yukminu'
( )yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'.

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syari,
iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan,
bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Para ulama
salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah
dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang". Ini adalah definisi
menurut Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Al Auzai, Ishaq bin Rahawaih,
madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya.

Dengan demikian definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan
amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah ada.
QS. Al Fath [48] : 4
Imam Syafii berkata, Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah
dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab
kemaksiatan. Imam Ahmad berkata, Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia
bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan
amal. Imam Bukhari mengatakan, Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang
ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih
bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.

Perkataan iman yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di


antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu
membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang
yang beriman." Iman itu ditujukan kepada Allah , kitab kitab dan Rasul. Iman itu ada dua
Iman Hak dan Iman Batil.

Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan
dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan
dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah
mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka
orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki
prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.

Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti
diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan
yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata: "Iman
kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan

mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman:


"Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan
mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
Jadi,dapat di simpukan,seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang
beriman) sempurna apabila memenuhi unsur unsur keimanan di atas. Apabila
seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan
dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, unsur unsur keimanan tersebut
merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Keimanan adalah hal yang paling mendasar yang harus dimiliki seseorang. Allah
memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah
yang artinya:
Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya
(Muhammad) dan kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepada RasulNya, serta
kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikatmalaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh
orang itu telah tersesat sangat jauh. (Q.S. An Nisa : 136)

Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan
mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan
kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya
adalah untuk kebaikan manusia.Maka pegang teguhlah keimanan yang sudah anda
miliki!!!

Pengertian Iman Kepada Alloh


Iman kepada Alloh merupakan Rukun Iman yang pertama dan paling utama.
Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal:
Mengimani adanya Allah. Mengimani rububiyah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta,
menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah. Mengimani uluhiyah Allah,
bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua
sembahan selain Allah Taala. Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma'ul

Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Nabi-Nya tetapkan untuk
Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna,
mempertanyakan, dan menyerupakanNya

Jadi Iman kepada Allah Ta'ala maksudnya meyakini dengan pasti tentang eksistensi
Allah, rububiyah, uluhiyah, nama-nama dan sifat-Nya.Serta menjauhi sikap
menghilangkan
makna,
memalingkan
makna,
mempertanyakan,
dan
menyerupakanNya.Penjelasanya adalah sebagai berikut:
Pertama: Mengimani akan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya).
Eksistensi (keberadaan) Allah Ta'ala ini dapat dibuktikan dengan dalil fitrah, akal,
apalagi dalil syar'inya yang banyak sekali.
Dalil Fitrah. Setiap manusia secara fitrah telah mengimani keberadaan penciptanya,
tanpa didahului proses berpikir atau belajar. Dan tidak berpaling dari kenyataan ini
kecuali orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda :



"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orang tuanyalah yang
menjadikan ia yahudi, nasrani atau majusi." (HR; Bukhari, no: 1358 dan Muslim, no:
2658).
Dalil Akal. Setiap manusia baik yang sudah ada maupun yang akan ada, pastilah ada
pencipta yang menciptakannya. Karena tidak mungkin sesuatu itu mengadakan dirinya
sendiri, dan tidak mungkin pula ia ada secara tiba-tiba (spontan). Mereka tidak
diciptakan tanpa ada asalnya, dan mereka tidak menciptakan dirinya sendiri. Dalilnya
adalah firman Allah Ta'ala :

"Apakah mereka ini diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan
(diri mereka sendiri)." (Q.S; Ath Thur : 35).

Yakni, mereka tidak diciptakan tanpa pencipta. Tidak pula mereka menciptakan diri
sendiri. Maka dari itu tertetapkan bahwa pencipta mereka adalah Allah.
Oleh karena itu pada saat Jubair bin Muth'im mendengar Nabi shallallahu alaihi wa
sallam membaca surat Ath-Thur hingga ayat 37, ia berkata (waktu itu ia masih dalam
keadaan kafir, "Seolah-olah hatiku terbang (meninggalkan jasad), dan itulah asal mula
menetapnya iman di hati ini. HR. Bukhari.
Kita ambilkan contoh untuk memperjelas persoalan ini.
Jika ada seseorang yang bercerita kepadamu mengenai istana yang megah, yang
dikelilingi oleh kebun-kebun indah dan mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Ruangannya dipenuhi oleh dipan dan permadani serta diperindah dengan segala warna
penyempurna. Lalu ia berkata, "Istana ini dan segala isinya adalah ada dengan
sendirinya, atau ada dengan spontan tanpa ada yang menciptakannya. Maka serta
merta anda mengingkarinya dan mendustakan ucapannya.
Jika demikian, bagaimana mungkin alam semesta yang luas, yang meliputi bumi, langit,
bintang-bintang dan ciptaan yang agung, sarat dengan keteraturan, ia ada dengan
sendirinya atau terjadi secara tiba-tiba tanpa ada pencipta-Nya?
Dalil akal ini dapat dipahami oleh orang Arab badui yang hidupnya di pedalaman, ia
ungkapkan dengan bahasanya yang sederhana saat ia ditanya, "Dengan apa engkau
mengenal Tuhanmu?."
Ia menjawab, "Adanya kotoran yang menandakan adanya unta, dengan bekas tapak
kaki yang menunjukan adanya kafilah yang telah mengadakan perjalanan, langit yang
menjulang tinggi, bumi yang terhampar luas, lautan yang berombak. Bukankah itu
semua menjadi bukti adanya Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat?.
Kedua; mengimani rububiyah Allah Ta'ala.
Maksudnya meyakini bahwa hanya Allah Ta'ala saja sebagai Rabb, tidak ada sekutu
bagi-Nya dan tidak ada yang membantu-Nya (tauhid rububiyah).
Rabb artinya: Pencipta, Raja, dan Pengatur (pemelihara). Tiada pencipta, raja dan
pengatur urusan makhluk selain Allah. Allah Ta'ala berfirman:

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Q.S; Al Araf : 54).
Juga firman-Nya,








(31)
"Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau
siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup
dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah".
Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?." (QS. Yunus: 31).
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. AsSajdah: 5).
"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan
menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang
ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan
orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa
walaupun setipis kulit ari." (QS. Fathir: 13).
Renungkanlah, terdapat dalam surat al Fatihah ayat yang ke-empat, "Maaliki yaumid
din" (Yang menguasai hari pembalasan), dan tertera dalam qira'at mutawatir (Maliki
yaumid din", kata "Malik" dibaca dengan pendek.
Apabila kita padukan antara "Maaliki dengan Maliki", keduanya mengandung makna
yang mengadakan. "Malik", lebih dalam maknanya daripada "Maalik" dalam kekuasaan
dan kerajaan-Nya. Karena raja (di dunia) terkadang hanya "label" saja tanpa ada
kekuasaan untuk berbuat yang dia kehendaki. Artinya dia tak memiliki kekuatan apapun
untuk mengatur urusan apapun. Maka pada saat itu ia menjadi raja, tetapi bukanlah raja
yang sesungguhnya. Maka jika Allah adalah "Maalik" dan "Malik", maka sempurnalah
Dia sebagai Penguasa, dan Pengatur urusan (makhluk-Nya).
Ketiga; mengimani uluhiyah Allah.
Maksudnya Dia adalah sesembahan yang haq, tiada sekutu bagi-Nya.
Ilah artinya; Dzat yang pantas disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan.
Allah Ta'ala berfirman :

"Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, dan tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkani Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Q.S; Al
Baqarah :163).
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran: 18).
Setiap tuhan yang disembah selain Allah, maka penyembahannya adalah bathil. Allah
berfirman,
(62)
"(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan)
Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang
batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al Hajj:
62).
Sesembahan selain Allah disebut dengan 'alihah' tidak memberikan hak kepadanya
untuk diibadahi. Allah berfirman terkait dengan "Latta" dan "Uzza" (yang disembah oleh
masyarakat Quraisy), "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak
kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk
(menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa
yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada
mereka dari Tuhan mereka." (QS. An Najm: 23).
Allah Ta'ala mengisahkan Nabi Yusuf alaihis salam yang sewaktu di penjara berkata
kepada temannya, "Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya
(menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah
tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu
hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah
selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. Yusuf: 40).
Tiada sesuatupun yang berhak untuk diesakan dan disembah selain Allah. Dan tak
satupun yang bersekutu dengan Allah dalam kepantasan mendapatkan hak untuk
diibadahi. Baik itu malaikat yang dekat dengan Allah, tidak pula Nabi yang diutus. Untuk
itu dakwah para Rasul dari yang pertama sampai yang terakhir, seluruhnya mengajak
umatnya untuk merealisasikan 'laa ilaaha illallah'.
Allah Ta'ala berfirman,

(25)
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiya': 25).



(36)

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orangorang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah
pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. An Nahl:
36).
Akan tetapi orang-orang musyrik enggan dan menolak ajakan dan dakwah ini, bahkan
mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Mereka menyembah sekutu-sekutu Allah
tersebut, mereka minta pertolongan dan bantuan kepadanya.
Keempat; Mengimani Nama-Nama dan Sifat Allah.
Maksudnya; Menetapkan nama-nama Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana
yang telah ditetapkan Allah untuk-Nya dalam kitab-Nya, atau melalui lisan Nabi-Nya
dalam hadits-haditsnya, dengan tanpa mengubah makna, meniadakan, menanyakan
bagaimana hakikatnya dan menyerupakannya. Allah Ta'ala berfirman :
\


"Hanya milik Allah asma'ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asma'ul husna itu." (QS; Al A'raf : 180).
Ini merupakan dalil yang menunjukan adanya nama-nama bagi Allah.
Sedangkan firman-Nya,


(27)

"Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan
(menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ar Rum: 27).

Ayat ini menunjukan sifat-sifat Allah Ta'ala yang Maha Sempurna. Hal yang demikian itu
karena "al matsalul a'la" adalah sifat yang sempurna.
Kedua ayat di atas, secara umum menunjukan nama-nama dan sifat-sifat Allah,
sedangkan secara rinci, tersebut dalam banyak ayat dan hadits Nabi shallallahu alaihi
wa sallam.
Nama-nama dan sifat Allah merupakan bagian dari salah satu pintu ilmu. Maksudnya,
bab nama-nama dan sifat Allah merupakan perkara yang paling banyak diperselisihkan
oleh umat Islam, di mana umat ini berbeda pendapat dalam masalah ini dengan
perbedaan yang cukup luas.
Dan sikap kita terhadap perbedaan ini adalah kembali kepada perintah Allah Ta'ala,
yakni merujuk kepada al Qur'an dan Sunnah, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An
Nisa': 59).
Berdasarkan ayat di atas, bahwa setiap perselisihan dan perbedaan pendapat kita
kembalikan kepada Allah (al Qur'an) dan kepada Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam, dengan berpedoman pada pemahaman salafus shalih, dari para sahabat
dan tabi'in terkait dengan ayat-ayat di atas (nama-nama dan sifat Allah). Karena mereka
adalah generasi umat ini yang paling mengetahui maksud kalam Allah dan sabda Nabi
mereka.
Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu
menggambarkan tentang para sahabat, "Jika kalian ingin mengikuti Sunnah, maka
ikutilah Sunnah orang yang telah wafat. Karena yang masih hidup belum aman dari
sapaan fitnah, mereka itulah para sahabat Muhammad, yang paling bersih hatinya,
dalam ilmunya, paling sedikit kelemahannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih
mereka untuk menegakkan agama-Nya, menyertai Nabi-Nya. Oleh karena itu, kenalilah
hak-hak mereka, berpegang teguhlah dengan petunjuk mereka. Karena mereka
senantiasa berada dalam petunjuk dan jalan yang lurus."
Barangsiapa yang menyelisihi manhaj salaf dalam masalah asma dan sifat Allah, maka
ia telah keliru dan tersesat jalannya serta telah mengikuti jalan yang tidak dilalui oleh
orang-orang mukmin dan ia berhak mendapatkan ancaman Allah Ta'ala:

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An Nisa: 115).
Dalam ayat yang lain, Allah mensyaratkan petunjuk-Nya bagi orag-orang yang beriman
seperti imannya para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. "Maka jika
mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka
telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada
dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka.
Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah: 137).
Siapa yang menentang dan menjauhi manhaj salaf, maka berarti ia telah menjauhi
hidayah Allah untuknya sebatas ia menjauhi manhaj salaf dalam bab nama-nama dan
sifat Allah ini.
Untuk itu, wajib bagi kita dalam bab asma' dan sifat Allah; menetapkan bagi Allah namanama dan sifat yang telah ditetapkan untuk Diri-Nya atau yang telah ditetapkan oleh
Rasul-Nya, dan memahami nash Kitab dan Sunnah (dalam masalah ini) secara
tekstual, mengimaninya seperti yang diimani oleh para sahabat Nabi, mereka adalah
umat yang terbaik dan paling memahami ilmunya.
Yang perlu kita waspadai adalah, ada empat larangan yang apabila kita terjatuh pada
salah satunya, maka tidak akan terwujud makna iman kepada nama-nama dan sifat
Allah. Yakni; merubah nakna, mengingkarinya, menyerupakan dengan sifat-sifat
makhluk-Nya dan menanyakan bagaimana hakikatnya.
1.

At Tahrif (merubah maknanya).

Maksudnya merubah makna nash dari al Qur'an dan Sunnah dari makna yang
sebenarnya (nama-nama dan sifat Allah) kepada makna lain, yang tidak Allah dan
Rasul-Nya kehendaki.
Misalnya, merubah makna "Tangan" dalam banyak nash, dan artinya dirubah menjadi
"nikmat" dan "kekuatan".
2.

At Ta'thil (meniadakan atau mengingkari).

Maksudnya meniadakan nama-nama dan sifat Allah seluruhnya atau mengingkari


sebagiannya.
Setiap orang yang menafikan nama-nama dan sifat Allah yang tersebut dalamal Qur'an
dan Sunnah, maka berarti ia tidak mengimani nama-nama dan sifat Allah secara benar.

3.

At Tamtsil (menyerupakan).

Maksudnya menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Seperti memaknai


tangan Allah seperti tangan makhluk-Nya. Atau Allah mendengar seperti cara
mendengarnya makhluk. Atau Allah bersemayam di atas Arsy seperti bersemayamnya
makhluk di atas kursi dan seterusnya.
Tidak diragukan lagi, bahwa menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya adalah
munkar dan bathil. Allah Ta'ala berfirman:
(11)

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat." (QS; Asy Syura : 11).
4.

At Takyif (menanyakan bagaiman hakikatnya).

Yakni menetapkan bagaimana sifat-sifat Allah dan hakikatnya, di mana seseorang


berusaha dengan hati dan lisannya menggambarkan seperti apa sifat Allah dan
hakikatnya.
Ini merupakan sesuatu yang bathil secara mutlak, di mana mustahil manusia
mengetahui hal tersebut, sedangkan Allah telah berfirman:
"Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS. Thaha: 110).
Barang siapa yang mampu menghindari empat larangan dalam masalah nama-nama
dan sifat Allah, maka ia telah menyempurnakan imannya kepada Allah Ta'ala.

Hajinya Orang Jawa


Haji bagi orang Jawa merupakan puncak kesempurnaan iman seorang
Muslim. Karena itu, ibadah haji merupakan perjalanan spiritual paripurna
untuk seorang kawula.
Persiapan untuk mencapai kesempurnaan iman itu demikian sakral, sehingga
orang Jawa yang mau menunaikan ibadah haji mempersiapkan dirinya untuk
lebur, mati, dan nyawiji dalam sifat-sifat Allah. Haji dalam bahasa kultural
orang Jawa disebutkan sebagai kaji yang maknanya tekad wis nyawiji yaitu
suatu niat sungguh-sungguh untuk manunggaling kawula Gusti dengan
segenap rasa dan jiwa.
Dengan latar belakang inilah, kita memahami, kenapa orang Jawa yang mau
menunaikan ibadah haji butuh persiapan panjang, khususnya persiapan
mental, hati, dan jiwa. Orang yang akan menunaikan haji harus mempunyai
hati yang sumeleh, ikhlas, rendah hati,dermawan,dan penuh kasih. Persiapan
ini bagi orang Jawa yang benar-benar memahami makna hakiki haji tidak
gampang sampai-sampai Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) hingga
akhir hayatnya (1988) belum sempat menunaikan haji.
Kenapa demikian? Menurut cerita KH Wardan Dipodiningrat,penasihat
Keraton Yogya dan salah seorang Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah, HB IX
pernah menyatakan bahwa dirinya belum mampu dan pantas secara rohani
untuk menunaikan ibadah haji. HB IX merasa masih banyak kotoran jiwa dan

dosa yang harus disucikan sebelum benar-benar memutuskan untuk


menunaikan ibadah haji.
Sampai akhir hayatnya, beliau pun rupanya masih terus mempersiapkan hati
dan jiwanya untuk menunaikan ibadah haji. Betapa nilai spiritual haji dalam
pandangan seorang raja Jawa. Gambaran tersebut menunjukkan kerendahhatian HB IX dalam memandang dirinya di hadapan Allah, sehingga beliau
masih merasa malu untuk menunaikan ibadah haji.
Peneliti LP3ES Jakarta Dr Ignas Keleden dalam tulisannya tentang HB IX
mengungkapkan arak-arakan awan ikut mengiringi jasad Sultan ke
peristirahatan terakhir. Matahari yang panas langsung redup dan angin
berhembus semilir seakan ikut mengantarkan HB IX untuk menemui
Tuhannya.Dalam bahasa santri, apa yang dikatakan Ignas menggambarkan
bahwa HB IX meninggal dengan khusnul khatimah sesuai harapan semua
orang Islam.
Proses Spiritual
Kisah bagaimana kebesaran Allah dalam melihat niat suci ibadah haji,
misalnya, pernah diungkapkan seorang ulama bernama Abdullah bin Mubarok
di Arab Saudi. Saat itu Abdullah sedang melaksanakan ibadah haji.Entah
bagaimana, sang ulama tiba-tiba tertidur di lantai Masjidilharam, Mekkah dan
bermimpi melihat dua orang malaikat sedang berdialog. Salah satu malaikat
bertanya kepada temannya, berapa orang yang ibadah hajinya diterima
Allah?
Sang Malaikat yang ditanya menjawab, hanya satu orang, namanya Muwaffaq
dari Damsyik (Damaskus). Abdullah kaget! Setelah ibadah hajinya selesai, dia
mencari Muwaffaq,orang yang hajinya diterima Allah tersebut. Setelah
bertemu, sang ulama makin kaget lagi karena Muwaffaq ternyata adalah
orang miskin dan tidak pernah sampai ke Mekkah.Dengan penasaran,

Abdullah bertanya, Kenapa malaikat menyebutkan hanya Anda yang ibadah


hajinya mabrur?
Muwaffaq pun bercerita bahwa dia memang pernah berniat menunaikan
ibadah haji ke Mekkah. Tapi bekalnya habis di perjalanan karena melihat
banyak sekali orang miskin dan dia membagikan bekalnya kepada mereka
sampai habis. Kisah-kisah di atasMuwaffaq dan HB IXmenggambarkan
bahwa ibadah haji sebetulnya lebih merupakan suatu proses perjalanan
spiritual ketimbang fisikal.
Itulah sebabnya, orang Jawa akan mempersiapkan hati dan rohaninya
sebelum menunaikan ibadah haji agar mereka mendapat pengalaman
spiritual. Makin banyak pengalaman spiritual yang dialaminya selama
menunaikan ibadah haji, makin besar pula harapan orang Jawa untuk menjadi
muslim yang baik. Pinjam tesis MC Ricklefs dalam Mystic Synthesis in Java,
ibadah haji merupakan salah satu tahapan akhir proses transformasi
keislaman orang Jawa.
Dengan menunaikan ibadah haji,atribut kultural orang Jawa yang sebelumnya
berbau Hinduism dan politeisme berubah menjadi monoteisme dan Islam.
Melalui haji inilah, orang Jawa akhirnya melihat diri mereka secara alamiah
memiliki identitas pokok yang didefinisikan Islam (Azra,2009). Untuk
menggambar kan bagaimana kuatnya proses Islamisasi orang Jawa melalui
ibadah haji ini, misalnya, bisa kita lihat dalam perjalanan hidup Pak Harto.
Peneliti sosiologi Islam dari Barat yang terjebak kategorisasinya Geertz dalam
melihat Islam di Jawa (abangan, priyayi, dan santri) nyaris tidak bisa
memahami perjalanan spiritual Pak Harto orang yang disebut Allan A
Samson sebagai an abangan military generalyang sangat berpengaruh
dalam kehidupan bangsa Indonesia (Army and Islam in Indonesia,1972).
Bagaimana mungkin seorang presiden yang lahir dari kultur Jawa abangan, di
masa tuanya membangun 999 masjid di seluruh Indonesia melalui yayasan

Amal Bhakti Pancasila yang digagasnya?


Kenapa itu terjadi? Jawabnya karena orang Jawa dalam proses transformasi
budayanyasejak zaman pra- Islam,Hindu,dan Buddhakini telah sampai
pada penemuan identitas dirinya, yaitu Islam. Meski demikian, orang Jawa
tidak meninggalkan sejarah dan budaya masa lalunya yang dianggapnya
sebagai warisan nenek moyang yang tetap harus dihormati secara kultural.
Dari gambaran inilah,kenapa ibadah haji bagi orang Jawa mempunyai makna
yang sangat penting.
Tidak seperti orang kaya di kota metropolitan di mana ibadah haji dilakukan
dengan sangat mudah melalui ONH Plus dengan penekanan mempunyai
cukup uang, bagi orang Jawa ibadah haji butuh persiapan mental, hati, dan
jiwa. Ibadah haji adalah manifestasi dari kaji yaitu tekad wis nyawiji (tekadnya
sudah menjadi satu)yaitu usaha tanpa lelah secara fisikal dan spiritual demi
membersihkan hati dan menyucikan rohani untuk menuju ke haribaan Allah
(manunggaling kawula Gusti).

Indera Manusia Sebenarnya Ada 9

Selama ini secara umum kita mengetahui bahwa di tubuh kita terdapat 5 Indera atau yang disebut Panca
Indera. Mereka adalah penglihatan, penciuman, perasaan, pendengaran dan peraba. Tapi ada yang
mengatakan bahwa Indera di manusia itu ada 9. Apa sajakah itu? Simak ulasannya berikut.

1. Penglihatan

Penglihatan adalah kemampuan otak dan mata untuk mendeteksi gelombang


elektromagnetik dalam rentang yang terlihat (cahaya) dan proses itu di sebut
"penglihatan"

2. Pendengaran

Pendengaran adalah kemampuan dalam merasakan suara. Dan suara menyebarkan getarannya melalui
media seperti angin. Dan proses ini di sebut "pendengaran"

3. Penciuman

Penciuman adalah kemampuan mencium sesuatu melewati hidung kita. Dan proses ini di sebut
"Penciuman"

4. Rasa

Rasa adalah kemampuan mengetahui rasa yang terjadi pada lidah kita, dan ada 4 rasa yang ada di lidah
kita manis, garam, asam, dan pahit. Dan proses ini di sebut rasa

5. Sentuhan

Sentuhan adalah kemampuan mengetahui sentuhan yang biasanya ada di kulit kita, namun tidak hanya di
kulit. Dan proses ini di sebut "Sentuhan"

6. Equilibrioception, atau rasa seimbang

Seimbang adalah pengertian yang memungkinkan suatu organisme untuk merasakan gerakan tubuh,
arah, dan kecepatan, dan untuk mencapai dan memelihara keseimbangan dan keseimbangan postural.

7. Nociception, atau rasa sakit

Rasa sakit adalah kemampuan merasakan sakit di sekujur tubuh kita. Rasa sakit di bagi 3 yaitu cutaneous
(kulit), somatic (sendi dan tulang), visceral (organ tubuh)

8. Proprioception, atau Kesadaran Tubuh

Kesadaran tubuh tidak datang dari organ tertentu, tetapi dari sistem saraf secara keseluruhan. Input
berasal dari reseptor sensoris sentuhan yang berbeda dari reseptor - saraf dari dalam tubuh daripada di
permukaan. Kemampuan Kesadaran tubuh dapat dilatih, seperti dapat setiap aktivitas motorik. contoh,
Tanpa kesadaran tubuh, supir tidak akan mampu untuk menjaga mata mereka di jalan saat mengemudi,
karena mereka perlu memperhatikan posisi tangan dan kaki mereka saat bekerja pedal dan kemudi.

9. Thermoception, atau Temperatur

Thermoception adalah rasa panas dan tidak adanya panas (dingin) dengan kulit dan bagian lainnya.

Psikologi dalam Pandangan Islam


July 16, 2014 hamkapsikologi

Semerbak diskursus islamisasi sains menebar pesona dengan


mencitrakan diri sebagai ilmuwan Islam yang benar. Dengan argumen
historis menampilkan superioritas yang pernah diraih. Pesonanya pun
seakan membangkitkan gairah para intelaktual (yang beragama) Islam
untuk membangun kembali puing-puing reruntuhan. Tidak
ketinggalan para muslim yang bergelut di bidang psikologi, juga turut
meramaikan pengembangan ilmu pengetahuan dengan menggagas
Psikologi Islam.
Namun seperti halnya gagasan islamisasi pengetahuan yang
mengandung kontroversi, Psikologi Islam juga menebar aroma
perdebatan antara yang pro dan kontra. Yang pro Psikologi Islam
berpendapat bahwa dalam khasanah Islam pada dasarnya tidak
sedikit yang membincangkan manusia sebagai objek material dari
psikologi itu sendiri. Untuk itulah dengan gagasan Psikologi Islam
mereka ingin menegaskan bahwa pandagan Islam lebih baik daripada
konsepsi yang ada dalam hamparan Psikologi modern (barat)
Sedangkan yang menolak gagasan tentang Psikologi Islam
berargumentasi hampir sma dengan penolakan terhadap islamisasi
ilmu pengetahuan. Bahwa pada dasarnya konsepsi psikologi yang
sudah ada tidak perlu diislamkan karena terlalu naf jika teks
keagamaan yang ada dalam Islam hanya dijadikan legitimasi pada
konsepsi psikologi yang sudah ada akan berujung pada labelisasi.
Terlepas dai pro dan kontra munculnya psikologi Islam tersebut,
penulis ingin mencoba menelaah ulang gagasan Psikologi Islam yang

sampai saat ini pun diantara para pendukungnya sendiri masih


memperdebatkan apakah menggunakan istilah Psikologi Islam,
Psikologi Islami atau Psikologi Muslim. Walaupun sebenarnya citacita yang ingin dicapai sama, yakni menjadikan Psikologi selaras
dengan nilai-nilai Islam. Dari perdebatan tersebut bisa dilihat secara
sederhana tentang gagasan psikologi Islam kosong tanpa landasan
epistemologi. Padahal dalam rentangan sejarah ilmu pengetahuan
selalu ditopang oleh rancang bangun epistemologi.
Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak
pendekatan dalam memahami jiwa manusia.
Pertama, pendekatan Qurani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami
dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Quran dan hadis-hadis
Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal
manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah,
takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah
frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang
berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup
merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa
karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah
bis-su), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang
damai (al-mutmainnah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh
semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh,
misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia
yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh
orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun
jasadnya hancur.
Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas
menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai

berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karyakarya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog
Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato
dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas
aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci.
Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat
jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalahrisalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan
jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan
ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan
teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal
(hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).
Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak
dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab
Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb arRuhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut
mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa,
manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya
bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka
menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain,
seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya,
Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah
seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan
mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan
melalui Akal Suci (al-aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang
dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih
dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu
ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan
Avicennas Psychology, hlm 36-7).

Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa


manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf.
Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat
teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan
eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab
an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan
kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur.
Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana
tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa
yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu
diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (nutrisi hati).
Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang
menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan
metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua
jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat
memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan
kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa
seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau
jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya Ulumiddin. (Lihat juga:
Amber Haque, Psychology from Islamic Perspective: Contributions of
Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim
Psychologists, Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 35777).
Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi
Islam dan menjual mutiara-mutiaranya brilian masih terkendala
oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah
intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi
Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain,
penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat

mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat


kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih
mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau
belajar dari para ahli psikologi Islam.

Hakekat Kejadian Manusia


Menurut bahasa artinya kebenaran atau sesuatu yang sebenarbenarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu
adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Karena
itu dapat dikatakan hakikat syariat adalah inti dan jiwa dari suatu
syariat itu sendiri. Dikalangan tasauf orang mencari hakikat diri
manusia yang sebenarnya karena itu muncul kata-kata diri mencari
sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat
jasad, hati, roh, dan rahasia. Manusia merupakan makhluk yang
paling mulia di sisi Allah SWT. Manusia memiliki keunikan yang
menyebabkannya berbeda dengan makhluk lain. Manusia memiliki
jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap dengan panca
indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada manusia
terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya.
Pengertian Manusia
Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa
manusia berasal dari kata manu (Sansekerta), mens (Latin), yang
berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai
makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep
atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok
(genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan
sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang

dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Manusia adalah makhluk


paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt.
Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi
fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran
menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan
sangat bergantung metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis
yang mendasari.
Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo
volens (makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah
makhluk yang memiliki prilaku interaksi antara komponen biologis
(id), psikologis (ego), dan social (superego). Di dalam diri manusia
tedapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).
Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo
mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap
introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia
berdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara
tentang alam bawa sadar yang tidak nampak). Behavior yang
menganalisis prilaku yang Nampak saja. Menurut aliran ini segala
tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran
terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens
(manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi
sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya,
makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam
pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena
tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir ,

memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta


kehidupan manusia.
Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda
dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda
yaitu kata basyar, insan dan al-nas.Kata basyar dalam al-quran
disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi :
innama anaa basyarun mitlukum
sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu.
Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti
asalnya dari tanah liat, atau lempung kering seperti ayah al Hijr ayat
33 :




Berkata Iblis: Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang
Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal)
dari lumpur hitam yang diberi bentuk
Selain itu dalam surah al-ruum : 20 Allah berfirman

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang
berkembang biak.
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya
(al-alaq : 5), yaitu

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.


Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual
manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul
amanah seperti dalam surah al-ahzab : 72.






Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit,
bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul
amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat
zalim dan amat bodoh
Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak
maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27


Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini
setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.

Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social


atau secara kolektif.
Dengan demikian al-quran memandang manusia sebagai makhluk
biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan
sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang
lain dan atau makhluk lain.

Pengertian manusia menurut para ahli

NICOLAUS D. & A. SUDIARJA


Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah
jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani
merupakan satu barang

ABINENO J. I
Manusia adalah tubuh yang berjiwa dan bukan jiwa abadi yang
berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana
UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa,
pikiran, dan prana ataubadan fisik

I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya,
yaitu cipta, rasa dan karsa

OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY


Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk
yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi
(badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi
faktor keturunan dan lingkungan.

ERBE SENTANU

Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa


dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling
sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain

PAULA J. C & JANET W. K


Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi,
mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara
kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul
multidimensi dengan berbagai kemungkinanan.
Pengertian manusia menurut agama islam
Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara
lain al-insaan, al-naas, al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Alinsaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk yang sering
lupa. Al-naas berarti manusia (jama). Al-abd berarti manusia sebagai
hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari
keturunan nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia
adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi
serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di
dunia dan akhirat.
Sebenarnya maniusia itu terdiri dari 3 unsur yaitu:

1.
2.

3.

Jasmani, Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah.


Ruh, Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk
menghidupkan jasmani saja.
Jiwa (an nafsun/rasa dan perasaan.

Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang


diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki
manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan
potensi rohania.
Ibnu sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa
manusia adalah makhluk social dan sekaligus makhluk ekonomi.
Manusia adalah makhluk social untuk menyempurnakan jiwa manusia
demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup dengan baik
tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru bisa mencapai
kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul
bersama manusia.
Menurut Dr. Marzuki, M.Ag, al-Quran tidak membicarakan proses
kejadian manusia secara detail, sebagaimana yang dijelaskan oleh
ilmu biologi atau ilmu kedokteran. Namun demikian, al-Quran
memberikan isyarat mengenai asal kejadian manusia yang tidak
bertentangan dengan ilmu pengetahuan, khususnya biologi.
Allah menceritakan dalam al-Quran tentang kejadian manusia, antara
lain pada surat berikut ini. Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan O Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. QS. al-Alaq [96] 1-2
Juga dalam surat al-Muminun : 12-14, Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah o
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim) o 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami

jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik.
Menurut Alfat (1997: 17-19), manusia terdiri dari dua unsur, yaitu
jasmani dan rohani. Jasmani adalah unsur yang dapat dilihat dan
disentuh oleh panca indera. Jasmani merupakan bagian manusia yang
melakukan gerakan-gerakan fisik, seperti bernafas, makan, minum,
dan sebagainya. Sedangkan, rohani merupakan unsur yang tak dapat
dilihat dan disentuh oleh kelima indera manusia, yang dapat
mendorong manusia untuk melakukan aktifitas berfikir. Dari aktifitas
berfikir inilah manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk,
yang benar dan mana yang salah. Bahkan untuk lebih sempurnanya,
manusia diberi bentuk tubuh yang bagus di antara makhluk-makhluk
lainnya. Sebagaimana dalam firman-Nya :

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang


sebaik-baiknya. (QS. at-Tiin [95]: 4).
Menurut pandangan Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah,
yaitu suci dari dosa. Menyitir sebuah hadits, tidaklah dilahirkan
seorang anak melainkan atas fitrah,maka orang tuanyalah yang
menjadikan anak itu beragama Yahudi atau Kristen, atau agama
Majusi (penyembah api) (HR. Muslim).
Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi
Dalam al-Quran, manusia menempati kedudukan yang istimewa
dalam alam semesta ini. Dia adalah khalifah atau pemimpin di muka
bumi ini, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 30,

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:


Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi.
Allah memberikan kepercayaan yang besar kepada manusia untuk
menjadi khalifah di bumi. Manusia diberi keleluasaan mengolah alam
ini untuk kemakmuran dan kesejahteraan penduduk di muka bumi itu
sendiri.

Tugas Pokok Manusia


Allah menciptakan manusia agar mengabdi kepada-Nya. Dalam surat
adz-Dzariyat : 56 disebutkan,

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya


mereka mengabdi kepada-Ku.
Mengutip pendapat Abul Majid al-Zandaniy (1991: 23) Pengabdian
kepada Allah harus ditempatkan di atas segalanya, karena pengabdian
kepada Allah merupakan jalan hidup yang benar. Kehidupan di dunia
bersifat sementara, sedangkan tujuan akhirnya adalah kehidupan
akhirat, yakni menghadap Illahi. Pengabdian kepada Allah, harus
disadari oleh manusia sebagai tugasnya yang pokok, agar manusia
memperoleh kebaikan hidup di akhirat kelak.

Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan


harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang
dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas
kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan
pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Allah
untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang
diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan
dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk
kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan
memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan
kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah
bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang
dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.
Kekuasaan manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh aturan-aturan
dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya,
yaitu hukum-hukum Allah baik yang tertulis dalam kitab suci (alQuran), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (alkaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili
adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta
mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia
diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya
di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35
(Faathir : 39):



Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi.


Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa
dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain
hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan
kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan
menambah kerugian mereka belaka.
Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai
hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu
kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi
dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim
sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka akan lahir
sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh
ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4)
yang artinya sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya.
Di dalam Al Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai fungsi,
peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib
membaca dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi,
peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia sehingga dapat
menjalani kehidupan dengan penuh makna.
3. EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA
Dibandingkan dengan makhlukm lainnya, manusia mempunyai
kelebihan . Kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk
lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak
dalam ruang yang bagaimanpun, baik di darat, di laut, maupun di
udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang

terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut,


namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa melampaui
manusia.
Di samping itu, manusia di beri akal dan hati sehingga dapat
memahami ilmu yang diturunkan allah. Allah menciptakan manusia
dalam keadaan sebaik-baiknya (at-tiin,95:4). Manusia tetap
bermartabat mulia, kalau mereka sebagai khalifah (makhluk
alternative) tetap hidup dengan ajaran allah (QS. Al-anam:165). Oleh
karena ilmu manusia di lebihkan dari makhluk lainnya.
A. Tujuan penciptaan manusia
Tujuan penciptaan manusia adalah menyembah kepada penciptanya
yaitu allah. Pengertian penyembahan kepada allah tidak bisa di
artikan secara sempit, dengan hanya membayangkan aspek ritual yang
tercermin dalam shalat saja. Penyembahan berarti ketundukan
manusia dalam hokum allah dalam menjalankan kehidupan di muka
bumi, baik yamg menyangkut hubungan manusia dengan tuhan
maupun manusia dengan manusia.
Oleh kerena penyembahan harus dilkukan secara suka rela, karena
allah tidak membutuhkan sedikitpun pada manusia karena termasuk
ritual-ritual penyembahannya.Penyembahan yang sempurna dari
seorang manusia adalah akan menjadikan dirinya sebagai khalifah
Allah di muka bumi dalam mengelolah alam semesta. Keseimbangan
pada kehidupan manusia dapat terjaga dengan hukum-hukum
kemanusiaan yang telah allah ciptakan.
B. Fungsi dan peran manusia

Manusia sebagai salah satu makhluk hidup di Bumi ini mempunyai


berbagai fungsi, peran dan tanggung jawab, dan Islam sebagai agama
dengan jumlah pemeluknya terbesar dibanding agama-agama yang
lain, sudah tentu mempunyai pandangan tersendiri akan fungsi, peran
dan tanggung jawab manusia di Bumi.
Peran Manusia Menurut Islam
Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36,



Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan
memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:
Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.



Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
mamang benar orang-orang yang benar!

Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana


Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka namanama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka
nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Ku-katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan
bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis;
ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang
yang kafir.

Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu
surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini,
yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.




Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan
dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: Turunlah
kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu
ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu
yang ditentukan.

Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang


telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah :
1.

Belajar surat An naml : 15-16




Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan


Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang
melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: Hai Manusia,
kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi
segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia
yang nyata.
Belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah
mempelajari ilmu Allah yaitu Al Quran.

1.

Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)




Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu
berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
mamang benar orang-orang yang benar!

Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka namanama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka
nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Ku-katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan
bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis;
ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang
yang kafir.

Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu
surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini,
yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan


dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: Turunlah
kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu
ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu
yang ditentukan.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka
Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang.

Kami berfirman: Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian
jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang
mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka,
dan tidak (pula) mereka bersedih hati.


Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami,
mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
3.

Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ) ; Ilmu yang telah


diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain
melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar
membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.
Tanggung Jawab Manusia Menurut Islam
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan
harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang

dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas


kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan
pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Allah
untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang
diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan
dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk
kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan
memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan
kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah
bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang
dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.
Kekuasaan manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh aturan-aturan
dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya,
yaitu hukum-hukum Allah baik yang tertulis dalam kitab suci (alQuran), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (alkaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili
adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta
mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia
diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya
di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35
(Faathir : 39) yang artinya adalah :
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi.
Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang
kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi
Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak
lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai


hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu
kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi
dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim
sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka akan lahir
sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh
ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4)
yang artinya sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya.
Di dalam Al Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai fungsi,
peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib
membaca dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi,
peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia sehingga dapat
menjalani kehidupan dengan penuh makna.
Berpedoman pada al-quran surah al-baqarah ayat 30-36, status dasar
manusia yang mempolori oleh adam AS adalah sebagai khalifah. Jika
khalifah diartikan sebagai penerus ajaran allah maka peran yang
dilakukan adalah penerus pelaku ajaran Allah dan sekaligus menjadi
pelopor membudayakan ajaran allah.Peran yang hendaknya dilakukan
seorang khalifah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah di antanya
adalah:
Belajar
Mengajarkan ilmu
Membudayakan ilmu

Oleh karena itu semua yang dilakukan harus untuk kebersamaan


sesama ummat manusia dan hamba allah, serta pertanggung
jawabannya pada 3 instansi yaitu pada diri sendiri, pada masyarakat,
pada Allah SWT.
4. Tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah SWT
1.

Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah SWT.


Makna yang esensial dari kata abd (hamba) adalah ketaatan,
ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada
Allah SWT yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan dan
ketundukan pada kebenaran dan keadilan.Olehkarena itu, dalam alquran dinyatakan dengan quu anfusakun waahlikun naran (jagalah
dirimu dan keluargamu dengan iman dari api neraka).

1.

Tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah SWT


Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat dan harus
dipertanggungjawabkan dihadapannya. Tugas hidup yang di muka
bumi ini adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil
allah di muka bumi, serta pegolaan dan pemeliharaan alam.Khalifah
berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia
menjadi khalifah memegang mandat tuhan untuk mewujud
kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan manusia
bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya mengolah serta
mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan
hidpnya.
Oleh karena itu hidup manusia, hidup seorang muslim akan dipenuhi
dengan amaliah. Kerja keras yang tiada henti sebab bekerja sebab
bekerja sebagai seorang muslim adalah membentuk amal saleh.

Share this:

Cara Membuka Mata Batin / Indra ke 6 (enam) / mata ke3


|[ Cara Membuka Mata Batin / Indra ke 6 (enam) ]| (RTA)
Sebenarnya indera ke enam atau dalam bahasa gaulnya di sebut The Sixth Sense, adalah kemampuan
seseorang untuk menangkap sinyal-sinyal ghaib ataupun hal-hal yang belum terjadi. Sinyal-sinyal ini
dapat berupa apa saja, bisa berupa wangsit,bisikan ghaib,penglihatan, atau bahkan pertanda melalui
mimpi.
Indera ke 6 sering di identikkan dengan kemampuan untuk melihat makhluk halus, padahal sebenarnya
fungsi dari indra ke 6 sendiri jauh melebihi hanya sekedar melihat makhluk halus. Karena kemampuan
melihat makhluk halus hanya merupakan bagian / percabangan dari kemampuan indra ke 6 itu sendiri.
Seperti intuisi, namun jauh lebih tajam. Apabila intuisi merupakan suatu hasil pengalaman, indera ke 6
tidak mengenal adanya pengalaman.

Indera ke 6, sejatinya adalah kemampuan terpendam dari manusia. Karena pada hakekatnya kita dapat
mendayagunakan kemampuan indra ke 6 ini bila saja kita semua mengetahui caranya.
Terlepas dari itu semua, indera ke 6 sangat bisa sekali untuk di kembangkan dan di miliki oleh siapapun.
Karena kini telah begitu banyak metode yang di kembangkan agar seseorang dapat menguasai indra ke 6
itu sendiri. Indra ke 6 dapat muncul / bangkit bila seseorang senantiasa mampu mengolah
pikiran,jiwa,raga,rasa dan juga karsanya. Hal ini dapat di tempuh dengan cara meditasi / bertapa / tafakur.
Kesemua cara itu bisa di pelajari, yang di butuhkan hanyalah ketekunan dan kemauan dan tentu saja
kesungguhan hati dalam menjalankannya dengan niat Lillahi taala.
Dengan cara-cara tersebut, akan terjadi suatu loncatan fungsi indera, yaitu dari panca indera ke indera
ke 6. Loncatan indera ini bisa kita ibaratkan seperti orang tidur, karena tak seorangpun yang dengan
kesadaran penuh, bahwa dirinya telah tertidur. Batas kesadarannya sangat tipis sekali.
Perbedaan budaya antara Timur dan Barat membuat munculnya perbedaan persepsi tentang indra ke 6
ini. Budaya barat yang lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat rasional berpendapat bahwa indera ke
6 ini lebih di kategorikan sebagai suatu kemampuan yang merupakan salah satu percabangan dari
kekuatan pikiran bawah sadar manusia yang belum banyak di gali.
Sedangkan budaya timur, budaya yang tidak asing lagi dengan hal-hal yang bersifat Irasional atau ghaib,
membuat indra ke 6 ini mendapatkan kedudukan istimewa pada diri seseorang. Merupakan suatu
karomah yang luar biasa yang hanya di miliki oleh orang-orang tertentu.
Bagi sedulur-sedulur
semua yang mungkin ingin mengaktifkan kemampuan indra ke 6 secara sempurna, berikut ini saya
paparkan beberapa tips pengaktifan indra ke 6.

Cara membuka Mata Batin / Indra ke 6 (enam)


Manusia pada umumnya tidak dapat melihat alam Gaib / Alam metafisik.karena mata mereka tidak terlalu
kuat,hal ini dapat di bantu dengan membuat mata batin orang tersebut yang letaknya kira kira 1 cm diatas
pertemuan kedua alis.
Cara Membangkitkan Indra ke 6 :
anda dapat menvisualisasikan bentuk mata batin tersebut yang letaknya di atas pertemuan kedua
alis.untuk orang yang tidak dapat melihat gaib,biasanya mata batinnya tertutup,mirif pintu lift yang terbuat
dari baja hitam.buatlah gerakan seolaholah sedang membuka pintu tersebut,setelah anda anggap
terbuka,anda visualisasikan sedang membuat pasak pada pintu tersebut sehingga pintu tersebut tidak
menutup kembali,setelah pintu itu terbuka selanjutnya akan terdapat selaput tipis yang mirif selaput pada
buah salak,visualisasikan anda sedang memotong selaput tersebut,lakukan berulan ulang minimal
5x.untuk orang yang mempunyai iman yang agak tipis,biasanya selaput tersebut cukup tebal. Setelah itu
arahkan jari telunjuk dan jari tengah anda dan visualisasikan bahwa sari kedua jari tersebut keluar sinar
putih.
Setelah itu lakukan hal yang sama untuk membuka mata batin yang berada di daerah dada anda,yang
terletak di pertemuan / lekukan tulang rusuk anda.

MEMBUKA MATA BATIN DENGAN SURAH AL IKHLAS

Mata batin adalah mata yang tak terlihat dan melekat pada
hati kita, sedangkan mata batin itu sendiri lebih diartikan sebagai
ketajaman dalam meyakini sebuah keberadaan suatu benda,
mahluk dan juga kondisi suatu perkara.
Jadi mata batin sangat berguna bagi mereka yang sering menjadi
Orang Tua bagi yang lain.

Banyak cara untuk mendapatkan dan juga membuka mata batin,


mulai dari berpuasa , tirakat denga berdzikir sampai amalan
amalan. Untuk kali ini Blog Mistik kana mencoba cara sederhana
dan mudah untuk membuka mata batin bagi orang awam atau

pemula, yaitu dengan

1. Persiapkan diri anda secara mental dan fisik dan mantapkan


dalam hati niat anda, hal ini penting agar yang kita lakukan bisa
tercapai dan berhasil sesuai keinginan.
2. Usahakan bangun tiap hari sebelum matahari tinggi , kira kira
jam 6 kurang sehingga bisa bersama sama melihat matahari
terbit dari ufuk timur.
3. Setiap Matahari akan terbit , bacalah amalan /membaca Surat
Ihklas sebanyak sesuai kemampuan anda dan usahakan janagn
membuat target jumlah, karena yang terpenting disini adalah rasa
ihklas dalam hati.
4. Sore hari sebelum terbit Ulangi amalan tadi no. 3 sampai
Matahari terbenam dan lakukan ini paling tidak setahun agar mata
batin anda benar benar tajam.
5. Jangan pernah bilang pada siapaun tentang amalan ini sebelum
mata batin anda terbuka.
Langkah selanjutnya adalahmenguji mata batin , sudah terbuka
atau tidak anda bisa menguji dengan berlatih di malam hari untuk
mendengar suara suara alam yang sangat lirih bnamun jikamata
batin anda terbuka ,akan terasa suara itu keras dan merdu,
selamat mencoba dan seperti biasa jika ada pertanyaan silahkan
komentar di blog ini

baca disini

maaf sebelumnya...saya hanyalah plagiat yang hoby ngecopas..tapi artikel yang satu
ini menarik tetapi tidak dapat dicopas jadi agan sendiri yang mengunjungi sumbernya.
trimakasih

http://www.wattpad.com/801121-beberapa-cara-untuk-membuka-mata-batin-cara

doa membuka mata batin


Membuka Mata Batin

Pada postingan kali ini saya akan berbagi informasi tentang Doa mustajab yang
bertujuan membuka batin.walaupun sebenarnya doa mustajab yang ini mempunyai
banyak nama antara lain;pandang suhut,urat seribu,penunduk alam,dll.
Tujuan utama mengamalkan doa mustajab ini adalah terbukanya mata batin sehingga
sampai pada tingkat yang di namakan suhudil kasyrah fil wahdwah,suhudil
wahdah fil kasyrahartinya kira kira memandang yang banyak dalam yang
satu,pandang yang satu didalam yang banyak.
Memang doa mustajab ini lebih mengarah kepada ilmu tasawuf karena memang doa
ini merupakan ilmu lanjutan dari pengenalan asma dan afal dan sifat Allah.cara
pengamalannya pun memakai metode tasawuf yaitu

Tahalli-Takhalli-Tajjalli atau Bersihkan-isi-Resapkan


karena itu bagi anda yang mengamalkan ilmu ini akan disertai dengan cara
pembersihan batin sebagai persiapan awal.
Membuka mata batin

Apa kelebihan doa mustajab ini ???


Sebagai amalan yang ber basis tasawuf maka tujuan utamanya adalah mendekatkan
diri kepada Allah.Namun bagi orang yang telah berhasil mengamalkan doa
mustajab ini juga di berikan anugerah sebagai hadiah atas perjuangannya
mengamalkan ilmu ini,kelebihan tersebut antara lain:
-Apabila anda menginginkan seorang wanita baik sudah bersuami atau pun masih
perawan asalkan masih mau bertemu pandang pasti akan anda dapatkan..saya
katakan pasti di sini bukan bermaksud mendahului takdir Allah ,saya hanya
menekankan bahwa ketajaman batin pemilik ilmu ini jauh di atas aji kata arjuna
ataupun isim nabi yusuf yang sama sama memakai pandangan mata sebagai medianya
-Kalau sedang marah maka tidak ada yang sanggup menatap mata anda,sehingga dia
sanggup menghadapi massa yang sedang anarkis.
-Pada tingkat tertinggi ilmu ini maka anda akan sanggup melihat suatu benda yang
terhalang benda lain.
-Sesama pemilik ilmu ini tidak akan berselisih paham walaupun sama sama tidak
mengetahui bahwa orang tersebut.
-Terlindung dari pengaruh ilmu hitam santet ,teluh maupun sihir bahkan kalau di
kalimantan ada sebuah ilmu hitam kelas tinggi yang namanya Parang Maya,dimana
seseorang mampu menerbangkan senjata tajam gaib yang kalau sudah tingkat tertinggi
mampu memenggal kepala manusia secara fisik.ilmu hitam jenis ini masih mampu di
tahan oleh orang yang berhasil mengamalkan doa ini.
Namun sayangnya doa mustajab ini hanya bisa di amalkan oleh laki laki karena
dalam pengamalannya anda tidak boleh putus shalat 5 waktu selama 40 hari
sedangkan wanita akan kedatangan tamu setiap bulannya.

Syarat utama Doa membuka mata batin.


Seperti halnya sebuah amalan yang bersumber pada ilmu tasauf maka syarat utamanya
adalah shalat. Dan lebih dari itu shalat tersebut harus tepat pada waktunya,jadi dalam
waktu 40 hari pengamalannya anda tidak boleh mengerjakan shalat dhuhur di waktu
ashar (qadhaan),juga tidak di perbolehkan mengqashar maupun men jama shalat.jadi
harus benar benar tepat di waktunya.
Doa ini akan semakin cepat menyatu pada orang orang yang sabar,hati tenang,dan
batin yang bersih..untuk itu dalam pengamalannya anda sangat di sarankan untuk
memperbanyak:
1.Membaca salawat,disamping untuk menambah kualitas batin ,juga sebagai tawasul
atau jembatan ilmu..minimal 100x sehabis shalat 5 waktu
2. Istigfar..karena semakin bersih batin anda maka doa ini akan semakin cepat
menyatu maka sangat di sarankan anda untuk membaca istigfar minimal 100x sehabis
shalat 5 waktu.
3.Tahlil atau kalimat tauhid Laa ilaha ilallah.. kalimat ini juga sangat membantu anda
untuk menyatukan doa ini dengan diri anda karena semakin tenang batin anda
semakin cepat doa ini meresap ke dalam diri anda.sebagaimana kita tahu bahwa ala
bi zikrillahi tathmainul qulub dan afdhalu dzikri falam annahu Laa illaha
alaallah,jadi anda gunakan kalimat tauhid ini untuk menambah kualitas ketenangan
batin anda.sangat di sarankan untuk membacanya 100x sehabis shalat 5 waktu.
Inti doa membuka mata batin ini lebih di titik beratkan pada lelaku yang berfungsi:
1.Mengenal diri (secara batin)
2.Mengenal Tuhan (secara batin)
Tingkatan
Tingkatan ilmu ini dapat di kategorikan dalam 3 tingkat kategori besar:
1.Di liputi ilmu
2.Di resapi ilmu
3.Ilmu Laduni

Untuk tingkatan Di liputi ilmu maka anda hanya mendapatkan hadiah,berupa


kelebihan kelebihan tertentu seperti yang saya sampaikan di atas,tingkatan inipun
masih terbagi atas beberapa tingkatan lagi.
Untuk tingkatan Diresapi ilmu maka anda di samping mendapatkan hadiah.maka
kualitas keimanan dan keyakinan anda menjadi lebih baik sehingga doa doa yang
menurut kita biasa biasa saja menjadi luar biasa.
Tingkatan Ilmu Laduni ,ini sudah mencapai tingkatan para wali dan sekedar
informasi untuk mencapai tingkatan ini maka amalan anda tidak bisa hanya dengan
mengamalkan ilmu ini. Diperlukan banyak amalan pendukung lain agar kebersihan
batin anda mampu menerima anugerah mulia ini.
Waktu pengamalan
Khusus untuk doa ini waktu pengerjaannya hanya ada 2-3 kali dalam setahun karena
berkaitan erat dengan perhitungan bulan dalam islam
Rintangan
Rintangan terbesar dari pengamalan doa ini adalah wanita,baik bagi anda yang
sudah beristri lebih lebih yang masih bujangan.sehingga anda akan melalaikan shalat
anda,satu waktu saja anda meninggalkan shalat anda ,maka anda harus memulainya
dari hitungan pertama lagi dan untuk itu anda harus menunggu waktu yang sesuai
dengan syarat pengerjaannya.

Mohon maaf kalau saya tidak menyertakan bacaan dari doa membuka mata batin ini.
Bagi anda yang akan mengamalkan doa membuka batin ini silakan klik Izajah di
pojok atas sebelah kanan atau email langsung ke fathul.ahadi@yahoo.com
Sekian dari saya ,semoga apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat bagi anda dan diri
saya.

Wasalam

CARA MENAJAMKAN MATA BATIN

Mata Batin atau dalam Istilah Tasawuf Al Bathinah merupakan Indera keenam yang
Allah berikan kepada setiap manusia, Mata Batin ibarat kaca yang dapat melihat
sesuatu (bercermin) atau ibarat pisau tumpul yang dapat diasah sampai tajam sehingga
dapat memotong sesuatu benda.
Setiap manusia mempunyai mata batin yang asal mulanya Allah ciptakan bersih tanpa
ada noda sedikitpun tetapi kemudian dinodai oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian

Ketika kita masih kecil mata batin kita masih bersih sehingga dapat melihat hal-hal
yang ghoib dan mudah menangkap Ilmu Pengetahuan dengan mudah tetapi setelah
kita besar mata batin kita sudah ternodai oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian
sehingga tidak dapat melihat lagi hal-hal yang ghoib (tertutup), tempat mata hati
adalah Qalbu ( hati nurani ) yang selalu berubah setiap saat sesuai dengan perbuatan
manusia sehari-hari jika berbuat jahat akan lupa kepada Allah maka Qalbu itu menjadi
kotor dan jika berbuat baik atau berzikir Qalbu itu akan bersih kembali.

Dalam Hadist Nabi disebutkan : "Hati manusia itu ibarat sehelai kain putih yang
apabila manusia itu berbuat dosa maka tercorenglah / ternodailah kain putih tersebut
dengan satu titik noda kemudian jika sering berbuat dosa lambat-laun sehelai kain
putih itu berubah menjadi kotor / hitam". Jika hati nurani sudah kotor maka terkunci
nuraninya akan sulit menerima petunjuk dari Allah.

Ada Empat Tahapan Untuk Menajamkan atau Membersihkan Mata Batin :

Pertama,Mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, benci, dan dari
sifat keduniawian.

Kedua,Membuang daya khayal yang mengganggu keyakinan hati kemudian


berpikir tentang hal-hal yang ghoib yang kita ketahui.

Ketiga,Mendawamkan ( Kontinue ) sholat dan berzikir pada malam hari


karena kesepian malam dapat menambah kekhusuk-an hati.

Keempat, Meningkatkan Iman dan Kecintaan kepada Allah yaitu :


mencintai Allah dari segala-galanya selalu Munajad ( mohon pertolongan Allah ), dan
Istikharoh ( meminta petunjuk dari Allah SWT )
LANGKAH-LANGKAH MEMPERKUAT CAHAYA BATHIN

Ada beberapa langkah yang memiliki pengaruh positif terhadap kecemerlangan


Cahaya Batin manusia, yaitu :
>

1. Zikir

>

2. Do'a

>

3. Shalawat Nabi

>

4. Makanan Halal dan Bersih

>

5. Berpantang Dosa Besar

>

6. Berhati Ikhlas dan Berpantang Tamak

>

7. Bersedekah ( Dermawan )

>

8. Mengurangi Makan dan Tidur

>

9. Zikir Kalimah Toyyibah

>

10. Mengenakan Wewangian

Beberapa hal tersebut diatas apabila diamalkan, Insya Allah seseorang akan memiliki
cahaya/kekuatan batin yang kuat sehingga apa yang terprogram dalam hati akan cepat
terlaksana.
1. Z i k i r.

Zikir memiliki pengaruh yang kuat terhadap kecemerlangan cahaya batin. Hati yang
selalu terisi dengan Cahaya Zikir akan memancarkan Nur Allah dan keberadaannya
akan mempengaruhi perilaku yang serba positif.
Kebiasaan melakukan zikir dengan baik dan benar akan menimbulkan ketentraman
hati dan menumbuhkan sifat ikhlas. Hikmah zikir amatlah besar bagi orang yang ingin
membangkitkan kekuatan indera keenamnya ( batin ). Ditinjau dari sisi ibadah, zikir
merupakan latihan menuju Ikhlasnya hati dan Istiqomah dalam berkomunikasi dengan
Al Khaliq ( Sang Pencipta ).

Ditinjau dari sisi kekuatan batin, zikir merupakan metode membentuk dan
memperkuat Niat Hati, sehingga dengan izin Allah SWT, apa yang terdapat dalam
hati, itu pula yang akan dikabulkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, zikir memiliki
beberapa manfaat, diantaranya : Membentuk, Memperkuat Kehendak, Mempertajam
Batin, sekaligus bernilai Ibadah.
Dengan zikir berarti membersihkan dinding kaca batin, ibarat sebuah bohlam
lampu yang tertutup kaca yang kotor, meyebabkan cahaya-sinarnya tidak muncul
keluar secara maksimal. Melalui zikir, berarti membersihkan kotoran yang melekat
sehingga kaca menjadi bersih dan cahaya-sinarnya bisa memancar keluar.

Sampai disini mungkin timbul suatu pertanyaan. Apakah zikir memiliki pengaruh
terhadap kekuatan batin? untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya perlu diketahui
bahwa hal tersebut merupakan bagian dari karunia Allah SWT.

Dalam sebuah Hadist. Bahwa dengan selalu mengingat Allah menyebabkan Allah
membalas ingat kepada seorang hamba-Nya "Aku selalu menyertai dan
membantunya, selama ia mengingat Aku" karena itu, agar Allah senantiasa mengingat
Anda, perbanyaklah mengingat-Nya dengan selalu berzikir.

2. Do'a.

Seseorang yang ingin memiliki kekuatan Rohani pada dirinya, hendaklah


memperbanyak do'a kepada orang lain, disamping untuk diri sendiri dan keluarganya.
Caranya, cobalah anda mendo'akan seseorang yang anda kenal dimana orang itu
sedang mengalami kesulitan.

Menurut para Ahli Hikmah, seseorang yang mendo'akan sesamanya maka reaksi do'a
itu akan kembali kepadanya, contohnya : Anda mendo'akan si "A" yang sedang
dirundung duka agar Allah berkenan mengeluarkan dari kedukaan, maka yang
pertama kali merasakan reaksi do'a itu adalah orang yang mendo'akan, baru setelah itu
reaksi do'anya untuk orang yang dituju.

Karena itu semakin banyak anda berdo'a untuk kebaikan sahabat, guru anda, orang
yang dikenal / tidak dikenal, siapa pun juga, maka akan semakin banyak kebaikan
yang akan anda rasakan. Sebaliknya jika anda berdo'a untuk kejelekan si "A"
sementara si "A" tidak patut di do'akan jelek maka reaksi do'a tersebut akan kembali
kepada Anda. Contohnya : Anda berdo'a agar si "A" jatuh dari sepeda motor, maka
boleh jadi anda akan jatuh sendiri dari sepeda motor, setelah itu baru giliran si "A".

Tetapi dalam sebuah Hadist disebutkan, Seseorang yang berdo'a untuk kejelekan
sesamanya maka do'a itu melayang-layang di Angkasa, jika orang yang dido'akan
jelek itu orang zalim maka Allah SWT akan memperkenankan do'anya, sebaliknya
jika orang yang dituju itu orang baik-baik, maka do'a itu akan kembali menghantam
orang yang berdo'a.

Dari sini lalu timbul konsep "Saling Do'a men Do'akan" seperti guru memberikan atau
menghadiahkan do'a berupa surat Al Fatehah kepada muridnya. Sebaliknya murid pun
berdo'a untuk kebaikan gurunya. Lalu siapa yang patut disebut guru?. Guru adalah
orang yang memberikan informasi pengetahuan akan suatu ilmu. Dimana ilmu itu
selanjutnya kita amalkan dan bermanfaat.

Dalam Hadist yang lain disebutkan bahwa do'a yang mudah dikabulkan adalah do'a
yang diucapkan oleh seorang sahabat Secara Rahasia, Mengapa ?? ini disebabkan
karena do'a itu diucapkan secara Ikhlas. Keikhlasan memiliki nilai (kekuatan) yang
sangat tinggi.

Karena itu perbanyaklah berdo'a atau mendo'akan sesama yang sedang dirundung
duka. Insya Allah reaksi dari do'a itu akan anda rasakan terlebih dahulu, selanjutnya
baru orang yang anda do'akan, semoga .

Di samping itu, mendo'akan seseorang memiliki nilai dalam membentuk kepribadian


lebih peka terhadap persoalan orang lain. Jika hal ini dikaitkan dengan janji Allah ;
Bahwa barang siapa yang mengasihi yang dibumi maka yang dilangit akan
mengasihinya, berlakulah hukum timbal balik. Siapa menanam kebajikan ia akan
menuai kebajikan juga, sebaliknya jika ia menanam kezaliman maka ia pun akan
menuai kezalimannya juga.

3. Shalawat Nabi.

Mungkin sudah sering/ pernah mendengar nasihat dari orang-orang tua kita bahwa
kalau ada bahaya, kita disarankan salah satunya adalah untuk memperbanyak
Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Konon dengan mendo'akan keselamatan kepada Nabi, Allah SWT akan mengutus para
malaikat untuk ganti mendo'akan keselamatan kepada orang itu. Dalam beberapa
hadist Rasullullah SAW banyak kita temukan berbagai keterangan tentang Afdalnya
bershalawat. Diantaranya : "Setiap do'a itu Terdindingi, sampai dibacakan Shalawat
atas Nabi ". (HR. Ad- Dailami).

Pada hadist yang lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa'I dan Hakim, Rasullullah
SAW bersabda, "Barang siapa membaca Shalawat untuk Ku sekali, maka Allah
membalas Shalawat untuknya sepuluh kali dan menanggalkan sepuluh kesalahan
darinya dan meninggikannya sepuluh derajat ".

Yang berkaitan dengan urusan kekuatan batin, terdapat dalam Hadist yang
diriwayatkan Ibnu Najjar dan Jabir, "Barangsiapa ber-Shalawat kepada Ku dalam satu
hari seratus kali, maka Allah SWT memenuhi seratus hajatnya, tujuh puluh
daripadanya untuk kepentingan akhiratnya dan tiga puluh lagi untuk kepentingan
dunianya".
Berdasarkan hadist-hadist itu, benarlah adanya jika orang-orang tua kita menyuruh
anak-anaknya untuk memperbanyak shalawat kepada anak cucunya. Karena selain
merupakan penghormatan kepada junjungannya juga memiliki dampak yang amat
menguntungkan dunia dan akhirat.

4. Makanan Halal dan Bersih.

Seseorang yang ingin memiliki kekuatan batin bersumber dari tenaga Ilahiyah
harus memperhatikan makanannya. Baginya pantang kemasukan makanan yang
haram karena keberadaannya akan mengotori hati. Makanan yang haram akan
membentuk jiwa yang kasar dan tidak religius. Makanan yang haram disini bukan
hanya dilihat dari jenisnya saja ( Misal ; Babi, bangkai, dll. ), tapi juga dari cara dan
proses untuk mendapatkan makanan tersebut.

Efek dari makanan yang haram ini menyebabkan jiwa sulit untuk diajak menyatu
dengan hal-hal yang positif, seperti : dibuat zikir tidak khusuk, berdo'a tidak sungguhsungguh dan hati tidak tawakal kepada Allah.

Daging yang tumbuh dari makanan yang haram selalu menuntut untuk diberi
makanan yang haram pula. Seseorang yang sudah terjebak dalam lingkaran ini sulit
untuk melepaskannya, sehingga secara tidak langsung menjadikan hijab atau
penghalang seseorang memperoleh getaran/ cahaya Illahiyah.

Disebutkan, setitik makanan yang haram memberikan efek terhadap kejernihan hati.
Ibarat setitik tinta yang jatuh diatas kertas putih, semakin banyak unsur makanan
haram yang masuk, ibarat kertas putih yang banyak ternoda tinta. Sedikit demi sedikit
akan hitamlah semuanya.

Hati yang gelap menutupi hati nurani, menyebabkan tidak peka terhadap nilai-nilai
kehidupan yang mulia. Seperti kaca yang kotor oleh debu-debu, sulitlah cahaya
menembus nya. Tapi dengan zikir dan menjaga makanan haram, hati menjadi bersih
bercahaya.

Begitu halnya jika anda menghendaki dijaga para malaikat Allah, jangan kotori diri
anda dengan darah dan daging yang tumbuh dari makanan yang haram. Inilah
mengapa para ahli Ilmu batin sering menyarankan seorang calon siswa yang ingin
suatu ilmu agar memulai suatu pelajaran dengan laku batin seperti puasa.

Konon, puasa itu bertujuan menyucikan darah dan daging yang timbul dari makanan
yang haram. Dengan kondisi badan yang bersih, diharapkan ilmu batin lebih mampu
bersenyawa dengan jiwa dan raga. Bahkan ada suatu keyakinan bahwa puasa tidak
terkait dengan suatu ilmu. Fungsinya hanya untuk mempersiapkan wadah yang bersih
terhadap ilmu yang akan diwadahinya.

5. Berpantang Dosa Besar.


Berpantang melakukan dosa-dosa besar juga dalam upaya membersihkan rohani. Di
mana secara umum kemudian dikenal pantangan Ma-Lima yaitu : Main, Madon,
Minum, Maling dan Madat, yang artinya berjudi, zina, mabuk-mabukan, mencuri dan
penyalahgunaan narkotika.

Walau lima hal ini belum mencakup keseluruhan dosa besar tetapi kelimanya diyakini
sebagai biang dari segala dosa. Judi umpamanya, seseorang yang sudah terlilit judi
andaikan ia seorang pemimpin maka cendrung korup dan hanya kecil kejujuran yang
masih tersisa padanya.

Begitu halnya dengan perbuatan seperti zina, mabuk-mabukan, mencuri, dan


menyalahgunakan narkotika diyakini sebagai hal yang mampu menghancurkan
kehidupan manusia. Karena itu orang yang ingin memiliki kekuatan batin yang hakiki
hendaknya mampu menjaga diri dari lima perkara ini.

Seseorang yang sudah "Kecanduan" satu diantara yang lima perkara ini bukan hanya
rendah dipandang Allah, dipandangan manusia biasa pun ikut rendah. Nurani yang
kotor menyebabkan do'a-do'a tidak terkabul.

Beberapa langkah apabila dilakukan secara konsekuen, Insya Allah menjadikan


manusia "Sakti" Dunia Akhirat. Getaran batinnya kuat, ibarat voltage pada lampu
yang selalu di tambah getarannya sementara kaca yang melingkari lampu itu pun
selalu dibersihkan melalui laku-laku yang positif.

Hikmah suatu amalan (bacaan) biasanya terkait dengan perilaku manusianya. Dalam
hadistnya Turmudzi meriwayatkan, "Seseorang yang mengucapkan Laa ilaha illallah
dengan memurnikan niat, pasti dibukakan untuknya pintu-pintu langit, sampai
ucapannya itu dibawa ke Arsy selagi dosa-dosa besar dijauhi".

Hadist ini bisa ditafsiri bahwa suatu amalan harus diimbangi dengan pengamalan.
Adanya keselarasan antara ucapan mulut dengan tindakan menyebabkan orang itu
mencapai hakikatnya "Kekuatan-Kesaktian".

6. Berhati Ikhlas Berpantang Tamak.

Seseorang yang memiliki hati ikhlas, tidak rakus dengan dunia lebih memiliki
kepekaan dalam menyerap pelajaraan ilmu batin. Secara logika, orang yang berhati
ikhlas lebih mudah memusatkan konsentrasinya pada satu titik tujuan, yaitu persoalan
yang dihadapinya.

Disebutkan bahwa orang yang berhati ikhlas diperkenankan Allah SWT untuk :
Berbicara, Melihat, Berpikir dan Mendengar bersama dengan Lidah, Mata, Hati dan
Telinga Allah ( baca hadist Thabrani ).

Hati yang ikhlas identik dengan ketiadaan rasa tamak. Orang yang memiliki sifat
ikhlas dan tidak tamak amat disukai manusia. Rasullullah SAW pernah didatangi
seorang sahabat yang ingin meminta resep agar disukai Allah SWT dan disukai

sesama manusia. Rasullullah bersabda : "Jangan rakus dengan Harta Dunia, tentu
Allah akan menyenangimu, dan jangan tamak dengan hak orang lain, tentu banyak
orang yang menyenangimu ".

Hadist ini jika dikaitkan dengan kehidupan para spiritualis mereka memiliki
power pertama kali disebabkan karena kharismanya, jika seseorang itu banyak disukai
sesamanya maka apa yang diucapkan pun akan dipercaya. Sebaliknya walau orang itu
berilmu tinggi tetapi kalau tidak disukai sesamanya maka apa yang diucapkannya pun
tidak akan ada yang menggubris.

7. Bersedekah ( Dermawan ).
Bersedekah selain untuk tujuan ibadah sosial juga memiliki pengaruh terhadap
menyingkirnya bahaya. Banyak hadist membahas masalah sedekah berkaitan dengan
tolak-balak. Dengan banyak bersedekah, seseorang akan memperoleh limpahan rezeki
dan kemenangan.

Rasullullah SAW bersabda : "Wahai Manusia !! Bertobatlah Kamu kepada Allah


sebelum mati, segeralah Kamu beramal saleh sebelum Kamu sibuk, sambunglah
hubungan dengan Tuhanmu dengan memperbanyak zikir dan memperbanyak amal
sedekah dengan rahasia maupun terang-terangan. Tuhan akan memberi Kamu rezeki,
pertolongan dan kemenangan". (HR Jabir RA)

Dalam kehidupan bermasyarakat kita bisa melilhat hikmah dari sedekah ini.
Seseorang yang memiliki jiwa dermawan amat disukai sesamanya. Logikannya jika
orang itu disukai banyak orang maka ia jauh dari bahaya.

Kisah nyata terjadi pada suatu daerah. Dua orang yang sama-sama memiliki ilmu
batin memiliki kebun mangga. Ketika hampir musim panen, mangga dari seorang
dermawan itu tidak ada yang mencurinya, sebaliknya kebun mangga yang milik orang
bakhil itu banyak dicuri anak-anak muda.

Disinyalir, pencurian itu terjadi karena unsur "Tidak Suka" dengan pemilik
kebun. Sedangkan anak-anak muda itu mengapa tidak mau mencuri kebun milik sang
dermawan, rata-rata mereka mengutarakan keengganannya "Ah dia orang baik kok
kita kerjain" katanya, nah anda ingin menang dan sakti dunia akhirat ?? perbanyaklah
sedekah.

8. Mengurangi Makan dan Tidur.

Sebuah laku tirakat yang universal yang berlaku untuk seluruh makhluk hidup
adalah puasa. Ulat agar bisa terbang menjadi kupu-kupu harus berpuasa terlebih
dahulu, ular agar bisa ganti kulit harus puasa terlebih dahulu dan ayam agar bisa
beranak pun harus puasa terlebih dahulu.

Secara budaya banyak hal yang dapat diraih melalui puasa. Orang-orang
terdahulu tanpa mempermasalahkan sisi ilmiahnya aktivitas puasa telah berhasil
mendapatkan segala daya linuwih atau keistimewaan melalui puasa yang lazim
disebut tirakat.

Para spiritualis mendapatkan Wahyu maupun Wisik ( Petunjuk ghoib melalui


puasa terlebih dahulu ). Dan tradisi itu masih terus dilestarikan orang-orang zaman
sekarang. Intinya sampai kapanpun orang tetap meyakini dengan mengurangi makan
dalam hal ini adalah puasa, seseorang akan memperoleh inspirasi baru, intuisi.

Tradisi kita, ketika secara budaya sudah tiada lagi tempat untuk bertanya, melalui
puasa seseorang bisa mendapatkan telinga yang baru dan ketika ia tak lagi mampu
berkata, dengan puasa seseorang mampu memperoleh mulut yang baru.

Secara logika, puasa adalah bentuk kesungguhan yang diwujudkan melalui


melaparkan diri. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh saja yang sanggup
melakukannya. Aktivitas ini jika ditinjau dari sisi ilmu batin, menunjukan bahwa
kesungguhan memprogram niat itu yang akan menghasilkan kelebihan-kelebihan.

Hati yang diprogram dengan singguh-sungguh akan menghasilkan seseuatu yang luar
biasa. Karena itu dalam menempuh ilmu batin, aktivitas puasa mutlak dibutuhkan.
Karena didalam puasa itu tidak hanya bermakna melaparkan diri semata. Lebih dari
itu, berpuasa memiliki tujuan manonaktifkan nafsu syaithoni.

Non aktifnya nafsu secara tidak langsung meninggikan taraf spiritual manusia,
sehingga orang-orang yang berpuasa do'a nya makbul dan apa yang terusik dalam
hatinya sering menjadi kenyataan.

Menurut Imam Syafi'i dengan berpuasa seseorang terhindar dari lemah beribadah,
berat badanya, keras hatinya, tumpul pikirannya dan kebiasaan mengantuk. Dari
penyelidikan ilmiah puasa diyakini memiliki pengaruh terhadap kesehatan manusia.

Orang-orang terdahulu memiliki ketajaman mata batin dan manjur Ilmu kanuragannya
karena kuatnya dalam Laku Melek atau mengurangi tidur malam hari. Bahkan burung
hantu yang dilambangkan sebagai lambang ilmu pengetahuan pun disebabkan karena
kebiasannya "Tafakur " pada malam hari.

Dalam filosofi ilmu batin, memperbanyak tafakur malam hari menyebabkan seseorang
memiliki "Mata Lebar", yaitu ketajaman dalam melihat dan membaca apa-apa yang
tersirat dibalik kemisterian alam semesta ini.

Bahkan ketika agama Islam datang pun membenarkan informasi sebelumnya yang
dibawa oleh agama lain. Hanya Islam yang menginformasikan bahwa dengan ber-

Tahajud ketika orang lain terlelap dalam tidur, menyebabkan orang itu akan
ditempatkan Allah SWT pada tempat yang terpuji.

Pada keheningan malam terdapat berbagai hikmah. Melawan "Nafsu" tidur menuju
ibadah kepada Allah SWT dan dalam suasana hening itu konsentrasi mudah menyatu.
Saat inilah Allah SWT memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya guna
memohon apa saja yang diinginkan.

Banyak para spiritualis yang memiliki keunikan dalam ilmu batin bukan karena
banyaknya ilmu dan panjangnya amalan yang dibacanya, melainkan karena laku
prihatin pada malam harinya. Insya Allah seseorang yang membiasakan diri tafakur
dan beribadah pada malam hari, maka Allah SWT akan memberikan keberkahan
dalam ilmu-ilmunya.

9. Zikir Kalimah Toyyibah.

Ada hal-hal yang tersembunyi dibalik zikir kalimah Toyyibah "La ilaha illallah"
pertama, zikir ini disebut sebagai sebaik-baiknya zikir, berdasarkan hadist riwayat
Nasa'i, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban, dan Hakim "Afdhaluzd dzikri La ilaha Illallaahu"
yang artinya : sebaik-baik zikir adalah La ilaha illallah.

Kemudian pada hadist yang lain disebutkan bahwa dengan zikir kalimah Toyyibah ini
menyebabkan pintu langit terbuka, selagi yang membaca kalimah itu orang yang
menjauhi dosa-dosa besar. Sedangkan dengan mengamalkan zikir kalimah ini,
sepanjang zikir ini diamalkan secara tulus ikhlas mengharap ridho Allah SWT, justru
Allah yang akan mengatur potensi manusia.

Dalam hadist Qudsy tersurat : "Barang siapa disibukkan zikir kepada-Ku sehingga
tidak sempat memohon dari-Ku maka Aku akan memberikan yang terbaik dari apa
saja yang Ku berikan".

Artinya : hikmah dari zikir kalimah Toyyibah itu, seseorang akan diberi karunia
oleh Allah SWT walau jenis karunia itu tidak dimintanya. Ini Yang disebut dengan
rezeki yang tak terduga-duga.

Hikmah lain, dari membiasakan diri berzikir kalimah "La ilaha illallah ", secara tidak
langsung berarti merekam kalimat itu pada alam bawah sadar manusia. Seseorang
dalam kondisi kritis, kalimat yang reflek muncul dari alam bawah sadarnya adalah
kalimat yang paling akrab dengan lidah dan hatinya.

Maka, seseorang yang istiqomah dalam zikir kalimah "La ilaha illallah ", bila saat
sakaratul maut hendak menjemput, Insya Allah kalimat itu yang akan muncul dari
mulutnya. Dengan demikian berlakulah janji Allah SWT bahwa seseorang yang
diakhir hayatnya mengucapkan kalimat "La ilaha illallah", maka sorgalah balasannya.

Menyimak hal-hal dibalik kalimah Toyyibah ini, ada dua keuntungan yang bisa kita
raih. Pertama keuntungan dunia berupa ketenangan hati akibat bias dari aktivitas zikir,
juga keuntungan dunia berupa datangnya karunia yang dilimpahkan yang lebih baik
dibanding hamba lain yang meminta.

Sedangkan pahala akhiratnya adalah menemui kematian dengan Khusnul Khotimah.


Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang memperoleh keuntungan dunia
akhirat. Amin.

10. Memakai Wewangian.

Kalau kekuatan fisik seseorang ditentukan dari ototnya. Kekuatan ilmu batin
ditentukan dari roh. Memperkuat roh, salah satu caranya dengan wewangian. Karena
itu orang yang sedang mempelajari ilmu batin atau ingin melestarikan kekuatan ilmu
batin dalam jiwa raganya, ia dituntut selalu mengenakan wewangian.

Disebutkan, wewangian amat dibenci setan dan disukai para malaikat. Pengertian
"Wangi" disini bukan sekedar wangi karena bau minyak wangi. Wangi yang hakiki
adalah wanginya kepribadian, dan itu berarti Ahlakul Karimah. Tentu saja,
melengkapi antara syareat dan hakikat itu seseorang memang disunahkan memakai
wewangian sekaligus menghiasi diri dengan Ahlak yang baik.

Diposkan oleh kekuatan mata sharinggan di 00.33