Você está na página 1de 7

BAB 1

PENGANTAR

1.1 Latar Belakang

Hujan es merupakan fenomena jatuhnya butir-butir es berukuran kecil dari atmosfer bumi ke
permukaan bumi. Fenomena jatuhnya hujan dalam bentuk es, ataupun jatuhnya salju ke
permukaan bumi, umumnya terjadi di bagian bumi lintang tinggi, karena suhunya yang relatif
rendah. Akan tetapi, fenomena ini pernah juga terjadi di daerah dengan lintang rendah,
bahkan daerah yang dilewati oleh garis ekuator, yang mana memiliki iklim tropis.

Terjadinya hujan es di daerah tropis termasuk fenomena langka. Fenomena ini juga pernah
beberapa kali terjadi di Indonesia. Dalam tahun 2016, fenomena ini pernah terjadi beberapa
kali, dan salah satunya adalah di Kota Medan, Sumatera Utara, pada pertengahan bulan
september. Pada saat itu, hujan es hanya terjadi selama beberapa menit. Fenomena yang
terbilang langka ini bahkan terjadi di pengujung musim panas, yang membuat fenomena ini
menjadi semakin aneh.

1.2 Tujuan
Terdapat dua tujuan yang ingin dicapai, yaitu:
Mengetahui faktor-faktor terjadinya hujan es di daerah tropis
Menganalisis penyebab terjadinya hujan es pada musim kemarau
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Presipitasi

Hasil yang pertama muncul setelah proses kondensasi uap air adalah terbentuknya
formasi awan atau kabut yang mengandung banyak titik-titik air kecil berukuran mikroskopis.
Pada kondisi-kondisi khusus, beberapa titik-titik air (atau kristal es) ini akan bersatu dan
membentuk titik-titik air, salju, atau butiran es yang lebih besar yang jatuh melalui udara.

Berbagai macam bentuk awan dan presipitasi menjadi informasi yang berharga bagi
meteorolog yang mana sebagai proses-proses fisika yang terjadi di udara. Oleh karena itu,
bentuk-bentuk presipitasi diklasifikasi menjadi beberapa jenis, di antaranya adalah hujan,
salju, hujan es, petir serta kilat, dan lain-lain. (Sverre Petterson, 1941)

2.2 Definisi Hujan Es

Hujan batu adalah butiran-butiran es dengan besar seukuran krikil hingga sebesar bola
golf, baik tembus cahaya maupun sebagian buram. Beberapa bahkan tidak memiiki bentuk
yang tetap, melainkan bentuk yang tidak beraturan. Tidak perlu dipertanyakan lagi, hujan es
dengan ukuran yang lebih besar bersifat cukup destruktif. Hujan es tersebut dapat merusak
jendela, penyok pada mobil, rusaknya atap rumah-rumah, dan dapat menyebabkan kerusakan
parah di tempat persedian makanan dan pertanian.

Pada kenyataannya, sebuah hujan es kecil dapat merusak sawah pertanian para petani
hanya dalam beberapa menit. Itulah mengapa, terkadang hujan es sendiri disebut sebagai
white plague. (Donald Ahren, 2009)

2.3 Proses Pembentukan Hujan Es

Hujan es terbentuk dari awan Cumulonimbus, biasanya terjadi pada saat yang kuat,
ketika graupel, atau air hujan beku yang lebih besar, atau sekitar beberapa partikel kecil yang
merupakan bakal titik-titik air, yang terbentuk oleh akumulasi titik-titik air super dingin, yaitu
akresi. Untuk membentuk sebuah hujan es biasa dibutuhkan sejuta titik-titik kecil awan, tapi
dibutuhkan 10 milliar titik-titik kecil awan untuk membentuk sebuah butir es sebesar bola
golf. Dibutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 menit agar sebuah hujan es dapat terbentuk
seukuran bola golf. Aliran udara yang naik di dalam badai membawa partikel-partikel es
cukup tinggi karena saling bertabrakan dengan titik-titik liquid super dingin. Intinya pemicu
paling baik dalam proses pembentukan hujan es adalah dengan mendekatkan titik air bakal
hujan es dalam kondisi horizontal dari badai.

Seiring dengan terbentuknya partikel-partikel es yang melewati berbagai daerah dengan


kandungan air yang berberda, lapisan pelapis es terbentuk di sekitarnya, mengakibatkan
partikel-partikel es itu terus bertambah besar. Dalam udara kuat yang bergerak ke atas,
butiran hujan es naik dengan sangat lambat, dan dapat muncul dengan mengapung dalam
udara yang naik tersebut, di mana mereka akan bertambah besar sangat cepat dengan
menabrak titik-titik liquid super dingin. Ketika angin tinggi membawa butir salju besar jauh
dari udara naik atau ketika butir salju mencapai ukuran yang tepat, mereka menjadi terlalu
berat untuk didorong oleh udara naik, dan lalu jatuh ke bawah. (Donald Ahren, 2009)

Hujan es akan terbentuk bila partikel es atau butir air hujan yang membeku
tumbuh/berkembang dengan menyerap butir-butir awan kelewat dingin. Awan
Cumulonimbus mengandung partikel es dan butir air besar. Hal penting yang perlu dicatat
dalam pertumbuhan/pembesaran hujan es adalah panas laten yang dilepaskan saat butir air
yang diserap membeku. Akibat panas laten tersebut, suhu dari hujan es yang tumbuh akan
lebih hangat beberapa derajat dibanding suhu awan di sekitarnya. Suhu keseimbangan antara
hujan es dan awan akan tercapai bila total panas yang dilepaskan akibat pembekuan sama
dengan panas yang diserap awan akibat konduksi. Dengan tercapainya keseimbangan suhu
maka tidak ada lagi transfer panas dari hujan es ke lingkungannya. Laju pertumbuhan hujan
es dapat ditentukan dengan menjumlahkan laju pertumbuhan akibat penyerapan butir air
akibat sublimasi. (Menurut Karmini et al, 2010, dalam Rahmah, 2015)

2.4 Awan Cumulonimbus

Awan Cumulonimbus adalah awan yang besar, ganas, menjulang tinggi sebagai awan
hujan yang diserta angin kencang dan petir. Dasar awan cumulonimbus antara 100 600
meter, sedangkan puncaknya dapat mencapai ketinggian 15 km atau ketinggian tropopause.
Sebenarnya awan Cumulonimbus berasal darai awan Cumulus yang kemudian membesar
secara vertikal disebabkan labilnya lapisan udara sehingga terjadinya proses konveksi dan
cukupnya suplai air.

Menurut Haryoko, fase pertumbuhan awan Cumulonimbus adalah sebagai berikut:

Fase tumbuh, awan calon Cumulonimbus akan terlihat tumbuh pesat terutama
komponen vertikalnya karena seluruh gerakan atau arus dalam pertumbuhan awan
yang bergerak ke atas sehingga tubuhnya semakin menjulang tinggi di angkasa
sampai ketinggian 13 km. Substansi awan ini semuanya berupa butiran air sampai
ketinggian 5 km dan butiran air campur salju sekitar 8 km. Di daerah tropis,
bentangan awan ini biasanya kurang dari 10 km.
Fase dewasa atau matang, fase ini tercapai jika puncak awan sudah membentuk
landasan dengan bagian atas berbentuk datar karena awan padat ini mendapat tekanan
dari selaput jeda yang sangat stabil dan panas. Pada fase ini substansinya, butiran
salju di bagian bawah, bagian tengah butiran air campur salju dan bagian puncak
semuanya butiran es. Pada tahap ini pula arus udara dalam tubuh awan naik dan turun
sehingga kristal-kristal es bisa menembus bagian bawah dan tengah. Dari sinilah
lahirnya mekanisme hujan es.
Fase dissipasi (pelenyapan), ditandai adanya arus udara ke bawah yang lemah di
seluruh sel. Fase ini disertai dengan intensitas hujan yang makin menurun dari hujan
sedang dan menuju hujan ringan. (Menurut Haryoko et al, 2009 dalam Rahmah, 2015)
BAB 3
Analisis

Pada umumnya, hujan es hanya terjadi di wilayah ekstra tropis dengan suhu udara yang
relatif lebih dingin daripada wilayah tropis. Akan tetapi, terjadi anomali di mana hujan es pun
dapat terjadi di wilayah tropis, termasuk di Indonesia. Pembentukan hujan es di wilayah
tropis seperti Indonesia harus memenuhi beberapa faktor. Pertama, partikel es yang jatuh dari
awan Cumulonimbus harus bersifat kering dan memiliki ukuran yang cukup besar. Jika
ukurannya kecil serta bersifat kering, saat terkena gesekan partikel es tersebut akan langsung
hancur, berubah menjadi air. Hal ini akan menyebabkan hujan es tidak sampai ke permukaan
bumi. Selain itu, awan Cumulonimbus dibutuhkan dalam pembentukan hujan es ini, sama
seperti hujan pada biasanya, namun dengan ketinggian rendah.

Ketika hujan es terjadi di kota Medan, Indonesia memang sedang berada di pengujung
musim kemarau. Ketidakstabilan iklim yang berada di Indonesia dalam beberapa kurun tahun
terakhir, membuat batas antara musim kemarau dan musim dingin di Indonesia menjadi tidak
jelas. Oleh karena itu, mungkin saja saat itu Indonesia sudah mendekati musim transisi, yaitu
musim perpindahan antara musim kemarau dan musim hujan. Hal ini semakin memperjelas,
alasan kenapa hujan es dapat terjadi di musim kemarau.

Terlebih lagi, diketahui bawah beberapa minggu setelah hujan es terjadi, Kota Medan
mengalami cuaca yang terbilang ekstrim. Ketika siang hari, suhu yang berada di Kota Medan
bisa mencapai 35C, akan tetapi pada malam hari Kota Medan dapat mengalami hujan deras
dengan petir. Cuaca ekstrim ini semakin mengindikasikan, bahwa produksi awan
Cumulonimbus, yang menjadi tempat di mana hujan es terbentuk, dapat terbentuk berlapis-
lapis serta berada pada ketinggian yang rendah saat itu.
BAB 4
KESIMPULAN

Setelah semua data-data yang ada dianalisis, beserta dengan referensi yang telah
didapaktan pada tinjauan pustaka, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan, yaitu:
Hujan es terbentuk karena adanya awan Cumulonimbus yang berada dekat dengan
permukaan bumi
Hujan es dapat terbentuk di wilayah tropis jika partikel-partikel es yang jatuh dari
awan Cumulonimbus bersifat kering serta berukuran cukup besar.
Akibat ketidakstabilan iklim di Indonesia pada beberapa tahun terakhir, batas
antara musim hujan dan musim kemarau menjadi tidak jelas. Sehingga, saat
terjadi hujan es di Kota Medan pada bulan September, kemungkinan saat itu sudah
mendekati musim transisi (peralihan).
Beberapa minggu setelah hujan es, Kota Medan mengalamai kondisi cuaca yang
cukup ekstrim. Hal ini mendukung fakta mengenai kemungkinan terbentuknya
awan Cumulonimbus pada ketinggian rendah, yang mana merupakan salah satu
syarat terbentuknya hujan es.

DAFTAR PUSTAKA
Ahrens, C. Donald. 2009. Meteorology Today: An Introduction to Weather, Climate,
and The Environment. Brooks/Cole. Belmont, CA.
Petterssen, Sverre. 1941. Introduction to Meteorology. Mcgraw Hill Book Company,
inc. New York.
Hidayati, Rahmah. Ramalis, Taufik Ramlan. Mujtahiddin, Muhammad Iid. 2015.
Analisis Kejadian Hujan Es di Bandung Berdasarkan Kondisi Atmosfer dan Citra
Satelit. Jurnal Online Fisika. Vol. 3 No. 1.
http://journal.fpmipa.upi.edu/index.php/JOF/issue/view/69 . April 2015.