Você está na página 1de 16

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pekerjaan konstruksi baik itu membangun suatu gedung, jalan, jembatan
ataupun Pekerjaan konstruksi lainnya sangat membutuhkan alat-alat yang dapat mendukung
pekerjaan tersebut. Alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi tidak hanya alat-
alat ringan yang sudah biasa digunakan dalam membangun konstruksi sederhana tetapi
untuk konstruksi yang dirancang tidak sederhana sangat memerlukan alat-alat berat.Alat-alat
berat mempunyai faktor efektifitas dan efisiensi yang lebih besar dibandingkan dengan
pekerjaan yang dilakukan secara manual. Alat-alat berat ini tidak dapat begitu saja
didistribusikan ke lapangan karena membutuhkan alat berat lainnya yang berfungsi sebagai
alat pengangkut.
Tidak hanya alat-alat berat saja yang perlu diangkut ke lapangan tetapi bahan-bahan
bangunan ataupun material memerlukannya. Pemilihan alat angkut sangat berpengaruh
terhadap barang yang akan diangkutnya, kondisi medan yang akan dilalui ke lapangan, dan
juga tergantung pada fungsi dari alat angkut tersebut. Dalam pekerjaan konstruksi, alat berat
dibedakan berdasarkan beberapa klasifikasi, salah satunya berdasrkan klasifikasi fungsional
dan klasiikasi operasional alat berat.
Berdasarkan klasifikasi fungsional alat berat dibedakan sebagai alat pengolahan lahan,
alat penggali, alat pengangkut material, alat pemindah material, alat pemadatan, alat
pemroses material, dan alat penempatan akhir material. Sedangkan berdasarkan klasifikasi
operasional alat berat dibedakan menjadi: alat dengan penggerak dan alat statis. Contoh alat
berat yaitu : excavator, Dump Truck, Trailer, bulldozer, scaper , Dumper, dan alat-alat lain.
Alat angkut khusus tersebut mempunyai fungsi, kelebihan, dan kekurangan yang berbeda-
beda. Adapun yang dijelaskan dalam makalah ini adalah mengenai excavator/Backhoe.

A. Tujuan
- Memahami jenis jenis alat berat.
- Mengetahui fungsi apa saja yang terdapat di alat berat tersebut.
- Memahami kegunaan dari alat berat.

B. Batasan Masalah
- Pada pembahasan kali ini hanya membahas alat berat excavator / backhoe.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian
Excavator / backhoe adalah alat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan galian
tanah. serta meratakan dinding tebing tanah/menggaruk terutama pada perbukitan. Sebagian
besar excavator dilengkapi dengan arms hidrolik dan kabel yang terdapat dibagian depan lengan berfungsi
untuk menggerakan bucket agar dapat mengangkat, meletakan dan mengeruk material . Kebanyakan
pompa hidrolik dikendalikan dari gearbox power

Excavator/Backhoe mampu menggali segala jenis tanah kecuali batuan yang harus
dihancurkan terlebih dahulu Sesuai dengan namanya, alat ini dibuat agar dapat berfungsi
sebagai penggali maupun pemuat tanah tanpa harus banyak berpindah tempat dengan
menggunakan tenaga power take off dari mesin yang dimilikinya.
1. Bagian bagian excavator/ backhoe

Gambar 2 Bagian bagian excavator

Secara garis besar bagian excavator/ backhoe ada 3 bagian utama yaitu Bagian atas yang
(dapat berputar) disebut superstructure, Bagian bawah (untuk gerak maju, mundur/berjalan)
disebut Undercarriage Attachment unit, adalah perlengkapan yang diganti sesuai kebutuhan
(bucet, Arm,Boom, Arm Cylinder, attachment hoist cylinder dll.
Struktur bawah adalah penggerak utama yang dapat crawler (rantai) atau wheel mounted
(roda karet) merupakan bagian untuk berjalan. Khusus pada excavator wheel mounted
dimaksudkan agar memiliki kecepatan gerak atau berpindah dari suatu tempat ketempat lain
dengan relative lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan crawlerexcavator, sehingga
wheel excavator besar memiliki dua mesin penggerak, yang pertama sebagai mesin penggerak
travelling unit kendaraannya (truck) dan lainnya merupakan mesin penggerak
alatexcavator seperti revolving unit maupun penggerak attachment unit dalam melakukan
fungsinya sebagai alat penggali, pengangkat maupun pemuat. Sedang bagian revolving unit
merupakan bagian untuk berputar mendatar.
1. Pengendali attachment
Pengendalian attachment unit dari excavator dapat dibedakan dengan dua macam cara,
yaitu :
a. Pengendalian dengan Cable controlled
b. Pengendalian dengan Hydraulic controlled

Prinsip kerja cable controlled Excavator/Backhoe dioperasikan dengan menempatkan


boom pada sudut yang dikehendaki, kemudian menarik kabel pengangkat (arm cylinder)
bersamaan dengan mengulir kabel penarik (attachment hoist cylinder) dimana bucket telah
ditempatkan pada kedudukan yang dikehendaki. Ujung bebas boom diturunkan dengan
melepaskan tegangan pada kabel pengangkat sehingga gigi bucket mengenai bahan yang akan
digali. Jika bucket telah terisi, maka kabel penarik akan digulung. Bucket diangkat dengan
manaikan boom, dan kemudian berputar ke tempat pembuangan tanah atau sebuah truk.
Prinsip kerja pengendalian hidrolik adalah berdasarkan kerja hidrolis yaitu menggunakan
media cairan (minyak pelumas) yang dimampatkan dengan membuka dan menutup katup
katup kompresi sehingga mempunyai tenaga dorong yang besar.
Kelebihan kendali Hidrolis adalah :
Kecepatan operasional (waktu siklus lebih cepat)
Efisiensi tinggi
Ketepatan dan ketelitian dalam menggali lebih baik
Control penuh terhadap attachment
A. Biaya Kepemilikan dan Pengopersian Alat Berat
Alat berat yang dimiliki sendiri oleh suatu perusahaan konstruksi akan sangat
menguntungkan dalam memenangkan tender proyek konstruksi dan menyelesaikan proyek
yang dikerjakan karena biaya pemakaian akan menjadi lebih kecil. Akan tetapi dalam
kepemilikan alat perlu pertimbangan apakah suatu perusahaan akan menggunakan alat
tersebut secara continue atau tidak. Jika alat digunakan secara continue maka kepemilikan
alat akan optimal tapi jika tidak digunakan terus menerus akan menjadi beban bagi
perusahaan. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah pada umumnya suatu alat
tidak bekerja sendiri namun bekerja dengan alat lain dalam satu kelompok. Jadi perusahaan
konstruksi perlu analisis untuk melihat lebih menguntungkan mana antara memiliki alat atau
sewa.
1. Sumber Alat berat
Dalam dunia konstruksi alat berat yang dipakai dapat berasal dari berbagai sumber
yaitu:
- Alat berat yang dibeli kontraktor
Perusahaan konstruksi alat berat sebagai asset perusahaan. Keuntungan dari pembelian ini
adalah biaya pemakaian per jam kecil jika alat tersebut digunakan secara optimal. Selain itu
dalam proses tender kadang pemilik proyek melihat bonafiditas suatu kontraktor berdasarkan
kepemilikan alat.
- Alat berat yang disewa- beli oleh kontraktor
Pengadaan alat juga dapat berasal dari perusahaan leasing alat berat. Yang dimkasud dengan
sewa beli adalah pengadaan alat dengan pembayaran pada perusahaan leasing dalam jangka
waktu yang lama dan diakhir masa sewa beli tersebut alat menjadi milik pihak penyewa. Sewa
beli alat umumnya dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Biaya pemakaian umumnya
lebih tinggi daripada memiliki alat tersebut namaun terhindar dari resiko investasi alat yang
besar diawal.
- Alat berat yang disewa kontraktor
Perusahaan konstruksi juga dapat mengadakan alat berat dari perusahaan penyewaan. Alat
berat yang disewa biasanya dalam jangka waktu yang tidak lama. Biaya pemakaian dengan
metode sewa biasanya harganya sangat tinggi namun pihak kontraktor terbebas dari biaya
investasi yang besar diawal.
2. Biaya Alat berat
Biaya alat berat merupakan biaya yang harus dikeluarkan setiap alat berat beroperasi .
Adapun biaya utama ini meliputi biaya kepemilikan (owning cost) dan biaya operasi
(operating cost).
Owning cost adalah biaya kepemilikan alat yang harus diperhitungkan selama alat yang
bersangkutan dioperasikan, apabila alat tersebut milik sendiri. Biaya ini harus
diperhitungkan karena alat semakin lama akan berkurang hasil produksinya, bahkan pada
waktu tertentu alat sudah tidak dapat diproduksi lagi dan hal ini disebut depresiasi, biaya
tersebut meliputi :
- Biaya penyusutan alat
Nilai penyusutan adalah nilai dari suatu alat berat yang telah berkurang akibat nilai sisa
dari alat tersebut. Nilai sisa adalah harga alat bekas sesudah umur ekonomis (10% dari
harga alat)
Operating cost adalah biaya operasi alat yaitu biaya-biayayang dikeluarkan selama alat
tersebut digunakan. Biaya operasi ini meliputi:
- Bahan bakar : Untuk konsumsi bahan bakar alat tergantung dari besar kecilnya daya mesin
yang digunakan disamping kondisi medan yang ringan atau berat yang menentukan. Pabrik
alat biasanya memberikan prakiraan konsumsi bahan bakar sesuai daya mesin alat yang
dinyatakan dalam liter/jam atau gallon/jam. Perlu diperhatikan bahwa selama pengoperasian
alat mesin tidak selalu bekerja 100% misalnya saja pada alat gali, pemakaian tenaga mesin
100% hanya pada waktu menggali dan mengangkat tanah saja, sedang pada waktu bucket
kosong mesin tidak menggunakan tenaga penuh. Efisiensi kerja operator dalam satu jam
kerja juga tidak penuh 100% misalnya hanya 50 menit/jam saja, hal ini disebut dengan
operating factor, yang semakin besar operating factor maka makin besar pula tenaga mesin
bekerja untuk lebih jelasnya, maka rumus penggunaan bahan bakar perjam adalah:

Bensin : BBM = 0.06 x HP x eff


Solar : BBM = 0.04 x HP x eff

- Minyak Pelumas : Kebutuhan minyak pelumas dan minyak hidrolis tergantung pada besarnya
bak karter (crank case) dan lamanya periode pengganti minyak pelumas, biasanya antara 100
sampai 200 jam pemakaian. Untuk kebutuhan minyak pelumas, minyak hidrolis, gemuk dan
filter biasanya pembuat memberikan prakiraan yang dinyatakan dalam liter/jam tergantung
kondisi medan. Kondisi medan terbagi menjadi 3 yaitu :
Ringan : Gerakan gerakan teratur dan banyak istirahat, tidak membawa muatan penuh
Sedang : Gerakan-gerakan teratur muatan tidak penuh
Berat : Bekerja terus menerus dengan tenaga mesin penuh.
Apabila dari pabrik tidak memberikan prakiraan konsumsi minyak maka dapat dihitung
dengan rumus:
Keterangan : q : Kebutuhan minyak (gallon/jam)
HP : Daya mesin ( tenaga kuda )
C : Kapasitas bak karter ( galon)
t : waktu pemakaian ( jam )

- Biaya ban : Biaya ban tergantung dari harga ditempat alat yang bersangkutan dioperasikan dan
prakiraan umur ban menurut pengalaman atau menuurut rekomendasi pabrik pembuatnya.
Besarnya biaya penggantian ban ditentukan dengan rumus berikut:

- Penggantian suku cadang : Suku cadang yang dimaksud adalah bajak, ujung mata pisau pada
buldoser dan alat-alat khusus lainnya yang kerusakannya lebih cepat disbanding suku cadang
yang lain, waktu kerusakan tidak tentu, tergantung pemakaian dan medan kerja. Untuk
menghitung biaya suku cadang khusus ini tidak termasuk dalam pos perbaikan dan
pemeliharaan tapi dihitung dalam pos tersendiri.
- Gaji Operator : Untuk menghtung gaji atau upah operato, factor yang mempengaruhi adalah
kecakapan dan pengalaman operator, kemampuan pemilik alat dan kondisi social Negara
yang bersangkutan.

A. Waktu siklus dan kerja excavator


Gerakan yang diperlukan dalam pengoperasian backhoe adalah :
Ada 6 gerakan dasar excavator yang mencakup gerakan-gerakan pada masing-masing
bagian yaitu:
Gerakan boom : merupakan gerakan boom yang mengarahkan bucket menujutanah
galian.
Gerakan bucket menggali: merupakan gerakan bucket saat menggali material
Gerakan bucket membongkar: merupakan gerakan bucket yang arahnya berlawanan
saat menggali
Gerakan lengan: merupakan gerakan mengangkat lengan dengan radius sampai 100
Gerakan slewing ring : gerakan pada as yang bertujuan agar bagian atas backhoe
dapat berputas sampai 360
Gerakan stuktur bawah: digunakan untuk berpindah tempat jika area selesai digali.

Keenam gerakan tersebut merupakan lamanya waktu siklus, namun demikian kecepatan
waktu siklus ini tergantung pada besar kecilnya ukuran backhoe, makin kecil backhoe maka
waktu siklus akan lebih cepat karena lebih gesit, berlainan dengan backhoe yang berukuran
besar. Demikian juga dengan kondisi kerja, akan mempengaruhi kelincahan daripada
backhoe, seperti : Pada penggalian tanah liat, penggalian parit dan lainnya. Tanah yang sulit
digali maka waktu pengisian bucket yang diperlukan akan menjadi lama, juga pada pekerjaan
penggalian parit yang dalam jarak pembuangan yang jauh, maka bucket harus bergerak lebih
jauh, dengan demikian maka waktu siklus juga akan menjadi lama, demikian pula pembuang
tanah atau pemuat tanah dari backhoe ke truk yang berada sebidang akan mempengaruhi
waktu siklus.

B. Pemilihan track shoe


Biasanya excavator bekerja pada kondisi yang berbeda-beda, seperti pada tanah
perkerasan, tanah lembek atau lunak, permukaan berbatu dan lain-lainnya, berdasarkan
pengalaman hal ini akan menimbulkan permasalahan terhadap penggunaan trackshoe. Jika
trackshoe bekerja pada tanah permukaan yang keras maka trackshoe bagian bawah akan
mengalami kerusakan atau aus dengan sangat cepat, sehingga perlu dilakukan pemilihan
trackshoe yang benar-benar tepat Untuk penggunaan umum sebaiknya menggunakan tipe
triple gouser section (roda kelabang dengan tiga lapisan/bagian), karena memiliki traksi
yang baik dan memberikan kerusakan yang minimum terhadap permukaan tanah maupun
jalan.Dibanding dengan jenis double grouser section. Untuk penggunaan traksi yang
maksimum biasanya digunakan jenis single grouser section.Lebar trackshoe biasanya berkisar
antara 18, 20, 22, 24, 28, 30, 32, 36, dan 40.
A. Menghitung produktivitas Backhoe
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas backhoe
1. Faktor Keadaan pekerjaan
Keadaan dan jenis tanah
Tipe dan ukuran saluran (jika membuat saluran)
Jarak pembuangan
Kemampuan operator
Job management/pengaturan operational dan sebagainya

2. Faktor keadaan mesin


Attachment yang cocok untuk jenis pekerjaan yang bersangkutan
Kapasitas bucket
Waktu siklus banyak dipengaruhi oleh kecepatan travel dan sistem hidrolis

Kapasitas pengangkatan
3. Pengaruh kedalaman pemotongan dan sudut swing
Faktor dalamnya pemotongan dan faktor swing dapat dijelaskan sebagai berikut : Dalam
pemotongan atau cutting yang diukur dari permukaan dimana excavator berada
mempengaruhi kesulitan dalam pengisian bucket secara optimal dengan sekali gerakan
mungkin diperlukan beberapa kali gerakan untuk dapat mencapai isi bucket yang optimal.
Tentu saja kondisi ini mempengaruhi lama siklus. Menghadapi kondisi demikian, maka
operator mempunyai beberapa pilihan :
Mengisi bucket sampai penuh dengan beberapa kali gerakan, atau
Mengisi dan membawa material seadanya dari hasil satu gerakan.

Namun pilihan tersebut membawa konsekwensi produktivitas menjadi berkurang sehingga


efek ini perlu diperhitungkan.
Gambar 6. Jangkauan kerja excavator
Cara penggunaan tabel :
Misal ukuran bucket 1 CuYd, dalam maksimum 10 feet (jarak dari permukaan dimana shovel
bekerja sampai dasar tebing), sudut swing 75 derajat, jenis tanah lempung berpasir. Tentukan
faktor swing dan kedalaman galian.
Pada tabel 1. kedalaman optimum yang dapat dicapai untuk bucket ukuran di 1 CuYd pada
lajur lumpur berpasir diperoleh angka 6.0, berarti kedalaman pemotongan yang optimum
adalah : = 6/10 x 100% = 60%. Selanjutnya pada tabel 2 dibawah faktor swing dan kedalaman
dicari angka 60%, tarik horizontal kekanan, dibawah angka 75, terdapat angka 0,96 jadi
faktor swing dan kedalaman adalah 0,96.
Tabel 2. Pengaruh Faktor Swing dan Faktor Kedalamannya
Sumber : Peurfoy, 1985

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi produksi shovel adalah : faktor kondisi pekerjaan
dan faktor pengisian bucket.

Tabel 4. Faktor Pengisian Bucket


Material Faktor Pengisian
Pasir kerikil 0.90 1.00
Tanah biasa 0.80 0.90
Tanah liat keras 0.65 0.75
Tanah liat basah 0.50 0.60
Batu pecahan baik 0.60 0.75
Batu pecahan kurang baik 0.40 0.50
Sumber : Rochmanhadi, 1985

Produksi Kerja Backhoe atau Excavator


1. Kapasitas Produksi

dimana : Q = Produksi per-jam (m3/jam)


q = Produksi per siklus (m3)
Cm = Watu siklus (detik)
E = Efisiensi kerja
Produksi per-siklus (q) = q1 x K
Dimana : q1 = Kapasitas ujung menurut spesifikasi
K = Faktor bucket, lihat tabel

Tabel 5. Faktor Bucket


Kondisi Pemuatan Faktor
Ringan Menggali dan memuat stockpile atau material yang telah dikeruk 1.0 0.0
oleh excavator lain, yang tidak membutuhkan gaya gali dan
dapat dibuat munjung dalam bucket
Sedang Menggali dan memuat stockpile lepas dari tanah yang lebih sulit 0.8 0.6
untuk digali dan dikeruk tetapi dapat dimuat hampir munjung.
Pasir kering, tanah berpasir, tanah campuran tanah liat, tanah
liat, gravel yang belum disaring, pasir yang telah memadat dan
sebagainya, atau menggali dan memuat gravel langsung dari
bukit gravel asli.
Agak Menggali dan memuat batu-batu pecah, tanah liat yang keras, 0.6 0.5
sulit pasir campur kerikil, tanah berpasir, tanah koloidal liat, tanah
liat dengan kadar air tinggi yang telah di stockpile
oleh excavator lain.
Sulit untuk mengisi bucket dengan material tersebut.
Sulit Bongkahan, batuan besar dengan bentuk tak teratur dengan 0.5 0.4
ruangan diantaranya batuan hasil ledakan, batuan bundar, pasir
campur tanah liat, tanah liat yang sulit untuk dikeruk dengan
bucket.
Sumber : Rochmanhadi, 1985

1. Waktu siklus
Cm = Waktu gali + (Waktu putar x 2) + waktu buang

2. Waktu Gali (detik)


Waktu gali biasanya tergantung pada kedalaman gali
Tabel 6. Waktu Gali
Kondisi Gali / Ringan Sedang Agak sulit Sulit
Kedalaman gali (detik) (detik) (detik) (detik)
02m 6 9 15 26
24m 7 11 17 28
4 - lebih 8 13 19 30
Sumber : Rochmanhadi, 1985

Waktu putar tergantung dari sudut putar dan kecepatan putar


Tabel 7. Waktu putar (detik)
Sudut Putar Waktu Putar
45 90 (derajat) 47
90 180 (derajat) 58
Sumber : Rochmanhadi, 1985

Waktu buang tergantung daripada kondisi pembuangan material (detik)


- Pembuangan kedalam Dumptruck = 4 7 detik
- Ketempat pembuangan = 3 6 detik

dimana : A = produksi per-jam (m2/jam)


Cm = Waktu siklus
E = Efisiensi kerja

a. Waktu Siklus
Waktu siklus = Waktu perapihan + waktu travel

Tabel 9. Kecepatan Perapihan Medan


Panjang tebing Kecepatan perapihan
0 0.5 0.2
0.5 1 0.1
12 0.08
24 0.05
4 - lebih 0.02
Sumber : Rochmanhadi, 1985

a. Efisiensi Kerja
Efisiensi kerja berkisar antara 0.2 0.4

Peranan Teknologi dalam perhitungan kerja excavator/Backhoe


Selain dari segi produktifitas dan kapasitas, faktor lain dalam
inovasiexcavator/backhoe adalah perkembangan teknologi. Perkembangan
teknologi dapat digolongkan menjadi dua yaitu perkembangan fungsional dan
perkembangan ekonomis.
Perkembangan fungsional menekan pada peningkatan fingsi dari bagian-bagian
peralatan sehingga yang diperoleh menjadi lebih baik dari segi kualitas maupun
kuantitas.
Perkembangan ekonomis menekankan adanya perubahan dalam pembiayaan,
dimana peralatan yang baru dapat menghemat pengeluaran biaya oprasional dan
pemeliharaan.

Yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian backhoe adalah :


1. Mobilisasi shovel ke lokasi kerja
2. Kondisi lokasi dan jenis pekerjaan
3. Waktu yang tersedia dalam menyelesaikan pekerjaan
4. Pengadaan suku cadang
5. Jangkauan attachment dari backhoe
Waktu siklus
Pengisian bucket = 7 detik
Mengangkat beban & swing = 10 detik
Dumping (pembuangan) = 5 detik
Swing kembali = 5 detik

Waktu tetap, percepatan dan lain lain 4 detik


Jumlah = 31 detik = 0.5 menit
Banyaknya trip = 60/0,5 = 120 trip/jam
Produksi teoritis = 1,39 BCY/trip x 120 trip per-jam = 166,8 BCY

Faktor Koreksi :
Efisiensi kerja = 50 min/jam = 0,84
Kondisi kerja & tata laksana sedang = 0,65
Faktor swing dan kedalaman galian, tanah biasa = 9,7 feet
Kedalaman optimum = 6,0/9,7 x 100% = 60%
Swing 90 derajat = 0,91
Faktor pengisian = 0,85
Faktor koreksi total = Fk: 0,84 x 0,65 x 0,91 x 0,85 = 0,42
Sehingga produksi perjam = 166,8 BCY/jam x 0,42 = 70,06 BCY/jam

2. Pekerjaan tanah dengan menggunakan Type Backhoe : PC 200-6 (Komatsu) tanah biasa
dengan sweel 20,5 %.

Data cycle time :


1. Kedalam galian : 3m
2. Kondisi galian : sedang
3. Sudut swing bucket : 90 180 derajat
4. Tempat pembuangan : Dump Truck

Efisiensi Pekerjaan :
1. Keadaan alat : Sangat baik
2. Pemeliharaan alat : Baik sekali
3. Operator : Terampil
4. Keadaan cuaca : Terang, segar

Spek Backhoe type PC 200-6 (Komatsu) :


1. Kapasitas : 19 ton
2. Kapasitas bucket : 0,8 m3
3. Lebar bucket : 1, 45 m

Bucket Factor
1. Tanah biasa : (0.8 s/d 0.9) diambil 0.8

Cycle Time
1. Waktu gali : 11 detik
2. Waktu putar : 6 detik
3. Waktu buang : 5 detik

Efisiensi Pekerjaan :
1. Keadaan alat : 0.83
2. Operator : 0.80
3. Keadaan cuaca : 0.90

P = 3600/C x S x V x B x E

Cycle Time (C)


C = t1 + 2t2 + t3
C = 11 + 2x6 + 5
C = 28 detik

Swing Dept Factor (S)


Kedalaman optimum = Kedalam galian x 100 %
Kedalaman galian max. Backhoe

Kedalam galian = 3m
Kedalaman galian max. Backhoe = 2.08 m
Kedalam optimum = 145 %
Swing dept factor = 0,795 (sudut diambil 120)
Volume Bucket (V)
Kapasitas bucket = 0.80 m3, keadaan munjung +/- 1 m3
Sweel = 20.5 %
Jadi, kapasitas bucket = 1/1,205 = 0.83 m3

Bucket Fill Factor (B)


Material tanah biasa = 0.80 0.90 (diambil 0.80)

Efisiensi Pekerjaan (E)


Efisiensi Pekerjaan = 0.83 x 0.80 x 0.90
Efisiensi Pekerjaan = 0.60

Jadi Produktivitas Backhoe


P = 3600/C x S x V x B x E
P = 3600/28 x 0,795 x 0.83 x 0.80 x 0.60
P = 40,72 M3/Jam

BAB III KESIMPULAN


Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa produktivitas backhoe sangat
dipengaruhi oleh :
1. Jenis excavator/backhoe yang dipakai
2. Kondisi tanah yang digali
3. Kedalaman galian
4. Sudut swing bucket
5. Tempat pembuangan
6. Kondisi alat dan perawatan alat
7. Keterampilan operator
8. Keadaan cuaca

Você também pode gostar