Você está na página 1de 40

AKUNTANSI PEMERINTAH

Makalah

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Pemerintah yang ditugaskan oleh
Daniel Nababan, S.E., M.Acc.

Oleh

Siska Hana Aprilia 0113U363


Ghitanya Ghassani 011401048
Anggi Oktaviani 011401077
Aldy Yulianto S 011401115
Sevira Putri Aulia 011401174
Yuni Fenanda Utami 011401227
Mutiara Nurbaethy 011401296
Arisuswanti 011401447

UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan
karunianya kami dapat menyelasaikan makalah ini sebagai tugas Akuntansi Pemerintah
dengan baik dan tepat pada waktunya.Kami juga ingin berterima kasih Daniel Nababan,
S.E., M.Acc.selaku dosen mata kuliah Akuntansi Pemerintah yang sudah membimbing
kami hingga makalah ini selesai.
Di dalam makalah ini kami membahas mengenai kebijakan akuntansi dan sistem
prosedur akuntansi dan bagan akun standar juga struktur pengelolaan keuangan
pemerintah daerah, entitas akuntansi dan pelaporan dan bentuk laporan keuangan
pemerintah daerah.Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada semua yang
membacanya, kami juga menyadari makalah ini masih memiliki banyak kekurangan.Oleh
karena itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan di masa mendatang.
Mohon maaf apabila terdapat salah kata di dalam penulisan dan kami harap
makalah ini dapat memberikan manfaat kepada semua pembaca pada umumnya dan
untuk kami sendiri pada khusunya.

Bandung, 18 Februari 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii


DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB 1PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Masalah ......................................................................................................... 1
BAB 2PEMBAHASAN ...................................................................................................... 2
2.1 Kebijakan Akuntansi ................................................................................................. 2
2.1.1 Penyusunan Kebijakan Akuntansi ..................................................................... 2
2.1.2 Penyajian Kebijakan Akuntansi Pelaporan Keuangan dan Kebijakan Akuntansi
Akun............................................................................................................................ 4
2.1.3 Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah ........................................................ 11
2.2 Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah .................................................................... 12
2.3 Bagan Akun Standar ............................................................................................... 13
2.4 Struktur Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah .............................................. 14
2.4.1 Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah ...................................................... 14
2.4.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ...................................................... 19
2.5 Entitas Akuntansi dan Pelaporan ............................................................................ 21
2.6 Bentuk Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ...................................................... 22
2.6.1 Peranan Laporan Keuangan ............................................................................. 22
2.6.2 Komponen Laporan Keuangan ........................................................................ 22
2.6.3 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ........................................................... 23
BAB 3PENUTUP ............................................................................................................. 35
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 37

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lembaga pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya memerlukan jasa akuntansi,
baik analisis maupun untuk meningkatkan mutu pengawasan, pendidikan, dan
pengelolaan keuangan untuk menghasilkan informasi yang akan digunakan. Akuntansi
demikian dikenal dengan akuntansi pemerintahan.
Adapun mengenai pengertian Akuntansi Pemerintahan menurut Revrisond Baswir
(1998,7) adalah sebagai berikut:
Akuntansi Pemerintahan (termasuk di dalamnya akuntansi untuk lembaga-
lembaga yang tidak bertujuan mencari laba lainnya), adalah bidang akuntansi yang
berkaitan dengan lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga yang tidak
bertujuan mencari laba.
Akuntansi pemerintahan tidak hanya berisi tentang penjelasan mengenai persyaratan
yang diberikan pemerintah nasional tetapi diberikan juga oleh Perserikatan Bangsa-
bangsa (PBB).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kebijakan akuntansi dan sistem prosedur akuntansi dan bagan akun
standar (Permendagri No. 64 tahun 2014)?
2. Bagaimana struktur pengelolaan keuangan pemerintah daerah, entitas akuntansi
dan pelaporan, dan bentuk laporan keuangan pemerintah daerah?

1.3 Tujuan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan masalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kebijakan akuntansi dan sistem prosedur akuntansi dan bagan
akun standar menurut Permendagri No. 64 tahun 2014.
2. Untuk mengetahui struktur pengelolaan keuangan pemerintah daerah, entitas
akuntansi dan pelaporan, dan bentuk laporan keuangan pemerintah daerah.

1
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan Akuntansi


Kebijakan Akuntansi adalah prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi- konvensi,
aturan-aturan dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Kebijakan akuntansi merupakan instrumen penting dalam penerapan akuntansi
akrual. Dokumen yang ditetapkan dalam peraturan kepala daerah ini harus dipedomani
dengan baik oleh fungsi-fungsi akuntansi, baik di SKPKD maupun di SKPD. Selain itu,
dokumen ini juga seyogyanya dipedomani oleh pihak-pihak lain seperti perencana dan
tim anggaran pemerintah daerah.
Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah adalah prinsip-prinsip, dasar-dasar,
konvensi-konvensi, aturan-aturan dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh
pemerintah daerah sebagai pedoman dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan
pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan pengguna laporan keuangan dalam rangka
meningkatkan keterbandingan laporan keuangan terhadap anggaran, antar periode
maupun antar entitas.

2.1.1 Penyusunan Kebijakan Akuntansi


Penyusunan kebijakan akuntansi pemerintah daerah dapat dilakukan melalui
beberapa tahapan berdasarkan komponen utama kebijakan akuntansi sebagai berikut:
1. Penyusunan Kebijakan Akuntansi Pelaporan Keuangan.
Tahapan penyusunan kebijakan akuntansi terkait laporan keuangan dimulai dari
pengumpulan rujukan atau referensi berupa peraturan perundangan dan literatur
lain yang terkait dengan kebijakan akuntansi laporan keuangan pemerintah
daerah. Sebagai rujukan utama adalah Lampiran I Peraturan Pemerintah Nomor
71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, khususnya:
a. PSAP 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan;
b. PSAP 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran;
c. PSAP 03 tentang Laporan Arus Kas;

2
d. PSAP 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;
e. PSAP 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian;
f. PSAP 12 tentang Laporan Operasional; dan
g. IPSAP dan Buletin Teknis SAP terkait pelaporan keuangan.

Berdasarkan rujukan dan referensi tersebut dilakukan pemahaman dan analisa


untuk melakukan proses penyesuaian dan harmonisasi sesuai kondisi dan
kebutuhan pelaporan keuangan di pemerintah daerah. Hasil proses penyesuaian
dan harmonisasi dicantumkan kedalam pernyataan-pernyataan pada kebijakan
akuntansi pelaporan keuangan.

2. Penyusunan Kebijakan Akuntansi Akun


Tahapan penyusunan kebijakan akuntansi terkait akun dimulai dari mempelajari
SAP khususnya pernyataan terkait akun-akun. Sebagai rujukan utama adalah
Lampiran I Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan, khususnya:
a. PSAP 05 tentang Akuntansi Persediaan;
b. PSAP 06 tentang Akuntansi Investasi;
c. PSAP 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;
d. PSAP 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan;
e. PSAP 09 tentang Akuntansi Kewajiban;
f. PSAP 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi,
Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Operasi yang Tidak Dilanjutkan; dan
g. IPSAP dan Buletin Teknis SAP terkait akun.

Selain menelaah SAP, pemerintah daerah perlu memperhatikan rujukan atau


referensi berupa peraturan perundangan dan literatur lain yang terkait dengan
kebijakan akuntansi atas akun-akun yang terkait.

3
Penelaahan diatas digunakan untuk:
a. Mengidentifikasi akun-akun yang memerlukan pemilihan metode yang
khusus atas pengakuan atau pengukurannya.
b. Mengidentifikasi akun-akun yang memerlukan pengaturan yang lebih rinci
atas kebijakan pengakuan dan pengukurannya.
c. Mengidentifikasi hal-hal yang belum diatur di dalam SAP namun
dibutuhkan dalam kebijakan akuntansi pemerintah daerah. Dalam
menyusun hal-hal yang belum diatur di dalam SAP, perlu memperhatikan:
1) PSAP yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait.
2) Definisi serta kriteria pengakuan dan kriteria pengukuran atas aset,
kewajiban, pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, dan
penerimaan/pengeluaran pembiayaan yang ditetapkan dalam Kerangka
Konseptual Standar Akuntansi Pemerintahan dan PSAP.

Hasil pemilihan metode, pengaturan lebih rinci dan pengaturan hal- hal yang
belum diatur itulah yang kemudian dicantumkan dalam dokumen kebijakan akuntansi.
Pemerintah daerah juga dapat melakukan diskusi yang bersifat terbatas dengan
mengundang para ahli akuntansi pemerintahan atau para pemangku kepentingan lainnya
untuk mendapatkan masukan obyektif dan membangun. Tim penyusun juga perlu
melakukan penelaahan bersama-sama SKPD terkait dengan pembahasan akun- akun
tertentu seperti pembahasan kapitalisasi pemeliharaan jalan bersama dinas terkait.
Pemerintah daerah dapat mencantumkan kerangka konseptual SAP berdasarkan
PP No. 71 Tahun 2010 pada bagian awal kebijakan akuntansi pemerintah daerah.
Pencantuman kerangka konseptual SAP dimaksudkan sebagai pemahaman dasar bagi
pemerintah daerah dalam menyusun dan menggunakan kebijakan akuntansi pemerintah
daerah.

2.1.2 Penyajian Kebijakan Akuntansi Pelaporan Keuangan dan Kebijakan


Akuntansi Akun
Untuk memberikan gambaran bentuk penyajian kebijakan akuntansi pemerintah
daerah, dibawah ini diuraikan mengenai kebijakan akuntansi pelaporan keuangan dan

4
kebijakan akuntansi akun yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam penyusunan
kebijakan akuntansi pemerintah daerah.
1. Kebijakan Akuntansi Pelaporan Keuangan
a. Pendahuluan
1) Tujuan
Kebijakan akuntansi pelaporan keuangan ini mengaturpenyajian
laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial
statements) dalam rangka meningkatkan keterbandingan laporan
keuangan baik terhadap anggaran, antar periode, maupun antar entitas.
Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pengguna laporan termasuk lembaga legislatif sebagaimana ditetapkan
dalam ketentuan peraturan perundang- undangan. Untuk mencapai
tujuan tersebut, kebijakan akuntansi ini menetapkan seluruh
pertimbangan dalam rangka penyajian laporan keuangan, pedoman
struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimal isi laporan
keuangan. Laporan keuangan disusun dengan menerapkan basis
akrual. Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi-transaksi
spesifik dan peristiwa-peristiwa yang lain, mempedomani standar
akuntansi pemerintahan.
2) Ruang Lingkup
Kebijakan akuntansi ini berlaku untuk entitas pelaporan dan entitas
akuntansi dalam menyusun laporan keuangan. Entitas pelaporan yaitu
pemerintah daerah, sedangkan entitas akuntansi yaitu SKPD dan
PPKD. Tidak termasuk perusahaan daerah.
3) Basis
Akuntansi Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan
keuanganpemerintah daerah yaitu basis akrual. Namun, dalam hal
anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis kas, maka LRA
disusun berdasarkan basis kas.

5
b. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil
operasi, dan perubahan ekuitas suatu entitas pelaporan yang bermanfaat
bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan
mengenai alokasi sumber daya.
Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah daerah adalah
untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan
dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya
yang dikelola, dengan:
Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas pemerintah daerah;
Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya
ekonomi, kewajiban, dan ekuitas pemerintah daerah;
Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan
penggunaan sumber daya ekonomi;
Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap
anggaran yang ditetapkan;
Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya;
Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah daerah untuk
membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan; dan
Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi
kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.

Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai:


1) Indikasi sumber daya yang telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan
anggaran; dan
2) Indikasi sumber daya yang diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan,
termasuk batas anggaran yang ditetapkan dalam APBD.

6
Untuk memenuhi tujuan umum ini, laporan keuangan menyediakan informasi
mengenai entitas pelaporan dalam hal-hal:
1) Aset;
2) Kewajiban;
3) Ekuitas;
4) Pendapatan-LRA;
5) Belanja;
6) Transfer;
7) Pembiayaan;
8) Saldo Anggaran Lebih;
9) Pendapatan-LO;
10) Beban; dan
11) Arus Kas.

Informasi dalam laporan keuangan tersebut relevan untuk memenuhi tujuan


pelaporan keuangan, namun demikian masih diperlukan informasi tambahan,
termasuk laporan nonkeuangan, untuk dilaporkan bersama-sama dengan laporan
keuangan guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai
aktivitas suatu entitas pelaporan selama satu periode.

c. Komponen Laporan Keuangan


Komponen-komponen yang terdapat dalam satu set laporan keuangan
terdiri atas laporan pelaksanaan anggaran (budgetary report) dan laporan
finansial, sehingga seluruh komponen menjadi sebagai berikut:
Laporan Realisasi Anggaran;
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih;
Neraca;
Laporan Operasional;
Laporan Arus Kas;
Laporan Perubahan Ekuitas; dan
Catatan atas Laporan Keuangan.

7
Komponen-komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap
entitas, kecuali Laporan Arus Kas dan Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih yang hanya disajikan oleh entitas pelaporan.

d. Struktur dan Isi


1) Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatankeuangan
pemerintah daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBD.
Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara
anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan dan
menyajikan unsur-unsur sebagai berikut:
Pendapatan-LRA;
Belanja;
Transfer;
Surplus/Defisit-LRA;
Pembiayaan; dan
Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran.

2) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih


Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan secara
komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos berikut:
Saldo Anggaran Lebih awal;
Penggunaan Saldo Anggaran Lebih;
Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun berjalan;
Koreksi kesalahan pembukuan tahun sebelumnya;
Lain-lain; dan
Saldo Anggaran Lebih akhir.
Di samping itu, pemerintah daerah menyajikan rincian lebih lanjut
dari unsur-unsur yang terdapat dalam Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

8
3) Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan pemerintah
daerahmengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
pemerintah daerah mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar
dan nonlancar serta mengklasifikasikan kewajibannya menjadi
kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam neraca.
Sedangkan ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang
merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah pada
tanggal laporan.

4) Laporan Operasional
Laporan operasional menyajikan pos-pos sebagai berikut:
Pendapatan-LO dari kegiatan operasional;
Beban dari kegiatan operasional;
Surplus/defisit dari kegiatan non operasional;
Pos luar biasa; dan
Surplus/defisit-LO.

5) Laporan Arus Kas


Laporan Arus Kas menyajikan informasi mengenai
sumber,penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama satu
periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal
pelaporan. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan
aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris.

6) Laporan Perubahan EkuitasLaporan Perubahan Ekuitas


menyajikan pos-pos:
Ekuitas awal;
Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan;
Koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas,

9
yang antara lain berasal dari dampak kumulatif yang
disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi
kesalahan mendasar, seperti:
a. Koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang
terjadi pada periode sebelumnya;
b. Perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset
tetap.
Ekuitas akhir.

7) Catatan Atas Laporan Keuangan


Hal-hal yang diungkapkan dalam Catatan atas LaporanKeuangan
antara lain adalah:
Informasi umum tentang entitas pelaporan dan entitas
akuntansi;
Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi
makro;
Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun
pelaporan berikut kendala dan hambatan yang dihadapi
dalam pencapaian target;
Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk
diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian
pentinglainnya;
Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan
pada lembar muka laporan keuangan;
Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam
lembar muka laporan keuangan; dan
Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang
wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan.

10
2.1.3 Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah

Pasal 3 Permendagri 64 Tahun 2013 :

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:

a. Kebijakan akuntansi pemerintah daerah;


b. SAPD; dan
c. BAS.

(1) Kebijakan akuntansi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal


3 huruf a yang berbunyi kebijakan akuntansi pemerintah daerah. Terdiri atas:
(a) kebijakan akuntansi pelaporan keuangan; dan (b) kebijakan akuntansi
akun.
(2) Kebijakan akuntansi pelaporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1
huruf a yang berbunyi Sistem akuntansi dan pelaporan badan lainnya yang
selanjutnya disebut SAPBL adalah serangkaian prosedur manual maupun
yang terkomputerisai mulai dari pengumpulan data, pengakuan, pencataan,
pengikhtisaran, serta pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan atas
transaksi badan lainnya. memuat penjelasan atas unsur-unsur laporan
keuangan yang berfungsi sebagai panduan dalam penyajian pelaporan
keuangan.
(3) Kebijakan akuntansi akun sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b yang
berbunyi mengatur definisi, pengakuan, pengukuran, penilaian dan/atau
pengungkapan transaksi atau peristiwa sesuai dengan PSAP. Terdiri atas:
(a) pemilihan metode akuntansi atas kebijakan akuntansi dalam SAP; dan (b)
pengaturan yang lebih rinci atas kebijakan akuntansi dalam SAP.
(4) Kebijakan akuntansi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat 1
berlaku bagi entitas akuntansi dan entitas pelaporan pemerintah daerah.
(5) Kebijakan akuntansi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat 1
diatur lebih lanjut dengan peraturan kepala daerah.

11
(6) Panduan penyusunan kebijakan akuntansi pemerintah daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat 1 tercantum dalam Lampiran I sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

2.2 Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah


Pasal 5
(1) SAPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b yang memuat pilihan
prosedur dan teknik akuntansi dalam melakukan identifikasi transaksi,
pencatatan pada jurnal, posting kedalam buku besar, penyusunan neraca saldo
serta penyajian laporan keuangan.
(2) Penyajian laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. Laporan realisasi anggaran;


b. Laporan perubahan saldo anggaran lebih;
c. Neraca;
d. Laporan operasional;
e. Laporan arus kas;
f. Laporan perubahan ekuitas;
g. Catatan dan atas laporan keuangan.

Pasal 6
(1) SAPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) terdiri atas:
a. sistem akuntansi PPKD; dan
b. sistem akuntansi SKPD.
(2) Sistem akuntansi PPKD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yang
berbunyi Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang
dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. mencakup teknik pencatatan,
pengakuan dan pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-
LRA, belanja, transfer, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian

12
dan koreksi, penyusunan laporan keuangan PPKD serta penyusunan
laporan keuangan konsolidasian pemerintah daerah.
(3) Sistem akuntansi SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas
pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, aset, kewajiban,
ekuitas, penyesuaian dan koreksi serta penyusunan laporan keuangan
SKPD.
(4) SAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan
peraturan kepala daerah.
(5) Panduan penyusunan SAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran II sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.

2.3 Bagan Akun Standar


(1) BAS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c yang berbunyi Bagan Akun
Standar yang selanjutnya disingkat BAS adalah daftar perkiraan buku besar yang
ditetapkan dan disusun secara sistematis untuk memudahkan perencanaan dan
pelaksanaan anggaran, serta pembukuan dan pelaporan keuangan pemerintah.
merupakan pedoman bagi pemerintah daerah dalam melakukan kodefikasi akun
yang menggambarkan struktur laporan keuangan secara lengkap.
(2) BAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ) yang berbunyi Arsip Data Komputer
yang selanjutnya disingkat ADK adalah arsip data berupa disket atau media
penyimpanan digital lainnya yang berisikan data transaksi, data buku besar,
dan/atau data lainnya. digunakan dalam pencatatan transaksi pada buku jurnal,
pengklasifikasian pada buku besar, pengikhtisaran pada neraca saldo, dan
penyajian pada laporan keuangan.
(3) BAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirinci sebagai berikut:
a. level 1 (satu) menunjukkan kode akun;
b. level 2 (dua) menunjukkan kode kelompok;
c. level 3 (tiga) menunjukkan kode jenis;
d. level 4 (empat) menunjukkan kode obyek; dan

13
e. level 5 (lima) menunjukkan kode rincian obyek.

Kode akun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a terdiri atas:
a. akun 1 (satu) menunjukkan aset;
b. akun 2 (dua) menunjukkan kewajiban;
c. akun 3 (tiga) menunjukkan ekuitas;
d. akun 4 (empat) menunjukkan pendapatan-LRA;
e. akun 5 (lima) menunjukkan belanja;
f. akun 6 (enam) menunjukkan transfer;
g. akun 7 (tujuh) menunjukkan pembiayaan;
h. akun 8 (delapan) menunjukkan pendapatan-LO; dan
i. akun 9 (sembilan) menunjukkan beban.
(4) BAS sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran III sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

2.4 Struktur Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah


2.4.1 Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah
1. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan
asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untukmasyarakat.Pengelolaan keuangan daerah
dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang
setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah.
Kepala daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan
pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan
kekayaan daerah yang dipisahkan. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah
mempunyaikewenangan:
a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaanAPBD;
b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barangdaerah;
c. menetapkan kuasa penggunaanggaran/barang;
d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendaharapengeluaran;

14
e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaandaerah;
f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang
daerah;
g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah;
dan
h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan
memerintahkanpembayaran.
Kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan oleh:
a. Kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku PPKD.
b. Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/barangdaerah.
Dalam pelaksanaan kekuasaan sekretaris daerah bertindak selaku koordinator
pengelolaan keuangandaerah.Pelimpahan kekuasaanditetapkan dengan keputusan kepala
daerah berpedoman pada peraturan perundang- undangan.

2. Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah


Koordinator Pengelolaan Keuangan mempunyai tugas koordinasi dibidang:
a. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaanAPBD.
b. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barangdaerah.
c. Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahanAPBD.
d. Penyusunan Raperda APBD, Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban
pelaksanaanAPBD.
e. Tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas
keuangan daerah.
f. Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaanAPBD.
Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan
tugas kepada kepaladaerah

3. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah


PPKD mempunyai tugas sebagaiberikut:
a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangandaerah;

15
b. menyusun rancangan APBD dan rancangan PerubahanAPBD;
c. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan
PeraturanDaerah.
d. melaksanakan fungsi Bendahara UmumDaerah;
e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD
f. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala
daerah.
PPKD selaku BUDberwenang:
a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaanAPBD;
b. mengesahkanDPA-SKPD;
c. melakukan pengendalian pelaksanaanAPBD;
d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran
kas daerah;
e. melaksanakan pemungutan pajakdaerah;
f. memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau
lembaga keuangan lainnya yang telahditunjuk;
g. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaanAPBD;
h. menyimpan uangdaerah;

4. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Daerah


Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang daerah mempunyai tugas dan
wewenang:
a. menyusunRKA-SKPD;
b. menyusunDPA-SKPD;
c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban
anggaranbelanja;
d. melaksanakan anggaran SKPD yangdipimpinnya;
e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkanpembayaran;
f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukanpajak;
g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran

16
yang telahditetapkan;
h. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang
dipimpinnya;
i. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab
SKPD yangdipimpinnya;
j. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yangdipimpinnya;
k. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yangdipimpinnya;
l. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya
berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepaladaerah;
m. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui
sekretarisdaerah.

Pejabat pengguna anggaran dalam melaksanakan tugas dapat melimpahkan


sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna
anggaran/penggunabarang. Pelimpahan wewenang ditetapkan oleh kepala daerah atas
usul kepalaSKPD.Penetapan kepala unit kerja pada SKPD berdasarkan pertimbangan
tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja,
lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektiflainnya.Kuasa
pengguna anggaran bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna
anggaran/penggunabarang.

5. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD


Pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam melaksanakan
program dan kegiatan dapat menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selakuPPTK.PPTK
mempunyai tugasmencakup:
a. mengendalikan pelaksanaankegiatan;
b. melaporkan perkembangan pelaksanaankegiatan;
c. menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaankegiatan.

Penunjukan PPTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) berdasarkan


pertimbangan kompetensi jabatan, anggaran kegiatan, beban kerja, lokasi, dan/atau

17
rentang kendali dan pertimbangan objektiflainnya.PPTK bertanggung jawab kepada
pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.

6. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD


Dalam rangka melaksanakan wewenang atas penggunaan anggaran yang dimuat
dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata
usaha keuangan pada SKPD sebagai pejabat penatausahaan keuanganSKPD.Pejabat
penatausahaan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyaitugas:
a. meneliti kelengkapan SPP-LS yang diajukan olehPPTK;
b. meneliti kelengkapan SPP-UP, SPP-GU dan SPP-TU yang diajukan oleh
bendahara pengeluaran;
c. menyiapkan SPM;dan
d. menyiapkan laporan keuanganSKPD.

Pejabat penatausahaan keuangan SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat


yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah, bendahara, dan/atau
PPTK.

7. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran


Kepala daerah atas usul PPKD mengangkat bendahara penerimaan untuk
melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan pada
SKPD.Kepala daerah atas usul PPKD mengangkat bendahara pengeluaran untuk
melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja pada
SKPD.Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran adalah pejabatfungsional.
Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dilarang melakukan, baik
secara langsung maupun tidak langsung, kegiatan perdagangan, pekerjaan pemborongan
dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/penjualan
tersebut, serta menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya atas
namapribadi.Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional
bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selakuBUD.

18
2.4.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan
kemampuan pendapatandaerah.Penyusunan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat
berpedoman kepada RencanaKerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan
pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuanbernegara.APBD mempunyai
fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, danstabilisasi.APBD,
Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan
dengan peraturandaerah.
Semua penerimaan dan pengeluaran daerah baik dalam bentuk uang, barang
dan/atau jasa dianggarkan dalamAPBD.Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam
APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk
setiap sumberpendapatan.Seluruh pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan
daerah dianggarkan secara bruto dalamAPBD.Pendapatan daerah yang dianggarkan
dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam menyusun APBD, penganggaran pengeluaran harus didukung dengan
adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yangcukup.Penganggaran untuk
setiap pengeluaran APBD harus didukung dengan dasar hukum
yangmelandasinya.Tahun anggaran APBD meliputi masa 1 (satu) tahun mulai tanggal 1
Januari sampai dengan 31 Desember.
APBD merupakan satu kesatuan yang terdiridari:
a. Pendapatandaerah.
Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas
Umum Daerah, yang menambah ekuitas dana lancar, yang merupakan hak daerah
dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali olehDaerah.

Pendapatan daerah terdiri atas:


a. Pendapatan Asli Daerah(PAD), terdiri dari :
a. pajak daerah;
b. retribusidaerah;
c. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
d. lain-lain PAD yangsah, terdiri dari :

19
a. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidakdipisahkan;
b. hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah
yang tidakdipisahkan;
c. jasagiro;
d. pendapatanbunga;
e. tuntutan gantirugi;
f. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang
asing;dan
g. komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari
penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa
olehdaerah.

b. Dana Perimbangan, meliputi :


a. Dana Bagi Hasil.
b. Dana Alokasi Umum.
c. Dana AlokasiKhusus.

c. Lain-lain pendapatan daerah yangsah meliputi hibah, dana darurat, dan


lain-lain pendapatan yang ditetapkan pemerintah.

b. Belanja daerah
Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan
wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuanperundang-
undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib sebagaimana dimaksud
diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam
bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminansosial.
Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui prestasi kerja
dalam pencapaian standar pelayanan minimal berdasarkan urusan wajib

20
pemerintahan daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

c. Pembiayaan Daerah
Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan
pengeluaranpembiayaan.

Penerimaan pembiayaan mencakup:


a. SiLPA tahun anggaransebelumnya.
b. Pencairan dana cadangan.
c. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
d. Penerimaan pinjaman.
e. Penerimaan kembali pemberianpinjaman.

Pengeluaran pembiayaan mencakup:


a. Pembentukan danacadangan.
b. Penyertaan modal pemerintahdaerah.
c. Pembayaran pokok utang.
d. Pemberianpinjaman.

2.5 Entitas Akuntansi dan Pelaporan


Pada paragraf 21 Kerangka Konseptual Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010 terdapat penjelasan mengenai Entitas Akuntansi disamping Entitas Pelaporan. Pada
paragraf tersebut dijelaskan bahwa entitas akuntansi merupakan unit pada pemerintahan
yang mengelola anggaran, kekayaan, dan kewajiban yang menyelenggarakan akuntansi
dan menyajikan laporan keuangan atas dasar akuntansi yang diselenggarakannya sesuai
dengan SOTK Pemerintah Daerah masing-masing antara lain:
a. Sekretariat Daerah;
b. Sekretariat Dewan;
c. Dinas;
d. Badan;
e. Kantor;

21
f. Kecamatan;
g. Kelurahan.

Kemudian Entitas Pelaporan merupakan unit pemerintahan yang terdiri dari satu
atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib
menyajikan laporan pertanggungjawaban, berupa laporan keuangan yang bertujuan
umum dalam konteks pemerintah daerah entitas pelaporan, terdiri dari:
1. Pemerintah Daerah; dan
2. Satuan organisasi di lingkungan pemerintah daerah atau organisasi lainnya, jika
menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib
menyajikan laporan keuangan misalnya BLUD.

2.6 Bentuk Laporan Keuangan Pemerintah Daerah


2.6.1 Peranan Laporan Keuangan
Pada paragraf 25 Kerangka Konseptual Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010, dijelaskan bahwa pelaporan diperlukan untuk kepentingan:
a. Akuntabilitas;
b. Manajemen;
c. Transparansi;
d. Keseimbangan antar generasi; dan
e. Evaluasi kinerja

Pelaporan untuk kepentingan evaluasi kinerja ini sebelumnya tidak dijelaskan


pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005.

2.6.2 Komponen Laporan Keuangan


Pada dasarnya semua pernyataan standar akuntansi pemerintah merupakan standar
untuk menyusun komponen-komponen laporan keuangan pemerintah, dimana komponen-
komponen tersebut dijelaskan pada paragraf 28 Kerangka Konseptual Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 sebagai berikut:
a. Laporan Realisasi Anggaran;

22
b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL);
c. Neraca;
d. Laporan Arus Kas;
e. Laporan Operasional;
f. Laporan Perubahan Ekuitas; dan
g. Catatan atas Laporan Keuangan.

2.6.3 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah


Pemerintah Daerah dituntut untuk dapat menyajikan laporan keuangan yang
meliputi:
1. Laporan Realisasi Anggaran;
Laporan realisasi anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan pemakaian
sumberdaya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah daerah yang menggambarkan
perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam 1 (satu) periode pelaporan.
Unsur yang tercakup dalam laporan realisasi anggaran terdiri dari pendapatan,
belanja, transfer dan pembiayaan. Terhadap unsur-unsur tersebut masing-masing
didefinisikan sebagai berikut:
a. Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh bendahara umum daerah yang
menambahkan ekuitas dana lancara dalam peride tahun anggaran
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih.
b. Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran bendahara umum daerah yang
mengurai ekuitas dana lancer dalam periode tahun anggaran bersangkutan
yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali. Belanja (basis akrual)
adalah kewajiban pemerintah pemerintah daerah yang diakui sebagai
pengurang nilai kekayaan bersih.
c. Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan
dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi
hasil.
d. Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan yang harus dibayar
kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan, maupun tahun-tahun

23
anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah daerah terutama
dimaksudkan untuk penutup deficit atau memanfaatkan surplus anggaran.
Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil
divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran
kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain dan
penyertaan modal pemerintah daerah.

2. Neraca
Negara menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai asset,
kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Neraca sekurang-kurangnya
mencantumkan pos-pos berikut:
a. Kas dan setara kas;
b. Investasi jangka pendek;
c. Piutang pajak dan bukan pajak;
d. Persediaan;
e. Investasi jangka panjang;
f. Aset tetap;
g. Kewajiban jangka pendek;
h. Kewajiban jangka panjang;
i. Ekuitas dana

3. Laporan Arus/Aliran Kas


Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas
operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan dan transaksi non anggaran
yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir kas
pemerintah daerah selama periode tertentu. Unsur yang tercakup dalam laporan
arus kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing
didefinisikan sebagai berikut:
a. Penerimaan kas adalah semua aliran kas terdiri dari penerimaan yang masuk
ke bendahara umum daerah;
b. Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari bendahara umum

24
daerah.

4. Catatan Atas Laporan Keuangan


Catatan atas laporan keuangan berisi penjelasan naratif atau rincian dari angka-
angka yang tertera dalam laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas.
Catatan atas laporan keuangan juga memuat informasi tentang kebijakan
akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang
diharuskan dan dianjurkan untuk diuangkapkan di dalam standar akuntansi
pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan
penyajian laporan keuangan secara wajar

Adapun hal-hal yang diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan adalah
sebagai berikut:
a. Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro,
pencapaian target APBD berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam
pencapaian target;
b. Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama satu tahun
pelaporan;
c. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan
kejadian-kejadian penting lainnya;
d. Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) yang belum disajikan pada lembar muka laporan
keuangan;
e. Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul
sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan, belanja dan
rekonsiliasinya dengan basis kas; dan
f. Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian secara
wajar, yang tidak disajikan pada lembar muka laporan keuangan.

25
Untuk menyusun laporan keuangan ini, Pemerintah Daerah mengacu pada Standar
Akuntansi Pemerintahan (PP Nomor 24 Tahun 2004) Tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).
(1) Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan laporan pelaksanaan anggaran
yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya dalam
satu periode pelaporan. Informasi yang terdapat dalam LRA berguna bagi para
pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-
sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas terhadap anggaran.

Dari LRA juga dapat dilihat tingkat penyerapan anggaran entitas yang dapat
menjadi salah satu indikator produktivitas atau kinerja entitas. LRA disusun dan
disajikan dengan menggunakan basis kas.

Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan


dalam dokumen anggaran.

Format dasar dari sebuah Laporan Realisasi Anggaran adalah sebagai berikut:

26
(2) Laporan Operasional
Laporan Operasional menyajikan informasi keuangan terkait dengan kegiatan
operasional entitas. Pengguna laporan keuangan dapat menggunakan Laporan
Operasional untuk memperoleh informasi:
a. Mengenai besarnya beban yang harus ditanggung oleh entitas untuk
menjalankan pelayanan;
b. Mengenai operasi keuangan secara menyeluruh yang berguna dalam
mengevaluasi kinerja entitas dalam hal efisiensi, efektivitas, dan kehematan
perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi;
c. Yang berguna dalam memprediksi pendapatan-LO yang akan diterima untuk
mendanai kegiatan entitas dalam periode mendatang dengan cara menyajikan
laporan secara komparatif; dan
d. Mengenai penurunan ekuitas (bila defisit operasional), dan peningkatan
ekuitas (bila surplus operasional).

Format dasar dari sebuah Laporan Operasional adalah sebagai berikut:

27
Berikut adalah format LO SKPD, LO PPKD, serta LO Pemerintah Provinsi, dan
LO Pemerintah Kabupaten/Kota yang diberikan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 64 tahun 2013:

28
29
30
31
32
33
(3) Neraca
Sebuah neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai
aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Neraca dapat ditampilkan
dalam format T-account atau I-coloum sebagai berikut:

34
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Transaksi non kas adalah kejadian-kejadian yang memiliki nilai


ekonomi yang tidak melibatkan kas, namun bisa terjadi sebagai ikutan dari
adanya transaksi kas. Oleh karena kejadian-kejadian tersebut mempunyai
sifat ekonomi, maka diperlukan pembukuan ketika kejadian tersebut timbul.
Akuntansi non kas terutama bertujuan agar neraca dapat disajikan dengan
menggunakan basis akrual.
Prosedur akuntansi non kas di SKPD meliputi: prosedur akuntansi
koreksi kesalahan; prosedur akuntansi pembukuan atas transaksi yang
bersifat akrual; prosedur akuntansi penyesuaian terhadap akun tertentu dalam
rangka menyusun laporan keuangan pada akhir tahun; prosedur akuntansi
jurnal penutup. Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi
non kas di SKPD adalah bukti memorial yang dilampiri dengan bukti-bukti
transaksi jika ada.Bukti memorial harus memuat informasi mengenai tanggal
transaksi, kode akun, uraian transaksi dan/atau kejadian, dan jumlah rupiah.
Buku yang digunakan dalam prosedur akuntansi non kas di SKPD hanyalah
buku jurnal umum.
Prosedur akuntansi koreksi kesalahan dimaksudkan untuk
membukukan tindakan pembetulan akuntansi agar agar pos-pos yang tersaji
dalam laporan keuangan entitas menjadi sesuai dengan yang seharusnya.
Pihak-pihak yang terlibat dalam prosedur akuntansi koreksi kesalahan di
SKPD adalah: Bendahara Penerimaan; Bendahara Pengeluaran; Kuasa BUD;
PPK-SKPD; Pengurus Barang.
Prosedur akuntansi atas transaksi yang bersifat akrual dimaksudkan
untuk membukukan hak (aset) atau kewajiban pada neraca SKPD yang sudah
timbul, meskipun transaksi pengeluaran atau penerimaan kas belum terjadi.
Prosedur akuntansi atas transaksi yang bersifat akrual hanya melibatkan
PPK-SKPD saja berdasarkan data-data yang ada

35
Prosedur akuntansi penyesuaian akhir tahun dimaksudkan untuk
melakukan penyesuaian atas saldo akun-akun tertentu dalam rangka
menyusun laporan keuangan pada akhir tahun.Prosedur akuntansi ini hanya
melibatkan PPK-SKPD berdasarkan data-data yang ada.
Prosedur akuntansi jurnal penutup dimaksudkan untuk menutup saldo nominal
menjadi nol (0) pada akhir periode akuntansi.Prosedur akuntansi ini hanya melibatkan
PPK-SKPD saja berdasarkan data-data yang ada.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005


2. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013

37