Você está na página 1de 18

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU REPRODUKSI TERNAK


ACARA II
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI JANTAN

Disusun Oleh:
Fitria Dwi Andriyani
15/383756/PT/07029
VI

Asisten : Gatot Purnomo Aji

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
ANATOMI REPRODUKSI JANTAN
Tinjauan Pustaka
Praktikum anatomi organ reproduksi jantan ini dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui bagian-bagian alat reproduksi ternak jantan
beserta fungsinya, mengetahui fungsi-fungsi alat reproduksi ternak jantan,
serta mengetahui ukuran dan faktor yang mempengaruhi ukuran alat
reproduksi ternak. Sistem reproduksi jantan pada mamalia organ
reproduksinya terbagi menjadi dua yaitu eksternal adalah skrotum dan
penis, dan internal terdiri atas gonad yang menghasilkkan gamet (sel-sel
sperma) dan hormon, kelenjar asesoris yang mensekresikan produk yang
esensial bagi pergerakan sperma dan sekumpulan ductus yang membawa
sperma dan sekresi glandular (Campbell, 2004).
Testis
Testis adalah dua organ padat berbentuk oval yang terbagi atas
dua lobus berisi tubulus seminiferus (Stright, 2004). Senger (2005) dalam
Wahyuni, dkk (2012) menyatakan bahwa testis merupakan organ utama
dalam sistem reproduksi jantan yang berperan penting dalam
spermatogenesis dan steroidogenesis. Spermatogenesis berlangsung
pada lapisan tubuli semeniferi testis untuk menghasilkan spermatozoa,
sedangkan steroidogenesis berlangsung di sel-sel leydig jaringan
interstisial testis untuk mensintesis hormon steroid jantan.
Epididymis
Epididymis adalah kantong tubular terletak di sebelah setiap testis
yang merupakan tempat penyimpanan dan pematangan sperma (Stright,
2004). Epididymis terdiri atas sebuah tabung sempit yang sangat panjang
dan berliku-liku di belakang testis (Pearce, 2009). Ashdown dan Hafez
(1993) dalam Noviana, dkk (2000) menyatakan bahwa maturasi
spermatozoa terjadi di dalam ductus deferens, yang terdiri dari caput,
corpus dan cauda. Cauda epididymis merupakan tempat penyimpanan
spermatozoa terbesar sekitar 75%.
Ductus deferens
Ductus deferens adalah sebuah saluran yang berjalan dari bagian
bawah epididymis, naik di belakang testis, masuk ke tali mani (funikulus
spermatikus) dan mencapai rongga abdomen melalui saluran inguinal dan
akhirnya berjalan masuk ke dalam pelvis (Pearce, 2009). Ductus deferens
memanjang dari epididymis sampai ductus ejakulatoris yang merupakan
saluran bagi sperma (Stright, 2004). Ductus ejakulatoris berukuran pendek
dan berada sangat dekat dengan ductus kontralateralnya saat menuju
bagian depan melalui prostat (Heffner dan Danny, 2005).
Urethra
Urethra merupakan saluran tunggal yang memanjang dari
persimpangan ampulla ke ujung penis. Urethra berfungsi sebagai saluran
ekskretoris baik urine maupun semen. Selama ejakulasi pada sapi,
terdapat campuran lengkap konsentrasi spermatozoa dari ductus deferens
dan epididymis dengan cairan dari kelenjar assesoris pada bagian pelvis
urethra untuk membentuk semen (Yusuf, 2012).
Kelenjar tambahan
Kelenjar- kelenjar kelamin asesoris merupakan struktur lain dalam
sistem reproduksi jantan yang menghasilkan sekret, yang memudahkan
transportasi spermatozoa sepanjang uretra selama ejakulasi dan
memberikan lingkungan yang aman sementara bagi sperma yang rentan.
Fungsi kelenjar asesoris dipertahankan oleh testosteron. Kelenjar-kelenjar
asesoris terdiri dari vesikula seminalis (vesicularis), kelenjar prostat dan
kelenjar bulbouretral (Stright, 2004).
Kelenjar vesicularis. Kelenjar vesicularis yang terletak di belakang
kandung kemih dan di depan rektum mengeluarkan sekresi ke uretra
melalui ductus ejakulatoris (Stright, 2004). Kelenjar vesicularis jumlahnya
sepasang. Alveoli pada vesikula seminalis dibatasi oleh epitel lurik semu
yang mengandung banyak granula dan gumpalan pigmen kuning.
Beberapa sel epitel memliki flagela. Sekret vesikula seminalis berupa
cairan kental berwarna kekuningan yang mengandung globulin dan
fruktosa. Sekret ini merupakan sebagian besar isi ejakulat (Heffner dan
Danny, 2005).
Kelenjar prostat. Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah walnut
atau buah kenari besar, letaknya di bawah kandung kemih, mengelilingi
uretra dan terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos.
Prostat mengeluarkan sekret cairan yang bercampur dengan sekret dari
testis. Pembesaran prostat akan membendung uretra dan menyebabkan
retensio urina (Pearce, 2009). Kelenjar prostat dibatasi oleh epitel-epitel
yang sangat responsif terhadap androgen. Epitel pada kelenjar prostat
menghasilkan fosfatae asam dan asam sitrat yang normal ditemukan
dalam semen (Heffner dan Danny, 2005).
Kelenjar cowper Kelenjar bulbouretralis atau cowper terletak di
dasar prostat dan pada kedua sisi membarana uretra. Kelenjar-kelenjar ini
menghasilkan substansi musinosa yang jernih dan bersifat basa yang
melumasi uretra dan membungkus permukaannya. Alkalinitas membantu
menetralkan sekresi vagina wanita yang asam, yang bila tidak demikian
akan merusak kelangsungan hidup sperma (Stright, 2004).
Penis
Penis (zakar) terdiri atas jaringan seperti busa dan memanjang dari
glans penis, tempat muara uretra. Kulit pembungkus penis adalah
preputium atau kulup (Pearce, 2009). Jaringan erektil pada penis
merupakan rongga vascular irregular yang sangat banyak dengan sistem
menyerupai spons yang mendapat pasokan darah dari arteriol aferen dan
kemudian dialirkan ke venula eferen. Sepasang badan silinder, yaitu
corpus cavernosum dikelilingi oleh membran fibrosa tebal yang disebut
tunica albuginea dan dipisahkan oleh septum fibrosa inkomplet (Heffner
dan Danny, 2005).
Materi Dan Metode
Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pita ukur,
dan kertas kerja.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum anatomi rgan
reproduksi jantan adalah preparat basah (segar) berupa organ reproduksi
kambing jantan. Organ reproduksi jantan berupa testis, epididymis,
kelenjar prostata, uretra dan penis.

Metode
Metode yang digunakan pada praktikum anatomi organ reproduksi
jantan adalah pengamatan organ reproduksi kambing jantan. Preparat
tersebut dibedakan bagian-bagiannya dan diketahui fungsi-fungsi
bagiannya. Masing-masing organ diukur dan hasil pengukuran dicatat,
setelah pengukuran selesai, diterangkan kemmbali apa yang telah
dikerjakan selama pengamatan dan pengukuran.
Hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan pada anatomi organ
reproduksi ternak jantan yang terdiri dari testis, epididymis, ductus
deferens, uretra, penis dan kelenjar asesoris berupa kelenjar prostat,
karena preparat yang kurang lengkap kelenjar asesoris lainnya tidak ada,
praktikum ini menggunakan preparat organ reproduksi kambing jantan dan
diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Data hasil pengukuran alat reproduksi ternak jantan
Nama Organ Panjang Lebar Tinggi Keliling
Testis 8 cm 5 cm - 14 cm
Epididymis 15 cm - - -
Ductus deferens 21 cm - - -
Ampulla ductus deferens - - - Tidak ada
Kelenjar vesicularis - - - Tidak ada
Kelenjar prostat 5 cm 3 cm - -
Kelenjar bulbouretralis - - - Tidak ada
Penis 27 cm - -

Ga
mbar 1. Organ Reproduksi Jantan
Testis
Hasil pengukuran pada preparat testis kambing adalah sebagai
berikut, panjang 8 cm, tebal 5 cm dan keliling testis 14 cm. Samsudewa
dan Endang (2006) menyatakan bahwa ukuran testis pada kambing
Peranakan Ettawa umur 1,5 sampai 2 tahun mempunyai panjang 7,72
1,12 cm dan lebar 4,4 0,55 cm, untuk kambing umur 2 sampai 4 tahun
mempunyai panjang testis 8,62 1,25 cm dan lebar 5,2 0,53 cm. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa data yang didapat sesuai dengan
literatur. Besar kecilnya kedua testis tidak dapat dibandingkan karena
salah satu testis yang diamati telah dikeluarkan dari skrotum sehingga
menyulitkan untuk dibandingkan.
Testis adalah organ reproduksi primer pada hewan jantan. Testis
berfungsi sebagai tempat pembentukan spermatozoa dan tempat
pembentukan hormon testosteron, androgen dan inhibin. Frandson (1992)
dalam Fatkhawati (2007) menyatakan bahwa sebagian besar hewan
mamalia, testis ada sepasang, berbentuk bulat telur atau lonjong dan
verada di dalam rongga skrotum. Testis terdiri dari tubulus seminiferus,
rete testis dan sel-sel Leydig. Tubulus seminiferus ini kelilingi oleh kapsul
berserabut atau trabekula yang melintas masuk dari tunika albugnea
untuk membentuk kerangka atau stroma, untuk mendukung tubulus
seminiferus. Trabekula ini bergabung membentuk korda fibrosa yaitu
mediastinum testis. Rete testis terdiri dari saluran yang terletak di antara
tubulus seminiferus dan duktuli efferens yang berhubungan denggan
ductus epididymis dalam caput epididymis. Sel Leydig merupakan sel
yang menghasilkkan hormon kelamin jantan yaitu testosteron. Sel Leydig
ini terletak di dalam jaringan pengikat di antara tubulus seminiferus.
Skrotum adalah lapisan yang melindungi testis. Skrotum berfungsi untuk
mempertahankan suhu pada testis yang lebih rendah dari suhu tubuh.
(2004) menyatakan bahwa skrotum adalah kantong yang menggantung di
bawah penis yang berisi testis. Bagian dalam terdapat septum medialis
yang membagi skrotum menjadi dua kantong, yaitu masing-masing berisi
testikel. Soeroso dan Duma (2006) menyatakan bahwa skrotum dengan
otot-otot licinnya, lapisan fibrosa dan kulit berfungsi menunjang dan
melindungi testis dan epididymis dan mempertahankan suhu yang lebih
rendah daripada suhu badan yang diperlukan agar spermatogenesis
melepaskan diri dari sel sekitarnya dan berubah bentuk serta cirinya,
setelah beberapa waktu kemudian sel ini melekat pada sel sertoli,
kemudian melepaskan diri secara bebas verada di saluran tubuli, masuk
ke dalam rete testis, kemudian memasuki epididymis dan mengalami
proses pematangan. Skrotum berfungsi sebagai regulator, yang dapat
mengatur temperatur terhadap testis. Pada saat dingin skrotum
berkontraksi membawa testis ke dalam, dekat perut. Dalam keadaan
temperatur panas, skrotum mengembang sehingga testis turun lagi (Aak,
2008). Bintang et al. (2014) menyatakan bahwa untuk berlangsungnya
spermatogenesis yang optimal diperlukan suhu tetap pada testis, 4-7 C di
bawah suhu tubuh. Fungsi pengaturan suhu atau termoregulator ini
dikerjakan oleh dua otot yaitu musculus cremaster eksternus dan
musculus cremaster internus, serta tunika dartos. Otot ini akan
berkontraksi bila suhu lingkungan menurun, sehingga menarik skrotum
dan membawa testis mendekati tubuh sebagai sumber panas. Sebaliknya
otot ini akan merelaks apabila suhu lingkungan tinggi, sehingga skrotum
mengendor dan memanjang menjauhkan testis dari tubuh. Mekanisme
termolegulator ini mulai terjadi sewaktu hewan mencapai masa pubertas
dan dipengaruhii oleh hormon jantan. Faktor lain yang membantu
mekanisme termolegulator adalah mekanisme pertukaran panas dan
dipengaruhi oleh posisi arteri testiskuler dan plexus venous pampiniformis
yang hanya sedikit dipisahkan oleh jarigan ikat di dalam funiculus
speraticus. Posisi arteri dan vena yang dekat ke permukaan testis,
cenderung untuk mempertinggi kehilangan panas secara langsung.
Kriptorkidismus yaitu kondisi dimana testis tidak turun. Hal ini
terjadi pada saat pertengahan kebuntingan yaitu di dalam fetus. Yusuf
(2012) menyatakan bahwa testis berbeda dengan ovarium, dimana testis
ini tidak tetap tinggal di dalam rongga tubuh. Testis ini menurun dari
asalnya di dalam rongga tubuh dekat ginjal melalui inguinalis ke dalam
skrotum. Penurunan testis terjadi karena pemendekan gubernaculum,
ligamentum yang memanjang dari daerah inguinalis dan melekat pada
ekor epididymis. Hal ini terjadi Karena gubernaculum tidak tumbuh
secepat dinding tubuh. Testis tertarik mendekati saluran inguinalis ke
dalam skrotum yang dikontrol oleh hormon gonadotropik dan androgen.
Penurunan ini terjadi di dalam fetus ternak pada pertengahan kebuntingan
dan segera sebelum kelahiran. Apabila kedua testis tidak turun maka
disebut bilateral crypthocid dan ternak menjadi steril, jika hanya satu yang
turun disebut uniteral crypthocid dan ternak biasanya frtil (subur).
Kastrasi atau pengebirian pada sapi jantan di masa lalu disebut
sebagai salah satu usaha penggemukan. Berdasarkan pada hasil
penelitian terakhir, gambaran semacam itu ternyata tidak terbukti sama
sekali. Kastrasi baik pada sapi muda atau tua dalam berbagai tingkat
makanan, tidak memberikan tingkat pertambahan berat tubuh lebih baik.
Meskipun sapi jantan yang dikebiri tidak menunjukkan pertambahan berat
tubuh dengan sapi tidak dikebiri, dari hasil penelitian diketahui bahwa
kualitas karkas sapi kastrasi lebih baik dibandingkan dengan karkas sapi
yang tidak dikebiri, dan serat dagingnya lebih lembut. Kastrasi pada ternak
sapi jantan lazim disebut testorectomy, dan pada sapi betina disebut
ovarioctemy. Istilah tersebut diambil dari nama kelenjar yang dipotong
atau disumbat (Murtidjo, 2012).
Kastrasi dapat dilakukan dengan dua metode. Metode pertama
yaitu metode terbuka dimana kastrasi dilakukan dengan jalan operasi
yang mempergunakan pisau steril dan tajam. Cara ini dianggap paling
efektif. Kedua testis sapi jantan langsung diambil, sehingga tidak ada
kemungkinan lagi bahwa sapi jantan bisa memproduksi sperma. Metode
tertutup dimana kastrasi dilakukan dengan peralatan khusus dan obat-
obatan. Metode tertutup ini pelaksanaan kastrasi lebih mudah dan
sederhana, meski kurang efektif (Murtidjo, 2012).

Testis

Gambar 2. Testis
Epididymis
Berdasarkan hasil pengukuran, panjang epididymis pada kambing
adalah 15 cm. Noviana et al. (2000) menyatakan bahwa panjang
epididymis dari caput ke cauda 14,24 cm. hal ini menunjukkan bahwa
epididymis preparat normal karena tidak terlalu jauh dari literature. Yusuf
(2012) menyatakan bahwa epididymis merupakan saluran pertama dari
testis, yang menyatu secara longitudinal pada permukaan testis dan
terbungkus dalam tunika vaginalis bersama dengan testis. Caput (kepala)
dari epididymis adalah daerah datar dipuncak testis, dimana 12 sampai 15
saluran (ductus) kecil, vas efferentia, menyatu manjadi satu saluran
tunggal yang terhubung sampai pada cauda (ekor). Panjang total saluran
berbelit-belit ini adalah sekitar 34 meter pada sapid an lebih panjang lagi
pada ram, babi hutan dan kuda. Ashdown dan Hafez (1993) dalam
Noviana,dkk (2000) menyatakan bahwa maturasi spermatozoa terbesar
sekitar 75%. Epididymis secara anatomi terdiri dari tiga bagian yaitu caput
epididymis (kepala) yaitu bagian yang menelungkupi testis, corpus
epididymis (badan) dan cauda epididymis (ekor) (Hafez, 1993).

Caput

Corpus

Cauda

Gambar 3. Epididymis
Ductus deferens
Berdasarkan hasil pengukuran didapat panjang ductus deferens
yaitu 21 cm, Heffner dan Danny (2005) menyatakan bahwa struktur
ductus deferens mempunyai panjang 45 cm yang berawal dari ujung
bawah epididymis kemudian naik disepanjang aspek posterior testisdalam
bentuk gulungan-gulungan bebas. Hasil pengukuran berbeda dengan
literature. Perbedaan ini dipengaruhi oleh umur ternak dan berat badan
ternak.
Ductus deferens (Ductus deferens) adalah sebuah saluran yang
berjalan dari bagian bawah epididymis, naik dibelakang testis, masuk ke
tali mani (funikulus spermatikus) dan mencapai rongga abdomen melalui
saluran inguinal dan akhirnya berjalan masuk ke dalam pelvis
(Pearce,2009). Ductus deferens memanjang dari epididymis sampai
ductus ejakulatoris yang merupakan saluran bagi sperma (Stright, 2004).
Ductus ejakulatoris berukuran pendek dan berada sangat dekat dengan
ductus kontralateralnya saat menuju bagian depan melalui prostat (Heffner
dan Danny,2005). Feradis (2010) mengatakan bahwa pejantan, untuk
tujuan manajemen, biasanya kemampuan fertilitasnya dihilangkan tetapi
tetap dipertahankan fungsi seksualnya. Cara yang digunakan adalah
vasektomi. Vasektomi dilakukan dengan cara pembedahan atau
pemotongan ductus deferens sehingga spermatozoa tidak dapat
melanjutkan perjalanannya dari epididymis menuju ke sistem urogenitalik.
Ductus deferens berfungsi untuk mengangkut spermatozoa dari
epididymis menuju uretra.

Ductuc deferens

Gambar 4. Ductus deferens


Uretra
Uretra merupakan bagian saluran yang tergantung dari tempat
bermuaranya ampula sampai keujung penis. Uretra merupakan saluran
untuk urin dan untuk semen sehingga disebut saluran urogenitalis. Uretra
terbagi atas tiga bagian yaitu, pelvis yang membengkok dan penis
(Nugroho,2008). Urethramasculinus adalah saluran ekskretoris bersama
untuk urin dan semen. Urethra membentang dari daerah pelvis ke penis
dan berakhir pada ujung glans sebagai orificum urethrae externa. Urethra
dapat dibedakan atas 3 bagian yaitu bagian pelvis merupakan suatu
saluran dengan panjang 15 sampai 20 cm (Feradis, 2010). Berdasarkan
praktikum yang dilakukkan preparat yang digunakan tidak diukur panjang
urethranya sehingga tidak didapat hasil pengukuran.

urethra

Gambar 5. Uretra
Kelenjar Tambahan
Kelenjar pelengkap disebut juga kelenjar kelamin aksesoris.
Kelenjar kelenjar ini akan manghasilkan sebagian besar dari bahan
ejakulasi semen yang berperan dalam transportasi semen, sebagai media
yang cocok untuk makanan dan sebagai buffer terhadap sifat keasaman
kelenjar vesicularis, kelenjer prostat, dan kelenjar bulbouretralis (Nugroho,
2008).
Kelenjar vesicularis atau vesicular veminalis, pada umumnya
jumlahnya sepasang dan terletak sebidang dengan ampula vas deferens.
Kedua kelenjar tersebut mengapit ampula. Sekresi dari kelenjar
vesicularis akan bermuara dengan ductus deferens. Kelenjar vesicularis
pada sapi berbentuk lobus-lobus dengan ukuran yang cukup besar,
Sekresi kelenjar vesicularis merupakan 50 persen dari volume total satu
ejakulasi yang normal (Nugroho,2008).
Kelenjar prostat adalah kelenjar yang letaknya berada dibawah
kelenjar vesicularis, tepatnya mengelilingi pelvis urethra. Kelenjar ini
bentuknya berbeda. Pada sapi berbentuk bulat dan lebih kecil dari
kelenjar vesicularis dan anjing dan kuda berbentuk seperti buah kenari
(walnut). Kelenjar prostat menghasilkan sekret yang bersifat alkalin yang
memberikan bau yang karakteristik pada cairan semen (Nugroho,2008).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh pengukuran
panjang dan lebar berturut-turut adalah 5 cm dan 3 cm.

Kelenjar
prostat

Gambar 6. Kelenjar Prostata


Kelenjar Bulbouretral (Cowpers). Kelenjar cowpers merupakan
sepasang dan letaknya lebih ke belakang (caudal) dari kedua kelenjar
tersebut, yaitu ditempat tikungan dimana uretra membelok kebawah
sewaktu uretra mau keluar dari ruang pelvis. Sekret dari kelenjar ini
sangat berguna pada saat sebelum kopulasi dimana sekresinya bersifat
apocrine yang fungsinya untuk membersihkan saluran uretra dari sisa-sisa
urin dan kotoran (Nugroho,2008).
Penis
Berdasarkan pengukuran didapat bahwa panjang penis 27 cm.
penis merupakan organ kopulasi pada hewan jantan, yang akan
menyemprotkan semen kedalam alat reproduksi betina dan untuk
lewatnya urine. Penis dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: gland penis
yang dapat bergerak bebas, badan dan bagian pangkal atau akar yang
melekat pada ischial arch pada pelvis yang tertutup oleh otot ischiocaver
nosus. Penis dilengkapi dengan dua macam perlengkapan yaitu musculus
retractor penis berfungsi untuk menegangkan penis. Dalam keadaan
nonaktif, musculus retractor penis akan mengkerut, kemudian penis akan
membentuk huruf S sehingga penis dapat tersimpan dalam preputium.
Penis terbungkus oleh tunica albugenia yang berwarna putih. Bentuk
penis pada ternak pada umumnya sama bulat panjang. Pada sapi penis
ini bertipe fibroelastis artinya selalu dalam keadaan tegak kaku dan kenyal
meskipun dalam keadaan non aktif atau tidak ejakulasi. Sedangkan
prepotium merupakan lipatan kulit yang ada di sekitar ujung penis. Pada
ternak-ternak tertentu, preputium mempunyai bentuk yang agak khas,
sebagai contoh preputium pada kuda mempunyai lipatan yang rangkap,
preputium pada babi mempunyai diverticulum atau kantong disebelah
dorsal dari orificium preputial, yang mempunyai fungsi untuk
mengakumulasi urin, sekret dan sel-sel mati (Nugroho,2008).
Berdasarkan tipenya, penis dibagi menjadi dua macam yaitu tipe
muskulokavernosum dan fibroelastika. Tipe muskulokavernosum terdapat
pada golongan anjing, kuda, primata, sedangkan tipe fibroelastika
terdapat pada sapi, domba, kambing, babi, rusa, dan kerbau
(Hardjoprajantoto, 1995).
Otot retractor penis ini dari vertebrata di daerah ekor dan menyatu
ke ventral penis pada anterior flexura sigmoidea. Glans penis, yang
merupakan ujung bebas dari penis, disuplai dengan saraf sensorik yang
merupakan homolog dari klitoris betina. Sebagian spesies, penis adalah
fibroelastis, mengandung sejumlah kecil jaringan ereksi. Processus
urethralis merupakan perpanjangan dari saluran urethra. Bentuk glans
penis pada masing-masing jenis ternak berbeda-beda.hal ini dipengaruhi
oleh faktor genetik, bangsa dan spesies (Yusuf, 2012).

Penis

Gambar 7. Penis
Preputium
Batang utama penis ditutupi oleh kulit yang relative tebal. Gland
penis mempunyai penutup yang jauh lebih tipis dari sehingga menjadi
lebih sensitiv terhadap rangsangan. Gland penis manusia ditutupi oleh
lipatan kulit yang disebut preputium (Campbell, 2004).

Preputium

Gambar 8. Preputium
Kesimpulan
Sistem alat reproduksi jantan terdiri dari testis, epididymis, ductus
deferens, uretra, penis dan kelenjar aksesoris yang meliputi kelenjar
vesicularis, kelenjar prostata, kelenjar cowper. Berdasarkan praktikum
yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa beberapa ukuran organ
reproduksi kambing seperti testis dan epididymis sesuai dengan literatur,
sedangkan ductus deferens, kelenjar prostate dan penis berbeda dengan
literature. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan bangsa ternak,
umur ternak, dan managemen pakan ternak. Testis berfungsi
menghasilkan spermatozoa dan hormon testosteron, epididymis berfungsi
sebagai transportasi (pada caput dan corpus), konsentrasi, pendewasaan,
dan penimbunan spermatozoa (pada cauda), ductus deferens dan ampula
ductus deferens berfungsi menghubungkan antara testis dengan testis
dan menyalurkannya ke uretra. Kelenjar vesikulari, prostat yang
merupakan penghasil sekresi untuk pencampuran sperma, kelenjar
cowper yang menghasilkan cairan kental sesaat sebelum ejakulasi. Penis
sebagai alat kopulasi dan praeputium melindungi penis.
Daftar Pustaka
Aak. 2008. Usaha Ternak Babi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Bintang, A., Chairunnisa., Nurhasanah, S., Yuliana, R., Noviyanti, D.C.
Makalah reproduksi ternak anatomi organ reproduksi ternak jantan.
Fakuultas Peternakan Universitas Padjajaran. Sumedang
Campbell, N.A,. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2000. Biologi
edisi 5 jilid 3. Alih bahasa: Wasman manalu. Erlangga. Jakarta.
Fatkhawati, I. 2007. Skripsi hubungan diameter testis dan epididymis
terhadap kualitas spermatozoa pada sapi
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta.Bandung.
Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6 th Edition. Kiawah
Island, South Carolina, USA.
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Ternak. Airlangga University
Press. Surabaya
Heffner, Linda J. dan Danny J. Schust. 2005. At a Glance Sistem
Reproduksi. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Murtidjo, B. A. 2012. Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
Noviana, Citra, Arief Boediyono, dan Tutik Wresdyati. 2006. Morfologi dan
Histomorfometri Testis dan Epididymis Kambing Kacang dan Domba
Lokal. Jurnal Kedokteran Hewan. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB.
Nugroho, C.P. 2008. Agribisnis Ternak Ruminansia. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan. Departemen Pendidikan
Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan fisiologis untuk paramedic. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta
Rizal, M., M.R, Toelihere., T.L, Yusuf., B. Purwantara, and P. Situmorang.
2003. Characteristic of reproductive permoformance of Garut rams.
JITV 8(2):134-140
Samsudewa, Daud dan Endang Purbowati. 2006. Ukuran Organ
Reproduksi Domba Lokal Jantan pada Umur yang Berbeda. Jurnal
Teknologi Peternakan dan Veteriner. Universitas Diponegoro.
Semarang.
Soeroso dan Y. Duma. 2006. Hubungan antara lingkar skrotum dengan
karakteristik cairan-cairan dan spermatozoa dalam cauda epididymis
pada sapi Bali.
Stright, B.R. 2005. Keperawatan ibu-bayi baru lahir. EGC. Jakarta
Wahyuni, S., S. Agungpriyono., M. Agil.,m T.L, Yusuf. 2012. Histologi dan
histomorfometri testis dan epididymis muncak periode ranggah keras
Yusuf, M. 2012. Ilmu Reproduksi Ternak. Lembaga Kajian dan
Pengembangan Pendidikan Universitas Hassanudin. Makassar