Você está na página 1de 8

LAPAROSKOPI PADA PENDERITA INFERTILITAS WANITA

Oleh :
I Gusti Agung Ayu Cahyaningrum Ananta
P07124214 017

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN
2015

LAPAROSKOPI PADA PENDERITA INFERTILITAS WANITA


I.

PENDAHULUAN
Pada periode tahun 70-an infertilitas atau kesulitan punya anak bukan

merupakan topik yang hangat untuk dibicarakan. Diskusi lebih banyak membahas
dari sisi sosial saja terutama pada pentingnya punya anak. Bahasan sosial tentang
anak lebih ditonjolkan yaitu sebagai penerus generasi, tumpuan harapan orang tua,
ikatan keluarga menjadi lebih kukuh dan sebagainya (Hendy, 2006).
Namun dengan berjalannya waktu pandangan masyarakat terhadap
infertilitas telah berubah, mereka menginginkan informasi yang terbuka tentang
infertilitas dan tidak malu lagi untuk bertanya dan mencari pertolongan untuk
masalah infertilitas. Hal ini terbukti dengan diketahuinya banyak pasangan yang
datang berobat karena ingin punya anak dan makin banyaknya klinik infertilitas
yang berdiri untuk mengatasi masalah tersebut.
Penyebab infertilitas dapat berasal dari pihak istri maupun suami atau
keduanya. Dari pihak istri penyebabnya adalah dari faktor tuba (15%), ovarium
(21%), endometriosis (8%), faktor vagina, serviks dan endometrium (8%), faktor
psikogenik(8%) dan faktor idiopatik (15-25%) dan hal ini semakin meningkat
disebabkan insidensi fertilitas meningkat sejak 40 tahun terakhir ini selain itu pola
hidup

seperti

merokok,

mengkonsumsi

alkohol,

serta

obesias

terbukti

menghambat kehamilan (Sarwono, 2011).


Pemeriksaan menyeluruh pada panggul dapat memberikan informasi
penting mengenai infertilitas dan kelainan ginekologis lain. Sering kali keadaan
yang tidak dapat ditemukan dengan pemeriksaan fisik dapat diketahui melalui
laparoskopi yang telah menjadi bagian terpadu pada penatalaksanaan infertilitas.
Pada kasus ginekologi saat ini perkembangan tindakan Laparoskopi
sangatlah pesat. Tindakan yang dapat dilakukan adalah : diagnosis untuk melihat
adanya kelainan pada kasus infertilitas (susah punya anak), melihat saluran telur
(tuba) dan memperbaiki bila ada kelainan, pembebasan perlengketan, sterilisasi,
operasi hamil di luar kandungan, pengangkatan kista, mioma, bahkan dapat
melakukan tindakan yang besar seperti pengangkatan rahim (histerektomi) dan
operasi radikal pada kanker kandungan (Sarwono, 2011). Tindakan laparoskopi
1

dilakukan jika pasien telah mengalami pemeriksaan dasar infertilitas. Berdasarkan


hal tersebut akan dikaji lebih dalam dengan perbandingan hasil penelitian jurnal
peranan laparoskopi pada penderita infertilitas wanita.

II.

PEMBAHASAN
Dalam praktek klinis sehari-hari, tidak selalu jelas apakah dan kapan

tepatnya di laparoskopi diagnostik harus ditawarkan. Peranan laparoskopi pada


penderita infertilitas wanita yang telah dikaji melalui jurnal terkait, mengatakan
laparoskopi dapat dilakukan jika kasus yang memenuhi kriteria penelitian
memberi persetujuan secara tertulis dan sebelum dilakukan tindakan laparoskopi
pasien telah mengalami pemeriksaan dasar infertilitas mencakup anamnesis,
pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan ginekologi dan analisa sperma (Sarwono,
2011).
Dalam sebuah penelitian, laparoskopi dapat mengidentifikasi penyakit
panggul di sekitar setengah dari jumlah pasien. Dalam penelitian tersebut,
laparoskopi dilakukan untuk mempelajari perannya dalam diagnosis berbagai
penyebab female infertility.
Berikut ini perbandingan hasil penelitian melalui jurnal mengenai infertilitas
dapat ditinjau antara lain :
a. Usia dan Jenis Infertilitas
Dari lima puluh wanita yang diteliti di K.S. Hegde Charitable hospital
selama rentang satu setengah tahun, 34 (68%) disajikan dengan infertilitas primer
dan 16 (32%) dengan infertilitas sekunder. Usia rata-rata pada presentasi adalah
28,3 tahun di infertilitas primer dan 31,8 tahun pada kelompok infertilitas
sekunder, hasil yang sama diamati di Boricha et al study (Shraddha SK, 2013).
Tidak jauh berbeda, dari 118 kasus infertil yang dilakukan di Medan
memenuhi kriteria penerimaan jenis infertilitas yang paling sering dijumpai
adalah infertilitas primer yaitu sebesar 90 kasus (76,3%) dan infertilitas sekunder
sebesar 28 kasus (23,7%). Sebaran usia yang paling sering dijumpai adalah usia
antara 30-34 tahun yaitu sebesar 53 kasus (44,9%) (Ronny, A, dkk, 2004). Pada
penelitian ini juga dijumpai usia minimum adalah 22 tahun dan usia maksimum
adalah 38 tahun dengan usia rata-rata adalah 28,90 3,4 tahun. Berkaitan dengan
2

hal tersebut jumlah infertilitas primer memang jauh lebih tinggi, dan kisaran usia
dijumpai sekitar 22 tahun hingga 34 tahun. Namun penelitian yang berkembang
juga menunjukkan bahwa ada kenaikan usia infertilitas. 12,5% yang mengalami
infertilitas primer dan 31.25% dengan infertilitas sekunder adalah usia > 35 tahun.
Karena penurunan kesuburan dan meningkatnya waktu untuk pembuahan yang
terjadi setelah usia 35, wanita> 35 tahun harus dirujuk untuk infertilitas.
b. Durasi Infertilitas dan Gejala
Berdasarkan penelitian lima puluh wanita durasi infertilitas adalah 2-4
tahun di sebagian besar pasien (47,1%) di infertilitas primer dan (43,7%) di
infertilitas sekunder. Durasi rata-rata infertilitas ditemukan 4,8 tahun di infertilitas
primer dan 4,2 tahun di infertilitas sekunder. Gejala Mayor adalah dismenore,
nyeri panggul, dispareunia, yang sesuai dengan studi. Gejala lainnya yang
ditemukan sering dikaitkan dengan patologi pelvis organik. Diagnostik
laparoskopi harus dipertimbangkan dini pada pasien bergejala selama infertilitas
work-up (Shraddha SK, 2013).
Berdasarkan durasi infertilitas yang dilakukan kepada 118 wanita, yang
menjadi perhatian khusus paling sering dijumpai adalah 5 tahun yaitu sebesar 26
kasus (22,0%), sedangkan lama infertilitas 10 tahun dijumpai sebesar 7 kasus
(5,8%). Dari tabel diatas dapat dipilih sebaran penderita infertilitas berdasarkan
pemeriksaan klinis yang paling sering dijumpai adalah tidak adanya keluhan yaitu
sebesar 34 kasus (28,8%), diikuti oleh gangguan haid yaitu sebesar 24 kasus

(20,3%), dismenorea serta keputihan (Ronny, A, dkk, 2004).


Berkaitan dengan dua penelitian yang berbeda tersebut gejalanya tidak jauh
berbeda namun, penelitian yang dilakukan di Medan dengan 118 wanita, tidak ada
keluhan lebih menonjol.
Melalui studi penelitian di K.S. Hegde Charitable hospital telah
menunjukkan

bahwa

sejarah

dismenore

atau

dispareunia

meningkatkan

kemungkinan mendeteksi endometriosis dari 41% menjadi 64% dan 69% masingmasing. Kehadiran kedua gejala meningkatkan kemungkinan untuk 83% (0,3).
Penyebab paling umum dari ketidaksuburan diamati dengan laparoskopi adalah
oklusi tuba (26%) disertai endometriosis (14,7%) dan ovarium polikistik (11,7%)
di infertilitas primer, penyakit radang panggul (18,7%) dalam kasus-kasus

infertilitas sekunder dan faktor tuba menyumbang hingga 40% dari infertilitas
dengan bervariasi dan beragam etiologi (Shraddha SK, 2013).
c. Sebaran penyebab infertilitas berdasarkan laparoskopi
Pada hasil penelitian yang dilakukan di Medan dengan 118 wanita,
penyebab inferilitas dapat diringkat dan yang paling sering dijumpai adalah
adanya endometriosis yaitu sebesar 34 kasus (28,8%), diikuti oleh penyebab yang
tidak terjelaskan sebesar 28 kasus (23,7%) (Ronny, A, dkk, 2004).
Sedangkan di K.S. Hegde Charitable hospital tidak berbeda endometriosis
ditemukan pada 5 (14,7%) dengan infertilitas primer dan 1 (6,25%) di sekunder
infertilitas. Endometriosis akan meningkat 15% pada kelompok infertilitas primer
dan 11,5% pada kelompok infertilitas sekunder (Shraddha SK, 2013).
Perlu menjadi perhatian bahwa wanita yang telah didiagnosis dengan
endometriosis

lebih

mungkin

untuk

mengalami

infertilitas,

dan

studi

observasional telah menunjukkan bahwa probabilitas bulanan kehamilan pada


wanita dengan endometriosis adalah sekitar setengah dari probabilitas pada wanita
normal.
d. HSG dan Laparoskopi
Dalam penelitian di K.S. Hegde Charitable hospital Sebuah meta-analisis
dari 20 studi yang membandingkan HSG dan laparoskopi untuk patensi tuba dan
perlekatan peritubal menunjukkan bahwa HSG adalah penggunaan terbatas untuk
mendeteksi patensi tuba karena sensitivitas yang rendah, meskipun spesifisitas
yang tinggi membuatnya menjadi tes yang berguna untuk mengkonfirmasikan
kehadiran obstruksi tuba. HSG tidak dapat diandalkan dan membutuhkan
laparoscopy. Laparoskopi masih mengungkapkan patologi tuba atau endometriosis
di 35-68% kasus, bahkan setelah HSG normal (Shraddha SK, 2013). Hal tersebut
tidak jauh berbeda dengan penelitian di Medan laparoskopi yang paling sering
dilakukan adalah pembebasan perlekatan sebanyak 60 kasus (41,4%), dan pada
hasil penelitian ini terdapat beberapa pasien yang mendapat lebih dari satu
tindakan. Dengan demikian laparoskopi masih menjadi metode yang mengambil
peran penting.
e. Peranan Laparoskopi
Keberhasilan hamil
4

Pada hasil penelitian di Medan dengan 118 wanita, dilakukan penelitian


pasca laparoskopi dijumpai angka keberhasilan hamil setelah dilakukan tindakan
laparoskopi adalah sebesar 26 kasus (22%), masing-masing 5 kasus (19,2%)
setelah dilakukan tindakan laparaskopi diagnostik saja tanpa diikuti tindakan
laparaskopi operatif dan 21 kasus (80,8%) setelah dilakukan tindakan laparaskopi
operatif. Angka kelangsungan kehamilan setelah tindakan laparaskopi adalah
sebesar 26 kasus, yang selamat diantaranya 11 kasus (42,3%) berhasil melahirkan
aterm sedangkan melahirkan prematur dan kehamilan ektopik dijumpai masingmasing 1 kasus (3,8%) (Ronny, A, dkk, 2004). Walaupun angka tidak hamilnya
masih tergolong tinggi mencapai 92 setidaknya akibat penatalaksanaan
laparoskopi kemungkinan hamil masih ada.
Menurut penyebab infertilitas yang paling sering ditemukan angka
keberhasilan hamil adalah endometriosis yaitu sebesar 11 kasus (42,3%), 6 kasus
diantaranya telah melahirkan dan 5 kasus sedang hamil. Dari faktor tuba, mioma
uteri dan kasus yang tidak terjelaskan dijumpai masing-masing 4 kasus (15,4%)
yang berhasil hamil. Dari kasus PCOS dijumpai 2 kasus (7,7%) dan perlekatan
dijumpai 1 kasus (3,8%) (Ronny, A, dkk, 2004).
Hasil penelitian di Medan yang lebih mengejutkan sebaran waktu untuk
menjadi hamil yang paling sering dijumpai adalah 1 bulan yaitu sebesar 8 kasus
(30,8%) dari penanganan dan tindakan laparaskopi operatif.
Dari 118 kasus yang dilakukan pada penelitian ini dijumpai 111 kasus
tidak ada komplikasi. Komplikasi yang paling sering dijumpai adalah adanya
hematoma subkutis sebesar 5 kasus (4,2%) dan adanya meteorismus sebesar 2
kasus (1,7%) (Ronny, A, dkk, 2004). Tidak dijumpai komplikasi yang berarti pada
hasil penelitian di Medan.
Dengan demikian hasil penelitian mengenai laparaskopi pada infertilitas
yang dilakukan di dibagian obstetri dan ginekologi FK-USU RSUP H. Adam
Malik Medan dan RSIA Rosiva Medan dan K.S. Hegde Charitable hospital tidak
jauh berbeda.
III.

PENUTUP

A.

Kesimpulan

Laparoskopi memainkan peran penting dalam diagnosis infertilitas dan


perencanaan manajemen. Melalui studi penelitian jumlah infertilitas primer
memang jauh lebih tinggi, dan kisaran usia dijumpai sekitar 22 tahun hingga 34
tahun dan kasusnya meningkat pada usia lebih dari 35 tahun. Dalam
penatalaksananya HSG tidak dapat diandalkan sepenuhnya dan membutuhkan
laparoskopi. Laparoskopi masih mengungkapkan patologi tuba atau endometriosis
di beberapa kasus, bahkan setelah HSG normal. Sehingga sebagian besar
penyebab infertilitas yang terbanyak adalah endometriosis dan faktor perlekatan
tuba. Peranan Laparoskopi pasca penatalaksanaannya sejauh ini tidak dijumpai
menimbulkan komplikasi yang berarti dan tidak memupuskan kemungkinan hamil
masih ada.
B.

Saran
Diharapkan pada kasus infertilitas sebelum melakukan laparoskopi klien

memenuhi persetujuan secara tertulis dan sebelum dilakukan tindakan laparoskopi


pasien telah mengalami pemeriksaan dasar infertilitas mencakup anamnesis,
pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan ginekologi dan analisa sperma. Semoga
keberhasilan dari penatalaksanaan laparoskopi semakin meningkat dan dapat
dibuktikan lagi dengan lebih banyaknya penelitian.

Daftar Pustaka
Ajartha, Ronny, Ronny Siddik, dkk. 2004. Peranan Laparoskopi Pada Penderita
Infertilitas Wanita. (online)
http://www.kalbemed.com/Portals/6/KOMELIB/GENITO-URINARY
%20SYSTEM/Obsgyn/Proferfil/role_lapar.pdf. Diakses pada : Sabtu, 31
Oktober 2015, pukul : 13.56 WITA
Hendarto, Hendy, dr, SpOG(K).2006. Pemeriksaan Dasar Infertilitas
(online)http://penelitian.unair.ac.id/artikel_dosen_Pemeriksaan%20Dasar
%20Infertilitas_4070_3787 Diakses pada : Sabtu, 31 Oktober 2015,
pukul : 15.34 WITA
Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan. 2011. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Shetty K, Shraddha, Harish Shetty. 2013. Diagnostic Laparoscopy in Infertility A Retrospective study.
(online)http://www.ssjournals.com/index.php/ijbr/article/view/847/843.
Diakses pada : Sabtu, 31 Oktober 2015, pukul : 13.45 WITA