Você está na página 1de 6

Apakah semua tablet boleh digerus?

Posted on April 8, 2013 by Rifqi Rokhman

Ada tablet yang tanpa disalut (uncoated tablets), tablet ini dibuat hanya untuk
memudahkan obat ditelan (daripada masih dalam bentuk serbuk). Nah selain itu
ternyata ada juga tablet yang dimodifikasidengan disalut menggunakan film (film
coated tablets), gula (sugar coated tablets), tablet salut enterik (enteric coated
tablets), tablet lepas lambat (sustained release tablets), ada juga yang bilang
extended release atau prolonged release dan lain-lain), tablet yang digunakan
dibawah lidah (sublingual), tablet yang digunakan dipipi bagian dalam (buccal
tablet), tablet lozenges, dan ada tablet effervescence.

Merubah bentuk sediaan (termasuk menggerus tablet) mempunyai kemungkinan


dampak negatif seperti:
terjadi perubahan pada karakteristik absorpsi obat (obat sublingual yang
digerus)
mengurangi stabilitas produk (contoh Nifedipine merupakan produk yang
sangat sensitif terhadap cahaya setelah digerus)
mengakibatkan efek iritasi lokal (menyebabkan iritasi atau ulcerasi seperti
alendronat, diclofenac)
dapat menghasilkan produk dengan rasa yang tidak dapat diterima pasien
(obat yang pahit kemudian disalut gula contoh quinine, ibuprofen, ciprofloxacin,
cefuroxime, pseudoephedrine, praziquantel)
membahayakan Apoteker, contoh untuk obat carcinogenic (methotrexate),
teratogenic (Ganciclovir, menyebabkan iritasi kulit)
Lain-lain (sertraline dikenal mempunyai efek anestesi lokal, sehingga sertralin
jika diberikan pada bentuk serbuk akan membuat pasien merasakan efek ini)

Namun demikian merubah bentuk sediaan tablet yang biasanya dirubah menjadi
bentuk sediaan pulveres (sebuk terbagi) mempunyai keuntungan juga lho, seperti

Jumlah item obat yang diberikan kepada pasien bisa lebih sedikit, contoh
bentuk pulveres yang isinya beberapa obat sekaligus. Pilih mana minum 5 tablet
kecil-kecil apa 1 pulveres?
Dosis obat dapat disesuaikan dengan keperluan dari pasien, terutama pasien
anak. Pilih mana, minum obat 1/3 tablet atau 1 pulveres? Sehingga lebih bisa
memenuhi individual patients needs. Membagi tablet dengan dengan tangan
atau pisau akan menimbulkan variasi bobot sekitar 15-20%.
Bagaimana kita memutuskan untuk menggerus atau tidak menggerus suatu tablet?
Beberapa keterangan berikut ini bisa menjadi panduan anda:

Uncoated tablet alias tablet yang dikempa tanpa disalut, tentu tablet seperti
ini boleh digerus, karena bentuk tablet ini biasanya dibuat hanya untuk
memudahkan obat ditelan pasien.
Tablet salut film atau salut gula, biasanya diinginkan untuk menutupi rasa
yang tidak menyenangkan dari bahan aktif obat. Contoh obat yang pahit yaitu
quinine, ibuprofen, ciprofloxacin, cefuroxime, pseudoephedrine, praziquantel.
Menggerus obat seperti ini bisa menyebabkan pasien tidak merasa nyaman
menggunakan obat tersebut karena rasa yang tidak enak. Tablet seperti ini boleh
digerus namun demikian harus diketahui terlebih dahulu alasan obat tersebut
disalut.
Tablet lepas lambat (biasanya berakhiran dengan SR, XR, ER, CR), merupakan
obat yang diinginkan melepaskan obat selama periode waktu tertentu contoh 24
jam, sehingga pasien harusnya minum 3x sehari dengan SR bisa minum sekali
sehari saja. Nah menggerus obat dalam sediaan ini tentu akan mengakibatkan
perubahan pada pelepasan obat, oabt yang seharusnya dilepaskan secara
perlahan justru kemungkinan dilepaskan dalam sekali waktu sehingga
kemungkinan akan terjadi overdosis atau gejala toksisitas setelah meminumnya
dan kemungkinan setelah selang waktu tertentu justru underdose karena tidak
ada lagi pelepasan obat. Contoh Nifedipine XR yang digerus justru menimbukan
hipotensi, isosorbid mononitrat SR menyebabkan kekambuhan nyeri dada,
dimana nyeri dada ini hilang pada pemakaian 3x sehari nitrat kerja pendek.
Merubah bentuk sediaan tablet SR sangat tidak direkomendasikan.
Enteric coated tablet, merupakan obat yang diinginkan pecah pada pH alkali
di usus kecil. Tablet salut enterik digunakan untuk menunda pelepasan obat
yang rusak oleh cairan lambung (contoh omeprazole, eritromicin), mengurangi
iritasi lambung (aspirin, diclofenac, alendronat, naprexan, corticosteroids), dan
menunda onset obat pada lokasi tertentu dalam saluran gastrointestinal
(sulphasalazine untuk treatmen penyakit Crohns). Penggerusan terhadap obat
ini dapat menyebabkan obat dirusak oleh cairan lambung atau menyebabkan
iritasi pada lambung. Merubah bentuk sediaan tablet salut enteric sangat tidak
direkomendasikan.
Tablet sublingual dan tablet bukal, diinginkan terabsorpsi pada membran
mukosa, menyebabkan kenaikan secara cepat konsentrasi obat dalam darah,
tidak melalui first pass metabolism. Penggerusan terhadap tablet sublingual dan
bukal akan merubah farmakokinetik dan bioavailabilitas dari obat. Menggerus
tablet sublingual dan bukal tidak direkomendasikan.
Lozenges merupakan tablet yang diinginkan untuk tetap didalam mulut
selama 10-15 menit selama mereka mengalami pelepasan dan mempunyai aksi
lokal di mulut. Penggerusan terhadap tablet lozenges akan merubah efek lokal
dari obat. Menggerus lozenges tidak direkomendasikan.
Daftar Pustaka:

RPS, 2011, Pharmaceutical Issues when Crushing, Opening, or Splitting Oral Dosage
Forms, Royal Pharmaceutical Society.

polemik puyer

Akhir-akhir ini sediaan puyer menjadi terkenal dan tidak kalah ramai dengan
berita ponari yang bisa menyembuhkan orang sakit. Sediaan racikan pulveres (serbuk
terbagi) masih digunakan secara luas diapotik-apotik maupun rumah sakit di Indonesia.
Pembuatan sediaan racikan pulveres ini pada dasarnya mempunyai tujuan dan kegunaan
untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada pasien terutama pasien anak-
anak. Pasien anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk menerima obat dalam
bentuk sediaan padat (misalnya tablet), oleh karena itu biasanya dilakukan peracikan
ulang dari bentuk sediaan padat tersebut menjadi bentuk sediaan pulveres (serbuk
terbagi).
Munculnya berita-berita di stasiun televisi merupakan pukulan yang cukup telak
terutama dibidang farmasi yang sekarang sedang berusaha untuk menegakkan patient
safety (keamanan pasien) dan bukan drug oriented, disisi lain berita ini bisa menjadi
tantangan buat apoteker dan semua tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan
pelayanan dengan selalu mengutamakan keamanan pasien dan memberikan pelayanan
dengan profesionalitas tinggi.
Kontroversi puyer di masyarakat kita semakin luas dan masyarakat semakin
bingung. Masyarakat semakin terjebak tentang keamanan dari sediaan puyer tersebut.
Tanggapan dari para ahli kita kayaknya masih belum memuaskan, melalui artikel ini
semoga bisa memberikan informasi yang penting buat masyarakat maupun untuk tenaga
kesehatan yang praktek di lapangan.
Yang menjadi permasalahan atau pokok masalah dalam sediaan puyer di negara
kita dan masih bersifat kontroversi selama ini yaitu :
1. Tidak perlu dipungkiri sediaan puyer yang di racik di apotek maupun sarana kesehatan lain
merupakan sediaan puyer dengan penggerusan dari sediaan tablet. Sediaan tablet
merupakan sediaan yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan memperhitungkan
kekerasan tablet, waktu hancur, waktu absorbsi, bahan pengisi dan parameter-parameter
lain. Bagaimana jadinya jika tablet yang sudah dirancang dengan penuh perhitungan dan
dibuat sesuai dengan standar CPOB(cara pembuatan obat yang baik) digerus dan
dihancurkan begitu saja, padahal semua itu dirancang dan diperhitungkan supaya obat
tersebut dapat memberikan efek terapi dengan maksimal.
2. Pembagian sediaan puyer dilakukan secara kasat mata. Pembagian dengan cara tersebut
tentu saja akan menyebabkan bobot yang tidak sama antara puyer yang satu dengan puyer
yang lain. Tidak adanya keseragaman bobot tentu saja menyebabkan tidak adanya
keseragaman dosis dari puyer tersebut. Untuk obat-obat dengan jendela terapi yang
sempit seharusnya tidak boleh diracik dalam bentuk sediaan puyer karena penyimpangan
dosis sedikit saja akan membahayakan pasien.
3. Banyak sekali kejadian di lapangan sediaan tablet dengan salut enterik juga ikut digerus.
Perlu diketahui bahwa sediaan tablet yang disalut mempunyai tujuan-tujuan tertentu
misalnya supaya pelepasan obat terkontrol atau supaya obat tidak rusak oleh asam
lambung dan bisa diabsorpsi di usus.
4. Pencampuran antibiotik (misal amoxycillin) dan obat-obat AINS (misal parasetamol, asam
mefenamat, ibuprofen, dll) dalam bentuk sediaan puyer bukan merupakan peresepan yang
ideal karena antibiotik merupakan obat yang diminum sampai habis sedangkan obat-obat
AINS merupakan obat yang diminum hanya bila perlu saja. Perlu kita ketahui bahwa
antibiotik seperti amoxycillin seharusnya tidak boleh digerus karena dapat menyebabkan
syok anafilaktik yang bisa membahayakan pasien atau petugas yang meracik obat.
5. Pembuatan puyer dilapangan kadang tidak memperhatikan hiegenitas, kelembapan
ruangan, suhu ruangan, penggunaan alat yang tidak bersih, peracikan sediaan puyer
sambil bercanda, ngobrol-ngobrol dan tidak menggunakan perlengkapan yang semestinya
(Sarung tangan, masker, penutup rambut).
6. Pencampuran beberapa macam obat dalam bentuk sediaan puyer tanpa
mempertimbangkan kemungkinan interaksi antar obat tersebut baik itu interaksi yang
mempengaruhi farmokinetika maupun farmakodinamik obat.
Tidak perlu dipungkiri juga bahwa kondisi masyarakat kita sebenarnya masih
membutuhkan sediaan puyer karena masih mempunyai beberapa keunggulan dan
keuntungan :
1. Mudah untuk penyeseuaian dosis sesuai dengan umur dan berat badan pasien.
2. Masih sedikitnya sediaan obat yang khusus untuk anak-anak sehingga harus dibuat
dalam bentuk sediaan puyer.
3. Biaya pengobatan yang jadi lebih murah
4. Sediaan puyer bisa membantu dan memudahkan pasien anak-anak yang kesulitan untuk
minum obat dalam bentuk sediaan tablet
Pertimbangan-pertimbangan yang harus kita pertimbangkan jika harus
meresepkan sediaan puyer :
1. Sediaan puyer dengan cara menggerus tablet dipilih (merupakan pilihan terakhir) jika tidak ada
bentuk sediaan yang lain misal bentuk sediaan sirup. Contoh kasus : mengganti bentuk
sediaan tablet parasetamol dengan bentuk sediaaan sirupnya.
2. Apakah tablet yang akan digerus merupakan tablet konvensional/tablet salut enterik/ salut
gula? Adanya salut terutama salut enterik pada tablet mempunyai tujuan tertentu misal untuk
mengontrol pelepasan obat dan menghindari obat rusak oleh asam lambung. Jadi sebaiknya
tablet dengan salut enterik tidak boleh digerus.
3. Mencantumkan waktu kadaluarsa (Beyond use date) pada racikan sediaan puyer tersebut.
Tujuan pencantuman waktu kadaluarsa (Beyond use date) ini supaya pasien paham kapan
sebaiknya puyer tersebut seharusnya tidak boleh digunakan lagi(dalam rangka untuk
meningkatkan patient safety). Berdasarkan USP/United States Pharmacope (795)untuk
sediaan liquid nonaqueous dan sediaan padat non steril (dimana produk obat pabrik
adalah sumber dari bahan aktif), beyond use date tidak lebih lama dari 25% sisa dari expired
date produk awalnya atau hanya 6 bulan tergantung mana yang lebih singkat. Untuk sediaan
yang mengandung air (penyiapan dari bentuk padat) beyond use date tidaklebih lama dari 14
hari ketika disimpan pada temperatur dingin (Kupiec, 2003).
Untuk waktu kadaluarsa (beyond use date) selama 1 tahun maka ada 2 kondisi yang harus
dipenuhi yaitu:
Harus mempertahankan fasilitas dimana temperatur kinetik rata-rata tidak lebih dari
25 oC.
Kemasan yang digunakan untuk mengemas harus lebih baik daya proteksinya
daripada polyvinyl chloride (PVC) (Clark, 2002).
Ketentuan FDA tentang peracikan ulang yaitu :
Waktu kadaluarsa tidak lebih dari 1 tahun dari tanggal pembuatan atau lebih singkat dari
produk awalnya tanpa adanya data stabilitas dan petunjuk dari label produk awal.
Jika bentuk sediaan racikan adalah oral solid maka kemasan yang digunakan harus sesuai
dengan standard kelas A USP.
Kemasan produk awal tidak terbuka sebelumnya dan keseluruhan peracikan dilakukan
dalam satu kali operasi.
Peracikan dan penyimpan harus sesuai dengan kondisi lingkungan yang terdapat pada
label kemasan produk awal. Apabila tidak ada petunjuk dari label produk awal maka
temperatur ruangan harus dikendalikan selama peracikan dan penyimpanan antara bentuk
sediaan solid dan liquid oral. Apabila tidak ada kelembapan spesifik pada label produk
awal maka kelembapan relatif seharusnya tidak lebih dari 75% pada suhu 23 oC untuk
peracikan dan penyimpanan dari bentuk sediaan solid oral (Anonim, 2005(b)).
Untuk pencantuman masa kadaluarsa pada sediaan puyer racikan ulang kita bisa mengacu
ke FDA(Food & Drug Association), seperti BPOM Amerika atau USP(United States
Pharmacope, merupakan farmakope Amerika Serikat) karena belum ada peraturan resmi
tentang hal ini di negara kita dan tidak boleh mencantumkan masa kadaluarsa seperti
yang tertera dalam bentuk sediaan awalnya karena bentuk sediaan obat yang diracik
ulang mempunyai stabilitas yang berbeda dari bentuk sediaan awalnya.
4. Untuk meminimalkan ketidakseragaman bobot maka pembagian puyer hanya boleh dibagi
paling banyak untuk 20 bungkus (sesuai dengan standar Farmakope Indonesia edisi 4).
5. Selalu memperhatikan kelembapan ruangan, suhu ruangan, kebersihan ruangan ketika akan
melakukan peracikan puyer karena ada obat-obat tertentu ada yang bersifat higoskopis
(mudah menyerap lembab) sehingga obat akan rusak jika ruangan terlalu lembab.
Kebersihan, kelengkapan pelindung diri dan sikap harus diperhatikan ketika akan meracik
obat.
6. Bila memungkinkan puyer dapat dibuat langsung dari bentuk sediaan serbuknya/baha bakunya
dan bukan dengan penggerusan dari bentuk sediaan tablet.
7. untuk sediaan yang berbentuk effervescent sebaiknya tidak boleh digerus
Jadi dapat disimpulkan bahwa aman atau tidaknya bentuk sediaan puyer tergantung
dari semua pertimbangan-pertimbangan dan solusi yang sudah dipaparkan dengan
lengkap diatas.
Pustaka :
1. Anonim, 2001, Pharmaceutical Expiration
Dates, Http://www.amaassn. org/ama/pub/category.html
2. Anonim, 2005, Guidance Expiration Dating of Unit-Dose Repackaged Unit: Compliance
Policy Guide, http://www.fda.gov/cder/guidance/index.html
3. Anonim, 2005, The United States Pharmacopeia, section 795, United States Pharmacopeial
Convention,Inc., Rockvill.
4. Clark, T.R., 2002, Beyond Use Dating Of Repackaged Oral Solid, www.ASCP.com
Kupiec, T., 2003, Analitycal Research Laboratories,www.arlok.com