Você está na página 1de 21

1.

FUNGSI DAN MANFAAT AGAMA BAGI MANUSIA


A. Pengertian Agama
Agama memilik arti penting bagi manusia agar manusia tidak tersesat di dalam menjalani
kehidupan di dunia. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip
kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran
kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.Kata agama
sendiri memiliki banyak pengertian karena agama didasarkan pada bathindan setiap orang memiki
pengertian sendiri terhadap agama. Dasar kata agama sendiri berbedamenurut berbagai bahasa.
Dalam bahasa Sansekerta agama berarti "tradisi".Kata agama juga berasal dari kata Sanskrit. Kata
itu tersusun dari dua kata, a=tidak dangam=pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat,
diwarisi secara turun temurun darisatu generasi ke enerasi lainnya.Selanjutnya dalam bahasa Arab
dikenal kata din yang dalam bahasa semit berartiundang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab
kata ini berarti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Pengertian ini juga
sejalan dengan pengertian agama yangdidalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan
hukum, yang harus dipatuhi oleh penganut agama yang bersangkutan.Adapun kata religi berasal dari
bahasa latin. Menurut satu pendapat, asal kata religiadalah relegere yang mengandung arti
mengumpulkan atau membaca. Pengertian demikian ini juga sejalan dengan isi agama yang
mengandung kumpulan cara-cara mengabdi pada Tuhanyang terkumpul dalam kitab suci yang harus
dibaca.
B. Fungsi Agama
Manusia telah diberikan akal dan hati oleh Tuhan. Manusia diberi akal pikiran agar manusia
mampu berpikir dan menyadari kekuasaan Tuhan. Namun pikiran manusia yangdiberikan Tuhan
sangat terbatas dan memiliki banyak kelemahan, oleh sebab itu manusiadiberikan hati untuk dapat
merasakan kekuasaan Tuhan secara bathiniah. Hati dan pikirammerupakan 2 hal yang membuat
manusia menjadi makhluk Tuhan yang paling sempurna yangmembedakan manusia dengan makhluk
lainnya. Maka dari itu manusia dituntut untuk dapatmenggunakan hati dan pikirannya untuk menalari
kebesaran Tuhan dan keagungan agama-Nya.Sesuai dengan pengertian agama yaitu peraturan-
peraturan yang merupakan hukum, yang harus
dipatuhi oleh penganut agama yang bersangkutan, agama memiliki fungsi untuk mengatur kehidupan
manusia tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan yang telah Tuhan berikankepadanya
sehingga manusia dapat mencapai kebahagian baik di dunia maupun di akhirat kelak.Fungsi agama
jika dilihat dari dari segi sains sosial mempunyai dimensi yang lain sepertiyang diuraikan di bawah
ini:1. Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.Maksud dari pernyataan bahwa
agama memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia adalah agama sentiasanya
memberi penerangan serta petunjuk kepada seluruhumat manusia di dunia(secara keseluruhan), dan
juga kedudukan manusia di dalam dunia.Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai
melalui indra manusia karenaketerbatasan yang dimiliki oleh indra manusia, melainkan sedikit
penerangan daripada falsafah.Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwa dunia
adalah ciptaan Allah Swt.dan setiap manusia harus menaati Allah Swt.2.Menjawab berbagai
pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.Manusia telah diberikan akal pikiran oleh Tuhan.
Namun, sebagian pertanyaan yang terusditanyakan oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak
terjawab oleh akal manusia itusendiri. Misalnya adalah dari mana manusia itu datang sebelum hidup
di dunia ini? Mengapamanusia itu harus hidup di dunia ini? Siapakah yang menghendaki kehidupan
manusia di duniaini? Untuk apa manusia hidup di dunia ini? Mengapa setelah manusia terlanjur
senang hidup didunia dia harus mati; padahal tidak ada seorangpun yang senang mati? Siapa
gerangan yangmenghendaki kematian manusia?Kemana nyawa manusia setelah mati dan mayatnya
dikubur?.Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu
untuk menjawabnya. Namun karena keterbatasan akal pikiran manusai maka itulah fungsi agama
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini.3. Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu
kelompok manusia.Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini
adalahkarena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama,
melainkantingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama sehingga timbul rasa persaudaraan
diantar pemeluk agama.

4.Memainkan fungsi peranan sosial.Semua agama di dunia ini menyarankan kebaikan. Dalam ajaran
agama sendirisebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya.
Maka inidikatakan agama memainkan fungsi peranan sosial.
C.Manfaat Agama
Secara singkat manfaat agama bagi manusia adalah:1. Dapat mendidik jiwa manusia menjadi
tenteram, sabar, tawakkal dan sebagainya.Lebih-lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan.2.
Dapat memberi modal kepada manusia untuk menjadi manusia yang berjiwa besar,kuat dan tidak
mudah ditundukkan oleh siapapun.3. Dapat mendidik manusia berani menegakkan kebenaran dan
takut untuk melakukankesalahan.
4. Dapat memberi sugesti kepada manusia agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifatutama seperti
rendah hati, sopan santun, hormat-menghormati dan sebagainya. Agama melarangorang untuk tidak
bersifat sombong, dengki, riya dan sebagainya.
D. Kesimpulan
Tuhan telah menurunkan agama-Nya sebagai pedoman hidup manusia dalam
menjalanikehidupan di dunia dan agama berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia
sehinggatercapainya kebahagian ketika di dunia dan di akhirat kelak ketika manusia telah kembali
pada- Nya.Agama merupakan fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan agama
untuk menentramkan jiwa manusia serta agama bermanfaat untuk membersihkan hati dan jiwa
manusiasehingga menjasi manusia yang berbudi karena agama mengajarkan kebaikan kepada
umatnya.

3. Konsep Tuhan dalam Agama Nashrani

Nashrani berasal dari kata Nazharet yaitu tempat kelahiran Nabi Isa. Sedangkan kata
Kristen berasal dari Kristus Juru Selamat yang merupakan sebutan yang dikarang secara
dusta oleh Saulus dan para pengikutnya.
Agama Nashrani atau yang lebih dikenal dengan agama Kristen termasuk salah satu
dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian
dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus dari Nazaret ke
surga, sebagaimana dijelaskan dalam Perjanjian Baru, umat Kristen
meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam
dari Perjanjian Lama (atau Kitab suci Yahudi). Kekristenan
adalah monoteisme, yang percaya akan tiga pribadi (secara teknis dalam
Bahasa Yunani hypostasis) Tuhan atau Tritunggal dipertegas pertama kali
pada Konsili Nicea Pertama (325) yang dihimpun oleh Kaisar Romawi
Konstantin I.
Agama Kristen terbagi menjadi tiga agama baru, yang masing-masing memiliki gereja
dan tokoh agama sendiri-sendiri yaitu : Katholik, Ortodox ,dan Protestan. Agama Katholik
adalah agama Kristen yang paling tua. Katholik sendiri berarti orang-orang umum, karena
mereka mengaku sebagai induk segala gereja dan penyebar missi satu-satunya di dunia.
Disebut pula dengan Gereja Barat atau Geraja Latin, karena mereka mendominasi Eropa
Barat, yaitu mulai dari Italia, Belgia, Prancis, Spanyol, Portugal dan lain-lainnya. Disebut
juga sebagai Gereja Petrus atau Kerasulan karena mereka mengaku bahwa yang membangun
agama mereka adalah Petrus, murid Nabi Isa yang paling senior.
Agama Katholik meyakini bahwa Roh Qudus tumbuh dari Tuhan Bapa dan Anak
secara bersamaan. Mereka juga berkeyakinan bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan Anak memiliki
kesempurnaan yang sama. Bahkan mereka meyakini bahwa Yesus atau Tuhan Anak ikut
bersama-sama dengan Tuhan Bapa mencipta langit dan bumi. Adapun agama Ortodox yang
disebut pula sebagai Gereja Timur atau Gereja Yunani adalah agama Kristen yang
menyempal dari Kristen Katholik pada tahun 1054 M.
Agama Ortodox meyakini bahwa Roh Qudus hanya tumbuh dari Tuhan Bapa saja,
dan mereka meyakini bahwa Tuhan Bapa lebih utama daripada Tuhan Anak. Sedangkan
agama Protestan adalah pengikut Martin Luther yang menyempal dari agama Katholik karena
menganggap banyak hal yang tidak masuk akal dari agama Katholik. Disebut Protestan
karena sikap mereka yang memprotes Gereja lama atau kaum Katholik. Mereka menyebut
dirinya dengan Gereja Penginjil karena pengakuan mereka yang hanya mau mengikuti Injil
semata. Terkadang mereka disebut dengan Kristen saja. Agama Protestan di antara agama
yang melarang membuat patung dan gambar untuk disembah. Walaupun demikian, mereka
tetap meyakini ajaran trinitas yang intinya adalah Tuhan itu satu tetapi terdiri dari tiga
oknum.
Secara garis besar, inti kepercayaan umat Kristen adalah Tritunggal, kepercayaan
bahwa Allah itu tiga pribadi yang adalah satu: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh
Kudus.Sebellius (meninggal pada tahun 215) mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Esa,
Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah modalitas atau cara menampakkan diri Tuhan Allah Yang
Esa itu. Semula, yaitu di dalam P.L Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah atau
modus Bapa, yaitu sebagai pencipta dan pemberi hukum. Sesudah itu Tuhan Allah
menampakkan dirinya di dalam wajah Anak, yaitu sebagai juru Selamat yang melepaskan
umatNya, yang dimulai dari kelahiran Kristus. Hingga kenaikanNya ke Sorga. Akhirnya
Tuhan Allah sejak hari pentekusta menampakkan diriNya di dalam wajah Roh Kudus, yaitu
sebagai Yang Menghidupkan. Jadi ketiga sebutan tadi adalah suatu urut-urutan penampakan
Tuhan di dalam sejarah (Hadiwijono, 2007).
Beberapa umat Kristen modern telah berbicara tentang tiga pikiran, jiwa atau kekuatan
yang semuanya adalah bagian dari Allah yang sama dan berada dalam keadaan harmonis:
Allah Bapa mengasihi Allah putra dengan Roh Kudus sebagai kekuatan yang mempersatukan
mereka. Umat Kristen lain berpendapat bahwa akan lebih mudah dengan mengatakan bahwa
Allah mempunyai tiga peran: Allah dalam diri-Nya sendiri adalah Bapa, Putra, dan Roh
Kudus(Keene, 2006). Dengan demikian, konsep keesaan Tuhan dalam agama Kristen belum
jelas dan masih diperdebatkan di antara umat Kristiani sendiri.
Dalam sejarah ketuhanan kaum Nashrani, penuhanan Yesus baru dilakukan pada akhir
Abad II Masehi. Kemudian pada Konsili di Necea tahun 325 Tuhan Anak disejajarkan dengan
Tuhan Bapa. Selanjutnya pada Abad III Roh Qudus dipertuhankan. Pada konsili di Ephese
Bunda Maria disejajarkan dengan Trinitas oleh penganut Katholik.
Konsep ketuhanan agama Kristen secara kesuluruhan adalah tidak masuk akal, bahkan
masing-masing tokoh agama mereka memiliki penafsiran yang berbeda tentang Trinitas ini.
Sehingga banyak yang menyebut konsep Trinitas sebagai teka-teki yang tidak pernah terjawab
atau rahasia yang tidak pernah terungkap tuntas.

Lebih jauh daripada itu, keyakinan mereka terhadap Trinitas bila dihubungkan dengan
keyakinan adanya dosa warisan, yaitu dosa yang mesti ditanggung seluruh anak-anak Adam
karena Adam dan Hawa telah memakan buah terlarang di syurga, kemudian untuk menebus
dosa warisan ini maka Yesus Tuhan Anak diturunkan ke dunia untuk menebusnya dengan cara
disalib. Tapi, ketika Yesus hendak disalib, dia berkata, Tuhan kenapa Engkau tinggalkan daku.
Keanehan pertama, yaitu apabila Tuhan adalah penentu segalanya, dan pahala serta dosa
pun Tuhan pula yang menentukan, kenapa Tuhan tidak mampu menghapus dosa Adam dan
memaafkannya tanpa mengorban-kan Anak-Nya. Keanehan lainnya adalah apabila Yesus
memang diturunkan ke dunia untuk menebus dosa manusia, kenapa ia mesti mengatakan:
Tuhan kenapa Engkau tinggalkan daku.

Keganjilan lainnya dapat dilihat dalam silsilah Yesus, masing-masing Injil mengemukakan
silsilah yang berbeda-beda. Di Injil Matius, bahwa Yesus adalah keturunan Salomo Putera Daud.
Tapi di Injil Lukas disebutkan bahwa Yesus adalah keturunan Natan Putera Daud. Bahkan dalam
satu Injil banyak dijumpai pertentangan yang mustahil untuk dikumpulkan. Seperti dalam Injil
Matius disebutkan bahwa Yesus memiliki setidak-tidaknya tiga predikat, yaitu: Anak Manusia,
Hamba Allah dan Anak Allah. Dalam Injil Markus disebutkan setidak-tidaknya empat predikat
bagi Yesus, yaitu: Anak Allah, Anak Manusia, Tuhan, dan Raja Yahudi. Dalam Injil Lukas
disebutkan setidak-tidaknya tiga predikat: Keturunan Manusia, Anak Allah dan Raja Yahudi.
Dalam Injil Yohanes disebutkan setidak-tidaknya dua predikat: Manusia biasa dan Anak Tunggal
Allah (Anonim, 2013).

B. Konsep Tuhan dalam Agama Yahudi

Konsep ketuhanan agama Yahudi secara ketat didasarkan pada Unitarian monoteisme.
Doktrin ini mengekspresikan kepercayaan kepada satu Tuhan. Konsep Tuhan yang
mengambil beberapa bentuk misalnya Trinitas dianggap bidaah dalam Judaisme. Dalam doa
secara utuh dalam hal mendefinisikan Tuhan adalah Shema Yisrael, awalnya muncul di dalam
Alkitab Ibrani: "Dengarkan O Israel, Tuhan adalah Allah kita, Tuhan adalah satu", juga
diterjemahkan sebagai "Dengarkan O Israel, Tuhan kami adalah Allah, Tuhan adalah yang
tunggal "
Allah disini disusun sebagai zat yang kekal, pencipta alam semesta, dan sumber
moralitas. Allah mempunyai kuasa untuk campur tangan di dunia. Istilah Allah sehingga
terkait dengan kenyataan sebenarnya, dan bukan hanya proyeksi dari jiwa manusia. Allah
dijelaskan dalam pengertian seperti: "Ada satu Zat, sempurna dalam segala cara, yang
merupakan penyebab utama dari semua keberadaan. Semua tergantung pada keberadaan
Allah dan semua berasal dari Allah."
Pada kenyataannya umat Yahudi termasuk kaum Musyabbihah, yaitu kaum yang
menyerupakan Allah dengan makhluk, sebagaimana tersebut dalam Kitab Taurat pada Kitab
Kejadian Pasal I Allah berkata : Kami telah membuat manusia berdasarkan bentuk Kami,
seperti serupaan dari Kami. Sehingga apa saja yang bisa terjadi pada manusia, bisa pula
dialami oleh Allah. Bahkan dalam keyakinan orang-orang Yahudi, Allah bisa mengalami
keletihan dan kecapaian sehingga perlu beristirahat, sebagaimana tersebut dalam Taurat pada
Kitab Kejadian Pasal II : "Allah menyelesaikan pekerjaan yang Dia kerjakan pada hari yang
ke-7, kemudian Di beristirahat di hari ke-7 dari seluruh pekerjaan yang Dia ker jakan.
Demikian umat Yahudi meyakini tentang Allah SWT, yaitu dengan keyakinan model
kaum Musyabbihah. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang me reka sifatkan.
Bahkan tidak hanya meyakini keserupaan Allah dengan makhluk, mereka pun mensifati Allah
taala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah, seperti : kikir, miskin, bisa diperdaya
dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah SWT ( Qs. Al-Maidah : 64 )

Orang-orang Yahudi berkata : Tangan Allah terbelenggu ( yakni kikir )"
Dalam tafsir dari Ikrimah, Qotadah, As-Sudi, Mujahid, Adh-Dhohhak, Ibnu Abbas
dan lain-lainnya mengatakan : Mereka tidak memaksudkan dengan perkataan mereka itu
bahwa tangan Allah terikat, tetapi mereka hendak mengatakan : Kikir, menahan apa yang
ada di sisi-Nya. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang
besar. Maka Allah pun membantah ucapan mereka dalam firmannya QS. Al-Maidah : 64
Tangan mereka itu sebenarnya yang terbelenggu, dan mereka dilaknat atas apa yang
mereka telah katakan. Bahkan kedua tangan-Nya terbentang, Dia menafkahkan sebagaimana
yang Dia kehendaki."
Orang-orang Yahudi yang tidak hanya menyamakan Allah dengan makhluk, tetapi
juga mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak, bahkan menghina Allah SWT.
Namun pada saat yang sama, mereka mengaku sebagai kekasih Alloh.


Orang-orang Yahudi dan Nashrani berkata : Kami adalah anak-anak Alloh dam
kekasih-kekasih-Nya. ( Qs. Al-Maidah : 18 )

Bahkan mereka menyakini bahwa mereka tercipta dari unsur-unsur Allah sedangkan
manusia selain bangsa Yahudi mereka yakini berasal dari tanah setan atau tanah najis. Oleh
karena itu mereka menganggap dirinya sebagai bangsa pilihan yang layak memimpin dunia,
sedangkan bangsa-bangsa lainnya mereka yakini sebagai bangsa-bangsa budak yang harus
mengabdi kepada mereka. Bertolak dari pemikiran yang buruk ini lahir-lah doktrin Zionisme
dengan protokolatnya guna mewujudkan mimpi orang-orang Yahudi.


Mereka berkata : Tidak akan pernah bisa masuk syurga kecuali orang-orang yang
beragama Yahudi atas Nashrani. ( Qs. Al-Baqoroh : 111 )

Dalam ayat yang lain Alloh menyatakan :


Katakan : Bila khusus hanya untuk kalian saja negeri Akhirat yang ada di sisi
Alloh, bukan untuk manusia yang lain, maka inginkanlah kematian bila kalian memang
orang-orang yang benar ! Mereka sekali-kali tidak akan pernah menginginkan kematian itu
selama-lamanya karena kesalah-an-kesalahan yang telah mereka perbuat, dan Alloh Maha
Mengetahui ter hadap orang-orang yang berbuatan zhalim. ( Qs. Al-Baqoroh : 94 95 )
Namun dalam perkembangannya, agama Yahudi juga meyakini bahwa Allah memiliki
anak, yaitu Uzair ( Ezra ). Uzair adalah seorang sholih yang hafal kitab Taurat, kemudian
Allah mematikannya selama 100 tahun. Ketika dihidupkan kembali setelah kematiannya itu,
kitab Taurat telah musnah karena serbuan dari Bukhtunshir. Maka Uzair membawa bukti akan
keberadaan dirinya dengan memaparkan hafalan Tauratnya.
Ketika itulah orang-orang Yahudi mengkultuskannya dengan anggapan, kalau Nabi
Musa datang kepada mereka membawa Taurat dalam bentuk kitab maka ia diyakini sebagai
Rasul utusan Allah, sedangkan Uzair datang membawa Taurat dengan tanpa kitab, yaitu
hanya dengan hafalannya, maka Uzair lebih , lalu mereka meyakini Uzair lebih tinggi
kedudukannya daripada Musa sebagai anak Allah, dan merekapun menyembahnya. Ada pun
Uzair berlepas diri dari perbuatan syirik kaum Yahudi/ Bani Israil (Anonim, 2013).

3. Konsep Tuhan dalam Agama Buddha


Agama Budha menekankan Pragamatis, yaitu mengutamakan tindakan-tindakan cepat
dan tepat yang lebih diperlukan di dalam menyelamatkan hidup seseorang yang tengah gawat
dan bukan hal-hal lainnya yang kurang praktis, berbelit-belit, bertele-tele dan kurang penting.
Buddha tidak pernah menghabiskan waktu untuk perkara-perkara spekulatif tentang alam
semesta karena hal ini kecil nilainya bagi pengembangan spiritual menuju Kebahagiaan Sejati
(Anonim, 2008).
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama
samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia
adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal (Anonim, 2012), tetapi konsep didalam
agama Buddha bahwasannya asal muasal dan penciptaan alam semesta bukan berasal dari
tuhan, melainkan karena hukum sebab dan akibat yang telah disamarkan oleh waktu, dan
tujuan akhir dari hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi)
atau pencerahan sejati dimana batin manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal
lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya, tidak
ada dewa-dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat
dicapai.
Tuhan dalam agama Buddha yang bersifat non-teis (yakni, pada umumnya tidak
mengajarkan keberadaan Tuhan sang pencipta atau bergantung kepada Tuhan sang pencipta
dalam usaha mencapai pencerahan, sang Buddha Gautama adalah pembimbing atau guru
yang menunjukkan jalan menuju nirwana ) serta selama hidupnya Buddha Gautama tidak
pernah mengajarkan cara-cara menyembah kepada Tuhan maupun konsepsi ketuhanan
meskipun dalam wejangannya kadang-kadang menyebut Tuhan, ia lebih banyak menekankan
pada ajaran hidup suci, sehingga banyak para ahli sejarah agama dan sarjana teologi Islam
mengatakan agama Buddha sebagai ajaran moral belaka.jika diperhatikan dalam perkataan
atau khotbah-khotbah Buddha Gautama dan soal jawabnya dengan kelima temannya di
Benares, ia tidak percaya kepada Tuhan-Tuhan yang banyak, dewa-dewa, dan berhala-berhala
yang dipuja dan disembah sepertihalnya dalam agama Hindu, bahkan penyembahan demikian
dicela dalam ajaran Buddha dan oleh sang Buddha Gautama itu sendiri. Akan tetapi
ketuhanan Brahma, tetap diakui oleh Buddha Sidharta Gautama, ia tetap mengakui Brahma
sebagai Tuhannya.
Dalam salah satu ucapannya Buddha Gautama pernah mengatakan: biarkan Tuhan
menjadikan segala sesuatu, dan manusia hendaklah memelihara kesucian ciptaan Tuhan,
kesucian yang sempurna itulah dia Tuhan. Kesucian demikian harus terdapat pada tiap-tiap
manusia dan didalam kitab Tipitaka ia juga mengatakan: ketahuilah para bikkhu bahwa
ada sesuatu yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak.
Duhai para bikkhu, apabila tidak ada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak
tercipta, yang mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bikkhu, karena ada yang tidak
dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak, maka ada kemungkinan
untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Ungkapan di atas adalah pernyataandari sang Buddha yang terdapat dalam sutta pitaka, udana
VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha.
Ketuhanan yang Maha Esa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatan Abhutam Akatam
Asamkhatam yang artinya : suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelma, tidak diciptakan dan
yang mutlak. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku
(anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam
bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya yang mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka
manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan
(samsara) dengan cara bermeditasi. Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini,
kita dapat melihat bahwa konsep ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan
konsep ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain.
Dalam mengulas konsep tersebut kita tidak dapat melepaskan 4 (empat) rumusan
Kebenaran, yaitu :
1. Ada awal - ada akhir
Kebenaran ini menjelaskan ada awal dalam proses pembentukan, pembuatan dan kejadian.
2. Ada awal - tanpa akhir
Kebenaran jenis ini, seperti bilangan asli yang selalu diawali dengan angka satu dan angka
selanjutnya tanpa batas. Kita tidak dapat mengakhiri pada angka tertentu. Meskipun
penghitungannya angka tersebut sudah sedemikian besar.
3. Tanpa awal - ada akhir
Kebenaran jenis ini, contohnya adalah keberadaan kehidupan manusia. Apabila kita telusuri
awal keberadaan manusia kita tidak akan menemukan suatu jawaban yang pasti. Pada saat
kita menarik kebelakang. Orang pasti memiliki ayah dan ibu. Ayah dan Ibu pun memiliki
ayah dan ibunya lagi. Terus kita tarik baik dari sisi ibu maupun dari sisi ayah kita tidak akan
menemukan titik yang tepat. Meskipun dalam agama tertentu. Ada keberadaan awal
manusia.
4. Tanpa awal - tanpa akhir
Kebenaran jenis ini dapat kita lihat dalam Udana Nikaya : Ketahuilah Para Bhikkhu, Ada
sesuatu yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak. Wahai
para Bhikkhu, apabila tidak ada yang dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan,
yang mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Oleh karena ajarannya yg tentang ketuhanan yang tidak bekitu banyak diuraikan dan
di jelaskan , maka sepeninggalan Buddha, patung Buddha sendiri telah menjadi sembahan
yang utama bahkan juga sisa peninggalannya seperti abu mayatnya, potongan kukunya,
rambutnya yang tersimpan dalam stupapun telah dipuja dan disembah. Padahal Buddha
Gautama mencela penyembahan kepada patung dan berhala tetapi penganut Buddha sendiri
sepeninggalannya telah menempatkan patung-patungnya didalam candi, kuil dan stupa untuk
disembah (Jirhanuddin, 2010).
Dalam hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa Buddha Gautama sendiri tetap
menuhankan brahma semata, ia tidak menyakini ketuhanan yang lain hanya Buddha Sidharta
Gautama tidak menjelaskan dan menerangkan tentang dasar-dasar bagaimana cara beriman
dan menyembah kepada tuhan dalam agamanya.
4. Konsep Tuhan dalam Agama Hindu
dalam jumlah dewa-dewa yang di sebutkan dalam kitab-kitab wedha sebanyak 32
dewa yang mempunyai fungsi masing-masing. Dewa-dewa tersebut dipandang sebagai tokoh
simbolis dari Agama Hindu mempunyai konsepsi ketuhanan yang bersifat polytheistis yang
dimanifestikan satu dewa pokok yaitu Brahma.
Dalam kitab suci Hindu, sifat-sifat Tuhan dilukiskan sebagai Ynag Maha Mengetahui
dan Maha Kuasa. Dia merupakan perwujudan keadilan, kasih saying dan keindahan. Dalam
kenyataannya, Dia merupakan perwujudan dari segala Kwalitas terberkati yang senantiasa
dapat dipahami manusia. Dia senantiasa siap mencurahkan anugerah, kasih dan berkah-Nya
pada ciptaan-Nya (Purnami, 2012).
Swm Harshnanda (2000) dalam bukunya yang berjudul Deva-Devi Hindu
menyatakan bahwa konsep Tuhan Hindu memiliki dua gambaran khas, yaitu tergantung pada
kebutuhan dan selera pemuja-Nya. Dia dapat dilihat dalam suatu wujud yang mereka sukai
untuk pemujaan dan menanggapinya melalui wujud tersebut. Dia juga dapat menjelmakan
Diri-Nya di antara mahluk manusia untuk membimbingnya menuju kerajaan Kedewataan-
Nya. Dan penjelmaan ini merupakan suatu proses berlanjut yang mengambil tempat
dimanapun dan kapanpun yang dianggap-Nya perlu.
Kemudian ada aspek Tuhan lainnya sebagai Yang Mutlak, yang biasanya disebut
sebagai Brahman; yang berarti besar tak terbatas. Dia adalah Ketakterbatasan itu sendiri.
Namun, Dia juga bersifat immanent pada segala yang tercipta. Dengan demikian tidak seperti
segala yang kita kenal bahwa Dia menentang segala uraian tentang-Nya. Telah dinyatakan
bahwa jalan satu-satunya untuk dapat menyatakan-Nya adalah dengan cara negative: Bukan
ini! Bukan ini!
Untuk pertama kali difinisi tentang Tuhan dijumpai dalam kitab Brahma Stra I.1.2
(Pudja, 1999), lengkapnya berbunyi demikian :
Janmdyasya yatah.2.
Artinya :
(Brahman adalah yang maha tahu dan penyebab yang mahakuasa) dari mana munculnya asal
mula dan lain-lain, (yaitu pemeliharaan dan peleburan) dari (dunia ini).
Kitab Brahma Stra merupakan sistematisasi dari pemikiran kitab-kitab Upanisad.
Dalam Brahma Stra ditemukan nama-nama aliran pemikiran Vednta. Bdaryana, yang
dianggap sebagai penyusun Brahma Stra atau Vednta Stra, bukanlah satu-satunya orang
yang mencoba men-sistematisir gagasan filsafat yang terdapat dalam Upanisad, walaupun
mungkin merupakan karya yang terakhir dan terbaik. Semua sekte di India sekarang ini
menganggap karya beliau sebagai otoritas utama dan setiap sekte baru pastilah mulai dengan
memberikan ulasan baru pada Brahma Stra ini dan rasanya tak akan ada sekte yang dapat
didirikan tanpa berbuat demikian (Virevarnanda, 2002).
Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan
tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa
Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam
pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain:
Brahman (asal muasal dari alam semestea dan segala isinya), Purushottama atau
Maha Purusha, Iswara(dalam Weda), Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa), Sanghyang
Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan), Dhata (yang memegang atau menampilkan
segala sesuatu), Abjayoni(yang lahir dari bunga teratai), Druhina (yang membunuh
raksasa), Viranci (yang menciptakan), Kamalasana (yang duduk di atas bunga
teratai), Srsta (yang menciptakan),Prajapati (raja dari semua makhluk/masyarakat), Vedha (ia
yang menciptakan), Vidhata (yang menjadikan segala sesuatu), Visvasrt (Ia yang menciptakan
dunia), Vidhi (yang menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili) (Anonim,
2008).

5. Konsep Tuhan dalam Agama Shinto


Shinto adalah kata majemuk dari shin dan to. Arti kata shin adalah roh dan
To adalah jalan. Jadi Shito mempunyai arti jalannya roh, baik roh-roh yang telah
meninggal dunia maupun roh-roh langit dan bumi. Kata To berdekatan dengan kata Tao
dalam taoisme yang berarti jalannya Dewa atau jalannya bumi dan langit. Sedangkan
kata Shin atau Shen identic dengan kata Yin dalam taoisme tang berarti gelap, basah,
negative dan sebagainya (Arifin, 1997).
Shinto adalah agama kuno yang merupakan campuran dari animisme dan dinamisme
yaitu suatu kepercayaan primitif yang percaya pada kekuatan benda, alam atau spirit. Tradisi
Shinto juga mengenal beberapa nama Dewa yang bagi Shinto bisa juga berarti Tuhan yang
dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Kami atau Kamisama. Kamisama ini
bersemayam atau hidup di berbagai ruang dan tempat, baik benda mati maupun benda hidup.
Pohon, hutan, alam, sungai, batu besar, bunga sehingga wajib untuk dihormati. Penamaan
Tuhan dalam kepercayaan Shinto bisa dibilang sangat sederhana yaitu kata Kami ditambah
kata benda.Tuhan yang berdiam di gunung akan menjadi Kami no Yama, kemudian Kami no
Kawa (Tuhan Sungai), Kami no Hana (Tuhan Bunga) dan Dewa/Tuhan tertingginya adalah
Dewa Matahari (Ameterasu Omikami) yang semuanya harus dihormati dan dirayakan dengan
perayaan tertentu (Ali, 1998).
Jadi inti dari konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu
semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh,
spirit atau kekuatan jadi wajib dihormati . konsep ini memiliki pengaruh langsung di dalam
kehidupan masyarakat Jepang. Misalnya seperti, seni Ikebana atau merangkai bunga yang
berkembang pesat di Jepang karena salah satunya dilandasi konsep Shinto tentang Spirit atau
Tuhan yang bersemayam pada bunga serta tumbuhan yang harus dihormati.
Agama Shinto terdiri dari empat kelompok yaitu :
1. Imperial Shinto (Kych Shinto atau Koshitsu Shinto)
Shinto kelompok ini sangat eksklusif dan tidak umum ditemukan. Memiliki beberapa kuil
saja yang kalau tidak salah 5 buah di seluruh negeri. Nama kuil ini biasanya berakhir dengan
nama Jingu, misalnya Heinan Jingu, Meiji Jingu, Ise Jingu dll. Kuil Shinto kelompok ini
selain berfungsi sebagai tempat untuk memuja Kami juga berfungsi sebagai tempat memuja
leluhur khususnya keluarga kerajaan.
2. Folk Shinto (Minzoku Shinto)
Mithyologi tentang Kojiki, cerita terbentuknya pulau Jepang dan cerita tentang dewa-dewa
lain adalah ciri khas dari Shinto kelompok ini. Jadi Folk Shinto adalah kepercayaan Shinto
yang meliputi cerita tua, legenda, hikayat dan cerita sejarah. Kuil Kibitsu Jinja yang terletak
di daerah Okayama, Jepang tengah adalah salah satu contoh menarik karena dibangun untuk
menghormati tokoh utama dalam cerita rakyat yaitu Momo Taro. Disamping itu, Shinto
kelompok ini juga mendapat pengaruh yang kuat dari agama Buddha, Kongfucu, Tao dan
ajaran penduduk lokal seperti Shamanism, praktek penyembuhan dll.
3. Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto)
Shinto kelompok ini mulai muncul pada abad ke 19 dan sampai saat ini memiliki kurang
lebih 13 sekte. Dua diantara sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo atau
Kenkokyo. Keberadaan dari Sekte Shinto ini cukup unik karena memiliki ajaran doktrin,
pemimpin atau pendiri yang dianggap sebagai Nabi dan yang terpenting biasanya
menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme. Shinto golongan ini
sepertinya jarang dibahas ataupun kurang dikenal oleh kebanyakan orang (asing) sehingga
konsep monotheisme dari Shinto aliran baru nyaris luput dari tulisan kebanyakan orang.
4. Shrine Shinto (Jinja Shinto)
Saat ini hampir sebagian besar dari kuil yang ada di Jepang termasuk kelompok ini, yang
semuanya tergabung dalam satu organisasi besar yaitu Association of Shinto Shrines yang
menghimpun sekitar 80 ribuan kuil di seluruh negeri. Jadi sepertinya dari semua kelompok
Shinto yang ada, kelompok terakhir inilah yang paling mudah untuk diterima serta paling
banyak pengikutnya (Bunce, 1995).

2. "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang
buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan
(petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami,
mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).(Qs.Ar-RUUM:53)."

"Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.


Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya
kamu memikirkannya. (Qs.Al-Hadiid:17)."
kaum atheist membedakan dan tidak menyangkut-pautkan tuhan dengan agama. Kaum atheist sama sekali tidak
mau menerima argument yang terkait dengan tuhan dan agama. Tuhan dan agama adalah penemuan manusia.
Alam pun tercipta secara ajaib tanpa pernah dibuat oleh tuhan. Namun, kalau ditanya secara detail awal mula
terbentuknya alam semesta para kaum atheist juga tak mampu menjawab dengan jelas.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ninoy/mau-mendebat-atheist-inilah-11-cara-berpikir-kaum-atheist-
yang-harus-anda-pahami_55cf106d9397737d0ee587f9

kaum atheist membawa kemenangan secara psikologis dengan melawan pertanyaan penting yang tak mampu
mereka jawab sendiri: dari mana awal alam semesta? Kaum atheist selalu tak mampu menjawab pertanyaan ini
dan selalu akan menghindari pertanyaan ini. Penjelasan berdasarkan ilmu pengetahuan dan sains yang akan
mereka paparkan. Sementara Anda sebagai pemercaya tuhan dan kadang sekalian agama tak akan
merasakan kegelisahan teramat sangat seperti kaum atheist.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ninoy/mau-mendebat-atheist-inilah-11-cara-berpikir-kaum-atheist-
yang-harus-anda-pahami_55cf106d9397737d0ee587f9
Islam dengan tegas menolak kepercayaan Kristen bahwa Tuhan itu tiga pribadi
dalam satu hakekat (Tritunggal), apapun penjelasannya. Islam juga sangat
menentang keyakinan Hindu bahwa Tuhan memanifestasikan dirinya dalam
berbagai bentuk dan rupa makhluk ciptaannya. Dalam konsepsi Islam tentang
Tuhan, tidak ada kesetaraan antara Tuhan dan ciptaan. Tuhan tidak menjelma
sebagai siapapun atau apapun. Al-Quran dengan tegas dan lugas mengatakan
bahwa: tiada Tuhan selain Allah. Konsep tauhid dalam Al-Quran tidak pernah
menyatakan bahwa Tuhan Pencipta itu adalah Tuhan dari segala tuhan.

Pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 disebutkan nama Tuhan Brahama, artinya:


pencipta, bahasa arabnya khaliq. Umat muslim tidak keberatan kalau Allah
dipanggil dengan Khalik atau Brahama. Tapi kalau orang menyebutkan Brahama
itu adalah Tuhan yang berkepala 4 dengan mahkota, umat muslim sangat tidak
setuju.

Begitu juga pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 disebutkan nama Tuhan Vishnu,
artinya: pemelihara alam, yang memberi rizki. Bahasa arabnya adalah Rabb.
Orang muslim tidak keberatan Allah disebut Rabb atau Vishnu. Yang jadi masalah
adalah Vishnu adalah Tuhan yang punya 4 tangan, tiap tangan memegang cakra,
tangan kirinya memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil
bersandar pada gulungan ular. Umat muslim tidak bisa menerima itu[20].

PENUTUP

Pada dasarnya semua agama mengakui keesaan Tuhan, namun dalam


kenyataannya, pemahaman tentang keesaan Tuhan itu berbeda, masing-masing
agama memiliki konsepnya sendiri tentang ketuhanan, dari konsep-konsep
ketuhanan itu dapat dinilai apakah suatu agama tetap konsisten dengan keesaan
Tuhannya atau tidak.

Jikalau semua agama sama, tidak akan ada orang yg berdakwah untuk
agamanya. Bahkan semua orang tidak akan keberatan untuk berpindah agama
kapanpun ia mau. Tapi kenyataannya tidak mudah bagi seseorang untuk
berpindah agama, termasuk mereka yang sering berteriak menyatakan bahwa
semua agama adalah sama. Hanya mereka yang benar-benar telah menemukan
alasan yang kuat secara pribadilah yang mampu melakukannya.

Mengatakan semua agama sama adalah seperti menanyakan 2+2 = berapa?


apakah 2, 3, atau 4? lalu ada orang yg menjawab bahwa semuanya benar. Hal ini
tentu saja tidak benar. Perbedaan itu pasti ada, bahkan tentang keesaan Tuhan
yang sama-sama diakui oleh agama-agama.

Tidak ada paksaan dalam agama, setiap orang bebas untuk mengimani atau
mengingkari konsep ketuhanan yang ditawarkan agama-agama, atau
mengingkari Tuhan secara mutlak, dan kelak dialah yang akan mempertanggung
jawabkan pilihannya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
KONSEP TUHAN MENURUT AGAMA YAHUDI, NASRANI,

HINDU, BUDHA, DAN KHONGHUCU

A. Konsep Ketuhanan Menurut Agama Yahudi

Konsep ketuhanan agama Yahudi secara ketat didasarkan pada Unitarian


monoteisme. Doktrin ini mengekspresikan kepercayaan kepada satu Tuhan.
Dalam doa secara utuh dalam hal mendefinisikan Tuhan adalah Shema Yisrael,
awalnya muncul di dalam Alkitab Ibrani: "Dengarkan O Israel, Tuhan adalah Allah
kita, Tuhan adalah satu", juga diterjemahkan sebagai "Dengarkan O Israel, Tuhan
kami adalah Allah, Tuhan adalah yang tunggal."

Allah di sini disusun sebagai zat yang kekal, pencipta alam semesta, dan sumber
moralitas. Allah mempunyai kuasa untuk campur tangan di dunia. Allah
dijelaskan dalam pengertian seperti: "Ada satu Zat, sempurna dalam segala
cara, yang merupakan penyebab utama dari semua keberadaan. Semua
tergantung pada keberadaan Allah dan semua berasal dari Allah."

Namun, pada kenyataannya umat Yahudi termasuk kaum musyabbihah, yaitu


kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk, sebagaimana tersebut dalam
Kitab Taurat pada Kitab Kejadian Fasal I :

Alloh berkata : Kami telah membuat manusia berdasarkan bentuk Kami, seperti
serupaan dari Kami.

Sehingga apa saja yang bisa terjadi pada manusia, bisa pula dialami oleh Alloh.
Bahkan dalam keyakinan orang-orang Yahudi, Alloh bisa menga-lami keletihan
dan kecapaian sehingga perlu beristirahat, sebagaimana ter sebut dalam Taurat
pada Kitab Kejadian Fasal II :

Alloh menyelesaikan pekerjaan yang Dia kerjakan pada hari yang ke-7,
kemudian Dia beristirahat di hari ke-7 dari seluruh pekerjaan yang Dia ker
jakan.

Demikian umat Yahudi meyakini tentang Allah SWT, yaitu dengan keyakinan
model kaum musyabbihah. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang
mereka sifatkan. Bahkan tidak hanya meyakini keserupaan Alloh dengan
makhluk, mereka pun mensifati Allah taala dengan sifat-sifat yang tidak layak
bagi Allah, seperti : kikir, miskin, bisa diperdaya dan lain-lain. Sebagaimana
firman Allah SWT :

Orang-orang Yahudi berkata :Tangan Allah terbelenggu (yakni kikir)

(Qs. Al-Maidah : 64)

Dalam tafsir dari Ikrimah, Qotadah, As-Sudi, Mujahid, Adh-Dhohhak, Ibnu Abbas
dan lain-lainnya mengatakan :
Mereka tidak memaksudkan dengan perkataan mereka itu bahwa tangan Alloh
terikat, tetapi mereka hendak mengatakan : Kikir, menahan apa yang ada di
sisi-Nya. Maha tinggi Alloh dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian
yang besar.

Maka Alloh pun membantah ucapan mereka dalam firmannya QS. Al-Maidah : 64

Tangan mereka itu sebenarnya yang terbelenggu, dan mereka dilaknat atas apa
yang mereka telah katakan. Bahkan kedua tangan-Nya terbentang, Dia
menafkahkan sebagaimana yang Dia kehendaki.

(Qs. Al-Maidah : 64)

Dalam ayat yang lain Alloh berfirman :

Sesungguhnya Alloh telah mendengar perkataan orang-orang yang mereka


berkata : Sesungguhnya Alloh itu faqir (miskin) dan kami inilah yang kaya.

(Qs. Ali Imron : 181)

Berkata Ibnu Jarir Ath-Thobari : Ayat ini dan ayat setelahnya turun berkenaan
dengan sebagian orang Yahudi yang ada pada zaman Nabi.

Yaitu mereka mengatakan demikian karena Allah SWT dalam banyak ayat
memerintakan manusia untuk berinfaq. Lalu muncullah anggapan jelek orang-
orang Yahudi yang terkenal kikir, bahwa Allah itu miskin sehingga butuh kepada
harta manusia. Ini adalah alasan yang paling jelek untuk menolak berinfaq, dan
lebih jauh lagi adalah alasan untuk menolak masuk ke dalam agama Islam.

Begitulah orang-orang Yahudi yang tidak hanya menyamakan Alloh dengan


makhluk, tetapi juga mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak, bahkan
menghina Allah SWT. Namun pada saat yang sama, mereka mengaku sebagai
kekasih Alloh!

Orang-orang Yahudi dan Nashrani berkata : Kami adalah anak-anak Alloh dam
kekasih-kekasih-Nya.

(Qs. Al-Maidah : 18)

Bahkan mereka menyakini bahwa mereka tercipta dari unsur-unsur Allah


sedangkan manusia selain bangsa Yahudi mereka yakini berasal dari tanah setan
atau tanah najis. Oleh karena itu mereka menganggap dirinya sebagai bangsa
pilihan yang layak memimpin dunia, sedangkan bangsa-bangsa lainnya mereka
yakini sebagai bangsa-bangsa budak yang harus mengabdi kepada mereka.
Bertolak dari pemikiran yang buruk ini lahirlah doktrin Zionisme dengan
protokolatnya guna mewujudkan mimpi orang-orang Yahudi.



Mereka berkata : Tidak akan pernah bisa masuk syurga kecuali orang-orang
yang beragama Yahudi atas Nashrani.

(Qs. Al-Baqoroh : 111)

Dalam ayat yang lain Alloh menyatakan :

Katakan : Bila khusus hanya untuk kalian saja negeri Akhirat yang ada di sisi
Alloh, bukan untuk manusia yang lain, maka inginkanlah kematian bila kalian
memang orang-orang yang benar! Mereka sekali-kali tidak akan pernah
menginginkan kematian itu selama-lamanya karena kesalahan-kesalahan yang
telah mereka perbuat, dan Alloh Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang
berbuatan zhalim

(Qs. Al-Baqoroh : 94 95)

Namun dalam perkembangannya, agama Yahudi juga meyakini bahwa Alloh


memiliki anak, yaitu Uzair (Ezra). Uzair adalah seorang sholih yang hafal kitab
Taurat, kemudian Alloh mematikannya selama 100 tahun. Ketika dihidupkan
kembali setelah kematiannya itu, kitab Taurat telah musnah karena serbuan dari
Bukhtunshir. Maka Uzair membawa bukti akan keberadaan dirinya dengan
memaparkan hafalan Tauratnya. Ketika itulah orang-orang Yahudi
mengkultuskannya dengan anggapan, kalau Nabi Musa datang kepada mereka
membawa Taurat dalam bentuk kitab maka ia diyakini sebagai Rosul utusan
Alloh, sedangkan Uzair datang membawa Taurat dengan tanpa kitab, yaitu hanya
dengan hafalannya, maka Uzair lebih, lalu mereka meyakini Uzair lebih tinggi
kedudukannya daripada Musa sebagai anak Alloh, dan mereka pun
menyembahnya. Ada pun Uzair berlepas diri dari perbuatan syirik kaum Yahudi
(Bani Isroil). [Abdulloh A. Darwanto]

B. Konsep Ketuhanan Menurut Agama Nasrani

Agama Nashrani atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan agama
Kristen adalah salah satu agama yang mengaku ngaku monotheisme, namun
dalam kenyataannya ajaran Kristen adalah polytheisme, yaitu ketika kita melihat
konsep aqidah mereka yang dikenal dengan Trinitas atau Tritunggal.

Agama Katholik adalah agama Kristen yang paling tua. Katholik sendiri berarti
orang-orang umum, karena mereka mengaku-aku sebagai induk segala gereja
dan penyebar missi satu-satunya di dunia. Disebut pula dengan Gereja Barat
atau Geraja Latin, karena mereka mendominasi Eropa Barat, yaitu mulai dari
Italia, Belgia, Prancis, Spanyol, Portugal dan lain-lainnya. Disebut juga sebagai
Gereja Petrus atau Kerasulan karena mereka mengaku-aku bahwa yang
membangun agama mereka adalah Petrus, murid Nabi Isa yang paling senior.

Agama Katholik meyakini bahwa Roh Qudus tumbuh dari Tuhan Bapa dan Anak
secara bersamaan. Mereka juga berkeyakinan bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan
Anak memiliki kesempurnaan yang sama. Bahkan mereka meyakini bahwa Yesus
atau Tuhan Anak ikut bersama-sama dengan Tuhan Bapa mencipta langit dan
bumi.

Adapun agama Ortodox yang disebut pula sebagai Gereja Timur atau Gereja
Yunani adalah agama Kristen yang menyempal dari Kristen Katholik pada tahun
1054 M. Agama Ortodox meyakini bahwa Roh Qudus hanya tumbuh dari Tuhan
Bapa saja, dan mereka meyakini bahwa Tuhan Bapa lebih utama daripada Tuhan
Anak.

Sedangkan agama Protestan adalah pengikut Martin Luther yang menyempal


dari agama Katholik karena menganggap banyak hal yang tidak masuk akal dari
agama Katholik. Disebut Protestan karena sikap mereka yang memprotes Gereja
Lama atau kaum Katholik. Mereka menye-but dirinya dengan Gereja Penginjil
karena pengakuan mereka yang ha-nya mau mengikuti Injil semata. Terkadang
mereka disebut dengan Kris-ten saja. Agama Protestan di antara agama yang
melarang membuat patung dan gambar untuk disembah. Walaupun demikian,
mereka tetap meyakini ajaran trinitas yang intinya adalah Tuhan itu satu tetapi
terdiri dari tiga oknum.

Agama Kristen meyakini bahwa Nabi Isa atau Yesus adalah Anak Tuhan. Oleh
karena itu murid-murid Yesus mereka yakini sebagai Rasul. Bahkan Saulus atau
Paulus atau Bulus, yaitu musuh besar Nabi Isa yang sangat bernafsu menangkap
dan menyalib Nabi Isa serta banyak menyiksa dan menangkapi para pengikut
Nabi Isa juga ikut diyakini sebagai Rasul. Hal ini karena tipu dayanya yang
mengatakan kepada orang-orang Nashrani bahwa dia mendapat wahyu dari
Yesus untuk meneruskan ajarannya dan Yesus menamainya dengan Bulus. Tipu
daya Saulus semakin sempurna dengan menyusupkan orang-orangnya ke dalam
deretan rohaniawan Kristen, seperti Lukas dan lain-lainnya. Melalui orang-
orangnya ini akhirnya Saulus berhasil merubah Injil dan memasukkan faham
trinitas ke tengah-tengah umat Nashrani.

Dalam sejarah ketuhanan kaum Nashrani, penuhanan Yesus baru dilakukan pada
akhir Abad II Masehi. Kemudian pada Konsili di Necea tahun 325 Tuhan Anak
disejajarkan dengan Tuhan Bapa. Selanjutnya pada Abad III Roh Qudus
dipertuhankan. Pada konsili di Ephese Bunda Maria disejajarkan dengan Trinitas
oleh penganut Katholik. Begitulah sejarah ketuhanan dalam agama Kristen.

C. Konsep Ketuhanan Menurut Agama Hindu

Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme (terutama


dalamWeda, Agama Hindu Dharma dan Adwaita Wedanta), sedangkan konsep
lainnya (ateisme, panteisme, henoteisme, monisme, politeisme) kurang
diketahui. Agama Hindu identik dengan panca sradha dimana orang yang ingin
memeluk agama Hindu diwajibkan untuk menyakini lima konsep ajaran utama
dalam Hindu yaitu panca sradha ini yaitu:

1. Percaya pada Adanya Brahman

Tujuannya adalah untuk menyadari Brahman dalam keabsolutan-Nya, atau


teramat gaib (transcendent), sukar dipahami, di luar pengertian dan pengalaman
manusia biasa, keadaan, ketika mencapai keadaan akhir diri. Kebenaran yang
abadi, tanpa batas waktu, bentuk, dan ruang. Kebenaran itu berada di luar
perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan vritti
(gelombang pikiran). Kebenaran ini kemudian memberikan perspektif yang
benar. Pengalaman yang mendalam ini harus dialami sementara ada di dalam
tubuh fisik. Seseorang kembali dan kembali lagi ke dalam jasmani hanya untuk
menyadari Brahman. Tiada lagi yang lain. Namun, Brahman harus menjadi
sebuah pengalaman yang benar-benar dialami.

Orang atheispun kesulitan menyangkal bahwa Tuhan (Brahman) tersebut tidak


ada, karena semua ciptaan apapun bentuknya baik baik itu energi maupun
material mustahil muncul dengan sendiri pasti ada suatu creator (pencipta) atau
penyebab adanya ciptaan itu. Tapi yang menjadi kesulitan utama adalah
keterbatasan pikiran dan tehnologi untuk mengetahuinya.

Dimana dalam agama Hindu menyatakan bahwa pada dasarnya Tuhan


(Brahman) memiliki beberapa eksistensi. Paranma: Tuhan dalam wujud energi
yang tidak tampak. Tidak berwujud". Beliau hanya merupakan sinar yang tanpa
bentuk. Wyuhanma: hanya dapat dilihat oleh Para Dewa, terbaring di atas
lautan yang berada di atas Nagasesa. Tuhan yang seperti ini oleh Umat Hindu di
Bali disebut Hana Tan Hana yang artinya,' Ada tetapi Tidak Ada'. Wibhawanaama:
Tuhan yang berbentuk. Dalam istilah lain Tuhan yang seperti ini juga disebut
Sakara Brahman atau Saguna Brahman. Artinya Tuhan berwujud dan sekaligus
mempunyai sifat atau guna. Antaraatmanaama: Tuhan berbentuk seperti yang
ditempatinya atau Tuhan meresapi seluruh ciptaan-Nya. Tidak ada segala
sesuatu yang tidak berisi resapan Tuhan.

2. Percaya kepada Atman

Atma yang sesungguhnya adalah atman yang mutlak yang bukan golongan
metafisik yang abstrak, tetapi atman rohani yang asli. Bentuk yang lain adalah
keberadaan yang dijadikan obyek. Atman adalah yang hidup dan bukan obyek.
Ini adalah pengalaman yang mana atman adalah subyek yang maha tahu pada
saat yang bersamaan obyek yang diketahui. Atman hanya terbuka untuk atman.
Atman bukanlah kenyataan yang obyektif, bukan pula sesuatu yang berupa
subyektif murni. Hubungan subyek-obyek hanya mempunyai arti dalam dunia
obyek-obyek/dalam lingkungan pengetahuan dalam arti luas, atman adalah
cahaya-cahaya dan melalui hal ini sajalah ada cahaya di alam semesta. Dia
adalah cahaya abadi. Dia adalah yang tiada hidup atau mati, yang tanpa gerak
atau perubahan yang masih bertahan ketika yang lainnya sudah berakhir. "Dia
adalah yang melihat dan bukan obyek yang dilihat. Apapun yang berupa obyek,
dia adalah yang termasuk bukan atman. Atman adalah kesadaran-saksi yang
abadi".

Dari sini kita mengetahui bahwa Atman adalah unsur yang paling utama dari
segala ciptakan ia berkuasa atas tubuh yang dimasukinya, ia yang
mengendalikan tubuh tersebut. Hingga nantinya tubuh itu rusak ia akan
meninggalkan tubuh itu dan beralih ke tubuh yang lain, atau dapat bersatu
dengan sumbernya.
3. Percaya kepada Karmaphala

Karmaphala adalah sebuah hukum yang berlangsung lewat sebuah proses


perbuatan (karma) yang perlahan sudah bisa dibuktikan kebenarannya walaupun
masih ada orang yang berpandangan negatif terhadap akan pembuktian itu.
Karmaphala dapat diartikan sebagai hasil dari perbuatan yang pernah dilakukan.
Hukum Karma atau Hukum Karmaphala itu berlaku universal dan menyeluruh di
alam semesta ini. Hukum Karmaphala ini berlaku dimana saja, terhadap siapa
saja dari berbagai latar belakang dan sepanjang masa serta bersifat abadi.
Secara garis besar sifat-sifat Hukum Karmaphala yaitu abadi, berlaku secara
universal, berlaku sepanjang masa, sempurna, dan tanpa kecuali.

4. Percaya akan adanya Punarbhawa (reinkarnasi)

Reinkarnasi sama artinya dengan Punarbawa atau Samsara. Punarbawa adalah


suatu kepercayaan tentang kelahiran yang berulang ulang atau suatu proses
kelahiran yang biasa disebut dengan penitisan, reincarnasi atau samsara. Kalau
ada kelahiran berulang ulang berarti ada kematian yang berulang ulang atau
hidup yang berulang ulang. Memang kedengarannya aneh tetapi nyata,
kelahiran dapat terjadi berulang ulang beberapa kali tanpa batas.

Didalam Bhagawad Gita Krisna mengatakan : Wahai Arjuna, Kamu dan Aku telah
lahir berulang ulang sebelum ini, hanya aku yang tahu sedangkan kamu tidak,
kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh
kelahiran. Melalui Atman sebagai percikan Brahman, makluk dapat menikmati
kehidupan. Karena adanya Atman maka ada kehidupan didunia ini dan Atman
dalam proses menghidupkan akan berpindah pindah dan berulang ulang dengan
menggunakan badan yang berbeda beda melalui Reinkarnasi
(punarbawa/samsara) yaitu penjelmaan kembali sebagai makluk hidup.

5. Percaya akan adanya Moksha

Mosha adalah Kebebasan Paripurna, Keselamatan atau Pembebasan adalah


tujuan terakhir dari empat pilar yang menyangga struktur kehidupan kita. Tiga
pliar lainnya adalah, Dharma atau Kebajikan, Artha atau Kekayaan dan Kama
atau Keinginan.

Lazimnya, moksha diartikan sebagai "kebebasan dari siklus kehidupan dan


kelahiran." Telah ada banyak pembicaraan, diskusi dan penelitian ilmiah pada
subjek kehidupan setelah kematian, kehidupan setelah kehidupan, pengalaman
dekat kematian, reinkarnasi dan seterusnya.

Penjelasan tentang Moksha terdapat dalam sloka Bhagawadgita XVII. 5 4

Artinya :

Setelah manunggal dengan Brahman dan tenang dalam jiwa la bebas


dari duka cita dan keinginan. Memandang semua makhluk berbhakti kepada Ku.
Bhagawadgita XI. 54

Artinya :

Akan tetapi dengan bhakti tunggal kepada Ku, Oh Arjuna

Aku dapat dikenal, sungguh dilihat dan dimasuki ke dalam.

Dari sloka ini dijelaskan bahwa Moskha adalah menunggalnya Atman dengan
Brahman, dimana Atman kembali menjadi essensinya yang sebenarnya yaitu
energi penciptaan yang kembali pada sumber dari energi tersebut yaitu Tuhan.

D. Konsep Ketuhanan Menurut Agama Budha

Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama
Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta
diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke
sorga ciptaan Tuhan yang kekal.

Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak
Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak
ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang
Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena
ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang
Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam
Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa
dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi
Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya Suatu Yang Tidak
Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak. Dalam hal ini,
Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak
dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa
pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka
manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran
kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat
bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep
Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang
Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang
mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep
Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang
menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama
dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab
suci Tipitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan
konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama
pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari
agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta,
terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat
dan Keselamatan atau Kebebasan.

Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai


kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana batin
manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu
pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa
dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat
dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk
yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan
melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.

E. Konsep Ketuhanan Menurut Agama Khonghucu

Dalam Agama Khonghucu konsep Ketuhanannya adalah Monoteis, artinya Esa


atau tunggal. Ini tercermin dalam menyebut nama Tuhan dengan Thian atau
dalam bahasa kitabnya disebut dengan Tien ini terdiri dari 2 (dua) akar kata
yaitu Iet atau tunggal/esa dan Tay atau besar, jadi seluruh huruf ini berarti Satu
yang maha besar dan dengan kata lain : Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut di
atas dibuktikan secara jelas dalam ajaran Agama Khonghucu, misalnya : Dalam
Delapan Keimanan atau Pat Sing Ciam Kwie bagian pertama : Sing Sien Hong
Thian = Sepenuhnya Iman Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula di
dalam doa umum maupun doa upacara kematian/Song Su dan doa upacara
pernikahan/Hoo Su, selalu terlebih dulu menyebut : Kehadirat Thian Yang Maha
Besar ditempat yang Maha Tinggi, setelah itu baru menyebut : Kehadirat Thian
Yang Maha Besar ditempat Yang Maha Tinggi, setelah itu baru menyebut :
Dengan Bimbingan Nabi Khongcu, serta diakhiri dengan ucapan : Sian Cay, yang
artinya semoga demikianlah sebaiknya. Juga diimplementasikan /dijabarkan
dalam ucara besar kehadirat Thian Yang Maha Esa :

1. King Thi Kong/ Sembahyang Besar Tuhan Allah Iemlik bulan I tanggal 8
menjelang tanggal 9, dilaksanakan saat Cu Si Pk 23.00-01.00.

2. Cio Thao/Sembahyang Kehadirat Thian YME, yang dilakukan mempelai


sebelum bertemu dengan pasangannya,waktunya antara Pk 03.00 pagi, di
rumah masing-masing calon mempelai.

3. Sam Kay/Sembahyang Kehadirat Thian YME,saat mempelai bertemu satu


dengan lainnya. Sebelum mempelai menerima Liep Gwan Perinahan di Lithang.

Ibadah kehadirat Thian Yang Maha Esa yang berkaitan pula ibadah kepada Nabi
dan Para Suci antara lain :
1. Ibadah Siang Gwan/Cap Go Meh, setiap Iemlik bulan pertama tanggal 15
malam, dikala bulan purnama raya. Karena Ibadah siang Gwan Siauw ini
melambangkan saat mulai diturunkan berkah Thian atas penghidupan dalam
tahun baru yang bersangkutan, maka biasa dilakukan upacara sembahyang
besar bagi Para Suci/Sien Bing untuk keselamatan serta perlindungan
masyarakat luas. Baik dalam kehidupan maupun penghidupannya.

2. Ibadah Twan yang/Hari Kehidupan, dilaksanakan pada Iemlik bulan V tanggal


5, pada saat Ngo Si, antara Pk 11.00 -13.00 ; di samping Ibadah besar kehadirat
Thian juga menghormati khut Gwan para suci yang semasa hidupnya telah
mewujudkan secara nyata Satyanya keapda Tuhan maupun bangsa dan
negaranya.

3. Ibadah Tangcik/Hari Genta Rohani (Bok Tok), Cie Ya Sing Kie Sien.
Dilaksanakan pada tanggal 22 desember, dikala matahari terletak pada garis
balik 23 1/2 derajat Lintang Selatan, saat Ien Si antara Pk 03.00 -05.00. Di
samping sembahayang besar kehadirat Thian dengan altar King Thi Kong yang
sesaji tabu diganti sepasang bambu kuning yang melambangkan keabadian, juga
ada disajikan khusus ronde/onde dengan kuah jahe manis sebanyak 3 mangkuk
@12 ronde kecil merah dan putih serta ditengahnya diberi satu ronde merah
besar yang melambangkan rakhmat Thian YME yang dilimpahkan selama satu
tahun yang terdiri dua belsa bulan. Ibadah ini juga memperinagti awal Nabi
Khongcu melakukan tugas kenabiannya serta pula memperingati wafat Ya Sing
Bincu Penegak Agama Jie yang konsekwen dengan ajaran Nabi.

5.1. Allah Tritunggal:

Doktrin mengenai Tritunggal merupakan pokok penting dalam iman


Kristen. Perlu kita ketahui bahwa istilah Tritunggal atau Trinitas tidak akan kita
temukan dalam Alkitab. Istilah ini dipergunakan hanya untuk menjelaskan
ketritunggalan Allah, yaitu Allah yang terdiri dari tiga pribadi yang berada
bersama dalam kekekalan. Allah yang Tritunggal tidak berarti ada tiga Allah.
Trituggal berarti satu Allah yang Esa yang terdiri dari tiga pribadi. Kata Trinitas
(Latin) dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah,
baik dalam hal keesaanNya maupun dalam hal keragamannya. Istilah Trinitas
pertama sekali dicetuskan oleh Tertullianus (220 AD).
Allah Tritunggal merupakan sebuah konsep untuk menjabarkan Sang
Pencipta dalam iman Kristen. Untuk memahami Allah harus dimulai dari
kesadaran bahwa Allah yang tak terbatas, melampaui akal manusia yang
terbatas. Itu sebabnya sesungguhnya manusia yang serba terbatas itu tidak
mungkin bisa mempelajari Allah yang tidak terbatas. Tetapi hal itu tidak berarti
bahwa manusia tidak bisa menjelaskan siapa Allah. Tentunya manusia dapat
mengenal Allah sebatas Allah menyatakan diriNya kepada manusia di dalam
Firman Allah (Alkitab)