Você está na página 1de 6

2-37

Nilai wajar didefinisikan dalam IFRS sebagai, the amount for which an asset could
be exchanged between knowledgeable, willing parties in an arms length transaction.
Nilai wajar ini digunakan untuk mengukur:

1. Satu aset
2. Sekelompok aset
3. Satu liabilitas
4. Sekelompok liabilitas
5. Konsiderasi bersih dari satu atau lebih aset dikurangi satu atau lebih liabilitas
terkait
6. Satu segmen atau divisi dari sebuah entitas
7. Satu lokasi atau wilayah dari suatu entitas
8. Satu keseluruhan entitas
Yang dimaksud dengan pengukuran di atas bukan merupakan pengukuran awal.
Untuk pengukuran awal (saat aset diakuisisi atau liabilitas muncul), entitas tetap
menggunakan dasar kos pada saat terjadinya transaksi. Setelah pengukuran awal
(biasa disebut sebagai pengukuran setelah pengukuran awal), yaitu saat pelaporan
keuangan (dan untuk pelaporan seterusnya, selama aset masih dikuasai), entitas boleh
memilih model kos (berdasar kos historis) atau model revaluasi (berdasar nilai wajar)
untuk mengukur pos-pos laporan keuangannya.

Dari definisinya, dapat disimpulkan bahwa nilai wajar diukur menggunakan dasar
ketika aset (atau liabilitas) dapat ditukar, bukan ketika aset (liabilitas) benar-benar
ditukar. Cara mengukur ketika aset (liabilitas) dapat ditukar adalah menggunakan:

a. Pendekatan Pasar. Dalam pendekatan ini, nilai wajar diukur berdasarkan


harga pasar atau informasi relevan lain yang dihasilkan dari transaksi di pasar.
Hal ini termasuk harga aset (liabilitas) sejenis yang ada di pasar, dan metode
penilaian lain yang konsisten dengan pendekatan pasar. Urutan yang
digunakan jika nilai wajar menggunakan pendekatan pasar adalah, pertama
harga pasar aset (liabilitas) pada saat pelaporan, jika tidak terdapat harga
pasar aset (liabilitas) maka menggunakan harga pasar aset (liabilitas) sejenis,
jika tidak terdapat harga pasar aset (liabilitas) sejenis maka menggunakan
model yang konsisten dengan pendekatan pasar (contohnya model matrix
pricing, dll)
b. Pendekatan Penghasilan. Pendekatan ini menggunakan teknik penilaian untuk
mengubah nilai masa depan (contohnya aliran kas atau laba) ke nilai kininya
terdiskonto (discounted). Pengukuran nilai wajar dalam pendekatan ini
menggunakan dasar nilai yang dilihat dari harapan pasar kini atas nilai aset
(liabilitas) masa depan. Pendekatan ini termasuk menggunakan nilai kini
(present value, option pricing).
c. Pendekatan Kos. Pendekatan kos disebut juga pendekatan kos pengganti kini
(current replacement cost). Kos pengganti ini adalah jumlah yang diperlukan
untuk menggantikan suatu aset.
2-38.
Hierarki nilai wajar input adalah asumsi yang memberikan dasar dalam mendapatkan
nilai wajar. Terdapat 2 macam input yang diakui yaitu, input yang dapat diobservasi
dan input yang tidak dapat diobservasi.
Input yang dapat diobservasi yaitu, ketika harga pasar dapat diperoleh dari sumber
yang independen terhadap perusahaan yang membuat laporan. Input yang dapat
diobservasi ini digoongkan menjadi 2 menurut asal harga pasar diperoleh, yaitu harga
diperoleh dari pasar utama dan yang kedua harga diperoleh dari pasar sejunder.
Sedangkan Input yang tidak dapat diobservasi yaitu, ketika harga pasar yang
diperoleh didapat dari asumsi-asumsi perusahaan karena asset atau kewajibannya
tidak diperdagangkan.

Terdapat 3 tingkatan dalam hierarki ;

a. Input tingkat 1 : input ini diambil dari harga pasar aktif untuk asset atau
kewajiban tertentu yang sedang dinilai. Harga tersebut merupakan input yang
paling bisa diandalkan dan harus digunakan dalam menentukan nilai wajar
apabila tersedia.

b. Input tingkat 2 : input ini diperoleh dari, kutipan harga dalam pasar aktif untuk
asset atau kewajiban yang mirip tetapi tidak identik atau dari kutipan harga
untuk asset atau kewajiban yang identik tetapi tidak di dalam pasar aktif atau
jarang diperdagangkan,

c. Input tingkat 3 : merupakan input yang tidak dapat diobservasi dan digunakan
ketika asset atau kewajiban tidak diperdagangkan atau ketika substitusi
perdagangabbya tidak dapat diidentifikasi. Input ini merupakan asumsi dari
manajer sendiri dalam penilaian, termasuk data internal dari dalam
perusahaan.

Tingkatan yang menurunkan keandalan estimasi nilai wajar adalah tingkat input3.
Oleh karena itu input ini harus jarang digunakan, walaupun demikian ketika
perusahaan menggunakan tingkat input 1 dan 2 perusahaan masih perlu
mempertimbangkan tingkat input 3.

2-39
Masalah mendasar dengan penggunaan nilai wajar atau nilai sekarang untuk
instrumen keuangan khususnya adalah adalah sulitnya menentukan konsep nilai
sekarang yang tepat untuk menilai suatu aset (nilai dimana suatu aset dapat
dipertukarkan) dan liabilitas (suatu kewajiban dapat diselesaikan antara pihak yang
memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar). Menurut Ikatan
Akuntan Indonesia, keberadaan suatu pasar yang tidak aktif, antara lain, diindikasikan
oleh beberapa faktor seperti: (1) peningkatan yang signifikan selisih ask price dan bid
price; (2) pihak yang melakukan bidding jumlahnya terlalu kecil; (3) adanya
volatilitas harga pasar yang signifikan; (4) jumlah efek yang ditransaksikan relative
kecil dibandingkan dengan jumlah efek yang beredar; dan (5) penurunan signifikan
atas volume dan level aktifitas perdagangan.
2-40
pembuatan standar membentuk hierarki nilai wajar input (yaitu asumsi yang
memberikan dasar dalam mendapatkan nilai wajar)
hierarki input dibagi atas tiga input bagian yaitu :
1. Input tingkat 1
Harga yang dikutip dari pasar aktif tempat perusahaan yang melaporkan mempunyai
kemampuan untuk mengaksesnya, apabila perusahaan tersebut mempunyai blok yang
besar didalam volume perdagangan keseluruhan
2. Input tingkat 2
Harga yang dapat diobservasi baik langsung maupun tak langsung dalam pasar aktif
untuk aset dan kewajiban yang sama ,input harga yang dikutip misalnya (tingkat
bunga, kurva tingkat hasil ,resiko kredit
3. Input tingkat 3
Merupakan input yang tidak dapat diobservasi yang merefleksikan asumsi manajemen
sendiri mengenal asumsi yang akan dibuat pelaku pasar.

2-41
Kelebihan
1. Merefleksikan informasi sekarang
2. Kriteria pengukuran yang konsisten
3. Komparabilitas
4. Tidak ada bisa konservatif
5. Lebih bermanfaat dalam analisis ekuitas
Kekurangang
1. Objektivitas lebih rendah
2. Rentan Terhadap manipulasi
3. Penggunaan input tingkat 3
4. tidak adanya unsur konservatif
5. Fluktuasi yang berlebihan

2-42
Nilai wajar menghasilkan informasi yang lebih relevan dan handal karena nilai wajar
adalah nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan
antara pihak yang memahami dan berkinginan untuk melakukan transaksi wajar

2-43
Analisis semacam itu mengharuskan seorang analis untuk melakukan beberapa
hal:
1. Menentukan dengan jelas tujuan dari analisis
2. Memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan-laporan
keuangan dan rasio-rasio keuangan yang diturunkan dari laporan keuangan
tersebut
3. Memahami kondisi perekonomian dan kondisi bisnis lain pada umumnya yang
berkaitan dengan perusahaan dan mempengaruhi usaha perusahaan

2-44
Analisis ini dilakukan dengan cara menelaah neraca, laporan laba-rugi atau laporan
arus kas yang berurutan dari satu periode ke periode berikutnya. Analisis ini meliputi
penelaahan perubahan saldo tiap-tiap akun dari tahun ke tahun atau selama beberapa
tahun.
Perbandingan laporan keuangan selama periode yang relatif pendek dua atau tiga
tahun biasanya dilakukan dengan analisis perubahan tahun ke tahun dalam tiap-tiap
pos. Analisis ini memiliki keunggulan penyajian perubahan dalam angka absolut
maupun persentase. Analisis perubahan dalam jumlah maupun persentase menjadi
relevan karena dasar dolar yang berbeda dalam perhitungan perubahan persentase
dappat menghasilkan perubahan besar yang tidak konsisten dengan kepentingan
aktualnya.

2-45
Analisis Akuntansi
Analisis akuntansi (accounting analysis) merupakan proses evaluasi sejauh mana
akuntansi perusahaan mencerminkan realitas ekonomi. Keterbatasan akuntansi ini
mempengaruhi kegunaan laporan keuangan dan menimbulkan setidaknya dua masalah
dalam analisis.
a. Pertama, ketidakseragaman akuntansi menyebabkan masalah perbandingan
(comparability problem). Masalah ini muncul jika perusahaan yang berbeda
menerapkan akuntansi yang berbeda untuk transaksi atau peristiwa yang sama.
Masalah ini juga muncul jika perusahaan mengubah akuntansinya, yang
berakibat pada timbulnya kesulitan perbanding sementara.
b. Kedua, pilihan dan ketidaktepatan dalam akuntansi dapat mendistrosi
informasi laporan keuangan. Distorsi akuntansi (accounting distortion)
merupakan penyimpangan informasi akuntansi dari ekonomi yang
mendasarinya.
2-46.
Analisis akuntansi mencakup beberapa proses dan pekerjaan yang saling terkait,
dilakukan melalui 2 bidang:
a. Evaluasi kualitas laba, sehubungan dengan distorsi akuntansi-perusahaan memiliki
laba berkualitas tinggi jika informasi laporan keuangan mencerminkan aktivitas
usaha secara akurat.
Tahapan-tahapan dalam evaluasi kualitas laba:
1. Identifikasi dan penilaian kebijakan akuntansi penting
2. Evaluasi tingkat fleksibilitas akuntansi
3. Tentukan strategi pelaporan
4. Identifikasi dan menilai tanda bahaya
b. Penyesuaian laporan keuangan, beberapa penyesuaian umum laporan keuangan
mencakup:
1. Kapitalisasi sewa gguna operasi jk. panjang dengan peny. neraca dan lap. laba
rugi
2. Pengakuan beban kompensasi berbasis saham
3. Penyesuaian beban tidak rutin
4. Pengakuan status (dana) ekonomis program pensiun dan program lainnya
5. Menghilangkan dampak pajak penghasilan tertentu yang ditangguhkan atas
kewajiban.

2-47
Penyebab distorsi akuntansi adalah Standar akuntansi dengan alasan
a. Standar akuntansi adalah produk dari proses politik pihak terkait. Potensi distorsi
muncul dari alternatif metode yang dibolehkan oleh dewan standar bagi suatu
transaksi.
b. Adanya prinsip historical cost yang mengurangi relevansi neraca karena tidak
menggambarkan nilai sekarang aset dan kewajiban
c. Dipakainya konsep konservatisme, mendorong bias pesimis dalam laporan
keuangan (ini diperlukan oleh analis kredit, tapi tidak oleh analis modal)

2-48
Alasan dilakukan manajemen laba:
1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap
manajer. Hal ini juga karena tingkat keuntungan atau laba yang dikaitkan
dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima
oleh manajer.
2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor.
Perusahaan yang terancam tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran
utang pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat
kebijakanyang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba.
3. Manajemn laba dapat menarik investor untuk menanam modal.

2-49.
Strategi Operasi, strategi ini memiliki 4 komponen yaitu misi, tujuan, keunggulan
khusus, dan kebijakan. Keempat komponen ini membantu menegaskan tujuan apa
yang akan dicapai dan bagaimana akan mencapai tujuan itu. Hasil strategi akan
membantu mengarahkan dalam pengambilan keputusan pada seluruh tahap operasi

2-50
Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal
dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba adalah salah satu
faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba
menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan
keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba
tanpa rekayasa
1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap
manajer. Hal ini juga karena tingkat keuntungan atau laba yang dikaitkan
dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima
oleh manajer.
2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor.
Perusahaan yang terancam tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran
utang pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat
kebijakanyang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba.

2-51
Informasi akuntansi akrual mengakui pendapatan saat dihasilkan dan mengakui beban
saat terjadinya transaksi, tanpa memperhatikan penerimaan atau pembayaran kas.
Informasi akuntansi akrual memberikan indikasi kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan arus kas saat ini dan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan
informasi yang dibatasi oleh aspek keuangan berupa penerimaan dan pembayaran kas.

2-52
Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu
periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan
tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan
keuangan yang lengkap biasanya meliputi :
1. Neraca
2. Laporan laba rugi komprehensif
3. Laporan perubahan ekuitas
4. Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan arus
kas atau laporan arus dana
5. Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah
aset, kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran
kinereja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Laporan posisi
keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan
dalam berbagai unsur neraca.

2-53
Lebih murah karena kita harus membayar atau mengeluarkan biaya lagi untuk
membayar seorang auditor.