Você está na página 1de 5

Definisi dan Terminologi Visum et Repertum

Secara terminologi, Visum et Repertum terdiri dari dua kata yaitu visum
dan repertum. Visum, kata jamak dari visa berarti dilihat, dan repertum, kata
jamak dari repere yang berarti ditemukan atau didapati sehingga secara singkat
visum et repertum berarti yang dilihat dan ditemukan.3
Definisi Visum et Repertum menurut Kolegium Kedokteran Forensik dan
Medikolegal adalah : Laporan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan
tertulis dari pihak yang berwajib mengenai apa yang dilihat dan ditemukan
berdasarkan keilmuannya, dan untuk kepentingan peradilan. Dari definisi
tersebut, dapatlah ditarik beberapa unsur yang penting, yaitu :4
a. Laporan tertulis
Visum et Repertum sebaiknya diketik dan pada akhir alinea ditutup dengan
garis.
b. Dibuat oleh dokter
Semua jenis keahlian dokter dapat membuat Visum et Repertum
c. Permintaan tertulis dari pihak yang berwajib
Permintaan dari pihak lain seperti keluarga tidak dapat dilayani
d. Apa yang dilihat/diperiksa berdasarkan keilmuan
Pembuatan Visum et Repertum haruslah objektif
e. Berdasarkan sumpah
Hal ini dicantumkan pada bagian penutup
f. Kepentingan peradilan
Hal ini menekankan bahwa Visum et Repertum tidak dapat digunakan
untuk kepentingan lain seperti asuransi dan lain sebagainya.

Dalam Pasal 10 Surat Keputusan Menteri Kehakiman No. M04/UM/01.06


tahun 1983 dinyatakan bahwa hasil pemeriksaan ilmu kedokteran kehakiman
disebut Visum et Repertum. Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas
permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seorang
manusia hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan
dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan. Dengan
demikian,menurut KUHAP keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya disebut Visum et Repertum.5,6
Jadi pengertian visum dirumuskan lebih jelas, yaitu laporan tertulis untuk
peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada
waktu menerima jabatan dokter, memuat pemberitaan tentang segala hal (fakta)
yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh manusia (hidup atau
mati) atau benda yang berasal dari tubuh manusia yang diperiksa dengan
pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa
yang ditemukan sepanjang pemeriksaan tersebut.3
Masalah Visum et Repertum adalah hal yang menghubungkan dokter
dengan kalangan penyidik atau kalangan peradilan, maka Visum et Repertum
tidak hanya penting untuk kalangan dokter tetapi juga untuk kalangan penyidik,
penuntut umum, pembela, dan hakim pengadilan.7

Bentuk dan Susunan Visum et Repertum

Setiap Visum et Repertum mempunyai bentuk dan harus dibuat memenuhi


ketentuan-ketentuan umum sebagai berikut:4
a. Ditulis di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
b. Bernomor dan bertanggal
c. Mencantumkan kata "Pro justitia" di bagian atas (kiri atau tengah)
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan
pemeriksaan
f. Tidak menggunakan istilah asing. Bila tak dapat dihindari maka berikan pula
penjelasannya dalam bahasa Indonesia
g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut

Susunan Visum et Repertum yang sesuai kaidah penulisannya adalah:3,4,8


a. Bagian Pro Justitia
Yang menerangkan bahwa kertas yang berisi Visum et Repertum itu
mempunyai kekuatan hukum dan digunakan untuk peradilan dan
merupakan pengganti materai.
b. Bagian Pendahuluan
Bagian ini sebenarnya tidak diberi judul "Pendahuluan", melainkan
langsung merupakan uraian tentang identitas dokter pemeriksa beserta
instansi dokter pemeriksa tersebut, instansi peminta Visum et Repertum
berikut nomor dan tanggal suratnya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta
identitas yang diperiksa sesuai dengan yang tercantum di dalam surat
permintaan Visum et Repertum tersebut. Nomor registrasi korban di rumah
sakit sebaiknya dicantumkan pula.
c. Bagian Hasil Pemeriksaan (Pemberitaan)
Bagian ini diberi judul "Hasil Pemeriksaan", memuat semua hasil
pemeriksaan terhadap "barang bukti" yang dituliskan secara sistematik,
jelas dan dapat dimengerti oleh orang yang tidak berlatar belakang
pendidikan kedokteran. Untuk itu teknik penggambaran atau
pendeskripsian temuan harus dibuat panjang lebar, dengan memberikan
uraian letak anatomis yang lengkap, tidak melupakan kiri atau kanan
bagian anatomis tersebut, serta bila perlu menggunakan ukuran yang tepat.
Pencatatan tentang perlukaan atau cedera dilakukan dengan sistematis
mulai dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal.
Deskripsinya juga tertentu, yaitu mulai dari letak anatomisnya,
koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan,
ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang
terdekat), jenis luka/cedera, karakteristiknya serta ukurannya. Pada
pemeriksaan korban hidup, bagian ini terdiri dari: Hasil Pemeriksaan, yang
memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik anamnesis yang penting,
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya. Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda
dengan pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaan umum dan
perlukaan atau cederanya serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak
pidananya (status lokalis). Korban hidup tidak harus diperiksa pakaiannya
lapis demi lapis dan dideskripsi bagian-bagian tubuhnya satu persatu.
Namun demikian anamnesis yang ketat atau pemeriksaan fisik umum
yang lengkap tetap diperlukan untuk menghindari terlewatkannya suatu
kelainan atau perlukaan. Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala
sisa dan cacat badan (termasuk indera) merupakan hal penting guna
pembuatan kesimpulan, sehingga harus diuraikan dengan jelas.
Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitahuan terdiri dari:
- Pemeriksaan anamnesis atau wawancara
Menanyakan apa yang dikeluhkan dan apa yang diriwayatkan yang
menyangkut tentang penyakit yang diderita korban sebagai hasil dari
kekerasan/ tindak pidana/ diduga kekerasan.
- Hasil pemeriksaan
Memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Uraian
hasil pemeriksaan korban hidup berbeda dengan pada korban mati, yaitu
hanya uraian tentang keadaan umum dan perlukaan serta hal-hal lain yang
berkaitan dengan tindak pidananya(status lokalis).
- Tindakan dan perawatan berikut indikasinya
Uraian meliputi semua temuan pada saat dilakukannya tindakan dan
perawatan tersebut. Hal tersebut perlu diuraikan untuk menghindari
kesalahpahaman tentang tepat/ tidaknya perawatan dokter dan tepat
tidaknya kesimpulan yang diambil.
- Keadaan akhir korban
Terutama tentang gejala sisa dan cacat badan merupakan penting untuk
pembuatan kesimpulan sehingga harus diuraikan dengan jelas.
Pemeriksaan korban kejahatan seksual juga memuat hal-hal seperti pada
korban perlukaan, namun dengan materi pemeriksaan yang berbeda.
d. Bagian Kesimpulan
Bagian ini diberi judul "Kesimpulan" dan memuat kesimpulan dokter
pemeriksa atas seluruh hasil pemeriksaan dengan berdasarkan keilmuan
atau keahliannya. Pada Visum et Repertum korban perlukaan, setidaknya
disebutkan jenis perlukaan / cedera, jenis kekerasan penyebabnya, dan
kualifikasi luka (derajat luka)nya. Kualifikasi luka diformulasikan dengan
kata-kata yang sesuai dengan bunyi ketentuan perundang- undangannya,
misalnya :
- tidak menimbulkan sakit dan atau halangan dalam melakukan
pekerjaannya.
- mengakibatkan sakit yang membutuhkan perawatan jalan selama
beberapa hari.
- mengakibatkan sakit dan halangan dalam melakukan pekerjaannya
selama .......hari (atau untuk sementara waktu).
- mengakibatkan ancaman bahaya maut baginya.
- mengakibatkan kehilangan panca indera.
e. Bagian Penutup
Bagian ini merupakan kalimat penutup yang menyatakan bahwa Visum et
Repertum tersebut dibuat dengan sebenar-benarnya, berdasarkan keilmuan
yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah dan sesuai dengan ketentuan
dalam KUHAP. Visum et Repertum diakhiri dengan tandatangan dokter
pemeriksa atau pembuat Visum et Repertum dan nama jelasnya. Jangan
dilupakan pembubuhan stempel instansi dokter pemeriksa tersebut dan
nomor induk pegawai atau nomor registrasi prajurit atau nomor surat
penugasan.