Você está na página 1de 17

ASUHAN KEBIDANAN ANAK SAKIT

DISKUSI KASUS
DIFTERI, PERTUSIS, TETANUS

OLEH :
KELOMPOK 2

Made Aprillia Negari P07124214 008


I Gusti Agung Ayu Cahyaningrum Ananta P07124214 017
Kadek Devi Ary Suta P07124214 022
Ni Putu Manis Mustika Dewi P07124214 023
Ni Putu Ayu Sinta Puji Rahayu P07124214 025
Ni Putu Devi Nita Sari P07124214 027
Ni Komang Ngurah Apni Sulistyawati SJ P07124214 028
Ni Nyoman Juni Astuti P07124214 031
Kadek Vebny Lia Primantari P07124214 040

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat-Nya lah, makalah yang berjudul Diskusi Kasus Difteri, Pertusis, Tetanus ini
dapat kami selesaikan. Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bimbingan, arahan,
dan bantuan dari berbagai pihak.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kami mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Denpasar, 16 Maret 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman judul....................................................................................................... i
Kata Pengantar...................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................ 3
C. Tujuan............................................................................................................... 3
D. Manfaat............................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pertusi.............................................................................................................. 4
B. Tetanus.......................................................................................................... 13
C. Difteri.............................................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Simpulan......................................................................................................... .
B. Saran.................................................................................................................
Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pertusis atau yang lebih dikenal orang awam sebagai batuk rejan atau
batuk 100 hari merupakan salah satu penyakit menular saluran pernapasan yang
sudah diketahui adanya sejak tahun 1500-an. Penyebab tersering dari pertusis adalah
kuman gram (-) Bordetella pertussis.

Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum


ditemukannya vaksin, angka kejadian dan kematian akibat menderita pertusis cukup
tinggi. Ternyata 80% anak-anak dibawah umur 5 tahun pernah terserang penyakit
pertusis, sedangkan untuk orang dewasa sekitar 20% dari jumlah penduduk total.
Dengan kemajuan perkembangan antibiotik dan program imunisasi maka mortalitas
dan morbiditas penyakit ini mulai menurun. Namun demikian penyakit ini masih
merupakan salah satu masalah kesehatan terutama mengenai bayi- bayi dibawah
umur.
Pertusis sangat infeksius pada orang yang tidak memiliki kekebalan. Penyakit
ini mudah menyebar ketika si penderita batuk. Sekali seseorang terinfeksi pertusis
maka orang tersebut kebal terhadap penyakit untuk beberapa tahun tetapi tidak
seumur hidup, kadang kadang kembali terinfeksi beberapa tahun kemudian. Pada
saat ini vaksin pertusis tidak dianjurkan bagi orang dewasa. Walaupun orang dewasa
sering sebagai penyebab pertusis pada anak anak, mungkin vaksin orang dewasa
dianjurkan untuk masa depan.
Tetanus adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Penyakit ini ditandai oleh kekakuan otot dan spasme yang diakibatkan oleh
pelepasan neurotoksin (tetanospasmin) oleh Clostridium tetani. Tetanus dapat terjadi
pada orang yang belum diimunisasi, orang yang diimunisasi sebagian, atau telah
diimunisasi lengkap tetapi tidak memperoleh imunitas yang cukup karena tidak
melakukan booster secara berkala.

1
Tetanus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di seluruh
dunia. Diperkirakan angka kejadian pertahunnya sekitar satu juta kasus dengan
tingkat mortalitas yang berkisar dari 6% hingga 60%. Selama 30 tahun terakhir,
hanya terdapat sembilan penelitian RCT (Randomized Controlled Trials) mengenai
pencegahan dan tata laksana tetanus. Pada tahun 2000, hanya 18.833 kasus tetanus
yang dilaporkan ke WHO. Berdasarkan data dari WHO, data dari Vietnam
diperkirakan insidens tetanus di seluruh dunia adalah sekitar 700.000 - 1.000.000
kasus per tahun (Dire, 2009).
Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari
Corynebacterium diphtheriae. Difteri ialah penyakit yang mengerikan di mana masa
lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia
yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita
kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal.
Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit
ini
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium Diphteriae (Nelson, 2000).Penyakit ini dominan menyerang anak-
anak dan ditandai dengan timbulnya lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin
spesifik yang dilepas oleh bakteri. Difteri mempunyai gejala demam, suhu tubuh
meningkat sampai 38,9 derajat Celcius, batuk dan pilek yang ringan. Sakit dan
pembengkakan pada tenggorokan, mual, muntah, sakit kepala. Difteri merupakan
penyakit sangat menular, jumlah kasus dan kematian cenderung meningkat. Cara
penularan Difteri bisa menular dengan cara kontak langsung maupun tidak langsung.
Berdasarkan pemaparan kejadian penyakit Pertusis, Tetanus dan Difteri diatas,
penulis ingin membahas lebih dalam mengenai ketiga jenis penyakit tersebut melalui
studi kasus dan pembahasannya meliputi hal yang berkaitan dengan mengidentifikasi,
penatalaksanaan, pencegahan, serta pendokumentasian dalam kebidanan.

B. Rumusan Masalah

2
Atas penentuan latar belakang diatas masalah pokok yang dapat dirumuskan
yaitu
1. Apa saja pengkajian data fokus pada pertusis, tetanus dan difteri ?
2. Apakah penatalaksanaan pada pertusis, tetanus dan difteri ?
3. Apakah tindakan pencegahan pada pertusis, tetanus dan difteri ?
4. Bagaimana pendokumentasian asuhan pada pertusis, tetanus dan difteri ?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini meliputi :
1. Untuk mengetahui pengkajian data fokus pada pertusis, tetanus dan difteri
2. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada pertusis, tetanus dan difteri
3. Untuk mengetahui tindakan pencegahan pada pertusis, tetanus dan difteri
4. Untuk mengetahui pendokumentasian asuhan pada pertusis, tetanus dan difteri

D. Manfaat
Hasil dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat
kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswi kebidanan untuk menambah
pengetahuan dan wawasan mengenai asuhan kebidanan anak sakit dengan penyakit
pertusis, tetanus dan difteri.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERTUSIS
Kasus : Seorang ibu mengajak anaknya berumur 2 tahun 4 bulan ke Puskesmas
mengeluh anaknya demam dan batuk tidak berhenti sejak 2 minggu yang lalu
kemudian nafsu makan menurun, ketika batuk wajah berubah menjadi merah dan
pengeluaran air liur berlebihan.

1. Pengkajian Data Fokus


a. Data Subjektif
1) Keluhan yaitu pasien mengeluh batuk berkepanjangan, pasien mengeluh nyeri
dan sesak pada dadanya serta pengeluaran air liur yang berlebihan.
2) Pola Aktivitas. Tanda dan gejala yaitu kelelahan otot dan nyeri.
3) Pola Makan dan Minum. Tanda dan gejala yaitu nafsu makan menurun dan
mual muntah,
4) Status imunisasi yang belum lengkap.
b. Data Objektif
1) Tanda- tanda vital meliputi suhu badan meningkat, tarikan nafas panjang dan
disertai batuk.
2) Antropometri yaitu penurunan berat badan.
3) Pada pemeriksaan fisik bayi yaitu dengan inspeksi dan palpasi terdapat turgor
kulit buruk, muka memerah.
4) Pemeriksaan diagnostik yaitu pemeriksaan sputum ditemukan kuman gram (-)
yaitu berdotella pertuseis pada apusan tenggorokan pasien (Ngastiyah,1997).

Pathway dari Pertusis :

4
Gambar 1. Pathway Pertusis

2. Diagnosis Kasus
Balita B umur 28 bulan dengan diagnosa medis Pertusis.

3. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Kebidanan
1) Pembersihan jalan nafas.
2) Pemberian oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat yang disertai
sianosis.
3) Pemberian makanan dan obat. Hindari makanan yang sulit ditelan dan
makanan bentuk cair.
4) Pemberian terapi suportif.
a) Dengan memberikan lingkungan perawatan yang tenang, atasi dehidrasi
berikan nutrisi.

5
b) Bila pasien muntah-muntah sebaiknya diberikan cairan dan elektrolit
secara parentera

b. Penatalaksanan Medis
1) Antibiotik
a) Eritromisin dengan dosis 50 mg / kg BB / hari dibagi dalam 4 dosis. Obat
ini menghilangkan B. Pertussis dari nasofaring dalam 2-7 hari ( rata-rata
3-6 hari ) dan dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran
infeksi. Eritromisin juga menggugurkan atau menyembuhkan pertussis
bila diberikan dalam stadium kataral, mecegah dan menyembuhkan
pneumonia dan oleh karena itu sangat penting dalam pengobatan pertusis
khususnya pada bayi muda.
b) Ampisilin dengan dosis 100 mg / kg BB / hari, dibagi dalam 4 dosis.
c) Lain-lain : Rovamisin, kotrimoksazol, klorampenikol dan tetrasiklin.
2) Ekspektoran dan mukolitik.
3) Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk yang hebat sekali.
4) Luminal sebagai sedative (Manjoer, 2000).

4. Tindakan Pencegahan
Cara terbaik untuk mengontrol penyakit pertusis ini adalah dengan imunisasi.
Banyak laporan mengemukakan bahwa terdapat penurunan angka kejadian pertusis
dengan adanya pelaksanaan program imunisasi.
a. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah Difetri, Pertusis, dan Tetanus. Pemberian vaksin DPT
salah satunya adalah mencegah pertusis. Pemberian DPT sebaiknya paling cepat pada
saat bayi berusia 6 minggu. Pemberian vaksin DPT ada yang membuat anak menjadi
demam, kemerahan dan bengkak pada lokasi bekas suntikan, dan rewel setelah
penyuntikan. Efek samping ini biasanya hilang dalam 2 hari, jika timbul bengkak
pada lokasi bekas suntikan dapat dilakukan kompres dingin di lokasi tersebut. Jika
anak demam dapat diberikan Paracetamol dan memperbanyak pemberian ASI atau air
minum lainnya pada anak (Doenges, 2001).

6
b. Pemberian antibiotik profilaksis (pencegahan) pada anak yang kontak erat dengan
penderita pertusis (Behrman, 1999).

5. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan


A. Data Subjektif
Dilakukan pada hari Rabu, tanggal 14 Maret 2017 pukul 10.00 WITA di
Puskesmas I Denpasar Selatan
1. Biodata
Nama : B
TTL/Umur : 14 November 2014 / 2 tahun 4 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak ke : 1 (pertama)
Orang Tua
Nama : Ny. C / Tn. F
Umur : 23 Tahun / 25 Tahun
Agama : Hindu
Pendidikan : SMP / SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga / Pedagang
Alamat : Jalan Letda Reta No. 11 A
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan cemas akan keadaan anaknya karena sudah 2 minggu anaknya batuk
terus terutama malam hari dan nafsu makannya menurun.

3. Riwayat kesehatan yang lalu


a. Riwayat Anternatal
- Ibu rutin dalam memeriksakan kehamilannya (ANC) di Puskesmas I Denpasar
Selatan sebanyak 4 kali.
- Ibu sudah mendapat imunisasi TT 5 kali.
- Ibu sudah pernah mendapat obat-obtan yang pernah diminum adalah Fe dan
Vitamin C
- Selama hamil muda, tidak ada keluhan (Normal)

7
- Ibu tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan
- Ibu tidak pernah menderita penyakit akut/kronis seperti : DM, Asma, jantung,
ginjal dan TBC
- Ibu tidak pernah menderita penyakit menular, seperti : Hepatitis, Malaria,
PMS, Typus, Abdominalis
- Selama hamil tua tidak ada keluhan
- Ibu tidak pernah minum jamu dan tidak ada ketergantungan terhadap obat-
obatan
b. Riwayat Intranatal
Ibu melahirkan anak pertama pada tanggal 14 November 2014, bayi lahir
ditolong oleh bidan, persalinan berlangsung secara spontan. Jenis kalamin bayi laki-
laki dengan berat badan lahir 3.100 gram, PB = 43 cm, LK =35 cm, LD = 34cm,
selama persalinan tidak ada penyulit dan tidak ada kelainan pada bayi.
c. Riwayat Neonatal
Bayi lahir secara : Spontan

AS : 7-8-9

BB : 3.100 gram

LD : 34cm

LK : 35cm

PB : 43cm

d. Riwayat Nifas
Ibu tidak pernah minum jamu dan tidak ada pantangan terhadap makanan ataupun
minuman.

e. Pola Aktivitas

AKTIVITAS SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT

8
a. Pola tidur dan istirahat

1. Waktu tidur malam 10 Jam 5 jam

2. Waktu tidur Siang 2-3 Jam Tidak tidur

b. Pola Nutrisi

1. Pola Minum

Frekuensi 7 kali sehari 6 x / hari

Jumlah 7 gelas / hari @200cc 2 gelas susu, 2 gelas

Jenis Susu, teh, air putih Susu, teh, air putih

Alergi/masalah - -

Upaya mengatasi - -

2. Pola Makan

Frekuensi 3 x sehari (1 porsi =6 2 x sehari (1 porsi =4


SDM) SDM)

Nasi, lauk pauk, Nasi, lauk, sayur,


Jenis sayur
Nafsu makan turun
Alergi/masalah -
Dibujuk untuk makan
Upaya mengatasi

c. Pola Eliminasi

1) BAB

Frekuensi 1 x sehari 1 x sehari

Warna Kecoklatan Kecoklatan

Konsistensi Lunak Lunak

Bentuk

Bau Khas Khas

Jumlah

9
Keluhan

Upaya mengatasi

2) BAK

Frekuensi 2-4 x sehari 3 x Sehari

Warna Kuning Kuning

Kejernihan Jernih Jernih

Bau Khas Khas

Jumlah

Keluhan

Upaya Mengatasi

3) Pola Hygiene

Mandi 2 x Sehari 3 x sehari

Cuci rambut 3 x seminggu 1 x seminggu

Ganti baju 3 x sehari 3 x sehari

4) Pola Aktivitas Bermain dengan anak Tetap bermain dengan


sebayanya pada pagi teman sebayanya namun
dan sore hari sebentar

f. Riwayat Imunisasi / Status Kesehatan Terakhir


Imunisasi yang telah di dapat : Hepatitis, BCG = pada usia 3 bulan di posyandu dan
imunisasi Polio pada usia 9 bulan.
g. Riwayat Keluarga
Dari keluarga tidak ada yang memiliki penyalit menular dan menurun menahun

10
B. Data Objektif
1. Keadaan umum : Lemah
2. Kesadaran : Compos mentis
3. TTV : nadi 130 x / menit, respirasi 35 x / menit dan suhu 37C
4. Berat badan : sebelum sakit 15 kg dan selama sakit 12 kg.
5. Pemeriksaan Fisik :

a. Kepala
Inspeksi : Kulit bersih, tidak ada lesi, pertumbuhan rambut merata.
Palpasi : Tidak ada benjolan
b. Muka
Inspeksi : Kemerahan
c. Mata
Inspeksi : Cekung, sklera putih, konjungtiva pucat
d. Telinga
Inspeksi : Simetris tidak ada serumen, bersih
e. Hidung
Inspeksi : Simetris, ada pernafasan pada cuping hidung
f. Mulut
Inspeksi : Simetris, terdapat bau mulut dan pengeluaran air liur berlebihan.
g. Leher
Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe pembesaran vena jugularis
h. Thorax
Inspeksi : Simetris, pernafasan tidak teratur, terdapat retraksi dada
Askultasi : Terdapat ronchi
i. Jantung
Auskultasi : Tidak ada mur-mur, denyut jantung terdengar jelas dan teratur
j. Abdomen
Inspeksi : Simetris, tidak ada luka, tidak ada benjolan
Palpasi : Tidak ada pembesaran

11
k. Genitalia
Inspeksi : Tidak ada luka , bersih tidak ada sekret
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
l. Ekstremitas
Inspeksi : Tidak ada luka
Palpasi : Tidak nyeri tekan

6. Pemeriksaaan penunjang
a. Hemoglobin : 9 gr%
b. Leukosit : 20000/cmm
c. Laboratorium : ditemukan kuman gram (-) yaitu berdotella pertuseis pada
apusan tenggorokan pasien.

C. Analisis
An. B umur 28 bulan dengan diagnosis medis Pertusis.
Identifikasi Diagnosa Dan Masalah Potensial

Terjadi emasiasi terhadap anak

D. Penatalaksanaan
1. Membina hubungan yang lebih baik dengan orang tua pasien.
2. Menjelaskan pada ibu pasien tentang penyakit yang diderita anaknya saat ini
yaitu pertusis. Ibu mengerti dengan keadaaan yang dialami anaknya.
3. Memberikan KIE pada orang tua pasien meliputi :
a. Memberikan lingkungan perawatan yang tenang, atasi dehidrasi berikan
nutrisi serta menghindari makanan yang sulit ditelan dan makanan bentuk
cair. Orang tua mengerti dengan KIE yang diberikan.
b. Menjelaskan pada ibu agar anak waktu bermainnya dengan anak-anak lain
disesuaikan untuk mencegah penyebaran penyakit yang di derita kepada orang
lain. Orang tua mengerti dengan KIE yang diberikan.

12
c. Menjelaskan pada ibu apabila anaknya batuk, harus ada yang menemani dan
membantu apabila anak muntah setelah serangan batuk reda usahakan agar
baju dibuka, seka keringat dan ganti pakaian yang kotor terkena keringat dan
muntal, kemudian setelah tenang berikan anak minum air putih biasa. Orang
tua mengerti dan bersedia melakukan KIE yang diberikan
d. Menjelaskan pada orang tua klien untuk tidak menunjukkan kekesalanya
apabila terjadi serangan batuk pada anak. Orang tua mengerti dengan KIE
yang diberikan.
4. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak dalam rangka penentuan
terapi obat beserta dosisnya meliputi : Antibiotik, Ekspektoransia dan mukolitik
dan luminal sebagai sedativa

B. TETANUS
Kasus : Seorang ibu mengajak anaknya berusia 1 bulan ke puskesmas mengeluh
anaknya demam, tidak mau menyusu, sejak 4 hari yang lalu, sudah sempat dikasi obat
penurun panas, namun sejak kemarin sore terdapat gerakan badan yang tidak sengaja,
tangisannya melengking, riwayat bersalin dirumah ditolong oleh dukun

C. DIFTERI
Kasus : Seorang ibu mengajak anaknya berusia 36 bulan ke puskesmas mengeluh
anaknya demam sampai menggigil sejak dua hari yang lalu, kemudian sejak kemarin
sore timbul sariawan berwarna keabu-abuan di mulutnya, anak susah makan, suara
serak dan terkadang sulit bernafas
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran

13
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Kliegnan, Arvin. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 2, Edisi 15.
Jakarta: EGC

Dire, D.J. 2009. Tetanus & Medication diakses dari


http://medicastore.com/penyakit/91/Tetanus.html di akses tanggal 19
Desember 2011.

Doenges, Marilynn, E. dkk. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta:


EGC

Garna, Harry. Pertusis. Azhali M.S, dkk : Ilmu Kesehatan Anak Penyakit Infeksi
Tropik. Bandung, Indonesia. FK Unpad, 1993. h: 80-86.

Manjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid II. Jakarta: Media
Aesculapius
Nelson,2000,Ilmu Kesehatan Anak,bagian II,penerbit buku Kedokteran EGC : Jakarta

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit, Editor Setiawan. Jakarta: EGC

Suryadi. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 2. Jakarta: CV Sagung Seto

14