Você está na página 1de 5

1.

Hewan Langka
Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus) adalah marsupial karnivora masa
modern terbesar yang pernah diketahui. Binatang ini berasal dari Pulau Papua dan dinyatakan
punah pada abad ke-20. Binatang ini disebut harimau tasmania karena punggungnya yang
bercorak belang, namun ada juga yang menyebutnya serigala Tasmania, dan dari mulut ke
mulut disebut harimau tassie (atau tazzy) atau cukup harimau saja. Binatang ini adalah
spesies terakhir dari genusnya, Thylacinus. Sebagaian besar spesiesnya ditemukan dalam
bentuk fosil yang berasal dari awal zaman Miosen.
Salah satu aspek penting untuk menjaga agar hewan-hewan yang terncam punah
menjadi punah adalah terus mengembang biakan spesies yang terancam punah serta menjaga
kelestarian alam dan menghukum berat para pemburu liar.

Salah satu tragedi besar abad kedua puluh adalah kepunahan harimau Tasmania,
marsupial karnivora terbesar yang pernah hidup di abad modern. Binatang langka ini hanya
ditemukan di daratan Australia, New Guinea dan Tasmania kepunahannya terutama
disebabkan oleh serangan pemburu dan ekspansi dari pemukiman Eropa.

Harimau Tasmania bukanlah seorang kucing atau anjing, walau dari segi fisik sanagt
mirip dengan anjing begitupun dengan ukurannya. Mungkin kekerabatannya dekat dengan
hyena. Sementara bulu pendek dengan warna cokelat sampai coklat gelap paling banyak
ditemui dan merupakan cirri-ciri umum dari marsupial ini, Ceri fisik lainnya yang menonjol
adalah ada satu sampai dua lusin garis-garis gelap yang melintasi bagian belakangnya
tubuhnya. Betinanya dan jantannya memiliki kantung di dekat susu. Betina memiliki empat
puting susu
Sebagai pemburu, harimau Tasmania lebih bergantung pada penglihatan dan suara dan
juga bau dari mangsanya, namun sebenarnya harimau Tasmania tidak memiliki indra
penciuman yang baik dan lebih mengutamakan mata sebagai salah satu alat berburunya.
Harimau Tasmania dapat berkembang dengan baik dan mereka memiliki stamina yang kuat
dan tak kenal lelah dalam memburu mangsanya. Mangsa yang bisa berlari cepat sekalipun
akan dibuat kelelahan karena akan selalu diikuti oleh harimau Tasmania. Harimau Tasmania
juga memiliki jangkauan rahang yang kuat besar dibandingkan harimau.
Punahnya Harimau Tasmania dimulai seiring dengan datangnya Dingo (anjing liar
yang dijinakan) dan anjing liar ke Australia. Kedatangan orang Eropa dan pembebasan tanah
semakin membuat ruang gerak harimau Tasmania terbatas. Tanah perburuan yang disukai dari
harimau Tasmania termasuk hutan kayu putih, lahan basah pesisir dan padang rumput terbuka
pada waktu itu telah bergeser menjadi lahan pertanian dan industri, Ribuan harimau Tasmania
tewas di bawah senjata para petani, peternak dan pemburu bayaran karena dianggap merusak
ladang dan memangsa ternak. Pada tahun 1920-an, penampakan harimau Tasmania terakhir
yang diketahui ditembak mati pada tahun 1930. Beberapa berhasil diselamatkan di kebun
binatang dan harimau terakhir yang diketahui meninggal di penangkaran tahun 1936.

Menurut standar internasional lima puluh tahun lebih telah berlalu tanpa satupun
spesies harimau Tasmania yang ditemukan. Badan perlindungan hewan Internasional
akhirnya memutuskan spesies ini dianggap telah punah pada tahun 1986. Meskipun demikian
masih ada laporan penampakan, 1 atau 2 ekor hewan ini dan sisa kotoran dari Harimau
Tasmania yang pernah ditemukan di bagian terpencil di Tasmania. Beberapa lembaga telah
menawarkan hadiah besar bagi mereka yang berhasil menangkap spesies ini hidup-hidup.
Bahwa terakhir pertumbuhan hutan tua Tasmania adalah tempat terakhir penampakan tersebut
terjadi, penebangan yang terus menerus di daerah justru akan memupuskan peluang terakhir
untuk menemukan Harimau Tasmania hidup-hidup.
2.Tumbuhan Langka
Genus Nepenthes (Kantong semar, bahasa Inggris: Tropical pitcher plant), yang termasuk
dalam familia monotipik, terdiri dari 130 spesies dan belum termasuk hibrida alami maupun
buatan. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis Dunia Lama, kini
meliputi negara Indonesia , Republik Rakyat Tiongkok bagian selatan, Indochina, Malaysia,
Filipina, Madagaskar bagian barat, Seychelles, Kaledonia Baru, India, Sri Lanka, dan
Australia. Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatra.

Unik dan tergolong langka, menjadi salah satu penyebab diburunya tanaman langka khas
Indonesia, misalnya saja tumbuhan karnivora bernama nepenthes, atau yang dikenal juga
dengan sebutan kantung semar. Bahkan, di kalanUnik dan tergolong langka, menjadi salah
satu penyebab diburunya tanaman langka khas Indonesia, misalnya saja tumbuhan karnivora
bernama nepenthes, atau yang dikenal juga dengan sebutan kantung semar. Bahkan, di

kalangan pecinta tanaman, nepenthes semakin populer dan menarik untuk dimiliki. Hal itu
pun menyurut beberapa pedagang tanaman hias melakukan perdagangan nepenthes secara
besar-besaran.
Keunikan lainnya, kantung semar awalnya memang dikenal sebagai tumbuhan pemakan
serangga. Namun ditemukannya beberapa hewan kecil seperti katak, kadal, tikus di dalam
kantung semar mematahkan anggapan bahwa tumbuhan ini hanya menjerat serangga.
Meski demikian, secara ilmiah memang belum diketahui khasiat tumbuhan yang memiliki
daun berbentuk kantung ini. Pasalnya, belum ada penelitian yang khusus mencari tahu khasiat
dari nepenthes, padahal peneliti asing telah lebih dulu mencari tahu manfaat enzim tumbuhan
ini, dan memanfaatkannya untuk kosmetik dan obat.
Buktinya, peneliti India diketahui telah mencoba mengembangkan enzim dalam kantung
semar menjadi obat penghancur batu ginjal. Sementara peneliti Prancis memanfaatkan enzim
itu untuk kepentingan industri. Karena itu, sudah saatnya peneliti-peneliti Indonesia
seharusnya sudah dapat menjadikan tumbuhan nepenthes ini sebagai bahan penelitian. Hal ini
menjadi penting karena dengan plasma nufah yang Indonesia miliki, seharusnya
pemanfaatannya harus dioptimalkan di dalam negeri.
Selain itu, ada juga masyarakat yang memanfaatkan kantung semar sebagai wadah memasak
ketupat ataupun memasak nasi. Namun jelasnya, masyarakat yang memang hidup dari hutan,
banyak yang meminum enzim dalam kantung semar di kala kesulitan memperoleh air.
Ancaman kelestarian nepenthes pun semakin besar dengan adanya perdagangan liar sebanyak
139 spesies nepenthes di dunia. Sebanyak 64 spesies ada di Indonesia, sedangkan sisanya
ditemukan di Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand, dan India. Perburuan tanaman ini pun
semakin menjadi, karena masyarakat tahu nilai jual tumbuhan ini yang tinggi.
Demi mengatasi hal tersebut, banyak nepenthes yang mulai dibudidayakan seperti yang
dilakukan oleh Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI), dan beberapa negara lain
yang diantaranya Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan India. Langkah konservasi
dengan melibatkan masyarakat seperti yang telah dilakukan bersama Komunitas Tanaman
Karnivora Indonesia diharapkan dapat semakin diperluas.
gan pecinta tanaman, nepenthes semakin populer dan menarik untuk dimiliki. Hal itu pun
menyurut beberapa pedagang tanaman hias melakukan perdagangan nepenthes secara besarbesaran.
Keunikan lainnya, kantung semar awalnya memang dikenal sebagai tumbuhan pemakan

serangga. Namun ditemukannya beberapa hewan kecil seperti katak, kadal, tikus di dalam
kantung semar mematahkan anggapan bahwa tumbuhan ini hanya menjerat serangga.
Meski demikian, secara ilmiah memang belum diketahui khasiat tumbuhan yang memiliki
daun berbentuk kantung ini. Pasalnya, belum ada penelitian yang khusus mencari tahu khasiat
dari nepenthes, padahal peneliti asing telah lebih dulu mencari tahu manfaat enzim tumbuhan
ini, dan memanfaatkannya untuk kosmetik dan obat.
Buktinya, peneliti India diketahui telah mencoba mengembangkan enzim dalam kantung
semar menjadi obat penghancur batu ginjal. Sementara peneliti Prancis memanfaatkan enzim
itu untuk kepentingan industri. Karena itu, sudah saatnya peneliti-peneliti Indonesia
seharusnya sudah dapat menjadikan tumbuhan nepenthes ini sebagai bahan penelitian. Hal ini
menjadi penting karena dengan plasma nufah yang Indonesia miliki, seharusnya
pemanfaatannya harus dioptimalkan di dalam negeri.
Selain itu, ada juga masyarakat yang memanfaatkan kantung semar sebagai wadah memasak
ketupat ataupun memasak nasi. Namun jelasnya, masyarakat yang memang hidup dari hutan,
banyak yang meminum enzim dalam kantung semar di kala kesulitan memperoleh air.
Ancaman kelestarian nepenthes pun semakin besar dengan adanya perdagangan liar sebanyak
139 spesies nepenthes di dunia. Sebanyak 64 spesies ada di Indonesia, sedangkan sisanya
ditemukan di Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand, dan India. Perburuan tanaman ini pun
semakin menjadi, karena masyarakat tahu nilai jual tumbuhan ini yang tinggi.
Demi mengatasi hal tersebut, banyak nepenthes yang mulai dibudidayakan seperti yang
dilakukan oleh Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI), dan beberapa negara lain
yang diantaranya Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan India. Langkah konservasi
dengan melibatkan masyarakat seperti yang telah dilakukan bersama Komunitas Tanaman
Karnivora Indonesia diharapkan dapat semakin diperluas.

MUHAMMAD FAHREVI