Você está na página 1de 25

Arti penting program RPPKI (Remaja Peduli Postif Kreatif

Inovatif)

Program RPPKI adalah sebuah program yang kami usulkan untuk


diselenggarakan karena memiliki tiga arti yang sangat penting
untuk mendukung cita-cita Bengkulu Selatan menuju Bengkulu
Selatan EMAS.

Program ini memiliki sasaran yaitu remaja, kami memilih sasaran


remaja karena menurut kami remaja adalah penduduk yang
memiliki jumlah yang sangat banyak, selain itu remaja adalah
penentu nasib suatu daerah untuk masa sekarang dan
kedepannya serta remaja merupakan penerus dan generasi dari
daerah maupun negara.

Peduli

Sikap peduli adalah sikap yang harus dimiliki semua orang. Sikap
peduli dapat diartikan sebagai sikap yang memperhatikan dan
bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita.
Peduli juga merupakan sebuah sikap keberpihakan kita untuk
melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang
terjadi di sekitar kita.

Seseorang yang memiliki sikap peduli berarti orang tersebut


mempunyai rasa untuk membantu mereka yang lemah,
membantu mengatasi penderitaan, dan kesulitan yang dihadapi

orang lain. Orang-orang peduli adalah orang-orang yang tidak


bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan orang lain. Dalam hal
ini sikap peduli sangat penting contohnya saja jika remaja di
Bengkulu Selatan peduli akan
lingkungannya maka akan
terwujudlah keindahan dan kenyamanan di daerah tersebut
sehingga akan terwujudnya salah satu cita-cita Bengkulu Selatan
yaitu Elok.

Positif

Positif disini penulis maknai dengan suatu perbuatan atau pola


pikir yang baik akan segala hal. Seseorang yang memiliki sikap
positif berarti orang tersebut konsisten dalam ucapan dan
menjunjung tinggi etika pergaulan bangsa yang luhur, serta
menjaga hubungan baik antar sesama warga masyarakat sekitar
dan daerah lain, dengan tetap mempertahankan dan
menunjukkan jati diri daerah yang cinta akan perdamaian dan
keadilan sosial. Jika nilai positif ini diterapkan dalam kehidupan
remaja, maka remaja akan terhindar dari berbagai permasalahan
kompleks, seperti halnya dengan berbagai kasus yang dialami
remaja di Bengkulu Selatan. Dengan meiliki sikap positif maka
remaja akan siap untuk membantu perwujudan cita-cita
daerahnya, terkhusus di Bengkulu Selatan agar dapat
mewujudkan cita-cita EMAS-nya.

Kreatif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna kreatif berarti


memiliki daya cipta dan memiliki kemampuan untuk menciptakan
sesuatu. Dalam kehidupan ini kreativitas sangat penting, karena
kreativitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti
dalam proses kehidupan manusia. Treffinger (dalam Reni Akbar
Hawadi, dkk, 2001:13) mengatakan bahwa tidak ada seorang pun
yang tidak memiliki kreativitas. Akan tetapi masyarakat tidak
memiliki kemauan untuk memunculkannya. Ada banyak nilai
penting kreativitas dalam kehidupan secara nyata.

Seseorang
yang
kreatif
dapat
menyelesaikan
segala
permasalahan terhadap suatu persoalan. Dari potensi kreatifnya,
seseorang dapat menunjukkan hasil perbuatan, kinerja/karya,
baik dalam bentuk barang maupun gagasan secara bermakna
dan berkualitas. Dengan tingkat kualitas dari kinerja, karya,
gagasan, dan perbuatan manusia dapat diantisipasi dari sejauh
mana seseorang memiliki tingkat kreativitas tertentu. Suatu
karya kreatif sebagai hasil kreativitas seseorang dapat
menimbulkan kepuasan pribadi yang tak terhingga nilainya.
Kreativitas penting untuk mengembangkan semua bakat dan
kemampuan individu dalam pengembangan prestasi hidupnya.

Dengan kreativitas tinggi yang dimiliki remaja maka remaja


tersebut akan mempunyai pengembangan diri secara optimal.
Mereka dapat mempergunakan ide-idenya untuk menciptakan
kreasi baru demi kelangsungan hidup. Selain itu dengan
kreativitas kita dapat mengolah sumber daya alam yang ada,
contohnya dalam pengembangan wisata.

Jika kita kreatif, kita bisa membuat wisata yang menarik di


Kabupaten Bengkulu Selatan. Dengan adanya pembangun
tersebut maka dapat menciptakan sebuah peluang usaha bagi
masyarakat sekitar, khususnya masyarakat Kabupaten Bengkulu
Selatan. Maka secara tidak langsung hal ini dapat membuat
kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Maka dari itu sikap kreatif
sangat pentingagar dapat mewujudkan salag satu cita-cita
Bengkulu Selatan yaitu Sejahtera.

Inovatif

Inovatif adalah sebuah sikap yang dimiliki oleh seseorang untuk


memuculkan sesuatu yang baru dengan ide yang terencana.
Inovatif betkaitan dengan kata inovasi. Inovasi adalah penemuan
atau terobosan yang menghasilkan produk baru yang belum
pernah ada sebelumnya atau mengerjakan sebuah produk yang
sudah ada dengan cara yang baru. Sebuah inovasi lahir dari cara
berpikir yang inovatif. Cara berpikir inovatif adalah suatu
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha.

Seorang sosiolog, Schumpeter menyatakan bahwa inovasi adalah


pembeda antara seorang wirausahawan dengan pengusaha biasa.
Inovasi harus berlangsung sepanjang waktu. Bila seorang
pengusahha tidak melakukan inovasi, maka dia bukan lah
seorang wirausahawan. Agar usaha yang dilakukan terus
menghasilkan keuntungan dan berumur panjang, maka inovasi
harus terus dilakukan.

Dalam hal ini remaja dituntut untuk inovatif, artinya remaja harus
bisa memunculkan inovasi baru. Ada banyak yang dapat
dilakukan pelajar, mulai dari hal sedrhana seperti mengolah
sampah yang ada di sekitar menjadi berguna dengan kreasi baru.
Dengan hal ini maka remaja dapat menjadikan daerahnya lebih
maju.

Oleh karena itu dengan terwujudnya sikap Positif Kreatif Inovatif


maka remaja Indonesia mampu mewujudkan cita-cita yang
diinginkan oleh daerah Bengkulu Selatan yaitu Elok Maju
Sejahtera.

Rancangan Arah Program RPKI ( Remaja Positif Kreatif Inovatif)

Dalam program ini kami memiliki sasaran tujuan remaja yang


berusia 10-24 tahun. Untuk mewujudkan program ini diperlukan
banyak tahapan yang tentu saja memerlukan kerja sama dari
berbagai pihak instansi terkait, yang meliputi institusi pendidikan
sebagai tempat berkumpulnya aktivitas remaja dan pemerintah
daerah sebagai pendukung dan pemegang kebijakan di suatu
daerah.

Grafis artikel ilmiah I

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Program RPPKI (Remaja Peduli Positif Kreatif Inovatif) adalah


sebuah program yang kami usulkan untuk membantu perwujudan
cita-cita Kabupaten Bengkulu Selatan yaitu EMAS ( Elok Maju
Sejahtera)
serta
menghindarkan
remaja
dari
berbagai
permasalahan kompleks seperti kenakalan remaja. Sasaran
program ini adalah remaja yang berusia 10-24 tahun, karena
remaja adalah penentu nasib bangsa yang akan datang. Sikap
peduli yang ditanamkan di diri remaja akan membuat mereka
memperhatikan daerahnya serta akan terdeorong keinginan
untuk menjaga apa yang dimiliki daerahnya, jika hal ini terlaksana
dengan baik maka masyarakat lain akan memandang Bengkulu
Selatan sebagai daerah yang elok. Dengan memiliki sikap positif
maka remaja akan terhindar dari berbagai permasalahan
kompleks. Kemudian dengan kreatif kita dapat menciptakan
sesuatu yang akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar maupun
masyarakat lainnya, sehingga Bengkulu Selatan dapat lebih maju.
Sedangkan dengan Inovatif kita dapat memunculkan sesuatu hal
baru yang dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat
sehingga terwujudlah cita-cita Bengkulu Selatan yang sejahtera.

Saran

Untuk mewujudkan program RPPKI diperlukan kerja sama dari


berbagai pihak, baik pihak masyarakat, pemerintahan, maupun
pelajar, yang meliputi :

Kepada masyarakat, hendaknya menerapkan program RPPKI


dalam kehidupan sehari-sehari.
Kepada Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pendidkan agar
dapat mendukung program RPPKI dan menyetujuinya serta
mensosialisasikan kepada masyarakat terkhusus kepada remaja.
Kepada pihak sekolah, untuk menerapkan program RPPKI
menjadi salah satu materi dalam pembelajaran di kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Kantor Badan Pusat Statistika (BPS)

Kantor Kepolisian Resort Bengkulu Selatan

Andi Ismoyo, SH, Witri Windrawati, SE, dkk. 2014. Himpunan


Materi Program. Genre dan Remaja. Jakarta Timur
: Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Reni Akbar Hawadi, dkk, 2001:13

Majalah Lion Mag

Sumber Internet :

http://www.kamuskbbi.id/kbbi/artikata.

http://www.antaranews.com

KENAKALAN
REMAJA,
MENGATASINYA

BENTUK,

PENYEBAB

DAN

CARA

Posted on Desember 23, 2010 by siswatibudiarti

KENAKALAN REMAJA , BENTUK,


PENYEBAB DAN CARA MENGATASINYA

A. PENDAHULUAN

Dunia pendidikan dewasa ini menghadapi berbagai masalah yang


sangat komplek yang perlu mendapatkan perhatian. Masalahmasalah tersebut antara lain kurikulum yang berubah-ubah
sehingga sekolah kurang siap dalam melaksanakan, keadaan guru
yang kurang memenuhi syarat dari segi tingkat pendidikan,
fasilitas sekolah yang tidak lengkap maupun masalah kesiswaan
yang menyebabkan menurunnya tata krama sosial dan etika
moral dalam praktek kehidupan sekolah yang mengakibatkan
sejumlah ekses negatif yang amat merisaukan masyarakat. Ekses
tersebut antara lain semakin maraknya berbagai penyimpangan
norma kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan yang

terwujud dalam bentuk kenakalan siswa di sekolah seperti


dibawah ini.
1. Kurang hormat kepada guru dan karyawan. Perilaku ini tampak
dalam hubungan siswa dengan guru atau karyawan di mana
siswa sering acuh tak acuh terhadap keberadaan guru dan
karyawan sekolah.
2. Kurang disiplin terhadap waktu dan tidak mengindahkan
peraturan. Siswa masih sering terlambat masuk kelas, membolos,
tidak memakai seragam dengan lengkap, dan menggunakan
model baju yang tidak sesuai ketentuan sekolah dan membawa
senjata tajam.
3. Kurang memelihara keindahan dan kebersihan lingkungan.
Perilaku ini tampak dengan adanya perbuatan mencorat-coret
dinding sekolah atau kelas, merusak tanaman, dan membuang
sampah seenaknya.
4. Perkelahian antar pelajar, sering terjadi perkelahian antar siswa
satu sekolah bahkan perkelahian antar sekolah.
5. Merokok di sekolah pada jam istirahat.
6. Berbuat asusila, seperti adanya siswa putra yang mengganggu
siswa putri dan melakukan perbuatan asusila di lingkungan
sekolah.

Di samping itu kenakalan siswa dewasa ini cenderung pada


kategori tindakan kriminal. Hal ini terbukti dengan adanya
tindakan siswa antara lain pencurian, penyalahgunaan obat
terlarang, dan pembunuhan yang secara umum disebut sebagai
kejahatan siswa.

Masalah ini bila tidak segera diatasi akan semakin mengancam


kehidupan generasi bangsa khususnya dan tata kehidupan sosial
masyarakat pada umumnya. GBHN tahun 1999 mengamanatkan
kepada masyarakat (sekolah) untuk memberlakukan pendidikan
budi pekerti sebagai pelajaran wajib diberikan dalam kehidupan
siswa dan warga sekolah. Hal ini dapat dipahami, karena salah
satu misi pendidikan adalah bagaimana melindungi, melestarikan
dan mengembangkan budaya bangsa dan budi pekerti yang luhur
dalam tata kehidupan sekolah.

Ditinjau dari usia remaja, usia tersebut merupakan usia sekolah


bagi anak. Di lingkungan sekolah posisi remaja adalah sebagai
siswa, jadi kenakalan remaja yang dilakukan oleh peserta didik
dapat disebut sebagai kenakalan siswa. Dari pengertian ini dapat
disimpulkan kenakalan siswa adalah penyimpangan perilaku
siswa yang berakibat siswa melanggar aturan, tata tertib, dan
norma kehidupan di sekolah dan masyarakat.

Telah disebutkan di atas kenakalan siswa saat ini sudah


cenderung pada perbuatan kriminal yang cukup meresahkan
masyarakat. Di sekolah kenakalan siswa menjadi tanggung jawab
sekolah dalam mengelolanya. Hal ini dimaksudkan untuk
membantu siswa dalam mencapai keberhasilannya. Mengingat
semakin kompleknya permasalahan yang timbul akibat kenakalan
siswa, dalam pemecahannya sekolah perlu melibatkan instansiinstansi terkait seperti lembaga swadaya masyarakat, kepolisian
dan dinas-dinas terkai, upaya ini dimaksudkan untuk
mendapatkan pemecahan masalah yang optimal.

B. PEMBAHASAN

1. Karakteristik Remaja

Manusia adalah mahluk yang paling sempurna, bila dibandingkan


dengan mahluk-mahluk yang lain. Manusia memiliki kelebihankelebihan dalam segi cipta, rasa, karsa, estetika, social dan susila
serta hal yang lain. Dalam kehidupannya manusia mengalami
suatu perkembangan dan pertumbuhan. Menurut Kartini Kartono
(1986 : 29 ) yang dimaksud dengan perkembangan yaitu :
Perkembangan merupakan
perubahan-perubahan
psikofisis
sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi phisikhis dan
fisis dari anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses
belajar dalam passage waktu tertentu menuju kedewasaan.
Menurut ahli yang sama ( 1986 : 33 ) yang dimaksud dengan
pertumbuhan yaitu perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari
proses pematangan fungsi-fungsi fisik, yang berlangsung secara
normal pada diri anak-anak yang sehat, dalam peredaran waktu
tertentu.

Menurut Abin Syamsudin (2000:130) menuliskan batasan remaja


awal berkisar antara 11-13 tahun sampai 14-15 tahun. Dari
batasan usia remaja awal tersebut, usia remaja awal merupakan
usia sekolah tingkat SMP.

Conger dalam Abin Syamsudin (2000:132), memberikan


penafsiran sebagai ciri dari remaja sebagai suatu masa yang
amat kritis yang mungkin dapat merupakan tipe of time and the
worst of time. Kalau individu mampu mengatasi berbagai
tuntutan yang dihadapinya secara integratif, ia akan menemukan
identitasnya yang akan dibawa menjelang masa dewasanya.
Sebaliknya, kalau gagal ia akan berada pada kritis identitas yang
berkepanjangan.

Menurut Zakiah Daradjat (1992:28) yang dimaksud dengan masa


remaja yaitu: Satu tingkat umur, di mana anak-anak tidak anakanak lagi, akan tetapi belum bisa dipandang dewasa. Jadi remaja
adalah umur yang belum dapat menjembatani antara anak-anak
dan umur dewasa. Remaja adalah usia dimana seorang anak
mengalami masa transisi atau masa peralihan dalam mencari
identitas diri. Masa peralihan yang dimaksudkan disini adalah
peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa atau
merupakan perpanjangan dari masa kanak-kanak sebelum
mencapai masa dewasa. Karenanya pada masa ini seakan-akan
remaja berpijak antara dua kutub yaitu kutub yang lama (masa
anak-anak) yang akan ditinggalkan dan kutub yang baru (masa
dewasa) yang masih akan dimasuki. Dengan keadaan yang belum
pasti inilah remaja sering menimbulkan masalah bagi dirinya dan
pada masyarakat sekitarnya, sebab pribadinya belum stabil dan
matang.

Abin Syamsudin (2000:133) menyebutkan ciri-ciri umum remaja


awal dilihat dari beberapa aspek, meliputi :
1) Dari aspek perilaku sosial, moralitas dan religius meliputi :
a) diawali dengan kecenderungan
menyendiri dan keinginan

ambivalensi

keinginan

bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer;


b) adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya
disertai semangat konformitas yang tinggi;
c)
adanya
ambivalensi
antara
keinginan
bebas
dari
dominasipengaruh orang tua dengan kebutuhan bimbingan dan
bantuan dari orang tua;

d) dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji


kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam
perilaku sehari0hari oleh para pendukungnya (orang dewasa);
e) mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang
dipandang tepat dengan tipe idolanya;
f) mengenai keberadaan dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan
mulai dipertanyakan secara kritis dan spektis;
g) penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan
mungkin didasarkan pertimbangan asanya semacam tuntutan
yang memaksa dari luar dirinya; dan
h) masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup.
2) Dari aspek afektif, kognitif dan kepribadian meliputi :
a) lima kebutuhan dasar (fisik, rasa aman, afiliasi sosial,
penghargaan, perwujudan diri) mulai menunjukkan arah
kecenderungan-kecenderungan;
b) reaksi, reaksi dan ekspresi emosinya masih labil dan belum
terkendali seperti pernyataan marah, gembira atau kesedihannya
mungkin masih dapat berubah-ubah silih berganti dalam tempo
yang cepat;
c) kecenderungan-kecenderungan arah sikap mulai tampak
(teoritis, ekonomis, estetis, politis, sosial dan religius) meskipun
masih dalam taraf eksplorasi dan coba-coba; dan
d) merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi kritis
identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psikososialnya
yang akan membentuk kepribadiannya.

Dengan karakter seperti di atas siswa yang tergolong usia remaja


apabila tidak mendapatkan bimbingan yang baik mudah

terjerumus pada perbuatan yang merugikan dirinya sendiri atau


terjerumus dalam kenakalan remaja (siswa). Secara umum jika
siswa tidak dapat berkembang dengan baik sesuai dengan
kebutuhannya akan menimbulkan perilaku menyimpang yang kita
kenal dengan kenakalan remaja.

2. Kenakalan Remaja

Setiap masyarakat di manapun mereka berada pasti mengalami


perubahan, perubahan itu terjadi akibat adanya interaksi antar
manusia. Perubahan sosial tidak dapat dielakkan lagi, berkat
adanya kemajuan ilmu dan teknologi membawa banyak
perubahan antara lain perubahan norma, nilai, tingkah laku dan
pola-pola tingkah laku baik individu maupun kelompok (Tjipto
Subadi 2009: 21)

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk


perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang
hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (2003 : 6-7 )
secara tegas dan jelas memberikan batasan kenakalan remaja
merupakan gejala sakit secara sosial pada anak-anak dan remaja
yang disebabkan oleh bentuk pengabaian sosial, sehingga
mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yan
menyimpang. Perilaku anak-anak ini menunjukkan kurang atau
tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial. Dalam
Bakolak Inpres no : 6/1997 buku pedoman 8, dikatakan bahwa
kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku/tindak remaja
yang bersifat anti sosial, melanggat norma sosial, agama serta
ketentuan hukum yang berlaku di masyarakat.

Fuad Hasan dalam Sudarsono (1999) merumuskan definisi


Delinquency sebagai perilaku anti sosial yang dilakukan oleh anak
remaja yang bila mana dilakukan oleh orang dewasa
dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan.

Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996)


menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku
menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama,
merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan
ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan
keluarga dan atau masyarakat.

Singgih D. Gunarso (1988 : 19) mengatakan dari segi hukum


kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang
berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang
bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undangundang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai
pelanggaran hukum; (2) kenakalan yang bersifat melanggar
hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan
hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum
bila dilakukan orang dewasa.

Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku


menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emine
Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985:73) Bahwa perilaku
menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu
dianggap sebagai fakta sosial yang normal, dalam bukunya
Ruler of Sociological Method dalam batas-batas tertentu
kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya
secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh
perilaku
tersebut
tidak
menimbulkan
keresahan
dalam

masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu


dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi
kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku yang
nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan
keresahan pada masyarakat.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan yang
dimaksud dengan kenakalan remaja yaitu tindak perbuatan
remaja yang melanggar norma-norma agama, sosial, hukum yang
berlaku di masyarakat dan tindakan itu bila dilakukan oleh orang
dewasa dikategorikan tindak kriminal di mana perbuatannya itu
dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

3. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja

Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan


remaja kedalam tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, seperti suka
berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah
tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan
kejahatan seperti mengendarai sepera motor tanpa SIM,
mengambil barang orang tua tanpa ijin (3) kenakalan khusus
seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah,
pemerkosaan dll.

Sedangkan menurut Sudarsono (1995:13)


kenakalan siswa atau remaja meliputi:

yang

termasuk

a) perbuatan awal pencurian meliputi perbuatan berkata bohong


dan tidak jujur;
b) perkelahian antar siswa termasuk juga tawuran antar pelajar;
c) mengganggu teman;

d) memusuhi orang tua dan saudara, meliputi perbuatan berkata


kasar dan tidak hormat pada orang tua dan saudara;
e) menghisap ganja, meliputi perbuatan awal dari menghisap
ganja yaitu merokok;
f) menonton pornografi; dan
g) corat-coret tembok sekolah

4. Penyebab Kenakalan Remaja

Kenakalan siswa (remaja) yang sering terjadi di dalam sekolah


dan masyarakat bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri
(Sudarsono:125-131). Kenakalan remaja tersebut timbul karena
adanya beberapa sebab antara lain :

a. Keadaan Keluarga
Keadaan keluarga yang dapat menjadikan sebab timbulnya
kenakalan remaja dapat berupa keluarga yang tidak normal
(broken home) maupun jumlah anggota keluarga yang kurang
menguntungkan. Broken home terutama perceraian atau
perpisahan orang tua dapat mempengaruhi perkembangangan
anak. Dalam keadaan ini anak frustasi, konflik-konflik psikologis
sehingga keadaan ini dapat mendorong anak menjadi nakal.
Keadaan keluarga merupakan salah satu penyebaba kenakalan
remaja juga dapat ditimbulkan oleh kebiasaan perilaku orang tua,
seperti dikemukankan oleh Papalia, Olds dan Feldman (2001 : 474
) sebagai berikut, Parent cronic deliquent often failed to reinforce
good behavior in early childhood and were harsh or inconsaistent,
or both, in punishing misbehavior. Pendapat senada

dikemukakan Mustafit Amna (2002 : 2) yang mengatakan faktor


keluarga penyebaba kenakalan anak adalah perhatian dan
penghayatan dan pengamalan orang tua atau keluarga terhadap
agama. Nelson, Rutter, dan Giller dalam Easler dan Medway
(2004:74) juga mengatakan. . Antisocial behaviors resulf from
socialization processes at home or in peer group.

2. Keberadaan Pendidikan Formal


Dewasa ini sering terjadi perlakuan guru yang tidak adil, hukuman
yang kurang menunjang tercapainya tujuan pendidikan, ancaman
dan penerapan disiplin terlalu ketat, disharmonis hubungan siswa
dan guru, kurangnya kesibukan belajar di rumah. Proses
pendidikan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan jiwa
anak kerapkali memberikan pengaruh kepada siswa untuk
berbuat nakal, sering disebut kenakalan remaja.

Di dalam sekolah terjadi interaksi antara remaja (siswa) dengan


sesamanya, juga interaksi antara siswa dengan pendidik,
interaksi yang mereka lakukan di sekolah sering menimbulkan
akibat sampingan yang negatif. Seperti pendapat Sri Jayantini
(2004:3) yang mengatakan sifat anak yang selalu ingin
mengungguli temannya dengan cara menekan atau mengancam
bila dibiarkan saja, memberikan peluang bagi anak untuk
menyelesaikan setiap masalah dengan cara kekerasan.

Anak-anak yang memasuki sekolah tidak semuanya berwatak


baik, baik dari kebiasaan anak yang negatif maupun dari faktor
keluarga anak (siswa). Dengan keadaan ini akan mudah
menimbulkan konflik-konflik psikologis yang dapat menyebabakan
anak menjadi nakal. Pengaruh negatif sekolah juga dapat datang
dari yang langsung menangani proses pendidikan antara lain :

kesulitan ekonomi yang dialami pendidik, pendidik sering tidak


masuk, pribadi pendidik yang tidak sesuai dengan jiwa pendidik.

3. Keadaan Masyarakat
Anak remaja (siswa) sebagai anggota masyarakat selalu
mendapat pengaruh dari lingkungan masyarakatnya. Pengaruh
tersebut adanya beberapa perubahan sosial yang cepat yang
ditandai dengan peristiwa yang sering menimbulkan ketegangan
seperti persaingan dalam ekonomi, pengangguran, masmedia,
dan fasilitas rekreasi.

Pada dasarnya kondisi ekonomi memiliki hubungan erat dengan


timbulnya kejahatan. Adanya kekayaan dan kemiskinan
mengakibatkan bahaya besar bagi jiwa manusia, sebab kedua hal
tersebut mempengaruhi jiwa manusia dalam hidupnya termasuk
anak-anak remaja. Anak dari keluarga miskin ada yang memiliki
perasaan rendah diri sehingga anak tersebut dapat melakukan
perbuatan melawan hukum terhadap orang lain. Seperti
pencurian, penupian dan penggelapan. Biasanya hasil yang
diperoleh hanya untuk berfoya-foya.

Timbulnya pengangguran yang semakin meningkat di dalam


masyarakat terutama anak-anak remaja akan menimbulkan
peningkatan kejahatan bahkan timbilnya niat di kalangan remaja
untuk berbuat kejahatan. Keadaan ini tentunya dapat
mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar sehingga kadang
jadi tidak bersemangat untuk belajar.

Di kalangan masyarakat sendiri sudah sering terjadi kejahatan


seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, pemerasan,
gelandangan, dan pencurian. Bagi anak remaja keinginan berbuat
jahat kadang timbul karena bacaan, gambar-gambar dan film.
Kebiasaan membaca buku yang tidak baik (misal novel seks),
pengaruh tontonan gambar-gambar porno serta tontonan film
yang tidak baik dapat mempengaruhi jiwa anak untuk berperilaku
negatif. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Barak yang ditulis
Grochowski (2002:340) yang mengatakan, The perception of
crime is the product of the Media Multiplied by the Additive
effects of the political economy and cultur over time.

5. Cara Mengatasi Kenakalan Remaja

Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan,


selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang
sesuai, orang tua hendaknya juga memberikan kesibukan dan
mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada
si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan
paksaan maupun mengada-ada. Si remaja di beri pengertian yang
jelas sekaligus diberikan teladan. Sebab dengan memberikan
tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu
kluyuran tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak
mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam
rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu
memecahkan masalah sehari-hari, mereka dididik mandiri.

Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan masa


depan si remaja, mereka diarahkan agar dapat memilih sekolah
yang diharapkan serta mengembangkan bakat yang ada, untuk
pemilihan study lanjut tidak semata-mata karena keinginan orang

tua dan pilihan orang tua. Pemaksaan ini justru akan berakhir
dengan kekecewaan, sebab meski ada sebagian anak yang
berhasil mengikuti kehendak orang tuanya, tetapi tidak sedikit
yang frustasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali.
Mereka malah pergi bersama kawan-kawannya, bersenangsenang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian
menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.

Dengan banyaknya waktu luang yang dimiliki remaja maka


tindakan iseng sering dilakukan untuk mengisi waktu luang hal ini
dimaksudkan juga untuk menarik perhatian lingkungannya.
Perhatian yang diharapakan dapat berasal dari orang tuanya
maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering
menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer
sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa
lampu di malam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras,
dan sebagainya.

Oleh karena itu orang tua hendaknya memberikan pengarahan


yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti
itu akan merugikan dirinya sendiri, orang tua, maupun
lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orang tua
hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu
ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan keisengan
remaja adalah semacam refresing atas kejenuhannya dengan
urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak suka berkelahi
orang tua bisa mengarahkannya pada satu kelompok kegiatan
bela diri.

Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap


remaja yang sedang jatuh cinta, orang tua hendaknya bersikap

seimbang, seimbang antara pengawasan dengan kebebasan.


Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang
diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar meraka
tidak ketakutan dengan orang tua yang dapat menyebabkan
mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia
makin meningkat, orang tua dapat memberi lebih banyak
kebebasan kepada anak. Namun harus tetap dijaga agar mereka
tidak salah jalan, menyesali kesalahan yang telah dilakukan
sesungguhnya kurang bermanfaat.

Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama


orang tua dengan anak. Apabila orang tua tidak setuju hendaknya
diutarakan dengan bijaksana jangan hanya dengan kekuasaan
dan kekerasan. Berilah pengertian sebaik-baiknya, bila tidak
berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang
penting disini adalah adanya komunikasi dua arah antara orang
tua dan anak. Orang tua hendaknya menjadi sahabat anak Orang
tua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah
dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut
mengutarakan masalahnya kepada orang tua.

Selanjutnya apabila suasana dirumah nyaman, orang tua tidak


berlaku otoriter dan anak merasakan kedamaian dan kasih
sayang di rumah komunikasi terjalin dengan baik antara orang
tua dengan anak, serta penanaman nilai agama diberikan sejak
dini maka anak tidak akan berlaku mencari perhatian dan
kenyamanan di luar rumah yang bisa mengakibatkan terjerumus
pada kenakalan remaja yang lebih parah lagi kalau anak sudah
masuk dalam penggunaan obat-obat terlarang serta narkoba.

B. SIMPULAN

Banyaknya masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan yang


menimbulkan banyak ekses negatif yang sangat merisaukan
masyarakat. Ekses tersebut antara lain makin maraknya berbagai
penyimpangan norma kehidupan agama dan sosial masyarakat
yang terwujud dalam bentuk kenakalan siswa atau kenakalan
remaja.

Yang dimaksud dengan kenakalan remaja yaitu tindak perbuatan


remaja yang melanggar norma-norma agama, sosial, hukum yang
berlaku di masyarakat di mana perbuatannya itu dapat merugikan
dirinya sendiri maupun orang lain, dan tindakan itu bila dilakukan
oleh orang dewasa dikategorikan tindak kriminal

Yang termasuk kenakalan siswa atau remaja meliputi:


a) perbuatan awal pencurian meliputi perbuatan berkata bohong
dan tidak jujur;
b) perkelahian antar siswa termasuk juga tawuran antar pelajar;
c) mengganggu teman;
d) memusuhi orang tua dan saudara, meliputi perbuatan berkata
kasar dan tidak hormat pada orang tua dan saudara;
e) menghisap ganja, meliputi perbuatan awal dari menghisap
ganja yaitu merokok;
f) menonton pornografi; dan
g) corat-coret tembok sekolah
Kenakalan remaja tersebut timbul karena adanya beberapa sebab
antara lain

1. Keadaan Keluarga
2. Keberadaan Pendidikan formal
3. Keadaan masyarakat.
Mengatasi kenakalan remaja dengan cara :
1. Hendaknya orang tua memberikan kasih sayang dan perhatian
dalam bentuk apapun
2. Hendaknya komunikasi dengan si remaja senantiasa terjalin
dengan baik, agar si remaja selalu merasa tenang karena orang
tua selalu mendampingi.
3. Perlu melakukan pengawasan yang penuh dan intensif
terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone,
dll.
4. Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini,
seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan
iman kepercayaannya.
5. Dan apabila anak suka berkelahi orang tua
mengarahkannya pada satu kelompok kegiatan bela diri.

bisa

6. Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap


remaja yang sedang jatuh cinta, orang tua hendaknya bersikap
seimbang, seimbang antara pengawasan dengan kebebasan.

DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsudin Makmun. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung :


Remaja Rosdakarya.

Gunarso Singgih D. 1988. Psikologi Remaja. Jakarta : BPK Gunung


Mulya.

Kartini Kartono. 1988. Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja.


Jakarta : Rajawali.

Kartini Kartono. 2003. Patologi Sosial, Kenakalan Remaja. Jakarta:


Raja Grafindo Persada.

Papalia, D.E., Olda, S.W., & Feldman, R.D. 2001.


Development. New York : McGraw Hill Companies.

Human

Soerjono Soekanto. 1988. Sosiologi Penyimpangan. Jakarta :


Rajawali.

Sudarsono. 1995. Kenakalan Remaja : Jakarta : Rineka Cipta.

Tjipto Subadi. 2009. Sosiologi


Surakarta : Fairuz Media.

dan

Sosiologi

Pendidikan.

Y.M. Uttamo Thera. 2007. Kiat Mengatasi Kenakalan Remaja.


Diambil
pada
tanggal
10
Nopember
2010,
dari
http://www.123people.Com/s/kenakalan+remaja.