Você está na página 1de 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang

Narkoba sudah menjalar ke segala usia terutama bagi remaja. Narkoba tak
mudah terlepas dari kalangan remaja seperti sudah menjadi suatu kebutuhan, sudah
dianggap wajar dan biasa saja. Pecandu narkoba pada umumnya berusia antara 15
sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. Pada
awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya
dengan rokok, karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar
di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah pergaulan terus meningkat, apalagi
ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi
pecandu narkoba. Awalnya mencoba lalu kemudian mengalami ketergantungan.

Terungkapnya kasus manufaktur Narkoba yang dikategorikan terbesar ketiga di


dunia, telah membuat kita sadar bahwa masalah Narkoba merupakan masalah bagi
kelangsungan hidup masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia untuk menuju kehidupan
aman, makmur, dan sejahtera. Di samping itu, hal ini juga menandakan bahwa
penyalahgunaan Narkoba sudah semakin marak dimana-mana. Tidak hanya di kota-kota
besar saja, namun telah menyebar luas ke pinggiran kota, kota-kota kecil bahkan ke
pedalaman (pedesaan) dengan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal
batas.

Narkoba merupakan sebutan bagi bahan yang tergolong narkotika, alkohol,


psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Disamping lazim dinamakan narkoba, bahan-
bahan serupa biasa juga disebut dengan nama lain, seperti NAZA (Narkotika, alkohol,
dan Zat Adiktif lainnya) dan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya)
(Witarsa, 2006). Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang
Narkotika, zat yang dimaksud dengan narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (Redaksi Penerbit
Asa Mandiri, 2007). Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tahun 1997, yang

1
dimaksud dngan Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat
yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (Redaksi
Penerbit Asa Mandiri, 2007). Sedangkan yang dimaksud dengan Bahan/Zat Adiktif
lainnya adalah bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaannya dapat
menimbulkan ketergantungan. Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung
etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan
cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi, maupun yang diproses
dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran
minuman yang mengandung etanol (Darmono, 2006).[1]

1.2.Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan narkoba dan NAPZA?


2. Bagaimana pengaruh NAPZA terhadap kesehatan manusia?
3. Apa saja dampak buruk penyalahgunaan NAPZA dan kiat-kiat untuk
menghindari NAPZA?
4. Bagaimana pandangan islam terhadap narkoba?
5. Bagaimana hukum bagi pecandu narkoba?

1.3.Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian dari narkoba dan NAPZA.


2. Mengetahui pengaruh NAPZA terhadap kesehatan manusia.
3. Mengetahui dampak buruk dari penyalahgunaan NAPZA dan kiat-kiat untuk
menghindari NAPZA.
4. Mengetahui pandangan islam terhadap narkoba.
5. Mengetahui hukum bagi pecandu narkoba.

1
Wenny Hatu Army Puspita, FKMUI , Dinamika Program , 2008, hlm.25
BAB II
NARKOBA DALAM PANDANGAN KESEHATAN DAN ISLAM

2
2.1.Pengertian Narkoba dan NAPZA

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain


"narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia adalah NAPZA yang merupakan singkatan
dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. NAPZA
merupakan zat-zat yang jika dikonsumsi akan memengaruhi sistem saraf pusat,
sehingga dapat mengubah perasaan dan cara berpikir orang yang menggunakannya.
Pengertian dari setiap istilah pada NAPZA adalah :

1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
(sintesis atau semisintesis) yang menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, dapat mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,
dan dapat menimbulkan ketergantungan.
2. Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis, bukan
narkotika, sebagai psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat
yang menyebabkan perubahan pada aktivitas normal dan perilaku.
3. Zat adiktif adalah zat atau obat yang dapat menyebabkan ketagihan(adiksi).[2]

2.2.Pengaruh NAPZA terhadap Kesehatan Manusia

2.2.1.Jenis NAPZA

Berdasarkan sifat pengaruhnya terhadap system koordinasi, NAPZA dibagi


menjadi 3 golongan, yaitu stimulant, depresan, dan halusinogen.

[2]
Irnaningtyas, BIOLOGI, Erlangga, Jakarta, 2014, hlm.390

1. Golongan stimulant, dapat merangsang system saraf pusat dan menyebabkan


organ tubuh (seperti jantung dan otak) bekerja lebih cepat, sehingga
mengakibatkan penggunanya lebih bertenaga serta cenderung lebih senang dan
gembira untuk sementara waktu. Senyawa yang termasuk golongan stimulan,
yaitu :

3
a. Amfetamin (amphetamine), meliputi dextroamphetamin,
metamphetamine/sabu-sabu, Ritalin, dan Dexedrine. Amfetamin
memberi efek tidak cepat lelah, merasa bersemangat, menurunkan nafsu
makan (tidak lapar), sulit tidur, perasaan mudah tersinggung, gugup,
keringat dingin, dan hipertensi. Penggunaan terus-menerus menyebabkan
kecanduan dan mematikan.
b. Ekstasi (ecstasy), mendorong tubuh untuk melakukan aktivitas yang
melampaui batas maksimum dari kekuatan tubuh. Ekstasi dapat
meneybabkan diare, rasa haus yang berlebihan, hiperaktif, sakit kepala
dan pusing, menggigil, detak jantung lebih cepat, mual, muntah-muntah,
hilang nafsu makan, gelisah, pucat, berkeringat, dehidrasi, kecanduan,
saraf otak terganggu, gangguan hati, serta tulang dan gigi keropos.
c. Kokai (crack, coke) , dapat memicu metabolism sel, menimbulkan efek
adiksi yang sangat kuat, dan mengakibatkan tingkat kematian yang
tinggi.
d. Kafein terdapat dalam biji kopi, daun teh, buah kola, dan guarana. Kafein
merupakan obat perangsang system saraf yang dapat menghilangkan
kantuk untuk sementara, meningkatkan denyut jantung, dan hipertensi.
e. Alcohol (dalam jumlah sedikit), merupakan minuman hasil fermentasi
buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian. [3]

2. Golongan depresan (penenang), menekan/mengurangi kerja system saraf,


sehingga menurunkan aktivitas pemakaiannya menjadi lambat atau tertidur.
Senyawa yang termasuk golongan depresan, yaitu :

[3]
Ibid., hlm.391

a. Opiat, meliputi opium, morfin, heroin, kodoin, dan metadon. Opiat


dapat menimbulkan perasaan high untuk sesaat, lalu nyaman dan
tenang (seperti mengantuk). Opiat menyebabkan kematian jika overdosis
(OD)
b. Barbituran, meliputi berbagai macam obat penenang dan obat tidur.
Contohnya valium, lexotan, mandrax, rohypnol, luminal, dan Librium.
Barbiturat member efek mengantuk sampai tertidur, bergantung pada
dosisnya.

4
c. Alcohol (dalam jumlah yang banyak), menyebabkan pandangan menjadi
kabur, bicara tidak jelas, pusing hingga tak sadarkan diri, menghambat
kemampuan mental, dan menurunkan daya ingat.
d. Ganja, digunakan sebagai pereda rasa sakit (misalnya pada penderita
kanker) di bidang kedokteran. Penyalahgunaan ganja dalam jumlah
banyak berakibat denyut nadi meningkat, gangguan keseimbangan dan
koordinasi tubuh, kehilangan konsentrasi, ketakutan, mudah panic,
kebingungan, mengantuk, menurunkan jumlah sperma pada laki-laki dan
pada wanita siklus menstruasi menjadi tidak teratur, ketergantungan,
serta kecanduan.[4]

3. Golongan halusinogen, bersifat mengacaukan system saraf pusat, memberikan


pengaruh inhalasi (melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada) yang
berlebihan, dan lama-kelamaan membuat perasaan khawatir yang berlebihan
(paranoid). Contohnya ganja (dalam jumlah yang sedikit), bunga kecubung, lem,
bensin, dan jamur kotoran sapi (contohnya Panaelous cyanes yang mengandung
zar psilobisin dan psilosin).[5]

[4]
Ibid., hlm 391

[5]
Ibid,. hlm.392

2.2.2 Bahaya Narkoba

Persoalan narkoba merupakan persoalan yang harus ditangani secara


sungguh-sungguh oleh seluruh komponen masyarakat bukan saja penanganan
bagi penggunannya, melainkan juga perkembangan bisnis narkoba yang di
iIndonesia sudah mulai menggelisahkan.

Dalam narkoba terkandung 3 sifat yang sangat jahat yaitu habitual,


adiktif, dan toleran. Habitual merupakan sifat pada narkoba yang membuat

5
pemakainya akan selalu teringat, terkenang, dan terbayang sehingga cenderung
untuk selalu mencari dan rindu untuk terus memakai narkoba. Adiktif
merupakan sifat narkoba yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus
dan tidak dapat menghentikannya. Penghentian atau pengurangan pemakaian
narkoba akan menimbulkan efek putus zat atau withdrawal effect, yaitu
perasaan sakit luar biasa atau sakaw. Penderita yang mengalami sakkaw itu
biasanya mengatasi rasa sakitnya melalui 2 cara :

1. Kembali mengonsumsi jenis narkoba yang sama, Orang seperti ini


disebut junkies atau pemadat atau pecandu. Bila sedang memakai
narkoba orang tersebut tampak normal, tetapi bila sedang tidak
memakai nampak gelisah, tidak normal, lesu, tidak fit dan tidak
pecaya diri.
2. Bila tidak kembali memakai tetapi juga tidak tahan rasa sakit, orang
tersebut akhirnya mencari jalan pintas, yaitu bunuh diri.

Toleran merupakan sifat narkoba yang membuat tubuh pemkainya


semakin lama semakin menyatu dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan
narkoba dan itu sehingga menuntut dosis pemakaian yang semakin tinggi.Bila
dosis tidak dinaikkan , narkoba tersebut tidak akan bereaksi, tetapi akan
membuat pemakainnya mengalami sakaw. Maka dosis pemakaiannya harus
sama dengan dosis pemakaian sebelumnya .

Bila dilihat pada kerusakan dan perubahan sikap maka pecandu narkoba
akan mengalami perubhana yang justru dapat membahayakan diri dan
lingkungan, yaitu:

1. Tergila-gila pada narkoba. Lebih mencintai narkoba daripada diri


sendiri, orang tua dan saudara-saudaranya.
2. Sulit melepaskan diri dari jerat narkoba, karena akan mengalami
penderitaan luar biasa (sakaw).
3. Dosis pemakaiannya akan bertambah banyak, hingga kematian
menjemput.
4. Sifat dan sikap berubah menjadi eksklusif, egois, sombong, asocial,
psikosis.

6
5. Mengalami kerusakan organ tubuh (hati, paru, ginjal, otak, dan lain
lain)
6. Terjangkit penyakit mematikan (HIV/AIDS, sifilis dan sebagainya).[6]

2.2.3.Penyakit-Penyakit yang Ditimbulkan Narkoba

Dampak NAPZA, memang sangatlah berbahaya bagi manusia. NAPZA


dapat merusak kesehatan manusia baik secara fisik, emosi, maupun perilaku
pemakainya. Bahkan, pada pemakaian dengan dosis berlebih atau yang dikenal
dengan istilah over dosis (OD) bisa mengakibatkan kematian tapi masih saja
terdapat orang yang menyalahgunakannya.

Bila narkotika digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran


yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah
yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya
kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung,
paru-paru, hati dan ginjal.Dampak penyalahgunaan narkotika pada seseorang
sangat tergantung pada jenis narkotika yang dipakai, kepribadian pemakai dan
situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkotika dapat
terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.

[6]
Joyo Nur Suryanto Gono, Bahaya Penyalahgunaan dan Pencegahannya.UNDIP,
Semarang, hlm 82

a. Dampak Fisik

1. Gangguan Pada Otak

Salah satu akibat narkotika adalah mempengaruhi kerja otak.


Pemakaian narkoba sangat mempengaruhi kerja otak yang berfungsi
sebagai pusat kendali tubuh dan mempengaruhi seluruh fungsi tubuh.
Karena bekerja pada otak, narkoba mengubah suasana perasaan, cara
berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Itulah sebabnya narkoba
disebut zat psikoaktif. Ada beberapa macam narkoba yang berpengaruh

7
pada otak. Ada yang menghambat kerja otak, disebut depresansia,
sehingga kesadaran menurun dan timbul kantuk. Contoh golongan ini
adalah opioida yang di masyarakat awan dikenal dengan candu, morfin,
heroin dan petidin. Kemudian obat penenang atau obat tidur (sedativa
dan hipnotika) seperti pil BK, Lexo, Rohyp, MG dan sebagainya, serta
alkohol.

2. Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah (Kardiovaskuler)

Penyalahgunaan narkoba juga bisa memberi efek negatif pada


jantung, efek terburuk adalah kematian. Efeknya terhadap jantung bisa
beragam mulai dari gangguan ringan hingga berat, tergantung dosis yang
dikonsumsi dan seberapa sering narkoba dikonsumsi. Ada tiga zat
narkoba jenis kokain, amfetamin, dan ekstasi dapat meningkatkan irama
jantung lebih cepat sehingga bisa menyebabkan berhentinya otot jantung.
Sedangkan narkoba jenis lainnya yang dapat meningkatkan halusinasi
penggunanya.

3. Gangguan Kulit (Dermatologis)

Untuk pengguna narkoba jenis suntik umumnya akan mengalami


gangguan yang berhubungan dengan kulit. Yang paling sering terjadi
adalah gangguan kulit layaknya infeksi pada kulit. Biasanya gangguan
pada kulit terjadi pada mereka yang menggunakan narkoba dan bisa
dilihat dari bekas lebam di tangan akibat suntikan dari narkoba
tersebut.Selain itu, karena narkoba mudah diserap oleh semua bagian
tubuh termasuk kulit, kulit akan menjadi lebih kering dan timbul kerutan
yang cepat atau penuaan dini. Pengguna jarum suntik juga menghadapi
resiko terkena abses. Abses dapat terjadi diakibatkan oleh jenis narkoba
yang mengikis pembuluh darah (iritasi) atau teknik penyuntikan yang
buruk sehingga terjadi pembengkakan pada pembuluh darah.Sebab-sebab
terjadinya abses selain disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang

8
salah, bisa juga disebabkan oleh adanya bakteri pada drugs itu, atau
karena alat suntik yang tidak bersih.

4. Gangguan Paru-Paru (Pulmoner)

Tidak hanya bahaya merokok yang dapat menganggu paru paru.


Narkoba juga dapat mengganggu kesehatan paru paru di mana menjadi
organ yang berfungsi untuk kita bernafas. Asap dari narkoba seperti
ganja terdiri dari berbagai macam bahan kimia beracun yang bisa
mengiritasi saluran paru-paru. Jika sering menghirup asap dari narkoba,
risikonya adalah menjadi sesak napas, batuk, bronchitis dan infeksi paru-
paru lebih tinggi tingkat kronisnya. Asap tersebut mengandung
karsinogen yang berpotensi meningkatkan risiko terkena kanker paru-
paru.Sama seperti rokok, paru paru pemakai narkoba juga akan
menghitam.

5. Gangguan Pada Ginjal dan Hati

Fungsi dari ginjal dan hati adalah untuk menyaring atau


menetralkan serta mengeluarkan berbagai racun-racun pada tubuh. Tapi,
kedua proses penyaringan dan pengeluaran racun-racun tersebut dapat
terganggu karena penggunaan narkoba. Semua pemakai narkoba
terutama heroin, ekstasi, kokain, dan shabu-shabu, cenderung terkena
penyakit gagal ginjal, dan gagal fungsi hati. Kondisi tersebut
menyebabkan hati dan ginjal harus bekerja sangat keras, sehingga
mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami kerusakan atau
gangguan.

6. Gangguan Pada Mata

Narkoba juga dapat menyebabkan kelainan mata sehingga mata


memerah dan bahkan dalam dosis dan pemakaian jangka panjang
narkoba membuat mata seperti ada uratnya. Dampak terhadap mata yaitu
mata terlihat merah, bola mata menjadi besar, dan penglihatan mata
terasa kabur dan samar.

9
b. Dampak Jiwa/ Rohani

Penggunaan narkoba jangka panjang telah banyak dihubungkan


dengan berbagai penyakit mental. Beberapa efek bahaya narkoba
untuk mental di antaranya adalah merasakan halusinasi sementara,
biasanya berupa sensasi atau gambaran yang terlihat nyata padahal
tidak terjadi. Ada pula yang menghubungkan penggunaan narkoba
dengan penyakit mental skizofrenia. Disebutkan bahwa beberapa
obat diyakini bertanggung jawab atas munculnya gejala skizofrenia,
termasuk di dalamnya adalah kanabis dan kokain.
Paranoid atau yang lebih sering disebut dengan parno juga sering
terjadi pada mereka yang sudah kecanduan narkoba. Pengguna akan
sering merasa takut secara berlebihan, sensitif dan mudah sekali
tersinggung. Akibat lain dari paranoid ini adalah bisa membuat
penggunanya menjadi tidak percaya dengan ucapan atau saran orang
lain. Selain itu, bahaya narkoba seperti ganja juga bisa menyebabkan
gangguan mental seperti misalnya depresi, gelisah dan meningkatkan
keinginan untuk bunuh diri pada kalangan remaja.

2.3.Dampak Buruk Penyalahgunaan NAPZA dan Kiat Menghindari NAPZA

2.3.1.Dampak Buruk Penyalahgunaan NAPZA

1. Gangguan fisik (fisioneurologik)


a. Toleransi tubuh, dalam pemakaian jangka panjang jumlah zat yang
sama tidak mampu menghasilkan rasa atau akibat yang sama.
b. Gejala pemberhentian pemakaian obat adalah rasa sakit di sekujur
tubuh seperti flu berat.
c. Mempercepat atau memperlambat denyut nadi, jantung, dan paru-
paru yang dapat mengakibatkan kematian.

2. Psikologis
a. Kemampuan berpirikir rasional menurun drastic
b. Ketergantungan psikologis.
c. Gangguan mental dan emosional.

3. Ekonomi

10
a. Membutuhkan uang yang sangat besar untuk memenuhi
ketergantungan terhadap obat-obatan .
b. Negara dan masyarakat dirugikan dalam berbagai aspek, seperti
keamanan, biaya kesehatan, dan kesempatan pendidikan.\

4. Sosial
a. Rusaknya hubungan kekeluargaab dan pertemanan.
b. Berpengaruh pada kesehatan masyarakan (penularan HIV, hepatitis
B, tuberculosis, overdosis, dan kematian).

2.3.2.Kiat-Kiat Menghindari Penyalahgunaan NAPZA

1. Tidak mencoba-coba menggunakan obat-obat terlarang.


2. Meyakinkan diri tidak membutuhkan NAPZA dalam menghadapi persoalan
hidup.
3. Membatasi pergaulan dengan kelompok pengguna NAPZA.
4. Memberikan 5 penanggulangan narkoba diantaranya :
a. Promotif, ditujukan kepada masyarakat yang belum memakai
narkoba atau bahkan belum mengenal narkoba.Pelaku program
promotif biasanya lembaga kemasyarakatan dan diawasi oleh
pemerintah.
b. Preventif, suatu program pencegahan yang ditujukan kepada
masyarakat yang belum mengenal narkoba dan mengetahui seluk-
beluk narkoba sehingga tidak tertarik untuk menyalahgunakannya.
c. Kuratif
Tindakan kuratif, tindakan ini diambil setelah terjadinya tindakan
penyimpangan pemakaian narkoba. Tindakan ini ditujukan untuk
memberikan penyadaran kepada para pelaku penyimpangan agar
dapat menyadari kesalahannya serta mampu memperbaiki
kehidupannya, sehingga di kemudian hari tidak lagi mengulangi
kesalahannya.
d. Rehabilitative
Rehabilitasi adalah upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang
ditujukan kepada pemakai narkoba yang sudah menjalani program
kuratif. Tujuannya agar pecandu narkoba tidak memakai narkoba lagi
dan bebas dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh bekas
pemakaian narkoba, seperti HIV/AIDS, hepatitis, sifilis serta

11
kerusakan fisik dan kerusakan mental yang lain. Oleh karena itu,
pengobatan narkoba tanpa rehabilitasi tidak bermanfaat.
e.
Represif [7]
Tindakan represif yaitu suatu tindakan aktif yang dilakukan pihak
berwajib pada saat penyimpangan pemakaian narkoba terjadi agar
penyimpangan yang sedang terjadi dapat dihentikan.

[7]
Subagyo,Partodihardjo, Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaannya, Esensi,
Jakarta, 2007, hlm.100

2.4. Narkoba dalam Pandangan Islam

Seberapa besar bahaya narkoba, berikut ini akan dibahas bahaya narkoba dari
pandangan Islam. Allah Taala berfirman:

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,
yang menyuruh mereka mengerjakan yang maruf dan melarang mereka dari
mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-
beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang
beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang
yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Qs. Al-Araaf: 157).

12
Sudah kita ketahui bersama dampak dari bahaya narkoba, yakni dapat merusak
jiwa dan akal seseorang. Dalam ayat di atas Allah menghalalkan segala yang baik dan
mengharamkan segala yang buruk.

2.4.1.Dalil Pengharaman Narkoba

Islam diturunkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Taala sebagai


agama yang rahmatan lil alamin, agama yang sempurna dan membawa kita pada
jalan kebenaran. Artinya, Islam telah mengatur segala urusan, baik urusan
duniawi, maupun urusan akhirat agar umatnya tidak tersesat dan salah bertindak
dalam menjalankan kehidupannya.

Islam menggunakan Al-Quran dan Hadis sebagai dasar pedoman hidup


seluruh umatnya. Segala urusan, baik urusan yang kecil hingga urusan yang
besar, baik hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan
penciptanya, bahkan hubungan manusia dengan makhluk lainnya telah diatur
didalam Al-Quran dan Hadis.

Masalah narkoba, walaupun tidak secara detail diatur dalam Al-Quran,


tetapi tetap diatur dalam hukum Islam berdasarkan kajian-kajian ulama besar
Islam yang memang mengerti dan memahami tata cara menentukan halal dan
haram dengan menyamakan atau menetapkan hukum suatu perkara yang baru,
yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan sebab,
manfaat, bahaya dengan perkara terdahulu sehingga dihukum sama (Qiyas).

Para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan


dalam keadaan darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Narkoba sama
halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para
ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk
dikonsumsi walau tidak memabukkan.

Dalil-dalil yang mendukung haramnya narkoba:

Pertama: Allah Taala berfirman,

13
Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah
kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Al-
Baqarah: 195)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan


harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang
berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
(Qs. An-Nisa: 29).

Dua ayat di atas menunjukkan haramnya merusak diri sendiri


(membinasakan diri sendiri). Narkoba bersifat merusak badan dan akal
seseorang, sehingga dari ayat tersebut dapat dapat disimpulkan bahwa narkoba
itu haram.

Kedua, dari Ummu Salamah, ia berkata yang artinya: Rasulullah


shallallahu alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan
mufattir (yang membuat lemah). (HR. Abu Daud).Dalam istilah para ulama,
narkoba termasuk dalam pembahasan mufattirot (pembuat lemah) atau
mukhoddirot (pembuat mati rasa).

Ketiga, dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda


yang artinya: Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung

14
hingga mati, maka dia di neraka Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di
(gunung dalam) neraka itu, kekal selama lamanya. Barangsiapa yang sengaja
menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap ditangannya dan dia
menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama
lamanya. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu
akan ada ditangannya dan dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam dalam
keadaan kekal selama lamanya. (HR. Bukhori dan Muslim).

Kelima: Dari Ibnu Abbas, Rasul shallallahu alaihi wa sallam


bersabda,Tidak boleh memberikan dampak bahaya, tidak boleh memberikan
dampak bahaya (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6:
69, Al Hakim 2: 66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih). Dalam hadits ini
dengan jelas terlarang memberi mudarat pada orang lain dan narkoba termasuk
dalam larangan ini.

Hadis ini menunjukkan akan ancaman yang amat keras bagi orang yang
menyebabkan dirinya sendiri binasa. Mengkonsumsi narkoba tentu menjadi
sebab yang bisa mengantarkan pada kebinasaan karena narkoba hampir sama
halnya dengan racun. Sehingga hadits ini pun bisa menjadi dalil haramnya
narkoba.

2.4.2.Hukum Mengkonsumsi dan Memanfaatkan Ganja

1. Mengkonsumsi Ganja sebagai Khamr

Seluruh ulama sepakat bahwa mengkonsumsi suatu zat yang merupakan


khamr hukumnya adalah haram, tidak boleh. Termasuk juga dalam dalam
mengkonsumsi ganja dengan cara membakarnya rokok dan menghirup asapnya
atau cara lain untuk memperoleh efek candu.

2. Mengkonsumsi Ganja sebagai Bumbu Masakan

Daun ganja itu tetap haram hukumnya, meski digunakan bukan untuk
mabuk. Karena secara umum telah digunakan sebagai zat yang memabukkan.

15
Ketika menjadi lintingan yang dihirup asapnya, daun itu adalah khamr dan
hukumnya haram dihirup serta najis. Maka sejak masih jadi daun di pohonnya,
benda itu sudah dianggap khamr dan najis, meski belum memberi efek mabuk.
Ketika digunakan untuk bumbu penyedap, tetap terhitung sebagai khamr yang
haram hukumnya. Meski tidak menghasilkan efek mabuk.

Logikanya, seperti logika yang digunakan untuk menajiskan tubuh


anjing. Meski hadits yang menetapkan kenajisan anjing hanya sampai sebatas air
liurnya saja, namun para ulama yang menajiskan tubuh anjing mengambil
kesimpulan bila air liurnya najis, maka tempat asal air liur itu najis juga. Maka
dalam hal ini perut anjing sebagai sumber air liur hukumnya najis. Dan kalau
perut anjing itu najis, maka apapun yang keluar dari perutnya juga najis. Air
keringat anjing sumbernya juga dari perut, maka air keringatnya najis. Dan air
keringat itu keluar lewat pori-pori, kulit, daging, otot dan lainnya, maka
semuanya juga ikut najis.

Adapun bila masakan yang menggunakan daun ganja sebagai penyedap


itu memberikan efek iskar (mabuk), maka hal tersebut jelas haram.

3. Mengkonsumsi Ganja sebagai Obat

Dari kalangan madzhab Asy Syafiiyah, Imam Nawawi Rahimahullah


berkata, Seandainya dibutuhkan untuk mengkonsumsi sebagian narkotik untuk
meredam rasa sakit ketika mengamputasi tangan, maka ada dua pendapat di
kalangan Syafiiyah. Yang tepat adalah dibolehkan."

Al Khatib Asy Syarbini yang juga dari kalangan Syafiiyah berkata,


Boleh menggunakan sejenis narkotik dalam pengobatan ketika tidak didapati
obat lainnya walau nantinya menimbulkan efek memabukkan karena kondisi ini
adalah kondisi darurat."Kaedah yang digunakan dalam pembolehan ini adalah
kaedah fiqih yang berbunyi, Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang
terlarang."

16
2.5.Hukum Pecandu Narkoba

Jika jelas narkoba itu diharamkan, para ulama kemudian berselisih dalam tiga
masalah: (1) bolehkah mengkonsumsi narkoba dalam keadaan sedikit, (2) apakah
narkoba itu najis, dan (3) apa hukuman bagi orang yang mengkonsumsi narkoba.

Menurut jumhur- mayoritas ulama, narkoba itu suci (bukan termasuk najis),
boleh dikonsumsi dalam jumlah sedikit karena dampak muskir (memabukkan) yang
ditimbulkan oleh narkoba berbeda dengan yang ditimbulkan oleh minuman yang
memabukkan. Bagi yang mengkonsumsi narkoba dalam jumlah banyak, maka dikenai
hukuman tazir (tidak ditentukan hukumannya), bukan dikenai had (sudah ada
ketentuannya seperti hukuman pada pezina). Kita dapat melihat hal tersebut dalam
penjelasan para ulama madzhab berikut:

Dari ulama Hanafiyah, Ibnu Abidin berkata, Al banj (obat bius) dan
semacamnya dari benda padat diharamkan jika dimaksudkan untuk mabuk-mabukkan
dan itu ketika dikonsumsi banyak. Dan beda halnya jika dikonsumsi sedikit seperti
untuk pengobatan.

Dari ulama Malikiyah, Ibnu Farhun berkata, Adapun narkoba (ganja), maka
hendaklah yang mengkonsumsinya dikenai hukuman sesuai dengan keputusan hakim
karena narkoba jelas menutupi akal. Alisy salah seorang ulama Malikiyah- berkata,
Had itu hanya berlaku pada orang yang mengkonsumsi minuman yang memabukkan.
Adapun untuk benda padat (seperti narkoba) yang merusak akal namun jika masih

17
sedikit tidak sampai merusak akal-, maka orang yang mengkonsumsinya pantas diberi
hukuman. Namun narkoba itu sendiri suci, beda halnya dengan minuman yang
memabukkan.

Dari ulama Syafiiyah, Ar Romli berkata, Selain dari minuman yang


memabukkan yang juga diharamkan yaitu benda padat seperti obat bius (al banj),
opium, dan beberapa jenis zafaron dan jawroh, juga ganja (hasyisy), maka tidak ada
hukuman had (yang memiliki ketentuan dalam syariat) walau benda tersebut dicairkan.
Karena benda ini tidak membuat mabuk (seperti pada minuman keras, pen). Begitu
pula Abu Robi Sulaiman bin Muhammad bin Umar yang terkenal dengan Al
Bajiromi- berkata, Orang yang mengkonsumsi obat bius dan ganja tidak dikenai
hukuman had berbeda halnya dengan peminum miras. Karena dampak mabuk pada
narkoba tidak seperti miras. Dan tidak mengapa jika dikonsumsi sedikit. Pecandu
narkoba akan dikenai tazir (hukuman yang tidak ada ketentuan pastinya dalam
syariat).

Sedangkan ulama Hambali yang berbeda dengan jumhur dalam masalah ini.
Mereka berpendapat bahwa narkoba itu najis, tidak boleh dikonsumsi walau sedikit, dan
pecandunya dikenai hukuman hadd seperti ketentuan pada peminum miras-. Namun
pendapat jumhur yang kami anggap lebih kuat sebagaimana alasan yang telah
dikemukakan di atas.

2.5.1.Mengkonsumsi Narkoba dalam Keadaan Darurat

Kadang beberapa jenis obat-obatan yang termasuk dalam napza atau


narkoba dibutuhkan bagi orang sakit untuk mengobati luka atau untuk meredam
rasa sakit. Ini adalah keadaan darurat. Dan dalam keadaan tersebut masih
dibolehkan mengingat kaedah yang sering dikemukakan oleh para ulama,
Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, Seandainya dibutuhkan untuk


mengkonsumsi sebagian narkoba untuk meredam rasa sakit ketika
mengamputasi tangan, maka ada dua pendapat di kalangan Syafiiyah. Yang
tepat adalah dibolehkan.[8]

18
[8]
An Nawazil fil Asyribah, Zainal Abidin bin Asy Syaikh bin Azwin Al Idrisi Asy
Syinqithiy, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 205-229.

BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Narkoba


mengandung zat-zat yang jika dikonsumsi akan memengaruhi sistem saraf pusat,
sehingga dapat mengubah perasaan dan cara berpikir orang yang menggunakannya.

Berdasarkan sifat pengaruhnya terhadap system koordinasi, dibagi menjadi 3


golongan, yaitu golongan stimulant yang dapat merangsang system saraf pusat dan
menyebabkan organ tubuh bekerja lebih cepat, sehingga mengakibatkan penggunanya
lebih bertenaga serta cenderung lebih senang dan gembira untuk sementara waktu,
golongan depresan yang dapat menekan/mengurangi kerja sistem saraf, sehingga
menurunkan aktivitas pemakainya menjadi lambat atau tertidur, dan golongan
halusinogen yang bersifat mengacaukan sistem saraf pusat, memberikan pengaruh
inhalasi (melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada) dan membuat perasaan
khawatir yang berlebihan.

Dampak buruk yang ditimbulkan dapat berupa gangguan fisik seperti rasa sakit
di sekujur tubuh, psikologis seperti gangguan mental dan emosional, ekonomi yang
menurun, hubungan sosial yang rusak. Untuk menghindari penyalahgunaan narkoba
dapat dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitative, dan represif.

Narkoba menurut pandangan Islam, walaupun tidak secara detail diatur dalam
Al-Quran, tetapi tetap diatur dalam hukum Islam berdasarkan kajian-kajian ulama
besar Islam yang memang mengerti dan memahami tata cara menentukan halal dan
haram dengan menyamakan atau menetapkan hukum suatu perkara yang baru, yang
belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan sebab, manfaat, bahaya
dengan perkara terdahulu sehingga dihukum sama (Qiyas). Para ulama sepakat
haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat.

19
Menurut mayoritas ulama, narkoba itu suci, boleh dikonsumsi dalam jumlah
sedikit karena dampak muskir (memabukkan) yang ditimbulkan oleh narkoba berbeda
dengan yang ditimbulkan oleh minuman yang memabukkan. Bagi yang mengkonsumsi
narkoba dalam jumlah banyak, maka dikenai hukuman tazir (tidak ditentukan
hukumannya), bukan dikenai hadd (sudah ada ketentuannya seperti hukuman pada
pezina).

3.2. Saran

Penyalahgunaan narkoba terutama pada remaja adalah ancaman yang sangat


besar bagi keluarga dan suatu bangsa. Hukum penggunaan narkoba yang haram kecuali
dalam keadaan darurat menunjukkan bahwa narkoba memiliki banyak dampak negatif.
Masalah pencegahan penyalahgunaan narkoba menjadi tugas kita bersama. Upaya
pencegahan penyalahgunaan narkoba yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya
dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut. Peran orang tua
dalam keluarga dan juga peran pendidik sangatlah besar bagi pencegahan
penaggulangan terhadap narkoba .

20
21