Você está na página 1de 16

NO WORK SPACE IN OUR COUNTRY

ANALYSIS CAUSE FRICTIONAL UNEMPLOYMENT EKS-TKI IN


DISTRICT BESUKI TULUNGAGUNG REGENCY

Abstract: This study reveals the phenomenon of frictional unemployment in the


community of ex-TKI in Besuki Tulungagung Regency. Disnakertrans
Tulungagung record number of migrant workers who come from districts Besuki
occupies the third position on the rankings TKI sender's largest districts, named
after districts Rejotangan and Kalidawir. Increased interest in becoming
candidates for TKI is supported with his more successful migrant workers who
had returned home, the phenomenon is not without problems, further problems
arise is the increasing amount of frictional unemployment in the area in the
community of ex-workers. Unemployment in the nature of a society of ex-TKI is
caused by the absence of jobs in accordance with their competence, as well as the
inadequate number of jobs in the state provide support competency ex-TKIs.
This research was conducted using qualitative descriptive method by focusing on
the dynamics of the community of ex-migrant worker in Besuki Tulungagung
Regency. Verstehen in the dynamics of the community of ex-TKI used with Focus
Groub Discussion (FGD). The use of participant observation was also used to dig
deeper into the part of the society of ex-TKIs. Results of research have shown the
amount of frictional unemployment in the community of ex-migrant workers is
increasing. This is due to a lack of compatibility between employment and
competences of the ex-migrant workers in the area of origin, cultural origin is
difficult to accept the changes also play a role in this phenomenon, so many ex-
TKI difficult to develop their competence.
Keyword: Frictional Unemployment, Eks-TKI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia adalah nomor 4 di dunia dari segi jumlah penduduk yaitu
menyentuh angka 259 juta jiwa (BPS, 2015). Hal ini mengakibatkan
meningkatnya jumlah tenaga kerja sebesar 1,2 juta orang per-tahun. Namun
demikian jumlah tenaga kerja tersebut tidak dapat terserap oleh lapangan kerja
yang ada sehingga mengakibatkan terjadinya pengangguran yang terus meningkat.
Indeks yang diperoleh dari ILO (International Labour Organization)
menyebutkan peningkatan pengangguran di Indonesia, dari angka 10,8 juta orang
di tahun 2009 menjadi 13,9 di tahun 2013. Keadaan ini menjadi tekanan di bidang
ketenagakerjaan di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan tidak
merata dapat dilihat antar lokasi, jawa dan luar jawa, desa dan kota. Kecilnya
peluang penduduk desa, rendahnya kemampuan dan keterampilan tenaga kerja,
tingkat pendidikan yang rendah, akses dan kontrol terhadap sumberdaya berlanjut
pada rendahnya penciptaan lapangan pekerjaan dan wirausaha di pedesaan.
Fenomena tersebut mendorong orang desa untuk keluar dari desanya, bermigrasi
ke kota atau bahkan melintasi negara.

Fenomena migrasi dipengaruhi oleh budaya masyarakat di daerah Madura,


Jawa khusus nya daerah kapur sebelah selatan yang relatif miskin, dari NTT, NTB
yang lumayan rendah SDM dan SDA yang rendah kualitasnya. Migrasi dilakukan
oleh orang dengan usia produktif, laki-laki maupun perempuan. Munculnya
fenomena migrasi antar negara juga dipicu oleh kebutuhan tenaga kerja menengah
ke bawah oleh negara tujuan. Gaji dan fasilitas yang dijanjikan oleh negara tujuan
menjadi daya tarik. Mereka melintasi batas-batas menuju daerah baru yang asing,
dengan tujuan mendapatkan pendapatan rumah tangga yang tinggi.

Dalam paparan diatas dijelaskan bagaimana migrasi dapat mengubah


kehidupan manusia dalam banyak sektor kehidupan. Namun maksud maksud baik
dari fenomena migrasi yang dilakukan oleh masyarakat di banyak negara
berkembang kadang juga menimbulkan masalah baru. Sehingga perhatian
pemerintah sangat diharapkan untuk mencegah terjadinya permasalahan baru
terkait masalah migrasi.

Tulungagung merupakan kota kecil di selatan provinsi Jawa Timur. Jarak


dari kota Surabaya kir:a-kira sekitar 150km. Belakangan ini perkembangan kota
Tulungagung semakin pesat. Perkembangan pesat ini tidak terlepas dengan
kebijakan pemerintah daerah dalam banyak nya pembangunan. Bukti nyata efek
perkembangan kabuapten Tulungagung terealisasi dalam bentuk semakin banyak
nya pusat-pusat perbelanjaan, sarana olaharaga masyarakat, tempat-tempat
pertunjukan seni, dan tak kalah pentingnya adalah disetujui nya pembangunan
bandara di wilayah selatan pulau Jawa yang terletak di Tulungagung
(beritajatim.com, 2016). Pembangunan bandara tersebut sangat berpengaruh
terhadap kondisi perekonomian kabupaten Tulungagung. Apalagi seperti
diketahui, Tulungagung merupakan daerah pengirim Tenaga Kerja Indonesia
terbesar no. 12 di Indonesia. Sehingga pembangunan bandara sangat mendukung
dengan kondisi tersebut.

Bagi masyarakat Tulungagung bekerja menjadi TKI adalah rasionalitas


paling memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan keluarga. Peluang
kerja di daerah yang semakin kecil menyebabkan masyarakat berbondong-
bondong ingin menjadi TKI. Daya Tarik TKI menjadi sangat tinggi disebabkan
karena banyaknya kesuksesan yang dibawa pulang oleh TKI yang kembali dari
luar negeri. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anggaunita (2015) yang
berjudul Buruh Migran Indonesia asal Tulungagung di Hongkong menyebutkan
factor yang menjadi daya terik orang untuk bekerja ke luar negeri atau menjadi
TKI adalah:

Destinasi atau tempat bekerja yang dipilih sangat populer di kalangan


buruh migran dengan berbagai fasilitas,kemudahan dan kenyamanan yang
ditawarkan disana, dengan begitu mereka berharap untuk segera
ditempatkan dalam lapangan pekerjaan selepas karantina di agen.
Biaya administrasi yang tidak terlalu mahal serta proses untuk
keberangkatan tidak terlalu berbelit-belit dibandingkan ketika mereka
pergi ke Saudi atau ke Malaysia beberapa tahun silam.
Adanya jaringan migran sukses yang berada di Hongkong hingga saat ini
juga dijelaskan oleh 5 orang informan yang diwawancarai sehingga
perasaan senasib sepenanggungan karena adanya persamaan latar belakang
juga menjadi alasan mengapa harus menjadi buruh migran di Hongkong
dibandingkan dengan negara yang lainnya
Paksaan yang kuat dari orangtua dan keluarga di daerah asalnya agar
anaknya melanjutkan profesinya sebagai buruh migran di negara
Hongkong karena keterbatasan dan adanya lilitan hutang yang harus
ditanggung oleh keluarga dan orangtua

Dalam hasil penelitian berikut didapat beberapa kesimpulan, yang pertama


pekerjaan menjadi TKI sebuah kebanggaan karena belum tentu setiap orang
punya kesempatan dalam waktu yang lama tinggal di negara lain. Sehingga
memunculkan gengsi bagi beberapa lapisan kerja di masyarakat. Yang kedua
pekerjaan menjadi TKI merupakan kaderisasi yang sudah berlanjut dan haus
dilanjutkan oleh anggota keluarga. Sehingga bila dahulu orang tua menjadi TKI,
maka nanti pada saatnya sang anak harus berangkat mengantikan nya.

Berdasarkan kondisi ketenagakerjaan, Jawa Timur merupakan Provinsi di


Indonesia nomor 4 terbanyak dalam mengirim tenaga kerja ke luar negeri,
kususnya di kawasan Asia. Walaupun jumlah angka penduduk yang menjadi TKI
di Provinsi Jawa Timur semakin menurun series 5 tahun terakhir, namun tidak
bisa dianggap sebagai penurunan minat masyarakat untuk bekerja ke luar negeri.
Tetapi juga dapat diartikan sebagai sikap untuk menunggu tujuan yang lain.

Negara tujuan yang semakin banyak dengan daya Tarik yang sangat
beragam pula membuat para calon TKI punya banyak pertimbangan dalam
rasionalitas keputusan memilih negara tujuan untuk bekerja. Dalam penelitian
yang dilakukan oleh Susilo (2016) menyebutkan beberapa faktor yang
menentukan TKI dalam memlih negara tujuan bekerja: studi kasus di desa
Aryojeding kecamatan Rejotangan. Hasil dari penelitian ini bahwa subyek
memilih atau menentukan negara tujuan memiliki alasan terentu. Subyek memilih
Negara Malaysia karena faktor dekat, bahasa komunikasi, dan bisa illegal. Subyek
memutuskan bekerja di Negara Taiwan dan Hongkong lebih tertarik faktor ada
perlindungan terhadap Tenaga kerja asing, Jaminan libur setiap hari sabtu. Subyek
yang memilih negara Korea Selatan dikarenakan faktor upah yang sangat tinggi
dan disiplin dalam bekerja.

Pada bagian remittansi, peran TKI tidak bisa dianggap rendah. Data series 5
tahun yang dilansir oleh BNP2TKI berikut menjadi bukti kontribusi TKI pada
devisa negara. Berikut tabel jumlah total remitansi TKI yang dikirim ke Indonesia
dari tahun 2011-2016:

Remitansi TKI TAHUN 2012 s.d 2016 (s.d September)

N TAHUN REMITANSI (xUS$ 1 MILYAR)


O
1 2012 6,99
2 2013 7,40
3 2014 8,43
4 2015 9,42
5 2016 6,76
Keterangan:
Jumlah Remitansi Menurun bila Data Tahun 2015 (s.d September) USD
7.080.091.509 dibandingkan dengan Data
Tahun 2016 (s.d September) mencapai dalam USD 6.760.447.361 atau setara
dengan Rp. 87.872.294.794.411 (Sumber: BNP2TKI)

Dari tabel berikut dapat diketahui bahwa tingkat remitansi mulai tahun 2012
selalu meningkat. Walaupun di tahun 2016 jumlah remitansi turun drastis di angka
US$ 6,76 Milyar atau setara dengan Rp. 87.872.294.794.411. Namun penurunan
jumlah remitansi tetap tidak bisa mempengaruhi daya Tarik masyarakat untuk
menjadi TKI (BNP2TKI, 2016).
Namun, perkembangan minat masyarakat serta remitansi yang semakin
minat pada fenomena masyarakat Buruh migran berikut tidak pula tanpa celah
permasalahan. Penulis melihat beberapa celah kecil permasalahan dalam dunia
Buruh migran Indonesia khususnya di kecamatan Besuki kabupaten Tulungagung
yaitu tentang fenomena adanya pengagguran friksional di kalangan eks-TKI.
Pengaguran tersebut karena para eks-TKI menganggap bahwa seKtor pekerjaan
yang ditawarkan di negaranya kurang sesuai dengan apa yang telah mereka
peroleh di luar negeri. Menurut William F. Ogburn dalam Soekanto (2010)
fenomena tersebut disebut sebagai Cultural Lag, keadaan dimana seorang atau
kelompok sulit untuk menyesuaikan perkembangan dan budaya yang dipunyai
atau masyarakat lain sebagai penerima belum siap untuk menghadapai
perkembangan nya.
Pendekatan teori dasar dalam menjelaskan dan menganalisa fenomena eks
Buruh migran berikut dapat menggunakan konsep pengangguran friksional
Gregory Mankiw (2000). Dalam konsepnya mankiw menjelasakan bahwa
pengangguran friksional adalah kondisi dimana tidak ada kesesuaian antara
pencari kerja (eks-buruh migran) dan lapangan kerja (daerah asal). Faktor-fakt:or
yang mempengaruhi pengaguran friksional bila ditemukan beberepa sebab seperti
preferensi kemampuan tiap individu yang berbeda, perbedaan kultural dengan
pekerjaan sebelumnya, kondisi geografis dan kemauan individu dalam mencari
kerja.
Konsep mengenai pengangguran berikut didukukng dengan yang
diungkapkan oleh Kaufman dan Houthkiss (1999) pengangguran merupakan
ukuran yang dilakukan jika seorang tidak memiliki pekerjaan secara aktif selama
empat minggu berturut-turut. Kemudian pendapat diatas didukung dengan
pernyataan Sadono Sukirno (1994) yang mengatakan bahwa pengangguran dapat
terjadi apabila ada ketidakseimbangan kemampuan dan pasar keja. Dalam hal ini
Sadono Sukirno membagi pengangguran ke empat hal, yaitu pengangguran
Struktural, sikklikal, teknologi dan yang terakhir pengangguran Friksional.
Sebenarnya teori berikut juga dapat pula menjelaskan mengapa banyak
masyarakat di negara-negara berkembang rela dan matia-matian ingin menjadi
buruh migran. Menurut tinjauan peneliti pada beberapa riset terdahulu yang
dijelaskan diatas mengungkapkan bahwa faktor ketidaksesuaian kemampuan dan
keinginan masyarakat untuk bekerja secara mudah cepat dan menghasilkan
banyak uang menjadi faktor rasionalitas keputusan memilih menjadi buruh
migran.
Penelitian ini memfokuskan pada fenomena munculnya pengangguran
friksional (frictional unemployment) pada masyarakat kecamatan Besuki
kabupaten Tulungagung. Hal ini sangat penting dan perlu pembahasan yang
berlanjut melihat kontribusi eks-buruh migran saat mereka bekerja dalam bentuk
remitansi yang berguna bagi pembangunan ekonomi masyarakat kelas bawah dan
devisa dalam jumlah yang sangat besar bagi negara.

METODE
Penelitian ini berupa deskriptif kualitatif, yakni berusaha untuk menggali
informasi sebanyak-banyaknya tentang persoalan yang dijadikan topik dengan
mengutamakan data verbal (Moeloeng: 2010). Dalam penelitian ini data deskriptif
yang dihasilkan berupa hasil pengamatan tingkah laku saat wawancara dari
informan yang bertatus mantan Buruh Migran. Hal ini dilakukan agar peneliti
dapat memahami secara spesifik dan menyeluruh terkait dengan fenomena yang
dihadapi oleh eks-Buruh Migran tersebut.
Penelitian mengenai fenomena pengangguran friksional yang dialami oleh
eks-buruh migran mengambil setting lokasi di kecamatan Besuki kabupaten
Tulungagung. Lokasi ini dipilih dengan asumsi merupakan desa kantong buruh
migran. Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, hampir
seluruh perempuan di desa tersebut pernah dan sedang menjadi buruh migran
dengan tujuan Hongkong, Taiwan, Malaysia dan Korea. Selain hal tersebut yang
menguatkan peneliti untuk memilih lokasi penelitian di desa Tangggulkundung
karena di daerah tersebut terdapat beberapa tempat yang dibangun oleh eks-buruh
migran yang bertujuan untuk membuka lapangan pekerjaan. Namun kenyataan
nya hanya berjalan beberapa saat. Sehingga cukup menjadi alasan yang kuat untuk
dilakukan penelitian ini.
Sumber data dalam penelitian ada dua jenis yakni data primer dan data
sekunder sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan maka data primer berupa
hasil wawancara yang telah dilaksanakan sebelumnya. Informan dalam penelitian
ini ialah eks-buruh migran yang membangun lapangan kerja seperti minimart,
cuci mobil dan jenis-jenis usaha lain yang masuk kategori bangkrut. Serta
beberapa informan lain yang dianggap relevan dengan topik penelitian ini.
Sementara data sekunder dalam penelitian ini berguna sebagai data dukung dalam
menganalisis fenomena pengaguran friksional yang terjadi pada eks-buruh migran
yang berupa data sebaran buruh migran, remmitance dari BNP2TKI, monografi
dari daerah yang dijadikan setting penelitian serta data pendukung lain.
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode indeph
interview dan Focus Group Discussion. Kedua model wawancara tersebut dipilih
dengan alasan untuk mengungkap opini-opini yang dilontarkan informan saat
proses wawancara. Data sekunder dikumpulkan dengan melihat data-data statistik
yang telah diambil peneliti dalam penelitian sebelumnya. Pengambilan sampling
dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Hal ini berkaitan dengan
pengetahuan dan penguasaan informan terhadap masalah atau topik yang diteliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Wilayah Penelitian
Gambar Peta Kecamatan Basuki, Tulungagung

Besuki merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Tulungagung, Jawa


Timur. Berdasarkan gambar peta diatas, Besuki berbatasan langsung dengan Laut
Hindia. Hal tersebut sebenarnya dapat memberikan dampak yang positif bagi
perekonomian masyarakat di sekitar pantai jika dapat dimanfaatkan dengan baik.
Pada beberapa titik di pantai terlihat perahu nelayan yang menandakan bahwa
beberapa penduduk di daerah tersebut bekerja sebagai nelayan. Terdapat pula
masyarakat yang membuka warung warung kecil untuk berjualan makanan.
Kecamatan Besuki berada di dataran tinggi dengan ketinggian 100-500 di
atas permukaan laut. Secara fisiologi, sebagian besar wilayah Besuki adalah
perbukitan tandus namun kaya dengan potensi hutan dan bahan tambang yang
merupakan bagian dari pegunungan selatan Jawa Timur. Walaupun pada beberapa
bulan terakhir telah terjadi kerusakan hutan secara besar-besaran. Kerusakan
tersebut terjadi kemungkinan karena adanya pembangunan jalan lintas selatan
yang melewati wilayah hutan Besuki. Hutan-hutan tersebut kemudian di tebang
yang menyebabkan rusaknya ekosistem alam. Hal ini dapat memungkinkan
terjadinya longsor di Besuki karena minimnya akar pohon untuk menampung air
hujan.
Potensi Besuki jika dilihat dari segi geologis sebenarnya cukup besar jika
pemerintah bersama masyarakat mau mengembangkannya secara maksimal. Salah
satu potensi yang telah dikembangkan adalah marmer dan batu onix. Besuki telah
terkenal sebagai penghasil marmer dan batu onix di Indonesia. Batu marmer
merupakan batuan kristalin kasar yang berasal dari dolomit (batu kapur). Batuan
tersebut mengalami metamorfosa menjadi batu marmer. Biasanya batu marmer
digunakan sebagai komponen bangunan dan perabotan rumah tangga seperti
lantai. Harga batu marmer tergolong cukup tinggi. Usaha batu marmer telah
diekspoer sampai luar negeri seperti ke Eropa dan Amerika.
Jenis tanah yang terdapat di wilayah Besuki adalah tanah aluvial dan
litosol. Tanah aluvial bertekstur lembut dan mudah diolah sehingga tidak
membutuhkan tenaga yang besar untuk mengolahnya. Tanah ini sangat cocok
untuk pertanian baik pertanian padi maupun palawija seperti jagung dan
tembakau. Tanah litosol memiliki kandungan unsur hara yang sedikit. Litosol
sendiri jenis tanah yang berbatu-batu dengan lapisan yang tidak terlalu tebal.
Biasanya jenis tanah ini berada di dataran tinggi Besuki yang memiliki tanah
cukup tandus. Tidak banyak tanaman yang dapat di tanam pada tanah jenis ini.
Tanaman yang cocok adalah jagung dan rumput-rumputan. Masyarakat yang
tinggal di sekitaran tanah jenis litosol memiliki sedikit usaha karena tanahnya
kurang subur sehingga mereka harus mencari pekerjaan lain untuk bisa bertahan
hidup.
Kedalaman efektif tanah di Besuki berkisar antara 30 cm - 90 cm. Hal ini
berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Semakin tinggi kedalaman efektif maka
perkembangan tanaman tidak terhambat oleh faktor fisik tanah seperi lapisan yang
keras. Tanah yang dalam akan menjadi media yang lebih baik bagi perkembangan
perakaran bagi ketersediaan hara dan air di tanah. Dangkalnya kedalaman tanah
mengakibatkan tanaman tidak dapat memperoleh air serta hara yang cukup bagi
pertumbuhannya.
Tata ruang perwilayahan pembangunan kecamatan Besuki termasuk dalam
kelompok yang kegiatan utamanya adalah pertanian, perkebunan, perikanan,
peternakan, kehutanan, industri kerajinan, pertambangan dan pariwisata.
Pembagian tata ruang ruang tersebut telah diatur oleh pemerintah setempat. Hal
tersebut menunjukkan bahwa kecamatan Besuki memiliki banyak potensi dalam
bidang yang telah disebutkan diatas.
Potensi alam kecamatan Basuki tidak dapat dikatakan rendah. Berdasarkan
data yang telah dipaparkan, Besuki merupakan penghasil marmer yang telah
melakukan ekspor sampai ke mancanegara. Kecamatan Besuki secara geografis
sangat bervariasi. Letaknya yang berada di kemiringan lereng 0% - 40% dengan
kedalaman efektif 30cm 90cm. Pada beberapa titik wilayahnya sangat subur dan
titik lain sangat tandus. Di titik yang tandus masih jarang sekali ada masyarakat
yang tinggal. Biasanya masyarakat tinggal di daerah yang cenderung datar karena
disitulah tempat yang aman dan subur. Padahal lahan yang subur hanya beberapa
persen dari keseluruhan wilayah kecamaran Besuki. Setiap tahunnya pertumbuhan
penduduk semakin meningkat sedangkan lapangan pekerjaan tetap bahkan
berkurang. Kondisi geografis yang kurang memungkinkan untuk diolah seperti di
lahan tandus, membuat masyarakat mencari alternatif lain untuk bekerja. Pada
akhirnya menjadi TKI merupakan suatu langkah yang dianggap tepat untuk
menanggulanginya. Kualitas sumber daya manusia yang tergolong rendah belum
dapat memaksimalkan potensi daerah tersebut. Padahal sebenarnya jika kualitas
sumber daya manusia tinggi, potensi tambang, pariwisata, perikanan dan pertanian
dapat dikelola dengan baik dan benar sehingga menciptakan manusi dan wilayah
yang unggul.

Pengangguran Friksional di Besuki


Pengangguran Friksional adalah pengangguran yang dialami oleh individu
yang disebabkan oleh kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki pencari kerja
dengan kondisi social budaya masyarakat tempat bekerja. Dalam konteks
penelitian ini, pengangguran friksional juga dialami oleh masyarakat eks-buruh
migran Indonesia di desa Tanggulkundung kecamatan Besuki Kabupaten
Tulungagung.
Bentuk pengangguran friksional di desa Tanggulkundung sangat beragam.
Kondisi demikian dilatarbekangi oleh letak geografis, sosial dan budaya, serta
komposisi keahlian yang berbeda-beda. Dari temuan peneliti pengangguran
friksional di desa berikut dapat ditemui pada golongan masyarakat eks-buruh
migran. Ketika berbicara buruh migran pada umumnya, masyarakat selalu berfikir
pada pendapatan atau tingkat remmitance yang tinggi. Namun dalam konteks hasil
dari penelitian ini, hal berikut sudah menjadi masa lalu bagi eks-buruh migran.
Sebelum membahas mengenai bentuk pengangguran, peneliti mencoba
menjelaskan mengenai rammitance. Jumlah remmitance yang tinggi
mempengaruhi pola pengambilan keputusan buruh migran dari Besuki. Pengaruh
dari remmitance yang lain yang berhubungan dengan penelitian ini adalah
penggunaan remmitance dalam pembukaan lapangan kerja di Besuki. Jumlah
remmitance yang sangat besar menyebabkan buruh migran kesulitan mengelola
sehingga dengan kemampuan yang sangat terbatas atau bisa dibilang rata-rata
buruh migran berpendidikan rendah, sehingga ketika memutuskan untuk
berinvestasi dalam tujuan mengelola dan mengembangkan remmitance tergolong
tidak tepat sasaran.
Seperti ditemui peneliti di lapangan, pengangguran friksional pada
masyarakat kecamatan Besuki ditemui pada beberapa informan yang sempat
punya usaha dalam bentuk Toko sejenis Indomart yang hanya berjalan dalam
kurun waktu tidak lebih dari satu tahun. Beberapa hal yang menyebabkan
kegagalan yang dialami eks-buruh migran dalam investasi toko tersebut adalah
kurangnya pengetahuan mengenai dasar-dasar berinvestasi toko, minimnya
promosi dalam menjalankan usaha, serta pengelolan toko yang kurang bagus. Hal
tersebut terungkap dalam proses wawancara yang dilakukan dengan pertanyaan:
kenapa toko tersebut lama tidak buka? Apakah sudah tutup ?
Informan: Toko sudah tidak buka lagi mas, sejak awal buka sampai tutup
pemasukan yang diperoleh toko tidak sebanding dengan pengeluaran. Toko ini
rame hanya waktu opening saja mas. Saya tidak berani melanjutkan kalau
kondisinya seperti ini terus.
Pertanyaan dilanjutkan oleh peneliti: Apa latar belakang mendirikan toko
sejenis indomart didaerah sini pak?
Informan: kalau menurut saya ya mas, dulu itu mas istri saya itu pengen
buat toko biar bisa memberi pemasukan ke keluarga yang dirumah. Kan juga
rumah ini letak nya dipinggir jalan jadi perkiraan nya dulu bisa seramai toko2 di
Bandung. La ternyata hasil nya seperti mas. ya niatnya sebenernya juga baik,
wong pengennya juga biar tetangga-tetangga sebelah yang belum punya kerja
bisa kerja disini mas, lah hasilnya kayak gini, mau gimana lagi.
Pertanyaan yang diajukan peneliti selanjutnya adalah: kenapa kok bisa tutup
pak tokonya? Kira-kira apa sebabnya?
Informan: menurut saya ya mas, mungkin karena kurangnya penegtahuan
berdagang dan promosi ya, soale dulu waktu pendirian ya terbilang terburu-buru,
wong ya namanya bingung, bangun rumah bentuk ruko gitu, la waktu di jadikan
toko ya pengen nya seperti toko yang lain tetep lancer. Wong pekerja-pekerjanya
dulu ay ngambil dari orang disini juga mas, mungkin pendidikan yang rata-rata
masih lulusan SMP, jadi ya agak sulit kalau disuruh jaga toko.
Selain dari kalangan eks-buruh migran yang berinvestasi mebuat toko kecil
sejenis indomart, ada kalangan lain yang menurut penulis juga merupakan
pengangguran friksional. Dalam pembahasan sebelumnya, penulis
menggambarkan bagaimana kondisi geografis daerah Besuki yang merupakan
bukit kapur dan terkesan kering. Namun, sebenarnya ada juga lahan subur yang
apabila dikelola dengan baik dapat menghasilkan keuntungan dan dapat
menambah penghasilan para eks-buruh migran. pada kenyataan nya sesuai dengan
data yang didapat oleh peneliti di lapangan, para eks-buruh migran kurang tertarik
untuk mengelola lahan-lhan subur di daerah tersebut, alasan yang diungkapkan
sebenranya merupakan permasalahan klasik yang perlu di selesaikan. Kebanyakan
eks-buuh migran tidak bersedia mengelola lahan dikarenakan kurang terbiasanya
mereka pada sektor tersebut, selain itu masalah-masalah yang sebetulnya sepele
seperti ketakutan apabila tidak menghasilkan, takut terhadap cuaca panas,
pengetahuan yang sedikit masalah pertanian dan perkebunan. Hal ini terungkap
dari percakapan hasil wawancara yang dilakukan peneliti berikut: panjenengan
kerja dimana buk?
Informan: saya tidak bekerja mbak, saya dulu bekerja menjadi buruh
mgran sekarang sudah nggk, soale sudah tua dan waktunya istirahat, sekarang
anak saya yang jadi buruh migran.
Pertanyaan dilanjutkan oleh peneliti, sebagai berikut: daerah sini kan
banyak sawah dan lahan kosng buk, panjenenganapa tidak punya? Kalau punya
kenapa tidak diolah buk?
Informan: sebenere yo mbak, keluargaku yo punya tanah gitu, tapi sekarang
yang dirumah tinggal aku sama bapak e, bapak e ya tidak begitu paham soal
pertanian, jadi ketimbang nati tidak menghasilkan ya mending buat anak saya
nanti aja, bisa bangun rumah atau apa gitu, seendaknya punya tanah dulu.
Dalam sesi wawancara selanjutnya, peneliti meanjutkan pertanyaan
mengenai apa alasan informan tidak mau mengolah lahan kosong mereka punyai.
Informan: dulu waktu menjadi buruh migran di luar negeri saya tidak kerja
di bidang itu mbak, di Hongkong itu tidak ada sektor pekerjaan yang seperti ini,
lagaian di Hongkong itu semuanya serba ada, butuh bahan pokok tinggal beli,
udara bersih, semua nya enak, mau jalan-jalan gampang, tidak seperti disini,
banyak polusi, jalan masih jelek, kemana-mana sulit.
Peneliti selanjutnya bertanya masalah kenapa kok berhenti menjadi buruh
migran, dan apabila disuruh memilih untuk tinggal dan kerja, pilih mana antara
Hongkong dan Indonesia?
Informan: kalau boleh ya mbk, saya milih untu tetap bekerja di luar negeri.
Bahkan kalau boleh juga tinggal disana. Semua disana enak, semua ada, adem
tidak panas seperti disini. Ada banyak taman bisa kumpul-kumpul dengan teman-
teman setiap minggu. Kebutuhan sehari-hari tidak susah mencarinya. Yang
paling penting gaji disana besar mbak, rumah saya ini kan juga saya bangun
dengan hasil dari sana.
Analisis Pengangguran Friksional dalam Konsep Space Simmel
Hasil penelitian yang telah dibahas dalam uraian diatas diketahui bahwa
pengangguran Friksional di kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung muncul
dalam beberapa kalangan masyarakat. Kususnya dalam ranah masyarakat eks-
buruh migran, diketahui bahwa masyarakat kecamatan Besuki yang mayoritas
bekerja sebagai buruh migran ke luar negeri.
Dalam analisis yang dilakukan peneliti berikut akan mengungkapkan
bagaimana masyarakat buruh migran memunculkan ruang yang nantinya
menimbulkan gejala pengangguran friksional. Ruang ini muncul pada tataran
kelompok masyarakat migran yang sudah pensiun atau bisa disebut sebagai
masyarakat eks-buruh migran. dengan perkembangan zaman yang seperti ini,
ruang yang dimunculkan oleh masyarakat eks-buruh migran ini mengakibatkan
tingkat pengangguran di daerah semakin tinggi.
Sebelum membahasa lebih jauh mengenai konsep space dalam fenomena
eks-buruh migran di kecamatan Besuki kabupaten Tulungagug dalam konteks
pengangguran. Pertanyaan yang muncul kenapa eks-buruh migran dilihat oleh
peneliti sebagai pengangguran friksional. Dalam analisis ini peneliti
mengungkapakan masyarakat eks-buruh migran di daerah tersebut kebnayakan
tidak bekerja lagi ketika sudah memutuskan pensiun dari pekerjaan yang mereka
jalani dahulu sebagai buruh migran. dalam hal penulis bukan tanpa alasan, dari
letak geografis Besuki bukan tanpa potensi, walaupun secara fisiologi besuki yang
terletak di sebelah selatan pulau Jawa dikategorikan bukit kapur yang terkenal
tandus. Selain itu secara sosial budaya masyarakat Besuki juga bukan merupakan
masyarakat yang organis, teapi masih dapat tergolong sebagai masyaraka mekanis
(Tonnies) sehingga rasa kekeluargaan dalam membangun segala aspek khidpan
masih kuat.
Pula dalam hal kondisi lahan yang masih lumayan bisa dikelola. Sawah-
sawah dan perkebunan yang luas sebenarnya dapat dikelola lebih lanjut oleh
masyarakat eks-buruh migran di daerah tersebut. Perbandingan dengan kehidupan
lam di negara tempat bekerja dahulu dirasa sebagai suatu yang mengganjal dalam
memutuskan untuk ekerja di daerah asal. Romantisme masa lalu dengan
kehidupan yang serba terpenuhi di negara lain, serta fasilitas dan upah yang tinggi
juga menjadi faktor munculnya fenomena pengangguran friksional.
Melanjutkan pembahasan konsep ruang dalam terciptanya fenomena
pengangguran friksional di Besuki. Dalam konsep yang dikembang kan oleh
Georg Simmel mengenai Sociology of Space, pengangguran friksional dimaknai
sebagai adanya kruang kosong yang harusnya dipergunakan sebagai ruang
interaksi antar individuyang dalam hal ini masyarakat eks-buruh migran. Sehingga
pengangguran friksional ini bisa dikurangi.
Dalam konsepnya Simmel menyebutkan bahwa masyarakat tidak tercipta
dari kekuatan supra individual yang mengharuskan individu tunduk dan bekerja
melalui struktur sosial dan masyarkat bukan lah kekuatan rasional, yang
menempatkan subyek yang dalam hal ini eks-buruh migran sebagai pencipta
tunggal realitas. Simmel kemudian menjelaskan melalui individu inilah interaksi
akan real, dan tercipta interaksi.
Space, merupakan ruang bagi terjadinya interaksi. Melalui interaksi individu
dapat pengalaman. Hal inilah yang terjadi pada masyarakat eks-buruh migran
dahulu dan seharusnya hal seperti ini dapat kembali dikembangkan ketika mereka
sudah berhenti dari profesi buruh migran. space menurut Simmel juga merupakan
tempat kreasi energy psikis individu yang terlibat didalam interaksi, dan dapat
dikembangkan dalam ruang dan waktu yang berbeda.
PENUTUP
Fenomena migrasi pada masyarakat selatan pulau Jawa sudah berlangsgung
sejak lama. Fenomena-fenomena unik dalam dinamika yang dialami oleh buruh
migran sudah banyak dikaji. Dalam penelitian berikut peneliti menemukan
fenomena baru, yaitu adanya pengangguran friksional di kecamatan Besuki
kabupaten Tulungagung yang terjadinya pada eks-buruh migran. fenomena
tersebut terjadi Karena adanya ketidaksesuaian antara preferensi kemampuan yang
dimiliki buruh migran dengan kondisi daerah asal. Selain itu faktor budaya yang
sulit untuk disesuaikan oleh masyarakat migran juga berpengaruh dalam kontek
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bogdan, Robert, and Steven J, Taylor. 1975. Introduction of Qualitative Research
Methods: A Phenomenological Approach to the Social Science. New York.
Willey.
Prasetya, Hery. 2013. Sociology of Space: Sebuah Bentangan Teoritik. Jurnal.
Malang. Sejarah dan Budaya vol.2
Hananto, Sigit. 1983. Perkembangan Kesempatan Kerja dan Ciri-Ciri Pekerja
Sektor Formal-Informal. Paper Lokakarya Nasional Angkatan Kerja dan
Kesempatan Kerja. Jakarta : 12-14 Januari.
Mantra, Ida Bagus. 2010. Demografi Umum, Penerbit Pustaka Pelajar .Edisi
Kedua. Yogyakarta.
Laporan Pengolahan Data TKI 2015. Indeks Remmitansi TKI. BNP2TKI
Moeleong, L. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosdakarya
Statistik BPS 2015. Hasil Survei Jumlah Penduduk Indonesia. BPS. (Online)
Susilo. 2016. Beberapa Faktor yang Menentukan TKI dalam Memilih Tujuan
Negara sebagai Tempat Bekerja, Studi di Desa Aryojeding Kabupaten
Tulungagung. Malang. Jurnal. Pendidikan Geografi
Pemerintah Kabupaten Tulungagung. 2017. Kondisi Geografis. (Online),
(http://www.tulungagung.go.id/index.php/145-uncategorised/55-kondisi-
geografis). Diakses 14 Februari 2017.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung. 2005. Gambaran Umum Kabupaten/Kota
Marmer Tulungagung Bersinar, Kota Mandiri, Jawa Timur. (Online),
(http://www.geocities.ws/kota_tulungagung/gambaran_umum.htm). Diakses
14 Februari 2017.
LAMPIRAN