Você está na página 1de 8

ANALISA KINERJA PROTOKOL ROUTING DELAY TOLERANT

NETWORK (DTN) UNTUK TRANSPORTASI PUBLIK


Henni Endah Wahanani1, I Made Suartana2, Dewi Adityawati3
123
Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, UPN Veteran Jatim
Jl. Rungkut Madya, Surabaya
Email : henni_endah@yahoo.com1, deneajus@yahoo.com2, dhewie.switist93@gmail.com3

Abstrak. Delay Tolerant Network (DTN) merupakan arsitektur jaringan untuk menyediakan solusi bagi
jaringan yang sering terputus-putus dikarenakan mobilitas node yang senantiasa bergerak sehingga
mengakibatkan delay yang lama atau latency yaitu ukuran waktu tunda yang dialami suatu sistem ataupun
berapa banyak waktu tunggu yang diperlukan oleh paket data untuk menerima sejumlah informasi dari
sumber ke tujuan dengan melalui banyak node. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisa
kinerja protokol routing DTN dengan memanfaatkan alat transportasi sebagai router DTN. Simulasi dan
evaluasi kinerja protokol DTN dengan menggunakan 4 model routing yaitu Epidemic, Spray and Wait,
MaxProp, dan Prophet V2 dengan menggunakan aplikasi the ONE Simulator. Evaluasi yang diprioritaskan
yaitu nilai Delivery Message, Delivery Probability, Latency Average dan Overhead Ratio dengan besar
ukuran data yang dikirim yaitu 1 MB, 5 MB, 10 MB, dan 15 MB. Berdasarkan hasil data pengujian, model
routing MaxProp dengan ukuran pesan 1 MB sampai 10 MB memiliki kemampuan pengiriman pesan lebih
banyak dibandingkan dengan model routing lainnya.

Kata Kunci: DTN, Routing, Epidemic, MaxProp, Spray and Wait, ProphetV2

Perkembangan teknologi semakin Beberapa penelitian telah dilakukan


mengalami peningkatan terutama yang mengenai jaringan berbasis DTN yaitu yang
berkaitan dengan jaringan. Dalam dilakukan peneliti [5] bahwa DTN dapat
perkembangan jaringan diharapkan dalam dibangun dengan memanfaatkan sarana dan
pengiriman data atau konektivitas dari prasarana yang ada di sekitar daerah itu untuk
komunitas jaringan tidak mengalami putus atau memberikan layanan dengan menambahkan
delay yang lama terutama untuk jaringan beberapa peralatan pendukung seperti angkutan
wireless. Jaringan ad hoc adalah salah satu jenis transportasi publik dalam hal ini bus antar kota
dari jaringan wireless yang terdiri dari yang di jadikan router DTN. Dalam penelitian
sekumpulan node-node yang berkomunikasi lain [4] tentang pemanfaatan kereta api sebagai
satu dengan yang lain secara langsung tanpa jalur DTN untuk menyediakan layanan portal
melibatkan node perantara seperti access point. berita dan email, di sini ditekankan bahwa
Setiap node pada jaringan ad hoc memiliki dengan menggunakan protokol routing DTN
interface wireless dimana tidak hanya berfungsi dan satu set peralatan WiFi, transmisi data
sebagai pengirim dan penerima informasi tetapi antara dua atau lebih node dapat dilakukan
juga berfungsi sebagai pendukung jaringan tanpa membangun jalur end-to-end atau koneksi
seperti router. Di dalam jaringan internet langsung antara pengirim dan penerima.
menggunakan protokol untuk routing data dan Pada penelitian ini memanfaatkan DTN
memastikan pertukaran paket data secara sebagai jaringan untuk mengirimkan data dan
reliability. simulasi menggunakan aplikasi The ONE
Munculnya DTN sebagai teknologi dengan Simulator dengan rute dari Terminal Joyoboyo
arsitektur komunikasi yang terbentuk melalui menuju Kampus UPN Veteran Jawa Timur.
jaringan yang memiliki koneksi yang sering DTN adalah jaringan dari jaringan yang
terputus-putus dikarenakan mobilitas node yang lebih kecil. Protokol DTN melalui jaringan
senantiasa bergerak sehingga mengakibatkan khusus, termasuk Internet. Komunikasi di
delay yang lama atau latency yaitu ukuran Internet didasarkan pada packet switching.
waktu tunda yang dialami suatu sistem ataupun Paket adalah potongan-potongan dari blok
berapa banyak waktu tunggu yang diperlukan lengkap data pengguna (misalnya, potongan
oleh paket data untuk menerima sejumlah pesan email atau halaman web) yang mengalir
informasi dari sumber ke tujuan dengan melalui dari sumber ke tujuan melalui jaringan yang
banyak node. terhubung dengan router. Router beralih arah di
mana paket bergerak. Sumber, tujuan, dan panjang antara sumber dan tujuan. Hal ini
kolektif router disebut node. membuat protocol IP tidak dapat dijalankan
Setiap paket membuat pesan dapat melalui karena IP dan aplikasi-aplikasinya
jalan yang berbeda melalui jaringan router. Jika membutuhkan sinyal acknowledgement
satu link terputus, mengarahkan router paket antara sumber dan tujuan dengan cepat.
untuk menggunakan jalur alternatif. Paket berisi - Asymmetric Data Rates: IP dapat dijalankan
KEDUA data aplikasi-program pengguna pada jaringan dengan laju data yang asimetris
(bagian payload) dan header (bagian control). antara download dan upload. walaupun
Header berisi alamat tujuan dan antrian perbedaan laju dan tidak boleh terlalu besar.
informasi lainnya menentukan bagaimana paket Contoh jaringan yang memiliki laju data yang
yang beralih dari satu router yang lain. asimetris adalah jaringan internet melalui TV
Kegunaan dari internet tergantung pada kabel atau akses layanan DSL.
beberapa asumsi penting: - High Error Rate: kesalahan bit pada jalur
- Continuous, Bidirectional End-to-End Path: memerlukan koreksi (yang membutuhkan
Koneksi dua arah terus tersedia antara sumber lebih bit dan lebih pengolahan) atau transmisi
dan tujuan untuk mendukung interaksi end-to- ulang dari seluruh paket (yang menghasilkan
end. lalu lintas jaringan yang lebih).
- Short round-Trips: relatif konsisten dan kecil
delay di jaringan per mili detik, bukan jam
atau hari dalam mengirim dan menerima paket
data.
- Symmetric Data Rates: kecepatan data yang
relatif konsisten dalam kedua arah antara
sumber dan tujuan.
- Low error rate: Relatif sedikit kehilangan atau
kerusakan data pada setiap jalur.

Gambar 2. Komunikasi dalam Internet [5]

DTN mengatasi masalah yang terkait dengan


koneksi yang selalu tidak ada, waktu tunda
yang panjang, kecepatan data asimetris, dan
tingkat kesalahan yang tinggi dengan
menggunakan metode Store and Forward. Ini
adalah metode yang sangat tua, yang digunakan
Gambar 1. Pengiriman Paket Data dalam Internet[5] oleh sistem pos sejak zaman kuno. Cara kerja
metode Store and Forward yaitu sebuah paket
Banyak karakteristik komunikasi data saat melewati node-node perantara atau
berkembang dan potensi tidak sesuai dengan router akan disimpan terlebih dahulu sebelum
asumsi yang mendasari Internet. Lingkungan diteruskan. Hal ini untuk mengantisipasi
ini ditandai dengan: seandainya node berikut tidak dapat dijangkau
- Intermittent connektivity (koneksi yang tidak (mati) atau ada kendala yang lain. Ilustrasi
selalu ada): Apabila tidak terdapat jalur yang konsep Store and Forward ditunjukkan pada
tersedia antara sumber dan tujuan disebut gambar 3.
jaringan partisi. Dalam kasus tersebut, maka
komunikasi end to end dengan menggunakan
protokol TCP / IP tidak dapat dilakukan.
diperlukan protokol tambahan untuk
melakukan komunikasi pada jaringan tersebut.
- Long atau variable delay (waktu tunda yang Gambar 3. Metode Store and Forward[5]
panjang): Selain intermitten connectivity,
waktu tunda perambatan yang panjang antara Dalam gambar diatas, menunjukkan proses
node menghasilkan waktu tunda yang cukup pengiriman data dari node A dengan tujuan
akhir node D. Saat melewati node B dan node C Di Internet, protokol TCP dan IP yang
sebagai perantara, data disimpan terlebih digunakan di seluruh jaringan. TCP beroperasi
dahulu sebelum dikirimkan apabila koneksi pada titik akhir jalur, di mana dapat diandalkan
dengan node berikutnya telah siap. Metode pengiriman segmen TCP dari sumber ke tujuan.
Store and Forward berbeda dengan proses IP beroperasi pada semua node di jalur, di mana
pengiriman data pada TCP/IP. Pada TCP/IP, merupakan rute IP datagram. Dalam DTN,
router hanya menerima data dan langsung node adalah sebuah entitas dengan suatu layer
mem-forward. Akibatnya, jika koneksi putus di bundle. Sebuah node dapat menjadi suatu host,
suatu tempat, data yang sedang dalam proses router atau gateway atau kombinasinya
pengiriman tersebut akan hilang. bertindah sebagai sumber, tujuan atau
Metode Store and Forward memiliki forwarder dari bundle :
konsekuensi yaitu setiap node harus memiliki a. Host, mengirim dan atau menerima bundle,
media penyimpanan (storage). Storage tetapi tidak meneruskannya. suatu host dapat
digunakan untuk menyimpan data apabila menjadi sumber atau tujuan dari sebuah
koneksi dengan node berikutnya belum transfer bundle. Layer bundle dari suatu host
tersedia. Oleh karena itu, router yang hanya yang mengoperasikan jalur yang delay nya
terdiri atas router board seperti yang biasa terlalu lama menggunakan persistent
dipakai dalam jaringan TCP/IP tidak dapat storage untuk queue bundle tersebut sampai
digunakan dalam jaringan DTN. Router pada jalur selanjutnya tersedia.
jaringan DTN harus memiliki media b. Router, meneruskan bundle dalam suatu
penyimpan, contohnya pada router yang berupa regional DTN tunggal dan dapat juga
PC. menjadi suatu host.
Arsitektur DTN mengimplementasikan c. Gateway, meneruskan bundle diantara dua
metode Store and Forward pada paket atau lebih region DTN dan dapat menjadi
switching dengan layer transmisi baru yang suatu host. Gateway menyediakan konversi
disebut layer bundle. Layer bundle adalah diantara layer protokol yang lebih rendah
sebuah layer tambahan untuk memodifikasi dari regionnya.
paket data dengan fasilitas-fasilitas yang
disediakan DTN. Layer bundle terletak
langsung dibawah layer application. Didalam
layer bundle, data dari layer application akan
dipecah-pecah menjadi bundle. Bundle inilah
yang akan dikirim ke layer transport untuk
diproses lebih lanjut.

Gambar 5. Cara Kerja Layer Bundle di DTN[5]


Saat ini ada 6 model routing pada DTN
yang dapat diuji dengan ONE Simulator yaitu
diantaranya Direct Delivery, Epidemic, First
Contact, MaxProp, Spray and Wait dan Prophet
V2.[1]. Pada penelitian ini hanya menggunakan
4 model routing sebagai perbandingan untuk
mendapatkan model routing yang optimal
dengan memperhatikan ukuran file.
Epidemic (EP)
Protokol routing yang dalam proses
penyebaran pesan antar node tidak memiliki
batasan jumlah pesan yang direplikasi dari
Gambar 4. Layer Bundle pada Protokol DTN[5] source node menuju destination node.
Penelitian yang dilakukan oleh [9] dan
diusulkan sebagai algoritma DTN. Dalam MaxProp memberikan prioritas yang lebih
skema Epidemic routing, node menerima pesan tinggi untuk paket baru, dan juga upaya untuk
lalu meneruskan salinan itu ke semua node. mencegah penerimaan paket yang sama dua
Dengan demikian, pesan tersebut tersebar di kali.
seluruh jaringan dengan mobile node dan
akhirnya semua node akan memiliki data yang
sama.
Meskipun tidak ada jaminan pengiriman
data, algoritma ini dapat dilihat sebagai
pendekatan upaya terbaik untuk mencapai Gambar 6. Strategi routing MaxProp
tujuan. Setiap pesan dan identifier unik akan
disimpan dalam buffer node yang disebut Spray and Wait
dengan vektor ringkasan. Setiap kali dua node Konsumsi sumber daya yang boros dalam
yang berdekatan mendapatkan kesempatan routing Epidemic, bisa secara signifikan
untuk berkomunikasi satu sama lain, mereka berkurang jika tingkat distribusi tidak
saling bertukar dan bandingkan vektor untuk terkontrol. [7] mengusulkan Spray and Wait
mengidentifikasi pesan yang belum mereka merupakan mekanisme untuk mengontrol
memiliki kemudian mereka mengirimkan tingkat penyebaran pesan ke seluruh jaringan.
request. Mirip dengan routing Epidemic, Spray and Wait
Dengan asumsi sumber daya yang cukup merupakan protokol yang tidak menganggap
seperti buffer simpul dan bandwidth pengetahuan tentang topologi jaringan dan pola
komunikasi antara node, protokol Epidemic mobilitas node dan hanya berupa beberapa
routing yang menemukan jalur optimal untuk salinan dari pesan diterima menggunakan
pesan pengiriman ke tujuan dengan delay teknik flooding. Perbedaan antara protokol ini
terkecil. Alasannya adalah bahwa routing dan skema Epidemic routing bahwa hanya pada
Epidemic mengeksplorasi semua jalur menyebar salinan pesan.
komunikasi yang tersedia untuk menyampaikan Spray and Wait merupakan metode terdiri
pesan dan memberikan redundansi yang kuat dari dua tahap, tahap spray dan wait. Dalam
terhadap kegagalan node. tahap spray, node sumber setelah meneruskan
Kelemahan utama adalah membuang-buang salinan pesan ke node yang pertama,
dari sumber seperti buffer, bandwidth dan node melanjutkan ke tahap wait, yaitu wait untuk
daya karena penyampaian beberapa salinan konfirmasi pengiriman. Pada tahap wait semua
pesan yang sama. Hal ini menyebabkan node yang menerima salinan dari pesan
perselisihan ketika sumber daya yang terbatas, menunggu untuk bertemu node tujuan langsung
menyebabkan ini untuk menjatuhkan pesan. untuk memberikan data untuk itu. Setelah data
Epidemic Routing disarankan untuk disampaikan konfirmasi dikirim kembali
digunakan pada kondisi ketika ada algoritma menggunakan prinsip yang sama.
yang lebih baik untuk menyampaikan pesan.
Hal ini terutama berguna ketika ada kurangnya Prophet v2
informasi tentang topologi jaringan dan pola Prophet v2 merupakan update fungsi yang
mobilitas node. digunakan dalam metode Prophet.
MaxProp (MP) menggunakan pengiriman prediktabilitas
Menurut penelitian [2] Protokol MaxProp sebagai metrik untuk mengevaluasi
menggunakan beberapa mekanisme kemungkinan satu node mampu menyampaikan
meningkatkan tingkat pengiriman dan rendah pesan ke tujuan. Forwarding berdasarkan
latency dalam pengiriman paket. pengiriman prediktabilitas dan didasarkan
MaxProp menggunakan beberapa sejarah, dan mencoba untuk memperkirakan
mekanisme untuk menentukan urutan paket node mana memiliki kemungkinan tertinggi
yang ditransmisikan dan dihapus. Gambar 6 untuk bisa menyampaikan pesan ke tujuan akhir
menggambarkan mekanisme ini. Inti dari berdasarkan pertemuan node.
protokol MaxProp adalah daftar peringkat paket
disimpan peer berdasarkan cost yang Dalam proses pengiriman data dalam DTN
ditugaskan untuk setiap tujuan. Cost adalah terdapat 2 teknik dasar pengiriman pesan yaitu
perkiraan kemungkinan pengiriman. Selain itu,
Forwarding dan Replication. Sebuah teknik
umum untuk memaksimalkan probabilitas
pengiriman paket adalah untuk replikasi untuk
node yang berbeda sehingga setidaknya salah
satu salinan akan berhasil mencapai tujuannya
dengan probabilitas tinggi [10]. Protokol
routing yang berperilaku seperti ini disebut
replication. Sebaliknya, protokol DTN yang
tidak meniru paket disebut berbasis forwarding
[3], [8].
I. Metodologi
Rancangan simulasi yang digunakan pada
penelitian ini menggunakan The ONE
Simulator berbasis Java untuk memodelkan
pergerakan node, hubungan antar node, routing
dan penanganan pesan. Berikut merupakan
penjelasan dari gambar 7. rancangan
pengiriman data.

Gambar 7. Rancangan DTN dalam Pengiriman Data

Dari gambar 7 dapat dilihat bahwa main


server merupakan node source sebagai pembuat
pesan, angkutan umum sebagai router DTN
untuk mengirimkan pesan, dan destination Gambar 8. Algoritma Pengiriman Pesan pada DTN
server sebagai penerima pesan. Pesan yang
dikirimkan memiliki 4 ukuran yang berbeda, Tabel 1. Parameter Simulasi
yaitu 1 MB, 5 MB, 10 MB, dan 15 MB. Parameter Value
Banyaknya node yang digunakan sebagai
Simulation Time 2 Hours
router DTN adalah sebanyak 15 node.
10000m x 10000m
Pada simulasi ini diasumsikan angkutan
umum memiliki peralatan komunikasiMovement
highModel Car Movement, Stationary Movement
Node Buffer
speed interface seperti wifi yang bertugas Size Car, Source, Destination = 50MB
sebagai perantara untuk mengirimanInterface Type
data dari Wi-Fi
source node ke destination node. Interface Transmit Speed 1375k
Dalam skenario pengiriman Interface
data iniTransmit Range 30m
menggunakan 4 protokol routing yaitu
Node Movement Type Car Movement, Stationary Movement
Epidemic, MaxProp, Spray and Total WaitMessage
dan Created 5992 Messages
ProphetV2. Sedangkan parameter yang akan
Message Created Duration From 0s to 7200s
dievaluasi yaitu Message Delivery Report,
Message
Delivery Probability Report, Latency AverageSize 1MB, 5MB, 10MB, dan 15MB
dan Overhead Ratio. Node Numbers Source = 1, Car = 15, Destination =1
Warm Up Time 1 second

II. Hasil dan Pembahasan


Pembuatan skenario DTN pada the ONE Nilai Delivered Messages dalam Pengiriman
Simulator membutuhkan map yang memiliki Data
skala yang tepat sesuai dengan kenyataan
sebenarnya.

Gambar 11. Grafik Nilai Delivered Message

Gambar 9. Peta Rute Pengiriman pada Gambar 11. merupakan grafik delivered
Openstreetmap.org message dari pengiriman data sebesar 1 MB, 5
MB, 10 MB, dan 15 MB dengan 4 model
Gambar 9. merupakan hasil screenshot dari routing. Grafik diatas menunjukkan bahwa
peta yang digunakan untuk rute pengiriman routing MaxProp memiliki nilai yang paling
data. Rute yang dipakai adalah dari Terminal tinggi sehingga MaxProp merupakan routing
Joyoboyo Surabaya hingga kampus yang baik dalam hal pengiriman pesan.
UPNVeteran Jatim. Peta didapatkan dari
website Openstreetmap.org yang di digitalisasi
menggunakan GIS Openjump untuk mengubah
format dari .jpg menjadi .wkt (well known
format) untuk digunakan pada simulasi the
ONE Simulator.

Nilai Delivery Probability dalam Pengiriman


Data

Gambar 10. Peta Rute Node dalam Konfigurasi the


ONE Simulator
Gambar 12. Grafik Nilai Delivery Probability
Gambar 10. merupakan hasil berupa peta
dari kode koordinat digitalisasi yang telah Dari gambar 12. menunjukkan MaxProp
diterapkan ke dalam the ONE Simulator untuk memiliki nilai probabilitas yang paling tinggi
pergerakan node pengiriman data berdasarkan dibandingkan dengan model routing lainnya.
skenario simulasi.
Dari hasil uji coba sesuai dengan skenario Nilai Overhead Ratio dalam Pengiriman Data
yang telah dirancang maka dihasilkan grafik
yang menunjukkan perbandingan pengiriman
data dengan 4 ukuran pesan yang berbeda, 4
model routing yang berbeda. [9]
3. Semakin besar ukuran pesan maka
semakin menurun nilai latency dan
semakin meningkat nilai overhead nya.

IV. Daftar Pustaka


Gambar 13 Grafik Nilai Overhead Ratio
[1] A. Keranen, J. Ott, and T.
Gambar 13. merupakan grafik yang Karkkainen. (2009). The ONE
menunjukkan nilai overhead ratio pada Simulator for DTN Protocol Evaluation. in
simulasi, dimana overhead merupakan lama Proc. 2nd. in conf. on Simulation Tools
paket disimpan sebelum diteruskan ke node and Techniques.
yang lain. Pada pengiriman data sebesar 1 MB, [2] Burgess, J., Gallagher, B., Jensen, D.,
5 MB, dan 10 MB routing Epidemic merupakan Levine,B. N. (2006). MaxProp: Routing
routing yang memiliki nilai overhead yang for Vehicle Based
tinggi. Disruption Tolerant Networks. In
Proceedings of IEEE
Nilai Latency Average dalam Pengiriman Infocom on April.
Data [3] D. Henriksson, T.F.Abdelzaher, R.K. Ganti.
2007. A Caching Based Approach to
Routing in Delay Tolerant Networks. in
Proc. of ICCCN Honolulu,HI, pp. 69-74.
III. Kesimpulan [4] Emir M. Husni, Ari Rinaldi
IV. Daftar Pustaka Sumarmo. (2010). Delay Tolerant
Network Utilizing Train for News
Portal and Email Services. 2010
3rd International Conference on
ICT4M.
Gambar 14. Grafik Nilai Latency Average [5] Forrest Warthman. (2012). Delay-
Gambar 14. merupakan grafik yang Tolerant-Networks (DTNs) A
menunjukkan latency average. Latency Tutorial version 2.0. Warhtman
Associates.
average merupakan jumlah waktu yang
[6] Lindgren, A., Doria, A., Schelen, O.(2004).
dibutuhkan paket untuk berpindah diseluruh Probabilistic routing in intermittently
koneksi jaringan. MaxProp merupakan connected networks. In
model routing yang memiliki nilai latency The First International Workshop on
yang tinggi untuk semua ukuran pesan 1 Service Assurance with
MB, 5 MB, 10 MB dan 15 MB. Partial and Intermittent Resources
(SAPIR)
III. Kesimpulan [7] Spyropoulos, T., Psounis, K., and
Dalam penelitian yang dilakukan dapat Raghavendra, C. S. (2005). Spray and
ditarik beberapa kesimpulan antara lain: Wait: An Efficient Routing Scheme for
1. Semakin kecil ukuran pesan, maka Intermittently Connected Mobile
Networks. In Proc. of the ACMSIGCOMM
semakin banyak pesan yang terkirim.
Workshop on Delay-Tolerant
Semakin besar ukuran data maka akan Networking(WDTN).
semakin sedikit pesan yang terkirim. [8] S.Jain, K.Fall, R.Patra. (2004). Routing in
2. Pengiriman pesan dengan ukuran 1 MB a Delay Tolerant Network. in Proc. of
10 MB, routing MaxProp memiliki ACM SIGCOMM, Portland, OR pp.145-
kemampuan untuk mengirimkan pesan 157.
lebih banyak dibanding model yang lain, [9] Adityawati, Dewi. (2014). Simulasi Kinerja
tetapi memiliki kelemahan yaitu nilai Pengiriman Data dengan Protokol Routing
latency yang tinggi. Delay Tolerant Network (DTN)
Menggunakan Alat Transportasi Publik. ad hoc networks. Department of Computer
Skripsi UPNVeteran Jawa Timur Science, Duke University, Tech. Rep. CS-
[10] Vahdat, A., dan Becker, D. (2000). 2000-06, April.
Epidemic routing for partially connected