Você está na página 1de 19

Tuga

s
Aga
ma

By :Fr
idericia
na
Marie
Bunda Teresa

Bunda Teresa (Agnes Gonxha Bojaxhiu;[1] lahir di skb,


Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910 meninggal di
Kalkuta, India, 5 September 1997 pada umur 87 tahun)
adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania[2]
[3]
dan berkewarganegaraan India[4] yang mendirikan
Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of
Charity) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih
dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu
dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris
Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya
di negara lain. Setelah kematiannya, ia mendapat gelar
beata (blessed dalam bahasa Inggris) oleh Paus Yohanes
Paulus II dan diberi gelar Beata .[5][6]

Pada 1970-an, ia menjadi terkenal di dunia internasional


untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak
orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada
saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi
penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan
sekolah. Pemerintah, organisasi sosial dan tokoh terkemuka telah terinspirasi dari karyanya, namun tak
sedikit filosofi dan implementasi Bunda Teresa yang menghadapi banyak kritik. Ia menerima berbagai
penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna (1980) dan Penghargaan
Perdamaian Nobel pada tahun 1979. Ia merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah.
Saat peringatan kelahirannya yang ke-100 pada tahun 2010, seluruh dunia menghormatinya dan
karyanya dipuji oleh Presiden India, Pratibha Patil.[7]

Rumah Peringatan Bunda Teresa di Skopje.

Agnes Gonxha Bojaxhiu (Gonxha berarti "kuncup mawar" atau "bunga kecil" di Albania) lahir pada
tanggal 26 Agustus 1910 di skb, Kekaisaran Ottoman (sekarang Skopje, ibukota Republik Makedonia).
Meskipun lahir pada tanggal 26 Agustus, ia menganggap 27 Agustus, hari ia dibaptis menjadi "ulang
tahun"nya.[8] Dia adalah anak bungsu dari sebuah keluarga di Shkodr, Albania, lahir dari pasangan
Nikoll dan Drana Bojaxhiu.[9] Ayahnya yang terlibat dalam politik Albania, meninggal pada tahun 1919
ketika ia berusia delapan tahun. [10] Setelah kematian ayahnya, ibunya membesarkannya sebagai seorang
Katolik Roma. Ayahnya, Nikoll Bojaxhiu (namanya berarti 'pelukis') berasal dari Prizren, Kosovo.
Sementara, ibunya diduga berasal dari sebuah desa dekat akovica, Kosovo.[11]

Menurut sebuah biografi oleh Joan Graff Clucas, pada tahun-tahun awal Agnes terpesona oleh cerita-
cerita dari kehidupan misionaris dan pelayanan mereka di Benggala. Pada usia 12 tahun, ia merasa yakin
dan berkomitmen untuk kehidupan beragama dan merasa terpanggil melayani orang miskin [12] Resolusi
akhirnya diambil pada tanggal 15 Agustus 1928, sewaktu berdoa di kuil Madonna Hitam di Letnice,
tempat dimana ia sering pergi berziarah.[13]
Ia meninggalkan rumah pada usia 18 tahun untuk bergabung dengan Kesusteran Loreto sebagai
misionaris. Ia tidak pernah lagi melihat ibu atau saudara perempuannya. [14]

Agnes pada awalnya pergi ke Biara Loreto di Rathfarnham, Irlandia, untuk belajar bahasa Inggris, bahasa
yang digunakan oleh Kesusteran Loreto untuk mengajar anak-anak sekolah di India. [15] Ia tiba di India
pada tahun 1929 dan memulai novisiatnya (pelatihan) di Darjeeling, dekat pegunungan Himalaya, tempat
ia belajar bahasa Bengali dan mengajar di Sekolah St. Teresa, sebuah sekolah yang dekat dengan
biaranya.[16] Ia mengambil sumpah agama pertamanya sebagai seorang biarawati pada tanggal 24 Mei
1931. Saat itu ia memilih untuk diberi nama Thrse de Lisieux, santo pelindung para misionaris, [17][18]
namun karena salah satu biarawati di biara sudah memilih nama itu, Agnes memilih pengejaan Spanyol,
Teresa.[19]

Dia mengambil sumpah sucinya pada tanggal 14 Mei 1937, saat sedang pelayanan sebagai guru di
sekolah biara Loreto di Entally, sebelah timur Kalkuta. [2][20] Teresa bertugas disana selama hampir dua
puluh tahun dan pada tahun 1944 diangkat sebagai kepala sekolah. [21]

Meskipun Teresa menikmati mengajar di sekolah, ia semakin terganggu oleh kemiskinan di sekitarnya. [22]
Kelaparan di Benggala 1943 membawa penderitaan dan kematian ke kota serta kekerasan Hindu/Muslim
pada Agustus 1946 membuat kota dalam keputusasaan dan ketakutan. [23]

Misionaris cinta kasih dengan sari tradisional.

Pada tanggal 10 September 1946, Teresa mengalami "panggilan" saat bepergian dengan kereta api ke
biara Loreto di Darjeeling dari Kalkuta untuk retret tahunannya. Pada saat itu juga, Ia mendengar kata
"saya haus". "Saya meninggalkan biara dan membantu orang miskin sewaktu tinggal bersama mereka.
Ini adalah sebuah perintah. Kegagalan akan mematahkan iman." [24]

Dia memulai pekerjaan misionarisnya bersama orang miskin pada 8 Desember 1948, meninggalkan
jubah tradisional Loreto dengan sari katun sederhana berwarna putih dihiasi dengan pinggiran biru.
Bunda Teresa mengadopsi kewarganegaraan India, menghabiskan beberapa bulan di Patna untuk
menerima pelatihan dasar medis di Rumah Sakit Keluarga Kudus dan kemudian memberanikan diri ke
daerah kumuh.[25][26] Ia mengawali sebuah sekolah di Motijhil (Kalkuta); kemudian ia segera membantu
orang miskin dan kelaparan.[27] Pada awal tahun 1949, ia bergabung dalam usahanya dengan
sekelompok perempuan muda dan meletakkan dasar untuk menciptakan sebuah komunitas religius baru
untuk membantu orang-orang "termiskin di antara kaum miskin".
Usahanya dengan cepat menarik perhatian para pejabat India, termasuk perdana menteri yang
menyampaikan apresiasinya.[28]

Teresa menulis dalam buku hariannya bahwa tahun pertamanya penuh dengan kesulitan. Ia tidak
memiliki penghasilan dan harus memohon makanan dan persediaan. Teresa mengalami keraguan,
kesepian dan godaan untuk kembali dalam kenyamanan kehidupan biara. Ia menulis dalam buku
hariannya:

Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan
para orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus
berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga,
mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. Kemudian kenikmatan Loreto datang pada saya. Kamu
hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi, kata sang penggoda... Sebuah
pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu
merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.. [29]

Teresa mendapatkan izin Vatikan pada 7 Oktober 1950 untuk memulai kongregasi keuskupan, yang
kemudian menjadi Misionaris Cinta Kasih dan pada tanggal [30] Misinya adalah untuk merawat "yang
lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak
diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi
masyarakat dan dihindari oleh semua orang."

Kongregasi ini dimulai dengan 13 orang anggota di Kalkuta, kini telah lebih dari 4.000 suster menjalankan
panti asuhan, rumah bagi penderita AIDS dan pusat amal di seluruh dunia, dan merawat para pengungsi,
pecandu alkohol, orang buta, cacat, tua, orang miskin dan tunawisma, korban banjir, dan wabah
kelaparan.[31]

Pada tahun 1952, Bunda Teresa membuka Home for the Dying pertama diatas lahan yang disediakan
oleh kota Kalkuta. Dengan bantuan pejabat India, ia mengubah sebuah kuil Hindu yang ditinggalkan
menjadi Kalighat Home for the Dying, sebuah rumah sakit gratis untuk orang miskin. Mereka yang dibawa
ke rumah tersebut menerima perhatian medis dan diberikan kesempatan untuk meninggal dalam
kemuliaan, menurut ritual keyakinan mereka; Muslim membaca Al-Quran, Hindu menerima air dari sungai
Gangga, dan Katolik menerima Ritus Terakhir.. [32] "Sebuah kematian yang indah," katanya, "adalah untuk
orang-orang yang hidup seperti binatang, mati seperti malaikat - dicintai dan diinginkan." [32]

Bunda Teresa segera menyediakan tempat tinggal untuk mereka yang menderita penyakit Hansen,
umumnya dikenal sebagai kusta dan menyebut tempat ini sebagai Shanti Nagar (Kota Kedamaian). [33]
Para Misionaris Cinta Kasih juga mendirikan beberapa klinik kusta yang terjangkau di seluruh Kalkuta,
menyediakan obat-obatan, perban dan makanan.

Bunda Teresa merasa perlu untuk membuat rumah bagi anak-anak yang hilang. Pada tahun 1955, ia
membuka Nirmala Shisu Bhavan, sebagai perlindungan bagi yatim piatu dan remaja tunawisma.[34]

Pada tahun 1960-an, ordo ini telah membuka penampungan, panti asuhan dan rumah lepra di seluruh
India. Bunda Teresa kemudian memperluas ordo di seluruh dunia. Rumah pertama di luar India dibuka di
Venezuela pada tahun 1965 dengan lima suster.[35] Selanjutnya di Roma, Tanzania, dan Austria pada
tahun 1968, dan selama tahun 1970, ordo ini membuka rumah dan yayasan di puluhan negara baik di
Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Serikat. [36] Pada tahun 2007, Misionaris Cinta Kasih berjumlah kurang
lebih 450 bruder dan 5.000 biarawati di seluruh dunia, menjalankan 600 misi, sekolah dan tempat
penampungan di 120 negara.[37]

Penurunan kesehatan dan kematian


Bunda Teresa menderita serangan jantung ketika di Roma pada tahun 1983, saat mengunjungi Paus
Yohanes Paulus II. Setelah serangan kedua pada tahun 1989, ia menerima alat pacu jantung buatan.
Pada tahun 1991, setelah berjuang melawan pneumonia saat di Meksiko, ia menderita masalah jantung
lebih lanjut. Ia menawarkan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala Misionaris Cinta
Kasih, tetapi para biarawati ordo dalam sebuah pemungutan suara yang rahasia, memilihnya untuk tetap
menjabat. Bunda Teresa sepakat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai kepala ordo.

Pada April 1996, Bunda Teresa jatuh dan mematahkan tulang selangkanya. Pada bulan Agustus, ia
menderita malaria dan gagal jantung di ventrikel kiri. Ia menjalani operasi jantung tapi sudah jelas bahwa
kesehatannya menurun. Ia dirawat di sebuah rumah sakit di California, dan ini telah menghasilkan
beberapa kritik.[45] Uskup Agung Calcutta, Henry Sebastian D'Souza mengatakan, ia memerintahkan
seorang pendeta untuk melakukan eksorsisme kepada Bunda Teresa atas izinnya saat ia pertama kali
dirawat di rumah sakit dengan masalah jantung karena ia pikir mungkin ia diserang oleh iblis. [46]

Pada tanggal 13 Maret 1997, dia turun dari jabatannya sebagai kepala Misionaris Cinta Kasih dan
memberi jabatannya kepada Suster Nirmala Joshi. Ia meninggal pada tanggal 5 September 1997.

Pada saat kematiannya, Misionaris Cinta Kasih telah memiliki lebih dari 4.000 suster dan persaudaraan
dengan 300 anggota yang menjalankan 610 misi di 123 negara. [butuh rujukan] Ini termasuk penampungan dan
rumah bagi penderita HIV/AIDS, kusta dan TBC, dapur umum, program konseling anak-anak dan
keluarga, pembantu pribadi, panti asuhan, dan sekolah. Misionaris Cinta Kasih juga dibantu oleh wakil
pekerja yang berjumlah lebih dari 1 juta pada tahun 1990-an. [47]

Bunda Teresa dibaringkan dalam ketenangan di Gereja St. Thomas, Kolkata selama satu minggu
sebelum pemakamannya pada September 1997. Ia diberi pemakaman kenegaraan oleh pemerintah India
dalam rasa syukur atas jasanya kepada kaum miskin dari semua agama di India. [48] Kematiannya
ditangisi baik di masyarakat sekuler dan religius. Dalam upetinya, Nawaz Sharif, Perdana Menteri
Pakistan mengatakan bahwa Bunda Teresa adalah "seorang individu langka dan unik yang tinggal lama
untuk tujuan yang lebih tinggi. Pengabdian seumur hidupnya untuk merawat orang miskin, orang sakit,
dan kurang beruntung merupakan salah satu contoh pelayanan tertinggi untuk umat manusia." [49] Mantan
Sekretaris Jenderal PBB, Javier Perez de Cuellar mengatakan: "Ia adalah Pemersatu Bangsa. Ia adalah
perdamaian di dunia ini".
Nick vujicic

Nama asli : Nicholas James Nick Vujicic


Tanggal lahir : 4 Desember 1982
Lahir di : Melbourne, Australia
Zodiac : Sagitarius
Pasangan : Kanae Miyahara

Biografi

Nick Vujicic lahir di sebuah rumah sakit di Kota Melbourne, Australia pada 4 Desember 1982. Orang
tua Nick sangat terkejut ketika mendapati putra mereka lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut
dokter yang menanganginya, Nick menderita penyakit Tetra-amelia yang sangat langka. Kondisi ini
membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer komputer) dan ibu Nick (seorang
perawat) bertanya-tanya dalam hati, kesalahan apa yang telah mereka perbuat hingga melahirkan putra
tanpa lengan.

Meskipun mengalami cacat tubuh, Nick tetap tumbuh kuat, sehat, dan ceria sama seperti anak-anak
lainnya. Nick kecil terlihat begitu tampan serta menggemaskan, matatanya sangat indah. Maka lambat
laun kedua orang tuanya mulai bisa menerima dirinya, mensyukuri keberadaannya, dan segera
mengajarinya untuk hidup mandiri.

Nick memiliki sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Sang ayah membimbingnya untuk berdiri,
menyeimbangkan tubuh, dan berenang sejak usia18 bulan. Menginjakusia 6 tahun, Nick mulai belajar
menggunakan jari-jari kakinya untuk menulis, mengambil barang, dan mengetik. Kini, Nick menyebut
telapak kakinya yang berharga itu sebagai my chicken drumstick.

Ibu Nick memasukkan putranya ke sekolah biasa. Nick menyadari bahwa dorinya sangat berbeda dengan
anak-anak lainnya. Ia juga mengalami berbagai penolakan, ejekan, dan gertakan dari teman-teman
sekolahnya. Hal ini membuatnya begitu sedih dan putus asa. Pada usia 8 tahun, Nick sempat berpikir
untuk mengakhiri hidupnya. Namun, kasih dan dukungan orangtuanya, serta hiburan dari para
sahabatnya, mampu membuat Nick menyingkirkan pikiran negatif tersebut.

Untuk meraih mimpinya, Nick belajar dengan giat. Otak yang cerdas membantunya untuk meraih gelar
Sarjana bidang Ekonomi Akuntansi dan Perencanaan Keuangan pada usia 21 tahun. Setelah itu, ia
mengembangkan lembaga non-profit Life Without Limbs (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh), yang Ia
dirikan pada usia 17 tahun.

Kini, Nick Vujicic adalah motivator dan pembicara internasional yang sangat gemilang. Ia sudah
berkeliling ke lebih dari 24 negara di empat benua (termasuk Indonesia), untuk memotivasi lebih dari 2
juta orang, khususnya kaum muda. Berkali-kali, ia diwawancarai oleh stasiun televisi dengan jangkauan
internasional, seperti ABC (pada 28 Maret 2008). Produknya yang terkenal adalah DVD motivasi Lifes
Greater Purpose, No Arms, No Legs, No Worries, serta film The Butterfly Circus.
Kehidupan awal :Fanny lahir di Southeast,
Putnam County, New York . Orang tuanya John
and Mercy Crosby. ; adalah orang miskin .
Waktu umur 6 minggu ia menderita demam dan
radang mata . Dokter keluarga tidak ada dan
orang yang datang kepadanya menganjurkan
diberi mustrad untuk menghilangkan radang .
Tapi justru menjadikan ia buta ,Kehidupan awal :
Fanny lahir di Southeast, Putnam County, New
York . Orang tuanya John and Mercy Crosby. ;
adalah orang miskin . Waktu umur 6 minggu ia menderita demam dan radang mata . Dokter
keluarga tidak ada dan orang yang datang kepadanya menganjurkan diberi mustrad untuk
menghilangkan radang . Tapi justru menjadikan ia buta , Fanny J Crosby

Ada seorang wanita buta yang telah dipakai Allah untuk mengarang syair lagu-lagu Kristen secara luar
biasa. Nama wanita buta itu ialah Fanny Jane Crosby. Dia lahir dengan normal pada tanggal 24 Maret
1820. Pada waktu dia baru berumur 6 minggu, dia menderita infeksi di matanya, lalu karena dokter yang
biasanya mengobati keluarganya sedang pergi ke luar kota, mereka meminta seseorang yang mengaku
dokter di daerah itu untuk mengobati. Tapi ternyata setelah diobati, hasilnya sangat mengerikan, yaitu
mata Fanny yang masih bayi itu menjadi buta total.

Melihat keadaan itu orang tua Fanny menjadi sedih sekali. Dan kesedihan mereka bertambah lagi karena
beberapa bulan kemudian ayah Fanny meninggal dunia. Untuk menghidupi keluarganya, ibunya bekerja
sebagai pembantu rumah tangga. Dan Fanny yang buta dan masih kecil dititipkan kepada neneknya.

Dengan sabar, sang nenek mendidik Fanny mengajarkan cara berdoa dan juga membacakan ayat-ayat
alkitab. Karena mata Fanny buta, dia tidak dapat bersekolah di sekolah umum seperti anak-anak pada
umumnya. Neneknya mengajari diamenghafal ayat-ayat alkitab. Dan Fanny ternyata memiliki
kemampuan menghafal yang luar biasa, dia bisa hafal seluruh ayat-ayat alkitab Kejadian, Keluaran ,
Imamat, Bilangan, Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Amsal.

Kemampuannya menghafal isi alkitab ini membuat orang lain terkagum-kagum. Fanny bersyukur, karena
dengan kebutaannya ini, dia malah bisa meningkatkan kemampuannya menghafal secara luar biasa.
Kemampuannya menghafal ayat alkitab itu pula yang nantinya membuat Fanny bisa mendapatkan tema,
inspirasi, dan kata-kata yang indah untuk menuliskan syair-syair lagu Kristen. Fanny juga pandai
membuat puisi. Saat umurnya 8 tahun dia menulis puisi indah berikut ini :

Oh, aku anak yang sangat berbahagia

Meskipun aku tidak bisa melihat

Aku memutuskan bahwa di dunia ini


Aku akan berpuas hati

Begitu banyak berkat kunikmati

yang tidak orang lain dapati!

Untuk menangis atau berduka karena aku buta

Aku tak akan melakukannya

Fanny tidak pernah bersedih karena dia buta, yang membuatnya sedih ialah dia tidak dapat bersekolah
seperti teman-temannya yang lain, yang normal pengelihatannya.

Untunglah saat mendekati ulang tahunnya yang ke 15, Fanny mendapat berita yang sangat
menggembirakan, yaitu ibunya berhasil mengumpulkan biaya untuk menyekolahkan Fanny ke " The
institution For the Blind " di New York. Ini adalah satu-satunya sekolah untuk anak-anak buta di Amerika
pada waktu itu. Di sekolah ini Fanny menjadi murid teladan dan kemampuan mengarang puisinya
berkembang pesat. Bahkan pada umur 23 tahun, dia mendapat kesempatan menjadi wanita pertama
yang diijinkan berpidato di depan Kongres Amerika di Washington D.C.

Di sana Fanny tidak membaca pidato atau bercerita, tapi dia melantunkan beberapa puisi tentang KASIH
dari Sang JuruSelamat. Para pemimpi Amerika sangat tersentuh dengan puisi-puisi Fanny. Dan sejak
saat itu dia banyak berteman dengan para pemimpin Negara Amerika, termasuk berteman dengan
beberapa Presiden Amerika.

Fanny kemudian menjadi guru di sekolah tempat dia belajar. Namun hal yang mengagetkan, meskipun
Fanny sudah menghafal banyak sekali isi alkitab, ternyata Fanny baru bertobat dan sungguh-sungguh
menerima Kristus saat dia berumur 31 tahun. Hal itu terjadi dalam suatu kebaktian Kebangunan rohani
yang dia hadiri.

Kemudian pada umur 38, Fanny yang selain pandai membuat puisi dia juga pandai memainkan harpa
dan piano, menikahi Alexander van Alstine, seorang buta yang merupakan pemain organ terkenal di New
York. Mereka kemudian mendapatkan seorang anak, tetapi saat masih bayi, anak mereka meninggal
dunia.

Sampai umur 40 an, Fanny belum menciptakan sayir lagu untuk nyanyian Kristen, tapi dia sudah menjadi
pencipta puisi yang sangat terkenal. Kemudian melalui seorang pendeta dari Dutch Reform, Fanny
dipertemukan dengan William Bradbuny, seorang komposer lagu yang terkenal. William sudah
mendengar tentang Fanny dan ingin bertemu dengannya. Kemudian William meminta Fanny untuk
menulis syair puisi untuk lagu Kristen. Akhirnya pada tahun 1864, saat Fanny berumur 44 tahun, dia
menciptakan syair puisi untuk lagu Kristennya yang pertama.

Sejak saat itu Fanny Crosby dikontrak oleh penerbit buku "Bigelow and Main" di New York dan diberi
tugas untuk menulis 3 buah syair untuk lagu Rohani setiap minggu. Syair-syairnya itu kemudian
diterbitkan dalam buku untuk pengajaran Sekolah Minggu. Dan penerbit itu memiliki koleksi 5.900 syair
Rohani dari Fanny Crosby. Mereka memberikan tunjangan finansial untuk kehidupan Fanny sampai akhir
hidupnya.

Hingga meninggalnya, Fanny telah menulis lebih dari 8000 syair untuk lagu Rohani. namun Fanny tidak
selalu mencantumkan namanya. Fanny memakai tidak kurang dari 200 nama samaran, dia tidak mau
dikenal sebagai pengarang dari begitu banyak rohani.

Sungguh Luar Biasa karyanya, dia merupakan penulis syair lagu Rohani terbanyak yang pernah ada.
Kebutaannya membawa berkat yang luar biasa bagi umat manusia, sampai sekarangpun syair-syair lagu
Fanny Crosby masih dinyanyikan di mana-mana oleh berjuta-juta orang Kristen di seluruh dunia,
diterjemahkan ke dalam berpuluh-puluh bahasa.

Salah satu syair lagu karangan Fanny Crosby adalah "Blessed assurance". Penciptaan syair lagu ini
memiliki kisah berikut.

Fanny Crosby memiliki banyak sahabat, dan salah satunya adalah nyonya Phoebe Knapp. Phoebe ini
adalah seorang yang kaya dan pandai memainkan organ, dia juga senang menciptakan melodi untuk
lagu rohani. Pada tahun 1873, saat Fanny berumur 53 tahun, pada suatu hari Phoebe datang ke rumah
Fanny crosby. "Tante Fanny, saya baru saja menciptakan melodi untuk lagu Rohani. Coba dengarkan ya,
saya akan memainkannya."

Phoebe lalu duduk di depan piano dan mulai memainkan lagu ciptaannya. Fanny Crosby menurut
kesaksiannya sendiri tidak pernah mengarang syair lagu Rohani tanpa terlebih dahulu berdoa.

Phoebe selanjutnya memainkan melodi lagu ciptaannya untuk kedua kalinya, lalu untuk ketiga kalinya.
Sambil menoleh kepada tante Fanny, dia bertanya " Tante Fanny, apa yang dikatakan oleh not-not yang
saya mainkan tadi?"

Dalam waktu tidak lebih dari 5 menit, keseluruhan syair lagu itu yang terdiri dari 3 bait selesai dikarang
oleh fanny Crosby.

SUNGGUH syair lagu yang luar biasa, dan dengan melodi yang tepat maka lagu ini menjadi nyanyian
rohani yang disukai oleh orang percaya di seluruh dunia selama lebih dari seratus tahun. Memang
melalui kebutaannya malah membuat Fanny Crosby bisa memunculkan kemampuannya yang luar biasa
dalam mengarang syair lagu Kristen.

Tuhan merencanakan hal yang terindah bagi seorang Fanny Crosby yang mengalami kebutaan total
pada umur 6 bulan itu.
Paulus dari Tarsus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Langsung ke: navigasi, cari
Untuk kegunaan lain dari Paulus, lihat Paulus (disambiguasi).

Paulus dari Tarsus (awalnya bernama Saulus dari Tarsus) atau


Rasul Paulus, (3 Masehi67 Masehi) diakui sebagai tokoh penting
dalam penyebaran dan perumusan ajaran kekristenan yang
bersumberkan dari pengajaran Yesus Kristus. Paulus
memperkenalkan diri melalui kumpulan surat-suratnya dalam
Perjanjian Baru di Alkitab Kristen sebagai seorang Yahudi dari suku
Benyamin,[4] yang berkebudayaan Yunani (helenis) dan warga negara
Romawi. Ia lahir di kota Tarsus tanah Kilikia (sekarang di Turki),
dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan
Gamaliel.[5] Pada masa mudanya, ia hidup sebagai seorang Farisi
menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi.[6] Mulanya
ia seorang penganiaya orang Kristen (saat itu bernama Saulus), dan
sesudah pengalamannya berjumpa Yesus di jalan menuju kota
Damaskus, ia berubah menjadi seorang pengikut Yesus Kristus.[7]

Paulus menyebut dirinya sebagai "rasul bagi bangsa-bangsa non-


Yahudi" (Roma 11:13). Dia membuat usaha yang luar biasa melalui
surat-suratnya kepada komunitas non-Yahudi untuk menunjukkan
bahwa keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus adalah untuk semua orang, bukan hanya orang
Yahudi. Gagasan Paulus ini menimbulkan perselisihan pendapat antara murid-murid Yesus dari
keturunan Yahudi asli dengan mereka yang berlatar belakang bukan Yahudi. Mereka yang dari keturunan
Yahudi berpendapat bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, orang-orang yang bukan Yahudi haruslah
pertama-tama menjadi Yahudi terlebih dulu. Murid-murid yang mula-mula, Petrus, sempat tidak
berpendirian menghadapi hal ini (lihat Galatia 2:11-14). Untuk menyelesaikan konflik ini, diadakanlah
persidangan di Yerusalem yang dipimpin oleh Petrus dan Yakobus, adik Yesus Kristus, yang disebut
sebagai Sidang Sinode atau Konsili Gereja yang pertama (Konsili Yerusalem).[8]

Konsili ini menghasilkan beberapa keputusan penting, misalnya:

1. untuk menikmati karya penyelamatan Yesus, orang tidak harus menjadi Yahudi terlebih dahulu

2. orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti
tradisi dan pantangan Yahudi (misalnya perihal tentang sunat dan memakan makanan yang
diharamkan).

3. Paulus mendapat mandat untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani.


Paulus dijadikan seorang Santo (orang suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk
Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat banyak
untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan dianggap sebagai salah satu
sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan merupakan pendiri kekristenan bercorak Paulin/bercorak
Paulus. Surat-suratnya menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus
memainkan peranan penting dalam menjadikan agama Kristen sebagai agama yang berdiri sendiri, dan
bukan sebagai sekte dari Yudaisme.

Patung Santo Paulus di Damaskus

Sebelum bertobat Paulus dikenal sebagai penganiaya umat Kristen mula-mula. Ia adalah seorang Farisi
yang sangat taat kepada Hukum Taurat.[9] Kisah Para Rasul juga mengutip perkataan Paulus yang
menyebut bahwa ia "adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi" [10]

Pertobatan Paulus dapat diperkirakan antara tahun 33-36 dengan bukti kuat untuk tahun 34[11][12][13]
dengan mengacu pada salah satu suratnya.[14] Menurut Kisah Para Rasul, pertobatannya (atau metanoia)
terjadi di jalan menuju Damaskus di mana ia mengalami "pertemuan" dengan Yesus, yang kemudian
menyebabkan ia menjadi buta untuk sementara (Kisah Para Rasul 9:1-31, 22:1-22, 26:9-24). Pertobatan
ini sangat istimewa dimana kemauan untuk Paulus bertobat awalnya datang dari Tuhan Yesus sendiri
setelah itu barulah muncul niatan bertobat dari Paulus sendiri.

Dicatat bahwa "berkobar-kobar hati Saulus (nama Paulus sebelum menjadi murid Yesus) untuk
mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa
dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-
laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke
Yerusalem untuk dihukum."[15]

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika Saulus sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya
memancar dari langit mengelilingi dia.[16] Waktu itu adalah tengah hari, dan cahaya dari langit itu
menyilaukan.[17] Saulus mengatakan kepada raja Agripa: "Tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah
hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari,
turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku." [18]

Saulus dan teman-temannya semua rebah ke tanah dan kedengaranlah oleh Saulus suatu suara
yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" [19] Suara itu
berbicara dalam bahasa Ibrani, dan berkata lagi: "Sukar bagimu menendang ke galah
rangsang."[20]

Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus orang Nazaret yang
kauaniaya itu."[21]

Maka Saulus berkata: "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?" [22] Kata suara itu (Saulus
menyebutnya "Tuhan") kepadanya: "Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan
diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu (apa yang harus
kauperbuat)."[23] Dalam penuturannya di hadapan Agripa, Saulus memberitahukan kata-kata
selanjutnya dari Tuhan: "Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi
pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang
akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari
bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata
mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah,
supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat
bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan." [24]

Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar


suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. [25] Mereka melihat cahaya dan meskipun
mendengar, mereka tidak mengerti bahwa suara itu berbicara ("tidak mendengar" pembicaraan).
[26]

Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; [27] oleh
karena cahaya yang menyilaukan mata itu;[28] Maka kawan-kawan seperjalanannya memegang
tangan Saulus dan harus menuntun dia masuk ke Damsyik. [27][28]

Tiga hari lamanya Saulus tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum, [29]
dan terus berdoa.[30] Selama itu ia tinggal di rumah Yudas yang berada di jalan yang bernama
Jalan Lurus.[30]

Setelah tiga hari itu, Saulus mendapat suatu penglihatan di mana ia melihat, bahwa seorang
yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia
dapat melihat lagi.[31]

Ananias adalah seorang murid Tuhan Yesus yang tinggal di Damsyik. [32] Saulus menyebutnya
"seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi
yang ada di situ."[33] Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya:
"Ini aku, Tuhan!" Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di
rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu
penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan
menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi." Jawab Ananias: "Tuhan,
dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang
dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan
kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-
Mu." Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk
memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku
sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh
karena nama-Ku."[34]

Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia datang berdiri di dekat Saulus,
menumpangkan tangannya ke atas Saulus, dan berkata: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang
telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu,
supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Bukalah matamu dan
melihatlah!" Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga Saulus
dapat melihat lagi dan menatap Ananias.[35]

Lalu kata Ananias: "Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui
kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benardan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-
Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat
dan yang kaudengar. Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah
dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!" [36]

Saulus bangun lalu dibaptis. Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. [37]

Sejak dibaptis kehidupan Saulus berubah drastis dan menjadi pelayan Tuhan yang setia hingga akhir
hayatnya

Rumah yang diyakini sebagai milik Ananias di Damaskus

Setelah perjumpaannya dengan Yesus dan menjadi buta, Saulus tinggal 3 hari di kota Damaskus, di
mana dia disembuhkan dari kebutaan dan dibaptis oleh Ananias di Damaskus (tahun 34 M)[38] Saulus
tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. [39] Di kemudian hari dalam
suratnya kepada jemaat di Galatia, Saulus, yang sudah berganti nama menjadi Paulus, mengatakan
bahwa ia kemudian pertama-tama pergi ke tanah Arab, dan kemudian kembali ke Damaskus.[40] Ketika itu
juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: "Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau
membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan
maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?" Akan tetapi Saulus
semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena
ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan
suatu rencana untuk membunuh Saulus. Tetapi maksud jahat itu diketahui oleh Saulus. Siang malam
orang-orang Yahudi mengawal semua pintu gerbang kota, supaya dapat membunuh dia. Sungguhpun
demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota
dalam sebuah keranjang. Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-
murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang
murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada
mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan
bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. Dan Saulus tetap bersama-sama
dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. Ia juga berbicara
dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha
membunuh dia. Akan tetapi setelah hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka
membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus. [41] Dia menjelaskan dalam Surat Galatia
bagaimana 3 tahun setelah pertobatannya, ia pergi ke Yerusalem (tahun 37 M). Di sana ia bertemu
Yakobus dan tinggal bersama Simon Petrus selama 15 hari (Galatia 1:13-24).
Tidak ada catatan tertulis eksplisit bahwa Paulus telah mengenal Yesus secara pribadi sebelum
penyaliban-Nya, tetapi dipastikan bahwa ia mengetahui pelayanan Yesus dan juga pengadilan Yesus di
hadapan Imam Besar Yahudi. Paulus menegaskan bahwa ia menerima Injil bukan dari orang lain,
melainkan oleh wahyu Yesus Kristus (Galatia 1:11-12).

Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia itu Paulus mengisahkan bagaimana ia dibantu melarikan diri
dari kota Damaskus pada zaman pemerintahaan raja Aretas dari Nabataea.[42] Raja Aretas (Harithat IV)
yang wafat pada tahun 40 (lihat 2 Korintus 11:32-33) memerintah dari tahun 9 sampai 40 M. [43]
Sejarawan Flavius Yosefus mencatat detail perselisihan antara raja Aretas dengan raja Herodes Antipas
mengenai perbatasan.[44] Yosefus menuliskan Aretas sebagai "raja Arabia Petrea" (Josephus Antiquities
18.5, Whiston 1957:539). Kaisar Romawi Tiberius berpihak kepada Herodes Antipas dan memerintahkan
Vitellius, prokonsul di Suriah, "untuk berperang melawan Aretas." Dalam perjalanan Vitellius menerima
komunikasi yang mengabarkan kematian Tiberius, maka ia menarik kembali tentaranya. Tiberius wafat
pada tanggal 16 Maret 37 dan pada saat itu Damaskus berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi
dan dipimpin oleh Vitellius. Raja Aretas wafat pada tahun 40 sehingga lolosnya Paulus dari Damaskus
terjadi antara tahun 37 dan 40. Belum jelas kapan Aretas menerima kuasa atas Damaskus dari Kaisar
Caligula dalam penyelesaian kasus di Suriah. Pemerintahan Areta di Damaskus dapat berawal dari tahun
37 berdasarkan penemuan arkeologi berupa mata uang logam. Dosker menulis: "Waktu Tiberias wafat
pada tahun 37, dan mengingat urusan Arabia sudah tuntas pada tahun 39, jelas bahwa pertobatan
Paulus terjadi antara tahun 34 dan 36. Tanggal ini kemudian menjadi pasti berkat sebuah koin dari
Damaskus, dengan gambar raja Aretas dan tahun "101". Jika tahun itu mengacu pada era Pompian,
berarti sama dengan tahun 37 M, sehingga pertobatan Paulus terjadi pada tahun 34 (T. E. Mionnet,
Description des medailles antiques greques et romaines, V [1811], 284f.)." [45]

Dalam Surat Galatia, Paulus juga menceritakan bahwa 14 tahun setelah pertobatannya (tahun 48 M) ia
masuk kembali ke Yerusalem (Galatia 2:1-10). Tidak diketahui sepenuhnya apa yang terjadi selama 14
tahun ini, karena Kisah Para Rasul maupun Surat Galatia tidak memberikan detail jelas. [46] Pada akhir
masa ini, Barnabas pergi untuk mencari Paulus di Tarsus dan membawa dia kembali ke Antiokhia (Kis
11:25).

Ketika bencana kelaparan terjadi di Yudea, diduga sekitar tahun 45-46[47] atau 48 M, Paulus dan
Barnabas berangkat ke Yerusalem untuk memberikan dukungan finansial dari komunitas Antiokhia.[48]
Menurut Kisah Para Rasul, Antiokhia menjadi pusat alternatif bagi penyebaran orang Kristen setelah
kematian Stefanus. Di Antiokhialah para pengikut Yesus pertama kali disebut "Kristen"[49]

Perjalanan misi pertama

Bab Kisan, diyakini sebagai tempat Paulus melarikan diri dari penganiayaan di Damaskus

Penulis Kisah Para Rasul menyusun perjalanan Paulus menjadi tiga perjalanan terpisah. Perjalanan
pertama, (Kis. 13-14) awalnya dipimpin oleh Barnabas, yang mengambil Paulus dari Antiokhia menuju
Siprus kemudian Asia Kecil (Anatolia) selatan, dan kembali ke Antiokhia. Di Siprus, nama Yunani
"Paulus" mulai dipakai menggantikan nama Yahudi "Saulus". Di sini ia memarahi dan membutakan mata
Elimas si penyihir (Kis 13:8-12) yang berusaha menghalang-halanginya menyampaikan ajaran-ajaran
mereka. Dari titik ini, Paulus digambarkan sebagai pemimpin kelompok. [50] Antiokhia dilayani sebagai
pusat kekristenan utama dari penginjilan Paulus. [2]

Konsili Yerusalem

Kebanyakan sarjana setuju bahwa pertemuan penting antara Paulus dan jemaat di Yerusalem terjadi di
antara tahun 48-50,[14] yang dijelaskan dalam Kis. 15:2 dan biasanya dilihat sebagai peristiwa yang sama
dengan yang disebutkan oleh Paulus dalam Galatia 2:1. [14] Pertanyaan kunci yang diajukan adalah
apakah non-Yahudi yang bertobat perlu disunat.[51] Pada pertemuan ini, Petrus, Yakobus (saudara Yesus
Kristus), dan Yohanes menyetujui misi Paulus bagi bangsa-bangsa lain.

Insiden di Antiokhia

Meskipun perjanjian dicapai pada Konsili Yerusalem sebagaimana yang dipahami oleh Paulus, Paulus
menceritakan bagaimana ia kemudian di depan umum mengkritik Petrus, atas keengganan Petrus untuk
makan bersama dengan orang Kristen non-Yahudi di Antiokhia, setelah menerima kunjungan orang-
orang Yahudi Kristen (karena secara tradisi, orang-orang Yahudi dilarang makan bersama orang-orang
bukan Yahudi).[52]

Di dalam Surat Galatia, yang merupakan sumber utama dari insiden di Antiokhia ini, Paulus mencatat
perkataannya kepada Petrus: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi,
bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara
Yahudi?" (Galatia 2:11-14). Paulus juga menyebutkan bahwa bahkan Barnabas (rekan seperjalanannya
hingga saat itu) ikut-ikutan bersikap seperti Petrus.[53]

Hasil akhir dari insiden tersebut masih belum jelas. The Catholic Encyclopedia menyatakan: "catatan
Paulus atas insiden itu tidak meninggalkan keraguan bahwa Petrus melihat kebenaran dari teguran itu."
Setelah kejadian itu Paulus kemudian berangkat memulai misi berikutnya dari Antiokhia.

Perjalanan misi kedua

Dalam perjalanan misi kedua, setelah pertikaian dengan Barnabas karena persoalan Yohanes Markus,
Paulus ditemani oleh Silas. Mereka berangkat dari Antiokhia, menuju Siria dan Kilikia, dan tiba di selatan
Galatia. Di Listra, Timotius bergabung dengan mereka. Mereka menyeberangi daerah Frigia dan
perbatasan Misia. Lalu mereka bergabung dengan Lukas di Troas. Dia memutuskan untuk pergi ke
Eropa, dan di Makedonia ia mendirikan komunitas Kristen pertama Eropa: Jemaat Filipi. Juga di
Tesalonika, Berea, Atena dan Korintus. Dia tinggal selama 1,5 tahun di Korintus, di rumah sepasang
suami-isteri, Akwila dan Priskila (Kisah Para Rasul 18:11). Masa tinggalnya ini bersamaan dengan waktu
Galio menjabat singkat sebagai gubernur (prokonsul) di Akhaya dari 1 Juli 51 sampai 1 Juli 52.[54] Pada
musim dingin tahun 51, ia menulis surat pertama kepada Jemaat Tesalonika, dokumen tertua dari
Perjanjian Baru. Tahun berikutnya ia kembali ke Antiokhia.

Perjalanan misi ketiga

Setelah tinggal di Antiokhia beberapa saat, Paulus pergi ke Galatia dan Frigia untuk mendukung gereja-
gereja yang telah ia dirikan pada perjalanan sebelumnya (Kisah Para Rasul 18:23). Kemudian ia
berkeliling pada wilayah barat Bitinia dan tiba di Efesus dengan perjalanan darat. Di Efesus ia menulis
surat pertamanya kepada orang-orang Korintus pada tahun 54 dan surat kedua pada akhir 57.
Setelah tiga tahun di Efesus, Paulus kemudian mengunjungi Asia Kecil dan Yunani. Kemudian
mendahului Lukas, ia berlayar ke Troas, disertai beberapa murid-muridnya (Kisah Para Rasul 20:4),
disebabkan karena rencana pembunuhan terhadap dirinya oleh orang-orang Yahudi. Dan akhirnya ia
kembali ke Yerusalem dan bertemu dengan Yakobus di sana.

Penangkapan

Penangkapan Paulus, ilustrasi Alkitab di awal 1900-an.

Pemenggalan Paulus. Lukisan Enrique Simonet tahun 1887.

Surat-surat Paulus

Paulus sedang menulis surat-suratnya, Abad 16 (Blaffer Foundation Collection, Houston, Texas).
Surat-surat Paulus merupakan alat komunikasi antara dirinya dengan komunitas-komunitas Kristen
perdana, tetapi juga penting karena berisi uraian teologisnya. Ada 13 surat dalam Perjanjian Baru yang
menunjukkan Paulus sebagai penulisnya.[62] Namun, saat ini sejumlah para ahli Perjanjian Baru berdebat
menentukan mana surat yang ditulis sendiri oleh Paulus (surat-surat Pauline) dan mana surat yang
mengatasnamakan dirinya sebagai penulis (surat-surat Deutero-Pauline).[62] Konsensus yang sementara
ini diterima di kalangan para ahli Perjanjian Baru mengenai surat-surat Paulus adalah sebagai berikut: [62]

Surat-surat Pauline

1. Surat 1 Tesalonika

2. Surat 1 Korintus

3. Surat 2 Korintus

4. Surat Galatia

5. Surat Roma

6. Surat Filipi

7. Surat Filemon

Surat-surat Deutero Pauline

1. Surat Kolose

2. Surat Efesus

3. Surat 2 Tesalonika

4. Surat 1 Timotius

5. Surat 2 Timotius

6. Surat Titus

Pengajaran Paulus yang nyata dalam surat-suratnya mendapat pengakuan positif dari Petrus yang
menggolongkannya ke dalam tulisan-tulisan Kitab Suci, seperti tertulis dalam Surat 2 Petrus pasal 3:

"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti
juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang
dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang
perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-
orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi
kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang
lain."[63]

Kematian
Alkitab tidak mengatakan bagaimana dan kapan Paulus meninggal. Namun menurut tradisi Kristen,
Paulus dipenggal di Roma pada masa pemerintahan Nero pada sekitar pertengahan 60-an di Tre
Fontane Abbey.[64] Kewarganegaraan Romawi yang dimilikinya mengijinkan Paulus menjalani hukuman
mati yang lebih cepat yaitu dengan pemenggalan. [65]