Você está na página 1de 26

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

TINJAUAN PSIKOLOGI DAN ISLAM

A. Latar Belakang

Pendidikan pada umunya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan


anak didik untuk mengembangakan kemampuannya secara optimal. Setiap
manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena itu membutuhkan
pendidikan yang berbeda-beda pula. Pendidikan bertanggung jawab untuk
memandu serta memupuk kemampuanya tersebut.[1]

Manusia sejak lahir diberikan potensi sosialitas artinya setiap individu memiliki
kemampuan untuk bergaul dengan siapa saja dan tidak dapat mencapai apa
yang diinginkannya seorang diri. Kehadiran lain manusia dihadapannya bukan
saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana
kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan hidup kepribadiannya.
Sehubungan dengan potensi dan kebutuhan sosial tersebut manusia dengan
kesadaran dirinya membuat pendidikan ideal yang mengakui pluralitas
kehidupan perbedaan individual dan memanfaatkan secara positif sebagai
sumber untuk belajar.[2]

Baik pendidik maupun masyarakat menyadari bahwa dalam masyarakat ini


terdapat sejumlah anak yang khusus yang memiliki kebutuhan berbeda jika
dibandingkan dengan anak kebanyakan, atau dalam pengertian yang lain dikenal
dengan istilah Anak berkebutuhan khusus (ABK). Yaitu mungkin anak tersebut
cacat, berbakat atau memiliki kemampuan yang lebih. Umumnya mereka semua
membutuhkan pendidikan dan pelayanan secara khusus.[3]

B. Pembahasan

1. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tinjauan Psikologi

Anak berkebutuhan khusus (heward) adalah anak dengan karakteristik khusus


yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada
ketidak mampuan mental, emosi atau fisik.[4]

Instrumen-instrumen Internasional yang relevan dengan Pendidikan Anak


Berkebutuhan Khusus:

1) 1948: Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

2) 1989: Konvensi PBB tentang Hak Anak.


3) 1990: Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, Jomtien

4) 1993: Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para


Penyandang ketunaan.

5) 1994: Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan


Kebutuhan Khusus.

6) 1999: Tinjauan 5 tahun Salamanca.

7) 2000: Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia, Dakar.

8) 2000: Tujuan Pembangunan Millenium yang berfokus pada Penurunan


Angka Kemiskinan dan Pembangunan.

9) 2001: Flagship PUS tentang Pendidikan dan Ketunaan.

10) Ladasan Yuridis.

11) UUD 1945 (amandemen) pasal 31 ayat 1: setiap warga Negara berhak
mendapat pendidikan.

12) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

13) UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

14) UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

15) PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

16) Permendiknas No.70 tahun 2009, tentang Pendidikan Inklusif.

17) Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No.380 /C.66/MN/2003, 20


Januari 2003 perihal Pendidikan Inklusi.

18) Deklarasi Bandung tanggal 8-14 Agustus 2004 tentang Indonesia menuju
Pendidikan Inklusi.

19) Deklarasi Bukittinggi tahun 2005 tentang Pendidikan untuk semua.[5]

Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita,


tunadaksa, ADD/ADHD, kesulitan belajar, gangguan autism, anak berbakat, dan
lain-lain. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan
anak cacat.[6]

a. Tunanetra

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian tunanetra adalah tidak dapat
melihat (buta).[7]

Tidak hanya itu, tunanetra adalah tidak saja mereka yang buta tetapi mencakup
juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang
dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar. Jadi
anak-anak dengan kondisi penglihatan yang termasuk setengah melihat, low
visioan atau rabun adalah bagian dari kelompok anak tunanetra.[8]

Adapun Klasifikasi yang dialami anak tunanetra antara lain:

1. Menurut Lowenfeld (1995: p.219), klasifikasi anak tunanetra adalah yang


didasarkan pada waktu terjadinya ketunanetraan yaitu:

a) Tunanetra sebelam dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak
memiliki pengalaman penglihatan.

b) Tunantra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesan-
kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.

c) Tunantera pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah
memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam
terhadap proses perkembangan pribadi.

d) Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala
kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.

e) Tunanetra usia lanjut; sebagain besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan


penyesuaian diri.

f) Tunanetra akibat bawaan (partial sight bawaan)

2. Klasifikasi anak tunanetra berdasarkan kemampuan daya penglihatan,


yaitua:

a) Tunanetra ringan (effective vision/low vision); yakni mereka yang memiliki


hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti
program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan /kegiatan yang
menggunakan fungsi penglihatan.

b) Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang


kehilangan sebagian daya penglihatan. Tunanetra berat (totally blind); yakni
mereka yang samasekali tidak melihat.

3. Menururt WHO, klasifikasi didasarkan pada pemeriksaan klinis, yaitua:

a) Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan


atau memiliki bidang penglihatan dari 20 derajat.

b) Tunanetra yang masih memiliki ketajaman pengihatan antara 20/70 sampai


dengan 20/200 yang dapat lebih baik malalui perbaikan.

4. Menurut Hathway, klasifikasi didasarkan dari segi pendidikan, yaitu:

a) Anak yang memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang setelah


memperoleh pelayanan medis.
b) Anak yang memiliki penyimpagan penglihatan dari yang normal dan
menurut ahli mata dapat bermanfaat dengan menyediakan dan memberikan
fasilitas pendidikan yang khsus.[9]

Hallahan dan Kaufman memberikan petunjuk praktis tentang apa saja yang
dapat dilakukan jika anda memiliki anak didik yang mengalami gangguan
penglihatan:

1) Memberdayakan anak yang dapat melihat untuk bertindak sebagai


pembimbing tetapi jangan sampai membuat anak yang mangalami gangguan
penglihatan menjadi tergantung kepada mereka.

2) Memperlakukan anak yang mengalami gangguan penglihatan secara sama


dengan teman mereka yang dapat melihat.

3) Mendukung interaksi interpersonal. Agar dapat diterima oleh teman-


temannya, anak perlu diajari sejumlah ketrampilan sosial.

4) Mendukung anak yang mengalmi gangguan penglihatan untuk


berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan.

5) Sedapat mungkin memberikan jenis tugas yang sama kepada mereka yang
dapat melihat.

6) Khusus untun anak dengan kebutuhan persial, penting bagi anda pula
untuk mengatur letak tempat duduk mereka, serta gambar yang mengkilap atau
bercahaya sebaiknya dihindari.

7) Berbicara dengan suara yang keras mengenai apa yang anda buat dipapan
tulis.

8) Mengizinkan anak untuk memperoleh waktu tambahan dalam melengkapi


tugas.

9) Memilih tempat duduk untuk yang meudahkan anda untuk observasi

10) Menyediakan meja kecil dan rak-rak yang mudah untuk dijangkau, yang
berisi alat bantu belajar bagi mereka.

11) Memberikan penghargaan dan pemecahan masalah dan perilaku mandiri


lainnya, yang dapat mereka lakukan.

12) Memudahkan interaksi sosial dengan cara menyebutkan nama teman-teman


yang duduk didekat mereka.

13) Yakinkan anak bahwa anda dan teman-temannya yang lain memahami
komunikasi dan informasi yang ia berikan, serta dorong anak untuk bertanya
mengenai hal-hal yang belum ia mengerti.

14) Menekanakan kepada anak untuk mendengarkan percakapan orang lain


dengan penuh perhatian.
15) Meyakinkan anak bahwa mereka tidak asing dengan lingkungan fisik
sekolahnya.[10]

b. Tunarungu

Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik


permanen maupun tidak permanen.[11]

Menurut Hallahan dan Kauffman pengertian tunarungu adalah dua yang umum
yaitu, tuli dan kesulitan mendengar (hard of hearing). Hampir sama dengan
pengertian gangguan penglihatan, pengertian mengenai gangguan pendengaran
juga sering dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang yang
berorientasi fisiologis dan sudut pandang yang berorientasi edukasional.

Adapun klasifikasi tunarungu dalam orientasi fisiologis menyebutkan bahwa anak


yang tidak dapat mendengar bunyi pada tingkat intensitas (kenyaringan)
tertentu di klasifikasikan sebagai tuli, selain daripada itu dipandang sebagai hard
of hearing. Sensivitas pendengaran diukur dengan decibel (dB), dan orang yang
tuli adalah orang yang kehilangan pendengaran sekitar 90 (dB), dan orang yang
tuli adalah orang yang kehilangan pendengaran sekitar 90 dB atau lebih.

Sedangkan klasifikasi dalam orientasi edukasional memiliki perhatian yang besar


terhadap berapa banyaknya yang hilang, yang akan mempengaruhi kemampuan
anak untuk berbicara dan mengembangkan bahasa, jadi dapat dikatakan bahwa
para profesioanal membuat kategori mengenai gangguan pendengaran
berdasarkan kemampuan berbicara seseorang.

Hallahan dan Kauffman mengutip Brill dan MacNeil menggambarkan tiga


orientasi edukasional sebagai berikut:

1) Kerusakan pendengaran (hearing impairment).

2) Orang yang tuli (deaf person)

3) Kesulitan mendengar (hard of hearing).[12]

Sedangkan Telford dan Sawrey (1981) membuat devinisi dan kategori yang
sedikit berbeda mengenai gangguan pendengaran. Berkaitan dengan batas
intensitas suara yang dapat didengar. Sekalipun pada bagian diatas disebutkan
bahwa orang yang tuli adalah orang yang kehilangan pendengaran sekitar 90 dB
atau lebih.

1) Mild losses/gangguan pendengaran sangat ringan (20-30 dB).

2) Marginal losses/gangguan pendengaran ringan (30-40 dB).

3) Moderate losses/gangguan pendengaran sedang (40-60 dB).

4) Severe losses/gangguan pendengaran parah (60-75 dB).


5) Profound losses/gangguan pendengaran sangat parah/tuli (lebih dari 75
dB).

dari kelima kategori diatas dapat disimpulkan bahwa kategori 1-3 dapat
dimasukkan kedalam kesulitan mendengar (hard of hearing). Adapaun kategori 4
dan 5 sudah termasuk dalam tuli.[13]

Menurut Hallahan dan Kauffman terdapat sejumlah pedoman praktis berikut ini
diharapkan juga dapat membantu untuk menghadapi anak didik yang
mengalami gangguan pendengaran.

1) Memberikan perhatian khusus pada kualitas dan kuantitas interaksi sosial.

2) Mengatur tempat duduk sehingga anak yang mengalami gangguan


pendengaran dapat mengambil sebanyak mungkin manfaat dari tanda (clue)
visual dan auditori.

3) Gangguan auditori dan visual seharusnya dibuat seminimum mungkin.

4) Speechreading akan berguna jika guru berbicara secara wajar.

5) Anda harus menyadari bahwa penting bagi anak didik yang mengalami
gangguan pendengaran untuk melihat sepenuhnya wajah anda ketika berbicara.

6) Mengikutsertakan anak untuk menjadi anggota tim pada kegiatan kelas.

7) Dalam kegiatan kelompok, anda dapat memanggil anak satu persatu,


untuk berbicara sehingga anak-anak hingga dia bisa melihat siapa yag berbicara.

8) Anda dapat mendorong anak yang mengalami gangguan pendengaran


untuk bertanya.

9) Anda perlu membuat alat bantu visual yang beragam.

c. Tunagrahita (retardasi mental)

American Association on Mental Retardation (AAMR) mendefinisikan anak


dengan keterbelakang mental adalah anak-anak yang menunjukkan
keterlambatan perkembangan dihampir seluruh aspek fungsi akademik dan
fungsi sosialnya.[14] Dalam kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai
dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya dibawah 70) dan sulit
berdapatasi dengan kehidupan sehari-hari.[15]

Sebelum didiagnosa oleh professional (dokter atau psikolog) bahwa seorang


anak mengalami keterbelakangan mental, terdapat dua ciri utama yang harus
ditampilkan oleh anak tersebut sebelum usia 18 tahun, sebagai berikut:

1) Memiliki taraf kecerdasan yang secara signifikan berada dibawah rata-rata


kecerdasan umum anak sebayanya, keadaan ini diindikasikan dengan nilai IQ
yang berada dibawah 70. Selain diindikasikan melalui IQ yang rendah
sebenarnya ada tanda lain yang juga ditampilkan oleh anak dengan
keterbelakangan mental. Kemampuan belajarnya lebih lambat dan memiliki
prestasi belajar jauh dibawah rata-rata kelasnya dan merata dihampir seluruh
mata ajaran.

2) Tidak dikuasainya perilaku adaptif, yaitu perilaku yang berkaitan dengan


ketrampilan kegiatan harian.

Selain itu anak dengan keterbelakangan mental menunjukkan keterbatasan


dalam kecerdasan praktis, mengarahkan diri untuk melakukan aktifitas harian,
dan kecerdasan sosial, yaitu melakukan perilaku yang sesuai dengan situasi
sosial. Biasanya anak menunjukkan perilaku yang setara dengan perilaku anak
yang lebih muda. Anak-anak dengan keterbelakangan mental biasanya
mengalami kesulitan dalam ranah perilaku adaptasi seperti komunikasi, bantu
diri dan beberapa aspek lainnya.[16]

Menurut (Dykens, Hodapp dan Finucane, 2000), dalam John W. Santrock


mengemukakakan penyebab retardasi mental adalah disebabkan oleh faktor
genetik dan kerusakan otak.

a) Faktor genetik. Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah
down syndrome (sindrom down) yang ditransmisikan (diwariskan) secara
genetik.

b) Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau


karena faktor lingkungan luar. Infeksi pada Ibi hamil , seperti rubella (German
meales), spilis, herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi pada diri anak..
Faktor lingkungan dar luar yang dapat menyebabkan rtardasi mental antara lain
adalah benturan dikepala, malnutrisi, keracunan, luka saat kelahiran, atau
karena Ibu hamil kecanduan alkohol.[17]

Para ahli melakukan klasifikasi gangguan anak dengan retardasi mental menjadi
tiga bagian:

Tingkat Retardasi

Mental

Kategori Pendidikan

Kisaran IQ

(Sakala Wechsler)

Ringan

Mampu Didik

69-55

Sedang

Mampu Latih
54-40

Berat

Mampu Latih dengan bantuan

39-25

Anak dengan tingkat retardasi ringan masih mampu menguasai pendidikan dasar
seperti membaca, menulis, dan berhitung sederhana.

Pada anak dengan tingkat retardasi sedang, biasanya tujuan pendidikan lebih
diarahkan pada sosialisasi, kegiatan bantu diri, dan aktivitas pekerjaan sedang.
Sehingga diharapkan mereka masih mampu mengurus dirinya sendiri dan
melakukan pekerjaan yang sederhana. yang dapat memberi penghasilan
sehingga tidak bergantung kapada oran lain.

Untuk anak-anak dengan tingkat retardasi berat, biasanya mereka mengalami


perkembangan motorik dan komunikasi yang buruk. Sehingga pelatihan bantu
diri yang diberikan harus disertai dengan pengawasan diri orang lain.[18]

Wood/Worth dan Marquis menggolongkan tingkat perbedaan intelegensi sebagai


berikut:

No

Interval class

IQ

Classification

140-keatas

Luar biasa, genius

120-139 = sangat cerdas

Very superior

110-119 = cerdas

Superior

4
90-109 = normal

Average

80-89 = bodoh

Dull avarege

70-79 = batas potensi

Border line

50-69 = debil

Moron

30-49 = ambisil

Embicile

Dibawah 30 = idiot

Idiot: Orang yang kekurangan.kelemahan mental/pikirannya paling


banyak. (IQ= 30 kebawah).

Embicile: Yaitu yang kelemahan mental/pikirannya tidak berapa cukup


(IQ= 50 kebawah).

Debil/moron: Yaitu orang yang sedikit kekurangan /kelemahan mentalnya.


Debil/moron ini jumlah/populasinya lebih banyak daripada embicil dan idiot (IQ=
70).[19]

Adapun penanganan anak dengan retardasi mental harus dilakukan secara


komprehensif, antara orang tua, psikolog, dokter, guru dan terapis (jika ada).
Pelatihan atau pendidikan yang diberikan tentu saja mengacu kepada retardasi
yang dialami oleh anak dan potensi yang dimilikinya.

Untuk bidang pendidikan, terutama pada tingkat prasekolah, penanganan anak


retardasi mental dapat ditekankan kepada pengembangan ketrampilan
besosialisasi dan aktivitas bantu diri sederhana.[20]

d. Tunadaksa
Merupakan gangguan fisik yang berkaitan dengan tulang, otot, sendi dan sistem
persarafan, sehingga memerlukan pelayanan khusus. Salah satu contoh adalah
Cerebral Palsy.[21]

Hallahan dan Kauffman mengatakan bahawa cerebral palsy merupakan bagian


dari sindroma yang meliputi disfungsi (tidak berfungsinya) motorik, disfungsi
psikologis, kejang, dan gangguan tingkah laku yang disebabkan oleh kerusakan
otak. Johnston dan Maghrab mengatakan bahwa hambatan utama dari cerebral
palsy adalah terganggunya kontrorl otot.[22]

Menurut (Bakwin dan Bakwin 1972), cerebral palsy dapat diklasifikasikan dalam
beberapa jenis yaitu sebagai berikut:

1) Spasticity. Klasifikasi ini mempunyai karakterisitik adanya refleks-refleks


hiperaktif (terlalu aktif) dan refleks peregangan (stretch) yang berlebihan pada
bagian tubuh yang terganggu.

2) Athetosis. Klsifikasi ini mempunyai karakteristik berupa gerakan yang


lambat, seperti gerakan cacing (wormlike), gerakan yang tidak disengaja, tidak
dapat kkontrol, dan tidak bertujuan.

3) Rigidity. Anak dengan klasifikasi ini mempunyai otot-otot hipertonik, yang


ditandai oleh adanya resistensi (penolakan) terhadap gerakan pasif.

4) Ataxia. Manifestasi umum pada klasifikasi ini adalah adanya gangguan


terhadap keseimbangan dan gaya berjalan yang terhuyung-huyung seperti orang
mabuk.

5) Tremor. Klasifikasi ini ditandai oleh adanya gerakan gemeter baik disengaja
maupun tidak disengaja.

6) Gabungan dari klasifikasi yang ada.[23]

Status mental anak yang mengalami cerebral palsy sulit untuk di perkirakan.
Banyak faktornya. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan
oksigen saat kelahiran.[24] Penyebab lainnya adalah luka neurologist
(disebabkan oleh sistem syaraf), yang mengurangi fungsi intelektual anak.
Misalnya saja disfungsi motorik yang dialami anak dan pengguanaan obat-
obatan yang berlebihan.[25]

Penanganan anak yang mengalami cerebral palsy menurut Hallahan dan


Kauffman menyebutkan bahwa guru seharusnya memberi perhatian utama
teradap handling dan positioning pada anak-anak ini. Handling mengacau
kepada bagaimana anak diangkat, dipegang dan di bantu. Positioning mengacu
kepada persediaan penopang untuk tubuh dan pengaturan intruksi atau meteri
bermain dalam cara tertentu. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah melatih
ketrampilan sosial, kognitif dan komunikasi anak.[26]

e. ADD/ADHD
Attention Defisit Disorder/Attention Defisit Hyperaktive Disorder (ADD/ADHD),
sebenarnya merupakan singkatan internatsional terhadap perilaku yang
berkaitan dengan pemusatan perhatian (attention problems) dan perilaku yang
berlebihan (hyperaktivity).

Belakangan ini istilah ADD/ADHD sering digunakan untuk mengindikasikan suatu


masalah perilaku yang banyak dialami oleh anak-anak terutama mereka yang
berusia pra sekolah sampai sekitar 12 tahun. [27]

Orang tua dan guru prasekolah (kelompok bermain) mungkin mengetahui bahwa
ada anak-anak yang aktif dan konsentarsinya kurang, mereka mungkin
mengatakan anak itu tidak bisa diam tidak bisa duduk barang sedikit saja,
atau kelihatannya tak pernah mendengarkan orang bicara.[28] Bahkan ada
kecenderungan untuk secara mudah menyatakan anak yang terlihat aktif
dibandingkan teman-temannya sebagai anak hiperaktif. Padahal untuk
menentukan atau apakah seorang anak mengalami ADD/ADHD atau tidak,
diperlukan penanganan dari professional seperti dokter atau psikolog. Para
profesional biasanya menggunakan metode pemeriksaan medis, wawancara
klinis, penggunaan kauioner bagi orang tua dan guru, serta pengamatan perilak
anak. Penegakan diagnosis ADD/ADHD dilakukan dengan mempertimbangakan
berbagai faktor, anatara lain faktor usia dan tahapan perkembangan sehingga
bisa dikategorikan dalam gejala ADD/ADHD.[29]

Penyebab ADD/ADHD menurut National Institute of Mental Healt tahun 2003,


diperkirakan 3-5% dari populasi anak usia sekolah di Amerika mengalami
ADD/ADHD. Sedangkan di Indonesia, belum ada data resmi mengenai prosentase
anak yang mengalami ADD/ADHD. Hanya saja dalam 5 tahun terakhir ini
terdapat kecenderungan meningkatnya keluhan mengenai ADD/ADHD pada anak
usia sekolan dan pra sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian dikatakan bahwa kemungkinan AD/ADHD lebih


besar dialami oleh anak laki-laki bila dibandingkan dengan anak perempuan.
Penelitian selama 25 tahun terakhir menunjukkan kemungkinan ADD/ADHD
disebabkan oleh adanya ketidak seimbangan neutronsmitter atau penghantar
sinyal-sinyal saraf pada 3 are otak. Area otak tersebut adalah Lobus Fontal yang
berfungsi untuk mengatur tingkahlaku seseorang , Gangli Bassal dan
Cerebbelum yang perperan dalam kordinasi dan pengendalian gerakan motorik.
[30]

Gejala atau ciri utama ADD/ADHD adalah inattention (gangguan pemusatan


perhatian), implusif, selain itu terdapat pula perilaku lain yang juga menjadi
gejala ADD/ADHD , seperti, disorganisasi, interaksi sosial/pertemanan yang
buruk, perilaku agresif, konsep diri yang buruk, perilaku yang berbahaya,
melamun, koordinasi motorik yang buruk, masalah daya ingat dan pola pikir
yang obsesif.[31]

Secara umum para ahli menyarankan beberapa prinsip dasar dalam menangani
ADD/ADHD. Salah satunya adalah Pfiffner dan Berkley sebagai berikut:
1) Aturan dan instruksi hendaknya disampaikan secara jelas, tegas dan
disajikan dalam berbagai bentuk dalam lisan dan tulisan

2) Konsekuensi (positif/negatif) atas perilaku harus diberikan segera, tidak


ditunda-tunda.

3) Konsekuensi harus diberikan lebih sering, bentuknya lebih tegas, luwes


penerapannya dibandingkan anak-anak lainnya.

4) Insentif yang sesuai dan beragam variasinya harus disiapkan.

5) Bentuk penguatan terutama penghargaan harus diubah atau diberikan


secara bergiliran.

6) Kunci utamanya adalah antisipasi, guru harus siap dengan berbagai


rencana untuk meyakinkan anak memahami perubahan aturan (dan
konsekuensi) yang akan terjadi.

f. Kesulitan belajar

Definisi kesulitan belajar pertama kali ditemukan ole The United States Office of
Education (USEO) pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public Law (PL) 94-142,
yang hampir identik dengan definisi yang dikemukakan oleh The National
Advistory Comitte on Handicapped Children pada tahun 1967. Seperti dikutip
oleh Hallahan dan Kauffman dan LIoyd sebagai berikut:

Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dalam
proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa
anjuran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam
bentuk kesulitan, mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis,
mengeja, atau berhitung, batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti
gangguan perceptual, luka pada otak, dan afasi perkembangan, batasan
tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang
penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan,
pendengaran, atau motorik, hambatan karena tuna grahita, karena gangguan
emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.[32]

Gejala yang menunjukkan adanya kesulitan belajar dapat diamati dalam


berbagai bentuk. Ia dapat muncul dalam bentuk perilaku yang menyimpang atau
menurunnya hasil belajar. Selain itu juga muncul seperti: suka mengganggu
teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, hiperaktif dan sering
membolos.[33]

Prestasi belajar dipengaruhi dua faktor yatiu: internal dan eksternal. Penyebab
utama kesulitan belajar adalah (learning disabilities) adalah faktor internal, yaitu
kemungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama
problema belajar (learning problems) adalah faktor eksternal, yaitu antara lain
berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan pembelajaran yang tidak
membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan
(reinforcement) yang tidak tepat.[34]
Usaha dalam mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa harus dilakukan
dengan mengadakan diagnosis dan remedies yakni melalui proses pemeriksaan
terhadap gejala kesulitan belajar yang terjadi dan diakhiri dengan mengadakan
remedies atau perbaikan sehingga masalah kesulitan belajar dapat diatasi.

Pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar tersebut berlangsung secara sistematis


dan terarah melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar.

2) menelaah/ menetapkan status siswa.

3) memperkirakan sebab terjadinya kesulitan belajar.

4) mengadakan perbaikan.[35]

g. Gangguan autism

Istilah autism diperkenalkan pertama kali pada tahun 1934 oleh Dr. Leo Kanner,
seorang psikiater anak dari Universitas John Hopkins. Autism menurut Kanner
(1934 dalam papernya Autistic Disturbance of Afective Contact) adalah sebagai
berikut:

Inability to relate themselves in the ordinary way to people and situations from
the beginning of life (Kuwara-2000 dalam www.faculty.washington.edu).[36]

Menurut kartono (2000) autism adalah gejala menutup diri sendiri secara total,
dan tidak mau berhubungan dengan dunia luar keasyikan ekstrim dengan fikiran
dan fantasi sendiri.[37]

Penyebab utama dari gangguan autism adalah sebagai berikut: genetic,


pestisida, obat-obatan, usia orang tua dan perkembangan otak.[38]

Adapun klasifikasi berdasarkan respon yang ditunjukkan oleh anak sebagai


berikut:

1) Auitis Ringan

Anak yang mengalami autis ringan masih memberikan tanggapan atau respon
pada rangsangan atau stimulus yang terjadi dsekitarnya. Misalnya, dia menoleh
sebentar saat dipanggil, atau menatap sebentar kearah yang memanggil.

2) Autis sedang

Ia akan memberikan tanggapan atau respon pada rangsangan atau stimulus


sensori kuat. Misalnya jika kita keraskan suara maka dia akan memberikan
respon.

3) Autis berat

Ini adalah kondisi terparah dari macam-macam autis. Dia tidak akan memberikan
respon apapun terhadap segala stimulus sensoris yang anda berikan.[39]
Ciri-ciri gangguan autis adalah sebagai berikut:

1) Perkembangan terlambat.

2) Lebih tertarik kepada benda dibandingkan manusia.

3) Tidak mau dipeluk.

4) Kelainan sensoris.

5) Menunjukkan adanya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulang-


ulang (Stereo dan Repetive) dalam hal perilaku, Minat, dan kegiatan.[40]

Sedangkan penanganan gangguan autism adalah dengan berbagai terapi yang


benar-benar diakui oleh professional yaitu:

1) Applied Behavioral Analysis (ABA)

2) Terapi wicara.

3) Terapi okupasi.

4) Terapi fisik.

5) Terapi sosial.

6) Terapi bermain.

7) Terapi perilaku.

8) Terapi perkembangan.

9) Terapi visual dan

10) Terapi biomedik.[41]

h. Anak berbakat

Bila menggunakan konsep tradisional, yang dimaksud aank berbakat adalah


individu yang kecerdasannya berfungsi sangat jauh diatas rata-rata anak
sebayanya. standar yang digunakan adalah nilai IQ diatas 130.[42]

Ellen Winner (1996), seorang ahli dibidang kreativitas dan anak berbakat,
mendskripsikan tiga kriteria yang menjadi cirri utama anak berbakat yaitu:

1) Dewasa lebih dini (precosity). Anak berbakat adalah yang dewasa sebelum
waktunya apabila diberi kesempatan untuk menggunakan bakat atau talenta
mereka.

2) Belajar menuruti kemauan mereka sendiri. Anak berbakat belajar secara


berbeda dengan anak lain yang tidak berbakat.
3) Serta semangat untuk menguasai. Anak yang berbakat tertarik untuk
memahami bidang yang menjadi bakat mereka.[43]

Adapun Penanganan anak berbakat secara umum terdapat dua pendekatan


utama dalam menanganani pembelajaran anak berbakat:

1) Enrichment (pengayaan)

2) Acceleration (percepatan).[44]

Disamping itu menurut Hertogz (1995) yaitu:

1) Kelas khsus.

2) Akselerasi dan pengayaan dikelas regular.

3) Program mentor dan pelatihan.

4) Kerja/studi dan/atau program pelayanan masyarakat.[45]

2. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tinjauan Islam

Klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus seperti di atas telah


memunculkan berbagai teori mengenai anak berkebutuhan khusus. Akan tetapi
bagaimana pandangan Islam terhadap mereka?

Ada beberapa tinjauan pandangan Islam terhadap anak berkebutuhan khusus,


yaitu:

a. Ditinjau dari sisi historis:

Ada beberapa sahabat Rasulullah yang berkebutuhan khusus pada masa


tersebut dan turut dalam perjuangan rasulullah menegakkan agama Islam
seperti misalnya:

1) Bilal bin Rabbah

Bilal bin Rabbah adalah seorang budak berkulit hitam legam milik seorang
bangsawan Quraisy bernama Umayah bin Kalab. Ia masuk Islam langsung di
hadapan Rasulullah Saw. secara diam-diam. Sejarah masuknya Bilal dalam
agama Islam terjadi sangat menyakitkan. Takdir telah menjadikannya seorang
budak mengikuti jejak ibunya. Hari demi hari ia jalani dengan siksaan demi
siksaan dari tuannya, dan begitulah rutinitasnya setiap hari dan tak ada hari-hari
yang bermakna dalam kehidupannya. Ia mendengar adanya agama baru yang
datang dari langit dan akan melepaskan perbudakan dari bisik-bisik masyarakat
Makkah dan juga pada saat ia melayani tamu-tamu majikannya. Ia pun
merenungkan tentang berita yang didengarnya tersebut. Hingga akhirnya ia pun
memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah Saw. dan berbaiat mengucapkan
dua kalimah syahadat.

Berita tentang masuknya Bilal ke dalam agama baru yang dianggap sebagai
agama yang mencela akidah nenek moyang mereka tersebut dirasa sangat
meng-injak-injak harga diri Umayah dan kaum Kafir Quraisy lainnya, hingga
akhirnya Bilal pun disiksa dijemur di bawah terik matahari, diseret mengelilingi
kota Makkah. Pada saat itu Bilal hanya meneriakkan kata Ahad! hingga
akhirnya datang Abu Bakar As-Shidiq yang membebaskan bilal dengan tebusan
uang. Umayah dan algojo-algojonya yang mulai putus asa membujuk Bilal agar
kembali kepada agama nenek moyang mereka itu pun seperti mendapatkan
pencerahan memperoleh uang tebusan dari Abu Bakar tersebut. Bagi mereka
harta lebih penting dari segalanya. Akhirnya Bilal pun dibawa Abu Bakar ke
rumah Rasululllah Saw.

2) Abdullah Ibnu Umi Matum

Abdullah Ibnu Umi Matum adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang
diberikan anugerah oleh Allah berupa ketunanetraan atau kebutaan pada
matanya. Ia merupakan sebab turunnya salah satu ayat Al-Quran. Pada awalnya
Rasululah Saw. menolak kehadirannya dengan bermuka masam dan berpaling
tidak menanggapi keinginannnya untuk meminta pengajaran dan pengetahuan
tentang agama Islam kepada beliau. Pada saat itu sasaran dakwah Rasululah
adalah kaum pejabat Quraisy, dengan harapan bahwa masuknya para pejabat
Quraisy tersebut dalam agama Islam akan mampu mempengaruhi kaum kafir
Quraisy yang lain untuk memeluk Islam pula. Karena mengabaikan Abdullah Ibnu
Umi Matum tersebut lah akhirnya datang teguran dari Allah yaitu QS. Abasa
ayat 1-10 yang intinya bahwa rasulullah Saw. tidak diperbolehkan untuk
mengabaikan Abdullah Ibnu Umi Matum meskipun ia adalah seorang yang buta.

Setelah mendapatkan teguran berupa ayat Al-Quran tersebut maka Rasulullah


Saw. pun mencari Abdullah Ibnu Umi Matum untuk kemudian diberikan
pendidikan dan pengajaran tentang keislaman.

3) Amar Ibnul Jamuh

Amar Ibnul Jamuh telah menginjak usia tua ketika ia memeluk agama Islam. Ia
menjadi lebih tenang hatinya dan tenteram kehidupannya setelah memeluk
Islam. Ia telah lumpuh saat ia masuk Islam. Pada masa itu ia melihat ketiga
putranya tengah mempersiapkan diri untuk berperang berjihad di jalan Allah
memerangi orang-orang kafir yang ingin menghancurkan agama Islam. Amar
Ibnul Jamuh pun menyatakan keinginannya untuk ikut berperang dengan ketiga
putranya tersebut. Akan tetapi ketiga putranya tersebut melarangnya karena ia
sudah tua dan lumpuh, namun Amar Ibnul Jamuh memaksa dan benar-benar
ingin berjihad membela agamanya, hingga akhirnya ia meminta pertimbangan
Rasulullah Saw. tentang hal tersebut, dan Rasulullah Saw. pun memberikan izin
beliau untuk berperang berjihad membela Islam.[46]

b. Ditinjau dari yuridis Islam

Dasar hukum Islam yang utama adalah Al-Quran dan Hadits. Adapun dalil
tentang anak berkebutuhan khusus adalah terdapat dalam surah Abasa ayat 1-
10:
}t6t #<uqs?ur br& nu!%y` 4yJF{$# $tBur y7
&#ys9 #1t rr& .t myxYtGs #t.e%!$# $Br&
`tB 4o_tF$# |MRr's ms9 3|s? $tBur y7n=t wr&
41t $Br&ur `tB x8u!%y` 4to uqdur 4ys |MRr's
mZt 4Sn=s?

Artinya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena Telah datang
seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan
dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu
memberi manfaat kepadanya?. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.
Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak
membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan
bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah).
Maka kamu mengabaikannya. (Q.S. Abasa: 1-10).[47]

Sebab turunnya ayat tersebut adalah ketika Rasulullah Saw. mengerutkan


mukanya dan memalingkan diri dari seorang buta yang datang kepadanya dan
memotong pembicaraan. Ada riwayat yang menyebutkan, pada suatu hari
Abdullah Ibnu Umi Matum, seorang yang buta dan juga putra Paman Hadijah
datang kepada Nabi untuk menanyakan masalah Al-Quran dan memintanya
supaya diajari tentang kitab suci itu. Ketika itu, nabi tengah mengadakan
pertemuan dengan para pemimpin Quraisy, seperti Uthbah bin Rabiah, Syaibah
ibn Rabiah, Abu jahal, Umayyah bin Kalaf, al-Walid ibn Mughirah. Nabi tengah
berbicara yang bertujuan mengajak mereka untuk memeluk Islam. Nabi kurang
senang ketika tiba-tiba datang Abdullah Ibnu Umi Matum yang memotong
pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan. Nabi memalingkan mukanya dari
tidak menjawab pertanyaan si buta itu.

Berkenaan dengan sikap nabi tersebut, Allah Swt. menurunkan ayat in, yang
isinya menegur Nabi yan tidak melayani orang fakir dan buta, sewaktu nabi
melayani orang-orang terkemuka dan kaya raya. Menerima berisi ayat teguran
dari Allah Swt, nabi pun langsung menyampaikan ayat itu kepada para
sahabatnya. Ini merupakan bukti bukti bahwa apa yang disampaikan oleh nabi
adalah wahtu Tuhan. Semua wahyu yang diterima dari Allah Swt, Nabi selalu
menyampaikan kepada para sahabat. Sama sekali tidak ada yang
disenmbunyikan, meskipun isinya menegur perilaku nabi sendiri.[48]

Kemudian pada surah An-Nur ayat 61 yang berbunyi:

}9 n?t 4yJF{$# ltym wur n?t ltF{$# ltym wur n?t


yJ9$# ltym wur #n?t N6Rr& br& (#q=.'s? .`B N6?
q/ rr& Nq/ N6!$t/#u rr& Nq/ N3GygB& rr& Nq/
N6Ruqz) rr& Nq/ N6?uqyzr& rr& Nq/ N6JuHr& rr&
Nq/ N6GHx rr& Nq/ N39uqzr& rr& Nq/ N6Gn=yz
rr& $tB OF6n=tB mptB$xB rr& N6)| 4 [s9 N6n=t
y$oY_ br& (#q=2's? $Jy_ rr& $Y?$tGr& 4 #s*s OF=yzy $Y?
q/ (#qJk=|s #n?t N3Rr& ZptrB `iB Y !$# Zp2t t7B
Zpt6hs 4 9x2 it7 !$# N6s9 MtFy$# N6=ys9
cq=)s?
Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang,
tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan
(bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu,
dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah
saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah
saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki,
dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya
atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-
sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari)
rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang
berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi
Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-
ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (Q.S. An-Nur: 61).[49]

Orang buta, pincang (cacat kaki), dan orang yang sakit tidak boleh makan
bersama orang yang yang sehat. Orang mukmin pada masa pertama membawa
orang cedera (cacat kaki) kerumah istrinya, anak-anaknya, kerabat. Dan teman-
temannya. Mereka memberi makan kepada orang-orang yang diajak itu.
Kemudian sebagian dari mereka, baik yang memberi makan ataupun orang yang
diberi makan, menyangka bahwa yang demikian itu tidak dibenarkan oleh
agama, maka Allah Swt. menjelaskan kebolehannya dengan ayat ini.[50]

Sementara itu menurut Quraish Shihab orang-orang yang memiliki uzur, seperti
yang telah disebutkan ayat ini, enggan untuk makan bersama-sama yang lain
setelah menyadari ada yang enggan ikut makan bersama karena jijik dengan
yang berpenyakit, merasa rikuh makan bersama yang buta, atau kesempitan
tempat duduk karena yang pincang. Nah ayat ini turun menegur orang-orang
yang beruzur itudan menyatakan bahwa hal tersebut bukanlah alasan untuk
enggan makan bersama orang-orang lain atau berkunjung kerumah-kerumah
kaum muslimin.[51]

Kemudian pada surah Al-Hujarat ayat 13:

$pkr't $Z9$# $R) /3oY)n=yz `iB 9x.s 4s\R&ur


N3oY=yy_ur $\/q @!$t7s%ur (#qu$ytG9 4 b)
/3tBt2r& yY !$# N39s)?r& 4 b) !$# L=t 7yz

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S. Al-
Hujarat: 13).[52]

Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind
yang pekerjaan sehari-harinya adalah pembekam. Nabi meminta kepada Bani
Bayadhah agar menikahkan salah seorang putri mereka dengan Abu Hind, tetapi
merek enggan dengan alasan tidak wajar mereka menikahkan putrid mereka
dengannya yang merupakan salah seorang bekas budak mereka. Sikap keliru ini
dikecam oleh Al-Quran dengan menegaskan bahwa kemuliaan disisi Allah Swt.
bukan karena kuturunan atau garis kebangsawanan tetapi tetapi karena
ketakwaan. Riwayat lain menyatakan bahwa Usaid ibn Abi al-Ish berkomentar
ketika mendegar Bilal mengumandangkan azan di Kabah bahwa: Alhamdulillah,
ayahku wafat sebelum melihat kejadian ini. Ada lagi yang berkomentara bahwa
apakah Muhammad tidak tidak menemukan selain burung gagak ini untuk
berazan?[53]

Selanjutnya pada surah At-Tiin ayat 4 sebagai berikut:

s)s9 $uZ)n=y{ z`|SM}$# `|mr& 5Oq)s?

Artinya: Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang


sebaik-baiknya. (Q.S. At-Tin: 4).[54]

Sungguh Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya. Mereka diberi kemampuan untuk menundukkan binatang dan tumbuh-
tumbuhan kebah kekuasaanya. Bahkan akal dan pikiran manusia dapat
menundukkan tabiat (perilaku) alam, betatapun sangat kerasnya, untuk
beberapa maksud dan memenuhi kebutuhannya. Manusia makan dengan
tangannya, tidak seperti binatang yang makan dan minum langsung
menggunakan mulutnya. Allah Swt. pun menjadikan manusia dengan perawakan
(fisik) yang tegak, sehingga mampu membuahkan berbagai hasil karya yang
menakjubkan. Akan tetapi manusia tidak menyadari keistimewaannya itu, dan
menyangka bahwa dirinya sama dengan makhluk yang lain. Karenannya mereka
mengerjakan apa yang sesungguhnya tidak dibenarkan oleh akal sehatnya dan
tidak disukai oleh fitrahnya.[55]

Dalam Sebuah hadits Rasulullah Saw. menyatakan bahwa Allah tidak melihat
seseorang dari wajahnya, tubuhnya, akan tetapi Allah melihat seseorang dari
hatinya:

:
( )

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid telah menceritakan


kepada kami Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Jafar bin Burqon
dari Yazid bin al-Ashom dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw. bersabda:
sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuhmu dan hartamu, tetapi
Dia memandang pada hati dan perbuatanmu. (H.R. Muslim).[56]

Dari hadits di atas jelas bahwa kecantikan, ketampanan dan keindahan tubuh
tidak akan berarti apa-apa jika ia tidak memiliki hati yang baik.
Dari pemaparan di atas jelas bahwa Islam tidak mengenal diskriminasi terhadap
anak berkebutuhan khusus. Setiap manusia sama di hadapan Allah kecuali amal
perbuatan dan ketaqwaannya.

C. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak berkebutuhan


khusus merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan anak-anak luar
biasa atau mengalami kelainan dalam konteks psikologi dan pendidikan.
Konsekuensi istilah anak berkebutuhan khusus membawa cara pandang pada
kebutuhan anak untuk mencapai prestasi dan mengembangkan kemampuannya
secara optimal.

Walaupun secara lahiriyah mereka dipandang sebagai orang yang mempunyai


kekurangan, tetapi dalam Islam tidak mengenal adanya diskriminasi. Islam tidak
pernah memandang sebelah mata terhadap siapapun termasuk mereka yang
mempunyai kelainan atau berkebutuhan khusus. Dalam ajaran Islam martabat
seseorang tidak dipandang dari kesempurnaan rupa dan kekayaan manusia,
tetapi Islam memandang dari hati dan ketakwaannya kepada Allah Swt.

DAFTRA PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PT.


Rineka Cipta, 2003) cet II.

Bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairy, Abu Al-Husin Muslim, Al-Jami al-Shalih al-
Musamma Shahih Muslim, (Beyrut: Dar al Jil wa Dar al Afa al Jadidah, tt), juz 8.

Hildayani, Rini, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan Kebutuhan


Khsusus), (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), cet 5.
Munandar, Utami, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2004), cet II.

Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy,Teungku, Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur,vol. 4,


diterjemahkan oleh Nouruzzaman Shiddiqi, M.A. dan Z. Fuad Hasbi Ash Shiddiqy,
(Semarang: PT. Pustaka Rizka Putra, 2003) cet, II.

-------Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur,vol. 5, diterjemahkan oleh Nouruzzaman


Shiddiqi, M.A. dan Z. Fuad Hasbi Ash Shiddiqy, (Semarang: PT. Pustaka Rizka
Putra, 2003) cet, II.

-------Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur,vol. 6, diterjemahkan oleh Nouruzzaman


Shiddiqi, M.A. dan Z. Fuad Hasbi Ash Shiddiqy, (Semarang: PT. Pustaka Rizka
Putra, 2003) cet, II.

http://healt.kompas.com/read/2011/01/11/Lima.Faktor.Penyebab.Autism.diaksesp
ada tanggal 25 Mei 2013.

http://www.anneahira.com/macam-macam-autis.html. diakses pada tanggal 24


Mei 2013.

http://ipunkara.blogspot.com/2009/01/10-macam-macam-terapi-anak-
autism.html. diakses pada tanggal 25 Mei 2013.

http://www.slbn-sragen.sch.id/2011/05/30/-pandangan-islam-terhadap-peserta-
didik-yang-berkebutuhan-khusus/. Diakses pada tanggal 24 Mei 2013.

http://www.slideshare.net/BudiansyahSutanto/anak-anak-luar-biasa. diakses pada


tanggal 10 Mei 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus. diakses pada tanggal 10


mei 2013.

http://www.lpmpjabar.go.id/?q=node/232. diakses pada tanggal 10 Mei 2013.


http://chiftul-m-a-fisip09.web.unair.ac.id/artikel_detail-37720 Kelompok 20Khusus
20IKK-ANAK20TUNANETRA.html. Diakses pada tanggal 10 Mei 2013.

http://meilanikasim.wordpress.com/2009/05/27/anak-berkebutuhan-ksusus.
diakses pada tanggal 10 mei 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus. diakses pada tanggal 10


mei 2013.

http://fadhil45.blogspot.com/2012/07/jenis-jenis-anak-berkebutuhan-khusus.html.
diakses pada tanggal 10 Mei 2013.

Patmonodewo, Sumiarti, Pendidikan Anak Pra Sekolah (Jakarat: PT. Rineka Cipta,
2003), cet II.

Quraish Shihab, M., Tafsir Al-Misbah; Pesan dan Keserasian al-Qurn, volume 8,
(Jakarta: Lentera Hati, 2011), cet IV.

-------Tafsir Al-Misbah; Pesan dan Keserasian al-Qurn, volume 12, (Jakarta:


Lentera Hati, 2011), cet 12.

Sabri, Alisuf, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN Fakultas


Tarbiyah, (Jakrta: CV. Ilmu Jaya, 1996), cet II.

Tim penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008).

W. Santrock, John, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan oleh


Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, (Jakarta: Kencana:
2010), cet 3.
www.duniapsikologi.com, Artikel Autism, Pengertian dan Definisinya, pertama kali
diterbitkan dunia psikologi pada tanggal 13 Desember 2008. Diakses pada
tanggal 10 Mei 2013.

[1] Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta: PT.


Rineka Cipta, 2004), cet II, h. 6.

[2] http://www.slideshare.net/BudiansyahSutanto/anak-anak-luar-biasa. diakses


pada tanggal 10 Mei 2013.

[3] Sumiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Pra Sekolah (Jakarat: PT. Rineka
Cipta, 2003), cet II, h. 97.

[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus. diakses pada tanggal


10 mei 2013.

[5] http://www.lpmpjabar.go.id/?q=node/232. diakses pada tanggal 10 Mei 2013.

[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus.

[7] Tim penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 1563.

[8] http://chiftul-m-a-fisip09.web.unair.ac.id/artikel_detail-37720 Kelompok


20Khusus 20IKK-ANAK20TUNANETRA.html. Diakses pada tanggal 10 Mei 2013.

[9] http://meilanikasim.wordpress.com/2009/05/27/anak-berkebutuhan-ksusus.
diakses pada tanggal 10 mei 2013

[10] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus), (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), cet 5, h.8.10-8.11.

[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus. diakses pada


tanggal 10 mei 2013.

[12] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 8.16.

[13] Ibid, h. 8.18.

[14] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 6.3.
[15] John W. Santrock, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan
oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, (Jakarta:
Kencana: 2010), cet 3 h. 224.

[16] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 6.4.

[17] John W. Santrock, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan


oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua,h. 226-227.

[18] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 6.9.

[19] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN


Fakultas Tarbiyah, (Jakrta: CV. Ilmu Jaya, 1996), cet II, h. 120-121.

[20] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 6.9.

[21] http://fadhil45.blogspot.com/2012/07/jenis-jenis-anak-berkebutuhan-
khusus.html. diakses pada tanggal 10 Mei 2013.

[22] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 9.3.

[23]. Ibid.h. 9.4.

[24] John W. Santrock, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan


oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua,h.223.

[25] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 9.5.

[26] Ibid.h. 9.10-9.11.

[27] Ibid. h. 10.3

[28] John W. Santrock, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan


oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua,h.235.

[29] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 10.2.

[30] Ibid. h. 10.4.

[31] Ibid. h. 10.5.

[32] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta:


PT. Rineka Cipta, 2003) cet II, h. 6-7.

[33] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN


Fakultas Tarbiyah,h. 89.
[34] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajarh. 13.

[35] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN


Fakultas Tarbiyah,h. 90-91.

[36] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 11.3.

[37] www.duniapsikologi.com, Artikel Autism, Pengertian dan Definisinya,


pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada tanggal 13 Desember 2008.
Diakses pada tanggal 10 Mei 2013.

[38] http://healt.kompas.com/read/2011/01/11/Lima.Faktor.Penyebab.Autism.
diaskes pada tanggal 25 Mei 2013.

[39] http://www.anneahira.com/macam-macam-autis.html. diakses pada tanggal


24 Mei 2013.

[40] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 11.10.

[41] http://ipunkara.blogspot.com/2009/01/10-macam-macam-terapi-anak-
autism.html. diakses pada tanggal 25 Mei 2013.

[42] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 6.21.

[43] John W. Santrock, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan


oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua,h.252.

[44] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkelainan, (Anak Dengan


Kebutuhan Khsusus)h. 6.22.

[45] John W. Santrock, Educational Psychologi 2 and Education, diterjemahkan


oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Psikologi Pendidikan Edisi Kedua,h.253.

[46] http://www.slbn-sragen.sch.id/2011/05/30/pandangan-islam-terhadap-
peserta-didik-berkebutuhan-khusus/. Diakses pada tanggal 24 Mei 2013.

[47] Q.S. Abasa ayat 1-10.

[48] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Quranul Majid An-


Nur,vol 5, diterjemahkan oleh Nouruzzaman Shiddiqi, M.A. dan Z. Fuad Hasbi Ash
Shiddiqy, (Semarang: PT. Pustaka Rizka Putra, 2003) cet, II, h. 4491-4492.

[49] Q.S. An-Nur ayat 61.

[50] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Quranul Majid An-


Nur,vol 4, diterjemahkan oleh Nouruzzaman Shiddiqi, M.A. dan Z. Fuad Hasbi Ash
Shiddiqy, (Semarang: PT. Pustaka Rizka Putra, 2003) cet, II, h. 2852.

[51] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan dan Keserasian al-Qurn, volume
8, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), cet IV, h. 615.
[52] Q.S. Al-Hujurat ayat 13.

[53] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan dan Keserasian al-Qurn, volume
8, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), cet 12, h. 617.

[54] Q.S. At-Tiin ayat 4.

[55] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Quranul Majid An-


Nur,vol 6, diterjemahkan oleh Nouruzzaman Shiddiqi, M.A. dan Z. Fuad Hasbi Ash
Shiddiqy, (Semarang: PT. Pustaka Rizka Putra, 2003) cet, II, h. 4639.

[56] Abu Al-Husin Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairy , Al-Jami al-Shalih
al-Musamma Shahih Muslim, (Beyrut: Dar al Jil wa Dar al Afa al Jadidah, tt), juz 8,
h. 11.