Você está na página 1de 6

Human Immunodeficiency Virus/ Acquired

Immunodeficiency Syndrome

Pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat pada 1981 AIDS menunjukan


kontinum infeksi HIV tahap akhir dan akibat yang ditimbulkanya. Cara
penularan infeksi yang utama mencakup aktivitas seksual dengan orang yang
terinfeksi dan terpajan pada jarum terinfeksi, darah atau produk darah yang
terinfeksi. Janin dapat terjangkit infeksi HIV dari ibu yang terinfeksi selama
perinatal. HIV terutama menginfeksi Limposit Sel-T4;mengganggu imunitas
sel. Konsekuensi klinis dari defisit imun progresif, tak dapat pulih ini adalah
infeksi oportunistik dan malignansi, yang merupakan kondisi fatal dalam 95%
kasus. Virus HIV dapat ditemukan dari cairan tubuh terutama darah, cairan
sperma (mani), cairan vagina dan ASI. Dampak HIV pada tubuh menyebabkan
adanya gangguan kognitif atau disfungsi motorik yang mengganggu aktivitas
hidup sehari-hari dan bertambah buruk dalam beberapa mingu atau bulanyang
disertai oleh penyakit penyerta lain selain HIV. Beberapa gejala yang sering
ditemukan pada penderita yang terinfeksi HIV misalnya Berat Badan turun
sampai 10% dari berat badan sebelumnya, diare kronik lebih dari 1 bulan serta
demam lebih dari 1 bulan.

FAKTOR RISIKO PENULARAN


Beberapa faktor risiko penularan HIV (situasi dan perilaku) yang
berkembang di masyarakat patut diwaspadai karena kemungkinan akan menjadi
pemicu ledakan HIV di Indonesia. Situasi berisiko yang memungkinkan
perilaku berisiko tertular HIV berkembang di masyarakat kita sangat potensial,
misalnya kasus praktek pelacuran, pergaulan bebas yang menjurus kepada
perilaku seks bebas yang tidak aman juga semakin berkembang. Selain perilaku
seksual yang tidak aman, masih tingginya penggunaan jarum suntik dan
peralatan kedokteran lainnya yang kurang steril di pusat-pusat pelayanan
kesehatan; skrining donor darah agar bebas HIV juga belum intensif dilakukan.
Situasi berisiko lain yang ikut menyuburkan terjadinya perilaku berisiko adalah
masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara penularan AIDS
(aspek kemiskinan pengetahuan). Situasi ini dapat dilihat dari masih
berkembangnya stigma dan persepsi salah tentang cara penularan HIV yang
berakibat pada pengucilan pengidap HIV. Kemiskinan iman dan kemiskinan
ekonomi adalah situasi yang juga ikut mendorong berkembangnya
masyarakatyang serba boleh(permissive society) terutama di bidang seksual.
Meskipun demikian, salah satu faktor risiko utama yang perlu diwaspadai
di Indonesia adalah praktek pelacuran dan perilaku seks bebas yang tidak aman
dan tidak bertanggung jawab (unsafe seksual practices). Faktor ini perlu
dikendalikan dan perlu diupayakan cara-cara pencegahannya yang lebih
persuasif, dengan menggunakan pendekatan multisektoral sesuai dengan potensi
social budaya masyarakat kita dan kewenangan masing-masing instansi sektoral
tersebut. Target populasinya bisa saja kelompok-kelompok yang mempunyai
perilaku berisiko tinggi (seperti PSK), termasuk kelompok pengguna jasa
mereka. Kelompok perilaku berisiko lain yang cenderung semakin berkembang
di masyarakat kita adalah mereka yang menggunakan obat bius dengan
suntikan.

PENYALAHGUNAAN OBAT
Kelompok penyalahgunaan obat /narkotika adalah kelompok yang sulit
dipengaruhi. Penderita yang sudah kecanduan berat dan kronis biasanya juga
mengalami gangguan dalam penyesuaian diri secara sosial dan biasanya
hubungan dengan lingkungannya (keluarganya, sekolahnya, teman temannya)
terputus. Ia hanya berpedoman kepada beberapa orang tertentu yang secara
langsung berkaitan dengan kecanduannya pada obat / narkotika tersebut. Untuk
golongan masyarakat seperti ini prosedur pendidikan dan pemberian informasi
sudah tidak ada lagi manfaatnya. Cara pencegahan AIDS bagi mereka tidak
dapat lagi dilepaskan dari usaha pengobatan dan perawatan yang lazim
dilakukan kepada mereka, misalnya dihentikan sama sekali kebiasaan
menggunakan obat / narkotika sendiri kecuali selain dokter dan dilakukan oleh
dokter sendiri atau paramedik.
Yang kiranya lebih perlu diperhatikan adalah kelompok kelompok yang
secara potensial dapat berkembang menjadi penyalah guna obat / narkotika.
Jumlah mereka cukup besar dan seringkali sulit dibedakan dari kelompok
masyarakat lainnya oleh karena perilaku mereka sehari hari tidak selalu
menunjukkan tanda tanda kesulitan penyesuaian diri secara sosial. Tetapi
bagaimana juga ada beberapa cirri yang merupakan indikasi dari orang yang
mempunyai kecenderungan menyalahgunakan obat, yaitu:
1. Usianya relatif muda (di bawah 30 tahun), karena dalam usia ini
kepribadian seseorang belum cukup mapan dan masih mudah
terpengaruh.
2. Mempunyai latar belakang kehidupan social yang tidak harmonis dan dia
sendiri mempunyai berbagai konflik dengan lingkungannya (keluarga,
sekolah, pekerjaan, teman, dan sebagainya).
3. Orang yang bersangkutan pada dasarnya mempunyai kepribadian yang
lemah, sering menghadapi kegagalan, merasa tidak dicintai, merasa
rendah diri, mudah berontak, mudah bosan dan tidak mempunyai
kepercayaan terhadap diri sendiri.
4. Orang yang bersangkutan mempunyai keyakinan agama yang rendah.
Masalah yang timbul adalah bahwa dalam kenyataannya banyak sekali orang
yang mempunyai ciri - ciri tersebut seperti di atas dan hanya sebagian kecil
yang akhirnya menjadi penyalah guna obat / narkotika. Dengan demikian, usaha
pencegahan penularan AIDS kepada kelompok mereka tidak akan jauh berbeda
dari pencegahan di kalangan masyarakat biasa. Tetapi memang upaya
pencegahan dalam arti mendidik dan memberi informasi lebih efektif jika
diberikan kepada kelompok masyarakat biasa.
PENYALAHGUNAAN SEKS
Setiap orang dilahirkan dengan hasrat seksual dan hasrat itu akan
bertumbuh kembang selama orang yang bersangkutan dalam keadaan kesehatan
yang baik. Jadi pada hakikatnya setiap individu secara potensial adalah pelaku
seks. Potensi ini akan mencapai puncaknya pada usia remaja dan membutuhkan
penyaluran sejak usia itu dan selanjutnya sampai ia tidak membutuhkannya lagi
di usia tuanya. Selama masa seksual aktif tersebut, norma norma masyarakat
mengatur tingkah laku seksual mana yang boleh dan tidak boleh
dilakukan.dalam masyarakat yang mendahulukan kepentingan individu, tidak
ada pembatasan terhadap perilaku seksual sejauh tidak mengganggu
kepentingan umum. Hal ini menyebabkan hubungan seksual ekstra mental dapat
dilakukan dengan lebih leluasa dengan satu pasangan tertentu maupun berganti
ganti pasangan.
Insiden perilaku seksual ekstra mental di masyarakat yang masih
mentabukannya belum bisa dipastikan perbedaannya dengan di masyarakat
yang lebih permisif, dalam masyarakat jenis yang pertama segala sesuatu yang
berhubungan dengan seks juga ditabukan. Termasuk di antara yang ditabukan
adalah pembicaraan, pemberian informasi dan pendidikan seks. Akibatnya jalur
informasi yang benar dan bersifat mendidik sulit untuk dikembangkan dan
mengimbangi jalur informasi yang salah dan menyesatkan yang justru
berkembang bebas walaupun tidak legal. Salah satu contoh dari salah informasi
dalam kehidupan remaja adalah adanya anggapan bahwa masturbasi lebih
berdosa dan lebih berbahaya dibandingkan dengan senggama (yang dianggap
lebih alamiah) walaupun yang terakhir ini nyatanya mengandung resiko AIDS
dan kehamilan. Sebagai akibat dari salah informasi ini banyak remaja yang
memilih menyalurkan hasratnya kepada senggama misalnya dengan WTS dari
pada bermasturbasi. Akibat lain dari tidak bisa berkembangnya informasi
seksual yang benar adalah praktek praktek yang tidak sesuai dengan asas
kesehatan atau perencanaan keluarga.
KELOMPOK RISIKO TINGGI
Walaupun tadi telah dikatakan bahwa semua manusia secara potensial adalah
pelaku seksual, tetapi hanya sebagian saja yang merupakan kelompok risiko
tinggi bagi penularan AIDS. Sesuai dengan sifat sifat AIDS maka kelompok
risiko tinggi ini harus mempunyai ciri ciri sebagai berikut:
1. Aktif dalam perilaku seksualnya. Makin aktif, makin tinggi resikonya.
Golongan yang sangat aktif adalah WTS, PTS, dan pencari kepuasan
seksual (pelanggan WTS atau PTS). Ditinjau dari usianya yang
mempunyai kemungkinan tertinggi untuk berperilaku seksual aktifadalah
orang orang berusia remaja ke atas.
2. Kaum biseksual maupun homoseksual. Makin sering dia melakukan
praktek homoseksual, makin tinggi resikonya.
3. Mereka yang suka atau pernah melakukan hubungan seksual dengan
orang asing yang berasal dari daerah-daerah dimana insiden AIDS tinggi.
Mereka yang tinggal didaerah tujuan wisata atau yang senang melayani
wisatawan mempunyai peluang yang lebih besar untuk tergolong dalam
jenis ini.
Seperti halnya kelompok resiko tinggi dari jenis penyalahgunaan
obat/narkotika, kelompok resiko tinggi seksual ini pun tidak terlalu mudah
dipengaruhi secara langsung. Pada dasarnya sebagian besar dari mereka
memang sudah peduli lagi terhadap norma-norma yang mengatur kegiatan
seksual. Mereka relatif tertutup dan cenderung untuk mencari penyelesaian
sendiri. Akan tetapi berbeda dari para penyalahguna obat/narkotika yang
umumnya mengalami keruntuhan seluruh kepribadiaannya, para penyalahguna
seksual ini hanya mengalami masalah di bidang seks saja. Dalam bidang-bidang
lainnya mereka masih tetap mampu orang-orang yang mampu menyesuaikan
dirinya secara sosial dan masih mempunyai tanggungjawab sosial. Oleh karena
itu kepada mereka lebih bisa diberikan informasi yang benar mengenai AIDS
dan cara pencegahannya.

PERANAN ORGANISASI MASYARAKAT


Dikembangkannya program penangggulangan AIDS di tingkat komunitas
juga menjadi harapan masyarakat. Kelompok-kelompok masyarakat seperti
organisasi kepemudaan, seharusnya dilibatkan secara aktif dalam
pengembangan program aksi khususnya untuk mengatasi tiga bentuk
kemiskinan karena ketiganya merupakan situasi berisiko yang mendasari
munculnya perilaku berisiko tercemar HIV di masyarakat. Organisasi-organisasi
kemasyarakatan perlu membaca peluang dan memanfaatkan potensi yang ada
pada kelompoknya masing-masing untuk ikut secara proaktif mengembangkan
program aksi penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.
LANGKAH - LANGKAH PRAKTIS MENCEGAH HIV
Ada tiga cara pencegahan HIV/AIDS yang perlu diperkenalkan untuk
program aksi di lapangan. Ketiga strategi pencegahan penularan HIV yaitu
AIDS awareness (gerakan penyadaran), AIDS advocative (advokasi) dengan
tujuan untuk lebih memberdayakan kelompok-kelompok masyaarakat
khususnya pejabat sehingga mereka akan lebih cepat mengambil keputusan dan
gerakan penanggulangan HIV/AIDS akan lebih cepat menyebar, Konseling
HIV/AIDS ditujukan pada individu atau kelompok-kelompok masyarakat yang
bermasalah, baik sebelum dan sesudah dilakukan test HIV.Prevalensi didalam
kelompok masyarakat berprilaku risiko tinggi di Indonesia masih dibawah 2%.
Oleh karena itu, program penyadaran masyarakat (AIDS awarenss) perlu lebih
di intensifkan, terutama untuk kelompok-kelompok masyarakat umum seperti
remaja/pemuda. Gerakan penyuluhan ini harus digrakan secara konsisten
danberkelanjutan untuk mengimbangi derasnya perubahan system nilai yang
menjurus ke system masyarakat yang serba boleh (permissive society). Masih
rendahnya kepedulian dan pengetahuan masyarakat akan penularan HIV,
program aksi yang berkelanjutan perlu terus dikembangkan.
Paket-paket program untuk Komunikasi, Informasi dan Edukasi(KIE)
tentang HIV/AIDS perlu dikemas sesuai dengan kelompok sasaran masyarakat
dan perilaku risiko. Paket KIE yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran
(awareness) masyarakat tentang masalah AIDS harus jelas pesannya. Misalnya
puasa seks, dan setia dengan satu pasangan, atau menggunakan kondom pada
setiap hubunga seks yag berisiko tercemar AIDS harus dikemas untuk
kelompok-kelompok sasaran tertentu. Untuk mengembangkan implementasi
paket KIE AIDS sebagai bagian dari gerakan masyarakat peduli AIDS,
penyuluhan dengan muatan ketiga topic tersebut sebaiknya dilakukan melalui
pelatihan untuk para penyuluh. Mereka yang bergerak dilapangan perlu
didukung dengan anggaran dan sarana penunjang yang memadai melelui
penggalangan kerjasama, baik antar sector - sektor terkait di pemerintah
maupun antar lembaga pemerintah dengan organisasi social kemasyarakatan
yang bergerak di bidang upaya penanggulangan HIV / AIDS.
Melalui gerakan ini, keluarga dan masyarakat secara terus menerus akan
diberikaninformasi yang up to date tentang perkembangan HIV/AIDS
sehingga mereka akan terus mewaspadai dan mampu mengembangkan langkah
langkah praktis untuk melindungi dirinya dan anggota keluarganya sendiri
sesuai dengan situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Sikap memungkiri
perkembangan masalah AIDS yang menghinggapi tokoh tokoh masyarakat
kita perlu dihilangkan dengan menjadikan tokoh tokoh masyarakat ini sebagai
kelompok sasaran penyuluhan (sasaran advokasi).
Karena kemampuan teknologi yang kita miliki masih terbatas dalam
penemuan obat dan vaksin, pemerintah dan masyarakat sebaiknya menggali
potensi pengendalian diri yang sudah ada pada setiap diri individu untuk upaya
pencegahan.
Pengendalian diri dapat diterapkan melalui tiga cara, yaitu:
1. Puasa (P) seks (abstinensia), artinya tidak (menunda) melakukan
hubungan seks.
2. Setia (S) pada pasangan seks yang sah, artinya tidak berganti-ganti
pasangan seks,
3. Penggunaan kondom (K) pada setiap melakukan hubungan seks yang
berisiko tertukar virus AIDS.