Você está na página 1de 26

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia
(2008:17) tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Laporan Keuangan menyajikan
laporan keuangan perusahaan dan kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Posisi
keuangan perusahaan ditunjukkan dalam laporan Neraca. Dalam laporan Neraca tersebut kita
dapat mengetahui kekayaan atau asset yang dimiliki (sisi aktiva), dan di sisi pasiva dapat kita
ketahui dari mana dana-dana untuk membiayai aktiva (dari modal sendiri atau hutang)
tersebut kita peroleh sedangkan kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba dapat kita lihat
dalam laporan Laba/Rugi yang diterbitkan oleh perusahaan. Laporan keuangan yang
diterbitkan oleh perusahaan memang memberikan informasi posisi dan kondisi keuangan
perusahaan akan tetapi laporan keuangan tersebut perlu kita analisa lebih lanjut dengan alat
analisa keuangan yang ada untuk mendapatkan informasi yang lebih berguna dan lebih
spesifik dalam menjelaskan posisi dan kondisi keuangan perusahaan.
Mengingat pentingnya pengambilan keputusan tentang investasi piutang maka akan
berkaitan dengan analisa rasio-rasio, sehingga setiap perusahaan harus selalu memantau
kinerjanya dari apsek rasio tersebut. Begitu pula halnya koperasi yang merupakan lembaga
keuangan, koperasi perlu melakukan perhitungan menggunakan rasio tersebut untuk
mengukur kinerja keuangannya.
2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian laporan keuangan?
2. Apa saja jenis-jenis rasio keuangan?
3. Bagaimana penerapan rasio keuangan di kopdit swastiastu singaraja?
3. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui pengertian laporan keuangan
2. Untuk mengetahui jenis-jenis rasio keuangan
3. Untuk mengetahui penerapan rasio keuangan di kopdit swastiastu
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN


Dalam praktiknya setiap perusahaan, baik bank maupun nonbank pada suatu waktu
(periode) akan melaporkan semua kegiatan keuangannya. Laporan keuangan ini bertujuan
untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan baik kepada pemilik, manajemen
maupun pihak luar yang berkepentingan terhadap laporan tersebut. Dalam laporan keuangan
termuat informasi mengenai jumlah kekayaan (asset) dan jenis-jenis kekayaan yang dimiliki,
kewajiban-kewajiban (utang) yang dimiliki baik jangka panjang maupun jangka pendek, serta
ekuitas (modal) yang dimilikinya (Kasmir, Jakfar , 2003 : 124).
Kemudian laporan keuangan juga memberikan informasi tentang hasil-hasil usaha
yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode tertentu dan biaya-biaya atau beban yang
dikeluarkan untuk memperoleh hasil tersebut. Informasi ini akan termuat dalam laporan
laba/rugi. Laporan keuangan perusahaan juga memberikan gambaran tentang arus kas.
Dari laporan keuangan akan tergambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan
sehingga memudahkan untuk menilai kinerja manajemen perusahaan yang bersangkutan.
Penilaian kinerja manajemen akan menjadi patokan apakah manajemen berhasil atau tidak
dalam menjalankan kebijakan yang telah digariskan oleh perusahaan.
2. JENIS JENIS RASIO KEUANGAN
Pada dasarnya ada banyak sekali macam-macam atau jumlah angka-angka rasio karena
rasio dapat dibuat menurut kebutuhsn penganalisis.
Rasio-rasio dikelompokkan kedalam 5 kelompok dasar yaitu :
1) Rasio Likuiditas, bertujuan mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya
2) Rasio Leverage, bertujuan mengukur sejauh mana kebutuhan keuangan perusahaan
dibelanjai dengan dana pinjaman
3) Rasio aktivitas, bertujuan mengukur efektifitas perusahaan dala mengoperasikan dana
4) Rasio profitabilitas, bertujuan mengukur efektifitas manajemen yang tercermin pada
imabalan hasil dari investasi melalui kegiatan penjualan
5) Rasio penilaian, bertujuan mengukur performance perusahaan secara keseluruhan karena
rasio ini merupakan pencerminan dari rasio resiko da rasio imbalan hasil. (Jumingan,
2008 : 123).
Dalam makalah menganalisis kinerja keuangan Kopdit Swastiastu singaraja dilihat dari
analisis rasio keuangan.
Rasio yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Perbandingan absolute
2. Perbandingan prosentase
3. Rasio likuiditas
2

4. Rasio Solvabilitas
5. Rasio Rentabilitas
6. Rasio Aktivitas
3. PENERAPAN RASIO KEUANGAN DI KOPDIT SWASTIASTU SINGARAJA
1. Perbandingan absolute atau Nilai Rupiah
ANALISIS NILAI RUPIAH TERHADAP
LAPORAN NERACA KOPDIT SUASTIASTU
TAHUN 2013 & 2014
Berdasarkan Laporan Neraca Kopdit Suastiastu Tahun 2013 & Tahun 2014 dapat dilihat
dari Total Asset/Total Aktiva dimana pada tahun 2013 sebesar Rp 44.000.991.817 rupiah dan
pada tahun 2014 menjadi sebesar Rp 51.060.441.039 rupiah terjadi pertumbuhan sebesar Rp
7.059.449.222 rupiah atau 16%. Pertumbuhan yang terdapat pada Total Aktiva didukung oleh
akun-akun yang terdapat pada Aktiva Lancar dengan jumalah Aktiva Lancar pada tahun 2013
sebesar Rp. 38.101.846.308 Rupiah dan pada tahun 2014 Sebesar Rp. 44.807.425.831 yang
menandakan terjadinya pertumbuhan sebesar Rp. Rp. 6.705.579.523 Rupiah atau 18 %. Dilihat
dari masing masing akun aktiva lancar yaitu Kas pada tahun 2013 sebesar Rp 7.244.976.733
rupiah dan pada tahun 2014 menjadi sebesar Rp 2.963.026.088 terjadi penurunan sekitar Rp
4.281.950.645 atau -59%. Terjadinya penurunan pada akun Kas menandakan bahwa
pengelolaan dana dari perusahaaan sangat baik. Akun pada pinjaman yang diberikan juga
terjadi peningkatan sebesar Rp. 11.568.902.280 Rupiah dimana pada tahun 2013 sebesar Rp.
30.904.073.006 rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 44.807.425.831 rupiah atau setara 37
% tingkat pertumbuhannya. Pada akun penghapusan pinjaman mengalami peningkatan dari
(Rp. 529.505.125) pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 mengalami peningkatan menjadi
(Rp.697.225.998) dengan selisih (Rp. 167.720.873) atau sebanding dengan 32 %. Pada akun
Bebaban di Bayar Dimuka pada tahun 2013 sebesar Rp. 482.301.694 Rupiah mengalami
penurunan yang sangat signifikan yang mana pada tahun 2014 sebesar Rp. 68.650.455 rupiah
dengan persentase (86)%. Ini menandakan bahwa terjadinya penurunan yang signifikan karena
menurunnya beban yang di tanggung oleh perusahaan.
Pada penyertaan tidak mengalami peningkatan yang signifikan hanya naik 6 % dari tahun
sebelumnya dimana pada akunnya

Penyertaan pada Puskopdit Pada tahun 2013 Rp.

1.7.47.549.886 rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 1.846.609.946 rupiah dengan selisih
Rp. 99.060.060 rupiah atau 6 % dari tahun 2013. Dan penyertaan pada pihak lain mengalami
peningkatan nilai akun pada tahun 2013 sebesar Rp. 22.300.000 rupiah menjadi Rp. 26.770.082
rupiah dengan selisih Rp. 103.530.142 atau 20 %.
Pada aktiva tetap tidak mengalami kenaikan yang begitu besar dimana hanya ada kenaikan 2 %
dari tahun sebelumnya. Nilai aktiva tetap pada 2013 sebesar Rp. 4.455.370.587 rupiah naik
menjadi Rp. 4.756.001.398 rupiah naik 7% dan akumulasi penyusutan aktiva tetap naik pada
tahun 2014 sebesar (Rp. 892.828.002) rupiah dibandingkan tahun 2013 nilainya sebesar (Rp.
3

663.122.288) rupiah dengan selisih (Rp. 229.705.714) atau naik 35 %. Pada jumlah aktiva lain
lain terjadi peningkatan yang signifikan dari tahun 2013 senilai Rp. 337.047.324 rupiah naik
pada tahun 2014 menjadi Rp. 516.461.784 rupiah atau naik 53 % dimana di dukung oleh akun
aktiva lain-lain pada tahun 2013 senilai Rp. 464.084.950 rupiah naik pada tahun 2014 menjadi
Rp. 734.626.750 naik 58 % dan amortisasi aktiva lain lain juga mengalami kenaikan dari
(Rp. 127.037.626) Rupiah pada tahun 2013 mengalami penaikan pada tahun 2014 menjadi (Rp.
218.164.966 ) rupiah dengan selisih (Rp.91.127.340) rupiah atau 72 % . kenaikan yang
signifikan karena beban Aktiva lain yang bertambah.
Dilihat dari posisi Total Kewajiban perusahaan pada tahun 2013 sebesar Rp 44.000.991.817
rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp 51.060.441.039

mengalami pertumbuhan.

Pertumbuhan tersebut pada kewajiban yang mengalami pertumbuhan sangat pesat yaitu akun
kewajiban dengan jumlah kewajiban pada tahun 2013 sebesar Rp 32.135.387.504 rupiah dan
pada tahun 2014 menjadi Rp 37.547.735.286 rupiah dengan selisih kenaikan Rp. 5412.347.782
rupiah atau naik 17 %.

Dimana pada akun-akun kewajiban

yaitu Simpanan Koperasi

mengalami naik dari tahun 2013 dengan nilai Rp. 22.068266.005 rupiah dan pada tahun 2014
naik menjadi Rp. 23.223.160.642 rupiah atau naik 5 % . Simpanan berjangka tidak mengalami
kenaikan yang begitu besar diman pada tahun 2013 Rp. 9.947.779.564 rupiah dan tahun 2014
Rp. 10.206.009.455 dan hanya naik 3 %. Serta kenaikan yang sangat melonjak pada kewajiban
lain lain dimana pada tahun 2013 Rp. 119.341.935 rupiah menjadi Rp. 734.626.750 rupiah
selisih yang sangat jauh yakni Rp. 629.690.754 rupiah atau naik 528 %. Kenaikan ini si
akibatkan banyak kewajiban lain yang harus di bayar perusahaan dan kurang bagus.
Adapun hasil perhitungannya yaitu seperti pada tabel dibawah ini :

KOPDIT SWASTIASTU
PERKEMBANGAN KOMPARASI NERACA
TAHUN BUKU 2012, 2013,2014
(Dalam Rupiah)

NAMA PERKIRAAN

2014

2013

PERKEMBANGA
N

1
1.1
1.2
1.3
1.4

AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas dan Setara Kas
Surat-surat berharga
Pinjaman yg diberikan

2,963,026,088

7,244,976,733

42,472,975,28

30,904,073,00

(59
)
0
37

(4,281,950,645)
0
11,568,902,280
4

1.5
1.6
1.7

1.8
1.9

Penghapusan Pinjaman
Pendapatan YMH diterima

6
(697225998)

6
(529505125)

(167,720,873)

32

68,650,455
44,807,425,83
1

482,301,694
38,101,846,30
8

(413,651,239)

(86
)

6,705,579,523

18

1,846,609,946
26,770,082
1,873,380,028

1,747,549,886
22,300,000
1,769,849,886

99,060,060
4,470,082
103,530,142

6
20
6

Aktiva Tetap

4,756,001,398

4,455,370,587

300,630,811

Akm. Pnystn Aktiva Tetap

(892,828,002)
3,863,173,396

(663,122,288)
3,792,248,299

(229,705,714)
70,925,097

35
2

Aktiva lain-lain

734,626,750

464,084,950

270,541,800

58

Amortisasi Aktiva lain-lain

(218,164,966)
516,461,784

(127,037,626)
337,047,324

(91,127,340)
179,414,460

72
53

51,060,441,03
9

44,000,991,81
7

7,059,449,222

16

2014

2013

PERKEMBANGA
N

23,223,160,64
2
10,206,009,45
5
3,369,532,500
749,032,689
37,547,735,28
6

22,068,266,00
5

1,154,894,637

9,947,779,564
0
119,341,935
32,135,387,50
4

258,229,891
3,369,532,500
629,690,754

3
0
528

5,412,347,782

17

873,600,000
9,739,342,782

799,200,000
8,771,024,661

74,400,000
968,318,121

9
11

1,127,256,576
1,298,074,640
22,435,000

861,548,306
1,095,105,554
10,235,000

265,708,270
202,969,086
12,200,000

31
19
119

Beban dibayar dimuka

Penyertaan
Penyertaan pd Puskopdit
Penyertaan pd Pihak Lain
Aktiva Tetap

1.1
0
1.1
1
1.1
2
1.1
3

Jumlah Aktiva

NAMA PERKIRAAN
KEWAJIBAN

2.1

Simpanan Koperasi

2.2
2.3
2.4

Simpanan Berjangka
Pinjaman yg diterima
Kewajiban lain-lain

3
3.1
3.2
3.3
3.4
3.5
3.6
3.7

EKUITAS
Simpanan Pokok
Simpanan Wajib
Modal Penyetaraan
Modal Penyertaan
Cadangan Umum
Cadangan Resiko
Modal Sumbangan

3.8
3.9

SHU Ditahan
SHU

Jumlah Kewajiban

451,996,755
13,512,705,75
3
51,060,441,03
9

328,490,792
11,865,604,31
3
44,000,991,81
7

123,505,963

38

1,647,101,440

14

7,059,449,222

16

2. Perbandingan prosentase
ANALISIS PROSENTASE TERHADAP
LAPORAN NERACA KOPDIT SUASTIASTU
TAHUN 2013 & 2014
Berdasarkan Laporan Neraca Kopdit Suastiastu Tahun 2013 & Tahun 2014 dapat dilihat
dari Total Asset/Total Aktiva dimana pada tahun 2013 sebesar Rp 44.000.991.817 rupiah dan
pada tahun 2014 menjadi sebesar Rp 51.060.441.039 rupiah terjadi pertumbuhan sebesar Rp
7.059.449.222 rupiah atau 16%. Pertumbuhan yang terdapat pada Total Aktiva didukung oleh
akun-akun yang terdapat pada Aktiva Lancar dengan jumalah Aktiva Lancar pada tahun 2013
sebesar Rp. 38.101.846.308 Rupiah dan pada tahun 2014 Sebesar Rp. 44.807.425.831 yang
menandakan terjadinya pertumbuhan sebesar Rp. Rp. 6.705.579.523 Rupiah atau 18 %. Dilihat
dari masing masing akun aktiva lancar yaitu Kas pada tahun 2013 sebesar Rp 7.244.976.733
rupiah dan pada tahun 2014 menjadi sebesar Rp 2.963.026.088 terjadi penurunan sekitar Rp
4.281.950.645 atau -59%. Terjadinya penurunan pada akun Kas menandakan bahwa
pengelolaan dana dari perusahaaan sangat baik. Akun pada pinjaman yang diberikan juga
terjadi peningkatan sebesar Rp. 11.568.902.280 Rupiah dimana pada tahun 2013 sebesar Rp.
30.904.073.006 rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 44.807.425.831 rupiah atau setara 37
% tingkat pertumbuhannya. Pada akun penghapusan pinjaman mengalami peningkatan dari
(Rp. 529.505.125) pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 mengalami peningkatan menjadi
(Rp.697.225.998) dengan selisih (Rp. 167.720.873) atau sebanding dengan 32 %. Pada akun
Bebaban di Bayar Dimuka pada tahun 2013 sebesar Rp. 482.301.694 Rupiah mengalami
penurunan yang sangat signifikan yang mana pada tahun 2014 sebesar Rp. 68.650.455 rupiah
dengan persentase (86)%. Ini menandakan bahwa terjadinya penurunan yang signifikan karena
menurunnya beban yang di tanggung oleh perusahaan.
Pada penyertaan tidak mengalami peningkatan yang signifikan hanya naik 6 % dari tahun
sebelumnya dimana pada akunnya

Penyertaan pada Puskopdit Pada tahun 2013 Rp.

1.7.47.549.886 rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 1.846.609.946 rupiah dengan selisih
Rp. 99.060.060 rupiah atau 6 % dari tahun 2013. Dan penyertaan pada pihak lain mengalami
peningkatan nilai akun pada tahun 2013 sebesar Rp. 22.300.000 rupiah menjadi Rp. 26.770.082
rupiah dengan selisih Rp. 103.530.142 atau 20 %.
Pada aktiva tetap tidak mengalami kenaikan yang begitu besar dimana hanya ada kenaikan 2 %
dari tahun sebelumnya. Nilai aktiva tetap pada 2013 sebesar Rp. 4.455.370.587 rupiah naik
6

menjadi Rp. 4.756.001.398 rupiah naik 7% dan akumulasi penyusutan aktiva tetap naik pada
tahun 2014 sebesar (Rp. 892.828.002) rupiah dibandingkan tahun 2013 nilainya sebesar (Rp.
663.122.288) rupiah dengan selisih (Rp. 229.705.714) atau naik 35 %. Pada jumlah aktiva lain
lain terjadi peningkatan yang signifikan dari tahun 2013 senilai Rp. 337.047.324 rupiah naik
pada tahun 2014 menjadi Rp. 516.461.784 rupiah atau naik 53 % dimana di dukung oleh akun
aktiva lain-lain pada tahun 2013 senilai Rp. 464.084.950 rupiah naik pada tahun 2014 menjadi
Rp. 734.626.750 naik 58 % dan amortisasi aktiva lain lain juga mengalami kenaikan dari
(Rp. 127.037.626) Rupiah pada tahun 2013 mengalami penaikan pada tahun 2014 menjadi (Rp.
218.164.966 ) rupiah dengan selisih (Rp.91.127.340) rupiah atau 72 % . kenaikan yang
signifikan karena beban Aktiva lain yang bertambah.
Dilihat dari posisi Total Kewajiban perusahaan pada tahun 2013 sebesar Rp 44.000.991.817
rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp 51.060.441.039

mengalami pertumbuhan.

Pertumbuhan tersebut pada kewajiban yang mengalami pertumbuhan sangat pesat yaitu akun
kewajiban dengan jumlah kewajiban pada tahun 2013 sebesar Rp 32.135.387.504 rupiah dan
pada tahun 2014 menjadi Rp 37.547.735.286 rupiah dengan selisih kenaikan Rp. 5412.347.782
rupiah atau naik 17 %.

Dimana pada akun-akun kewajiban

yaitu Simpanan Koperasi

mengalami naik dari tahun 2013 dengan nilai Rp. 22.068266.005 rupiah dan pada tahun 2014
naik menjadi Rp. 23.223.160.642 rupiah atau naik 5 % . Simpanan berjangka tidak mengalami
kenaikan yang begitu besar diman pada tahun 2013 Rp. 9.947.779.564 rupiah dan tahun 2014
Rp. 10.206.009.455 dan hanya naik 3 %. Serta kenaikan yang sangat melonjak pada kewajiban
lain lain dimana pada tahun 2013 Rp. 119.341.935 rupiah menjadi Rp. 734.626.750 rupiah
selisih yang sangat jauh yakni Rp. 629.690.754 rupiah atau naik 528 %. Kenaikan ini si
akibatkan banyak kewajiban lain yang harus di bayar perusahaan dan kurang bagus.

Adapun hasil perhitungannya seperti pada tabel dibawah ini :

KOPDIT SWASTIASTU
PERKEMBANGAN KOMPARASI NERACA
TAHUN BUKU 2012, 2013,2014
(Dalam Rupiah)
NAMA PERKIRAAN

2014

2013

2,963,026,08
8

7,244,976,73
3

42,472,975,2
86
(697225998)

30,904,073,0
06
(529505125)

PERKEMBANG
AN

1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas dan Setara Kas
Surat-surat berharga
Pinjaman yg diberikan
Penghapusan Pinjaman

(4,281,950,645)
0
11,568,902,280
(167,720,873)
7

(5
9)
0
37
32

1.6
1.7

Pendapatan YMH
diterima
Beban dibayar dimuka

(413,651,239)

(8
6)

68,650,455
44,807,425,8
31

482,301,694
38,101,846,3
08

6,705,579,523

18

1,846,609,94
6

1,747,549,88
6

99,060,060

26,770,082
1,873,380,02
8

22,300,000
1,769,849,88
6

4,470,082

20

103,530,142

4,756,001,39
8
(892,828,002
)
3,863,173,39
6

4,455,370,58
7
(663,122,288
)
3,792,248,29
9

300,630,811

734,626,750
(218,164,966
)
516,461,784

464,084,950
(127,037,626
)
337,047,324

51,060,441,0
39

44,000,991,8
17

7,059,449,222

16

2014

2013

PERKEMBANG
AN

23,223,160,6
42
10,206,009,4
55
3,369,532,50
0

22,068,266,0
05
9,947,779,56
4

1,154,894,637

258,229,891

3,369,532,500

749,032,689
37,547,735,2
86

119,341,935
32,135,387,5
04

629,690,754

873,600,000
9,739,342,78
2

799,200,000
8,771,024,66
1

1,127,256,57

861,548,306

Penyertaan
1.8
1.9

Penyertaan pd Puskopdit
Penyertaan pd Pihak
Lain

Aktiva Tetap
1.1
0
1.1
1
1.1
2
1.1
3

Aktiva Tetap
Akm. Pnystn Aktiva
Tetap

Aktiva lain-lain
Amortisasi Aktiva lainlain

Jumlah Aktiva

NAMA PERKIRAAN
KEWAJIBAN

2.1

Simpanan Koperasi

2.2

Simpanan Berjangka

2.3

Pinjaman yg diterima

2.4

Kewajiban lain-lain

3
3.1
3.2
3.3
3.4
3.5

EKUITAS
Simpanan Pokok
Simpanan Wajib
Modal Penyetaraan
Modal Penyertaan
Cadangan Umum

(229,705,714)

35

70,925,097

270,541,800

58

(91,127,340)
179,414,460

72
53

0
52
8

5,412,347,782

17

74,400,000

968,318,121

11

265,708,270

31

3.6
3.7
3.8
3.9

Cadangan Resiko
Modal Sumbangan
SHU Ditahan
SHU

Jumlah Kewajiban

6
1,298,074,64
0

1,095,105,55
4

202,969,086

22,435,000

10,235,000

12,200,000

451,996,755
13,512,705,7
53
51,060,441,0
39

328,490,792
11,865,604,3
13
44,000,991,8
17

123,505,963

38

1,647,101,440

14

7,059,449,222

16

3. Rasio Likuiditas
Menurut Riyanto (1997), rasio likuiditas merupakan kemampuan financial dari suatu
perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban yang telah jatuh tempo atau kemampuan
perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya yang segera jatuh tempo. Analisis
rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas umumnya ada 8 rasio yaitu
Analisis Cash rasio, Analisis current ratio, Analisis Quick rasio, Analisis LDR, Analisis
LAR, Analisis aktiva lancar/total asset, Analisis kas / aktiva lancar, Analisis aktiva
lancar/total hutang.
Dalam pembahasan ini hanya bisa dianalisis 7 rasio saja karena perusahaan yang di
analisis laporan keuangan bergerak dibidang jasa saja yaitu Kopdit Swastiastu jadi untuk
quick rasio tidak dapat dihitung karena disini yaitu menghitung jumlah persediaan, karena
di uasaha jasa tidak memiliki persediaan maka jika dihitung nilainya akan sama dengan
current rasio,karena perusahaan tidak memiliki persediaan.
a. Analisis Cash rasio
Cash rasio merupakan salah satu rasio likuiditas yang digunakan untuk mengukur
bagaimana kemampuan suatu perusahaan dalam membayar hutang lancarnya dengan
jumlah kas yang dimiliki perusahaan tersebut. Dari hasil perhitungan Cash rasio dari
kopdit swastiastu dimana kondisi cash rasio dari tahun 2012-2014 kopdit swastiastu
mengalami perubahan, dimana untuk tahun 2013 nilai cash rasio yg dimiliki kopdit
swastiastu mengalami peningkatan sebesar 3,02%, peningkatan yang terjadi diakibatkan
karena nilai kas yang dimiliki kopdit swastiastu mengalami peningkatan sebesar 65,48%
dan dibandingkan dengan hutang lancar yang dimiliki kopdit swastiastu yaitu mengalami
9

19
11
9

peningkatan sebesar 43,29%, peningkatan kas

ini lebih besar dibandingkan dengan

peningkatan dari hutang lancar, ini menyebabkan cash rasio mengalami pada persentase
rasio mengalami peningkatan, namun kondisi yang terbalik terjadi pada tahun 2014,
dimana pada tahun 2014 nilai cash rasio yang dimiliki oleh perusahaan mengalami
penurunan sebesar 14,65%, penurunan ini diakibatkan karena kondisi yang terbalik
dimana jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan mengalami penurunan sebesar 59,10%
sedangkan hutang lancar mengalami peningkatan sebesar 7,9% sehingga kondisi inilah
yang menyebabkan pada tahun 2014 cash rasio perusahaan mengalami penurunan, namun
jika dilihat dari sisi lain yaitu dari rata-rata nilai cash rasio yang dimilki kopdit swastiastu
per tahunnya yaitu sebesar 16,7%, jika nilai tersebut digunakan sebagai nilai standar ratarata maka terdapat 2 tahun persentase kopdit swastiastu yang berada dibawah rata-rata
yaitu di tahun 2012 dan 2013 yang nilai rasionya mencapai 19,5% dan 22,5%, namun
untuk tahun 2014 kopdit swastiastu belum mampu berada dibawah rata-rata.
Seperti tabel perhitungan dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan

Tahun

kas
4,378,034,

2012

990
7,244,976,

2013

733
2,963,026,

65.48
(59.10

2014

088

Cash Rasio
H.Lancar
22,426,323,54

Rasio

1
32,135,387,50

19.5

4
37,547,735,28

43.29

22.5

3.02
(14.65

16.84

7.9
16.7

)
Rata-rata

b. Analsis current ratio


Current rasio merupakan salah satu rasio dalam rasio likuiditas yang digunakan suatu
perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka
pendeknya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Berdasarkan hasil perhitungan kopdit
swastiastu pada tahun 2012 s/d 2014 dilakukan perhitungan current rasio dapat dilihat
bahwa pada tahun 2013 current rasio yang dimiliki kopdit swastiastu mengalami
penurunan sebesar 11,59% , penurunan nilai rasio ini diakibatkan karena pada sisi aktiva
lancar kopdit swastiastu mengalami peningkatan sebesar 30,53% jika dibandingkan
ternyata hutang lancar mengalami peningkatan hanya sebesar 43,29%, peningkatan yang
lebih besar antara hutang lancar dengan aktiva lancar itu memberikan pengaruh sehingga
nilai current rasio yang dimiliki oleh kopdit swastiastu pada tahun 2013 mengalami
10

penurunan, namun kondisi yang terbalik terjadi pada tahun 2014, dimana pada tahun 2014
mengalami peningkatan sebesar 0,77%, peningkatan ini dikarenakan oleh peningkatan
yang terjadi pada aktiva lancar yang mencapai 17,60% sedangkan diikuti dengan hutang
lancar yang mengalami peningkatan sebesar 16,84%, kondisi yang terbalik, dimana aktiva
lancar peningkatannya lebih besar dibandingkan hutang lancar, ini yang menyebabkan
sehingga berdampak pada peningkatan current rasio tersebut. jika kita lihat dari sisi lain
yaitu dari rata-rata current rasio dari tahun 2012 s/d 2014 dapat dilihat bahwa hasil
perhitungan dari rata-rata rasio tersebut yaitu mencapai 122,7%. Apabila nilai rata-rata ini
digunakan sebagai standar, maka berdasarkan rata-rata itu ternyata hanya ada 1 tahun
kondisi perusahaan yang memiliki current rasio yang berada dibawah rata-rata yaitu
tahun 2012 saja ,namun kondisi yang terbalik terjadi pada tahun 2013 dan 2014, dimana
kondisi rasio pada tahun 2013 masih berada dibawah rata-rata. Penurunan terjadi pada
saat nilai current rasio itu bisa menyebabkan nilai sisi negatif dari perusahaan itu sendiri,
sehingga perusahaan harus tetap menjaga kestabilan nilai dari current rasio tersebut
Terlihat seperti tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
Current Rasio
Aktiva
Tahun
2012
2013
2014

Lancar
29,190,289,872
38,101,846,308
44,807,425,831

%
H.Lancar
0
22,426,323,541
30.53
32,135,387,504
17.60
37,547,735,286
Rata-rata

%
0
43.29
16.84

Rasio
130.2
118.6
119.3
122.7

%
(11.59)
0.77

c. Analisis LDR
LDR adalah satu rasio likuiditas dimana ldr disini digunakan untuk mengukur
perbandingan kredit yang diberikan oleh perusahaan dengan dpk (dana pihak ketiga) yang
diterima oleh perusahaan,dimana dpk(dana pihak ketiga) merupakan dana dari orang
ketiga yang mempercayakan kepada perusahaan yang menyimpan dananya dalam bentuk
tabungan dan Deposito disini dapat digambarkan kondisi ldr dari kopdit swastiastu
dimana rasio ldr dari tahun 2012 s/d tahun 2014 perusahaan mengalami fluktuasi,dimana
untuk tahun 2013 nilai rasio ldr yang dimiliki perusahaan mengalami penurunan sebesar
6,49%, penurunan yang terjadi diakibatkan karena akun kredit ataupun proposisi nilai
kredit yang dimiliki oleh perusahaan mengalami peningkatan sebesar 34,23% dan
dibandingkan dengan dpk (dana pihak ketiga) yang diterima oleh perusahaan yaitu
mengalami peningkatan sebesar 43,29%, peningkatan dpk (dana pihak ketiga) yang lebih
11

besar dibandingkan dengan peningkatan dari proposisi dana kredit ini menyebabkan rasio
ldr mengalami penurunan, namun kondisi yang terbalik terjadi pada tahun 2014 dimana
pada tahun 2014 nilai ldr yang dimiliki oleh perusahaan mencapai peningkatan sebesar
16,95%, peningkatan itu diakibatkan karena kondisi yang terbalik dimana jumlah kredit
yang dimiliki oleh perusahaan mengalami peningkatan sebesar 37,43% sedangkan DPK
(dana pihak ketiga) meningkat sebesar 16,84% sehingga hal atau kondisi inilah yang
menyebabkan pada tahun 2014 ldr perusahaan mengalami peningkatan, namun jika
dilihat dari sisi lain yaitu dari rata-rata nilai ldr yg dimiliki perusahaan per tahunnya yaitu
sebesar 104,0%, jika nilai ini digunakan sebagai standar rata-rata maka terdapat 2 tahun
kondisi perusahaan atau nilai dari rasio yang nilainya yang berada dibawah rata-rata
yaitu tahun 2012 dan 2014 yang nilai rasionya mencapai 102,7%, dan tahun 2014 sebesar
113,1%, namun kondisi yang belum mencapai rata-rata terjadi pada tahun 2013 yaitu
hanya mencapai 96,2%.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
Tahun
2012
2013
2014

Kredit
23,022,927,828
30,904,073,006
42,472,975,286

LDR
%
DPK/Hutang Bank
0
22,426,323,541
34.23
32,135,387,504
37.43
37,547,735,286
Rata-rata

%
0
43.29
16.84

Rasio
102.7
96.2
113.1
104.0

%
(6.49)
16.95

d. Analisis LAR
LAR merupakan salah satu rasio yang masuk kedalam rasio likuiditas dimana rasio ini
digunakan untuk melihat bagaimana cara suatu perusahaan memanfaatkan asset yang
dimiliki dalam bentuk kredit. Dari perhitungan rasio kopdit swastiastu

dapat

diperlihatkan bahwa nilai LAR dari tahun 2012 s/d 2014 perusahaan mengalami
perubahan, dimana untuk tahun 2013 nilai LAR yang dimiliki perusahaan mengalami
penurunan sebesar 0,31%, penurunan yang terjadi diakibatkan karena akun kredit yang
dimiliki perusahaan meningkat sebesar 34,23% dan dibandingkan dengan asset yang
dimiliki perusahaan yaitu mengalami peningkatan sebesar 34,82%, peningkatan kredit
yang lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan dari proporsi asset ini menyebabkan
rasio LAR yang dimiliki oleh kopdit swastiastu mengalami penurunan, namun kondisi
yang sebaliknya terjadi pada tahun 2014, dimana pada tahun 2014 nilai LAR yang
dimiliki kopdit swastiastu dari hasil perhitungan yang dilakukan mengalami peningkatan
sebesar 12,95%, peningkatan ini terjadi disebabkan karena kondisi yang terbalik, dimana
12

jumlah kredit yang dimiliki oleh kopdit swastiastu mengalami peningkatan sebesar
37,43%, sedangkan pada sisi asset mengalami peningkatan hanya sebesar 16,04%,
sehingga kondisi inilah yang menyebabkan pada tahun 2014 LAR yang dimiliki kopdit
swastiastu mengalami peningkatan, namun jika dilihat dari sisi lainnya yaitu dari rata-rata
nilai LAR yang dimiliki kopdit swastiastu per tahunnya yaitu sebesar 74,7%, jika nilai ini
digunakan sebagai standar rata-rata, maka hanya ada 1 tahun nilai rasio yang berada di
atas rata-rata yaitu tahun 2014 yang nilai rasionya mencapai 83,2%, namun untuk tahun
2012 dan 2013 kondisi perusahaan belum mampu berada dibawah rata-rata yaitu
perolehan dari hasil perhitungan hanya mencapai 70,5% dan 70,2% saja.
Seperti tabel hasil perhitungan dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
Tahun
2012
2013
2014

Kredit
23,022,927,828
30,904,073,006
42,472,975,286

%
0
34.23
37.43
Rata-rata

LAR
Aktiva Asset
32,636,970,030
44,000,991,817
51,060,441,039

%
0
34.82
16.04

Rasio
70.5
70.2
83.2
74.7

%
(0.31)
12.95

e. Analisis aktiva lancar/total asset


untuk mengukur seberapa besar aktiva lancar yang diinvestasikan dari total asset yang
dimiliki oleh perusahaan inilah fungsi dari salah satu rasio likuiditas yaitu Aktiva
lancar/total aktiva. Berdasarkan hasil perhitungan kopdit swastiastu dari tahun 2012 s/d
2014 dilakukan perhitungan rasio likuiditas yaitu dengan membandingkan jumlah aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan, dari hasil
perhitungan dapat digambarkan bahwa untuk tahun 2013 mengalami penurunan sebesar
2,85%, penurunan ini terjadi karena dilihat pada sisi aktiva lancar yang dimiliki
mengalami peningkatan mencapai 30,53%, sedangkan pada sisi total asset yang dimiliki
mengalami peningkatan sebesar 34,82%, peningkatan yang lebih besar pada sisi total
aktiva menyebabkan sehingga nilai rasio yang dimiliki oleh kopdit swastiastu pada tahun
2013 mengalami penurunan, namun kondisi yang terbalik terjadi pada tahun 2014,
dimana pada tahun 2014 mengalami peningkatan

sebesar

1,16%, peningkatan ini

dikarenakan oleh peningkatan yang terjadi pada sisi aktiva lancar yang mencapai 17,60%
sedangkan diikuti dengan total asset yang mengalami peningkatan sebesar 16,04%,
kondisi yang sama, dimana aktiva lancar peningkatannya lebih besar sedikit dibandingkan
total asset, ini yang menyebabkan sehingga berdampak pada peningkatan nilai rasio
tersebut. Namun jika dilihat dari sisi lainnya yaitu pada sisi rata-rata rasio yang dimiliki
13

kopdit swastiastu per tahunnya yaitu sebesar 87,93%, jika nilai ini digunakan sebagai
standar rata-rata, maka hanya ada 1 tahun nilai rasio yang berada di atas rata-rata yaitu
tahun 2012 saja yang nilai rasionya mencapai 89,4%, namun untuk tahun 2013 dan 2014
kondisi perusahaan belum mampu berada dibawah rata-rata yakni hanya mencapai 86,5%
dan 87,75%. Penurunan dari kondisi ini dapat dilihat keadaannya kurang baik bagi
perusahaan karena kemampuan dari perusahaan menginventasikan

dananya dalam

bentuk altiva lancar dari total aktuiva yang dimiliki masih sangat kurang optimal,
sehingga untuk kedepannya perusahaaan harus mampu untuk mengoptimalkan kinerjanya
sehingga mampu untuk meningkatkan investasinya khususnya dalam bentuk aktiva
lancar.
Seperti tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
TAHU
N
2012
2013
2014

aktiva lancar/total asset


AK. LNCR
29,190,289,87

T.Asset

Rasio

2
38,101,846,30

32,636,970,030

89.44

8
44,807,425,83

30.53

44,000,991,817

34.82

86.59

(2.85)

17.60
51,060,441,039
rata-rata

16.04

87.75
87.93

1.16

f. Analisis kas / aktiva lancar


Untuk mengetahui bagaimana cara suatu perusahaan mengatur komposisi kas yang
dimiliki oleh perusahaan tersebut maka keaaan tersebut dapat dihitung dengan cara
membandingkan kas yang dimiliki perusahaan dengan aktiva lancar yang dimiliki
perusahaan tersebut. Dari perhitungan yang dilakukan kopdit swastiastu pada tahun 2012
s/ 2014, maka dapat digambarkan kondisi perusahaan dalam bentuk persentase. Dari hasil
perhitungan untuk tahun 2013 terlihat bahwa kondisi ini menunjukkan nilai presentasenya
mengalami peningkatan sebesar 4,02%, peningkatan ini disebabkan karena terjadi
peningkatan pada sisi kas sebesar 65,48%, sedangkan pada sisi aktiva lancar mengalami
peningkatan hanya sebesar 30,53%, peningkatan yang lebih besar pada sisi kas
dibandingkan dengan sisi aktiva tersebut mengakibatkan persentase rasionya mengalami
peningkatan,namun kondisi yang terbalik terjadi di tahun berikutnya tahun 2014 dimana

14

di tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 12,40%, penurunan yang terjadi ini dipicu
oleh penurunan pada sisi kas sebesar 59,10%, dibandingkan dengan jumlah aktiva lancar
yang dimiliki perusahaan yang mengalami peningkatan sebesar 17,60%, sehingga
penurunan yang lebih besar pada sisi kas daripada jumlah aktiva lancar mempengaruhi
persentase yang terjadi pada perhitungan rasio ini mengalami penurunan. Namun jika
dilihat dari sisi rata-rata yang dimiliki kopdit swastiastu per tahunnya yaitu sebesar
13,54%, jika nilai ini digunakan sebagai standar rata-rata, maka ada 2 tahun yang berada
dibawah rata-rata yaitu tahun 2012 dan 2013 yang nilai rasionya sebesar 15,00% dan
19,01%.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
kas/aktiva lancar
TAHUN
2012
2013
2014

Kas
4,378,034,990
7,244,976,733
2,963,026,088

%
AK. LNCR
0
29,190,289,872
65.48
38,101,846,308
(59.10) 44,807,425,831
rata-rata

%
0
30.53
17.60

Kas/aktiv
a lancar
15.00
19.01
6.61
13.54

%
4.02
(12.40)

g. Analisis aktiva lancar/total hutang


Perbandingan antara aktiva lancar dengan total hutang yang dimiliki suau perusahaan
merupakan salah satu rasio yang masuk kedalam rasio likuiditas yaitu rasio yang
mengukur bagaimana suatu perusahaan dapat melunasi semua hutang lancarnya. Dari
perhitungan kopdit swastiastu tahun 2012 s/d 2014 dapat digambarkan bahwa untuk tahun
2013 terjadi penurunan yaitu sebesar 11,59%, penurunan ini terjadi dipengaruhi oleh
peningkatan yang terjadi pada sisi aktiva lancar yang meningkat sebesar 30,53%,
sedangkan dilihat pada sisi total hutang yang dimiliki peusahaan mengalami peningkatan
sebesar 43,29%, peningkatan yang lebih kecil pada sisi aktiva lancar dibandingkan
dengan total hutang yang dimiliki perusahaan mempengaruhi kondisi persentase rasio.
Namun kondisi yang sebaliknya terjadi ditahun berikutnya tahun 2014 yang mengalami
peningkatan sebesar 0,77%, peningkatan ini terjadi karena dipicu oleh aktiva lancar yang
mengalami peningkatan sebesar 17,60%, sedangkan pada sisi total hutang mengalami
peningkatan sebesar 16,84%, peningkatan yang lebih besar pada sisi aktiva lancar
dibandingkan dengan total hutang yang dimilikinya sehingga hal ini menyebabkan
peningkatan pada persentase rasionya. Namun jika dilihat dari sisi lainnya yaitu pada sisi
15

rata-rata rasio yang dimiliki kopdit swastiastu per tahunnya yaitu sebesar 122,69%, jika
nilai ini digunakan sebagai standar rata-rata, maka hanya ada 1 tahun nilai rasio yang
berada di atas rata-rata yaitu tahun 2012 saja yang nilai rasionya mencapai 130,16%
namun untuk 2 tahun lainnya yaitu tahun 2013 dan 2014 kondisi perusahaan belum
mampu berada dibawah rata-rata yakni hanya mencapai sebesar 118.57% dan 119.33%
saja.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
aktiva lancar/total hutang
TAHU

aktiva

lancar/t.hutan

2012
2013
2014

AK. LNCR
29,190,289,87

T.hutang

2
38,101,846,30

22,426,323,541

130.16

8
44,807,425,83

30.53

32,135,387,504

43.29

118.57

(11.59)

17.60
37,547,735,286
rata-rata

16.84

119.33
122.69

0.77

4. Analisis Rasio Rentabilitas


Menurut Riyanto (1997), rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara
laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba-laba (keuntungan) tersebut.
Ada 3 yaitu : ROA, ROE dan ROI,dengan Kondisi perusahaan yang sudah cukup lama dan
lumayan besar Kopit Swastiastu Singaraja sudah dikenai pajak maka dari itu disini untuk
rasio rntabilitas hanya dihitung 1 rasio saja yaitu ROE namun selain dianalisis dengan rasio
rentabilitas disini perusahaan juga dianalisis dengan rasio profitabilitas dimana kedua rasio
ini memiliki fungsi yang sama, dan rasio yang dihitung hanya analisis rasio GPM dan analisis
beban operasional terhadap rata-rata asset.
a. Analisis Rasio ROE
Analisis Rasio ROE bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas perusahaan yang
dapat diukur dengan membandingkan Shu setelah pajak yang diperoleh perusahan dengan
modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Berdasarakan tabel prhitungan dibawah dapat
dilihat perkmbangan yang terjadi dari tahun 2012 s/d 2014 di Kopdit Swastyastu. Pada
tahun 2013 terlihat perusahaan mengalami peningkatan sebesar 0,11%, kondisi ini
disebabkan karena shu setelah pajak yang diperoleh perusahaan mengalami peningkatan
16

mencapai 20,82% dari jumlah modal sendiri yang dimiliki perusahaan yang mencapai
16,08%, sehingga kondisi inilah yang memicu peningkatan yang terjadi ditahun 2013.
Kemudian pada tahun berikutnya juga mengalami peningkatan sebesar 0,61%, kondisi ini
terjadi karena disebabkan karena shu setelah pajak yang diperoleh perusahaan mengalami
peningkatan sebesar 37,60% peningkatan yang cukup besar jika dibandingkan dengan
jumlah modal sendiri yang dimiliki perusahaan yang mencapai 13,21%. Kemudian dilihat
pada nilai rasio ROE yang dicapai perusahaan dari tahun 2012 s/d 2014 dengn rata-rata
yang dicapai sebesar 3,01% ini dapat terlihat hanya ada 1 tahun yang mencapai rata-rata
yaitu pada tahun 2014 saja yang mencapai nilai rasionya 3,46%, sedangkan tahun 2012
dan 2013 perusahaan belum mampu berada dibawah rata-rata, maka dari itu tren yang
terjadi di Kopdit swastyastu adalah tren penurunan, sehingga perusahaan diharapkan lebih
giat dalam menginvestasikan (positi) modal yang dimiliki dengan demikian shu
perusahan juga diharapkan meningkat juga.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
Tahun
2012
2013
2014

Return On Equity (ROE)


Shu setelah pajak
%
modal sendiri
271,882,118
9,938,734,317
328,490,792
20.82
11,537,113,521
451,996,755
37.60
13,060,708,998
Rata-Rata

%
16.08
13.21

Rasio
2.74
2.85
3.46
3.01

%
0.11
0.61

b. Analisis rasio GPM


Analisis rasio GPM merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur
tingkat efektifitas perusahaan dengan membandingkan total pendapatan dikurangi total
bunga dengan total pendapatan. Berdasarkan tabel perhitungan yang dilakukan dari tahun
2012 s/d 2014 di kopdit swastyastu. Dapat dilihat pada tahun 2012 perusahaan mengalami
penurunan sebesar 0,53%, kondisi ini disebabkan karena peningkatan total pendapatan
setelah dikurangi total bunga yang diperoleh perusahaan hanya mencapai 23,55%, dengan
dibandingkan jumlah total pendapatan yang dimiliki perusahaan mencapai 24,70%,
sehingga kondisi inilah yang menyebabkan perusahaan mengalami penurunan. Kemudian
di tahun berikutnya pada tahun 2014 perusahaan mengalami peningkatan yang cukup
besar yakni 11,80%, kondisi ini disebabkan karena pada sisi total pendapatan setelah
dikurangi total bunga mengalami peningkatan yang cukup besar dibandingkan dengan
total pendaptan yang dimiliki perusahaan sebesar

18,98%, kondisi inilah yang

17

mempengaruhi perusahaan mengalmi peningkatan yang cukup besar. Kemudian dilihat


pada nilai rasio yang dicapai dari tahun 2012 s/d 2014 dengan rata-rata mencapai 60,7%
ini hanya ada 1 tahun yang nilai rasionya berada dibawah rata-rata yaki mencapai 68,7%
pada tahun 2014 saja, sedangkan 2 tahun lainnya hanya mampu mencapai nilai rasio
57,1% di tahun 2012 dan 56,5% di tahun 2013.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
Tahun
2012
2013
2014

Gross Profit Margin (GPM)


T.Pendapatan - T.Bunga
%
Total Pendapatan
2,559,385,711
4,484,317,678
3,162,189,107
23.55
5,592,034,020
4,547,399,347
43.81
6,653,529,991
Rata-Rata

%
24.70
18.98

Rasio
57.1
56.5
68.3
60.7

%
-0.53
11.80

c. Analisis beban operasional terhadap rata-rata asset


Analisis beban operasional terhadap rata-rata asset ini bertujuan untuk mengukur
efektifitas perusahaan. Pada tabel perhitungan dibawah dapat dilihat perkembangan
perusahaan dari tahun 2012 s/d 2014 di kopdit swastyastu. Pada tahun 2012 dapat dilihat
perusahaan mengalami peningkatan sebesar 11,52%, kondisi ini terjadi karena beban
operasional perusahaan mengalami peningkatan sebesar 26,37% sedangkan pada sisi rata
rata asset tidak adanya aktivitas , maka dari itu kondisi inilah yang menyebabkan
perusahaan mengalami peningkatan. Kemudian di tahun berikutnya perusahaan
mengalami penurunan sebesar 0,47%, kondisi ini disebabkan karena beban operasional
meningkat sebesar 18,98% sedangkan rata-rata asset yang diperoleh perusahan meningkat
sebesar 24,04% sehingga kondisi inilah yang menyebabkan perusahaan mengalami
penurunan. Pada nilai rasio dapat dilihat perkembangan yang dialami perusahaan dari
tahun 2012 s/d 2014 dengan nilai rata-rata rasio yang dicapai sebesar 11,3% , dari ratarata ini ada 1 tahun yang mengalami peningkatan dibawah rata-rata dan 1 tahun yang
belum mencapai rata-rata, sehingga tren yang terjai di perusahaan ini belum bisa
dipastikan pada perhitungan rasio ini.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :

Tabel
Hasil Perhitungan
Beban Opersional Terhadap rata-rata aset
18

Tahun
2012
2013
2014

Beban Operasional
%
3,492,134,261
4,413,007,694
26.37
5,250,496,103
18.98
Rata-Rata

Rata-rata asset
38,318,980,924
47,530,716,428

%
24.04

Rasio
11.5
11.0
11.3

%
11.52
-0.47

5. Analisis Rasio Solvabilitas


Menurut Riyanto (1997:32), solvabilitas suatu perusahaan menunjukkan kemampuan
peruahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya saat perusahaan tersebut akan
dilikuidasi.
ada 6 yaitu : TIE (Ebit / Bunga), (Ebit + Biaya sewa/ bunga + sewa), modal sendiri dengan
total aktiva, modal sendiri dengan aktiva tetap, aktiva ttap dengan hutang tetap(hutang jangka
panjang), total hutang dengan total aktiva.
Namun karena perusahaan ini yang bergerak dibidang jasa yang masih berada di lingkup
kecil maka perusahaan ini masih belum terkena pajak jadi hanya bisa dihitung 4 rasio saja
yaitu seperti dibawah ini :
a. Rasio Perbandingan Modal Sendiri Dengan Total Aktiva
Berdasarkan perhitungan antara modal sendiri dengan total aktiva yang dimiliki
perusahaan dapat dilihat perkembangan setiap tahunnya. Pada tahun 2013 perusahaan
mengalami penurunan sebesar 5,10% sedangkan di tahun 2014 perusahaan mengalami
peningkatan sebesar 0,23% kondisi ini disebabkan karena modal sendiri yang dimiliki
perusahaan meningkat sebesar 12,22% dan diikuti dengan total aktiva perusahaan
mencapai 34,82%. Kemudian di tahun berikutnya 2014 modal sendiri yang dimiliki
perusahaan meningkat mencapai 17,10% dan diikuti total aktiva perusahaan yang
meningkat sebesar 16,04%. Sehingga kondisi ini menunjukkan perusahaan dalam kondisi
yang baik, karena jumlah modal sendiri sudah mampu untuk memenuhi dari total aktiva
perusahaan sehingga kedepannya perusahaan diharapkan menpertahankan kondisi ini dan
diharapkan mampu meningkatkan kondisi yang lebih baik kedepannya.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
MODAL SENDIRI DENGAN TOTAL AKTIVA
TAHU
RASI
N
MOODAL SENDIRI
TOTAL AKTIVA
%
%
O
%
2012
30.45
Rp
9,938,734,317
Rp
32,636,970,030
2013
25.35
Rp
11,153,713,521
12.22 Rp
44,000,991,817 34.82
(5.10)
2014
25.58
Rp
13,060,708,998 17.10 Rp
51,060,441,039 16.04
0.23
Rata-rata
27.13
b. Rasio Perbandingan Modal Sendiri Dengan Aktiva Tetap
Berdasarkan perhitungan perbandingan antara modal sendiri dengan aktiva tetap yang
dimiliki perusahaan dapat dilihat perkembangan perusahaan setiap tahunnya. Pada tahun
2013 perusahaan mengalami peningkatan 46,92% dan ditahun berikutnya juga mengalami
19

peningkatan sebesar 66,97%, kondisi ini disebabkan karena pada sisi modal sendiri yang
dimiliki perusahaan meningkat 12,22% dan diikuti dengan aktiva tetap meningkat
mencapai 3,87%, kemudian di tahun 2014 perusahaan mengalami peningkatan pda modal
sendiri yang dimiliki sebesar 17,10% dengan diikuti juga pada aktiva tetap mengalami
peningkatan emncapai 5,85%, sehingga kondisi ini menunjukkan perusahaan sudah
mampu untuk membiayai aktiva tetap hanya dengan modal sendiri, sehingga
meminimkan resiko yang mungkin muncul kedepannya bagi perusahaan, dan perusahaan
juga bisa focus dalam meningkatkan nilai penjualan maupun pendapatan bagi perushaan
dengan mengambil keputusan dalam menginvestasikan dana yang dimiliki untuk hal-hal
yang lebih produktif, mengingat aktiva tetap merupakan akun yang tidak produktif bagi
perusahaan dan aktiva tetap juga setiap tahunna nilainya terus berkurang karena adanya
penyusustan.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
TAHU
N
2012
2013
2014

MODAL SENDIRI DENGAN AKTIVA TETAP


MODAL SENDIRI
Rp

9,938,734,317

Rp

11,153,713,521

Rp

13,060,708,998

AKTIVA TETAP

%
1
2.22
1
7.10
Rata-rata

Rp

1,703,918,897

Rp

1,769,849,886

3.87

Rp

1,873,380,028

5.85

RASI
O
583.
29
630.
21
697.
17
636.
89

c. Rasio Perbandingan Aktiva Tetap Dengan Hutang Jangka Panjang


Berdasarkan hasil perbandingan aktiva tetap dengan hutang jangka panjang yang
dimiliki kopdit swastyastu dari tahun 2012 s/d 2014 dapat dilihat perkembangan yang
terjadi stiap tahunnya. Pada tahun 2012 perusahaan mengalami penurunan mencapai
2,09% dan juga ditahun berikutnya perusahaan masih mengalami penurunan 0,52%,
kondisi ini disebabkan karena aktiva tetap perusahaan di tahun 2013 meningkat sebesar
3,87% dan juga diikuti dengan meningkatnya hutang jangka panjang perusahaan sebesar
43,29% kemudian di tahun 2014 aktiva tetap yang dimiliki perusahaan meningkat sebesar
5,85% dan diikuti dengan hutang jangka panjang perrusahaan yang meningkat juga
16,84%, sehingga dengan perbandingan yang didapat dari hasil perhitungan diatas
perusahaan mampu membiayai aktiva tetap dari hutang jnagka panjang yang dimiliki,
walaupun disetiap tahunnya aktiva tetap selalu mengalami peningkatan, namun hal yang
sama juga hutang jangka panjang perusahaan juga meningkat disetiap tahunnya hal ini
menandakan kalau perusahaan ini sudah dipecaya oleh masyarakat maka dari itu banyak
20

%
46.
92
66.
97

nasabah yang menyimpan dananya disini, namun walaupun begitu perusahan juga harus
tetap mempertahankan dan tidak boleh cepat puas dan lengah, karena dengan dana yang
dimiliki tersebut perusahaan hendaknya dapat mengambil keputusan yang bijak dalam
menginvestasikan dana yang dimiliki agar dana tersebut lebih produktif dan
menghasilkan, sehingga kesejahteraan perusahaan tetap terjaga.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
AKTIVA TETAP DENGAN HUTANG JANGKA PANJANG
TAHUN
2012

AKTIVA TETAP
Rp

1,703,918,897

2013
Rp

1,769,849,886
1,873,380,028

5.85

Rata-rata

RASIO

7.6

Rp

22,426,323,541

Rp

32,135,387,504

43.2
9

Rp

37,547,735,286

16.8
4

3.87

2014
Rp

HUTANG JNG.PNJNG

5.5
4.9
6.0

d. Rasio Perbandingan Total Hutang Dengan Total Aktiva


Berdasarkan hasil perhitungan perbandingan antara total hutang dengan total aktiva
yang dimiliki perusahaan dari tahun 2012 s/ 2014 dapat dilihat perkembangan yang
terjadi setiap tahunnya pada kopdit swastiastu ini. Pada tahun 2013 perusahaan
mengalami peningkatan sebesar 4,32% dan juga ditahun berikutnya perusahaan
mengalami peningkatan sebesar 0,50%, kondisi ini disebabkan karena dilihat pada total
hutang yang dimiliki perusahaan mengalami peningkatan mencapai 43,29% dan juda
diikuti dengan total aktiva yang meningkat sebesar 34,82% di tahun 2013, kemudian di
tahun 2014 peningkatan perusahaan dipicu dari total hutang yng mengalami peningkatan
sebesar 16,84% dan juga pada sisi total aktiva meningkat sebesar 16,04%. Sehingga
dengan kondisi ini menunjukkan perusahaan mamopu mengelola hutang yang dimiliki
sehingga juga berdampak pada total aktiva yang tersu meningkat, perusahaan mampu
menginvestasikan hutang yang dimiliki menjadi sesuatu yang lebih produktif dan
menghasilkan laba yang lebih besar, sehingga kondisi yang stabil terjaga diperusahaan.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
21

(2
.09)
(0
.52)

TOTAL HUTANG DENGAN TOTAL AKTIVA


TAHUN

TOTAL HUTANG

2012

Rp

22,426,323,541

2013

Rp

32,135,387,504

2014

Rp

TOTAL AKTIVA

37,547,735,286

43.2
9
16.8
4

Rp
Rp
Rp

32,636,970,030

%
-

44,000,991,817

34.
82

51,060,441,039

16.
04

Rata-rata

RASIO
68.7
1
73.0
3
73.5
4
71.7
6

6. Analisis Rasio Aktivitas


Rasio ini menggambarkan kualitas piutang perusahaan dan kesuksesan perusahaan dalam
menagih piutang yang dimiliki. Semakin tingggi rasio ini akan semakin baik kemampuan
perusahaan dalam menagih piutang yang dimiliki. Akan tetapi, rasio yang terlalu tinggi juga
bisa mengakibatkan pelanggan dasar utuk pemberian kebijakan kredit yang dapat
meningkatkan jumlah penjualan dengan memperhitungkan kerugian piutang yang tak tertagih
(Ashari dan Darsono, 2005).
Ada 4 rasio untuk menghitung rasio aktivitas yaitu : piutang/rata-rata piutang, jumlah hari
(360)/ perputaran piutang, HPP/persediaan, Piutang/penjualan perhari(360).
Namun karena perusahaan ini bergerak dibidang jasa maka hanya bisa dihitung 2 rasio
saja yaitu piutang/rata-rata piutang dan jumlah hari (360)/ perputaran piutang saja.
Perhitungan seperti dibawah ini:
a. Analisis perputaran piutang
Berdasarkan hasil perhitungan perputaran piutang kopdit swastiastu dari tahun 2012
s/d 2014 dapat dilihat perkembangan dan bagaimana aktivitas perusahaan. Pada tahun
2013 dan 2014 terlihat perusahaan dalam pengelolaan piutang dengan hasil perputaran
piutang 1 kali dalam setahun terlihat dari hasil perbandingan piutang yang dimiliki
dengan rata-rata piutang tersebut selama satu tahun lamanya. Dengan hasil tersebut maka
kecepatan perputaran piutang di kopdit swastiastu hanya berputar 1 kali dalam setahun
hal ini menandakan perusahaan masih lambat dalam hal perputaran piutang karena
perusahaan hanya mampu melakukan perputaran piutang hanya 1 kali dalam setahun,
mengingat modal kerja sangat penting bagi perusahaan dan salah satunya adalah piutang,
karena semakin cepat perputaran piutang maka semakin cepat dan bagus perusahaan
22

%
4.
32
0.
50

dalam mengelola modal kerjanya dan juga semakin cepat menghasilkan pula, sebaliknya
jika semakin lambat perputaran piutang maka semakin lambat, kurang efektif dan kurang
efesien perusahaan dalam mengelola modal kerja perusahaan, sehingga banyak dana yang
mengendap di piutang dan hal ini akan mempengaruhi penghasilan dari perusahaan
tersebut kedepannya.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
TAHU
N
2012
2013
2014

PERPUTARAN PIUTANG
PIUTANG
23,022,927,828
30,904,073,006
42,472,975,286
Rata-rata

RATA-RATA
PIUTANG

RASIO
(KALI)

26,963,500,417
36,688,524,146

1.15
1.16
1.15

b. Analsis rata-rata penagihan piutang


Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata penagihan piutang kopdit swastiastu dari
tahun 2012 s/d 2014 dapat dilihat kecepatan atau keefektifan perusahaan dalam
mengelola modal kerja yang dimiliki dan juga berapa hari ataupun waktu yang diperlukan
dalam penagihan piutang selama 1 tahun. Pada tahun 2013 dan 2014 dapat dilihat ratarata penagihan piutang yang diperlukan perusahaan dalam kurun waktu setahun adalah
314 kali di tahun 2013 dan 311 kali ditahun 2014 dengan hasil sekian maka kecepatan
perusahaan dalam rata-rata penagihan piutang masih lambat karena masih berselisih tipis
dengan jumlah total hari yang berjumlah 360 per tahunnya, jika penagihan piutang
semakin cepat maka perusahaan akan bisa lebih cepat juga untuk memutar kembali dana
ataupun modal kerja yang telah terkumpul dengan melemparkan kembali dalam bentuk
kredit ke nasabah baru (kredit yang cepat namun sehat) dengan demikian maka pendapat
yang didapat perusahaan akan meningkat, karena penjualan kredit juga bertambah dan
hasil dari dana yang dipinjamkan tersebut akan menghasilkan dana segar yang baru yang
akan menambah pendapatan perusahaan kedepannya.
Hasil perhitungan seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel
Hasil Perhitungan
TAHU
N
2012

RATA-RATA PENAGIHAN PIUTANG


JUMLAH
HARI
360

PERPUTARAN
PIUTANG
-

RASIO
(KALI)
23

2013
2014

360
360

1.15
1.16
Rata-rata

314
311
313

BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
24

Dari hasil perhitungan analisis rasio keuangan yang telah dilakukan pada laporan
keuangan kopdit swastiastu singaraja adapun kesimpulan yang didapat sebagai berikut :
a. Laporan keuangan ini bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu
perusahaan baik kepada pemilik, manajemen maupun pihak luar yang berkepentingan
terhadap laporan tersebut. Dalam laporan keuangan termuat informasi mengenai
jumlah kekayaan (asset) dan jenis-jenis kekayaan yang dimiliki, kewajiban-kewajiban
(utang) yang dimiliki baik jangka panjang maupun jangka pendek, serta ekuitas
(modal) yang dimilikinya (Kasmir, Jakfar , 2003 : 124).
b. Jenis-jenis Rasio dikelompokkan kedalam 5 kelompok dasar yaitu : 1) Rasio
Likuiditas, 1) Rasio Leverage, 3) Rasio aktivitas, 4) Rasio profitabilitas, 4) Rasio
penilaian,. (Jumingan, 2008).
c. Analisis raio keuangan sangat penting bagi suatu perusahaan baik yang bergerak di
bank maupun non bank, maka dari itu setiap perusahaan diwajibkan untuk membuat
suatu laporan keuangan.
2. SARAN
Dengan adanya analisis ini kita maupun staff dan manajer ataupun semua anggoota
dari kopdit swastiastu dapat mengetahui kelemahan yang ada di perusahaannya,
kemudian dengan demikian manajer dari kopdit swastiastu tersebut bisa mengambil
keputusan yan lebih baik dan memang jalan yang terbaik yang bisa diambil agar
kedepannya perusahaan bisa lebih maju.

Daftar Pustaka
Kopdit Swastiastu Singaraja,2015, Laporan Keuangan
Kasmir. 2001, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Revisi, PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta
SAK (Standar Akuntansi Keuangan)
25

http://karami.staff.gunadharma.ac.id/downloads/files/6407/financeandstandar.ppt.
Tanggal 22 Juni 2015

26