Você está na página 1de 1

4. Teologi Sabda.

Seorang protestan berpasangan ke spiritual exegesis yang di munculkan oleh Karl Barth,
yang menggunakan istilah pneumatic exegesis dalam teologinya atas sabda Allah. Dengan
sabda Allah Barth memaksudkan bukan sekedar merupakan kata-kata semata atau kertas
bersejarah tapi merupakan, Kistus yang hidup yang berbicara kepada kita disini dan kini
melalui kata-kata isnpirasi dalam naskah kitab suci. Sabda Allah bukan sekedar teks tapi
merupakan sebuah kejadian yang direka ulang kembali sehingga pembaca menghadapi Tuhan
sekarang.

Barth bersikeras bahwa para exsegese harus merupakan orang yang beriman, dengan tujuan
untuk memperoleh pemahaman pesan kitab suci dan pesan Allah, yang isinya merupakan
esensi terdalam. Dengan kata lain orang itu harus memiliki kedekatan dengan Allah melalui
iman. Roh kudus dengan aktif memberi inspirasi tidak hanya kepada penulis tapi kepada
orang beriamn yang membacanya dalam Gereja masa kini

Meskipun seseorang tidak dapat meninggalkan keadaan yang, jika diamati,


memberi garansi mendengar sang sabda. Tidak ada metode yang mana pewahyuan
dapat membuat pewahyuan secara aktual didapatkan, tidak ada metode atas
spiritual eksegesis yang benar-benar pneumatic, yang mana diartikulasikan
kesaksian pada pwahyuan dalam Kitab suci dan pada tingkat benar-benar
mengenalkan Pneuma.(14)
.
Barth mempertahankan, pada basis dari scriptura itu sendiri, wahyu allah terjadi terutama
dalam Yesus Kristus, sabda inkarnasi Allah. Melalui kejadian Kristus, Allah secara pribadi
menghadapi manusia. Teologi, berusaha menjelaskan karakter Allah sebagai agen,
mendengarkan kepada Allah sebagaimana Dia berbicara kepada Gereja melalui naskah-
naskah. Tidak hanya pernyataan diekspresikan melalui scriptura, tapi pola-pola narasi kitab
suci, termasuk cerita kepahlawanan dan legenda, dapat memediasi pertemuan dengan
kehidupan Allah dan sabda pribadinya.

Teologi Barth mengenai sabda, telah terkenal, selaras dengan beberapa penekanan dalam
teologi kitab suci katolik dan spiritula exsegesis. Perhatiannya pada tindakan pribadi atas
sabda yang hidup terlihat telah memengaruhi Bouyer, de Lubac, dan von Balthasar. Tapi
Barth lebih cenderung daripada teman-teman katolknya utnuk menggunakan sebuah
adikotomi antara sabda Allah dan pemahaman manusia, dan antara otoritas kitab suci dan
Greraja. Pertanyaan-pertanyaan dapat dimunculkan mengenai kesuksesan Barth dalam
mensegel intrepertasi kitab suci dari prasangka filosofisnya dan pengaruh dari tradisi
gerejanya secermat ia mngakuinya. Tapi panggilannya, untuk memperhatikan firman tuhan
dan menghindari memaksakan makna kita sendiri saja, menahan kegigihan.