Você está na página 1de 3

REFLEKSI LIVE-IN

Girisonta,21-24 Mei 2011

1. Pengantar
Live-in kali ini saya memilih Serikat Yesus sebagai tujuannya dan saya live-in di
Novisiat St.Stanislaus Girisonta. Mengapa? Karena saya sangat penasaran dengan
Latihan Rohani Ignatius Loyola dimana melalu Latihan Rohani tersebut kita bisa
menemukan kehendak Allah dalam diri kita serta meilih sikap dan perilaku mana yang
sesuai dengan perilaku Yesus sendiri. Saya juga pernah membaca bahwa Latihan Rohani
menghasilkan banyak pertobatan dan menghasilkan banyak santo/santa. Hal inilah yang
membuat saya tertarik live-in disana untuk sedikit lebih mengerti tentang cara hidup
Yesuit serta Latihan Rohani tersebut.

2. Hidup di Novisiat
Selama 4 hari saya tinggal di Girisonta. Disana saya mendapatkan banyak
pengalaman rohani yang baru. Pertama-tama Setibanya di Girisonta saya merasakan
suasana yang sangat tenang dan hening, saya disambut oleh para frater novis yang ramah
dan bersahabat. Kamipun disambut dengan Ibadat Kedatangan Orientator Serikat Yesus.
Lalu pada saat tengah hari kami melakukan Examen Conscientiae yaitu pemeriksaan
batin. Examen Conscientiae ini seperti meditasi dan permenungan. Melalui examen
Conscientiae itu saya dapat memeriksa batin saya secara mendalam, melihat kembali
perjalanan saya sehari-hari, memeriksa dosa dan kesalahan yang saya perbuat selama
kurun waktu setengah hari tersebut, serta meminta maaf kepada Tuhan dan membuat
niatan baru kepada Tuhan untuk tidak mengulangi dosa itu lagi. Dalam Examen
Conxcientiae saya seperti dituntun melalui permenungan dan meditasinya untuk
menemukan Tuhan dalam setiap kegiatan, dan dari tindakan sekecil apapun.
Sore harinya saya belajar di kubikel. Metode belajar di Novisiat Serikat Yesus
berbeda dengan yang biasa saya lakukan. Cara belajar mereka adalah setelah usai
membaca materi mereka hening dan merenungkan dan menyerap materinya sambil
membayangkan dan mengimajinasikannya. Banyak hal yang bisa saya dapatkan tentang
cara belajar yang baik serta dalam hal memahami materi melalui permenungan setelah
membaca buku. Selain cara belajar seperti tadi,para frater novis juga menggunakan
metode belajar lain yaitu dengan membentuk lingkaran kecil terdiri dari 5 orang, lalu
mereka membaca sebuah buku secara bergiliran, masing-masing orang membaca satu
alinea. Dari hal tersebut dapat saya simpulkan bahwa diperlukan perhatian dalam
menyimak bacaan. Melalu metode belajar tadi saya diajarkan bagaimana agar saya bisa
menghargai orang lain berbicara, mau mendengarkan orang lain serta menyimak apa
yang dibicarakannya.
Setiap hari kami mengikuti Ekaristi serta visit yaitu mengunjungi Sakramen
Mahakudus yang dilakukan pada pagi hari,seiang hari setelah makan dan malam hari.
Selain itu setiap pagi hari dan sore hari kami dan para frater berlatih untuk latihan
penyadaran diri. Ada tiga bentuk latihan penyadaran yaitu latihan penyadaran pernafasan,
latihan penyadaran tubuh, serta latihan penyadaran suara. Tujuan latihan penyadaran ini
adalah untuk memudahkan kita dan memfokuskan kita untuk masuk ke dalam suasana
doa. Melalui latihan tersebut saya dapat mengetahui bahwa doa adalah hubungan sakral
antara manusia dan Tuhannya sehingga saat berdoa kita harus benar-benar utuh dan
sadar,saat berdoa kita harus fokus dan menelaah kembali diri kita, apakah kita sudah
layak untuk menghadap Tuhan dengan segala kesadaran diri kita ataukah kita hanya
berdoa tanpa menyadari kasih dan penyertaan Tuhan dalam diri kita serta kehadiranNya
di setiap kegiatan. Untuk itulah perlu sebelum berdoa untuk melakukan penyadaran diri
dengan salah satu bentuk tersebut. Setelah latihan penyadaran dan doa pagi diadakan
sharing tentang bagaimana dan apa yang terjadi saat kita doa, apakah kita bisa fokus dan
berkonsentrasi, atau adakah masalah-masalah yang mengganggu jalannya doa kita entah
itu distraksi dari luar atau kurangnya konsentrasi karena belum terbiasa. Pada malam hari
sebelum tidur diadakan puncta, yaitu bacaan atau pemberian pokok-pokok doa serta
persiapan untuk meditasi esok harinya.
Dalam cara hidup rohani Serikat Yesus mereka tidak begitu intensif untuk
melakukan doa ofisi atau doa koor. Mengapa? Karena jangan sampai doa ofisi itu
menghalangi tugas kerasulan kita. Doa menjadi urusan pribadi masing-masing pada
waktu hening dan nantinya doa harus menjadi lebih daripada sekedar pujian kepada
Tuhan serta lebih kepada bagaimana pribadi tersebut menemukan Tuhan serta menyadari
keberadaanya dalam setiap hal bahkan pada saat sulit sekalipun, hal ini biasa disebut doa
dalam aksi. Hal ini adalah salah satu perwujudan dari spiritualitas Ignatius dalam hidup
rohani para Yesuit. Dalam salah satu ajaran spiritualitas Ignatius juga disebutkan bahwa
dengan menyerahkan diri kepada penyelenggaraan Illahi adalah cara yang paling mudah
untuk mencapai kesucian.
Dengan belajar dari kehidupan para frater novis Serikat Yesus saya dapat semakin
menyadari keberadaan Tuhan melalui tindakan-tindakan para frater yang bersahabat dan
sudah menganggap kami seperti saudara sendiri dan tidak membeda-bedakan kami.
Tanggung jawab para frater dalam membimbing kami selama live- in tampak dalam tiap
tindakan mereka pada kami bahwa walaupun mereka sedang sibuk-sibuknya menyiapkan
lokakarya 80th Novisiat St.Stanislaus dan mempersiapkan liburan besar mereka tetap
membantu kami dalam kesulitan-kesulitan kami selama tinggal disana dan menemani
kami dalam setiap kegiatan. Hal lainnya yang sangat saya kagumi adalah saat dimana
para romo, bruder, suster, dan frater ikut dalam kegiatan opera, saat opera tersebut kami
saling bekerja sama sambil sharing tentang pengalaman-pengalaman kami di seminari,
hal ini semakin menghangatkan suasana dan bagi saya adalah sebuah pelajaran kehidupan
yang sangat berarti dimana saya dapat memetik pelajaran bahwa dengan ikut melayani,
saling bekerjasama dan menolong serta tetap rendah hati dalam melakukan setiap
pekerjaan itu berarti kita sudah memuliakan Allah melalui tindakan dan kebaikan kita
terhadap sesama serta juga berarti kita dapat menjadi bukti kehadiran Allah melalui
tindakan kita dan keutamaan-keutamaan kita yang berkenan pada Tuhan.

3. Kesan selama Live-In


Selama live-in di Girisonta saya merasa diterima sebab para frater dan romo
begitu hangat dan bersahabat. Suasana novisiatnya juga begitu asri dan hening, walaupun
sepi dan jauh dari keramaian saya tidak merasa jenuh untuk tinggal disana. Para frater
dan romo juga begitu baik dan rendah hati sebab mereka mau menemani dan membantu
kami selama live-in. Saya juga merasa senang karena bisa ikut dalam kegiatan disana dari
opera sampai latihan koor. Selain itu kami juga sangat senang karena bisa bertemu
kardinal dan merayakan Ekaristi bersama beliau.
Oleh : Nicolaus Yudi Ardhana / 7A