Você está na página 1de 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER GINJAL
A. Pengertian
Kanker Ginjal adalah kondisi medis yang ditandai dengan kelainan pertumbuhan dari
sel-sel kanker pada ginjal. Biasanya, hanya satu ginjal yang terkena kanker.
Kanker ginjal merupakan sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) dan jenis
kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adeno karsinoma
renalis / hipernefroma). Kanker Ginjal atau hipernefroma merupakan jenis kanker yang
terdapat pada bagian ginjal atau disebut tubulus renal proksimal.
Carsinoma sel ginjal ( renal cell carcinoma ) adalah tumor malignansi renal tersering,
dua kali lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan pada wanita.

B. Etiologi
Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam saluran kemih tumbuh dan membelah secara
wajar akan tetapi kadang sel-sel mulai membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru meskipun
tubuh tidak memerlukannya. Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa yang
terdiri jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor. Tidak semua tumor merupakan
kanker (keganasan). Tumor yang ganas disebut tumor maligna. Sel-sel dari tumor ini
menyusup dan merusak jaringan disekitarnya. Sel-sel ini juga keluar dari tumor asalnya dan
memasuki aliran darah atau system getah bening, paru-paru, hati, tulang , pembuluh limfe ,
vena renalis. dan akan terbawa ke bagian tubuh lainnya ( proses ini dikenal
sebagai metastase tumor ).
Penyebab mengganasnya sel-sel ginjal tidak diketahui. Namun penelitian telah
menemukan factor-faktor tertentu yang tampaknya meningkatkan risiko terjadinya kanker
ginjal. Risiko terjadinya carcinoma sel ginjal meningkat sejalan dengan bertambahnya
usia. Kanker ini paling sering terjadi pad ausia 50-70 tahun. Pria memiliki risiko 2 kali
lebih besar dibandingkan wanita.
Faktor faktor resikonya, yaitu :
1. Merokok.
Merokok adalah faktor resiko utama. Para perokok dua kali lebih mungkin menderita
kanker ginjal daripada bukan perokok. Orang yang menyukai rokok cerutu bahkan
bisa menderita kanker ginjal paling parah.
2. Kegemukan / obesitas.
Orang yang mengalami kegemukan mempunyai resiko yang lebih tinggi dari mereka
yang tidak kegemukan.
3. Dialysis jangka panjang. Dialysis adalah perawatan untuk orang orang yang
ginjalnya tidak bekerja dengan baik. Dialysis akan mengeluarkan pembuangan
pembuangan dari darah.
4. Hipertensi merupakan faktor resiko yang termasuk pokok.
5. Von Hippel Lindau ( VHL ) syndrome. HVL adalah penyakit yang jarang beredar
pada beberapa keluarga dan disebabkan oleh perubahan dalam gen HVL. Suatu gen
HVL yang tidak normal dapat meningkatkan resiko kanker ginjal, juga menyebabkan
kista atau tumor dimata, otak dan bagian bagian tubuh yang lainnya. Penderita
sindrom ini bisa melakukan tes pemeriksaan terhadap kemungkinan gen VHL yang
tidak normal.
6. Makanan tinggi lemak
7. Faktor lingkungan seperti terpapar cadmium, pelarut klorin, asbestos.

C. Patofisiologi
Tumor ini berasal dari tubulus proksimalis ginjal yang mula-mula berada di dalam
korteks, dan kemudian menembus kapsul ginjal. Tidak jarang ditemukan kista-kista yang
berasal dari tumor yang mengalami nekrosis dan diresorbsi. Cara penyebaran bisa secara
langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnya dan melalui pembuluh limfe atau v.
Renalis. Metastasis tersering ialah ke kelenjar getah bening ipsilateral, paru, kadang ke hati,
tulang , adrenal dan ginjal kontralateral (De Jong, 2000).
Tumor Wilms ini terjadi pada parenchym renal. Tumor tersebut tumbuh dengan
cepat di lokasi yang dapat unilateral atau bilateral. Pertumbuhan tumor tersebut akan meluas
atau enyimpang ke luar renal. Mempunyai gambaran khas berupa glomerulus dan tubulus
yang primitif atau abortif dengan ruangan bowman yang tidak nyata, dan tubulus abortif di
kelilingi stroma sel kumparan. Pertama-tama jaringan ginjal hanya mengalami distorsi, tetapi
kemudian di invasi oleh sel tumor. Tumor ini pada nyatanya memperlihatkan warna yang
putih atau keabu-abuan homogen, lunak dan encepaloid (menyerupai jaringan ikat ). Tumor
tersebut akan menyebar atau meluas hingga ke abdomen dan di katakana sebagai suatu massa
abdomen. Akan teraba pada abdominal dengan di lakukan palpasi. Munculnya tumor Wims
sejak dalam perkembangan embrio dan akan tumbuh dengan cepat setelah lahir. Pertumbuhan
tumor akan mengenai ginjal atau pembuluh vena renal dan menyebar ke organ lain. Tumor
yang biasanya baik terbatas dan sering terjadi nekrosis, cystic dan perdarahan. Terjadinya
hipertensi biasanya terkait iskemik pada renal IV.
Jaringan asal untuk karsinoma sel ginjal adalah epitel tubulus proksimal ginjal.
Kanker ginjal bisa terjadi secara herediter atau non herediter. Keduanya memberikan bentuk
yang berhubungan dengan perubahan struktural dari kromosom. Studi genetika kanker ginjal
menyebabkan kloning gen yang menghasilkan perubahan formasi tumor ( Iliopoulos, 2000 ).
Setidaknya terdapat 4 sindrom genetik yang terkait dengan karsinoma sel ginjal,
meliputi sindrom von Hippel Lindau (VHL), hereditary papillary renal carcinoma (HPRC),
onkosit ginjal familial (FRO) associated with Birt Hogg Dube syndrome (BHDS), dan
karsinoma ginjal herediter ( Iliopoulos,2000 ).
Penyakit sindrom von Hippel-Lindau adalah sindrom autosomal dominan yang
memberikan predisposisi untuk berbagai neoplasma, termasuk kanker ginjal. Renal cell
carcinoma berkembang di hampir 40 % dari pasien dengan penyakit Hippel-Lindau von dan
merupakan penyebab utama kematian di antara pasien tersebut.
Karsinoma papiler ginjal herediter (HPRC) adalah kelainan bawaan dengan pola
dominan warisan autosom; individu yang terkena mengembangkan karsinoma ginjal bilateral
( Radovanovic, 1986 ). Individu dengan onkosit ginjal familial mengembangkan oncocytoma
multifokal atau neoplasma oncocytic di ginjal. Sindrom Birt Hogg Dube adalah sindrom
kulit turun temurun. Pasien dengan sindrom Birt Hogg Dube memiliki kecenderungan
dominan diwariskan untuk mengembangkan tumor jinak dari foliker rambut ( yaitu
fibrofolliculomas ), terutama di leher, wajah dan batang atas, serta berisiko mengembangkan
tumor ginjal, polip kolon atau tumor, dan kista paru ( Iliopoulos, 2000 ). Kanker ginjal
memberikan berbagai manifestasi masalah keperawatan

D. Patoflow

Idiopatik Merokok Kegemukan Lingkungan

Mutasi Gen
Mutasi Gen

CA ginjal

Adanya massa
Pembesaran pada abdomen Tubulus Abortif
Penekanan pada pembuluh darah
Perubahan fisik Adaptasi
Inflamasi
Hospitalisasi Kecepatan filtrasi & beban solut
Menstimulasi BPH
Kurang Informasi Ketidakseimbangan dalam glomerus
Saraf Afferent
& tubulus
Anxietas
Medulla Spinalis
Eritopenin di ginjal Keseimbangan
Thalamus elektrolit terganggu
Sel darah merah
Korteks serebri Penyerapan cairan
Anemia, malaise
elektrolit, nutrient
Saraf efferent
terganggu
Intoleransi Aktifitas
Nyeri
Ketidakseimbangan
nutrisi

Poliuria

Peningkatan
output
cairan

Defisit Volume
Cairan

E. MANIFESTASI KLINIS
Pada stadium dini, kanker ginjal jarang menimbulkan gejala. Pada stadium lanjut,
gejala yang paling banyak ditemukan adalah hematuria ( adanya darah di dalam air kemih).
Hematuria bisa diketahui dari air kemih yang tampak kemerahan atau diketahui melalui
analisis air kemih.
Nyeri tumpul pada daerah punggung terjadi sebagai akibat dari tekanan balik yang
ditimbulkan oleh kompresi ureter, perluasan tumor ke daerah perienal atau perdarahan ke
dalam jaringan ginjal. Nyeri yang bersifat kolik terjadi jika bekuan darah atau massa sel
tumor bergerak turun melalui ureter.
Tekanan darah tinggi terjadi akibat tidak kuatnya aliran darah ke beberapa bagian atau
seluruh ginjal sehingga memicu dilepaskannya zat kimia pembawa pesan untuk
meningkatkan tekanan darah. Polisitemia sekunder terjadi akibat tingginya kadar
hormone eritropoietin, yang merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan
sel darah merah.

Tanda-tanda lain dari Carsinoma ginjal adalah;


Warna urin abnormal ( gelap atau coklat ) karena terdapat darah dalam urin.
Kehilangan berat badan lebih dari 5%.
Kelelahan
Anemia
Terdapat massa
Tanda metalase
Demam
Polisitemia, hiperkalsemia
Kebanyakan Carsinoma ginjal teridentifikasi secara kebetulan pada saat pemeriksaan
diagnostic abdomen seperti CT-scan.
Gejala yang Nampak mungkin berkaitan dengan metastase tumor seperti fraktur
patologi pada paha.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT Scan.
2. Ultrasound.
Alat ultrasoud bekerja dengan menggunakan gelombang gelombang suara yang
tidak dapat didengar oleh orang. Gelombang gelombang suara memantul balik dari
ginjal, dan komputer menggunakan gema gema untuk menciptakan gambar yang
disebut sonogram.
3. Biopsi
Pengangkatan jaringan untuk mencari sel sel kanker.
4. Urografi intravena
5. USG
6. MRI bisa memberikan keterangan tambahan mengenai penyebaran tumor
7. RPG
8. Arteriografi
9. Pemeriksaan Fisik
Periksa tanda tanda kesehatan umum dan mengujinya untuk demam dan tekanan
darah tinggi. Raba perut dan pinggang untuk memastikan adanya gejala tumor.
10. Tes urin.
11. Tes darah. Laboratorium memeriksa darah untuk melihat seberapa baik ginjal
berfungsi. Laboratorium memeriksa tingkat dari beberapa senyawa, seperti creatinine.
Tingginya creatinine akan mengakibatkan ginjal tidak bekerja secara normal.
12. Intravenous Pyelogram ( IVP ). Pemberian zat warna suatu vena di lengan dengan
cara disuntikkan. Zat warna berjalan melalui tubuh dan berkumpul di ginjal. Zat
warna itu lalu terlihat pada sinar X. Lalu zat warna itu akan bergerak melalui ginjal
menuju kantung kemih.

G. Klasifikasi
Ginjal yang semakin lama mengalami kegagalan atau gangguan fungsi ginjal,
sehingga tidak mampu lagi bekerja dengan normal, membuat organ ginjal semakin berat dan
akhirnya menjadi kanker ginjal. Stadium kanker ginjal didasarkan pada ukuran tumor,
penyebaran dan luas penyebaran. Stadium stadium tersebut adalah :
1. Stadium I. Stadium ini merupakan awal dari kanker ginjal. Tumornya berukuran 2,75
inci ( 7 cm ) atau tidak lebih besar dari sebuah bola tenis. Sel sel kanker ditemukan
hanya berada di ginjal.
2. Stadium II. Stadium ini merupakan awal dari kanker ginjal namun tumor sudah
berukuran lebih dari 2,75 inci. Sel sel kanker ditemukan hanya di ginjal.
3. Stadium III. Pada stadium ini, tumor tidak meluas diluar ginjal, tetapi sel sel kanker
telah menyebar melalui sistem getah bening ke suatu simpul getah bening yang
berdekatan. Tumor juga menyerang kelenjar adrenal atau lapisan lapisan dari lemak
dan jaringan yang berserabut yang mengelilingi ginjal. Namun, sel sel kanker masih
belum menyebar diluar jaringan berserabut. Sel sel kanker ditemukan pada satu
simpul getah bening yang berdekatan atau menyebar dari ginjal ke suatu pembuluh
darah besar yang berdekatan. Sel sel kanker juga ditemukan pada simpul getah
bening yang berdekatan.
4. Stadium IV. Pada stadium ini, tumor meluas dari luar jaringan berserabut yang
mengelilingi ginjal. Sel sel kanker ditemukan pada lebih dari satu simpul getah
bening yang berdekatan atau kanker yang telah menyebar ke tempat tempat lain di
dalam tubuh, seperti paru paru.
5. Kanker yang kambuh. Kondisi ini adalah kanker yang kembali muncul setelah
perawatan bisa muncul kembali di ginjal atau bagian tubuh lainnya.
Stadium I Tumor terbatas pada parenkim ginjal
Stadium II Tumor menjalar kejaringan perinefrik tetapi tidak menembus
fasia Gerota
Stadium III III A Tumor menembus fasia gerota dan masuk ke V renalis
III B Kelenjar limfe regional
III C Pembuluh darah local
Stadium IV IV A Dalam organ, selain adrenal
IV B Metatase jauh

H. Penatalaksanaan
1. Operasi
Operasi adalah perawatan yang paling umum untuk kanker ginjal. Perawatan jenis ini
merupakan suatu tipe dari terapi lokal yang dilakukan dengan merawat kanker ginjal
dan area yang dekat pada tumor. Operasi untuk mengangkat ginjal disebut
nephrectomy. Adapun tipe operasi pengangkatan ginjal ini tergantung pada stadium
dari tumor yaitu :
Radical nephrectomy. Ahli bedah mengangkat seluruh ginjal bersama kelenjar
adrenal dan beberapa jaringan disekitar ginjal. Beberapa simpul getah bening
di area itu juga diangkat.
Simple nephrectomy. Ahli bedah hanya mengangkat ginjal. Biasanya tindakan
ini dilakukan pada penderita kanker ginjal stadium I.
Partial nephrectomy. Ahli bedah hanya mengangkat bagian dari ginjal yang
mengandung tumor. Operasi ini dilakukan ketika seseorang itu hanya
mempunyai satu ginjal, ketika kanker sudah memengaruhi kedua ginjal,
maupun penderita yang ukuran tumor ginjalnya kurang dari 4 cm atau inci.
Efek samping dari operasi adalah lamanya waktu untuk sembuh. Lama waktu yang
diperlukan untuk kesembuhan pun berbeda untuk setiap orang. Pasien sering tidak
nyaman selama beberapa hari pertama meskipun telah menggunakan obat penghilang
nyeri.

2. Arterial embolization
Arterial embolization adalah tipe terapi lokal yang menyusutkan tumor dan dilakukan
sebelum tindakan operasi. Tujuannya adalah agar operasi dapat berjalan lebih mudah.
Ketika operasi tidak mungkin dilakukan, maka embolization digunakan untuk
membantu menghilangkan gejala gejala kanker ginjal.
Cara ini dilakukan dengan memasukkan tabung yang sempit ke dalam suatu
pembuluh darah di kaki. Tabung dialirkan keatas hingga ke pembuluh darah besar
utama atau arteri ginjal yang menyediakan darah pada ginjal. Lalu disuntikkan suatu
senyawa ke pembuluh darah untuk menghalangi aliran darah ke dalam ginjal.Setelah
arterial embolization penderita biasanya merasakan nyeri punggung atau mengalami
demam. Efek efek lainnya mual dan muntah. Namun masalah masalah ini bisa
segera menghilang.
3. Terapi radiasi
Terapi radiasi ( radioterapi ) adalah tipe lain dari tipe lokal yang yang menggunakan
sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel sel kanker, serta memengaruhi sel sel
kanker di area yang dirawat. Pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit atau
klinik dalam lima hari setiap minggu selama beberapa minggu.
Efek samping dari terapi radiasi tergantung pada jumlah radiasi yang diberikan dan
bagian tubuh yang dirawat. Pasien bisa menjadi sangat lelah selama terapi radiasi,
terutama pada minggu minggu pertama perawatan.
Terapi radiasi pada ginjal dan area area yang berdekatan memungkinkan terjadinya
mual, muntah, diare atau tidak nyaman ketika BAK. Selain itu juga menyebabkan
kekurangan jumlah sel darah putih sehat yang sebenarnya membantu melindungi
tubuh terhadap infeksi. Efek lainnya kulit diarea yang dirawat akan memerah, kering
dan peka.

4. Terapi biologis
Terapi biologis adalah suatu tipe dari terapi sistematis atau terapi yang menggunakan
senyawa senyawa yang berjalan melalui aliran darah, mencapai dan memengaruhi
sel sel di seluruh tubuh. Terapi biologis menggunakan kemampuan alamiah tubuh
atau sistem imun untuk melawan kanker.
Terapi biologis mungkin menyebabkan gejala gejala seperti flu, kedinginan,
demam, nyeri nyeri otot, kelemahan, kehilangan nafsu makan, mual, muntah dan
diare. Pasien pasien juga mungkin memperoleh suatu ruam kulit atau skin rash.
Persoalan persoalan ini dapat menjadi parah, namun mereka menghilang setelah
perawatan dihentikan.

5. Kemoterapi
Kemoterapi adalah tipe dari terapi sistemis dengan menggunakan obat-obatan. Obat
-obatan anti kanker memasuki aliran darah dan mengalir ke seluruh tubuh. Meskipun
berguna untuk kanker-kanker yang lain, obat-obatan tersebut telah menunjukkan
penggunaan yang teratas terhadap kanker.
Efek samping dari kemoterapi tergantung pada obat-obatan spesifik dan jumlah yang
diterima. Pada umumnya, obat-obatan anti kanker memengaruhi sel-sel yang
membelah secara cepat, terutama sel-sel darah. Sel-sel ini melawan infeksi,
membantu darah untuk menggumpal atau membantu, dan membawa oksigen ke
seluruh tubuh. Ketika obat-obat memengaruhi sel-sel darah, pasien lebih mudah
mendapat infeksi, memar berdarah, juga merasa sangat lemah dan lelah. Kemoterapi
dapat menyebabkan kerontokan rambut. Rambut tumbuh kembali, namun adakalanya
rambut yang baru memiliki warna dan tekstur yang agak berbeda.
Kemoterapi dapat menyebabkan nafsu makan yang buruk, mual, muntah, diare, atau
luka luka mulut dan bibir. Namun, efek efek samping ini dapat dikontrol dengan
menggunakan obat obatan.

6. Nutrisi
Pasien perlu makan dengan baik selama terapi kanker. kecukupan kalori dibutuhkan
untuk menjaga berat badan dan protein untuk mempertahankan kekuatan. Nutrisi bisa
membuat penderita kanker merasa lebih baik dan mempunyai lebih banyak energi.
Masalahnya pasien kanker sering kali sulit untuk makan karena tidak merasa nyaman
atau lelah.
7. Cryosurgery untuk Ginjal
Kanker ginjal (juga disebut kanker sel ginjal atau adenokarsinoma atau ginjal) adalah
penyakit di mana sel-sel ganas yang berasal dari tubulus di ginjal. Insiden kanker
ginjal adalah 31.200 kasus per tahun, mewakili 2-3% dari kanker baru. Pria yang
terkena sekitar dua kali sesering adalah perempuan, dan usia rata-rata pada saat
diagnosis adalah sekitar 60 tahun. Beberapa 4.500 pasien meninggal karena kanker
ginjal pada tahun 1998.

Ikhtisar Pengobatan Untuk Kanker Ginjal

Pembedahan adalah pengobatan pilihan untuk kanker ginjal dioperasi nefrektomi


.Radical berguna untuk kanker lokal dan paliatif perdarahan keras dan nyeri. Nefrektomi
parsial, juga dikenal sebagai operasi nefron-sparing, adalah perawatan yang memadai untuk
kanker lokal kecil dan juga menawarkan beberapa nilai untuk kanker sinkron bilateral, kanker
ginjal fungsional atau anatomis soliter.
Kemoterapi adjuvan atau radiasi belum ditampilkan untuk mencegah atau mengurangi
rates. Kadang-kadang kambuh, radiasi pasca operasi yang digunakan dan mungkin berguna
untuk pasien dengan kanker lokal residual, perpanjangan kanker menjadi lemak perinefrik,
keterlibatan kelenjar getah bening regional, invasi vena ginjal.

Terapi biologis atau imunoterapi menawarkan hasil yang baik dengan sitokin untuk
pasien dengan metastasis ginjal cancer. Interferon-a (IFN-a) dapat menghasilkan tingkat
respons dari 12% sampai 15% untuk pasien dengan kanker ginjal. Interleukin-2 sebagai
monoterapi telah menghasilkan respon lengkap atau parsial pada 70% dari terapi
patients.Combination terdiri dari interleukin-2 dan limfosit tumor-infiltrasi atau interferon-
telah memberikan hasil yang menjanjikan.

Pendekatan diselidiki mencakup kombinasi terapi sitokin, penggunaan sitokin baru,


kombinasi modulasi sitokin dan vaksinasi kanker autologous. Aktivasi limfosit T sitotoksik
mungkin mekanisme umum aksi banyak dari perawatan yang berbeda, termasuk terapi gen.
Immunotherapy angkat yang memanfaatkan sel-sel dendritik sebagai efektor secara aktif
sedang diselidiki.

Sebagai deteksi massa ginjal kecil dengan pencitraan perut meluas terus meningkat,
sehingga akan permintaan untuk prosedur nefron-sparing minimal invasif. Laparoskopi atau
percutaneous cryoablasi ginjal telah terbukti menjadi pilihan yang layak untuk pengobatan
massa ginjal kecil perifer pada pasien dengan morbiditas signifikan.

Indikasi Cryoablasi Ginjal

Lesi perifer atau kortikal yang ideal (lesi yang lebih sulit untuk gambar intraoperatif).
Lesi padat kurang dari operasi ginjal 4 CM Solitary kidneys- Familial syndromes-
ginjal insufficiency.
Relatif kontra-indikasi: Central / hilus massa (dekat dengan pembuluh pusat dan / atau
sistem pengumpulan); Tumor berbatasan panggul ginjal; Tumor lebih besar dari 4 cm.

Prosedur Cryosurgery Untuk Kanker Ginjal


Terbuka Cryoablasi Ginjal
Ultrasonografi intraoperatif telah menjadi modalitas pencitraan yang digunakan oleh
hampir semua penelitian dilaporkan cryoablasi ginjal sampai saat ini. Karakteristik USG dari
cryolesion ginjal adalah keunggulan hyperechoic maju dengan bayangan akustik posterior.
Sekarang ada yang fleksibel, yang dapat dikendalikan, endoskopi, warna-Doppler ultrasound
probe dalam fasia Gerota, dalam kontak langsung dengan permukaan ginjal untuk
intraoperatif monitoring. Ukuran tumor, echogenicity, vaskularisasi dan jarak dari sinus ginjal
diukur. Sisa dari ginjal dipindai untuk setiap nodul satelit.

Cryoablasi Ginjal Laparoskopi

Umum atau anestesi regional


Siapkan pasien untuk prosedur laparoskopi
Transperitoneal atau retroperitoneal pendekatan
Mengidentifikasi dan mengukur tumor
Perkutan dimasukkan 17-gauge cryoablation jarum dan thermalsensors ke tumor
Lakukan dua freeze / thaw siklus
Pembentukan Memantau bola es menggunakan real-time pencitraan ultrasound
Suhu Monitor dengan sensor termal
Post-Cryoablation

Jadwal tindak lanjut terdiri dari MRI atau CT scan, BUN, kreatinin serum, dan
pemeriksaan fisik pada 1 minggu, 1, 3, 6, dan 12 bulan.

8. Cara terbaik adalah untuk rutin melakukan MRI, dengan dan tanpa peningkatan
gadolinium, pada hari 1, 30, 60, dan 90 pasca operasi, dalam rangka untuk menilai
ginjal dan struktur di sekitarnya. Semua lesi cryo yang isointense ke parenkim yang
berdekatan yang normal ginjal pada T1 gambar tertimbang dan hypointense pada T2
gambar tertimbang. Sebuah pelek hiperintens di perbatasan antara cryolesion dan
ginjal pada hari 1 MRI scan T1 gambar tertimbang diamati dalam beberapa kasus.
Setelah 30 hari, peningkatan intensitas sinyal pada kedua T1 dan T2 gambar
tertimbang terus terdeteksi, tetapi tidak ada peningkatan gadolinium dari cryolesion
terjadi. Hal ini melaporkan bahwa penurunan ukuran MRI dari cryolesion sebesar
14%, 23%, dan 40% pada 1, 2, dan 3 bulan pasca operasi pada 10 pasien awal.

J. Masalah Keperawatan dan Data Pendukung

1. Nyeri
Data Pendukung
Subjektif
Klien mengatakan nyeri dibagian pinggang
Klien mengatakan adanya nyeri tekan
Objektif
Klien tampak meringis
Skala nyeri (5-10)
Cek tanda-tanda vital pasien

2. Defisit Volume Cairan


Data Pendukung
Subjektif
Objektif
Monitor tanda-tanda vital sign
Turgor kulit

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Data Pendukung
Subjektif
Klien mengatakan tidak nafsu makan
Objektif
Intake nutrisi yang tidak adekuat
Pasien tampak mual, muntah
Monitor vital sign dan bb

K. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Timbul

1. Nyeri berhubungan dengan adanya agen cidera biologis


2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan untuk
mengabsorpsi nutrien.
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
5. Anxietas berhubungan dengan kurang pengetahuan

L. Tujuan Rencana Keperawatan Per-Diagnosa Keperawatan, Kriteria Hasil dan


Intervensi
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria
Intervensi
. Keperawatan Hasil
1. Nyeri b/d agen NOC : NIC :
cidera Pain Level
biologis Pain Management
(kerusakan ginjal) Setelah dilakukan Lakukan pengkajian
tindakan keperawatan nyeri secara komprehensif
selama 2x24 jam termasuk lokasi,
nyeri klien karakteristik, durasi,
menghilang dengan frekuensi, kualitas dan
indicator : factor presipitasi
- Mampu Observasi reaksi
mengontrol nyeri nonverbal dari
(tahu penyebab ketidaknyamanan
nyeri, mampu Evaluasi pengalaman
menggunakan nyeri masa lampau
tehnik Evaluasi bersama pasien
nonfarmakologi dan tim kesehatan lain
untuk tentang ketidak efektifan
mengurangi control nyeri masa lampau
nyeri, mencari Kontrol lingkungan
bantuan) yang dapat mempengaruhi
- Melaporkan bahwa
nyeri seperti suhu ruangan,
nyeri berkurang
pencahayaan dan
dengan
kebisingan
menggunakan
Kurangi factor
manajemen nyeri.
- Mampu mengenali presipitasi nyeri
nyeri (skala, Pilih dan lakukan
intensitas, penanganan nyeri
frekuensi dan (farmakologi, non
tanda nyeri). farmakologi dan inter
- Menyatakan rasa personal)
nyaman setelah Kaji tipe dan sumber
nyeri berkurang.
nyeri untuk menentukan
- Tanda vital
intervensi
dalam rentang
Ajarkan tentang teknik
normal.
non farmakologi
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan
control nyeri
Tingkatkan istirahat
DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, J. Corwin. 2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta ; ECG.

Nurafif, Amin Huda, Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda NIC NOC; Edisi Revisi Jilid 2
Yogyakarta: Mediaction.

Medical. 2008. Understanding Kidney Cancer (online)


http://www.webmd.com/cancer/understanding-kidney-cancer

Modern Cancer Hospital Guangzhou. 2015 (Online)


http://www.asiancancer.com/indonesian/cancer-diagnosis/kidney-cancer-diagnosis/

National Cancer Institute: PDQ Renal Cell Cancer Treatment. Bethesda, Md: National Cancer

Institute. Date last modified: Feb. 21, 2014. Available at:

http://cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/renalcell/HealthProfessional to 2015

April 14