Você está na página 1de 37

AUTISME

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Gizi Masyarakat Kelas


A

Disusun Oleh :
Mega Wrida Silvia

142110101064

Rizki Lailiatul Hidayah

142110101048

Balqist Allyya Nanda

142110101122

Ika Wulandari

142110101127

Galuh Deviyanti P.P.

142110101132

Azizah Munawwarah

142110101139

Eris Dwi Tristanti

142110101144

Rizqi Nurcahya Ari Fajrul

142110101145

Cahaya Rizki

142110101150

A`yun Hafisyah Wafi

142110101159

Dwi Okta Pangestika

142110101162

Adi Wahyu Darmawan

142110101165

Tria Mei Sinta

142110101174

Rizqi Muthoharoh

142110101191

Ragil Muallimah

152110101183

Siti Nur Octavia

152110101241
Kelompok 3

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER

2016

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat hidayahnya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Autisme
Dalam penyusunannya, kami banyak memperoleh bantuan dari berbagai
pihak, karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga kami dapat

2.

menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan tepat waktu.


Ninna Rohmawati, S.Gz.,M.PH selaku dosen pengampu Mata Kuliah Gizi

3.

Masyarakat atas bimbingan dalam penyusunan makalah ini.


Teman-teman yang telah bekerja keras untuk menyelesaikan makalah ini.
Penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,

namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata kami berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca.

Jember, 22 November
2016

Penyusun

DAFTAR ISI

iii

KATA PENGANTAR............................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
BAB 1. PENDAHULUAN....................................................................................
1. 1

Latar Belakang...........................................................................................

1. 2

Rumusan Masalah......................................................................................

1.3

Tujuan.........................................................................................................

1.3.1 Tujuan Umum..........................................................................................2


1.3.2 Tujuan Khusus........................................................................................2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................
2.1

Definisi dan Klasifikasi Autisme..............................................................

2.2

Gejala dan Tanda Autisme........................................................................

2.3

Penyebab Autisme....................................................................................

2.4
Manifestasi
Klinis
Autisme
...........................................................................................................................................
7
2.5
Makanan
Pada
Anak
Autisme
...........................................................................................................................................
8
2.6
Ciri-ciri
Anak
Autisme
...........................................................................................................................................
10
2.7
Diagnosis
...........................................................................................................................................
11
2.8
Pengobatan
dan
Pencegahan
...........................................................................................................................................
13
BAB 3. PEMBAHASAN....................................................................................18
3.1

Studi Kasus.............................................................................................18

3.2

Analisis Studi Kasus...............................................................................21

iv

BAB 4. PENUTUP..............................................................................................28
4.1
Kesimpulan
...........................................................................................................................................
28
4.2
Saran
...........................................................................................................................................
32
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................33

BAB 1. PENDAHULUAN
1. 1

Latar Belakang
Autis merupakan gangguan perkembangan yang kompleks dengan
gejalanya meliputi perbedaan dan ketidakmampuan dalam berbagai bidang
seperti kemampuan komunikasi sosial, kemampuan motorik kasar, motorik
halus dan tidak mampu mengadakan interaksi sosial seolah-olah hidup
dalam dunianya sendiri. Aspek gangguan perkembangan terwujud dalam
berbagai bentuk yang berbeda, dengan sekumpulan gejala klinis yang
dilatarbelakangi berbagai faktor yang sangat bervariasi, berkaitan satu
sama lain dan unik. Beberapa ahli menyebutnya sebagai Spektrum Autis
atau Autistic Spectrum Disorders (ASD) (Depkes RI, 2011).
Faktor penyebab terjadinya penyakit pada anak ada berbagai
macam yaitu dari lingkungan luar maupun dari lingkungan dalam sekitar
keluarga, namun untuk terjadinya autis lebih dominan terjadi dari
lingkungan dalam (terjadi dalam diri ibu). (CAE, 2011). Penyebab
munculnya autisme, antara lain karena adanya keracunan logam berat
ketika anak dalam kandungan, seperti timbale, merkuri, cadmium, spasma
infatil, rubella kongenital, sklerosis tuberosa, lipidosis serebral, dan
anomaly kromosom x rapuh. Selain itu anak autisme memiliki masalah
neorologis dengan cerebral cortex, cerebellum, otak tengah, otak kecil,
batang otak, pons, hipotalamus, hipofisis, medulla dan saraf-saraf panca
indera saraf penglihatan atau saraf pendengaran dan gejala umum yang
bisa diamati pada anak autis adalah gangguan pola tidur, gangguan
pencernaan, gangguan fungsi kognisi, tidak adanya kontak mata,
komunikasi satu arah, afasia, menstimulasi diri, mengamuk (temper
tantrum), tindakan agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh dan
gangguan motorik stereotipik (Triantoro, 2005 dalam Wahyuni, 2011).
Sampai saat ini autis masih menjadi permasalahan di dunia, baik di
negara maju maupun negara berkembang termasuk di Indonesia. Data dari
UNESCO (2011) tercatat sekitar 35 juta orang menderita autis, artinya

rata-rata 6 dari 1000 orang di dunia telah mengidap autis. Penelitian CDC
(Center for Disease Control) tahun 2008 di Amerika menyatakan anak
umur 8 tahun yang terdiagnosa dengan autis adalah 1 : 80. Data terbaru
dari Depkes RI (2013) tercatat jumlah penderita autis dengan usia di
bawah 15 tahun mencapai 112.000 jiwa.
1. 2

Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

1.3

Apa definisi dari autisme dan bagaimana klasifikasinya?


Bagaimana gejala dan tanda autisme?
Apa penyebab autisme?
Bagaimana manifestasi klinis pada autisme?
Makanan apa saja yang harus dikonsumsi anak autisme?
Bagaimana ciri-ciri autisme?
Bagaimana diagnosis autisme?
Bagaimana pengobatan dan pencegahan autisme?

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum


Untuk memahami autisme secara umum dan kaitannya dengan gizi
sebagai dasar pengetahuan untuk dapat terjun kedalam masyarakat dengan
mencegah maupun memecahkan masalah yang termasuk dalam spektrum
1.3.2

autisme yang terdapat dalam masyarakat.


Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi dari autisme dan bagaimana klasifikasinya
b. Mengetahui gejala dan tanda autisme
c. Mengetahui penyebab autisme
d. Mengetahui manifestasi klinis pada autisme
e. Mengetahui makanan apa saja yang harus dikonsumsi anak autisme
f. Mengetahui ciri-ciri autisme
g. Mengetahui diagnosis autisme
h. Mengetahui pengobatan dan pencegahan autisme
BAB 2. TINJAUAN PUSTKA

2.1

Definisi dan Klasifikasi Autisme


Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir
atau saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk
hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan
2

anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif,
aktivitas, dan minat yang obsesif (baron-cohen, 1993)
Klasifikasi autisme
a. Autisme persepsi
Autisme persepsi dianggap autisme asli karena kelainan sudah timbul
sebelum lahir . autisme ini terjadi karena beberapa faktor baik itu
berupa pengaruh keluarga, maupun pengaruh lingkungan, maupun
faktor lainnya. Gejala yang dapat diamati, antara lain :
(1) Rangsangan dari luar baik yang kecil maupun besar akan
menimbulkan kecemasan
(2) Banyaknya pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa
ditentukan. Sehingga akan timbul kecemasan yang berubah
menjadi kekecewaan sehingga dapat menyebabkan anak bersikap
masa bodoh
b. Autisme reaksi
Timbulnya autisme reaktif karena beberapa permasalahan yang
menimbulkan kecemasan seperti orang tua meninggal, sakit berat,
pindah

rumah/sekolah

dan

sebagainya.

Autisme

reaktif

akan

memunculkan gerakan-gerakan tertentu yang berulang dan kadang


disertai kejang-kejang. Gejala yang terjadi pada penderita autisme
reaktif meliputi :
(1)Mempunyai sifat rapuh, mudah terkena pengaruh luar yang timbul.
(2)Setiap kondisi bisa saja menjadi trauma pada anak yang berjiwa
rapuh sehinga dapat mempengaruhi perkembangan normalnya
c. Autisme yang timbul kemudian
Autisme jenis ini terjadi setelah anak agak besar, dikarenakan kelainan
jaringan otak yang terjadi setelah anak lahir. Hal ini akan mempersulit
memberikan pelatihan dan pndidikan untuk mengubah perilakunya
yang sudah melekat ditambah beberapa pengalaman baru dari hasil
interaksi dengan lingkungannya . untuk itu mendiagnosa dan intervensi
awal pada anak autis kelompok ini merupakan langkah yang harus
segera dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi anak tersebut.

2.2

Gejala dan Tanda Autisme


Anak-anak yang autisme mengalami gangguan perkembangan.
Umumnya anak-anak autisme tidak melakukan fase dimana ia mencoba
membangun kontak komunikasi melalui kontak mata. Ini adalah patron
yang khas dari anak penyandang autisme. Namun, menurut Buitelaar, kita
juga harus berhati-hati. Tentang ketidakadaan kontak mata ini tidak bisa
dijadikan sebagai diagnosa, sebab banyak juga anak normal yang tidak
melakukan kontak mata saat berinteraksi. Ada juga yang hanya sekilas
melakukan kontak mata, baginya sudah cukup. Jadi jangan menghitung
berapa lama ia mampu membangun kontak mata, sebab banyak anak
normal juga melakukan kontak mata hanya sekilas. Artinya yang harus
diperhatikan adalah kualitas dari kontak mata itu. Sebaliknya juga banyak
anak-anak autisme yang bisa lama melakukan kontak mata tetapi
kualitasnya sangat rendah. Ia memandang mata orang di hadapannya
namun tidak bisa membangun kontak secara emosional.
Kegagalan membangun kontak emosional

menyebabkan

perkembangan bicara juga menjadi terganggu dan akhirnya akan


menyebabkan

gangguan perkembangan bersosialisasi. Karena itu,

dijelaskan oleh Buitelaar bahwa dalam penegakan diagnosa autisme


perkembangan kemampuan bicara dan bahasa menjadi salah satu butir
yang penting. Tetapi juga harus berhati-hati, sebab anak-anak yang tidak
bisa bicara atau mengalami keterlambatan bicara, belum tentu ia adalah
penyandang autisme. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah
kemampuan berbahasa non-verbalnya.
Pada anak-anak autism selain ia mengalami gangguan komunikasi
secara verbal, ia juga mengalami gangguan komunikasi nonverbal. Pada
anak autisme yang mengalami kegagalan perkembangan membangun
kontak emosi tadi, dengan sendirinya juga ia mengalami kegagalan
membaca bahasa mimik, karena bahasa mimik pada dasarnya adalah
komunikasi dengan cara membaca emosi orang lain. Ketidakmampuan
membaca emosi orang lain dalam bentuk ekspresi muka orang lain inilah
yang kemudian menyebabkan anak-anak ini juga tidak mampu

mengekspresikan wajahnya. Ia adalah anak yang tidak berekspresi, tidak


mampu menunjukkan kehangatan, rasa senang atau marah.
Selain ia tak mampu mengutarakan emosinya ia juga kadang
mengalami

kesalahan

dalam

mengekspresikan

perasaannya,

atau

ekspresinya tidak pada tempatnya. Padahal komunikasi nonverbal ini


merupakan bentuk komukasi yang lebih banyak digunakan oleh kita
sehari-hari, dalam membangun hubungan dengan orang lain. Dengan kata
lain, sebagian besar komunikasi adalah berbentuk komunikasi non verbal.
Dengan sendirinya kegagalan komunikasi nonverbal ini akan pula
menyebabkan ia mengalami gangguan bersosialisasi, atau membangun
hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Pada sebuah tes
dengan anak autis yang lebih besar, di atas lima tahun, seringkali ia juga
mengalami kegagalan membaca jalan pikiran orang, dan merasakan
perasaan orang lain. Hal ini oleh Buitelaar ditunjukkan dengan suatu
demonstrasi The Theory of Minds, yaitu dengan permainan yang disebut
Sally and Anne. Demonstrasi ini menunjukkan bahwa bagaimana cara
berpikir seorang anak autisme, bahwa ia hanya mampu memakna
kejadian-kejadian tersebut secara harafiah. Ia juga mengalami kegagalan
dalam pengembangan bentuk fantasi dan imajinasi. Sehingga segalanya
menjadi kaku atau rigid dan tidak fleksibel.
Pada anak-anak autisme ini juga mengalami kegagalan dalam
melakukan memakna hubungan kejadian yang satu dengan yang lainnya.
Jadi seringkali ia mampu mengumpulkan banyak informasi secara detil
tetapi tidak mengerti apa fungsi setiap detilnya, dan konteksnya secara
global. Karena kegagalan berbagai perkembangan dalam melakukan
kontak dengan orang lain ini, ia juga akan bereaksi berbeda dari pada
anak-anak normal lainnya. Anak-anak ini juga sangat sulit menerima
perubahan, sangat rigid, dengan ritual-ritual yang sulit dirubah. Kepada
anak-anak ini perlu diajarkan bagaimana berperilaku fleksibel.
2.3

Penyebab Autisme
Menurut Huzaemah (2010), autis disebabkan multifaktor, yaitu:
a. Kerusakan jaringan otak

Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika menyatakan bahwa korelasi


antara autis dan cacat lahir yang disebabkan oleh Thalidomide
menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling
awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshe,
menemukan bahwa pada anak yang terkena autis, bagian otak yang
mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil daripada
anak normal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak
telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan, atau pada saat
kelahiran bayi. Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan
penyelidikan terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru
lahir. Empat sampel protein dari bayi yang normal mempunyai kadar
protein tinggi, yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar
protein tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan
mental (Huzaemah, 2010).
b. Terlalu banyak vaksin Hepatitis B
Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis
B bisa mengakibatkan anak mengidap penyakit autisme. Hal ini
dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal.
c. Kombinasi makanan atau lingkungan yang salah
Autis disebabkan kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang
terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada
usus besar, yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik
termasuk autis.
Penyebab terjadinya

belum diketahui secara pasti, hanya

diperkirakan mungkin adamya kelainan dari sistem saraf (neurologi)


dalam berbagai derajat berat ringannya penyakit. Penyebab yang tepat
masih dalam taraf perdebatan di antara para ahli, meskipun pernah pada

era 50an sampai 60an dikatakan penyebabnya adalah akibat dari pengaruh
perlakuan orang tua di masa kanak-kanak, namun sampai saat ini belum
ada data yang bisa dipertanggungjawabkan untuk membuktikan kebenaran
dari teori penyebab autisme adalah karena perilaku orang tua.
2.4

Manifestasi Klinis Autisme


Secara umum karakteristik klinik yang ditemukan pada anak autisme
menurut Yatim (2007), meliputi:
a. Sangat lambat dalam perkembangan bahasa, kurang menggunakan
bahasa, pola berbicara yang khas atau penggunaan kata-kata tidak
disertai arti yang normal.
b. Sangat lambat dalam mengerti hubungan sosial, sering menghindari
kontak mata, sering menyendiri, dan kurang berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya.
c. Ditandai dengan pembatasan aktivitas dan minat, anak autisme sering
memperlihatkan gerakan tubuh berulang, seperti bertepuk-tepuk
tangan, berputar-putar, memelintir atau memandang suatu objek secara
terus menerus.
d. Pola yang tidak seimbang pada fungsi mental dan intelektual, anak
autisme sangat peka terhadap perubahan lingkungan, dan bereaksi
secara emosional. Kemampuan intelektual sebagian besar mengalami
kemunduran atau inteligensia yang rendah dan sekitar 20 persen
mempunyai inteligensia di atas rata-rata.
e. Sebagian kecil anak autisme menunjukan masalah perilaku yang
sangat menyimpang seperti melukai diri sendiri atau menyerang orang
lain.
Ada 3 kelompok gejala yang harus diperhatikan untuk dapat mendiagnosis
autisme, yaitu dalam interaksi sosial, dalam komunikasi verbal, dan
nonverbal serta bermain dan dalam berbagai aktivitas serta minat. Namun
demikian, anak-anak autisme kemungkinan sangat berbeda satu dengan

yang lain, tergantung pada derajat kemampuan intelektual serta bahasanya.


Baik anak yang mutisme (membisu) dan suka menyendiri maupun anak
yang mampu bertanya dengan tata bahasa yang benar tapi tidak sesuai
dengan situasi yang ada, keduanya mempunyai diagnosis yang sama, yaitu
autisme. Dapat pula terjadi salah diagnosis pada keadaan fungsi intelektual
yang ekstrem (sangat tinggi atau sangat rendah). Hilangnya tingkah laku
yang khas autisme bersamaan dengan meningkatnya usia, membuat
diagnosis autisme yang dibuat setelah masa kanak-kanak lewat, menjadi
kurang dapat dipercaya (Masra, 2002).
2.5

Makanan Pada Anak Autisme


a. Makanan yang di anjurkan untuk penderita Autisme
(1) Pemberian ASI pada anak ASD hingga usia yang tepat dapat
membantu seorang anak ASD untuk tidak rentan terhadap infeksi
pada saluran pencernaannya (McCandless 2003).
(2) Dianjurkan untuk mengkonsumsi hidrat arang kompleks sebagai
pengganti gula sederhana (Sjambali 2003).
(3) Makanan anak autis yang dianjurkan adalah Sumber karbohidrat
yang tidak mengandung gluten, misalnya kentang, beras, singkong,
ubi jalar, dan ararut.
b. Makanan yang dilarang untuk penderita Autisme
Anak SD biasanya hanya menyukai makanan yang sangat terbatas
jenis dan nilai gizinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa casein
yang ditemukan pada susu sapi dan gluten yang ditemukan pada bahan
makanan yang berasal dari tepung-tepungan perlu dihindari oleh anak
ASD (McCandless 2003). Salah satu penyebab ASD adalah gangguan
metabolisme, maka pengaturan konsumsi pangan merupakan hal yang
penting untuk dilakukan. Makanan juga berguna untuk menghindari
timbulnya penyimpangan metabolisme selain untuk proses tumbuh
kembang (Wirakusumah 2003 diacu dalam Latifah 2004).
Gluten adalah sejenis protein yang didapatkan pada wheat
(gandum), oats, barley, rye, dan derivatnya. Casein adalah protein yang
terdapat pada air susu hewani dan mempunyai struktur mirip gluten.
Seseorang yang berada dalam keadaan normal, yang mengkonsumsi
makanan yang mengandung gluten dan casein akan dicerna secara
8

sempurna oleh proses kimia dan fisik menjadi asam amino tunggal dan
diserap oleh usus. Bahan makanan yang banyak dikonsumsi
masyarakat Indonesia dan mengandung gluten dan casein antara lain
roti, makaroni, susu sapi, dan keju (Sjambali 2003).
Gula sederhana adalah makanan utama dari jamur yang ada dalam
usus penderita ASD, hasil metabolit dari jamur ini sering menimbulkan
kelainan perilaku. Gula dapat meningkatkan pertumbuhan jamur pada
saluran pencernaan anak ASD, untuk itu sebaiknya konsumsi gula
sederhana dibatasi penggunaannya. Jenis gula yang perlu dihindari
anak ASD adalah sukrosa, fruktosa, galaktosa, madu, gula merah,
sirup, dan makanan lain yang mengandung gula yang tinggi, seperti
coklat.
c. Cara Mendapatkan/Membeli Makanan bagi Penderita Autisme
(1) Asi bisa didapat langsung dari sang ibu.
(2) Hidrat

arang

komplesk

bisa

dihasilkan

oleh

makanan

berkarbohidrat yang tidak mengandung gluten yang bisa didapat


dipasar, supermarket dan perkebunan sekitar.
(3) Kentang, beras, singkong, ubi jalar, dan ararut bisa di beli dipasar
atau menanamnya sendiri.
2.6

Ciri-ciri Anak Autisme


Menurut Handojo dalam Suteja 2014, beberapa karekteristik dari
perilaku autisme pada anak-anak antara lain :
a. Bahasa/ komunikasi
(1) Ekspresi wajah yang datar
(2) Tidak menggunakan bahasa /isyarat tubuh
(3) Jarang memaulai dengan komunikasi
(4) Tidak meniru aksi atau suara
(5) Bicara sedikit, atau tidak ada
(6) Intonasi atau ritme vokal yang aneh
(7) Tampak Tidak mengerti arti kata
(8) Mengerti dan menggunakan kata secara terbatas
b. Hubungan dengan orang
(1) Tidak responsive
(2) Tidak ada senyum social
9

(3) Tidak berkomunikasi dengan mata


(4) Kontak mata terbatas
(5) Tampak asyik bila dibiarkan sendiri
(6) Tidak melakukan permainan giliran
(7) Menggunakan tangan orang dewasa sebagai alat
c. Hubungan dengan lingkungan
(1) Bermain refetitif (diulang-ulang)
(2) Marah atau tidak menghendaki perubahan-perubahan
(3) Berkembangnya rutinitas yang kaku
(4) Memperlihatkan ketertarikan yang sangat tak fleksibel
d. Respon terhadap indera/ sensoris
(1) Kadang panik terhadap suara-suara tertentu
(2) Sangat sensitif terhadap suara
(3) Bermain-main dengan cahaya dan pantulan
(4) Memainkan jari-jari di depan mata
(5) Menarik diri ketika disentuh
(6) Tertarik pada pola dan tekstur tertentu
(7) Sangat in aktif atau hiperaktif
(8) Seringkali memutar-mutar, membentur-bentur kepala, menggingit
pergelangan
(9) Melompat-lompat atau mengepak-ngepakan tangan
(10) Tahan atau berespon aneh terhadap nyeri
e. Kesenjangan perkembangan perilaku
(1) Kemampuan mungkin sangat baik atau sangat terlambat
(2) Mempelajari keterampilan diluar urutan normal, misalnya membaca
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

2.7

tapi tak mengerti arti


Menggambar secara rinci tapi tidak dapat mengancing baju
Pintar mengerjakan puzzle, peg, tapi amat sukar mengikuti perintah
Berjalan pada usia normal, tetapi tidak berkomunikasi
Lancar membeo suara, tetapi sulit berbicara dari diri sendiri
Suatu waktu dapat melakukan sesuatu, tapi tidak di lain waktu

Diagnosis
Perbedaan antar golongan gangguan autistik (Autistic Disorder)
dengan gangguan Rett ( Retts Disorder), gangguan disintegatif masa anak
( Childhood Disintegrative Disorder) dan gangguan Asperger ( Aspergers
Disorder ). Gangguan autistik berbeda dengan gangguan Rett dalam rasio
jenis kelamin penderita dan pola berkembangnya hambatan. Gangguan
Rett hanya dijumpai pada wanita sementara gangguan Autistik lebih
banyak dijumpai pada pria dibanding wanita dengan ratio 3:1. Selanjutnya
pada sindroma Rett dijumpai pola perkembangan gangguan yang

10

disebabkan perlambatan pertumbuhan kepala (head growth deceleration),


hilangnya kemampuan ketrampilan tangan dan munculnya hambatan
koordinasi gerak. Pada masa prasekolah, samaseperti penderita autistik,
anak dengan gangguan Rett mengalami kesulitan dalam interaksi
sosialnya.
Selain itu gangguan Autistik berbeda dari Gangguan Disintegratif
masa anak, khususnya dalam hal pola kemunduran perkembangan. Pada
Gangguan

Disintegratif,

kemunduran

(regresi)

terjadi

setelah

perkembangan yang normal selama minimal 2 tahun sementara pada


gangguan autistik abnormalitas sudah muncul sejak tahun pertama
kelahiran. Selanjutnya, gangguan autistik dapat dibedakan dengan
gangguan

Asperger

karena

pada

penderita

aspergertidak

terjadi

keterlambatan bicara. Penderita Asperger sering juga disebut dengan


istilah High Function Autism , selain karena kemampuan komunikasi
mereka yang cukup normal juga disertai dengan kemampuan kognisi yang
memadai.
Adapun untuk menegakkan diagnosis autisme dapat digunakan
kriteria diagnostik menurut DSM IV, yaitu
a. Harus ada 6 gejala atau lebih dari 1, 2 dan 3 di bawah ini :
(1) Gangguan kualitatif dari interaksi sosial (minimal 2 gejala)
a) Gangguan pada beberapa kebiasaan non verbal seperti kontak
mata, ekspresi wajah, postur tubuh, sikap tubuh dan
pengaturan interaksi social
b) Kegagalan membina hubungan yang sesuai dengan tingkat
perkembangannya
c) Tidak ada usaha spontan membagi kesenangan, ketertarikan,
ataupun keberhasilan dengan orang lain (tidak ada usaha
menunjukkan,membawa, atau menunjukkan barang yang ia
tertarik)
d) Tidak ada timbal balik sosial maupun emosional
(2) Gangguan kualitatif dari komunikasi (minimal 1 gejala)
11

a) Keterlambatan atau tidak adanya perkembangan bahasa yang


diucapkan (tidak disertai dengan mimik ataupun sikap tubuh
yang merupakan usaha alternatif untuk kompensasi)
b) Pada individu dengan kemampuan bicara yang cukup.
Terdapat kegagalan dalam kemampuan berinisiatif maupun
mempertahankan percakapan dengan orang lain
c) Penggunaan bahasa yang meniru atau repetitif atau bahasa
idiosinkrasi
d) Tidak adanya variasu dan usaha untuk permainan imitasi
sosials esuai dengan tingkat perkembangan
(3) Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari
perilaku,minat dan aktivitas (minimal 1 gejala)
a) Kesibukan (preokupasi) dengan satu atau lebih pola
ketertarikan stereotipik yang abnormal baik dalam hal
intensitas maupun focus
b) Tampak terikan kepada rutinitas maupun ritual spesifik yang
tidak berguna
c) Kebiasaan motorik yang stereotipik dan repetitif (misalnya
mengibaskan atau memutar-mutar tangan atau jari, atau
gerakan tubuh yang kompleks)
d) Preokupasi persisten dengan bagian dari suatu obyek
b. Keterlambatan atau fungsi yang abnormal tersebut terjadi sebelum
umur 3 tahun, dengan adanya gangguan dalam 3 bidang yaitu : interaksi
sosial, penggunaan bahasa untuk komunikasi sosial, bermain simbol
atau imajinasi.
c. Kelainan tersebut bukan disebabkan oleh penyakit Rett atau gangguan
disintegratif (sindrom Heller).
2.8

Pengobatan dan Pencegahan


Penderita Autisme biasanya dirawat dan disekolahkan dalam
sekolah khusus anak autisme. Meskipun anak autis tidak bisa disembuhkan
secara sempurna, namun anak tersebut dapat dilatih agar mampu hidup
mandiri. Pendidikan yang diberikan pada sekolah khusus tersebut
12

umumnya menekankan pada pemberian stimulasi melalui terapi terapi


(psikoterapi) sehingga anak dapat mengadakan kontak sosial dan
mengurangi atau menghilangkan perilaku yang abnormal. misalnya
dengan teori penguatan perilaku yaitu memberikan sesuatu yang disukai
anak (buku puzzle) dengan syarat dia mau bergabung kembali dengan
kelasnya, ataupun Guru jika di sekolah yang mengingatkan anak untuk
menatap matanya.
Keluarga juga sangat berperan dalam melakukan terapi perilaku.
Kesabaran dan ketekunan orang tua untuk berusaha menerima dan
memberi stimulasi dengan kata kata, ataupun dengan memberikan kasih
sayang seperti selalu memeluk anak sampai tertidur. Umumnya terapi
terapi yang digunakan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala-nya,
beberapa jenis terapi yang biasa diberikan pada penderita autisme yaitu:
a. Terapi Edukasi,
Dengan memberinya pendidikan kognitif secara sederhana dan
praktis seperti membaca, menulis atau mengenalkan benda tertentu,
anak diberi kumpulan kartu yang berisi gambar dan nama nama orang
disekitarnya, serta hal hal yang perlu diperhatikan, misalnya gambar
oven dengan tulisan hati hati ini panas atau jangan bicara dengan
orang asing.
b. Terapi Okupasi
Yaitu dengan melatih gerakan motorik otot - ototnya, misalnya
dengan melepas baju, atau menaruh tas. misal melatih anak membuat
minuman

sendiri,

yaitu

membuka

bungkus

minuman,

lalu

mengaduknya, walaupun anak belum bisa mengambil sendiri jenis


minuman tersebut.
c. Terapi Bicara,
Yaitu pemberian stimulus tertentu yang mendorong anak untuk
berbicara. Contohnya tiap kali pulang dan masuk rumah selalu berkata
Mami, saya sudah pulang, tidak peduli ada atau tidak ibunya di
tempat itu.
d. Terapi obat-obatan,

13

Yaitu dengan memberikan obat yang menurunkan hiperaktifitas,


sterotipik, menarik diri, kegelisahan, dan afek yang labil. Contohnya
obat penenang (sesuai dosis)
e. Terapi Makanan,
Yaitu dengan memberikan gizi yang cukup pada makanan-nya agar
perkembangan sel tubuh tidak terganggu. Autisme memang tidak dapat
disembuhkan secara total, namun demikian diharapkan semakindini
dalam penanganan penderita autisme semakin besar kesempatannya
untuk dapat berperilaku normal, mandiri dan mampu menyesuaikan diri
terhadap lingkungan sekitarnya
Ada pun Macam-macam terapi autis lainnya diantaranya:
Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa
menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan
getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran
otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis.
Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus
merangsang kemampuan berbicara.
Terapi balur. Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh
tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan
mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyandang autis. Caranya,
menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit.
Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.
Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan
perhatian dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Caranya dengan
membuat si anak melakukan berbagai kegiatan seperti mengambil benda
yang ada di sekitarnya.
Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan
memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan
14

emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung


yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh
dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa
menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab
lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan
frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk
memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang
belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak
kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat
meningkatkan neurotransmitter.
Pencegahan

ini

dapat

dilakukan

sedini

mungkin

sejak

merencanakan kehamilan, saat kehamilan, persalinan dan periode usia


anak.
Cara Mengatasi Autisme
Pada tahap awal kehamilan seorang ibu hamil memerlukan gizi yang baik
agar dapat membantu kebutuhan nutrisi tubuh sehingga ibu dan bayi pun
tetap sehat. Vitamin sangat diperlukan dalam hal ini sebagai asupan
makanan untuk calon buah hati. Dengan memperhatikan gizi yang
seimbang maka proses melahirkan dapat berjalan lancar dan menurunkan
resiko calon bayi terjangkit autisme. Autis merupakan gangguan
perkembangan pada anak yang ditandai dengan adanya keterlambatan
mental dalam bidang tertentu misalnya perilaku, bahasa, komunikasi dan
interaksi sosial . Penyebab autis ini belum diketahui secara pasti. Namun
para ahli berpendapat bahwa autism disebabkan oleh faktor lingkungan
dan beberapa makanan yang mengandung racun yang akan berpengaruh
pada tingkah, perilaku maupun fisik seorang anak.
Pada masa kehamilan ,pertumbuhan susunan saraf otak janin mulai
berkembang dengan cepat . Apabila sang ibu mengalami gangguan atau
penyakit tentu saja akan berpengaruh pada janin. Gangguan pada otak
15

inilah yang nantinya akan berpengaruh pada perilaku anak di masa yang
akan datang.
Dalam menangani permasalahan ini perlu dilakukan beberapa pencegahan
agar terhindar dari autisme. Berikut beberapa cara mencegah autisme pada
bayi dan kanak kanak.
Pencegahan autis pada masa hamil
Langkah pertama Berkonsultasilah pada dokter spesialis kandungan baik
itu dalam merencanakan kehamilan atau saat masa hamil. Cek secara
berkala mengenai keadaan kandungan anda. Bila terjadi pendarahan segera
periksakan ke dokter. Pendarahan pada saat kehamilan menyebabkan
gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang akan berpengaruh
pada otak bayi.
Konsultasilah dengan dokter apabila akan mengkonsumsi obat. Konsumsi
obat yyang berlebihan dapat mengganggu susunan saraf otak bayi yang
akan mengakibatkan autism.
Beberapa makanan dapat mencegah autis bayi. Hal penting untuk
memenuhi kebutuhan gizi baik untuk wanita hamil maupun bagi bayi yang
sedang dikandung. Sayuran dan buah buahan sangat baik untuk
pemenuhan gizi bayi. Hindari makanan tinggi lemak yang akan menaikkan
kadar gula dalam darah. Konsumsi suplemen asam folat sangat diperlukan
pada trimester pertama untuk membantu menurunkan resiko neural tube
defects (cacat tabung saraf) seperti spina bifida dan autisme. Contoh
makanan yang mengandung asam folat adalah brokoli, bawang bombay,
bayam ,kacang polong, lobak, kentang, stroberi,ikan salmon dan lain lain
Pencegahan autis pada bayi
Segera bawa kedokter spesialis jika bayi atau anak anak mengalami ciriciri gangguan seperti sering muntah, tidak buang air besar beberapa hari,
sering kembung, sering buang angin, atau yang lainnya. Gangguan saluran
cerna yang berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan fungsi otak.

16

BAB 3. PEMBAHASAN
3. 1

Studi Kasus
1.

Studi Kasus 1
Sabtu, 29 Maret 2014 20:39 WIB
Padang (ANTARA News) - Psikiater dan pemerhati autisme, dr Kresno
Mulyadi, Sp.KJ menyatakan autis dapat disembuhkan melalui terapi
intensif nan terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya.
"Jika ada yang berpendapat autisme sudah baku dan tidak ada lagi harapan
itu paradigma lama. Berdasarkan temuan terbaru gangguan Autis dapat
disembuhkan melalui terapi dini secara intensif dan terpadu", kata Kresno
di Padang, Sabtu, pada Seminar Autism is Curable (autisme bisa sembuh).
Ia menerangkan terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi prilaku
diantaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari
UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).
Terapi ABA dilakukan intensif selama 40 jam per minggu dalam dua tahun
di mana berdasar hasil penelitian terjadi peningkatan IQ yang besar pada
penyandangnya,
katanya.
Kemudian, penyandang autis harus melakukan diet tidak mengkonsumsi
terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis
makanan
ini
memperparah
kondisinya.
Ia menjelaskan pada penyandang autis terjadi peningkatan daya serap di
mana protein yang seharusnya tidak lolos pada makanan yang
mengandung cokelat, terigu dan susu masuk ke peredaran darah dan
terbawa ke otak.
Setelah berada di otak zat yang terkandung pada makanan ini dinilai oleh
saraf memiliki rumus kimia seperti morfin sehingga memperburuk kondisi
penyandang autis dan dapat diibaratkan tengah mengkonsumsi morfin.
Sedangkan makanan yang mengandung terigu akan memperparah
pencernaan penyandang autis yang umumnya berjamur, kata dia.
Oleh karena itu pada penyandang autis, diet gula, terigu dan coklat akan
memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat

17

bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan
dihilangkan.
Setelah itu jika diperlukan masih ada terapi lain sebagai penunjang berupa
medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.
Kunci dari semua itu adalah terapi dini, intensif dan terpadu sehingga
penyandang autis akan bisa sembuh, katanya.
Ia mengatakan di Indonesia telah banyak penyandang autis yang dapat
disembuhkan dengan terapi tersebut dan berhasil menyelesaikan studinya
hingga meraih gelar sarjana.
Autis pertama kali diperkenalkan Leo Kanner pada 1943 dari bahasa
Yunani "Autos" yang memiliki arti sendiri atau seolah-olah hidup di
dunianya sendiri.
Autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis berat pada anak
sehingga menimbulkan masalah dalam berkomunikasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
Gejala Autis dapat dikenali dengan ciri-ciri minimnya interaksi dan emosi
yang labil serta buruknya kualitas komunikasi penyandangnya pada tiga
tahun pertama kehidupannya.
Penyandang autis memiliki gangguan interaksi sosial , komunikasi,
imajinasi serta pola prilaku yang berulang serta tidak mengikuti perubahan
rutinitas sehingga mereka terlihat aneh dan berbeda dengan anak lain.
Autis dapat terjadi pada anak siapa saja tanpa memandang latar belakang
sosial, ekonomi, budaya dan etnik di mana berdasarkan data 2012 dari
1.000 orang terdapat delapan penyandang autis didunia, sedangkan di
Indonesia mencapai 2,4 juta orang dengan penambahan penyandang baru
500 orang per tahun.
Autis disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan otak akibat faktor
genetik serta kondisi lingkungan berupa buruknya kualitas udara
menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat.
Salah seorang warga Padang yang keluarganya menderita penyakit ini,
Anwar (45), menilai informasi tentang autis dapat disembuhkan ini, akan
banyak membantu penderitanya karena harapan akan kembali sembuh
menjadi terbuka.
Editor: Jafar M Sidik

18

2. Studi Kasus 2
Nia (25) tak pernah menduga akan dikaruniai anak autis. Tapi apa daya, ia
pun hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Hanya usaha yang bisa ia lakukan
agar kelak putranya itu bisa hidup layaknya anak normal. Kevin adalah
adalah anak pertama pernikahan Nia dengan Anton Simbolon. Kini
usianya beranjak 5 tahun. Kelainan pada bocah lelaki kelahiran Medan, 1
Oktober 2002 ini mulai nampak ketika ia berusia dua tahun. Di usia itu ia
belum bisa bicara dengan jelas. Namun hingga enam bulan kemudian,
Kevin belum menampakkan perubahan. Bahkan, perilaku Kevin tampak
semakin tidak seperti biasanya. Hal inilah yang akhirnya menyadarkan Nia
bahwa ia perlu memeriksakan apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya
itu. Karena kurangnya informasi tentang kelainan Kevin, Nia kemudian
membawa Kevin ke Bandung. Kebetulan waktu itu dr Meli Budiman
sedang berkunjung ke Bandung. Dan atas diagnosa sang dokter, Kevin
dijelasakan positif mengidap autis. Sayangnya, Kevin hanya bisa
menjalani terapi selama enam bulan karena terkendala masalah biaya.
Maka dengan terpaksa Nia pun kembali ke Medan dengan harapan
mendapat dukungan dari orangtua dan keluarga. Namun kenyataan yang
terjadi justru sebaliknya. Nia tidak mendapat respon dan dukungan dari
mereka, yang bahkan tidak menerima kenyataan yang menimpa Kevin.
Bagi Nia, menerima kenyataan memiliki anak menderita autis awalnya
sangatlah tidak mudah. Apalagi Kevin adalah putra pertamanya dari
perkawinan mudanya. Rasa minder pun sering dialaminya. Tapi perasaan
itu justru menyadarkannya bahwa ia harus menerima Kevin bagaimanapun
ia adanya. Sikap menerima adalah kunci ketabahan bagi setiap orangtua
yang memiliki anak autis, jelas Nia. Sikap yang pada awalnya sulit ia
lakukan. Kalau bukan orangtua yang berusaha mendekatkan diri, maka
semakin sulit bagi penderita autis untuk hidup berkembang seperti yang
diharapkan, katanya. Nia pun mengaku semakin sadar akan makna cinta
sesungguhnya. Juga semakin sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang
bagaimanapun ia adanya haruslah dijaga dan dibesarkan dengan ikhlas.
Bahkan dengan rasa syukur. Jika Kevin tidak menderita autis, mungkin

19

cinta saya tidak sebesar ini. Jika Kevin tumbuh normal, mungkin saya
tidak akan merasakan kebahagiaan yang pasti tidak dirasakan orangtua
lain, tambahnya. Kebahagiaan orangtua yang memiliki anak autis seperti
Nia memang berbeda dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh orangtua
yang memiliki anak normal. Nia mengaku akan bahagia jika misalanya,
Kevin menunjukkan ekspresinya ketika dipanggil oleh ibunya; jika ia
berbicara dengan baik atau ketika anaknya itu mampu melakukan hal lain
yang bisa dilakukan anak normal, meski tak banyak.Mungkin kedengaran
biasa saja bagi orang lain. Tapi itulah kebagiaan saya sebagai orang tua
yang memiliki anak pengidap autis, katanya dengan raut wajah sedih.

3. 2

Analisis Studi Kasus


1. Studi Kasus 1
a. Ulasan Singkat Berita
Autis pertama kali diperkenalkan Leo Kanner pada 1943 dari bahasa
Yunani "Autos" yang memiliki arti sendiri atau seolah-olah hidup di
dunianya

sendiri.

Autis

merupakan

gangguan

perkembangan

neurobiologis berat pada anak sehingga menimbulkan masalah dalam


berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Autis dapat
terjadi pada anak siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial,
ekonomi, budaya dan etnik di mana berdasarkan data 2012 dari 1.000
orang terdapat delapan penyandang autis didunia, sedangkan di
Indonesia mencapai 2,4 juta orang dengan penambahan penyandang
baru 500 orang per tahun.
Gejala Autis dapat dikenali dengan ciri-ciri minimnya interaksi dan
emosi yang labil serta buruknya kualitas komunikasi penyandangnya
pada tiga tahun pertama kehidupannya. Penyandang autis memiliki
gangguan interaksi sosial , komunikasi, imajinasi serta pola prilaku
yang berulang serta tidak mengikuti perubahan rutinitas sehingga
mereka terlihat aneh dan berbeda dengan anak lain.

20

Banyak orang tua yang merasa berkecil hati ketika mengetahui bahwa
anak-anak kesayangannya menderita autisme ini. Namun, hal ini bukan
berarti bahwa autisme tidak dapat disembuhkan. Menurut Psikiater dan
pemerhati autisme, dr Kresno Mulyadi, Sp.KJ menyatakan autis dapat
disembuhkan. Autisme dapat disembuhkan melalui terapi intensif nan
terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya.
Terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi prilaku diantaranya
menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA
yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA). Terapi ABA dilakukan
intensif selama 40 jam per minggu dalam dua tahun di mana berdasar
hasil penelitian terjadi peningkatan IQ yang besar pada penyandangnya.
Saat ini telah banyak metode-metode terapi yang dikembangkan untuk
membantu menyembuhkan kejadian autisme tersebut, namun hal
penting yang perlu diperhatikan disini adalah terkait dengan diet pada
penderita autisme.
Penyandang autis harus melakukan diet khusus, yakni dengan tidak
mengkonsumsi terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi
biomedik jenis makanan ini memperparah kondisinya. dr Kresno
Mulyadi, Sp.KJ menjelaskan pada penyandang autis terjadi peningkatan
daya serap di mana protein yang seharusnya tidak lolos pada makanan
yang mengandung cokelat, terigu dan susu masuk ke peredaran darah
dan terbawa ke otak. Setelah berada di otak zat yang terkandung pada
makanan ini dinilai oleh saraf memiliki rumus kimia seperti morfin
sehingga memperburuk kondisi penyandang autis dan dapat diibaratkan
tengah mengkonsumsi morfin. Sedangkan makanan yang mengandung
terigu akan memperparah pencernaan penyandang autis yang umumnya
berjamur.
Oleh karena itu pada penyandang autis, diet gula, terigu dan coklat akan
memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat
bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan
dihilangkan.
21

b. Diet pada Penyandang Autisme


Kasus autisme pada anak (autism infantile) semakin banyak sehingga
menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat terutama orang tua.
Prediksi penderita autis dari tahun ke tahun semakin
Indonesia

tahun

meningkat.

2015

Di

diperkirakan

satu per 250 anak mengalami gangguan spektrum autis. Tahun 2015 di
Indonesia diperkirakan terdapat kurang lebih 12.800 autism dan
134.000 penyandangspektrum autis (Judarwanto, 2015). Kata autisme
berasal dari bahasa yunani

autos

yang

berarti

sendiri,

jadi

penyandang autisme pada dasarnya seseorang yang cenderung


menikmati kegiatan dengan dirinya. Autisme merupakan kelainan yang
terjadi

pada

anak

yang

tidak

mengalami perkembangan normal, khususnya dalam hubungan dengan


orang lain. (Winarno, 2013 :1)
Gejala autis meliputi gangguan komunikasi, interaksi sosial dan
perilaku. Gejala autis bisa terlihat ketika anak memasuki usia 1 tahun.
Gejala ini berdampak

pada keterlambatan

perkembangan dan

pertumbuhan terutama pada baha untuk berkomunikasi dengan orang


lain. Autis cenderung mengulang kata-kata dan mengalami kesulitan
untuk memulai pembicaraan sehingga lebih memilih diam dan sibuk
dengan kegiatannya sendiri. Anak autis mengalami kerusakan hubungan
sosial, terkadang menarik diri dari lingkungannya.
Terdapat beberapa hal yang dapat memicu timbulnya autism termasuk
pengaruh makanan atau alergi makanan (Judarwanto, 2005). Alergi
pangan dapat memperburuk kondisi pasien autis terutama dua alergen
utama, yaitu: gluten (protein gandum) dan kasein (protein susu)
(Winarno, 2008 : 4). Pengaturan pola konsumsi makanan bisa
mengurangi perilaku pada anak autis sehingga anak autis tidak
mengalami alergi makanan.

22

Pola konsumsi makanan adalah kebiasaan makan yang meliputi jumlah,


frekuensi dan jenis atau maca makanan. Penentuan pola konsumsi
makan harus memperhatikan nilai gizi makanan dan kecukupan zat
dengan anak yang memiliki kondisi normal. Pola konsumsi makanan
harus memperhatikan makanan yang diianjurkan dan makanan yang
harus dihindarkan. Pada anak autisme terdapat beberapa jenis makanan
yang tidak boleh dikonsumsi, hal ini disebabkan karena adanya
gangguan pada sistem pencernaan anak. Makanan yang mengandung
zat-zat gizi tinggi tidak selamanya dapat dicerna dan diterima oleh anak
penyandang autisme dimana gangguan saluran cerna yang dialami oleh
anak autisme antara lain seperti alergi makanan, intoleransi makanan,
intoleransi gluten, intoleransi casein dan sebagainya (Judarwanto 2009).
Oleh karena itu anak autisme memerlukan diet khusus sebagai terapi
penyembuhan dan menghindari masalah kekurangan gizi yang
berdampak pada pertumbuhannya secara fisik dan perkembangannya.
c. Faktor Penyebab Gangguan Makan pada Anak Autisme
Terdapat berbagai macam faktor dapat yang menyebabkan gangguan
makan pada autisme, antisipasi secara dini dapat dilakukan untuk
menghindari hal-hal yang dapat memperparah kondisi pada anak
autisme. Menurut Soenardi dan Soetardjo dalam Yanti (2009), terdapat
beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya gangguan makan
pada autisme antaralain sebagai berikut :
(1) Gangguan Pencernaan Protein Gluten dan Kasein
Gangguan Pencernaan Protein Gluten dan Kasein Gluten adalah
protein tepung terigu dan kasein adalah protein susu. Anak dengan
gangguan autisme sering mengalami gangguan mencerna gluten dan
kasein. Menurut P. Deufemia, anak dengan gangguan autisme
banyak mengalami leaky guts (kebocoran usus). Pada usus yang
normal sejumlah kecil peptida dapat juga merembes ke aliran darah,
tetapi sistem imun tubuh dapat segera mengatasinya. Peptida berasal
dari gluten (gluteomorphin) dan peptida kasein (caseomorphin)
23

yang tidak tercerna sempurna, bersama aliran darah masuk ke otak


lalu ke reseptor opioid. Peningkatan aktivitas opioid akan
menyebabkan gangguan susunan saraf pusat dan dapat berpengaruh
terhadap persepsi, emosi, perilaku dan sensitivitas. Opioid adalah
zat yang bekerjanya mirip morphine dan secara alami dikenal
sebagai beta endorphin.
Endorphin adalah penekan/pengurang rasa sakit yang secara alami
diproduksi oleh tubuh. Pada anak dengan gangguan autisme,
kadang-kadang endorphin bekerja terlalu jauh dalam menekan rasa
sakit sehingga anak akan tahan terhadap rasa sakit yang berlebihan.
Menurut ilmuwan Christopher Gillberg, pada anak autisme, kadar
zat semacam endorphin pada otak meningkat sehingga dapat
menyebabkan gangguan pada fungsi otak. Dari beberapa penelitian
pemberian diet tanpa gluten dan kasein ternyata memberikan respon
yang baik terhadap 81% anak autisme.
(2) Infeksi Jamur/yeast
Dalam usus terdapat berbagai jenis mikroorganisme misalnya
bakteri dan jamur, yang hidup berdampingan tanpa mengganggu
kesehatan. Yeast yang dimaksud di sini adalah sejenis jamur, berupa
organisme bersel tunggal yang hidup pada permukaan buah,
sayuran, butir/bulir, kulit, dan usus. Candida albican adalah sejenis
yeast yang hidup dalam saluran cerna, yang dalam keadaan normal
tidak mengganggu kesehatan. Apabila keseimbangan dengan
mikroorganisme lain terganggu, maka salah satu akan tumbuh
berlebihan dan dapat menyebabkan penyakit. Pemberian antibiotika
seperti amoxicillin, ampicillin, tetracycline, keflex yang terlalu lama
dan sering akan menyebabkan bakteri baik (lactobacillus) akan ikut
terbunuh sehingga akan mengganggu kesehatan. Antibiotik tidak
membunuh candida, akibatnya jamur akan tumbuh subur dan dapat
mengeluarkan racun yang melemahkan sistem imun tubuh sehingga
mudah terjadi infeksi.

24

(3) Alergi dan Intoleransi Makanan


Hal lain yang diduga berperan pada masalah autisme adalah alergi
dan intoleransi makanan. Gejalanya bermacam-macam, misalnya
sakit kepala, sakit perut, diare, mual, gangguan tidur, cengeng,
hiperaktif, agresif, gampang marah, infeksi telinga, dan lain-lain.
Alergi makanan adalah reaksi tubuh terhadap makanan atau
komponen makanan yang menyimpang dari normal, melibatkan
sistem imun, dan menimbulkan gejala yang merugikan tubuh.
Semua zat yang menyebabkan reaksi imunologi disebut alergen.
Apabila alergen masuk ke dalam tubuh, maka zat antibodi terhadap
alergen tersebut dilepas sehingga memicu terjadninya alergi. Potensi
terjadinya alergi makanan pada seseorang sering merupakan
keturunan. Beberapa makanan yang sering menimbulkan alergi
antara lain ikan, udang, telur, dan susu. Intoleransi makanan
merupakan reaksi negatif terhadap makanan dan menimbulkan
beberapa gejala, namun tidak melibatkan sistem imun tubuh.
Intoleransi makanan disebabkan kekurangan enzim untuk mencerna
zat tertentu dalam makanan. Misalnya toleransi susu dapat
diakibatkan kekurangan enzim laktase yaitu enzim yang memecah
laktosa (gula susu). Makanan yang sering menimbulkan reaksi
intoleransi adalah susu, telur, gandum, dan kacang-kacangan, serupa
dengan makanan yang dapat menyebabkan masalah pada anak
autisme. Untuk mendiagnosa alergi dan intoleransi makanan
tertentu, orangtua sering mengalami kesulitan karena reaksi dapat
terjadi segera atau sampai 72 jam setelah makan.
(4) Keracunan Logam Berat
Ada hubungan yang jelas antara keracunan logam berat dan
berbagai gangguan syaraf. Logam berat seperti timbal (Pb), merkuri
(Hg), arsenik, aluminium, dan lainnya masuk ke dalam tubuh secara
tidak sengaja melalui udara, air, makanan, obat, kosmetik,
vaksinasi, dan sebagainya. Timbal dipakai misalnya dalam bensin,

25

minyak pelumas, cat tembok, batu batere, dan aki mobil/motor.


Sedangkan merkuri (Hg) banyak dipakai dalam bidang kedokteran
sebagai tambal gigi, obat tetes mata, thermometer, tensimeter,
kosmetik, juga digunakan dalam mendulang emas, menyamak kulit,
dan mengawetkan gandum supaya tidak berjamur. Aluminium
banyak digunakan sebagai alat masak seperti wajan dan panci.
Logam berat merupakan racun keras terhadap susunan saraf pusat,
terutama pada anak karena metabolismenya lebih cepat. Keracunan
logam berat juga dapat menyebabkan masalah pada sistem organ
tubuh. Misalnya, keracunan merkuri dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan sel-sel imun dalam tubuh, mengganggu respon imun
terhadap makanan, dan dapat mengakibatkan kekurangan seng dan
selenium. Tes keracunan logam berat dapat dilakukan melalui darah,
rambut, dan urin/air seni. Bila ternyata menderita keracunan logam
berat, maka cara membuang logam beracun dari tubuh antara lain
dengan terapi chelasi.
d.

Penanganan Gangguan Makan pada Autisme


Gangguan pencernaan kronis tampaknya sebagai penyebab yang
paling penting dalam gangguan makan yang terjadi pada anak
autisme. Gangguan saluran cerna kronis yang terjadi adalah
imaturitas saluran cerna, alergi makanan, intoleransi makanan,
penyakit coeliac dan gangguan reaksi simpang makanan lainnya.
Sebagian besar kelainan reaksi simpang makanan tersebut terjadi
karena adanya jenis makanan yang mengganggu saluran cerna anak
sehingga menimbulkan kesulitan makan.
Berkaitan dengan hal ini tampaknya pendekatan diet merupakan
penatalaksanaan terkini yang cukup inovatif. Terapi diet harus
disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut
beberapa contoh diet untuk anak autisme menurut Soenardi dan
Soetardjo dalam Yanti (2009).

26

(1) Diet Tanpa Gluten dan Tanpa Kasein


Berbagai diet sering direkomendasikan untuk anak dengan
gangguan autisme. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet
tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan
dan minuman yang mengandung gluten dan kasein. Gluten
adalah

protein

yang

secara

alami

terdapat

dalam

gandum/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi


kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan
sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang
sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan
masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya,
diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang
Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten.
Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus
biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu. Apabila
setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada
kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat
diberi makanan seperti sebelumnya.
(2) Diet Anti-yeast/ragi/jamur
Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi
jamur/yeast. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa
pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka makanan
yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur.
(3) Diet untuk Alergi dan Inteloransi Makanan
Anak autisme umumnya menderita alergi berat. Makanan yang
sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu,
coklat, gandum/terigu, dan bisa lebih banyak lagi. Cara
mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan,
pertama-tama

perlu

diperhatikan

sumber

penyebabnya.

Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi

27

harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur,


maka semua makanan yang menggunakan telur harus
dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur
hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut
dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.
2. Studi Kasus 2
Menurut Eisenberg dan Kanner (1956) (dalam Achenbach,1982:
424 ) pengenalan autis ditunjukan dengan dua simptom utama, yaitu :
(1) Isolasi diri yang ekstrim, muncul sejak tahun pertama kehidupan.
(2) Obsesi untuk melakukan gerakan yang monoton
Kanner mendiagnosis, bahwa semua anak autis memperlihatkan
bicara yang tidak normal, ada bicara datar, atau mengalami keterlambatan
dalam berbicara, ekolalia, pengulangan bilangan, dan bicara dengan
makna kiasan yang tinggi, dalam berkomunikasi cenderung sulit untuk
dipahami. Pada kasus Kevin, tampak bahwa Kevin menderita autisme
yang ditandai dengan cara berbicara yang tidak jelas.
Penanganan Autisme:
1. terutama melalui program pendidikan dan latihan di ikuti
pelayanan dan perlakuan lingkungan yang wajar.
2. untuk mngurangi perilaku anak yang tidak wajar, pengasuh dan
orang tua harus di ajari cara menghadapi anak autisme.
3. pengobatan yang dilakukan adalah untuk membatasi memberatnya
gejala dan keluhan, sejalan dengan pertambahan usia anak.
4. diusahakan agar anak meningkatkan perhatian dan tanggung jawab
terhadap orang sekitarnya.
5. untuk mencapai keadaan tersebut, bimbingan dan pendidikan harus
dilakukan secara perorangan, dan tidak mungkin efektif bila di
lakukan secara kelas.
6. orang tua, saudara atau pelatih sukarela, harus ikut menyediakan
waktu dan perhatian beesama-sama tenaga penolong sehingga anak

28

tidak mempunyai peluang untuk kembali pada kebiasaannya yang


kurang baik, yang sudah terbiasa dia lakukan sebelumnya.
7. perlunya menegakkan diagnosa autisme secara dini.
Selain itu dapat dilakukan program pelatihan anak autisme antara lain :
a) Program playgroup untuk anak autisme usia prasekolah.
b) Program wisata dan rekreasi.
c) Konsultasi disertai pelatihan bagi orang tua dan kelurga anak
autisme.
d) Tempat tinggal/ruang perawatan anak autisme bila keluarganya
tidak mampu menanggulangi di dalam keluarga.
e) Latihan kerja dan beberapa program persiapan bergaul dan bekerja
dimasyarakat bagi anak autisme yang sudah agak besar dan remaja.
f) Fasilitas perawatan gigi, dan pelayanan kesehatan khusus untuk
penderita autisme.
g) Persiapan fasilitas lain di dalam masyarakat sehingga penderita
autisme tidak terlalu tergantung pada orang sekitarnya.
Berikut ini langkah-langkah yang diperlukan dalam pengelolaan
penderita autisme.
a) tentukan terlebih dahulu masalah penyimpangan perilaku dan
perilaku yang mana kira-kira kita perlu ditingkatkan.
b) tentukan berapa sering timbulnya penyimpangan perilaku tersebut.
c) tentukan apa faktor pencetus timbulnya penyimpangan perilaku
tersebut.
d) tentukan perubahan mana yang perlu untuk meningkatkan atau
mengurangi penyimpangan perilaku.
e) rencanakan program tersebut.
f) yakinkan dan usahakan agar semua pihak yang terlibat ikut peduli
dengan program tersebut.
g) periksa dan usahakan agar semua program yang direncanakan bisa
berjalan secara konsisten.

29

h) adakan penilaian program secara teratur dan jangan terlalu


mengharapkan

hasilnya dalam waktu singkat.

i) adakan modifikasi atau hentikan program setelah hasil yang anda


harapkan tercapai. Ingat, beberapa jenis kelainan
perilaku tidak mudah untuk di ubah. Salah seorang ahli
menganjurkan, paling tidak, 3 bulan setelah program dilaksanakan
baru dilakukan penilaian apakah berhasil atau gagal. Bila terlalu
buru-buru mengubah langkah pengelolaan, bisa menimbulkan
malapetaka bagi si penderita.
j) memberikan permainan yang rutin dan tetap merupakan jenis
pengobatan

bagi anak autisme, yang bisa mengurangi kecemasan

dan meningkatkan

rasa aman dalam dunianya.

k) bergaul akrab dengan penderita, menuntun dalam berjalan,


misalnya berekreasi, juga di anjurkan oleh para profesional.
l) pengobatan secara psikologi dan secara bermain, termasuk yang
dianjurkan juga.
m)begitu juga latihan memilih dan latihan berkomunikasi.

30

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
a. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang
kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
b. Umumnya anak-anak autisme tidak melakukan fase dimana ia mencoba
membangun kontak komunikasi melalui kontak mata, yang
menyebabkan perkembsngsn bicara juga terganggu.
c. Penyebab autism yaitu kerusakan jaringan otak, terlalu banyak vaksin
hepatitis B dan kombinasi makanan atau lingkungan yang salah.
d. Ciri anak autism dapat dilihat dari cara komunikasi/bahasanya,
hubungan dengan orang, hubungan dengan lingkungan, respon terhadap
indera, serta kesenjangan perkembangan perilakunya.
4.2 Saran
a. Makanan yang dianjurkan untuk penderita autism antara lain:
pemberian ASI pada anak ASD hingga usia yang tepat, mengonsumsi
hidrat arang komplleks sebagai pengganti gula sederhana, dan sumber
karbohidrat yang tidak mengandung gluten misalnya kentang.
b. Makanan yang dilarang untuk penderita autism adalah casein yang
ditemukan pada susu sapi dan gluten yang ditemukan pada bahan
makanan yang berasal dari tepung-tepungan perlu dihindari oleh anak
ASD.
c. Pengobatan anak autism dapat dilakukan dengan terapi antara lain:
terapi edukasi, okupasi, terapi bicara, terapi obat-obatan, terapi
makanan, akupuntur, balur, terapi perilaku, dan terapi lumba-lumba.
d. Cara pencegahan autism pada masa hamil yaitu berkonsultasilah pada
dokter spesialis kandungan baik, memakan makanan yang dapat
mencegah autis pada bayi.
e. Cara penceegahan autis pada bayi yaitu bawa kedokter spesialis jika
bayi atau anak anak mengalami ciri-ciri gangguan seperti sering
muntah, tidak buang air besar beberapa hari, sering kembung, sering
buang angin, atau yang lainnya. Gangguan saluran cerna yang
berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan fungsi otak.

DAFTAR PUSTAKA

31

Suteja, Jaja. 2014. BENTUK DAN METODE TERAPI TERHADAP ANAK


AUTISME
AKIBAT BENTUKAN PERILAKU SOSIAL. Jurnal Edueksos Vol III No 1.
Jurusan BKI IAIN Syekh Nurjati Cirebon
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82607&val=970

(Diakses

tanggal 21 November 2016)


https://www.scribd.com/document/328737297/autisme-pdf (Diakses tanggal 21
November 2016)
Lenny, I. 2008. PENGASUHAN (MAKAN, HIDUP SEHAT, DAN BERMAIN),
KONSUMSI DAN STATUS GIZI PENDERITA AUTISM SPECTRUM
DISORDER (ASD).
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/1979/A08ils.pdf;jsessionid
=0DE8FE559B025AC55F73A71FF9BCAC68?sequence=5 (diakses 21 Nov
2016)
Huzaemah. 2010. Kenali Autisme Sejak Dini. Jakarta : Pustaka Populer Obor.
Yatim, Faisal. (ttahun). Autisme : Suatu Gangguan Jiwa pada Anak-anak. Jakarta :
Pustaka Populer Obor
Priyatna, Andri. 2010. Amazing Autisme! Memahami, Mencegah, dan Mendidik
Anak Autis). Jakarta : PT. Gramedia
Wahyuni, S. 2011. Penyesuaian diri orang tua terhadap perilaku anak autisme di
Dusun Samirono, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Skripsi.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
http://komunitasputerakembara.net/joomla/images/stories/widodo/pencegahan_aut
is.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30383/5/Chapter%20I.pdf

32