Você está na página 1de 105

AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

AGROINDUSTRI
UNTUK OTONOMI DAERAH
STRATEGI PENGEMBANGAN
KEMITRAAN AGROINDUSTRI TERPADU
DI ERA OTONOMI DAERAH

OLEH: M. SYUKRI NUR


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PENYUSUN:
M. Syukri Nur

DISAIN/LAYOUT:
Sandi Yusandi

PENERBIT:
PT Calprint Indonesia
Sampoerna Strategic Square, S outh Tower Level 19
Jl. Jend. Sudirman Kav. 45-46, Jakarta 12930
Phone: +62 21 57950855, Fax: +62 21 57950850

ISBN 978-602-95060-1-3

PERCETAKAN:
CV BOROBUDUR Printing

Cetakan Pertama, Juli 2009


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Agroindustri untuk Otonomi Daerah:


Strategi Pengembangan Kemitraan Agroindustri Terpadu Di Era Otonomi Daerah.

Pemikiran dasar untuk strategi pelaksanaan dan pengembangan agroindustri di daerah


dengan membangun kemitraan kerja dan kesepadanan bagi hasil antara petani dan
koperasi, perusahaan dan pemerintah daerah, serta mitra usaha nasional.

P e nnyusun
yusun
yusun:
M. Syukri Nur

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seizin tertulis
dari penerbit.

Ketentuan Pidana Pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002.

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) di pidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta
rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan
atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

> AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH i


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PRAKATA
PRAKAT
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan butir-butir pemikiran yang harus
disampaikan pula ke segenap insan dunia untuk mengambil sisi manfaatnya, terutama pada sisi
pemanfaatan pemikiran ini untuk pembangunan agroindustri di daerah.

Pembangunan Indonesia di era otonomi daerah memerlukan pemikiran-pemikiran yang tajam


dan tindakan pelaksanaan yang lebih bijkasana dengan melibatkan semua komponen pengambil
kebijakan dan pelaku ekonomi daerah. Mulai dari tingkat petani yang tergabung dalam asosiasi
maupun kelembagaan koperasi, perusahaan daerah dan pemerintah daerah, dan pengusaha yang
menjadi mitra, serta lembaga keuangan bank dan non bank. Bahkan lembaga penelitian dan
universitas yang sudah tersedia dan bekerja di masing-masing wilayahnya.

Buku ini disebut butir-butir pemikiran karena terdiri dari artikel-artikel yang tertulis sepanjang
pengalaman penulis berinteraksi dengan pustaka, petani, koperasi, pengusaha, dan pejabat daerah
untuk menggagas perwujudannya di masyarakat. Tak ubahnya dengan mutiara yang menjadi
contoh butiran, maka perlu dirangkai menjadi sebuah gelang atau rantai yang dapat dipakai
dan digunakan. Boleh jadi kami hanya sempat melahirkan butiran ini namun pemirsa
berkesempatan merangkai dan mewujudkannya.

Buku Agroindustri untuk Otonomi daerah ini dimulai dengan pemahaman agroindustri,
penggalian potensi sumberdaya alam daerah, identifikasi pelaku bisnis dan pengambil kebijakan
yang dapat berperan sebagai langkah nyata otonomi daerah, kemudian pemikiran untuk
menjalankan agroindustri daerah dengan berbasis pada kemitraan kerja dan potensi keuntungan
sesuai dengan proporsi tanggung jawab dan hak masing-masing. Kemudian dituliskan pula
kriteria yang sistematis dan dapat dikuantifikasi untuk menilai kemitraan tersebut. Diakhir
tulisan disampaikan pemikiran dasar bagaimana sumberdaya manusia yang terdidik dari kampus
dan yang tersedia di daerah dapat dididik menjadi wirausaha melalui inkubator bisnis untuk
menopang kelanjutan dan pengembangan agroindustri di daerah.

Karena bersifat butiran pemikiranlah maka banyak celah yang harus diisi oleh penulis dan
pemirsa. Ter utama disisi kelayakan finansial dan hukum karena jarak jangkauan pemikiran
kami yang terbatas. Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah dan rahmat-Nya supaya
kita terus dapat mencari dan menemukan ridho-Nya melalui pemikiran dan pelaksanaan
agroindustri di Indonesia. Amin.

Jakarta, Juli 2009


M. Syukri Nur

ii AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

UCAPAN TERIMAKASIH
UCAPAN

Pada kesempatan ini penulis haturkan ucapan terimakasih kepada


rekan-rekan di Agritech Research, SEAMEO BIOTROP, PT. Virama
Karya, PT. Tekno BIG Nusantara, dan PT. Mitra Tani Tekno
Nusantara, serta Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas
Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan, Koperasi Primer INTI
AGRO yang telah memberikan wacana berpikir dalam diskusi dan
perdebatan hangat untuk membangun kesamaan visi di bidang pertanian
secara luas, khususnya pelaksanaan dan pengembangan agroindustri
di Indonesia.

Kesan yang mendalam dalam diskusi dan perdebatan juga memberikan


satu semangat tersendiri dalam pelaksanaan dan pengembangan
agroindustri Indonesia bersama H. Idrus Hafied, Nurdiana, Nurdianto,
Ivan Donovan, Arif, Suwito, Prayitno, Winarno Arifin, dan Ahmad
Yani. Juga kepada Istriku Sulastri yang selalu tabah bersama ananda
Nurfajriah Julianti Syukri dan Nur Ramadani Meliani Syukri ketika
tulisan ini mulai dibuat di awal Ramadhan 1425 H.

Tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Penebar Swadaya yang


telah menerbitkan tulisan ini dalam bentuk buku.

> AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH iii


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

DAFTAR ISI
AFTAR
Prakata ii

Ucapan Terimakasih iii

B A B 1 Prinsip Dasar Agroindustri


Pengertian agroindustri 2
Interaksi antra subsistem 3
Kelayakan pelaksanaan agroindustri 4
Enam faktor penentu agroindustri 5

B A B 2 P er encanaan Ka
erencanaan Kaww a s a n A ggrr oindustri Di Daerah
Pendahuluan 12
Pewilayahan komoditi 13
Dukungan Pemda dan DPRD 20
Dukungan infrastruktur 21
Dukungan sumberdaya manusia 21
Dukungan lembaga keuangan 22
Ketersediaan pelaksana agroindustri 22
Jaringan pemasaran untuk mencapai target pasar 23

B A B 3 Kemitraan Untuk Agroindustri


Peranan agroindustri 26
Prinsip dasar kemitraan 27
Kesepakatan kepemilikan saham 33
Pengaturan Keuntungan 33
Analisa sistem agroindustri 34
Keunggulan dan kelemahan 36
Strategi dan langkah taktis 39
Dampak dan kendala 40
Penutup 41

B A B 4 Mengukur Kinerja Agroindustri Sistem Kemitraan di Daerah


Kepentingan agroindustri daerah 44
Sistem bagi hasil 46
Kriteria penilaian 48

iv AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

B A B 5 P er usahaan Daerah dan Ag r oindustri K emitraan


Kemitraan
Perubahan paradigma 54
Kelayakan investasi dan ketidakjelasan 55
Mewujudkan perusahaan daerah yang ideal 56
Program kerja perusahaan 61
Penutup 63
B A B 6 R e vitalisasi K operasi untuk Membangun
Koperasi
CEO koperasi 66
Langkah penertiban 67

BAB 7 Strategi P emilihan Mesin P


Pemilihan abrikasi Ag r oindustri
Pabrikasi
Tujuan pendirian pabrik 76
Sentra produksi dan bahan baku 77
Prinsip teknis mesin-mesin pertanian 78
SDM pengelola pabrik 81
Penutup 82

B A B 8 Inkubator W irausaha Ag r oindustri Berbasis K emitraan


Kemitraan
Kelahiran ide inkubator wirausaha 86
Filosopi kemitraan 87
Konsep dasar inkubator 89
Pelaksana inkubator 89
Alur kerja 90
Peluang bisnis untuk teknologi 91
Peranan jasa keuangan dan perusahaan 92
Penutup 93

D AFTAR PUST
AFTA AKA
TA 94

> AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH v


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH
AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 1
PRINSIP DASAR
AGROINDUSTRI

Tujuan Penulisan
Penulisan

Tujuan penulisan bagian ini adalah:


1. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar agroindustri
2. Untuk menerangkan interaksi yang terjadi antara subsistem di dalam sistem agroindustri.
3. Untuk menjelaskan faktor penentu kelayakan pelaksanaan agroindustri.
4. Untuk memberikan beberapa saran strategis dan taktis dalam pelaksanaan konsep ini.

Sasaran

Penulisan ini merupakan sumbang saran kami yang ditujukan kepada praktisi, pengamat
masalah pertanian, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah serta para pengusaha yang
bergerak di sektor agroindustri di Indonesia.

> PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI 1


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PENGERTIAN AGROINDUSTRI

I
stilah agribisnis dan agroindustri dianggap sama dalam pelaksanaan usaha tani karena
melibatkan empat subsistem yang saling berkaitan satu sama lain. Keempat subsistem
tersebut adalah: (1) subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi; (2) subsistem
produksi pertanian atau usaha tani; (3) subsistem pengolahan hasil pertanian; (4) subsistem
pemasaran hasil-hasil pertanian (Desai, 1974 dalam Saragih, 2004). Keterkaitan empat
subsistem tersebut dapat digambarkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Empat subsistem penyusun agroindustri dan subsistem layanan pendukungnya.

Berdasarkan Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa pertanian itu tidak hanya sistem budidaya
yang kerapkali kita saksikan dimana petani mengolah lahannya kemudian memberi pupuk
dan memanen serta menjualnya. Namun lebih dari itu, harus didukung oleh penyediaan
sarana produksi seperti benih, pupuk, modal, ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen,
tenaga kerja dan kelembagaan. Panen petani juga harus diolah, dikemas, dan dipromosikan
untuk mencapai konsumen sehingga diperoleh nilai tambah ekonomi.

Jika pertanian hanya dianggap sebagai budidaya maka nilai tambah ekonomi yang diperoleh
dari produk sebatas harga produk dikurangi dengan biaya tanam. Namun jika dianggap sebagai
bisnis apalagi dikembangkan sebagai industri dengan istilah agroindustri maka akan diperoleh
nilai tambah ekonomi yang lebih besar. Sebagai ilustrasi, kopi yang dijual petani Rp 15.000/
kg dapat berubah menjadi Rp.250.000,-/kg karena sudah diolah menjadi kopi instan dengan
kombinasi susu, dan penyajian dalam bentuk kemasan dan suasana di restoran ataupun kafe.

Kondisi ideal untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi pertanian tidaklah semudah
membalik telapak tangan karena sejumlah kendala masih menghadang para pelakunya. Bahkan
setiap interaksi antar subsistem, pelaku masih bersikap menang sendiri tanpa ada kepedulian

2 PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

untuk saling berbagi kerja apalagi berbagi keuntungan. Pelaku pada subsistem I umumnya
pengusaha dan perorangan, sedangkan pada subsistem II sudah pasti petani dengan segala
kelemahannya dibidang teknologi, manajemen, pengolahan dan akses pasar. Pelaku di subsistem
III dan IV dikuasai oleh perusahaan dengan kekuatan modal, teknologi, dan pasar. Penyebabnya
mungkin karena pelaku di setiap subsistem itu berbeda kekuatannya. Mungkin juga karena
pengaruh mekanisme pasar.

INTERAKSI ANTAR SUBSISTEM

Kendati telah teridentifikasi empat subsistem tersebut oleh analis dan peneliti pertanian,
namun dalam kenyataannya setiap subsistem tersebut masih dilaksanakan secara parsial baik
oleh setiap petani, perusahaan kecil, pengumpul, pedagang kecil, dan pedagang besar. Akibatnya
setiap subsistem ke subsistem lainnya akan mengalami empat hal yaitu:

Pertama , selalu terjadi posisi tawar menawar karena setiap pelaku dalam subsistem tersebut
berupaya keras mendapatkan keuntungan dari setiap produk atau kerja yang dihasilkannya.
Keuntungan yang diperoleh oleh pelaku dari setiap subsistem tidak mungkin dibagihasilkan
dengan pelaku lainnya. Bahkan usaha tani pada komoditi yang sama, sering terjadi persaingan
terhadap sesama pelaku untuk mencapai keuntungan maksimum kendati menggunakan istilah
persaingan pasar.

Kedua , jika terjadi kerugian pada satu subsistem baik oleh pelaku maupun akibat dari subsistem
lainnya maka tak dapat diharapkan pelaku dan subsistem lainnya untuk membantu kerugian
tersebut. Kata lain adalah keuntungan dan resiko dinikmati/ditanggung sendiri.

Ketiga , pada setiap subsistem ke subsistem lainnya terbuka peluang bagi pelaku di luar sistem
yang memanfaatkan kelemahan yang tersedia. Terutama pada penguasaan subsistem pengadaan
dan distribusi input pertanian. Umumnya, pelaku ini sering disebut pengijon yang memberikan
umpan lebih dulu kepada petani yang menjadi pelaku subsistem kegiatan produksi pertanian.
Akibatnya adalah pengijon lebih berkuasa pada hasil akhir petani.

Keempat, adalah setiap pelaku dan subsistem harus secara langsung berhubungan dengan
pelaku di subsistem layanan pendukung terutama pada pinjaman kredit dari perbankan dengan
persyaratan yang mungkin menyulitkan karena harus menyiapkan agunan dan persiapan
adminsitrasi lainnya. Bagi pengusaha hal tersebut dapat diatasi namun kesulitan besar bagi
petani yang umumnya bergerak sendiri.

> PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI 3


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

KELAYAKAN PELAKSANAAN AGROINDUSTRI

Pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan
kehutanan) merupakan upaya pengelolaan sumberdaya alam melalui sistem usaha tani yang
harus dikerjakan dengan lima kriteria kelayakan.

Pertama, layak teknis produksi yang mencakup dukungan potensi daerah dan lingkungannya
untuk memproduksi bahan baku industri. Kondisi ini disebut pembentukan sentra produk
untuk jaminan ketersediaan bahan baku industri pertanian. Pembentukannya harus sesuai
dengan dukungan agroekologi dan perencanaan pemerintah daerah, serta ketersediaan
infrastruktur yang membuktikan bahwa daerah memilikian kemauan keras untuk membangun
wilayahnya menjadi wilayah agroindustri.

Kemampuan untuk mendirikan dan mengelola pabrik yang akan mengolah dan mengemas
hasil pertanian dan menjadikannya produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga
mencapai target nilai tambah ekonomi.

Kedua, layak manajemen yang berarti ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) dan dukungan
kelembagaan untuk mendukung suatu usaha yang akan dilaksanakan. Ketersediaan SDM ini
dapat diperoleh melalui serapan tenaga kerja untuk katagori petani dan penyuluh pertanian,
operator mesin, pemelihara mesin, dan supervisor serta perencana dan pengambil keputusan
di tingkat perusahaan. Bahkan dukungan SDM juga diperlukan dalam kelembagaan pemerintah,
koperasi, dan lembaga keuangan (bank dan non-bank) untuk mendapatkan kesamaan persepsi
kendati langkahnya berbeda sesuai dengan target dari lembaga yang diwakilinya.

Ketiga, layak keuangan yang berarti tersedia informasi yang akurat mengenai sumber dana
dan penggunaannya ser ta nilai-nilai yang meyakinkan untuk investasi. Prinsip dasar dalam
bagin ini adalah semua hal tentang keuangan haruslah akuntable dan feasible sehingga inves-
tor ataupun lembaga keuangan akan yakin dengan dana yang diinvestakannya

Keempat, layak pasar yang menunjukkan potensi pasar dan sistem jaringan pasar yang dibuat
untuk mendukung unit usaha tersebut. Kelayakan pasar di dalam agroindustri ini tidak sebatas
kemampuan membaca potensi yang dapat diserap pasar tetapi pada informasi akurat tentang
kepastian pembelian, harga, waktu, dan kapasitas serapan produk serta jaminan pembayaran
dengan melibatkan sistem perjanjian yang normal dilakukan diantara pelaku bisnis.

4 PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Kelima, Layak sosial dan ekonomi, dan hukum yang menunjukkan bahwa unit usaha yang
mengerjakan suatu usaha telah memiliki bentuk hukum yang jelas serta hasil kegiatannya
berdampak positif pada masyarakat dan memberikan nilai ekonomi pada wilayah tersebut.

Menurut Sumodiningrat (2004), pertanian harus dijalankan sebagai bentuk usaha ekonomi
produktif dan dikelola secara moderen, profesional, dan berorientasi keuntungan. Posisi
petani harus dipersepsikan sebagai subyek pembangunan dan dipersiapkan secara aktif menjadi
seorang pengusaha. Pada akhirnya mereka mampu mentransformasikan usaha pertanian menjadi
salah satu sektor bisnis yang menguntungkan sehingga layak bank.

Untuk mencapai target tersebut, Sumodiningrat (2004) menyarankan lima langkah yang
harus dijalani yaitu:

1. Harus dilakukan transformasi usaha pertanian ke dalam sistem agrobisnis.


2. Arus utama anggaran pemerintah dalam mendukung usaha pertanian
3. Kerangka regulasi yang jelas dan penegakan hukum yang tegas.
4. Perlindungan, pelestarian dan revitalisasi kearifan lokal dan kelembagaan ditingkat petani.
5. Penguatan peran pemerintah daertah dalam pemberdayaan petani. Pemerintah daerah
harus berperan untuk menanamkan pengertian bahwa pertanian adalah sumber
kesejahteraan petani yang harus dikelola secara profesional dan berdaya saing tinggi.

Aplikasi kelima langkah yang disampaikan oleh Sumodiningrat (2004) dapat dijalankan pada
satu sistem usahatani dengan melibatkan tiga stakeholder utama yaitu petani, pemerintah
daerah, dan pengusaha dalam satu unit usaha berbadan hukum yang disebut perusahaan
terbatas (PT) Patungan. Hal inilah yang mendasari lahirnya konsep kemitraan dalam
mengembangkan agroindustri di suatu daerah.

ENAM FAKTOR PENENTU AGROINDUSTRI

Enam faktor penentu untuk pelaksanaan dan pengembangan agroindustri yang baik dalam
skala ekonomi di suatu daerah:

1. Kawasan Agroindustri
Kawasan industri di suatu daerah harus ditentukan berdasarkan kesesuaian agroekologinya
dengan mempertimbangkan kondisi tanah, iklim, topografi serta nilai ekonomi komoditi
yang akan diusahakan. Kesesuaian agroekologi tersebut menunjukkan daya dukung teknis
lingkungan yang kemudian ditindaklanjuti dengan daya dukung ekonomi dan kebijakan

> PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI 5


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

pemerintah daerah. Kawasan agroindustri juga harus sesuai dengan perencanaan tata ruang
daerah yang dituangkan dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hingga Rencana
Tata Ruang Teknis.

Kenyataan yang ada, pemerintah daerah belum mempertimbangkan dan menentukan sentra-
sentra produksi untuk agroindustri. Pembentukan sentra produksi terjadi secara alamiah
dengan munculnya pemukiman yang dikerjakan oleh masyarakat karena keterdesakan ekonomi
untuk mencari lahan-lahan pertanian baru. Akhirnya terjadilah sentra pertanian dadakan
yang bercampur dengan pemukiman. Bahkan kecenderungan yang terjadi pemukiman dan
daerah industri mengalahkan kepentingan sentra pertanian. Contoh kasus adalah pengubahan
lahan sawah atau kawasan konservasi menjadi kawasan pemukiman.

2. P abrikasi Ag r oindustri
Pabrikasi
Kawasan industri harus juga didukung oleh pabrikasi yang akan mengolah barang mentah
(hasil/produksi) dari pertanian menjadi barang setengah jadi. Langkah ini disebut pengolahan
pasca panen. Keunggulan dengan berdirinya suatu pabrik di daerah yang menjadi mata rantai
sistem produksi pertanian adalah memberikan jaminan kualitas dan kuantitas produk, serta
ketepatan waktu sehingga memudahkan dalam penentuan harga pasar.

Kondisi sebagian besar kawasan agroindustri yang dicanangkan di suatu daerah belum memiliki
pabrikasi sehingga petani selalu menghadapi kendala jaminan pasar dan permainan harga
baik dalam skala lokal maupun nasional.

3. K ualitas Sumber
Kualitas Sumberdada
dayy a Manusia dan Or g anisasi P elaksana
Pelaksana
Agroindustri memerlukan dukungan sumberdaya manusia (SDM) dan bentuk organisasi yang
baik dan efisien. Kuantitas dan kualitas SDM harus mampu menunjukkan kinerja yang bagus
sebagai bentuk pemahaman yang tinggi pada profesionalisme industri. SDM tersebut juga
harus merata pada semua strata baik pada aparat pemda maupun di tingkat praktisi baik
pengusaha lokal maupun pada tingkat petani.

Perseroan Terbatas merupakan bentuk organisasi pelaksana agroindustri yang profesional dan
memiliki kekuatan hukum yang baik dalam setiap transaksi bisnis tanpa harus memikirkan
terlebih dahulu fungsi-fungsi sosial kepada masyarakat. Hal inilah yang menjadi harapan
untuk melahirkan Perusahaan Daerah yang berperan sebagai kanal pemasukan dana
pembangunan daerah.

6 PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Namun demikian, harapan tersebut ternyata masih jauh dari kenyataan. Pelaksana yang dapat
digolongkan perencana dan pelaksana baik pada tingkat pemerintah daerah dan pelaksana
teknis di lapangan belum tersedia dalam jumlah kualitas yang bagus untuk mendukung
agroindustri di suatu daerah.

Kenyataan lain, Perusahaan daerah (Perusda) masih dianggap lembaga yang non-profit karena
ruh pelaksananya ditempati mantan-mantan pejabat yang memiliki hubungan erat dengan
pejabat yang sedang berkuasa. Akibatnya adalah peluang-peluang bisnis tidak dapat ditangkap
dan dikerjakan dengan baik. Penempatan dana pemda menjadi sia-sia. Alhasil, jadilah perusda
momok bagi sebagian besar aparat pemda dan masyarakat di daerah. Jika demikian, apakah
institusinya yang dilikuidasi ataukah direksi dan komisarisnya yang diganti? Jawabnya terletak
pada pengembalian tujuan pendirian perusda yaitu untuk mencari dana pembangunan daerah
sehingga aspek akuntabilitas, bankable, dan profesionalitas menjadi prioritas dalam
penempatan SDM.

Organisasi yang potensial juga untuk membangun agroindustri daerah adalah koperasi karena
memiliki jaringan kerja yang cukup baik. Tak ubahnya dengan induk perusahaan holding
company dengan sejumlah anak perusahaannya di setiap kabupaten dan kotamadya. Peranan
ini akan bertambah baik jika mampu melaksanakan penertiban pada sisi logika dan niat;
organisasi dan anggota; rencana dan usaha; administrasi dan keuangan; serta melakukan evaluasi
dan pengawasan.

4. Dukungan Finansial
Tanpa dukungan finansial dari pemerintah, petani, maupun mitra usaha serta lembaga keuangan
maka pelaksanaan agroindustri di suatu daerah akan menjadi hayalan belaka. Lembaga keuangan
dapat berasal dari bank, asuransi, dan reksadana. Saat ini lebih banyak diperoleh dukungan
finansial dari bank dalam bentuk kredit. Pada masa mendatang, diharapkan lembaga perbankan
dapat lebih aktif mendukung pelaksanaan agroindustri secara teknis ke para pelakunya dengan
memberikan bantuan panduan penyusunan rencana bisnis dan rencana anggaran, serta informasi
harga dan kebutuhan pasar.

5. JJaring
aring an P
aringan asar dan P
Pasar emasaran
Pemasaran
Jaringan pasar dan sistem pemasaran yang baik sangat diharapkan dalam pelaksanaan
agroindustri di daerah. Jaringan pasar dapat dibentuk dalam skala lokal di tingkat provinsi
maupun nasional dan internasional yang sangat tergantung pada kemampuan kerjasama dengan
mitra usaha. Oleh karena itu, bagian ini harus digunakan sebagai kriteria penentu dalam
menjalin kerjasama dengan mitra usaha nasional.

> PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI 7


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Kelemahan mendasar bagi daerah adalah ketidakmampuan menjalin mitra usaha yang memiliki
jaringan pasar, baik dalam skala nasional maupun internasional. Kelemahan ini mengakibatkan
rendahnya semangat petani dan dinas-dinas terkait untuk mendukung penuh sektor pertanian
sebagai basis agroindustri di daerahnya.

6. P enentuan Sistem P
Penentuan endukung Ag r oindustri
Pendukung

Daerah juga memerlukan sistem yang dapat mendukung kelima faktor tersebut supaya
mendapatkan hasil yang baik. Filosopi yang sederhana dan patut digunakan adalah Semua
Untung atau Win-Win Solution atau Semua Kebagian. Semua pihak yang terlibat baik
itu petani, pemerintah, maupun mitra usaha harus mendapatkan keuntungan finansial dan
sosial ekonomi yang proporsional sesuai dengan kontribusi masing-masing.

Kenyataan yang ada tidak semua sistem yang dikembangkan memiliki filosopi tersebut. Masing-
masing pihak, terutama petani belum mendapatkan posisi tawar yang bagus sehingga mereka
selalu mengalami kerugian. Disisi lain pengusaha dengan keunggulan strategi dan taktis telah
mampu meraup keuntungan besar dengan kendati hanya memperhatikan sedikit kepentingan
aparat pemerintah. Tanggung jawab sosial bagi masyarakat di wilayah kerjanya masih menjadi
wacana. Kondisi ini tidak dapat diubah oleh pemda karena rancangan pelaksanaan sistem
pendukung agroindustri tidak dipelajari dengan baik dan bijak.

Berdasarkan kerangka pemikiran dengan menggunakan enam faktor penentu tersebut, maka
siapapun pelaku agroindustri di daerah harus mampu menyatukan persepsi masyarakat dan
pemerintah daerah serta pelaku lainnya dalam pengembangan sistem agroindustri di daerahnya.

8 PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

> PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI 9


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

10 PRINSIP DASAR AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 2
PERENCANAAN KAWASAN
AGROINDUSTRI DI DAERAH

Tujuan penulisan bagian ini adalah:

1. Memberikan informasi dasar mengenai strategi penentuan kawasan agroindustri di daerah


dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan daerah.

2. Penentuan aspek-aspek pendukung untuk melaksanakan pengembangan kawasan


agroindustri tersebut dilihat dari segi sarana dan prasarana, ketersediaan sumberdaya
manusia, dan lembaga keuangan, serta kelembagaan di pemerintahan dan DPRD.

Sasaran

Sasaran penulisan ini adalah agar keterlibatan pemerintah dan aparatnya serta DPRD di
suatu daerah dapat lebih jelas dan berdasar sehingga tidak setengah hati dalam mengembangkan
potensi daerahnya untuk agroindustri.
Ruang lingkup
Pemahaman komoditas pertanian harus menyangkut tanaman pangan, perkebunan,
hortikulutura, peternakan, perikanan dan kelautan yang memerlukan suatu areal dan
keterlibatan manusia dan kelembagaan sehingga ruang lingkup pembahasannya dibagi menjadi
tujuh bagian.

Ketujuh bagian tersebut adalah Pewilayahan Komoditas; Dukungan Infrastruktur; Dukungan


SDM; Dukungan Pemda dan DPRD; Ketersediaan Pelaksana Agroindustri; Dukungan
Lembaga Keuangan; dan Jaringan Pemasaran untuk Mencapai Target Pasar.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 11


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PENDAHULUAN

K
emampuan pemerintah daerah untuk mengenali potensi wilayahnya sehingga dapat
dijual kepada investor atau mitra usaha merupakan strategi penting dalam menjalankan
roda pembangunan di daerah. Terutama pada daerah-daerah yang masih mengandalkan
pertanian sebagai tulang punggung ekonomi. Hal ini harus segera dipahami dan dilaksanakan
oleh Bupati dan jajarannya supaya dapat menerapkan peluang bisnis dalam kerangka pelaksanaan
otonomi di daerahnya.

Jika investor atau mitra usaha datang pada suatu daerah, terkadang informasi potensi wilayah
tersebut disajikan dalam bentuk informasi kualitatif, tanpa mempertimbangkan kemampuan
atau daya dukung daerahnya. Hasil adalah data statistik yang tidak akurat. Terutama dalam
penentuan luasan dan lokasi yang tepat untuk pengembangan agroindustri di daerah.

Investor atau mitra usaha datang pada suatu daerah memiliki misi bisnis. Namun secara
keseluruhan mereka menginginkan suatu kontrol pada sentra produksi yang dibangun sehingga
dapat menentukan kuantitas, kualitas, waktu, jarak distribusi, serta harga produk yang akan
dijual ke pasar. Jika kelima faktor tersebut tidak terpenuhi maka investor/mitra usaha akan
pasti tidak berminat menanamkan modalnya. Jadi pengelola daerah jangan hanya ter paku
pada jargon sosial seperti perluasan kesempatan tenaga kerja dan pembangunan ekonomi
masyarakat, karena ujung-ujungnya selisih antara nilai jual dan biaya produksi yang
dipertimbangkan keuntungan bagi investor/mitra usaha.

Hal inilah yang mendasari argumentasi kenapa suatu daerah segera perlu menetapkan kawasan-
kawasan produksinya, baik untuk kawasan pertanian maupun untuk kawasan-kawasan
konservasi bahkan pertambangan. Penetapan suatu kawasan agroindustri berarti telah membuat
langkah awal dalam kepastian hukum dan perlu ditindaklanjuti dengan kondisi sosial yang
kondusif untuk terselenggaranya agroindustri yang dijalankan oleh pengusaha.

Penetapan kawasan tersebut seyogyanya mempertimbangkan pertama kali aspek agroekologi,


kemudian penentuan kebijakan sosial dan ekonominya yang diperlukan untuk menunjang
kondisi tersebut. Jika langkah ini terbalik maka resiko yang harus dibayar oleh masyarakat
maupun pemerintah tentu akan lebih mahal karena kondisi alam tak mampu mendukung
rencana tersebut kecuali harus dilakukan investasi mahal untuk mengubahnya. Perubahan
kondisi alam inilah yang kelak menjadi bencana namun harus dihindari melalui perencanaan
yang sistematis dan berbasis pada kearifan penggunaan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi saat ini.

12 PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PEWILAYAHAN KOMODITI

Pewilayahan komoditi adalah upaya manusia untuk mengenal karakteristik lingkungan dan
beradapatasi dengan alam sehingga mendapatkan dukungan terhadap semua tindakan dalam
sistem usahataninya. Usahatani ini melibatkan komoditi yang digunakan untuk tanaman
pangan, peternakan, perkebunan, perikanan, dan hortikultura, bahkan agroforestri.

Pengertian tersebut juga perlu dipertajam dengan mempertimbangkan tidak hanya aspek
iklim (Sering disebut Kesesuaian Agroklimat), tetapi semua aspek seperti tanah (Kesesuaian
Tanah), daya adaptasi tanaman atau ternak, dan kemampuan manusia untuk mengatasinya
dengan melibatkan tenaga, waktu, dan modal serta ketersediaan teknologi yang dimilikinya.

Irsal et al (1990) mengemukakan konsepsi dasar pewilayahan (zonasi) komoditi secara bertahap
diawali dengan studi agroekologi utama yang hanya mempertimbangkan faktor bio-fisik,
yaitu iklim, tanah dan topofisiografi. Faktor lingkungan biologis, sosial ekonomi,
kebijaksanaan/politik dan faktor penunjang lainnya dipertimbangkan pada tahap-tahap
berikutnya (Gambar 1.)

Pakar Perhimpi (1989) dalam Irsal (1992), Penggunaan faktor iklim dan topografi sebagai
parameter utama dalam pewilayahan komoditi suatu daerah didasarkan kepada beberapa
pertimbangan antara lain:

1. Iklim dan topografi secara teknis operasional sangat sulit dimodifikasi.


2. Iklim merupakan salah satu komponen agroekosistem yang sulit didiga
3. iklim dalam batas tertentu dapat digunakan untuk mengindikasikan komponen
agroekosistem lain, terutama faktor tanah dan vegetasi.

Iklim menentukan kesesuaian lahan dari tiga sisi yaitu melalui kemungkinan tumbuh tidaknya
suatu komoditi, tinggi rendahnya (magnitude) hasil panen, kemantapan stabilitas hasil komoditi.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 13


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar 2. Tahapan pembuatan zona komoditi prioritas berdasarkan zona agroekologi alamiah,
faktor sosial ekonomi dan kebijakan pemerintah, serta prasana fisik dan teknologi.

Gambar 2. menjelaskan tahapan pembuatan zona komoditi prioritas yang menjadi target
utama pewilayahan komoditas berdasarkan pertimbangan, iklim, tanah, dan fisiografi. Ketiga
aspek lingkungan itu dimasukkan dalam analisis untuk mendapatkan kejelasan informasi
suatu wilayah sehingga ditetapkan sebagai zona agroekologi alamiah. Langkah selanjutnya
adalah memasukkan pertimbangan teknologi dan fisik, prasarana yang tersedia dan kebutuhan
ekologis setiap komoditi yang direncanakan atau yang akan diperoleh untuk mendapatkan
hasil zona agroekologi pragmatik yang dapat dipilah menjadi zona agroekologi spesifik, zona
potensi pertanaman, dan zona kesesuaian komoditi. Zona komoditi prioritas dapat diperoleh
setelah dimasukkan faktor sosial ekonomi dan kebijaksanaan pemerintah.

14 PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Hasil akhir berupa zona komoditas prioritas inilah yang dimanfaatkan karena bernilai informasi
yang kuantitatif karena berisi data luasan, jenis komoditi, dan bahkan dapat ditambahkan
peraturan-peraturan pengelolaan daerah dan aturan investasi sehingga investor dapat mengambil
keputusan yang lebih cepat untuk menanamkan modalnya.

Rincian-rincian masing-masing data yang diperlukan dari faktor iklim, tanah, dan fisiografi
dalam pewilayahan komoditas sehingga diperoleh informasi lengkap kesesuaian wilayah
terhadap suatu komoditi (Lihat Gambar 3).

Tingkat kesesuaian ini dibuat dengan mempertimbangkan besaran biaya, teknologi, dan waktu
yang akan digunakan untuk mengubahn kondisi tersebut. Nilai sesuai misalnya, akan
berimplikasi bahwa lokasi tersebut lebih tepat digunakan untuk suatu komoditas tanpa
mengeluarkan banyak biaya dan tenaga dalam mencapai hasil yang optimum. Hal ini berbeda
dengan lokasi yang tidak sesuai, yang berarti bahwa lokasi tersebut memang tidak diperuntukan
untuk suatu komoditi karena pertimbangan kemiringan lahan atau ketersediaan air yang
minim, atau juga sudah diplotkan untuk kawasan konservasi.

Gambar 3. Rincian data yang diperlukan untuk penyusunan peta kesesuaian agroekologi
dalam pewilayahan komoditas.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 15


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Alur pemikiran yang lebih sistematis dan spesifik telah diterapkan di Kabupaten Manggarai
Propinsi Nusa Tenggara Timur. Mulai dengan pemilihan 35 komoditi sampai pada penentuan
sembilan komoditi yang layak secara ekonomi dikembangkan untuk agroindustri komoditi
perkebunan di wilayah tersebut (Gambar 4). Konsep Departemen Pertanian RI menjelaskan
bahwa komoditi Unggulan ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan nilai perdagangan,
volume produksi, produktivitas, jumlah petani, keunggulan komperatif dan kompetitif, letak
geografis.

Pengembangan konsep pewilayahan komoditas sudah semakin pesat. Terlebih dengan kemajuan
teknologi informasi, konsep tersebut juga telah didukung oleh sistem informasi geografi,
penginderaan jauh, dan sistem pangkalan data (database system ) sehingga informasi yang
diperoleh dapat segera diperbaharui sesuai dengan kondisi lapangan

Gambar 4. Skema penyusunan peta kesesuaian


agroekologi untuk mengetahui potensi
pewilayahan komoditas.

16 PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Ilustrasi penggunaan alur pemikiran untuk konsep pewilayahan komoditas diberikan dengan
mengambil contoh kasus kesesuaian kopi robusta (Tabel 1) yang dapat dibagi menjadi sangat
sesuai (S1), sesuai (S2), cukup sesuai (S3) dan Tidak sesuai (N) yang diterapkan di wilayah
Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Gambar 5).

Tabel 1. Kriteria kkesesuaian


esesuaian lahan untuk kkopi
opi r ob usta
obusta

Hasil akhir adalah peta pewilayahan kopi robusta yang disajikan dalam bentuk peta (cetak
atau digital) yang dapat disajikan kepada peminat (investor/mitra usaha). Peta seperti pada
Gambar 4 untuk pewilayahan komoditi harus menunjukkan informasi luasan, lokasi, tipe
tanaman, kondisi sosial ekonomi, tipe kebijaksanaan yang diterapkan. Bahkan perkembangan
pelaksanaan konsep ini telah dapat menunjukkan nominal jika zona tersebut digunakan
untuk suatu usahatani oleh investor atau mitra usaha.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 17


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar 5. Contoh kasus penerapan pewilayahan komoditas kopi robusta di Kabupaten


Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur (BKPM dan PT. Virama Karya, 2003).

Salah satu perkembangan terakhir upaya mengembangkan konsep pewilayahan komoditi adalah
AGR OPOLIT
GROPOLIT
OPOLITAN AN yang telah mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial ekonomi, dan
teknologi. Bahkan pemerintah melalui Departemen Pertanian telah melakukan program
sosialisasi untuk mendukung keberhasilan program tersebut di semua subsektor pertanian
seperti peternakan, tanaman pangan, perkebunan, ditambah perikanan dan kelautan, serta
kehutanan.

Konsep pewilayahan komoditas ini oleh Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian
RI untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhannya dalam pengembangan sektor
peternakan di seluruh Indonesia. Bahkan telah ada kebijakan politik untuk melakukan
sosialisasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat pelaksana usaha peternakan (Gambar
6).

Apabila pewilayahan komoditas ini dapat diterapkan pada suatu daerah maka berarti telah
terbentuk suatu kawasan pertanian yang akan mendukung ketersediaan bahan baku daerah
tersebut telah siap memasuki tahap selanjutnya sebagai daerah agroindustri. Daerah dengan.
sentra-sentra produksi pertanian yang akan melaksanakan tahapan tanam, petik, olah, kemas,
dan jual dengan berbasis pada pertanian.

18 PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Hasil pewilayahan komoditas ini perlu didukung lebih lanjut lagi oleh pemerintah daerah dan
DPRD, penyiapan sumberdaya manusia, lembaga keuangan, dukungan infrastr uktur,
mekanisme kerjasama, serta pelaksana agroindustri.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 19


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

DUKUNGAN PEMDA DAN DPRD

Jika suatu daerah sudah sesuai atau sangat sesuai untuk pengembangan komoditas demi
pelaksanaan investasi agroindustri maka beberapa pertanyaan dasar muncul.

1. Apakah Pemda dan DPRD telah sepaham dan sepakat mengalokasikan wilayahnya untuk
pendirian pabrik pengolahan hasil pertanian?
2. Apakah Pemda dan DPRD memberikan dukungan berupa insentif bagi mitra usaha atau
pelaku bisnis berupa kemudahan perizinan, jaminan keamanan serta fasilitas untuk
mendapatkan kredit?
3. Apakah Pemda dan DPRD bersedia menjalankan paradigma baru untuk Clear and Clean
dalam mendukung terciptanya iklim investasi dan ekonomi daerahnya ?

Jika jawaban ketiga pertanyaan dasar tersebut adalah Tidak, maka dapat dipastikan juga
bahwa terjadi kegagalan dalam membuat langkah awal untuk menjalankan roda ekonomi
daerah. Kemudahan dan bebas biaya hanya sekadar fasilitas sederhana yang dapat merangsang
pengusaha untuk berinvestasi. Demikian juga dengan persetujuan bupati/walikota dan DPRD
tidak akan berarti apa-apa.

Pengusaha membutuhkan kepastian hukum terhadap penggunaan kawasan dalam skala waktu
yang sesuai dengan perhitungan ekonomi minimal 25 tahun. Dan paling ideal adalah 50
tahun. Sudah tentu kepastian hukum ini tidak dapat diganti hanya karena pergantian jabatan
bupati/walikota ataupun anggota dewan.

Jika persyaratan ini dipenuhi maka muncul konflik kepentingan lagi pada generasi pejabat di
masa mendatang yang boleh jadi akan menyalahkan pejabat terdahulu yang terlibat langsung
dalam persetujuan penggunaan lahan. Oleh karena itu, dukungan pemda dan DPRD yang
paling ideal adalah penyertaan saham. Langkah tersebut membuktikan dengan jelas dukungan
terhadap suatu investasi agroindustri. Pada sisi lain, akan menerima pendapatan untuk
peningkatan PAD sebagai konsekuensi logis saham yang dimilikinya.

Gagasan inilah yang juga memunculkan bahwa pemda bukan lagi hanya fasilitator tetapi
aktor pembangunan ekonomi daerahnya dengan tidak hanya mengandalkan sumber pendapatan
dari pajak dan retribusi. Untuk mencapai hal tersebut konsep kemitraan dalam agroindustri
menjadi solusi terbaik karena melibatkan petani, pemerintah daerah dan pengusaha untuk
keuntungan dan manfaat bersama dari suatu usaha. Kemitraan tersebut melibatkan komponen
petani, pemda, dan pengusaha membentuk perusahaan patungan. Konsep ini dijelaskan dalam
tulisan Agroindustri Berbasis Kemitraan Melalui Pembentukan Perusahaan Patungan.

20 PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

DUKUNGAN INFRASTRUKTUR

Dukungan prasarana jalan utama, ketersediaan listrik, air bersih dan pelabuhan laut dan
udara merupakan dukungan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengundang pengusaha ke
suatu daerah. Terutama jika sudah terbentuk kawasan agroindustri. Namun demikian, karena
keterbatasan dana pembiayaan yang dimiliki pemda maka dukungan infrastruktur tidak dapat
terpenuhi seluruhnya. Kendati ditahun-tahun mendatang solusi pembiayaan dapat terpenuhi
melalui penerbitan oblikasi daerah, namun pada awal investasi, pengusaha juga perlu pengertian
terhadap keterbatasan dukungan fasilitas infrastruktur. Yang terpenting, pengertian itu juga
bukan berarti suatu keharusan bagi pengusaha untuk membangun infra struktur yang seharusnya
dibangun oleh pemda.

DUKUNGAN SUMBERDAYA MANUSIA

Kendala klasik yang dihadapi setiap daerah adalah keterbatasan sumberdaya manusia (SDM)
dalam kualitas yang dapat memenuhi kebutuhan sebagai pelaksana agroindustri. Jika dapat dipilah
dua yaitu pengusaha dan pemerintah, maka keduanya perlu memiliki kearifan dalam berpikir dan
bertindak sehingga semua lapisan SDM yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik.

Pada sisi pengusaha, kendati penggunaan SDM harus sesuai dengan target kebutuhan mereka
ter utama di bagian pabrikasi namun tidaklah melupakan petani. Petani harus diberdayakan
melalui penyuluhan/bimbingan teknis dan pemberian jaminan sosial berupa bantuan dana
pendidikan dan kesehatan, serta kepastian pemasaran dari hasil jerih payah mereka. Bahkan
masyarakat yang tidak berprofesi sebagai petani, juga dapat dilibatkan sebagai tenaga kerja
borongan ataupun tenaga kasar. Karena di wilayah petanilah penyediaan bahan baku
agroindustri dapat dilaksanakan.

Pengusaha juga harus mendidik SDM yang memiliki pendidikan menengah atau sarjana melalui
kegiatan pengembangan masyarakat ( community development) sehingga kesempatan kerja
dan harkat mereka juga terangkat. Hal ini perlu dipahami untuk meyakinkan masyarakat
bahwa industri pertanian ini adalah milik mereka.

Pada sisi pemerintah, pendidikan formal tidak lagi hanya mengandalkan pendekatan teoritis
tetapi juga praktik dan perencanaan jenis pendidikan yang dibutuhkan oleh industri. Peranan
pasti pemda yang dibutuhkan adalah menjembatani kebutuhan tenaga kerja sektor agroindustri
dengan ketersediaan SDM yang melimpah kendati menghadapai segala problematika pendidikan
dan kehidupannya.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 21


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

DUKUNGAN LEMBAGA KEUANGAN

Seindah apapun konsep pewilayahan komoditas yang dilakukan oleh daerah maka tanpa
peranan lembaga keuangan terutama perbankan maka pelaksanaannya tidak akan terwujud.
Disinilah perlu dukungan bank dan non-bank untuk mendanai proyek ini dengan garansi
pemda dan DPRD.

Kendati pemerintah daerah dan DPRD bersedia bertindak sebagai avalis dalam pelaksanaan
agroindustri terpadu di suatu daerah, namun pihak perbankan masih perlu ekstra hati-hati
dengan berpijak pada prinsip-prinsip bankable (memberikan nilai untung bagi bank), akuntable
(layak administrasi dan keuangan), dan feasible (layak usaha).

Jika semua mitra yang terlibat dalam pengembangan suatu wilayah menuju agroindustri terpadu
dapat menunjukkan ketiga aspek tersebut maka jaminan bisnis untuk menggunakan pinjaman
bank tidak lagi hanya terpaku pada jaminan asset perusahaan tapi cukup pada jaminan Pemda
dan DPRD.

KETERSEDIAAN PELAKSANA AGROINDUSTRI

Jika wilayah sudah layak secara ekologi, tersedia dana dan SDM, dan dukungan infrastruktur
maka pelakulah yang dicari ditambah dengan aturan mainnya (mekanisme kerjasama) sehingga
pelaksanaan agroindustri terpadu dapat terwujud.

Ketiga pelaku yang teridentifikasi dalam mekanisme kerjasama kemitraan yang dibahas dalam
pemikiran ini adalah kelompok petani, perusahaan daerah atau koperasi primer di tingkat
provinsi, dan mitra usaha nasional. Ketiganya memiliki hak dan tanggung jawab masing-
masing. Petani yang tergabung dalam koperasi harus mampu menyediakan bahan baku dengan
kualitas dan jumlah yang sesuai untuk menjalankan suatu usaha berskala industri. Perusahaan
daerah yang menjadi ujung tombak pemda dalam mencari sumber-sumber PAD juga diharapkan
bersedia menjalankan pabrikasi dan penggunaan dana yang baik dan bekerja sebaik mitranya
di perusahaan patungan. Mitra usaha nasional pun juga harus menegakkan loyalitas dan
keteguhan hati untuk tetap bermitra dengan memberikan jaminan pasar, alih pengetahuan
dan teknologi serta profesionalisme usaha yang baik.

22 PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Mekanisme kerjasama kemitraan adalah dasar sistem kerja yang akan dilaksanakan oleh ketiga
pelaksana agroindustri ini menuju tercapainya keberhasilan bersama dan harkat serta martabat
bangsa Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

JARINGAN PEMASARAN UNTUK MENCAPAI TARGET PASAR

Kawasan agroindustri harus didukung strategi pemasaran melalui empat langkah yaitu riset
pasar, promosi, pengembangan model distribusi, dan pelayanan konsumen. Alokasi dana,
waktu, sumberdaya manusia, dan skala strategi pemasarannya ditentukan oleh pengelola baik
yang melibatkan pemerintah daerah dan swasta atau khusus menggunakan jasa perusahaan
yang bekerja di bidang pemasaran.

Kawasan agroindustri memerlukan aplikasi teknologi informasi pada sistem produksi di pabrik
dan jaringan pemasaran produk yang telah dikembangkan oleh Mitra Usaha Nasional seperti
pada Gambar 7.

Gambar 7. Rancangan aplikasi teknologi informasi dan jaringan pemasaran untuk sebuah
perusahaan.

> PERENCANAAN KAWASAN AGROINDUSTRI DI DAERAH 23


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH
AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 3
KEMITRAAN UNTUK
AGROINDUSTRI

TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk menjelaskan konsep agroindustri berbasis kemitraan melalui pembentukan


perusahaan patungan.
2. Untuk menerangkan kendala yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan konsep tersebut.
3. Untuk menjelaskan keunggulan dan kelemahan dari konsep ini.
4. Untuk memberikan beberapa saran strategis dan taktis dalam pelaksanaan konsep ini.

SASARAN

Penulisan makalah ini merupakan sumbang saran kami yang ditujukan kepada praktisi, pengamat
masalah pertanian, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah serta para pengusaha yang
bergerak di sektor agroindustri di Indonesia.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 25


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PERANAN AGROINDUSTRI

B
erlandaskan pengalaman dari diskusi, serangkaian perjalanan ke daerah dan studi pustaka,
ternyata agroindustri merupakan sentra utama yang harus dikembangkan pemerintah
daerah di Indonesia untuk memajukan ekonominya. Terlebih lagi dengan tersedianya
piranti hukum berupa UU No 22/1999 dan No 25/1999 tentang pelaksanaan pemerintah
daerah dan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga otonomi
daerah akan lebih memiliki kekuatan ekonomi dengan pelaksanaan agroindustri yang baik
dan profesional.

Argumentasi untuk mengembangkan agroindustri adalah Indonesia memiliki modal dasar


sumberdaya alam yang hanya dapat diusahakan melalui suatu sistem pertanian yang terpadu dan
profesional dalam skala ekonomi yang layak. Suatu sistem usaha tani yang seringkali disebut
agribisnis ataupun agroindustri merupakan empat rangkaian subsistem yaitu pengadaan sarana
produksi, subsistem produksi, pengolahan hasil, pemasaran. Keempat subsistem ini dilakoni
oleh empat institusi yang berbeda yaitu pelaku sarana produksi pertanian baik oleh perorangan,
koperasi, ataupun pedagang, serta perusahaan. Namun demikian, pelaku utama dari keempat
subsistem tersebut adalah petani yang kerapkali terperosok karena ketidakmampuan mereka
mengendalikan dinamika subsistem lainnya sehingga mereka tidak memiliki posisi tawar
terhadap produk yang dihasilkannya. Produk pertanian memiliki nilai rendah manakala terjadi
panen dan mengalami nilai jual tinggi jika tidak diproduksi. Hasilnya akhirnya adalah petani
kesulitan untuk meraih harapan hidup yang lebih baik apalagi untuk kesejahteraannya.

Pada sisi mikro, sektor industri yang menggunakan bahan baku dari hasil pertanian hanya
memandang dirinya sebagai satu institusi yang terpisah dari mata rantai produksi lain di suatu
daerah. Petani dan pemerintah daerah dianggap mitra tetapi tidak memiliki posisi untuk
menentukan ritme, arah, dan kecepatan sistem usaha tani. Ketimpangan ini tidak dapat
diatasi oleh pemerintah daerah karena masih banyak celah kelemahan dari sistem yang
dijalankan saat ini dalam menjalankan suatu usaha di daerah. Misalkan, harga suatu komoditas
pertanian anjlok maka pemerintah hanya dapat menerima keluhan petani tetapi tidak dapat
berbuat banyak untuk mengubahnya. Demikian juga jika terjadi kelebihan produksi maka
pemerintah dan pengusaha juga tidak banyak membantu. Argumentasi yang kerap kali kami
temukan di lapangan dan juga dirasakan oleh Darusman et al. (2004) adalah tidak ada jaminan
pasar dan harga tidak stabil sehingga merugikan petani. Belum lagi jika melibatkan pemain-
pemain dalam mata rantai di sistem usaha tani yang lebih banyak menguntungkan pemain
antara seperti tengkulak, pedagang kecil, dan pedagang besar daripada petani selaku produsen.
Hal ini menunjukkan bahwa petani selalu dalam posisi paling lemah.

26 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Pada sisi makro, pemerintah sudah harus memikirkan persyaratan perdagangan global sesuai
dengan kesepakatan AFTA (ASEAN Free Trade Area ) yang telah diterapkan sejak tahun 2003
dan WTO. Hal ini berimplikasi pada keharusan semua stakeholder dalam agroindustri Indone-
sia untuk lebih solid, efisien, dan cerdas dalam mengatur strategi dan mampu menghasilkan
produk pertanian Indonesia yang dapat bersaing di tingkat regional bahkan dunia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kita (petani, pemerintah pusat dan daerah, pengusaha,
dan peneliti) yang terkait secara luas dengan pertanian harus mampu mewujudkan konsep
pelaksanaan agroindustri yang terpadu dan berazaskan pada kemitraan. Bermitra bukan berarti
hanya memiliki kesamaan hak dan tanggung jawab tetapi memiliki posisi yang sama dalam
penentuan arah dan kebijakan suatu usaha. Dan satu-satunya jawaban hal tersebut adalah
membuat perusahaan patungan dengan melibatkan petani, pengusaha, dan pemerintah daerah
sebagai pemegang saham. Hal inilah yang mendasari penulisan makalah ini sebagai ungkapan
kepedulian terhadap percepatan pelaksanaan agroindsutri Indonesia.

PRINSIP DASAR KEMITRAAN

P eranan Masing-Masing Mitra

Bermitra disini bukan berarti ada jarak yang memisahkan tiga stakeholder (petani, pemerintah
daerah, dan pengusaha) yang hanya terlahir dalam bentuk perjanjian kerjasama di atas akte
Notaris. Tetapi lebih dari itu, ketiga komponen tersebut harus meleburkan diri dalam satu
institusi berbadan hukum dengan nama perusahaan terbatas (PT) yang selanjutnya disebut
PT Patungan seperti pada Gambar 8.

Gambar 8.
Contoh kasus pendirian
perusahaan patungan
agroindustri jagung
terpadu oleh petani,
pemda/perusda, dan
mitra usaha nasional.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 27


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

P eranan P etani
Petani

Peranan utama Petani adalah menyediakan bahan baku untuk industri sesuai dengan jadwal
dan jenis komoditas serta target pasar yang dibutuhkan serta ditentukan secara bersama.
Konsekuensinya adalah petani harus menyediakan lahan dan tenaganya untuk mencapai tar-
get bahan baku produksi. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya
yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami. Melakukan pengawasan terhadap
cara panen dan pengelolaan pasca-panen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan. Namun
demikian, modal dasar yang dibutuhkan untuk penyediaan sarana produksi usaha tani pada
tingkat ini disepakati bersama dalam rapat direksi PT Patungan.

Pihak P emda
Pemda

Pemerintah daerah membangun prasarana dan sarana untuk pengolahan pasca panen seperti
bangunan dan mesin-mesin pengolahan. Hal ini dimungkinkan sebagai bentuk pengganti
subsidi kepada petani. Jika persyaratan ini belum dapat dipenuhi pada suatu tahun anggaran
maka diubah menjadi penjamin terhadap kredit suatu bank yang dimintakan oleh perusahaan
patungan. Jaminan tersebut dapat dialokasikan pada setiap tahun di APBD selama masa
perhitungan pinjaman di studi kelayakan yang dibuat. Pemerintah daerah juga memberikan
bantuan dalam pengurusan perizinan seperti SIUP, TUDP, MD, dan lain-lain dalam kaitannya
dengan aspek legal yang berlaku di suatu daerah.

Pihak P engusaha
Pengusaha

Pengusaha yang terlibat harus memiliki komitmen dan bukti kuat mengenai kemampuan dan
penguasaan teknologi pengolahan pasca panen dan agroindustri, sumberdaya manusia yang
terlatih dan terdidik, dukungan sistem teknologi untuk mendukung perusahaan patungan,
sistem teknologi informasi jaringan pemasaran produk baik nasional, maupun internasional.
Pengusaha juga harus menyiapkan SDMnya sebagai inti manajemen pengelola usaha tersebut
serta harus melakukan alih teknologi dengan memberikan kesempatan kerja dan berkarya
kepada masyarakat setempat. Perusahaan yang terlibat dalam PT Patungan ini juga sebaiknya
memiliki kemampuan penelitian dan pengembangan untuk menjamin lahirnya inovasi dan
penemuan demi mencapai keunggulan bisnis.

28 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

P eranan Lembag
Lembagaa K euang
euangaa n
Keuang

Peranan lembaga keuangan seperti perbankan, asuransi, dan reksadana ditekankan pada tahap
awal untuk memberikan modal investasi dan modal kerja terutama kepada petani dan
pemerintah daerah. Sedangkan pengusaha diasumsikan telah memiliki modal sendiri namun
terbatas pada investasi sistem kerja, SDM untuk manajemen PT. Patungan. Persyaratan umum
yang diperlukan untuk pengurusan kredit harus lebih disederhanakan karena telah menerima
jaminan pembayaran setiap tahun melalui APBD dari Pemerintah Daerah.

Mekanisme Kerjasama

Kemitraan antara Petani, Pemerintah Daerah, dan Pengusaha dibangun berdasarkan potensi
bisnis yang dimiliki masing-masing oleh stakeholder tersebut. Terutama potensi pasar dan
daya dukung alam, serta kemampuan teknologi pengolahan pasca panen. Disamping itu, ada
political will and action plan dari pemerintah dan DPRD setempat untuk mendukung
terlaksanya agroindustri di daerah. Jika prasyarat ini terpenuhi maka kerjasama dapat terjalin
lebih cepat. Lima tahap yang akan dikerjakan dalam kegiatan ini dapat digambarkan pada
Gambar 9.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 29


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar 9. Tahapan kerja di mekanisme kerja agroindustri.

30 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Tahap P er tama
Per tama: Identifikasi Potensi Bisnis Daerah dan Mitra Kerja
Berdasarkan intuisi bisnis yang terlahir dari pengusaha, petani dan pemerintah daerah (pemda)
dengan melihat potensi sumberdaya alam suatu daerah maka ide pengembangan agroindustri
akan cepat terlahir. Lima indikator yang umumnya digunakan pengusaha (enterpreuneur)
untuk kelayakan suatu usaha yaitu kelayakan teknis dan produksi; keuangan; manajemen;
pasar ; dan memberikan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat.

Tahap K edua
Kedua
edua: Pembentukan Kelembagaan
Jika pada tahap pertama telah tuntas dengan baik maka akan terlibat langsung tiga pihak
(pemda, petani, pengusaha) dengan fasilitator pemerintah provinsi atau pusat untuk melakukan
pemberdayaan masyarakat, sosialisasi program, serta pembentukan perusahaan patungan
sebagai langkah awal dan kendaraan bisnis pada kegiatan ini. Pada tahap ini, pemerintah
daerah selanjutnya sudah diwakili oleh perusahaan daerah untuk mempermudah kegiatan
bisnis.

Tahap K etig
etigaa : Perencanaan Bisnis
Ketig
Lima subkegiatan pada tahap ini perencanaan bisnis yang akan dijalani oleh PT Patungan
yaitu: penentuan kapasitas bahan baku, penentuan teknologi dan sistem kerja yang akan
dikerjakan; penyiapan SDM sebagai perencana, pelaksana, dan evaluator dengan stratifikasi
pendidikan, kemampuan, dan keuletan serta kewirausahaannya; serta pemantapan sarana dan
prasarana yang har us dikembangkan oleh PT. Patungan.

Tahap K eempat
Keempat
eempat: Pelaksanaan Bisnis
Pada tahap pelaksanaan bisnis, PT Patungan sudah harus menekankan kegiatannya pada
efisiensi bisnis, kuantitas dan kualitas produk, manajemen SDM, pelayanan, pendayagunaan
hasil-hasil penelitian dan pengembangan (Litbang), serta jaringan pemasaran produk baik di
dalam maupun luar negeri.

Tahap K elima
Kelima
elima: Evaluasi dan Pengembangan Bisnis
Penekanan evaluasi dari empat tahap terdahulu harus dilakukan pada tahap kelima ini,
disamping harus memperkuat aspek litbang untuk tetap menjadi leader dalam agroindustri
yang sedang dijalankan. Dua hal lain lain adalah kerjasama internal dan eksternal baik dengan
sesama mitra di dalam PT Patungan maupun mitra kerja di luar institusi ini.

Jika kelima tahapan di atas dapat dilaksanakan dengan baik maka akan berdampak pada
pengembangan kawasan agroindustri terpadu. Tabel 1 merupakan contoh pembuatan rencana
kegiatan, target hasil, sasaran kegiatan serta estimasi jenis pengeluaran di tahun-tahun pertama
pengembangan kawasan terpadu.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 31


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Tabel 1. R encana kkee giatan tahap per tama


Rencana
dalam pengembangan kawasan agribisnis terpadu

No. Tahap K
Kee giatan T ar
argg et Hasil Sasaran Pengeluaran
Kegiatan biaya

Tahap P er tama - K eempat: Tahun 1, 2 dan 3


Per

1. Pembentukan organisasi usaha Terbentuknya str uktur Pengeluaran untuk


yang memiliki struktur dan organisasi usaha yang pengurusan organisasi usaha,
manajemen kerja yang jelas memiliki tujuan, visi dan Team pengurusan pendanaan usaha
dan produktif misi yang jelas, efisien dalam manajemen dan perangkat pendukung
penggunaan sumber daya dan usaha organisasi
efektif dalam pencapai
hasil usaha

2. Peningkatan kualitas sumber daya Terbentuknya sumber daya Pengeluaran biaya untuk
manusia pelaksana melalui kegiatan manusia pelaksana yang terampil, SDM program alih teknologi,
transfer teknologi, pendidikan, mandiri dan berpengetahuan Pelaksana pendidikan dan pelatihan
pelatihan dan on jobs training luas Usaha
di lapangan

3. Melakukan kegiatan usaha nyata


bidang agribisnis terpadu :
a). Pengaturan tata guna lahan, Lahan yang dikelola Pengeluaran untuk investasi
b). Kegiatan produksi tanaman, menjadi usaha agribisnis Tenaga Kerja peralatan, bibit tanaman,
ternak dan ikan, secara terpadu dan optimal, untuk pupuk, biaya tenaga kerja,
c). Pembentukan jaringan pemasaran, mandiri, produktif dan kegiatan biaya pembangunan
d). Pelaksanaan penelitian dan memberikan nilai tambah Usaha infrastruktur kebun dan
pengembangan, serta aplikasinya yang nyata lain-lain

Kelima tahapan ini merupakan teori dasar teoritical foundation bagi pembentukan dan
pelaksanaan agroindustri di suatu daerah. Harapan ini tentunya bukan impian tetapi langkah-
langkah nyata yang harus dijalani dengan baik dan profesional.

Pengelolaan suatu kawasan agribisnis terpadu merupakan kegiatan yang membutuhkan jangka
waktu yang lama. Oleh karenanya dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap kedalam
kegiatan jangka pendek, kegiatan jangka menengah dan kegiatan jangka panjang. Prioritas
kegiatan dari tiap tahap kegiatan dapat berbeda dan antara tahap satu dengan tahap berikutnya
dilakukan secara berkesinambungan sehingga diperoleh hasil yang berwujud terbentuknya
suatu unit usaha dan kawasan agribisnis terpadu yang produktif, menguntungkan secara
ekonomis dan berfungsi sebagai sarana pendidikan, pelestarian lingkungan dan pemberdayaan
sosial budaya masyarakat.

32 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

KESEPAKATAN KEPEMILIKAN SAHAM

Dua bagian ini yang paling rentan dalam sistem kerjasama sehingga semua stakeholder perlu
musyawarah menuju mufakat. Kerentanan itu didasari pada: Pertama, fakta bahwa tidak
semua stakeholder memiliki modal yang sama dan cukup untuk bagi saham dalam perusahaan
patungan; Kedua adalah definisi modal tidak harus identik dengan uang atau kekayaan
tetapi kepemilikan lahan dan kesediaan untuk bekerja bagi petani, kemampuan penguasaan
teknologi dan jaringan pasar juga merupakan modal dasar yang tak ternilai.

Berdasarkan dua pemikiran tersebut, pembagian saham perusahaan patungan ini sebaiknya
menggunakan komposisi sebagai berikut:
1. Pemda 40% dari total aset PT Patungan;
2. Petani 40% dari total aset PT Patungan;
3. Pengusaha 20% dari total aset PT Patungan

Pembagian saham PT Patungan dengan komposisi seperti diatas didasarkan pada kontribusi
masing-masing pihak yang mencakup penyediaan lahan dan tenaga kerja, penyediaan lahan dan
pembangunan pabrik, penyediaan SDM di tingkat operasional, penguasaan teknologi budidaya
pertanian, teknologi pasca panen serta pembangunan jaringan pasar dalam dan luar negeri.

PENGATURAN KEUNTUNGAN

Pengaturan keuntungan sebaiknya dilaksanakan setelah pinjaman/kredit dari bank dilunasi.


Hal ini merupakan prinsip dasar bisnis ala Mandarin yang menekankan pada kemandirian
berusaha setelah menerima bantuan. Langkah ini juga merupakan upaya keras yang harus
dilaksanakan oleh pelaksana di PT. Patungan dengan baik karena dengan kembalinya kredit
tersebut maka performance bisnis dapat dicapai dengan nilai bagus dimata penyandang
dana investasi. Nilai yang tersebut kemudian dapat digunakan lagi pada tahap pengembangan
bisnis di masa mendatang.

Komposisi pembagian keuntungan diharapkan pada kondisi ideal sebagai berikut:


1. Pemda melalui Perusda 30%
2. Petani 30%
3. Pengusaha 20%
4. Jaminan Sosial 10%
5. Reinvestasi 10%

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 33


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Jadi nilai keuntungan sebesar 70% kembali ke daerah dan 10% digunakan untuk reinvestasi
untuk mempertahankan kelanjutan usaha perusahaan patungan, sedangkan pengusaha yang
terlibat akan menerima konsekuensi keuntungan 20%. Keuntungan Perusda yang mencapai
30% dari sisa hasil usaha PT Patungan merupakan nilai tambah yang sangat penting bagi
upaya peningkatan pendapatan daerah.

Kesediaan PT Patungan untuk menyisihkan 10% keuntungannya kepada masyarakat dalam


bentuk jaminan sosial merupakan langkah nyata perusahaan memberikan nilai sosial dari
kegiatannya. Dana yang tersedia tersebut harus digunakan untuk pendidikan dan kesehatan
masyarakat dimana lokasi agroindustri tersebut berjalan. Penyediaan prasarana dan sarana
pendidikan di sekolah dasar dan menengah menjadi kebutuhan penting disamping tunjangan
untuk tenaga pendidik dan administrasi.

Hal serupa juga perlu diterapkan pada sarana kesehatan dan obatan-obatan serta ditunjang
oleh tenaga medis dan dokter yang cukup. Teknis operasional di lapangan mungkin dapat
melibatkan perusahaan asuransi yang menyediakan produk asuransi kesehatan kolektif dengan
pelayanan profesional dan sesuai dengan tingkat biaya di kawasan pertanian. Upaya ini akan
memberikan nilai tambah perusahaan di hati masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial
sehingga PT Patungan benar-benar dimiliki oleh segenap lapisan masyarakat.

ANALISA SISTEM AGROINDUSTRI

Perbedaan Dua Sistem

Tiga indikator yang digunakan untuk menilai sistem agroindustri yang saat ini berjalan di
Indonesia dan model yang akan diusulkan, yakni pelaku, modal, dan dampak ekonominya
seperti untung atau resiko yang harus diterima seperti pada Gambar 10.

34 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar 10.Perbandingan dua sistem yang saat ini sedang berjalan dan usulan model sistem
agroindustri terpadu yang akan diterapkan di Indonesia di masa mendatang.

Berdasarkan pada Gambar 10, dapat ditunjukkan bahwa jika sistem agroindustri Indonesia
masih dijalankan seperti saat ini, maka kemampuan masing-masing pelaku di subsistem 1 4
tidak akan seimbang karena pengaruh persaingan antara subsistem itu sendiri dan kesempatan
bermain bagi perorangan yang tergolong sebagai tengkulak, pengijon, dan toke, rentenir
untuk merusak sistem. Modal yang digunakan juga harus sendiri-sendiri, bahkan keuntungan
dan resiko yang harus dihadapi.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 35


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Pola pengelolaan agroindustri yang parsial akan menyulitkan untuk menjaga kuantitas dan kualitas
produk karena masing-masing pelaku disetiap subsistem akan berupaya mendapatkan keuntungan.
Tak ada jaminan harga dan penerimaan hasil panen merupakan kejadian yang sering dialami oleh
petani dengan sistem sekarang ini. Masalah tersebut akan terus bertambah bila juga memikirkan
upaya pengembangan inovasi dan alih teknologi kepada masyarakat karena disparitas kemampuan
untuk menyerap dan menerapkannya. Subsidi pemerintah dalam bentuk pelatihan, sarana produksi
pertanian, serta bantuan lainnya bagai langkah menabur garam di laut karena tidak terakumulasi
dengan baik dan sulit untuk dikendalikan dampak danperkembangannya.

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN

Keunggulan
Berbeda dengan model di atas, model sistem agroindustri terpadu yang menekankan pada
pembentukan dan mekanisme usaha moderen melalui PT. Patungan. Keunggulan dan
kelemahan yang dapat dirasakan antara lain:
1. Menghemat biaya Produksi, harga jual, waktu produksi, kuantitas dan kualitas dapat
dikelola oleh tiga stakeholder yang terlibat.
2. Subsidi pemerintah untuk petani dapat dihilangkan, dan diubah menjadi jaminan anggaran
(APBD) ke lembaga keuangan.
3. Pemerintah, Pengusaha, dan Petani memiliki posisi yang sama.
4. Memutus mata rantai pelaku usahatani di daerah yang merugikan petani.
5. Anggaran dan belanja pemerintah dan perusahaan lebih terarah dan menggiring ke arah
good governance dan good cooperate .
6. Tersedia kesempatan untuk inovasi dan aplikasi teknologi kepada petani tanpa harus
mengeluarkan biaya besar karena didukung oleh divisi Litbang PT. Patungan.

Kelemahan
1. Tanpa jaminan pemerintah daerah, ditahun-tahun pertama PT Patungan belum mampu
memenuhi modal investasi dan modal kerja dari persyaratan peminjaman modal dari
perbankan yang cukup ketat.

Aspek Finansial
Pertimbangan finansial juga diterapkan dalam analisis agroindustri ini dengan memberikan
hasil contoh kasus usaha tani jagung yang menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan
umum dilaksanakan oleh petani saat ini yang disebut pendekatan konvensional (Gambar 5)
dan pendekatan dengan menggunakan sistem agroindustri terpadu (Gambar 11), serta
pembagian keuntungan yang akan diterima oleh petani dan pemda (Gambar 12).

36 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

1 . Pendekatan Usaha Tani K Koo nnvv ensional


Berdasarkan pendekatan usaha tani yang umumnya digunakan pada saat ini di Indonesia
adalah menggunakan sistem tanam olah tanah, pemupukan, dan pengendalian hama dan
penyakit dengan menggunakan pestisida. Dengan harga benih Jagung Rp 25.000 kg dan
jumlah total biaya sebesar Rp.3.767.000,- untuk luasan satu hektar. Sedangkan harga
jual total adalah Rp. 6.600.000,- untuk 6 ton panen.

Gambar 11. Analisa finansial usahatani tanpa kemitraan.

2 . Pendekatan Usaha Tani Berbasis Ag r oindustri Ter padu.


Berdasarkan pendekatan usaha tani jagung agroindustri terpadu, tiga hal penting yang
membedakan dengan pendekatan konvensional yaitu:

Pertama, penggunaan teknologi baik dalam pemupukan maupun dengan masuk pada sistem
pabrikasi pada sistem usaha tani. Pemupukan menggunakan bahan organik untuk menggantikan
pupuk anorganik karena sistem pertanian yang akan diterapkan adalah pertanian organik
karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sistem pabrikasi diterapkan sebagai inti agroindustri
karena adanya mekanisasi untuk menjaga kuantitas dan kualitas produk berdasarkan rencana
produksi perusahaan.

Kedua, penggunaan limbah jagung seperti bongkol dan batang karena tersedia teknologi
dengan biaya yang relatif mudah untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan
ternak.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 37


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Ketiga, bagi keuntungan dari selisih biaya produksi dengan harga jual di pasaran. Bagi hasil
ini dilakukan dengan komposisi seperti pada Gambar 6 dengan melibatkan petani, pemda,
dan mitra pengusaha. Selain bagi keuntungan, sisa keuntungan juga disisihkan untuk jaminan
sosial masyarakat serta reinvestasi.

Berdasarkan jagung ini petani akan menerima sebesar Rp.3.845.000,- ditambah dengan jaminan
sosial. Pendapatan petani akan berbeda jika hanya mengikuti cara konvensional karena hanya
mendapatkan keuntungan Rp.2.833.000,- dan tanpa jaminan sosial.

Dalam agroindustri jagung terpadu, pemda akan mendapatkan keuntungan sebesar


Rp.720.000,-/ha/tahun untuk satu kali musim tanam. Dengan asumsi di suatu kawasan
terpadu tersedia lahan seluas 2.200 ha dan ditanam dua kali musim tanam maka pemerintah
daerah akan menerima PAD melalui perusahaan daerah sebesar Rp.3.168 Miliar. Kontribusi
pendapatan petani dan pemda dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 12. Analisa finansial usahatani dengan sistem terpadu melalui bagi hasil di PT.
Patungan.

38 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar 7. Nilai kontribusi pendapatan dengan dan tanpa cara agroindustri serta potensi
PAD Pemda.

STRATEGI DAN LANGKAH TAKTIS

Untuk mencapai keberhasilan kinerja kemitraan dari agroindustri terpadu, pemerintah daerah,
petani dan pengusaha perlu memiliki kebijakan strategis dan langkah taktis:

1. Dukungan peraturan daerah (perda) yang memberikan perlindungan hukum bagi kelanjutan
sistem agroindustri terpadu yang sedang dibangun di daerahnya, karena terkait langsung
dengan upaya peningkatan sejahtera rakyat dan penghasilan daerahnya.
2. Buat prioritas pelaksanaan agroindustri dari komoditi yang menjadi unggulan di daerah
dan sudah banyak diusahakan oleh para petani. Dengan demikian, biaya pembukaan dan
penanaman lahan dapat dihindari.
3. Pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat Kelembagaan yang ada dalam rangka
pelaksanaan agroindustri di daerah. Pemberdayaan ini dapat melibatkan kerjasama dengan
Departemen Pertanian yang telah memiliki konsep pemberdayaan masyarakat untuk
agroindustri.
4. Pelaksanaan evaluasi dan perbaikan, serta litbang di sistem agroindustri ini harus dijalankan
dengan baik dalam bentuk prosedur standar operasional (Standard Operational Procedures,
SOP
SOP). Kegiatan ini
5. Mempertahankan posisi bisnis pada skala produksi dengan melibatkan sumberdaya waktu,
tenaga, dan biaya namun dikelola dengan efisien dan efektif.
6. Prioritas mempercepat pelunasan kredit PT Patungan kepada Lembaga Keuangan. Hal
ini perlu ditekankan sebagai prinsip dasar bisnis ini.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 39


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

DAMPAK DAN KENDALA

Pelaksanaan sistem agroindustri akan memberikan dampak baik pada masyarakat maupun pada pelaku
bisnis yang telah ada di suatu daerah. Pelaksanaan sistem ini mengakibatkan pemotongan tengkulak
dari mata rantai sistem agroindustri karena petani terangkat posisinya sebagai pemilik, bahan baku
dapat langsung dioleh sesuai dengan standar produksi industri yang dibutuhkan oleh pasar.

Kendala yang mungkin terungkap dalam perencanaan dan pelaksanaan sistem agroindustri
kemitraan di suatu daerah adalah sebagai berikut:

1 . Perse psi In
ersepsi Invv estor dan Mitra K er ja
Ker
Determinasi investor dan mitra kerja jelas berbeda. Investor memiliki kemampuan untuk
membiaya seluruh modal investasi dan modal kerja dengan imbalan seluruh keuntungan
atau kerugian akan diambil/ditanggung sendiri. Mitra kerja adalah institusi atau perorang
yang bersedia memberikan kontribusi modal dan hanya berhak sebagian dari keuntungan
tersebut, demikian juga dengan resiko yang mungkin terjadi.

2 . Perse psi Pr
ersepsi Proo y ek dan Usaha Industri
Definisi proyek tersebut diawali dengan penyediaan dana oleh suatu institusi dengan
indikator keberhasilan kegiatannya hanya dinilai dari sisi terjadi atau tidaknya
pelaksanaannya. Jadi ada skala waktu dan ketersediaan dana yang menjadi faktor pembatas.
Berbeda dengan proyek, usaha industri memikirkan bukan hanya terjadi pelaksanaan
kegiatan tetapi juga keberlanjutan kegiatan ini di masa mendatang dengan indikator
finansial, pasar, dan kemampuan inovasi melalui penerapan teknologi.

3 . Mempertanyakan Sumber Modal


Pertanyaan ini kerapkali muncul dalam setiap diskusi karena terkontaminasi pemikiran
bahwa setiap usaha harus dimodali sendiri. Padahal ada kemampuan sendiri yang tidak
ternilai dengan uang saja seperti kemampuan manajerial, teknologi, jaringan pasar, lahan
dan teknik budidaya. Semua ini tentu akan memberikan suatu sinyal positif bagi pemilik
modal yang tergabung dalam lembaga keuangan (bank, asuransi, reksadana).

4 . Kemampuan Meng g ali P otensi Daerah Sendiri


Potensi
Potensi ekonomi suatu daerah terkadang mudah untuk diungkapkan secara kualitatif
namun sukar untuk dikuantifikasi dalam bentuk jumlah dan posisi geografis yang akurat.
Akibatnya muncul istilah Sangat Potensial, Jumlahnya Besar, Dijamin Pasti tersedia,
namun kenyataannya sukar untuk direalisasikan. Oleh karena itu, pemda tentu perlu
memikirkan konsep yang ditulis oleh Siregar (2004) untuk mencari tahu potensi daerah,

40 KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

kemampuan bupati sebagai CEO, dan teknik menjual/mengundang investor ataupun


mitra pengusaha yang berminat membangun daerahnya.

5 . Kualitas SDM yang belum memadai untuk agroindustri.


Masalah ini boleh disebut klasik namun kenyataannya lulusan perguruan tinggi di suatu
daerah baik dalam strata D3, sarjana, bahkan pascasarjana terus melimpah sehingga terjadi
pengangguran. Kendati terjadi kesenjangan antara kualifikasi yang dibutuhkan dengan
ketersediaan kemampuan tenaga kerja, namun dengan upaya pelatihan dan magang kerja
yang dilakukan oleh PT Patungan maka peluang untuk menyerap tenaga kerja daerah
akan lebih besar.

6 . Se bagian masih meng gunakan perse psi USA


Sebagian USA (Untuk Sa Sayy a A pa?).
Apa?).
Keterlambatan respon dari ide ini terkadang disebabkan oleh penggunaan persepsi USA.
Dampak lanjutannya adalah pelayanan berkurang dan hanya menunggu komando atasan
untuk menindaklanjuti ide ini. Bahkan terjadi No Respon terhadap upaya-upaya yang
telah dijalankan oleh institusi. Kendala ini mungkin dijawab dengan memberikan
pengertian bahwa segala upaya yang dilakukan oleh semua pihak termasuk pegawai,
karyawan, bahkan petani penggarap sekalipun adalah upaya untuk meningkatkan
kesejahteraan bersama, dan bukan hanya untuk individu. Namun disisi lain, munculnya
persepsi USA dapat dijadikan indikator untuk memperkuat Tim Kerja baik di pemda,
asosiasi petani, dan perusahaan.

7 . Kehadiran masalah dari dalam dan luar sistem selama pelaksanaan usahatani.
Masalah yang umumnya terjadi dari internal PT Patungan di agroindustri terpadu antara
lain adalah penyelarasan antara ketersediaan bahan baku dan kapasitas produksi, fluktuasi
harga pembelian, ritme kerja industri yang harus diikuti oleh karyawan, petani dan direksi.
Masalah eksternal adalah persaingan bisnis dari skala perorangan atau perusahaan yang
merasa terambil porsi bisnisnya.

Kekuatan internal stakeholder dari PT Patungan melalui manajemen yang baik dan profesional akan
mampu mengatasi kendala internal dan eksternal tersebut dengan dilandasi oleh niat yang baik.

PENUTUP

Pelaksanaan sistem agroindustri terpadu melalui pendirian PT patungan sebagai langkah untuk
memberdayakan petani, pemda dan mitra pengusaha memerlukan komitmen dari semua pihak
baik dari pemerintah pusat maupun pemda untuk mencapai keberhasilan yang ditargetkan.

> KEMITRAAN UNTUK AGROINDUSTRI 41


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH
AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 4
MENGUKUR KINERJA
AGROINDUSTRI SISTEM
KEMITRAAN DI DAERAH

Tujuan Penulisan
Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:


1. Untuk menjelaskan kriteria penilaian kinerja sistem kemitraan agroindustri di daerah.
2. Untuk menjelaskan strategi penggunaan kriteria penilaian tersebut dalam pelaksanaan
kemitraan agroindustri di daerah.

Sasaran

Sasaran penulisan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman bagi pelaksana kemitraan
agroindustri terutama untuk petani, perusahaan daerah yang menjadi ujung tombak pemerintah
daerah, serta mitra bisnis.

> MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH 43


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

KEPENTINGAN AGROINDUSTRI DAERAH

P elaksanaan agorindustri di suatu daerah dilandasi pada delapan kepentingan yaitu:

1. Untuk memberikan kepastian hukum dan keamanan dalam pelaksanaan investasi di


suatu daerah.
2. Untuk membuka lapangan kerja yang selanjutnya meningkatkan kesejahteraan dan
mengurangi angka kemiskinan masyarakat setempat;
3. Untuk mengatasi tingkat produktivitas pertanian yang masih rendah karena faktor internal
dan ekternal yang sangat berpengaruh.
4. Untuk memberikan kepastian harga dan serapan pasar bagi setiap komoditi yang
dibudidayakan oleh petani karena tersedia industri yang menyerap, mengolah dan
memasarkannya.
5. Untuk mengurangi resiko kesalahan manajemen investasi yang terkadang dilakukan oleh
pemerintah daerah maupun investor domestik ataupun asing karena tidak mempertimbang-
kan daya lingkungan baik oleh masyarakat sekitarnya maupun alamnya.
6. Untuk mengurangi konflik sosial yang terjadi dalam sistem agroindustri yang mengandalkan
kekuatan tunggal dari investor atau pengusaha saja. Kekuatan tunggal tersebut akan
menimbulkan gesekan-gesekan sosial karena terjadi pengambil alihan kepemilikan lahan
dari petani ke pengusaha.
7. Untuk memberikan kesempatan pada pemerintah daerah mendapatkan sumber pendapatan
asli daerah (PAD) yang pasti dan terukur melalui penyertaan saham dalam pembangunan
agroindustri di daerahnya.
8. Untuk membangun suatu sistem pembangunan daerah yang dapat memberikan jaminan
sosial bagi masyarakat, terutama dalam mengatasi biaya pendidikan dan kesehatan secara
bertahap dan terus meningkat melalui sumber pendanaan yang pasti.

Kedelapan landasan kepentingan tersebut maka agroindustri dibangun dengan prinsip dasar
kemitraan tanpa melupakan tanggung jawab dan hak masing-masing. Mekanisme kemitraan
tersebut disajikan secara ringkas pada Gambar 1.

44 MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar 1. Sistem kemitraan yang dibangun oleh petani, pemda/perusda, mitra usaha nasional
dengan hak dan tanggungjawab masing-masing serta mekanisme bagi hasilnya. Hasil keuntungan
dari penjualan produk ke pasar juga dialokasikan untuk jaminan sosial dan reinvestasi bagi
kelanjutan usaha.

Berdasarkan Gambar 1 menunjukkan bahwa petani, pemda/perusda dan mitra usaha tergabung
menjadi satu dalam bentuk PT. Patungan dan masing-masing memiliki tanggung jawab untuk
menghasilkan bahan baku, modal, penyediaan pabrikasi dan teknologi, manajemen agroindustri,
serta jaminan pasar.

Kedudukan dan fungsi masing-masing stakeholder ini sederajat. Paling tidak ada kesamaan
visi dan misi dalam perencanaan dan pelaksanaan serta evaluasi usahatani. Terutama bagi
petani yang selalu dipersepsikan minus dalam teknologi, permodalan, dan rendahnya posisi
tawar dalam sistem agribisnis atau agroindustri.

Petani bertanggung jawab khusus untuk memproduksi bahan baku berdasarkan komoditas
yang telah ditentukan bersama dalam rapat direksi. Sarana produksi yang dibutuhkan oleh
petani dipecahkan bersama dengan bantuan modal dan teknologi dari pemerintah dan mitra

> MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH 45


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

usaha. Jadi petani tak perlu menggunakan segenap modalnya kecuali tenaga dan lahan yang
dimiliki untuk menghasilkan suatu komoditi atau bahan baku industri. Namun berkonsentrasi
pada penyediaan bahan baku saja.

Pemerintah daerah yang diwakili langsung oleh Perusahaan daerah (Perusda) bertanggung
jawab dalam penyediaan pabrikasi dan bangunannya serta infra struktur yang mungkin
dibutuhkan untuk dimulainya sistem ini. Hal yang sangat dirasakan sebagai kesulitan dan
kerapkali menjadi batu sandungan perusda dalam menjalankan sistem ini adalah modal. Padahal
disisi lain, terkadang permodalan di lembaga keuangan tersedia dalam jumlah besar namun
memerlukan kepastian investasi jika ingin menggunakannya. Disinilah peranan utama pemda
sebagai penjamin demi terlaksananya sistem kemitraan ini.

Mitra usaha bertanggung jawab dalam penyediaan teknologi dan jaminan pasar untuk
mendukung sistem kerja ini. Kendati mitra usaha tidak mendapatkan seluruh keuntungan
dalam bisnis ini namun logis disisi lain karena ia tidak melakukan investasi yang besar dalam
agroindustri ini.

SISTEM BAGI HASIL

Pada umumnya sistem bagi hasil dalam bentuk nominal persentase yang akan diterima oleh
masing-masing stakeholder tergantung pada kesepakatan bersama. Terutama kesepakatan
yang terbentuk sebelum didirikannya PT Patungan.

Kesepakatan bagi hasil pada agroindustri dengan menerapkan sistem kemitraan ini dibagi
berdasarkan pembagian keuntungan setelah modal pinjaman dari lembaga keuangan telah
diselesaikan oleh PT Patungan. Hal ini perlu disadari oleh semua pihak untuk bekerja ekstra
keras dan selalu menggunakan filosopi efisien dan efisiensi dalam berusaha sehingga modal
pinjaman tersebut dapat dilunasi dengan segera demi kelangsungan usaha.

Komposisi bagi hasil dari keuntungannya adalah :

Petani 30%, pemda/perusda 30%, mitra usaha 20%, dan disertai 10% untuk reinvestasi dan
10% lagi untuk jaminan sosial dalam bentuk bantuan dana pendidikan dan kesehatan
masyarakat setempat.

46 MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Sistem kemitraan untuk pelaksanaan agroindus-


tri di daerah telah ditawarkan ke pemirsa dengan Enam Kelompok budaya
melibatkan tiga stakeholder penting yaitu petani dalam pengertian
yang tergabung dalam koperasi, pemerintah Pertanian (agriculture):
daerah, serta mitra usaha. Kemitraan ini tidak 1. Budaya pengelolaan
terbatas hanya dalam bentuk penandatangan sumberdaya alam dan
MOU (Memorandum of Understanding) atau hayati dengan berbagai
nota Kesepahaman dari tiga pelaku bisnis jenis ilmu pengetahuan
tersebut, namun ketiganya terus melebur dan teknologinya;
menjadi satu unit usaha sendiri yang berbadan 2. Budaya industri untuk
hukum melalui pembentukan perusahaan meningkatkan nilai
patungan yang disebut selanjutnya PT. Patungan. tambah produk dan
pendekatannya secara
Keterlibatan tiga stakeholder tersebut memberi- sistematik;
kan konsekuensi logis bahwa semua langkah 3. Budaya bisnis yang dapat
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, serta memantau sistem
hasil kerja harus diketahui masing-masing pihak. informasi pasa domestik
Hal inilah yang mendasari perlunya disepakati dan luar negeri;
kehadiran kriteria yang akan digunakan sebagai 4. Budaya hukum yang dapat
indikator kinerja pelaksanaan agroindustri di melindungi lahan petani
daerah. dan produk pertanian dari
para spekulan tanah dan
Disebut indikator kinerja karena diyakini untuk perusak harga
memastikan berhasil tidaknya ataupun maju 5. Budaya lingkungan untuk
mundurnya pelaksanaan kemitraan ini. Disisi melindungi ekosistem dari
yang dijadikan indikator tidak hanya dilihat dari eksploitasi berlebihan
sudut pandang mitra usaha, tetapi juga dari sambil menjaga
petani, dan pemerintah daerah (pemda). Bahkan kesinambungan pertanian;
dampaknya bagi masyarakat yang belum terlibat 6. Budaya institusional
dalam kemitraan tersebut juga menjadi pertim- kemasyarakatan untuk
bangan dalam penilaian kinerja ini. Nilai-nilai menghormati sumberdaya
yang terukur seperti peningkatan penghasilan, sosial dan aspek regional.
kualitas dan kuantitas produk juga diperhatikan (Sumber: Wirakartakusumah, 1999)
disamping faktor lokasi dan waktu karena
semua ini menjadikan faktor penentu kinerja
tersebut.

> MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH 47


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Langkah penilaian kinerja ini diperlukan untuk mendukung percepatan tercapainya budaya
cultur
culturee) dalam definisi pertanian (ag
(cultur ag ricultur
riculturee ) yang telah diperluas (Wirakartakusumah,
agricultur
1999). Culture bukan berarti budidaya saja tetapi budaya. Budaya dalam definisi pertanian
tersebut terbagi dalam enam kelompok dengan melibatkan aspek teknologi, bisnis, hukum,
kelembagaan, pertimbangan lingkungan, dan kemampuan pengelolaan.

Keenam budaya tersebut tercermin dalam empat subsistem yang melaksanakan agribisnis
dengan baik. Keempatnya adalah subsistem penyediaan sarana input produksi, subsistem
produksi, subsistem pengolahan, dan subsistem pemasaran (Saragih, 2004).

KRITERIA PENILAIAN

Sederetan pertanyaan seringkali muncul dalam diskusi yang mempertanyakan konsep kemitraan
ini. Baik yang muncul dari petani, jajaran birokrat di daerah, pengusaha yang telah berinvestasi
maupun dari kalangan anggota DPRD. Sepuluh pertanyaan yang kerapkali muncul adalah
sebagai berikut:

1. Bagaimana mekanisme kerja yang dilaksanakan?


2. Bagaimana kuantitas produk ?
3. Bagaimana kualitas produk ?
4. Bagaimana penggunaan teknologi ?
5. Bagaimana waktu produksi?
6. Bagaimana mengatasi modal usaha?
7. Bagaimana penghasilan petani/peternak?
8. Bagaimana penghasilan Pemda (PAD) ?
9. Bagaimana penghasilan mitra usaha?
10. Bagaimana dampak sosial ekonomi?

Kesepuluh pertanyaan tersebut dapat dijawab secara ringkas dengan memperhatikan Tabel 1.
Tabel tersebut membandingkan hasil kualitatif pelaksanaan agroindustri dengan kondisi
sekarang ini yang dilaksanakan oleh masyarakat pada umumnya dan jika menggunakan sistem
bagi hasil dalam pola kemitraan di PT. Patungan. Makalah inipun akan menjawab sepuluh
pertanyaan tersebut dalam kerangka penulisan makalah ini dalam bentuk tanya-jawab.

48 MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Tabel 1. P erbanding
Perbanding an hasil pelaksanaan ag r oindustri di suatu daerah antara
erbandingan
kondisi sekarang dengan sistem bagi hasil.

N o . Indikator Industri Kondisi Sekarang Sistem Bagi Hasil


1. Mekanisme Kerja Perseorangan Bersama-sama
2. Kuantitas Produk Te r b a t a s Meningkat
3. Kualitas Produk Rendah Meningkat dan seragam
4. Penggunaan Teknologi Rendah Meningkat
5. Waktu Pr oduksi Tidak Menentu Te rencana
6. Modal Usaha Terbatas dan Sendiri Meningkat dan Bersama
7. Penghasilan Petani Rendah Rendah
8. Penghasilan Pemda Rendah Meningkat dan Pasti
9. Penghasilan Mitra Usaha Tinggi Te r u k u r
10. Dampak Sosial Ekonomi Tak ada dan Tak Terencana Ada dan Ter encana

1. Bagaimana mekanisme kerja yang dilaksanakan?

Mekanisme kerja yang dilaksanakan dalam sistem kemitraan agroindustri ini adalah bagi hasil
karena dikerjakan secara bersama-sama dalam suatu organisasi PT. Patungan. Pembentuknya
adalah petani yang tergabung dalam organisasi koperasi, pemda yang diwakili oleh perusahaan
daerah (perusda), dan pengusaha yang disebut mitra usaha. Penjelasan rinci telah disampaikan
di bagian agroindustri dalam kemitraan.

Usaha agroindustri sekarang ini dilaksanakan secara sendiri ataupun perseorangan. Akibatnya
adalah selalu terjadi posisi tawar sesama pelaku mulai dari persiapan sarana produksi (saprodi)
seperti bibit dan pupuk, tahap produksi, pengolahan sampai pada tahap pemasaran produk
pertanian. Umumnya posisi tawar yang terendah dari empat subsistem agribisnis/agroindustri
tersebut adalah petani.

2. Bagaimana kuantitas produk?

Kuantitas Produk yang dihasilkan dalam sistem agroindustri sekarang ini terbatas jumlahnya
karena tidak tersedia pabrikasi yang menjadi inti kekuatan industri pertanian. Berbeda jika
dilaksanakan dalam sistem kemitraan ini karena produk dapat diatur jumlahnya supaya sesuai
dengan kapasitas terpasang pabrik dan dapat ditingkatkan berdasarkan daya serap pasar dan
perkembangan kemampuan PT. Patungan.

> MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH 49


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

3. Bagaimana kualitas produk?

Ketidakseragaman kualitas produk menjadi ciri khas suatu kegiatan agroindustri yang dikelola
secara perorangan karena tidak pengendalian kualitas dan kendala pengelolaan atau menejemen
untuk mencapai hal tersebut. Namun dalam sistem kemitraan ini, kualitas dapat dijaga dan
seragam sesuai dengan permintaan pasar. Hal ini dapat dilaksanakan karena dengan
mengandalkan kemampuan dan pengalaman mitra usaha.

4. Bagaimana penggunaan teknologi?

Minimnya penguasaan dan penggunaan teknologi merupakan fakta yang seringkali dijumpai
dalam pelaksanaan agroindustri sekarang ini. Hal ini perlu disadari karena beberapa faktor
seperti keterbatasan informasi mengenai perkembangan teknologi yang tersedia dan cara
memperoleh serta menggunakannya.

Penguasaan teknologi menjadi keunggulan dari sistem kemitraan dengan mengandalkan alih teknologi
dari sesama stakeholder. Penggunaan teknologi juga mempertimbangkan tingkat kemampuan
perusahaan dalam penggunaan, pembiayaan dan waktu, serta kondisi sosial ekonomi dan ekologi
suatu daerah. Teknologi yang digunakan akan memudahkan pencapaian target kuantitas, kualitas
dan waktu produksi yang dibutuhkan sesuai dengan sasaran pasar produk dalam agroindustri.

5. Bagaimana waktu produksi?

Aspek waktu ini menjadi salah satu kunci keberhasilan agroindustri yang terkadang belum
diperhatikan dengan baik oleh pelaku agribisnis sekarang ini. Kontinuitas produksi merupakan
contoh kasus dimana jumlah produksi tidak terjamin ketersediaannya pada waktu dibutuhkan
sehingga berdampak pada harga yang berfluktuasi tajam.

Sistem kemitraan memberikan suatu perencanaan yang sistematis dan terencana dengan baik karena
dikelola melalui manajemen organisasi perusahaan. Hal ini berdampak pada penggunaan waktu dan
sumberdaya secara efisien dan efektif dalam menghasilkan produk agroindustri yang berkualitas.

6. Bagaimana mengatasi modal usaha?

Modal terbatas karena hanya disediakan sendiri merupakan ciri dari suatu unit usaha yang
dibangun sendiri. Akibatnya adalah keterbatasan kemampuan dalam mengembangkan unit
usahanya. Kondisi ini berbeda dengan sistem kemitraan dimana permodalan dibangun bersama
sehingga terjadi peningkatan. Baik untuk modal kerja maupun modal investasi.

50 MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Penambahan modal dalam jumlah besar juga relatif mudah karena sudah tersedia prespektif usaha
yang dikelola secara profesional disamping perlunya jaminan/agunan yang diperlukan oleh perbankan.

7. Bagaimana penghasilan petani/peternak?

Fakta dengan kondisi sekarang ini hanya memberikan keuntungan satu kali pada saat terjadi transaksi
jual setelah petani/peternak menghasilkan produk pertaniannya. Hal itupun terjadi dengan posisi
tawar yang rendah karena ketidakmampuannya mengolah dan memberikan nilai tambah terhadap
produknya. Belum lagi jika mempertimbangkan posisi petani/peternak dalam mengatasi tingginya
biaya penyediaan sarana produksi sehingga margin keuntungan akan semakin sempit.

Agroindustri dengan sistem kemitraan memberikan kesempatan pada petani/peternak untuk


mendapatkan keuntungan ganda. Pertama pada saat memberikan bahan bakunya untuk
pabrikasi. Kedua pada saat terjadi keuntungan dari penjualan produk. Kondisi ini
dimungkinkan karena keterbukaan sistem kemitraan pada semua stakeholder untuk mengetahui
selisih antara biaya produksi dengan harga pasar.

8. Bag aimana penghasilan P


Bagaimana emda (P
Pemda AD)?
(PAD)?

Pelaksanaan agroindustri kondisi saat ini belum memberikan jaminan kepastian penghasilan
atau penambahan pendapatan asli daerah (PAD). Pemda lebih mengandalkan pemasukan
dana melalui retribusi dari komoditi pertanian ataupun melalui pembayaran pajak bumi dan
bangunan (PBB). Hasil akhirnya, PAD tetap rendah.

Sistem kemitraan memberikan kepastian kontribusi pada upaya peningkatan penghasilan asli
daerah melalui mesin keuntungan dari PT Patungan.

9. Bagaimana penghasilan mitra usaha?

Mitra usaha juga mendapatkan penghasilan kendati tidak sebesar jika dibandingkan dengan suatu
unit usaha yang dibangun sendiri. Namun dibalik keuntungan tersebut, mitra usaha juga telah
memiliki sentra-sentra produksi yang menjadi basis kekuatan bisnisnya di masa-masa mendatang.

10. Bagaimana dampak sosial ekonomi?

Dampak sosial ekonomi terpenting yang dapat dirasakan dalam sistem kemitraan adalah
tersedianya dana yang pasti untuk dialokasikan pada jaminan sosial seperti pendidikan dan
kesehatan. Baik untuk petani maupun masyarakat setempat.

> MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH 51


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

52 MENGUKUR KINERJA AGROINDUSTRI SISTEM KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 5
PERUSAHAAN DAERAH
DAN AGROINDUSTRI
KEMITRAAN

Tujuan Penulisan
Penulisan

1. Memberikan visi dan misi bisnis bagi perusahaan daerah (Perusda) dalam penentuan
strategi pengembangan agroindustri.
2. Mempertajam langkah taktis perusda dalam pelaksanaan agroindustri di daerah dengan
memperhatikan kondisi ideal suatu kawasan agroindustri dan kenyataan yang ada, serta
dan pemikiran-pemikiran tentang manajerial organisasi perusahaan, penguasaan teknologi
dan strategi pemasaran produk baik di tingkat nasional dan internasional.
3. Strategi pembuatan program kerja jangka pendek, menengah, dan jangka panjang bagi
perusda dalam kerangka berpikir agroindustri.

Sasaran P enulisan
Penulisan

Bagian ini ditujukan kepada praktisi agroindustri terutama para CEO perusahaan daerah
yang sangat diharapkan pernanannya untuk menjadikan agroindustri sebagai tulang punggung
perekonomian daerahnya.

> PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN 53


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PERUBAHAN PARADIGMA

P
erubahan paradigma sentralisasi menjadi desentralisasi dengan penerapan UU No 22
dan 25 Tahun 1999 tentang otonomi dan perimbangan keuangan antara pemerintah
pusat dan daerah otonomi telah membuat pemerintah daerah (pemda) bekerja keras
mencari sumber-sumber penghasilan baru bagi pencapaian target pembangunannya. Sumber
penghasilan pemda dari retribusi dan pajak bumi dan bangunan tidak dapat memenuhi
kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat setiap tahun. Akibat lanjutannya
adalah dibutuhkan strategi dan langkah taktis untuk mencari sumber penghasilan baru yang
pasti, besar dan berkesinambungan.

Wilayah yang memiliki tambang berupa minyak dan galian merupakan suatu keberuntungan
dalam pencapaian sumber penghasilan pemda. Namun bukan berarti kemalangan bagi daerah
yang hanya memiliki bentang alam karena sektor pertanian juga berpotensi besar menjadi
salah satu motor perekonomian daerah jika dikelola dengan profesional dan mengarah pada
pelaksanaan agroindustri.

Target pengelolaan sektor pertanian dari subsistence (pemenuhan kebutuhan sendiri) ke


agroindustri akan menghasilkan produk yang berkualitas, berlanjut, dan tersedia dalam jumlah
yang layak secara ekonomis, serta harga yang kompetitif untuk dijalankan sebagai bentuk unit
usaha. Oleh karena itu, perlu pengelola bisnis yang profesional untuk mencapai target tersebut.

Pemerintah daerah (Pemda) meletakkan harapan utamanya pada Perusahaan Daerah (Perusda)
sebagai unit usaha di daerah untuk menjalankan sektor agroindustri tersebut. Target akhir
yang dituju oleh pemda adalah peningkatan nilai nominal pendapatan asli daerah (PAD)
untuk mendukung APBD, serta terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakatnya.

Namun dibalik harapan dan sisi potensi tersebut, terdapat beragam kendala yang dihadapi
dalam memajukan sektor agroindustri di suatu daerah. Kendala yang sangat dirasakan berupa
keterbatasan sumberdaya manusia yang mampu mengatasi persoalan kelembagaan usaha di
daerah, kesenjangan penguasaan teknologi pengolahan pasca panen, strategi dan taktik
pemasaran, serta kemampuan mengidentifikasi potensi daerah yang dapat ditawarkan ke
mitra usaha atau investor.

Problematika tersebut yang mendasari penulisan makalah ini sebagai bentuk sumbang saran
kepada Pemda Kabupaten dan Kotamadya di seluruh Indonesia untuk menjadikan sektor
pertanian sebagai Leader in Economic Sectors dan berdampak pada upaya peningkatan
kesejahteraan bersama (rakyat-pemerintah-mitrausaha) di daerah.

54 PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Berdasarkan kerangka pemikiran dengan menggunakan enam faktor penentu tersebut melalui
pengungkapan kondisi ideal yang menjadi harapan sekaligus kenyataan -yang sempat terekam
dalam berbagai diskusi dan perjalanan-, maka perusda harus mampu menyatukan persepsi
mereka dengan pemda dan mengantisipasi perkembangan bisnis demi kesinambungan sistem
agroindustri di daerahnya.

KELAYAKAN INVESTASI DAN KETIDAKJELASAN

Jika menggunakan indikator pemikiran Haming dan Basalamah (2003) dalam penentuan
kelayakan investasi maka terdapat sejumlah permasalahan dalam bentuk ketidakjelasan di
daerah dalam mengindentifikasi permasalahan teknis dan produksi; finansial; pasar dan
pemasaran; ekonomi dan sosial; hukum; organisasi dan manajemen.

1. Aspek Teknis dan Pr oduksi


Produksi
a. Ketidakjelasan informasi luas areal produksi/wilayah produksi;
b. Ketidakjelasan kuantitas, kualitas dan harga produk yang dihasilkan oleh daerah;
c. Ketidakjelasan pelaku bisnis/pengusaha yang menangani suatu unit usaha dalam skala
ekonomis;

2 . Aspek Finansial
a. Ketidakjelasan pengaturan pendanaan dari APBD, terutama dalam penyertaan modal
investasi dan modal kerja di perusahaan daerah.
b. Ketidakjelasan sumber-sumber pendanaan unit usaha yang dibangun, termasuk teknis
pembuatan dan pengajuan proposal ke lembaga keuangan yang memberikan modal
pada unit usaha.

3 . Aspek P asar dan P


Pasar emasaran
Pemasaran
a. Ketidakjelasan kapasitas permintaan pasar baik dari segi kuantitas, kualitas, waktu,
dan harga serta pelayanan purna jual.
b. Ketidakjelasan jaringan pasar dan sistem pemasaran yang berlaku secara internasional
dan aman.

4 . Aspek Ekonomi dan Sosial


a. Ketidakjelasan kontribusi ekonomi bagi masyarakat dari unit usaha yang dibangun
oleh pemda maupun pengusaha;
b. Ketidakjelasan kontribusi dalam peningkatan pendapatan asli daerah;.
c. Ketidakjelasan kontribusi sosial unit usaha yang dilakukan bagi masyarakat daerah.

> PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN 55


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

5. Aspek Hukum
a. Ketidakjelasan bentuk hukum perusahaan;
b. Ketidakjelasan tata prosedur untuk mengembangkan kerjasama dengan pihak ketiga

6. Aspek Organisasi dan Manajemen


a. Ketidakjelasan kriteria yang baik untuk CEO Perusda;
b. Ketidakjelasan tata cara pendirian unit usaha;
c. Ketidakjelasan perumusan organisasi, uraian tugas, dan tata kerja serta hak dan
kewajiban individu yang terlibat dalam perusda.
d. Ketidakjelasan kultur perusahaan yang lebih dominan sifat birokratisnya daripada
kewirausahaannya.

Kendati ketidakjelasan dari enam indikator kelayakan suatu unit usaha tersebut terurai dengan
jelas, namun bukanlah sebuah halangan ataupun tantangan. Bagi wirausaha murni, halangan
ataupun tantangan tersebut harus diubah menjadi sebuah peluang bisnis. Semua itu tergantung
pada kemampuan perusahaan daerah mengantisipasi dan kecepatan beradaptasi terhadap
perkembangan bisnis saat ini yang sedang dilanda globalisasi. Pertanyaan klasik yang selalu
muncul adalah darimana memulai perbaikan tersebut? Jawaban singkatnya adalah dari dalam
tubuh perusahaan daerah itu sendiri!. Bukan dari lembaga lain!

MEWUJUDKAN PERUSAHAAN DAERAH YANG IDEAL

Langkah untuk mewujudkan perusahaan daerah (perusda) yang ideal bukanlah pekerjaan
mudah. Terlebih dengan citra negatip yang telah tertanam di dalam pemikiran aparat pemda
sendiri dan masyarakat bahwa perusda adalah lembaga pemboros dana dan bukan penghasil
dana. Kendati perusda terhimpit diantara citra negatip dan harapan yang besar sebagai mesin
penghasil dana untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), namun terdapat peluang
untuk memperbaiknya andaikan nilai-nilai umum perusahaan dan sembilan langkah taktis ini
dapat dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Boleh jadi diakhir penjelasan ini sudah terdapat
keyakinan daargumentasi logis bagi pembaca untuk bertindak menghapus institusi atau
mengganti pelaksana perusda.

Nilai-Nilai Umum P er usahaan


Per
Despain dan Converse (2003) dalam Siregar (2004) menjelaskan dengan tuntas nilai-nilai
umum perusahaan yang harus dipahami dengan baik seperti pada Gambar 2. Sembilan buah
balok yang saling berkaitan membentuk sebuah bangunan rumah. Kepercayaan dan saling

56 PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

menghargai merupakan landasan utama, kemudian nilai-nilai kerja tim, pemberdayaan,


pengambilan risiko dan kepekaan merupakan penopang upaya peningkatan yang terus
berkelanjutan dan komitmen menuju puncak pelayanan kepada konsumen.

Gambar 2. Nilai-nilai
umum yang harus dibangun
dan dipahami dalam
organisasi perusahaan
(Despain dan Converse,
2003) yang dapat dibaca
langsung di tulisan Siregar,
2004.

Perusahaan daerah (Perusda) berpotensi sebagai perusahaan induk (holding) yang akan
melahirkan anak-anak perusahaan berdasarkan perkembangan bisnis ataupun dengan kemitraan
perusahaan lain.

1. P ahami Filosopi P
Pahami er usahaan Induk (Holding)
Per

Perusahaan induk dapat menjalankan tiga fungsinya baik secara terpisah maupun secara
bersamaan. Ketiga fungsi tersebut adalah:
1 . Per usahaan induk operasional (Operating holding compan company)y)
Perusahaan induk melakukan tindakan langsung dalam pengoperasian anak perusahaan,
mulai dari urusan logistik, produksi dan operasi, pemasaran, pelayanan purna jual, hingga
pada kegiatan pendukung.

> PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN 57


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

2 . Per usahaan induk pendukung (Suppor ting holding compancompany) y)


Perusahaan induk hanya melakukan dukungan pada anak perusahaan dalam bentuk
penentuan kebijakan-kebijakan dalam penyiapan tenaga SDM, infra struktur, keuangan
dan umum.

invv estasi (In


3 . Per usahaan induk in y)
company)
(Invvestment holding compan
Perusahaan induk hanya melakukan investasi dana, sedangkan operasional dan
pengembangannya dilaksanakan langsung oleh anak perusahaan.

Perusda dapat mengembangkan fungsinya sebagai holding dengan memilih satu dari ketiga
fungsi tersebut. Pengembangan anak-anak perusahaan sendiri dapat disesuakan dengan
komoditi yang akan diusahakan atau berdasarkan pada cluster komoditi pertanian seperti
tanaman pangan, tanaman tahunan, perikanan, atau komoditi laut.

2. PENGAJUAN NAMA PER


PENGAJUAN USD
PERUSD
USDAA

Nama perusahaan daerah yang dibentuk oleh pemda secara spesifik harus menampilkan asal
daerah tersebut tetapi dikombinasikan dengan jiwa bisnis. Misalkan: Perusda Bone yang
merupakan perusahaan daerah milik Pemda Kabupaten Bone.

Perusda Bone kemudian membuat anak perusahaan yang salah satu diantaranya adalah PT.
Bone Agro yang bergerak pada semua komoditi pertanian yang diusahakan di Kabupaten
Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan daerah juga
berpotensi untuk mengembangkan diri sebagai holding atau perusahaan induk dengan sejumlah
anak perusahaan yang sesuai dengan perkembangan dan potensi bisnis yang dapat digarap di
wilayahnya.

3. P enetapan Visi dan Misi, ser ta Pr


Penetapan og ram K
Prog er ja P
Ker er usda
Per

Perusda yang terbentuk harus memiliki Visi dan Misi yang jelas sehingga dapat mencerminkan
keinginan atau harapan masyarakat dan pemda. Upaya untuk mencapai visi dan misi tersebut
dapat dilakukan melalui perancangan dan pelaksanaan prioitas program kerja yang sistematis
dan terarah serta prioritas dibuat dalam bentuk program kerja yang jelas dan sistematis serta
realistis untuk dilaksanakan oleh perusda dan mitra kerjanya.

58 PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

4. P enentuan Bidang dan Skala Usaha


Penentuan

Penentuan bidang usaha disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing yang dapat dijadikan
peluang bisnis. Potensi daerah tidak hanya terbatas pada penentuan komoditas tetapi dalam
bentuk jasa apa yang bernilai ekonomi dan dapat dijual ke konsumen. Berdasarkan potensi
daerah yang mengandalkan diri pada pertanian maka tersedia empat subsektor yang dapat
diusahakan yaitu:
1. Tanaman Pangan yang mencakup komoditi beras, jagung, dan ketela pohon.
2. Tanaman Tahunan yang mencakup komoditi jambu mete, dan hutan tanaman industri.
3. Peternakan yang mencakup komoditi ayam, bebek, dan telur, serta penyediaan pakan
ternak.
4. Industri Rumah Tangga yang mencakup segala bentuk produk bernilai ekonomis yang
dapat dihasilkan oleh rumah tangga.

Skala usaha yang dilakukan harus bernilai ekonomis dan bukan skala usaha industri rumah
tangga. Karakteristiknya dapat diidentifikasi berdasarkan kemampuan usaha tersebut menampung
seluruh produk pertanian di daerahnya, kemudian diolah dengan sistem pabrikasi yang lebih
banyak menggunakan mesin-mesin daripada tenaga manusia, memiliki kepastian harga, kontinuiti
produk, kepastian kuantits produk, serta nilai investasi dan modal kerja yang besar.

5. P enentuan Str
Penentuan uktur Or
Struktur Orgg anisasi

Perusda harus menentukan struktur organisasinya mulai pada tingkat dewan komisaris, dewan
direksi, dan kepala-kepala departemen. Untuk susunan dewan komisaris dan dewan direksi
merupakan kriteria baku bagi suatu perusahaan, namun keterlibatan mitra bisnis merupakan
suatu pengecualian. Alasannya adalah untuk memberikan jiwa bisnis bagi perusda.

Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Bupati
Komisaris : Asisten II Bidang Ekonomi
Komisaris : Mitra Bisnis

Dewan Direksi
Direktur Utama :
Direktur Produksi :
Direktur Pemasaran :
Direktur Keuangan dan Admin :

> PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN 59


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Salah satu alternatif yang dapat kami ajukan untuk pembentukan departemen di suatu perusda
dengan cakupan bisnis yang berorientasi pada pertanian adalah:

1. Departemen Agroindustri Tanaman Pangan


2. Departemen Agroindustri Tanaman Perkebunan
3. Departemen Agroindustri Peternakan
4. Departemen Usaha Industri Rumah Tangga
5. Departemen Pemasaran dan Kerjasama Bisnis
6. Departemen SDM, Hukum, dan Administrasi
7. Departemen Analisa Usaha Agroindustri, LITBANG dan IT

6. P enentuan Kriteria SDM P


Penentuan elaksana yyang
Pelaksana ang Pr of
Prof esional
ofesional

Prinsip dasar untuk menentukan apakah sumberdaya manusia itu memang profesional adalah
kejujuran dan kemauan untuk bekerja. Kemampuan bekerja dan bidang keahlian masing-
masing karyawan atau direksi ditentukan dengan perkembangan bisnis perusda.

7. P enetapan Sistem K
Penetapan er ja Inter nal dan Ekster nal P
Ker er usda
Per

Bagian ini merupakan kriteria lanjutan adalah kemampuan bekerja di lapangan sesuai dengan
prosedur operasional standar (standart operational procedures) yang dibuat oleh Perusda.

Sistem kerja internal menyangkut proses produksi, proses pembiayaan, proses pemasaran,
komunikasi di antara sesama karyawan atau dengan direksi. Sistem kerja eksternal perusda
terkait dengan model kerjasama dengan pihak luar perusda.Baik dengan lembaga keuangan,
pemda, maupun dengan mitra bisnisnya.

8. P enentuan Modal In
Penentuan Invv estasi dan Modal K er ja
Ker

Penentuan modal investasi dan modal kerja harus ditetapkan diawal pendirian Perusda. Langkah
ini merupakan wewenang Pemda dan DPR karena dialokasikan melalui APBD. Namun
demikian, sebaiknya penyertaan modal investasi dan modal kerja yang berasal dari uang rakyat
tersebut harus memperhatikan program kerja Perusda baik dalam jangka pendek, menengah
dan jangka panjang

60 PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

9. PENENTU AN SUMBER-SUMBER PERMOD


PENENTUAN ALAN
PERMODALAN

1 . APBD
Sumber pertama permodalan berasal dari kesediaan pemerintah daerah mengalokasikan
dana yang berasal dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah) sebagai penyertaan
modal di perusahaan. Penyertaan modal Pemda ini dapat dilakukan secara bertahap dalam
jangka waktu yang sesuai dengan kebijakan pemda dan DPRD.

2 . Lembaga Keuangan
Tiga sumber permodalan yang dapat digali oleh Perusda yaitu perbankan, asuransi, dan
reksadana (sekuritas). Namun sumber dana permodalan ini harus dikelola dengan baik
dan bijaksana, serta ekstra hati-hati dengan mempertimbangkan kelayakan ekonomis
suatu usulan bisnis.

3 . Ker jasama deng an In


dengan Invv estor
Permodalan juga dapat dilakukan dengan mengundang investor yang memiliki sumber
dana langsung namun Perusda harus terlibat dalam sistem produksi, disamping dukungan
logistik bahan baku produksi dan pemasaran.

4 . Kerjasama dengan Mitra Kerja


Sumber modal baik dalam bentuk finansial maupun manajemen, teknologi maupun alih
pangsa pasar juga dapat dilakukan dengan investor.

5 . Masyarakat
Penyertaan modal masyarakat dalam bentuk obligasi maupun penyer taan modal juga
dapat dilakukan oleh PERUSDA. Pelaksanaan alternatif ini dapat dilakukan baik untuk
masyarakat maupun secara nasional dengan mempertimbangkan kinerja dan bonafiditas
perusahaan dengan tolok ukur bisnis dan pertimbangan aturan hukum yang barlaku.

PROGRAM KERJA PERUSAHAAN

Pr og ram K er ja JJangka
Ker angka P endek (Dua Tahun P
Pendek er tama)
Per

Prioritas program kerja dalam rentang waktu ini adalah:

1 . Sumber da
dayya Manusia (SDM
Sumberda SDM
SDM). Rekrutmen dan pelatihan sumberdaya manusia yang
memiliki integritas, loyalitas, kemandirian dan jiwa wirausaha untuk menjalankan

> PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN 61


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

perusahaan daerah. Prioritas yang akan dilakukan adalah pembentukan Tim Kerja Inti
Perusahaan yang terdiri atas minimum mencakup keahlian manajemen, pertanian
(budidaya,HPT, tanah, Iklim), pengolahan pasca panen, pemasaran, dan keuangan serta
teknologi informasi. Pada bagian ini juga perlu dibuat standar prosedur operasi perusahaan.

2 . Mitra Ker ja
Ker ja. Penggalangan kerjasama dengan mitra kerja yang bersedia melakukan alih
teknologi dan informasi pangsa pasar dari produk yang dihasilkan oleh unit usaha
perusahaan.

3 . Sarana dan Prasarana


Prasarana. Identifikasi sarana dan prasarana produksi yang tersedia dan
dapat digunakan serta kebutuhan yang dapat diberikan oleh pemerintah daerah.

4 . Bidang Usaha
Usaha. Penentuan bidang-bidang usaha yang tersedia dan penentuan prioritas
yang segera dilakukan oleh tim kerja perusahaan. Baik secara sendiri maupun dengan
bermitra dengan perusahaan lokal dan nasional.

5 . Per modalan. Penentuan besaran modal yang dibutuhkan berdasarkan prioritas bidang
ermodalan.
usaha yang akan dilaksanakan oleh unit usaha perusda dan sumber-sumber permodalan
yang dapat digunakan.

Pr og ram K er ja JJangka
Ker ah (Dua Tahun K
Menengah
angka Meneng edua)
Kedua)

Prioritas program kerja dalam rentang waktu ini adalah:

1 . Per
erce patan K
cepatan
ce er ja
erja
Ker ja. Percepatan pelaksanaan prioritas program kerja yang telah dirancang
untuk dua atau tiga tahun pertama pendirian perusda..

2 . Re g enerasi
enerasi. Proses regenerasi kemampuan manajemen, teknologi produksi, dan
pemasaran dari tenaga inti.

3 . Peng embang
engembang an Bisnis. Bagian ini berdasarkan potensi sumberdaya lahan dan
embangan
kemampuan masyarakat setempat dalam pelaksanaannya.

62 PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Pr og ram K er ja JJangka
Ker angka Panjang (Lima Tahun)
Panjang

Prioritas program kerja dalam rentang waktu ini adalah:

1 . Ekspansi Bisnis
Bisnis. Peng embangan unit-unit bisnis di daerah lain denga n
mempertimbangkan potensi sumberdaya alam dan ketersediaan SDM, serta keselarasan
program kerja yang dicananangkan oleh perusahaan daerah.

2 . Nasional and Inter nasional. Pengembangan unit usaha dalam skala nasional dan
Internasional.
internasional baik dalam hal jaringan pemasaran maupun permodalan.

PENUTUP

Demikian sumbang saran yang dapat kami sampaikan kepada praktisi, pemerintah daerah,
dan masyarakat yang telah menjadikan agroindustri sebagai leader of Economic sectors di
Indonesia. Semoga mendapat sambutan dan kritik demi mewujudkan agroindustri yang tangguh
dan profesional.

> PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN 63


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

64 PERUSAHAAN DAERAH DAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 6
REVITALISASI KOPERASI UNTUK
MEMBANGUN AGROINDUSTRI
KEMITRAAN DAERAH

Tujuan Penulisan
Penulisan

Tujuan penulisan bagian ini adalah:

1. Untuk mengingatkan potensi Koperasi yang harus diaktualkan sehingga memberikan


manfaat bagi anggota dan masyarakat di sekitarnya.

2. Untuk memberikan arahan teknis yang dapat dilakukan pengurus dan anggota koperasi
dalam merevitalisasi peranan koperasi di daerah.

Sasaran P enulisan
Penulisan

Sasaran penulisan buku ini adalah pengurus dan anggota koperasi, dinas pemerintah, dan
pengusaha yang akan bermitra dengan koperasi di daerah.

> REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH 65


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

CEO KOPERASI

D
itengah ragam deraan kehidupan melanda Indonesia, saya bermimpi menjadi CEO
(Chief Executive Officer ) sebuah koperasi untuk mencari solusi deraan tersebut.
Terutama solusi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Harapannya organisasi
ekonomi berbasis rakyat di desa dan kota ini, menjadi lokomotif ekonomi nasional. Namun
apa nyana, koperasi pun masih berkonotasi dengan wasting time , no efforts , and no profit
serta berkembang logika unlogic ditambah cemaran istilah Ketua Untung Duluan untuk
KUD.

Hanya karena penasaran Kog begitu saja tak bisa dan Kenapa barang kelihatan ini tak
mampu diubah? Padahal sumberdaya alam Indonesia sungguh melimpah. Ditambah bekal
jiwa wirausaha maka tantangan untuk menjadi CEO boleh jadi dicoba. Lalu, modal strategi
apa jika filsafat CEO diterapkan pada koperasi? Pertanyaan ini tiba-tiba meluncur dan
membangunkan saya dari mimpi tadi untuk menelaah aneka pustaka serta diskusi dengan
kawan yang lebih memahami hakiki koperasi.

Dalam kondisi terjaga dan ketika melakukan survei potensi wilayah Sulsel, saya sempat tanya
Andi Syamsul Alam Mallarangeng, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulawesi Selatan tentang
kemungkinan menerapkan mimpi jadi CEO Koperasi. Pak Andi mengatakan bahwa mimpi jadi
CEO itu bisa terwujud karena karakteristik organisasi Koperasi mendukung gagasan tersebut.

Organisasi koperasi di tingkat Provinsi, terutama koperasi produsen yang bergerak sektor
pertanian mempunyai bentuk seperti Perusahaan Induk Holding Company dengan anak-
anak perusahaannya berupa koperasi-koperasi di tiap kabupaten. Lalu, bisa dibayangkan
untuk Provinsi Sulsel jumlah anak perusahaannya karena memiliki 22 kabupaten/kotamadya.

Keunikan lain adalah anggota koperasi memiliki identitas ganda (the dual identity of member)
yaitu anggota sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi (user own oriented firm).
Implikasi keunikan ini maka membuat koperasi memiliki landasan kerja demokrasi. Implikasi
lanjutannya sebagai berikut:

a. Koperasi dimiliki oleh anggota yang bergabung atas dasar sedikitnya satu kepentingan
ekonomi yang sama.
b. Koperasi didirikan dan dikembangkan berlandaskan nilai-nilai percaya diri untuk menolong
dan bertanggung jawab kepada diri sendiri, kesetiakawanan, keadilan, persamaan dan
demokrasi. Selain itu anggota koperasi percaya dan harus melaksanakan nilai-nilai etika
kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap orang lain.

66 REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

c. Koperasi didirikan, dimodali, dibiayai, diatur dan diawasi serta dimanfaatkan sendiri oleh
anggotanya.
d. Tugas pokok badan usaha koperasi adalah menunjang kepentingan ekonomi anggotanya
dalam rangka memajuka kesejahteraan anggotanya.
e. Jika terdapat kelebihan kemampuan pelayanan koperasi kepada angotanya maka kelebihan
kemampuan pelayanan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
bukan anggota koperasi.

Boleh jadi tulisan ini saya akan bawa kembali dalam mimpi demi memberi jawaban bahwa
koperasi adalah unit usaha yang harus dikelola ala CEO bukan atas dasar kekeluargaan.
Bukan pula hanya karena berbasis pada rakyat sehingga belum profesional. Oleh karena itu,
atas dasar kenyataan bahwa sebagian koperasi belum menjalankan nilai-nilai luhurnya sehingga
belum mencapai targetnya, maka perlu kemampuan seorang CEO untuk menertibkan koperasi
supaya mencapai kondisi ideal.

LANGKAH PENERTIBAN

Strategi dasar untuk menjalankan organisasi ekonomi rakyat ini adalah melakukan penertiban
pada sisi logika dan niat; organisasi dan Anggota; rencana dan usaha; administrasi dan keuangan;
serta melakukan evaluasi dan pengawasan.

Istilah tertib digunakan dalam wacana ini karena kelima komponen tersebut adalah dasar-
dasar manajemen di bangku kuliah. Bahkan di strata rakyat, pengusaha, dan pejabat, istilah
tersebut telah dikenal dengan baik. Namun faktanya, sebagian masih belum tertib. Akibat
yang muncul adalah kesemrawutan di segala lini. Ruginya adalah rakyat dan bangsa sendiri
karena telah membuang waktu, tenaga, dan dana besar tanpa hasil yang memadai apalagi
berkelanjutan. Tinggallah generasi muda -yang juga dikatagorikan sebagai rakyat- melongo
karena tak lagi memiliki modal usaha (modal investasi dan kerja yang bersumber dari alam
dan dana pembangunan).

Ter tib Niat dan Logika


Langkah ini terasa berat baik karena tak tersedia instrumen untuk mendeteksinya. Namun
akan terasa pada proses dan hasil usaha koperasi. Indikasinya sederhana, apakah asset atau
modal semakin bertambah? Jika asset dan modal koperasi terus bertambah atas dasar kerja
keras maka indikasinya pengurus dan anggotanya memiliki niat baik.

> REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH 67


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Niat baik dan logika ini ibarat dua sisi dari tombak. Jika salah menggunakannya maka si
pengguna akan terluka. Oleh karena itu, niat baik juga harus diimbangi dengan logika yang
sistematis, runut dan masuk akal terhadap semua upaya koperasi menjalankan roda usahanya.

Logika dan niat baik ini juga harus diterjemahkan dalam wacana formal berbentuk tulisan seperti
rencana kerja, proposal, penyusunan anggaran pendapatan dan belanja koperasi, laporan kemajuan
kegiatan, pelaksanaan administrasi yang baik, serta laporan pertanggungjawaban pengurus koperasi.

Boleh jadi koperasi bankrut namun bukan karena salah niat dan logika tetapi mungkin karena
ketidakmampuan mengatasi kendala bisnis yang memang cukup kompleks. Namun, paling
tidak jika niat dan logika yang benar sudah dilaksanakan baik dengan segala upayanya maka
disinilah faktor takdir Ilahi yang menentukan.

Penuntun Logika dan Niat


Logika dan Niat seorang CEO Koperasi juga tidaklah sukar jika menggunakan petunjuk
teknis yang diberikan oleh Departemen Koperasi dan UKM melalui Keputusan Menterinya
No: 43/Kep/KUKM/VII2004. Pada pasal 3 dan 4 dijelaskan mengenai petunjuk teknis
pelaksanaan penerapan dan indikator akuntabilitas koperasi.

Pasal 3, aayy at 1
Pelaksanaan penerapan akuntabilitas oleh koperasi dilakukan dengan cara:
a. menyusun dan menetapkan visi, misi, tujuan dan saran secara tertulis;
b. menyusun Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Koperasi (RAPBK) dengan melibatkan
anggota;
c. menyelenggarakan pencatatatn dalam buku administrasi organisasi koperasi antara lain
Buku Daftar Anggota, Buku Daftar Pengurus, Buku Pengawas, Buku Manager dan Karyawan
serta pembukuan keuangan secara tertib;
d. menyelenggarakan akuntasi dengan menerapkan standar akuntansi koperasi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku;
e. melaksanakan fungsi pengawasan secara efektif sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga.

Pasal 4
Akuntabilitas Koperasi meliputi pengukuran terhadap empat hal yaitu:
a. Akuntabilitas Penyelenggaraan Organisasi dan Manajemen;
b. Akuntabilitas Manajemen Pelayanan Koperasi;
c. Akuntabilitas Keuangan;
d. Akuntabilitas Manfaat dan Dampak Koperasi.

68 REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Ter tib Or
Orgg anisasi dan Ang g ota
Fakta membuktikan bahwa pembentukan koperasi memang semudah membalik telapak tangan.
Ditambah dengan gampangnya menyusun struktur organisasi dan Anggota. Tapi di balik itu,
apakah organisasi ini sudah dijalankan dengan baik oleh pengurus dan bagaimana ketaatan
anggota sehingga koperasi dapat mencapai akuntabilitasnya?

Tertib organisasi dan Anggota ditempatkan sebagai langkah penting kedua setelah tertib niat
dan logika karena disinilah letak penilaian keunggulan semua lini, termasuk kemampuan
pelaksanaan koperasi. Koperasi adalah organisasi yang berorientasi bisnis plus sosial karena
harus memberikan manfaat bukan hanya keuntungan dalam bentuk sisa hasil usaha tetapi
juga manfaat sosial.

Untuk mencapai target tersebut anggota pemilik dan pengguna jasa koperasi harus berpartsipasi
dalam:
1. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan segala hal yang harus dikerjakan oleh
koperasi;
2. Memodali/membiayai koperasi agar keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dapat
dilaksanakan;
3. Mengawasi dan mengendalikan koperasi agar tetap berada pada jalur kepentingan ekonomi
anggota dan atau keputusan-keputusan rapat anggota;
4. Mendapatkan manfaat finansial dan sosial dari penyelenggaran kegiatan koperasi.
5. Ikut serta menanggung resiko kerugian.

Tertib organisasi dan anggota koperasi ini akan tercapai jika Badan Pengurus, Badan Pengawas,
Manajer, Koordinator Bidang atau ketua divisi mampu saling sinergis dan berusaha keras
melalui penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja yang baik.

Ter tib R encana dan Usaha


Rencana
Dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program kerja baik itu untuk kegiatan rutin
seperti rapat anggota, rapat pengurus, maupun rapat luar biasa, perlu ditekankan pada
pelaksanaan tertib rencana dan usaha.

Kondisi tertib rencana dapat dilakukan dengan membuat rancangan rencana usaha yang harus
sesuai dengan kebutuhan anggota, misi dan visi koperasi serta daya dukung lingkungannya.
Ilustrasi sederhananya, koperasi yang bergerak di sektor perikanan dengan anggota nelayan
seharusnya bergerak pada penyediaan sarana produksi seperti jala, alat-alat mesin pertanian,
kapal penangkap ikan, dan penyediaan fasilitas ruang pendingin (cold storage). Bukan bergerak
pada penyediaan kulkas, tv, dan motor kreditan karena lebih bersifat konsumtif.

> REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH 69


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Penertiban rencana dan usaha ini dilakukan dimulai dengan menyusun program kerja dan
usaha-usaha yang produktif dan dapat dilakukan oleh seluruh anggota. Bagi koperasi yang
harus mendukung agroindustri, rencana koperasi haruslah menyusun kemampuannya untuk
penyediaan sarana produksi, upaya peningkatan produksi, upaya pengolahan hasil pertanian,
kemudian upaya menembus pasar dengan membuat jaringan pasar dan kerjasama dengan
perorangan, perusahaan, maupun lembaga lain.

Semua langkah tersebut harus dihitung dari segi waktu, jumlah tenaga kerja dan lembaga yang
terlibat, sarana yang dibutuhkan, dan biaya yang diperlukan sehingga dapat dihitung biaya
operasional koperasi dalam periode tertentu dan jika dirinci lagi menjadi biaya produksi per
satuan produk (Rp/kg atau Rp/unit). Implikasi langkah ini akan memberikan informasi
bahwa suatu rencana dan usaha haruslah layak ekonomis, layak produksi, layak organisasi,
dan layak pemasaran.

Ter tib Administrasi dan K euang


euangaa n
Keuang
Langkah tertib administrasi dan keuangan merupakan upaya pencatatan dan dokumentasi
semua kegiatan yang telah dilakukan oleh pengurus koperasi yang kelak akan
dipertanggungjawabkan dihadapan rapat anggota di setiap akhir tahun kerja.

Tertib administrasi harus diawali dengan penerbitan dan pendokumentasian yang baik dari
enam komponen berikut ini:
1. Surat Keputusan Pengesahan Akta Pendirian Koperasi oleh Menteri Negara Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.
2. Surat Izin Tempat Usaha/UU Gangguan
3. Surat Izin Usaha Perdagangan Kecil
4. Surat Tanda Daftar Perusahaan Koperasi
5. Nomor Pokok Wajib Pajak
6. Bank Relasi

Keenam hal tersebut merupakan dasar legal yang menyatakan sebuah koperasi merupakan uni
usaha, sedangkan bank relasi merupakan identitas yang diperlukan bahwa koperasi kredibel
di mata anggota dan rekanan bisnisnya.

Tertib keuangan adalah kondisi super penting yang harus dilakukan untuk menghindari
kecurigaan anggota dan tercapainya target keuntungan setiap usaha yang dilakukan oleh
koperasi. Namun demikian, telah tersedia beberapa indikator keuangan yang perlu dipahami
dengan baik oleh pengurus terutama bendahara koperasi. Indikator-indikator tersebut adalah
Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas, Receive Turn Over, Per putaran

70 REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Persediaan, Rasio Perputaran Modal, Rasio Perputaran Modal Kerja, Rasio Modal Kerja
Terhadap Aktiva, Leverage. Oleh karena itu, penempatan posisi bendahara sebaiknya dari
anggota yang berlatar belakang sarjana ekonomi bidang keahlian keuangan untuk memudahkan
menerjemahkan dan melaksanakan kesembilan indikator tersebut.

Ter tib Ev aluasi dan P


Evaluasi eng aw asan
Peng
Peranan Pengawas diperlukan dilangkah terakhir ini yang berfungsi sebagai evaluator dan
pengontrol terhadap upaya-upaya yang telah dijalankan. Perbandingan upaya tersebut adalah
perencanaan sehingga diperoleh tingkat keberhasilan pelaksanaan program kerja.

Peranan pengawas tidak boleh menyalahartikan azas kekeluargaan yang digunakan oleh koperasi
jika menemukan kejanggalan apalagi penyalahgunaan wewenang yang harus dijalankan oleh
pengurus maupun anggota. Penyalahgunaan merupakan pelanggaran dan harus segera ditindak
melalui penegakan disiplin yang ditetapkan oleh rapat anggota. Bahkan jika pelanggaran
tersebut menyangkut kriminal maka harus ditindaklanjuti ke saluran hukum yang berlaku.

Tanpa penegakan disiplin dan hukum yang baik oleh pengawas ini maka koperasi tidak dapat
diharapkan mampu mengemban amanat sebagai pembangun tatatnan perekonomian nasional.

Untuk mencapai tertib evaluasi dan pengawasan ini maka anggota yang ditempat pada posisi
tersebut juga sebaiknya memiliki kemampuan teknis dan merupakan panutan dari semua
anggota koperasi. Boleh jadi panutan tersebut karena kemampuan akademisnya, bukti
pekerjaan, dan loyalitas yang telah diberikan semasa menjabat sebagai pengurus koperasi
pada periode sebelumnya.

Sebagai bahan evaluasi, penulis meringkas pedoman yang diberikan Kementerian Koperasi
dan UKM RI dalam bentuk Tabel 6.1. Keempat jenis akuntabilitas tersebut harus dinilai
pelaksanaannya oleh badan pengawas untuk mencapai tujuan koperasi:
1. memajukan keseahteraan anggota;
2. memajukan kesejahteraan masyarakat;
3. membangun tatanan perekonomian nasional dan
4. mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur.

> REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH 71


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Tabel 6.1 Rincian jenis akuntabilitas untuk menilai peranan


koperasi di masyarakat.
NO JENIS AKUNT ABILIT
AKUNTABILIT
ABILITA AS
1 Akuntabilitas P en y eleng
Pen elenggg araan Or
Orgg anisasi dan Manajemen
1.1 Pertumbuhan Anggota
Partisipasi Anggota sebagai Pemilik dan Pengguna Jasa
1.2 Penyelenggaraan Organisasi yang baik

2 Akuntabilitas Manajemen P elayy anan K


ela
Pela operasi
Koperasi
2.1 Berorientasi Pelayanan Terhadap Anggota
2.1 Berorientasi pada Efisiensi dan efektivitas

3 Akuntabilitas Keuangan
3.1 Rasio Likuiditas
3.2 Rasio Solvabilitas
3.3 Rasio Aktivitas
3.4 Receive Turn Over
3.5 Perputaran Persediaan
3.6 Rasio Perputaran Modal
3.7 Rasio Perputaran Modal Kerja
3.8 Rasio Modal Kerja Terhadap Aktiva
3.9 Leverage

4 Akuntabilitas Manfaat dan Dampak Koperasi


4.1 Manfaat Harga Beli
4.2 Manfaat Harga Jual
4.3 Manfaat Lainnya

72 REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

> REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH 73


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

74 REVITALISASI KOPERASI UNTUK MEMBANGUN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 7
STRATEGI PEMILIHAN MESIN
PABRIKAN AGROINDUSTRI
KEMITRAAN DI DAERAH

Uang yang hilang karena kesalahan


investasi masih lebih rendah nilainya
daripada biaya perbaikan atau revitalisasi
fungsi mesin di pabrik karena selain
menyerap dana, tenaga juga kehilangan
waktu yang tak ternilai harganya.

Tujuan P enulisan:
Penulisan:

Tujuan P enulisan ini adalah:


Penulisan
1. Untuk memberikan suatu strategi yang dapat dipakai sebagai acuan dalam pemilihan
mesin-mesin untuk pabrikasi agroindustri.
2. Untuk memantapkan koordinasi antara tim kerja penyedia bahan baku, pengolah hasil
pertanian, dan

Sasaran P enulisan:
Penulisan:
Sasaran penulisan ini adalah CEO perusahaan agroindustri yang akan bertanggung jawab
terhadap keberhasilan usaha, pemerintah daerah yang akan menanamkan modal daerahnya,
serta pihak perbankan yang akan membiayai rencana bisnis.

> STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH 75


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

TUJUAN PENDIRIAN PABRIK

P
engembangan agroindustri di suatu daerah belum lengkap tanpa mendirikan pabrik
pengolahan yang didalamnya terdapat mesin-mesin. Pemilihan mesin ini perlu strategi
pemikiran yang seksama dan pelaksanaan yang bijaksana supaya mencapai efisiensi dan
efektifitas investasi. Karena tujuan pendirian pabrik pengolahan adalah melanjutkan mata
rantai dalam sistem agribisnis dari subsistem produksi ke subsistem pengolahan, hasilnya
kemudian dilanjutkan ke subsistem pemasaran.

Kenyataan yang ada di beberapa daerah menunjukkan mata rantai yang terputus di dalam
subsistem pengolahan hasil pertanian dengan subsistem produksi bahan baku dari petani.
Akibat yang sering ditemui adalah kesenjangan antara kapasitas terpasang mesin di pabrik
dengan kebutuhan dan pengaturan serta penggunaannya. Terutama untuk mesin pengering
yang dibangun dengan biaya dan operasional serta pemeliharaan yang mahal namun
penggunannya tidak memberikan nilai tambah ekonomis dan sosial yang baik bagi perusahaan/
pengelola apalagi masyarakat.

Hal inilah yang mendorong penulisan artikel ini untuk memberikan wacana kepada pengambil
kebijakan atau manajer investasi di bidang industri pertanian (agroindustri) supaya dapat
membuat mata rantai yang mengaitkan dua subsistem di dalam sistem agroindustri/ agribisnis
tersebut. Bagai pelaksanaan sebuah pepatah berpikir global namun bertindak lokal (think
globally, act locally), pengambil kebijakan atau manajer investasi juga perlu memeikirkan
aspek-aspek yang lebih luas untuk mencari tahu bagaimana pengaruh yang mungkin timbul
dari langkah taktis yang akan dibuatnya. Uang yang hilang karena kesalahan investasi masih
lebih rendah nilainya daripada melakukan perbaikan atau revitalisasi fungsi mesin di pabrik
karena selain menyerap dana, tenaga juga waktu yang tak ternilai harganya.

Tiga aspek yang akan dibahas dalam strategi pemilihan mesin-mesin pabrikasi untuk pengolahan
hasil pertanian adalah sentra produksi dan bahan baku; teknis mesin yang sesuai dengan
kebutuhan; dan sumberdaya manusia (SDM) yang akan menjadi pengelola mesin tersebut.
Kendati ketiganya harus terintegrasi satu dengan yang lainnya, namun mesin dan (SDM)
dapat beradaptasi karena ditunjang dengan kemampuan pembuat mesin dan sistem pelatihan
yang akan dirancang oleh pengelola. Baik melalui kerjasama dengan pembuat mesin maupun
dirancang sendiri oleh pengguna.

76 STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

SENTRA PRODUKSI DAN BAHAN BAKU

Pembentukan sentra produksi bahan baku melalui pelaksanaan pewilayahan komoditi atau
penetapan areal produksi merupakan persyaratan utama untuk memikirkan pemilihan mesin
dan skala pabrikasi yang akan dibuat. Karena di antara pabrik dan mesin dengan sentra
produksi ini ada jarak dan waktu yang harus ditempuh. Selain itu, terdapat pertimbangan
jumlah bahan baku yang tersedia dari sentra produksi dan jenis transportasi yang akan
digunakan, dan kapasitas angkutnya. Jika semua ini tidak masuk dalam perhitungan maka
kelak jadi kendala dan meningkatkan biaya produksi. Selanjutnya menurunkan daya saing
karena nilai jual produk akan kalah bersaing dengan produk sejenis di persaingan pasar.

Kondisi yang kurang ideal telah terjadi di beberapa pabrik pengolahan kakao, kelapa dan padi
di pulau Jawa yang berada jauh dengan sentra bahan bakunya. Pada pabrik pengolahan kakao
terjadi kesalahan hanya karena mementingkan berdirinya pabrik saja, sedangkan pada
pengolahan kelapa karena areal perkebunan kelapa dan padi sudah terdesak dengan kepentingan
lain seperti sarana pariwisata, pembangunan perumahan dan tekanan jumlah penduduk yang
semakin meningkat setiap tahun.

Kondisi ideal yang sering kita temui adalah pendirian pabrik pengolah kelapa sawit di tengah-
tengah sentra perkebunan sawit. Kondisi ini semakin ideal karena ditunjang oleh penggunaan
sistem kemitraan dimana terjadi pola inti dan plasma atau Pola Inti Rakyat (PIR). Hal
demikian membuat pengelola pabrik atau perusahaan dapat menghitung/mengendalikan biaya
produksi melalui biaya transportasi bahan baku.

Pembentukan sentra produksi selain mementingkan kelangsungan pabrik dalam jangka waktu
25-40 tahun mendatang, tapi juga ada kepastian hukum dari pemerintah setempat untuk
mempertahankan sebagian wilayahnya sebagai sentra pertanian yang akan menghasilkan bahan
baku. Bahkan harapan yang juga ditunggu bagi investor dan pengusaha daerah adalah
ketersediaan infra struktur seperti jalan, listrik, dan komunikasi yang memudahkan jalannya
bisnis mereka. Rincian pemikiran untuk pembentukan sentra produksi ini dapat dibaca pada
bagian Perencanaan Kawasan Agroindustri .

Jika sudah sentra produksi sudah ditetapkan oleh pemda dengan sosialisanya pada masyarakat
dan dinas terkait, maka dapat dipastikan sudah tersedia data yang terlahir karena setimasi
maupun atas kondisi aktual berupa:

> STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH 77


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

a. Luas lahan, luas panen, produksi, identitas petani, yang dapat dikoordinasikan dan dikelola
dalam wadah organisasi tingkat petani untuk mengatur luas dan jadwal panen yang sesuai
dengan kapasitas tampung dan produksi dari pabrik yang akan dibangun di daerah tersebut.
b. Poin a ini akan memberikan estimasi bagi perencana dan ahli keuangan dalam perhitungan
biaya produksi di tingkat petani dan potensi margin yang akan diraih jika sistem usaha
tani ini akan dilaksanakan dengan atau tanpa sistem kemitraan.

PRINSIP TEKNIS MESIN-MESIN PERTANIAN

Prinsip dasar penggunaan mesin-mesin pertanian didasarkan pada kebutuhan terhadap suatu
alat bantu sehingga pelaku usaha di agroindustri dapat meng-hasilkan suatu produk. Alat
bantu ini dapat digunakan pada tingkat penyediaan bahan baku dan pengolahannya di pabrik
sehingga diperoleh bahan setengah jadi, bahan jadi yang kemudian dijadikan input produksi
oleh perusahaan lain untuk mengolahnya menjadi produk siap konsumsi. Produk yang siap
dikonsumsi pun perlu alat bantu lain yang berfungsi sebagai pengemas menggunakan kemasan
yang berisi informasi kualitas dan kuantitas produk dan identitas pembuatnya. Oleh karena
itu hampir setiap tahapan di bagian produksi bahan baku, pengolahan hasil hingga pada
pemasaran hasil-hasil pertanian memerlukan mesin-mesin pertanian. Secara spesifik, mesin-
mesin yang dibutuhkan dalam pemasaran lebih berorientasi pada ketersediaan sistem teknologi
informasi dan fasilitas komputer untuk mendapatkan informasi dan akses pembeli.

Mesin-mesin pertanian yang dibutuhkan dapat dibagi dua bagian utama yaitu untuk sarana
produksi dan pengolahan hasil produksi.

1 . Sarana Produksi

Mesin-mesin pertanian yang digunakan dalam sarana produksi umumnya sudah dikenal baik
oleh petani karena terlibat langsung dalam kegiatannya. Mungkin tingkatan teknologinya yang
berbeda karena ada yang tradsional seperti bajak, cangkul, pemotong ani-ani, hingga yang
moderen seperti traktor tangan, mesin perontok gabah, irigasi sistem tetes dan sebagainya.

Pemilihan mesin-mesin tersebut sebaiknya mempertimbangkan kondisi agroekologi daerah


yang umumnya daerah tropis dan kondisi topografi yang bergelombang dan tingkat penguasaan
masyarakat yang masih perlu peningkatan keterampilan. Tingkat keterampilan yang
dibutuhkan selain untuk pengoperasian mesin juga untuk pemeliharaan dengan dukungan
ketersediaan suku cadang di daerah yang sesuai dengan persyaratan mesin tersebut.

78 STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

2 . Sarana P eng
Peng olah Hasil Pr oduksi
engolah

P ada bagian mesin-mesin dibagi menjadi tig


tigaa sub bagian yyaitu:
subbagian aitu:

Pertama, untuk pengolahan dari bahan baku menjadi setengah jadi.


Tipe mesin-mesin yang dibutuhkan pada bagian ini akan digunakan untuk proses seleksi atau
sortir, pencucian, penghancuran, dan pengeringan.

Kedua, untuk pengolahan dari bahan setengah jadi menjadi bahan jadi.
Tipe mesin-mesin yang dibutuhkan pada bagian ini akan digunakan untuk proses-proses
penghancuran, pencampuran, pembakaran, pencetakan, pengendalian kualitas, serta
pengepakan.

Ketiga, untuk pengolahan dari bahan jadi menjadi produk siap di konsumsi.

Tipe mesin-mesin yang dibutuhkan terbatas pada pengepakan dan pemberian label.

Ketiga subbagian ini juga masih memerlukan alat-alat bantu seperti timbangan dan alat-alat
ukur dalam pengendalian kualitas.

Jika tahapan proses dalam penyediaan bahan baku dan pabrikasi dapat diketahui dengan
seksama maka tahapan selanjutnya adalah menentukan kebutuhan mesin-mesin yang harus
dibeli, baik karena skala prioritas dengan pertimbangan waktu dan biaya serta kemampuan
pengelolanya maupun karena kebutuhan untuk memenuhi target bisnis yang telah ditetapkan
dalam pembangunan suatu usaha.

Pemikiran untuk pembelian mesin-mesin pertanian mungkin dapat menggunakan tahapan


dasar dalam pemilihan pengering yang menjadi ilustrasi dari logika Mujumdar, A. S. (2001).
Diawali dengan penentuan target yang akan dicapai, kemudian dilakukan pemilihan awal dan
kondisi informasinya, dan dilakukan pengujian dan validasi, serta evaluasi ekonomi sebelum
sampai pada tahap keputusan ke penjual atau pabrik.

> STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH 79


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Gambar. 1.
Logika dasar dalam
pemilihan pengering.

Pemikiran lanjutan yang perlu diambil dari Gambar 1. adalah tahapan validasi pilihan dengan
melakukan uji coba dan indikator yang perlu digunakan dalam evaluasi ekonomi. Validasi
pilihan dapat dilakukan dengan mengkaji ulang berbagai mesin yang memiliki fungsi sama
supaya dapat perbandingan teknis. Contoh kasus adalah pemilihan mesin pengering yang
memiliki keragaman tinggi karena masing-masing memiliki prinsip kerja yang berbeda.
Pengering ada yang menggunakan sistem pemanas biasa dan sifatnya statis dan ada yang
dinamis karena menggunakan ban berjalan. Bahkan sistem bahan bakar yang digunakan juga
berbeda seperti bahan bakar minyak, tenaga listrik, dan kayu bakar atau tempurung kelapa.
Sudah tentu ini semua akan mempengaruhi biaya produksi dari produk yang dihasilkan oleh
perusahaan.

80 STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Pemikiran lain adalah jaminan pelayanan purna jual dari perusahaan penyedia mesin pertanian.
Mereka harus memberikan perbaikan dan penyediaan suku cadang, serta pelatihan untuk
pengoperasian dan pemeliharaan mesin. Hal ini mendorong pihak manajemen untuk segera
mempersiapkan SDMnya sehingga dapat melaksanakan tugas perusahaan.

SDM PENGELOLA PABRIK

Sumberdaya manusia merupakan kalimat kunci yang perlu diperhitungkan dengan baik dalam
pengelolaan agroindustri, terutama pada tahap pengolahan bahan baku di pabrik. Oleh karena
itu, diperlukan SDM yang memiliki karakteristik dasar sebagai kandidat profesional di
perusahaan. Karakteristik dasar yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar dan bekerja
keras disamping juga diperlukan tingkat kecerdasan dan loyalitas.

Keempat karakteristik dasar itu merupakan pondasi yang diperlukan untuk menjamin upaya
teknis yang akan diberikan perusahaan sehingga mereka memiliki tingkat keterampilan
operasional di pabrik. Khususnya dalam pengoperasian dan pemeliharaan mesin, serta tingkat
pengamanan kerja dan suasana kerja sehingga pabrik dapat berjalan dan mencapai target
produksi perusahaan.

Untuk mencapai target keterampilan operasional ini, maka perusahaan melalui departemen
pengembangan harus membuat dan melaksanakan modul-modul pelatihan secara berjenjang
dan berkesinambungan terhadap karyawannya. Bentuk pelatihan tersebut disesuaikan dengan
tingkatan dalam pabrik. Dimulai dari tingkat operator, tingkat pemelihara (maintenance),
dan hingga supervisor.

Jika target pelatihan ini tercapai maka sudah tentu memberikan konsekuensi baru bagi karyawan
berupa apreasi dari perusahaan. Hal ini dapat diwujudkan kenaikan insentif, tunjangan dan
gaji ataupun bonus sehingga karyawan terjaga loyalitas dan kinerjanya pada peningkatan
produktivitas perusahaan. Namun demikian, upaya ini sebelum didahului dengan peningkatan
produktivitas perusahaan yang dapat diukur dari peningkatan kuantitas produk, terjaganya
target kualitas dan akhirnya peningkatan keuntungan perusahaan.

> STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH 81


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

PENUTUP

Pelaksanaan dan pengembangan agroindustri di suatu daerah untuk mencapai misi peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan peingkatan PAD tidak hanya dilakukan dengan mendirikan
sebuah pabrik canggih dengan dukugan mesin-mesin mahal dan terotomatisasi. Tetapi juga
harus disinergikan dengan sentra produksi dan kemampuan produksi bahan baku yang akan
diolah di pabrik, kemudian kemampuan sumberda manusianya yang harus memiliki
kemampuan teknis operasional yang diperoleh melalui pelatihan secara berjenjang dan
berkesinambungan.

82 STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

> STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTRI KEMITRAAN DI DAERAH 83


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

82 INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

BAB 8
INKUBATOR WIRAUSAHA
AGROINDUSTRI BERBASIS
KEMITRAAN

Tujuan Penulisan
Penulisan

Tujuan penulisan makalah:

1. Untuk mengajukan konsep penerapan kemitraan dalam wirausaha teknologi melalui


pembentukan inkubator bisnis dengan melibatkan perusahaan swasta yang bergerak di
sektor jasa keuangan non bank dan sektor riil di masyarakat.

2. Untuk mengkaji potensi-potensi teknologi dan peluang bisnis yang dapat ditekuni sebagai
profesi untuk mendukung agroindustri di daerah. Diharapkan peluang ini dapat
dimanfaatkan oleh generasi muda berpendidikan sarjana.

Sasaran P enulisan:
Penulisan:

Sasaran penulisan ini adalah pihak pemerintah daerah, CEO perusahaan, Dinas Tenaga Kerja,
dan perguruan tinggi yang terlibat langsung dengan problematika tenaga kerja di daerah.

> INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN 85


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

KELAHIRAN IDE INKUBATOR WIRAUSAHA

R
ealita permasalahan di Indonesia adalah lapangan pekerjaan yang kurang mampu
menyerap tenaga kerja yang melimpah meskpun berada di negeri yang subur. Sekitar
540 ribu jiwa berpendidikan sarjana yang masih tergolong pengangguran (BPS, 2002)
dan mungkin jadi akan terus membengkak jika dibuka peluang-peluang pekerjaan yang sesuai
dengan mereka. Terpenting adalah mayoritas yang mengalami permasalahan tersebut adalah
lulusan sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

Sebuah ironi karena disatu sisi memiliki jenjang pendidikan tinggi namun di sisi lain menjadi
minoritas dalam memperoleh kesempatan kerja. Lanjutan akibatnya adalah kesulitan
meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya. Lalu apakah bekal pendidikan yang telah
diberikan dan ditekuni di sekolahan atau bangku kuliah telah mencukupi untuk membangun
kemandirian mereka di masa mendatang?

Belum lagi jika masalah ini dikaitkan dengan penguasaan teknologi dan bisnis yang kerapkali
kosong dalam bekal kehidupan para sarjana tadi. Dua aspek inilah yang mendorong peluang
dilahirkannya konsep inkubator bisnis ini sedangkan kata kemitraan berasumsi bahwa semua
pihak (yang peduli dan perlu dengan tenaga kerja) harus terlibat dan memiliki posisi setara
serta saling bekerjasama sehingga mendapatkan kontribusi manfaat finansial dan non finansial
yang setara.

Sebuah gagasan yang terlahir dari pengalaman selama melakukan program PhD sandwich dan
sempat mengunjungi beberapa pusat pengembangan teknologi di Jerman yang dikenal sebagai
Tec hno Zentr
echno um. Gagasan tersebut juga dimatangkan ketika membangun forum diskusi
Zentrum
Agritech Research dan perusahaan PT. Tekno BIG Nusantara (PT TBN) yang bergerak di
sektor pertanian, dan teknologi informasi serta perdagangan. Bahkan pengalaman berdiskusi
dengan praktisi Jasa Asuransi di PT. Asuransi Jiwa Intan (PT AJI) dan PT. Anugrah General
Insurance (PT AGI) telah memberikan peluang bagi penulis untuk menggali potensi
pembiayaan dari sektor jasa keuangan non perbankan.

Ternyata pengalaman inilah yang mengantarkan pada pemikiran bahwa seharusnya sejak awal
masuk di perguruan tinggi, mahasiswa sudah harus menerima pendidikan kewirausahaan.
Pendidikan yang dimaksud tidak dibiayai oleh mahasiswa itu sendiri tetapi oleh lembaga
swasta dan pemerintah yang tertarik dengan ide-ide kreatif mahasiswa atau sarjana. Keterlibatan
pihak swasta harus dilakukan untuk menekan biaya operasional pendidikan sekaligus
menerapkan konsep pendidikan pula mengenai spirit bisnis yang nyata terjadi di luar kampus.

86 INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

FILOSOPI KEMITRAAN

Dasar filosopi lahirnya ide ini adalah bagaimana mengaitkan tiga komponen utama yaitu
teknologi, bisnis dan kemitraan dalam satu bentuk pelaksanaan di lapangan seperti yang
diilustrasikan pada Gambar 1. Aspek teknologi telah maju pesat di era informasi ini. Mulai
dari kemajuan perangkat lunak seperti program komputer, internet, komunikasi hingga pada
persenjataan. Semua produk ini telah memajukan dunia bisnis pula.

Hal serupa juga terjadi di sektor pertanian, teknologi juga berkembang pesat baik yang
melibatkan manual dan bersentuhan langsung dengan kondisi di lapangan dengan petani
maupun yang bersifat otomatis yang dapat dikontrol secara otomatis dengan bantuan komputer.
Kondisi lapangan di tingkat petani, pertanian tidak lagi sekadar cangkul dan sebilah arit
namun telah bergerak ke arah traktor tangan dan dukungan mesin-mesin pengering hasil
panen yang otomat dan berskala industri.

Ilustrasi ini boleh jadi menyadarkan kita bahwa teknologi telah bergerak dan merasuki semua
lini kehidupan, termasuk kehidupan petani dan memberikan peluang bisnis yang juga berarti
peluang kerja. Namun, pemahaman ini perlu disampaikan kepada para sarjana supaya mereka
menemukan mata rantai yang mengaitkan teknologi dan bisnis melalui proses pembinaan di
inkubator wirausaha yang dibangun berdasatkan kemitraan.

Konsep ini merupakan potensi sekaligus tantangan yang masih terbuka luas bagi bangsa
Indonesia untuk menekuni dan mengembangkan teknologi yang berbasis kemitraan. Bahkan
target utama yang harus dicapai adalah
integrasi yang baik antara ketiga komponen
tersebut.

Gambar 1. Tiga komponen utama yaitu


teknologi, bisnis, dan kemitraan yang
melandasi gagasan pembentukan inkubator
wirausaha teknologi berbasis kemitraan.

> INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN 87


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Pertanyaan yang muncul dari filosopi tersebut adalah kenapa harus berbasis Kemitraan?
Bukankah teknologi dan bisnis telah berjalan dengan baik tanpa keterlibatan institusi perguruan
tinggi ataupun lulusannya? Lalu, kenapa harus agroindustri yang jadi ladang bisnis pertama
yang digarap?

Jawaban pertama terletak pada kepentingan yang berbeda antara pemerintah (baik pusat
maupun daerah), perguruan tinggi, masyarakat, dan perusahaan. Bagi pemerintah, kemitraan
berarti adanya satu kesempatan untuk mengurangi dampak negatip yang mungkin terjadi
akibat tingginya angka pengangguran di kalangan terdidik. Bagi perguruan tinggi, kemitraan
itu berarti forum untuk saling rembuk dan mendapatkan masukan mengenai kemampuan
lulusannya yang dapat terserap di dunia kerja. Bahkan kemampuan mandiri mereka untuk
membuat kesempatan kerja baru. Masyarakat pun menyadari bahwa kemitraan ini merupakan
satu harapan untuk menyaksikan putra-putri terbaiknya sudah mulai mandiri dan bekerja.
Harapan yang tumbuh setelah mereka menghabiskan sumberdaya untuk membiayai pendidikan
anak-anaknya.

Bagi perusahaan, kemitraan diharapkan bukanlah satu beban biaya namun kesempatan untuk
mendapatkan mitra kerja yang dibutuhkan baik secara langsung sebagai karyawan yang akan
mengembangkan perusahaannya maupun secara tidak langsung sebagai mitra yang mendukung
aktivitas mereka. Dukungan ini dapat diwujudkan dalam bentuk penyediaan bahan baku,
pemasaran, tenaga konsultan, maupun sebagai penyedia komponen produksi.

Bahkan dengan kemampuan ide dan keterampilan teknis yang dimiliki warga kampus ini
dapat disalurkan kedalam satu wadah yang terorganisir dengan baik dan dapat dikembangkan
karena bernilai jual dari sudut pandang bisnis. Ide dan keterampilan teknis mahasiswa tidak
hanya terbatas pada penguasaan piranti lunak atau teknologi informasi tetapi dapat
dikembangkan secara luas pada bidang-bidang lain seperti pertanian, jasa konsultasi manajemen
perancangan mekatronika. Hal ini yang menjadi alasan dan jawaban untuk pertanyaan kedua
kenapa perguruan tinggi perlu terlibat lebih dalam di perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
dari konsep ini.

Pemilihan sektor pertanian, khususnya agroindustri yang menjadi ladang bisnis pertama
disebabkan sektor ini akan menyerap tenaga kerja banyak dan mendapatkan dukungan sumberdaya
alam dan masyarakat di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun demikian, tidak menutup
kemungkinan peluang bisnis lain yang mendukung sektor tersebut kendati sang sarjana memiliki
kemampuan manejemen, pemasaran, ataupun teknologi informasi. Karena semua ini saling
terkait jika memahami empat subsistem dalam agribisnis/agroindustri dengan baik.

88 INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

KONSEP DASAR INKUBATOR

Konsep inkubator bisnis ini adalah suatu konsep dimana wadah yang diorganisir untuk
menampung dan membina calon pengusaha dengan memberikan perlindungan dan fasilitas
usaha. Konsep ini dibangun dengan melibatkan beberapa stakeholder (pelaksana) seperti
kandidat pengusaha, dewan pembina, dan jasa keuangan dengan alur kerja seperti pada Gambar
2. Karena wacana yang dibangun adalah pertanian maka yang dipilih agroindustri untuk
menghindarkan kesan bahwa inkubator itu untuk melahirkan profesi petani. Namun sebaliknya,
boleh disebut pengusaha kendati bidang usahanya adalah pertanian.
Jasa Keuangan

Gambar 2. Alir kegiatan pusat inkubator


wirausaha teknologi bisnis dengan bantuan Jasa
keuangan dan infrastruktur hukum dan sarana
gedung.

PELAKSANA INKUBATOR

Sasaran konsep ini adalah lulusan perguruan tinggi, baik yang berpendidikan diploma, sarjana,
maupun magister. Hal ini dilakukan karena tingkat pengangguran pada lulusan berjenjang
pendidikan tinggi ini di Indonesia sekitar 10% dari angkatan kerja Indonesia yang berjumlah
5,8 juta jiwa (BPS 2001). Belum termasuk angkatan kerja berpendidikan magister yang belum

> INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN 89


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

sempat tertampung dalam dunia kerja karena memang kesempatan kerja sangat terbatas yang
terkait dengan kondisi makro ekonomi Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, tersirat bahwa
disamping kandidat merupakan lulusan perguruan tinggi. Mereka juga memiliki konsep bisnis
yang layak diusahakan dan wajib menjalankan prinsip-prinsip syariah dalam proses bisnisnya.

Anggota dewan pembina terdiri dari pengusaha, pakar perguruan tinggi, dan anggota dari
lembaga jasa keuangan. Peranan tiga komponen dewan pembina ini menjadi tiga bagian yaitu
sebagai penyeleksi ide, pembina dan pemberi fasilitas. Kriteria ide yang diterima sudah tentu
berkaitan dengan upaya pengembangan teknologi yang bernilai bisnis baik untuk pemasaran
dalam negeri maupun untuk dipasarkan di tingkat regional dan internasional.

Aspek pembinaan mencakup dua sisi yaitu bagaimana mengembangkan ide tersebut dalam
dunia bisnis dan pengembangan teknologi sehingga memiliki nilai jual. Dewan pembina
berperan penting dalam penyediaan modal dengan memberikan argumentasi rasional dengan
memperhatikan potensi pasar.

Pada sisi lain, bantuan informasi untuk pemasaran produk dan jasa juga diperlukan. Terutama
strategi dan taktis menembus pasar regional dan domestik. Bahkan perlindungan hukum bagi
kandidat pebisnis baik dalam bentuk pengurusan paten maupun royalti. Bantuan terakhir
sangat penting karena inovasi dan penemuan akan mudah berkembang dengan kondisi
lingkungan yang mendukung. Aturan ini akan tampak jelas pada alur kerja yang terkait
dengan penjelasan Gambar 2.

ALUR KERJA

Berdasarkan Gambar 2. Alur pelaksanaan konsep ini diawali dengan proposal bisnis yang
diajukan oleh kandidat ke menejer operasional dan dilanjutkan pada dewan pembina. Proposal
tersebut kemudian dibahas dengan menggunakan tiga kriteria yaitu aspek bisnis, penguasaan
teknologi, dan kemitraan untuk dinilai kelayakannya. Setelah layak maka kandidat akan
mendapatkan satu buah ruangan sebagai kantor kerja dan fasilitasnya di gedung inkubator
yang dimiliki sistem ini. Gedung ini berfungsi sebagai kantor bersama dari sejumlah kandidat
dengan subsidi biaya yang terakomodasi dalam perjanjian. Bahkan dalam gedung tersebut
telah tersedia fasilitas standar seperti komputer, internet dan bantuan tim pemasaran produk.

Perkiraan waktu inkubasi dari calon pengusaha menjadi pengusaha murni ini diperkirakan
tiga tahun, setelah itu harus mandiri. Dalam kurun waktu tersebut calon pengusaha akan
mengembangkan dan melaksanakan gagasannya yang tertuang dalam bentuk proposal. Diakhir

90 INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

kontrak, kandidat akan melanjutkan usahanya di luar fasilitas inkubator namun tetap
menjalankan prinsip kemitraan karena kesuksesannya telah ditunjang oleh stakeholder dan
sistem dari inkubator tersebut.

Tolok ukur keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada jumlah kandidat yang berhasil
mandiri dengan melanjutkan unit usahanya dan paten yang dihasilkan, namun juga pada
kemampuan untuk menjaga konsistensi pelaksanaan kemitraan dalam proses produk dan
penjualannya. Indikator ini tetap realistis kendati mereka (disebut: alumni inkubator) sudah
berhadapan langsung dengan realitas bisnis yang terkadang menghalalkan segala macam cara
asalkan tujuan bisnisnya tercapai. Mungkin pada poin inilah peranan pembinaan etika dapat
ditekankan disamping juga pembuktian bahwa konsep kemitraan lebih baik.

PELUANG BISNIS UNTUK TEKNOLOGI

Produk bisnis yang dikembangkan dalam suatu inkubator adalah jasa dan barang namun
berorientasi teknologi. Produk teknologi tidak hanya pada teknologi komputer, tetapi juga
pada konstruksi, perminyakan, pertanian, biologi, kedokteran dan farmasi. Spesifikasi produk
di setiap sektor tersebut dapat dirinci lebih lanjut. Biologi misalnya, dapat diperinci pada
konsep bioteknologi dengan penekanan pada produk-produk kultur jaringan atau
biomolukuler dan bukan pada riset. Porsi riset yang mendalam dilakukan oleh lembaga lain
seperti universitas dan lembaga penelitian. Riset yang dilakukan oleh kandidat di inkubator
hanya upaya penyesuaian produk pada pasar.

Kendati dalam pelaksanaan inkubator ini, terdapat banyak peluang untuk menciptakan beragam
produk namun semua aspek ini tentu memiliki segmen pasar sendiri sehingga perlu disaring
lebih banyak kandidat dan idenya untuk dimasukkan dalam inkubator.

Berdasarkan potensi pasar saat ini di daerah, maka agroindustri merupakan menjadi ladang
yang menjanjikan. Mulai dari pemilihan komoditi unggulan, diterima pasar dengan harga
yang bersaing, teknologi pengolahan hasil-hasil pertanian, sampai pada dukungan teknologi
informasi untuk mendukung pengelolaan sumberdaya alam dan pemasarannya. Contoh kasus
adalah penyediaan sistem informasi dengan teknologi SIG (Sistem informasi geografi) untuk
mendukung pengelolaan pemerintah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Teknologi
SIG ini memungkinkan pemerintah daerah memasarkan daerahnya ke investor dengan
menyodorkan komoditi yang berpotensi untuk dikembangkan dalam sektor pertanian atau
kehutanan dan sumberdaya lain, disamping mendukung penataan wilayahnya.

> INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN 91


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Contoh lain adalah pengelolaan bandeng dan rumput laut yang menjanjikan untuk dikelola
secara profesional. Bandeng tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah dan dapat disantap
hanya dalam bentuk goreng dan bakar saja di kawasan Sulawesi Selatan, namun dapat diolah
lagi menjadi bandeng asap, bandeng tanpa duri, bandeng presto, dan bakso atau nugget
bandeng yang dikemas dan dipasarkan di super market ataupun dijadikan komoditi dagang ke
daerah lain.

Gagasan serupa juga dapat diterapkan di rumput laut kendati memerlukan investasi yang
cukup besar namun pemikiran untuk membuat proposal yang layak juga menjadi salah satu
target jika telah melewati tahapan inkubasi selama tiga tahun. Kelak kandidat pengusaha ini
dapat menjadi pengusaha besar dengan memulai dari perdagangan rumput laut dari hasil
budidaya mereka dan kemitraannya dengan petani rumput laut. Paling tidak, peserta inkubator
bisnis ini sudah mampu menyediakan bahan baku yang sesuai dengan standar industri di
wilayahnya.

Inti pembicaraannya adalah kemampuan mengidentifikasi permasalahan dan peluang bisnis


dari teknologi di wilayahnya. Tanpa meninggalkan kaidah kemitraan ditambah dengan
perhitungan yang matang dari segi bisnis untuk setiap produk dalam proses dan produk
akhirnya, maka kesuksesan dapat diraih dengan mudah.

PERANAN JASA KEUANGAN DAN PERUSAHAAN

Peranan jasa perbankan dan perbankan dalam pelaksanaan ide ini sangat penting karena
disadari bahwa lulusan sarjana hanyalah berbekal kemampuan akademis dan sedikit sekali
yang memiliki modal finansial. Oleh karena itu, saat ini masih jarang lulusan perguruan tinggi
langsung dapat mandiri untuk membangun suatu unit usaha hanya berbekalkan ijasah sarjana.
Mereka memerlukan wadah dan binaan dan bantuan sebelum tercapai kemandiriannya. Pada
sisi lain, mereka memiliki potensi kemauan, kecerdasan, dan keuletan untuk bekerja. Potensi
yang paling terlihat oleh penulis adalah aspek kejujuran dan idealisme mereka yang patut
didukung oleh konsep kemitraan.

Jasa keuangan dan perusahaan swasta masing-masing memiliki peranan pada aspek pendanaan
dan pemanfaatan hasil kerja para kandidat. Jasa keuangan se perti Bank syariah dapat
menerapkan berbagai konsep bantuan finansial berdasarkan kemampuan finansial yang
dimilikinya untuk kandidat yang terpilih dan aktif di inkubator bisnis. Konsep yang dapat
diterapkan antara lain (Syafii, 2000):

92 INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

1. Trust Financing dimana pihak bank merupakan pihak yang sepenuhnya sebagai penyandang
dana dari modal usaha, sedangkan pihak yang menjadi pengelola dana adalah kandidat
yang akan menggunakan segala keahlian dan kemampuannya dalam pengelolaan dana.
Keuntungan yang didapat akan di bagi rata. Kerugian yang timbul akan ditanggung oleh
pihak penyandang dana sedang penyandang rugi dalam soal waktu, prestasi serta potensi
untuk mendapatkan hadiah. Manajemen pengelolan dana tersebut sepenuhnya merupakan
tanggung jawab penyandang dana.

2. Partnership Financing . Konsep ini merupakan konsep perjanjian klasik didalam sistem
keuangan Islam dimana pihak-pihak sepakat untuk secara bersama-sama melakukan
kontribusi pembiayaan. Keuntungan yang didapat akan dibagi sesuai dengan persetujuan
yang dibuat sebelumnya sedangkan kerugian akan dibagi rata sesuai dengan kepemilikan
modal usaha. Manajemen usaha dapat dibagi rata secara bersama-sama atau menunjuk
salah seorang diantaranya.

3. Pinjaman tanpa bunga. Ini merupakan konsep pinjaman tanpa bunga yang mana tujuan
dari pihak yang meminjam adalah berkaitan dengan kegiatan sosial atau pinjaman jangka
pendek. Peminjam hanya berkewajiban mengembalikan pokok pinjaman saja.

Kendala yang mungkin timbul dari pelaksanaan konsep ini adalah pemahaman mengenai
aturan kemitraan. Namun demikian, diskusi dan saling tukar informasi sebagai upaya
mewujudkan gagasan ini merupakan salah langkah pelaksanaan konsep inkubasi wirausaha
kemitraan sehingga dapat diterima dan realistis oleh pemerintah, masyarakat, lembaga keuangan,
perguruan tinggi serta sarjana itu sendiri.

PENUTUP

Inkubator wirausaha teknologi bisnis berbasis kemitraan merupakan gagasan untuk


mengembangkan pelaksanaan kemitraan. Tiga sisi dari segi teknologi, kemitraan, dan aspek
bisnis yang disatukan dalam sebuah inkubator dengan fasilitas finansial, manejemen, dan
pendidikan untuk membantu generasi muda Indonesia yang berpotensi maju dan mandiri
dalam menghadapi persaingan kerja di tingkat nasional dan internasional.

Target yang diharapkan terlibat adalah para kandidat pebisnis Indonesia dengan latar belakang
pendidikan dan agama dan budayanya dapat mandiri. Indikator keberhasilan ide ini adalah
kemandirian bisnis para alumninya dengan tetap mempertahankan konsep kemitraan dalam
pelaksanaan bisnisnya.

> INKUBATOR WIRAUSAHA AGROINDUSTRI BERBASIS KEMITRAAN 93


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

D AFTAR PUST
AFTAR AKA
PUSTAKA
Al Kaaf, A. Z. 2002. Ekonomi dalam Prespektif Islam. Pustaka Setia, Bandung.
Amien, I. 1993. Sumberdaya Iklim dalam evaluasi Sumberdaya lahan. Dalam Makalah
Kunci Pertemuan Teknis Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor,
18-21 Februari.
Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kabupaten Manggarai NTT.
Dan PT. Virama Karya. 2003.
Bakar, O. 1997. Hierarki Ilmu: Membangun rangkapikir Islamisasi Ilmu. Mizan,
Bandung.
BPS. 2002. Data Statistik Tenaga Kerja Indonesia. http: www.bps.go.id
Darusman, L.K. et al., 2004. Konsep Strategi Pengembangan Biofarmaka Indonesia.
dalam Sumbang Saran Pemikiran Pengembangan Agribisnis Berbasis Biofarmaka. Pusat Studi
Biofarmaka. Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor.
Haming, M dan S. Basalamah. 2003. Studi Kelayakan Investasi: Proyek dan Bisnis. Jakarta.
PPM.
Irsal. L. et al. 1989. Pewilayahan agroekologi utama tanaman pangan Indonesia. Puslitbang
Tanaman Pangan. Edisi Khusus, Pus/03/90.
Irsal. L. 1992. Pewilayahan Komoditi Pertanian Berdasarkan Model Iklim Kabupaten
Sikka dan Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor. Disertasi. (Tidak Dipublikasikan).
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. 2004.
Pedoman Penerapan Akuntabilitas Koperasi.

Lucas, M dan K. Wilson. 1992. How to Survive The 9 to 5 (Memelihara Gairah Kerja;
Psikologi untuk orang kantoran). Alih Bahasa: Ansis Kleden. Arcan, Jakarta.

Mujumdar, A. S. 2001. Panduan Praktis Mujumdar untuk Pengeringan Industrial.


(Penyunting: Sakamon Devahastian). Alih Bahasa: Tambunan dkk. IPB. Press, Bogor,
Indonesia.
Pinson. L. 2003. Anatomy of Business Plan. (Terjemahan Emmas: Panduan Lengkap
Menyusun Proposal dan Rencana Bisnis). Penerbit Canary. Jakarta.
Safii, A. M,. 2000. Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Bank Indonesia, Jakarta.

Saragih, B. 2004. Membangun Pertanian Perspektif Agribisnis dalam Pertanian Mandiri:


Pandangan Startegis Para Pakar untuk Kemajuan Pertanian Indonesia. Penebar Swadaya.
Jakarta.

94 DAFTAR PUSTAKA <


AGROINDUSTRI UNTUK OTONOMI DAERAH

Singh, R. B. 2002. The State of Food and Agriculture in Asia and the Pacific: Challenges
and Opportunities. Food and Agriculture Organization of The United Nations International
Fertilizer Industry Association. Paris.
Siregar, D. D. 2004. Manajemen Aset: Strategi Penataan KonsepPembangunan
Berkelanjutan secara Nasional dalam Konteks Kepala Daerah sebagai CEOs pada Era
Globalisasi & Otonomi Daerah.
Sumardjo., J. Sulaksana, dan W. A. Darmono. 2004. Teori dan Praktik Kemitraan
Agribisnis. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumodiningrat,G. 2004. Subsidi untuk Petani Padi Mencari Format yang Tepat.
Kompas.Senin (6/09/2004) Hal. 11.
Survey Potensi Investasi Perkebunan Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur.
Wirakartakusumah, A. 1999. Pertanian berkelanjutan rekonsep-tualisasi pembangunan
pertanian Indonesia dalam Prosiding Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional VII di Serpong, 9-
10 September 1999. Buku III Kelompok Ilmu Pengetahuan Alam. LIPI bekerjasama dengan
Dir jen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Forum Organisasi
Profesi Ilmiah. Hal:329-345.

> DAFTAR PUSTAKA 95


M. SYUKRI NUR NUR, lahir di Pare-Pare, 24 September 1966. Ia
menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Samarinda. Lulus
SMA Negeri 1 Samarinda pada tahun 1986 dan pada tahun yang sama
diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui undangan PMDK
(Pene-lusuran Minat dan Kemampuan) oleh Rektor IPB Prof. Dr. Ir.
H. Andi Hakim Nasution karena menjadi juara I Lomba Karya Ilmiah
Remaja LIPI Bidang Humaniora di Tahun 1986.
Alamat Lengkap: Lulus dari program studi Agrometeorologi, IPB tahun 1991,
Jl. Malabar Ujung kemudian bekerja di LKBN Antara Biro Samarinda sebagai wartawan
No. 27 RT 04/03 selama dua tahun. Akhir September 1993 melanjutkan S2 dan S3 hingga
Tegal Manggah
Bogor 16144
tahun 2003 di IPB dengan pengalaman studi di musim panas, kegiatan
Telp: 0251-8357215 penelitian dan pembentukan jaringan akademik di Swiss, Perancis,
HP: 0811850150 Jerman, dan Austria.
Email:syukrimnur@gmail.com Penelitian tentang model perubahan iklim global di Institut
Bioklimatologie, Universitas Geottingen, Jerman selama 2 tahun lebih
atas sponsor DAAD dan Proyek STORMA. Penulis juga pernah tercatat
sebagai peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(LAPAN) selama 2 tahun (2004-2006).
Penghargaan yang pernah diperoleh LIPI UNESCO untuk
PIAGAM MAB (Man and Biosphere) tahun 2003 dan sejumlah beasiswa
dari START Amerika Serikat, DAAD Jerman, Yayasan Super Semar,
Republika dan ICMI, serta KOMPAS selama menempuh pendidikan di
IPB. Juga Sponsor untuk Perjalanan Riset dan Summer School dari Bern
University, Swiss, Postdam Institute, Jerman dan Tsukuba Research
Center, Jepang.
Minat penulis adalah penelitian dan penulisan ilmiah untuk bidang
kajian pertanian, teknologi informasi dan lingkungan hidup.
Saat ini penulis bertugas sebagai Staf Tenaga Ahli Bupati Kutai
Timur bidang Pengembangan Agribisnis dan Agroindustri. Ketua III
KALIMA Provinsi Kalimantan Timur dan Peneliti bidang Agroindustri
dan Teknologi Informasi di PT. VISIDATA RISET INDONESIA., serta
tenaga pengajar di STIPER Kutai Timur.