Você está na página 1de 10

Aplikasi Sel Volta dan Sel Elektrolisis

blogspot.co.id | Thursday, December 13, 2012


A.Aplikasi Sel Volta

1.Baterai Konvensional

a.Aki (Accumulator)

Aki atau accumulator merupakan sel volta yang tersusun atas elektroda Pb dan PbO, dalam larutan
asam sulfat yang berfungsi sebagai elektrolit. Pada aki, sel disusun dalam beberapa pasang dan setiap
pasang menghasilkan 2 Volt. Pada umumnya aki memiliki potensial sebesar 6 Volt (kecil) sebagai sumber
arus sepeda motor dan 12 V (besar) untuk mobil. Aki merupakan sel yang dapat diisi kembali, sehingga aki
dapat dipergunakan secara terus menerus. Sehingga ada dua mekanisme reaksi yang terjadi. Reaksi
penggunaan aki merupakan sel volta, dan reaksi pengisian menggunakan arus listrik dari luar seperti
peristiwa elektrolisis.
Sel aki disebut juga sebagai sel penyimpan, karena dapat berfungsi penyimpan listrik dan pada setiap
saat dapat dikeluarkan . Anodenya terbuat dari logam timbal atau timah hitam (Pb) dan katodenya terbuat
dari logam timbal yang dilapisi PbO2, keduanya merupakan zat padat yang dicelupkan dalam larutan asam
sulfat. Kedua elektrode tersebut, juga hasil reaksinya, tidak larut dalam larutan asam sulfat, sehingga tidak
perlu memisahkan anode dan katode. Dengan demikian, tidak diperlukan jembatan garam, yang perlu
dijaga adalah jangan sampai kedua elektrode tersebut saling bersentuhan.
Reaksi penggunaan aki :

Anode:Pb(s) + SO42-(aq) PbSO4(s) + H+(aq) 2e


Katode:PbO2(s) + SO42-(aq) + 4H+(aq) + 2e PbSO4(s) + 2H2O(l)
Reaksi sel :Pb(s) + 2SO42-(s) + PbO2(aq) + 4H+(aq) 2PbSO4(s) + 2H2O(l)
Selama reaksi tersebut berlangsung, asam sulfat digunakan dan dihasilkan air. Hal tersebut
mengakibatkan kadar asam sulfat dalam larutan berkurang, sehingga massa jenis larutan juga berkurang.
Dalam kehidupan sehari-hari massa jenis larutan tersebut digunakan sebagai patokan untuk pengisian
aki kembali. Aki yang baru diisi mengandung larutan dengan massa jenis sekitar 1,25-1,39 g/mL. jika
massa jenis larutan turun sampai 1,20 g/mL, aki perlu diisi kembali. Massa jenis laturan dapat ditentukan
dengan suatu alat yang bernama hidrometer.
Keunggulan utama aki yaitu dapat diisi ulang. Pengisian aki dilakukan dengan membalik arah aliran
elektron pada kedua elektrode sehingga elektrode berbalik.
Reaksi pengisian aki :

Anode (elektrode PbO2):PbSO4(s) +2H2O(l) PbO2(s) + HSO4-(aq) + 3H+(aq) + 2e


Katode (elektrode PbO2):PbSO4(s) + H+(aq) + 2e Pb(s) + HSO4-(aq)
Reaksi sel:2PbSO4(s) + 2H2O(l) Pb(s) + PbO2(s) + 2HSO4-(aq) + 2H+(aq)
Kelemahan aki di antaranya adalah karena beratnya. Selain itu juga karena asam sulfat bersifat sangat
korosif sehingga berbahaya jika tumpah. Akhir-akhir ini digunakan paduan timbal-kalsium sebagai anide
sehingga hal tersebut akan mengurangi resiko tumpah.

b.Baterai kering (Sel Leclanche)


Sel Leclanch ditemukan oleh insinyur Perancis Georges Leclanch (1839-1882) lebih dari seratus
tahun yang lalu. Berbagai usaha peningkatan telah dilakukan sejak itu, tetapi, yang mengejutkan adalah
desain awal tetap dipertahankan, yakni sel kering mangan.
Sel kering mangan terdiri dari bungkus dalam zink (Zn) sebagai elektroda negatif (anoda), batang
karbon/grafit (C) sebagai elektroda positif (katoda) dan pasta MnO 2 dan NH4Cl yang berperan sebagai
larutan elektrolit.
Reaksi yang terjadi dalam baterai kering :

Anode : Zn(s) Zn2+(aq) + 2e


Katode : 2MnO2(s) + 2NH4+(aq) + 2e Mn2O3(s)+ 2NH3(aq) + H2O(l)
Zn2+(aq) + 4NH3(aq) Zn(NH3)42+(aq)
Keuntungan dari sel Leclanche adalah harganya yang relatif murah, praktis, dan aman (tidak
rusak/bocor). Kelemahannya yaitu dayanya yang menurun cepat jika digunakan untuk arus yang relatif
besar. Hal tersebut terjadi karena ion-ion yang terbentuk memerlukan waktu untuk berdifusi menjauhi
elektrodenya. Jika penggunaannya dihentikan sementara maka kemampuannya akan meningkat kembali
karena ion-ion sudah berdifusi. Selain itu, kelemahan sel Leclanche.

c.Baterai Alkalin
Baterai alkaine sama dengan sel Lanchache. Baterai alkaline ini menggunakan sebuah larutan elektrolit
yang berupa kalium hidroksida (KOH). Oleh karena itu baterai alkaline ini bersifat basa. Baterai alkaline
ini memiliki daya tahan yang relatif lama dibandingkan dengan baterai kering atau sel Lanchache.
Sel ini menghasilkan arus yang lebih besar dan total muatan yang lebih banyak daripada baterai kering
biasa. Baterai ini cocok digunakan pada kamera atau tape recorder, karena mempunyai tegangan sebesar
1,5V.
Reaksi yang terjadi pada baterai alkaline :

Anode: Zn(s) + 2OH-(aq) Zn(OH)2(s) + 2e


Katode: 2MnO2(s) + 2H2O(l) + 2e 2MnO(OH)(s) + 2OH-(aq)
Reaksi sel:Zn(s) + 2MnO2(s) + H2O(l) Zn(OH)2(s) + Mn2O3(s)
Potensial baterai alkalin juga 1,5 volt, tetapi baterain alkalin dapat menghasilkan arus yang
lebih besar untuk waktu yang lebih lama daripada baterai kering biasa. Hal itu terjadi karena
reaksi selnya tidak menghasilkan ion-ion di sekitar elektrodenya yang harus berdifusi seperti
pada baterai kering biasa. Bateai alkalin ini cocok digunakan untuk peralatan yng
memerlukan arus lebih besar, seperti kamera dan tape recorder.

d.Baterai Nikel-Kadmium
Baterai nikel-kadmium merupakan baterai kering yang dapat diisi ulang. Sel ini biasanya disebut
nicad atau batery nickel-cadmium. Baterai ini terdiri dari logm nikel sebagai anode dan nikel(IV) oksida
(NiO2) sebagai katodenya.
Reaksi yang terjadi pada baterai nikel-kadmium adalah:

Anode: Cd(s) + 2OH-(aq) Cd(OH)2(s) + 2e


Katode: NiO2(s) + 2H2O(l) + 2e Ni(OH)2(s) + 2OH-(aq)
Reaksi sel: Cd(s) + NiO(aq) + 2H2O(l) Cd(OH)2(s) + Ni(OH)2(s)
Baterai nikel-kadmium merupakan zat padat yang melekat pada kedua elektrodenya dan memiliki
tegangan sekitar 1,4V. Dengan membalik arah aliran elektron, zat-zat tersebut dapat diubah kembali seperti
zat semula.

e.Baterai Perak Oksida


Baterai perak oksida tergolong tipis dan harganya relatif lebih mahal dari baterai-baterai yang lainnya.
Baterai ini sangat populer digunakan pada jam, kamera, dan kalkulator elektronik. Pada baterai ini perak
oksida (Ag2O) bertindak sebagai katoda dan seng (Zn) sebagai anodanya, sedangkan KOH bentuk pasta
sebagai elektrolit. Reaksi elektrodenya terjadi dalam elektrolit yang bersifat basa dan mempunyai beda
potensial sama seperti pada baterai alkaline sebesar 1,5V.
Reaksi yang terjadi adalah :

Anode: Zn(s) + 2OH-(aq) Zn(OH)2(s) + 2e


Katode: Ag2O(s) + H2O + 2e 2Ag(s) + 2OH-(aq)

2.Baterai Modern

a.Baterai Nikel-Metal Hidrida (Ni-MH)


Baterai ini banyak digunakan sebagai sumber tenaga dalam video kamera, telepon selular, bahkan
kendaraan listrik. Susunan baterai Ni-MH mirip dengan baterai nikad, kecuali bahwa rekatan dalam
anodenya adalah hidrogen. Meskipun hidrogen berwujud gas pada suhu dan tekanan normal tapi tetap apat
digunakan karena adanya paduan logam, yaitu LaNi 5 dan Mg2Ni, yang dapat mengabsorpsi gas hidrogen
dalam jumlah yang memadai. Gas hidrogen yang terabsorpsi tersebut dapat dilibatkan dalam suatu reaksi
redoks reversibel. Jadi, istilah metal-hidrida atau hidrida logam dimaksudkan untuk hidrogen yang
diabsorpsi logam.
Pada baterai Ni-MH, yang bertindak sebagai katode adalah NiO(OH), sedangkan anodenya merupakan
gas hidrogen yang terabsorpsi dalam paduan logam (MH). Elektrolitnya yaitu KOH.

Reaksi yang terjadi dalam baterai Ni-MH yaitu :

Anode: MH(s)OH-(aq) M(s) + H2O(l) +e


Katode: NiO(OH)(s) + H2O(l) + e Ni(OH)2(s) + OH-(aq)
Reaksi sel: MH(s) + NiO(OH)(s) NiO(OH)2(s) + M(s)
Keunggulan yang dimiliki baterai Ni-MH dibandingkan baterai nikad yaitu baterai ini dapat
meghasilkan energi 0% lebh banyak daripada baterai nikad dengan volume yang sama. Namun, di samping
itu, kelemahan baterai Ni-MH adalah tidak dapat disimpan karena baterai ini kehilangan 5% energinya
meski tidak digunakan.

b.Baterai Litium
Litium merupakan salah satu logam yang sangat ringan dan memiliki potensial reduksi yang sangat
negatif, yaitu -3,05 volt. Kedua sifat tersebut merupakan keunggulan logam litium untuk digunakan
sebagai anode dalam sel volta. Namun masalah utama penggunaan litium adalah sifatnya yang sangat
reaktif, bereaksi hebat dengan air membentuk litiom hidroksida dan gas hidrogen.
2Li(s) + H2O(l) LiOH(aq) + H2(g)
Oleh karena itu, untuk penggunaan litium diperlukan media yang kering atau tidak berair. Pada tahun
1970-an, ditemukan sejenis pelarut organik yang dapat melarutkan garam litium. Sejak saat itu, berbagai
jenis baterai litium berhasil dibuat, baik jenis sel primer maupun sel sekunder.
Salah asatu baterai litium dri jenis yang tidak dapat diisi ulang yaitu baterai litium-mangan dioksida.
Baterai ini menggunakan litium padat sebagai anode dan MnO 2 sebagi katode. Elektrolitnya terdiri atas
suatu garam litium, seperti litium perklorat (LiClO 4) yang dilarutkan dalam campuran propilena karbonat
dan dimetoksietana.
Reaksi yang terjadi yaitu :

Anode: Li Li+ + e
Katode: MnO2Li+ + e MnO2Li
Reaksi sel: Li + MnO2 MnO2Li
Baterai litium meiliki tegangan sebesar 3,4 volt, tetapi turun menjadi 2,8 volt selama digunakan.
Potensial baterai ini sekitar dua kali lebih besar daripada potensial baterai kering biasa. Oleh karena massa
jenisnya yang relatif kecil, baterai litium dapat menghasilkan energi lebih dari dua kali lipat dibandingkan
baterai kering biasa untuk massa yang sama. Baterai litium juga dapat disimpan untuk jangka waktu yang
lama serta dapat menghasilkan arus besar, sehingga baik digunakan untuk kamera.

c.Baterai Ion Litium


Penggunaan logam litium sebagai anode pada baterai litium sekunder dinilai kurang aman, karena
baterai ini dapat meledak setelah berulang kali diisi ulang. Kelemhan tersebut dapat diatasi dengan adanya
penemuan baterai ion litium. Baterai ion litium menggunakan ion litium sebagai anodenya, bukan logam
litium. Oleh karena itu, maka pada hekikatnya reaksi dalam sek dalam baterai ion litium bukanlah reaksi
redoks, melainkan hanya pergerakan ion litium melalui elektrolit dari satu elektrode ke elektrode lainnya.
Pengembangan baterai ion litium terjadi berkat adanya penemuan bahwa ion litium dapat bergerak
(slip) pada daerah antarlapisan atom dalam kristal tertentu yang disebut interkalasi. Pergerakan ion litium
terjadi di antara kristal grafit dan LiCoO 2. Material inilah yang digunakan sebagai elektrode dalam baterai
ion litium. Sebagai elektrolit digunakan bahan cair yang biasanya mengandung LiPFP 6.
Baterai ion litium diproduksi dalam keadaan kosong, di mana tidak terdapat ion litium di antara atom
karbon dalam grafit. Ketika diisi, ion litium dari LiCoO 2 akan bergerak melalui elektrolit menuju elektrode
grafit. Untuk kesetaraan muatan, aliran ion ini akan disertai aliran elektron pada rangkaian luar sehingga
menghasilkan arus listrik.
Proses yang terjadi pada pengisian awal :
LiCoO2 + C6 Li1-xCoO2 + LixC6
C6 menyatakan grafit, menunjuk pada struktur grafit yang berbentuk heksagonal. Sedangkan x
menyatakan jumlah ion litium yang berpindah dari LiCoO2 ke C6.
Ketika baterai digunakan, maka ion litium bergerak secara spintan dari grafit kembali ke elektrode
LiCoO2.
Li1-xCoO2 + LixC6 Li1-xCoO2 + Li1-x+y + Lix-yC6
Dan pada pengisian kembali, rekasi tersebut akan terbalik.
Baterai ion litium menghasilkan potensial sebesar 3,7 volt, atau tiga kali lebih besar dibandingkan
dengan baterai nikad. Selain itu, baterai ion litium dapat menghasilkan energi dua kali lebih banyak
daripada baterai nikad dengan massa yang sama. Baterai ion litium banyak digunakan untuk telepon
selular, kamera video, dan laptop.

3.Sel Bahan Bakar


Sel hidrogen-oksigen termasuk jenis sel bahan bakar yang terus-menerus dapat berfungsi selama
bahan-bahan secara tetap dialirkan ke dalamnya. Sel ini digunakan pada pesawat ruang angkasa. Sel
hidrogen-oksigen terdiri atas anode dari lempeng nikel berpori yang dialiri gas hidrogen dan katode dari
lempeng nikel oksida berpori yang dialiri gas oksigen. Elektrolitnya adalah larutan KOH pekat.

Cara kerja sel ini adalah :

a.Gas hidrogen yang dialirkan pada pelat nikel berpori teroksidasi membentuk H2O.
2H2 + 4OH- 4H2O + 4e

b.Elektron yang dibebaskan bergerak melalui kawat penghantar menuju elektrode nikel oksida.
c.Pada elektrode nikel oksida elektron mereduksi O2 menjadi OH.
O2 + 2 H2O + 4 e 4 OH
Reaksi yang terjadi pada sel ini sebagai berikut.

Anode: 2 H2(g) + 4 OH(aq) 4 H2O(l) + 4 e


Katode: O2(g) + 2 H2O(l) + 4e 4OH-(aq)
Reaksi sel: 2 H2(g) + O2(g) 2 H2O(l)
Biasanya pada sel ini digunakan platina atau senyawa paladium sebagai katalis.

B.Aplikasi Sel Elektrolisis

1.Produksi Zat
Banyak zat kimia yang diproduksi melalui elektrolisis seperti logam-logam alkali, magnesium,
aluminium, fluorin, klorin, natrium, dan lainnya. Salah satu contoh yang akan dibahas yaitu mengenai
produksi klorin dan NaOH dalam industri.
Secara industri klorin dan NaOH dapat dibuat melalui elektrolisis larutan natrium klorida.Proses
ini disebut proses klor-alkali. Elektrolisis larutan NaCl ini dapat menghasilkan NaOH dan Cl 2
NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq)

Anode: 2Cl-(aq) Cl2(g) + 2e


Katode: 2H2O(l) + 2e 2OH-(aq)H2(g)
Reaksi sel: 2H2O(l) + 2Cl-(aq) 2OH-(aq)H2(g) + Cl2(g)
Sehingga reaksi yang terjadi :
2H2O(l) + 2NaCl(aq) 2NaOH(aq) + H2(g) + Cl2(g)

Pada proses elektrolisis keadaan harus dijaga agar Cl2 yang terbebtuk tidak bereaksi dengan
NaOH. Oleh karena itu ruang anoda dan katoda dipisahkan dengan berbagai cara, yaitu dengan sel
diafragma atau sel merkuri.

a.Sel Diafragma
Pada sel diafragma, ruang katode dipisahkan dari ruang anode dengan suatu selaput berpori yang
dapat dilalui ion-ion, tetapi menahan percampuran larutan. Sebagai elektrode dapat digunakan grafit atau
suatu elektrode khusus yang terbuat dari titanium. Anode ditempatkan pada bagian atas, sedangkan katode
pada bagian bawah. Dengan demikian aliran NaOH )yang terbentuk di katode) ke ruang anode dapat
dicegah.
Sel diafragma menghasilkan larutan yang mengandung 10-12% NaOH yang tercampur dengan 1416% NaCl dari ruang katode. Larutan dipekatkan dengan penguapan, kemudian NaCl dipisahkan dengan
pengkristalan. Pada akhirnya diperoleh larutan NaOH 50% dengan 1% NaCl sebagai pengotor. Pada
elektrolisis digunakan tegangan kira-kira 3,5 volt dan arus puluhan ribu ampere.

b.Sel Merkuri
Suatu proses elektrolisis yang menghasilkan NaOH(aq) dengan kemurnian yang lebih tinggi adalah sel
merkuri. Katode merkuri mempunyai overpotensial yang lebih tinggi untuk mereduksi H 2O menjadi OH
dan H2(g), sehingga reduksi yang terjadi adalah Na+(aq) menjadi Na(l) yang larut dalam merkuri
membentuk suatu amalgam berupa 0,5 % Na.
Reaksi yang terjadi dalam sel merkuri sebagai berikut.
Katoda

: 2 Na(aq) + 2e 2 Na(dalam Hg)

Anoda

: 2 Cl(aq) Cl2(g) + 2e

Reaksi sel

: 2 Na+(aq) + 2 Cl(aq) 2 Na(dalam Hg) + Cl2(g)

Jika Na yang dikeluarkan dari sel ditambah air, maka akan terbentuk NaOH(aq) dan merkuri cair
dikembalikan lagi ke dalam sel elektrolisis.
2 Na(dalam Hg) + 2 H2O(l) 2 Na+(aq) + 2 OH(aq) + H2(g) + Hg(l)
Keuntungan sel merkuri dapat menghasilkan NaOH pekat dengan kemurnian tinggi. Kelemahannya adalah
memerlukan energi listrik yang lebih banyak, disamping itu merkuri mempunyai dampak negatif terhadap
lingkungan.

2.Pemurnian Logam
Prinsip pemurnian logam transisi dengan menggunakan reaksi elektrolisis larutan dengan
elektrode yang bereaksi. Logam yang kotor ditempelkan di anode dan logam murni ditempatkan di katode.
Larutan yang digunakan adalah yang mempunyai kation logam tersebut. Contoh yang akan dibahas yaitu
pemurnian logam tembaga. Dengan tembaga murni sebagai katode dan tembaga kotor (yang akan
dimurnikan) sebagai anode, dan elektrolitnya larutan CuSO4.
CuSO4(aq) Cu2+ + SO42-

Anode: Cu(s)Cu2+(aq) + 2e
Katode: Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
Logam Cu yang kotor dioksidasi dan berubah menjadi larutan Cu 2+. Ion Cu2+ bergabung dengan
larutan yang ada dan bergerak ke katode. Di katode, ion Cu 2+ direduksi membentuk logam kembali. Pada
waktu ion Cu2+ di anode bergerak ke katode, maka harus ada penyaring, sehingga yang ke katode hanya
ion Cu2+ saja, sedangkan pengotornya tetap di anode. Akibatnya daerah katode adalah daerah bersih dan
Cu2+ yang diendapkan akan menghasilkan logam Cu yang murni.

3.Penyepuhan (Electroplating)
Suatu produk dari logam agar terlindungi dari korosi (perkaratan) dan terlihat lebih menarik
seringkali dilapisi dengan lapisan tipis logam lain yang lebih tahan korosi dan mengkilat. Salah satu cara
melapisi atau menyepuh adalah dengan elektrolisis. Benda yang akan dilapisi dipasang sebagai katoda dan
potongan logam penyepuh dipasang sebagai anoda yang dibenamkan dalam larutan garam dari logam
penyepuh dan dihubungkan dengan sumber arus searah. Contoh: untuk melapisi sendok garpu yang terbuat
dari baja dengan perak, maka garpu dipasang sebagai katoda dan logam perak dipasang sebagai anoda,
dengan elektrolit larutan AgNO3. Logam perak pada anoda teroksidasi menjadi Ag + kemudian direduksi
menjadi Ag pada katoda atau garpu. Dengan demikian garpu terlapisi. oleh logam perak.

Reaksi yang terjadi :

Anode(Ag): Ag(s) Ag+(aq) + e

Korosi
ilmukimia.org |

Pengertian Korosi
Korosi adalah kemerosotan atau kerusakan sifat logam oleh karena proses elektrokimia, yang
biasanya berjalan lambat. Contoh yang paling umum adalah korosi logam besi dengan
terbentuknya karat oksidanya. Dengan demikian korosi menimbulkan banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik yaitu oksidasi logam menjadi ionnya dengan
melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi
elektron tersebut dengan laju yang sama. Proses katodik biasanya merupakan reduksi ion
hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya.

Reaksi Kimia Korosi Logam


Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab, proses reaksi redoks yang
terjadi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Anoda : { Fe (s)
Katoda : O (g) + 4 H (aq) + 4 e

Fe (aq) + 2 e }
2 HO (l)

2x

Redoks :

2 Fe (s) + O (g) + 4 H (aq)

Fe (aq) + 2 HO (l)

Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwa emf standar untuk proses
korosi ini adalah = +1,67 V. Reaksi ini terjadi pada lingkungan asam dengan ion
H sebagian dapat diperoleh dari reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air
membentuk HCO. Ion Fe yang terbentuk di anode kemudian teroksidasi lebih
lanjut oleh oksigen membentuk besi(III) oksida:
4 Fe2+ (aq) + O2 (g) + (4 + 2x) H2O (l)

2 Fe2O3.x H2O + 8 H+ (aq)

Hidrat besi(III) oksida inilah yang dikenal dengan karat besi. Sirkuit listrik dipacu
oleh migrasi elektron dan ion. Itulah sebabnya korosi cepat terjadi dalam air
garam. Jika proses korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi katodik
yang terjadi adalah:
O2 (g) + 2 H2O (l) + 2 e 4 OH- (aq)
Korosi besi relatif lebih cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab lapisan
senyawa besi(III) oksida yang terjadi bersifat porous sehingga mudah ditembus
oleh udara maupun air. Tetapi, aluminium mempunyai potensial reduksi jauh
lebih negatif dibandingakn besi, proses korosi lanjut menjadi terhambat karena
hasil oksidasi, AlO, yang melapisinya tidak bersifat porous sehingga melindungi
logam yang dilapisi dari kontak dengan udara luar.

Penyebab Korosi
Korosi merupakan reaksi kimia yang terjadi secara alami dan spontan. Tanpa
campur tangan manusia, logam dapat bereaksi dengan faktor luar dan
menyebabkan peristiwa korosi. Beberapa faktor penyebab korosi antara lain:

Laju Korosi
Laju korosi juga dikenal dengan rasio korosi. Laju korosi dihitung dengan
mengambil korosi pada seluruh permukaan. Laju korosi diukur dengan kondisi
mpy (mils per penetration)
mpy = (berat hilang akibat korosi dalam gram) x (22300) / (A)(dt)
dimana
A = luas permukaan korosi (in)
d = massa jenis logam (g/cm)
t = waktu korosi (hari)

Pencegahan Korosi
Perlindungan katodik
Prinsip dari perlindungan katodik adalah mengubah potensial elektroda dari
struktur logam sehingga dapat menambah "kekebalan" logam yang ingin
dilindungi. Bagian yang dilindungi tentu saja adalah permukaan, karena korosi
dimulai dari bagian permukaan, sehingga menutup kemungkinan terjadinya
reaksi korosi. Perlindungan katodik penting digunakan untuk logam alat-alat
selam dan bawah tanah.

Penghambat (inhibitor) korosi


Adanya molekul asing dapat mempengaruhi reaksi pada permukaan. Proses
korosi adalah salah satu jenis reaksi permukaan. Korosi dapat dikendalikan
dengan senyawa asning yang dikenal dengan senyawa inhibitor (penghambat).
Senyawa penghambat dapat terabsorpsi pada permukaan logam yang bereaksi.
Senyawa tersebut langsung menyerap ke arah lapisan permukaan logam.
Senyawa penghambat dapat berkerja pada cara yang berbeda, yaitu memblokir
bagian yang rawan korosi dan mencegah laju anodik maupun katodik. Cara
lainnya adalah dengan meningkatkan potensial elektroda. Contoh senyawa yang
dapat menghambat reaksi anodik adalah heksilamina dan natrium benzoat.
Dengan cara yang sama, oksidator seperti nitrit, kromat, amina, tiourea juga
dapat digunakan untuk menghambat korosi.