Você está na página 1de 5

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang

mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang


Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia
dan manusia serta lingkungannya.

Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, gama yang berarti "tradisi".
Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal
dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti
"mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat
dirinya kepada Tuhan.

mile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang


terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan
hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha
untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah,
mencapai rohani yang sempurna kesuciannya

Di Indonesia, istilah agama digunakan untuk menyebut semua agama yang


diakui secara resmi oleh negara, seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan
Budha. Sedangkan semua sistem keyakinan yang tidak atau belum diakui
secara resmi disebut religi.

Agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan


manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur
hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan
manusia dengan lingkungannya.

Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang


dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau
masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa
yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Bagi para
penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi
dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup
selamat di dunia dan di akhirat.

Karena itu pula agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai
yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan
menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota
masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai
kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya.

Cara beragama
Tradisional,

Yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara


beragamanya nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya.
Pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang

baru atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan
demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya.

Formal

Yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya


atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang
berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam
beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau
masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika
memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat
meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal
yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya.

Rasional

yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu


mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan
pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang
beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.

Metode Pendahulu

yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan)


dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati
ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka
selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama
yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya
semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan
bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.
Unsur2

Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:

a) Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada
keraguan lagi
b) Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.
c) Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan TuhanNya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai
dengan ajaran agama
d) Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan
yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
e) Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama
Fungsi;

Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok

Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan
manusia.

Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah

Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan

Pedoman perasaan keyakinan

Pedoman keberadaan

Pengungkapan estetika (keindahan)

Pedoman rekreasi dan hiburan

Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.

Pengertian, Fungsi dan Keagamaan di Indonesia


Lembaga keagamaan adalah organisasi yang dibentuk oleh umat beragama dengan
maksud untuk memajukan kepentingan keagamaan umat yang bersangkutan di
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tujuannya adalah
untuk meningkatkan kualitas hidup keagamaan masing-masing umat beragama.
Masing-masing agama di Indonesia memiliki lembaga keagamaan, yaitu:
Islam

: Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Kristen : Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI)


Katolik : Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)
Hindu : Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)
Budha : Perwakilan Umat Buhda Indonesia (WALUBI)

fungsi Lembaga Keagamaan

Lembaga keagamaan yang ada di Indonesia pada umumnya berfungsi


sebagai berikut:

1. Tempat untuk membahas dan menyelesaikan segala masalah yang


menyangkut keagamaan.
2. Memelihara dan meningkatkan kualitas kehidupan beragama umat yang
bersangkutan.
3. Memelihara dan meningkatkan kerukunan hidup antar umat yang
bersangkutan.
4. Mewakili umat dalam berdialog dan mengembangkan sikap saling
menghormati serta kerjasama dengan umat beragama lain.

5. Menyalurkan aspirasi umat kepada pemerintah dan menyebarluaskan


kebijakan pemerintah kepada umat.
6. Wahana silaturrahmi yang dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan
kekeluargaan.
Alam sejarah perjalanan hidup bangsa Indonesia selama ini, saling hormat
menghormati tumbuh dengan subur, sehingga persatuan dan kesatuan
bangsa dapat terpelihara dengan baik. Namun demikian kadang kala sikap
semacam itu menipis, sehingga terjadi gangguan dalam kehidupan bersama.
Kerukunan bangsa terusik, kelangsungan persatuan dan kesatuan bangsa itu
pun terancam.
Untuk mewujudkan kerukunan antar umat beragama pemerintah telah
mengadakan serangkaian kegiatan yang bermuara kepada terbentuknya
wadah musyawarah Antar Umat Beragama pada tahun 1980. Melalui wadah
tersebut diupayakan dialog-dialog antar umat beragama di Indonesia dapat
terselenggara dengan baik, dengan harapan agar kerukunan antar umat
beragama itu dapat menciptakan kerukunan dan kesatuan bangsa serta
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Melalui wadah tersebut umat
beragama di Indonesia mengembangkan sikap saling menghormati diantara
para pemeluk agama yang berbeda-beda. Pembentukan wadah Musyawarah
Antar Umat Beragama didukung sepenuhnya oleh lembaga keagamaan yang
hidup di Indonesia.

Peran Serta Lembaga Keagamaan bagi Peningkatan dan


Pengembangan Diri, Kepentingan Umum, Berbangsa dan Bernegara

Lembaga-lembaga keagamaan perlu diupayakan untuk membina rasa


pemeluknya dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Umat yang taqwa akan melahirkan manusia-manusia yang baik
dan beriman sehingga tercipta warga negara yang tahu hak dan
kewajibannya baik sebagai makhluk individu mapun makhluk sosial.

Keberadaan lembaga-lembaga keagamaan memberikan rasa aman bagi


setiap warga negara dan umat beragama agar dapat beribadah kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa tanpa diliputi rasa ketakutan kepada pihak lain.
Setiap umat beragama dapat selalu meningkatkan dan mengembangkana
diri dalam mempelajari dan memahami serta melaksanakan agama yang
dianutnya dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.

Apabila ketentraman menjalankan ibadah sudah baik, dengan sendirinya


kepentingan umum akan tercipta, tidak akan terjadi kegaduhan, keributan,
dan saling menyalahkan. Selanjutnya keamanan, kedamaian dan ketenangan
dalam masyarakat akan terbina dengan baik

Tata Pergaulan Keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil, yang terdiri atas: ayah, ibu dan
anakanak. Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga memiliki arti
penting, sebab jika kondisi keluarga baik, maka akan baiklah seluruh
masyarakat yang dibentuknya itu.

Karena pentingnya kedudukan keluarga, maka tata pergaulan yang


dibentuknya pun memiliki arti penting pula. Artinya tata pergaulan keluarga
itu mencerminkan tata pergaulan masyarakat yang lebih luas. Jika tata
pergaulan dalam keluarga kacau, maka bisa dipastikan tata pergaulan
masyarakatpun akan kacau pula.

Atas dasar pernyataan tersebut, pergaulan dalam keluarga harus dilandasi


agama, budaya dan hukum. Apa pentingnya pergaulan dalam keluarga harus
dilandasi agama, budaya dan hukum?
Hal-hal berikut ini adalah merupakan jawabannya:

Agama merupakan landasan untuk membentuk anggota keluarga sebagai


insan Tuhan yang beriman dan bertaqwa.

Budaya merupakan landasan untuk membentuk anggota keluarga sebagai


insan sosial yang sopan dan santun.

Hukum merupakan landasan untuk membentuk anggota keluarga sebagai


insan politik yang sadaar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Saling Menghormati dalam Kehidupan Beragama


Saling Menghormati dalam Kehidupan Beragama dapat dilakukan dengan
mengamalkan hal-hal berikut:

Menghormati umat seagama maupun umat agama lain.

Menghormati lembaga agama sendiri maupun lembaga agama lain.

Menghindari pertentangan antar umat seagama maupun dengan umat


agama lain.

Menghormati hak dan kewajiban, tugas dan kewajiban, serta tanggung jawab
umat seagama dan umat agama lain.

Melaksanakan hak, kewenangan, tugas dan kewajiban serta tanggung jawab


sendiri dalam kehidupan beragama.